Anda di halaman 1dari 160

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017

foto
foto
REDUPNYA API REFORMASI
Penulis :
Alghiffari Aqsa, S.H Romualdo B. Phiros Kotan, S.H
Pratiwi Febry, S.H Muhammad Rasyid Ridha S., S.H
Arif Maulana, S.H., M.H Rizal Ihutraja Sinurat, S.H
Yunita, S.H., L.L.M Nabella Rizki Al Fitri, S.H
Eny Rofi’atul Ngazizah, S.H Maulana Ishaq, S.H
Nelson Nikodemus Simamora, S.H Jojor Yuni Artha Siahaan, S.H
Alldo Fellix Januardy, S.H Abraham Nempung, S.H
Matthew Michele Lenggu, S.H Monica Yolanda Br. Ginting, S.H
Oky Wiratama Siagian, S.H Angga Miga Pramono, S.Sos.
Ayu Eza Tiara, S.H., S.Sy Belan Diwangga Pribadi, S.H
Citra Referandum, S.H., M.H Tunggul Sri Haryanti
Aprillia Lisa Tengker, S.H Khaerul Anwar
Yenny Silvia Sari Sirait, S.H., M.H
Chessa Ario Jani Purnomo, S.H., M.H

Editor :
Andi Komara, S.H.
T. Sri Haryanti

Data Statistik:
Wulan Purnama Sari

Desain Layouter:
Aditya Megantara

Infografis:
Aditya Megantara

Foto:
Pusat Dokumentasi Bantuan Hukum (PDBH) LBH Jakarta dan berbagai sumber

Diterbitkan oleh:
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta
Jalan Diponegoro No. 74 Jakarta 10320
Telp : (021) 3145518 (hunting)| Fax : (021) 3912377
Email: lbhjakarta@bantuanhukum.or.id
Website: www.bantuanhukum.or.id

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


4
struktur organisasi LBH Jakarta
Direktur Resepsionis
ALGHIFFARI AQSA, S.H. IRMA APRI YULIANTI
Kepala Divisi Internal Pengemudi
UNI ILLIAN MARCIANTY, S.H. JULI HARTANTO
Kepala Divisi Advokasi Bagian Umum
YUNITA, S.H., L.LM. SAGINO
Pustakawati Kampanye
T. SRI HARYANTI ADITYA MEGANTARA, S.Sos.
Arsiparis ANGGA MIGA PRAMONO, S.Sos.
WULAN PURNAMA Penggalangan Dana Publik
Keuangan KHAERUL ANWAR
SANTI SUDARWANTI WIDODO BUDIDARMO
PONCO SEPTIANA Advokasi Internasional
Kesekretariatan ALLDO FELLIX JANUARDY, S.H.
ABDUL ROSYID

Pengacara Publik Asisten Bantuan Hukum 2017 – 2018


PRATIWI FEBRY, S.H. ABRAHAM NEMPUNG
ARIF MAULANA, S.H., M.H. AHMAD SYAHRONI FADHIL
NELSON NIKODEMUS SIMAMORA, S.H. ANDI MUHAMMAD REZALDY
ENY ROFIATUL N, S.H. BELAN DEWANGGA PRIBADI
ALLDO FELLIX JANUARDY, S.H. CHESSA ARIO JANI PURNOMO
MATTHEW MICHELE LENGGU, S.H. IIN ANDRIANI TANJUNG
OKY WIRATAMA SIAGIAN, S.H. JOJOR YUNI ARTHA
CITRA REFERANDUM, S.H. MAULANA ISHAQ
AYU EZA TIARA, S.H., S.Sy. MOHAMAD TOHA HASAN
SHALEH AL GHIFARI, S.H. MONICA YOLANDA BR. GINTING
M. CHARLIE MEIDINO ALBAJILI, S.H. MUHAMMAD RASYID RIDHA S
APRILLIA LISA TENGKER, S.H. NABELLA RIZKI AL FITRI
ANDI KOMARA, S.H. RIZAL IHUTRAJA SINURAT
ROMUALDO B.PHIROS KOTAN
YENNY SILVIA SARI SIRAIT

Redupnya Api Reformasi


5
KATA PENGANTAR

L
embaga Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) kembali mengeluarkan Catatan Akhir Tahun
(Catahu) sebagai bentuk pertanggungjawaban atau akuntabilitas kerja LBH Jakarta kepada
publik. Catahu juga sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada klien, paralegal, jaringan
kerja, Solidaritas Masyarakat Peduli Keadilan (SIMPUL), dan donatur LBH Jakarta. Catahu terdiri
dari jumlah pengaduan dan pencari keadilan selama setahun, laporan masing-masing bidang
advokasi, Bidang Kampanye Strategis, Bidang Pusat Dokumentasi Bantuan Hukum (PDBH), dan
Bidang Penggalangan Dana Publik. Catahu LBH Jakarta juga menampilkan sumber keuangan,
pengeluaran, dan audit keuangan LBH Jakarta oleh Kantor Akuntan Publik.

Selain laporan, Catahu juga berisikan refleksi LBH Jakarta terhadap situasi HAM, rule of law, dan
demokrasi. Tahun 2016 LBH Jakarta mengangkat judul Mundurnya Demokrasi dan Kalahnya
Negara Hukum. Walaupun situasi tidak banyak berubah, kali ini LBH Jakarta mengangkat judul
“Redupnya Api Reformasi”. Refleksi tersebut bukan hanya refleksi LBH Jakarta sendiri melainkan
refleksi banyak organisasi masyarakat sipil dalam berbagai rapat konsolidasi selama tahun
2017. LBH Jakarta berharap agar “Api Amanat Reformasi” kembali dinyalakan dan menjadi
tonggak penyatu kelompok masyarakat sipil untuk menghadapi tahun politik pada 2018 dan
2019 nanti.

Catahu juga merupakan refleksi terhadap internal LBH Jakarta karena kami sadar ada banyak
kekurangan; masih banyak kasus yang belum terselesaikan, pencari keadilan tidak mendapat
pelayanan terbaik atau bahkan tidak tertangani, masih banyak kebijakan yang tidak adil
belum kami batalkan, lemahnya pengorganisasian, riset yang kurang mendalam, dan berbagai
permasalahan lain. Semua refleksi tersebut menjadi bahan LBH Jakarta dalam menyusun
program kerja 2018 yang akan dilaksanakan pada awal Januari 2018.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh Pengabdi Bantuan Hukum yang
telah bekerja keras menyelesaikan Catahu 2017 ini.

Alghiffari Aqsa, S,H.

Direktur LBH Jakarta

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


6
Redupnya Api Reformasi
7
daftar isi
12 REDUPNYA API REFORMASI

18 DATA & ANGKA

28 PEMBUNGKAMAN GERAKAN
SERIKAT BURUH

52 KEMENANGAN RAKYAT
JAKARTA: PRIVATISASI AIR
DIBATALKAN 48 ATAS NAMA PEMBANGUNAN,
HAM DIABAIKAN

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


8
64 MELAWAN ARUS KETIDAKADILAN

88 POLITIK IDENTITAS
DAN LEMAHNYA NEGARA

69 MELAWAN KORUPTOR,
KORUPTOR MELAWAN:
KISAH PELEMAHAN KPK 2017
114 INTERNASIONAL

145 LAPORAN KEUANGAN LBH JAKARTA

39 106
Redupnya Api Reformasi
9
Tentang
LBH Jakarta

L
embaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta didirikan atas gagasan yang disampaikan pada
Kongres Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) ke III tahun 1969 oleh Alm. Adnan Buyung
Nasution. Gagasan tersebut mendapat persetujuan dari Dewan Pimpinan Pusat Peradin
melalui Surat Keputusan Nomor 001/Kep/10/1970 tanggal 26 Oktober 1970, yang berisi
penetapan pendirian Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan Lembaga Pembela Umum yang
mulai berlaku tanggal 28 Oktober 1970.

Pendirian LBH Jakarta yang didukung oleh Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta –Alm. Ali
Sadikin- ini, pada awalnya dimaksudkan untuk memberikan bantuan hukum bagi orang-orang
yang tidak mampu dalam memperjuangkan hak-haknya, terutama rakyat miskin yang digusur,
dipinggirkan, di PHK, dan pelanggaran atas hak-hak asasi manusia pada umumnya. Disamping
itu dukungan yang diberikan oleh mantan Guberbur DKI Jakarta terhadap LBH Jakarta melalui
SK Gubernur DKI Jakarta No. Ib.3/31/70 tentang Pembentukan Lembaga Bantuan Hukum/
Lembaga Pembela Umum (Legal Aid/ Public Defender) dalam wilayah DKI Jakarta tertanggal
14 November 19701 ini dimaksudkan agar LBH Jakarta sekaligus berfungsi sebagai lembaga
kritik Pemerintah DKI Jakarta.

Lambat laun LBH Jakarta menjadi organisasi penting bagi gerakan pro-demokrasi. Hal ini
disebabkan upaya LBH Jakarta membangun dan menjadikan nilai-nilai hukum, hak asasi
manusia dan demokrasi sebagai pilar gerakan bantuan hukum di Indonesia. Cita-cita ini
ditandai dengan semangat perlawanan terhadap rezim orde baru yang dipimpin Soeharto
dan berakhir dengan adanya pergeseran kepemimpinan pada tahun 1998. Bukan hanya itu,
semangat melawan ketidakadilan terhadap penguasa menjadi bentuk advokasi yang dilakukan
sampai saat ini. Hal tersebut merupakan wujud kritik terhadap pengemban tugas perlindungan,
pemenuhan dan penghormatan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Dan sampai hari ini 45 (empat
puluh lima) tahun sudah LBH Jakarta berdiri dan tetap memperjuangkan nilai-nilai yang serupa
yang terus menerus direfleskikan sesuai konteks zaman nya. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


10
Visi & Misi
Visi
1. Terwujudnya suatu suatu sistem masyarakat hukum yang terbina di atas tatanan hubungan sosial yang
adil dan beradab/berperikemanusiaan secara demokratis (A just, humane and democratic socio-legal
system);
2. Terwujudnya suatu sistem hukum dan administrasi yang mampu menyediakan tata-cara (prosedur-
prosedur) dan lembaga-lembaga lain, melalui mana setiap pihak dapat memperoleh dan menikmati
keadilan hukum (A fair and transparent institutionalized legal-administrative system);
3. Terwujudnya suatu sistem ekonomi, politik dan budaya yang membuka akses bagi setiap pihak untuk
turut menentukan setiap keputusan yang berkenaan dengan kepentingan mereka dan memastikan
bahwa keseluruhan sistem itu tetap menghormati dan menjunjung tinggi HAM (An open political-
economic system with a culture that fully respects human rights).

Misi
1. Menanamkan, menumbuhkan dan menyebarluaskan nilai-nilai Negara hukum yang berkeadilan sosial,
demokratis serta menjunjung tinggi HAM kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia tanpa kecuali,
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
2. Menanamkan dan menumbuhkan sikap kemandirian serta memberdayakan potensi lapisan
masyarakat miskin, sehingga mereka sendiri mampu merumuskan, menyatakan, memperjuangkan dan
mempertahankan hak-hak dan kepentingan mereka baik secara individual maupun secara kolektif;
3. Mengembangkan sistem, lembaga-lembaga serta instrumen-instrumen pendukung untuk meningkatkan
efektifitas upaya-upaya pemenuhan hak-hak lapisan masyarakat yang lemah dan miskin;
4. Memelopori, mendorong, mendampingi dan mendukung program pembentukan hukum, penegakan
keadilan hukum dan pembaharuan hukum nasional sesuai dengan Konstitusi dan Deklarasi Umum
Hak-Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights) yang tanggap terhadap kebutuhan dan
kepentingan golongan masyarakat miskin;
5. Memajukan dan mengembangkan program-program yang berdimensi keadilan dalam bidang politik,
sosial-ekonomi, budaya dan jender, utamanya bagi golongan masyarakat miskin.

Redupnya Api Reformasi


11
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017

Refleksi Akhir Tahun LBH Jakarta


REDUPNYA API REFORMASI

A
pi Reformasi semakin redup. Hal tidak lebih baik. LBH Jakarta berpandangan
tersebut yang dirasakan dalam refleksi bahwa seharusnya Amanat Reformasi
sekaligus catatan akhir tahun (Catahu) dapat dijadikan acuan untuk pembangunan
2017 LBH Jakarta terkait kondisi hak asasi berbagai aspek kehidupan, namun ternyata
manusia, rule of law, dan demokrasi di tidak demikian dan sebaliknya kita berada di
Indonesia. Hal ini sekaligus menjadi catatan luar rel Amanat Reformasi.
bagi LBH Jakarta dalam rangka menyambut
20 tahun Reformasi yang akan jatuh pada Redupnya api Reformasi tidak hanya
tahun 2018 nanti. Jika tahun lalu LBH Jakarta dirasakan oleh LBH Jakarta, melainkan
merefleksikan adanya kemunduran demokrasi juga oleh berbagai organisasi lain ataupun
dan kekalahan negara hukum, maka tahun ini koalisi masyarakat sipil. Dalam konsolidasi
masyarakat sipil terkait kriminalisasi jurnalis,

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


12
aktivis buruh, lingkungan hidup, mahasiswa, memiliki pertimbangan dan isi yang sejalan
dan petani, juga dirasakan hal yang sama dengan tuntutan masyarakat sipil, misalnya
bahkan lebih tajam dengan menyimpulkan Tap MPR No. X/MPR/1998 tentang Pokok-
adanya pengkhianatan terhadap Amanat Pokok Reformasi Pembangunan, Tap MPR
Reformasi. Ketika terjadi penyerangan kantor No. XI/MPR/1998 tentang Pelaksanaan dan
LBH Jakarta/YLBHI, pembubaran diskusi Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih
Forum 65, serta panggung Asik Asik Aksi pada dari Unsur Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme,
16-17 September 2017, berbagai kelompok dan Tap. MPR No. XVII/MPR/1998 tentang
masyarakat sipil juga berefleksi bahwa terjadi Penegakan Hak Asasi Manusia (HAM).
kemunduran demokrasi dan pengkhianatan
reformasi. Gerakan Masyarakat untuk Kita mulai dari penghapusan Dwi Fungsi
Demokrasi (Gema Demokrasi), sebuah aliansi ABRI yang esensinya menghapus militerisme
kelompok masyarakat sipil yang terdiri dari di Indonesia. Saat ini militerisme justru
83 (delapan puluh tiga) organisasi, juga telah menguat dan bukan hanya didorong oleh
mengangkat mengenai Amanat Reformasi, kalangan militer, melainkan sipil. Militerisme
termasuk ketika memperingati tiga tahun adalah watak sehingga siapapun, termasuk
pemerintahan Jokowi pada 19 Oktober 2017 sipil, bisa mengeluarkan kebijakan yang
yang lalu.1 melanggengkan militerisme. Setelah program
Tentara Manunggal Masuk Desa (TMMD),
Sebagai pengingat, Amanat Reformasi yang program Bela Negara, perjanjian Tentara
juga dikenal sebagai Tuntutan Reformasi Nasional Indonesia (TNI) dengan BUMN
atau Visi Reformasi adalah sebagai berikut: untuk pengawalan, keterlibatan TNI dalam
1). Adili Soeharto dan kroni-kroninya; 2). orientasi studi dan pengenalan kampus
Cabut Dwifungsi ABRI; 3). Hapuskan budaya (Ospek), dan instruksi Presiden TNI mengawal
KKN (Korupsi-Kolusi-Nepotisme); 4). Otonomi pembangunan infrastruktur, tahun 2017 kita
daerah seluas-luasnya; 5). Amandemen akhirnya melihat keinginan tentara untuk
UUD 1945; dan 6). Tegakkan supremasi berpolitik praktis dengan adanya wacana
hukum dan budaya demokrasi. Versi lain hak tentara untuk memilih dan banyaknya
adalah: 1) Penegakan supremasi hukum; manuver politik Panglima TNI.
2) Pemberantasan KKN; 3) Pengadilan
mantan Presiden Soeharto dan kroninya; Tahun 2017 kita masih melihat keterlibatan
4) Amandemen konstitusi; 5) Pencabutan TNI dalam penggusuran paksa, dan bahkan
Dwi Fungsi ABRI; 6) Pemberian Otonomi Mahkamah Konstitusi membenarkan hal
Daerah seluas-luasnya. Amanat Reformasi ini tersebut sebagai tindakan akhir untuk menjaga
merupakan buah dari jerih payah masyarakat keamanan. Selain itu TNI juga berperan dalam
sipil yang bertahun-tahun mengkritisi meningkatkan fobia masyarakat terhadap
pemerintahan Soeharto yang korup, otoriter, isu komunis karena khawatir pelanggaran
dan menerapkan stabilitas politik dan HAM 1965-1966 akan diungkap. Imbasnya
keamanan sebagai dasar pembangunan. tanggal 17 September 2017, LBH Jakarta
Tidak heran setelah Reformasi, berbagai dan YLBHI sebagai tempat yang selama ini
Tap MPR yang dikeluarkan pada tahun 1998 aman bagi segala kalangan dan kelompok
1
http://www.gemademokrasi.net/2017/10/19/ korban diserang oleh beberapa organisasi
rilis-pers-3-tahun-jokowi-jk-jalankan-amanat-reformasi/ masyarakat dan massa yang terprovokasi.
diakses pada 2 Desember 2017 pkl. 23.10 WIB.

Redupnya Api Reformasi


13
Seminggu kemudian dua orang anggota TNI yang diikuti oleh para penyintas atau korban
memaksa LBH Jakarta untuk menurunkan pelanggaran HAM sudah memasuki aksi ke
spanduk Amanat Reformasi. Hal yang sangat 516 kali; sekitar 150 kali dilakukan semasa
langka karena sebelumnya militer tidak pemerintahan Jokowi. Di sisi lain pelanggaran
pernah melakukan hal tersebut kepada LBH HAM terus dilakukan. Dalam hak-hak sipil
setelah reformasi. Dan yang terbaru adalah dan politik, terjadi berbagai pelanggaran
adanya rencana program “Tentara Masuk serius seperti dikeluarkannya Perppu
Sekolah” setelah Panglima dan Menteri Ormas yang melanggar hak untuk berfikir,
Pendidikan dan Kebudayaan menandatangani berkeyakinan, berkumpul, berpendapat, dan
Perjanjian Kerjasa Sama tentang Perluasan berorganisasi. Perppu Ormas mengabaikan
dan Peningkatan Mutu Layanan Pendidikan supremasi hukum dan lebih mengedepankan
dan Kebudayaan. Peningkatan Pendidikan kekuatan politik pemerintah. Selain itu, pasal
Karakter (PPK). penodaan agama masih dipertahankan dan
kali ini memakan korban pimpinan tertinggi
Dalam hal pemberantasan KKN, tahun 2017 di DKI, kriminalisasi atas tindakan aktivisme
kita diperlihatkan begitu kuatnya serangan dan kebebasan berekspresi masih terjadi,
terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi penyiksan (torture) masih menjadi budaya
(KPK), salah satu anak kandung Reformasi. kepolisian sementara Peraturan Pemerintah
Dimulai dengan adanya serangan ataupun No. 92 Tahun 2015 yang mengatur ganti
ancaman pembunuhan terhadap Novel rugi terhadap korban salah tangkap tidak
Baswedan dengan air keras pada 11 April 2017, berjalan efektif, kegiatan menyatakan
kemudian keluarlah Angket terhadap KPK dari pendapat dan berkumpul semakin dipersulit
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) karena KPK dan bahkan kepolisian memerintahkan hotel
enggan menunjukkan rekaman ancaman dari melaporkan setiap pertemuan kepada pihak
anggota DPR kepada Miryam S Ariyani. Angket kepolisian, SARA menjadi komoditas politik,
tersebut tidak main-main. Skenario disusun ujar kebencian menguat, dan berbagai situasi
dengan sangat rapi dan diduga melibatkan ataupun pelanggaran lainnya. Kabar baik
perwira kepolisian yang sebelumnya pernah terkait hak sipil dan politik pada tahun 2017
mengancam Direktur Penyidikan KPK ketika justru datang dari Mahkamah Konstitusi yang
Cicak vs Buaya Jilid III. Segala macam mengabulkan permohonan para penghayat
aspek mulai dari penyelidikan, penyidikan, kepercayaan agar keyakinannya dianggap
penyitaan, rumah aman, rumah hasil barang setara dengan agama dan dicatatkan dalam
rampasan dan sitaan, kepegawaian, anggaran, administrasi kependudukan.
dan seterusnya dipermasalahkan oleh DPR.
Dan sudah diketahui pula dari awal bahwa Dalam hal hak-hak ekonomi, sosial, dan
output dari Angket terhadap KPK adalah budaya, penggusuran paksa dan perampasan
amandemen UU KPK dan juga dibuatnya tanah masyarakat masih menjadi cara
Detasemen Khusus Antikorupsi yang diduga pemerintah dalam pembangunan. Kovenan
akan memoderasi gerakan anti korupsi. Ekonomi, Sosial, dan Budaya beserta Komentar
Umumnya tidak pernah menjadi acuan dalam
Dalam hal hak asasi manusia, janji untuk pembangunan. Pemerintah memiliki program
penuntasan pelanggaran HAM masa lalu tidak sertifikasi dan pembagian lahan kepada
pernah dipenuhi Presiden Jokowi.Aksi Kamisan masyarakat dan petani, namun di sisi lain

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


14

masyarakat dan petani yang sudah memiliki
lahan justru digusur paksa. Pembangunan
yang tidak memperhatikan faktor ekologi
terus dipertahankan; reklamasi pantai,
pembangunan pabrik semen, pembangunan Kegagalan
konsolidasi ini
PLTU, dll. Dalam hal hak atas kesehatan,
BPJS tidak sepenuhnya efektif bahkan
ada rencana pengurangan jaminan terkait
penyakit yang biaya pengobatannya justru
sangat tidak terjangkau oleh masyarakat
semakin dipertegas
miskin. Dalam hal hak atas pekerjaan dan
upah yang layak, buruh justru selalu selalu
dengan adanya
menjadi korban dalih pertumbuhan ekonomi;
PP 78/2015 tentang Pengupahan diterapkan,
friksi dalam
bahkan terdapat pula Upah Padat Karya yang
nominalnya jauh lebih rendah. Kabar baik hajatan politik
datang dengan adanya kemenangan warga
Jakarta melawan privatisasi air; Mahkamah elektoral, baik itu
Agung memutuskan bahwa pengelolaan air
di Jakarta harus dikembalikan kepada PAM dalam pemilihan
Jaya dan harus sesuai dengan Komentar
Umum Hak Atas Air. Namun demikian putusan
ini belum dilaksanakan dan dikhawatirkan
presiden di tahun
akan terjadi pembangkangan sama seperti
kasus yang telah dimenangkan oleh Petani
2014, maupun
Kendeng melawan Gubernur Jawa Tengah dan
pabrik semen. dalam pemilihan
Terkait Amanat Reformasi yang lain, sudah kepala daerah.
terang bahwa Soeharto dan kroninya tidak
pernah diadili dan dirampas hartanya
Situasi “Redupnya Api Reformasi” bukanlah
yang merupakan hasil korupsi. Bahkan
kesalahan pemerintah semata. Situasi ini juga
kroni Soeharto kembali berjaya dan masih
merupakan bentuk kegagalan konsolidasi
menjadi elit politik di negeri ini. Amandemen
masyarakat sipil pasca reformasi. Kegagalan
konstitusi telah dilakukan sebanyak empat
konsolidasi ini semakin dipertegas dengan
kali, namun esensinya mendorong demokrasi
adanya friksi dalam hajatan politik elektoral,
dan pemenuhan HAM masih perlu didorong
baik itu dalam pemilihan presiden di tahun
kembali. Terdapat pihak yang ingin kembali ke
2014, maupun dalam pemilihan kepala
UUD 1945 atau dianggap sebagai UUD yang
daerah. Sebagian kelompok masyarakat
asli. Otonomi daerah sudah dilaksanakan,
sipil justru terjebak dalam politik dukung
bahkan sudah sampai kepada otonomi tingkat
mendukung dan sebagian lagi terjebak masuk
pedesaan.
dalam kekuasaan setelah elit yang didukung
terpilih dan kemudian melupakan agenda

Redupnya Api Reformasi


15
HAM dan demokrasi yang sebelumnya tim sukses Anies, Ahokers, tidak nasionalis dan
diusung. Posisipun bisa menjadi bertolak Pancasilais, dan berbagai tuduhan lainnya.
belakang ketika diuji dengan hal-hal yang Hal tersebut juga dialami oleh kelompok
mendasar dan berlawanan dengan elit yang lain yang berusaha menyampaikan sikapnya
didukung, misalnya mendukung penggusuran secara objektif tanpa preferensi mendukung
paksa, mendukung Perppu Ormas yang elit tertentu.
banyak memiliki permasalahan hak asasi
manusia, mendukung pembangunan yang Selain selalu berusaha memberi narasi yang
memiliki dampak ekologi, mendukung PP 78 objektif sesuai dengan standar HAM, LBH
Tahun 2015 yang banyak merugikan buruh, Jakarta pada akhir 2016 dan sepanjang 2017,
dan berbagai isu mendasar yang lain. selalu berusaha mendorong konsolidasi
masyarakat sipil. Berbagai aliansi konsolidasi
Berdasarkan situasi tersebut maka LBH dibentuk dan juga diperkuat, antara lain
Jakarta dalam kerja-kerja bantuan hukum Aliansi untuk Demokrasi dan Keadilan (ADIL)
strukturalnya selalu menjaga netralitas yang melibatkan kelompok masyarakat sipil
dan mendorong adanya narasi yang selalu lintas sektor, Gerakan Masyarakat untuk
mengacu pada standar HAM yang bersifat Demokrasi, Gerakan Buruh untuk Rakyat
universal. Hal tersebut ditunjukkan oleh (Gebrak) yang mendorong buruh keluar
LBH Jakarta dengan cara selalu mengkritisi dari isu tradisionalnya dan bersolidaritas
siapapun elit politik ataupun kelompok dengan gerakan yang lain, mendukung
masyarakat yang melakukan pelanggaran gerakan Kamisan, mengaktifkan kembali
yang tidak sesuai dengan prinsip HAM, negara Koalisi Peringatan Hari HAM, dan terakhir
hukum, dan demokrasi. Dan tentunya selalu adalah membuat jaringan Jakarta Kritis
membela siapapun korban pelanggaran HAM. untuk mengkritisi kebijakan DKI Jakarta yang
Sebagai contoh LBH Jakarta mengeluarkan dipimpin oleh Gubernur baru. Sebagian aliansi
dua penelitian mengenai penggusuran paksa ini juga bersepakat mengenai pentingnya
pada tahun 2017 untuk mengkritisi kebijakan Amanat Reformasi.
Gubernur DKI Jakarta yang menggunakan
penggusuran paksa dalam pembangunan. LBH Jakarta berharap situasi berubah ditahun
Namun, LBH Jakarta juga memberikan Nota 2018; “Api Reformasi” kembali menyala tepat
Sahabat Peradilan (amicus curiae) membela dua dekade Reformasi. Tahun 2018 harus
Gubernur DKI Jakarta yang dituduh menista menjadi tahun konsolidasi masyarakat sipil,
agama. Contoh lain adalah LBH Jakarta menggaungkan dan mengingat kembali
membela Pondok Pesantren Ibnu Masud yang Amanat Reformasi. Hal tersebut sekaligus
dibubarkan karena dituduh mengajarkan sebagai pegangan masyarakat sipil dalam
extremisme. Kemudian dalam waktu menghadapi tahun 2018 yang dianggap
bersamaan LBH Jakarta membela korban sebagai tahun politik karena adanya
stigma 65 yang menuntut keadilan dan sedang pemilihan Kepala Daerah serentak dan
menjalankan hak konstitusionalnya untuk persiapan untuk pemilihan Presiden ditahun
berkumpul dan berekspresi. Dalam situasi 2019. Tanpa adanya konsolidasi masyarakat
friksi yang kuat di masyarakat, akibatnya LBH sipil, maka “Api Reformasi” bukan redup lagi,
Jakarta menjadi sasaran berbagai tuduhan; tapi padam. []
komunis, pembela kelompok ekstrimis Islam,

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


16
Tahu Sendiri 455
Media 449
Teman/ Tetangga 90
Keluarga/ Saudara 72
Instansi Pemerintah 72
Pengacara 24
LSM/ OMS 19
Serikat Buruh 9
Kenalan 9 1.224 Pengadu
Paralegal 7
LBH Lain 7
Mengenal LBH Jakarta Dari:
Klien LBH 4
Kedutaan 3
Partai Politik 2
Lembaga Internasional 2

AKSES PUBLIK

P
ada 2017 LBH Jakarta kembali Hal yang cukup menarik ketika pengadu
melakukan pelaporan kepada publik mendapatkan sumber informasi dari instansi
terkait dengan kegiatan organisasi. pemerintah, kategori ini menempati urutan
Salah satu yang masuk dalam laporan ini ke-5 dengan jumlah 72 pengadu atau
adalah rekapitulasi data warga yang datang 5,9%. Instansi pemerintah disini meliputi
melakukan pengaduan ke LBH Jakarta. Untuk Komnas HAM, KPAI, Pengadilan, Kepolisian,
mengetahui seberapa banyak pengadu dan pemerintah propinsi DKI Jakarta, Kementrian,
darimana mereka mengetahui LBH Jakarta, KPK, BPHN, Mahkamah Agung, LPSK, dan
berikut hasil yang telah dikumpulkan dari kelurahan/RW/RT. Dapat diartikan bahwa
data pengaduan. instansi pemerintah menganggap LBH
Jakarta sebagai salah satu rujukan layanan
Dibandingkan tahun 2016, jumlah pengaduan bantuan hukum selain Posbakum yang sudah
yang masuk ke LBH Jakarta mengalami ada disetiap pengadilan.
penurunan 15,24% atau sebanyak 220
pengaduan. Rekapitulasi data menunjukan, Tidak hanya memberikan bantuan hukum,
sebanyak 455 pengaduan menyatakan tahu LBH Jakarta juga memberikan penyuluhan
tentang LBH Jakarta dengan sendirinya. tentang hukum di lembaga pemasyarakatan
Tertinggi kedua sebanyak 449 pengaduan atau Salemba dan Rumah Tahanan Pondok Bambu.
36,7% mengetahui layanan bantuan hukum Penyuluhan tersebut dilakukan sebanyak
LBH Jakarta bersumber dari media, baik cetak 17 kali dengan jadwal 2 kali dalam satu
maupun online. Dari sini terlihat masyarakat bulan. Dengan demikian, penghuni lembaga
Indonesia, khususnya wilayah Jabodetabek pemasyarakatan tetap mendapatkan akses
sudah melek informasi, dan media memiliki informasi terkait dengan permasalahan
peran penting dalam penyebaran informasi hukum yang mereka hadapi. []
tersebut.

