Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

Sampai hari ini sebagian kaum perempuan masih aktif dalam perjuangan
persamaan hak dengan kaum laki-laki atau yang lazim disebut kesetaraan gender.
Sebenarnya sebagian besar perempuan yang sedang berjuang itu adalah para
perempuan yang sudah "merdeka". Biasanya mereka itu dari kalangan Wanita Karir
yang sukses, punya prestasi, punya background pendidikan yang tinggi. Dan mereka
tetap giat berjuang atas nama semua perempuan yang masih "terpasung/ tidak
memiliki hak setara dengan laki-laki/ perempuan yang tertindas".
Masalah yang terus-menerus tentang emansipasi sebenarnya bukan karena
laki-laki menjadikan wanita sebagai objek, melainkan karena perempuan sendiri yang
berlaku demikian. Selalu berteriak akan persamaan hak. Dalam parlemen di Indonesia
ada sekelompok pejuang perempuan yang meminta "quota" 30% dalam keanggotaan
legislatif, minta daftar nama perempuan di taruh di barisan atas dalam pemilihan.
Bahkan iklan tentang ini banyak diekspos di televisi. Ini justru sangat bertentangan
dengan perjuangan feminisme. Sebab kalau meminta "quota" artinya kaum
perempuan ini yakin tidak mampu bersaing secara normal/ fair dengan laki-laki
dalam dunia politik, sehingga perlu "quota". Apabila para aktivis perempuan ini yakin
betul bahwa kaum kemampuan perempuan sejajar dengan laki-laki mengapa tidak
bersaing secara fair saja. Iklan tersebut menggambarkan unsur pemaksaan dan
mengarah kepada sifat KKN. Sehingga kemudian kita mendapati bahwa iklan
tersebut merupakan sebuah ironisme dari perjuangan perempuan yang selama ini
digembar-gemborkan.

1
A. Latar Belakang
Sebenarnya di Indonesia, kesetaraan gender sudah sangat baik, lihat saja
Megawati, beliau seorang perempuan yang menjadi Presiden, sebuah sukses dalam
peraihan karir yang paling tinggi di negeri ini. Ada Rini Suwandi seorang
professional handal yang menjabat sebagai menteri Perdagangan. Sangat
mengherankan bahwa kaum feminis Indonesia tidak merasa terwakili oleh prestasi
yang diraih mereka ini. Dilain sisi ada banyak sekali wanita karir di Indonesia yang
merangkap menjadi ibu tetapi sukses dalam pekerjaannya. Profil-profil tersebut sudah
menggambarkan bahwa perempuan mempunyai andil hebat dalam politik dan
perekonomian Negara Indonesia.
Di negara Islam pun kita menjumpai banyak perempuan yang memegang
kendali politik tertinggi contohnya Benazir Butto pernah menjabat sebagai Perdana
Meteri di Pakistan, Shirin Ebadi perempuan Iran dengan kepribadian luar biasa
memenangkan hadiah Nobel 2003. Chandrika Bandaranaike Kumaratunga presiden
Srilanka. Dua perempuan pintar di Philipina Cory Aquino & Gloria Arroyo. Di
belahan dunia lain juga kita kenal Margareth Tacher, Madeleine Albright, dan
Madonna perempuan genius dengan kepribadian yang kontraversial dan sangat
sukses. Di masa lalu kita mengenal Evita Peron dan masih banyak lagi. Selamat,
kaum perempuan! Bahwa kaum perempuan mampu membuktikan bahwa potensi
karir dan intelektual antara perempuan dan laki-laki adalah setara.
Kaum Perempuan di-lain sisi sudah menggeser peran-peran laki-laki,
begitupun tidak ada golongan yang mengatasnamakan diri mereka "Man´s Lib"
protes tentang hal-hal contohnya sebagai berikut : Ada Ladies Bank (Bank Niaga
sudah mempeloporinya) dimana semua staff dalam beberapa cabang adalah
perempuan. Ada Gereja yang semua/ sebagian besar pekerjanya adalah perempuan,
dari gembala sidang, majelis, pemusik dsb. Banyak pabrik-pabrik yang hanya
menerima pekerja perempuan daripada laki-laki, di pabrik rokok, sepatu, mainan
anak-anak lebih suka menerima pekerja perempuan. Kita lihat disini kaum lagi-laki
sudah tergeser di ladang pekerjaan dan karir. Batapa banyak manager/ direktur/

2
pebisnis/ guru perempuan. Kadang juga saya sering mendapat keluhan dari laki-laki
bahwa mereka lebih sulit mendapat ladang pekerjaan dibanding perempuan.
Masalah kesetaraan gender yang gencar didengungkan kaum perempuan itu
akan selalu ada jika kaum perempuan tidak pernah merasa bahwa laki-laki adalah
"mitra" melainkan sebagai pesaing dan musuh.

