Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

SEDIAAN TETES MATA FENILEFRIN


Disusun untuk Memenuhi Tugas Praktikum Farmasetika Sediaan Steril

KELOMPOK 4

KELAS : C

1. ERLINA DIAH AYU PRAMITA 201410410311109


2. NUR CHOLIDAH 2014104103111
3. VINI NUR BAITI 2014104103111
4. VIVI LAILY 2014104103111
5. SUKMAWANSAH 2014104103111

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

Desember 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Obat mata tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, beberapa diantaranya memerlukan
perhatian khusus. Obat tetes adalah sediaan cair berupa larutan , suspensi dan emulsi,
dimaksudkan untuk obat dalam atau obat luar, digunakan dengan cara meneteskan
menggunakan penetes yang menghasilkan tetesan yangs etara dengan tetesan yang dihasilkan
pentes baku yang disebutkan farmakope indonesia. Larutan obat mata adalah larutan steril,
bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian rupa hingga
sesuai digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata membutuhkan perhatian khusus
dalam hal toksisitas bahan obat, nilai isotonisitas, kebutuhan akan dasar, kebutuhan akan
pengawet (dan jika perlu pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang tepat. Nilai
isotonisitas Cairan mata isotonik dengan darah dan mempunyai nilai isotonisitas sesuai
dengan larutan natrium klorida P 0,9%. Secara ideal larutan obat mata harus mempunyai
nilai isotonis tersebut, tetapi mata tahap terhadap nilai isotonis rendah yang setara dengan
larutan natrium klorida P 0,6% dan tertinggi setara dengan larutan natrium klorida P 2,0%
tanpa gangguan nyata. Beberapa larutan obat mata perlu hipertonik untuk meningkatkan daya
serap dan menyediakan kadar bahan aktif yang cukup tinggi untuk menghasilan efek obat
yang cepat dan efektif. Apabila larutan obat seperti ini digunakan dalam jumlah kecil,
pengenceran dengan air mata cepat terjadi sehingga rasa perih akibat hipertonisitas hanya
sementara. Tetapi penyesuaian isotonisitas oleh pengenceran dengan air mata tidak berarti,
jika digunakan larutan hipertonik dalam jumlah besar sebagai koliria untuk membasahi mata.
Jadi yang penting adalah larutan obat mata untuk keperluan ini harus mendekati isotonik.
Pendaparan Banyak Obat, khususnya garam alkaloid, paling efektif pada pH optimal bagi
pembentkan basa bebas tidak terdisosiasi. Tetapi pada pH ini obat mungkin menjadi tidak
stabil, sehingga pH harus diatur dan dipertahankan dengan penambahan dapar. Salah satu
maksud pendaparan larutan obat mata adalah untuk mencegah kenaikan pH yang disebabkan
pelepasan lambat ion hidroksil dari wadah kaca. Kenaikan pH dapat mengganggu kelarutan
dan stabilitas obat. Penambahan dapar dalam pembuatan obat mata harus didasarkan pada
beberapa pertimbangan tertentu. Air mata normal memiliki pH lebih kurang 7,4 dan
mempunyai kapasitas dapar tertentu. Penggunaan obat mata merangsang pengeluaran air
mata dan penetralan cepat setiap kelebihan ion hidrogen atau ion hidroksil dalam kapasitas
pendaparan air mata. Berbagai obat mata seperti garam alkaloid bersifat asam lemah dan
hanya mempunyai kapasitas dapar yang lemah. Jika hanya satu atau dua tetes larutan yang
mengandung obat tersebut diteteskan pada mata, pendaparan oleh air mata biasanya cukup
untuk menaikan pH sehingga tidak terlalu merangsang mata. Dalam beberapa hal, pH dapat
berkisar antara 3,5 dan 8,5. Beberapa obat, seperti pilokarpin hidroklorida dan epinefrin
bitartrat, lebih asam sehingga melebihi kapasitas dapar air mata. Secara ideal larutan obat
mata mempunyai pH dan isotonisitas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat
dilakukan karena pada pH 7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. Sebagian besar
garam alkaloid mengendap sebagai alkaloid bebas pada pH ini. Selain itu banyak obat tidak
stabil secara kimia pada pH mendekati 7,4. Ketidakstabilan ini lebih nyata pada suhu tinggi
yang digunakan pada sterilitasi dengan pemanasan. Oleh karena itu sistem dapar harus dipilih
sedekat mungkin dengan pH fisiologis yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan obat
atau mempercepat kerusakan obat. Pembuatan obat mata dengan sistem dapar mendekati pH
fisiologis dapat dilakukan dengan mencampurkan secara aseptik larutan obat steril dengan
larutan dapar steril. Walaupun demikian, perlu diperhatikan mengenai kemungkinan
berkurangnya kestabilan obat pada pH yang lebih tinggi, pencapaian dan pemeliharaan
sterilitas selama proses pembuatan ( Farmakope Indonesia edisi V bagian Sediaan Umum
hal 9).