Redupnya Api Reformasi


17
DATA & ANGKA TAHUN 2017

Perbandingan Jumlah Pengaduan

2013 1.001

2014 1.221
6.212 2015 1.322
Pengaduan yang masuk
selama lima tahun terakhir
2016 1.444

2017 1.224

Perbandingan Jumlah Pencari Keadilan

2013 28.528

2014 65.519
291.108 2015 56.451
Pencari keadilan selama
lima tahun terakhir
2016 121.571

2017 19.039

Pengaduan Pencari Keadilan

1.064 Kelompok 1.064

160 Kelompok 17.975

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


18
Jumlah Pengaduan Berdasarkan Jenis Kasus

486 Kasus Non Struktural 46

39 Perempuan & Anak 2

188 Keluarga -

74 SIPOL 12

104 PMU 50

173 Perburuhan 50

Individu Kelompok

Jumlah Kasus Perburuhan

99 Hubungan Kerja 2.932

88 Hak Normatif 1.298

13 Kepegawaian (PNS) 13

0 Proses Hukum 0

1 Serikat Pekerja 100

2 Pidana Perburuhan 3

5 BMI 204

15 PRT 15

- Diskriminasi -

223 Pengaduan 4.565 Pencari Keadilan

Redupnya Api Reformasi


19
Jumlah Kasus Perkotaan dan Masyarakat Urban (PMU)
96 Tanah & Tempat Tinggal 5.061

6 Usaha & Ekonomi 546

15 Pendidikan 178

12 Kesehatan 12

12 Lingkungan 991

- Penanggulangan Bencana -

2 Identitas 2

11 Pelayanan Publik 17

154 Pengaduan 6.807 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Keluarga


11 Pernikahan 11

20 KDRT 20

103 Perceraian 103

54 Waris 54

188 Pengaduan 188 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Khusus/ Non-Struktural


220 Pidana Umum 2.268

46 Pidana Khusus 67

237 Perdata 1.123

1 Kode Etik Advokat 1

28 Bukan Kasus Hukum 2.026

532 Pengaduan 5.485 Pencari Keadilan


Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
20
Jumlah Kasus Perempuan dan Anak (P&A)
24 Perlindungan Anak 25

17 Perlindungan Perempuan 166

41 Pengaduan 191 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Sipil dan Politik (Sipol)


4 a 4

3 b 3

2 c 2

2 d 2

55 e 1.073

5 f 5

5 g 605

3 h 3

3 i 102

1 j 1

1 k 1

1 l 1

1 m 1

a. Hak bebas dari siksaan & perlakuan tidak h. Hak atas kebebasan untuk berpendapat dan
manusiawi berekspresi
b. Hak atas kebebasan dan keamanan pribadi i. Hak untuk berkumpul dan berserikat
c. Hak tahanan atas perlakuan manusiawi j. Hak untuk menikah dan berkeluarga
d. Hak kebebasan bagi WNA k. Hak berpolitik
e. Hak atas pengadilan yang jujur/ fair trail l. Hak untuk kaum minoritas
f. Hak atas kebabasan pribadi atau privasi m. Hak atas kepemilikan yang tidak boleh
g. Hak atas kebebasan untuk berfikir, diambil alih secara sewenang-wenang
berkeyakinan dan beragama
86 Pengaduan 1.803 Pencari Keadilan
Redupnya Api Reformasi
21
Pencari Keadilan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
227
211

160 162
148 160

24 21 30 31
11 15 13 4
1 3 1 2
a b c d e f g h i j k l m n o p q r

a. Tidak diisi h. PRT o. TNI / Polri


b. Buruh i. Mahasiswa p. Notaris
c. BMI j. Pelajar q. Lain-lain
d. Buruh Tani k. Pegawai BUMN/PNS r. Kelompok (tidak
e. Dokter l. Pensiunan PNS/BUMN diklasifikasi secara khusus)
f. Dosen/Guru m. Tidak Bekerja
g. Ibu Rumah Tangga n. Wiraswasta

Pencari Keadilan Berdasarkan Wilayah Tempat Tinggal

183 190
168

118 112
107
93
64 63
24 23 31
6 14 10 6 8
1 1 1 1
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u

a. Tangerang & Banten h. Jawa Timur o. Sulawesi


b. Bali i. Jakarta Barat p. Sumatera
c. Bogor j. Jakarta Pusat q. NTT
d. Bekasi k. Jakarta Selatan r. Papua
e. Depok l. Jakarta Timur s. Inggris
f. Jawa Barat m. Jakarta Utara t. Afrika
g. Jawa Tengah & DIY n. Kalimantan u. Amerika

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


22
Pencari Keadilan Berdasarkan:

Laki-laki
Kelompok
636
160
Lansia
Dewasa (>50 tahun)
(18-50 tahun) 368
810
Jenis Kelamin
Usia

Perempuan
428
Anak
(<18 tahun)
46
(Rp 8-10 juta) 29 (Rp 6-8 juta) 35
(Rp > 10 juta) 58
(Rp 0-2 juta) 337
(Rp 4-6 juta) 95

Kelompok
(tidak terdeteksi)
160 (Tidak sekolah) 14
Penghasilan
(Perguruan Tinggi)
(SMA) 430 453

(Rp 2-4 Juta) 214


Tak Berpenghasilan Pendidikan
296

Kelompok
(tidak diklasifikasi
secara khusus) 160 (SD) 71
(SMP) 96

Redupnya Api Reformasi


23
41 39 Kasus Perburuhan Berdasarkan Wilayah
22 22 25 223 Pengaduan
17 20
11 10
3 2 5 3 1 1 1 - - - - -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
170 112 74 22 12 224 20 3 117 5 3 1 1 1 - - - - -
615

4.565 Pencari Keadilan

3.185

23 Kasus PMU Berdasarkan Wilayah


20 21
16
14 13 154 Pengaduan
12
9 9
5
3 2 3 2
1 - 1 - - - -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
55 158 9 3 2 3 - 101 - - - -
401 285 180 297 400 454
680 667

6.807 Pencari Keadilan

3.112

14 13 Kasus Sipol Berdasarkan Wilayah


9 10
86 Pengaduan
7 7 6
3 4 4 4
1 1 1 - - - - 1 1 -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
4 11 13 9 4 1 4 1 1 - - - 14 - 1 1 -
111
306 305

1.803 Pencari Keadilan


1.017

a. Jakarta Pusat d. Jakarta Timur g. Bogor


b. Jakarta Selatan e. Jakarta Utara h. Bekasi
c. Jakarta Barat f. Tangerang & Banten i. Depok

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


24
36 Kasus Keluarga Berdasarkan Wilayah
33
27
188 Pengaduan
16 18
14 15
10
7
2 2 3 1 1 1 1 1
- - - -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
2 2 1 1 - 1 1 - - - 1
3
7
10
16 14 15
18
188 Pencari Keadilan
27
33
36

7 Kasus P&A Berdasarkan Wilayah


5 5
4 4 4 4 41 Pengaduan
2 2
1 1 1 1
- - - - - - - -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
5 5 2 8 4 2 4 4 1 - 1 - 1 - - - 1 - - -

191 Pencari Keadilan

153

86
78 79 Kasus Non Struktural Berdasarkan Wilayah
54 532 Pengaduan
46 43
32 26 29
18
9 11 6 6 3 4 2 - - - -
a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u
36 47 21 6 40 4 2 - - - -
91 149 142 54 164
357

5.485 Pencari Keadilan


910
1.128 1.144 1.190

j. Sumatera m. Jawa Timur p. Bali s. Afrika


k. Jawa Barat n. Kalimantan q. Papua t. Amerika
l. Jawa Tengah & DIY o. Sulawesi r. NTT u. Inggris

Redupnya Api Reformasi


25
POSISI KASUS: 49

Inkracht 17

Pengadilan Negeri 21

Pengadilan Tinggi 2

Mahkamah Agung 11

PTUN 2

PT. TUN 1

Pengadilan Militer 2

Mahkamah Konstitusi 5

Kepolisian 5

TRANSFER KASUS: 84

Pengacara Alumni LBH 51

LBH Lain 30

NGO Lain 2

Posbakum 1

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


26
Kepolisian 117

Perusahaan 65

Perorangan 32

Komnas HAM 16

Imigrasi 14

Pengadilan 13

MA 9

Staf Kepresidenan 9

Ombudsman 8

Gubernur 7

Media 7
PENANGANAN KORESPONDENSI: 339
KY 7

Disnaker 6

Rumah Sakit 4

Universitas/ Sekolah 4

Presiden 4

KPAI 4

MK 4

Kementrian 3

Yayasan 2

Komnas Perempuan 1

Kejaksaan Tinggi 1

Kedutaan 1

BKN 1

Redupnya Api Reformasi


27
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
28
Redupnya Api Reformasi
29
Statistik

www.bantuanhukum.or.id

kunjungan perbulan jumlah pengunjung

November
Desember 20.707
25.614
289,493
januari 16.022
februari 16.005 jumlah kunjungan

513,003
maret 23.343
april 42.518
mei 26.089
juni 28.312
juli 16.726 (perempuan) 34.09%
agustus 23.304
september 25.251
oktober 37.428

jenis kelamin
pengunjung
(18-24) 32.70% (25-34) 34.06%

(Laki-laki) 65.91%

usia
pengunjung

(35-44) 16.25% (65+) 2.82%


(45-54) 8.15% (55-64) 6.02%

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


30
DEKLARASI #JakartaKritis

P
emilihan gubernur DKI Jakarta 2017 Jakarta Kritis akan terbuka bagi siapapun
telah selesai namun pertarungan politik yang ingin mengkritisi kebijakan-kebijakan di
tersebut masih saja menyisakan luka. Jakarta. Jakarta Kritis berusaha untuk memecah
Masyarakat Jakarta dituntut untuk berubah ke polarisasi politik yang terjadi hingga saat ini
arah yang lebih baik. Perubahan ini tentu saja dan mengimbau warga Jakarta bersatu untuk
membutuhkan suatu wadah gerakan sosial membangun Jakarta dengan menggunakan
yang transformatif. hak mereka atas kota. Dalam membangun
Kota Jakarta dan mengkritisi kebijakan di
Pada tanggal 21 November 2017 masyarakat Jakarta, masyarakat harus melepas segala
sipil dari berbagai elemen mendeklarasikan bentuk keterkaitan dan ketergantungan
Jakarta Kritis. Jakarta Kritis adalah sebuah terhadap elit-elit politik tertentu. Warga
gerakan yang menjadi wadah bagi warga Jakarta punya daya tawar untuk mengubah
Jakarta yang kritis akan kotanya. Jakarta Kritis sesuatu dan bukan bergantung kepada elit-
Bertujuan menguatkan dan mempersatukan elit politik.
warga untuk mengawal pemenuhan Hak Asasi
Manusia di Jakarta. Hal itu dapat dilakukan Gubernur DKI Jakarta Periode 2017-2022
dengan mengawal program-program kerja sudah menjanjikan pemerintahan yang
serta kebijakan Gubernur-Wakil Gubernur partisipatif. Oleh karena itu masyarakat
DKI Jakarta, atau dengan mengusulkan hal- harus menuntut sebuah partisipasi yang
hal yang perlu diperhatikan oleh pemerintah sejati. Bentuk partisipasi tertinggi bukanlah
DKI Jakarta. Warga yang bergabung dalam kolaborasi melainkan pemberdayaan. Artinya
Jakarta Kritis, harus berkomitmen untuk tidak pemerintah mengetahui apa yang diinginkan
hanya mengawal mengenai hak-hak sipil oleh masyarakat dan berusaha memenuhi
dan politik dengan bingkai toleransi dan kebutuhan tersebut dengan sumber daya
kebhinekaan, tetapi sekaligus juga mengawal pemerintah DKI Jakarta. Dalam partipasi
hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya di mana ini juga pada akhirnya membuka akses
masalah penggusuran dan perampasan ruang pengawasan masyarakat sipil terhadap
masyarakat miskin menjadi masalah yang pemerintah.
menonjol di Jakarta. Selain itu, warga yang
bergabung bukan sebagai tim sukses dari Gerakan ini mengambil nama Jakarta Kritis
masing-masing kedua pasangan calon dan dengan harapan warga yang kritis atas
bukan juga anggota partai politik. Jakarta persoalan-persoalan Jakarta. ketika terjadi
Kritis terbuka untuk seluruh warga Jakarta pelanggaran mereka tetap berani mengkritisi
yang memutuskan tidak memilih dalam pemerintah siapapun Gubernurnya, bukan
Pilkada 2017, maupun memilih tetapi bukan berdasarkan rasa ketidaksukaan melainkan
sebagai simpatisan dari kedua pasangan berdasarkan kekritisan atas pemenuhan hak-
calon. hak masyarakat. []

Redupnya Api Reformasi


31
PERBURUHAN

PEMBUNGKAMAN
GERAKAN Aksi 26 aktivis yang dikriminalisasi. (Foto: LBH Jakarta)

SERIKAT BURUH

S
epanjang tahun 2017 untuk kasus SP Bank Danamon menghadapi proses
perburuhan LBH Jakarta menerima penyidikan karena orasinya yang dianggap
223 pengaduan dengan 4565 pencari mencemarkan nama baik Direktur Utama
keadilan. Dari jumlah tersebut, LBH Jakarta Bank Danamon berdasarkan Pasal 310 dan/
memutuskan untuk menangani 58 kasus atau Pasal 311 KUHP jo Pasal 27 ayat 3 UU ITE.
dengan 7700 pencari keadilan. Penanganan Ketua Serikat Pekerja Lion Air juga ditetapkan
kasus yang dilakukan LBH Jakarta dapat Tersangka dengan jeratan Pasal 310 dan 311
berupa penangnaan langsung maupun KUHP. Selain itu, kasus kriminalisasi 23 orang
pendampingan secara berjalan (ghost lawyer). buruh, 1 mahasiswa, dan 2 pengacara publik
LBH Jakarta menang di tingkat kasasi, yang
Kasus-kasus yang ditangani oleh LBH Jakarta menandakan bahwa mereka bebas dan polisi
memiliki pola pelanggaran diantaranya, terbukti melakukan tindakan represif dalam
pertama, kasus kriminalisasi atas pengurus menghadapi masa yang sedang melakukan
serikat pekerja dan kriminalisasi buruh yang unjuk rasa.
memperjuangkan hak-hak normatifnya. Tahun
ini, pengurus serikat pekerja SBTPI-PUK Daya Kemudian yang kedua terkait pembatasan
Mitra Serasi, SP Bank Danamon, dan Serikat menyampaikan pendapat di muka umum
Pekerja Pilot Lion Air menghadapi proses oleh Polisi yang dialami oleh buruh AMT
peradilan pidana karena sedang melakukan Pertamina saat melakukan aksi long march.
advokasi kepada anggotanya. Pengurus Mereka di hadang saat memasuki wilayah
serikat pekerja FBTPI dijerat Pasal 310 ayat Kabupaten dan Kota Bekasi saat akan menuju
(1) dan Pasal 311 ayat (1) KUHP yang berawal DKI Jakarta.
dari perundingan bipartit. Ketua dan Sekjen

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


32
Kemudian yang ketiga terkait pelanggaran Garmen menjadi Rp2,564 juta.
hak-hak normatif seperti yang dialami
oleh pekerja Trans Jakarta dan kasus Windu Sementara itu, untuk Kota Depok dari UMK
Wahyudi, dkk melawan Hotel Indonesia yang 2017 sebesar Rp3,297 juta, di dalam SK khusus
saat ini sedang masuk dalam tahap pelawanan upah sektor garmen menjadi Rp2,930 juta
di Pengadilan Hubungan Industrial pada dan Kabupaten Bogor UMK-nya yang sebesar
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Rp3,204 juta, Upah Minimum Sektoral Padat
Karya Industri Garmen-nya menjadi Rp2,810
Problem Kebijakan Pasca PP 78 Tahun 2008 juta.
dan Legitimasi Upah Murah
Politik upah murah yang dijalankan lewat
Pasca pemerintah Peraturan Pemerintah No. skema PP Pengupahan 2015, berdampak luas
78 Tahun 2015 (selanjutnya disebut sebagai dan sistematis pada seluruh aspek kehidupan
“PP Pengupahan 2015”) yang menjadi masyarakat buruh. Mulai dari sulitnya akses
dasar kebijakan pemberian upah buruh di kebutuhan sehari-hari, akses tempat tinggal,
Indonesia telah berjalan selama dua tahun akses pendidikan, hingga akses fasilitas
terakhir, secara keseluruhan memberikan kesehatan, mengakibatkan mutu kehidupan
dampak negatif bagi posisi kelompok buruh masyarakat buruh akan terus terjebak pada
dan penghidupan kaum buruh. Hal ini bisa kondisi yang miris.
dilihat dari adanya beberapa problem dalam
PP Pengupahan 2015 tersebut, salah satunya Padahal bila merujuk pada ketentuan UUD
adalah terkait sanksi. Sanksi bagi pengusaha/ NRI 1945 Pasal 27 ayat (2) dan 28D ayat (2)
perusahaan yang melanggar ketentuan PP disebutkan bahwa warga negara Indonesia
Pengupahan 2015 hanya mencakup pada berhak atas pekerjaan, upah, dan penghidupan
sanksi administrasi saja. Hal ini bertentangan yang layak. Selain itu, dalam Kovenan
dengan ketentuan UU No. 13 Tahun 2003 Internasional Mengenai Hak Ekonomi, Sosial,
tentang Ketenagakerjaan, dimana dalam dan Budaya Pasal 7 juga disebutkan bahwa
Undang-undang tersebut diatur juga sanksi seseorang berhak mendapatkan pekerjaan
pidana bagi Pengusaha/Perusahaan yang dan upah yang layak yang tidak bersifat
melanggar ketentuan perundang-undangan. diskriminatif.

Pada Agustus 2017 lalu misalnya, Upah Tidak Kunjung ada Peningkatan atas Kualitas
Minimum Sektoral Padat Karya Industri Pengawas Ketenagakerjaan
Garmen di empat Kota/Kabupaten di Jawa
Barat ditetapkan secara khusus melalui Salah satu wewenang pengawas
Keputusan Gubernur tersendiri untuk masing- ketenagakerjaan adalah melakukan
masing Kota/Kabupaten. Untuk Kota Bekasi, penyidikan jika terdapat pelanggaran yang
dari Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mendapatkan sanksi pidana. Seharusnya
Rp3,601 juta, setelah kesepakatan Upah pembayaran upah di bawah UMP yang
Minimum Sektoral Padat Karya Industri merupakan tindak pidana berdasarkan Pasal
Garmen menjadi Rp3,100 juta, sedangkan 90 jo Pasal 185 ayat 1 UUD 13 Tahun 2003 dapat
Purwakarta dari UMK Rp3,169 juta, Upah disidik oleh pengawas, namun hal tersebut
Minimum Sektoral Padat Karya Industri sangat jarang dilaksanakan. Kemudian terkait
pelanggaran kontrak kerja yang dilakukan

Redupnya Api Reformasi


33
oleh perusahaan, pengawas ketenagakerjaan menjadi langkah terkahir (ultimum remidium)
dapat melakukan tindakan hukum lainnya yang diambil oleh negara saat tidak ada lagi
yang dimandatkan dalam Permen 33 Tahun cara lain untuk di tempuh untuk penyelesain
2016 tentang Pengawas Ketenagakerjaan. masalah hukum. Namun prakteknya,
Namun pada praktiknya, kasus-kasus penjerataan pidana seakan menjadi senjata
pelanggaran norma ketenagakerjaan banyak yang ampuh untuk membungkam rakyat dan
berujung ke Pengadilan Hubungan Industrial sarana mengekang HAM paling efektif. Atas
yang mempersoalkan perselisihan, bukan nama ketertiban umum cara-cara pembubaran
penegakan norma-norma ketenagakerjaan. paksa, represif, dan kekerasan yang dilakukan
Padahal fungsi pengawas ketenagakerjaan oleh aparat dipertontonkan dengan vulgar.
adalah mengawasi dan menegakkan Bahkan perilaku buruk aparat hukum itu pun
pelaksanaan peraturan perundang-undangan masih berlangsung masif hingga saat ini.
di bidang ketenagakerjaan.
Ancaman atas penyampaian pendapat di
Permasalahan pengawas ketenagakerjaan muka umum menjadi tantangan bagi gerakan
bukan hal yang baru, namun pemerintah serikat buruh dan gerakan masyarakat
belum belajar dan mengambil tindakan yang lainnya untuk melawan tirani. Pasal
yang responsif atas ketidakefektifan fungsi 310, 311 KUHP dan jerat Pasal 27 UU ITE
pengawas yang mengakibatkan hak-hak menjadi senjata yang ampuh untuk menekan
pekerja semakin terlanggar. perlawanan. Namun tantangan yang dihadapi
oleh masyarakat sipil harus disikapi dengan
Ancaman Kriminalisasi atas Penyampaian konsolidasi yang lebih kuat, salah satunya
Pendapat di Muka Umum konsolidasi gerakan serikat buruh untuk
menyepakati agenda-agenda besar advokasi
Demonstrasi yang dilakukan oleh buruh yang berdampak pada perubahan sosial.
dalam kasus SP Bank Danamon dan AMT
Pertamina merupakan hak yang melekat Pemberdayaan Serikat Buruh
dan tidak dapat dipisahkan dan salah satu
bentuk menyampaikan pendapat di muka Gerakan Serikat Buruh yang kuat harus
umum. Pembatasan hak untuk menyampaikan didasari dengan pengetahuan dan
pendapat di muka umum hanya dapat kapasitas yang baik terkait permasalahan
dilakukan oleh Undang-Undang, dan yang ketenagakerjaan. Sebagai bentuk partisipasi
diperlukan dalam suatu masyarakat demokratis LBH untuk menguatkan gerakan, LBH Jakarta
untuk kepentingan keamanan nasional dan menyelenggarakan Kalabahu Buruh yang
keselamatan publik, atau ketertiban umum, sudah memasuki tahun ke-4 dengan target
perlindungan terhadap kesehatan atau moral peserta anggota serikat pekerja di tingkat
umum, atau perlindungan atas hak-hak dan pabrik, yang merupakan bentuk pemberdayaan
kebebasan-kebebasan orang lain. dan pemerataan kapasitas anggota serikat
dari lembaga yang paling kecil yaitu di tingkat
Meski menjadi preseden baik dalam penegakan pabrik, demi terciptanya Gerakan Serikat
hukum (baca: vonis bebas) dalam kasus TIgor Buruh yang kuat ke depannya. []
Obed, kasus pemidanaan yang sejatinya
dimulai dari tingkat kepolisian harusnya

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


34
Pemberangusan Serikat Pekerja terhadap
Serikat SBSMI PT. Orson Indonesia

N
ikson Juventus Simalango, dkk (14 orang) di PHK sepihak oleh PT. Orson Indonesia
karena alasan efisiensi. Hal tersebut tertuang dalam Perjanjian Bersama tentang Hasil
Perundingan Bipratit antara Manajemen PT. Orson Indonesia dengan SBAI-FBTPI pada
tanggal 11 Januari 2016 dan telah terdaftar di Pengadilan Jakarta Pusat. Pada tanggal 13 Juni
2016 melalui surat nomor 001/Ext/SP/PK.SBMS PT.OI/VI/2016, Nikson Juventus Simalango, dkk
(14 orang) yang merupakan anggota maupun pengurus dari serikat SBMSI PT. Orson Indonesia
secara itikad baik telah mengirimkan surat pemberitahuaan atas terbentuknya SBMSI kepada
manajemen PT. Orson Indonesia.

Setelah itu, ke-14 (empat belas) orang anggota SBSMI diPHK sepihak dengan berbagai alasan,
diantaranya karena sanksi disiplin dan dipaksa mengundurkan diri. Mengingat PHK yang dilakukan
tidak sah, Nikson Juventus Simalango, dkk (14 orang) melakukan pencatatan perselisihan
hubungan industrial di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Majelis Hakim menghitung masa
kerja sesuai dengan ketentuan Undang-Undang, dikarenakan PT. Orson Indonesia melakukan
pengikatan kontrak berkali-kali di kegiatan inti perusahaan yang bertentangan dengan Pasal 59
Undang-Undang No 13 Tahun 2003.

Selain mengajukan gugatan perselisihan hubungan industrial, mereka juga melaporkan pidana
manajemen PT. Orson Indonesia atas dugaan penghalang-halangan serikat pekerja. Laporan
pidana ini di SP3 (dihentikan) oleh pihak kepolisian. Sedangkan, kasus perdata yang berada di
Pengadilan Hubungan Industrial sedang berada di tahap kasasi. Kasus pemberangusan serikat
pekerja masih menjadi persoalan karena sulitnya pembuktian kasus ini dalam tahap penyidikan.
Selama ini, polisi selalu melakukan SP3 dengan alasan bahwa kasus yang dihadapi pekerja
adalah kasus perdata sehingga tidak terpenuhi unsur pidananya. []

Redupnya Api Reformasi


35
Sidang 26 aktivis yang dikriminalisasi. (Foto: LBH Jakarta)

KRIMINALISASI BURUH:
ANCAMAN TERHADAP PERJUANGAN
SERIKAT PEKERJA

W
ajah penegakan hukum indonesia tentang Pengupahan. Kemudian pada April
kembali menunjukan fitrahnya 2017, Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
setelah Majelis Hakim PN Jakarta mengirimkan penetapan Mahkamah Agung
Pusat, pada hari Selasa 22 November 2016 No 48/Akta.Pid/2016/PN.Jkt.Pst dan Nomor
lalu memutuskan membebaskan Tigor & 49/Akta.Pid/2016/PN.Jkt.Pst. Penetapan yang
Obed (pengabdi bantuan hukum), Hasyim berisi menyatakan bahwa permohonan kasasi
(mahasiswa), dan 23 buruh dari semua jaksa penuntut umum tidak dapat diterima
dakwaan yang diajukan jaksa penuntut umum. karena tidak memenuhi syarat formil kasasi
Mereka ditangkap saat melakukan aksi pada sebagaimana dimaksud dalam pasal 45a
30 Oktober 2015 yang menuntut pembatalan Undang-Undang No 5 Tahun 2004 jo SEMA
Peraturan Pemerintah No. 78 Tahun 2015 No 8 Tahun 2011.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


36
Kriminalisasi: Ancaman terhadap Demokrasi Dalam putusannya, Majelis Hakim dengan
jelas mengatakan bahwa aparat kepolisian
Demonstrasi yang dilakukan oleh buruh seharusnya melakukan penegakan hukum
merupakan hak yang melekat dan tidak bukan malah melakukan tindakan represif
dapat dipisahkan. Melalui demonstrasi, buruh terhadap 26 aktivis. Selain itu, Majelis
memperjuangkan hak-haknya yang dilanggar Hakim menguatkan pembelaan penasehat
oleh pengusaha maupun pemerintah. hukum yang menyatakan kegiatan unjuk
Jaminan perlindungan berserikat dan rasa menyampaikan pendapat di muka
melakukan kegiatan serikat pekerja, -salah umum merupakan bagian dari Hak Asasi
satunya demonstrasi- telah diatur dalam Pasal Manusia (HAM) yang telah dijamin oleh UU
8 Konvensi Ekosob yang telah diratifikasi No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan
dengan UU No 11 Tahun 2005. Demonstrasi Menyampaikan Pendapat di Muka Umum dan
yang merupakan bentuk dari menyampaikan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Hakim
pendapat di muka umum, manisfestasi dari berpendapat unjuk rasa yang dilakukan
hak atas kebebasan berekspresi dijamin oleh 23 buruh dan 1 mahasiswa terbukti
dalam Pasal 28 jo Pasal 28E ayat 2 dan 3 UUD merupakan unjuk rasa damai dan dijamin
1945, Pasal 19 Konvensi Sipol sebagaimana oleh Undang-Undang.
telah diratifikasi oleh Undang-Undang Nomor
12 Tahun 2005, dan Pasal 23 ayat (2), Pasal Ancaman semakin Menyebar
25, dan Pasal 44 Undang-Undang Nomor 39
Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Tidak hanya terhadap kasus Tigor dan Obed,
ancaman kriminalisasi juga dialami oleh
Pembatasan hak untuk menyampaikan buruh AMT Pertamina pada Oktober 2017
pendapat di muka umum hanya dapat yang melakukan long march dan dihadang
dilakukan oleh Undang-Undang, dan yang di Kabupaten Bekasi dengan alasan tidak
diperlukan dalam suatu masyarakat demokratis mendapatkan izin. Padahal Mabes Polri sudah
untuk kepentingan keamanan nasional dan diberikan pemberitahuan aksi, namun peserta
keselamatan publik, atau ketertiban umum, aksi diintimidasi dan diancam akan dipidana
perlindungan terhadap kesehatan atau moral jika bersikukuh melanjutkan aksi long march.
umum, atau perlindungan atas hakhak dan Kemudian ancaman kriminalisasi juga dialami
kebebasan-kebebasan orang lain. oleh Ketua dan Sekjend SP Bank Danamon
yang melakukan orasi dalam aksi demonstrasi
Indonesia memiliki hukum yang secara untuk membela hak-hak anggotanya.
khusus mengatur tata cara menyampaikan
pendapat di muka umum, yaitu UU No 9 Tahun Institusi Kepolisian Republik Indonesia
1998 Tentang Kemerdekaan Menyampaikan seharusnya tidak melihat demonstrasi yang
Pendapat di Muka Umum. Ketentuan peraturan dilakukan buruh sebagai ancaman sehingga
perundangundangan ini telah memberikan harus diperlukan izin. Semangat demonstrasi
pembatasan terhadap tempat dan waktu yang harus dikembalikan pada semangat hak asasi
tidak boleh dijadikan sasaran atau tidak boleh manusia yang dijamin oleh Undang-Undang
berlangsung aksi demonstrasi namun tidak Dasar 1945. []
membatasi waktu pelaksanaan demonstrasi.

Redupnya Api Reformasi


37
Aksi SP Danamon. (Foto: FBTPI)

Kriminalisasi Ketua SP Danamon


Sebagai Jalan Cepat Pemberangusan
Serikat Pekerja

K
etua Serikat Pekerja (SP) Danamon bernama Abdoel Moedjib dilaporkan ke pihak Polda
Metro Jaya karena video orasinya dianggap mencemarkan nama baik Direktur Bank Danamon
tersebar di media sosial. Abdoel Moedjib dilaporkan telah melanggar Pasal 310 KUHP dan/
atau Pasal 311 KUHP dan atau Pasal 27 ayat (3) jo. Pasal 45 Ayat (3) UU Nomor 19 Tahun 2016
tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Laporan dibuat oleh Cahyanto C. Grahana, S.H. yang mewakili Direktur Utama Bank Danamon. Saat
ini status Abdoel Moedjib masih sebagai saksi terlapor.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


38
Kasus ini berawal dari adanya aksi unjuk rasa SP Danamon di Surabaya pada tanggal 9 Maret
2017. Aksi menuntut penyelesaian kasus-kasus yang terjadi di Bank Danamon seperti PHK sepihak,
intimidasi terhadap pengurus dan anggota SP, penghalangan beribadah di lingkungan Bank
Danamon, dan lainnya. Pada saat berada di depan gedung OJK Surabaya, Abdoel Moedjib sebagai
Ketua Serikat melakukan orasi mewakili aspirasi anggotanya. Orasi tersebut tersebar di Fan Page
Facebook dan Youtube SP Danamon sebagai bagian dari dokumentasi kegiatan SP Danamon.
Ternyata ada perkataan yang menyinggung Direktur Bank Danamon dan karena hal itu Abdoel
Moedjib dilaporkan ke polisi. Penyidik Polda Metro Jaya telah memeriksa Abdoel Moedjib dan
beberapa pengurus dan anggota serikat terkait hubungan dan keterlibatan mereka dalam kasus ini.
Pengurus-pengurus yang diperiksa memiliki jabatan penting dalam serikat. Polisi masih mencari
siapa pengunggah video di Fan Page Facebook dan Youtube SP Danamon.

Pelaporan Ketua SP Danamon menggunakan pasal pencemaran nama baik atau fitnah serta UU ITE.
Pelaporan tersebut merupakan usaha pembungkaman daya kritis SP Danamon yang belakangan ini
aktif dan kritis mendampingi pekerja Bank Danamon saat mengalami masalah ketenagakerjaan di
lingkungan Bank Danamon. Hal ini dapat membuat para anggota serikat tidak berani melakukan
kritik ataupun melawan setiap keputusan manajemen Bank Danamon yang merugikan pekerja.
Orasi yang dilakukan oleh Abdoel Moedjib adalah haknya untuk bebas berpendapat dan berekspresi
sebagai Ketua Serikat Pekerja dalam membela dan menyuarakan keluh kesah pekerja-pekerja di
Bank Danamon yang sedang menghadapi berbagai masalah. Hal ini sesuai dengan isi Pasal 310
ayat (3) KUHP yang menyatakan bahwa jika hal tersebut dilakukan untuk kepentingan umum tidak
dapat disebut sebagai pencemaran nama baik.

Pelaporan ini merupakan bentuk intimidasi terhadap SP Danamon dan mengarah ke pemberangusan
serikat atau union busting. Sesuai dengan Pasal 27 UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/
Serikat Buruh, serikat pekerja memiliki kewajiban untuk melindungi dan membela anggotanya dari
pelanggaran hak-hak dan memperjuangkan kepentingannya serta memperjuangkan peningkatan
kesejahteraan anggota dan keluarganya. Hal inilah yang dilakukan SP Danamon dan Abdoel Moedjib
sebagai ketua serikat pada saat melakukan unjuk rasa di Surabaya sebagai rangkaian advokasi
serikat terhadap para anggotanya. Pihak Bank Danamon tidak dapat melakukan penghalangan
terhadap tugas SP Danamon untuk membela anggotanya sebagaimana diatur dalam Pasal 28
UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/ Serikat Buruh. Penghalangan tersebut termasuk
melakukan intimidasi dalam bentuk apapun. Penghalangan dalam kegiatan serikat pekerja memiliki
konsekuensi pidana kejahatan sesuai Pasal 43 UU No. 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/
Serikat Buruh. []

Redupnya Api Reformasi


39
KRIMINALISASI DAN PEMBATASAN
RUANG GERAK SERIKAT BURUH
SEBAGAI ANCAMAN DALAM
KEBEBASAN BEREKSPRESI
“Everyone has the right to freedom of opinion and expression; this right includes freedom to hold
opinions without interference and to seek, receive and impart information and ideas through any
media and regardless of frontiers.” – Universal Declaration of Human Rights Article 19.

K
asus pengekangan terhadap kebebasan umum. Hal-hal di atas juga menimpa para
berekspresi tahun ini makin dirasakan buruh yang mengkritisi kebijakan pengusaha
merajalela. Hal ini terlihat dari maraknya atau sedang melakukan pembelaan diri atas
pelaporan UU ITE dan pasal pencemaran ketidakadilan yang dialami.
nama baik yang terjadi. Pelapor diketahui
adalah pihak-pihak yang memiliki posisi besar Setidaknya di tahun 2017, LBH Jakarta
di masyarakat seperti pejabat pemerintahan menangani tiga kasus terkait pengekangan
dan pengusaha. Kebanyakan korban adalah kebebasan berekspresi. Kasus pencemaran
masyarakat biasa yang melakukan kritik nama baik yang dituduhkan kepada Ketua dan
karena merasakan ketidakadilan dari si Sekjen SBTPI-PUK Daya Mitra Serasi yang saat
pelapor. Selain itu, ada juga kasus pembatasan ini kasusnya sedang di tahap persidangan.
ruang berekspresi dan berpendapat yang Mereka dituduh melakukan pencemara nama
diterima masyarakat sipil saat sedang baik berdasarkan Pasal 310 dan 311 KUHP
melakukan penyampaian pendapat di muka karena melakukan perundingan bipartit.
Kemudian kasus pencemaran nama baik

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


40
berdasarkan Pasal 310 ayat (1) KUHP ayat (1) Hak-hak Sipil dan Politik yang sudah
jo Pasal 27 ayat 3 UU juga dituduhkan kepada diratifikasi dalam UU No. 12 Tahun 2005.
Ketua dan Sekjen Serikat Pekerja Danamon Kebebasan berekspresi meliputi kebebasan
karena melakukan orasi yang dianggap untuk mencari, menerima, dan memberikan
menyinggung Direktur Bank Danamon, dan informasi dan pemikiran apapun baik dalam
kasus pencemaran nama baik berdasarkan bentuk lisan, tulisan, cetakan, karya seni, atau
Pasal 310 dan atau Pasal 311 KUHP dialami media lainnya. Hak ini juga dimiliki oleh para
oleh Ketua Serikat Pekerja Lion Air. buruh.

