Anda di halaman 1dari 17

REKLAMASI PANTAI DITINJAU DARI ASPEK HUKUM

LINGKUNGAN DAN AGRARIA


Makalah
Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Hukum Lingkungan
yang diampu oleh Hermanto Silalahi, S.H., M.Hum.

Disusun Oleh:
EPRISIA PRISKA YUNIARTI
NIM 201541010

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA KARYA MALANG
MEI 2017
PRAKATA
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan karunia-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah Reklamasi Pantai Ditinjau Dari Aspek Hukum
Lingkungan Dan Agraria dapat selesai dengan baik dan saya juga berterima kasih
kepada Hermanto Silalahi, S.H., M.Hum. selaku dosen mata kuliah Hukum
Lingkungan yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh
karena itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis
harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Malang, Mei 2017

Penulis

i
DAFTAR ISI

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan teknologi dalam segala aspek kehidupan manusia menjadikan
manusia tidak pernah merasa puas dan akan terus mengembangkan dari yang
sederhana hingga melewati batas sederhana. Begitupun dengan pekembangan
teknologi konstruksi yang sekarang sudah dirasakan dibelahan dunia manapun.
Indonesia sebagai negara maritim mempunyai garis pantai terpanjang
keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Kanada, dan Rusia dengan panjang
garis pantai mencapai 95.181 km. Wilayah Laut dan pesisir Indonesia mencapai ¾
wilayah Indonesia (5,8 juta km2 dari 7.827.087 km2). Hingga saat ini wilayah
pesisir memiliki sumber daya dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan
manusia. Seiring dengan perkembangan peradaban dan kegiatan sosial
ekonominya, manusia memanfatkan wilayah pesisir untuk berbagai kepentingan.
Konsekuensi yang muncul adalah masalah penyediaan lahan bagi aktivitas sosial
dan ekonomi masyarakat.
Agar mendapatkan lahan, maka kota-kota besar menengok daerah yang
selama ini terlupakan, yaitu pantai (coastal zone) yang umumnya memiliki
kualitas lingkungan hidup rendah. Fenomena ini bukan saja dialami di Indonesia,
tapi juga dialami negara-negara maju, sehingga daerah pantai menjadi perhatian
dan tumpuan harapan dalam menyelesaikan penyediaan hunian penduduk
perkotaan. Penyediaan lahan diwilayah pesisir dilakukan dengan memanfaatkan
lahan atau habitat yang sudah ada,seperti perairan pantai, lahan basah, pantai
berlumpur dan lain sebagainya yang dianggap kurang bernilai secara ekonomi dan
lingkungan sehingga dibentuk menjadi lahan lain yang dapat memberikan
keuntungan secara ekonomi dan lingkungan atau dikenal dengan reklamasi.
Upaya peningkatan status tersebut, antara lain dikeranakan faktor kemiskinan
yang terjadi dalam kehidupan manusia. Pembangunan merupakan suatu proses
perubahan untuk meningkatkan taraf hidup manusia tidak terlepas dari aktivitas
pemanfaatan sumberdaya alam. Dalam aktivitas ini sering dilakukan perubahan-
perubahan pada ekosistem dan sumberdaya alam. Perubahan-perubahan yang

3
dilakukan tentunya akan memberi pengaruh pada lingkungan hidup. Di daerah
perkotaan persoalan lingkungan yang paling nampak adalah persoalan yang
ditimbulkan oleh penggunaan lahan. Ada tiga penyebab utama antara lain; faktor
meningkatnya pertumbuhan penduduk baik secara alami (kelahiran) maupun
perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi), faktor pembangunan yang
senantiasa mendominasi daerah perkotaan, faktor keterbatasan lahan perkotaan.
Reklamasi pantai, merupakan salah satu contoh dari upaya manusia untuk
menjawab keterbatasan lahan di perkotaan, sebagaimana yang terjadi di Kota
jakarta, kegiatan reklamasi yang dilakukan diteluk Jakarta oleh pemerintah
daerah dan sebagian masyarakat beberapa tahun terakhir cenderung meningkat.
Dalam perkembangan selanjutnya kawasan tersebut dimanfaatkan untuk
pembangunan fasilitas perkotaan dan permukiman. Proses reklamasi pantai pada
kenyataan dilakukan belum berjalan dengan baik sehingga dikhawatirkan
menimbulkan dampak negatif seperti semakin banyaknya material yang hanyut,
sehingga terjadi pendangkalan perairan, dan bila ini terus berlangsung akan
mengancam ekosistem pantai.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, dapat dirumuskan masalah-masalah
sebagai berikut.
1. Apa pengaruh reklamasi ditinjau dari aspek hukum lingkungan?
2. Apa pengaruh reklamasi ditinjau dari aspek agraria?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah di atas, makalah ini bertujuan :
1. Untuk mengetahui pengaruh reklamasi ditinjau dari aspek hukum lingkungan.
2. Untuk mengetahui pengaruh reklamasi ditinjau dari aspek agraria.