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana karakteristik bahan aktif dari fenilefrin?
2. Bagaimana proses pembuatan sediaan tetes mata fenilefrin?
3. Bagaimana proses sterilisasi sediaan tetes mata fenilefrin?
4. Bagaimana proses uji sterilisasi sediaan tetes mata fenilefrin?

1.3 Tujuan
1. Mengetahui karakteristik bahan aktif dari fenilefrin
2. Mengetahui proses pembuatan sediaan tetes mata fenilefrin
3. Mengetahui proses sterilisasi sediaan tetes mata fenilefrin
4. Mengetahui proses uji sterilisasi sediaan tetes mata fenilefrin
BAB II
PRAFORMULASI

2.1 Tinjauan Farmakologi Bahan Aktif


Fenilefrin adalah agonis selektif reseptor alfa dan hanya mempengaruhi
reseptor Beta. Obat ini digunakan sebagai dekongestan nasal dan midriatik
(Farmakologi VI hal 75). Fenilefrin diabsorbsi sedikit pada penggunaan oral,
mengalami fisrt past metabolisme oleh monoamin oksidase di usus dan liver. Di
optalmologi fenilefrin digunakan untuk midriatik pada konsentrasi hingga 10%,
biasanya larutan 2,5-10% digunakan tapi diabsorbsi sistemik akan muncul. Larutan
dengan konsentrasi lebih dari 2,5% atau lebih dapat menyebabkan iritasi dan lokal
anestesi. Ocular solution dengan konsentrasi rendah (biasanya 0,12%) digunakan
sebagai conjungtival decongestan (Martindale edisi 36). Fenilefrin diindikasikan
untuk menghilangkan kemerahan dan iritasi. Kontraindikasi pada penderita
hipertensi, efek samping dari Fenilefrin adalah iritasi, konjungtivitis akut, sakit
kepala, dan mual.

2.1.1 Mekanisme Kerja


Fenilefrin merupakan simpatomimetik yang bekerja langsung pada reseptor
adrenergik yaitu menstimulasi reseptor α1 di post sinaps menyebabkan peningkatan
vasokonstriksi pada arteri, gejala peningkatan tekanansistol dan diastol pada paru,
refleks bradikardia, sedikit menurunkan output jantung dan meningkatkan aliran
darah koroner. Pada mata fenilefrin memberikan efek midriatikum (Sweetman,
2009).

2.1.2 Indikasi
Pengobatan shock dengan kegagalan vaskularisasi, vasokonstriksi, analgesik,
anastesia, nasal congestion, iritasi mata minol, dilatasi pupil dan uveitis, terapi open
angle glaucoma (A to Z drug facts, 2009)

2.1.3 Kontraindikasi
Hipertensi berat, takikardia ventrikel, feokromositoma, larutan tetes mata 10%
kontraindikasi pada bayi dan pasien dengan aneurisma (A to Z drug facts, 2009).

