Anda di halaman 1dari 39

PAK DEWASA DAN KELUARGA

A. SUATU TINJAUAN ALKITAB

Pada mata kuliah ini kita akan membahas PAK Dewasa dan Keluarga itu dari sudut
pandang Alkitab, dan mengapa hal itu perlu dilakukan khususnya di dalam gereja?
Pertanyaan ini akan kita tinjau dari perspektif Allah sebagai pendidik; Tuhan Yesus sebagai
Guru Agung (pembuat murid); Rasul Paulus, Rasul Petrus dan Rasul Yohanes sebagai
pembina jemaat mula-mula. Dengan demikian kita bisa melihat pandangan Alkitab mengenai
pentingnya tugas pendidkan orang dewasa dan keluarga.

1. Allah Sebagai Pendidik

Kita sering mendengar bahwa Allah adalah pencipta dan pemelihara alam semesta.
Menurut penuturan Kitab Kejadian pasal pertama, manusia adalah puncak ciptaan Allah.
Artinya, manusia adalah ciptaan yang paling tinggi nilainya dan kedudukannya. Manusia
berbeda dengan ciptaan lainnya. Manusia makhluk rasional, sedangkan ciptaan lainnya
makhluk non-rasional. Karena itu, Allah memperlakukan manusia secara istimewa.

Kemudian, Kejadian fasal kedua menjelaskan bahwa Allah membuat manusia


menjadi pusat rencana-Nya. Allah tidak menciptakan manusia tanpa tujuan khusus (for
nothing). Ia mau supaya manusia menjadi “ rekan kerja-Nya” mengelola alam semesta ini
bagi kemuliaanNya (bd. Kej 1:28). Untuk maksud itu Allah menciptakan suatu lingkungan
khusus, bernama Taman Eden agar di dalamnya manusia itu memperoleh didikan atau
pembinaan. Allah menghendaki Adam dan Hawa taat kepadaNya dalam segala hal
(khususnya segi moral, pengambilan keputusan dan dalam aspek spiritual). Tuhan mau agar
mereka mengenal jati diri dan tugas serta panggilannya. Untuk itulah Allah tak henti-hentinya
berkomunikasi dengan mereka, memberikan peraturan yang harus ditaati. Manusia itu
memang harus memakai kehendak bebasnya (free will) namun dalam sikap taat dan
bertanggungjawab.

Sayangnya, dikemudian hari, menurut penguraian Kejadian fasal tiga, Adam dan
Hawa memilih untuk tidak taat kepada sang pencipta. Kehendak bebas itu mereka salah
gunakan. Mereka ingin seperti Allah memiliki segala kuasa dan pengetahuan. Kehendak itu
gagal, meleset. Mereka malah menderita karena perbuatan itu, diusir dari Taman Eden.
Akibat dari ketidaktaatan itu terus kedalam hidup keturunan manusia itu dari kini sampai
masa yang akan datang (Roma 5:12). Tetapi syukurlah bahwa Yesus “Adam kedua” telah
memulihkan hubungan yang retak itu. Ia menjadi jalan pendamaian antara Allah dengan
manusia.

Apakah Allah gagal sebagai pendidik? Jawabnya, tentu tidak. Lalu mengapa Adam
dan sampai bisa ditipu oleh ular di Taman Eden itu? Apakah Allah lepas kontrol? Juga tidak.
Allah telah memberikan kehendak bebas bagi mereka. Mereka tahu mana yang baik dan
tidak, sebab Allah telah memberikan kemampuan untuk membedakan. Jadi, manusia yang
pertama itu yang mengambil keputusan untuk tidak taat kepada Sang Pencipta. Sebab ketika

1
Allah menanyai mereka tentang apa yang mereka perbuat (3:11), mereka saling
mempersalahkan. Dengan kata lain, sungguh-sungguh mereka sadar telah bersalah kepada
Allah. Meraka gagal, tetapi Tuhan tetap setia memelihara mereka meski harus mejalani
akibat dari pemberontakan itu. Dialah yang membuat pakaian bagi mereka (3:21). Dia pula
yang menyatakan adanya jalan keluar terhadap akibat perbuatan itu dikemudian hari, yakni
dengan adanya seorang penebus (3:15).

a. Didikan Allah Terus Berlangsung

Allah terus mendidik keturunan Adam agar mengenal Dia. Enos, putra Set misalnya,
adalah seorang yang takut akan Tuhan (Kej 4:26). Begitu juga dengan Henok, yang
dilaporkan “hidup bergaul dengan Allah” (Kej 5:24). Nuh dan keluarganya dipelihara oleh
Allah dapat hidup di dalam ketaatan dan kesalehan meski menghadapi ejekan-ejekan dari
orang-orang disekitarnya. Mereka selamat dari air bah. Selanjutnya Allah menyatakan suatu
perjanjian dengan Nuh dan keturunannya (Kej 9:8-17). Hal itu membuktikan bahwa Allah
terus mendidik mereka.

b. Pemilihan Abraham

Meskipun manusia cenderung gagal menaati perintah Tuhan, namun Tuhan tetap
mempersiapkan pribadi-pribadi dan kelompok yang dapat menjadi saluran rahmatNya. Allah
memanggil dan membina Abraham (Kej 12:1-3). Ia menyatakan diri berulang kali. Dia
berjanji dan kemudian menepatinya. Ishak lahir sebagai anak tunggal bagi Abraham dan Sara
istrinya. Lalu Allah menguji Abraham dengan meminta agar Ishak dijadikan korban bakaran.
Abraham tulus hati, ia mau saja menurut. Bagi Allah ketulusan hati sangat dihargai. Ketaatan
tanpa syarat itulah yang diinginkan Allah dari Abraham. Ishak tidak jadi dikorbankan, dan
digantikan dengan seekor domba jantan. Tampaknya Abraham lulus dalam pembinaan Allah
sehingga ia disebut sebagai “bapa orang beriman” (Kej 22:1-19; Rm 4:11).

c. Didikan bagi keturunan Abraham

Ishak, Yakub dan keturunannya tampaknya terus dalam binaan Allah sebagaimana
dinyatakan oleh Alkitab. Tatkala keturunan Yakub menjadi banyak dan mereka melupakan
Allah, mereka menjadi budak di Mesir, sekitar 400 tahun lamanya. Namun Allah setia kepada
janji yang diucapkan sebelumnya kepada Abraham nenek moyang mereka. Allah bertindak
sebagai pembebas. Ia memilih dan mengutus Musa dan Harun sebagai alatNya. Sebelumnya
Musa telah dididik Allah di padang gurun selama kurang lebih 40 tahun. Mentalnya
disiapkan, pemahamannya akan situasi gurun pasir dibentuk. Kemudian, ia menjadi
pemimpin Israel keluar dari Mesir, dan membawa mereka menuju tanah Kanaan melalui
padang gurun. Menurut kesaksian Alkitab, Musa gagal masuk ke Kanaan. Tugas itu
dilanjutkan oleh Yosua, seorang abdi Musa yang setia dan cekatan. Hingga masa tuanya,
setelah di Kanaan, Yosua dan anak-anaknya berkeputusan untuk takut kepada Tuhan (Yos
24:15,18).

2
2. Melalui para Nabi

Kesetiaan Allah sebagai pendidik nyata terus sebagaimana Ia mengangkat dan


mengutus para hakim dan nabi, untuk membimbing umatNya agar mengikuti kehendakNya.
Hukumanpun Allah pakai untuk mendisiplin mereka. Ia mengijinkan Israel ditahan oleh
Asyur, dan Yehuda oleh kerajaan Babel, dalam kurun waktu yang cukup lama. Sebelum dan
sesudah masa pembuangan Allah tetap memelihara dan mendidik umatnya. CaraNya unik. Ia
memperingati, menegur, menasehati, menyatakan hukuman, memberi penghiburan dan
mengadakan restorasi (pemulihan). Tuhan mengangkat para pelaksana pendidikan. Ia juga
memberikan pengajaran lewat kata atau ucapan, serta lewat perbuatan atau tindakan.

3. Yesus Kristus Guru Agung

Yesus Kristus adalah Firman (Allah) yang menjadi manusia (Yoh 1:1-3,14). Ia datang
untuk membawa manusia mengenal Allah (Yoh 1:18). Mengenal Allah berarti mengenal apa
yang telah, sedang dan akan diperbuatNya bagi isi dunia ini. Allah sangat mengasihi isi dunia
ini., manusia dan seluruh ciptaanNya. Ia mau agar tidak satu orang manusia pun binasa oleh
hukuman dosa dan maut. Untuk itu Yesus merelakan diriNya menjadi tebusan bagi banyak
orang (Yoh 10: 17,18; Mrk 10:45). Ia menanggung dosa seluruh dunia dalam diriNya pada
salib. Ia tidak mati terus. Ia bangkit dari kematian, dan naik ke surga. Ia akan datang untuk
menghakimi yang hidup dan yang mati.

Karya Allah yang sangat berharga itu haruslah disampaikan kepada segala makhluk.
Untuk itu Roh Kudus hadir dan bekerja melalui orang-orang yang percaya kepada Yesus,
Sang Mesias. Roh itu bekerja melalui murid-murid (rasul) yang sebelumnya telah
dipersiapkan Yesus kurang lebih tiga setengah tahun. Dan memberitahukan rencana Allah
bagi mereka, bagi Israel dan bagi bangsa-bangsa lain, atau bagi seisi dunia. Untuk itu Ia
mengajar mereka lewat perkataan, ucapan dan perbuatan. Ia hidup bersama dengan para
murid, khususnya kelompok dua belas. Ia memberitakan Injil bersama dengan mereka,
menyatakan kuasa Allah atas penyakit dan kuasa-kuasa sijahat di hadapan mereka.

Kedua belas murid-murid Yesus adalah orang-orang dewasa secara fisik. Petrus sudah
berkeluarga (Mrk 1:29-34). Begitu juga dengan Matius atau yang disebut Lewi (Mrk 2:13-
17). Yesus membina orang-orang dewasa lain seperti Zakheus, Maria dan Martha, juga
Lazarus. Kepada mereka ini Yesus memberi perintah untuk memperhatikan pembinaan anak-
anak (Mat 18:6-14). Dari sini terlihat meski Yesus membina orang-orang dewasa, tetapi Ia
juga menegaskan betapa pentingnya pembinaan anak-anak. Sebab sebelum Ia naik ke Sorga,
Yesus memberi perintah kepada murid-murid agar memberitakan Injil Kerajaan Allah kepada
segala makhluk (Mrk 16:15,16). Yesus mau agar segala bangsa dijadikan muridNya, karena
dengan demikianlah mereka sungguh-sungguh memiliki pengenalan akan Allah (Mat 28:19-
20).

4. Para Rasul Sebagai Pendidik

Dalam Kisah Para Rasul, Lukas menceritakan bahwa gereja mula-mula di Yerusalem
tampaknya memberi perhatian untuk pembinaan warga jemaat dewasa (Kis 2:41-47). Mereka

3
mengadakan persekutuan, dimana Firman Allah dibicarakan. Mereka saling mempedulikan
dalam hal kebutuhan sehari-hari, bahkan lambat laun para rasul mengadakan pelayanan
khusus bagi keperluan jasmani kaum miskin (Kis 6:1-7). Meski menghadapi tantangan,
mereka tetap mengupayakan jalan bagaimana memberitakan Injil. Mereka berdoa untuk itu,
juga mengadakan pertemuan untuk membahas perkara-perkara penting (Kis 4:23-31; 11:1-
12; 12:1-19).

Jemaat di Antiokhia juga tidak ketinggalan, disana bahkan ada nabi dan pengajar guna
membangun dan melengkapi jemaat. Sebagai hasilnya, jemaat itu memiliki beban misi.
Mereka berdoa, beribadah dan berpuasa untuk mencari kehendak Allah. Allah memberi visi
dan kuasa. Dari sanalah muncul missionaris seperti Barnabas dan Paulus, memberitakan Injil
ke Asia dan Eropa (Kis 13:1-5).

a. Rasul Paulus Sebagai Pendidik

Dikemudian hari Rasul Paulus mendirikan jemaat-jemaat. Ia mengangkat para


penatua, seperti halnya di Efesus (Kis 20:17-38). Ia melatih mereka. Ia tinggal bersama
mereka selama jangka waktu tertentu. Bila hal itu tidak mungkin dilakukan, Paulus mengutus
rekan-rekan kerjanya seperti Timotius, Silas dan Titus, atau Efaproditus. Ia mengirim surat-
surat kepada jemaat-jemaat guna meneruskan pengajaran yang pernah dilakukan. Biasanya
dalam surat-surat itu ia memberi pengajaran dasar tentang iman Kristen, tentang perkara-
perkara yang harus dijauhkan atau yang dilakukan. Hal itu dapat menyangkut soal etika
pribadi, etika relasional terhadap orang tua, sesama, majikan, bahkan terhadap penguasa.
Paulus punya rekan sekerja yang berkeluarga, seperti priskila dan Akwila. Ada dari golongan
kaya seperti Filemon. Bagi Paulus, orang dewasa harus dibina untuk menjadi pembina-
pembina yang berbobot bagi anak-anak, remaja dan pemuda.

