Anda di halaman 1dari 9

KAJIAN EVOLUSI GEOKIMIA DAN KAITANNYA DENGAN TINGKAT

BAHAYA VULKANIK GUNUNG MURIA TERHADAP TAPAK PLTN MURIA

Basuki Wibowo, June Mellawati, Heni Susiati


Pusat Pengembangan Energi Nuklir, BATAN

ABSTRAK.
KAJIAN EVOLUSI GEOKIMIA DAN KAITANNYA DENGAN TINGKAT BAHAYA
VULKANIK GUNUNG MURIA TERHADAP TAPAK PLTN MURIA. Telah dilakukan
kajian aspek evolusi geokimia pada siklus Gunung Muria untuk memprediksi tingkat bahaya
vulkanik yang ditimbulkan di masa yang akan datang pada tapak PLTN Muria. Tujuan kajian
adalah untuk mengetahui kondisi geokimia Muria, pola tektonik dan memprediksi tingkat bahaya
vulkanik di masa mendatang pada tapak PLTN Muria. Metodologi yang digunakan adalah
pengumpulan data sekunder kondisi geokimia pada kompleks kegunungapian Muria dalam siklus
hidupnya, melakukan korelasi siklus geokimia yang dilaluinya terhadap kondisi tektonik yang
paling mungkin dialaminya, dan interpretasi tingkat bahaya vulkanik yang ditimbulkan. Hasil
kajian menunjukkan bahwa kondisi geokimia di komplek Gunungapi Muria tersusun atas
potasium berkadar rendah yang diperkirakan produk lelehan magma bertemperatur tinggi
(dekompresi) dan potassium berkadar tinggi (kompresi). Pola tektonik dekompresi terkait dengan
kondisi geokimia potassium rendah pada Muria tua, sedangkan pola tektonik kompresi terkait
dengan kondisi geokimia potassium tinggi pada Muria muda. Tingkat bahaya vulkanik di masa
mendatang diindikasikan oleh sifat non kapabel dari Gunung Muria.
Kata Kunci: aspek geokimia, bahaya vulkanik Gunung Muria.

ABSTRACT
ASSESSMENT OF MURIA GEOCHEMISTRY EVOLUTION AND RELATED TO
VOLCANIC HAZARD TO NPP SITE AT MURIA. Study of geochemistry evolution aspect in
Mt. Muria cycle to predict the level of volcanic hazards posed in the future on Muria nuclear
power plant site was conducted. The purpose of the study was to determine the Muria
geochemistry condition, tectonic patterns and to predict the level of volcanic hazard in the
future on Muria nuclear power plant sites. The methodology used is the collection of secondary
data on the complex geochemical conditions Muria volcanic in their life cycle, perform
correlation geochemical cycle in its path towards conditions that most likely experienced
tectonic, volcanic, and interpretation of the hazard posed. The study shows that geochemical
conditions in Muria Volcano complex composed of potassium, low-yield product predicted
high-temperature molten magma (decompression) and high potassium levels (compression).
Pattern of tectonic decompression geochemical conditions associated with low potassium in
Muria old, while the pattern of tectonic compression geochemical conditions associated with
high potassium in young Muria. The level of volcanic hazard in the future indicated by the
nature of non capable of Mt. Muria.

Keywords: aspects of geochemistry, volcanic hazards of Mount Muria.


