Anda di halaman 1dari 16

PEMODELAN KLASIFIKASI PERMUKIMAN KUMUH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Akhir Semester Mata Kuliah Permodelan Perencanaan
Wilayah Dan Kota

Disusun Oleh
Nama : Indriany Putri Rahmani
NIM : 25418044

PROGRAM STUDI MAGISTER PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


SEKOLAH ARSITEKTUR PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2018
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN............................................................................................................................ 3
1.1 Latar Belakang......................................................................................................................... 3
1.2 Perumusan Masalah ............................................................................................................... 3
1.3 Tujuan...................................................................................................................................... 3
1.4 Pembatasan Masalah ............................................................................................................. 3
1.5 Metodologi Penelitian ............................................................................................................ 4
BAB 2 DASAR TEORI ............................................................................................................................... 5
2.1 Model ...................................................................................................................................... 5
2.1.1 Model Klasifikasi ................................................................................................................... 6
2.2 Aspek dan Kriteria Permukiman Kumuh ................................................................................ 7
2.3 Pembobotan dan Kriteria Permukiman Kumuh .................................................................... 8
BAB 3 FORMULASI MODEL................................................................................................................... 12
BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................................................................... 15
4.1 Kesimpulan............................................................................................................................ 15
4.2 Saran...................................................................................................................................... 15

2
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perkembangan suatu kota merupakan proses alami yang terjadi akibat aktivitas penduduknya dalam
kehidupan sehari-hari. Namun, hal tersebut juga dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
menstimulan perkembangan kota itu sendiri seperti urbanisasi, kompetisi, teknologi, dsb. Dalam
perkembangan kota seringkali dicirikan dengan bertambahnya jumlah penduduk, kepadatan
bangunan meningkat, dan wilayah terbangun khususnya permukiman bertambah luas (Branch, 1966).
Bagi kota yang mulai padat penduduknya, pertambahan penduduk tiap tahun jauh melampaui
penyediaan kesempatan kerja di dalam wilayahnya sehingga dirasakan menambah berat tekanan
permasalahan di kota-kota besar. Tekanan ekonomi dan kepadatan tempat tinggal bagi kaum urban
memaksa mereka untuk menempati daerah-daerah pinggiran (slum area) hingga membentuk
lingkungan permukiman kumuh (Budiharjo, 1997).

Untuk menangani permukiman kumuh di wilayah perkotaan, pemerintah melalui RPJMN 2015-2019
telah menetapkan target yang dinamakan 100-0-100 yaitu 100% akses air minum, 0 % permukiman
kumuh, dan 100% akses sanitasi layak untuk masyarakat Indonesia di Tahun 2019. Berdasarkan
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 2 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Kualitas Terhadap
Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh maka terdapat 7 indikator yang memuat 19 parameter
mermukiman kumuh yaitu bangunan gedung, jalan lingkungan, air minum, drainase, sanitasi,
persampahan, dan proteksi kebakaran.

Berdasarkan indikator dan parameter permukiman kumuh yang ada maka dapat dibuat model untuk
pengklasifikasian permukiman kumuh sehingga penanganan permukiman kumuh dapat diprioritaskan
berdasarkan tingkat kekumuhannya dan menyesuaikan dengan permasalahan terberat di wilayah
permukiman kumuh tersebut.

1.2 Perumusan Masalah


Bagaimana memodelkan kelas permukiman kumuh sehingga dapat memudahkan langkah
penanganan yang tepat dalam mengurangi kekumuhan

1.3 Tujuan
Memodelkan klasifikasi permukiman kumuh berdasarkan indikator dan parameter permukiman
kumuh yang termuat dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 2 Tahun 2016 Tentang
Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh untuk memudahkan
prioritas penanganan permukiman kumuh

1.4 Pembatasan Masalah


Pemodelan ini hanya melihat kriteria kumuh berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 2
Tahun 2016 Tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh

3
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
1.5 Metodologi Penelitian
Alur dari tahapan yang dilaksanakan dalam penelitian ini dapat dilihat sebagai berikut