Rasul Paulus yakin bahwa setiap orang percaya mendapat karunia yang diberikan oleh
Roh Kudus. Karunia itu diberikan agar jemaat dapat saling memperhatikan, membantu atau
melayani. Jemaat adalah kumpulan orang-orang percaya. Mereka adalah tempat kediaman
Roh Kudus. Mereka adalah anggota-anggota tubuh Kristus, dan Yesus sendiri sebagai kepala
atau pemimpin. Maka, tidak ada alasan untuk tidak mengadakan pembinaan warga jemaat
agar mereka aktif memuliakan Allah (Ef 3:10).

Rasul Paulus memberi instruksi juga kepada mereka yang ia percayakan


menggembalakan jemaat. Timotius ia dorong untuk melayani di Efesus. Titus di pulau Kreta.
Keduanya didesaknya untuk tidak mengabaikan pembinaan orang dewasa, seperti dalam hal
mengangkat dan membina penilik jemaat dan tua-tua. Timotius dihimbaunya agar tidak
emosi menghadapai orang-orang tua; mereka harus dihormati dan dibina dengan lemah
lembut dan kesabaran (1 Tim 5:1-2). Titus diarahkan untuk membina iman mereka yang
sudah lanjut usia, agar kemudian dapat membina generasi yang lebih muda. Bapa-bapa, ibu-
ibu tua dan muda serta kaum muda, menjadi peserta didik Titus di dalam pembinaan jemaat
di Kreta. Mereka harus dibimbing agar menunjukkan cara hidup yang bijaksana, sopan,
terhormat, serta rajin berbuat baik (Tit 2:1-8; 3:1,14).

4
b. Pola Rasul Petrus

Rasul Petrus juga mengadakan pembinaan jemaat orang dewasa seperti terhadap
keluarga Kornelius (Kis 10). Dikemudian hari, dalam suratnya ia menegaskan betapa
perlunya membina penatua untuk mengurusi jemaat. Para penatua bertanggung jawab untuk
membina umat agar hidup tertib, setia, taat kepada Allah meski dalam keadaan menderita
karena nama Yesus Kristus. Mereka harus membina jemaat menjadi keluarga-keluarga yang
kuat. Pembinaan itu harus mereka lakukan lewat pengajaran, sikap dan keteladanan hidup.
Tidak boleh ada sikap memerintah melainkan harus memberi teladan hidup (1 Ptr 5:1-5).

Bagi Petrus, orang-orang percaya harus diaktifkan untuk saling melayani. Mereka
semua adalah imam-imam Sang Raja. Semua orang beriman dalam pandangan Petrus
memiliki kesempatan emas untuk melayani Tuhan (secara langsung), dan melayani sesama
serta melayani dunia (1 Ptr 2:4-9).

c. Nasihat Yohanes

Dalam suratnya, Rasul Yohanes tampaknya menegaskan bahwa pembinaan perlu


diberikan kepada semua warga jemaat. Oleh karena itu suratnya dialamatkan kepada anak-
anak, orang muda, dan kaum bapa (1 Yoh 2:12-14). Banyak hal yang harus mereka ketahu
mengenai iman Kristen. Mereka harus berdasar dalam kasih Yesus Kristus. Mereka harus
tegar menghadapi tantangan ajaran-ajaran palsu yang menyangkali Yesus sebagai Anak
Allah. Mereka harus didorong untuk mampu membedakan berbagai macam roh yang
membingungkan (4:1-2). Hal itu dapat mereka laksanakan karena jemaat telah mendapat
pengurapan dari yang Maha Kudus (2:20,27). Roh yang mendiami orang percaya lebih besar
kuasanya dari pada roh-roh dunia yang menyesatkan (4:4). Mereka dapat mengalahkan
kuasa-kuasa si jahat karena darah Yesus di kayu salib telah mengalahkannya (3:8).
Seterusnya, jemaat harus tahu bahwa mereka memiliki kepastian kehidupan kekal dalam
Yesus. Begitu juga doa dan permohonan mereka pasti didengar dan dikabulkan oleh Allah
(5:13-21)

Kesimpulan

Alkitab menegaskan bahwa pendidikan atau pembinaan orang dewasa itu sangat
penting dan bahkan sangat mendesak bagi gereja. Orang dewasa yang dibina dengan baik
akan menjadi pembina (pendidik) yang potensial juga bagi generasi muda, bagi keluarga,
jemaat dan masyarakat. Ada banyak permasalahan dan kebutuhan yang dari orang dewasa
yang perlu mendapat perhatian jemaat. Bila mereka didorong menghadapi hidupnya dengan
baik dalam terang Firman Tuhan, tentu gereja kuat dan maju.

5
B. PENGERTIAN PENDIDIKAN

Menurut KBBI, pendidkan itu adalah, suatu proses pengubahan sikap dan perilaku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan pelatihan.1 Jadi, pendidikan itu dapat dikatakan sebagai semua usaha,
perbuatan sadar dan disengaja yang dilakukan kepada seseorang atau kelompok orang yang
satu kepada seseorang atau kelompok orang lainnya untuk mengalihkan pengalaman,
pengetahuan, kecakapan dan ketrampilan dari generasi tua ke generasi muda untuk suatu
perkembangan sehingga mereka dapat melakukan fungsi hidup yang maksimal.

Sedangkan PAK Dewasa dan Keluarga pada prinsipnya adalah sama, yaitu proses
pengubahan sikap dan tatalaku seseorang atau kelompok orang dalam upaya mendewasakan
manusia melalui pengajaran dan pelatihan yang didasarkan pada ajaran agama Kristen.

1. Dasar Pendidikan Agama Kristen

Landasan pembelajaran PAK merupakan acuan atau pijakan dalam pencapaian tujuan
PAK itu sendiri. Pendidikan Agama Kristen yang diselenggarakan dengan suatu landasan
yang kokoh, maka prakteknya akan mantap, artinya jelas dan tepat tujuannya, efisien dan
efektif cara pendidikan yang dipilihnya. Melalui landasan yang kokoh itu, maka kesalahan-
kesalahan konseptual yang dapat merugikan akan dapat dihindari sehingga praktek PAK
diharapkan sesuai dengan fungsi dan sifatnya, serta dapat dipertanggungjawabkan. Adapun
dasar pelaksanaan PAK itu adalah sebagai berikut.

a. Kitab Ulangan 6:4-9


Dalam tradisi orang Israel “Shema” atau perintah Tuhan yang wajib dijalankan,
karena hanya dengan pedoman itu umat tidak keluar dari pemeliharaan dan
perlindungan Tuhan. Yang seutuhnya tersimpul dalam sebutan “Taurat”. Syema itu
adalah suatu panggilan bagi Israel untuk mendengar Firman Tuhan. Melalui syema
orang Israel diajar untuk memilih persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai
prioritas utama. Seluruh aspek kehidupan Israel didasari oleh hubungan cintanya
dengan Tuhan. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang
menyeluruh dan total. Syema ini, pertama, harus tertanam dalam hati orang Israel
(ayat.6); kedua, harus tertanam dalam hati anak-anak Israel (ayat.7); ketiga, harus
menjadi bagian hidup sehari-hari mereka (ayat.7); keempat, harus menjadi identitas
pribadi mereka (ayat.8); dan kelima, menjadi identitas keluarga serta masyarakat
Israel (ayat.9). Tidak ada satu bagian pun dalam kehidupan orang Israel yang terlepas
dari relasi mereka yang penuh kasih kepada Tuhan.
b. Injil Matius 28:20
Umat Kristen adalah Umat Perjanjian Baru. Dengan latar belakang Perjanjian Lama
mereka hidup dalam kemurnian perintah Tuhan Yesus. Pada saat Yesus mau
meninggalkan murid-muridNya pergi ke Surga, ia pesankan dengan jelas perintah ini:
“Dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu”
. Inti dari ajaran Tuhan Yesus adalah kasih. Ini adalah rangkuman ringkas dari Taurat

1
KBBI, Tim Prima Pena, Gita Media Press, hal. 226

6
dan kitab Nabi-nabi; 1. Kasihilih Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 2. Kasihilah sesamamu manusia
seperti dirimu sendiri (Mat 22:37,39).
c. Dasar Hukum Undang-undang Dasar 1945
Disamping pasal-pasal yang implisit yang berhubungan dengan Pendidikan Agama
Kristen, terdapat pasal-pasal yang eksplisit menunjuk kepadanya. Pasal 28 E, ayt 1,2.
Ayat 1. Setiap orang memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, memilih
pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan dan memilih kewarganegaraan,
memilih tempat tinggal di wilayah negara, meninggalkannya, serta kembali.
Ayat 2. Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaannya, menyatakan
pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.
Pasal 29 ayat 2. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk
agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan keyakinannya
itu.
“Undang-undang RI No.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas”
Pasal 3. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik
agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pasal 12 ayat 1a.

(1)Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak:

a. Mendapat pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan


diajarkan oleh pendidik yang seagama.

Pasal 30 ayat 2, 3

(2) Pendidikan keagamaan berfungsi mempersiapkan peserta didik menjadi anggota


masyarakat yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agamanya dan/
atau menjadi ahli ilmu agama.
(3) Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal,
nonformal, dan informal.
Pasal 37 ayat 1 a
(1) Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat:
a. Pendidikan agama mengacu kepada dasar-dasar tersebut Pendidikan Agama
Kristen dalam Sistim Pendidikan Nasional diselenggarakan dan wajib
dilaksanakan. Artinya jaminan perwujudannya menjadi formal di Indonesia.2

2
Etika relasional, dimana kita harus takluk dan jangan melawan pemerintah karena pemerintah ditetapkan oleh
Allah (Rm 13:1-2)

7
2. Tujuan Pendidikan Agama Kristen

“Thomas M Groom dalam bukunya yang berjudul “Christian Religius Educatian”


mengedepankan bahwa tujuan pendidikan Agama Kristen adalah agar manusia mengalami
hidupnya sebagai respon terhadap kerajaan Allah di dalam Yesus Kristus” Di Indonesia
dalam sisdiknas Pendidikan Agama Kristen tujuannya menumbuhkan dan mengembangkan
iman serta kemampuan siswa untuk dapat memahami dan menghayati kasih Allah dalam
Yesus Kristus yang dinyatakan dalam kehidupan sehari-hari.

Tujuan pembelajaran merupakan muara yang menjadi arah kegiatan pembelajaran


dan menjadi tolak ukur yang utama dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Hal ini
sangat membantu guru dalam merencanakan atau mempersiapkan bahan pengajaran serta
mengetahui arah kegiatan belajar. Perubahan yang tercapai dalam diri peserta didik baik dari
segi pengetahuan, pemahaman, keterampilan, maupun karakter merupakan sasaran atau target
perubahan yang harus dicapai oleh seorang guru.

“John M. Nainggolan membagi empat tujuan pembelajaran PAK” dalam bukunya


“Menjadi Guru Agama Kristen” yakni;

a. Mengajarkan Firman Tuhan


Guru PAK senantiasa mengajarkan firman Allah agar siswa memiliki patokan
dalam realita kehidupannya yang akhirnya mengalami perubahan dari hari ke hari,
karena firman Allah bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan,
memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran (II Timotius 3:16)

b. Membawa perjumpaan dengan Kristus


Perjumpaan pribadi dengan Kristus menyebabkan suatu hubungan berubah antara
manusia dengan Allah, dan antar sesamanya serta menghasilkan cara hidup yang
benar. Guru berperan dalam membantu peserta didik untuk mengalami
perjumpaan pribadi dengan Kristus. Apabila siswa mengalami perjumpaan dengan
Yesus akan memiliki sikap mengasihi Allah dan diwujudkan melalui tutur kata,
perilaku, pola pikir, dan gaya hidup yang benar dan hidup dalam iman serta
ketaatan-Nya kepada Tuhan

c. Memiliki Kemampuan dan keterampilan melalui 4 (empat) prinsip utama


dalam PAK:
Learning to know
Learning to know berhubungan dengan kempampuan kognitif peserta didik.
Kognitif peserta didik harus dirangsang untuk mampu berpikir,
menganalisa, dan menginterpretasikan. Kaitannya dengan PAK, pendidik
bertugas untuk membuat bahan pembelajaran dari Alkitab yang bisa
merangsang kemampuan peserta didik yang akhirnya bisa
menginterpretasikan dalam kehidupannya. Peserta didik dimampukan untuk
mengetahui segala sesuatu tentang dirinya sendiri, dunianya, sesama,
lingkungannya, dan pengetahuan akan Allah serta segala firman-Nya.

8
Learning to do
Pengetahuan peserta didik yang telah diperolehnya dalam proses belajar
diarahkan untuk mengaplikasikannya. Mereka harus belajar untuk
melakukan firman Tuhan. Dengan demikian peserta didik dapat menjadi
garam bagi dunia sebagai orang beriman.

Learning to be
Learning to be menekankan pada pengembangan potensi kepribadiannya.
Peserta didik diarahkan untuk memiliki integritas hidup ditengah
masyarakat. Sebagi murid Kristus, peserta didik diharapkan mampu hidup
seperti karakter Tuhan Yesus.

Learning to life together


Peserta didik adalah makhluk individu yang hidup ditengah makhluk sosial.
Berhubung karena hidup ditengah makhluk sosial peserta didik
membutuhkan orang lain. Orang lain merupakan objek pengaplikasian
kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makhluk sosial inilah
siswa mengaktualisasikan dirinya karena disitu tempat ia bertumbuh,
berkembang, bahagia, tabah, dan lain sebagainya.

