Anda di halaman 1dari 29

KONSEP BALITA

2.1 Konsep Balita

2.1.1 Pengertian

Balita adalah anak yang telah mnginjak diatas 1 tahun atau lebih populer

dengan pengertian usia anak di bawah lima tahun. Masa balita merupakan usia

penting dalam tumbuh kembang anak secara fisik (Hindah Muaris, 2012 : 4).

Balita atau anak bawah lima tahun adalah anak usia kurang dari lima tahun

sehingga bayi usia di bawah satu tahun juga termasuk dalam golongan ini

(Proverawati, 2013 : 127).

2.1.2 Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan adalah suatu proses alamiah yang terjadi pada individu, yaitu

secara bertahap anak akan semakin bertambah berat dan tinggi. Sedangkan

perkembangan adalah suatu proses yang terjadi secara simultan dengan

pertumbuhan yang menghasilkan kualitas individu untuk berfungsi, yang

dihasilkan melalui proses pematangan dan proses belajar dari lingkungannya

(Supartini, 2012: 49).

Pertumbuhan merupakan bertambahnya jumlah dan besarnya sel diseluruh

bagian tubuh yang secara kuantitatif dapat diukur, sedangkan perkembangan

merupakan bertambah sempurnanya fungsi alat tubuh yang dapat dicapai melalui

tumbuh kematangan dan belajar (Hidayat, 2013 : 8).

Pertumbuhan adalah pertambahan ukurang-ukuran tubuh yang meliputi BB,

TB, LK, lingkar dada (LD), dan lain-lain, atau bertambahnya jumlah dan ukuran
sel-sel pada semua sistem organ tubuh. Sedangkan perkembangan adalah

bertambahnya kemampuan atau fungsi semua sistem organ tubuh sebagai akibat

bertambahnya kematangan fungsi-fungsi sistem organ tubuh (Vivian, 2014 : 48-

49).

2.1.3 Pertumbuhan

Pertumbuhan pada anak dilihat dari pertumbuhan berat badan, tinggi badan,

lingkar kepala, gigi, organ penglihatan, organ pendengaran, dan organ seksual

(Hidayat, 2013 :15).

1. Berat badan

Pada masa pertumbuhan berat badan bayi dibagi menjadi dua, yaitu usia

0-6 bulan dan usia 6-12 bulan. Untuk usia 0-6 bulan pertumbuhan berat badan

akan mengalami penambahan setiap minggu sekitar 140-200 gram dan berat

badannya akan menjadi dua kali berat badan lahir pada akhir bulan ke-6.

Sedangkan pada usia 6-12 bulan terjadi penambahan setiap minggu sekitar 25-

40 gram dan pada akhir bulan ke-12 akan terjadi penambahan tiga kali lipat

berat badan lahir. Pada masa bermain, terjadi penambahan berat badan empat

kali dari berat badan lahir pada usia kurang lebih 2,5 tahun serta penambahan

berat badan setiap tahunnya adalah 2-3 kg. Pada masa prasekolah dan sekolah

akan terjadi penambahan berat badan setiap tahunnya kurang lebih 2-3 kg

(Hidayat, 2013 :15-16).

2. Tinggi badan

Pada usia 0-6 bulan bayi akan mengalami penambahan tinggi badan

sekitar 2,5 cm setiap bulannya. Pada usia 6-12 bulan mengalami penambahan
tinggi badan hanya sekitar 1,25 cm setiap bulannya. Pada akhir tahun pertama

akan meningkat kira-kira 50% dari tinggi badan waktu lahir. Pada masa bermain

panambahan selama tahun ke-2 kurang lebih 12 cm, sedangkan penambahan

untuk tahun ke-3 rata-rata 4-6 cm. Pada masa prasekolah, khususnya di akhir

usia 4 tahun, terjadi penambahan rata-rata dua kali lipat dari tinggi badan waktu

lahir dan mengalami penambahan setiap tahunnya kurang lebih 6-8 cm. Pada

masa sekolah akan mengalami penambahan setiap tahunnya. Setelah usia 6

tahun tinggi badan bertambah rata-rata 5 cm, kemudian pada usia 13 tahun

bertambah lagi menjadi rata-rata tiga kali lipat dari tinggi badan waktu lahir

(Hidayat, 2013 :15-16).

3. Lingkar kepala

Pertumbuhan pada lingkar kepala ini terjadi dengan sangat cepat sekitar

enam bulan pertama, yaitu dari 35-43 cm. pada usia-usia selanjutnya

pertumbuhan lingkar kepala mengalami perlambatan. Pada usia 1 tahun hanya

mengalami pertumbuhan kurang lebih 46,5 cm. pada usia 2 tahun mengalami

pertumbuhan kurang lebih 49 cm, kemudian akan bertambah 1 cm sampai

dengan usia tahun ke-3 dan bertambah lagi kurang lebih 5 cm sampai dengan

usia remaja (Hidayat, 2013 :16)

4. Gigi

Pertumbuhan gigi pada masa kembang banyak mengalami perubahan

mulai, dari pertumbuhan hingga penanggalan. Pertumbuhan gigi terjadi di dua

bagian, yaitu bagian rahang atas dan bagian rahang bawah.

