Anda di halaman 1dari 11

PEMANFAATAN SAMPAH BOTOL PLASTIK

POLYETHYLENE TEREPHTHALATE (PET) SEBAGAI


BAHAN PEREKAT PADA PAVING BLOCK DENGAN
UJI DAYA TEKAN DAN DAYA SERAP AIR

JURNAL SKRIPSI

Oleh:

SEKAR INGGAR RENGGANIS


1009035048

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN

SAMARINDA
2015

1
PEMANFAATAN SAMPAH BOTOL PLASTIK POLYETHYLENE
TEREPHTHALATE (PET) SEBAGAI BAHAN PEREKAT PADA PAVING
BLOCK DENGAN UJI DAYA TEKAN DAN DAYA SERAP AIR

Sekar Inggar R, Dyah Wahyu W, dan Edhi Sarwono


Jurusan Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Mulawarman
sekar.tl10@yahoo.com

Abstrak
Pembuangan sampah-sampah plastik langsung ke lingkungan akan menyebabkan kerusakan lingkungan.
Salah satu jenis plastik yang umumnya digunakan yakni plastik jenis PET (Poly Ethylene Terephthalate).
Sehingga, diperlukan suatu upaya untuk menangani masalah tersebut. Salah satunya ialah dengan cara
mendaur ulang sampah plastik PET menjadi material bangunan yakni paving block. Pada penelitian kali
ini, dilakukan proses pembuatan paving block sebagai material bangunan dengan bahan tambahan
sampah plastik PET yakni dibuat menjadi bentuk cair terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan pasir.
Adapun variasi sampah plastik PET yang digunakan, yakni 25%, 50%, 75%, dan 100% dari berat pasir.
Hasil yang didapat adalah plastik PET dapat digunakan menjadi bahan perekat pengganti semen pada
pembuatan paving block. Dari kondisi fisik, yang tidak terjadi perubahan adalah pada konsentrasi 25%,
hal ini dikarenakan banyaknya pasir yang berfungsi sebagai bahan penekan pada paving block.
Selanjutnya, nilai daya tekan tertinggi dicapai oleh konsentrasi plastik 25% dengan pasir 75% yakni
sebesar 0,93 MPa. Untuk daya serap air, nilai terendah dicapai oleh konsentrasi 100% plastik sebesar
1,678%.
Kata Kunci : Paving Block, plastik PET

Abstract
Disposing plastic garbage directly to the environment could cause some damages. Because plastic is
made of inorganic material which is non biologically degradable one. The common type of plastic
generally used is PET (Polyethylene Terephtalate) plastic. Therefore an effort required to handle the
issues from plastic waste, especially PET plastic, one of the effort is recycling th PET plastic to be
material building such as paving block. The result obtained is PET plastic adhesive materials can be used
and subtitute the cement in the making of paving blocks. In this research, paving block was made to be
material building with an additional materials with PET plastic waste which is being made to be liquid
first then mixed with sand. The variation of PET plastic used are 25%, 50%, 75%, and 100%. The result
obtained is PET plastic adhesive materials can be used and subtitute the cement in the making of paving
blocks. From physical conditions, which are not occur changes the concentration of 25% PET plastic.
This is due to the quantities of sand that serves as pressing of paving block materials. While at the other
concentration shown some broke and cracks in some part of paving block. The highest value of the
compression force obtained by plastic with concentration of 25% PET plastic with 75% of sand which is
equal to 0.93 MPa. For permeability, the lowest value obtained by concentration of 100% PET plastic
which is equal to 1.678%.
Keywords: Paving Block, PET plastic

1. Pendahuluan

Sampah plastik merupakan sampah yang paling langsung ke lingkungan akan menyebabkan
banyak dibuang karena, banyak orang yang kerusakan lingkungan. Hal ini dikarenakan
menggunakan plastik dalam kehidupan sehari- plastik terbuat dari bahan-bahan anorganik yang
hari. Pembuangan sampah-sampah plastik sulit diurai oleh bakteri pengurai.

2
Salah satu jenis plastik yang yang belakangan Belum ada penelitian yang mengambil topik
ini marak digunakan yakni plastik jenis Poly tentang pemanfaatan sampah plastik jenis PET
Ethylene Terephthalate (PET). Plastik PET yang digunakan sebagai bahan perekat
biasanya digunakan sebagai wadah minuman pengganti semen pada paving block. Namun,
dan makanan atau barang konsumsi lainnya. perbedaan penelitian kali ini adalah tidak
Pada tahun 2007, tercatat bahwa penggunaan menggunakan semen sebagai bahan perekat
plastik PET mencapai 10 juta ton, dimana angka sehingga bahan perekat adalah cairan plastik
ini akan terus bertambah sebesar 15% setiap PET dan perbedaan konsentrasi. Dimana dengan
tahunnya, sedangkan cara pendauran ulang perbedaan konsentrasi plastik dengan pasir
sangat minim. Dalam penelitian Dedy Irawan dapat menimbulkan perbedaan ketahanan dari
(2010), jumlah sampah Kota Samarinda paving block. Besaran persentase sampah botol
mencapai 320 ton/hari dan penggunaan plastik plastik PET yang digunakan untuk paving block
PET merupakan salah satu sampah plastik yang didasarkan pada perbandingan terhadap
paling tinggi. Sehingga perlu penanganan untuk banyaknya pasir yang ada pada paving block
meminimalisir sampah plastik tersebut. adalah 25%, 50%, 75%, dan 100%.