Pembentukan Spiritualitas
Seorang siswa yang memiliki spiritualitas yang bagus maka ia ampu
memahami makna keberadaannya dan bagaimana ia berperan menjadi
berkat bagi bagi orang lain serta memuliakan Allah.

C. PRINSIP PAK DEWASA DAN KELUARGA

1. Pengertia Keluarga dalam Bahasa Ibrani

Dalam bahasa Ibrani tidak ada kata khusus yang bisa diterjemahkan langsung sebagai
"keluarga" dalam arti yang kita kenal sekarang. Kata yang dipakai dalam bhs. Ibrani adalah
mispaha, tetapi mempunyai konotasi yang lebih luas dari pada keluarga (kaum), karena yang
termasuk dalam anggota kaum ini kadang-kadang lebih dari 1 bahkan 3 generasi keluarga
sekaligus.

Kata Ibrani yang mempunyai arti yang lebih dekat dengan keluarga sebagai unit
terkecil adalah bayit (arti harafiahnya= rumah), yaitu rumah dan penghuni yang
menempatinya, atau istilah yang kita lebih kenal adalah "rumah tangga". (Yos 7:16-18)

2. Jumlah Anggota Dalam Keluarga Yahudi Perjanjian Lama

Jumlah dan anggota keluarga di PL kadang sangat besar, khususnya karena kebiasaan
mempraktekkan budaya poligami. Bahkan untuk perkawinan monogamipun tradisi
berkumpul dan hidup dalam keluarga besar telah menjadi budaya bangsa. Israel sejak mula.
Hal ini terutama didukung karena alasan ekonomi dan agama. Kadang juga karena status

9
sosial, semakin besar keluarga menunjukkan semakin tinggi status sosialnya (kaya).
Solidaritas kehidupan keluarga PL sangat tinggi terutama karena kehidupan keluarga
berpusat pada figur ayah yang biasanya mempunyai kekuasaan yang absolut.

Mereka yang termasuk dalam anggota keluarga Perjanjian Lama antara lain:

1. Ayah/tuan sebagai kepala rumah tangga

2. Istri/Ibu

3. Istri-istri muda/selir

4. Anak-anak dari istri-istri

5. Menantu-menantu dan cucu-cucu

6. Saudara-saudara

7. Teman-teman yang menumpang

8. Orang-orang asing yang hidup di bawah perlindungannya

9. Budak-budaknya (laki-laki dan perempuan)

D. STATUS DAN PERAN ANGGOTA KELUARGA

1. Suami/Ayah

Kehidupan keluarga PL merupakan hubungan yang diikat oleh perkawinan dan hubungan
darah yang diatur/diperintah oleh kekuasaan seorang kepala rumah tangga, yaitu ayah.
Kekuasaan ini pada umumnya sangat dominan dan absolut sifatnya. Itu sebabnya seluruh
kehidupan keluarga PL selalu berpusat pada figur ayah. Selain sebagai kepala rumah tangga,
seorang suami/ayah mempunyai tugas:

-menjadi imam bagi keluarga

-melindungi keluarga dan kesejahteraannya

-mendidik anak, khususnya anak laki-laki untuk berdagang

-mengajar tradisi nenek moyang bagi seluruh keluarga (+ Taurat)

-menjadi teladan

-mengambil keputusan demi kepentingan seluruh anggota

-mencari calon suami bagi anak-anak perempuannya

10
2. Istri/Ibu

Kalau Adam diciptakan untuk mewakili simbol sifat maskulin laki-laki, maka Hawa
mewakili sifat feminin manusia wanita. Allah menciptakan laki-laki dan wanita dengan
kedudukan yang sederajat. Tuhan menghargai sifat-sifat mereka sebagaimana mereka
diciptakan sesuai dengan peran dan fungsinya yang berbeda. Namun demikian kejatuhan
manusia dalam dosa menimbulkan ketidak serasian fungsi dan tugas keduanya. alam
kehidupan PL, istri/wanita sering mendapat perlakuan yang kurang pada tempatnya.
Istri/wanita lebih sering diperlakukan sebagai harta kepemilikan. Dalam tugas keluarga,
istri/ibu menjalankannya tugas sbb.:

-tunduk kepada suaminya.

-melahirkan anak

-melakukan tugas-tugas rumah tangga

-mendidik anak-anak ketika masih kecil

-membantu suami di ladang

-menjadi wakil kepala rumah tangga

-menjunjung tinggi kedudukan suami

3. Anak-anak

Anak adalah tujuan perkawinan (Mazm 127:3-5), terutama anak laki-laki. Anak
sulung mendapat kedudukan istimewa, yaitu menjadi ahli waris utama (dua kali lebih
banyak) dan kelak menggantikan kedudukan ayahnya kepala rumah tangga. Berbeda dengan
anak perempuan, mereka tidak akan mendapat hak warisan kecuali kalau orang tua tidak
mempunyai anak laki-laki.

Tugas anak dalam tradisi PL adalah:

-menghormati ayah dan ibu

-mengikuti didikan ayah dan ibu mereka

-belajar tradisi nenek moyang dengan tekun

-membantu orang tua (anak laki-laki membantu ayah, anak perempuan membantu ibu)

-memelihara hari tua orang tuanya

-menguburkan orang tuanya ketika mereka meninggal

-anak laki-laki melanjutkan nama keluarga (memberikan cucu laki-laki)

11
E. KEADAAN PERKAWINAN/KELUARGA DALAM PL

Perkawinan dalam kebiasaan/budaya Perjanjian Lama.

1. Diatur oleh orang-orang dewasa

2. Pihak pria membayar maskawin kepada pihak wanita.

3. Istri adalah sebagai harta milik suami.

4. Suami bisa menceraikan istri tapi tidak sebaliknya.

5. Hubungan cinta kasih sering memegang peranan.

6. Poligami, sekalipun hukum Musa melarang.

7. Setelah menikah istri hidup dengan suami dan keluarganya.

8. Perkawinan antar keluarga dekat dilarang.

9. Jika dalam perkawinan istri tidak melahirkan anak, maka suami akan mengambil istri
kedua.

F. KESAKSIAN ALKITAB TENTANG KELUARGA

Alkitab memberikan beberapa bentuk atau konsep pernikahan yang perlu diperhatikan
oleh keluarga Kristen, antara lain:

1. Menurut Kitab Kejadian 2:18-25.

-perkawinan dibuat dan direstui oleh Tuhan (inisiatif Allah)

-untuk tujuan saling melengkapi (sepadan).

-perkawinan adalah hubungan antara 1 laki-laki dan 1 perempuan (sifatnya heteroseksual


dan monogami)

-suami adalah kepala, diciptakan lebih dahulu

-menjadi satu daging (tulang dari tulangku, daging dari dagingku)

-keduanya telanjang tetapi tidak malu

2. Menurut Kitab Mazmur 127; 128

-Tuhan yang membangun rumah tangga

-anak-anak dalam keluarga adalah karunia Tuhan

-istri dan anak adalah kebanggaan suami

12
-dasar dari hubungan suami istri adalah takut akan Tuhan

-suami bertanggung jawab akan kebutuhan keluarga

-kebahagian keluarga menjadi kesaksian akan kebaikan Tuhan

G. PRINSIP PAK DEWASA DAN KELUARGA DALAM PB

Prinsip keluarga Perjanjian Lama sebenarnya tidak jauh berbeda dengan prinsip dalam
Perjanjian Baru. Memang secara budaya dan tata cara kehidupan jaman itu sudah berbeda,
tetapi secara prinsip sama.

1. Pengertian Anggota Keluarga secara etimologi (konsep bahasa Yunani)

Kata yang paling umum dipakai untuk "keluarga" dalam PB adalah: oikos, oikia
(rumah), artinya rumah tangga, tapi juga diartikan sebagai umat. Kata Yunani lain yang
dipakai adalah patria, tetapi dipakai lebih banyak untuk menekankan tentang asal-usul
keluarga (keturunan).

2. Jumlah Anggota Keluarga dalam Konteks PB

Jumlah anggota keluarga PB relatif lebih kecil dibanding PL, biasanya mereka terdiri
dari suami/ayah, istri/ibu, anak-anak, pelayan/budak dan saudara atau teman, yang saling
membutuhkan, yang tinggal dalam satu rumah. Dalam PB, khususnya setelah mereka menjadi
Kristen, konsep keluarga lebih banyak dimengerti bukan sebagai hubungan darah tapi
hubungan keluarga dalam pengertian rohani, yaitu saudara-saudara seiman dalam Tuhan
(juga kadang dipakai istilah bapak rohani, anak rohani).

H. GEREJA DAN KELUARGA

Pada waktu jemaat PB belum mempunyai gedung gereja mereka biasa memakai
rumah tangga sebagai tempat para umat bertemu/bersekutu. Dan di sinilah kegiatan upacara-
upacara keagamaan penting dilakukan, mis. perayaan Paskah, perjamuan kudus, doa,
pengajaran, dll. Dari konteks inilah gereja disebut sebagai keluarga, Allah karena masing-
masing anggota telah diangkat sebagai anak-anak Allah dan mereka menjadi saudara-saudara
seiman yang selalu bersekutu bersama-sama melaksanakan panggilan Allah di dunia. (Ef
3:15-19; Rom 16:5).

Bagaimanakah kesaksian Alkitab mengenai keluarga?

1. Kitab-kitab Injil

Dalam Kitab-kitab Injil, banyak sekali disaksikan bagaimana perkawinan dan


keluarga dihormati.

-pertunangan Maria dan Yusuf

-sanak keluarga Zakaria dan Elizabeth bersukacita atas kehamilan Elizabeth.


13
-Tuhan Yesus menghadiri perkawinan di Kana.

-perceraian tidak diijinkan.

-konsep keselamatan bagi seluruh keluarga (Yoh 4:53; Luk 19:9)

-kewajiban memelihara dan menguburkan orang tua ditekankan.

-Tuhan meluangkan banyak waktu dengan orang dewasa untuk mengajar.

2. Surat-surat Rasul-rasul

-keluarga menjadi tiang penyangga gereja mula-mula.

-pertobatan membawa akibat langsung bagi keluarga.

-tuntunan tugas dan peran suami dan juga istri.

-tugas dan tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak-anak.

-tugas anak menghormati dan memelihara orang tua.

-simbolisme gereja sebagai mempelai wanita.

-hidup kudus dalam berkeluarga menjadi syarat untuk hamba Tuhan.

-konsep keselamatan bagi seluruh keluarga.

-rasul-rasul mengajar dan memberi perhatian kepada masalah orang dewasa.

I. PENGANTAR PSIKOLOGI ORANG DEWASA

1. Pengertian dan Karakteristik Orang Dewasa

Istilah orang dewasa secara umum dapat dimengerti sebagai sebutan bagi mereka yang
berumur di atas 18 tahun, dimana diperkirakan pada usia tsb. alat-alat reproduksi (seksual)
mereka telah matang/dewasa. Tapi mendefinisikan dengan cara tsb. agak terlalu sederhana,
karena dalam kenyataan ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kedewasaan seseorang,
mis. faktor intelektual, emosi, sosial, ekonomi, budaya dll. Oleh karena itu kedewasaan
seseorang biasanya ditinjau tidak saja dari faktor umur saja karena ada beberapa karakteristik
yang perlu dilihat untuk menentukan kedewasaannya, mis:

1. Memiliki kesadaran akan tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri, orang lain, maupun
masyarakat dan bangsa pada umumnya.

2. Secara ekonomi mereka sudah tidak lagi tergantung.

3. Memiliki kepekaan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dimana ia berada.

14
4. Memiliki kemauan untuk memperhatikan kesehatannya dengan baik.

5. Mengalami kemajuan perkembangan jiwa sejalan dengan bertambahnya usia.

6. Menggunakan kemampuan berkomunikasi untuk berinteraksi secara positif dengan


manusia lain.

2. Pengertian Orang Dewasa Menurut Beberapa Tokoh


Daniel Nuhamara
Orang dewasa adalah orang Kristen garis depan yang menghadapi dunia dengan
segala tantangannya, terutama dalam pekerjaan masing-masing, dan juga sebagai agen dari
pelaksana tugas panggilan gereja.
a. Dari segi ekonomi, orang dewasa telah mampu mendukung dirinya sendiri secara
financial dan mampu mencukupi kebutuhan ekonomisnya sendiri.
b. Dari segi pendidikan, orang dapat disebut dewasa apabila telah menyelesaikan tahun-
tahun sekolahnya sebagaimana tuntutan masyarakatnya.
c. Dari segi budaya, sosiologis dan pengetahuan, orang dewasa adalah orang yang telah
mengasumsikan semacam tanggung jawab bagi diri sendiri dan terhadap orang lain dan juga
mempunyai tingkat kemandirian dari otoritas orang tua yang tidak sama lagi dengan remaja
dan pemuda.
Richard M. Daulay
Dewasa secara jasmani artinya sudah mengalami pertumbuhan tinggi dan berat badan secara
maksimal dengan gizi yang memadai. Agar kondisi tubuh yang sehat harus juga diperhatikan
keseimbangan antara waktu bekerja dengan waktu santai dan olahraga. Orang dewasa
biasanya menaruh perhatian khusus pada bentuk tubuh yang ramping sehingga memiliki pola
makan yang teratur.
Lydia Harlina dan S.K Satya Joewana
Dewasa adalah tidak dapat dipisahkan dari arti dan tujuan. Jika telah mampu dan ingin
menjadi manusia yang dapat bertanggungjawab sendiri, yang didalamnya terdapat hal-hal
yang normatif, etika atau kesusilaan. Ada dua yangdapat dikatakan dewasa secara jasmani
dan sosial. Dikatakan dewasa secara jasmani jika ia telah mampu menghasilkan keturunan
(akil baliq), dikatakan dewasa secara sosial jika ia telah mampu hidup mandiri dan
bertanggungjawab.

