Anda di halaman 1dari 11

SKALA PENGUKURAN RESILIENSI KELUARGA : SEBUAH TELAAH LITERATUR

Ike Herdiana
Mahasiswa Doktoral Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya
ike.herdiana@psikologi.unair.ac.id

ABSTRAK

Resiliensi keluarga merupakan sebuah konsep yang mulai banyak diteliti. Sebagai sebuah konsep,
resiliensi keluarga memiliki definisi yang komprehensif. Secara umum, para ahli yang telah
meneliti mendefinisikan resiliensi keluarga sebagai sifat, dimensi dan kemampuan keluarga dalam
menolong keluarga untuk bertahan dari masalah dengan menemukan perubahan dan adaptasi
dalam menghadapi situasi krisis. Untuk kepentingan penelitian tentang resiliensi keluarga, Sixbey
(2005) kemudian mengkonstruksi Family Resiliency Assessment Scale (FRAS) sebagai sebuah
skala pengukuran yang dapat digunakan. FRAS dikonstruksi berdasarkan konsep resiliensi
keluarga yang dikembangkan oleh Froma Walsh (1998) yaitu ‘kapasitas untuk pulih dari kesulitan
sehingga menjadi lebih kuat dan berdaya. Sebagai sebuah skala pengukuran FRAS juga memiliki
kelebihan dan kekurangan. Namun penggunaan FRAS, yang biasanya digunakan pada penelitian
kuantitatif, dengan dilengkapi oleh data deskriptif dari kualitatif kiranya akan saling melengkapi
kekurangan dari kedua pendekatan tersebut.

A. PENDAHULUAN

Resiliensi keluarga sebagai sebuah konsep sudah banyak didefinisikan oleh ahli resiliensi
keluarga. Beberapa ahli resiliensi keluarga yang familiar seperti McCubbin&McCubbin,
menyatakan bahwa resiliensi keluarga dibangun oleh keberhasilan keluarga menggunakan koping
selama masa transisi kehidupan, stress atau kesulitan (Mc.Cubbin&McCubbin, 1988, 1996).
Konsisten dengan pendekatan kekuatan dan kemampuan adaptasi, McCubbin and McCubbin
(1988) mendefinisikan resiliensi keluarga sebagai karakteristik-karakteristik, dimensi-dimensi dan
kemampuan keluarga dalam menolong keluarga untuk bertahan dari masalah dengan menemukan
1
perubahan dan adaptasi dalam menghadapi situasi krisis. Resiliensi keluarga merupakan pola
perilaku positif dan berfungsinya kemampuan individu dan keluarga yang muncul dalam situasi di
bawah tekanan atau lingkaran kesulitan yang melemahkan kemampuan keluarga, untuk pulih
dengan cara mempertahankan integritas sebagai sebuah unit bila perlu menjamin dan memulihkan
well being anggota keluarga dan keluarga sebagai sebuah kesatuan utuh (McCubbin and
McCubbin, 1996).

Berikutnya McCubbin, Thompson, dan McCubbin (1996) mendefinisikan resiliensi


keluarga sebagai pola perilaku positif dan berfungsinya kompetensi individu dan keluarga yang
ditunjukkan dalam situasi stress atau merugikan, yang menentukan kemampuan keluarga untuk
memulihkan dan mempertahankan integritas keluarga sebagai sebuah unit yang dapat memastikan
keluarga dapat menjadi sejahtera kembali. Resiliensi keluarga akhirnya dipandang sebagai sebuah
upaya untuk memulihkan kondisi keluarga yang terganggu pasca kesulitan, yang menyebabkan
disintegrasi keluarga dan keluarga akan kembali berdaya dengan meningkatkan kapasitas sumber
daya yang berada di dalam keluarga. Hawley and DeHaan (1996) menyatakan bahwa resiliensi
keluarga merupakan upaya keluarga yang diikuti dengan adaptasi dan keberhasilan menghadapi
tekanan, baik untuk saat ini maupun di waktu yang akan datang. Keluarga yang resilien dapat
berespon positif terhadap kondisi-kondisi tersebut dengan cara yang khas, tergantung konteks,
level perkembangan, interaksi antara faktor proteksi dan resiko dan cara pandang keluarga
terhadap masalah.