B. Tujuan
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan
tentang feminis dan kritik posmo dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua.

C. Metode Penulisan
Penulis mempergunakan metode observasi dan kepustakaan. Cara-cara yang
digunakan pada penulisan makalah ini adalah :
 Studi Pustaka
 Perbandingan informasi yang saling berkait
 Membaca penyelesaian kasus yang berhubungan dengan judul makalah
 Dan bacaan dari tulisan para konseptor dan pengamat

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Dasar Pemikiran
Feminis berangkat dari tranformasi pertanyaan tentang gejala yang ada.
Tranformasi pertanyaan mendekonstruksi secara ganda tentang pemikiran mengenai
sesuatu. Pertanyaan dalam bab ini meliputi koneksi pengetahuan, realitas material,
validitas pengetahuan yang mengklain pengetahuan. Bab ini juga terfokus pada
pengetahuan dan pengalaman. Adanya pembedaan pengetahuan muncul dari
pengalaman aktual dan personal tentang pembedaan itu sendiri. Peneliti feminis
hanya mencatat pengetahuan dan realitas, namun kesulitan unuk mengkomparasinya.
Dalam bab ini, pengalaman didefinisikan sebagai pemahaman atas perbedaan dan
keberagaman dalam kehidupan gender untuk menginvestigasi ketidaksetaraan,
ketidakadilan, dan kekuasaan yang terinstitusionalisasi. Pengalaman juga dianggap
sebagai sumber kehidupan. Meskipun demikian, peneliti feminis juga menghadapi
kendalan untuk mengkaitkan antara pengalaman dengan realitas material.
Karena pengalaman merupakan bentuk kesadaran seseorang atas eksistensi
sosialnya, maka pengalaman juga dapat dilihat dari representasi sosial dan interpretasi
atas pengalamannya. Peneliti feminis harus menginterpretasi pengalamannya
berdasarkan eksistensi sosial yang berada di belakangnya. Seperti yang dituturkan
sebelumnya, pengalaman bisa menjadi bulan-bulanan metodologi karena sifatnya
yang sangat interpretatif dan susah melalui mekanisme pembuktian. Sehingga,
metodologi feminis ini selalu mendapat serangan dari teori pos modernisme, kritisme
empirisme, dan teori-teori yang lain yang mengkritik keterbatasan metodologi ini.
Seorang ahli empiris selalu menjembatani antara pengalaman dengan realitas melalui
bukti dan pengalaman empiris yang dapat diukur dengan realitas.
Riset feminis terdiri dari penggalian hubungan konseptualisasi, pembatasan
lokasi sosial, menerjemahkan pemaknaaan, melogikakan pengalaman, yang

4
semuanya dipertajam melalui bahasa, teori, dan ontologi peneliti. Peneliti harus kritis
menilik pengalaman. Pengalaman merupakan sumber daya langsung atas
pengetahuan umum berdasarkan realitas material sosial.
Feminis telah mengeksplorasi cara yang beragam untuk menggambarkan
pengalaman personal tanpa kehilangan koneksi pada teori dan realitas material.
Selama ini, kritik posmo memperlakukan pengalaman sebagai faktual, sejak fakta
bekerja pada koneksi langsung antara pengetahuan dengan pondasi realitas material.
Diana Fuss mengatakan bahwa fakta ditentukan secara sosial, pengalaman bukan
pengetahuan material mentah untuk dimengerti tapi pengetahuan merupakan proses
aktif yang memproduksi objek sendiri dari investigasi, meliputi fakta empiris. Hal ini
juga ditinjau oleh Joan Scott. Dirinya mengkritisi sejarahwan dengan logika sejarah
kolektif yang selau dihubungkan dengan prinsip kebangsaan. Ia berpendapat bahwa
pengetahuan faktual dalam sebuah argumentasi yang dapat bekerja pada kasus
feminis apapun untuk memperlakukan pengalaman sebagai faktual. Dia menolak
bahwa daya tarik pada pengalaman sebagai bukti tidak dapat dikonteskan dan dapat
berdiri karena kecenderungan pengalaman tidak memberikan bahasa dimana orang-
orang akan make sense dengan pengalamannya.