2.1.4 Efek samping


Cardiovasculer: Refleks bradikardia , hipertensi, angina, aritmia.
SSP: Sakit kepala; merangsang kegelisahan, tremor .
EENT: Sedian optalmik dan intranasal menyebabkan: penglihatan buram dan hidung
tersumbat (A to Z drug facts, 2009).
2.2 Tinjauan Sifat Fisikokimia Bahan Obat
2.2.1 Nama dan Sinonim Bahan Obat
Nama Bahan : Fenilefrin HCl
Obat
Sinonim : m-Hidroksi-α-[(metilamino)metil] benzil alkohol
hidroklorida

2.2.2 Struktur Kimia

(FI V bagian 3 hal. 94)

2.2.3 Monografi Bahan Obat

a) Berat molekul : 203,67


b) Organoleptis
 Warna : Putih
 Bau : Tidak berbau
 Rasa : Rasa Pahit
(FI V bagian 3 hal. 94)

c) Bentuk Kristal : Kristal putih


d) Serbuk hablurSifat kimia
1. Titik Didih: 1870 C (FI V bagian 5 hal. 212)
2. Kelarutan :
 Mudah larut dalam air dan etanol (FI V bagian 3 hal. 94)
e) Data Kelarutan Dalam Berbagai Pelarut
Sangat Mudah larut dalam Air (Sweetman, 2009)
Mudah larut dalam air dan etaanol (Farmakope Indonesia V, 2014).
1:2 dalam air
1:4 dalam etanol
1:2 dalam gliserin
Tidak larut dalam kloroform dan eter (Farmakope Indonesia IV, 1995)
2.2.4 Stabilitas

 Simpan di wadah tertutup rapat pada suhu 25 derajat celcius, dengan


penyimpanan pada batas 15-30 derajat celcius terlindung dari cahaya (USP
edisi 31)
 pH antara 4,0 -7,5 untuk larutan optalmik yang didapar
 Tidak stabil terhadap cahaya (FI V bagian 3 hal. 94)
 Stabil pada suhu 15-30 0C, terutama suhu 25 0C (FI V bagian 3 hal. 94)

 Wadah dan Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, tidak tembus cahaya.
Simpan pada suhu 25º, masih diperbolehkan pada suhu antara 15º dan 30º. (FI
V bagian 3 hal. 94)

 Tidak stabil pada suhu tinggi, pH tidak lebih dari 9, apabila lebih dari 9 maka
akan terurai.

2.2.5 Inkompatibiltas

 Fenilefrin dinyatakan tidak sesuai dengan anestesi lokal butacaine (Martindale


edisi 36)
 Tidak kompatibel dengan butacaine, alkali, garam besi dan oksidator. Simpan
di wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya (Martindale edisi 28)
 Inkompatibel dengan anastesi lokal Bufacaine (Sweetman, 2009).

2.2.6 Data lain

Pemerian Kristal putih atau praktis putih, tidak berbau, berasa pahit. Jarak
lebut 1400C – 1500C, Fenilefrin Hidroklorida mengandung tidak kurang dari 97,5%
dan tidak lebih dari 102,5% C9H13NO2. HCl, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan. Fenilefrin memiliki 3 macam bentuk. Fenilefrin yang biasa digunakan
untuk tetes mata adalah fenil efrin HCl, karena fenilefrin asam tartart berisifat asam
yaitu pH larutan 10% dalam air 3-4 (Farmakope Indonesia V, 2014).

2.2.7 Bentuk Sediaan, Dosis dan Cara Pemberian


Bentuk dan volume sediaan yang dibuat: sediaan yang dibuat adalah tetes mata
sebanyak 5 ml dalam botol penetes
2.2.7.1 Permasalahan Formulasi
1. Bahan aktif tidak stabil pada udara
2. Bahan aktif tidak stabil terhadap cahaya
3. Bahan aktif tidak tahan pemanasan
4. Dapat membentuk kompleks logam dalam wadah
5. pH sediaan jika lebih dari 9 akan terdekomposisi, pH sediaan tidak boleh lebih
dari 9
6. Sediaan multiple dose

2.2.7.2 Pengatasan yang Dilakukan


1. Ditambahkan antioksidan
2. Sediaan disimpan dalam wadah berwarna gelap, dan terlindung dari cahaya
3. Dilakukan sterilisasi dengan metode filtrasi
4. Ditambahkan chelating agent
5. pH sediaan dibuat kurang dari 9
6. Ditambahkan pengawet
BAB III
FORMULASI