Sementara Walsh (2006) menggambarkan resiliensi keluarga sebagai proses koping dan
adaptasi dalam keluarga sebagai sebuah unit fungsional. Resiliensi keluarga mengacu pada
kapasitas keluarga untuk bangun kembali dari kesulitan sehingga menjadi lebih kuat dan berdaya.
Sebagai catatan bahwa dalam resiliensi terjadi proses aktif membangun ketahanan, memperbaiki
diri, dan membangun respon positif atas krisis dan tantangan-tantangan. Menurut Barnard (1994)
berpendapat bahwa karakteristik keluarga dalam membina resiliensi individu sangat penting dan
tidak adanya pembalikan peran orangtua-anak (yaitu, kehadiran orang tua yang tepat dan peran
anak) adalah salah satu dari banyak karakteristik yang berhubungan dengan keluarga yang dapat
menyebabkan resiliensi individu. Oleh karena itu, keluarga biasanya dilihat sebagai faktor
protektif. Namun, keluarga di mana anak tidak dirawat dengan benar menggambarkan keluarga
tidak berfungsi sebagai faktor protektif. Beberapa orang yang mengalami trauma mungkin

2
memiliki kapasitas diri yang positif sehingga akan akan resilien dalam menghadapi keluarga dan
pengasuhan yang tidak efektif (Emas, 2001; Hooper, 2008). Selain itu, sistem keluarga dapat
menjadi faktor risiko untuk anggota keluarga selama masa kanak-kanak dan menjadi faktor
protektif di kemudian hari saat individu yang sama telah dewasa.

A. FAMILY RESILIENCY ASSESSMENT SCALE (FRAS)

Untuk kepentingan penelitian tentang resiliensi keluarga, Sixbey (2005) mengkonstruksi


Family Resiliency Assessment Scale (FRAS) sebagai sebuah skala pengukuran yang dapat
digunakan. FRAS dikonstruksi berdasarkan konsep resiliensi keluarga yang dikembangkan oleh
Froma Walsh (1998) yaitu ‘kapasitas untuk pulih dari kesulitan sehingga menjadi lebih kuat dan
berdaya. Resiliensi merupakan proses bertahan, memperbaiki diri dan bertumbuh sebagai respon
terhadap krisis dan tantangan. Dengan mengidentifikasi proses keluarga yang sehat, seseorang
dapat mulai mengidentifikasi kekuatan dan kerentanan yang muncul agar intervensi atau terapi
keluarga dan proses inti dalam keluarga bias berjalan secara afektif. Walsh telah mengembangkan
kerangka konseptual untuk mengidentifikasikan proses kunci yang mendukung definisi resiliensi
keluarga. Proses kunci tersebut meliputi belief system, family organizational patterns dan
communication processes atau problem solving, yang kemudian menjadi konstruk dari pembuatan
instrument ukur resiliensi keluarga FRAS.
Berikut merupakan tiga konstruk utama dari FRAS dimana berisi tiga subkategori
tambahan untuk menjelaskan masing-masing konstruk :

Tabel 1. Konstruk dan Sub Konstruk Utama dari FRAS

No Konstruk Sub Konstruk


A Belief System A1 : Making Meaning of Adversity
Belief system mencakup Kesulitan akan datang pada keluarga kapanpun dan dalam situasi krisis,
nilai, kepedulian, sikap, bias, keluarga sebagai sebuah unit akan mengalami guncangan. Kondisi tersebut
dan asumsi-asumsi (Walsh, merupakan sesuatu yang berada di luar wilayah pengalaman normal
1998) keluarga (Hoff, 2001). Ketika kita menemukan cara untuk memahami
Secara umum belief system pengalaman keluarga tersebut maka akan mempengaruhi proses
keluarga akan memberi jalan rekonstruksi dan penyembuhan pada keluarga. Ketika membuat makna
bagi keluarga untuk tentang kemalangan yang dialami maka keluarga akan mampu