B. Feminis
Istilah femina, feminisme, feminist, berasal dari bahasa Latin fei-minus. Fei
artinya iman, minus artinya kurang. Jadi feminus artinya kurang iman. Tapi lawan
kata feminis, yakni masculine tidak lantas berarti penuh iman. Masculinus atau
masculinity sering diartikan sebagai strength of sexuality. Maka dari itu dalam
agama, wanita Barat itu korban inquisisi dan di masyakarat jadi korban perkosaan
laki-laki. Tak pelak lagi agama dan laki-laki menjadi musuh wanita Barat.
Feminisme adalah sebuah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau
kesamaan dan keadilan hak dengan pria bisa juga diartikan sebagai gerakan nafsu
amarah. Pemicunya adalah penindasan dan ketidakadilan. Obyeknya adalah laki-laki,
konstruk sosial, politik dan ekonomi. Ketika diimpor ke negeri ini, ia berwajah

5
gerakan pemberdayaan wanita. Bagus. Tapi nilai, prinsip, ide dan konsep gerakannya
masih orisinal Barat. Buktinya nafsu amarah lesbianisme ikut diimpor dan dijual
bagai keniscayaan, dibela dengan penuh kepercayaan, dan dijustifikasi dengan ayat-
ayat keagamaan.
Contoh – contoh aliran feminis adalah :
1. Feminisme Liberal
Feminisme Liberal ialah pandangan untuk menempatkan
perempuan yang memiliki kebebasan secara penuh dan individual. Aliran
ini menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas
dan pemisahan antara dunia privat dan publik.
2. Feminisme Radikal
Feminisme Radikal adalah Aliran yang bertumpu pada pandangan
bahwa penindasan terhadap perempuan terjadi akibat sistem patriarki.
Trend ini muncul sejak pertengahan tahun 1970-an di mana aliran ini
menawarkan ideologi "perjuangan separatisme perempuan". Pada
sejarahnya, aliran ini muncul sebagai reaksi atas kultur seksisme atau
dominasi sosial berdasar jenis kelamin di Barat pada tahun 1960-an,
utamanya melawan kekerasan seksual dan industri pornografi.
3. Feminisme Sosialis
Feminisme Sosialis adalah sebuah faham yang berpendapat "Tak
Ada Sosialisme tanpa Pembebasan Perempuan. Tak Ada Pembebasan
Perempuan tanpa Sosialisme". Feminisme sosialis berjuang untuk
menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir
pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti
ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa
pembedaan gender.
4. Feminisme Postkolonial
Feminisme Postkolonial pada intinya menggugat penjajahan, baik
fisik, pengetahuan, nilai-nilai, cara pandang, maupun mentalitas

6
masyarakat. Beverley Lindsay dalam bukunya Comparative Perspectives
on Third World Women: The Impact of Race, Sex, and Class menyatakan,
“hubungan ketergantungan yang didasarkan atas ras, jenis kelamin, dan
kelas sedang dikekalkan oleh institusi-institusi ekonomi, sosial, dan
pendidikan.”
5. Feminisme Nordic
Feminisme Nordic, kaum ini menganggap bahwa kaum perempuan
“harus berteman dengan negara” karena kekuatan atau hak politik dan
sosial perempuan terjadi melalui negara yang didukung oleh kebijakan
sosial negara
6. Feminisme Anarkis
Feminisme Anarkis lebih bersifat sebagai suatu paham politik yang
mencita-citakan masyarakat sosialis dan menganggap negara dan sistem
patriaki-dominasi lelaki adalah sumber permasalahan yang sesegera
mungkin harus dihancurkan.

7. Feminisme Modern
Feminisme Modern Ide Posmo - menurut anggapan mereka - ialah
ide yang anti absolut dan anti otoritas, gagalnya modernitas dan pemilahan
secara berbeda-beda tiap fenomena sosial karena penentangannya pada
penguniversalan pengetahuan ilmiah dan sejarah. Mereka berpendapat
bahwa gender tidak bermakna identitas atau struktur sosial.