1) Pertumbuhan gigi bagian rahang atas :


a. Gigi insisi sentral pada usia 8-12 bulan

b. Gigi insisi lateral pada usia 9-13 bulan

c. Gigi taring (karinus) pada anak usia 16-22 bulan

d. Molar pertama anak laki-laki pada usia 13-19 bulan

e. Molar anak perempuan pada usia 14-18 bulan, sedangkan molar kedua

pada usia 25-33 bulan

2) Pertumbuhan gigi bagian rahang bawah :

a. Gigi insisi sentral pada usia 6-10 bulan

b. Gigi insisi lateral pada usia 10-16 bulan

c. Gigi taring (kaninus) pada usia 17-23 bulan

d. Molar pertama pada anak usia 14-18 bulan

e. Molar kedua anak perempuan pada usia 24-21 bulan, sedangkan anak

laki-laki pada usia 29-31(Hidayat, 2013 :16-17).

Perubahan selanjutnya adalah adanya beberapa gigi yang mengalami

penanggalan. Seperti halnya pertumbuhan gigi, penanggalan gigi juga terjadi di

bagian rahang atas dan bagian rahang bawah.

1) Penanggalan gigi bagian rahang atas

a. Gigi insisi pertama pada usia 7 tahun

b. Gigi insisi kedua pada usia 8 tahun

c. Gigi taring pada usia 11 tahun

d. Gigi molar pertama pada usia 9 tahun

e. Gigi molar kedua pada usia 11 tahun


2) Penanggalan gigi bagian rahang bawah

a. Gigi insisi pertama pada usia 6 tahun

b. Gigi insisi kedua pada usia 7 tahun

c. Gigi taring pada usia 10 tahun

d. Gigi molar pertama pada usia 9 tahun

e. Gigi molar kedua pada usia 10 tahun (Hidayat, 2013 :17).

5. Organ penglihatan

Perkembangan organ penglihatan dapat dimulai pada saat lahir. Sudah

terjadi perkembangan ketajaman penglihatan antara 20/100, adanya reflex pupil

dan kornea, memiliki kemampuan fiksasi pada objek yang bergerak dalam

rentang 45 derajat, dan bila tidak bergerak sejauh 20-25 cm. pada usia 1 bulan

bayi memiliki perkembangan, yaitu adanya kemampuan melihat untuk

mengikuti gerakan dalam rentang 90 derajat, dapat melihat orang secara terus-

menerus, dan kelenjar air mata sudah mulai berfungsi. Pada usia 2-3 bulan

memiliki penglihatan perifer hingga 180 derajat. Pad usia 4-5 bulan kemampuan

bayi untuk memfiksasi sudah mulai pada hambatan 1,25 cm, dapat mengenali botol

susu, melihat tangan saat duduk atau berbaring, melihat bayangan di cermin, dan

mampu mengakomodasi objek. Usia 5-7 bulan dapat menyesuaikan postur untuk

melihat objek, mampu mengembangkan warna kesukaan kuning dan merah,

menyukai rangsangan visual kompleks, serta mengembangkan koordinasi mata

dan tangan. Pada usia 7-11 bulan mampu memfiksasi objek yang sangat kecil. Pada

usia 11-12 bulan ketajaman penglihatan mendekati 20/20, dapat mengikuti objek

yang dapat bergerak. Pada usia 12-14 bulan mampu mengidentifikasi bentuk
geometrik. Pada usia 18-24 bulan mampu berakomodasi dengan baik (Hidayat,

2013 :17).

6. Organ pendengaran

Perkembangan pada pendengaran dapat dimulai pada saat lahir. Setelah

lahir, bayi sudah dapat berespons terhadap bunyi yang keras dengan reflex. Pada

usia 2-3 bulan mampu memalingkan kepala ke samping bila bunyi dibuat

setinggi telinga. Pada usia 3-4 bulan anak memiliki kemampuan dalam

melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala ke arah bunyi. Pada usia 4-6

bulan kemampuan melokalisasi bunyi makin kuat dan mulai mampu membuat

bunyi tiruan. Pada usia 6-8 bulan mampu berespons pada nama sendiri. Pada

usia 10-12 bulan mampu mengenal beberapa kata dan artinya. Pada usia 18

bulan mulai dapat membedakan bunyi. Pada usia 36 bulan mampu membedakan

bunyi yang halus dalam bicara. Pada usia 48 bulan mulai membedakan

bunyi yang serupa dan mampu mendengarkan yang lebih halus (Hidayat, 2013

:18)

7. Organ seksual

Perkembangan organ seksual antara laki-laki dan perempuan terdapat

beberapa perbedaan pertumbuhan organ seksual laki-laki antara lain terjadinya

pertumbuhan yang cepat pada penis pada usia 12-15 tahun, testis pada usia 11-

15 tahun, kemudian rambut pubis pada usia 12-15 tahun, perkembangan

pubertas diawali dengan beberapa tahap sebagai berikut :

1) Tahap I (prapubertas) : pada dasarnya sama dengan masa anak-anak, tidak

terdapat rambut pubis


2) Tahap II (pubertas) : masa pubertas

3) Tahap III : terjadi pembesaran penis awal terutama dalam panjang, testis

dan skrotum terus membesar, serta rambut lebih lebat, kasar, keriting, dan

merata pada seluruh pubis

4) Tahap IV : terjadi peningkatan ukuran penis dengan pertumbuhan diameter,

glans lebih besar dan lebih lebar, serta skrotum lebih gelap.