Identifikasi Aspek dan Kriteria


Permukiman Kumuh

Penentuan Variabel
Permukiman Kumuh

Identifikasi Kekumuhan dan


Skoring

Penentuan Tingkat
Kekumuhan

Tidak Kumuh Kumuh Ringan Kumuh Sedang Kumuh Berat

Analisis Sebaran Kawasan


Kumuh

Penentuan Pola
Penanganan Kumuh
berdasakan Skor Tertinggi

Gambar 1. 1 Diagram Alir Penelitian

4
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
BAB 2
DASAR TEORI

2.1 Model
Model dapat diartikan sebagai representasi dari suatu sistem nyata dalam bahasa tertentu yang
disepakati, sehingga model dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menjelaskan sebuah persoalan.
Model sendiri terdiri dari beberapa kategori berdasarkan fungsi, referensi waktu, dan lingkungan.
Masing-masing tipologinya dapat dijelaskan sebagai berikut

a. Model Berdasarkan Fungsi

 Model Deskriptif yaitu model yang memberikan gambaran dari sistem nyata, tidak meramal
atau memberikan rekomendasi, contoh : Struktur Organisasi, Diagram Tata Letak Pabrik
 Model Prediktif yaitu model yang dapat meramalkan, yang dapat menyatakan “bila ini terjadi,
maka kejadian itu, contoh : Analisis BEP, Diagram Keputusan
 Model Normatif yaitu model yang dapat memberikan jawaban ‘terbaik’ dari alternatif yang
ada terhadap suatu masalah, contoh : Model CPM & PERT

b. Model Berdasarkan Waktu

 Model Statis yaitu model yang tidak memasukkan faktor waktu dalam perumusannya.
 Model Dinamis yaitu mempunyai unsur waktu dalam perumusannya.

c. Berdasarkan derajat kuantifikasi adalah sebagai berikut :

Model kualitatif, yaitu model yang menggambarkan mutu suatu realita. Model ini terdiri dari 2
jenis model :

 Model mental : model yang menggambarkan titik awal dari abstraksi dalam memahami
masalah dan situasi. Contoh : proses berpikir manusia tentang sesuatu.
 Model verbal, yaitu model yang disajikan dalam bahasa sehari-hari dan tidak dalam bahasa
logika atau simbolis atau matematis. Analisis bersandar pada pertimbangan yang masuk akal
dan bernalar. Contoh : model konseptual.

Model kuantitatif, yaitu model yang variabelnya dapat dikuantitatifkan. Jenis model ini terbagi 2 :

 Model statistic, yaitu model yang mendeskripsikan dan menyimpulkan data


 Model optimasi, yaitu model yang digunakan untuk menentukan jawaban terbaik. Terdiri atas
yaitu optimasi analitik dan logaritmik
 Model Heuristik , yaitu model yang digunakan untuk mencari jawaban yang baik tapi bukan
optimum. Merupakan pendekatan praktis.
 Model simulasi, yaitu model yang digunakan untuk mencari jawaban yang baik dan
menguntungkan .

5
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
2.1.1 Model Klasifikasi
Klasifikasi dapat diartikan sebagai pengelompokan berdasarkan kesamaan karakteristik. Dalam model
klasifikasi terdiri dari 2 metode yaitu :

Unsupervised, tidak terdapat informasi mengenai kelompok/grup dari amatan pada data yang
digunakan. Analisis dilakukan untuk menentukan keanggotaan grup dari amatan tersebut. Sering juga
dikenal sebagai analisis gerombol (clustering, cluster analysis)

Supervised, data memiliki informasi mengenai kelompok/grup sesungguhnya dari amatan. Analisis
dilakukan untuk menentukan pembeda antar grup, dan aturan pembeda tersebut dapat dimanfaatkan
untuk menentukan keanggotaan dari amatan lain yang tidak ada dalam data.

Bentuk modelling classification dapat digambarkan sebagai berikut

Gambar 2. 1 Classification Model

Untuk menghasilkan model klasifikasi maka diperlukan proses pengklasifikasian sebagaimana alur
yang digambarkan pada gambar 2.2 sebagai berikut

Pengolahan
Pencarian Data Pengklasifikasian
Data/Pembobotan

Kriteria

Gambar 2. 2 Alur Model Klasifikasi

a. Pencarian Data

Data yang digunakan dalam model klasifikasi ini dapat berupa data nominal, ordinal, atau interval
rasio.