LBH Jakarta juga mendampingi beberapa unjuk Bentuk kebebasan berekspresi yang dimiliki
rasa yang mendapatkan pembatasan ruang dapat dilihat dalam berbagai kegiatan pokok
berekspresi dan berpendapat. Aksi May Day yang dilakukan oleh serikat buruh. Kita patut
2017 buruh dihalangi untuk menyampaikan curiga bahwa segala bentuk kriminalisasi
aspirasinya di depan Istana Merdeka dan dan pembatasan terhadap kegiatan dan hak
dibatasi hanya sampai patung kuda Indosat. berekspresi serikat buruh adalah bentuk nyata
Hal ini adalah sebuah kemunduran setelah dari pemberangusan serikat yang dilakukan
bertahun-tahun buruh dapat melakukan oleh rezim pemerintahan Jokowi yang
aksinya di depan Istana. Pembatasan aksi juga antikritik. Tidak ada yang bisa menghalang-
terjadi pada Long March Jakarta-Bandung halangi atau memaksa buruh untuk tidak
buruh Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina berserikat dan melakukan kewajibannya
tanggal 13-20 Oktober 2017 sebagai protes sebagai serikat buruh. Jika itu terjadi, ada
atas PHK ilegal 1.095 AMT Pertamina dan pasal pemidanaan yang dapat digunakan
berbagai kasus ketenagakerjaan yang yaitu Pasal 43 UU No 21 Tahun 2000 tentang
menimpa mereka. Mereka dihadang oleh Serikat Pekerja/ Serikat Buruh.
kepolisian saat melintasi Kabupaten Bekasi
dan ditahan oleh Kepolisian Resort Bekasi Namun kembali lagi, hal tersebut akan sulit
karena tidak adanya Surat Tanda Terima dikejar karena polisi pun sulit menerima
Pemberitahuan (STTP) aksi long march. pengaduan terkait pidana perburuhan.
Hal ini membuat peserta long march harus Maka dari itu, diperlukan sebuah solidaritas
mengurangi jumlah peserta dari lima puluh yang sangat kuat antar serikat buruh dan
menjadi sepuluh orang, mengubah rute aksi, masyarakat sipil lainnya untuk melawan
dan menanggalkan atribut long march. rezim antikritik yang mengekang kebebasan
berekspresi dan berpendapat dengan bentuk
Pada dasarnya, kebebasan berekspresi kriminalisasi dan pembatasan ruang gerak.
dan berpendapat adalah hak yang dimiliki Perluasan dukungan ke akademisi, kaum muda,
setiap orang untuk menyatakan atau dan jaringan masyarakat sipil lainnya sangat
mengekspresikan pendapatnya atau informasi dibutuhkan untuk memperkuat gerakan dan
melalui media apapun tanpa melihat latar dorongan isu ke stakeholder terkait seperti
belakang orang tersebut dan tanpa adanya pengusaha dan pemerintah. Gerakan buruh
intimidasi dalam bentuk apapun. Hak ini harus bangkit dan makin militan dalam
diatur dalam Deklarasi Universal Hak Asasi melawan rezim antikritik ini untuk menjamin
Manusia, UUD 1945, UU Hak Asasi Manusia pemenuhan hak atas kebebasan berekspresi
No. 39 Tahun 1999, dan Kovenan Internasional yang dijamin oleh konstitusi. []

Redupnya Api Reformasi


41
Perundingan Bipartit Berujung
Kriminalisasi

S
dan Y, pengurus Serikat Buruh Transportasi Pelabuhan Indonesia PUK PT. Damira
dikriminalisasi oleh pihak Perusahaan PT. Damira lantaran melakukan perundingan bipartit
dengan manajemen. Mereka dipaksa menyebutkan salah satu nama atasannya yang di duga
melakukan kecurangan dalam pekerjaan dan hal tersebut menyebabkan mereka dibawa ke meja
hijau.

Kasus ini ditangani oleh LBH Jakarta pada saat pelimpahan perkara dari pihak kepolisian kepada
kejaksaan (penyerahan tahap 2), setelah berkas dinyatakan lengkap (P21) dan hingga saat ini sedang
menjalani proses persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Apa yang terjadi terhadap S dan Y
merupakan bentuk kriminalisasi buruh karena dalam kasus ini, S dan Y merupakan pengurus serikat
pekerja PUK Damira, sebagai ketua dan sekretaris yang baru saja membentuk dan mencatatkan
serikat pekerja di Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Utara.

S dan Y saat ini menjadi terdakwa atas tuduhan Pencemaran nama baik di muka umum dan
penistaan, pasal 310 dan 311 KUHP. Apabila dicermati perundingan bipartit bukanlah perundingan
yang ditujukan untuk umum dan hanya dihadiri oleh pihak manajemen dan pihak pekerja, sehingga
kasus ini sangatlah tidak layak untuk naik ke meja hijau. Buruh dalam melakukan perjuangan
terkadang mengalami serangan balik dari pihak perusahaan yang dapat berupa upaya kriminalisasi
terhadap pengurus serikat pekerja untuk tujuan memberangus serikat. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


42
FENOMENA
TRANSPORTASI
ONLINE,
BERKEDOK
PERJANJIAN
KEMITRAAN
MINIM
PERLINDUNGAN
Aksi driver ojek

T
online menuntut
ransportasi di Indonesia kini berkembang begitu pesat dengan tidak diimbangi regulasi regulasi. (Foto: LBH
semakin innovative dan canggih dengan yang memadai, akan menciptakan sebuah Jakarta)
menggunakan perkembangan teknologi kekosongan hukum. Kekosongan hukum
sehingga makin diminati masyarakat. Salah menjadikan wilayah pengaturan transportasi
satu bukti perkembangan tersebut adalah online sebagai wild frontier. Kekosongan
dengan hadirnya transportasi online baik hukum inilah yang akhirnya dimanfaatkan
berupa ojek online maupun taksi online, yang perusahaan aplikasi transportasi ojek online
menawarkan kemudahan dan biaya murah untuk mengambil keuntungan. Lebih jauh
bagi konsumennya. lagi perusahaan aplikasi transportasi online
tidak saja mengambil keuntungan dari
Namun, hingga kini belum ada satu pun pengguna layanan tetapi juga dari pengemudi
regulasi yang mengatur khusus tentang transportasi ojek maupun taksi online yang
ojek online dan turunannya. Seperti jaminan dianggap “mitra”.
kecelakaan kerja, standar perlindungan bagi
pengemudi dan konsumen, dan juga standar Beberapa pengemudi transportasi online
tarif untuk mengurangi adanya eksploitasi diantaranya tidak diberikan salinan perjanjian
pengemudi. Di Indonesia, baru Peraturan kemitraan, diharuskan menandatangani
Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2017 perjanjian tanpa diberikan waktu yang cukup
tentang Transportasi online tidak dalam untuk dapat mempelajari isi perjanjian,
trayek yang mengatur mengenai taksi online terdapat perbedaan isi perjanjian dengan
itupun tidak banyak mengatur ojek online. promosi, tidak diberikan kesempatan
Saat ini pun, peraturan menteri tersebut yang sama dalam merumuskan tariff dan
sudah dibatalkan oleh Mahkamah Agung. mekanisme complain, serta pemutusan akun
secara sepihak. Berdasarkan pengamatan
Perkembangan teknologi transportasi yang LBH Jakarta di lapangan, terdapat perjanjian

Redupnya Api Reformasi


43
kemitraan yang lebih menguntungkan pihak Hal ini sejalan dengan Pasal 1338 KUH
perusahaan aplikasi online dibandingkan Perdata, tentang asas kebebasan berkontrak.
dengan si mitra. Asas kebebasan berkontrak dan kesetaraan
juga terdapat di dalam PP Nomor 44 Tahun
LBH Jakarta selama ini telah mendampingi 1997 tentang Kemitraan di dalam Pasal 26
berbagai komunitas pengemudi online yakni ayat (4) yang menyebutkan “dalam melakukan
diantaranya pengemudi Go-Jek, Uber motor, hubungan kemitraan kedua belah pihak
serta Grab Car yang sebelumnya datang mempunyai kedudukan hukum yang setara”.
ke LBH Jakarta untuk mencari keadilan.
Adapun keluhan dari pengemudi transportasi Hal ini yang sering diabaikan oleh mitra ketika
online tersebut pada dasarnya sama, yakni hendak menandatangani suatu perjanjian
tidak adanya kesetaraan dalam hubungan dengan perusahaan transportasi online.
kemitraan, akun yang diblokir secara sepihak Akibatnya jika ada permasalahan hukum,
tanpa mekanisme yang baik, dan persoalan belum ada mekanisme yang baik untuk
tarif. mengakomodasi kepentingan para mitra
yang dirugikan. Selain dari segi perjanjian
Dalam penanganan kasusnya, LBH Jakarta yang tidak adil, para mitra ini pun di wajibkan
pada Februari 2017 yang lalu mendampingi untuk bekerja memenuhi target perusahaan.
salah satu Driver Go-Jek melaporkan kasus Apabila tidak memenuhi target maka para
dugaan penggelapan dalam jabatan (374 mitra dapat diberhentikan akunnya secara
KUHP) ke Polda Metro Jaya yang dilakukan sepihak.
oleh manajemen Go-Jek, karena memutus
sepihak akun Driver yang mana di dalam Hubungan kemitraan yang terjadi sedikit
akun tersebut terdapat sejumlah uang hasil persinggungan dengan salah satu unsur
pencariannya. perjanjian kerja, yakni adanya unsur
pekerjaan, dimana mitra dituntut untuk
Selain itu, LBH Jakarta juga terlibat dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan target
melakukan pemberdayaan terhadap yang ditetapkan sepihak oleh perusahaan
komunitas pengemudi transportasi online transportasi online. Namun, diskursus akan
yakni Go-Jek dan Uber motor, dalam hal perluasan definisi mitra menjadi perjanjian
memberikan diskusi akan hubungan kemitraan kerja masih perlu dilakukan. Khususnya
dan mengadakan diskusi publik mengenai terhadap 2 (dua) unsur hubungan kerja
transportasi online pada September 2017 yang lain, yaitu adanya upah dan perintah.
dengan menghadirkan Yayasan Lembaga Sehingga kelak ketimpangan hubungan
Konsumen Indonesia (YLKI), Kepala Bidang dalam kemitraan transportasi online dapat
Angkutan orang Kementerian Perhubungan diakomodasi oleh peraturan perundang-
RI, serta pengamat Transportasi Online. undangan di bidang ketenagakerjaan dan
seluruh mekanisme perlindungan yang
Secara hukum positif, jika seseorang telah diberikan. Namun jika tidak memungkinkan,
mengikatkan diri ke dalam suatu perjanjian pemerintah dapat mengeluarkan peraturan
dengan orang atau pihak lain, maka perjanjian khusus yang melindungi pengemudi dan
tersebut merupakan undang-undang bagi penumpang. []
para pihak yang mengikatkan diri tersebut.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


44
Aksi buruh menuntut revisi penetapan upah
minimum di Jakarta. (Foto: LBH Jakarta)

PROBLEMA BESARAN UPAH BURUH


PASCA PENERBITAN PP NO. 78
TAHUN 2015 TENTANG PENGUPAHAN

P
eraturan Pemerintah No. 78 Tahun merupakan bagian dari ongkos produksi.
2015 (selanjutnya disebut sebagai Untuk memaksimalisasi dan menyerap profit
“PP Pengupahan”) yang menjadi dasar bisnis yang lebih banyak, maka hal yang mesti
kebijakan pemberian upah buruh di Indonesia dilakukan oleh para pelaku usaha adalah
telah berjalan selama dua tahun terakhir, menekan ongkos produksi, yang salah satunya
namun memberikan dampak negatif bagi adalah memangkas standar upah minimum
posisi kelompok buruh dan penghidupan kaum buruh.
buruh. Diundangkannya PP Pengupahan 2015
ditujukan untuk menekan harga upah bagi Akibatnya, buruh tidak dapat meningkatkan
buruh, untuk memaksimalisasi sirkuit kerja kualitas hidupnya secara layak karena
alat produksi dan menyerap investasi bisnis upah buruh selalu berada di kisaran garis
lebih banyak. Hal ini tidak terlepas dari cara standar minimal. Ini bisa dilihat dari masih
pandang para pelaku usaha, bila upah buruh diteruskannya program sektoralisasi upah

Redupnya Api Reformasi


45
berdasarkan Pasal 49 dan Pasal 50 PP Penetapan upah sektoral bertentangan
Pengupahan yang merupakan agenda negatif dengan PP Pengupahan 2015 yang
kelanjutan dari Undang-undang No. 13 Tahun menentukan bahwa Upah Sektoral harus
2003 tentang Ketenagakerjaan. Sektoralisasi lebih besar dari UMK ataupun UMP. Namun
upah buruh terus menerus membuat aturan tersebut tidak ditegaskan melalui
ketimpangan ekonomi di kalangan buruh. pemberian sanksi pidana bagi pelaku usaha
yang menetapkan upah minimum sektoral
Naasnya, beberapa kebijakan penetapan upah dibawah UMK ataupun UMP atau sanksi
minimum buruh sektoral sama sekali tidak administrasi lainnya yang cukup efektif
mengacu pada ketentuan yang ditetapkan membuat Pengusaha jera.
oleh Pasal 49 dan Pasal 50 PP Pengupahan.
Beberapa penetapannya, justru hanya Inilah yang mengakibatkan harga upah buruh
didasarkan pada kesepakatan antara Asosiasi terus jatuh ke titik yang rendah di beberapa
Pengusaha Indonesia, Perwakilan Serikat sektor ketenagakerjaan. Hal ini disebabkan
Buruh, dan Pihak Pemerintah (baik dari peran Pemerintah yang minim dalam
Pemerintah Provinsi atau Kota/Kabupaten menegakkan sanksi –terutama sanksi pidana-
maupun Dinas Tenaga Kerja setempat), bagi pelaku usaha yang melanggar ketentuan
dimana aspirasi yang diserap didominasi dari pengupahan bagi kaum buruh. Akibatnya,
kalangan Pengusaha, tidak dari Serikat Buruh. kualitas hidup kaum buruh tidak mengalami
peningkatan yang positif.
Pada Agustus 2017 lalu misalnya, Upah
Minimum Sektoral Padat Karya Industri LBH Jakarta bersama dengan Serikat Pekerja,
Garmen di empat Kota/Kabupaten di Jawa diantaranya KSPI, KPBI, dan KSPSI melakukan
Barat ditetapkan secara khusus melalui perlawanan melalui aksi di depan istana
Keputusan Gubernur tersendiri untuk masing- atas pengesahan PP Pengupahan pada 30
masing Kota/Kabupaten.2 Untuk Kota Bekasi, Oktober 2015. Akibat aksi tersebut, 23 buruh,
dari Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) 1 mahasiswa, dan 2 pengacara publik LBH
Rp3,601 juta, setelah kesepakatan Upah Jakarta ditangkap dan diadili karena dianggap
Minimum Sektoral Padat Karya Industri melakukan tindak pidana Pasal Pasal 216
Garmen menjadi Rp3,100 juta, sedangkan dan 218 KUHP. Mereka di putus bebas dan
Purwakarta dari UMK Rp3,169 juta, Upah polisi dinyatakan melakukan pelanggaran
Minimum Sektoral Padat Karya Industri hak asasi manusia karena bertindak represif
Garmen menjadi Rp2,564 juta. terhadap masa aksi demonstrasi. Hingga
akhir tahun 2017, berbagai aksi-aksi buruh
Sementara itu, untuk Kota Depok dari UMK terkait penolakan PP Pengupahan selalu
2017 sebesar Rp3,297 juta, di dalam SK khusus diikuti LBH Jakarta secara penuh, misalnya
upah sektor garmen menjadi Rp2,930 juta aksi May Day 2017, aksi-aksi diselenggarakan
dan Kabupaten Bogor UMK-nya yang sebesar GEBRAK (Gerakan Buruh untuk Rakyat), GEMA
Rp3,204 juta, Upah Minimum Sektoral Padat DEMOKRASI, dan aksi aliansi-aliansi lainnya.
Karya Industri Garmen-nya menjadi Rp2,810 []
juta.
2
Lebih lanjut, lihat pada: http://industri.bisnis.
com/read/20170804/257/677993/khusus-garmen-jabar-
tetapkan-4-besaran-upah

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


46
PHK 16 Buruh PT. Orson Indonesia

E
mpat belas (14) Buruh PT. Orson Indonesia di PHK secara sepihak oleh perusahaan. Tiga
belas (13) Buruh diantaranya di-PHK pada tahap pertama dengan alasan efisiensi, dan 1
Buruh lainnya di PHK dengan alasan telah melanggar ketentuan perusahaan. Nahas, 2 Buruh
dianggap melanggar ketentuan perusahaan dan diberi SP-3 hanya karena melapor dan menghadap
Direktur Perusahaan secara langsung. Sedangkan 1 Buruh tersebut dianggap mangkir kerja –
padahal sedang sakit-, yang mengakibatkan langsung di PHK oleh perusahaan.

Setelah mengajukan gugatan di Pengadilan Hubungan Industrial di Pengadilan Negeri Jakarta dan
melalui proses persidangan, akhirnya ke 14 buruh PT. Orson Indonesia mendapatkan hak pesangonnya
atas PHK tersebut. Namun, 4 buruh melanjutkan kasusnya ke tingkat kasasi di Mahkamah Agung
dan hingga kini masih menunggu hasil putusan kasasi tersebut.

Pembelajaran yang didapat dari advokasi kasus PHK 14 buruh PT. Orson Indonesia ini adalah bahwa
pada dasarnya PHK tidak bisa dilakukan dengan alasan efesiensi tanpa melakukan penutupan
perusahaan secara permanen. Hal tersebut diatur pada Pasal 163 ayat 3 UU Ketenagakerjaan dan
Putusan MK Nomor 19/PUU-IX/2011. Selain itu, Perusahaan pun tidak bisa menerbitkan SP-3
langsung tanpa didahului dengan peringatan pertama (dimana ketentuan ini diatur pada Pasal 161
ayat 1 UU Ketenagakerjaan). []

Redupnya Api Reformasi


47
Aksi eks-PNS Pegadaian menuntut hak
pensiunnya. (Foto: LBH Jakarta)

GAGAL MEMAHAMI KEBIJAKAN


PEMERINTAH YANG MENGATUR
PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN

P
engawasan ketenagakerjaan memiliki statusnya akan beralih ke provinsi.3Hal ini
mandat untuk memastikan pelaksanaan karena urusan pengawasan ketenagakerjaan
peraturan perundang-undangan di merupakan urusan wajib dan bersifat
bidang ketenagakerjaan di unit tersendiri yang konkuren antara Pemerintah Pusat dan
berada di institusi yang bertanggung jawab Pemerintah Daerah Provinsi.
di bidang ketenagakerjaan. Berdasarkan Pasal
178 ayat (1) UU 13 Tahun 2003, pengawas Namun dalam Pengesahan ILO Convention
ketenagakerjaan berada di tingkat pemerintah No. 81 yang sudah disahkan dengan
pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah Undang-Undang No. 21 tahun 2003
kabupaten/kota. Namun pasca berlakunya tentang Pengawasan Ketenagakerjaan,
Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 tentang pengawasan ketenagakerjaan harus berada
Pemerintahan Daerah mengakibatkan semua di bawah supervisi dan kontrol pemerintah
fungsi pengawasan ketenagakerjaan yang ada 3
Lampiran G Pembagian Urusan Pemerintah
di setiap kabupaten/kota seluruh Indonesia, Urusan Pemerintahan Bidang Tenaga Kerja Nomor 4 Sub
Bidang Pengawasan Ketenagakerjaan Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


48
pusat yang artinya fungsi pengawasan ketenagakerjaan baik provinsi dan kota.
ketenagakerjaan berada pada pemerintahan Dari laporan tersebut hanya 3 laporan yang
pusat. Jika merujuk pada asas hukum “lex ditanggapi oleh pengawas ketenagakerjaan,
specialis derogat legi generali“, seharusnya isinya rata-rata akan menindaklanjuti
yang menjadi pedoman pemerintah dalam laporan tersebut dan akan menginformasikan
rangka pembentukan unit pengawasan perkembangannya kemudian. Namun
ketenagakerjaan adalah Undang-Undang pada faktanya setelah respon atas tindak
No. 21 tahun 2003. Pembentukan instansi di lanjut pengawasan tersebut, LBH Jakarta
daerah sebenarnya dilakukan dalam rangka tidak pernah lagi mendapat informasi
pengawasan berjenjang dari instansi yang perkembangan laporan.
lebih kecil ruang lingkup kerjanya sampai
nasional sehingga ada mekanisme check and LBH Jakarta dalam mengadukan laporan
balances antar lembaga untuk menghindari pelanggaran norma ketenagakerjaan,
penyalahgunaan kekuasaan sebagai unit selalu ditujukan ke Pengawas Tingkat Kota,
pengawasan tunggal. Jika pun pemerintah Provinsi, dan Kementerian. Beberapa kali
ingin menarik fungsi pengawasan ke tingkat surat pengaduan yang dikirim ke tingkat
provinsi, maka cukup koordinasinya, bukan kota dikembalikan ke LBH dengan alasan
seluruh staff dan infrastruktur yang ikut “pengawas ketenagakerjaan telah pindah ke
dijauhkan dari jangkauan pekerja atau buruh. tingkat provinsi”. Jika penolakan tersebut
dialami oleh buruh yang minim akses
Dengan ditariknya unit pengawas informasi dan biaya, tentu pemindahan lokasi
ketenagakerjaan ke provinsi dengan alasan pengawas ketenagakerjaan menghambat
pengawasan ketenagakerjaan di tingkat mereka untuk meminta perlindungan atas
kota seringkali tidak berjalan optimal pelanggaran norma ketenagakerjaan yang
karena sering dipengaruhi oleh kepentingan dilakukan pengusaha.
praktis, menarik investasi dan kepentingan
memperoleh pendapat asli daerah, anggaran Ditariknya pengawasan ketenagakerjaan
dan penempatan pegawai tidak sesuai secara institusi ke tingkat provinsi
kompetensinya serta sarana dan prasarana menunjukkan tidak adanya political will
pengawasan ketenagakerjaan tidak tersedia4 dari negara menjamin akses keadilan bagi
adalah tindakan yang gagal mencari solusi kaum buruh yang acapkali tidak sejajar
atas permasalahan yang timbul. posisinya dalam pengambilan keputusan
dalam hubungan kerja. Dalam dunia kerja,
Berdasarkan Catatan akhir tahun (Catahu) LBH pengawasan ketenagakerjaan adalah
Jakarta tahun 2017, ada sekitar 33 surat berisi instrumen penting dari kehadiran negara dan
laporan5 yang dilayangkan kepada pengawas intervensi untuk merancang, merangsang, dan
4
Pernyataan Menteri Tenaga Kerja, Hanif Dhakiri
berkontribusi kepada pembangunan budaya
yang dimuat di http://www.hukumonline.com/berita/baca/ pencegahan dan penindakan yang mencakup
lt550fc5bd931d7/pengawas-ketenagakerjaan-setelah-uu- semua aspek yang secara potensial berada di
pemda-baru
5
Catatan akhir tahun (Catahu) LBH Jakarta tahun bawah pengawasannya. []
2017 : 6 laporan berkaitan dengan Upah, BPJS, Status
Hubungan Kerja dan 29 laporan lainnya berkaitan dengan
Tunjangan Hari Raya (THR). Dari 29 laporan ke Pengawasan
Ketenagakerjaan di beberapa Provinsi di Indonesia berkaitan dengan THR hanya 2 laporan yang ditanggapi itu
pun dari Pengawas Ketenagakerjaan Prov. DKI Jakarta.

Redupnya Api Reformasi


49
Mendampingi Pekerja Transjakarta,
Penanganan Kasus untuk menjadi
Karyawan Tetap

L
BH Jakarta sejak Juli 2016 mendampingi para Pekerja Transjakarta yang sudah di PHK maupun
masih bekerja sebagai karyawan kontrak untuk dapat bekerja kembali sebagai Karyawan
Tetap. Sebelumnya, pada akhir J­­­­uni 2016 lalu sebanyak 150 (seratus lima puluh) orang pekerja
Transjakarta yang bertugas sebagai on board (pelayanan bus), pencatat odometer hingga back
offices, tidak dilakukan perpanjangan kontraknya oleh manajemen PT. Transportasi Jakarta dengan
alasan “kontrak kerja habis” dan di putus kontraknya tanpa pesangon.

Para Pekerja yang sudah di PHK ini mengalami pelanggaran kontrak, diantaranya mereka dikontrak
berkali-kali dalam satu tahun. Hal tersebut bertentangan dengan ketentuan Pasal 59 Undang-
Undang 13 Tahun 2003. Mereka akhirnya mengadu ke LBH Jakarta dan hingga kini sebanyak 13
dari 150 orang yang telah di PHK tersebut sedang menggugat PT Transportasi Jakarta di Pengadilan
Hubungan Industrial pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Sedangkan ribuan pekerja Transportasi Jakarta yang masih aktif bekerja sebagai pekerja kontrak
mulai melakukan aksi mogok kerja serentak, hingga akhirnya mereka dapat membentuk Serikat
Pekerja Transportasi Jakarta. Serikat Pekerja Transjakarta kini sudah diakui legalitasnya sebagai
Serikat Pekerja oleh Suku Dinas Tenaga Kerja Jakarta Timur. Selain itu, sebanyak 4.316 Pekerja
Transportasi Jakarta akhirnya diangkat sebagai karyawan tetap setelah terbentuknya Serikat Pekerja
Transjakarta. Dalam kasus ini, kita dapat melihat bahwa gerakan dari pekerja menjadi faktor utama
dalam keberhasilan untuk mencapai hak-hak normatif sebagaimana yang diatur dalam Undang-
Undang nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


50
Redupnya Api Reformasi
51
PERKOTAAN & MASYARAKAT URBAN

ATAS NAMA PEMBANGUNAN,


HAM DIABAIKAN

T
ahun ini LBH Jakarta menangani lebih Salah satu masalah hak atas tanah adalah
lanjut 30 kasus pelanggaran HAM di reklamasi yang masih terus bergulir. Gugatan
bidang perkotaan dan masyarakat urban masih bergulir di pengadilan meskipun
dengan total pencari keadilan mencapai diintervensi oleh penyuapan ratusan juta
5.031 orang. Dari jumlah tersebut, LBH Jakarta rupiah. Mahkamah Agung (MA) sudah
menangani lebih lanjut 13 hak atas tanah memutus perkara Pulau G yang menempatkan
dan tempat tinggal, 2 kasus hak atas usaha nelayan dan lingkungan di sisi yang kalah.
dan ekonomi, 6 hak atas kesehatan, 2 kasus Ada perbedaan pendapat (dissenting) antar
lingkungan, 5 kasus pendidikan, dan 2 kasus majelis dan seharusnya perbedaan pendapat
pelayanan publik. Melihat keseluruhan kasus tersebutlah yang menjadi isi putusan dari MA.
tersebut, hak atas tanah dan tempat tinggal Sedangkan untuk gugatan Pulau F, I, dan K
masih terus mendominasi dan merupakan masih dalam proses kasasi karena ternyata
kasus dengan jumlah pencari keadilan seluruh gugatan yang menang di tingkat
terbesar. Berikut beberapa gambaran kasus pertama harus dijungkir balikkan oleh majelis
atau pelanggaran di bidang perkotaan dan hakim tingkat banding.
masyarakat urban.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


52
Reklamasi bukan satu-satunya permasalahan Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan
di pesisir. Nelayan Pulau Pari yang Karakter. Pada kasus lain mahasiswa Untag
mengusahakan pantai untuk kesejahteraan yang sudah menang di tingkat MA masih
masyarakat pesisir juga terancam harus menunggu untuk masuk kuliah.
penghidupannya. Salah seorang warga
dikriminalisasi dengan pasal penyerobotan Pada aspek hak atas kesehatan, malapraktek
tanah dan 4 (empat) orang yang mengelola terhadap masyarakat yang menjadi pasien
pesisir dimasukkan ke penjara karena rumah sakit terus terjadi. LBH Jakarta
dianggap melakukan pungutan liar. Padahal, mendapati bahwa sistem penanganan perkara
masyarakat setempat berhak untuk mengelola di Majelis Disiplin Kedokteran Indonesia
pesisir.6 sangat tertutup, tidak ada kerangka waktu
yang jelas, sehingga tidak dapat menjamin
Permasalahan soal hak atas tanah juga hak-hak korban malapraktek. Dibutuhkan
dialami petani di Kendeng Jawa Tengah. pembaruan sistem pada MKDKI yang masih
Petani Kendeng yang menolak pembangunan berat sebelah, condong kepada perlindungan
pabrik semen masih terus mencari keadilan. dokter daripada korban.
Meskipun telah menang di tingkat
peninjauan kembali namun Gubernur Jawa Pada kasus pelanggaran hak atas air
Tengah melakukan pembangkangan hukum terjadi kejutan dalam kasus gugatan
dengan tidak menghentikan pembangunan warga negara tentang pengelolaan air di
pabrik semen. Para petani tidak tinggal diam Jakarta. Mahkamah Agung (MA) akhirnya
dan melakukan aksi massa berupa semen memenangkan warga Jakarta yang menjadi
kaki di depan Istana Presiden. Meskipun Yu korban buruknya pengelolaan air Jakarta,
Patmi meninggal dunia namun sikap para dengan memerintahkan Gubernur DKI Jakarta
pengambil kebijakan yang harus tunduk pada untuk menghentikan kebijakan swastanisasi
hukum belum juga berubah. Di sisi lain, ada air minum di Provinsi DKI Jakarta. Pemerintah
kabar baik dari petani Teluk Jambe yang pada Provinsi DKI Jakarta tidak seharusnya
akhirnya mendapatkan solusi dari pemerintah. mengajukan upaya hukum peninjauan
Setelah melakukan aksi unjuk rasa yang kembali dan segera melaksanakan keputusan
tergolong ekstrim yaitu berupa mengubur diri tersebut. Meskipun Sandiaga Uno pernah
di depan Istana Presiden, mereka akhirnya tercatat sebagai pemilik saham Aetra, tidak
dapat mengusahakan tanah dengan skema boleh ada benturan kepentingan.
perhutanan sosial.
Di sektor transportasi para pengendara roda
Pelanggaran HAM di bidang perkotaan dan dua di Jakarta merayakan kemenangan atas
masyarakat urban selain hak atas tanah salah ditundanya kebijakan pembatasan sepeda
satunya hak atas pendidikan. LBH Jakarta motor di Jalan Sudirman dan Jalan H.R. Rasuna
bersama aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Said. Belum sempat para bikers melakukan
melakukan penolakan atas aturan full day aksi-aksi massa namun pemerintah melalui
school. Hasilnya aturan tersebut dicabut dan Dinas Perhubungan sudah terlebih dahulu
diganti dengan Peraturan Presiden Nomor 87 mengurungkan rencana tersebut. Rencana
6
Lihat Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 kebijakan pembatasan kendaraan roda dua
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, sudah selayaknya dibatalkan karena bias
terutama Pasal 4.

Redupnya Api Reformasi


53
kelas sementara transportasi umum belum
siap untuk mengakomodasi kebutuhan warga
Jakarta.

Kasus terakhir, terjadi impunitas oleh pihak


Kepolisian dalam proses hukum pengeroyokan
Alldo Fellix Januardy saat penggusuran Bukit
Duri awal tahun 2016 yang lalu. Meskipun para
pelaku sudah jelas terlihat dalam foto yang
tersebar di media massa, namun Kepolisian
tetap saja memaksakan untuk melakukan
penghentian penyidikan (SP3) atas laporan
polisi yang dibuat LBH Jakarta. Penghentian
penyidikan ini membahayakan para pembela
hak asasi manusia dan harus diajukan upaya
hukum.

Kembali ke permasalahan besar di Jakarta


tentang hak atas tempat tinggal, meskipun
Anies-Sandi sudah dilantik, belum ada
perubahan yang signifikan dalam perbaikan
dan pemulihan hak para korban reklamasi,
komersialisasi pulau, dan pengelolaan air
Jakarta yang buruk. Sudah ada langkah-
langkah awal untuk pemenuhan hak-hak
korban penggusuran paksa seperti Kampung
Akuarium dan Bukit Duri, namun tentunya hal
tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih
lanjut. Anies-Sandi juga harus siap untuk
melakukan membenahi pengelolaan air di
Jakarta yang buruk dengan melaksanakan
putusan MA. Ada banyak hal yang harus
dilakukan Anies-Sandi sesuai janji-janji
kampanyenya untuk mengubah langgam
pembangunan di Jakarta agar tak selalu
mengorbankan rakyat kecil. Kita semua
menantikan angin perubahan itu. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


54
Kebijakan Pelarangan Motor:
Diskriminasi Pengguna Roda Dua

P
ada bulan September 2017, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana untuk
mengeluarkan kebijakan pelarangan sepeda motor di beberapa ruas jalan ibukota, yakni ruas
jalan Sudirman sampai dengan Bunderan Senayan. Alasan Pemprov DKI Jakarta berencana
mengeluarkan kebijakan tersebut karena Pemprov DKI Jakarta menganggap pengguna sepeda
motor merupakan penyebab kemacetan di Jakarta dewasa ini.

Terkait dengan rencana dikeluarkannya kebijakan larangan penggunaan sepeda motor tersebut,
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta bersama dengan jaringan komunitas pengguna sepeda
motor di Jakarta mengadakan konferensi pers guna menolak kebijakan yang diskriminatif tersebut.
Setelah adanya konferensi pers dan penolakan dari berbagai kalangan masyarakat sipil yang
menaruh perhatian atas isu larangan sepeda motor, Pemprov DKI Jakara mengurungkan niatnya
untuk meneruskan kebijakan larangan sepeda motor di beberapa ruas jalan di DKI Jakarta.