3
mengatur pengalaman menormalkan dan mengkontekstualkan kemalangan tersebut dengan cara
mereka dan memungkinkan memperbesar perspektif mereka tentang kemampuan keluarga mengatasi
anggota keluarga untuk masalah. Kemalangan yang terjadi dapat dimengerti karena perasaan
memahami situasi, kejadian kehilangan yang menyakitkan atau hambatan yang menakutkan
dan perilaku di lingkungan (Walsh,1998). Kecenderungan untuk menyalahkan orang lain, rasa malu,
mereka. Belief system ini dan kondisi patologisasi akan berkurang ketika keluarga mampu melihat
membantu keluarga kerumitan/dilema sebagai sesuatu yang normal (Walsh, 2003). Keluarga
mengorientasikan diri yang resiliens akan mendapatkan rasa yang koheren dan mampu
mereka untuk saling menormalisasi krisis yang mereka hadapi, untuk kemudian dapat melihat
memahami satu sama lain keadaan yang tidak menguntungkan tersebut sebagai sesuatu yang
dan kondisi-kondisi yang bermakna, mudah dipahami dan dapat dikelola.
dihadapi. Belief system
dibangun secara social dan A2 : Positive Outlook
diwariskan melalui narasi, Keluarga yang resiliens memiliki harapan akan masa depan, terlepas dari
ritual dan tindakan lainnya betapa suram kehidupan mereka saat ini. Mereka memiliki pandangan
pada individu dan keluarga. optimis dan mampu mengatasi situasi buruk yang dihadapi. Pesimisme
hanya membuat mereka tidak berdaya, tidak bias memperbaiki dan
kehilangan makna dan tujuan mereka. Keluarga resiliens diperkuat oleh
pengalaman sukses dan masyarakat mendukung dalam memelihara harapan
dan optimism tadi (Walsh, 1998). Penguatan ini mungkin berasal dari apa
yang telah dilakukan seseorang, keberanian pribadi atau melalui dorongan
yang diberikan oleh orang lain. Saat orang lain menyaksikan seseorang
memiliki keberanian mereka mungkin terinspirasi dan memfasilitasi
optimism dan harapan tadi. Dukungan social juga akan membantu keluarga
untuk mempertahankan keberanian menghadapi situasi buruk, mendorong
relasi-relasi yang telah ada dan membangun kepercayaan anggota keluarga.
Dengan keyakinan bahwa setiap anggota keluarga mampu melalukan yang
terbaik maka akan memperkuat upaya individu untuk memperkuat relasi
dengan anggota lain dalam keluarga (Walsh, 1998).

A3 : Transcendence and Spirituality


Keyakinan transcendental memberikan makna dan tujuan di luar diri
sendiri, keluarga seseorang, dan kesengsaraan seseorang. Nilai yang lebih
besar mulai muncul untuk individu dan keluarga, dan setelah itu seseorang
bias menemukan tujuan hidupnya. Sistem nilai yang lebih besar ini
membantu individu untuk melihat situasi buruk mereka melalui perspektif
yang lebih luas, menumbuhkan harapan dan pemahaman akan kejadian

4
yang menyakitkan. Agama dan spiritualitas juga sering ditemukan dalam
resiliensi keluarga (Walsh, 1998).