1. Pendahuluan 2. Tinjauan Pustaka
Pemilihan tapak suatu fasilitas vital Kondisi geokimia magmatik
seperti PLTN di Muria memerlukan kegunungapian sangat bergantung pada
lokasi dengan tingkat risiko bahaya siklus kendali tektonik yang
geologi yang sangat rendah, khususnya menyertainya. Pada umumnya, di Asia
pada aspek vulkanologi dimana Selatan dan Indonesia khususnya, pada
keberadaan kompleks kegunungapian periode Cenozoic, sistem magmatik
Muria berkisar pada jarak sekitar 25 km subduksi mulai muncul dekat dengan
dari tapak Ujung Lemahabang (ULA) kerak tipis dan tebal setelah terjadinya
tersebut. Dengan mengetahui kondisi tumbukan lempeng. Berdasarkan hal
sejarah geokimia gunung Muria tersebut tersebut, maka set tektonik terkait
akan diperoleh gambaran tentang siklus dengan busur magmatisme
magmatisme berserta siklus tektonik kegunungapian dapat dibedakan dalam
yang menyertainya dan dapat dilakukan tiga kategori, yaitu: (a) Set tektonik
estimasi bahaya kegunungapian di masa normal (kompresi) dimana magmatisme
yang akan datang. kegunung apian terjadi berasosiasi
Newjec (1996) dan NTT (2000) dengan slab subduksi; (b) Set tektonik
telah melakukan pengumpulan data dimana terjadi proses subduksi tetapi
geokimia yang komprehensif, baik pada tidak terjadi proses magmatisme
data sekundernya maupun yang kegunungapian; (c) Set tektonik dimana
menyangkut data primernya. Secara terjadi proses magmatisme kegunung
regional kegunungapian Muria apian yang tidak berasosiasi dengan
mempunyai dua siklus geokimia, yaitu proses subduksi (tektonik dekompresi).
siklus potasik rendah dan siklus potasik Oleh karena itu pada semua kasus, set
tinggi [1, 2]. Pada tulisan ini akan tektonik tersebut harus dipertimbangkan
dibahas kondisi geokimia Muria serta dalam mengkaji sejarah proses subduksi
pola tektonik yang menyertainya dan tersebut. Berdasarkan hal tersebut untuk
melakukan prediksi tingkat bahaya mengetahui proses dinamik zona
vulkanik di masa yang akan datang pada subduksi harus mempertimbangkan
tapak PLTN Muria khususnya. adanya siklus kondisi geokimia
kegunungapiannya.
Konsep genesis magma busur
pulau dapat dijelaskan berdasarkan
evaluasi tektonik, petrologi, dan data atau pada kerak di bawah gunungapi
geokimia. Pada zona subduksi normal, tersebut. Pada kenyataannya beberapa
lempeng litosfer tenggelam dalam sumber magma berasal dari kombinasi
mantel bumi dengan sudut yang bahan pembentukan magma. Sumber
konstan. Kondisi lempeng subduksi magma dominan pada busur
(lempeng oseanik) lebih dingin dari kegunungapian kuarter Indonesia adalah
pada lapisan astenosfer, sehingga efek calc alkaline. Walaupun begitu, ada
dari subduksi tersebut akan mengubah variasi komposisi pada busur depan
temperatur astenosfer mendekati maupun belakang gunung api di
temperatur subduksi sehingga akan Indonesia. Berdasarkan nilai variasi
terjadi mekanisme aliran air kerak K2O dan SiO2, sumber magma tersebut
subduksi ke dalam lapisan mantel bumi. dapat dikatagorikan sebagai a)
Air memainkan peranan penting Tholeitic, b) Calc-alkaline, c) High-K
dalam petrogenesis busur pulau calcalkaline, d) Shoshonitic dan e)
kegunungapian. Sebagai tambahan, Leucititic [3]. Klasifikasi geokimia
subduksi akan mengakibatkan tersebut digunakan untuk melihat
terjadinya mekanisme pengkayaan kesamaan antara batuan gunungapi di
sedimen pada lapisan mantel yang akan Indonesia pada umumnya, dan Muria
sangat berpengaruh pada proses genesis khususnya. Unsur-unsur geokimia
magma. Proses tersebut dapat dijelaskan ditunjukkan pada Gambar 1.
melalui keberadaan isotop Sr, Pb dan
Oksigen pada busur pulau tersebut.
Ada tiga jenis sumber bahan dalam
pembentukan magma, yaitu: (a) sumber
magma basaltik dari mantel peridotite
melalui proses hot spot, (b) subduksi
kerak oseanik yang akan menghasilkan
Gambar 1. Unsur Geokimia
magma dengan kandungan SiO2 skala
menengah, dan (b) fusi parsial dari
Terkait dengan aspek sejarah
kerak kontinental yang akan
tektonik Muria berdasarkan data
memproduksi magma granite, dan
geologi sekunder, menunjukan bahwa
rhyolites [2]. Magma busur pulau
Semenanjung Muria telah mengalami
berasal dari subduksi litosfer oseanik
minimal dua rejim tektonik yaitu
peregangan (dekompresi) dan tektonik berasal dari magma yang mendingin dari
tekanan (kompresi). Keberadaan kumpulan magma terakhir.

gunungapi Muria saat ini menunjukan


pernah terjadi interaksi yang komplek 3.Metodologi

antara rejim tekanan dan keberadaan Pada kajian ini dilakukan langkah-

struktur regangan di daerah ini. langkah sebagai berikut: (a)

Proses tektonik tekanan ini Pengumpulan data geokimia sekunder,

diperkirakan mengakibatkan batuan yang meliputi elemen mayor dan

dasar yang berumur lebih tua elemen penjejaknya (trace-element),

mengalami pemampatan yang seperti SiO2, TiO2, Al2O3, FeO, MgO,

memungkinkan keluarnya magma CaO, Na2O, dan K2O; (b) Pengeplotan

melalui bidang sesar yang teraktifkan kurva elemen mayor magma, dan kurva

kembali dan membentuk Komplek elemen penjejaknya (trace-element),

Gunungapi Muria [2] [3]. seperti K2O versus SiO2, diagram umur

Berdasarkan sejarah tektonik yang versus konsentrasi SiO2, dan diagram

berlangsung di daerah Muria berupa rasio Zr/Nb versus Sr87/Sr86; (c)

tetonik peregangan (Paleogen) dan Pengumpulan data sekunder kondisi

tektonik inversi berupa tektonik tekanan tektonik Gunung Muria; dan (d)