15
Jersild
Mengartikan masa dewasa bukan hanya diukur dari aspek kematangan tubuh, tetapi juga
diukur dengan aspek psikologis. Aspek kematangan tubuh sudah dapat dipastikan atau
ditentukan sebagai orang yang dewasa, tetapi dari aspek psikologis belum tentu orang yang
berumur 22 tahun dapat dikatakan dewasa. Sebab masih banyak ditemukan orang yang
berumur 22 tahun masih bersikap selayaknya anak kecil, yang bersifat egosentris, tidak dapat
mengendalikan perasaan diri, melakukan sesuatu tanpa tujuan yang pasti, sulit menerima
kritik, saran atau pendapat dari orang-orang sekitar dan tidak mampu menempatkan diri
sesuai dengan kenyataan hidup. Seseorang dikatakan jika ia dewasa secara sosial dan
jasmani.
Earl F. Ziegler
Dikatakan orang dewasa dimana menjadi tulang punggung bagi kepemimpinan, pengalaman
dan potensi-potensi dari gereja.
Charles M. Shelton MJ
Dikatakan dewasa adalah adanya sikap saling memberi dan menerima (take and give) secara
sehat dalam hal perasaan, pikiran dan cita-cita.
Paulus Lilik Kristianto
Dikatakan orang dewasa adalah serius dengan kegiatan yang dikerjakan, pribadinya semakin
matang dan mengalami perpindahan dari masa remaja menuju dewasa muda.
Andi Mappiare
Dikatakan orang dewasa dimana seseorang mengalami kematangan secara hukum sekitar
umur 20-40 tahun.
B. Hurlock
Dikatakan orang dewasa ketika seseorang yang menyelesaikan pertumbuhannya dan siap
menerima kedudukan dalam masyarakat.
Sudirman Lase
Dikatakan orang dewasa dimana dimulai umur 18/19 tahun, yang mana pribadinya matang
secara psikologis bersama-sama dengan orang dewasa lainnya.
David Chaney
Orang dewasa adalah individu yang telah siap untuk menerima kedudukan dalam masyarakat.
Sedangkan kedewasaan atau kematangan adalah suatu keadaan bergerak maju ke arah
kesempurnaan. Kedewasaan bukanlah suatu keadaan yang statis, tetapi merupakan suatu
keadaan menjadi (a state of becoming). Adapun ciri-ciri kedewasaan adalah: menghargai
orang lain, sabar, penuh dya tahan, sanggup mengmbil keputusan, menyenamgi pekerjaan,

16
menerima tanggung jawab, percaya pada diri sendiri, memiliki rasa humor, memiliki
kepribadian yang utuh, seimbang, menerima diri sendiri, dan memiliki prinsip yang kuat.
Ramlan Surbakti
Dari segi politik, dewasa adalah memiliki tanggungjawab yang sudah dapat terjun langsung
pada msayarakat. Disinilah dewasa sudah mengenal pada masyarakat politik, sehingga
mereka mempunyai pemikiran yang sanagt radikal.
Knowless
Orang dewasa adalah individu yang memiliki 4 konsep dalam kehidupannya yaitu konsep
diri, pengalaman, kesiapan belajar, dan orientasi belajar.
R. Havighurts
Menyatakan bahwa orang dewasa terbagi atas tiga tahap yaitu:
1. Dewasa muda ( young adults)
Yang dimulai dari umur 16-18 tahun. Pada masa ini yang paling banyak adalah masa-masa
belajar bukan masa-masa mengajar
2. Dewasa setengah baya (middle adults)
Yaitu dimulai pada masa usia 35-60 tahun atau antara 40 sampai 65 tahun. Pada masa inilah
orang lajimnya mencapai puncak dalam karirnya keuangannya dan prestasinya.
3. Dewasa usia lanjut( older adilts).
Masa ini disebut juga dengan masa “wredatama” mereka yang berusia 60 tahun atau 65
keatas.
3. Pembagian Kelompok Orang Dewasa

Pada masa yang lampau kelompok orang dewasa digolongkan hanya dalam satu
kelompok, yaitu orang dewasa. Tapi dari perkembangan ilmu psikologi kita dapatkan bahwa
ada tingkatan-tingkatan perkembangan pada orang dewasa yang membentuk pola tertentu
pada kelompok umur tertentu. Oleh karena itu dalam ilmu psikologi sekarang kelompok
orang dewasa biasanya dibagi menjadi 3 kategori:

1. Orang dewasa muda (18-34 tahun)

2. Orang dewasa madya (35-60)

3. Orang dewasa tua (61 keatas)

Pembagian ini didasarkan pada karakteristik, kebutuhan dan masalah yang dihadapi oleh
masing-masing kelompok.

17
4.Karakteristik, Kebutuhan dan Masalah Orang Dewasa (usia 18-34)

Sesudah akhir masa adolesen (remaja), seseorang akan mengalami transisi kehidupan
kearah masa dewasa. Hidup pada masa ini dirasakan sangat cepat. Banyak pengalaman-
pengalaman ‘pertama’ harus dilalui, misalnya, pindah rumah/kota, masuk perguruan tinggi,
memulai karier (pekerjaan), menikah, mempunyai anak, mempunyai kedudukan (identitas)
dalam masyarakat dll. Masa dewasa muda ini berakhir sampai usia 35 tahun.

1. Karakteristik orang dewasa muda:

-kebanyakan masih single/belum menikah (tapi sebagian sudah menikah dan sebagian sudah
mempunyai anak).

-sedang atau sudah menyelesaikan pendidikan (tapi sebagian sudah memulai bekerja).

-mengalami paling banyak penyesuaian dan sering harus jatuh bangun.

-bimbingan orang tua mulai berkurang, sehingga sering ragu-ragu dan takut.

-fisik sangat sehat dan intelektual sedang dalam puncak

-sangat bersemangat dan ambisius serta idealis.

2. Kebutuhan dan masalah orang dewasa muda:

-memilih bidang studi yang akan ditekuni sebagai karier di masa yang akan datang.

-menyelesaikan pendidikan

-mencari pekerjaan yang sesuai

-memiliki teman hidup

-menikah

-belajar menyesuaikan hidup nikah/berkeluarga

-memulai keluarga

-merencanakan anak

-membesarkan anak

-menangani keluarga dengan stabil dan mantap

-memulai karier/pekerjaan tetap

-ingin terlibat dalam masyarakat

-bagaimana menemukan lingkungan kelompok yang cocok

-selalu mengalami kesulitan dalam hal keuangan

18
3. Tantangan yang dihadapi orang dewasa usia 18-34 di abad 21 ialah.

a. Ekonomi
Perubahan dari sistem ekonomi kapitalisme3 menuju terbentuknya sistem multinational4
corporation. Pada abad ke-21, telah ada pergeseran menjadi sistem ekonomi konsumerisme
dengan gaya hidup global menjadi sangat menonjol. Komoditi gaya hidup menjadi sesuatu
yang sangat penting dalam konteks ekonomi. Kecenderungan ini akan terus menguat seiring
dengan adanya perkembangan hubungan-hubungan ekonomi yang sangat cepat dan seolah
menyatukan planet bumi sebagai satu kesatuan ekonomi global. Orang dewasa dini akan
terus bekerja dan bekerja untuk memenuhi yang menjadi kebutuhaan, terkhusus apabila ia
telah memiliki keluarga, maka ia mulai berpikir akan kebutuhabn hidup dalam berkeluarga
tersebut. Orang dewasa dalam hal ekonomi harus mampu membangun organisasi
pembelajaran (learning organization). Oleh karena perubahan lingkungan strategik yang
begitu cepat, orang dewasa harus mampu belajar untuk beradaptasi pada perubahan
lingkungan tersebut. Berubahnya struktur dan mekanisme kerja organisasi menuntut sivitas
akademika untuk memiliki dosen dan staf) perlu memiliki sikap mental baru, menggunakan
pola pikir baru, dan cara kerja baru yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Untuk mampu
beradaptasi pada situasi yang baru karyawan harus kreatif, inovatif, proaktif, dan berwawasan
entrepreneurial. Orang dewasa masa kini harus berfungsi sebagai belajar, dan tugas
organisasi untuk meningkatkan peluang belajar bagi semua anggota institusi untuk terus
belajar. Persaingan dalam berbagai aspek di masa kini dan masa depan bertumpu pada
persaingan pengetahuan (knowledge based competition). Hanya melalui ‘knowledge
management yang baik orang dewasa akan sukses.

b. Agama
Kebangunan agama-agama di luar Kekristenan juga menjadi suatu tantangan yang besar
bagi iman Kristen. Semakin banyaknya kaum cendekiawan dalam agama-agama lain dan
kesadaran mereka untuk melakukan konsolidasi juga merupakan fakta yang tidak boleh kita
abaikan. Orang dewasa perlu berhati-hati dalam hal agama dan spiritualitas.

c. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Pada milenium ketiga ini akan terjadi pergeseran dan perubahan kehidupan sosial yang
maha dahsyat, sehingga terjadi apa yang disebut dengan cultural and social discontinuity.
Perubahan yang akan terjadi 100 tahun mendatang nampak akan melampaui perubahan yang
terjadi 1000 tahun lalu baik dari segi dampaknya, kecepatannya, luasnya dan pentingnya.
Masyarakat dunia akan mengalami fenomena baru di mana seluruh tatanan sosial akan
didominasi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan
teknologi selain berperan dalam memacu proses globalisasi, berperan juga untuk dipengaruhi
perkembangan globalisasi. Globalisasi5 menyebabkan IPTEK harus dikonsumsi oleh banyak
komunitas. Dewasa dini harus mampu menyeimbangkan dalam kekreatifan dan juga ilmu
pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
3
Kapitalisme adalah: sistim perekonomian yang berdasarkan hak milik yang menekankan kebebasan dalam
lapangan produksi, kebebasan untuk membelanjakan pendapatan, bermonopoli dsb.
4
Multinasional adalah: terdiri dari banyak negara
5
Globalisasi adalah: secara menyeluruh disegala aspek kehidupan

19
d. Politik
Yang menjadi hal yang penting pada abad ke-21 ialah perbedaan kepribadian pria dan
wanita. Kehadiran komputer dan internet telah merubah dunia kerja, dari tekanan pada kerja
otot ke kerja otak.. Implikasinya adalah perbedaan perilaku pria dan wanita semakin
mengecil. Kini semakin banyak pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita.
Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang
posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis.
Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria
semakin menonjol. Data yang tertulis dalam buku Megatrendfor Women:From Liberation to
Leadership yang ditulis oleh Patricia Aburdene & John Naisbitt (1993) menunjukkan bahwa
peran wanita dalam kepemimpinan semakin membesar. Semakin banyak wanita yang
memasuki bidang politik, sebagai anggota parlemen, senator, gubernur, menteri, dan berbagai
jabatan penting lainnya. Selain itu semakin banyak wanita yang menjadi pimpinan
perusahaan dan sekaligus menjadi pemilik perusahaan.
Selama 54 tahun merdeka belum pernah ada wakil presiden wanita, kini di tahun 1999
indonesia suda memilikinya. Peran wanita dalam pengambilan keputusan dalam kehidupan
keluarga semakin besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di Amerika Serikat 75 persen
dari keputusan yang menyangkut kesehatan dalam keluarga diputuskan oleh wanita. Wanita
membeli 50 persen dari mobil yang terjual di Amerika. Bahkan Toyota melaporkan bahwa 60
persen pembeli mobil mereka adalah kaum wanita. Sekitar 80 persen dari belanja keperluan
konsumen sehari-hari dibelanjakan oleh kaum wanita. Ada hal yang positif yang pada abad
ke-21 ini ialah semakin mengikisnya kestratifikasian gender yang terjadi. Dewasa dini ialah
dalam masa ketegangan emosional dan inilah yang menjadi tantangannya pria yang merasa
bahwa dialah yang diatas dari wanita akan terus berusaha untuk menjadi yang diatas tanpa
peduli akan apapun.

e. Budaya
Pada abad ke-21 telah lahir kecenderungan suatu budaya dunia yang baru, budaya yang
mengidealisasikan budaya global dalam bentuk berbagai budaya dominan. Inilah yang
disebut sebagai budaya trans-nasional. Mode kebudayaan ini menjadi sangat mungkin
ditunjang oleh hubungan komunikasi yang semakin cepat dan tak berbatas. Orang dewasa
dini pada tahap ini sedang mengalami perubahan-perubahan nilai oleh sebab itu ,
tantangannya ialah bagaiman dewasa dini tetap memegang budaya yang baik terus
memperbaharui budaya yang baik tersebut dan menghilangkan budaya yang tidak baik.