B Family Organizational B1 : Flexibility


Patterns Fleksibilitas adalah suatu keharusan dalam sistem apapun untuk
Pola organisasi memberi memastikan bahwa sistem tidak "jepret" saat menghadapi situasi buruk.
jalan pada keluarga untuk Dalam terapi keluarga, fleksibilitas merupakan kapasitas untuk mengubah
mengatur diri mereka sendiri keadaan (Becvar & Becvar, 2000). Fleksibilitas dalam sistem keluarga
dalam melaksanakan tugas tidak menyiratkan rasa "terpental kembali "melainkan reorganisasi untuk
sehari-hari. Pola-pola ini membantu individu atau keluarga menghadapi tantangan baru atau
dipelihara oleh norma menavigasi medan yang baru. Fleksibilitas tidak berarti bahwa keluarga
eksternal dan internal, tidak harus memiliki struktur apapun. Bagaimanapun struktur penting
diperkuat oleh system untuk stabilitas keluarga ketika mengalami peristiwa buruk. Stabilitas
kepercayaan budaya dan membantu memastikan kesinambungan dan ketergantungan yang dirasakan
keluarga. oleh semua anggota keluarga karena menyediakan aturan, peran, dan aturan
yang dapat diprediksi dan pola interaksi yang konsisten. Hal ini
memungkinkan semua anggota mengetahui apa yang diharapkan dari
mereka. Struktur dan stabilitas dapat dilakukan melalui gaya
kepemimpinan yang berwibawa (Becvar & Becvar, 2000). Gaya
kepemimpinan ini mendorong fleksibilitas melalui struktur keluarga sambil
memberikan pengasuhan, perlindungan, dan bimbingan kepada anggota
keluarga. Bukan gaya kepemimpinan yang kaku melainkan yang seimbang
dengan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan keadaan. Anggota
keluarga yang menerima bentuk struktur ini cenderung merasakan
pengasuhan dan kemitraan melalui struktur (Walsh, 1998).

B2: Connectedness
Keterhubungan merupakan perasaan bersama, saling mendukung, dan
kolaborasi dalam unit keluarga sambil tetap menghormati keterpisahan dan
otonomi individu (Walsh, 1998). Saling mendukung, kolaborasi, dan
komitmen diperlukan bagi individu dan keluarga untuk bertahan hidup,
tetap menghargai kebutuhan individu, perbedaan, dan batasan. Keluarga
tidak selalu memiliki tingkat keterkaitan yang sama saat mereka bergerak
melalui lingkaran kehidupan. Jadi, pada saat situasi buruk, penting bagi
keluarga untuk menilai tingkat keterhubungan mereka saat ini untuk
memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Keluarga ada dalam siklus hidup
keluarga, fisik dan emosional. Kedekatan, dan hirarki dapat mempengaruhi

5
keterhubungan keluarga. Jika hubungan ini menjadi berat saat ada beban
masalah, keluarga yang menunjukkan resiliensi akan berusaha menjalin
keterhubungan kembali satu sama lain dan mendamaikan hubungan yang
terluka. Rekoneksi ini memungkinkan anggota keluarga untuk
memanfaatkan konstruksi resiliensi dalam membantu semua anggota
mengatasi peristiwa/masalah yang dialami (Walsh, 1998).

B3 : Social and Economic Resources


Keluarga yang mampu mengakses anggota keluarga dan jaringan
komunitasnya menemukan bahwa mereka mengakses hal yang vital dalam
hidup mereka terutama selama masa krisis. Jaringan ini memberikan
bantuan praktis dan koneksi terhadap komunitas yang vital. Mereka
menyediakan informasi, layanan, dukungan, persahabatan, dan waktu
istirahat. Mereka juga memberikan rasa aman dan solidaritas (Walsh,
1998). Selain itu, saat menampilkan resiliensi keluarga, keluarga menyadari
bahwa mereka tidak dapat menyelesaikan masalah dengan mereka sendiri
dengan mekanisme yang biasanya dilakukan. Resiliensi keluarga juga
dipengaruhi oleh ketegangan ekonomi. Sumber daya ekonomi jangan
sampai diabaikan saat mempertimbangkan resiliensi keluarga dalam situasi
buruk (Walsh, 1998). Misalnya, jika satu-satunya pencari nafkah keluarga
sakit, keluarga mungkin akan bertemu dengan tuntutan ekonomi,
kehilangan rumah, kendaraan, dan kehidupan seperti yang pernah mereka
ketahui. Kelangkaan sumber daya saat kesulitan, membebani keluarga dan
berdampak pada resiliensi.