4
BAB II
PENGARUH REKLAMASI DITINJAU DARI ASPEK HUKUM
LINGKUNGAN
a. Penegakan Hukum Pidana
Didalam rangka penegakan hukum lingkungan dilihat dari sudut hukum
pidana, maka perlu pemrakarsa dalam hal ini pengusaha dapat dikenakan denda
atau kurungan bilamana melakukan kegiatan tidak memenuhi salah satu syarat
perizinan dalam hal ini termasuk proses AMDAL.
Konsultan AMDAL dapat dikenakan sanksi pidana apabila studi AMDAL
(data dan informasi) yang disampaikan tidak berdasarkan studi yang benar/palsu,
(misal AMDAL fiktif). Hal ini dibuktikan dengan kesaksian ahli di pengadilan.
Dipertegas dalam UU RI No.32 Th.2009 tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup terhadapa sangsi pidana/ketentuan pidana pada Bab XV pasal
97 s/d 120.
b. Penegakan Hukum Perdata
Keterkaitan pengelolaan lingkungan hidup terhadap masalah penegakan
hukum AMDAL Reklamasi Pantai di Kota Bandar Lampung dilihat dari sudut
hukum perdata, mengacu pada ajaran mengenai perbuatan melawan hukum pasal
1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPdt). Menurut Pasal 1365
KUHPdt, perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menimbulkan kerugian itu, untuk
mengganti kerugian.
Unsur-unsur Pasal 1365 KUHPdt yang harus dibuktikan ialah:
1. Perbuatan tersebut harus melawan hukum;
2. Pelaku harus bersalah
3. Ada kerugian
4. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan dengan kerugian.
Selanjutnya penggunaan hukum pidana dan hukum administrasi dalam rangka
penegakan hukum di bidang AMDAL Reklamasi Pantai ini terutama
bertujuan agar tercapai ketertiban kehidupan masyarakat secara keseluruhan,

5
sedangkan hukum perdata bertujuan untuk memberikan perlindungan kepentingan
warga masyarakat secara individual dalam hubungan dengan warga masyarakat.
c. Penegakan Hukum Administrasi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sub Bidang AMDAL dan
Kepala Bidang Konservasi, Rehabilitasi Lingkungan Hidup dan Mitra
Lingkungan Bapedal Provinsi Lampung, maka terhadap perusahaan yang
tidak/belum memiliki izin AMDAL tetapi sudah melakukan
penimbunan/reklamasi pantai dan sudah menjalankan usahanya dapat
dikenakan sanksi administrasi.
Jika terjadi pelanggaran peraturan, misalnya mengenai izin AMDAL
dalam rangka penimbunan/reklamasi pantai, maka langkah represif untuk
memaksakan kepatuhan dilakukan melalui penerapan sanksi administrasi,
beberapa jenis sanksi administrasi sebagai sarana penegakan hukum
lingkungan adalah :
a. Paksaan pemerintah (bestuursdwan)
b. Uang paksa ( publiekrechtelijke dwangsom)
c. Penutupan tempat usaha ( slutting van een inrichting)
d. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (buitengebruikstelling van een
roastel);
e. Pencabutan izin
Dipertegas dalam UU No.32 Th. 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup terhadapsanksi administrative pada Pasal 76 s/d
83.
2.2 Faktor-Faktor Penghambat Penegakan Hukum AMDAL Reklamasi
Faktor penghambat penegakan hukum terhadap pelaksanaan reklamasi
pantai yang telah lama dilaksanakan yaitu sejak tahun 1983, disebabkan
oleh beberapa faktor, seperti faktor hukum yakni kurang tegasnya
penerapan sangsi oleh instansi terkait dalam penyelenggaraan reklamasi
pantai terhadap perusahaan yang tidak melaksanakan kewajiban
sebagaimana mestinya yang ditentukan di dalam surat keputusan pemberian
izin penimbunan pantai merupakan kendala penyelenggaraan reklamasi pantai.