5. Karakteristik, Kebutuhan dan Masalah Orang Dewasa Madya (usia 35-60 tahun)

Ketika memasuki masa usia ini, seorang dewasa tiba-tiba harus menerima kenyataan
bahwa hidup sudah ada di tengah jalan dan tidak mungkin bisa kembali lagi. Inilah yang
disebut sebagai masa puber kedua, karena pada masa ini terjadi banyak perubahan dan
transisi untuk memasuki masa usia lanjut (yang sering kali ditakuti). Pada saat ini orang
dewasa melakukan introspeksi dan evaluasi untuk membuat komitmen baru dalam hidup.

20
Kalau masa ini dilalui dengan baik, maka pepatah yang berbunyi "hidup sesungguhnya
dimulai usia 40" betul-betul terjadi.

1. Karakteristik orang dewasa madya:

-Mulai melihat anak-anak menanjak remaja dan pemuda, saat untuk mulai melepas mereka
supaya bisa mandiri.

-banyak ketrampilan yang sudah dikuasai untuk mengatasi persoalan hidup.

-lebih realistis, khususnya dalam hal cita-cita dan tujuan hidup.

-hidup pada masa ini mulai mapan, khususnya dalam hal keuangan.

-mulai menyesuaikan diri untuk memasuki masa tua, sehingga menimbulkan banyak stres
dan ketegangan.

2. Masalah yang dihadapi orang dewasa madya

-kadang masih berpikir untuk pindah karier.

-(khusus untuk wanita) masa ini adalah masa untuk berkarier lagi.

-menghadapi orang tua yang memasuki usia lanjut.

-hubungan suami istri akan menjadi lebih kearah persahabatan

-menemukan kesenangan-kesenangan baru.

-merencanakan pensiun.

-menyesuaikan diri dengan perubahan psikologis yang sedang terjadi.

-tidak lagi idealis tapi realistis.

3. Tantangan yang dihadapi Dewasa Madya di abad 21 adalah.

a. Ekonomi
Di bidang ekonomi selama hampir 350 tahun kegiatan ekonomi modern dikuasai
sepenuhnya oleh pemodal asing dan dikelola oleh warga Non-Indonesia. “ Learning to do”,
sasarannya adalah kemampuan kerja generasi muda untuk mendukung dan memasuki
ekonomi industri. Dalam masyarakat industri atau ekonomi industri tuntutan tidak lagi cukup
dengan penguasaan ketrampilan motorik yang kaku melainkan diperlukan kemampuan untuk
melaksanakan pekerjaan – pekerjaan seperti “controlling, monitoring, maintaning, designing,
organizing, yang dengan kemajuan teknologi pekerjaan yang sifatnya fisik telah diganti
dengan mesin. Dengan kata lain, menyiapkan anggata masyarakat memasuki dunia kerja
yang dalam “technology knowledge based economy”, belajar melakukan sesuatu dalam
situasi yang konkrit yang tidak hanya terbatas kepada penguasaan ketrampilan yang
mekanistis melainkan meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain,
mengelola dan mengatasi konflik, menjadi penting. Tantangan bagi dewasa madya ialah

21
dewasa bagiamana ia mempertahankan apa yang telah ia capai sekalipun pada segi ekonomi
ia sudah dapat dikatakan mapan.

b. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi


Di bidang IPTEK kalau dunia sudah mengenal lembaga Pendidikan Tinggi modern pada
abad ke-11 (Bologna) dan abad ke-12 (Paris) dan Amerika Serikat pada abad ke-17
(Harvard), Indonesia baru pada tahun 1920 dengan berdirinya Sekolah Tinggi Teknik (THS,
sekarang ITB) di Bandung. Karena itu pada tahun 1949, empat tahun setelah proklamasi,
Indonesia baru memiliki 35 Insinyur, 1200 dokter, 150 dokter gigi, dua ekonom bergelar
Doktor dan seorang Fisikawan . ,”learning to know”, sasarannya adalah pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi sehingga tercapai keseimbangan dalama penguasaan IPTEK
antara negara di dunia dan tidak lagi dibagi antara negara utara-selatan. Tantangan bagi
dewasa madya ialah kekreatifan yang mulai berkurang oleh karena dari segi umur pun
mereka semakin tua sehingga ketika mereka diperhadapkan dengan zaman yang IPTEK
semakin maju dan canggih mereka susah untuk mengikutinya.

c. Segi Sosial
Pola interaksi antar manusia. Kemajuan IPTEK pada kebanyakan rumah tangga
golongan menengah ke atas telah merubah pola interaksi keluarga. Komputer yang
disambungkan dengan telepon telah membuka peluang bagi siapa saja untuk berhubungan
dengan dunia luar. Program internet relay chatting (IRC), internet, dan e-mail telah membuat
orang asyik dengan kehidupannya sendiri. Selain itu tersedianya berbagai warung internet (
warnet) telah memberi peluang kepada banyak orang yang tidak memiliki komputer dan
saluran internet sendiri untuk berkomunikasi dengan orang lain melalui internet. Kini
semakin banyak orang yang menghabiskan waktunya sendirian dengan komputer. Tantangan
bagi dewasa madya ialah Penyesuaian diri dengan hidup sendiri : masalah pria lajang dan
wanita lajang. Penyesuaian diri dengan hilangnya pasangan yang diakibatkan oleh kematian
dan perceraian. Dan juga ancaman perceraian didalam perkawinan oleh karena komunikasi
yang hanya lewat komputer, handphone, atau internet.

6. Karakteristik, Kebutuhan dan Masalah Orang Dewasa Tua (usia 61 tahun ke atas)

Perbaikan gizi dan obat-obatan memungkinkan lebih banyak orang dewasa untuk
memasuki masa usia lanjut ini. Masalah paling umum dihadapi pada masa ini adalah
kesehatan dan mengisi waktu masa tua.

1. Karakteristik orang dewasa tua

-berkurangnya kemampuan fungsi organ-organ tubuh, sehingga banyak mengeluhkan


masalah kesehatan.

-ketuaan secara psikologis

-banyak lupa (pikun)

22
-banyak kuatir dan ketakutan akan kematian

-merasa tidak berguna dan tidak dibutuhkan

-ketergantungan dalam banyak hal, kadang termasuk finansiil.

-menarik diri dari banyak kegiatan karena alasan ketuaan

2. Masalah dan kebutuhan yang dihadapi dewasa tua:

-ketegangan karena masalah kesehatan dan penyakit.

-menyesuaikan hidup ke masa pensiun

-mencari kegiatan-kegiatan yang berguna

-belajar mengingat cucu-cucu

-belajar hidup sendiri

-memahami proses ketuaan

-berusaha untuk hidup sehat

-mempersiapkan kematian

3. Tantangan orang dewasa usia 60 tahun keatas di abad 21 adalah.

a. Segi Ekonomi
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai ciri eksponensial yaitu
semakin lama semakin cepat, karena hasil dari suatu tahap menjadi dasar dan alasan bagi
tahap selanjutnya. Ditinjau dari peran ekonominya teknologi merupakan pendorong utama
bagi penciptaan nilai tambah ekonomis. Nilai tambah ini dinikmati oleh para pelaku ekonomi,
sehingga menaikkan kualitas kehidupannya. Dengan naiknya kualitas kehidupan maka
semakin besar pula dorongan untuk penciptaan nilai tambah agar peningkatan kualitas hidup
itu berkesinambungan. Tidak mengherankan bahwa bukan saja perkembangannya semakin
cepat tapi peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam masyarakat modern bertambah
lama bertambah penting. Tantangan bagi dewasa lanjut usia ialah bagaimana ia mencukupi
kebutuhannya karena pada usia kemungkinan besar dewasa lanjut usia sudah ada yang
pensiun. Pensiun, kondisi fisik yang sudah tidak lagi kuat sementara pertumbuhan ekonomi
meningkat.

b. Segi Sosial Politik


Banyak pakar berpendapat bahwa kunci sukses untuk mengarungi kehidupan turbulensi
perubahannya sangat tinggi, orang harus memiliki tiga modal, yakniintellectual capital,
social capital, soft capital, and spiritual capital.
Persingan dalam kehidupan, baik itu kehidupan bisnis, kehidupan bermasyarakat,
maupun kehidupan individual sangat ditentukan oleh kemampuan berinovasi. Untuk bisa
berinovasi diperlukan kreatifitas yang tinggi dan pengetahuan yang luas. Teknologi informasi

23
telah meribah dunia kerja, dari kerja yang bertumpu pada otot ke pekerjaan yang bertumpu
pada otak. Pekerjaan masa sekarang lebih menuntut karyawan yang berpengetahuan
(knowledge workers). Kondisi ini akan membuat jurang sosial antara mereka yang
berpengetahuan (know) dan yang tidak berpengetahuan (know-not).
Mereka yang tidak memiliki pengetahuan akan tergusur dari dunia kerja (Tappscott,
1996). Selain itu ada korelasi anatara pengetahuan dan kekuasan (power).. Mereka yang
mempunyai pengetahuan akan memiliki kekuasaan. Sebaliknya mereka yang mempunyai
kekuasaan bisa memiliki pengetahuan, karena mereka bisa menggunakan orang yang
berpengetahuan untuk kepentingan kekuasaan. Kondisi ini akan membuat jurang sosial yang
lain, yakni jurang antara yang memiliki akses pada kekuasaan dan yang tidak memiliki akses
pada kekuasaan. Golongan ke dua ini akan termarginalisasi dalam kehidupan. Jurang sosial
ini akan menjadi pemicuk konflik yang berwujud keresahan sosial. Dan inilah yang menjadi
tantangan bagi dewasa lanjut usia ketika mereka yang mulai mengendur akan potensi
kekuatan memori ingatan dengan sendirinya pengetahuan mereka berkurang dan itu akan
mengakibatkan jurang sosial yang dalam antara dewasa lanjut usia dengan orang-orang yang
masih muda dan energik. Dewasa lanjut usia dengan sendirinya akan mundur dan kurang
diperhatikan.

c. Agama
Kristus belum datang kembali, namun gereja telah memasuki abad ke-21. Beberapa
pemimpin gereja mengamati sejarah 100 tahun yang lalu, di mana gereja di Eropa dan
Amerika semakin melemah dan mundur, sebaliknya agama-agama lain bangkit, bertumbuh,
dengan gigih maju mendobrak semua penghalang, menembus masuk ke dalam basis gereja di
Eropa dan Amerika. Walaupun di negara-negara Asia memberikan keleluasaan bagi
kekristenan, tetapi ketika memperkenalkan anugerah keselamatan Kristus kepada yang lain,
seringkali dihalangi karena alasan "kerukunan dan ketenteraman". Sehingga tidak sedikit
yang peduli akan masa depan penggembalaan gereja menjadi cemas, dan umumnya bersikap
membalas, bahkan untuk menunaikan Amanat Agung sampai ke seluruh dunia, mereka siap
membayar harga "lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup bercermin bangkai."
Berdasarkan kebenaran Alkitab, kita akan melihat bagaimana Kristus menangani strategi
gereja menghadapi perubahan sejarah. Dan inilah yang menjadi tantangan bagi dewasa lanjut
usia ialah bagimana mereka tetap bertahan dalam iman mereka sementara dunia seringkali
tidak peduli akan masa depan penggembalan gereja.
Jadi dapat disimpulkan bahwa yang dapat dikatakan orang dewasa dimana seseorang
mengalami kematangan secara hukum sekitar umur 20-40 tahun yang telah menyelesaikan
pertumbuhannya yang menghadapi dunia dengan segala tantangannya, terutama dalam
pekerjaan masing-masing dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat dan juga mampu
mengaktualisasi diri, mampu sebagai pembimbing, memotivasi, dan juga melatih diri. Dan
pada abad ke-21 ini semakin banyaknya berbagai tantangan-tantangan bagi orang dewasa
yang masuk kedalam seluruh segi kehidupanya sehari-hari. Tantangan tersebut ada pada
dewasa dini, dewasa madya dan juga dewasa lanjut usia baik dari segi agama, politik, budaya
dan sosial, dan begitu juga pada segi kemajuan IPTEK.

24
J. BAGAIMANA ORANG DEWASA BELAJAR

Proses belajar manusia tidak berhenti pada waktu seorang pemuda meninggalkan
bangku sekolah formal, dengan atau tanpa ijazah. Proses belajar manusia berlangsung terus
seumur hidup, baik melalui: pengalaman kerja, bacaan, kursus-kursus, kegiatan latihan,
ataupun seminar/penataran. Namun demikian disadari bahwa orang dewasa bukan anak kecil
lagi, sehingga pendidikan orang dewasa tidak dapat disamakan dengan pendidikan anak
sekolah. Pendekatan pendidikan untuk orang dewasa disebut dengan istilah androgogy (ilmu
untuk mengajar orang dewasa). Istilah ini diciptakan oleh Kapp 1883 dipopulerkan oleh
Malcolm Knowles. Ia mengemukakan 4 asumsi tentang proses belajar dalam orang dewasa:

1. Self directed. Tidak memerlukan kontrol dari orang lain, harus mempunyai agenda sendiri.
Mereka yang membuat keputusan sendiri, tidak perlu diminta, kapan dan bagaimana mereka
belajar.