C Communication/ Problem C1 : Clarity


Solving Pesan yang jelas dan konsisten sangat berharga dalam proses komunikasi
Komunikasi/pemecahan keluarga. Pengiriman pesan yang jelas dan konsisten penting untuk
masalah melibatkan menjelaskan informasi yang ambigu dan mencari kebenaran. Walsh (2003)
pertukaran informasi untuk menyatakan bahwa kejelasan dan kesesuaian dalam pesan memudahkan
menyampaikan informasi, keluarga berfungsi secara efektif. Mengklarifikasi dan berbagi informasi
opini atau perasaan yang penting tentang situasi krisis dan harapan masa depan, seperti prognosis
factual. Komunikasi yang medis, memfasilitasi pembuatan makna, pengumpulan yang otentik, dan
efektif melibatkan berbicara pengambilan keputusan yang berdasarkan informasi, sementara ambiguitas
untuk diri sendiri dan bukan atau kerahasiaan dapat menghalangi pemahaman, kedekatan, dan
untuk orang lain, penguasaan. Pengakuan bersama tentang kenyataan dan keadaan
mendengarkan secara kehilangan yang menyakitkan mendorong penyembuhan dalam keluarga.

6
empatik dan penuh perhatian
dan berbagi tentang diri dan C2 : Open Emotional Expression
relasi diri dengan pihak Keluarga yang resiliens mampu berbagi dan mentolerir berbagai perasaan.
manapun. Emosi ini bisa berkisar dari sukacita dan rasa sakit, harapan dan ketakutan
dan seputar kesengsaraan. Keluarga yang resiliens akan berbagi perasaan,
saling berempati dan toleransi terhadap perbedaan individu (Walsh, 1998).
Salah satu anggota keluarga mungkin merasa sedih oleh kematian orang
tua, sementara yang lain mungkin menggunakan humor untuk melewati
masa menyedihkan itu. Anggota keluarga sebaiknya mengembangkan
empati dan menghargai respon anggota lain yang mungkin berbeda.
Melalui saling pengertian dan berempati dengan perbedaan emosional
anggota lain, seseorang juga bertanggung jawab atas perasaan, perilakunya
sendiri sambil menghindari menyalahkan anggota lainnya (Walsh, 1998).

C3 : Collaborative Problem Solving


Keluarga yang efektif adalah keluarga yang mampu mengelola masalah
dengan baik. Ini termasuk kemampuan keluarga untuk mengenali konflik
sedini mungkin sebelum menyelesaikannya. Keluarga yang resiliens
menunjukkan kemampuan untuk melakukan brainstorming dengan terlibat
pada cara-cara potensial untuk mendekati suatu masalah (Walsh, 1998).
Semua pendapat dan gagasan anggota keluarga didengarkan, didorong dan
dihormati sebagai sesuatu yang berharga. Keluarga membuat keputusan
bersama sambil menegosiasikan perbedaan dan berlaku adil sehingga
keluarga saling mengakomodasi kebutuhan anggota lainnya. Konflik dalam
negosiasi merupakan hal yang umum terjadi dan keluarga yang resiliens
biasanya hanya akan membiarkan konflik ini terjadi sebentar saja (Walsh,
1998).