3.1 Pemilihan Bahan Aktif


3.1.1 Fenilefrin
a) Tabel Khasiat dan Efek Samping Fenilefrin
Senyawa Aktif Efek/Khasiat Efek Samping

Fenilefrin - Untuk mengobati


iritasi mata karena
debu, asap, matahari
dan berenang

b) Tabel Karakteristik Fisika-Kimia ANtalgin


Karakterisitik Fisika-Kimia Keterangan Khusus

1. Karakteristik Fisika Digunakan dengan cara diteteskan

Mudah larut dalam air, mudah larut


2. Karakteristik Kimia
dalam etanol, mudah larut dalam
alkohol (FI IV hal 666) (FI V bagian
3 hal 94)

Dari daftar tabel di atas bahan dan sediaan yang kami pilih adalah :
- Bahan aktif terpilih : Fenilefrin
Alasan : Fenilefrin efektif untuk mengobati mata akibat terkena
debu, asap, matahari, dan berenang
3.2 Macam – macam Bahan Tambahan dan Fungsi
Fungsi Bahan Macam – macam Bahan dan Bahan Terpilih,
Karakteristiknya kadar dan alas an

Pengawet Benzalkoinum Klorida (HPE, hal


56)
o Bentuk : serbuk amorf putih
atau berwarna sedikit
kuning, cairan gel tebal.
o Higroskopik, memiliki
sedikit bau aromatic dan
rasanya sangat pahit

Antioksidan Na metabisulfit (HPE, hal 690)


o Sodium metabisulfit
digunakan sebagai
antioksidan pada sedian
oral, parenteral, dan topical.
Sodium metabisulfit juga
memiliki aktivitas
antimikroba yang baik pada
pH asam, yang dapat
digunakan sebagai pengawet
pada sediaan oral seperti
sirup.
o Sodium metabisulfit tidak
berwarna, Kristal prisma
Chelating atau berwarna putih cream
Agent dengan serbuk kristalin, rasa
salin, bau dari sulfur
dioksida
Na2EDTA
o Disodium edetat digunakan
sebagai chelating agent
dalam rentang luas pada
sediaan farmasetika,
termasuk cuci mulut,
sediaan optalmik, dan
sediaan topikal.

o Konsentrasi yang biasa


digunakan adalah 0,005% -
0,1%.

o Disodium edetate stabil


dalam air dan larut dalam
komplek kelat. Disodium
edetat juga digunakan
sebagai air dalam sofetener
yang akan mengkelat ion
kalsium dan magnesium
yang ada dalam air. Secara
Pelarut
terapetik juga sebagai
antikoagulan yang dapat
mengkelat kalsium dan yang
ada pada koagulan dalam
darah

Aqua for injection


BAB IV
PERSYARATAN UMUM SEDIAAN

4.1 Persyaratan Bentuk Sediaan


Larutan tetes mata fenilefrin harus jernih dan homogen, pH sediaan juga harus
disesuaikan Iritasi mata minor: Optalmic: 1-2 gtt atau 0,12% larutan lebih dari 4 kali
sehari Midriasis: Optalmic: 2,5-10% diulang 10-60 menit sekali sesuai kebutuhan (A to Z
drug facts, 2009).

4.2 Formula Standart

 Fenilefrin tetes mata kuat (Martindale edisi 28)


R/ Fenilefrin HCL 10 g

Natrium matabsiulfit 100 mg

Disodium edetat 50 mg

Benzalkonium klorida 0,02 ml

Aqua pro injection 100 ml

 Fenilefrin tetes mata lemah (Martindale edisi 28)

R/ Fenilefrin HCl 125 mg

Natrium metabisulfit 100 mg

Disodium edetat 50 mg

Natrium klorida 700 mg

Benzalkonium klorida 0,02 ml

Aqua pro injection ad 100 ml

 Sediaan Mata (Martindale edisi 28)


R/ Fenilefrin HCl 10 g

Natrium Metabisulfit 500 mg


Natrium sitrat 300 mg

Benzalkonium Klorida 0,02 ml

Aqua pro injection ad 100 ml


BAB V
RANCANGAN SPESIFIKASI SEDIAAN

5.1 Spesifikasi Produk

NAMA PRODUK EFERIN

BENTUK SEDIAAN TETES MATA

KADAR BAHAN AKTIF 0,2 %

Ph 6-7

DOSIS 3-4 tetes setiap 6-8 jam sehari

WARNA Jernih

BAU Tidak Berbau

KEMASAN Botol Penetes

EXP. DATE
5.2 Kemasan dan Brosur

Desain kemasan sekunder


BROSUR
BAB VI
FORMULASI SEDIAAN

6.1 Formulasi yang akan dibuat


Nama Bahan Dalam 100 ml Dalam 20 ml Pengambilan Bahan
Phenylephrine HCl 125 gram 25 mg 25 mg
Sodium metabisulfit 100 mg 20 mg 2 ml
Disodium edetate 5 mg 1 mg 1 ml
Sodium chloride 700 mg 140 mg 140 mg
Benzalkonium chloride solution 0,02 ml 0,004 ml 4 ml
Water pro injeksi ad 100 ml ad 20 ml ad 20 ml