7
C. Posmo
Posmo adalah aliran pemikiran yang sekaligus menjadi gerakan yang bereaksi
terhadap kegagalan manusia menciptakan dunia yang lebih baik. Posmo, kependekan
dari Post-Modernisme, didasarkan pada rasa kecewa terhadap janji yang diberikan
oleh peradaban modern, yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan rasional. Bagi
penganut Posmo, ilmu pengetahuan modern sudah gagal.
Posmo memacu sikap kritis dan menghidupkan sikap demokratis dan rendah
hati. Kepastian teori besar seperti kapitalisme dan sosialisme dipertanyakan lagi.
Bersamaan dengan itu, kita bisa lebih simpatik mendengarkan suara-suara ''baru'',
seperti suara dari kelompok feminis, suara dari orang-orang di Dunia Ketiga. Bagi
kalangan seniman, Posmo tampaknya bukan hal yang baru. Seni selalu mendasarkan
dirinya pada kreativitas manusia. Kreativitas selalu mencari yang baru. Kreativitas
juga tidak pernah menerima dominasi ilmu pengetahuan yang rasional. Kreativitas
tidak pernah menerima dominasi apa pun dan siapa pun. Bagi kelompok minoritas,
seperti gerakan kaum perempuan, gerakan pencari pola hidup alternatif, gerakan
pelestarian lingkungan hidup, Posmo merupakan pemikiran baru yang sangat
berguna. Posmo memberikan keabsahan pada mereka untuk diperhatikan dan
didengarkan, memberikan kepercayaan diri yang lebih besar terhadap kelompok-
kelompok ini. Posmo memungkinkan mereka masuk dalam dialog besar umat
manusia. Yang tak saya ketahui, bagaimana pengaruh Posmo di kalangan ahli ilmu
eksakta. Ilmu eksakta, yang berhubungan dengan objek mati dan dipengaruhi oleh
hukum sebab-akibat, tampaknya masih butuh rasionalitas. Padahal, Posmo anti ilmu
pengetahuan yang rasional dan kesimpulan-kesimpulan yang umum dengan tingkat
kepastian yang tinggi. Barangkali, Posmo harus dikecualikan bagi ilmu eksakta yang
mempelajari alam mati, yang berbeda dengan ilmu sosial dan humaniora yang
mempelajari alam hidup. Tapi, terlepas dari ketidaksukaan Posmo terhadap rasio,
sikap kritis dan sikap mau mendengarkan suara lain yang didorong oleh Posmo jelas
sangat berguna bagi para ahli ilmu eksakta ini. Kalau kita membagi ilmu sosial dalam

8
perspektif politik kiri dan kanan, Posmo ada di luar itu. Baik yang kiri maupun yang
kanan, keduanya mendasarkan pemikirannya pada ilmu pengetahuan yang rasional.
Sebagian ide Posmo ada yang diterima dan ada yang ditolak, baik oleh kelompok kiri
maupun kanan. Karena itu, saya cenderung menggolongkan Posmo sebagai metode
berpikir kritis, dan bukan aliran pemikiran baru. Tapi, sulitnya, metode berpikir juga
sangat menentukan isi yang dihasilkan pemikiran tersebut. Dengan kata-kata yang
serba mengambang ini, saya lepaskan pengertian Posmo pada pembaca.
Postmodernis percaya bahwa klaim Barat tentang kebebasan dan kemakmuran
terus menjadi tak lebih dari janji-janji kosong dan belum memenuhi kebutuhan
kemanusiaan. They believe that truth is relative and truth is up to each individual to
determine for himself. Mereka percaya kebenaran yang relatif dan kebenaran terserah
setiap individu untuk menentukan untuk dirinya sendiri. Most believe nationalism
builds walls, makes enemies, and destroys “Mother Earth," while capitalism creates a
“have and have not” society, and religion causes moral friction and division among
people. Sebagian besar percaya nasionalisme membangun dinding, membuat musuh,
dan menghancurkan "Ibu Bumi," sementara kapitalisme menciptakan "telah dan
belum" masyarakat, dan agama menyebabkan gesekan moral dan pembagian antara
orang-orang.
Postmodernisme mengklaim sebagai penerus Pencerahan abad ke-17. Selama
lebih dari empat abad, "pemikir postmodern" telah mempromosikan dan membela
cara New Age konseptualisasi dan rasionalisasi kehidupan manusia dan kemajuan.
ostmodernis biasanya ateis atau agnostik sementara beberapa lebih memilih untuk
mengikuti pikiran agama timur dan praktek. Banyak naturalis termasuk
berperikemanusiaan, lingkungan, dan filsuf.
Mereka menantang nilai-nilai agama dan kapitalistik inti dari dunia Barat dan
mencari perubahan untuk usia baru kebebasan dalam komunitas global. Banyak
memilih untuk tinggal di bawah pemerintah, global non-politik tanpa batas suku atau
nasional dan salah satu yang sensitif terhadap kesetaraan sosial ekonomi untuk semua
orang.