B. TELAAH LITERATUR TENTANG PENGGUNAAN FRAS DALAM PENELITIAN

Selama ini tidak ada kesepakatan umum tentang pengukuran resiliensi keluarga (Sixbey,
2005). Bagaimana kita menyimpulkan bahwa sebuah keluarga menampilkan resiliensinya,
sementara keluarga lain tidak? Salah satu tantangan terbesar dalam pengukuran konstruksi
psikologis pertama adalah konsensus komponen teoritisnya. Pionir dalam psikologi keluarga
seperti Patterson (2002) and Walsh (1996) memiliki perspektif dengan nuansa yang berbeda

7
tentang konsep resiliensi keluarga. Benang merah dari definisi resiliensi keluarga adalah keluarga
menjadi resiliens ketika bertemu dengan kesulitan dan mampu mengatasi kesulitan tersebut.
Kerangka kerja Walsh (1996,2006) memasukan beberapa domain penting yang ia percaya
mendukung resiliensi keluarga : belief system keluarga, organization patterns keluarga dan
communication processes dalam keluarga. Instrumen yang dibangun untuk mengukur resiliensi
keluarga menggunakan kerangka kerja konseptual tersebut yang kemudian disebut skala
pengukuran resiliensi keluarga (Family Resilience Assessment Scale, FRAS) (Sixbey, 2005).
Family Resilience Assessment Scale yang dipergunakan Sixbey (2005) dalam
penelitiannya terdiri dari 54 item dari angket berbahasa inggris yang mengukur resiliensi keluarga
berdasarkan 6 dimensi : Family Communication and Problem Solving (FCPS), Utilising Social
and Economic Resources (USER), Maintaining a Positive Outlook (MPO), Family Connectedness
(FC), Family Spirituality (FS), dan The Ability to Make Meaning of Adversity (AMMA). Aslinya
ada 66 item pada skala tersebut. FRAS diisikan oleh orang dewasa anggota keluarga. Respon
terhadap skala ini akan di ukur berdasarkan 4 poin skala likert mulai dari 1 : sangat setuju sampai
4 : sangat tidak setuju.
FRAS dibangun dan divalidasi pada sampel individu berbahasa inggris di Amerika. Skala
di konstruksi menggunakan sampel yang homogen. Sampel mayoritas perempuan, berkulit putih
dan memiliki latar belakang pendidikan tinggi dengan 72% sample adalah sarjana (Sixbey, 2005).
Kelompok tersebut memang bukan kelompok yang beresiko, oleh sebab itu memiliki keterbatasan
dalam proses validasi. FRAS juga telah banyak digunakan pada beberapa disertasi doktoral dan
master. Buchanan (2008) mengukur resiliensi keluarga sebagai predictor bagi penyesuaian antara
adopsi internasional di Texas, US. Buchanan (2008) menggunakan FRAS versi 66 item. Resiliensi
keluarga memiliki korelasi negatif dengan CBCL usia 8-16 tahun, dengan skor ketahanan keluarga
yang lebih tinggi dikaitkan dengan lebih sedikit gejala internalisasi dan eksternalisasi. Analisisnya
juga bicara bahwa lebih banyak waktu yang dihabiskan bersama keluarga, anak adopsi dapat
beradaptasi dengan lebih baik.
Plumb (2011) melakukan pengujian tentang dampak dukungan sosial dan resiliensi
keluarga terhadap stress parental pada 50 keluarga yang memiliki anak penyandang autism
spectrum disorder (ASD). Hipotesisnya adalah, level tinggi pada resiliensi keluarga memiliki
hubungan dengan level stress yang rendah. FRAS versi 66 item telah digunakan dan konsistensi
internal dari skala keseluruhan adalah 0.71. Subskala lebih lanjut menunjukkan Alpha diterima