Kebijakan pelarangan sepeda motor ini merupakan kebijakan yang syarat diskriminasi. Pasalnya
pelarangan penggunaan sepeda motor ini timbul dari pernyataan Pemprov DKI Jakarta yang pada
intinya mengatakan penyebab kemacetan di DKI Jakarta ialah para pengguna kendaraan pribadi.
Namun demikian, kebijakan larangan penggunaan kendaraan pribadi hanya menyasar pada sepeda
motor saja namun tidak kepada pengguna mobil. []

Redupnya Api Reformasi


55
KEMENANGAN RAKYAT JAKARTA:
PRIVATISASI AIR DIBATALKAN

G
Tahun 2017 menjadi tahun kemenangan bagi ugatan warga negara terhadap hak atas
masyarakat Jakarta. Pasalnya pada tahun ini, air ini awalnya bermula dari kebijakan
tepatnya tanggal 10 Oktober 2017, Mahkamah swastanisasi air di Jakarta pada era
Agung Republik Indonesia mengabulkan pemerintahan Soeharto. Melalui kebijakan
permohonan kasasi yang diajukan oleh swastanisasi air ini, pengelolaan air di Jakarta
Nurhidayah, dkk dalam kasus gugatan warga dikelola sepenuhnya oleh perusahaan swasta.
negara (citizen law suit) yang menolak
PT. PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), mengelola
swastanisasi atau privatisasi air di Jakarta.
air di wilayah Barat dan Selatan Jakarta, dan
PT Aetra Air Jakarta (AETRA), mengelola air di
wilayah Timur dan Utara Jakarta.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


56
Akibat dari pengelolaan air oleh swasta amar putusannya Majelis Hakim memutuskan
tersebut, masyarakat harus membayar biaya bahwa perjanjian kerjasama pengelolaan air
yang cukup mahal dalam mengkonsumsi air. di Jakarta adalah batal karena bertentangan
Tercatat bahwa masyarakat Jakarta setidaknya dengan konstitusi dan juga bertentangan
harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 7.800,- dengan hak asasi manusia khususnya hak atas
(tujuh ribu delapan ratus rupiah) hingga Rp air.
8.000,- (delapan rupiah rupiah) per meter
kubik setiap bulannya untuk memenuhi Hambatan Pada Tingkat Banding
kebutuhan konsumsi air bagi rumah tangga.
Angka tarif konsumsi air di Jakarta ini lebih Meskipun masyarakat telah menang di tingkat
tinggi daripada negara-negara lain di Asia pertama, lain halnya dengan tingkat banding.
Tenggara. PALYJA dan Aetra yang tidak puas dengan
putusan pada pengadilan negeri mengajukan
Tidak hanya biaya mahal, harga air yang upaya hukum banding di Pengadilan Tinggi
dibayarkan oleh warga Jakarta juga tidak DKI Jakarta.
berbanding lurus dengan kualitas air yang
didapatkan. Kualitas air yang diberikan oleh Hal yang menarik pada tingkat banding
2 (dua) perusahaan operator swasta tersebut, ialah Majelis Hakim tingkat banding tidak
sangatlah buruk. Air tidak dapat langsung mempertimbangkan pokok perkara yang
dikonsumsi, berbau tidak sedap dan bahkan disengketakan oleh penggugat. Majelis hakim
tidak keluar sama sekali. Menurut penuturan hanya melihat formalitas dari surat kuasa.
warga yang tinggal di Rawa Badak, air selalu Padahal pada pengadilan tingkat pertama,
tidak keluar. permasalahan mengenai surat kuasa sudah
selesai.
Gugatan Warna Negara Anti Swastanisasi Air
Jakarta Tidak hanya itu, dalam tingkat banding juga
terjadi kejanggalan. Kejanggalan tersebut
Berangkat dari permasalahan tersebut ialah proses pengadilan banding yang cukup
beberapa warga negara yang memiliki cepat, dan juga kuasa hukum penggugat
kepedulian terhadap hak atas air di Jakarta belum mendapatkan seluruh berkas memori
bersama dengan Koalisi Masyarakat Menolak banding. Sehingga kuasa hukum penggugat
Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ), kemudian tidak dapat mengirimkan kontra memori
mengajukan gugatan warga negara (citizen banding kepada pihak Pengadilan Tinggi DKI
law suit) di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Jakarta.
pada tanggal 11 November 2012.
Perjuangan Berlanjut di Mahkamah Agung
Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
ini cukup memakan waktu hampir 3 (tiga) Setelah adanya putusan di Pengadilan Tinggi
tahun lamanya. Namun demikian, hal tersebut DKI Jakarta tersebut, kelompok masyarakat
akhirnya terbayarkan, tepatnya pada tanggal sipil yang diwakili oleh Nurhidayah, dkk
25 Maret 2015, Majelis Hakim Pengadilan kemudian melanjutkan perjuangan mereka di
Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan Mahkamah Agung. Penggugat yang diwakili
yang diajukan oleh Nurhidayah, dkk. Dalam oleh Nurhidayah, dkk mengajukan kasasi di
Mahkamah Agung.

Redupnya Api Reformasi


57
Perjalanan kasasi di Mahkamah Agung pun dalil hak asasi manusia dalam memutus suatu
juga tidak terbilang mudah. Terdapat insiden perkara.
bolak-balik berkas dari Mahkamah Agung ke
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Selain itu Pembelajaran Yang Dapat Diambil
para pihak baru mendapatkan nomor perkara
satu tahun setelah didaftarkan. Hal ini pun Kasus gugatan warga negara terhadap
membuat koalisi masyarakat sipil menjadi hak atas air merupakan salah satu contoh
kesulitan dalam menindaklanjuti sudah kasus yang dapat dijadikan pembelajaran.
sejauh mana perkara ini berjalan. Masyarakat dapat melakukan kontrol
pengawasan terhadap kebijakan pemerintah
Meskipun demikian, tepatnya pada tanggal 10 yang menggunakan skema perjanjian kerja
Oktober 2017, Mahkamah Agung mengabulkan sama, dalam hal penyediaan layanan publik
permohonan kasasi yang diajukan oleh koalisi dengan menggunakan mekanisme gugatan
masyarakat sipil yang kemudian berujung warga negara (citizen law suit).
pada kemenangan masyarakat sipil.
Meskipun demikian, LBH Jakarta dan koalisi
Menariknya, dalam putusan Mahkamah Agung, masyarakat sipil bersama dengan KMMSAJ
Mahkamah Agung menggunakan instrument mendesak kepada pemerintah dan juga
hukum internasional dalam memutuskan kepada pihak lainnya yang merupakan pihak
perkara ini, yakni Komentar Umum HAM yang bersengketa dalam perkara ini, untuk
PBB No. 15 Tahun 2012 tentang Hak atas Air. melaksanakan putusan Mahkamah Agung
Hal ini merupakan preseden baik yang mana yang telah berkekuatan hukum tetap ini. []
Mahkamah Agung mulai menggunakan dalil-

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


58
MENDORONG PEMBANGUNAN
YANG MANUSIAWI

S
epanjang tahun 2015 dan 2016, LBH narasi utama dalam setiap kontestasi politik
Jakarta mendokumentasikan telah di Jakarta. Seluruh Gubernur DKI Jakarta
terjadi 306 kasus penggusuran paksa terpilih dua dekade ke belakang, mulai
di Jakarta, dengan jumlah korban mencapai dari kepemimpinan Sutiyoso, hingga Anies
13.871 keluarga dan 11.662 unit usaha Baswedan, kerap mengutarakan janji politik.
kecil menengah. Mayoritas kasus-kasus Janji politik untuk menggunakan pendekatan
penggusuran paksa tersebut dilakukan manusiawi di dalam menyelesaikan masalah
dengan jalan intimidasi dan kekerasan oleh pemukiman di Jakarta demi merebut suara dari
aparat pemerintah, yaitu Satpol PP, POLRI, masyarakat miskin kota untuk memenangkan
dan TNI. Sebagian besar masyarakat yang pemilihan kepala daerah.
mengalami penggusuran paksa juga tidak
mendapatkan solusi yang memadai.7 8 Dugaan bahwa faktor politik sangat
menentukan angka dan pendekatan
Fakta di atas adalah ironi mengingat isu penggusuran paksa juga terbukti pada
penggusuran paksa kerap menjadi salah satu pemilihan kepala daerah tahun 2017. Ketika
7
LBH Jakarta, Atas Nama Pembangunan: Laporan LBH Jakarta melakukan kritik terhadap
Penggusuran Paksa di Wilayah DKI Jakarta Tahun 2015, pelanggaran prinsip-prinsip HAM terkait
Jakarta: LBH Jakarta, 2016.
8
LBH Jakarta, Seperti Puing: Laporan Penggusuran kebijakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,
Paksa di Wilayah DKI Jakarta Tahun 2016, Jakarta: LBH Djarot Syaiful Hidayat selaku Wakil Gubernur
Jakarta, 2017.

Redupnya Api Reformasi


59
DKI Jakarta mengutarakan akan berdiskusi diadopsi menjadi aturan yang lebih teknis.
dengan LBH Jakarta9. Hal yang tak pernah ia
inisiatifkan sebelumnya, meski LBH Jakarta Instrumen HAM mewajibkan pemerintah untuk
kerap meminta Pemerintah Provinsi DKI menjadikan relokasi masyarakat sebagai jalan
Jakarta untuk berdiskusi dengan warga dalam terakhir, setelah menempuh proses partisipasi
berbagai kasus penggusuran paksa bahkan dan musyawarah. Dalam hal tidak ada jalan
jauh sebelum pemilihan kepala daerah. lain selain pemindahan, instrumen HAM
mewajibkan pemerintah untuk menjamin
Lebih lanjut, laporan dari berbagai lembaga perlindungan prosedural selama proses
masyarakat sipil dan media massa dari pemindahan dan juga memastikan bahwa
tahun ke tahun, menemukan bahwa klaim kesejahteraan masyarakat terdampak tidak
pemerintah yang menyatakan penggusuran menurun setelah direlokasi.
paksa dilaksanakan secara partisipatif dan
peningkatan kesejahteraan warga setelah Selama ini, laporan LBH Jakarta menemukan
digusur akan meningkat tidak pernah terbukti. sebaliknya. Selain masyarakat mengalami
penggusuran paksa, solusi yang ditawarkan
Kekerasan selalu menjadi bahasa utama oleh pemerintah malah mengakibatkan
yang dipilih oleh pemerintah di dalam penurunan kesejahteraan masyarakat
menyelesaikan masalah pemukiman, yang terdampak. Dampak akibat kehilangan akses
berubah hanya aktor pelakunya. Bila dua terhadap pekerjaan dan meningkatnya biaya
dekade lalu penggusuran paksa kerap hidup karena tinggal di tempat yang terisolasi
menggunakan tenaga aparat informal (red. dari pusat kota.12
preman) untuk melakukan intimidasi dan
kekerasan terhadap warga,10 kini aktor LBH Jakarta melakukan upaya untuk
utamanya malah aparat berseragam resmi, mendorong pemerintah agar segera
seperti anggota POLRI dan TNI.11 membentuk regulasi relokasi masyarakat
terdampak pembangunan yang sesuai
Berulangnya pola tersebut dari masa ke masa dengan prinsip-prinsip HAM. Untuk mencapai
memiliki akar penyebab karena Indonesia tujuan tersebut, LBH Jakarta membela korban
tidak memiliki regulasi yang memadai terkait penggusuran paksa Jakarta untuk mengajukan
dengan perlindungan korban terdampak permohonan uji materi Undang-Undang
pembangunan. Meski Indonesia telah Nomor 51Prp Tahun 1960,.Ketentuan dalam
meratifikasi Kovenan Internasional Hak-Hak undang-undang yang kerap digunakan oleh
Ekonomi, Sosial, dan Budaya yang melarang pemerintah untuk melakukan penggusuran
penggusuran paksa sejak tahun 2005. Norma paksa terhadap masyarakat tanpa kompensasi
dalam instrumen HAM tersebut tak kunjung apapun.
9
Lenny Tristia Tambun, Dituding Banyak
Menggusur, Djarot Akan Ajak LBH Jakarta Berdiskusi, Lebih lanjut, LBH Jakarta turut mendampingi
dalam BeritaSatu, 15 April 2017, http://www.beritasatu. korban penggusuran paksa dari berbagai
com/megapolitan/425351-dituding-banyak-menggusur-
djarot-akan-ajak-lbh-jakarta-berdiskusi.html, diakses pada wilayah di Jakarta untuk mengajukan
tanggal 8 November 2017, jam 12.00 WIB.
10
Human Rights Watch, Masyarakat yang Tergusur: 12
LBH Jakarta, Mereka yang Terasing: Laporan
Pengusiran Paksa di Jakarta, New York: Human Rights Pemenuhan Hak atas Perumahan yang Layak bagi Korban
Watch, 2006. Penggusuran yang Menghuni Rumah Susun, Jakarta: LBH
11
LBH Jakarta, 2016 & 2017. Jakarta, 2016.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


60
gugatan ganti rugi kepada pemerintah atas Meski berada di tengah situasi
penggusuran paksa yang menimpa mereka, ketidakberpihakan hukum, masyarakat
antara lain komunitas Kampung Akuarium di miskin kota tetap melahirkan inovasi-inovasi
Jakarta Utara dan Duri Kepa di Jakarta Barat. pembangunan manusiawi untuk membantu
pemerintah menyelesaikan masalah
Selain melakukan gugatan strategis, LBH lingkungan dan pemukiman di Jakarta.
Jakarta juga melakukan pendidikan masyarakat Telah lahir inisiatif swadaya masyarakat
berpotensi tergusur melalui program paralegal seperti Kampung Tongkol yang merenovasi
dan juga mendokumentasikan pelanggaran kampungnya sendiri dan membuat sistem
HAM dalam kasus-kasus penggusuran paksa pembuangan sampah untuk mengatasi
melalui penelitian. banjir. Kampung Penas yang merenovasi
kampungnya menjadi kampung warna-
Melalui beragam advokasi tersebut, LBH warni untuk mengatasi kekumuhan dan
Jakarta bersama dengan masyarakat mengadakan kerja bakti rutin agar lingkungan
terdampak mencoba melawan stigma ilegal mereka tetap terjaga.
yang disematkan kepada mereka. Stigma
karena hunian informal yang mereka huni Bila masyarakat mau bekerjasama, tentu
adalah buah dari kegagalan pemerintah sepatutnya tak ada lagi alasan bagi pemerintah
untuk menyediakan perumahan layak, juga untuk tidak mengedepankan pembangunan
memenuhi amanat reforma agraria untuk yang manusiawi. []
memberikan hak atas tanah bagi masyarakat.

Redupnya Api Reformasi


61
Penghentian Penyidikan
Pengeroyokan Pengacara Publik
LBH Jakarta

P
ada 12 Januari 2016 telah terjadi penggusuran paksa di Bukit Duri oleh pemerintahan Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Penggusuran paksa tersebut tidak hanya membuat 163
kepala keluarga kehilangan tempat tinggal namun juga mengakibatkan Pengacara Publik LBH
Jakarta, Alldo Fellix Januardy dikeroyok anggota Kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja. Alldo
saat itu meminta para aparat yang hendak menggusur untuk menghormati proses hukum, karena
warga Bukit Duri sedang menggugat tindakan penggusuran paksa tersebut di Pengadilan Tata
Usaha Negara Jakarta. Lima orang anggota Satpol PP dan polisi melakukan pengeroyokan dengan
cara menarik, mencekik, serta memukul. Alldo juga dijatuhkan ke tanah dan diseret sejauh 10 meter
dengan disaksikan oleh banyak orang.

Ditemani koleganya dari LBH Jakarta, Alldo kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro
Jaya pada hari yang sama. Polda kemudian melimpahkan laporan tersebut ke Polres Jakarta Selatan.
Ada 9 orang saksi yang telah diperiksa, adanya visum et repertum, beserta barang bukti seperti
kacamata yang pecah, telepon genggam yang rusak, dan satu bukti telak: foto yang dijepret oleh
wartawan tepat saat Alldo dicekik oleh polisi.

Namun, setelah 7 (tujuh) bulan melakukan penyidikan, mulai terlihat tanda-tanda mandeknya
penyidikan. Pada Agustus 2016 polisi yang menangani kasus ini menawarkan untuk berdamai, tapi
Alldo dan LBH Jakarta menolak. Kemudian polisi tidak membalas surat permohonan perkembangan
penyidikan yang dilayangkan oleh LBH Jakarta berkali-kali. Penyidik Polres Jakarta Selatan akhirnya
mengeluarkan Surat Penghentian Penyidikan (SP3) pada Mei 2017 tapi baru diberikan pada Juli
2017. Pengeroyokan dan penghentian penyidikan ini lagi-lagi merupakan contoh buruk perlindungan
negara terhadap para pembela Hak Asasi Manusia. Negara aktif melakukan pelanggaran HAM.
Tidak hanya menggusur paksa namun juga melukai pembelanya. Harus ada perlindungan bagi para
pembela HAM. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


62
REKLAMASI TELUK JAKARTA:
NEGARA SEBATAS “HADIR” SAJA

P
“... Manakala kapitalisme diusir keluar dari royek reklamasi Teluk Jakarta yang
pintu, Ia akan masuk kembali lewat jendela.” melawan hukum masih saja terjadi.
Fernand Braudel (1979:231) Sebentar dilarang, dan kemudian
kembali lanjut. Ada 2 (dua) peristiwa terakhir
yang menyedot perhatian publik terkait
reklamasi. Pertama, pencabutan moratorium
oleh Menteri Koordinator Kemaritiman. Kedua,
pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur
DKI Jakarta yang baru: Anies Baswedan dan
Sandiaga Uno.

Redupnya Api Reformasi


63
Setelah dibatalkan (baca: moratorium) oleh langkah konkret dan signifikan yang diambil.
Rizal Ramli pada medio Juli 2016 lalu yang Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh
akhirnya berujung pada penggantian dirinya Gubernur DKI Jakarta, misalnya pencabutan
oleh Presiden, akhirnya moratorium tersebut seluruh izin pelaksanaan, dan pencabutan
dicabut oleh Luhut Binsar Panjaitan selaku seluruh Peraturan Gubernur yang memberikan
Menteri Koordinator Kemaritiman yang baru. karpet merah kepada pengembang rakus
Luhut menyatakan bahwa Menteri Lingkungan untuk melanggar hukum lingkungan dan
Hidup dan Kehutanan sudah mencabut 2 (dua) juga Hak Asasi Manusia. Pelanggaran HAM ini
Surat Keputusan (Nomor 354 dan Nomor 355) tidak hanya terhadap nelayan dan masyarakat
tentang Sanksi Administratif Berupa Paksaan pesisir, tapi juga warga yang tinggal bagian
Pemerintah Berupa Penghentian Sementara, utara Jakarta karena reklamasi akan
masing-masing di Pulau C dan D, juga di memperparah banjir di Jakarta Utara, yang
Pulau G dan karenanya moratorium haruslah artinya terjadi akan terjadi pelanggaran HAM
dicabut. Tidak jelas apa yang menjadi dasar dalam berbagai dimensi.
pencabutan moratorium karena tidak pernah
diungkap ke publik secara transparan seperti Reklamasi Teluk Jakarta harus dihentikan
saat sanksi dijatuhkan: siaran langsung di karena penuh dengan pelanggaran hukum
televisi dan semua pejabat terkait hadir. (tidak adanya Kajian Lingkungan Hidup
Kali ini hanya surat dalam bentuk PDF yang Strategis (KLHS), Analisis Mengenai Dampak
beredar di aplikasi WhatsApp. Selain itu Lingkungan (AMDAL) yang asal-asalan dan
menjadi pertanyaan besar moratorium macam tidak melibatkan masyarakat, tidak adanya
apa yang dicabut? Karena saat moratorium rencana zonasi dan rencana tata ruang
berlangsung pembangunan ruko-ruko dan kawasan, penghancuran mata pencarian
fasilitas komersial lainnya tetap terjadi nelayan, dan banyak lainnya). Sempat ada
meski tidak ada sertifikat tanah, apalagi Izin opsi untuk mengulang seluruh proses tapi
Mendirikan Bangunan (IMB). Reklamasi juga hal itu juga percuma karena adalah suatu
tidak bisa dilanjutkan begitu saja karena Pulau keniscayaan bahwa Jakarta tidak memiliki
F, I, dan K juga masih dihentikan sementara daya tampung dan daya dukung lingkungan
oleh Pengadilan Tata Usaha Negara. hidup lagi untuk reklamasi. Dampak buruk
proyek reklamasi luar biasa besar.
Pelantikan Anies Baswedan-Sandiaga Uno
sebagai Gubernur-Wakil Gubernur menjadi Dalam proyek reklamasi Teluk Jakarta negara
poin penting. Keduanya sejak masa kampanye memang hadir seperti apa yang dimandatkan
getol menyatakan akan menghentikan dalam Nawacita: negara hadir, tapi negara
reklamasi. Secara hukum Gubernur DKI hanya sekedar “hadir” dan membiarkan saja
Jakarta memang paling berwenang dalam pelanggaran hukum dan HAM yang terjadi. []
hal reklamasi, namun hingga kini belum ada

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


64
Perjuangan Petani Karawang
Mengadvokasi Hak atas Tanah

Y
LBHI, LBH Jakarta, LBH Bandung, PP Pemuda Muhammadiyah, dan berbagai organisasi
masyarakat sipil yang tergabung dalam Tim Advokasi Petani Karawang. Membela 11 orang
petani Kampung Cisadang, Teluk Jambe, Karawang, setelah mengalami kriminalisasi akibat
sengketa lahan 2350 hektar dengan PT. Pertiwi Lestari. Dalam persidangan, petani dituduh
melakukan pengeroyokan, ketika sebenarnya mereka membela diri. Tiga orang petani dinyatakan
bebas dan 8 orang lainnya mendapatkan putusan ringan.

Usai berjuang melawan kriminalisasi, karena tak punya rumah untuk kembali ke lahannya, para
petani Karawang kemudian melakukan aksi kubur diri di depan Istana Negara Republik Indonesia
setiap hari selama 2 bulan berturut-turut dengan didampingi oleh tim advokasi. Aksi tersebut
berbuah manis. Para petani dipanggil ke Istana Negara oleh Presiden Joko Widodo yang kemudian
berjanji bahwa ia akan menyelesaikan konflik lahan dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Pada tanggal 20 Oktober 2017, para petani menerima Izin Pemanfaatan Hutan (IPHPS) seluas 2350
hektar dan diperbolehkan untuk menggunakan lahan tersebut kembali untuk tempat tinggal dan
aktivitas bertani.

Kasus yang menimpa petani Karawang disebabkan tidak tuntasnya agenda reforma agraria oleh
pemerintah yang mengamanatkan perlindungan hak atas tanah bagi rakyat, terutama masyarakat
tani. Hingga hari ini, mayoritas rakyat Indonesia tidak memiliki akses terhadap hak atas tanah.
Kasus ini seharusnya menjadi catatan bagi pemerintah untuk bekerja keras mendorong agenda
reforma agraria, terutama dalam aspek jaminan perlindungan hak atas tanah. []

Redupnya Api Reformasi


65
Menolak Full Day School

M
enteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Muhadjir Effendy menerbitkan
kebijakan penyamarataan jam belajar sekolah. Melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, waktu belajar menjadi 8 jam
per hari atau 40 jam selama 5 hari, atau setara dengan jam kerja orang dewasa.

Pemberlakuan aturan penyamarataan jam belajar tersebut mendapatkan kritik keras dari siswa, orang
tua siswa, dan pegiat hak anak dari berbagai organisasi. Hal tersebut berpotensi untuk membuat
anak semakin depresi, bias perkotaan, dan mengganggu otonomi sekolah untuk menentukan
kurikulum dan pedagogi, terutama bagi sekolah berbasis madrasah atau pendidikan khusus.

LBH Jakarta bergabung dengan aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan yang terdiri dari puluhan
organisasi pegiat hak anak, komunitas orang tua murid, dan komunitas siswa untuk menolak
kebijakan tersebut. Setelah beragam tekanan publik melalui kegiatan kampanye dan kajian,
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memutuskan untuk mencabut kebijakan tersebut dengan
menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Kasus ini sepatutnya menjadi pelajaran bagi pemerintah untuk mengedepankan partisipasi peserta
didik dan institusi pendidikan sebelum melahirkan kebijakan yang berpotensi mengganggu
penyelenggaraan pendidikan. Sisi lain, pemerintah juga gagal melihat bahwa akar masalah
pendidikan di Indonesia adalah ketimpangan infrastruktur pendidikan, bukan jam belajar.
Penambahan jam belajar tanpa diiringi dengan peningkatan infrastruktur juga akan merugikan
siswa karena tidak mendapatkan kualitas pembelajaran maksimal. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


66
Kasus Malapraktek Kedokteran:
Ketidakjelasan MKDKI Dalam
Menangani Perkara

S
epanjang tahun 2017, LBH Jakarta menerima 10 (sepuluh) pengaduan terkait dengan
pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dokter (malapraktek). Dari kesepuluh pengaduan
tersebut, ada 2 (dua) kasus yang saat ini sedang ditangani oleh LBH Jakarta. Adapun kedua
kasus tersebut ialah kasus malapraktek yang dilakukan oleh dokter pada Rumah Sakit Fatmawati
dengan nama klien Petrus R. Sihombing. Kasus kedua malapraktek yang dilakukan oleh dokter pada
Rumah Sakit Bunda Margonda Depok terhadap seorang anak di bawah umur yang mengakibatkan
kaki kiri anak tersebut diamputasi.

Kedua kasus tersebut kini sedang menjalani proses di Majelis Kehormatan Disiplin dan Kedokteran
Indonesia (MKDKI). Untuk kasus malapraktek yang terjadi di Rumah Sakit Umum Fatmawati,
pengaduan di MKDKI telah dilakukan sejak tahun 2012 dan baru diperiksa oleh MKDKI pada tahun
2017.

Peristiwa yang menimpa Bapak Petrus R. Sihombing tersebut menunjukkan bahwa penanganan
perkara pelanggaran disiplin kedokteran di MKDKI sangat lamban. MKDKI juga tidak mempunyai
standar hukum acara yang jelas kapan harus menyelesaikan suatu perkara pelanggaran kedisiplinan
kedokteran. Tidak hanya itu, pemeriksaan di MKDKI juga tertutup dan pihak pengadu juga tidak
diberikan informasi tentang sejauh mana perkara mereka diselesaikan oleh MKDKI. Untuk itu perlu
ada standar penanganan perkara yang jelas di MKDKI agar dapat memberikan kepastian hukum
bagi para pencari keadilan. []

Redupnya Api Reformasi


67
PERADILAN JUJUR & ADIL

MELAWAN ARUS KETIDAKADILAN:


Catatan Hak Atas Peradilan Yang Adil 2017

S
eperti tahun-tahun sebelumnya, arus serta kelalaian penyidikan yang berdampak
pengaduan ketidakadilan hukum dan hak pada pelanggaran kompetensi absolut kasus
asasi manusia masih ’membanjiri’ kantor anak yang disidangkan pada sidang dewasa.
LBH Jakarta. Jejak kotor pelanggaran hak Selain itu, juga ditangani 7 kasus penyiksaan,
atas peradilan yang adil disektor peradilan dan 5 kasus Anak berhadapan dengan hukum
berbekas jelas. Tercatat, selama kurun waktu (ABH).
November 2016 sampai dengan Oktober
2017 LBH Jakarta menerima 55 kasus hak Jumlah pengaduan tahun ini memang menurun
atas pengadilan yang jujur dan adil dengan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya
1073 pencari keadilan. Dari 55 Kasus tersebut yang mencapai 75 kasus unfairtrial dan 2 kasus
Bidang Fair Trial LBH Jakarta menindaklanjuti penyiksaan dengan 36 kasus ditindaklanjuti.
sebanyak 14 pengaduan kasus pelanggaran Meski demikian, menurunnya jumlah
hak atas peradilan yang adil yang meliputi pengaduan tidak berarti terjadi perbaikan
kasus undue delay, kriminalisasi, kasus perdata kebijakan hukum dan situasi pemenuhan
yang dipidanakan, upaya paksa yang tidak sah, hak atas peradilan yang adil maupun praktik

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


68
penyiksaan. Pelanggaran hak atas peradilan Rutan Salemba dan Pondok Bambu untuk
yang adil dan penyiksaan masih terus terjadi memberikan penyadaran dan membuka akses
dengan langgam yang berulang. Bahkan di bantuan hukum bagi tersangka.
tahun ini, kasus penyiksaan justru meningkat
dari tahun sebelumnya yang hanya 2 kasus Kemenangan Kecil Berdampak ’Besar’
menjadi 7 kasus. Pelakunya masih didominasi
oleh Aparat Kepolisian. Menggagas kemenangan-kemenangan kecil
adalah kaidah advokasi yang diperlukan
Tak hanya menangani pengaduan kasus dari untuk menjaga api semangat advokasi.
masyarakat, LBH Jakarta juga melakukan tiga Perjalanan advokasi bidang Fair Trial LBH
litigasi strategis (strategic litigation) untuk Jakarta dalam satu tahun terakhir mencatat
merespon situasi hukum dan kebijakan terkait beberapa capaian. Tiga putusan pengadilan
hak atas peradilan yang adil, diantaranya: yang memiliki dampak bagi perubahan
Judicial Review (JR) ketentuan pra penuntutan hukum yang lebih adil diketok, dua riset
dalam KUHAP dan Pasal makar dalam KUHP.13 kebijakan diterbitkan dan inisiatif konsolidasi
Pasal Angket UU tentang MPR, DPR, DPD, organisasi bantuan hukum se-Jabodetabek
DPRD (MD3) yang digunakan DPR untuk dijalankan.
mengajukan hak angket kepada KPK juga
diujikan. Putusan Mahkamah Konstitusi baru Kemenangan kecil pertama adalah
diketuk untuk JR Pra Penuntutan KUHAP.14 dikabulkan sebagaian permohonan Judicial
Selain itu, disetiap bulan, LBH Jakarta Review LBH Jakarta bersama Mappi FH UI
rutin memberikan penyuluhan hukum ke terkait Pasal-pasal pra Penuntutan dalam
13
Makar merupakan “pasal karet” yang dalam
KUHAP. Putusan majelis hakim MK dalam
sejarah acapkali digunakan sebagai alat represi “penjajah’ perkara bernomor 130/PUU-XIII/2015
terhadap pihak yang ingin menyuarakan pendapat dan memberikan tafsir baru terhadap pasal Pasal
ekspresi sah. 21 Maret 2017, LBH Jakarta yang tergabung
bersama Tim Advokasi untuk Kebebasan Warga Negara 109 ayat 1 Undang-Undang Nomor 8 Tahun
mendampingi Korban pembungkaman ekspresi politik dari 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)
tanah Papua yaitu Hans Wilson Wader dan Meki Elosak menjadi ”Penyidik wajib memberitahukan
bersama lembaga keagamaan yaitu Gereja Kemah Injil
(KINGMI) dan Gereja berbentuk Sinodal, serta Yayasan Satu dan menyerahkan surat perintah dimulainya
Keadilan mengajukan permohonan Uji Materi terhadap penyidikan kepada penuntut umum, terlapor,
Pasal 104,106,107,108, dan Pasal 110 KUHP. Pasal Makar
kembali mencuat setelah beberapa tokoh dan aktivis
dan korban/pelapor dalam waktu paling
ditangkap dengan tuduhan makar. Beberapa Tokoh dan lambat tujuh hari setelah dikeluarkannya surat
aktivis ditangkap bertepatan dengan hari aksi demonstrasi perintah penyidikan.”Berdasarkan putusan
bela Islam III pada 2 Desember 2016. Mereka diantaranya:
Kivlan Zein, Adityawarman, Ratna Sarumpaet, Firza ini, SPDP idealnya dapat digunakan sebagai
Husein, Eko, Alvin, Rachmawati, Sri Bintang Pamungkas alat kontrol jaksa dan masyarakat terhadap
yang diduga terlibat percobaan makar. Lihat dalam http:// penyidikan kepolisian. Kini penyidik wajib
www.bbc.com/indonesia/indonesia-38179196, diakses 18
November 2017. menyampaikan SPDP tidak hanya kepada jaksa
14
Advokasi JR Pra Penuntutan KUHAP yang namun juga kepada terlapor dan korban dalam
diajukan tahun lalu diawali dengan riset advokasi dengan
temuan 255.618 berkas perkara yang diterima Kejaksaan
jangka waktu tujuh hari pasca diterbitkannya
pada 2012-2014 tidak memiliki SPDP. dan 44.273 dari surat perintah penyidikan. Tafsir baru ini
353 ribu berkas perkara yang diterima penuntut umum memberikan jaminan kepastian hukum bagi
menggantung di tahap Prapenuntutan Lihat dalam
https://nasional.tempo.co/read/789662/riset-puluhan- para pihak dalam proses penyidikan. Bagi
ribu-berkas-kasus-hilang-di-polisi-dan-jaksa, diakses 18 pihak terlapor, mereka dapat mempersiapkan
November 2017.