6
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
b. Pengolahan Data

Pengolahan data atau pembobotan dilakukan dengan menentukan jumlah kelas. Apabila belum
ditentukan dapat menggunakan rumus penentuan kelas, yaitu 𝑘 = 1 + 3,3 log 𝑛, Dimana n adalah
jumlah data dan k adalah jumlah kelas.

Namun apabila jumlah kelas sudah ditentukan hanya perlu melakukan pengolahan data untuk
dikelompokan kedalam masing-masing kelas sesuai dengan karakteristik datanya.

Untuk data nominal dan ordinal pengolahan data yang dilakukan hanya membagi sesuai dengan
karakteristik data yang dimiliki, namun untuk data interval/rasio perlu dilakukan pembobotan
berdasarkan indikator dan parameter untuk selanjutnya dikelompokan kedalam kelas yang sesuai

c. Pengklasifikan

Pengklasifikasian merupakan akhir dari proses model klasifikasi sehingga didapatkan output
kelompok data yang memiliki kesamaan karakteristik.

2.2 Aspek dan Kriteria Permukiman Kumuh

Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 2 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Kualitas
Terhadap Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh, terdapat 7 Aspek Permukiman kumuh dari
aspek tersebut menghasilkan 19 kriteria yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat permukiman
kumuh

Tabel 2. 1 Aspek dan Kriteria Perumahan dan Permukiman Kumuh

No Aspek Kriteria
1 Bangunan Gedung Ketidakteraturan Bangunan
Tingkat Kepadatan Bangunan Yang Tinggi
Kualitas Bangunan Yang Tidak Memenuhi Syarat
2 Jalan Lingkungan Jalan Lingkungan Tidak Melayani Permukiman
Kualitas Permukaan Jalan Lingkungan Buruk
3 Penyediaan Air Minum Ketidaktersediaan Akses Aman Air Minum
Tidak Terpenuhinya Kebutuhan Air Minum
4 Drainase Lingkungan Luas Genangan
Ketidaktersediaan Drainase
Tidak Terhubung Dengan Sistem Drainase Perkotaan
Drainase Tidak Terpelihara
Kualitas Konstruksi Drainase Lingkungan Buruk
5 Pengelolaan Air Limbah Sistem Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai Dengan
Standar Teknis Yang Berlaku
Prasarana Dan Sarana Pengelolaan Air Limbah Tidak
Memenuhi Persyaratan Teknis
6 Pengelolaan Persampahan Prasarana Dan Sarana Persampahan Tidak Sesuai
Dengan Persyaratan Teknis
Sistem Pengelolaan Persampahan Tidak Memenuhi
Persyaratan Teknis
Tidak Terpeliharanya Sarana Dan Prasarana
Pengelolaan Persampahan

7
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
No Aspek Kriteria
7 Proteksi Kebakaran Ketidaktersediaan Prasarana Proteksi Kebakaran
Ketidaktersediaan Sarana Proteksi Kebakaran
Sumber : PerMen PU No 2 Tahun 2016

2.3 Pembobotan dan Kriteria Permukiman Kumuh


Untuk melakukan penilaian atau pengolahan data berdasarkan aspek dan kriteria permukiman kumuh
maka diperlukan bobot sehingga dapat menghasilkan kelas / klasifikasi permukiman kumuh. Berikut
ini adalah nilai bobot untuk setiap parameter permukiman kumuh berdasarkan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No 2 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan
Permukiman Kumuh.