Perkembangan organ seksual perempuan antara lain terjadinya

pertumbuhan payudara antara lain usia 10-15 tahun dan rambut pubis antara

usia 11-14 tahun. Perkembangan payudara memiliki tahap-tahap sebagai

berikut :

1) Tahap I : tumbuhnya puting susu dengan area kecil, penonjolan di sekitar

papila, dan terjadinya pembesaran diameter areola

2) Tahap II : pembesaran lanjut dari payudara dan areola tanpa pemisahan

konturnya

3) Tahap III : terjadi proyeksi areola dan papila

4) Tahap IV : tahap konfigurasi dewasa proyeksi papilla yang hanya

disebabkan oleh resesi areola ke dalam kontur umum.

Pertumbuhan rambut pubis memiliki tahap-tahap sebagai berikut :

1) Tahap I (prapubertas) : tidak terdapat rambut pubis

2) Tahap II : terjadi pertumbuhan rambut pubis yang jarang

3) Tahap III : rambut pubis lebih hitam, kasar, keriting, dan merata pada

seluruh pubis

4) Tahap IV : rambut pubis lebih lebat dan keriting


5) Tahap V : rambut pubis orang dewasa dalam penyebaran, baik kuantitas,

jenis, maupun pola penyebaran ke bagian dalam paha (Hidayat, 2013 :18).

2.1.4 Perkembangan

Perkembangan pada anak mencakup perkembangan motorik halus,

perkembangan motorik kasar, perkembangan bahasa, dan perkembangan

perilaku/adaptasi sosial.

1. Perkembangan motorik halus

Perkembangan motorik halus pada tiap tahap perkembangan anak adalah

sebagai berikut :

1) Masa neonatus (0-28 hari)

Perkembangan motorik halus pada masa ini dimulai dengan adanya

kemampuan untuk mengikuti garis tengah bila kita memberikan respons

terhadap gerakan jarinya atau tangan.

2) Masa bayi (28 hari-1 tahun)

a. Usia 1-4 bulan

Pekembangan motorik halus pada usia ini adalah dapat melakukan hal-

hal seperti memegang suatu objek, mengikuti objek dari sisi ke sisi,

mencoba memegang dan memasukkan benda ke dalam mulut,

memegang benda tapi terlepas, memerhatikan tangan dan kaki,

memegang benda dengan kedua tangan, serta menahan benda di tangan

walaupun hanya sebentar.


b. Usia 4-8 bulan

Pekermbangan motorik halus pada usia ini adalah sudah mulai

mengamati benda, menggunakan ibu jari dan jari telunjuk untuk

memegang, mengeksplorasi benda yang sedang dipegang, mengambil

objek dengan tangan tengkurap, mampu menahan kedua benda di kedua

tangan secara simultan, menggunakan bahu dan tangan sebagai satu

kesatuan, serta memindahkan objek dari satu tangan ke tangan yang lain.

c. Usia 8-12 bulan

Perkembangan motorik halus pada usia ini adalah mencari atau meraih

benda kecil, bila diberi kubus mampu memindahkan, mengambil,

memegang dengan telunjuk dan ibu jari, membenturkannya, serta

meletakan benda atau kubus ke tempatnya.

3) Masa anak (1-2 tahun)

Perkembangan motorik halus pada usia ini dapat ditunjukkan dengan

adanya kemampuan dalam mencoba menyusun atau membuat menara pada

kubus.

4) Masa prasekolah

Perkambangan motorik halus dapat dilihat pada anak, yaitu mulai memiliki

kemampuan menggoyangkan jari-jari kaki, menggambar dua atau tiga

bagian, memilih garis yang lebih panjang dan menggambar orang, melepas

objek dengan jari lurus, mampu menjepit benda, melambaikan tangan,

menggunakan tangannya untuk bermain, menempatkan objek ke dalam

wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan


sendok dengan bantuan, makan dengan jari, serta membuat coretan di atas

kertas (Hidayat, 2013 : 18-20)

2. Perkembangan motorik kasar

Pekermbangan motorik kasar pada tahap perkembangan anak adalah

sebagai berikut :

1) Masa neonatus (0-28 hari)

Perkembangan motorik kasar yang dapat dicapai pada usia ini diawali

dengan tanda gerakan seimbang pada tubuh dan mulai mengangkat kepala.

2) Masa bayi (28 hari-1 tahun)

a. Usia 1-4 bulan

Perkembangan motorik kasar pada usia ini dimulai dengan kemampuan

mengangkat kepala saat tengkurap, mencoba duduk sebentar dengan

ditopang, mampu duduk dengan kepala tegak, jatuh terduduk di

pangkuan ketika disokong pada posisi berdiri, control kepala sempurna,

mengangkat kepala sambil berbaring terlentang, berguling dari

terlentang ke miring, posisi lengan dan tungkai kurang fleksi, dan

berusaha untuk merangkak.

b. Usia 4-8 bulan

Perkembangan motorik kasar awal bulan ini dilihat pada perubahan

dalam aktivitas seperti posisi telungkup pada alas dan sudah mulai

mengangkat kepala dengan melakukan gerakan menekan kedua

tangannya. Pada usia ke-4 sudah mampu memalingkan kepala ke kanan

dan ke kiri, duduk dengan kepala tegak, membalikan badan, bangkit


dengan kepala tegak, menumpu beban pada kaki dengan lengan berayun

ke depan dan kebelakang, berguling dari terlentang ke tengkurap, serta

duduk dengan bantuan dalam waktu yang singkat.

c. Usia 8-12 bulan

Perkembangan motorik kasar dapat diawali dengan duduk tanpa

pegangan, berdiri dengan pegangan, bangkit lalu berdiri, berdiri 2 detik,

dan berdiri sendiri.