Redupnya Api Reformasi


69

bahan-bahan pembelaan maupun menunjuk
penasihat hukum untuk mendampinginya,
sedangkan bagi korban/pelapor penyampaian
SPDP dapat dijadikan momentum untuk
mempersiapkan keterangan atau bukti yang
37 laporan kasus
diperlukan dalam pengembangan penyidikan
atas laporannya. Kedua, LBH Jakarta berhasil
penyiksaan yang
mendorong lahirnya ’Preseden’ Putusan dilakukan anggota
dibatalkannya dakwaan Jaksa Penuntut
Umum dalam dua kasus Anak Berkonflik kepolisian mulai dari
dengan Hukum. Dalil eksepsi LBH Jakarta
terkait ketiadaan pendamping hukum dalam Polsek sampai Polda
proses penyidikan dikabulkan. Sutedjo
Bimantoro, S.H., M.H., Hakim tunggal anak
yang memutus kasus KA (13 Tahun) dan
dalam Bayang-Bayang Penyiksaan. LBH
AAP (16 Tahun) menyatakan dakwaan JPU
mencatat dalam periode 2013-2016 terdapat
harus dinyatakan batal demi hukum karena
37 laporan kasus penyiksaan yang dilakukan
penyidikan dinilai cacat hukum melanggar
anggota kepolisian mulai dari Polsek sampai
ketentuan Pasal 23 ayat (1) UU SPPA.15
dengan Polda dengan korban penyiksaan
Ketiga, LBH berhasil mendorong lahirnya
tidak hanya dewasa, tetapi juga anak-anak.
preseden Putusan Praperadilan pencabutan
Penyiksaan dilakukan dengan berbagai cara
Penetapan tersangka Bihin, Herianto dan
dari kekerasan fisik, verbal, maupun seksual.
Aris di Pengadilan Negeri Jakara Selatan.16
Mereka dipukuli, ditembak, disetrum, disundut
Dalil Eksepsi LBH Jakarta dikabulkan hakim
rokok, diintimidasi, dan dikencingi, serta ada
tunggal praperadilan, Martin Ponto Bidara,
juga yang disakiti alat vitalnya.17 Kajian
S.H., penyitaan dan penggeledahan yang tidak
pelaksanaan UU No. 11 Tahun 2012 tentang
sesuai prosedur mengakibatkan penyidikan
Sistem Peradilan Pidana Anak khususnya
dan penetapan tersangka tidak sah.
terkait diversi di Kepolisian wilayah DKI
jakarta juga dilakukan. Pelanggaran hak atas
Adapun dua riset kebijakan yang disusun
bantuan hukum ABH dan belum efektifnya
bidang Fair Trial LBH Jakarta tahun ini adalah
pelaksanaan diversi di kepolisian menjadi
riset advokasi tentang Praktik penyiksaan
temuan.
dalam kasus-kasus yang ditangani LBH
jakarta dan riset tentang pelaksanaan diversi
Selain penanganan kasus dan riset, bidang Fair
di Kepolisian wilayah Polda Metro Jaya.
Trial LBH Jakarta juga melaksanakan berbagai
Beberapa tahun sebelumnya, LBH Jakarta
kegiatan kampanye dan pengorganisiran.
rutin menerbitkan laporan situasi penyiksaan.
Memahami tingginya kebutuhan akses
Tahun ini LBH Jakarta kembali menerbitkan
bantuan hukum dan keadilan bagi masyarakat
laporan penelitian yang berjudul Kepolisian
15
Lihat selengkapnya dalam Putusan No. 24/Pid.
miskin buta hukum dan tertindas LBH
Sus.Anak/2016/PN.JKT.UTR dan Putusan No. 28/Pid.Sus. Jakarta bersama dengan Organisasi Bantuan
Anak/2016/PN.JKT.UTR, kedua putusan ini mendapat
perlawanan dari JPU dan belum berkekuatan hukum tetap. 17
Lihat dalam https://www.bantuanhukum.or.id/
16
Lihat selengkapnya dalam Putusan Nomor 56/ web/wp-content/uploads/2017/08/Kepolisian-dalam-
PID.PRAP/2017/PN.JKT.SEL. Bayang-Bayang-Penyiksaan-web.pdf

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


70
Hukum di wilayah Jabodetabek, menginisiasi hanya itu, Lembaga Negara Pengawas seperti
terbentuknya Jaringan Organisasi Bantuan Komisi Kepolisian Nasional, Komisi Kejaksaan,
Hukum Se-Jabodetabek. Serangkaian Komnas HAM, Ombudsman RI belum efektif
pertemuan digelar untuk menkonsolidasikan menjawab tantangan dan kebutuhan keadilan
berbagai elemen Organisasi Bantuan Hukum. masyarakat. Selain penanganan yang
Inisiasi ini bertujuan untuk merespon dan bersifat menindak setelah kejadian (represif)
mengkritisi sistem bantuan hukum dalam UU bukan mencegah (preventif), Lembaga
No. 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum Negara Pengawas tidak memiliki taji untuk
dan menyebarluaskan gagasan Bantuan mengkoreksi atau memberikan sanksi
Hukum Struktural. Kampanye mendorong terhadap pelanggaran yang terjadi.
partisipasi masyarakat mengawal revisi KUHP
dan KUHAP digalakkan melalui media sosial. Revisi hukum acara pidana (RKUHAP) yang
memastikan terpenuhinya hak atas peradilan
Menghentikan Praktik Unfairtrial dan yang adil mesti disegerakan. Desakan dan
Penyiksaan pengawalan oleh masyarakat sipil sangat
diperlukan baik dari segi proses maupun
Sejalan dengan capaian terdapat berbagai substansi. Sementara, peran bantuan hukum
tantangan dalam advokasi isu fairtrial. krusial untuk mencegah terus terjadinya
Tak hanya masalah mendasar kelemahan pelanggaran hak atas peradilan yang adil.
substansi hukum acara peradilan pidana Harus didorong penguatan sistem bantuan
(KUHAP) dan KUHP kita, kurangnya perspektif hukum untuk kontrol peradilan khususnya
Hak Asasi Manusia juga profesionalitas, kewenangan penyidikan dan penuntutan.
transparansi dan akuntabilitas penyidik Organisasi Pemberi bantuan hukum
dalam proses penyidikan menjadi tantangan maupun organisasi advokat harus didorong
yang setiap kali harus ditemui. Berbagai menjalankan fungsi idealnya memberikan
pelanggaran hukum acara pidana maupun perlindungan dan pemenuhan hak setiap
UU tentang sistem Peradilan Pidana Anak tertuduh untuk memperoleh peradilan yang
mengakibatkan terus terjadinya unfairtrial. jujur dan adil melalui program legal aid
Upaya paksa oleh Kepolisian mulai dari maupun probono.
penangkapan, penahanan, penggeledahan,
penyitaan acapkali dilakukan tanpa Tak hanya pelanggaran prosedur formal,
mengindahkan prosedur beracara yang Pelanggaran hak asasi manusia dalam bentuk
sejatinya diatur untuk melindungi hak asasi penyiksaan kerap terjadi dalam proses
mereka yang dituduh. Bahkan dalam beberapa penyidikan. Fatalnya, meskipun menjadi
kasus Kepolisian tidak segan membuat surat rahasia umum, penyiksaan masih terlampau
perintah upaya paksa ’kilat’ dengan waktu sulit diungkap. Tidak ada mekanisme hukum
yang tidak semestinya, berita acara ’palsu’, yang efektif untuk membongkar penyiksaan.
sampai surat kuasa pendampingan ’siluman’ Independensi, transparansi dan akuntabilitas
untuk meloloskan penyidikan ABH. Kontrol mekanisme pengaduan internal Polri patut
penyidikan di internal kepolisian yang diragukan. LBH Jakarta mencatat tidak
lemah, tidak efektifnya propam dan tidak satupun laporan penyiksaan yang dilaporkan
berfungsinya kewenangan ’dominus litis’, berhasil menghadapkan pelakunya yang
supervisi jaksa menjadi persoalan krusial. Tak juga anggota kepolisian pada sanksi hukum

Redupnya Api Reformasi


71
pidana.18 Tak hanya itu, buruknya perspektif Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda,
hukum jaksa dan hakim dalam memahami Acara Pemeriksaan Cepat, serta Penerapan
persoalan penyiksaan menjadi masalah Keadilan Restoratif (Nota Kesepakatan
serius. Jaksa dan Hakim kebingungan dan 2012) yang bertujuan untuk memberikan
memilih menutup mata dengan alasan pedoman bagi aparat penegak hukum dalam
bukan kewenangannya ‘membongkar’ praktik memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat
penyiksaan. Ketiadaan ketentuan larangan dalam penyelesaian tindak pidana ringan dan
penyiksaan dan sanksinya menjadi catatan mengatasi over capacity di rutan dan lapas.20
yang terus diulang. RKUHP dan/atau RKUHAP SEMA No. 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian
musti mengakomodir aturan tegas larangan, Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah
sanksi bagi pelaku penyiksaan serta akibat Denda dalam KUHAP dan Nota Kesepatan
hukum penyiksaan terhadap tidak sahnya 2012 tidak berjalan. Kesepakatan bersama
penyidikan penuntutan. begitu mudah diingkari oleh para penegak
hukum di Kepolisian, Kejaksaan dan Hakim
Belum efektifnya pelaksanaan Peraturan Pengadilan. Fakta kasus Charles Andrew
Pemerintah No. 92 Tahun 2015 tentang menjadi bukti. Penghuni Apartemen Grand
Pelaksanaan KUHAP yang didalamnya Pramuka tersebut harus menerima Hukuman
mengatur nilai ganti rugi korban peradilan penjara percobaan karena tak sengaja
sesat menjadi ganjalan bagi para korbannya mematahkanpalang parkir di Apartemen
untuk mendapatkan restitusi.19 Gagapnya tempat tinggalnya yang nilai kerugiannya 100
Pengadilan, Kejaksaan, dan Kementerian ribu rupiah. Pemincunya karena ia terjebak di
khususnya Kemenkumham dan Kementrian gedung parkir yang sedang difoging tanpa
Keuangan dalam merespon pelaksanaan pemberitahuan pengelola apartemen. Tidak
PP ini menjadi masalah serius. Kementerian ada mediasi, tidak ada upaya restoratif justice
keuangan yang mestinya menerbitkan dalam penanganan kasusnya mulai dari
aturan pelaksana dari PP ini tidak kunjung kepolisian hingga pengadilan. Semangat
melaksanakan mandatnya. PP yang diteken Nota Kesepahaman 2012 nampaknya akan
Presiden ini hanya akan ’indah’ diatas kertas sulit terlaksana jika tidak dilegalisasikan
jika tidak segera dipastikan terbit mekanisme menjadi peraturan perundang-undangan
pelaksanaannya oleh Kementerian Keuangan. yang mengikat.

Dalam perkara yang lain, Kasus Pidana ringan Berbagai catatan diatas menunjukkan ada
tetap diproses seperti kasus biasa, meskipun capaian kecil diantara berbagai tantangan
terdapat Nota kesepakatan Bersama Ketua MA, dan hambatan memperbaiki situasi
Menkumham, Jaksa Agung dan Kapolri tentang pemenuhan hak atas peradilan yang adil di
Pelaksanaan Penerapan Penyesuaian Batasan Indonesia. Langkah-langkah ”kecil” advokasi
18
Lihat dalam http://megapolitan.kompas. yang dilakukan Masyarakat dan LBH Jakarta
com/read/2017/07/19/22475811/lbh--37-laporan-kasus-
penyiksaan-oleh-polisi-tak-pernah-diproses-hukum,
adalah asa yang harus terus dijaga. Satu
diakses 27 November 2017. demi satu langkah untuk perjalanan panjang
19
Lihat dalam http://www.hukumonline.com/ menghentikan praktek unfairtrial dan
index.php/berita/baca/lt5770f2ebdfc73/korban-salah-
tangkap-gunakan-pp-ganti-rugi-terbaru dan https://www. penyiksaan. []
bantuanhukum.or.id/web/peraturan-belum-rampung- 20
Nota Kesepakatan 2012 dapat diunduh di https://
pengamen-cipulir-korban-salah-tangkap-tak-kunjung- badilum.info/upload_file/img/article/doc/131_KMA_
mendapat-ganti-rugi/, diakses 27 November 2017 SKB_X_2012.pdf

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


72
MELAWAN KORUPTOR,
KORUPTOR MELAWAN:
KISAH PELEMAHAN KPK 2017

H
ampir setiap hari kita disuguhi beragam publik di eksekutif maupun legislative.
informasi pengungkapan kasus Kekuasan Yudikatif juga terkontaminasi
korupsi oleh KPK. Suguhan tersebut perilaku busuk korupsi. aparat penegak hukum
menunjukkan situasi Korupsi di Indonesia mulai dari polisi, jaksa, pengacara, panitera
yang semakin menggila. Korupsi kini tidak dan hakim ikut serta. Sektor swasta tak segan
lagi dipusat namun merata di berbagai menjadi bagian dari kong kalingkong korupsi.
penjuru daerah baik di kabupaten, kota
maupun provinsi. Otonomi daerah nyatanya Sektor yang dikorupsipun beragam tidak
juga berdampak buruk pada penyebarluasan hanya urusan pengadaan barang jasa di
korupsi. birokrasi namun telah merambah kesemua
sektor kehidupan bernegara seperti:
Korupsi tidak lagi menjadi dominasi pejabat Pendidikan, urusan percetakan kitab suci

Redupnya Api Reformasi


73
sampai ibadah haji, tak ketinggalan sektor dan Nepotisme. Ujian KPK semakin berat
sumberdaya alam maupun penegakan hukum. ketika politik hukum pemberantasan
Kasus Korupsi Simulator SIM, Korupsi ijin korupsi melemah dan munculnya berbagai
tambang, pengelolaan hutan, sumber daya air, perlawanan balik dari para koruptor dan
reklamasi sampai Mega proyek EKTP adalah pendukungnya. Perlawanannya begitu masif,
sampelnya. sangat sistematik dan dilakukan dengan
segala cara. Tujuannya jelas, tidak lain adalah
Hasil kajian Laboratorium Ilmu Ekonomi melemahkan KPK dalam membongkar korupsi
UGM mencatat Kerugian Negara akibat seperti mengganggu atau menghalang-
korupsi mencapai Rp. 203, 9 Triliun. Ironisnya, halangi proses penyidikan bahkan berupaya
hukuman denda dan sita aset yang dapat untuk membunuh KPK agar mimpi dan
terkumpul 21,26 Triliun Rupiah. Total semangat bangsa ini memberantas Korupsi,
kerugian Negara tersebut berasal dari 2.321 Kolusi dan Nepotisme di negeri ini terhenti.
kasus yang melibatkan 3.109 Terdakwa.
Adanya gap antara kerugian negara dengan Modus Baru Pelemaham KPK
denda dan aset hasil sitaan aset maka masih
ada kekurangan sebesar Rp. 182, 64 Triliun. Selama ini pelemahan KPK dilakukan dengan
Kerugian negara tersebut belum menghitung berbagai modus. Modus tersebut diantaranya:
biaya sosial korupsi yang tentunya bernilai Pertama, kriminalisasi dan rekayasa kasus.
besar, menurut Laboratorium Ilmu Ekonomi Modus ini sudah terjadi beberapa kali.
UGM kerugian sosial tersebut dapat dihitung Kasus Antasari Azhar, Bibit Candra dan
dengan mengalikan kerugian negara dengan Candra Hamzah dan yang terakhir kasus
angka pengali 2,5 kali lipat.21 novel baswedan, Bambang Widjayanto dan
Abraham Samad. Kedua, Penarikan penyidik
Posisi Indonesia ditengah dunia juga disorot. KPK ke Institusi asal sebelum masa kerja
Ikhtiar memerangi korupsi masih belum berakhir.23 Modus ini pernah terjadi pada
menurunkan posisi Indonesia diposisi buncit saat terjadi kasus Cicak Buaya jilid satu dan
negara yang lemah dalam indeks persepsi saat KPK mengusut kasus korupsi Simulator
korupsinya. Indonesia menduduki peringkat SIM. Ketiga, Merusak kredibilitas, reputasi
90 dari 176 negara dalam indeks Persepsi dan soliditas kepemimpinan KPK dengan
Korupsi tahunan atau  Transparency pemalsuan atau pembocoran Sprindik,24
International’s annual Corruption Keempat, mendelegitimasi kredibilitas KPK
Perceptions index  tahun lalu, setara dengan menyelundupkan orang yang tidak
dengan negara-negara seperti Liberia dan berintegritas masuk ke dalam KPK. Hal ini
Kolombia.22 dilakukan agar ada pembusukan dari internal
KPK, supaya lembaga ini tidak dipercaya,25
Situasi diatas menunjukkan betapa berat 23
Ditengah kemelut kasus korupsi simulator
tantangan KPK menjalankan mandat SIM, Mabes Polri secara mendadak menarik 20 penyidik
di KPK. Hal ini merupakan penarikan terbesar sejak KPK
reformasi memberantas Korupsi Kolusi berdiri, lihat dalam https://www.merdeka.com/peristiwa/
21
https://beritagar.id/artikel/berita/kerugian- penarikan-penyidik-polri-lemahkan-kpk-secara-sistematis.
negara-akibat-korupsi-di-indonesia-rp2039-triliun, diakses html
22 November 2017 24
Lihat dalam https://nasional.sindonews.com/
22
https://www.wartaekonomi.co.id/read147938/ read/719200/17/modus-pelemahan-kpk-1361248165,
indonesia-duduki-peringkat-90-dari-176-negara-dalam- diakses 17 November 2017
indeks-persepsi-korupsi-tahunan.html 25
Lihat dalam https://nasional.sindonews.com/

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


74

kepada KPK terkait persidangan kasus dugaan
korupsi proyek  e-KTP  di Pengadilan Tipikor
Jakarta. Penyidik KPK  Novel Baswedan  yang
Pelemahan KPK dikonfrontasi dengan politisi Hanura Miryam
S Haryani dalam persidangan mengatakan
dengan berbagai bahwa Miryam saat diperiksa di Gedung KPK.

modus acapkali ditekan oleh sejumlah anggota Komisi III DPR,


agar tidak mengungkap kasus korupsi dalam
terjadi ketika KPK pengadaan e-KTP.

sedang menyidik Para anggota DPR yang namanya disebut


langsung bereaksi. Wacana penggunaan  hak
kasus-kasus besar. angket DPR   kemudian bergulir.
III mendesak  KPK   membuka rekaman
Komisi

pemeriksaan terhadap  Miryam,  yang kini


Kelima, dengan upaya merevisi pasal-pasal
menjadi tersangka pemberian keterangan
dalam undang-undang yang selama ini
palsu dalam kasus dugaan korupsi
menjadi landasan kerja dan kekuatan KPK
pengadaan  e-KTP. Desakan tersebut
melalui DPR. Disamping itu, upaya mengubah
ditolak keras oleh KPK karena rekaman
undang-undang ini juga dilakukan melalui
merupakan alat bukti yang hanya bisa
upaya judicial review UU KPK di Mahkamah
dibuka dipengadilan dan   jika dibuka tentu
Konstitusi.
berisiko menghambat proses hukum dan
dapat berdampak pada penanganan kasus
Pelemahan KPK dengan berbagai modus
korupsi proyek  e-KTP. Akhirnya, meskipun
diatas acapkali terjadi ketika KPK sedang
dinilai tidak sah karena tidak semua fraksi di
menyidik kasus-kasus besar. Tahun ini,
DPR mengirimkan wakilnya sesuai dengan
serangan balik koruptor memunculkan
Pasal 201 UU MD3 dan dinilai tidak tepat
modus-modus baru. Penanganan kasus
karena KPK bukan eksekutif sebagai objek
Mega Proyek E KTP yang diduga melibatkan
hak angket sesuai Pasal 79 ayat (3), DPR tetap
beberapa nama anggota dewan termasuk
menyetujui penggunaan hak angket tersebut.
ketua DPR Setyo Novanto ditengarai menjadi
KPK bersikukuh tidak pernah mengakui
pemicunya. Sejalan dengan meningkatnya
keabsahan penggunaan hak angket. Sikap
kualitas, independensi dan agresifitas kinerja
KPK ternodai ketika Direktur Penyidikan KPK
pemberantasan korupsi KPK, upaya untuk
Brigjen Pol. Aris Budiman membangkang
melemahkan dan menghancurkan KPK akan
keputusan lembaga dan memenuhi undangan
terus berlanjut dengan modus-modus lain.
rapat panitia hak angket.26
Hak Anget DPR
Masyarakat sipil segera bersikap atas
Usulan  hak angket  dimulai dari protes yang penggunaan Hak Angket DPR KPK yang dinilai
dilayangkan sejumlah anggota Komisi III salah kaprah dan bentuk manuver politik yang
mengganggu proses penegakan hukum. LBH
read/1142936/13/bambang-widjojanto-ungkap-berbagai-
modus-pelemahan-kpk-1475051458, diakses 17 November 26
Lihat dalam https://nasional.tempo.co/
2017 read/1027676/begini-kronologi-kasus-dirdik-kpk-aris-
budiman, diakses 22 November 2017.

Redupnya Api Reformasi


75
Jakarta-YLBHI bersama Koalisi Selamatkan selain beraneka rupa dalih kepolisian.29
KPK mengajukan Judicial Review terhadap Banyak keganjilan dalam proses penanganan
Pasal 79 ayat (3) UU MD3 untuk meminta tafsir oleh kepolisian. Demoralisasi menghantui
konstitusional hak angket kepada Mahkamah para penyidik KPK pasca kasus penyerangan
pada 20 Juli 2017.27 Sebelumnya, pasal ini NB yang tak kunjung terungkap.
juga diajukan JR oleh Wadah pegawai KPK.
Pasca kejadian masyarakat sipil menuntut
Dalam permohonannya Koalisi Selamatkan agar kasus ini diusut tuntas dan mendesak
KPK meminta putusan provisi agar Mahkamah presiden untuk membentuk tim independent
Konstitusi menghentikan sementara kerja guna pengusutan kasus novel. Dugaan
pansus KPK sampai dengan putusan final keterlibatan kepolisian ditengarai akan
permohonan JR. Sayangnya, permohonan menggeser independensi penyidikan.
Provisi ini berakhir dengan penolakan Sayang, tuntutan kepada presiden ditolak.
meskipun pendapat hakim berimbang. Kini Bahkan ironisnya pimpinan KPK juga tidak
manuver politik DPR melalui hak angket menunjukkan dukungan pembentukan tim
masih terus bergulir, sementara putusan independen untuk pengungkapan kasus
permohonan JR tidak tentu kapan akan NB.30 Kekhawatiran mandeknya kasus novel
diketok MK. kini terbukti. Gerakan masyarakat luas untuk
mendukung KPK diperlukan agar demoralisasi
Penyerangan Novel Baswedan dan Bayangan KPK dan pegawainya tidak terjadi.
Demoralisasi
Dari sisi kebijakan, lemahnya politik hukum
Tak hanya serangan politik yang diterima pemberantasan korupsi Pemerintahan Jokowi
KPK. Penyerangan dan resiko menjadi korban berpengaruh signifikan terhadap terus
tindak pidana dialami komisioner dan para bergulirnya manuver politik DPR melalui hak
pegawainya. Ini modus baru perlawanan angket dan mandeknya penanganan kasus
koruptor.28 Tidak berhenti pada ancaman penyerangan NB. Disisi lain, kasus Novel
namun berlanjut pada serangan untuk membuka mata kita terkait ketiadaan regulasi
melukai baik secara fisik maupun psikis. khusus perlindungan hukum terhadap aparat
Setelah beberapa kali selamat dari ancaman penegak hukum dalam kasus korupsi. Harus
serangan, penyidik senior KPK, Novel segera diatur perlindungan bagi penegak
baswedan (NB) akhirnya menjadi korban. hukum maupun saksi dalam penanganan
Subuh naas 11 april 2017, mata NB disiram tindak pidana korupsi seperti halnya jaminan
air keras oleh dua orang tidak dikenal yang perlindungan dalam UU tindak pidana
telah mengintainya cukup lama. NB terancam terorisme. []
mengalami kebutaan. Fatalnya, meski sudah
tujuh bulan berlalu kasus ini tidak kunjung
terkuak. Tidak ada perkembangan berarti
29
Lihat dalam http://www.tribunnews.com/
27
Lihat dalam https://www.bantuanhukum.or.id/ nasional/2017/11/07/ini-5-fakta-terkait-sulitnya-polisi-
web/koalisi-selamatkan-kpk-ajukan-permohonan-judicial- bongkar-kasus-novel-baswedan?page=2, diakses 22
review-pasal-kewenangan-hak-angket-dpr-ri/, diakses 22 November 2017.
November 2017. 30
Lihat dalam https://www.cnnindonesia.
28
Lihat dalam http://nasional.kompas.com/ com/nasional/20171124163359-32-257859/ketua-kpk-
read/2017/05/02/17114841/hak.angket.modus.baru. pembentukan-tgpf-kasus-novel-baswedan-belum-perlu/,
melemahkan.kpk, diakses 22 November 2017. diakses 29 November 2017.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


76
Penyidikan Novel Baswedan
Jalan ditempat

T
ujuh bulan sudah penyidikan kasus penyerangan air keras yang mengakibatkan ancaman
kebutaan terhadap novel baswedan dilakukan kepolisian. Meski desakan masyarakat untuk
mengungkap kasus ini terus dilakukan. Namun, belum ada hasil. Jangankan ’dalangnya’, pelaku
penyerangan belum juga terungkap. Polisi masih berkutat dengan dalih kendala pengungkapan
kasus.

Kasus Novel tidak kunjung terungkap. Penanganan kasus ini janggal sejak awal, tuntutan
pembentukan tim independen tidak diikuti. Padahal Independensi kepolisian diragukan. Alhasil
penyidikan Kasus Novel Baswedan jalan ditempat. Dugaan keterlibatan aparat kepolisian menjadi
sebab. Jejak motor polisi pengintai kediaman novel menjadi rujukan. Kejanggalan pemeriksaan
saksi jadi bukti. Kesulitan yang diungkap kepolisian tak cukup beralasan. Sikap presiden pasif dan
normatif. Keengganan mengungkap kasus Novel menjadi hipotesa.

Kini Novel harus menanggung resiko dari kerja besarnya untuk bangsa. Berkorban mata untuk
membuka asa pemberantasan Korupsi. Belum ada keadilan untuknya. Yang terjadi justru NB kembali
terancam kriminalisasi atas pelaporan atasannya. NB menjadi Korban yang hendak dikorbankan.

Agar kasus novel segera terungkap, Presiden Harus bentuk tim independen untuk membongkar
kasus ini. Pengungkapan kasus ini adalah ujian nyata komitmen dan kredibilitas Presiden dalam
pemberatasan korupsi. Presiden harus memimpin upaya pemberantasan korupsi. Tidak hanya
dikatakan tapi harus diwujudkan dalam kebijakan. Harus segera diatur perlindungan bagi penegak
hukum maupun saksi dalam penanganan tindak pidana korupsi seperti halnya jaminan perlindungan
dalam UU tindak pidana terorisme, agar kasus serupa tidak terulang kembali. []

Redupnya Api Reformasi


77
UJI MATERIIL PASAL MAKAR:
UPAYA MEMBENDUNG PEMBUNGKAMAN
KEMERDEKAAN BERPENDAPAT

L
ebih dari 10 (sepuluh) tahun sejakIndonesia Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) yang sedang
meratifikasi Konvenan Internasional Hak- melakukan aksi penolakan terhadap tuduhan
Hak Sipil dan Politik pada 30 September makar yang dialamatkan kepada 4 (empat)
2005, kondisi penghormatan, pemenuhan dan aktivis Komite Nasional Papua Barat (KNPB)
perlindungan hak kemerdekaan berpendapat yang saat penangkapan sedang berunjuk
justru semakin memprihatinkan. Lembaga rasa di Manado dan Jayapura. Penggunaan
Bantuan Hukum (LBH) Jakarta sepanjang pasal makar secara sewenang-wenang juga
tahun 2017 mengamati adanya pola baru digunakan oleh Jaksa Penuntut Umum untuk
yang digunakan oleh negara dalam merepresi mendakwa 3 (tiga) tokoh eks- Gerakan Fajar
kemerdekaan berpendapat warga negara, Nusantara (GAFATAR) yang didampingi oleh
yakni melalui kriminalisasi dengan tuduhan LBH Jakarta pada Maret 2017.
makar. Pada awal tahun, tepatnya 20 Januari
2017, LBH Jakarta mendampingi Front Penggunaan pasal makar untuk membungkam
Rakyat Indonesia West Papua (FRIWP) dan ekspresi politik yang berbeda dari warga
negara yang berwujud penyampaian pendapat

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


78
di muka umum ini tidak terlepas dari rancunya penjara atas tuduhan mengibarkan bendera
rumusan dan tafsiran pasal makar yang disebut bintang kejora dalam pemakaman seseorang
dalam Pasal 104 (makar dengan maksud untuk kawannya yang menginginkan jenazahnya
membunuh, atau merampas kemerdekaan, dimakamkan di samping bendera tersebut.
atau meniadakan kemampuan Presiden); Pasal Jemi Yermias Kapani alias Jimi Sembay,
106  (makar dengan maksud  memisahkan Pemohon III, ditangkap atas sangkaan makar
diri dari Indonesia);  Pasal 107    (makar menyusul adanya serangan militer besar-
dengan maksud untuk menggulingkan besaran di desanya. Pastor John Jonga Pr,
pemerintah);  Pasal 108    (pemberontakan); Pemohon IV, adalah pastor yang selama ini
dan  Pasal 110    (permufakatan jahat untuk berperan aktif dalam mewujudkan kedamaian
melakukan kejahatan menurut Pasal Tanah Papua yang seringkali terusik karena
104,  Pasal  106,  Pasal  107, dan  Pasal  108) adanya penggunaan sewenang-wenang pasal
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1964 yang diujikan. Sedangkan 2 (dua) pemohon
tentang Kitab Undang-Undang Huku Pidana. lainnya yakni Gereja Kemah Injil (KINGMI) dan
Untuk itu, LBH Jakarta dan organisasi gerakan Yayasan Satu Keadilan dalam permohonan ini
masyarakat sipil lainnya yang tergabung bertindak sebagai organisasi (organization/
dalam Tim Advokasi untuk Kebebasan Warga legal standing) yang turut mendorong
Negara mengajukan permohonan uji materiil perwujudan nilai-nilai hak asasi manusia
pasal-pasal tersebut ke Mahkamah Konstitusi (HAM) dengan cara menyampaikan pendapat
(MK) pada 22 Maret 2017. Permohonan di muka umum.
tersebut hingga laporan ini disusun telah
disidangkan sebanyak 6 (enam) kali. Agenda Dalam dalil permohonannya, Tim Advokasi
terakhir mendengarkan keterangan ahli untuk Kebebasan Warga Negara menjelaskan
filsafat, Prof. Dr. Melkias Hetharia, S.H, bahwa pasal-pasal yang diujikan
M.Hum dari Fakultas Hukum Universitas bertentangan dengan 3 (tiga) prinsip dan hak
Cenderawasih. Sebelumnya telah dihadirkan yang diatur dalam UUD 1945. Pertama pasal
beberapa orang ahli diantaranya: ahli hukum tersebut bertentangan dengan prinsip negara
pidana Prof. Dr. Andi Hamzah S.H., Ahli hukum hukum sebagaimana ditegaskan dalam Pasal
HAM, Eko Riyadi, S.H, M.H., Ahli Antropologi 1 ayat (3) UUD 1945. Kedua pasal tersebut
dan Politik Kebudayaan Papua, Dr. I Ngurah bertentangan dengan hak atas jaminan
Suryawan, S. Sos,  M. Si serta Ahli Hukum kepastian hukum sebagaimana dimaksud
Pidana, Dr. Made Darma Weda, S.H.,M.S  dalam Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945. Ketiga
pasal tersebut bertentangan dengan hak
Empat pemohon dalam uji meteriil ini telah kemerdekaan berserikat dan berkumpul,
secara langsung atau setidaknya berpotensi mengeluarkan pendapat, pikiran secara lisan
dirugikan hak-hak konstitusionalnya dari dan tulisan sebagaimana amanat Pasal 28
adanya pasal makar ini. Hans Wilson Wader, dan Pasal 28 e ayat (30 UUD 1945. Atas dasar
Pemohon I, merupakan mahasiswa yang 3 (tiga) hal tersebut, Pemohon meminta MK
ditangkap dengan sangkaan makar karena untuk menghapus pasal-pasal yang diujikan.
dituduh melakukan pengibaran bendera Uji materiil dengan permohonan penghapusan
kejora saat aksi demonstrasi pada 14 pasal makar ini menjadi harapan baru bagi
Desember 2010. Meki Elosak, Pemohon II, terwujudnya kemerdekaan berpendapat di
adalah petani yang divonis 8 (delapan) tahun negeri ini. []

Redupnya Api Reformasi


79
MIMPI PENEGAKAN HUKUM
TANPA PENYIKSAAN

F
enomena penyiksaan seakan tidak ada Berdasarkan rentang waktu antara tahun
habisnya dalam proses penegakan hukum. 2013 hingga 2016, LBH Jakarta menerima
Riset LBH Jakarta mencatat dalam empat 37 kasus pengaduan dari masyarakat terkait
(4) tahun terakhir, pola-pola penyiksaan masih dengan praktek penyiksaan yang dilakukan
terus digunakan dan mendominasi proses oleh aparat kepolisian. Penyiksaan oleh polisi
bekerjanya penegakan hukum khususnya di cukup merata di semua tingkatan kepolisian
tingkat penyidikan oleh Institusi Kepolisian. mulai dari polda hingga polsek. Motifnya
Tugas mulia Kepolisian sebagai garda terdepan berpola sama, penyiksaan untuk mendapatkan
penegakan hukum masih dikotori dengan pengakuan. Hasil pengaduan menunjukkan
berbagai tindakan-tindakan penyiksaan bahwa praktek penyiksaan yang dilakukan
kejam dan tidak manusiawi terhadap para oleh aparat kepolisian tidak hanya kepada
tersangka. Tantangan penegakan hukum orang dewasa, melainkan juga kepada anak-
oleh kepolisian masih dihadapkan pada anak. Penyiksaan seringkali terjadi pada
kecenderungan melawan kejahatan dengan saat penangkapan dan pemeriksaan ketika
kejahatan (penyiksaan). tersangka tidak didampingi oleh pendamping
atau advokat. Korban penyiksaan sebagian