9
D. Sasaran kritikan terhadap feminis menyangkut arsitektur moderen dan
posmo

1. Feminisme dan arsitektur modern

Teori feminis yang berkaitan dengan arsitektur telah mengukuhkan jalan bagi
penemuan kembali arsitek wanita seperti Truus Schröder-Schrader dan Eileen Gray ..
Wanita-wanita ini membayangkan sebuah arsitektur yang menantang cara tradisional
keluarga akan hidup.. Mereka berlatih arsitektur dengan apa yang mereka anggap
teori feminis atau pendekatan.. Penemuan kembali arsitektur melalui teori feminis
tidak terbatas pada arsitek perempuan. Architects like Le Corbusier and Adolf Loos
have also had their architecture reexamined through feminist theory. Arsitek seperti
Le Corbusier dan Adolf Loos juga memiliki arsitektur mereka ulang melalui teori
feminis.

2. Kritik terhadap feminis


Sejarah konstruksi merupakan interpretasi yang disusun oleh pengalaman,
inilah disbeut sebagai konstruksi diskursif. Pengetahuan diklaim berdasar pada
pengalaman yang diskursif dan dikonstruksikan secara politik. Perubahan dalam
perubahan politis yang ditempatkan sebagai realitas. Pengalaman bisa terbatas secara
parsial dan terlokasi secara sosial, tidak bisa dikatakan sebagai pengetahuan umum
atas fenomena sosial, seperti dalam fenomena relasi sosial.
Feminis melampaui pengetahuan awam dan pengalaman personal untuk
mengklaim pengetahuan gender. Jika orang-orang menggenalisir dari pengalamannya
sendiri (yang mana mereka mengatakan dirinya sebagai ahli), mereka akan tetap
hanya memiliki pemahaman spesifik tentang apa yang terjadi dengan mereka, dan hal
ini akan berdampak bagaimana mereka mengkaitkan pengalamannya dan eksistensi
sosial dengan hal lainnya. Permasalahan yang dalam me-make sense- pengalaman

10
adalah seperti yang dikemukakan oleh Descartes bahwa orang-orang bisa bermimpi,
berhalusinasi, terdelusi dan pengalaman sebagai buktinya diperlakukan sebagai hal
yang nyata.
Perbedaan cara berpikir memproduksi perbedaan pembatasan dan perbedaan
pemaknaaan, dan juga peristiwa yang berbeda. Berlawanan dengan penggunaan
alasan Descartes dengan mengetahui subjek untuk menentukan kepastian dalam
pengetahuannya, pemikir posmo memiliki ciri ketidakpastiannya. Mereka kehilangan
pengalaman sebagai sumber dari pengetahuan umum jika peneliti mengasumsikan
ekstra diskursif, poin keuntungan netral dari dimana subjek yang mengetahui dapat
mengklaim untuk mengetahui dari pengalaman dan relasi kekuasaan atau sosial yang
benar-benar ada. Hal ini menawarkan posibilitas melepaskann pengalaman pada
iresolusi relativis atas pembacaan ganda atau dekontruksi progresif. Jika feminis
dapat menerima kasus bahwa pengalaman tidak dapat diperlakukan sebagai
representasi yang dapat dipercaya atas dunia nyata yang tersembunyi di belakang
mereka, hal ini akan menjadi problematis untuk mengklaim pengalaman perempuan
sebagai dasar pengetahuan feminis.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Feminis, bagaimanapun, tidak perlu membuat klaim simplistik tentang
otensitas atau mengenai kesederhaan pengalaman sebagai bukti atas realitas.
Kesulitan mengkaitkan antara pengalaman dengan realitas material. Jika feminis
ingin membuat klaim tentang pengetahual eksperimental orang-orang yang bersifat
material dan membuat realitas sosial, semuanya akan hadir berhadapan dengan
argumentasi yang sama –semua yang diketahui adalah bahasa melalui realitas mana
yang terkonstitusi secara diskursif. Hal ini membangun realitas sebagai dampai dari
bahasa, daripada kemungkinan penyebab pengalaman itu sendiri. Di sinilah,
pemisahan epistemologi yang jelas dengan feminisme antara keduanya yang percaya
bahwa relasi sosial (seperti pernikahan patriarkal) dapat hadir tanpa orang-orang
menjadi waspada terhadapnya (Cain 1990) dan yang mengkritisi epistemologi realis
ini pada level dasar bahwa dunia nyata adalah selalu terkonstitusi secara sosial,
sehingga tidak bisa bahkan untuk ditemukan (Haraway 1991: 198, Stanley and Wise
1993: 132). Kate Soper (1993) berpendapat bahwa, meskipun berhadapan pada
beberapa koneksi antara pengalaman dengan kesenjangan struktural material ketika ia
bertanya tentang pemikiran Foucault tentang Lapcourt incident. Foulcault
menggunakan insiden untuk memberikan contoh “pedopilia” diangkat menjadi
eksistensi diskursif dalam momen yang particular (Foucault 1984a: 31).