3) Masa anak (1-2 tahun)

Dalam perkembangan masa anak terjadi perkembangan motorik

kasar secara signifikan. Pada masa ini sudah mampu melangkah dan

berjalan dengan tegak. Sekitar usia 18 bulan anak mampu menaiki tangga

dengan cara satu tangan dipegang. Pada akhir tahun ke-2 sudah mampu

berlari-lari kecil, menendang bola, dan mulai mencoba melompat.

4) Masa prasekolah

Perkembangan motorik kasar masa prasekolah ini dapat diawali

dengan kemampuan untuk berdiri dengan satu kaki selama 1-5 detik,

melompat dengan satu kaki, berjalan dengan tumit ke jari kaki,

menjelajah, membuat posisi merangkak, dan berjalan dengan bantuan

(Hidayat, 2013 : 20-21).


3. Perkembangan bahasa

Berikut ini disebut perkembangan bahasa tiap tahap usia anak :

1) Masa neonatus (0-28 hari)

Perkembangan bahasa masa neonatus ini dapat ditunjukan dengan

adanya kemampuan bersuara (menangis) dan bereaksi terhadap suara atau

bel.

2) Masa bayi (28 hari-1 tahun)

a) Usia 1-4 bulan

Perkembangan bahasa pada usia ini ditandai dengan adanya

kemampuanj bersuara dan tersenyum, mengucapkan huruf hidup,

berceloteh, mengucapkan kata “ooh/ahh”, tertawa dan berteriak,

mengoceh spontan, serta bereaksi dengan mengoceh.

b) Usia 4-8 bulan

Perkembangan bahasa pada usia ini adalah dapat menirukan bunyi atau

kata-kata, menoleh ke arah suara atau sumber bunyi, tertawa, menjerit,

menggunakan vokalisasi semakin banyak, serta menggunakan kata yang

terdiri atas dua suku kata dan dapat membuat dua bunyi vocal yang

bersama seperti “ba-ba”.

c) Usia 8-12 bulan

Perkembangan bahasa pada usia ini adalah mampu mengucapkan kata

“papa” dan “mama” yang belum spesifik, mengoceh hingga

mengatakannya secara spesifik, serta dapat mengucapkan 1-2 kata.


3) Masa anak (1-2 tahun)

Perkembangan bahasa anak ini adalah dicapainya kemampuan

bahasa pada anak yang mulai ditandai dengan anak mampu memiliki

sepuluh perbendaharaan kata, tingginya kemampuan meniru, mengenal, dan

responsive terhadap orang lain, mampu menunjukkan dua gambar, mampu

mengombinasikan kata-kata, serta mulai mampu menunjukkan lambaian

anggota badan.

4) Masa prasekolah

Perkembangan bahasa diawali dengan adanya kemampuan

menyebutkan hingga empat gambar, menyebutkan satu hingga dua warna,

menyebutkan kegunaan benda, menghitung, mengartikan dua kata,

mengerti empat kata depan, mengerti beberapa kata sifat dan jenis kata

lainnya, menggunakan bunyi untuk mengidentifikasi objek, orang, dan

aktivitas, meniru berbagai bunyi kata, memahami arti larangan, serta

merespons panggilan orang dan anggota keluarga dekat (Hidayat, 2013 :

21-22).

2.1.5 Teori Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

Terdapat berbagai pandangan tentang teori pertumbuhan dan perkembangan

anak. Berikut ini akan diuraikan teori perkembangan psikoseksual, psikososial,

kognitif dan perkembangan moral.


1. Perkembangan psikoseksual (Freud)

Freud mengemukakan bahwa perkembangan psikoseksual anak terdiri

atas fase oral, fase anal, fase falik, dan fase genital (Supartini, 2012 : 59).

Berikut ini akan dijelaskan satu per satu :

1) Fase oral (0 sampai 11 bulan)

Selama masa bayi, sumber kesenangan anak terbesar berpusat pada

aktifitas oral, seperti mengisap, menggigit, mengunyah, dan mengucap.

Hambatan atau ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan oral akan

mempengaruhi fase perkembangan berikutnya. Penanaman identitas

gender pada bayi dimulai dengan adanya perlakukan ibu atau ayah yang

berbeda, misalnya bayi perempuan cenderung diajak berbicara lebih

banyak daripada bayi laki-laki, sementara ayah lebih banyak melakukan

aktifitas motorik pada bayi laki-laki daripada perempuan, misalnya dengan

mengangkat dan menjunjung bayi keatas.

(Supartini, 2012 : 59).

2) Fase anal (1 sampai 3 tahun)

Selama fase kedua, yaitu menginjak tahun pertama sampai tahun

ketiga, kehidupan anak berpusat pada kesenangan anak, yaitu selama

perkembangan otot spingter. Anak senang menahan feses, bahkan

bermain-main dengan fesesnya sesuai dengan keinginannya. Dengan

demikian, toilet training adalah waktu tepat dilakukan pada periode ini

(Supartini, 2012 : 59).