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


80
besar merupakan masyarakat dari latar polisi melalui praperadilan di Pengadilan
belakang ekonomi rendah dengan tuduhan Negeri Jakarta Selatan. Upaya paksa yang
kejahatan beragam. Berbagai jenis praktek tidak sah dan penyiksaan menjadi dasar
penyiksaan seperti kekerasan fisik, verbal, permohonan pra peradilan. Dalam proses
maupun seksual dialami para korban pra peradilan Kepolisian berkilah upaya
penyiksaan. Para korban penyiksaan dipukuli, paksa telah sesuai prosedur dengan bukti
ditembak, disetrum, disudut rokok, diintimidasi, yang minim. Meskipun Kepolisian terus
dan dikencingi, serta ada juga yang disakiti membantah pihaknya sama sekali tak pernah
alat vitalnya. Temuan data penyiksaan dalam menyiksa, faktanya penyiksaan itu nyata.
penelitian menegaskan kembali temuan Meski penyiksaan belum dipertimbangkan
riset penyiksaan sebelumnya bahwa negara oleh hakim, pra peradilan menyatakan
masih gagal dalam mencegah dan menindak bahwa penetapan tersangka ketiganya
praktek-praktek penyiksaan terutama yang terbukti tidak sah. Penggeledahan dan
dilakukan oleh pihak Kepolisian. 31 penyitaan yang melanggar prosedur menjadi
pertimbangan.33
Seperti halnya tragedy penyiksaan yang
dialami Aris Winata (33), Bihin Charles (46), Penyiksaan dengan segala bentuknya
dan Herianto (21), warga Tangerang, mereka apalagi dalam proses penegakan hukum
dituding mencuri motor milik Deny Setiawan merupakan perbuatan terlarang dan tidak
di Bojong Menteng, Bekasi, pada Juni 2016.32 bisa ditoleransi. Prinsip negara hukum secara
Baru setahun kemudian, pasca peristiwa tegas meletakkan perlindungan hak asasi
pencurian, tepatnya pada bulan april Manusia (HAM) sebagai prasyarat utama
mereka ditangkap polisi karena dicurigai tegaknya negara hukum. Perlindungan HAM
sebagai pelaku. Proses penangkapan hingga tersebut diletakkan dalam sebuah kerangka
penetapan tersangka sangat ganjil. Pihak “pemerintahan berdasarkan peraturan
polisi tidak memberikan surat penangkapan, perundang-undangan” (asas legalitas). Hal
penahanan, penyitaan dan penggeledahan ini berarti, penegakan hukum sebagai salah
rumah. Ketiga tersangka disiksa polisi agar satu tugas pemerintah harus didasarkan atas
mengakui hal yang sama sekali tak pernah ketentuan peraturan perundang-undangan
diperbuat. Aparat kepolisian Polda Metro Jaya yang berlaku.
menyiksa ketiganya dengan cara menyetrum
kemaluan korban, memukuli badan, kepala, Kepatuhan aparat penegak hukum terhadap
dan membalsem kemaluan. asas legalitas sejatinya bertujuan agar
setiap pribadi terlindungi dari kekerasan
Atas kejadian yang menimpa tiga korban dan ketidakadilan,  kepastian hukum,
salah tangkap dan penyiksaan tersebut, LBH persamaan kedudukan di hadapan
Jakarta menggugat penetapan tersangka oleh hukum. Dengan cara inilah  hukum  dapat
ditegakkan  dan  penegakan hukum tidak
31
Lihat dalam penelitian LBH Jakarta, “Kepolisian
Dalam Bayang-Bayang Penyiksaan” dapat diunduh pada melanggar tujuan hukum itu sendiri, yaitu
https://w w w.bantuanhukum.or.id/web/wp-content/ melindungi hak-hak individu dan masyarakat.
uploads/2017/08/Kepolisian-dalam-Bayang-Bayang-
Penyiksaan-web.pdf 33
Lihat pada https://www.bantuanhukum.or.id/
32
http://w w w.hukumonline.com/berita/baca/ web/korban-salah-tangkap-rayakan-idul-fitri-dengan-
lt592bf3d75360a/tersangka-pencurian-dan-penadahan- kebebasan/
ajukan-praperadilan

Redupnya Api Reformasi


81
Perlindungan HAM  melalui  peraturan teknologi dan kreatifitas penyidikan untuk
perundang-undangan  harus dipahami mengungkap kejahatan belum menjadi
sebagai rambu pembatas penegakan hukum pilihan. Sulitnya pembuktian kasus seringkali
dari kesewenang-wenangan (abuse of power) menjadi alasan. Kurangnya profesionalitas
dalam penegakan hukum. dan perspektif hak asasi manusia tidak hanya
Aparat kepolisian namun juga aparat penegak
Tingginya angka kriminalitas juga berbanding hukum seperti Jaksa maupun Hakim sebagai
lurus dengan maraknya pelanggaran rambu- sang pengadil menjadi sebab. Tidak jarang
rambu pembatas penegakan hukum itu sendiri. Jaksa dan Hakim menganggap penyiksaan
Kesalahan prosedur dalam proses penegakan adalah hal yang biasa. Ada kesalahan
hukum  (unfair trial) juga turut memperparah pandangan bahwa tersangka yang diduga
keadaan. Sistem peradilan pidana  Indonesia penjahat layak disiksa.
menempatkan  kepolisian sebagai alat
negara yang bertanggungjawab dalam Ironisnya, Jaksa dan Hakim nampak menutup
pemeliharaan keamanan dan ketertiban mata dengan adanya praktek penyiksaan.
masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, Hakim enggan menemukan hukum materiil
pengayoman, dan pelayanan kepada dan sulit keluar dari jebakan hukum acara.
masyarakat dengan menjunjung tinggi HAM Mereka acapkali memilih mengabaikan
bukan justu sebaliknya, sebagai pelanggar keterangan korban penyiksaaan, bahkan
HAM. memberatkan korban untuk membuktikan
praktek penyiksaan diluar proses perkaranya
Menghadirkan sikap profesional dan humanis yang sedang berjalan. Fungsi penting Jaksa
dari aparat penegak hukum bukanlah pekerjaan sebagai pengendali perkara (dominus litis)
ringan. Namun, jika budaya penyiksaan tidak dalam mengawasi proses penyidikan oleh
bisa diminimalisir secara bertahap  wibawa Kepolisian juga tumpul. Belum adanya
hukum dan hak asasi manusia diambang peraturan khusus mengenai larangan
kehancuran. Sudah sepatutnya menjadi penyiksaan dan sanksinya serta mekanisme
buah renungan bersama bagi seluruh aparat pemulihan korban penyiksaan yang sejalan
penegak hukum, khususnya bagi institusi dengan Konvensi Anti Penyiksaan serta
kepolisian, jika  terus menjadikan penyiksaan gagalnya pengawasan dan penindakan
sebagai metode pengungkapan kasus. terhadap praktek penyiksaan oleh aparat
Kepolisian maupun komisi-komisi negara
Hambatan Penghapusan Praktek Penyiksaan pengawas peradilan menjadi persoalan serius.
Berbagai tantangan mengganjal upaya Melawan Kejahatan Tanpa Penyiksaan
menghapus kosakata penyiksaan dalam proses
hukum. Penyiksaan masih kerap digunakan Pemerintah memiliki peran menentukan
untuk mengejar pengakuan khususnya dalam untuk memberikan jaminan perlindungan
tahap penyidikan. Padahal pengakuan jelas keamanan dan keselamatan terhadap warga
bukan merupakan alat bukti.34 Perkembangan negaranya. Upaya penghapusan praktek
penyiksaan telah menjadi komitmen Indonesia
34
Pasal 184 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum
Acara Pidana (KUHAP) disebutkan bahwa alat bukti yang sebagai anggota PBB yang telah meratifikasi
sah adalah: keterangan saksi, keterangan ahli, surat, Konvensi Anti Penyiksaan. Harus ada upaya
petunjuk dan keterangan terdakwa.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


82

sah. Tak hanya itu, Pemerintah mesti segera
menerbitkan regulasi khusus yang mengatur
pemulihan hak-hak korban penyiksaan,
Komitmen pemerintah untuk melaksanakan
konvensi menentang praktek penyiksaan
Penyidikan dengan yang telah diratifikasi harus dipastikan
pelaksanaannya terutama untuk mencegah
bukti yang didapatkan terjadinya praktek-praktek penyiksaan oleh
Aparat Penegak hukum. Ratifkasi protocol
dari perbuatan optional untuk Konvensi PBB menentang
Penyiksaan dan Perlakuan atau Penghukuman
melawan hukum Kejam, Tidak Manusiawi atau merendahkan
Martabat Manusia menjadi alternatif.
seperti penyiksaan
Tak hanya peran pemerintah yang dinantikan.
mestinya dinyatakan Institusi-institusi negara independen yang
memiliki mandat untuk melakukan fungsi
tidak sah. pengawasan, pemantauan, perlindungan
dan pemulihan hak warga (KOMNAS HAM,
OMBUDSMAN RI, LPSK, KOMPOLNAS, dll)
secara maksimal harus melakukan upaya
kongkrit pemerintah untuk menghentikan aktif untuk mencegah dan mendorong
praktek-praktek penyiksaan di Indonesia. Ada penindakan terhadap praktek penyiksaan
beberapa yang dapat dilakukan pemerintah. dengan bersinergi dengan institusi penegak
Pemerintah semestinya segera melakukan hukum khususnya Kepolisian untuk
reformasi kebijakan hukum terkait penyiksaan. memastikan adanya mekanisme pencegahan,
Menerbitkan regulasi khusus untuk mencegah penghukuman atas kejahatan penyiksaan
dan menghukum tindakan penyiksaan sebagai yang masih berjalan, perlindungan kepada
tindak pidana. Revisi KUHAP yang mengatur saksi dan korban serta pemulihan hak-hak
keberadaan Hakim Komisaris sebagai pejabat korban sesuai dengan standar instrumen
yang diberi wewenang untuk mengawasai hukum HAM Internasional.
upaya paksa dalam proses penyidikan
dan penuntutan, dan wewenang lain yang Disamping itu, masyarakat memiliki peranan
ditentukan  dalam KUHAP menjadi tawaran yang menentukan dalam mencegah dan
berharga. Harus didorong hukum acara yang mengungkap praktek-praktek penyiksaan.
mencegah penggunaan penyiksaan sebagai Masyarakat harus berdaya agar sadar
metode penyidikan dan pembuktian. Peran akan haknya dan tidak segan-segan dalam
Kejaksaan sebagai pengendali perkara melaporkan ancaman/tindak penyiksaan yang
penting untuk dipikirkan sehingga Jaksa terjadi. Apabila menghadapi masalah hukum
tidak secara serta merta menerima perkara pidana segera mencari bantuan hukum
dari penyidik. Penyidikan dengan bukti yang untuk mencegah penyiksaan dan memastikan
didapatkan dari perbuatan melawan hukum pemeriksaan terhadap dirinya berjalan sesuai
seperti penyiksaan mestinya dinyatakan tidak dengan standar Hak Asasi Manusia. []

Redupnya Api Reformasi


83
Korban Salah tangkap & Penyiksaan
Menangkan Pra Peradilan

S
elasa, 13 Juni 2017 merupakan hari yang membahagiakan bagi Herianto, Aris Winata
Saputra, dan Bihin Charles dan keluarga. Pasalnya, pada hari dan tanggal tersebut mereka
memenangkan Permohonan Prapradilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Persidangan
Prapradilan yang dipimpin oleh hakim Ponto Bidara, S.H. menyatakan bahwa Penggeledahan,
Penyitaan, dan Penetapan tersangka terhadap Herianto, Aris Winarta Saputra, dan Bihin tidak
berdasarkan Hukum.35 Dalam permohonan Prapradilan tersebut, Herianto, Aris Winarta Saputra dan
Bihin Charles juga menuntut ganti rugi sebesar Rp. 150.000.000, dan direhabilitasi nama baiknya
di 5 media cetak nasional dan 10 media online. Namun hakim tidak mengabulkan permohonan
tersebut.

Herianto, Aris Winata Saputra, dan Bihin merupakan korban salah tangkap oleh Kepolisian Polda
Metro Jaya. Herianto dan Aris Winarta Saputra dituduh melakukan pencurian sepeda motor milik
Deny Setiawan di Bojong Menteng, Bekasi, pada Juni 2016 dan Bihin dituduh sebagai penadahnya.36
Ketiganya ditangkap, rumahnya digeledah dan beberapa barangnya disita pada 7 April 2017 tanpa
adanya surat penangkapan, surat penggeledahan, dan surat penyitaan. Pada tanggal tersebut pula
mereka bertiga disiksa oleh kepolisian dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka perbuat.
Aparat kepolisian Polda Metro Jaya menyiksa ketiganya dengan cara menyetrum kemaluan korban,
memukuli badan, kepala, dan membalsem kemaluan.

Meskipun mereka telah bebas dan kembali berkumpul bersama keluarganya, namun bayang-bayang
penyiksaan yang mereka alami terus menghantui. Mereka kini terus berusaha melebur kenangan
itu dalam perjalanan hidup mereka. Upaya hukum dan pelaporan terkait pelanggaran penyidik ke
Propam serta permohonan pra peradilan ganti rugi akan dilayangkan sebagai bagian dari pemulihan
hak korban peradilan sesat.

Kasus yang menimpa Herianto, Aris Winata Saputra dan Charles Bihin menjadi pembelajaran agar
Kepolisian yang bertugas melindungi, melayani dan mengayomi masyarakat dapat menjalankan
prosedur yang sah dalam pengungkapan peristiwa hukum dan menghindari praktik-praktik
penyiksaan terhadap terduga pelaku tindak pidana. Polisi wajib menjunjung tinggi asas Praduga
tidak bersalah (Presumtion innocence) serta mengedepankan profesionalitas dan penghormatan
terhadap HAM dalam proses penegakan hukum. []

35
Lihat selengkapnya dalam Putusan Nomor 56/PID.PRAP/2017/PN.JKT.SEL.
36
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt592bf3d75360a/tersangka-pencurian-dan-penadahan-ajukan-
praperadilan

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


84
BANTUAN HUKUM TERHADAP ANAK
YANG SERING TERABAIKAN

B
antuan hukum adalah hak semua Undang-undang SPPA mewajibkan bantuan
orang termasuk anak, dalam konteks hukum pada anak, semua proses pidana
pidana terdapat Undang-undang yang dilakukan tanpa kehadiran Advokat
Sistem Peradilan Anak (UU SPPA) yang juga atau pemberi bantuan hukum lainnya dapat
mengatur soal bantuan hukum untuk anak. dibatalkan. Melalui cara tersebut negara
Anak saat berhadapan dengan hukum wajib mampu menghadirkan akses terhadap
diberikan bantuan hukum dan didampingi keadilan terhadap anak – anak yang
oleh Pembimbing Kemasyarakatan atau berkonflik dengan hukum. Hal lain yang
pendamping lain sesuai dengan ketentuan harus diperhatikan adalah bagaimana jika
peraturan perundang-undangan. Pada pemberi bantuan hukum tersebut ternyata
praktek pemberian bantuan hukum untuk tidak nyata – nyata hadir secara fisik pada
anak berhadapan dengan hukum masih terjadi saat pemeriksaan? Oleh karena itu penting
masalah dari aparat penegak hukum. Padahal bagi Mahkamah Agung berserta hakim-
UU SPPA ini merujuk pada UU Bantuan Hukum hakim pemeriksa perkara benar – benar
yang mengakomodasi advokat dan pemberi memperhatikan ketentuan kewajiban bantuan
bantuan hukum lain untuk mendampingi hukum ini. Jika tidak nasib ketentuan bantuan
anak. hukum yang merupakan tinta emas ini akan

Redupnya Api Reformasi


85
segera diabaikan sama seperti nasib dari peradilan pidana dan aparat penegak hukum
ketentuan Pasal 56 ayat (1) KUHAP. di setiap tingkatan wajib mengedepankan hal
ini. Secara prinsip, Diversi difungsikan sebagai
Penahanan : Sebuah Upaya Terakhir dengan upaya mengalihkan penyelesaian perkara
Pengecualian anak dari proses peradilan ke proses di luar
peradilan.
Penahanan dalam UU SPPA tetap
diperbolehkan namun menjadi upaya terakhir Pasal 5 ayat (3) UU SPPA mengatur bahwa
dan menjadi pengecualian bagi tindak pidana dalam sistem peradilan pidana anak wajib
tertentu dan dalam kondisi tertentu. UU SPPA diupayakan diversi. Pasal 8 ayat (1) UU
ini membolehkan penahanan sampai dengan SPPA juga telah mengatur bahwa proses
adanya upaya penangguhan penahanan dari diversi dilakukan melalui musyawarah
orang tua anak yang berkonflik dengan hukum dengan melibatkan anak dan orang tua/
tersebut. Penahanan sendiri di Indonesia walinya, korban dan/atau orang tua/
telah lama menjadi sumber masalah. Masalah walinya, pembimbing kemasyarakatan, dan
dari intepretasi yang berbeda antar penegak pekerja sosial profesional berdasarkan
hukum hingga menjadi alat penyalahgunaan pendekatan keadilan restorative. UU SPPA
kewenangan seperti penyiksaan masih juga memberikan perintah tegas terhadap
terjadi. Data dari hasil penelitian LBH Jakarta aparat penegak hukum dan Hakim untuk
menunjukan Kepolisian sebagai aparat mengupayakan Diversi dalam tiap tahapan
penegak hukum yang paling sering melakukan peradilan. Namun, dalam Pasal 7 ayat (2)
penyiksaan. UU SPPA diversi hanya dapat dilakukan
dilaksanakan dalam hal tindak pidana dengan
Penahanan sendiri dalam KUHAP tak pernah ancaman pidana dibawah 7 tahun dan bukan
mensyaratkan dilakukan dengan bentuk merupakan pengulangan tindak pidana.
penahanan di rumah tahanan. Aparat penegak
hukum justru menempatkan tahanan di rumah Dalam kasus anak berhadapan hukum
tahanan yang justru menambah masalah terdapat diskriminasi dalam tindak pidana
klasik di rumah tahanan atau lembaga seperti kepemilikan senjata tajam dan judi
pemasyarakatan yaitu melebihi kapasitas. yang diancam pidana lebih dari 7 tahun
Melihat kondisi seperti itu selayaknya UU meski tidak terdapat korban. Diskriminasi
SPPA menjadikan penahanan sebagai upaya ini bertentangan dengan UN Standard
terakhir kecuali dalam kondisi tertentu dan Minimum Rule (res. No. 33 tahun 1985)
sangat khusus. mengenai administrasi peradilan anak yang
mengutamakan kesejahteraan, kelangsungan
Mandeknya Upaya Diversi Terhadap Anak hidup, dan tumbuh berkembang anak tanpa
diskriminasi. Hal ini seakan membuka
Sebagai peraturan yang menerapkan
peluang pemidanaan terhadap anak terus
restorative justice, UU SPPA mengatur upaya
terjadi karena belum mengakomodasi semua
diversi bagi anak. Menurut Pasal 1 angka 7 UU
jenis tindak pidana. []
SPPA diversi adalah pengalihan penyelesaian
perkara Anak dari proses peradilan pidana ke
proses di luar peradilan pidana. Diversi sendiri
menghindarkan anak dari proses formal

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


86
Langgar Kewajiban Bantuan Hukum
bagi ABH Dakwaan Batal Demi
Hukum

L
BH Jakarta berhasil mendorong lahirnya ’Preseden’ Putusan batal demi hukum dakwaan
Jaksa Penuntut Umum dalam dua kasus Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH) yang terancam
pidana UU Darurat No. 12 Tahun 1951 perihal Senjata Tajam. Eksepsi LBH Jakarta terkait
ketiadaan pendamping hukum dalam proses penyidikan dikabulkan. Dalam dua Putusan Perkara
No. 24/Pid.Sus.Anak/2016/PN.JKT.UTR dan Putusan No. 28/Pid.Sus.Anak/2016/PN.JKT.UTR Sutedjo
Bimantoro, S.H., M.H., Hakim tunggal anak yang memutus kasus KA (13 Tahun) dan AAP (16 Tahun)
menyatakan dakwaan JPU harus dinyatakan batal demi hukum karena penyidikan dinilai cacat
hukum melanggar ketentuan Pasal 23 ayat (1) UU SPPA.

Dalam pertimbangannya hakim menegaskan bahwa Dalam setiap tingkat pemeriksaan , anak wajib
diberikan bantuan hukum, frasa wajib dalam kalimat tersebut merupakan hal yang bersifat imperatif
atau sebuah perintah yang tidak boleh disimpangi dalam setiap tingkat pemeriksaan baik ditingkat
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di Pengadilan.

Selain itu, pertimbangan putusan tersebut mengungkap fakta bahwa meskipun secara formal
kepolisian menunjuk kuasa hukum tetapi nyatanya penunjukan itu hanya ”modus tipu-tipu” untuk
mengakali kewajiban penyidik untuk memenuhi hak bantuan hukum bagi ABH. Dalam surat kuasa
ditemukan dua fakta kejanggalan, yakni: tanggal surat kuasa yang ditandatangani dibuat lebih awal
dibandingkan surat penunjukan oleh Kapolsek Metro Penjaringan dan surat kuasa ditandatangani
sendiri oleh para ABH yang belum cakap secara hukum. Hal tersebut jelas bertentangan dengan
Pasal 1320 jo 1330 KUHPer dan berakibat pada tidak sahnya surat kuasa. Karena surat kuasa tidak
sah maka secara formal dan material dalam proses penyidikan ABH dinilai tidak pernah didampingi
penasehat hukum. []

Redupnya Api Reformasi


87
EVALUASI SISTEM BANTUAN HUKUM:
MENGORBANKAN SUBSTANSI
DEMI ADMINISTRASI

U
ndang-Undang No. 16 tahun 2011 bantuan hukum secara Cuma-Cuma terhadap
tentang bantuan hukum merupakan masyarakat miskin37. Undang-undang ini
kemajuan di sejarah Indonesia sebagai memberikan bantuan hukum baik secara
undang-undang pertama yang menjamin hak litigasi maupun non-litigasi untuk kasus
bantuan hukum, bahkan mengalokasikan pidana, perdata dan tata usaha negara, serta
anggaran negara sebagai perwujudan 37
Undang-undang ini masih melihat kemiskinan
konkret kewajiban negara dalam pemberian sebagai kemiskinan ekonomi, bukan masyarakat yang
rentan

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


88
memandatkan Badan Pembinaan Hukum mendapatkan informasi yang jelas mengenai
Nasional (BPHN) sebagai penyelenggara hal-hal apa saja yang dibutuhkan untuk
pemberian bantuan hukum ini. memverifikasi organisasi bantuan hukumnya.
Hal lain yang menjadi persoalan adalah
Pertama kali undang-undang ini disahkan, hal tidak sesuainya sistem bantuan hukum
pertama yang dilakukan adalah memverifikasi yang diterapkan di peraturan perundang-
organisasi bantuan hukum. Proses verifikasi ini undangan dengan gerakan bantuan hukum
mendaftarkan 310 organisasi bantuan hukum struktural yang dilakukan oleh LBH di bawah
(OBH) pada tahun 2013 dan saat ini telah YLBHI. Padahal bantuan hukum struktural ini
berjumlah sebanyak 405 organisasi (verifikasi muncul sebagai kritik atas bantuan hukum
berikutnya akan dilakukan pada tahun 2018). tradisional yang bersifat individual-legalistik
Hal ini jelas menunjukkan bahwa undang- formal yang tidak dapat dapat menjawab akar
undang bantuan hukum ini memunculkan permasalahan kemiskinan dan keadilan yang
banyak organisasi bantuan hukum yang menimpa masyarakat.
memberikan bantuan hukum cuma-cuma
sehingga mendekatkan masyarakat miskin Gerakan bantuan hukum struktural ini
untuk mendapatkan keadilannya. telah terbukti banyak membawa perubahan
terhadap perlindungan hak asasi manusia
Terlepas dari banyaknya organisasi bantuan dan penegakan hukum (bahkan menjadi
hukum yang bermunculan, sistem bantuan pencetus lokomotif demokrasi). Pada
hukum ini masih belum dapat menjamin akhirnya gerakan bantuan hukum tersebut
kualitas dari pemberian bantuan hukum. Hal tidak dapat ditampung dalam sistem bantuan
ini dikarenakan indikator baik buruknya suatu hukum yang ada lagi-lagi karena masalah
sistem ini dihitung dari hal-hal yang bersifat administrasi. Oleh karenanya, sistem bantuan
administrasi dan bukan kualitas atau manfaat hukum ini mendukung sistem bantuan hukum
yang diterima. Sebagai contoh, performa tradisional (yang sudah lama ditinggalkan
kerja organisasi bantuan hukum dihitung oleh LBH dibawah YLBHI karena tidak efektif),
berdasarkan berapa jumlah dana yang yang masih mengutamakan litigasi biasa.38
diserap, artinya suatu organisasi bantuan Itu pun masih ditemukan kasus dimana
hukum yang lebih banyak menangani kasus masyarakat miskin tidak dipresentasikan
akan diberikan nilai yang tinggi. Hal ini dengan baik, seperti ada kasus dimana
tidak salah sepenuhnya, sayangnya hal ini organisasi bantuan hukum menolak banding
dijadikan satu-satunya tolak ukur performa bahkan meminta uang dari kliennya, namun
kerja sehingga hal tersebut tidak menjawab dia tetap mendapat nilai performa yang baik
bagaimana mengukur kualitas representasi karena menangani kasus dengan jumlah yang
dari pemberian bantuan hukum tersebut. banyak.

Sistem bantuan hukum saat ini begitu 38


Sementara bantuan hukum struktural tidak
melakukan litigasi biasa. Litigasi harus dilakukan secara
menekankan pada administrasi, maka strategis untuk kepentingan masyarakat banyak, bahkan
mayoritas masalah yang muncul adalah menjawab permasalahan kemiskinan structural yang
masalah yang terkait kendala administrasi. menimpa mereka. Dalam banyak kasus, litigasi tidak
dijadikan hal yang diutamakan. Hal ini dikarenakan masih
Contohnya ada banyak organisasi bantuan banyaknya aturan hukum yang tidak adil dan menindas
hukum yang tidak terverifikasi karena tidak masyarakat sehingga mekanisme hukum yang tersedia
masih belum memadai untuk membawa keadilan.

Redupnya Api Reformasi


89
Masalah lain yang muncul dari sistem bantuan Di tengah kelebihan dan kelemahan sistem
hukum yang ada saat ini adalah masih adanya bantuan hukum yang ada saat ini, setidaknya
kebingungan antara definisi bantuan hukum undang-undang bantuan hukum memberikan
sebagai bagian kewajiban negara dan pro- dua peluang yang dapat mendekatkan akses
bono sebagai bagian dari kewajiban advokat. masyarakat terhadap keadilan. Pertama,
Semenjak Undang-Undang ini dilahirkan, undang-undang ini membuka peluang
muncul tren dimana kantor pengacara untuk melibatkan kampus dan paralegal
dan organisasi profesi juga mendaftarkan dalam memberikan bantuan hukum (bahkan
dirinya sebagai organisasi bantuan hukum beracara di bawah organisasi bantuan hukum).
dan mengklaim hal tersebut sebagai pro Kedua, membuka peluang bagi pemerintah
bono (dalam kaitannya dengan kewajiban daerah untuk ikut serta berkontribusi dalam
profesinya). Padahal kedua hal tersebut adalah pemenuhan hak bantuan hukum melalui
dua hal yang sangat berbeda. Pro bono tidak pemberian ABPD sebagai pelengkap dari
bisa disamakan sebagai bagian dari tanggung kewajiban pemerintah pusat, yang dikukuhkan
jawab negara, dan keberadaannya sangat melalui peraturan daerah. Meskipun sudah
penting untuk memenuhi kebutuhan bantuan banyak daerah yang telah memenuhi amanat
hukum yang tidak dapat ditanggung oleh undang-undang dalam pemenuhan hak
negara. Namun demikian, tren tersebut terjadi bantuan hukum, Pemerintah DKI Jakarta justru
karena kurang jelasnya definisi bantuan belum mensahkan peraturan daerah tersebut.
hukum dalam undang-undang tahun 2011 Oleh karenanya, hal ini merupakan salah satu
tersebut yang tidak menjelaskan perbedaan hal yang wajib menjadi prioritas gubernur
antara bantuan hukum yang dilakukan negara DKI Jakarta sebagai bagian perwujudan
dengan advokat. Kebingungan tersebut juga komitmennya untuk melindungi hak asasi
terjadi akibat terlalu lama absennya negara manusia, dan pemenuhan akses terhadap
dan profesi advokat dalam memberikan keadilan bagi orang miskin. []
bantuan hukum.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


90
Redupnya Api Reformasi
91
KELOMPOK MINORITAS & RENTAN

POLITIK IDENTITAS
DAN LEMAHNYA NEGARA
Statistik Umum kelompok korban pelanggaran HAM masa
lalu, dan kelompok HIV/AIDS. Bidang KMR

B
idang Kelompok Minoritas dan Rentan menanungi advokasi dari beragam kelompok
(KMR) adalah bidang yang menangani dan isu dikarenakan kelompok-kelompok
kasus-kasus yang berkaitan dengan tersebut cenderung memiliki kemiripan dalam
pelanggaran HAM dan kejahatan yang terjadi persoalan dan tantangannya. Kekerasan,
kepada kelompok minoritas dan rentan. diskriminasi, kriminalisasi, persekusi, stigma
Kelompok minoritas dan rentan terdiri dari sampai dengan impunitas menjadi beberapa
kelompok perempuan, anak, kelompok agama permasalahan utama yang sering dihadapi
dan kepercayaan minoritas, kelompok lesbian, oleh kelompok-kelompok tersebut. Baik
gay, biseksual, transgender, interseks dan karena pengaruh kondisinya yang rentan,
queer (LGBTIQ), masyarakat Papua, disabilitas, maupun kondisi penerapan politik mayoritas-

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


92
minoritas yang menjadikan kelompok tersebut bersama sebagai implikasi model Bantuan
sebagai kelompok yang “minoritas” karena Hukum Struktural yang dilakukan oleh LBH
dibedakan, disingkirkan maupun “dikucilkan” Jakarta, maka kasus-kasus yang menempuh
sehingga tidak memiliki pengaruh kekuasaan jalur litigasi sekalipun, di dalamnya pasti akan
apa pun meski jumlah mereka besar. tetap dilakukan upaya non-litigasi berupa
pengorganisiran, mekanisme pelaporan
Tahun 2017 ini, sebagaimana dipaparkan pada lembaga, audiensi serta korespondensi
bagian angka dan data di depan, bidang KMR atau ajudikasi ke lembaga terkait. Kasus
menerima 149 pengaduan yang terdiri dari pengusiran paksa serta kriminalisasi terhadap
142 pengaduan individu dan 7 pengaduan kelompok Millah Abraham, uji materi KUHP
kelompok. Pengaduan tersebut terdiri dari serta pembubaran seminar ’65 di LBH Jakarta
999 orang pencari keadilan. Mengacu pada merupakan kelompok yang memiliki jumlah
data tersebut, dapat disimpulkan bahwa pola anggota terdampak yang cukup besar sebagai
pelanggaran hak atau kejahatan yang dialami pencari keadilan tahun ini.
oleh KMR pada umumnya terjadi secara
komunal dibandingkan individual, karena 7 Politik Identitas – Politik Pecah Belah
pengaduan kelompok yang langsung datang
ke LBH Jakarta terdiri dari 857 orang pencari Berdasarkan pengamatan LBH Jakarta
keadilan. sepanjang tahun ini politik identitas semakin
menguat. Masyarakat dengan sengaja
Kasus KMR sepanjang tahun ini mencapai difragmentasi berdasarkan identitas seksual,
12,2% dari total 1224 pengaduan yang gender, agama, kepercayaan, ras dan etnis,
diterima LBH Jakarta. Adapun subklasifikasi serta ekonominya. Akibatnya, kohesivitas
kasus KMR terdiri atas Hak Tahanan Atas masyarakat terkhusus di DKI Jakarta menjadi
Perlakuan Manusiawi, Unfair Trial (peradilan semakin lemah. Sedikit cuplikan yang menjadi
sesat), Kebebasan Berpikir, Keyakinan dan puncak gunung es-nya dapat disaksikan dari
Beragama, Hak Atas Kebebasan Berpendapat proses Pemilukada DKI Jakarta lalu.
dan Berekspresi, Hak Berkumpul dan
Berserikat, Hak Berpolitik, Hak Kaum Minoritas Politik identitas menjadi mainan dan alat
– LGBT, Pernikahan, Kekerasan Dalam Rumah politik yang sangat manjur dalam Pemilukada
Tangga (KDRT), Perceraian, Perlindungan DKI Jakarta. Dimulai dengan digelontorkannya
Anak, dan Perlindungan Perempuan. isu rasial yang menolak Gubernur dari etnis
Tionghoa yang beragama Kristen, sampai
Kasus yang ditangani lebih lanjut oleh bidang tiba pada kriminalisasi Basuki Tjahaya
KMR ialah sebanyak 26 kasus yang berasal Purnama (Ahok) dengan menggunakan
dari kasus pengaduan langsung dan kasus pasal penodaan agama. Diputus bersalahnya
yang masuk melalui jalur jaringan. Total Ahok oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta
pencari keadilannya sebanyak 3040 orang. Utara menjadi penambah legitimasi bagi
Keseluruhan kasus tersebut ditindaklanjuti kelompok pelaku kekerasan berbasiskan
melalui jalur litigasi dan non litigasi. agama baik violence extremism maupun non-
Komposisinya ialah sebagai berikut: 9 kasus violance extremism. Tidak berjalannya proses
ditindaklanjuti melalui jalur litigasi, 17 kasus penegakkan hukum kepada para pelaku ujaran
menempuh jalur non-litigasi. Perlu kita ketahui kebencian di ruang-ruang publik tersebut