(Neogen Akhir), maka batuan vulkanik Analisis geokimia dan korelasinya

berkadar potasium rendah boleh jadi dengan kondisi tektonik yang paling

berasal dari kegiatan ekstrusi pelelehan mungkin terjadi pada saat itu, serta

melalui bidang sesar (Paleogen) yang melakukan analisis tingkat bahaya

teraktifkan kembali. Sebaliknya batuan kegunungapian berdasarkan kondisi

vulkanik bekadar potasium rendah geokimianya pada saat ini.

boleh jadi berasal dari kegiatan intrusi


pada fase tektonik tekanan (Plistosen). 4. Hasil Dan Pembahasan

Berdasarkan kurva SiO2 batuan 4.1. Hasil


vulkanik vs usia historikal menunjukkan Data sekunder elemen mayor
bahwa produk erupsi terakhir berasal dari geokimia Muria dan Genuk untuk
diferensiasi kumpulan magma sebelumnya, Potassium tinggi dan rendah dari
sehingga dapat ditafsirkan bahwa aktifitas Newjec (1996) dan NTT (2000)
erupsi Kompleks Vulkanik Muria hanya ditunjukkan pada Tabel 1-3.
Tabel 1. Geokimia Muria Wet Series [1,2]

Tabel 2. Geokimia Muria Dry Series [1,2]

Pada Tabel 1 diperlihatkan data


geokimia
Muria wet series, tabel 2 dry series, dan
tabel 3 wet series dan dry series
Gunung Genuk.
Tabel 3. Data Geokimia Muria dan Genuk Wet Series [1][2]

Tabel 1 s/d 3 menunjukkan diferensiasi magmatisme Muria.


hubungan antara konsentrasi SiO2 Hubungan antara konsentrasi SiO2
dengan K2O; hubungan K2O dengan dengan konsentrasi K2O seri K-tinggi
SiO2, serta diagram umur versus SiO2 dan K-rendah ditunjukkan pada Gambar
dan diagram skenario proses 2,

Gambar 2. Hubungan SiO2 Vs. K2O Seri K-tinggi dan rendah[3] pada Kelompok Gunung Seri Alkalin
Hubungan K2O dengan SiO2 Muria, diferensiasi magmatisme Muria
Sangeang dan Tambora ditunjukkan ditunjukkan pada Gambar 4, diagram
87
pada Gambar 2, dan 3, sedangkan rasio Zr/Nb Vs. Sr/86Sr pada Gambar
diagram umur dengan konsentrasi SiO2 5.
dan diagram skenario proses

Gambar 3. Hubungan K2O Vs SiO2 Muria, Sangeang dan Tambora [4]


60

58

56

54

52
SiO 2 (wt.%)

50 Influxa
new
48 magma
MagmabatchI
46

44

42
Differentiationprocess
40
0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0 1.1 1.2
Age(Ma)
Muria G. Genuk Muria II MuriaI Patiayam

Gambar 4. Diagram Umur (Ma) Vs. SiO2 (wt.%) [5] Gambar 5. Diagram Rasio Zr/Nb Vs. 87Sr/86Sr [6]