6
Tidak adanya peraturan yang dalam hal ini Perda yang secara khusus
mengatur tentang reklamasi pantai, sehingga penegakan hukum AMDAL
reklamasi pantai terhadap perusahaan yang tidak memiliki izin AMDAL serta
melakukan pencemaran dan perusakan lingkungan akan sulit ditegakkan. Apabila
perkara pencemaran dan perusakan lingkungan hidup diselesaikan melalui
Peradilan Tata Usaha Negara, maka kemungkinan pengajuan gugatan
pencabutan izin ke PTUN akan menemui kendala, antara lain karena
panjangnya alur penyelesaian sengketa dan tidak jelasnya tenggang waktu
pengajuan gugatan bagi pihak ke tiga.Selain faktor hukum, faktor aparat
pemerintah yang dalam hal ini yaitu koordinasi antar instansi yang terkait
dalam penyelenggaraan reklamasi pantai belum mantap karna secara teknis
kewenangan ada pada masing-masing instansi pemberi izin dengan berbagai
keterbatannya.
Faktor ekonomi juga menyebabkan hukum tidak dapat ditegakkan
sebagaimana mestinya. Mislanya apabila perusahaan tersebut ditutup atau di
cabut izin usahanya, maka dalam hal ini akan mengakibatkan puluhan bahkan
ratusan buruh akan menganggur (kehilangan pekerjaan) dan perusahaan
akan menderita kerugian yang sangat besar sehingga keadaan ekonomi akan
memburuk.
Selain faktor-faktor penghambat penegakan hukum AMDAL reklamasi
pantai di Kota Bandar Lampung, berdasarkan hasil penelitian di lapangan
terdapat pula faktor-faktor penghambat dalam penyelenggaraan reklamasi
pantai antara lain :
1. Luasnya pantai yang direklamasi oleh perusahaan, merupakan kendala
dalam penyelenggaraan reklamasi pantai, apalagi bila tidak ditunjang
dengan dana yang cukup besar serta peralatan yang canggih dan
lengkap maka sebagian masyarakat akan terhambat.
2. Adanya sebagian masyarakat yang masih belum bersedia
meninggalkan lokasi yang akan di timbun, karena alasan dekat dengan
tempat usaha.

7
3. Hambatan lain yang dihadapi selama ini lebih banyak menyangkut
pemindahan rumah, misalnya sudah dibayar kemudian kembali ketempat
asalnya. Dalam soal reklamasi tidak ada istilah ke tempat asalnya,
yang ada adalah sistem kerja sama dengan pihak terkait dengan
menggunakan pendekatan.
Oleh karena itu daerah-daerah reklamasi yang bermasalah dihindari
dahulu, terutama yang menyangkut ganti rugi.

8
BAB III
PENGARUH REKLAMASI DITINJAU DARI ASPEK HUKUM
AGRARIA

3.1 Hukum Agraria


pengaturan tentang penguasaan hak atas Tanah hasil reklamasi tetap merujuk
pada peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur pada Pasal 60 PP
No. 40 Tahun 1999 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai
Atas Tanah, dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN tanggal 9 Mei
1996 Nomor 410-1293 tentang Penertiban Status Tanah Timbul dan Tanah
Reklamasi, tanah timbul dan tanah reklamasi dikuasai oleh Negara dan
pengaturannya dilakukan oleh Menteri Negara Agraria/Kepala badan Pertanahan
Nasional, pihak yang melakukan reklamasi dapat diberikan prioritas pertama
untuk mengsajukan permohonan hak atas tanah reklamasi tersebut sesuai dengan
peraturan yang berlaku. Meskipun tanah reklamasi di pinggir pantai merupakan
Tanah yang dikuasai oleh Negara, proses pemberian hak atas tanahnya tetap
harus berpedoman pada PP No. 40 Tahun 1996.
Menurut Peraturan yang pada dasarnya memberikan wewenang kepada
negara untuk menguasai dan mengendalikan tanah diseluruh wilayah Negara,
tetapi tidak mengenal kepemilikan tanah oleh Negara. Penguasaan dan
pengendalian yang dimaksud adalah untuk mengatur dan mengarahkan alokasi
penggunaan, perlindungan dan pengolahan tanah, terutama untuk kepentingan
umum sebagaimana di maksud dalam intruksi Presiden No.39 Tahun 1973.
Disamping itu juga Negara berwenang untuk menentukan hubungan yuridis antara
tanah dengan perseorangan, badan hukum maupun dengan beberapa orang yang
berkaitan dengan masalah tanah.
Menurut Van Vollenhoven sumber kekuasaan Negara atas sumber daya alam
(termasuk tanah) ialah karena negara sebagai organisasi tertinggi dari bangsa yang
diberi kekuasaan untuk mengatur segala-galanya dan Negara berdasarkan
kedudukannya memiliki kewenangan untuk membuat peraturan hukum.
Ketentuan peraturan hukum yang digunakan ialah undang-undang dasar Negara