Nama Bahan Fungsi Kelarutan pH Stabilitas Cara Sterilisasi

Phenylephrine HCl Bahan Aktif Mudah larut dalam 3,0 - 6,5 Filtrasi
air

Sodium Metabisulfit Antioksidan Dalam air larut 1g 3,5 – 7,0 Filtrasi


dalam 1,9 ml

Na2EDTA (Disodium Chealeatinng 1g dalam 11 ml 4,3 – 4,7 Filtrasi


edetate) Agent

Sodium Chloride Tonisitas Dalam air 1 dalam 6,7 – 7,3 Filtrasi


Agent 2,8 ml

Benzalkonium Pengawet 1 g dalam <1 ml air 4,8 – 5,5 Filtrasi


Chloride sol

Water pro injeksi Pelarut

Cara Sterilisasi Sediaan : Membran Filtrasi

Perhitungan volume dan berat

125 𝑚𝑔
- Phenylephrine HCl : 100 𝑚𝑙
𝑥 20 𝑚𝑙 = 25 mg
- Sodium Metabisulfit :
o Dalam rancangan 100 mg/100 ml = 0,1 g/100 ml = 0,1 %
o Yang Tersedia = 1%
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 1% = 20 ml x 0,1 %
20 𝑚𝑙 𝑥 0,1 %
V1 = = 2 ml
1%
- Disodium Edetate :
o Dalam rancangan 50 mg/100 ml = 0,05 g/100 ml = 0,05%
o Yang Tersedia = 0,1%
V1 x N1 = V2 x N2

V1 x 0,1% = 20 ml x 0,05%
20 𝑚𝑙 𝑥 0,05 %
V1 = = 10 ml
0,1%

o Volume 10 ml terlalu besar pada sediaan, maka lihat rentang pemakaian di HPE =
0,005%
V1 x N1 = V2 x N2

V1 x 0,1% = 20 ml x 0,005%
20 𝑚𝑙 𝑥 0,005 %
V1 = = 1 ml
0,1%

700 𝑚𝑔
- Sodium Chloride : 𝑥 20 𝑚𝑙 = 140 mg
100 𝑚𝑙
- Benzalkonium chloride
o Dalam rancangan 0,02 ml / 100 ml x 20 ml = 0,004 ml
o Yang Tersedia = 0,1%
V1 x N1 = V2 x N2
V1 x 0,1% = 20 ml x 0,02 %
20 𝑚𝑙 𝑥 0,02 %
V1 = 0,1%
= 4 ml
- Water pro injeksi ad 20 ml

6.2 Cara Pembuatan Sediaan Injeksi Antalgin


1. Siapkan alat dan bahan
2. Menimbang Fenilefrin 0.025 g (25 mg)
3. Mengukur Na. Metabisulfit 2 ml
4. Mengukur Na. EDTA1ml
5. Mengukur BKC 4 ml
6. Aduk ad larut  ditambah WFI sebanyak 2 ml
7. Cek PH ad 6, jika basa diberi HCL jika asam di beri NAOH ad pH 6
8. Pindah larutan ke gelas ukur ditambah WFI ad 2o ml
9. Sediaan disaring meggunakan kertas saring dan filtratnya di tampung pada tabung
erlenmeyer kecil
10. Melakukan Sterilisasi Filtrasi
a. Diambil larutan dengan spuit sebanyak 5.4 ml
b. Jarum spuit diganti dengan Filter Holder
c. Masukan kedalam vial secara perlahan
11. Lakukan Bubble Point Test
a. Siapakan spuit 5 ml
b. Pasang Filter Holder
c. Siapakan aquadest 100 ml
d. Celupkan spuit sampai tercelup semua
e. Dorong keluar udara secara perlahan
f. Amati udara/gelembung pertama yang keluar apabila skalanya:
<0,8 ml = buntu
>0,8 ml = bocor