Tabel 2. 2 Pembobotan untuk Kriteria Permukiman Kumuh

No Aspek Kriteria Bobot Parameter Penilaian


1 Bangunan Ketidakteraturan 5 76%-100% bangunan pada lokasi tidak memiliki
Gedung Bangunan keteraturan
3 51%-75% bangunan pada lokasi tidak memiliki
keteraturan
1 26%-50% bangunan pada lokasi tidak memiliki
keteraturan
0 <25 % bangunan pada lokasi tidak memiliki
keteraturan
Tingkat Kepadatan 5 76%-100% bangunan memiliki kepadatan tidak
Bangunan Yang Tinggi sesuai dengan ketentuan
3 51%-75% bangunan memiliki kepadatan tidak
sesuai dengan ketentuan
1 26%-50% bangunan memiliki kepadatan tidak
sesuai dengan ketentuan
0 <25 % bangunan memiliki kepadatan tidak sesuai
dengan ketentuan
Kualitas Bangunan Yang 5 76%-100% bangunan pada lokasi tidak memenuhi
Tidak Memenuhi Syarat persyaratan teknis
3 51%-75% bangunan pada lokasi tidak memenuhi
persyaratan teknis
1 26%-50% bangunan pada lokasi tidak memenuhi
persyaratan teknis
0 <25 % bangunan pada lokasi tidak memenuhi
persyaratan teknis
2 Jalan Jalan Lingkungan Tidak 5 76% - 100% area tidak terlayani oleh jaringan jalan
Lingkungan Melayani Permukiman lingkungan
3 51% - 75% area tidak terlayani oleh jaringan jalan
lingkungan
1 26% - 50% area tidak terlayani oleh jaringan jalan
lingkungan
0 0% - 25% area tidak terlayani oleh jaringan jalan
lingkungan
Kualitas Permukaan Jalan 5 76% - 100% area memiliki kualitas permukaan jalan
Lingkungan Buruk yang buruk
3 51% - 75% area memiliki kualitas permukaan jalan
yang buruk

8
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
No Aspek Kriteria Bobot Parameter Penilaian
1 26% - 50% area memiliki kualitas permukaan jalan
yang buruk
0 0% - 25% area memiliki kualitas permukaan jalan
yang buruk
3 Penyediaan Ketidaktersediaan Akses 5 76% - 100% populasi tidak dapat mengakses air
Air Minum Aman Air Minum minum yang aman
3 51% - 75% populasi tidak dapat mengakses air
minum yang aman
1 26% - 50% populasi tidak dapat mengakses air
minum yang aman
0 0% - 25% populasi tidak dapat mengakses air
minum yang aman
Tidak Terpenuhinya 5 76% - 100% populasi tidak terpenuhi kebutuhan air
Kebutuhan Air Minum minum minimalnya
3 51% - 75% populasi tidak terpenuhi kebutuhan air
minum minimalnya
1 26% - 50% populasi tidak terpenuhi kebutuhan air
minum minimalnya
0 0% - 25% populasi tidak terpenuhi kebutuhan air
minum minimalnya
4 Drainase Ketidakmampuan 5 76% - 100% area terjadi genangan > 30cm, > 2 jam
Lingkungan Mengalirkan Limpasan Air dan > 2 x setahun
3 51% - 75% area terjadi genangan > 30cm, > 2 jam
dan > 2 x setahun
1 26% - 50% area terjadi genangan > 30cm, > 2 jam
dan > 2 x setahun
0 0% - 25% area terjadi genangan > 30cm, > 2 jam
dan > 2 x setahun
Ketidaktersediaan 5 76% - 100% area tidak tersedia drainase lingkungan
Drainase 3 51% - 75% area tidak tersedia drainase lingkungan
1 26% - 50% area tidak tersedia drainase lingkungan
0 0% - 25% area tidak tersedia drainase lingkungan
Tidak Terhubung Dengan 5 76% - 100% drainase lingkungan tidak terhubung
Sistem Drainase dengan hirarki di atasnya
Perkotaan 3 51% - 75% drainase lingkungan tidak terhubung
dengan hirarki di atasnya
1 26% - 50% drainase lingkungan tidak terhubung
dengan hirarki di atasnya
0 0% - 25% drainase lingkungan tidak terhubung
dengan hirarki di atasnya
Drainase Tidak 5 76% - 100% area memiliki drainase lingkungan yang
Terpelihara kotor dan berbau
3 51% - 75% area memiliki drainase lingkungan yang
kotor dan berbau
1 26% - 50% area memiliki drainase lingkungan yang
kotor dan berbau
0 0% - 25% area memiliki drainase lingkungan yang
kotor dan berbau
Kualitas Konstruksi 5 76% - 100% area memiliki kualitas konstruksi
Drainase Lingkungan drainase lingkungan buruk
Buruk 3 51% - 75% area memiliki kualitas konstruksi
drainase lingkungan buruk