3) Fase falik (3 sampai 6 tahun)

Selama fase ini, geitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh

yang sensitif. Anak mulai mempelejari adanya perbedaan jenis kelamin

perempuan dan laki-laki dengan mengetahui adanya perbedaan alat

kelamin. Sering kali anak sangat penasaran dengan pertanyaan yang

diajukannya berkaitan dengan perbedaan ini. Orang tua harus bijak dalam

memberi penjelasan tentang hal ini sesuai dengan kemampuan

perkembangan kognitifnya agar anak mendapatkan pemahaman yang

benar. Selain itu, untuk memahami identitas gender, anak sering meniru

ibu atau bapaknya, misalnya dengan menggunakan pakaian ayah dan

ibunya. Secara psikologis pada fase ini mulai berkembang superego, yaitu

anak mulai berkurang sifat egosentrisnya (Supartini, 2012 : 59).

4) Fase laten (6 sampai 12 tahun)

Selama periode laten, anak menggunakan energi fisik dan

psikologis yang merupakan media untuk mengeksplorasi pengetahuan dan

pengalamannya melalui aktifitas fisik maupun sosialnnya. Pada awal fase

laten, anak perempuan lebih menyukai teman dengan jenis kelamin

perempuan, dan anak laki-laki dengan anak laki-laki. Pertanyaan anak

tentang seks semakin banyak, mengarah pada sistem reproduksinya.

Dalam hal ini orang tua harus bijaksana, dalam merespons, yaitu

menjawabnya dengan jujur dan hangat. Luas jawaban disesuaikan dengan


maturitas anak. Sering kali karena begiru penasaran dengan seks, anak

mungkin dapat bertindak coba-coba dengan teman sepermainan. Oleh

karena itu, apabila anak tidak pernah bertanya tentang seks, sebaiknya

orang tua waspada. Peran ibu dan ayah sangat penting dalam melakukan

pendekatan dengan anak, pelajari apa yang sebenarnya sedang dipikirkan

anak berkaitan dengan seks (Supartini, 2012 : 60).

5) Fase genital (12 sampai 18 tahun)

Tahapan akhir masa perkembangan menurut Freud adalah tahapan

genital ketika anak mulai masuk fase pubertas, yaitu dengan adanya proses

kematangan organ reproduksi dan produksi hormon seks (Supartini, 2012

: 60).

2. Perkembangan psikososial (Erikson)

Pendekatan erikson dalam membahas proses perkembangan anak

adalah dengan menguraikan tahapan perkembangan psikososial, yaitu percaya

versus tidak percaya, otonomi versus rasa malu dan ragu, inisiatif versus rasa

bersalah, industry versus inferiority, dan identitas dan kerancuan pesan.

(Supartini, 2012 : 60-61). Berikut ini akan diuraikan satu per satu :

1) Percaya versus tidak percaya (0 sampai 1 tahun).

Penanaman rasa percaya adalah hal yang sangat mendasar pada

fase ini. Terbentuknya kepercayaan diperoleh dan hubungannya dengan

orang lain dan orang yang pertama berhubungan hádala orang tuanya,
terutama ibunya. Belaian cinta kasih ibu dalam memberikan perhatian dan

memenuhi kebutuhan dasar anak yang konsisten terutama pemberian

makan disaat anak lapar dan haus adalah sangat penting untuk

mengembangkan rasa percaya ini. Bayi belar bahwa orag tuanya dapat

memberi perhatian cinta kasih melalui perlakuannya sehingga dapat

menurunkan perasaan tidak nyaman. Oleh karena itu, ibu memerlukan

dukungan terutama dari suazi untuk membina hubungan yang dekat

dengan anak. Sebaliknya, anak akan mengembangkan rasa tidak percata

pada orang lain apabila pemenuhan kebutuhan dasar tersebut tidak

terpenuhi (Supartini, 2012 : 61).

2) Otonomi versus rasa malu dan ragu (1 sampai 3 tahun).

Perkembangan otonomi berpusat pada kemampuan anak untuk

mengontrol tubuh dan lingkungannya. Anak ingin melakukan hal-hal yang

ingin dilakukannya sendiri dengan menggunakan kemampuan yang sudah

mereka miliki, seperti berjalan, berjinjit, memanjat, dan memilih mainan

atau barang yang diinginkannya. Pada fase ini, anak akan meniru perilaku

orang lain disekitarnya dan hal ini merupakan proses belajar. Sebaliknya,

perasaan malu dan ragu akan timbul apabila anak merasa dirinya kerdil

atau saat mereka dipaksa oleh orang tuanya atau orang dewasa lainnya

untuk memilih atau berbuat sesuatu yang dikehendaki mereka (Supartini,

2012 : 61).
3) Inisiatif versus rasa bersalah (3 sampai 6 tahun).

Perkembangan inisiatif diperoleh dengan cara mengkaji

lingkungan melalui kemampuan indranya. Anak mengembangkan

keinginan dengan cara eksplorasi terhadap apa yang ada disekililingnya.

Hasil akhir yang diperoleh adalah kemampuan untuk menghasilkan

sesuatu sebagai prestasinya. Perasaan bersalah akan timbul pada anak

apabila anak tidak mampu berprestasi sehingga merasa tidak puas atau

perkembangan yang tidak tercapai (Supartini, 2012 : 61-62).

4) Industry versus inferiority (6 sampai 12 tahun)

Anak akan belajar untuk bekerja sama dan bersaing dengan anak

lainnya melalui kegiatan yang dilakukan baik dalam kegiatan akademik

maupun dalam pergaulan melalui permainan yang dilakukannya bersama.