9
yang memuat ketentuan-ketentuan kepada siapa kekuasaan itu diserahkan dan
batas-batas pelaksanaannya.
Menurut Ronald Z. Titahelu, secara teoritik kekuasaan Negara atas
sumberdaya alam bersumber dari rakyat yang dikenal sebagai hak bangsa. Negara
di sini di
pandang sebagai territorial publieke rechtsgemenschap van overhead en
onderdaden, yang memiliki karakter sebagai suatu lembaga masyarakat hukum,
sehingga kepadanya diberikan wewenang atau kekuasaan untuk mengatur,
mengurus dan memelihara (mengawasi) pemanfaatan seluruh potensi sumberdaya
alam yang ada dalam wilayahnya secara intern. Hak penguasaan atas tanah adalah
suatu hubungan hukum yang memberi wewenang untuk berbuat sesuatu kepada
subyek hukum (orang/badan hukum) terhadap obyek hukumnya, yaitu tanah yang
dikuasainya. Hak penguasaan atas tanah juga berisikan serangkaian wewenang,
kewajiban, dan atau larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu
mengenai tanah yang dihaki. Sesuatu yang boleh, wajib atau larangan untuk
diperbuat, yang merupakan isi hak penguaasaan.
Hak menguasai negara adalah bertujuan untuk kemakmuran rakyat,
kemakmuran itu adalah merupakan terminologi ekonomi, suatu masyarakat dapat
memenuhi dan dipenuhi kebutuhan baik fisik maupun non fisik secara terus
menerus. Makna dikuasai oleh Negara, tidak ada penjelasan resmi, namun satu hal
yang disepakati, dikuasai oleh Negara tidak sama dengan dimiliki Negara,
mengenai penguasan Negara ini diatur dalam Pasal 2 ayat (2) UUPA, dikuasai
oleh Negara adalah wewenang untuk mengatur, menentukan penggunaan.
Menurut penulis tanah yang dihasilkan oleh reklamasi pantai tersebut harus
benar-benar diatur, karena pantai merupakan hak publik yang tidak boleh dimiliki
pribadi atau privatisasi oleh perseorangan, sebagaimana yang dinyatakan menurut
Montesquieu Benda-benda yang karena berhubungan dengan sifatnya, dapat
dipergunakan tapi tidak dapat dipunyai dan disesuaikan untuk kepentingan umum
adalah res communes. Pantai merupakan milik bersama sebagaimana menurut
teori Milik Bersama (Common Property) milik semua orang berarti bukan milik
siapapun (everybodys property is nobodys property), hal ini berarti reklamasi

10
pantai yang dilakukan saat ini tidak dapat dimiliki secara privatisasi oleh seorang
saja, tetapi harus dinyatakan sebagai milik bersama, dan dapat dinikmati oleh
masyarakat. Berdasarkan hal-hal yang tercantum dalam UUPA tersebut diatas,
dapat dikemukakan bahwa tanah reklamasi merupakan tanah Negara, yang
pengaturannya saat ini, yaitu :
a. Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN No.410-1293 tanggal 9
Mei 1996 yang menyatakan bahwa pengaturannya dilaksanakan oleh Menteri
Negara Agraria.
b. PP NO.40 Tahun 1996 khususnya Pasal 60 yang menyatakan bahwa
pemberian HGU, HGB atau Hak Pakai atas sebidang tanah yang seluruhnya
merupakan pulau atau berbatasan dengan pantai akan diatur tersendiri dengan
peraturan pemerintah.
Sementara itu, sebagaimana telahdisebutkan diatas, peraturan pemerintah
yang mengatur tentang ketentuan pemberian hak tersebut sampai saat ini belum
ada. Terkait penguasaan tanah tidak dibebani hak milik, sehingga sudah pasti
dikuasai oleh negara dan digunakan sesuai peruntukan untuk kemakmuran rakyat.
Karenanya, andai ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kawasan tersebut
sudah pasti harus mendapatkan izin dari Negara.
Status tanah yang muncul akibat reklamasi tentunya dengan mengikuti
ketentuanketentuan hukum tanah positif yang ada. Kalau diurut tahap-tahap
kemunculan tanah baru itu adalah sebagai berikut:
a. Berbentuk laut yang dikuasai oleh negara.
b. Direklamasi atas izin yang diberikan oleh pemerintah dan izin reklamasi itu
dapat diberikan setelah dilakukan Amdal.
c. Muncul tanah baru yang tentunya dikuasai oleh negara, karena izin reklamasi
semata-mata hanya untuk melakukan reklamasi dan tidak untuk menguasai
tanah hasil reklamasi.
Menurut pendapat penulis bahwa berdasarkan azas kepatutan, pihak yang
mereklamasi yang dapat prioritas pertama untuk memohon hak atas tanah
tersebut.
3.2 Permasalahan dan dampak reklamasi pantai