Berdasarkan komposisi geokimia bantuan sesar besar yang teraktifiasi


Gunung Muria (Kuarter), maka Muria kembali. Selanjutnya Gunung Muria
tidak mungkin merupakan bagian dari merupakan contoh khas busur belakang
intermediate crust di selatannya. kegunungapian.
Gunung Muria ini sangat alkalin dan
potasik dan leucite-bearing yang 4.2. Pembahasan
mencerminkan adanya asosiasi kerak Analisis geokimia batuan
kontinen yang tebal yang berperan gunungapi Muria memperlihatkan
dalam proses partial melting lapisan tatanan kimia yang bervariasi dari
astenosfir menjadi magma dengan batuan yang mengandung kalk-alkali
normal hingga potasium tinggi. Banyak berpotasium rendah. Selanjutnya terjadi
ragam batuan vulkanik di kawasan peristiwa tektonik yang mengalami
gunungapi Muria yang berbeda umur perubahan secara berangsur dan
pembentukannya. Batuan yang mengakibatkan peregangan berhenti
mengandung potasium tinggi memiliki serta beralih menjadi bertekanan
umur yang lebih muda jika (kompresi) yang menghasilkan magma
dibandingkan dengan batuan yang berpotasium tinggi.
kandungan potasiumnya rendah. Pengeplotan SiO2 batuan vulkanik
Gambar 2 menggambarkan kondisi versus umur historikal (Gambar 4.)
batuan vulkanik Kuarter busur Sunda- dengan menggunakan data yang tersedia
Banda. Kondisi geokimia berkisar antara menunjukkan bahwa produk erupsi
tholeitic, calc-alkaline, K-alkaline tinggi,
terakhir berasal dari diferensiasi
shosonitic dan seri leusitic.[3] Kondisi
kumpulan magma sebelumnya. Bila
batuan vulkanik Muria terletak pada kisaran
tidak terdapat masukan magma baru,
seri leusititic (....Δ....). Sedangkan hasil
aktifitas erupsi Kompleks Vulkanik
plot kurva K2O versus SiO2 (Gambar
Muria akan berasal dari magma yang
3.) dapat memperlihatkan tingkat
mendingin dari kumpulan magma
konsentrasi SiO2 lebih tinggi pada
terakhir. Peristiwa ini biasanya
Muria tua (potasik rendah),
menyebabkan erupsi bertipe freatik bila
dibandingkan dengan Muria muda
panas dari magma yang mendingin
(potasik tinggi).
mengalami kontak dengan air tanah.
Berdasarkan potensi tektonik yang
Masukan magma baru dapat dideteksi
menyertainya, maka magma yang
dengan pemantauan gempabumi
mengandung potasium tinggi terbentuk
gunungapi di bawah Vulkanik Muria.
pada temperatur lebih rendah
NTT Report (2000) menyatakan bahwa
dibandingkan dengan magma yang
hal tersebut merupakan indikasi tidak
mengandung potasium rendah.
adanya konsentrasi episenter di bawah
Selanjutnya akan terjadi pengurangan
Kompleks Vulkanik Muria, sehingga
temperatur pada pelelehan mantel
Gunung Muria dapat dianggap sebagai
selaras dengan berjalannya waktu.
gunungapi yang tidak berkemampuan
Dalam hal ini peristiwa tektonik yang
(non kapabel) untuk erupsi magmatik
mengakibatkan peregangan
dalam waktu dekat di masa depan.
(dekompresi) menghasilkan pelelehan
magma dengan panas tinggi dan magma
Berdasarkan diagram rasio Zr/Nb 6. Daftar Pustaka
87
Vs. Sr/86Sr diperoleh gambaran [1] Newjec. Feasibility Study of NPP in
skenario sumber magma dari Muria
Muria Peninsula. Volcanology
yang menyatakan bahwa magma Muria Report, (1996).
dipengaruhi oleh kombinasi Mid Ocean
[2] National Technical Team Report.
Ridge Benioff (MORB) dan sedimen
Volcanology Report. National
lempeng Australia dengan lempeng
Technical Team Report, (2000).
Australia itu sendiri berdasarkan pola
diferensiasinya. [3] Asnawir, Mamay, Surono..
Assessment of Volcanic Muria
5. Kesimpulan Muria Hazards to Muria NPP Site,
Kondisi geokimia di komplek PVMBG, (2005).
Gunungapi Muria tersusun atas [4] Prihadi. S. Probabilistic Assessment
potasium berkadar rendah yang of Volcanic Muria Hazards to
diperkirakan merupakan produk lelehan Muria NPP Site, PVMBG, (2005).
magma bertemperatur tinggi
[5] Abbott, M.J., F.H. Chamalaun.
(dekompresi) dan potassium berkadar
(1981). Geochronology of some
tinggi (kompresi).
Banda arc volcanics. In:
Pola tektonik dekompresi sangat terkait
Wiryosuyono, S. (Ed.), Geology and
dengan kondisi geokimia potassium
Tectonics of Eastern Indonesia.
rendah pada Muria tua, sedangkan pola
Geol. Res. Dev. Centre Spec. Publ.
tektonik kompresi sangat terkait dengan
Geol. Res. Dev. Centre, Bandung.
kondisi geokimia potassium tinggi pada
Muria muda. [6] Bowin, C., Purdy, G.M., Johnston,

Prediksi tingkat bahaya vulkanik C., Shor, G., Lawver, L., Hartonon,

di masa yang akan datang diindikasikan H.M.S., Jezek, P.,. Arc–continent

dengan sifat yang tidak berkemampuan collision in the Banda Sea region.

(non kapabel) Gunung Muria bila Am. Assoc. Pet. Geol. Bull. 64,

diasumsikan tidak akan terjadi (1980).

perubahan siklus tektonik yang


signifikan.