Masalah utamanya adalah bagaimana mengatasi Tujuan Penelitian


banyaknya sampah plastik PET yang ada.
Karena itu, penggunaan plastik semestinya 1. Untuk mengetahui manfaat sampah botol
dibatasi jumlah penggunaannya dengan cara plastik PET sebagai bahan perekat pengganti
menerapkan konsep 3R. Masyarakat dapat semen pada paving block.
menggunakan kembali (reuse) plastik yang ada, 2. Untuk mengetahui kondisi fisik pada paving
misalkan menggunakan kembali plastik yang block saat uji daya serap air .
tersimpan di rumah. Dengan begitu masyarakat 3. Untuk mengetahui pengaruh variasi
secara tidak langsung telah mengurangi persentase konsentrasi sampah botol plastik
konsumsi plastik (reduce). Berbagai cara PET terhadap daya serap air dan daya tekan
diusahakan oleh manusia untuk merubah plastik pada paving block serta membandingkan
menjadi hal yang bermanfaat, mulai dari dengan Standar Nasional Indonesia (SNI)
mendaur ulang sampah plastik sampai tentang paving block.
memanfaatkan kembali sampah plastik menjadi
sesuatu barang yang lebih berguna (recycle). 2. Tinjauan Pustaka
Salah satu upaya dalam mendaur ulang plastik
menjadi bahan guna pakai adalah mengubah Sampah merupakan limbah yang bersifat padat
menjadi material bangunan yakni paving block. terdiri dari zat organik san zat anorganik yang
dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola
Telah ada penelitian yang mengangkat tema agar tidak membahayakan lingkungan dan
pemanfaatan sampah botol plastik PET sebagai melindungi investasi pembangunan. Sampah
material bangunan yakni dalam penelitian Agus umumnya dalam bentuk sisa makanan (sampah
Murdiyoto (2011). Dengan bahan pencampuran dapur), daun-daunan, ranting pohon,
yakni semen, air, dan bijih plastik PET sebagai kertas/karton, plastik, kain bekas, kaleng-kaleng,
bahan tambahan. Dan hasilnya dengan dan sebagainya (Standar Nasional Indonesia No.
pemakaian 5 konsentrasi yakni 0%, 10%, 15%, 19-2454-2002).
20%, dan 25% dapat disimpulkan bahwa
rerataan hasil daya tekan memenuhi SNI paving Pada prinsipnya sampah dibagi menjadi sampah
block. padat, sampah cair, dan sampah dalam bentuk
gas (fume, smoke). Sampah padat dapat dibagi
Telah ada penelitian yang mengangkat tema menjadi beberapa jenis yaitu:
pemanfaatan sampah botol plastik PET sebagai 1. Komposisi kimia, yaitu:
material bangunan yakni dalam penelitian Agus a. Sampah organik, mudah diurai
Murdiyoto (2011). Dengan bahan pencampuran mikroorganisme, terdiri dari beberapa unsur
yakni semen, air, dan bijih plastik PET sebagai kima misalnya, sisa makanan, sayur-sayuran,
bahan tambahan. Dan hasilnya dengan dan lain sebagainya.
pemakaian 5 konsentrasi yakni 0%, 10%, 15%, b. Sampah anorganik, tidak mudah diurai,
20%, dan 25% dapat disimpulkan bahwa terdiri dari satu unsur kimia, logam, kaca,
rerataan hasil daya tekan memenuhi SNI paving dan plastik.
block. 2. Sifat mengurai, yaitu:
a. Sampah mudah terurai, misalnya sisa
makanan dan sayuran.

3
b. Sampah tidak mudah terurai, misalnya memisahkan jenis plastik. Sebelumnya, banyak
plastik, kaleng, dan kaca. orang yang tidak mengerti tentang jenis-jenis
3. Mudah tidaknya terbakar, yaitu: plastik satu sama lain dan bagaimana
a. Sampah mudah terbakar, misalnya kertas, memisahkannya. Akhirnya, industri-industri
plastik, dan kayu. plastik memutuskan untuk memberikan kode
b. Sampah tidak mudah terbakar, misalnya jenis plastik.
kaleng, kaca, dan besi.
4. Sampah berbahaya, apabila mengandung Sejak tahun 1960, penggunaan plastik mulai
bahan kimia atau infeksius, dan baterai. menggantikan posisi material lain seperti logam
dan keramik pada berbagai aspek kehidupan.
Upaya untuk menangani masalah sampah Ringan, mudah dibentuk, murah, dan dapat
adalah upaya pengolahan terhadap sampah- didaur ulang adalah beberapa sifat dasar plastik
sampah yang ada. Dalam Vesilind (2002) yang menjadi alasan penggunaannya.
dijelaskan metode 3R, yaitu:
1. Reduksi (Reduction) Seringkali polimer tertukar dengan plastik.
Reduksi sampah dapat dibagi dalam 3 macam, Sebenarnya, yang dimaksud polimer merupakan
yaitu: suatu molekul berantai panjang yang berulang.
a. Mengurangi jumlah penggunaan bahan yang Sedangkan plastik adalah suatu material
digunakan setiap produk tanpa mengurangi rekayasa yang struktur molekulnya memiliki
kegunaan produk tersebut. komposisi yang rumit, yang dengan sengaja
b. Meningkatkan masa guna produk. diatur untuk memenuhi aplikasi-aplikasi
c. Meminimalisir kebutuhan produk. spesifik yang diinginkan.