9
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
No Aspek Kriteria Bobot Parameter Penilaian
1 26% - 50% area memiliki kualitas konstruksi
drainase lingkungan buruk
0 0% - 25% area memiliki kualitas konstruksi drainase
lingkungan buruk
5 Pengelolaan Sistem Pengelolaan Air 5 76% - 100% area memiliki sistem air limbah yang
Air Limbah Limbah Tidak Sesuai tidak sesuai standar teknis
Dengan Standar Teknis 3 51% - 75% area memiliki sistem air limbah yang
Yang Berlaku tidak sesuai standar teknis
1 26% - 50% area memiliki sistem air limbah yang
tidak sesuai standar teknis
0 0% - 25% area memiliki sistem air limbah yang
tidak sesuai standar teknis
Prasarana Dan Sarana 5 76% - 100% area memiliki sarpras air limbah tidak
Pengelolaan Air Limbah sesuai persyaratan tekn
Tidak Memenuhi 3 51% - 75% area memiliki sarpras air limbah tidak
Persyaratan Teknis sesuai persyaratan teknis
1 26% - 50% area memiliki sarpras air limbah tidak
sesuai persyaratan teknis
0 0% - 25% area memiliki sarpras air limbah tidak
sesuai persyaratan teknis
6 Pengelolaan Prasarana Dan Sarana 5 76% - 100% area memiliki sarpras pengelolaan
Persampahan Persampahan Tidak persampahan yang tidak memenuhi persyaratan
Sesuai Dengan teknis
Persyaratan Teknis 3 51% - 75% area memiliki sarpras pengelolaan
persampahan yang tidak memenuhi persyaratan
teknis
1 26% - 50% area memiliki sarpras pengelolaan
persampahan yang tidak memenuhi persyaratan
teknis
0 0% - 25% area memiliki sarpras pengelolaan
persampahan yang tidak memenuhi persyaratan
teknis
Sistem Pengelolaan 5 76% - 100% area memiliki sistem persampahan
Persampahan Tidak tidak sesuai standar
Memenuhi Persyaratan 3 51% - 75% area memiliki sistem persampahan tidak
Teknis sesuai standar
1 26% - 50% area memiliki sistem persampahan tidak
sesuai standar
0 0% - 25% area memiliki sistem persampahan tidak
sesuai standar
Tidak Terpeliharanya 5 76% - 100% area memiliki sarpras persampahan
Sarana Dan Prasarana yang tidak terpelihara
Pengelolaan 3 51% - 75% area memiliki sarpras persampahan yang
Persampahan tidak terpelihara
1 26% - 50% area memiliki sarpras persampahan yang
tidak terpelihara
0 0% - 25% area memiliki sarpras persampahan yang
tidak terpelihara
7 Proteksi Ketidaktersediaan 5 76% - 100% area tidak memiliki prasarana proteksi
Kebakaran Prasarana Proteksi kebakaran
Kebakaran 3 51% - 75% area tidak memiliki prasarana proteksi
kebakaran

10
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
No Aspek Kriteria Bobot Parameter Penilaian
1 26% - 50% area tidak memiliki prasarana proteksi
kebakara
0 0% - 25% area tidak memiliki prasarana proteksi
kebakaran
Ketidaktersediaan Sarana 5 76% - 100% area tidak memiliki sarana proteksi
Proteksi Kebakaran kebakaran
3 51% - 75% area tidak memiliki sarana proteksi
kebakaran
1 26% - 50% area tidak memiliki sarana proteksi
kebakaran
0 0% - 25% area tidak memiliki sarana proteksi
kebakaran
Sumber : Permen PU No 2 Tahun 2016

