Anda di halaman 1dari 3

PEMBAHASAN

Pada praktikum kali bertujuan untuk menganalisis parasetamol secara


kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis
serta menyimpulkan mutu dari parasetamol dari data spektrum UV-Vis dan hasil
penetapan kadar. Analisis kuanlitatif didasarkan pada puncak yang yang dihasilkan
pada spektrum suatu senyawa uji (parasetamol) pada panjang gelombang
maksimum, sedangkan analisis kuantitatid didasarkan pada nilai absorbansi yang
dihasilkan dari spektrum senyawa uji.
Parasetamol dapat dianalisis secara kualitatif dan kuantitatif dengan
spektorofotometri UV-Vis karena pada struktur kimia parasetamol mempunyai
gugus kromofor dan gugus auksokrom. Gugus kromofor pada struktur kimia
parasetamol berupa ikatan rangkap terkonjugasi sehingga memenuhi syarat
senyawa yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. gugus
auksokrom pada struktur kimia parasetamol berupa pasangan electron bebas.
Gugus kromofor pada parasetamol:

Gugus auksokrom pada parasetamol:

..
..

Ketika cahaya REM (radiasi elektromagnetik) dihantarkan maka gugus


kromofor dapat menyerap radiasi elektromagnetik (REM) pada daerah UV-Vis
menyebabkan elekton-elektron tereksitasi ketingkat energi yang lebih tinggi.
Keadaan ini menyebabkan dilepaskannya atau diemisikannya suatu gelombang
elektomagnetik sehingga besarnya energi tersebut dapat diukur sebagai panjang
gelombang tertentu dan mengahsilkan absorbansi atau serapan yang tertentu pula.
Pada analisis kualitatif pembuatan larutan standar dan larutan uji dilakukan
dengan cara melarutkan parasetamol dengan HCl dalam metanol. Hal ini dilakukan
karena struktur parasetanol terdiri dari gugus polar dan gugus non polar atau dapat
dikatakan bersifat semi polar sehingga apabila dilarutkan dengan air hanya bagian
polar yang dapat larut. Oleh karena itu digunakan pelarut metanol yang bersifat
semi polar (memiliki gugus polar dan non polar) untuk meningkatkan kelarutan
parasetamol. Penggunaan HCl ini sebagai pereaksi geser karena diharapkan dapat
meningkatkan pengukuran panjang gelombang maksimumnya. Sealin itu untuk
memperjelas gugus kromofor yang ada pada parasetamol sehingga dapat terukur
absorbansinya untuk analisis kualitatif menggunakan spektofotometri UV Vis.
Pengocokan larutan dilakukan untuk memperbesar luas permukaan partikel
parasetamol yang kontak terhadap pelarut dan membantu mempercepat terjadinya
distribusi parasetamol dalam pelarut. Sehingga parasetamol dapat terdistribusi atau
tersebar merata dalam pelarut. Pengenceran larutan pada saat percobaan dilakukan
untuk mengurangi kepekatan atau konsentrasi larutan sehingga mempermudah
proses pembacaan atau medeteksian absorbansi larutan oleh instrumen
(spektrofotometri UV Vis).
Pembersihan kuvet yang digunakan untuk menyimpan sampel dilakukan
agar tidak mengurangi transmisi cahaya dan pengukuran menjadi akurat. Kuvet
dipegang pada sisi buram untuk mencegah lemak, sidik jari atau pengotor
menempel pada kaca kuvet yang akan mengurangi transmisi dan mempengaruhi
hasil pengukuran absorbansi. Cara meletakkan kuvet dalam spektofootometer harus
dihadapkan kuvet bagian bening ke bagian dektektor dan monokromator. Hal ini
dilakukan karena pada bagian bening kuvet merupakan tempat cahaya diserap.
Pengukuran pertama dilakukan terhadap blanko yaitu larutan HCl dalam
metanol. Larutan blanko berisi pelarut yang tidak mengandung analit yang
berfungsi sebagai pengkoreksi nilai absorbansi senyawa uji. Pada pengukuran
larutan blanko nilai absorbansi yang diperoleh harus 0 (nol) karena yang akan
diukur adalah nilai absorbansi parasetamol yang terkandung dalam laruan uji dan
laruan standar. Cara menolkan nilai absorbansi dipilih basseline karena panjang
gelombang dari parasetamol belum diketahui. Kemudian dilakukan pengukuran
terhadap larutan standar dan larutan uji.
Bahas hasil
Menurut F IV panjang gelombang maksimum PCT 249 nm

Pada spektrofotmetri UV-Vis penentuan panjang gelombang maksimum


sangat penting, dimana panjang gelombang maksimum merupakan panjang
gelombang yang memberikan absorbansi maksimal terhadap senyawa yang
dianalisis. Penentuan panjang gelombang maksimum dilakukan untuk membuat
kurva hubungan antara absorbansi dengan panjang gelombang dari suatu larutan
baku pada konsentrasi tertentu sehingga diperoleh kurva kalibrasi. Alasan
penggunaan panjang gelombang maksimum yakni memiliki kepekaan maksimum
karena terjadi perubahan absorbansi yang paling besar, dan bentuk kurva absorbansi
memenuhi hukum Laambert-Beer.

KESIMPULAN
Analisis kualitatif menghasilkan panjang gelombang maksimum larutan
standar 247,6 nm dan larutan uji 247,9. Panjang gelombang maksimum kedua
larutan mendekati panjang maksimum teoritis parasetamol yaitu 249 nm.