6.3 Alat dan Wadah yang digunakan dan Cara Sterilisasinya


No Nama wadah Ukuran Jumlah Cara sterilisasi Suhu Waktu
1 Panas Kering
Gelas arloji 8 cm 3 180⁰ 30`
(oven)
2 Panas basah
Batang pengaduk 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
3 Panas basah
Beaker glass 100 ml 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
4 Panas Kering
Pinset 1 180⁰ 30`
(oven)
5 Panas basah
Tutup karet 2 121⁰ 15`
(Otoklaf)
6 Panas basah
Gelas ukur 25 ml 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
7 Panas basah
100 ml 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
8 Panas basah
Erlenmeyer 10 ml 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
9 Panas basah
Corong 50 mm 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
10 Panas basah
Filter Holder 1 121⁰ 15`
(Otoklaf)
BAB VII
PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dibuat sediaan tetes mata dengan bahan aktif
Fenilefrin HCl, konsentrasi Fenilefrin HCl yang digunakan adalah 0,2 %. Pada
pembuatan sediaan tetes mata berbeda dengan pembuatan injeksi antalgin, karena
pembuatan tetes mata Fenilefrin HCl harus dilakukan di dalam Laminar Air Flow
(LAF) secara langsung. Bahan-bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan
sediaan tetes mata ini adalah pengawet karena dibuat dalam bentuk sediaan multiple
dose sehingga dibutuhkan pengawet, yang dipilih adalah Benzalkonium Klorida yang
telah disiapkan dalam bentuk larutan. Bahan tembahan yang kedua adalah
Antioksidan yang berfungsi untuk menjaga kestabilan sediaan dalam udara, karena
bahan aktif Fenilefrin tidak stabil di udara, antioksidan yang dipilih adalah Natrium
metabisulfit. Bahan tambahan yang ketiga adalah Chelating Agent yaitu Disodium
Edetat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya kompleks logam dengan
wadah. Pelarut yang digunakan untuk membuat sediaan ini adalah water for injection
ad 20 ml.

Pada pembuatan sediaan ini proses sterilisasi dilakukan dengan cara filtrasi
membrane menggunakan filter holder. Untuk menguji apakah filter holder bocor atau
buntu dilakukan pengecekan dengan metode bubble pointes. Metode pembuatan
sediaan ini sebenarnya tidaklah rumit, tetapi harus dilakukan di dalam Laminar Air
Flow untuk menjaga sterilitasnya. Sediaan yang dibuat tiap botol penetes adalah 5 ml
yang dilebihkan 0,3 ml seperti yang telah dijelaskan dalam Farmakope Indonesia
Edisi IV, akan tetapi npada saat kami membuat sediaan dibuat tiap botolnya adalah
5ml yang dilebihkan 0,4ml dikarenakan susahnya pengambilan menggunakan spuit.
Setelah pembuatan selesai sediaan langsung disegel menggunakan plastic segel agar
sediaan terjamin sterilitasnya.
BAB VII
PENUTUP
7.1 Kesimpulan

Sediaan tetes mata Fenilefrin HCl merupakan sediaan yang harus dibuat dalam
Laminar Air Flow karena sterilitasnya sangat diutamakan. Penggunaan tetes mata
pada organ mata yang sangat penting bagi manusia harus dipastikan bahwa sediaan
benar-benar steril dan aman digunakan. Oleh sebab itu, pembuatannya dilakukan di
Laminar Air Flow yang kesesuaian udaranya telah diatur sedemikian rupa. Sterilisasi
yang dilakukan adalah dengan menggunakan sterilisasi filtrasi menggunakan filter
holder, karena bahan aktif tidak tahan terhadap pemanasan apabila dilakukan
sterilisasi menggunakan metode panas basah dengan autoklaf

7.2 Saran

Dalam praktikum seharusnya formula yang akan digunakan harus ditentukan


dengan baik terlebih dahulu, sehingga dalam proses pembuatan tidak menimbulkan
kebingungan yang dapat menghambat jalannya praktikum.