Setelah melakukan pembobotan untuk setiap masing-masing kriteria selanjutnya adalah perhitungan
tingkat kekumuhan. Perhitungan tingkat kekumuhan dilakukan dengan menjumlahkan seluruh bobot
nilai kriteria permukiman kumuh sehingga dapat dibandingkan dengan batas ambang nilai tingkat
kekumuhan untuk mengetahui klasifikasi permukiman kumuh

Tabel 2. 3 Batas Ambang Nilai Tingkat Kekumuhan

BATAS AMBANG NILAI TINGKAT


KEKUMUHAN
71 -95 : KUMUH BERAT
45 - 70 : KUMUH SEDANG
19 - 44 KUMUH RINGAN
< 19, DINYATAKAN TIDAK KUMUH

Sumber : Permen PU No 2 Tahun 2016

Jumlah kelas dalam klasifikasi permukiman kumuh telah ditentukan berdasarkan Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum No 2 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan
Permukiman Kumuh dimana terdapat 4 kelas yang yang mempunyai karakteristik ordinal. Klasifikasi
permukiman kumuh ini terdiri dari tidak kumuh hingga kumuh berat yang disesuakan dengan jumlah
bobot nilai.

11
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
BAB 3
FORMULASI MODEL

Untuk memodelkan klasifikasi permukiman kumuh, maka diperlukan perumusan variabel. Variabel
yang dapat digunakan dalam formulasi pemodelan ini berdasarkan Permen PU No 2 Tahun 2016,
sebagai berikut

Tabel 3. 1 Variabel Karakteristik Permukiman Kumuh

Variabel Karakteristik Permukiman Kumuh


Ketidakteraturan Bangunan
Tingkat Kepadatan Bangunan Yang Tinggi
Kualitas Bangunan Yang Tidak Memenuhi Syarat
Jalan Lingkungan Tidak Melayani Permukiman
Kualitas Permukaan Jalan Lingkungan Buruk
Ketidaktersediaan Akses Aman Air Minum
Tidak Terpenuhinya Kebutuhan Air Minum
Luas Genangan
Ketidaktersediaan Drainase
Tidak Terhubung Dengan Sistem Drainase
Perkotaan
Drainase Tidak Terpelihara
Kualitas Konstruksi Drainase Lingkungan Buruk
Sistem Pengelolaan Air Limbah Tidak Sesuai
Dengan Standar Teknis Yang Berlaku
Prasarana Dan Sarana Pengelolaan Air Limbah
Tidak Memenuhi Persyaratan Teknis
Prasarana Dan Sarana Persampahan Tidak Sesuai
Dengan Persyaratan Teknis
Sistem Pengelolaan Persampahan Tidak
Memenuhi Persyaratan Teknis
Tidak Terpeliharanya Sarana Dan Prasarana
Pengelolaan Persampahan
Ketidaktersediaan Prasarana Proteksi Kebakaran
Ketidaktersediaan Sarana Proteksi Kebakaran
Sumber : Permen PU No 2 Tahun 2016

Berdasar variabel karakteristik permukiman kumuh tersebut maka untuk melakukan model klasifikasi
dapat dilakukan dengan formulasi pada tabel berikut