2. Pengalaman hidup sebagai sumber pendidikan. Guru hanya menjadi fasilitator.

3. Orientasi orang dewasa lebih banyak ke pengembangan dalam rangka tugas dalam peran
sosialnya. Misalnya sebagai orang tua, sebagai bagian dari masyarakat.

4. Pengaplikasian langsung. Orientasinya adalah: problem-oriented. Bagaimana pengetahuan


yang dipunyai berguna untuk memecahkan masalahnya sekarang.

5. Ketakutan untuk menghadapi kegagalan-takut kehilangan muka, status.

K. PERANAN PAK DEWASA/KELUARGA DALAM PEMBANGUNAN


TUBUH KRISTUS (GEREJA)
1. Gereja dan Jemaat Dewasa

Pada umumnya dalam Alkitab kita menemukan bahwa Tuhan memakai orang-orang
dewasa untuk menjadi alatNya. Allah sudah menunjukkan pentingnya pendidikan ini sejak
dari Adam dan Hawa di Taman Eden. Kemudian, kita lihat juga panggilan Abraham (Kej
12:1-3), pemanggilan Musa dan Harun, Daud dan para Nabi; Daniel dan ketiga kawannya,
murid-murid Tuhan Yesus dan juga Paulus serta orang-orang Kristen dalam gereja mula-
mula.

Bila kita menghendaki adanya pengaruh Kristen yang kuat dalam dunia ini, maka gereja
harus secara dinamis memberi perhatian bagi pendidikan orang dewasa. Mengapa demikian?
Karena orang tua adalah harapan masa sekarang, pemuda dan remaja harapan hari esok, dan
anak-anak sebagai harapan setelah hari esok.

Dari masa gereja mula-mula sampai sekarang, kebanyakan gereja itu terbentuk dari
persekutuan orang dewasa yang bertobat. Dalam struktur masyarakat Yahudi dan Yunani
juga juga dapat kita ketahui bahwa orang tua mempunyai peranan penting bagi pendidikan
rohani dan watak anak-anaknya. Namun bukan pula berarti bahwa gereja mengabaikan
pendidikan anak (anak sekolah minggu).

25
Gereja yang sehat adalah gereja yang anggotanya terdiri dari sebagian besar orang
dewasa. Orang-orang dewasa ini adalah anggota yang paling pontensial di gereja karena
mereka adalah:

1. penerus generasi gereja yang akan datang.

2. pengurus, pengelola dan pemimpin gereja.

3. pelaksana program gereja.

4. pemberi persembahan terbesar.

5. ikut menjadi pengajar di gereja

6. tokoh masyarakat yang berpengaruh.

7. kepala-kepala rumah tangga.

8. contoh teladan bagi generasi lebih muda.

9. anggota masyarakat yang aktif.

10. pendidik dalam rumah tangga maupun masyarakat.

2. Tantangan dan Panggilan Gereja

Bagaimana gereja menjalankan tugas panggilannya untuk mempersiapkan orang-


orang dewasa ini untuk bisa memberikan peran sertanya dalam masyarakat maupun gereja
sesuai dengan panggilannya sebagai anak-anak Tuhan. Untuk menjawab pertanyaan di atas
perlu kita pahami terlebih dahulu apakah panggilan gereja. Ada tiga hal penting yang
menjadi tujuan/panggilan gereja:

1. Melayani Tuhan Worship/menyembah dan meninggikan Tuhan, Raja di atas segala raja.

2. Melayani orang-orang percaya Memelihara kesejahteraan rohani kawanan domba yang


Tuhan percayakan.

3. Melayani dunia yang terhilang Melakukan penginjilan, memberitakan Berita Kesukaan


kepada semua orang.

Diantara 3 tujuan di atas, tujuan kedua adalah tujuan yang ingin dicapai oleh gereja
melalui program Pendidikan Agama Kristen. Di dalam tujuan kedua ini tercakup tugas gereja
untuk tidak hanya memelihara kerohanian jemaat tetapi secara jelas dikatakan dalam Kol
11:28, bahwa gereja harus menolong jemaat untuk bertumbuh kearah kedewasaan dalam
Kristus. Juga di (Ef 4:12-13), dikatakan bahwa gereja harus melayani jemaat agar
pembangunan Tubuh Kristus terlaksana seperti apa yang dikehendaki Tuhan.

Jadi disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Kristen sangat penting diadakan di


gereja sebagai sarana untuk menumbuhkan dan memperlengkapi jemaat agar gereja secara

26
kesatuan bertumbuh ke arah kedewasaan dalam Kristus dan pembangunan tubuh Kristus
tercapai sesuai dengan panggilan gereja.

3.Sumbangsih PAK Dewasa bagi Gereja

Dalam baimanakah PAK dewasa dapat memberikan sumbangsih bagi pembangunan


Kristus:

1. mempersiapkan program pendidikan bagi jemaat.

2. melaksanakan pengajaran iman Kristen Alkitabiah bagi jemaat.

3. menyediakan suasana yang kondusif bagi pertumbuhan jemaat baik secara kualitatif
maupun kuantitatif.

4. meningkatkan kualitas hidup rohani yang bertanggung jawab.

5. memperlengkapi jemaat untuk melaksanakan Amanat Agung Yesus Kristus.

4.Hambatan dalam Pelaksanaan PAK Dewasa

Sekalipun PAK memberikan peran yang sangat penting bagi pertumbuhan tubuh
Kristus, tidak berarti pelaksanaannya tanpa halangan. Berikut ini adalah hal-hal yang
menjadi penghalang pelaksanaan PAK bagi orang dewasa:

1. Ketergantungan pada pendeta sebagai sumber informasi.

2. Tanggung jawab pribadi kurang ditekankan (perkembangan rohani).

3. Mentalitas untuk menerima saja, tidak ada unsur memberi dan menerima.

4. Kegiatan pendidikan hanya berpusatkan pada pendengaran.

5. Orang dewasa sudah mapan, sudah terbentuk kebiasaan-kebiasaan yang sulit dirubah,
pikiran juga sudah terbentuk.

6. Perkembangan sangat sulit dilihat, hasil tidak cepat dan sulit dilihat, juga lambat
berkembang.

7. Terlalu banyak variasi kebutuhan dan kategori dewasa.

8. Masalah orang dewasa yang sudah sangat kompleks.

9. Banyak kesulitan hidup sehingga kurang bersemangat dan tidak ada waktu.

10. Karena sama-sama orang dewasa, pemimpin harus cukup menguasai dan dihormati.

11. Karena kualifikasi yang tinggi guru PAK Dewasa sulit dicari.

27
L. TUJUAN PAK DEWASA/KELUARGA

1.Tujuan Utama Pendidikan Untuk Orang Dewasa

1. Memberikan dasar/prinsip kebenaran Firman Tuhan Mengajarkan pengajaran yang benar


sesuai dengan Alkitab (lebih dari sekedar mendengarkan kotbah) dan pendeta/pembimbing
membantu mereka menjajagi Firman Allah secara sistematis untuk menemukan berita
kebenaran Firman Allah untuk generasi ini.

2. Menolong jemaat untuk hidup sebagaimana Kristus menghendaki. Mengaplikasi Firman


Tuhan yang dipelajari itu dalam kegiatan sehari-hari dan menolong memecahkan masalah-
masalah yang timbul karenanya.

3. Membangun kasih kepada jiwa-jiwa yang terhilang Menyediakan pelayanan yang cocok
dengan mereka untuk menjangkau orang dewasa yang lain.

2.Program Pengembangan PAK Dewasa Gereja

Berdasarkan pemahaman (Ef 4:11-16; 3:8 dan Kis 8:4) maka ada beberapa bidang
pelayanan gereja yang perlu digarap:

1. Bidang Pengajaran untuk memberikan dasar-dasar iman Kristen.

2. Bidang Kebaktian untuk membawa jemaat beribadah kepada Tuhan.

3. Bidang Pelayanan untuk melibatkan jemaat ikut dalam pelayanan.

4. Bidang Pelatihan untuk melatih pemimpin dan regenerasinya.

5. Bidang Sosial/masyarakat untuk menjangkau keluar dan menjadi terang.

6. Bidang Penginjilan untuk memenangkan jiwa bagi Kristus.

7. Bidang Konseling untuk menolong jemaat mengatasi masalahnya.

M. PRINSIP MEMILIH METODE MENGAJAR PAK


DEWASA/KELUARGA

Dalam memilih metode mengajar PAK Dewasa yang tepat perlu dipertimbangkan
faktor faktor sbb.:

1. Menguasai Isi Pengajaran


Hukum yang pertama dalam teori “tujuh hukum mengajar” John Milton Gregory
berbunyi: “Guru harus mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru mengetahui dengan jelas
inti pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan wibawanya
sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik terhadap pelajaran.

2. Tujuan atau Sasaran Pengajaran

28
Pengajaran yang jelas sasarannya membuat murid melihat dengan jelas inti dari pokok
pelajaran itu. Mereka dapat menangkap seluruh liputan pelajaran, bahkan mengalami
kemajuan dalam proses belajar. Empat macam ciri khas yang harus diperhatikan pada saat
memilih dan menuliskan sasaran pengajaran:
1. Inti dari sasaran harus disebutkan dengan jelas.
2. Sasaran dari pengajaran harus bertitik tolak dari kebutuhan siswa.
3. Sasaran harus meliputi hasil belajar.
4. Sasaran atau tujuan pengajaran dapat dicapai, contoh:
a. Murid mengetahui dengan dengan jelas hal-hal yang terjadi pada waktu perjalanan
PI Paulus yang pertama kali.
b. Murid memahami inti sari keselamatan atau dilahirkan kembali.
c. Murid sudah dapat mempelajari pelajaran mengampuni orang lain.
d. Murid dapat menguasai teknik ber-PI pribadi.

Contoh-contoh di atas telah menjelaskan empat macam hasil belajar yang berbeda;
pengatahuan, pengertian, sikap, dan ketrampilan.

Memahami dan merumuskan tujuan pembelajaran pada saat melakukan persiapan sangat
bermanfaat bagi guru, sedikitnya dalam lima hal, sebagai berikut:
a. Tujuan pengajaran dapat membantu guru mengetahui arah kegiatan belajar. Apakah
kegiatan belajar membentuk dan meningkatkan pengetahuan? Apakah untuk membentuk
pikiran analisi dan kritis? Jika demikian, sejauh mana? Apakah pembelajaran akan
membentuk sikap dan perasaan peserta didik? Apakah sesudah mengikuti kegiatan
belajar, mereka lebih bersemangat? Apakah kegiatan belajar mengarah kepembentukan
dan peningkatan ketrampilan? Ketrampilan apa yang akan dibentuk itu? Membacakah?
Berhitungkah? Menuliskah? Berbicarakah?
b. Tujuan yang jelas sangat membantu guru dalam merencanakan bahan pengajaran,
berkaitan dengan segi-segi kedalaman, keleluasaan, dan relevansinya. Mungkin sekali
guru mengelola kegiatan belajar, tetapi peserta didik kurang, bahkan tidak melihat
relevansi bagi tugas dan panggilan hidupnya. Mungkin juga bahan yang diajarkan guru
kepada muridnya terlalu dangkal atau terlalu luas.
Untuk mengatasi hal itu, seperti yang sudah dijelaskan dalam bagian sebelumnya, guru
perlu mengetahui dimana peserta didiknya berada secara intelek, kerohanian, sikap
hiadup, dan tingkah laku moral. Mencintai peserta didik dan menyenangi bidang studi
serta bahan pengajaran mutlak harus berkembang pada diri guru agar dapat memberikan
pelayanan yang terbaik.
c. Tujuan akan memberikan gambaran bagi guru mengenai strategi dan metode yang tepat,
yang akan dipilihnya dalam rangka mengaktifkan kegiatan belajar. Strategi dalam
mengajar itu merupakan sebuah rencana kegiatan yang akan dilakukan berdasarkan
metode yang dipilih dan ditentukan.
d. Tujuan membantu guru merencanakan jenis pengalaman belajar yang akan dilakukan
oleh peserta didik. Apakah mereka akan mendiskusikan sebuah kasus sebelum guru
memberikan penjelasan atau mengemukakan sebuah cerita. Apakah peserta didik akan

29
berbagi pengalaman hidup mengenai konflik dalam relasi orang tua dengan anak dalam
keluarga sebelum menerima masukan ide dari pembicara.
e. Tujuan juga akan memberikan landasan bagi guru mengenai apa yang akan dinilai dari
peserta didik serta bagaimana mengadakan evaluasi. Evaluasi itu biasanya dipahami oleh
banya pihak sebagai alat untuk menetapkan nilai keberhasilan peserta didik dalam bentuk
angka atau huruf. Padahal yang lebih penting lagi, evaluasi itu sangat berguna bagi guru
untuk memperoleh umpan balik dari seluruh kegiatan yang dikelolanya. Dengan hasil
yang didapatkan, guru dapat mengembangkan pendekatan, strategi, dan metode
pembelajaran yang lebih efektif.6

3. Susunan Materi Sistematis


Pengajaran yang tidak bersistem bagaikan sebuah lukisan yang semrawut, tidak dapat
memberikan kesan yang jelas bagi orang lain. Tidak adanya inti, tidak tersusun, tidak
sistematis, akan sulit dipahami dan sulit di ingat. Oleh sebab itu, inti pengajaran harus
disusun dengan teratur dan sistematis.