Mengurangi sampah di industri disebut Upaya meningkatkan kinerja dari material


pencegahan polusi sebuah konsep yang polimer pada tahap produksi, ditambahkan suatu
digunakan di bidang industri untuk mengurangi zat kimia yang biasa disebut aditif. Produk hasil
biaya dalam pengelolaan sampah dibanding keseluruhan proses inilah yang dapat disebut
untuk mengubah suatu proses. Banyak industri sebagai plastik. Secara konvensional monomer
yang mengolah kembali sampah yang yang digunakan dalam produksi ini sebagian
dihasilkan. Karena, biaya yang digunakan untuk besar diolah dari minyak bumi.
membuang sampah yang dihasilkan perusahaan.
Plastik adalah polimer rantai-panjang dari atom
2. Penggunaan Kembali (Reuse) yang mengikat satu sama lain. Rantai ini
Daur ulang adalah penggunaan kembali barang membentuk banyak unit molekul berulang, atau
yang tidak terpakai merupakan suatu konsep "monomer". Istilah plastik mencakup produk
yang utuh. Banyak produk yang dipergunakan polimerisasi sintetik atau semi-sintetik, namun
kembali untuk keperluan yang sederhana dan ada beberapa polimer alami yang termasuk
biaya yang cukup murah. Contohnya, plastik plastik. Plastik terbentuk dari kondensasi
yang didapatkan dari tempat-tempat berbelanja organik atau penambahan polimer dan bisa juga
yang sering digunakan untuk membungkus terdiri dari zat lain untuk meningkatkan
sampah yang dihasilkan dari kegiatan dalam performa atau ekonomi.
rumah.
Ada 7 jenis plastik dengan kodenya masing-
3. Daur Ulang (Recycling) masing dan setiap jenis plastik memiliki
Menurut Morgan (2009), daur ulang adalah penggunaannya masing-masing. Adapun
pengelolaan benda-benda yang sudah tidak penjelasan singkat mengenai karakteristik tiap
diinginkan untuk dijadikan bahan baku jenis plastik sebagai berikut:
pembuatan produk baru. Proses pertama kali 1. Polyethylene Terephtalate (PET)
yang dilakukan untuk mendaur ulang sampah Bersifat jernih, kuat, tahan pelarut, kedap
yakni memisahkan sampah berdasarkan terhadap gas dan air, melunak pada suhu 80C.
jenisnya. Banyak komponen dari sampah yang Plastik jenis PET ini biasanya digunakan untuk
yang dapat didaur ulang seperti kertas, kaleng, botol minuman, minyak goreng, dan kecap.
besi, plastik, gelas, dan lain-lain. Dengan 2. High-Density Polyethylene (HDPE)
mendaur ulang dan membuat kompos, efek gas Bersifat keras hingga semi fleksibel, tahan
rumah kaca dapat direduksi. terhadap bahan kimia dan kelembaban,
permeabel terhadap gas, permukaan berlilin
Hal yang cukup menyulitkan dalam kegiatan (waxy), buram (opaque), mudah diwarnai,
mendaur ulang yakni mengidentifikasi dan mudah dibentuk dan diproses, melunak pada

4
suhu 75C. Biasanya digunakan untuk tutup ukuran, susunan, morfologi, struktur molekul,
plastik, wadah susu cair, dan tutup botol. dan karakteristik lain pada level molekuler.
3. Polyvinyl Chloride (PVC) Secara interaksi rantai polimer, struktur plastik
Bersifat kuat, keras, bisa jernih, dapat diubah ini berupa struktur yang amorf atau renggang.
dengan pelarut, melunak pada suhu 80C. Maksudnya ialah bersifat pegas dikarenakan
Digunakan umumnya untuk botol jus dan struktur antar polimer yang tidak terikat (amorf).
pembungkus makanan. Selain itu, dikarenakan struktur yang amorf,
4. Low-Density Polyethylene (LDPE) kekuatan atau ketahanan plastik tidak sekuat
Bersifat mudah diproses, kuat, fleksibel, kedap struktur kristalin (Polypropylene Manufactures.
air, permukaan berlilin, tidak jernih tapi tembus 2005).
cahaya, dan melunak pada suhu 70C.
Penggunaannya seperti kantung belanja, Gambar 2.1 merupakan gambar dari rumus
kantung roti dan makanan segar, dan botol yang molekul plastik PET (Sibuea, 2012).
dapat ditekan.
5. Polypropylene (PP)
Bersifat keras tapi fleksibel, kuat, permukaan
berlilin, tidak jernih tapi tembus cahaya, tahan
terhadap bahan kimia, panas dan minyak, serta
melunak pada suhu 140C. Penggunaannya
seperti pembungkus biskuit, pita perekat Gambar 2.1 Rumus Molekul PET
kemasan, dan sedotan. (Sumber: Agus, 2005)
6. Polystyrene (PS)
Bersifat jernih seperti kaca, kaku, getas, buaram, Plastik PET juga sering digunakan sebagai botol
mudah terpengaruh lemak dan pelarut, mudah air minum kemasan, sirup, saus, selai, dan
dibentuk, dan melunak pada suhu 95C. minyak makan. Pada kemasan botol air minum
Digunakan untuk wadah makanan beku, sendok, terdapat simbol di bagian bawah botol seperti di
garpu, dan makanan siap saji. bawah ini.
7. Mixed Plastic
Bersifat keras, jernih, dan tahan panas. Biasanya
dipakai untuk galon air minum dan botol susu
bayi.