11
Dalam melakukan reklamasi terhadap kawasan pantai, harus memperhatikan
berbagai aspek/dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh kegiatan tersebut.
Dampak-dampak tersebut antara lain dampak lingkungan, sosial budaya maupun
ekonomi. Dampak lingkungan misalnya mengenai perubahan arus laut,
kehilangan ekosistem penting, kenaikan muka air sungai yang menjadi terhambat
untuk masuk ke laut yang memungkinkan terjadinya banjir yang semakin parah,
kondisi lingkungan di wilayah tempat bahan timbunan, sedimentasi, perubahan
hidrodinamika yang semuanya harus tertuang dalam analisis mengenai dampak
lingkungan. Dampak sosial budaya diantaranya adalah kemungkinan terjadinya
pelanggaran HAM (dalam pembebasan tanah), perubahan kebudayaan, konflik
masyarakat, dan isolasi masyarakat. Sementara dampak ekonomi diantaranya
berapa kerugian masyarakat, nelayan, petambak yang kehilangan mata
pencahariannya akibat reklamasi pantai.
Kegiatan Reklamasi pantai memungkinkan timbulnya dampak yang
diakibatkan. Adapun untuk menilai dampak tersebut bisa dibedakan dari tahapan
yang dilaksanakan dalam proses reklamasi, yaitu :
 Tahap Pra Konstruksi, antara lain meliputi kegiatan survey teknis dan
lingkungan, pemetaan dan pembuatan pra rencana, perijinan, pembuatan
rencana detail atau teknis.
 Tahap Konstruksi, kegiatan mobilisasi tenaga kerja, pengambilan material
urug, transportasi material urug, proses pengurugan.
 Tahap Pasca Konstruksi, yaitu kegiatan demobilisasi peralatan dan tenaga
kerja, pematangan lahan, pemeliharaan lahan.
Wilayah yang kemungkinan terkena dampak adalah :
a. Wilayah pantai yang semula merupakan ruang publik bagi masyarakat akan
hilang atau berkurang karena akan dimanfaatkan kegiatan privat. Dari sisi
lingkungan banyak biota laut yang mati baik flora maupun fauna karena
timbunan tanah urugan sehingga mempengaruhi ekosistem yang sudah ada.
b. System hidrologi gelombang air laut yang jatuh ke pantai akan berubah dari
alaminya. Berubahnya alur air akan mengakibatkan daerah diluar reklamasi

12
akan mendapat limpahan air yang banyak sehingga kemungkinan akan terjadi
abrasi, tergerus atau mengakibatkan terjadinya banjir atau rob karena
genangan air yang banyak dan lama.
c. Ketiga, aspek sosialnya, kegiatan masyarakat di wilayah pantai sebagian besar
adalah petani tambak, nelayan atau buruh. Dengan adanya reklamasi akan
mempengaruhi ikan yang ada di laut sehingga berakibat pada menurunnya
pendapatan mereka yang menggantungkan hidup kepada laut. Selanjutnya
adalah aspek ekologi, kondisi ekosistem di wilayah pantai yang kaya akan
keanekaragaman hayati sangat mendukung fungsi pantai sebagai penyangga
daratan. Ekosistem perairan pantai sangat rentan terhadap perubahan sehingga
apabila terjadi perubahan baik secara alami maupun rekayasa akan
mengakibatkan berubahnya keseimbangan ekosistem. Ketidakseimbangan
ekosistem perairan pantai dalam waktu yang relatif lama akan berakibat pada
kerusakan ekosistem wilayah pantai, kondisi ini menyebabkan kerusakan
pantai.
Ada bermacam dampak reklamasi daerah pesisir pantai yang banyak
dilakukan pada negara atau kota maju dalam rangka memperluas daratan sehingga
bisa digunakan untuk area bisnis, perumahan,wisata rekreasi dan keperluan lainya.
selalu ada dampak positif dan negatif dalam setiap kegiatan termasuk dalam hal
pengurugan tepi laut ini, bisa jadi yang melakukan kegiatan hanya mendapat
keuntunganya saja sementara kerugian harus ditanggung oleh pihak yang tidak
mengerti apa-apa, tanpa disadari banyak daerah pesisir pantai terpencil yang
hilang karena aktifitas reklamasi ini.