Otonomi mulai berkembang pada anak di fase ini, terutama awal usia 6

tahun, dengan dukungan keluarga terdekat. Terjadinya perubahan fisik,

emosi dan sosial pada anak berpengaruh terhadap gambaran tubuhnya

(body image). Interaksi sosial lebih luas dengan teman, umpan balik

berupa kritik dan evaluasi dari teman atau lingkungannya, mencerminkan

penerimaan dari kelompok akan membantu anak semakin mempunyai

konsep diri yang positif. Perasaan sukses dicapai anak dengan dilandasi

adanya motivasi internal beraktifitas yang mempunyai tujuan.

Kemampuan anak untuk berinteraksi sosial lebih luas dengan teman


dilingkungannya dapat memfasilitasi perkembangan perasaan sukses

(sense of industry) tersebut (Supartini, 2012 : 62).

Perasaan tidak adekuat dan rasa inferior atau rendah diri akan

berkembang apabila anak terlalu mendapat tuntutan dari lingkungannya

dan anak tidak berhasil memenuhinya. Selain itu, harga diri yang kurang

akan menjadi dasar yang kurang untuk penguasaan tugas-tugas di fase

remaja dan dewasa. Pujian atau penguatan (reinforcement) dari orang tua

atau orang dewasa lainnya terhadap prestasi yang dicapainya menjadi

begitu penting untuk menguatkan perasaan berhasil dalam melakukan

sesuatu (Supartini, 2012 : 62).

5) Identitas dan kerancuan pesan (12 sampai 18 tahun)

Anak remaja akan berusaha untuk menyesuaikan perannya sebagai

anak yang sedang pada fase transisi dari kanak-kanak menuju dewasa.

Mereka menunjukkan perannya dengan bergaya sebagai remaja yang

sangat dekat dengan kelompoknya, bergaul dengan mengadopsi nilai

kelompok dan lingkungannya, untuk dapat mengambil keputusannya

sendiri. Kejelaan identitas diperoleh apabila ada kepuasan yang diperoleh

dari orang tua atau lingkungan tempat ia berada, yang membantunya

melalui proses pencarian identitas diri sebagai anak remaja, sedangkan

ketidakmampuan dalam mengatasi konflik akan menimbulkan kerancuan

peran yang harus dijalankannya (Supartini, 2012 : 62-63).


3. Perkembangan kognitif (Piaget)

Perkembangan kognitif dibahas berdasarkan pada tahapan sensoris-

motorik, praoperasional, concrete operational, dan formal operation (Supartini,

2012 : 63).

1) Tahap sensoris-motorik (0 sampai 2 tahun)

Mengisap (sucking) adalah ciri utama pada perilaku bayi dan

berkembang sekalipun tidak sedang menyusu, bibirnya bergerak-gerak

seperti sedang menyusu. Apabila lapar, bayi menangis, lalu ibu

menyusukannya dan anak terdiam. Kemudian, jika ibu menyusukan

sambil bernyanyi atau bersenandung, anak kemudian terdiam. Di lain

waktu jika bayi menangis dan ibu bernyanyi dan bersenandung, bayi juga

terdiam. Jadi, bayi belajar dan mengembangkan kemampuan sensoris-

motorik dengan dikondisikan oleh lingkungannya. Pada tahap ini, anak

mengembangkan aktivitasnya dengan menunjukkan perilaku sederhana

yang dilakukannya berulang-ulang untuk meniru perilaku tertentu dari

lingkungannya. Jadi, perkembangan intelektual dipelajari melalui sensasi

dan pergerakan (Supartini, 2012 : 63).

Tiga kejadian penting dari tahapan sensoris-motorik adalah

perpisahan anak dengan lingkungan seperti ibunya, ada persepsi tentang

konsep benda yang permanen atau konstan serta penggunaan simbol untuk
mempersepsikan situasi atau benda, misalnya dengan menggunakan

mainan (Supartini, 2012 : 63).

2) Praoperasional (2 sampai 7 tahun).

Karakteristik utama perkembangan intelektual pada tahapan

praoperasional didasari oleh sifat egosentris. Ketidakmampuan untuk

menempatkan diri sendiri ditempat orang lain. Pemikiran didominasi oleh

apa yang mereka lihat dan rasakan dengan pengalaman lainnya. Pada anak

usia 2 sampai 3 tahun, anak berada diantara sensoris-motor dan

praoperasional, yaitu anak mulai mengembangkan sebab-akibat, trial and

error, dan menginterpretasikan benda dan kejadian. Anak prasekolah (3

sampai 6 tahun) mempunyai tugas untuk menyiapkan diri memenuhi dunia

sekolah (Supartini, 2012 : 64).

Anak prasekolah berada pada fase peralihan antara preconceptual

dan intuitive thought. Pada fase preconceptual anak sering menggunakan

satu istilah untuk beberapa orang yang punya ciri yang sama, misalnya

menyebut nenek untuk setiap wanita tua, sudah bongkok, dan memakai

tongkat. Sedangkan pada fase intuitive thought, anak sudah bisa memberi

alasan pada tindakan yang dilakukannya. Satu hal yang harus diingat

bahwa anak prasekolah berasumsi bahwa orang lain berpikir seperti

mereka sehingga perlu menggali perngertian mereka dengan pendekatan

nonverbal (Supartini, 2012 : 63-64).


3) Concrete operational (7 sampai 11 tahun).