12
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
Tabel 3. 2 Formulasi Pembobotan Kriteria Permukiman Kumuh
1 A B C D E
2
KONDISI EKSISTING BOBOT
3 INDIKATOR KRITERIA
4 NUMERIK SATUAN NILAI
5 =IF(AND(C5>=24,995%;
a. Ketidakteraturan Bangunan Unit C5<50,995%);1;IF(AND(C5>=50,995%;
C5<75,995%);3;IF(C5>=75,995%;5;0)))
6 1. Kondisi =IF(AND(C6>=24,995%;
Bangunan b. Kepadatan Bangunan Ha C6<50,995%);1;IF(AND(C6>=50,995%;
Gedung C6<75,995%);3;IF(C6>=75,995%;5;0)))
7 =IF(AND(C7>=24,995%;
c. Ketidaksesuaian dengan
Unit C7<50,995%);1;IF(AND(C7>=50,995%;
Persy Teknis Bangunan
C7<75,995%);3;IF(C7>=75,995%;5;0)))
8 =IF(AND(C8>=24,995%;
a. Cakupan Pelayanan Jalan
Meter C8<50,995%);1;IF(AND(C8>=50,995%;
2. Kondisi Lingkungan
C8<75,995%);3;IF(C8>=75,995%;5;0)))
Jalan
9 =IF(AND(C9>=24,995%;
Lingkungan b. Kualitas Permukaan Jalan
Meter C9<50,995%);1;IF(AND(C9>=50,995%;
lingkungan
C9<75,995%);3;IF(C9>=75,995%;5;0)))
10 =IF(AND(C10>=24,995%;
a. Ketersediaan Akses Aman
KK C10<50,995%);1;IF(AND(C10>=50,995%;
3. Kondisi Air Minum
C10<75,995%);3;IF(C10>=75,995%;5;0)))
Penyediaan
11 =IF(AND(C11>=24,995%;
Air Minum b. Tidak terpenuhinya
KK C11<50,995%);1;IF(AND(C11>=50,995%;
Kebutuhan Air Minum
C11<75,995%);3;IF(C11>=75,995%;5;0)))
12 =IF(AND(C12>=24,995%;
a. Ketidakmampuan
Ha C12<50,995%);1;IF(AND(C12>=50,995%;
Mengalirkan Limpasan Air
C12<75,995%);3;IF(C12>=75,995%;5;0)))
13 =IF(AND(C13>=24,995%;
b. Ketidaktersediaan Drainase Meter C13<50,995%);1;IF(AND(C13>=50,995%;
C13<75,995%);3;IF(C13>=75,995%;5;0)))
14 4. Kondisi =IF(AND(C14>=24,995%;
c. Ketidakterhubungan dgn
Drainase Meter C14<50,995%);1;IF(AND(C14>=50,995%;
Sistem Drainase Kota
Lingkungan C14<75,995%);3;IF(C14>=75,995%;5;0)))
15 =IF(AND(C15>=24,995%;
d. Tidak terpeliharanya
Meter C15<50,995%);1;IF(AND(C15>=50,995%;
Drainase
C15<75,995%);3;IF(C15>=75,995%;5;0)))
16 =IF(AND(C16>=24,995%;
e. Kualitas Konstruksi Drainase Meter C16<50,995%);1;IF(AND(C16>=50,995%;
C16<75,995%);3;IF(C16>=75,995%;5;0)))
17 a. Sistem Pengelolaan Air =IF(AND(C17>=24,995%;
Limbah Tidak Sesuai Standar KK C17<50,995%);1;IF(AND(C17>=50,995%;
5. Kondisi Teknis C17<75,995%);3;IF(C17>=75,995%;5;0)))
18 Pengelolaan b. Prasarana dan Sarana
=IF(AND(C18>=24,995%;
Air Limbah Pengelolaan Air Limbah Tidak
KK C18<50,995%);1;IF(AND(C18>=50,995%;
Sesuai dengan Persyaratan
C18<75,995%);3;IF(C18>=75,995%;5;0)))
Teknis
19 a. Prasarana dan Sarana =IF(AND(C19>=24,995%;
Persampahan Tidak Sesuai KK C19<50,995%);1;IF(AND(C19>=50,995%;
dengan persyaratan Teknis C19<75,995%);3;IF(C19>=75,995%;5;0)))
20 6. Kondisi b. Sistem Pengelolaan =IF(AND(C20>=24,995%;
Pengelolaan Persampahan yang tidak sesuai KK C20<50,995%);1;IF(AND(C20>=50,995%;
Persampahan Standar Teknis C20<75,995%);3;IF(C20>=75,995%;5;0)))
21 c. Tidakterpeliharanya Sarana =IF(AND(C21>=24,995%;
dan Prasarana Pengelolaan KK C21<50,995%);1;IF(AND(C21>=50,995%;
Persampahan C21<75,995%);3;IF(C21>=75,995%;5;0)))