Polyethylene Terephthalate (Plastik PET)


adalah polimer jernih dan kuat dengan sifat-sifat
penahan gas dan kelembaban. Plastik PET
Gambar 2.2 Logo PET Pada Kemasan Minuman
terbuat dari glikol (EG) dan terephtalic acid
(Sumber: Sibuea, 2013)
(TPA) atau dimetyl ester (DMT). PET tersusun
atas poliester dimana poliester merupakan
Tanda ini merupakan logo daur ulang dengan
kategori polimer. Karena adanya poliester ini,
angka 1 di tengahnya terus ada tulisan PETE
maka PET dapat menjadi termoplastik.
atau PET (Polyethylene Terephthalate) di
Termoplastik adalah plastik yang menjadi lunak
bawah segitiga. Dipakai untuk botol plastik,
jika dipanaskan dan akan mengeras jika
berwarna jernih / transparan / tembus pandang
didinginkan.
contohnya botol air mineral, botol jus, dan
hampir semua botol minuman lainnya. Perlu
Secara konvensional, monomer - monomer
ditekankan untuk botol jenis PET atau PETE
pembentuk polimer sebagian besar diolah dari
dipakai hanya sekali pakai saja, karena bila
minyak bumi. Bahan organik maupun bahan
terlalu sering dipakai terlebih sering digunakan
anorganik lain yang ditambahkan dalam tahap
untuk menyimpan air hangat maupun panas
pembuatan plastik PET ini. Bahan organik yang
dapat mengakibatkan lapisan polimer pada botol
digunakan antara lain belerang, kapur, dan silika.
akan meleleh dan mengeluarkan zat
Sedangkan, bahan anorganik yang ditambahkan
karsinogenik yang dalam jangka panjang dapat
terdiri dari pewarna, plastiser, dan serat gelas.
menyebabkan kanker.
Hal yang menarik dari polimer adalah sifat
Bagi para pekerja yang berhubungan dengan
produk akhir sangat dipengaruhi oleh perilaku
pengolahan PET ataupun daur ulang plastik
molekul - molekul penyusunnya. Sehingga, sifat
PET harus waspada karena di dalam membuat
mekanis, optis, dan sifat-sifat lainnya pada
PET terdapat bahan yang disebut antimoni
produk akhir sangat tergantung pada komposisi,

5
trioksida, bahan Antimoni Trioksida yang dapat 2. Klasifikasi berdasarkan bentuk. Bentuk
masuk ke dalam tubuh melalui sistem paving block secara garis besar terbagi atas dua
pernafasan yaitu akibat menghirup debu yang macam, yaitu:
mengandung senyawa ini. Dalam jangka waktu a. Paving block bentuk segi empat
lama akan mengakibatkan iritasi kulit dan b. Paving block bentuk segi banyak
saluran pernafasan. Bagi pekerja wanita
senyawa ini dapat meningkatkan masalah
menstruasi dan keguguran, bila melahirkan,
anak mereka kemungkinan besar akan
mengalami pertumbuhan yang lambat hingga
usia 12 bulan. Di dunia mayoritas bahan plastik
PET untuk serat sintetis (sekitar 60%), di tekstil
PET biasa digunakan dengan polyester, bahan
dasar botol kemasan 30%.

Menurut SNI 03-0691-1996, paving block


adalah suatu komposisi bahan bangunan yang
dibuat dari campuran semen portland atau bahan Gambar 2.3 Bentuk Paving Block
perekat hidrolis sejenisnya, air, dan agregat (Sumber: Concrete paving Block, 2006)
dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang
tidak mengurangi mutu bata beton itu. Bata Menurut Arie (2009), dari hasil analisa yang
beton dapat berwarna seperti warna aslinya atau didapat dari setiap variasi bentuk paving block
diberi zat warna pada komposisinya dan baik berbentuk segienam, kubus, double zig-zag,
digunakan untuk halaman baik di dalam mapun conleaf dan bentuk lain tidak ada perbedaan
di luar bangunan. yang signifikan dari segi daya tekannya. Hal ini
terjadi karena nilai daya tekan yang didapat
Aplikasi paving block pada pembangunan ruas pada pengujian tidak secara langsung
jalan sudah banyak dijumpai diberbagai daerah, terpengaruh oleh variasi bentuk paving block.
karena perkerasan kaku relatif lebih besar Menurut SNI-03-0691-1996, syarat umum
kemampuannya menahan beban, dan umur paving block sebagai berikut:
rencana lebih lama. Dengan mengunakan a. Sifat Tampak
paving block dinilai lebih ekonomis dari pada 1. Mempunyai bentuk yang
penggunaan perkerasan (rigid) beton bertulang, sempurna.
paving block mudah dalam pekerjaan 2. Tidak retak-retak dan cacat.
pemasangan, dan mampu menahan beban dalam 3. Bagian sudut dan rusuknya tidak
batasan tertentu, serta konstruksinya relatif mudah dirapihkan dengan
tahan lama. kekuatan tangan.
b. Bentuk dan Ukuran
Paving block mempunyai keunggulan sifat yang 1. Berdasarkan bentuknya, paving block
khas yang tidak dimiliki perkerasan lainnya dapat dibedakan menjadi dua yaitu
yaitu kesan yang indah. Kesan yang indah ini bentuk segi empat dan segi banyak.
terbentuk dari bentuk dan warna elemen paving 2. Ketebalan yang sering digunakan
block tersebut, sehingga dapat dibuat pola-pola  6 cm untuk beban lalu lintas
yang menarik pada permukaan jalan. ringan yang frekuensinya terbatas,
misalnya pejalan kaki.
1. Klasifikasi mutu dari beton sendiri dibagi
 8 cm untuk beban lalu lintas berat
menjadi 4 kategori, antara lain:
yang padat frekuensinya, misalnya
a. Bata beton mutu A : digunakan untuk
mobil dan truk.
jalan.
 10 cm untuk beban lalu lintas
b. Bata beton mutu B : digunakan untuk
super berat, misalnya crane.
peralatan parkir.
3. Warna umumnya abu-abu atau sesuai
c. Bata beton mutu C : digunakan untuk
dengan pesanan konsumen.
pejalan kaki.
4. Toleransi ukuran yang disyaratkan
d. Bata beton mutu D : digunakan untuk
adalah ± 2 mm untuk ukuran lebar
taman dan penggunaan lain.
bidang dan ± 3 mm untuk
tebalnya serta kehilangan berat bila