4. Banyak Menggunakan Contoh Kehidupan


Pada saat Tuhan Yesus mengajar, Ia sering kali menggunakan contoh atau perumpamaan
kehidupan sehari-hari, misalnya dalam khotbah di atas bukit, Ia telah menggunakan contoh-
contoh sebagai berikut:
1. Keadaan alam (Mat 5:45-46)
2. Tumbuh-tumbuhan dan binatang (Mat 6:26-30)
3. Organ tubuh manusia (Mat 5:29-30)
4. Kehidupan sehari-hari (Mat 7:9-11)
5. Proyek bangunan (Mat 7:24-27)
6. Hukum Pemerintah (Mat 5:23-26(
7. Kehidupan beragama (Mat 6:5-8)

Contoh kehidupan adalah jembatan antara kebenaran Alkitab dengan kebenaran yang
nyata, yang membuat teori tidak terpisahkan dengan kehidupan.

5. Cakap dalam bercerita


Bentuk cerita tidak hanya diutarakan dengan kata-kata, namun boleh juga dicoba dengan
dengan menambahkan gerakan-gerakan untuk membantu murid memahami cerita. Atau
menggunakan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran.

6. Menggunakan Pancaindera Murid


Penggunaan bahan pengajaran yang berbentuk audio visual berarti menggunakan
pancaindera murid. Bahan pengajaran audio visual bukan hanya cocok untuk anak-anak
sekolah minggu (Super Book), tetapi juga untuk berbagai usia. Ensiklopedia adalah buku
yang sering dipakai oleh para ilmuan, namun di dalamnya banyak terdapat penjelasan yang
menggunakan gambar-gambar. Itu berarti para ilmuan pun perlu bantuan gambar untuk
mengadakan penelitian. Para ahli pernah mengadakan catatan statistik selama 15 bulan,

6
B.S. Mengajar Secara Profesional, Bandung: Kalam Hidup, hal. 174-176

30
sebagai hasilnya mereka mendapatkan persentase dari isi pelajaran yang masih dapat diingat
oleh murid. Bagi murid yang hanya bergantung pada indera pendengaran saja masih dapat
mengingat 28%, sedangkan bagi murid yang menggunakan indera pendengaran ditambah
dengan indera penglihatan dapat mengingat 78%.

7. Melibatkan Murid dalam Pelajaran


Melibatkan murid dalam pelajaran dapat menambah ingatan, juga motivasi dan
kegemaran mereka. Cara itu dapat menghilangkan kesalahpahaman yang mungkin terjadi
ditengah pertukaran pikiran antara guru dan murid. Misalnya: biarkan murid menggunakan
kata-katanya sendiri untuk menjelaskan argumentasi atau pendapatnya; biarlah murid
menggali dan menemukan hubungan antara konsep yang berbeda. Jika murid sibuk
melibatkan diri dengan pelajaran, maka tidak ada peluang lagi untuk mengacau atau membuat
ulah.

8. Menguasai kejiwaan murid


Guru yang ingin memberikan pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, tentu harus
memahami perkembangan jiwa murid pada setiap usia. Ia juga harus mengetahui dengan jelas
kebutuhan dan masalah pribadi mereka. Pengertian antara guru dan murid adalah syarat
utama dalam komunikasi timbale balik. Komunikasi yang baik dapat membuat penyaluran
pengetahuan menjadi lebih efektif.

9. Mengajar secara variatif


Sekalipun mempunyai cara mengajar yang sangat baik, namun jika terus menerus
melakukan hal yang sama (metode yang sama) maka akan membuat peserta didik merasa
jenuh atau bosan. Cara yang baik adalah mengajar dengan metode yang bervariasi dan
fleksibel, untuk menambah minat belajar murid.

10. Guru sebagai teladan


Masalah umum para guru adalah dapat berbicara namun tidak dapat melaksanakan.
Pengajarannya ketat sekali, namun kehidupannya sendiri tidak member teladan yang baik.
Cara mengajar yang efektif adalah, guru menjadikan dirinya sebagai teladan hidup untuk
menyampaikan kebenaran, dan itu merupakan cara yang paling berpengaruh. Kewibawaan
seorang guru terletak pada keselarasan antara teori dan praktek. Jikalau guru dapat
menerapkan kebenaran yang diajarkan pada kehidupan pribadinya, maka ia pun memiliki
wibawa untuk mengajar.

N. MACAM-MACAM METODE PAK DEWASA

Kalau guru sudah mempersiap bahan pengajaran, tugas berikutnya ialah


mengkomunikasikannya kepada peserta didik. Guru kemudian mengundang peserta didik ke
dalam arena interaksi pembelajaran yang bervariasi dan bermakna. Untuk itu ia harus
memikirkan serta memilih metode mengajar yang efektif dan sesuai agar dapat mencapai
tujuan belajar.

31
Metode mengajar ialah cara atau prosedur7 dalam mengelola interaksi antara guru dan
peserta didiknya bagi berlangsungnya peristiwa belajar. Belajar itu sendiri peristiwa multi
dimensi. Artinya, ketika murid belajar, mereka mendengarkan, melihat, membicarakan,
merasakan memikirkan, menuliskan, atau melakukan dan membentuk sesuatu. Banyak lagi
aktivitas yang terjadi dalam interaksi itu.

Di bawah ini ada beberapa variasi/macam metode dikelompokkan berdasarkan tingkat


interaksi kelompoknya:

1. Berpusatkan pada pengajar (ceramah)


Metode ini berbentuk pemaparan atau penjelasan secara lisan atas suatu konsep, prinsip,
dan fakta yang biasanya jika cukup waktu ditutup dengan tanya jawab anatara pendidik
dengan peserta didik.
Metode ceramah ini cocok dilaksanakan oleh pendidik dalam situasi berikut.
a. Metode ini dipakai ketika pendidik memberikan pengarahan dan petunjuk pada awal
pembelajaran.
b. Pendidik memiliki waktu terbatas, sedangkan materi atau informasi yang akan
disampaikan banyak.
c. Lembaga pendidikan memiliki sedikit staf pendidik, sedangkan jumlah peserta didik
banyak.

Metode ceramah, jika dipersiapkan dengan sebaik-baiknya atau dipersiapkan dengan


cermat, apalagi dipadu dengan metode Tanya jawab dan metode resitasi (ada tugas yang
dikerjakan), kemudian dilengkapi dengan media pembelajaran yang memadai (setidak-
tidaknya menggunakan proyektor LCD), akan menarik perhatian serta memberikan kesan dan
pengaruh yang mendalam pada peserta didik.

Dalam metode ceramah sangat diutamakan suara, kata, serta kalimat yang baik dengan
intonasi yang bagus dari pendidik. Disamping itu, yang perlu diperhatikan ialah materi
ceramah itu disampaikan dengan secara jelas, berwibawa, meyakinkan dan menyenangkan.

a. Jelas, artinya berbicara tidak terlalu cepat, tidak terlalu keras, tetapi jelas dan mudah
dimengerti. Kata dan kalimat itu tersusun rapi, tidak diulang-ulang. Dalam hal
berbicara, seorang pendidik harus pandai-pandai menggunakan diksi, sintaksis, gaya
bahasa, fonologi, dan semantic yang tepat.8
b. Berwibawa, artinya kata-kata dan kalimat yang dipakai dapat memberi pengaruh serta
menarik perhatian, juga enak didengar. Wibawa itu akan diperoleh jika pendidik

7
Istilah metode (Yun: meta “jalan”, hodos “cara, jalan”) mengandung arti prosedur yang sistematis, tertata, dan
teratur, atau cara untuk melakukan sesuatu. Pembelajaran dalam konteks komunitas jemaat dapat dikelola
pengajar dengan ragam metode kreatif, termasuk drama, permainan peran, simulasi, cerita, diskusi, studi kasus,
penulisan kreatif, music dan puji-pujian, serta dengan metode seni (lukis, pahat, patung, dll).
8
Sintaksis: Pengetahuan tentang susunan kata dan kalimat; ilmu tata kalimat. Diksi: pilihan kata. Gaya bahasa:
bagian dari bahasa yang bertalian dengan ungkapan-ungkapan yang individual atau yang memiliki nilai artistic
tinggi. Fonologi: ilmu yang mengkaji bunyi-bunyi bahasa sebagai hasil akhir dari serangkaian tahap segmentasi
terhadap suatu ajaran. Semantik: bidang linguistic yang mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistic dan
hal-hal yang ditandainya; dengan perkataan lain mempelajari makna atau arti dalam bahasa.

32
percaya diri karena menguasai materi pembelajaran dengan sangat baik serta pandai
menggunakan mimik dan pantomimik yang benar.9
c. Meyakinkan, artinya memberi kesan yang mendalam dan dapat dipercaya. Dengan
demikian, peserta didik tidak ada keraguan terhadap kebenaran yang disampaikan
oleh pendidik.
d. Menyenangkan, artinya memberi rasa senang atau rasa gembira dalam hati peserta
didik sehingga mereka merasa betah mendengarkan ceramah dari pendidik.

2. Berpusatkan pada murid (diskusi)


Metode diskusi merupakan diskusi antar peserta didik atau interaksi peserta didik dengan
pendidik untuk menganalisis, memecahkan masalah, menggali, atau memperdebatkan topik
atau permasalahan tertentu.10
Jika metode diskusi ini digunakan pendidik harus;
a. Menyediakan bahan, topic, atau masalah yang akan didiskusikan.
b. Menyebutkan pokok-pokok masalah yang akan dibahas atau memberikan penugasan
studi khusus kepada peserta didik sebelum menyelenggarakan diskusi.
c. Menugasi peserta didik untuk menjelaskan, menganalisis, dan meringkas.
d. Membimbing diskusi, tidak member ceramah.
e. Sabar terhadap kelompok yang lamban dalam mendiskusikannya.
f. Waspada terhadap kelompok yang tampak kebingungan atau berjalan dengan tidak
menentu.
g. Melatih peserta didik dalam menghargai pendapat orang lain.

Metode diskusi ini dapat digunakan apabila ada dalam situasi berikut;

a. Peserta didik berada pada tahap menegah atau tahap akhir proses belajar.
b. Peserta didik telah menguasai pengetahuan secara luas.
c. Peserta didik telah belajar mengidentifikasi dan memecahkan masalah serta
mengambil keputusan.
d. Pendidik ingin membiasakan peserta didik agar berhadapan dengan berbagai
pendekatan, interpretasi dan kepribadian.
e. Peserta didik menghadapi masalah secara kelompok.
f. Pendidik ingin membiasakan peserta didik untuk berargumentasi dan berpikir
rasional.

Beberapa keunggulan metode diskusi, sebagai berikut;

a. Metode ini dapat mendorong, memotivasi dan memberi stimulasi kepada peserta didik
agar mau berpikir kritis, mampu mengeluarkan pendapatnya, serta mampu dan mau
menyumbangkan pikirannya untuk memecahkan persoalan atau masalah yang
dihadapi.

9
Mimik adalah keadaan atau gerakan raut wajah, sedangkan pantomimik adalah gerakan tubuh yang memberi
kesan meyakinkan pada ujaran atau ucapan yang diberikan.
10
F. Thomas Edison, Metode Mengajar, Bandung: Kalam Hidup, 2017. Hal. 125-126.

33
b. Jika diskusi itu dilaksanakan dengan baik, akan diperoleh suatu jawaban yang jelas
dan actual.
c. Rangkaian jawaban yang diambil didasarkan atas pertimbangan yang matang dan
saksama.

Adapun kelemahan dari metode diskusi ini adalah sebagai berikut:

a. Metode ini menyita waktu yang lama, dan jumlah peserta didik harus sedikit.
b. Metode ini mensyaratkan bahwa peserta didik itu memiliki latar belakang yang cukup
tentang topic atau masalah yang didiskusikan.
c. Metode ini tidak tepat digunakan pada tahap awal proses belajar apabila peserta didik
baru diperkenalkan pada bahan pembelajaran baru.
d. Peserta didik yang tidak terbiasa berbicara dalam forum menjadi apatis.
e. Metode ini bias menimbulkan penyimpangan dari pokok persoalan.