12
B. Saran
Kesimpulannya, peneliti feminis perlu kehati-hatian untuk menilik
pengalaman sebagai sumber pengetahuan dalam risetnya. Pengalaman perempuan
perlu dianalisis dengan pisau kebudayaan, lokasi sosial, dan periode waktu
pengalaman tersebut. Hal ini penting peneliti feminis perlu mengetahui sejarah
kolektif dan individu untuk menempatkan pengalaman sebagai bagian dari realitas
sosial. Meskipun demikian, peneliti feminis harus waspada dalam mengambil logika
bahasa pengalaman dan menginterpretasi dengan epistemologi dan ontologi peneliti.
Sesuaikan pengalaman perempuan dengan empirik yang ada, proses abstraksinya
memang tidak pernah sebentar.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dolores Hayden, Revolusi Domestik Grand: Sejarah Desain feminis untuk Rumah
Amerika, Lingkungan, dan Kota, MIT Press, 1981. Pp.3 Pp.3
Friedman, T. Alice, "Matters Keluarga: Rumah Schroder, oleh Gerrit Rietveld dan
Schröder Truus," Yale University Press, 2006. pp. 81. 81 hlm.
Konstan, Caroline. "E1027: The Nonheroic Modernism of Eileen Gray," Journal of
the Society of Architectural Historians, vol.53,September 1994. "E1027: The
Modernisme Nonheroic dari Eileen Gray," Jurnal Masyarakat Arsitektur
sejarawan vol.53,, September 1994. Pp.265 Pp.265
Power, Marilyn. "Social Provisioning as a Starting Point for Feminist Economics"
Feminist Economics . "Sosial Provisioning sebagai Titik Awal untuk Ekonomi
feminis" Ekonomi Feminis. Volume 10, Number 3. Volume 10, Nomor 3.
Routledge, November 2004. Routledge, November 2004.
Dalton, Claire, 'dekonstruksi Doktrin Kontrak' di Teori Hukum Feminis: Bacaan
dalam Hukum dan Gender ed. by Katharine T. Bartlett and Rosanne Kennedy
(Harper Collins, 1992) oleh Katharine T. Bartlett dan Kennedy Rosanne
(Harper Collins, 1992)
Anderson, Walter Truett. Kebenaran tentang Kebenaran (New Consciousness
Reader). New York: Tarcher. New York: Tarcher.
Benhabib, Seyla (1995) 'Feminisme dan Postmodernisme' dalam (Nicholson ed.)
perdebatan Feminisme: Sebuah Exchange Filosofis. New York: Routledge.
New York: Routledge.
Manuel, Peter. "Music as Symbol, Music as Simulacrum: Pre-Modern, Modern, and
Postmodern Aesthetics in Subcultural Musics," Popular Music 1/2, 1995,
pp. 227–239. "Musik sebagai Simbol, Musik sebagai simulacrum: Estetika
Pra-Modern, Modern, dan postmodern di Musik subkultur," Musik Popular 1 /
2, 1995, hal 227-239.

14