6
diuji dengan natrium sulfat maksimum
1%. Agregat buatan adalah agregat yang dihasilkan
c. Sifat Fisik sebagai hasil sampingan atau bahan buangan
Paving block harus mempunyai dari suatu produk tertentu. Contoh agregat
kekuatan fisik seperti yang tertera pada buatan adalah: pecahan bata atau potongan batu
tabel 2.2 tentang kekuatan fisik paving bata yang tidak dipakai, limbah beton dan
block. limbah plastik termasuk limbah botol plastik
Agregat adalah butiran mineral alami yang (Allen, 2005).
berfungsi sebagai bahan pengisi dalam
campuran beton. Agregat (bahan pengisi) di Pemanfaatan limbah plastik untuk campuran
dalam adukan beton menempati kurang lebih 70% beton merupakan salah satu langkah untuk
dari volume beton. Agregat halus atau pasir mengurangi permasalahan limbah plastik yang
adalah butiran-butiran mineral keras yang sampai saat ini belum bisa diatasi. Limbah
bentuknya mendekati bulat, tajam, dan bersifat plastik merupakan limbah yang sangat sulit
kekal dengan ukuran butir sebagaian besar terurai, hal ini seringkali menimbulkan
terletak antara 0,075 mm sampai 5 mm (SNI 03- pencemaran lingkungan. Limbah plastik
1750-1990). Agregat halus digunakan sebagai tersebut mempunyai berat yang ringan dan tidak
bahan pengisi dalam campuran paving block mudah berubah bentuk.
sehingga dapat meningkatkan kekuatan,
mengurangi penyusutan, dan mengurangi Kekerasan (Hardness) adalah salah satu sifat
pemakaian bahan pengikat. mekanik (Mechanical properties) dari suatu
material. Kekerasan suatu material harus
Oleh karena itu sifat-sifat agregat sangat diketahui khususnya untuk material yang dalam
mempengaruhi sifat-sifat beton yang dihasilkan. penggunaanya akan mangalami pergesekan
Sifat yang paling penting dari agregat ialah (frictional force) dan deformasi plastis.
kekuatan hancur dan ketahanan terhadap Deformasi plastis sendiri suatu keadaan dari
benturan yang dapat mempengaruhi ikatannya suatu material ketika material tersebut diberikan
dengan pasta semen, porositas dan karakteristik gaya maka struktur mikro dari material tersebut
penyerapan air yang mempengaruhi daya tahan sudah tidak bisa kembali ke bentuk asal artinya
terhadap pengaruh musim dan agresi kimia, material tersebut tidak dapat kembali ke
serta ketahanan terhadap penyusutan. Secara bentuknya semula. Lebih ringkasnya kekerasan
umum dapat dibedakan berdasarkan ukuran didefinisikan sebagai kemampuan suatu
yaitu agregat kasar dan agregat halus. Agregat material untuk menahan beban identasi atau
halus biasanya dinamakan pasir dan agregat penetrasi (penekanan). Di dalam aplikasi
kasar dinamakan kerikil, batu pecah, kricak, dan manufaktur, material dilakukan pengujian
lainnya. dengan dua pertimbangan yaitu untuk
mengetahui karakteristik suatu material baru
Tujuan penggunaan agregat dalam beton adalah: dan melihat mutu untuk memastikan
1. Menghemat pemakaian semen. suatu material memiliki spesifikasi kualitas
2. Untuk menghasilkan kekuatan yang besar. tertentu.
3. Untuk mengurangi susut beton.
4. Untuk mendapatkan susunan yang padat Menurut (Mulyono, 2004), kekuatan merupakan
pada beton. salah satu kinerja utama. Kekuatan tekan adalah
Untuk mengontrol agar adukan memiliki kemampuan untuk menerima gaya tekan
kemampuan kerja yang baik. persatuan luas. Walaupun terdapat tegangan
tarik yang kecil, diasumsikan bahwa semua
Pemakaian benda limbah padat sebagai bahan tegangan tekan didukung. Penentuan kekuatan
pengganti akhir-akhir ini banyak dibicarakan. tekan dapat dilakukan dengan menggunakan
Hal ini sebenarnya bukan konsep yang baru. alat uji tekan dan benda uji berbentuk silinder.
Limbah padat ini merupakan kaleng-kaleng Adapun rumus yang digunakan adalah:
bekas, bahan-bahan bekas bongkaran rumah,
maupun sampah padat dari hasil limbah industri 𝑃
Daya Tekan = (N/mm2)........................ (2.1)
𝐿
maupun rumah tangga. Sebelum barang ini
dipakai, sebaiknya ditinjau aspek keuntungan
Keterangan:
bahan-bahan dibandingkan dengan pemakain
P = beban pada batas redaman (N)
agregat alami. Harus pula dipertimbangkan
L = luas penampang (mm2)
sepek teknisnya, yang meliputi pengerjaan dan
kekuatan yang akan dihasilkan (Mulyono, 2004).