3. Berpusatkan pada kerjasama kelompok (penugasan)


Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menyuruh
peserta didik (setelah dikelompokkan) untuk mengerjakan tugas tertentu guna mencapai
tugas pembelajaran. Untuk itu, mereka dapat bekerja sama dalam memecahkan masalah
atau melaksanakan tugas. Setiap anggota kelompok juga didorong untuk mengeluarkan
pendapatnya tentang topik yang sedang dipelajari.
Dalam metode kerja kelompok, pendidik berperan sebagai pembimbing atau
pengarah. Jika ada hal-hal yang sulit sehingga menimbulkan keadaan buntu, pendidiklah
yang harus mencari jalan keluar dan membantu kelompok itu untuk mengatasinya. Selain
itu, pendidik juga berperan sebagai pengawas semua kelompok supaya semua anggota
kelompok berperan aktif menyumbangkan pendapatnya. Pendidikpun harus mendorong
semua kelompok untuk menyimpulkan pendapat mereka menjadi sebuah pernyataan
akhir.
Berikut adalah cara menyiapkan metode kerja kelompok.
a. Pendidik membagi para peserta didik ke dalam kelompok-kelompok. Tiap kelompok
terdiri atas 4-6 orang. Anggota-anggota kelompok itu sebaiknya diacak atau
dicampur antara perempuan dan laki-laki, antara peserta didik yang pandai dan yang
kurang pandai atau tidak pandai. Tujuannya adalah agar terjadi pemerataan, tidak ada
kelompok yang mendominasi pembicaraan.
b. Pendidik menyiapkan materi yang akan dikerjakan oleh kelompok. Materi
pembelajaran itu dapat berupa pemecahan masalah, pendapat kelompok, atau
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pendidik.
c. Materi yang dibahas dalam kerja kelompok itu adalah materi standar yang terdapat
dalam kurikulum untuk mencapai tujuan pembelajaran, standar kompetensi, dan
kompetensi dasar.
d. Pendidik memberi penjelasan singkat tentang tata cara melaksanakan kerja kelompok
itu, antara lain alokasi waktu yang disediakan, kewajiban untuk menjaga ketertiban
dan suasana kelas yang kondusif, serta hasil atau tujuan yang akan dicapai melalui
kerja kelompok.

34
e. Selama kerja kelompok berlangsung, suasana kelas tetap dalam penguasaan sang
pendidik.

Metode kerja kelompok ini cocok dilakukan pada situasi berikut.

a. Para peserta didik sebelumnya sudah dipersiapkan oleh pendidik agar dapat
mengemukakan pendapatnya secara lisan
b. Peserta didik dibiasakan lebih dahulu untuk berdidkusi dan tidak takut dalam
mengemukakan pendapat mereka meskipun itu tidak tepat.
c. Siatuasi ruangan kelas relatif cukup luas sehingga pada setiap kelompok ada jarak
yang relatif jauh. Hal itu perlu untuk menciptakan ketenangan bagi para peserta didik
dalam bekerja karena terhindar dari keributan atau gangguan kelompok lainnya.
d. Pokok bahasan atau subpokok bahasan yang akan diselesaikan atau dijawab dalam
kelompok telah disiapkan oleh pendidik dengan baik.
e. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pendidik dapat bersifat
objektif dan dapat pula bersifat subjektif.
f. Waktu kerja kelompok diperkirakan cukup untuk menyelesaikan materi kerja
kelompok itu. Artinya, kerja kelompok ini tidak akan mengambil waktu jam pelajaran
lain dalam menyelesaikannya.

Kelebihan dari metode kerja kelompok adalah sebagai berikut.

a. Para peserta didik didorong lebih aktif berpikir dalam mempelajari pelajaran mereka.
b. Pendidik dapat mengenal kemampuan para peserta didik dalam keaktifan
mengemukakan pendapat.
c. Para pserta didik diberi kesempatan untuk lebih menggunakan ketrampilan bertanya
dalam membahas suatu masalah. Pertanyaan-pertanyaan itu diajukan dalam kelompok
untuk memecah kebuntuan dan memberi arah dalam menggali jawaban.
d. Para peserta didik dilatih untuk mengembangakan bakat kepemimpinan serta
ketrampilan untuk berdiskusi.
e. Para peserta didik dilatih untuk bekerja sama, mengendalikan diri dan mempererat
hubungan antar peserta didik.

Adapun kelemahan metode kerja kelompok adalah sebagai berikut.

a. Kerja kelompok terkadang hanya melibatkan atau didominasi oleh para peserta didik
yang mampu mengemukakan pendapatnya sebab mereka cakap memimpin dan
mengarahkan mereka yang kurang mampu.
b. Keberhasilan metode ini bergantung pada kemampuan peserta didik bekerja sama
dalam kelompok. Kalau kerja sama tidak terbangun dalam kelompok, hasil kelompok
itu hanyalah hasil pemikiran satu atau dua orang saja. Dalam hal itu, tujuan kerja
kelompok tidak tercapai.
c. Kadang-kadang menuntut pengaturan tempat duduk kelompok-kelompok yang relatif
cukup luas dan daya guna belajar yang berbeda pula.

35
Pendidik yang akan menggunakan metode kerja kelompok ini hendaknya mempersiapkan
materi pelajaran dengan baik, merencanakan waktu pelaksanaannya yang tepat, dan
menyiapkan pembagian anggota-anggota kelompok yang berimbang.

4. Berpusatkan pada pangajar dan murid (tanya jawab)


Metode tanya jawab adalah metode yang menggunakan pertanyaan dan jawaban secara
timbal balik. Dalam hal itu, pendidik mengajukan pertanyaan kepada peserta didik, lalu
peserta didik menjawabnya. Sebaliknya, peserta didik juga dapat mengajukan pertanyaan
kepada sipendidik, lalu pendidik menjawabnya. Dalam pelaksanaan metode tanya jawab ini,
dapat juga diatur agar peserta didik dapat bertanya kepada peserta didik yang lainnya.

Metode tanya jawab dapat dinilai sebagai metode yang tepat apabila pelaksanannya ditujukan
untuk.

a. Meninjau ulang pelajaran atau ceramah yang lalu, yaitu agar peserta didik
memusatkan lagi perhatian mereka.
b. Menyelingi pembicaraan agar tetap mendapat perhatian peserta didik.
c. Mengarahkan pengamatan dan pemikiran mereka

Berikut adalah cara menyiapkan metode tanya jawab.

a. Metode tanya jawab ini tidak dapat dilakukan pada tahap awal suatu pembelajaran.
b. Para peserta didik diberitahukan sebelumnya bahwa akan diadakan metode tanya
jawab sehingga mereka semua menyiapkan dirinya dengan belajar dan mengingat
materi pembelajaran yang akan ditanyakan.
c. Pertanyaan-pertanyaan pendidik kepada peserta didik harus dimulai dari pertanyaan-
pertanyaan yang lebih mudah, kemudian meningkat kepada pertanyaan-pertanyaan
yang lebih sukar. Sebaiknya, pendidik menyiapkan pertanyaan-pertanyaan itu secara
tertulis agar penyampaiannya terarah dan sistematis.
d. Sebelum waktu pelaksanaan tanya jawab ini dilaksanakan, para peserta didik diminta
untuk menyiapkan juga berbagai pertanyaan tentang materi pembelajaran yang sudah
dipelajari.

Metode tanya jawab ini cocok dilakukan pada situasi berikut.

a. Suasana kelas memungkinkan untuk dilaksanakannya metode ini, misalnya jumlah


peserta didik tidak terlalu banyak antara 20-30 orang. Apabila jumlah peserta didik
lebih 30 orang, suasananya akan menjadi gaduh, terutama akalu ada jawaban peserta
didik yang lucu, tidak relevan, atau sangat menyimpang dari pertanyaan sipendidik.
b. Semua peserta didik atau sebagian besar dari mereka mempunyai kemampuan atau
keberanian untuk menjawab pertanyaan sang pendidik. Dalam hal itu, peserta didik
didorong untuk berpikir dan mengemukakan pendapat mereka.
c. Pendidik menciptakan suasana yang kondusif atau menyenangkan dan menghargai
semua jawaban peserta didik.

36
d. Peserta didik jangan mencela atau meremehkan suatu jawaban meskipun jawaban itu
sangat menyimpang dari pertanyaan yang diajukan.
e. Lingkungan belajar mendukung dilaksankannya metode tanya jawab ini. misalnya,
pelaksanaan metode ini tidak mengganggu suasana belajar kelas-kelas yang lain.

Berikut adalah keunggulan metode tanya jawab ini.

a. Pendidik dapat mengetahui tingkat penguasaan para peserta didik terhadap materi
pembelajaran yang disajikan.
b. Para peserta didik dilatih untuk berpikir rasional dan sistematis.
c. Tanya jawab dapat memperoleh sambutan yang lebih aktif apabila dibandingkan
metode ceramah yang bersifat monolog.
d. Para peserta didik diberi kesempatan untuk berani mengemukakan pendapatnya
meskipun pendapat itu belum tentu benar.
e. Perbedaan pendapat dapat diketahui sehingga bisa digunakan sebagai bahan diskusi
selanjutnya.

Adapun kelemahan dari metode tanya jawab ini adalah sebagai berikut.

a. Metode ini menyita waktu belajar yang lebih lama karena banyak waktu digunakan
untuk menunggu dan mendengar jawaban dari para peserta didik.
b. Dalam suatu kelas atau kelompok belajar ada peserta didik yang aktif dan mampu
mengemukakan pendapatnya, tetapi ada juga beberapa orang yang apatis11 dan tidak
mampu mengemukakan pendapatnya. Bagi peserta didik yang aktif metode ini sangat
menyenangkan. Namun, bagi peserta didik yang apatis metode ini hanya menjadi
beban baginya. Oleh karena itu, bagi peserta didik yang apatis, metode tanya jawab
tidak dapat memenuhi peran dan fungsinya. Hal itu juga akan menimbulkan masalah
baru dalam proses pendidikan.
c. Kalau pertanyaan-pertanyaan oleh pendidik tidak tertulis dan disusun secara
sistematis, hal itu akan mudah menyimpang dari pokok persoalan. Dalam hal itu,
pendidik harus menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang tersusun rapi dan sistematis
serta terarah pada tujuan pembelajaran.
d. Metode tanya jawab tidak dapat dilakukan pada awal proses belajar yang baru atau
pada waktu memperkenalkan bahan pembelajaran yang baru karena para peserta didik
belum memiliki penguasaan tentang materi yang disajikan. Apabila hal ini
dipaksakan, metode tanya jawab tidak akan dapat mencapai tujuannya dengan baik.

11
Apatis, adalah: hal sikap tidak mau peduli.

37
Kesimpulan

Alkitab menegaskan bahwa pendidikan atau pembinaan orang dewasa itu sangat
penting dan bahkan sangat mendesak bagi gereja. Orang dewasa yang dibina dengan baik
akan menjadi pembina (pendidik) yang potensial juga bagi generasi muda, bagi keluarga,
jemaat dan masyarakat. Ada banyak permasalahan dan kebutuhan yang dari orang dewasa
yang perlu mendapat perhatian jemaat. Bila mereka didorong menghadapi hidupnya dengan
baik dalam terang Firman Tuhan, tentu gereja kuat dan maju.

38
DAFTAR PUSTAKA
1. Alkitab, LAI, TB
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Tim Prima Pena, Gita Media Press.
3. Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga, 1980
4. Hurlock B. Elizabeth, Psikologi Perkembangan Edid V, Jakarta: Erlangga, 1980
5. Mappiare Andi, Psikologi Orang Dewasa, Surabaya: Usaha Nasional, 1983.
6. Nuhamara Daniel, PAK Dewasa, Bandung: Jurnal Infomedia, 2008.
7. Daulay M. Richard, Seluruh Siswa: Bertumbuh Dalam Kristus, Jakarta: BPK-GM, 2009.
8. Harlina Lydia dan Joewana S.K Satya, Peran Orang Tua Mencegah Narkoba, Jakarta:
Hak Cipta, 2008.
9. Jersild, The Psikologi Of Adoloscene, New York: MacMilan, 1978.
10. Ziegler Earl, Christian Education Of Adult, The Westminster Press Philadephia.
11. Shelton M. Charles, Menuju Kedewasaan Kristen, Yogyakarta: Kanisius, 1988.
12. Kristianto Lilik Paulus, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, Yogyakarta:
Andi, 2008.
13. Lase Sudirman, PAK Kepada Orang Dewasa, Medan: Mitra, 2011
14. Soejanto Agus, Psikologi Perkembangan, Jakarta: Grasindo, 2005.
15. Surbakti Ramlan, Memahami Ilmu Politik, Jakarta: Grasindo, 2005.
16. Knowless, The Modern Practice of Adult Education, Jakarta: Media Info Jurnal, 2008.
17. Tanya Eli, Gereja dan Pendidikan Agama Kristen, Cipanas: STT Cipanas, 1999.
18. Gunarsa D. Singgih Yulia, Asas-asas Psikologi Keluarga Idaman, Jakarta: BPK-GM,
2002.
19. Gilpin Robert, Tantangan Kapitalisme Global Ekonomi Dunia Abad ke-21, Jakarta:
Persada, 2000.
20. Bahagijo Sugeng, Globalisasi Menghempas Indonesia, Jakarta: Pustaka LP3S.
21. Maltimoe, Membina Jemaah Missioner, Jakarta: BPK-GM. 1986.
22. Nasbitt John, Global Paradox, Jakarta: Bina Rupa, 2000.
23. Stoot John, Isu-isu Global, Jakarta: YKBK/OMF, 2005.
24. Sitompul A. A. Manusia dan Budaya, Jakarta: BPK-GM, 1991.
25. Subri Mulyadi, Ekonomi Sumber Daya Alam Dalam Perspektif Pembangunan, Jakarta:
Jajawali Press, 2008.
26. Gerungan W. A., Psikologi Sosial, Bandung: Eresco, 1996.
27. Setiawani Go Mary, Pembaruan Mengajar, Bandung: Yayasan Kalam Hidup, 2000.
28. Sidjabat B.S. , Mengajar Secara Profesional, Bandung: Kalam Hidup, 2017
29. Edison F. Thomas, 52 Metode Mengajar, Bandung: Kalam Hidup, 2017.

39