8
antara 0.61 dan 0.91. Sementara Duca (2015) meneliti resiliensi keluarga dan stress parental dalam
membesarkan anak dengan ASD. Partisipan direkrut dari sebuah pusat day care dari kota yang
berbeda di Romania. Alpha Cronbach dari semua item adalah 0.89 dan konsistensi internal dari
setiap subskala memiliki rentang antara 0.61-0.92. Analisis yang dihasilkan dari 50 partisipan
laki-laki dan 50 partisipan perempuan yang memiliki anak ASD, hasilnya menunjukkan bahwa
resiliensi keluarga dan stres orangtua secara berbeda mempengaruhi penyesuaian diadik dan
coping pada orang tua mengikuti diagnosis.
Hanya ada dua penelitian yang teridentifikasi bertujuan mengadaptasi dan memvalidasi
FRAS yang digunakan dengan bahasa dan konteks yang lain. Kaya dan Arici (2012) mengadaptasi
FRAS dalam bahasa Turki dan mengujinya secara psikometris. Skala telah diadministrasi dari 433
mahasiswa. Bahasa Inggris dari Turki ditemukan memiliki kesetaraan. Internal konsistensi dari
semua 54 item dapat diterima ( Alpha Cronbach = 0.92). Confirmatory Factor Analysis model
yang sesuai, hanya 4 faktor dari FRAS versi aslinya. Dengan demikian, hanya 44 item dari 4 faktor
yang valid dan reliable. Skala FC (Family Connectedness) dan FS (Family Spirituality) memiliki
muatan item individual yang rendah. Lalu Dimech (2014) mengadaptasi 66 item FRAS dalam
konteks Malta. Sampel nya adalah 225 anggota keluarga yang memiliki usia antara 18-88 tahun
(M=47.73). Analisis menunjukkan Alpha cronbach diterima (0.22-0.86). Alpha yang rendah
adalah atribut untuk mendeskripsikan faktor FC. Oleh sebab itu, analisis komponen
mengidentifikasi 6 faktor dari 56 item, namun muatan itemnya berbeda dengan yang Sixbey (2005)
bangun. Dimech (2014) melahirkan faktor-faktor yang kemudian diberi label : FCPS, MPO,
Outrech, AMMA (The Ability to Make Meaning of Adversity), Communication and Friendship
Outlook dan FC (Family Connectedness). Dari faktor yang ada di FRAS versi asli hanya FS yang
tidak ada pada Sampelnya Dimech (2014) di Malta.
Afrika Selatan memiliki sebelas bahasa resmi dan memiliki dialek yang bervariasi
tergantung propinsinya. Morris,Grimmer-Somers, Louw dan Sullivan(2012) mengadministrasi
instrument dengan menggunakan satu bahasa dan ternyata tidak semuanya dapat diterapkan di
Afrika Selatan dimana mereka memiliki perbedaan etnis, status sosioekonomi, agama dan bahasa.
Tujuan dari penelitian ini adalah mengadaptasi 54 item resiliensi keluarga dengan salah satu
bahasa yang ada di Afrika Selatan yang diadministrasi pada orang Afrika. Penelitian ini focus
pada komunitas nelayan miskin yang berada pada 280 km utara Cape Town. Mereka mengalami
kehabisan stok ikan dan menjadi tidak punya pekerjaan. Masyarakat tersebut memiliki kesulitan

9
yang beragam misalnya pengangguran berat, alkoholik, kehamilan pada remaja, akses sosial yang
terbatas dan putus sekolah (Cederburg Municipality Annual Report, 2011). Partisipan merupakan
anggota masyarakat West Coast, Afrika Selatan. Pengambilan data melalui 2 putaran, studi awal
(N= 82) dan pengumpulan data utama (N=656). Pada studi awal, angket diberikan kepada
partisipan dan baru dikumpulkan 3 minggu kemudian. Sementara pada pengambilan data utama
dilaksanakan langsung dan spontan. Kesimpulannya, pada kedua putaran tersebut terdapat
kesamaan bahwa faktor FC (Family Connectedness) memiliki alpha cronbach yang paling rendah
yaitu 0.09 ( pilot sample) dan 0.38 (main data sample) (Isaacs, Roman, Savahl & Sui, 2017)
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Sixbey (2005) yang meneliti tentang perkembangan
skala FRAS untuk mengidentifikasi konstruk dari resiliensi keluarga didapatkan bahwa kelebihan
dari skala FRAS ini meliputi : (1) merupakan sumber yang bermakna untuk peneliti, psikolog
klinis dank lien karena dapat digeneralisasi melalui populasi, setting dan dimensi-dimensi lain
yang terkait (Gay&Airasian, 2000); (2) dapat digunakan pada sample berbagai usia, gender, ras,
status sosioekonomik, level pendidikan dan pengalaman krisis yang beragam; (3) pengembangan
FRAS dipandu oleh model resiliensi keluarga yang dikonsepkan oleh Walsh dan merupakan usaha
untuk mengoperasionalkan konstruksinya seputar resiliensi keluarga. Sementara kelemahan dari
skala FRAS adalah : (1) menggunakan persepsi individu tentang resiliensi keluarga untuk
mengukur resiliensi keluarga; (2) memiliki social desirability yang tinggi; (3) pengembang
instrument (Bukan Walsh) yang menentukan item mana yang mewakili konstruksi yang
didefinisikan dan item mana yang akan disertakan dalam instrumen, dan proses ini kemudian
memiliki bias yang cukup tinggi.