7
Cara untuk menguji daya serap air suatu produk 50%, 75%, dan 100% terhadap berat pasir.
adalah produk direndam dalam air hingga jenuh Hal ini didapatkan dari konsentrasi
selama 24 jam, kemudian ditimbang beratnya sebelumnya di uji pendahuluan dengan
dalam keadaan basah. Kemudian dikeringkan konsentrasi plastik PET adalah 20%, 30%,
dengan oven selama 24 jam pada suhu 115C, dan 50%.
setelah itu ditimbang dalam keadaan kering dari 3. Pasir
oven. Adapun perhitungan daya serap air paving
block berdasarkan SNI paving block 03-0691-
Metode penelitian yang digunakan adalah true
1996 yakni:
experiment with design dengan percobaan
langsung di lapangan dan laboratorium.
Penyerapan air = Eksperimen dilakukan dengan memberikan
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑎𝑠𝑎ℎ−𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
x 100% ..................... (2.2) perlakuan terhadap variabel yang diteliti
𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑛𝑔
sehingga dampak perlakuan tersebut dapat
Berdasarkan rumusan masalah dan landasan ditarik kesimpulan yang korelasional dengan
teori, maka dapat dibuat hipotesis sebagai variabel-variabel yang diteliti. Terdapat 4
berikut: variasi persentase konsentrasi plastik PET yakni
1. Plastik PET dapat digunakan sebagai bahan 25%, 50%, 75%, dan 100%. Adapun jumlah
perekat pengganti semen pada pembuatan sampel eksperimen keseluruhan jenis yang
paving block. dibuat yaitu 12 buah dengan masing - masing
2. Kondisi fisik pada paving block konsentrasi sebanyak 3 kali perulangan.
menunjukkan kualitas yang baik yang dapat
dilihat saat uji daya serap air. Di bawah ini merupakan tahapan pembuatan
Paving Block dari sampah botol plastik PET.
Pencampuran sampah botol plastik PET dengan 1. Pengukuran campuran antara pasir dan
pasir sesuai dengan persentase konsentrasinya, sampah botol plastik PET dengan
akan menimbulkan perbedaan dari segi daya perbandingan 25% sampah botol plastik
tekan dan mempengaruhi daya serap air pada PET terhadap pasir.
paving block dan hasil dibandingkan dengan 2. Disiapkan kompor serta wajan terlebih
standar paving block. dahulu dan hidupkan kompor.
3. Dimasukkan 25% atau setara dengan 500
3. Metodologi Penelitian gram sampah botol plastik PET ke
dalam wajan.
Alat dan Bahan Penelitian - Untuk perlakuan dengan konsentrasi 50%
berat komposisi adalah 600 gram plastik
Adapun alat-alat yang digunakan dalam dan 600 gram pasir.
penelitian ini antara lain: - Untuk perlakuan dengan konsentrasi 75%
1. Neraca Timbang berat komposisi adalah 637,5 gram
2. Wadah besar plastik dan 162,5 gram pasir.
3. Stop kontak - Untuk perlakuan dengan konsentrasi 100%
4. Wajan berat komposisi adalah 850 gram plastik.
5. Cetakan paving block heksagonal 15 cm x 4. Diaduk dengan suhu 300C selama 30
15 cm x 6 cm menit sampai pasir dan plastik PET
6. Oven tercampur rata.
7. Spatula 5. Hasil campuran langsung dicetak ke
8. Papan seng dalam cetakan paving block berbentuk
9. Kompor heksagonal.
10. Unit pengujian daya tekan. 6. Dinginkan paving block hingga mengeras.

Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam Berikut adalah cara pengujian daya serap air
penelitian ini meliputi: pada paving block menurut SNI 03-0691-1996
1. Bahan baku utama yang diperlukan adalah tentang paving block.
sampah botol plastik PET. Uji 1. Paving block dimasukkan ke dalam
pendahuluan dengan konsentrasi plastik wadah besar yang telah diisi air sampai
PET adalah 20%, 30%, dan 50% terhadap paving block tenggelam.
berat pasir. 2. Direndam selama 24 jam setelah paving
2. Dan untuk uji daya tekan dan daya serap block dimasukkan.
air konsentrasi plastik PET adalah 25%,