13
BAB IV
SIMPULAN

Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Pengaruh reklamasi ditinjau dari aspek hukum lingkungan, ada 3 aspek
hukum yakni:
1. Penegakan Hukum Pidana
Didalam rangka penegakan hukum lingkungan dilihat dari sudut hukum
pidana, maka perlu pemrakarsa dalam hal ini pengusaha dapat dikenakan denda
atau kurungan bilamana melakukan kegiatan tidak memenuhi salah satu syarat
perizinan dalam hal ini termasuk proses AMDAL.
Konsultan AMDAL dapat dikenakan sanksi pidana apabila studi AMDAL
(data dan informasi) yang disampaikan tidak berdasarkan studi yang benar/palsu,
(misal AMDAL fiktif). Hal ini dibuktikan dengan kesaksian ahli di pengadilan.
Dipertegas dalam UU RI No.32 Th.2009 tentang perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup terhadapa sangsi pidana/ketentuan pidana pada Bab XV pasal
97 s/d 120.
2. Penegakan Hukum Perdata
Keterkaitan pengelolaan lingkungan hidup terhadap masalah penegakan
hukum AMDAL Reklamasi Pantai di Kota Bandar Lampung dilihat dari sudut
hukum perdata, mengacu pada ajaran mengenai perbuatan melawan hukum pasal
1365 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPdt). Menurut Pasal 1365
KUHPdt, perbuatan melawan hukum yang membawa kerugian kepada orang lain,
mewajibkan orang yang karena salahnya menimbulkan kerugian itu, untuk
mengganti kerugian.
Unsur-unsur Pasal 1365 KUHPdt yang harus dibuktikan ialah:
1. Perbuatan tersebut harus melawan hukum;
2. Pelaku harus bersalah
3. Ada kerugian
4. Ada hubungan sebab akibat antara perbuatan dengan kerugian.

14
c. Penegakan Hukum Administrasi
beberapa jenis sanksi administrasi sebagai sarana penegakan hukum
lingkungan adalah :
a. Paksaan pemerintah (bestuursdwan)
b. Uang paksa ( publiekrechtelijke dwangsom)
c. Penutupan tempat usaha ( slutting van een inrichting)
d. Penghentian kegiatan mesin perusahaan (buitengebruikstelling van een
roastel);
e. Pencabutan izin
Dipertegas dalam UU No.32 Th. 2009 tentang perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup terhadapsanksi administrative pada Pasal 76 s/d
83.
2. Pengaruh agraria ditinjau dari aspek hukum agraria, pengaturan tentang
penguasaan hak atas Tanah hasil reklamasi tetap merujuk pada peraturan
perundang-undangan sebagaimana yang diatur pada Pasal 60 PP No. 40 Tahun
1999 tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai Atas Tanah,
dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala BPN tanggal 9 Mei 1996
Nomor 410-1293 tentang Penertiban Status Tanah Timbul dan Tanah Reklamasi,
tanah timbul dan tanah reklamasi dikuasai oleh Negara dan pengaturannya
dilakukan oleh Menteri Negara Agraria/Kepala badan Pertanahan Nasional, pihak
yang melakukan reklamasi dapat diberikan prioritas pertama untuk mengsajukan
permohonan hak atas tanah reklamasi tersebut sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Meskipun tanah reklamasi di pinggir pantai merupakan
Tanah yang dikuasai oleh Negara, proses pemberian hak atas tanahnya tetap
harus berpedoman pada PP No. 40 Tahun 1996.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abdul, Alim, Salam. 2006. Kata pengantar Ketua Tim Penyusun/Sekretais Bidang
Wilayah Dalam Laporan Akhir Perumusan Kebijakan Tata Pemeintahan di
Laut. DKPSekretariat Jendral. Jakarta.
Danusaputro M. 1980. Hukum Lingkungan Binacipta. Jakarta.
Siahaan, N, H. T. Hukum Lingkungan Pancuran Alam. Jakarta.

16