C. KESIMPULAN
FRAS sebagai sebuah skala pengukuran resiliensi keluarga sudah mulai banyak digunakan
dalam penelitian-penelitian resiliensi keluarga. Item-item FRAS yang mudah dipahami dan dapat
digunakan sesuai dengan kebutuhan akan sangat membantu peneliti untuk memahami resiliensi
sebuah keluarga. Data dari FRAS bisa didapatkan dari anggota keluarga. Meski demikian,
resiliensi keluarga juga membutuhkan deskripsi secara kualitatif bagaimana sebuah keluarga
berproses mengembalikan stabilitas dan integrasi setelah trauma atau masalah dialami. Oleh sebab
itu penggunaan FRAS jika di lengkapi dengan data kualitatif tentu akan memberikan hasil yang

10
lebih komprehensif. Bagaimanapun resiliensi keluarga adalah sebuah dinamika dari proses yang
berlangsung di dalam keluarga.

DAFTAR PUSTAKA

Becvar, D.S. (2013). Handbook of Family Resilience. DOI. 10.1007/978-1-4614-3917-2. Newyork


: Springer.

Chew, J., & Haase, A. M. (2016). Psychometric properties of the Family Resilience Assessment
Scale: A Singaporean perspective. Epilepsy and Behavior, 61, 112–119.
https://doi.org/10.1016/j.yebeh.2016.05.015

Greeff, M. D. and A. P. (2016). Living with a parent with dementia : A family resilience study.
Educational Gerontology, 41: 93–105, 2015, 85(September).
https://doi.org/10.1177/1471301215621853

Hooper, L. M. (2008). Individual and Family Resilience: Definitions, Research, and Frameworks
Relevant for All Counselors. Alabama Counseling Association Journal, 35(1), 19–26.
Retrieved from http://eric.ed.gov/?id=EJ875400

Isaacs, S. A., Roman, N. V., Savahl, S., & Sui, X.-C. (2017). Adapting and Validating the Family
Resilience Assessment Scale in an Afrikaans Rural Community in South Africa. Community
Mental Health Journal, 0(0), 0. https://doi.org/10.1007/s10597-017-0091-1

Patterson, J. M. (2002). Integrating family resilience and family stress theory. Journal of Marriage
and Family, 64(2), 349–360. https://doi.org/10.1111/j.1741-3737.2002.00349.x

Riper,M.V. (2007). Familiesof Children With Down Syndrom : Responding a Change in Plans
With Resilience. DOI : 10.1016/j/pedn.2006.07.004. Vol.22.No.2.

Simon, J. B., Murphy, J. J., & Smith, S. M. (n.d.). Understanding and Fostering Family Resilience.
https://doi.org/10.1177/1066480705278724

Sixbey, M.T. (2005). Development of The Family Resilience Asessment Scale toIdentify Family
Resilience Construct. A Dissertation Presented to The Graduate School of The University
of Florida in Fulfillment of The Requirements for The Degree of PhD.

11