8
3. Setelah 24 jam, paving block ditimbang kaki. Konsentrasi plastik 75% didapatkan rata-
dalam keadaan basah. rata kadar air sebesar 6,527% dan hasil ini
4. Kemudian, langsung dimasukkan ke masuk ke dalam mutu C dimana nilai maksimal
dalam oven dengan panas 115C selama 24 menurut SNI adalah 8%. Konsentrasi 100%,
jam. kadar air rata-rata adalah 1,678% dan
5. Setelah 24 jam, ditimbang paving block menunjukkan hasil yang didapat masuk ke
dalam keadaan kering. dalam mutu A dengan perolehan daya serap air
6. Dicatat hasil timbangan. maksimal sebesar 3% yang diperuntukkan untuk
jalan. Dapat dilihat bahwa kadar rerataan
Berikut adalah cara pengujian daya tekan pada penyerapan air terbesar ditunjukkan pada
paving block menurut SNI 03-0691-1996 konsentrasi plastik 25% dan semakin tinggi
tentang paving block. konsentrasi plastik pada paving block, maka
1. Disiapkan peralatan pengujian daya kadar penyerapan air semakin kecil. Hal ini
tekan. terjadi karena, pada konsentrasi 25% plastik
2. Dipastikan alat uji daya tekan dalam PET mengandung 75% pasir, karena mayoritas
keadaan normal atau nol. komponen paving block berupa pasir. Semakin
3. Dimasukkan paving block ke dalam alat uji tinggi konsentrasi plastik PET semakin sedikit
daya tekan. pula komponen pasir didalamnya. Akibatnya
4. Ditekan paving block sampai jarum pada konsentrasi plastik 100% kadar daya serap
penunjuk terhenti atau paving block air hanya sebesar 1,678%.
mengalami retakan. .
5. Dicatat hasil beban tekan pada paving Menurut teori yang ada, semakin rendah daya
block. serap air pada paving block maka semakin baik
mutu yang didapatkan. Faktor kandungan air
4. Hasil Dan Pembahasan dalam pasir memegang peranan penting. Pasir
dengan kandungan air yang banyak dapat
Berikut adalah Gambar 4.3 yang menjelaskan menambah rasio yang berakibat pada penurunan
tentang daya serap air paving block dengan kekuatan. Hal ini dikarenakan air yang semula
masing - masing variasi konsentrasi. menempati rongga menguap bersamaan dengan
terjadinya reaksi hidrasi sehingga terbentuk
rongga yang dapat meningkatkan porositas
12 paving block.
10
Daya Serap (%)

8 Dibawah ini merupakan Gambar 4.5 yang


menjelaskan tentang daya tekan paving block
6 pada masing - masing variasi konsentrasi.
4
2 60
0 50
Daya Tekan (MPa)

25% 50% 75% 100%


Konsentrasi 40

30

Gambar 4.3 Daya Serap Air Paving Block pada 20


Masing - Masing Variasi Konsentrasi
10
Dari pengujian daya serap air, didapat kadar air
0
rata-rata untuk konsentrasi plastik 25% yakni
9,9%. Paving block dengan konsentrasi 25% 25% 50% 75% 100%
masuk ke dalam kategori mutu D sesuai dalam Konsentrasi
SNI paving block 03-0691-1996 yang nilai
maksimalnya adalah 10% yang diperuntukkan Gambar 4.5 Daya Tekan Paving Block pada
untuk taman. Kadar air rata-rata konsentrasi Masing - Masing Variasi Konsentrasi
plastik 50% ialah 6,747%. Paving block
konsentrasi 50% menurut hasil yang didapatkan Dari pengujian daya tekan, didapat rata-rata
masuk ke dalam mutu C dengan nilai maksimal daya tekan untuk konsentrasi plastik 25% yakni
yakni 8% yang diperuntukkan untuk pejalan 0.93 MPa. Paving block dengan konsentrasi 25%