Pada usia ini, pemikiran meningkat atau bertambah logis dan

koheren. Anak mampu mengklasifikasi benda dan perintah dan

menyelesaikan masalah secara konkret dan sistematis berdasarkan apa

yang mereka terima dari lingkungannya. Kemampuan berpikir anak sudah

rasional, imajinatif, dan dapat menggali objek atau situasi lebih banyak

untuk memecahkan masalah. Anak sudah dapat berpikir konsep tentang

waktu dan mengingat kejadian yang lalu serta menyadari kegiatan yang

dilakukan berulang-ulang, tetapi pemahamannya belum mendalam,

selanjutnya akan semakin berkembang di akhir usia sekolah atau awal

masa remaja (Supartini, 2012 : 64).

4) Formal operation (11 sampai 15 tahun).

Tahapan ini ditunjukkan dengan karakteristik kemampuan

beradaptasi dengan lingkungan dan kemampuan untuk fleksibel terhadap

lingkungannya. Anak remaja dapat berpikir dengan pola yang abstrak

menggunakan tanda atau simbol dan menggambarkan kesimpulan yang

logis. Mereka dapat membuat dugaan dan mengujinya dengan

pemikirannya yang abstrak, teoritis, dan filosofis. Pola berpikir logis

membuat mereka mampu berpikir tentang apa yang orang lain juga

memikirkannya dan berpikir untuk memecahkan masalah (Supartini, 2012

: 64-65).
2.1.6 Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan

anak yaitu :

1. Faktor herediter

Faktor herediter merupakan faktor yang dapat diturunkan sebagai dasar

dalam mencapai tumbuh kembang anak disamping faktor lain. Yang termasuk

faktor herediter adalah faktor bawaan, jenis kelamin, ras, suku bangsa. Faktor

ini dapat ditentukan dengan intensitas dan kecepatan dalam pembelahan sel

telur, tingkat sensitivitas jaringan terhadap rangsangan, umur pubertas dan

berhentinya pertumbuhan tulang (Hidayat, 2013 : 11). Keturunan (genetik),

terutama orang tua, ayah, ibu, nenek dan kakek (Vivian, 2014 : 49).

2. Faktor lingkungan

Lingkungan (fisiko-bio-psiko-sosial) yang terdiri atas : nutrisi/gizi, paparan

toksin/zat kimia/radiasi, infeksi janin pascanatal, kebersihan dan sanitasi, sosial

ekonomi, obat-obatan, lingkungan pengasuhan, pemberian stimulasi atau

rangsangan, kualitas pengasuh, teman dan sekolah (Vivian, 2014 : 49-50).

1) Lingkungan prenatal

Faktor lingkungan pranatal merupakan lingkungan dalam kandungan, mulai

konsepsi sampai lahir yang meliputi gizi pada waktu ibu hamil, lingkungan

mekanis seperti posisi janin dalam uterus, zat kimia atau toksin dan

hormonal.

a. Lingkungan mekanis

Lingkungan mekanis adalah segala hal yang mempengaruhi janin atau

posisi janin dalam uterus.


b. Zat kimia atau toksin

Hal ini berkaitan dengan penggunaan obat-obatan, alcohol, atau

kebiasaan merokok oleh ibu hamil.

c. Hormonal

Hormon-hormon itu mencakup hormon somatotropin, plasenta, tiroid,

dan insulin. Peran hormon somatotropin (growth hormone), yaitu

disekresi kelenjar hipofisis janin sekitar minggu ke-9 dan produksinya

meningkat pada minggu ke-20. Hormon plasenta (human placental

lactogen) berperan dalam nutrisi plasenta (Hidayat, 2013 : 11).

2) Lingkungan post natal

a. Budaya lingkungan

Budaya lingkungan dalam hal ini adalah budaya dimasyarakat yang

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Budaya

lingkungan dapat menentukan bagaimana seseorang atau masyarakat

mempersepsikan pola hidup sehat (Hidayat, 2013 : 12).

b. Status sosial ekonomi

Status sosial ekonomi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan anak. Anak dengan keluarga yang memiliki sosial

ekonomi tinggi tentunya pemenuhan kebutuhan gizi cukup baik

dibandingkan anak dengan keluarga yang memiliki status sosial

ekonomi rendah. Demikian juga dengan status pendidikan keluarga,

misalnya tingkat pendidikan rendah akan sulit untuk menerima arahan

dalam pemenuhan gizi dan mereka sering tidak mau atau tidak meyakini

pentingnya pemenuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan lain

yang menunjang tumbuh kembang anak (Hidayat, 2013 : 12).


c. Nutrisi

Nutrisi adalah salah satu komponen yang paling penting dalam

menunjang keberlangsungan proses pertumbuhan dan perkembangan

(Hidayat, 2013 : 12).

d. Iklim/cuaca

Iklim atau cuaca juga berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan.

Hal ini dapat dilihat pada musim tertentu kebutuhan gizi mudah

diperoleh. Demikian juga pada musim tertentu lainnya yang terkadang

mengakibatkan kesulitan mendapatkan makanan bergizi seperti

penyediaan air bersih saat musim kemarau (Hidayat, 2013 : 13).

e. Olahraga/latihan fisik

Olahraga atau latihan fisik dapat memacu perkembangan anak karena

dapat meningkatkan sirkulasi darah sehingga suplai oksigen ke seluruh

tubuh dapat teratur.