13
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
1 A B C D E
2
KONDISI EKSISTING BOBOT
3 INDIKATOR KRITERIA
4 NUMERIK SATUAN NILAI
22 =IF(AND(C22>=24,995%;
a. Ketidaktersediaan Prasarana
Unit C22<50,995%);1;IF(AND(C22>=50,995%;
7. Kondisi Proteksi Kebakaran
C22<75,995%);3;IF(C22>=75,995%;5;0)))
Proteksi
23 =IF(AND(C23>=24,995%;
Kebakaran b. Ketidaktersediaan Sarana
Unit C23<50,995%);1;IF(AND(C23>=50,995%;
Proteksi Kebakaran
C23<75,995%);3;IF(C23>=75,995%;5;0)))

Setelah melakukan penilaian bobot pada masing-masing kriteria dengan formula tersebut maka
selanjutnya adalah perhitungan tingkat kekumuhan. Perhitungan tingkat kekumuhan dilakukan
dengan menjumlahkan nilai bobot pada masing-masing kriteria dan tingkat kekumuhannya dapat
diformulasikan sebagai berikut

Tabel 3. 3 Formula Tingkat Kekumuhan Permukiman Kumuh

X Y
100
TOTAL NILAI =SUM (C5:C23)

101 =IF(Y100="N/A";"TIDAK KUMUH";IF(Y100>=71;"KUMUH


TINGKAT BERAT";IF(AND(Y100<=70; Y100>=45);"KUMUH
KEKUMUHAN SEDANG";IF(AND(Y100<=44; Y100>=19);"KUMUH
RINGAN";"TIDAK KUMUH"))))
Sehingga hasilnya dapat diketahui tingkat kekumuhan wilayah kumuh tersebut. Penilaian ini dapat
dilakukan pada wilayah dari yang paling kecil yaitu tingkat RT (Rukun Tetangga) hingga tingkatan
diatasnya, sehingga apabila di kompiilasikan dapat membentuk klasifikasi permukiman kumuh seperti
gambar berikut

Tidak Kumuh Kumuh Ringan Kumuh Sedang


Sumber : Sistem Informasi Kawasan Kumuh, Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Bandung

Gambar 3. 1 Klasifikasi Permukiman Kumuh di Kota Bandung

14
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
BAB 4
KESIMPULAN & SARAN
4.1 Kesimpulan

Melalui pemodelan klasifikasi, dapat memudahkan pengklasifikasian permukiman kumuh sehingga


penanganan permukiman kumuh dapat langsung dilakukan dengan memperhatikan prioritas
penanganan berdasarkan tingkat kekumuhannya. Selain itu, intervensi kegiatan penanganan
permukiman kumuh dapat dilakukan berdasarkan bobot tertinggi pada masing-masing aspek karena
hal tersebut merepresentasikan penyebab tertinggi kekumuhan tersebut. Sehingga penanganan
kumuh dapat langsung mengenai penyebabnya.

4.2 Saran
Penyebab permukiman kumuh sebenarnya tidak bisa hanya melihat dari aspek fisik saja, karena faktor
sosial dan ekonomi juga turut berpengaruh terhadap penyebab permukiman kumuh tersebut.oleh
karena itu baiknya penelitian ini memasukan faktor sosial dan ekonomi kedalam penyebab
permukiman kumuh tersebut.

15
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota
Referensi

Alena. 2012. Definisi Model dan Klasifikasi Model.


https://alena02.wordpress.com/2012/10/31/definisi-model-dan-klasifikasi-model/. Diakses Tanggal
13 Desember 2018

Crysta, Elpidia. 2017. Analisis Tingkat Kekumuhan Dan Pola Penanganannya (Studi Kasus: Kelurahan
Keputih, Surabaya). Departemen Teknik Geomatika, Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember

Kusumantoro. Prinsip Pemodelan. Materi Kuliah Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota. Institut
Teknologi Bandung

Eko Faiqurridho. 2014. Klasifikasi Model .


https://industri3604.wordpress.com/2014/12/25/klasifikasi-model/. Dikunjungi Tanggal 13
Desember 2018

Peratuan Menteri Pekerjaan Umum Tentang Peningkatan Kualitas Terhadap Perumahan Kumuh dan
Permukiman Kumuh.

16
PL 6106 – Pemodelan Perencanaan Wilayah dan Kota