Redupnya Api Reformasi


93
merupakan sikap negara yang diam dan abai, identitas berbeda dari peserta aksi 212.
sehingga ini memunculkan kepercayaan diri Terlebih lagi saat Jokowi tidak melakukan
kelompok intoleran untuk meneruskan aksi- tindakan yang sama kepada aksi-aksi yang
aksinya, memperkuat mereka dan di sisi lain diselenggarakan oleh kelompok masyarakat
melemahkan negara. Kepercayaan publik dengan identitas lainnya seperti misalnya aksi
kepada negara dan institusi hukum akhirnya 2 mingguan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia
semakin menipis. Mayoritas mendapat yang sudah 157 kali diselenggarakan sejak
legitimasi untuk menindas kelompok 2012, dan aksi Kamisan yang sudah mencapai
minoritas. 516 Kamis. Tak satu pun dari kedua aksi rutin
tersebut dikunjungi oleh Presiden Jokowi.
Makian, ajakan untuk membunuh bahkan
memperkosa perempuan etnis Tionghoa Masih menggunakan politik identitas, bullying
bertebaran di media sosial dan area-area di media online semakin marak terjadi.
publik saat Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Kelompok intoleran yang salah satunya
LBH Jakarta dalam hal ini bersama dengan bekerja melalui kelompok Muslim Cyber Army
Kelompok Perempuan Anti Kekerasan (MCA) bekerja dengan masif mengangkat
berhasil melaporkan seorang pemuda topik-topik politik identitas ke ruang publik
yang menyampaikan ujaran kebencian dan di dunia maya (online). Dan hukum serta
seruan untuk melakukan perkosaan kepada penegak hukum tak dapat melakukan apapun
perempuan pendukung Ahok di Facebook, ke untuk menghentikan gerakan tersebut karena
Polda Metro Jaya. Meskipun demikian, LBH memang sampai hari ini belum ada delik yang
Jakarta tetap dalam posisi non-partisan dan secara langsung mengkriminalisasi tindakan
tidak berpihak pada elit politik manapun. yang mereka lakukan. Meskipun masih ada
Basis tindakan LBH Jakarta jelas, bahwa ujaran aturan hukum lain yang dapat digunakan
kebencian tersebut merupakan ancaman untuk menindak setiap ujaran kebencian yang
bagi perempuan terkhusus perempuan dilakukan oleh kelompok intoleran.
etnis Tionghoa. Dan kita juga harus ingat,
bahwa Jakara memiliki sejarah kelam terkait Banyak pihak menyebut bullying dan
perkosaan perempuan etnis Tionghoa pada kekerasan yang ditargetkan ke orang-
tahun 1998, yang sampai hari ini belum ada orang tertentu ini sebagai persekusi.
penyelesaian hukum maupun non-hukumnya. Namun ternyata hal tersebut tidak tepat
Namun peristiwa kejahatan tersebut masih jika mengacu pada Statuta Roma dan 6
sangat membekas dan traumatis bagi (enam) elemen kejahatan dalam persekusi
penduduk Jakarta. yang diatur oleh International Criminal Court
(Pengadilan Kriminal Internasional). Persekusi
Aksi-aksi yang menonjolkan politik identitas sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan
dari kelompok tertentu juga berulangkali diatur dalam Pasal 9 huruf (h) UU No 26
terjadi secara besar-besaran. Aksi 411, 212 dan Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Maka
seterusnya. Dan sangat disayangkan, Presiden persekusi sebagai pelanggaran HAM berat
Jokowi justru menghadiri aksi 212 yang dapat diproses berdasarkan UU No. 26 Tahun
mengedepankan penonjolan politik identitas 2000.39 Tetapi hal ini jangan sampai menjadi
tertentu. Hal ini dapat dimaknai negatif oleh pembatas bagi kita untuk memikirkan dan
kelompok masyarakat lainnya yang memiliki 39
http://www.ylbhi.or.id/2017/07/artikel-diskusi-
persekusi/, diakses pada 7 Desember 2017.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


94
UU ITE. UU ITE adalah instrumen hukum
yang saat ini juga sering disandingkan


dengan pasal penodaan agama disaat media
penyebaran pemikiran atau pendapat tersebut
dilakukan melalui online. UU ITE menjadi alat
kriminalisasi kebebasan serta kemerdekaan
berpikir dan berpendapat di media online.
UU ITE menjadi Bukan hanya diskriminasi serta kriminalisasi
alat kriminalisasi berbasiskan politik identitas agama dan ras
yang marak, politik identitas berbasiskan
kebebasan serta ideologi pun terjadi. Orang-orang yang
memiliki pemikiran “berbeda” dari mayoritas
kemerdekaan berpikir dan mencoba menuangkannya di media
sosial dan melakukan kritik terhadap
dan berpendapat di pemerintah, mereka ini tak jarang distigma
sebagai komunis dan pemberontak. Stigma
media online. komunis ini juga dialami oleh LBH Jakarta
saat terjadi pembubaran seminar ’65 dan
penyerangan kantor LBH Jakarta tatkala
menyelenggarakan acara Asik, Asik, Aksi pada
bahkan merumuskan definisi persekusi sesuai 18 – 19 September lalu. LBH Jakarta yang
dengan konteks yang ada di negara kita selalu berjuang bersama dengan para korban
hari ini dan terlebih lagi mengatur tentang ketidakadilan dan korban 65 dituduh sebagai
sanksi hukum atas kejahatan tersebut. Hanya sarang PKI. Namun di waktu kemudian, pihak
saja apakah negara atau aparat penegak yang mencap LBH Jakarta sebagai sarang
hukum “mau” melakukannya atau tidak. Sama PKI juga menggunakan LBH Jakarta sebagai
halnya seperti preferensi kehadiran Jokowi tempat untuk mereka mengadakan diskusi.
di aksi 212 dan sebaliknya di aksi-aksi lain, Stigma atau pelabelan dengan menggunakan
keseluruhannya bicara mengenai political will politik identitas, sudah nyata akibatnya,
Pemerintah. membawa perpecahan di tengah masyarakat.
Ketidakpercayaan antar anggota masyarakat
Bullying di media online tak jarang berujung satu dan yang lainnya semakin menguat.
pada tindakan kekerasan dan kriminalisasi Fragmentasi pun semakin kokoh, dan ini tidak
dengan pasal penodaan agama sebagaimana bisa didiamkan.
yang dialami oleh dr. Otto di Balikpapan
yang divonis 2 tahun penjara. Aking Saputra Politik identitas berbasiskan identitas gender
di Karawang pun mengalami hal yang sama. dari sudut pandang agama juga dialami
Berawal dari ujaran di Facebook bertahun- oleh kelompok LGBTIQ. Upaya kriminalisasi
tahun yang lalu, namun kembali diangkat kepada kelompok ini dilakukan dengan
dengan cara dikomentari oleh kelompok masif dan terstruktur, baik melalui jalur uji
intoleran yang diakhiri dengan kriminalisasi materi KUHP di Mahkamah Konstitusi (MK)
Aking dengan pasal penodaan agama dan yang diajukan oleh kelompok AILA, maupun

Redupnya Api Reformasi


95

intervensi dalam proses legislasi pada
revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana
(KUHP). Tindakan memidanakan seseorang
atas sesuatu yang bukan kejahatan disebut bullying dan
dengan over kriminalisasi. Dan upaya inilah
yang sedang dilakukan oleh kelompok kekerasan pada kaum
intoleran kepada kelompok LGBTIQ. Bahkan
upaya over kriminalisasi ini bukan hanya minoritas semakin
akan berdampak pada kelompok LGBTIQ
saja. Jika MK mengabulkan permohonan uji melebar pada dunia
materi yang diajukan oleh AILA, maka akan
banyak perempuan yang nikah siri, maupun digital
perempuan adat serta kepercayaan minoritas
yang pernikahannya belum dicatat oleh mengatasnamakan diskresi. Kesewenang-
negara akan dipenjarakan. Begitu juga dengan wenangan negara juga dapat dibungkus
anak yang terpapar seks sejak dini. melalui pembentukan peraturan perundang-
undangan yang tidak berkeadilan serta
Politik identitas juga digunakan untuk
menghancurkan sistem hukum yang sudah
mendiskriminasi masyarakat Papua. Mereka
ada sebelumnya. Tindakan negara semacam
distigma sebagai orang yang tidak mampu
ini tercermin dari diterbitkannya PERPPU No
mengelola tanahnya sendiri, pemabuk, bodoh,
2 Tahun 2017 tentang Ormas (yang saat ini
kasar dan stigma negatif lainnya. Stigma
telah disahkan oleh DPR menjadi UU Ormas
tersebut akhirnya melahirkan diskriminasi
Baru). Pada titik ini negara lemah dapat
di berbagai lini serta aspek kehidupan bagi
bertransformasi menjadi negara otoriter.
masyarakat Papua. Berdasarkan stigma
tersebut, perilaku kekerasan aparat Kepolisian Kondisi negara lemah sekaligus negara
dan TNI kepada masyarakat Papua marak otoriter inilah yang tergambar dari
dilakukan dan dianggap sebagai tindakan diterbitkannya PERPPU No 2 Tahun 2017
yang wajar. Berbagai peristiwa pelanggaran yang menurut Pemerintah dikeluarkan
HAM masa lalu seperti kasus Wasior, Biak serta dengan alasan adanya kondisi darurat. Salah
kasus Paniai sampai hari ini tidak kunjung satu kedaruratan tersebut mewujud dalam
menemukan penyelesaian hukum. Seluruhnya pembubaran organisasi HTI tanpa melalui
mandek di tingkat Kejaksaan Agung. proses hukum. Padahal pada UU Ormas
sebelumnya (UU No 17 Tahun 2013) telah
Lemahnya Negara dan Penegakan Hukum
diatur dengan rapih prosedur pembubaran
Seperti sudah disampaikan di awal tulisan ini, ormas yang hanya dapat dilakukan melalui
penerapan politik identitas serta lemahnya proses peradilan. Dan sampai diterbitkannya
penegakan hukum akan berimbas pada PERPPU No 2 Tahun 2017, Pemerintah tidak
menipisnya kepercayaan publik kepada pernah menggunakan mekanisme yang
hukum dan lembaga negara. Negara yang diatur oleh UU Ormas lama untuk menindak
kian lemah pada akhirnya juga akan banyak organisasi HTI yang sudah berdiri sejak tahun
melakukan tindakan sewenang-wenang yang 1980-an. Lalu dimana letak daruratnya jika
sebetulnya Pemerintah punya waktu 37 tahun

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


96
untuk melakukan tindakan hukum? PERPPU tes urin dan disita telepon genggamnya (pada
ini juga memperkuat pasal penodaan agama akhirnya dikembalikan). Sedangkan 3 orang
yang bahkan disebut sebagai penistaan dari Millah Abraham dikriminalisasi atas dasar
agama dengan ancaman pidana seumur hidup. diskresi Kejaksaan Agung yang abai tunduk
Langkah Pemerintah ini juga bertentangan pada ketentuan PNPS No 1 Tahun 1965.
dengan amanat MK yang meminta Pemerintah
untuk terlebih dahulu mereview PNPS No Dari penjelasan kasus di atas, jelas akar
1 Tahun 1965 yang merupakan cikal bakal masalah kasus-kasus terkait kasus minoritas
lahirnya pasal penodaan agama di KUHP. adalah lemahnya kemauan politik dari negara
atas penegakkan hukum dan perlindungan
Kondisi darurat yang ada di depan mata HAM bagi kelompok minoritas dan rentan. Di
justru diabaikan oleh Pemerintah, yakni sisi lain negara berlaku otoriter dan sewenang-
payung hukum perlindungan perempuan dari wenang. Sejak lama, negara tidak pernah hadir
kekerasan seksual. Berdasarkan hasil audiensi sebagai pelindung. Ia hanya membiarkan
dengan Wadir Reskrimum Polda Metro atau ikut serta melakukan diskriminasi dan
Jaya, pihak Kepolisian mengalami kesulitan kekerasan kepada KMR. Aturan yang baik
dalam penangan kasus kekerasan seksual tidak pernah diimplementasikan, sementara
terhadap perempuan dikarenakan hukum korban selalu disalahkan. Penyelesaian
acara dan hukum materiil nya tidak memadai. kasus masa lalu sebatas janji kampanye
Kurangnya alat bukti, definisi perkosaan serta saat Pilpres dikubur dalam-dalam. Ketika
kekerasan terhadap perempuan, pecabulan kemauan politik rendah, tahun ini pemerintah
dan pelecehan masih sangat tidak memadai semakin merepresi dengan aturan-aturan
untuk menjerat pelaku. Oleh karenanya LBH yang memperparah pelanggaran hak asasi
Jakarta yang merupakan bagian dari Jaringan manusia, padahal bullying dan kekerasan
Penghapusan Kekerasan Terhdap Perempuan pada kaum minoritas semakin melebar pada
(Jaring Kasih) mendorong Pemerintah dan dunia digital.
DPR RI untuk segera mensahkan RUU
Penghapusan Kekerasan Seksual Terhadap Paralegal – Perluasan Akses Keadilan
Perempuan.
Mengacu pada kondisi di atas LBH Jakarta
Negara lemah yang bertindak sewenang- menyadari diperlukannya suatu narasi dan
wenang juga tergambar dari peristiwa kekuatan bersama untuk melawan politik
penutupan Pesantren Ibnu Masud di Bogor identitas yang semakin mengganas dengan
atas stigma terorisme dan kriminalisasi 3 memastikan adanya penegakan hukum yang
orang dari kelompok Millah Abraham dengan berjalan dan ketaatan hukum oleh negara
pasal penodaan agama. Pada kedua kasus maupun masyarakat. Salah satu upaya yang
ini, negara jelas menunjukkan kesewenang- telah dilakukan oleh LBH Jakarta pada
wenangannya dalam menggunakan tahun 2017 ini ialah memulai pelatihan
kekuasaan. Pada kasus Ibnu Masud, tanpa bukti paralegal yang inklusif. Dimana anggotanya
permulaan yang cukup dan hanya didasari oleh terdiri dari kelompok-kelompok minoritas
asumsi dan stigma bahwa Ibnu Masud adalah dan rentan yang memilikii komunitas.
“sarang” teroris, seluruh pengajar Pondok Pelatihan ini diisi dengan berbagai materi
Pesantren diperiksa di Kepolisian dilakukan yang mengarusutamakan HAM dan hak-

Redupnya Api Reformasi


97
hak kelompok minoritas-rentan sera hak- pendidikan dan Kode Etik Paralegal
hak kewarganegaraan. LBH Jakarta sangat yang berbasiskan komunitas dan
berharap 23 (dua puluh tiga) orang peserta membuka ruang untuk partisipasi
calon paralegal ini akan menjadi kampiun- publik dalam prosesnya.
kampiun di komunitasnya masing-masing dan
membawa perubahan yang positif di tengah DPR RI
masyarakat. Terlebih lagi para calon paralegal
ini diharapkan dapat menjadi agen yang juga 1. Memasukkan Revisi PERPPU Ormas
membawa perluasan akses keadilan kepada No 2 Tahun 2017 ke dalam Prolegnas
kelompok minoritas dan rentan. 2018 dan memastikan proses
pembahasannya terbuka untuk publik.
Rekomendasi 2. Menghapuskan pasal yang potensial
mengkriminalisasi LGBTIQ dan
Berdasarkan kondisi tersebut di atas LBH perempuan juga anak dalam revisi
Jakarta merekomendasikan : KUHP dan menyusun KUHP yang
sensitif gender serta berkeadilan
Pemerintah dengan membuka seluas-luasnya
partisipasi publik;
1. Melakukan penegakan hukum secara
3. Mendorong pemerintah untuk
setara dan menghapuskan impunitas;
segera menyelesaikan kasus-kasus
2. Menyelesaikan kasus-kasus
pelanggaran HAM masa lalu yang
pelanggaran HAM masa lalu, baik
saat ini mandek di Kejaksaan Agung;
melalui jalur hukum maupun di luar
4. Mensahkan RUU Penghapusan
jalur hukum,
Kekerasan Seksual yang sesuai
3. Merevisi PERPPU No 2 Tahun 2017
dengan hasil Kajian Pola Kekerasan
dan menghapuskan pasal penodaan
Seksual terhadap Perempuan yang
agama dan mengembalikan
sensitif gender dan berperspektif
mekanisme hukum dan proses
korban serta melakukan pendidikan
peradilan dalam pembubaran ormas;
hukum yang sensitif gender serta
4. Menghentikan berbagai upaya
training gender kepada seluruh aparat
kriminalisasi masyarakat dan aktivis
penegak hukum.
serta menghormati kemerdekaan
berpendapat serta berpikir publik.
Masyarakat
5. Menindak tegas segala perilaku
kekerasan baik yang berbasiskan 1. Kembali mengkonsolidasi diri dan
agama maupun di luar agama, serta membangun agenda bersama pasca
pelaku bullying di dunia maya, yang Reformasi.
mencuri informasi-informasi privat 2. Menyatukan gerakan masyarakat
serta menyebarkannya, dan yang untuk pengarusutamaan demokrasi
menggerakan pihak lain untuk dan pelaksanaan agenda Reformasi,
melakukan kekerasan secara langsung jangan terikut pada usaha pecah
kepada seseorang; belah dengan politik identitas. []
6. Menyusun standart kurikulum

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


98
Pembubaran
Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud

1
5 September 2017 Pondok Pesantren (ponpes) Ibnu Mas’ud (IM) dihentikan segala aktivitasnya.
Penghentian didasarkan oleh Surat Pernyataan Bersama dari Muspida Kabupaten Bogor yang
terdiri dari Bupati Bogor, Ketua DPRD Kabupaten Bogor, Dandim 0621 Kabupaten Bogor,
Kapolres Bogor, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bogor, dan Ketua Umum MUI Kabupaten
Bogor. Surat Pernyataan Bersama tersebut berisi tentang Pelarangan Kegiatan Lembaga yang
menamakan diri Ma’had Tahfidzul Qur’An Ibnu Mas’ud di Desa Sukajaya Kecamatan Tamansari,
Kabupaten Bogor. Latar belakang penghentian aktivitas Ponpes dilatar belakangi oleh peristiwa
pada malam 16 Agustus 2017, dimana salah seorang pengasuh di Ponpes (MS) secara tidak sengaja
membakar umbul-umbul 17 Agustus yang dipasang di jalan dekat Ponpes Ibnu Masud. Pasca
peristiwa tersebut muncul stigma di masyarakat bahwa Ponpes IM adalah “sarang teroris”.

LBH Jakarta bersama dengan PBH Dompet Dhuafa dan Amnesty International Indonesia melakukan
pendampingan serta bantuan hukum kepada ponpes dan MS. Akibat dari penghentian aktivitas

Redupnya Api Reformasi


99
Ponpes, ratusan santri kehilangan haknya untuk mendapatkan pendidikan. Sebanyak kurang lebih
400 (empat ratus) anak harus dipulangkan ke daerahnya masing-masing. Terkait dengan hak
pendidikan para Santri ini, LBH Jakarta bekerja sama dengan Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) dengan mengacu pada tanggung jawab negara menjamin hak atas pendidikan sebagaimana
yang diatur dalam Pasal 28 huruf c UUD 1945 dan Pasal 60 ayat (1) UU 39 Tahun 1999 tentang
HAM. Pengaduan serta audiensi telah dilakukan dan diterima langsung oleh Ketua KPAI, namun
sampai hari ini kami masih menunggu gerak nyata KPAI untuk meresponi kasus Ibnu Masud.

Meskipun izin mendirikan bangunan sekolah dan Ponpes belum dikantongi oleh pihak Yayasan
IM, faktanya pengurus Yayasan IM telah melakukan pengurusannya sejak lama, namun respon dari
pihak Pemkab Bekasi sangat lamban sehingga akhirnya pengurus Yayasan berhenti melanjutkan
pengurusannya. Keberadaan IM selama ini juga memberi dampak positif kepada warga sekitar
dengan menyediakan akses air bersih, bakti sosial serta kegiatan lain yang inklusif. Stigma yang
lahir bahwa IM adalah “sarang teroris” sangat bertolak belakang dengan kenyataan dan rekam
jejak Ponpes selama ini. Dan stigma tersebut terpatahkan saat Detasemen Khusus 88 melakukan
pemeriksaan dan sama sekali tidak menemukan orang yang mereka masukkan dalam Daftar
Pencarian Orang (DPO) di Ponpes IM.

Terkait kasus dugaan tindak pidana perusakan umbul-umbul merah putih oleh MS, LBH Jakarta dan
PBH Dompet Dhuafa yang tergabung dalam Tim Gabungan Advokasi memberikan bantuan hukum
kepada MS lewat pendampingan di persidangan. MS didakwa dengan dakwaan Subsidiaritas
Alternatif pembakaran bendera (Pasal 66 jo. Pasal 24 huruf a Undang-Undang No. 24 Tahun 2009
tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan) sebagai Dakwaan Pertama.
Menimbulkan kebakaran (Pasal 187 KUHP) sebagai Dakwaan Kedua atau perusakan barang milik
orang lain (Pasal 406 KUHP) sebagai Dakwaan Ketiga.

MS mengakui perbuatannya, namun ia menyatakan khilaf dan menyesali perbuatannya. Dan malam
saat peristiwa, antara pihak Ponpes IM dan warga setempat telah terjadi kesepakatan dimana
pihak Ponpes IM akan mengganti umbul-umbul yang rusak tersebut. Namun faktanya berbeda,
kesepakatan diingkari dan MS dilaporkan ke pihak Kepolisian oleh Polisi setempat. Bagi kami ini
adalah suatu kejanggalan dimana aparat Kepolisian sendirilah yang menjadi pelapor. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


100
PASAL PENODAAN AGAMA
SEBUAH TEROR KEBANGSAAN

P
asal karet tentang penodaan agama LBH Jakarta juga mencatat kasus yang secara
kembali menjadi ancaman serius langsung ditangani oleh LBH Jakarta terkait
bagi Kemerdekaan Beragama dan dengan penggunaan pasal pengancam
Berkepercayaan (KBB) di Indonesia. Pasal demokrasi ini, yakni kasus Millah Abraham.
ini dalam sejarah bangsa telah berhasil Dan tahun ini pula LBH Jakarta menyusun
mengkriminalisasi banyak orang yang berasal dan mengirimkan Nota Amicus Curiae terkait
dari berbagai golongan. Korban kriminalisasi pasal penodaan agama pada kasus Basuki
mayoritas merupakan kelompok penganut Tjahaja Purnama (Ahok).
agama dan/atau kepercayaan minoritas.
Lia Eden, Hans Bague Jassin, Arswendo Pasal 156a KUHP merupakan turunan dari
Atmowiloto, Saleh, Ardi Husein, Sumardin PNPS (Penetapan Presiden) No 1 Tahun 1965
Tapaya, Yusman Roy, Mangapin Sibuea dan tentang  Pencegahan Penyalahgunaan dan/
masih banyak lagi yang lainnya. Tahun ini atau Penodaan Agama. Pasal ini selalu menjadi

Redupnya Api Reformasi


101
alat represi mayoritas kepada penganut menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan
agama dan keyakinan minoritas dengan hati nuraninya serta hak atas kebebasan
ancaman pidana maksimal 5 tahun penjara. 24 berekspresi, mengeluarkan pendapat
Oktober 2017 pasal ini kemudian dikuatkan sebagaimana dijamin melalui Pasal 28E ayat
oleh PERPPU Nomor 2 Tahun 2017 tentang (1), (2) dan (3) UUD 1945. Pasal penodaan
Organisasi Masyarakat (yang sekarang telah agama adalah suatu teror bagi kesatuan
menjadi UU Ormas baru), yang menyatakan dan persatuan bangsa, sebab telah terbukti
bahwa organisasi masyarakat dilarang berhasil digunakan oleh pihak-pihak tidak
melakukan penyalahgunaan, penistaan atau bertanggung jawab untuk melemahkan
penodaan terhadap agama yang dianut di soliditas masyarakat, mereduksi keberagaman
Indonesia dengan ancaman hukuman pidana yang ada serta mempersempit tafsir sila
penjara seumur hidup atau pidana penjara Ketuhanan Yang Maha Esa pada Pancasila
paling singkat lima tahun dan paling lama menjadi sebuah penafsiran tunggal oleh
dua puluh tahun (Pasal 82A ayat (2) Perppu kelompok yang mengklaim dirinya sebagai
Ormas). Alih-alih dihapuskan karena sudah kelompok minoritas.
tidak lagi sesuai dengan iklim reformasi
dan demokrasi, pemerintahan Jokowi justru Kasus penodaan agama yang ditangani oleh
melanggengkan dan menguatkan pasal LBH Jakarta tahun 2016 – 2017 ini secara
penodaan agama. terang menunjukan bahwa tidak ada kriteria
yang memadai suatu perbuatan dikatakan
Dimasukkannya unsur politis dalam aturan sebagai tindakan yang menodai suatu agama
penodaan agama pada PERPPU No 2 Tahun tertentu. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta
2017 (yang sekarang telah menjadi UU Timur Nomor 1107/Pid.Sus/2016/PN.Jkt.Tim
Ormas baru) dapat dilihat dari penggunaan tanggal 07 Maret 2017 menyatakan ketiga
diksi (pilihan terminologi) “penistaan” yang mantan petinggi Ex-Gafatar atau Millah
potensial memperburuk konflik horizontal. Abaraham terbukti secara sah dan meyakinkan
Kekacauan sistem pemidanaan (penitensier) bersalah melakukan tindak pidana “Penodaan
dan pengingkaran KUHAP pun muncul di Terhadap Agama Islam”. Jika kita telaah,
dalam rumusan pasal, dimana untuk pertama putusan Majelis Hakim di PN Jakarta Timur
kalinya ada jenis pemidanaan hukuman ini tidak didasarkan pada pandangan yang
pidana penjara seumur hidup dibarengi jelas akan jenis tindakan apa yang dapat
dengan pidana penjara minimal dan maksimal. dikayakan penodaan agama itu sendiri,
bahkan putusan Majelis Hakim dibuat tanpa
Pasal penodaan agama tidak memiliki kriteria netralitas yang memadai. Hal ini dibuktikan
yang konkrit mengenai penyalahgunaan, dengan pengabaian keterangan para saksi
penistaan, penodaan, penyebab permusuhan dan ahli (baik yang dihadirkan oleh Penuntut
dan penyalahgunaan terhadap agama itu Umum maupun oleh Penasihat Hukum)
sendiri. Pasal ini merupakan pasal “karet” yang meringankan terdakwa, menjadikan
yang dipakai secara serius untuk meneror pertimbangan organisasi masyarakat
dan mengancam demokrasi bangsa. Faktanya MUI sebagai acuan. Keseluruhannya itu
pasal penodaan agama dan penerapannya menunjukan bahwa pertimbangan hakim
secara nyata bertentangan dengan hak tidak objektif, dan hanya didasarkan pada
atas kebebasan beragama, berkeyakinan, pendapat mayoritas, sebagaimana pola

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


102
penerapan pasal karet ini telah terjadi sejak disampaikan oleh MK tidak digubris oleh
puluhan tahun yang lalu. Pemerintah. Sampai akhirnya pasal penodaan
agama ini kembali mencuat pada Pemilukada
Bahkan kejanggalan yang paling tampak ialah DKI Jakarta yang lalu. Ahok (Basuki Tjahaja
pada saat Tim Penasihat Hukum mengevaluasi Purnama) menjadi korban selanjutnya pasal
JPU dalam penerapan PNPS No 1 Tahun 1965 penodaan agama. Pada proses di Pengadilan,
sebagai induk dari pasal penodaan agama (Ps LBH Jakarta mengajukan Nota Amicus Curiae
156a KUHP). JPU menggunakan argumentasi (Sahabat Peradilan) kepada Majelis Hakim
“diskresi” saat Kejaksaan mengabaikan pada perkara tersebut. Putusan Pengadilan
tahapan penerapan pasal sebagaimana diatur Negeri Jakarta Utara 1537/Pid.B/2016/PN
pada PNPS No 1 Tahun 1965. Kita tahu jelas JKT.UTR pada tanggal 9 Mei 2017, memutus
bahwa tidak pernah diperbolehkan adanya Ahok bersalah dan dijatuhi hukuman pidana
pendekatan “diskresi” pada penerapan hukum penjara selama 2 (dua) tahun penjara.
pidana. Diskresi hanya dikenal pada regim
hukum administrasi negara. Kejaksaan R.I. 11 September 2017 lalu, sembilan anggota
pada kasus ini telah melakukan kriminalisasi Jemaah  Ahmadiyah Indonesia (JAI) dari
sebelum adanya teguran dari Negara dengan berbagai daerah kembali mengajukan uji
mengeluarkan Surat Keputusan Bersama materi terhadap Undang-Undang Penodaan
(SKB) Menteri tentang penghentian kegiatan Agama ke Mahkamah Konstitusi (MK). JAI
Millah Abraham (Ex Gafatar). Bahkan tidak meminta tafsir konstitusional kepada MK
pernah ada evaluasi yang dilakukan Kejaksaan atas Pasal 1, 2, dan 3  PNPS No 1 Tahun
R.I. tentang pelaksanaan teguran kepada 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan
Millah Abaraham (Ex Gafatar). Kelompok ini dan/atau Penodaan Agama. Menurut
dikriminalisasi melakukan penodaan agama JAI pengaturan PNPS No 1 Tahun 1965
sebelum ditegur dan dihentikan oleh Negara, berdampak pada penghalang-halangan
serta sebelum dilakukannya evaluasi lebih anggota Jemaat Ahamadiyah untuk
dulu atas pelaksanaan surat teguran tersebut. melakukan ibadah sholatnya. Dalam proses uji
Hal ini menegaskan bahwa pasal penodaan materi ini Yayasan Lembaga Bantuan Hukum
agama hanyalah alat yang digunakan Indonesia (YLBHI) dan Komnas Perempuan
kelompok tertentu guna memperkuat masuk selaku pihak terkait yang mendukung
penggunaan politik identitas di tengah argumentasi permohonan yang diajukan oleh
masyarakat dari masa ke masa. JAI. Bagaimana MK akan bersikap kali ini? Hal
tersebut akan menentukan arah demokrasi
Tahun 2010 MK pernah menolak uji materi dan kesatuan bangsa Indonesia kedepannya.
yang diajukan oleh Gusdur, Musdah Mulia Di tengah kondisi masyarakat yang
dan Kiyai Maman, dimana LBH Jakarta dan terfragmentasi atas dasar politik identitas
jaringan KBB lainnya bertindak selaku Kuasa yang digelontorkan dengan penggunaan
Hukumnya. Namun dalam pertimbangan pasal penodaan agama, MK seharusnya dapat
putusan, Hakim Mahkamah Konstitusi sungguh-sungguh melakukan fungsinya
menyatakan bahwa perlu dilakukan telaah menjaga marwah Konstitusi (The Guardian
ulang terhadap PNPS No 1 Tahun 1965, of Constitution) yang menjamin hak seluruh
dikarenakan konteks sosial politik yang sudah warga negara Indonesia tanpa pembedaan
berubah. Namun sampai hari ini amanat yang sedikit pun. []

Redupnya Api Reformasi


103
PERPPU KE UNDANG-UNDANG ORMAS:
DARI DUE PROCESS OF LAW
MENJADI DIE PROCESS OF LAW

H
ukum dan Regulasi pada dasarnya ranah kemerdekaan berkumpul dan berserikat.
adalah manifestasi dari pertarungan Jelas hal ini bertentangan dengan Konstitusi
dan kompromi berbagai kelompok dan Kovenan Internasional Hak-hak Sipil
dalam sebuah masyarakat plural (Levin- dan Politik yang telah diratifikasi melalui UU
Waldman, 2001). Namun tak boleh kita lupakan No. 12 Tahun 2005. Hal tersebut diperburuk
bahwa salah satu tujuan hukum ialah guna dengan terbitnya Peraturan Pemerintah
memastikan adanya keteraturan di tengah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor
masyarakat yang plural. Di sisi lain harus 2 Tahun 2017 yang semakin memperbesar
diingat pula, bahwa dalam ranah hak sipil dan campur tangan negara dalam kemerdekaan
politik, pada regim hak asasi manusia, negara berkumpul dan berserikat. Hal tersebut
dituntut untuk seminimal mungkin campur dapat dijadikan indikator kuat semakin
tangan (negative rights). melemahnya demokrasi di Indonesia, dan
menguatnya kekuasaan regim hari ini. Perppu
Undang-Undang Ormas sejak semula telah No 2 Tahun 2017 saat ini telah dikuatkan
menimbulkan permasalahan besar karena menjadi UU Ormas pengganti UU Ormas No
memuat campur tangan besar negara dalam 17 Tahun 2013.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


104
Sebelum dikuatkan menjadi UU oleh Kami semakin tidak bersepakat dengan
DPR, masyarakat mengajukan Peninjauan aturan yang dimuat pada UU Ormas yang
terhadap Perppu Ormas melalui uji materi di baru (Perppu No 2 Tahun 2017). LBH Jakarta
Mahkamah Konstitusi. Terdapat 8 (delapan) justru menilai, sejak UU Ormas No 17 Tahun
pemohon pinsipal terhadap Perppu Ormas. 2013 berlaku, Pemerintah tidak pernah
Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Perppu Ormas menggunakannya dengan maksimal dan lalai
yang diwakili oleh YLBHI, Perludem, WALHI, untuk mengimplementasikannya. Efektifitas
Imparsial, ELSAM, KontraS, KPA, HRWG. UU No 17 Tahun 2013 sendiri belum pernah
KPBI mengajukan diri sebagai pihak terkait diuji. Aneh bin ajaib, UU lama tidak pernah
langsung dalam perkara No. 38/PUU-XV/2017 digunakan, namun sudah memutuskan bahwa
yang diajukan oleh Organisasi Advokat UU tersebut tidak memadai dan menyatakan
Indonesia. Namun sangat disayangkan, MK ada kondisi “darurat” untuk dibentuknya UU
menolak permohonan untuk menjadi pihak yang baru. Syarat “kedaruratan” jelas tidak
terkait ini, dengan alasan sudah terlalu banyak terpenuhi, dan hanya mengada-ada. Secara
pihak terkait dalam perkara ini. Argumentasi lengkap analisis LBH Jakarta dituangkan
yang diajukan oleh MK jelas tidak substansial dalam Kertas Posisi yang dipaparkan dan
dan justru memiliki potensi membatasi hak diserahkan kepada DPR RI pada RDPU (Rapat
publik untuk melakukan uji materi. Dengar Pendapat Umum) Perppu Ormas No 2
Tahun 2017 pada 19 Oktober 2017.
UU Ormas No 17 Tahun 2013 sebelumnya
sudah memuat aturan terkait mekanisme Dari proses pembentukan UU Ormas yang
pembubaran organisasi masyarakat melalui baru ini, kita dapat merefleksikan banyak hal.
jalur pengadilan. Pembatasan yang berlaku Salah satunya ialah, hukum atau peraturan
pada UU Ormas lama setidak-tidaknya masih perundang-undangan adakalanya dijadikan
mengusung prinisip rule of law dengan alasan legalitas untuk melindungi kepentingan
mengedepankan proses peradilan. Pada UU penguasa atau kelompok tertentu, sehingga
Ormas yang baru, Pasal 61 ayat 3 poin a dan b atas dasar legalitas tersebut kekuasaan
jo. Pasal 80A menyatakan bahwa pembubaran dapat digunakan dengan sewenang-wenang.
ormas dilakukan oleh pemerintah melalui Jadi meskipun pembubaran ormas diatur
menteri hukum dan HAM. Selain itu UU Ormas melalui UU Ormas yang baru, namun tetap
yang baru mencantumkan sanksi pidana yang saja isinya tidak mencerminkan keadilan
ancaman hukumannya pidana penjara seumur serta supremacy of law, karena menghapuskan
hidup atau pidana penjara paling singkat lima proses peradilan. Ini adalah sebuah
tahun dan paling lama dua puluh tahun (Pasal paradoks negara hukum, dimana hukum (UU)
82A ayat (2)) atas delik penistaan agama. digunakan untuk merontokkan prinsip rule of
law, dengan kata lain kekuasaan penguasa
LBH Jakarta yang merupakan bagian dari yang sewenang-wenang dibungkus dengan
Koalisi Masyarakat Sipil Tolak Perppu Ormas apik melalui peraturan perundang-undangan
sepakat jika pemerintah hendak menindak yang berketidakadilan. Sehingga tepatlah jika
tegas ormas-ormas yang intoleran. Namun proses ini kita sebut dengan “Dari Due Process
untuk melakukan hal tersebut, LBH Jakarta of Law ke Die Process of Law”, dan “Dari Rule of
sama sekali tidak menemukan kemendesakan Law ke Rule by Law”. []
pengubahan UU Ormas No 17 Tahun 2013.