9
hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa cairan merembes keluar melewati sela-sela
paving block tidak memenuhi mutu D sesuai cetakan. Akibatnya ada sedikit pengurangan
dalam SNI yang nilai maksimalnya adalah 8,5 berat pada paving block.
MPa. Rata-rata daya tekan konsentrasi plastik 2. Pada pembuatan paving block, alat cetak
50% ialah 0,214 MPa. Paving block dengan yang digunakan terjadi dua kali perombakan,
konsentrasi 50 % menunjukkan bahwa paving yakni tanpa lubang pada bagian tengah
block tidak memenuhi mutu D dengan nilai kemudian berubah menjadi ada bagian
maksimal yakni 8,5MPa. Konsentrasi plastik 75% lubang pada tengah alat cetak. Namun,
didapatkan rata-rata daya tekan sebesar 0,066 kembali lagi ke bentuk semula dikarenakan
MPa dan hasil menunjukkan paving block tidak paving block sulit dilepaskan dari alat
memenuhi mutu D dimana nilai maksimal pencetakan, sehingga sering kali pecah
menurut SNI adalah 8,5 MPa. Konsentrasi ketika dikeluarkan dari alat cetak.
100%, daya serap rata-rata adalah 0,0586 MPa
dan menunjukkan hasil tidak memenuhi mutu D 5. Kesimpulan dan Saran
dengan perolehan daya serap air maksimal
sebesar 8,5 MPa. Dapat dilihat bahwa semua Kesimpulan
paving block tidak masuk ke dalam mutu yang
paling rendah yakni mutu D. Setiap perbedaan 1. Botol plastik PET dapat dimanfaatkan
konsentrasi dari konsentrasi 25% ke konsentrasi sebagai bahan perekat pada paving block
100% terjadi penurunan, hal ini dikarenakan sebagai pengganti semen.
semakin tinggi konsentrasi plastik dalam paving 2. Kondisi fisik paving block dalam pengujian
block semakin rendah pula nilai daya tekan daya serap air adalah untuk konsentrasi 25%
yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan tidak tidak ada perubahan yang terjadi, untuk 50%
adanya bahan penahan tekanan karena, hanya sebagian pecah pada bagian atas, konsentrasi
pasir yang berfungsi sebagai penahan tekanan. 75% terlihat retakan dan pecah di beberapa
bagian, dan untuk 100% retakan terjadi
Menurut Arie (2009), dari hasil analisa yang disebagian besar bagian.
didapat dari setiap variasi bentuk paving block 3. Pengaruh variasi persentase konsentrasi
baik berbentuk segienam, kubus, double zig-zag, limbah botol plastik PET terhadap daya
conleaf dan bentuk lain tidak ada perbedaan serap air paving block dinilai cukup
yang signifikan dari segi daya tekannya. Hal ini berpengaruh pada analisis daya serap air dan
terjadi karena nilai daya tekan yang didapat daya tekan. Semakin tinggi konsentrasi
pada pengujian tidak secara langsung plastik PET maka semakin rendah pula hasil
terpengaruh oleh variasi bentuk paving block. daya serapnya. Hal ini dibuktikan dengan
hasil uji daya serap air yang didapat dimana
Dalam penelitian Mardiko (2009), nilai kuat untuk konsentrasi 100%, menunjukkan nilai
tekan pada paving block dapat dipengaruhi oleh rata - rata daya serap air sebesar 1,678%
beberapa faktor, diantaranya adalah komposisi sedangkan untuk konsentrasi 25% plastik
bahan yang digunakan dan metode pembuatan PET, menunjukkan nilai rata - rata sebesar
paving block. Paving yang diproduksi secara 9,9%. Sebaliknya untuk daya tekan, semakin
manual biasanya termasuk dalam mutu beton rendah konsentrasi plastik PET semakin
kelas D atau C yaitu untuk tujuan pemakaian tinggi daya tekan yang didapat. Hal ini
non struktural, seperti untuk taman dan dikarenakan banyaknya konsentrasi agregat
penggunaan lain yang tidak diperlukan untuk halus yakni pasir yang berfungsi sebagai
menahan beban berat di atasnya. Mutu paving penahan tekanan. Hal ini ditunjukkan dari
yang pengerjaannya dengan menggunakan nilai rata - rata daya tekan untuk konsentrasi
mesin pres dapat dikategorikan ke dalam mutu 25% plastik PET sebesar 0,93 MPa.
beton kelas C sampai A dengan kuat tekan Sedangkan untuk konsentrasi 100% plastik
diatas 125 kg/cm2 bergantung pada PET, didapatkan hasil nilai daya tekan rata -
perbandingan campuran bahan yang digunakan. rata sebesar 0,0586 MPa.
Dari semua penjelasan tabel daya serap air dan
daya tekan paving block disimpulkan dalam satu Saran
tabel induk, berikut tabel induk paving block.
1. Sebaiknya dalam pembuatan cetakan paving
Adapun kesalahan pada penelitian kali ini block, dipastikan terlebih dahulu bentuk
sebagai berikut: cetakan agar tidak terjadi perombakan dan
1. Ketika pencetakan pada konsentrasi 75% kesalahan pada saat mencetak.
dan 100%, hasil olahan yang masih berupa

10
2. Sebaiknya penelitian selanjutnya mengubah Sebagai Bahan Eco Plafie Paving
bo1tol plastik PET menjadi suatu agregat Block Yang Berkonsep Ramah
buatan yang lebih padat dan menggunakan Lingkungan Dengan Uji Tekan, Uji
semen sebagai bahan perekat paving block. Kejut, Dan Serapan Air. Jurnal Teknika
3. Perlu ada variasi bahan tambahan lain yang Vol 2, No. 2.
memungkinkan untuk meningkatkan daya
tekan paving block. 11. Standar Nasional Indonesia (SNI 03-
0691-1996). Bata Beton (Paving Block).
DAFTAR PUSTAKA 1996. Dewan Standarisasi Nasional
Indonesia. Jakarta.
1. Aarne, P. Vesilind, A, William, Worrell.
2002. Solid Waste Engineering Second
Edition. Stamford Publishers. USA.

2. Allen, Edward. 2005. Dasar-dasar


Konstruksi Bangunan Bahan-bahan dan
Metodenya. Penerbit Erlangga. Jakarta.

3. Concrete Manufactures Association.


2006. Concrete paving Block, Book 1.
penerbit Waterfall Office Park. South
Africa.

4. Drajad, Kusumo. 2010. Prototipe Beton


Plastik dengan Bahan Dasar Agregat
Plastik Hasil Daur Ulang. Jurnal Poli
Teknologi Vol.9 No.1.

5. Hariandja, Binsar. 2007. Disain


Teknologi Bertulang. Penerbit Erlangga.
Jakarta.

6. Mulyono, Ir. Tri. 2004. Teknologi Beton.


Penerbit Andi. Yogyakarta.

7. Peraturan Menteri Perindustrian


Republik Indonesia Nomor: 24/M-
IND/PER/2/2010 tentang Pencantuman
Logo Tara Pangan dan Kode Daur
Ulang Plastik pada Kemasan Pangan
dari Plastik.

8. Polypropylene Manufactures. 2005.


Pengetahuan Dasar Plastik, Catatan 1.
Penerbit Trilene. Jakarta.

9. Salim, Agus, Dyah Anitasari, Crys Fajar


Partana. 2005. Sintesis Dibenzil
Terephtalate Melalui Dipolimerisasi
Plastik Polyethylene Terephtalate
sebagai Alternatif Daur Ulang Plastik
Bekas. Jurnal Makara Teknologi Vol.9
No.1.

10. Sibuea, Arif Frasman. 2013.


Pemanfaatan Limbah Botol Plastik

11