(Hidayat, 2013 : 13).

f. Posisi anak dalam keluarga

Posisi anak dalam keluarga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangan. Hal ini dapat dilihat pada anak pertama atau tunggal,

dalam aspek perkembangan secara umum kemampuan intelektual

biasanya lebih menonjol dan cepat berkembang karena sering

berinteraksi dengan orang dewasa, akan tetapi dalam perkembangan

motoriknya kadang-kadang terlambat karena tidak ada stimulasi yang

biasa dilakukan saudara kandungnya. Demikian juga dengan anak kedua

atau berada di tengah kecenderungan orangtua yang merasa biasa dalam

merawat anak lebih percaya diri sehingga kemampuan untuk


beradaptasi anak lebih cepat dan mudah, akan tetapi dalam

perkembangan intelektual biasanya terkadang kurang apabila dibanding

dengan anak pertamanya, kecenderungan tersebut juga tergantung

kepada keluarga (Hidayat, 2013 : 13).

g. Status kesehatan

Status kesehatan anak dapat berpengaruh pada pencapaian pertumbuhan

dan perkembangan. Hal ini dapat terlihat apabila anak berada dalam

kondisi sehat dan sejahtera, maka percepatan untuk tumbuh kembang

menjadi sangat mudah (Hidayat, 2013 : 13).

3. Faktor hormonal

Faktor hormonal yang berperan dalam tumbuh kembang anak antara lain

hormone somatotropin, tiroid, dan glukokortikoid (Hidayat, 2013 : 13).

2.1.7 Kebutuhan dasar untuk tumbuh kembang optimal

Tumbuh kembang optimal dipengaruhi oleh beberapa hal berikut :

1. Adanya kesulitan makan

1) Nafsu makan dipengaruhi oleh :

a. Penyakit, seperti penyakit sistemik, mulut, gigi, gusi, tenggorokan,

usus, dan lain-lain.

b. Perhatian pada mainan/bermain dan emosi.

2) Makanan yang meliputi bentuk, warna, bau dan rasa.

3) Kudapan yang terlalu banyak.

4) Contoh dari orang tua, saudara, dan teman mengenai kebiasaan makan

yang kurang baik.

5) Perilaku pengasuh yang memaksa.


2. Suplemen, yang bergantung pada kebutuhan anak, masukan tiap anak, masalah

tiap anak, dan tumbuh kembangnya.

3. Sandang (pakaian)

1) Berikan pakaian yang sesuai usia anak.

2) Perhatian jenis bahan pakaiannya.

4. Perawatan kesehatan dasar yang meliputi imunisasi, pengobatan dini secara

tepat, serta mencegah kecacatan.

5. Perhatikan kelayakan dan kebersihan tempat tinggal anak yang meliputi

adekuatnya ventilasi dan pencahayaan.

6. Kebutuhan tempat tinggal minimal 7 m2/orang.

7. Kesegaran jasmani yang meliputi olah raga dan rekreasi.

8. Imunisasi diberikan sejak lahir sampai usia 18 tahun. Imunisasi ini berfungsi

untuk mencegah penyakit berat seperti hepatitis A, hepatitis B, BCG, DPT,

Polio, campak, HIB, MMR, demam tifoid, cacar air, dan influenza.

9. Kebersihan.

1) Kebersihan badan dapat dicapai dengan mencuci tangan, memotong kuku,

mandi, mencuci rambut (keramas), dan lain-lain.

2) Kebersihan makanan dalam sayur, buah, jajanan, air, peralatan makan dan

peralatan minum (Vivian, 2014 : 52).

3) Kebersihan rumah, sekolah, tempat bermain, dan transportasi.


4) Kebersihan lingkungan dari asap rokok, asap mobil, debu, sampah dan

lain-lain.

10. Bermain/aktifitas fisik.

Bermain atau melakukan akfitas fisik berguna dalam merangsang

hormon pertumbuhan, nafsu makan, metabolisme karbohidrat, protein, serta

lemak. Selain itu juga dapat merangsang pertumbuhan otot dan tulang serta

perkembangan anak.

11. Tidur atau istirahat.

1) Tidur atau istirahat berguna dalam merangsang pertumbuhan anak.

2) Kebutuhan istirahat berbeda untuk setiap usia. Sebagai contoh, anak usia

5 tahun memiliki kebutuhan tidur sekitar 11 jam/hari.

12. Pelayanan kesehatan.

Melalui tempat pelayanan kesehatan, orang tua dapat melakukan

pencegahan penyakit melalui KIE dan imunisasi, memantau tumbuh kembang

anak, serta mendeteksi dini penyakit, dan sesegera mungkin diberikan

intervensi (Vivian, 2014 : 52-53).

2.1.8 Komponen yang berperan dalam perkembangan anak

Komponen dalam pengasuhan anak terdiri dari orang-orang yang secara

teratur bertemu anak yang kemudian dapat memberikan pengaruh pada anak.

Komponen itu antara lain : ibu, ayah, kakek, nenek, pembantu, guru playgroup,

guru TK, guru mengaji dan orang lain yang dianggap berperan sebagai pengasuh

dan pendidik anak (Hidayati Z, 2010 : 63).


DAFTAR PUSTAKA

Proverawati, Atikah. 2013. Buku Ajar Gizi Untuk Kebidanan. Yogyakarta : Mulia
Medika.
Suherman. 2012. Buku Saku Perkembangan Anak. Jakarta : EGC.
Supartini, Yupi. 2012. Buku Ajar Konsep DasarKeperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Nanny Lia Dewi, Vivian. 2014. Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Jakarta :
EGC.
Hidayat, Ahmad Aziz Alimul. 2013. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak Kebidanan.
Jakarta : Salemba Medika.
Hidayati, Zulaeha. 2010. Anak Saya Tidak Nakal, Kok. Yogyakarta : B First.