Redupnya Api Reformasi


105
PERSEKUSI ONLINE:
PEMBUNGKAMAN GAYA BARU

P
ada tahun ini setidaknya ada lebih dari LBH Jakarta yang tergabung dalam Koalisi
50 kasus persekusi sejak kasus putusan Anti Persekusi melihat bahwa sesungguhnya
Ahok dan bergulirnya kasus Habib ersekusi telah terjadi sejak lama dan di
Rizik, seperti viralnya sebuah video anak Indonesia bukan suatu hal yang baru, seperti
bernama PMA yang ditampar dan diminta pada peristiwa stigma 65, penembakan
tandatangan surat bermaterai permintaan misterius (petrus) pada era 1990-an, dukun
maaf banyak disebarkan melalui media santet pada 1998 di Banyuwangi dan
sosial pada akhir Mei 2017. Tak berhenti persekusi terhadap Ahmadiyah dan agama
sampai disana, persekusi tersebut bahkan minoritas lainnya. Karaktek persekusi adalah:
mengkriminalisasikan korban seperti yang (1) adanya hak yang dirampas; (2) target
terjadi pada AS di Karawang atau Dr. Otto yang diburu adalah orang-orang dengan
yang divonis 2 tahun penjara. identitas/kelompok tertentu, terutama atas

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


106
dasar politik, ras, kebangsaan, etnis, budaya, Pertama, adanya track down dari orang-orang
agama, gender atau dasar lain yang secara yang dianggap menghina kelompok tertentu,
universal tidak dibolehkan menurut hukum Kedua, membuka identitas korban ke publik
internasional; (3) adanya tindakan yang dan menyebarkannya; Ketiga adanya instruksi
dilakukan mulai pembunuhan, penganiayaan, untuk memburu target dengan kekerasan/
hingga perbuatan tidak manusiawi yang ancaman kekerasan. Dalam beberapa kasus,
menyebabkan penderitaan fisik maupun penggeredukan dengan kekerasan/ancaman
mental; (4)      meluas dan/atau sistematis; kekerasan terjadi; Keempat; meminta
(5) pelaku mengetahui bahwa tindakannya permintaan maaf dan membawanya ke
bagian dari tindakan yang diniatkan sebagai kepolisian, kemudian diviralkan. Dalam
bagian dari serangan meluas atau sistematis. beberapa kasus juga, tim Koalisi melihat
adanya penargetan pada suku dan agama
Persekusi berbahaya tidak saja karena ia minoritas, dengan adanya pencarian postingan
menimbulkan ketakutan untuk berpendapat yang sangat lama, maupun membuat
secara bebas dan karenanya mengancam akun palsu. Hal ini membuktikan adanya
demokrasi, tapi lebih dari itu karena persekusi kesengajaan untuk menargetkan beberapa
dapat menjadi konflik horizontal yang meluas kelompok untuk memperluas persekusi.
dan berujung pada negara yang gagal (failed Setelah itu, tekanan massa bagi korban yang
state), Meskipun demikian, negara justru menjalankan proses hukum sangat terasa,
menyelesaikan permasalahan tersebut seperti pada kasus-kasus penodaan agama
dengan penanganan yang salah yaitu: yang terjadi sebelumnya.
(1) melawan persekusi dengan persekusi;
(2) mempidanakan korban persekusi; (3) Terkait dengan kondisi Indonesia saat ini,
Membatasi kebebasan berpendapat; (4) yang dalam melakukan penegakan hukum
mempidanakan pelaku persekusi tanpa kepada orang atau kelompok yang memiliki
membedakan tingkat keturutsertaan mereka pandangan politik yang berbeda, misal
dalam tindakan tersebut, dan seringkali seorang yang mengkritik/ mengirim sindiran
hanya menangkap aktor lapangan, bukan kepada pemerintah atau kelompok agama
aktor intelektualnya. atau kelompok politik tertentu di sosial media
kemudian oleh pihak kepolisian dilakukan
Di tahun ini, persekusi justru merambah ke penyidikan hingga proses peradilan,
dunia elektronik (online). UU ITE yang secara merupakan murni permasalahan politik dan
substansi sejak lama berpotensi membatasi lemahnya pemerintah dalam memenuhi
kebebasan berpendapat digunakan sebagai hak-hak dasar khususnya hak berekspresi,
alat pembungkaman. Menurut Koalisi Anti mengungkapkan pendapat juga peradilan
Persekusi, setidaknya ada beberapa pola yang yang adil dan jujur. []
digunakan dalam persekusi gaya baru ini.

Redupnya Api Reformasi


107
KORBAN pelanggaran HAM. Terkait pelanggaran HAM
berat masa lalu sudah beberapa kasus LBH

PELANGGARAN Jakarta tangani, seperti orang-orang yang


terkena stigma 65 dan memperjuangkan

HAM MASA LALU Kartu Tanda Penduduk seumur hidup Ibu


Nani Nurani, salah satu korban tragedi 65. Ibu
Nani ditahan tanpa adanya proses peradilan

P
engaturan hak asasi manusia di oleh Negara dengan alasan dituduhkannya ia
Indonesia diatur pada UU 39/1999 sebagai PKI tanpa alasan.
tentang HAM dan UU 26/2000 tentang
Pengadilan HAM. Setelah lahirnya UU Hingga kini, jangankan pemulihan dan
Pengadilan HAM, Indonesia memisahkan rehabilitasi hak mereka, bahkan pelanggaran
antara Pelanggaran HAM yang terjadi hak asasi manusia mereka masih terus
sebelum dan setelah berlakunya UU tersebut. dilanggar. Salah satu peraturan perundang-
Sehingga pelanggaran HAM terjadi sebelum undangan yang melanggar hak warga negara
lahirnya UU Pengadilan HAM disebut dengan yang terkena stigma 65 adalah Keppres No. 28
pelanggaran HAM masa lalu. tahun 1975 yang memberhentikan pegawai
negeri sipil yang diduga terlibat dengan PKI
Setelah berakhirnya era orde baru para korban tanpa adanya bukti dan putusan pengadilan.
pelanggaran HAM masa lalu berharap ada Meskipun pada tahun 2013, Mahkamah
angin segar terkait dengan pelanggaran masa Agung telah membatalkan Keppres No. 28
lalu yang sampai dengan saat itu sulit untuk tahun 1975 tentang Perlakuan Terhadap
menemukan keadilan bagi mereka. Namun Mereka yang terlibat G30S/PKI Golongan C
setelah runtuhnya era orde baru pun tak dapat melalui putusan No. 04/P/HUM/2013, pada
mengadili para pelaku/aktor pelangaran HAM kenyataannya eksekusinya masih terhambat.
berat masa lalu, justru sebaliknya mereka
masih berada dalam lingkaran kekuasaan Hal ini semakin diperparah ketika tidak ada
pemerintahan. Pengadilan HAM Ad Hoc ruang yang diberikan untuk berkumpul dan
sebagai solusi penanganan pelanggaran mendiskusikan kasus pelanggaran HAM yang
HAM masa lalu, dibentuk melalui Keputusan tidak kunjung selesai. Pada tahun 2016, belok
Presiden berdasarkan usul Dewan Perwakilan kiri festival tidak boleh diadakan di Taman
Rakyat (“DPR”) terhadap suatu peristiwa Ismail Marzuki dan tahun ini komunitas
tertentu. Berdasarkan mekanisme peradilan bahkan tidak bisa mendiskusikan hal tersebut
HAM seperti ini, maka masih memungkinkan di LBH Jakarta. Tidak bisa dihitung berapa
adanya kepentingan politik didalamnya kali pembubaran maupun penyerangan yang
terutama mereka yang dahulunya adalah dilakukan untuk melarang penyelesaian
pelaku maupun aktor pelanggaran HAM masa pelanggaran HAM dengan alasan komunisme.
lalu. Namun demikian tidak ada hal signifikan
yang dilakukan negara, dan justru menjadi
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta aktor pendukung pelanggaran tersebut. Hal
menganggap bahwa ketidakmampuan ini menunjukkan negara masih melindungi
Negara untuk mengadili pelanggaran HAM di pelaku untuk terus menutupi penyelesaian
Indonesia menimbulkan semakin meluasnya kasus tersebut. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


108
71
Pengaduan Kelompok Minoritas dan Rentan
(Merupakan kasus dari beberapa klasifikasi
Utama yang memiliki unsur KMR)
18 19 17
3 5 3 3 7
1 1 1
a b c d e f g h i j k l
1 4 3 1 1 7 18 20
102 71
166

999 Orang Terbantu 149 Pengaduan


605

a. Hak Tahanan Atas Perlakuan Manusiawi g. Hak Bagi Kaum Minoritas - LGBT
b. Unfair Trial h. Pernikahan
c. Kebebasan Berpikir, Keyakinan dan Beragama i. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
d. Hak Atas Kebebasan Berpendapat dan j. Perceraian
Berekspresi k. Perlindungan Anak
e. Hak Untuk Berkumpul dan Berserikat l. Perlindungan Perempuan
f. Hak Berpolitik

7
Penanganan kasus Kelompok
Minoritas dan Rentan 5
4
3
2
1 1 1 1 1

a b c d e f g h i j
1 1 5 21 100 1 3
156

752

3.040 Orang Terbantu 26 Pengaduan


2.000

a. Hak Normatif Berekspresi


b. Hak atas Tempat Tinggal g. Hak Untuk Berkumpul dan Berserikat
c. Hak Tahanan atas Perlakuan Manusiawi h. Pernikahan
d. Unfair Trial i. Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)
e. Kebebasan Berpikir, Keyakinan dan Beragama j. Perlindungan Perempuan
f. Hak Atas Kebebasan Berpendapat dan

Redupnya Api Reformasi


109
PEREMPUAN,
KEKERASAN
DAN HUKUM

L
embaga Bantuan Hukum Jakarta sampai Undang-Undang. Menurut catatan
(LBH Jakarta) telah sekian lama sejak Komnas Perempuan sampai tahun 2016
pendiriannya berkomitmen untuk terdapat 389 Perda yang mendiskriminasi
memberikan bantuan hukum bagi korban perempuan. Dan tak jarang instrumen hukum
kekerasan dan diskriminasi terhadap yang ada seperti Kitab Undang-undang
perempuan. Sikap tersebut didasari oleh Hukum Pidana, UU Penghapusan Kekerasan
pemikiran bahwa kekerasan dan diskriminasi Dalam Rumah Tangga, UU Penghapusan
terhadap perempuan terjadi akibat adanya Tindak Pidana Perdagangan Orang gagal
ketimpangan relasi kuasa yang dipengaruhi memberikan keadilan dan perlindungan
budaya patriarki. Kultur yang sudah kepada perempuan secara menyeluruh.
mendarah daging tersebut bahkan mewujud
ke dalam struktur dan substansi yang Diskriminasi pelibatan perempuan di ruang
menempatkan perempuan sebagai warga publik, diskriminasi hak pekerja perempuan,
kelas dua. Tak heran hal tersebut melahirkan kriminalisasi terhadap perempuan, hingga
banyak peraturan perundang-undangan tidak adanya perlindungan serius dari
yang mendiskrimiasi perempuan karena pemerintah kepada korban kekerasan seksual,
keperempuanannya, mulai dari level Perda itulah wajah keadilan dan hukum bagi

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


110

perempuan hari ini. Salah satunya, Rancangan
Undang-Undang Penghapusan Kekekerasan
Seksual yang hingga hari ini tidak kunjung
disahkan meski telah banyak melalui
proses diskusi yang diinisiasi oleh jaringan
masyarakat sipil kepada pembuat kebijakan.
Dari 7 kasus
Tidak memadainya instrumen hukum dalam
perlindungan
mengupayakan keadilan dan perlindungan
bagi perempuan korban kekerasan dan
perempuan, hanya
diskriminasi, merupakan tantangan yang harus
dijawab oleh legislator dan pemerintah tahun
1 kasus yang
2018 mendatang. Menunda pengupayaannya
hanya akan menambah jumlah perempuan
menempuh jalur
yang menjadi korban dan menjauhkan litigasi dan sampai
keadilan bagi kelompok perempuan. Dari
7 (tujuh) pengaduan kasus perlindungan hari ini masih
perempuan yang LBH Jakarta terima, ada 2
(dua) kasus yang menempuh jalur litigasi berkutat di tingkat
dan kedua kasus tersebut berjalan sangat
lambat. Alasan yang seringkali muncul Kepolisian.
adalah kurangnya alat bukti sebagai bukti
permulaan yang cukup dan pelaku yang tidak
diketahui keberadaannya. Kedua hambatan perlindungan perempuan, hanya 1 (satu) kasus
tersebut jelas adalah hambatan struktural yang menempuh jalur litigasi dan sampai hari
karena hukum acara yang tidak memadai ini masih berkutat di tingkat Kepolisian. Tidak
dalam penanganan kasus kekerasan seksual hanya itu, pada mula pelaporannya, korban
terhadap perempuan. Sering pula kami juga sempat disalahkan dan laporannya
menemukan perilaku apparat penegak hampir ditolak oleh kepolisian.
hukum yang tidak sensitif gender serta
tidak berperspektif korban, sehingga dalam Negara bertanggung jawab memberikan
proses hukum berakibat korban menjadi perlindungan dari kekerasan seksual,tanggung
korban untuk kedua kali dan kesekian kalinya jawab ini berangkat dari amanat yang
(reviktimisasi). diberikan oleh UUD 1945 yaitu Pasal 28 I ayat
(4): Perlindungan, pemajuan, penegakan, dan
Para korban yang melakukan pengaduan pemenuhan hak asasi manusia adalah tanggung
kasus kekerasan seksual terdiri dari anak jawab negara, terutama pemerintah. Kemudian
perempuan, anak laki-laki, perempuan dewasa tanggung jawab tersebut menghadirkan
hingga transgender. Menganalisis beberapa kewajiban-kewajiban mendasar yang harus
pengaduan yang masuk ke LBH Jakarta, pelaku dilakukan oleh negara, yaitu penghormatan,
ditemukan selalu merupakan orang terdekat pemenuhan, perlindungan dan promosi hak
dengan korban. Pacar, teman sepermainan, asasi perempuan sebagai bagian dari hak
dan pengguna jasa. Dari 7 (tujuh) kasus asasi manusia dan hak warga negara. []

Redupnya Api Reformasi


111
Akses Keadilan Kepada Korban
Perkosaan – Kasus W
S
eorang gadis berusia 21 tahun berinisial W diperkosa oleh pacarnya yang berinisial A. Baru
berpacaran selama 2 bulan, A berulang kali memaksa W untuk melakukan hubungan seksual.
Bahkan A melakukan tipu muslihat dan pemaksaan dengan kekerasan fisik dan verbal kepada
W. W menolak dan berhasil melepaskan diri berkali-kali. 9 Januari 2017, A mengajak W untuk
mengunjungi sebuah hotel dan kembali melakukan tipu muslihat untuk memperkosa A. A yang
sudah memiliki niat sejak lama akhirnya memperkosa W berkali-kali di hotel daerah Jakarta Selatan
tersebut. W tidak pernah menyetujui hubungan seksual tersebut. W terpukul dan mengalami trauma
berat. Pasca kejadian, A melarikan diri ke Makassar.

05 April 2017, W memutuskan datang ke LBH Jakarta untuk meminta pendampingan dalam proses
pencarian keadilan atas kejahatan yang dialaminya. W sangat berjuang untuk melakukan langkah
hukum atas peristiwa perkosaan yang dialaminya sebab masih mengalami trauma berat. LBH
Jakarta akhirnya menolong W untuk melakukan pemulihan trauma lebih dahulu sebelum melakukan
proses hukum. W dibantu Yayasan Pulih berproses dalam pemulihan psikisnya dari trauma. Pasca
proses pemulihan psikis, W memiliki keberanian untuk menceritakan peristiwa kekerasan seksual
yang dialaminya kepada keluarga. Bahkan W juga berani melapor ke Kepolisian Jakarta Utara
dan mengadukan kasusnya kepada Komisi Nasional Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) guna
mendapatkan dukungan.

Peristiwa kekerasan dalam pacaran (KDP) berupa kekerasan seksual yang dialami W sebetulnya
banyak terjadi pada perempuan lain. Namun stigma bahwa perkosaan adalah aib bagi perempuan
dan keluarganya akhirnya membuat perempuan enggan untuk menceritakan kepada orang lain
bahkan melakukan proses hukum terhadap si pelaku. Namun pengalaman W dapat kita jadikan
acuan bahwa, perempuan korban perkosaan dalam pacaran sanggup untuk menempuh jalan
pencarian keadilan. Dan dalam proses pencarian keadilan tersebut, terkadang korban membutuhkan
dukungan pihak lain untuk pemulihan dan mendorong dilakukannya proses hukum kepada si pelaku.
[]

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


112
M Korban Kekerasan dalam Rumah
Tangga dan Undue Delay Kepolisian

M
, 38 tahun, seorang ibu rumah tangga dan kedua anaknya mengalami kekerasan dalam
rumah tangga (KDRT) oleh suami secara psikis mau pun fisik selama bertahun-tahun. M
beserta anaknya melaporkan Pelaku ke Kepolisian Resort Cianjur, Sektor Pacet dengan
menggunakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga. Namun sampai saat ini belum ada perkembangan signifikan dari pihak Kepolisian.
Bahkan pihak Kepolisian mendorong M untuk mencabut laporan dan berdamai dengan suami.
Padahal KDRT bukanlah delik aduan yang dapat dicabut pengaduannya, namun penyelewengan
hukum ini tetap dilakukan oleh aparat Kepolisian.

Kedua anak M mengalami trauma dan ketakutan yang terus menerus. M memutuskan untuk datang
ke LBH Jakarta mencari bantuan hukum guna mendampinginya dalam proses pencarian keadilan.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta berupaya mendesak percepatan proses penangan perkara
oleh pihak Kepolisian sektor Pacet melalui korespondensi yang ditembuskan ke berbagai pihak
seperti Kompolnas dan Polres serta Polda setempat. Secara substansi, instrumen hukum yang
memadai (UU Penghapusan KDRT) sudah tersedia, video kekerasan serta keterangan saksi pun
sudah tersedia dan diserahkan kepada Polisi. Namun proses penegakkan hukum sama sekali tidak
berjalan sampai hari ini.

LBH Jakarta akan melakukan pelaporan kepada Kompolnas berkaitan dengan lamanya proses
(undue delay) di Kepolisian tersebut. Kasus undue delay seringkali terjadi pada pelaporan atau
pengaduan kasus KDRT maupun kekerasan terhadap perempuan. Alasan pihak Kepolisian juga
seringkali menyatakan kurangnya alat bukti permulaan yang cukup untuk memroses perkaranya.
Padahal kita ketahui bersama bahwa UU Penghapusan KDRT telah mengatur sebuah terobosan
hukum acara pidana dimana laporan korban ditambah 1 alat bukti lainnya sudah cukup untuk
kasus tersebut dapat ditindaklanjuti. Pengetahuan ini penting bagi masyarakat, untuk tidak terjebak
dalam proses undue delay di Kepolisian pada kasus-kasus KDRT. []

Redupnya Api Reformasi


113
DISKRIMINASI &
KRIMINALISASI
LGBTIQ

L
GBTIQ adalah akronim dari lesbian, gay, kebebasan berpikir. Berhak atas persamaan
biseksual, transgender, interseks dan queer. di muka hukum. Tidak boleh diperlakukan
Istilah ini digunakan untuk menekankan diskriminatif, dan hak sipil politik serta hak
adanya keberagaman berdasarkan identitas ekonomi, sosial dan budaya lainnya yang
gender dan seksualitas yang hidup dalam dijamin Konstitusi dan peraturan perundang-
masyarakat. Namun, eksistensi kelompok undangan lainnya.
LGBTIQ di Indonesia hingga saat ini belum
dapat diterima sebagai suatu keragaman Sampai saat ini, alasan penerimaan sosial
dalam masyarakat, melainkan dianggap sering dijadikan alasan bagi aparatur negara.
sebagai penyimpangan atau penyakit menular. Bila mayoritas masyarakat menolak kehadiran
kelompok LGBTIQ maka perlindungan terhadap
Stigma menyimpang dan pesakitan yang hak asasi manusianya dianggap boleh serta
dilekatkan kepada LGBTIQ berdampak pada wajar dikesampingkan. Perspektif bias LGBTIQ
dilakukannya tindakan diskriminasi berlapis tersebut terlihat dari banyak sekali peraturan
di berbagai ruang dan aspek kehidupan di tingkat daerah yang melanggengkan
terhadap kelompok ini. Lebih buruk lagi, stigma diskriminasi serta kriminalisasi terhadap
tersebut dijadikan dasar pembenar oleh kelompok ini seperti Qanun Jinayat di Aceh,
masyarakat maupun arapat penegak hukum serta Perda Tibum di beberapa wilayah.
untuk melakukan kriminalisasi, penyiksaan, Bukan hanya di level daerah, di level nasional
kekerasan, kejahatan maupun tindakan tidak Surat Edaran Komisi Penyiaran Indonesia No
manusawi kepada kelompok LGBTIQ. 184/K/KPI/02/16 tahun 2016 sampai hari ini
masih diberlakukan meskipun telah memakan
Jika kita cermati, UUD 1945 tidak sedikitpun banyak korban dimana kelompok LGBTIQ
membedakan manusia Indonesia dari harus kehilangan mata pencahariannya dan
jenis kelamin, apalagi orientasi gender terganggu kehidupannya. Di sektor pendidikan,
maupun orientasi seksualnya. Laki-laki atau pada 2017 ini ada beberapa Universitas
perempuan atau LGBTIQ dijamin memiliki yang mewajibkan para calon mahasiswanya
hak kewarganegaraan yang sama. Kelompok untuk mengisi form pernyataan bukan LGBT,
LGBTIQ berhak mendapatkan penghidupan salah satunya yakni Universitas Andalas di
yang layak, pekerjaan yang layak, kebebasan Sumatera Barat.
berekspresi, berkumpul, berorganisasi,

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


114
Tidak berhenti di peraturan yang ada, tahun tunggal yang dipersalahkan. Dan ada
ini kelompok islam fundamentalis Aliansi upaya membangun stigma baru di tengah
Cinta Keluarga Indonesia (AILA) mengajukan masyarakat, yakni mereka yang menggunakan
uji materi ke Mahkamah Konstitusi atas layanan jasa di Sauna dan Gym mayoritas
Pasal 284, 285 dan 292 KUHP. Upaya uji adalah homoseksual.
materi ini bertujuan untuk mengkriminalisasi
perempuan, anak maupun kelompok LGBTIQ. Dalam penggerebekan Gym Atlantis,
Pada Pasal 292 KUHP yang mengatur LBH Jakarta juga menemukan beberapa
mengenai perbuatan cabul terhadap anak, pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan
AILA meminta MK untuk menghapus frase oleh aparat kepolisian, tepatnya Kepolisian
“belum dewasa” agar setiap orang yang Resort Jakarta Utara (Polres Jakarta Utara).
memiliki orientasi homoseksual dapat Beberapa pelanggaran hak asasi manusia
dipidanakan. Padahal ketentuan pidana yang dimaksud adalah:
saat ini mengatur bahwa dapat dipidana
orang dewasa yang melakukan perbuatan a. Hak atas penyiksaan atau perlakuan
cabul terhadap anak dibawah umur sesama yang merendahkan derajat martabat
kelamin, yang mana aturan ini juga berlaku manusia;
bagi heteroseksual. LBH Jakarta dalam Uji b. Hak untuk mendapatkan juru bahasa
Materi ini, bersama dengan LBH Masyarakat atau penerjemah bagi warga negara
dan YLBHI bertindak selaku Kuasa Hukum asing;
dari Komnas Perempuan yang masuk sebagai c. Hak untuk mendapatkan bantuan
pihak terkait di Mahkamah Konstitusi. Saat hukum dan bebas memilih sendiri
ini proses persidangan sudah selesai dan penasihat hukumnya; dan
menunggu putusan MK. d. Hak untuk dikunjungi oleh sanak
keluarganya.
Dalam kurun waktu satu tahun dari November
2016 sampai Oktober 2017, LBH Jakarta Atas hal tersebut di atas, LBH Jakarta
menerima 2 (dua) pengaduan kriminalisasi, melaporkan Kepolisian Jakarta Utara kepada
penyiksaan serta tindakan dehumanisasi pihak Propam di Mabes Polri atas pelanggaran
terhadap kelompok LGBTIQ. Penggrebekan kode etik profesi Polri. Meski sudah dilaporkan,
tempat Sauna dan olahraga Gym Atlantis namun hingga kini belum ada upaya
di Jakarta Utara dan T1 di Jakarta Pusat. pembinaan dan penegakan kode etik profesi
Penggerebekan ini dilakukan oleh aparat Polri terhadap Polres Jakarta Utara oleh
kepolisian dengan menuduh pemilik tempat, Bidang Profesi dan Pengamanan Kepolisian
pekerja dan pengunjung melakukan kegiatan Republik Indonesia. Malahan Mabes Polri
yang dilarang oleh Undang-Undang Nomor melimpahkan pemeriksaan profesi ini ke level
44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Polda Metro Jaya dan Propam Polda Metro
Jaya hendak melakukan upaya pemeriksaan
Pemberitaan atas penggerebekan kedua ulang terhadap seluruh saksi dan bukti yang
tempat ini menimbulkan homophobia telah LBH Jakarta beserta jaringan serahkan
dalam masyarakat. Pemberitaan yang tidak sebelumnya di Mabes Polri. []
berimbang oleh media massa dan media
sosial memosisikan LGBTIQ sebagai aktor

Redupnya Api Reformasi


115
KASUS MUNIR

7
September 2004 Munir Said Thalib Kementrian Sekretariat Negara (Kemensetneg)
meninggal dunia di pesawat Garuda di Komisi Informasi Pusat (KIP). Kami meminta
Indonesia dengan nomor penerbangan Kemensetneg untuk mengumumkan kepada
GA-974, dalam penerbangan menuju publik hasil temuan yang diperoleh oleh TPF
Amsterdam-Belanda untuk melanjutkan Munir. Langkah ini diambil setelah KontraS
studi magisternya. Alm. Munir dinyatakan berkorespondensi dengan Kemensetneg
meninggal akibat racun arsenik dengan meminta dokumen hasil laporan TPF, namun
jumlah dosis yang fatal. Munir Said Thalib tidak membuahkan hasil. Kemensetneg justru
dikenal sebagai aktivis pejuang HAM yang menyatakan mereka tidak memiliki informasi
dengan tegas dan berani memperjuangkan tersebut.
hak-hak setiap orang terkhusus bagi kaum
miskin dan buta hukum. Putusan KIP Nomor: 025/IV/KIP-PS-A/2016
pada intinya menyatakan bahwa menerima
Tahun 2014, Susilo Bambang Yudhoyono permohonan pihak Pemohon. Atas putusan
(SBY) membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) KIP tersebut Kemensetneg mengajukan
kasus meninggalnya Munir yang dituangkan banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara
dalam Keppres No 111 Tahun 2014 tentang (PTUN) Jakarta. Putusan PTUN Jakarta Nomor:
Pembentukan TPF Meninggalnya Munir 3/G/KI/2016/PTUN. Jkt, yang dibacakan pada
(selanjutnya disebut TPF Munir). TPF Munir persidangan 16 Febuari 2017 membatalkan
telah menyerahkan hasil investigasinya putusan KIP Nomor: 025/IV/KIP-PS-A/2016.
kepada SBY pada Mei 2016. Namun sampai SBY Berdasarkan hal tersebut KontraS mengajukan
selesai menjabat sebagai Presiden, tidak ada Kasasi ke Mahkamah Agung dan   Amar
informasi apapun yang diumumkan oleh SBY putusan MA yang diputuskan pada 13 Juni
terkait hasil kerja TPF meninggalnya Munir 2017 menolak Kasasi yang diajukan KontraS.
kepada publik, sebagaimana dimandatkan
oleh Keppres No 111 Tahin 2014. LBH Jakarta berpendapat bahwa dengan
ditolaknya Kasasi oleh MA, hal ini merupakan
Meresponi kondisi tersebut, Suciwati bentuk nyata dari Negara yang masih
(isteri alm.Munir), KontraS, dan LBH Jakarta melanggengkan impunitas dan penyangkalan
mengajukan persidangan ajudikasi sengketa atas asas rule of law. []
informasi publik terhadap termohon

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


116
Hukum, Hak Asasi Manusia, dan
Kekerasan di Papua

K
ekerasan, hal yang masih terus terjadi di Papua dan menimpa orang Papua dimana mereka
berada. Kekerasan terjadi bukan hanya soal konflik bersenjata antara TNI-Polri dan Organisasi
Papua Merdeka (OPM) namun juga terjadi pada warga sipil. Dalih untuk memberantas OPM
sering digunakan oleh aparat untuk melakukan kekerasan pada warga sipil di Papua. Bahkan,
diluar Papua tak sedikit kawan-kawan Papua menerima kekerasan oleh aparat. Sebagai respon dari
kekerasan yang terjadi di Papua, Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan FRI-West Papua beberapa kali
melakukan aksi di Jakarta. LBH Jakarta sendiri selalu memantau dan mendamping AMP dan FRI-
West Papua untuk menyampaikan pendapatnya.

Tercatat LBH Jakarta beberapa kali mendampingi AMP dan FRI-West Papua dalam aksi seperti di
bulan Agustus untuk memperingati PEPERA 1969 dan aksi 1 Desember. Aksi PEPERA dilakukan dari
Tugu Tani hingga Mabes TNI AD pada 2 Agustus 2017. Aksi 1 Desember yang awalnya akan aksi di
depan kantor Freeport di Kuningan namun dihadang polisi hingga akhirnya aksi dilakukan di kantor
LBH Jakarta.

Untuk sekedar aksi menyerukan pendapat soal Papua yang padahal dijamin dalam UUD 1945
dan ICCPR, AMP dan FRI-West Papua mendapat hambatan dari aparat seperti penghadangan dan
pembubaran. Aksi dilakukan bukan hanya untuk merespon kekerasan saja tapi terdapat beberapa
hal yang diperjuangkan. AMP dan FRI-West Papua menuntut penutupan Freeport, penarikan militer
dari Papua, dan kebebasan berpendapat dan berorganisasi di Papua. []

Redupnya Api Reformasi


117
PATANI:
INTERNASIONAL

BERDAYA MELALUI PENDIDIKAN

P
atani adalah salah satu provinsi yang mendapatkan pendidikan. Pelajar Patani
terletak di Selatan Thailand. Penduduk tersebar di berbagi negara Asia, seperti
Patani mayoritas beragama Islam Indonesia, Malaysia, Mesir, dll.
dan menggunakan bahasa Melayu sebagai
bahasa sehari–hari. Konflik muncul bermula Guna meningkatkan kapasitas organisasi
dari upaya pemarjinalan masyarakat Patani, bantuan hukum dalam advokasi perdamaian
dengan cara kekerasan yang dilakukan oleh serta mengembangkan jaringan bagi gerakan
Militer serta adanya pembatasan pendidikan masyarakat masayarakat sipil Patani, LBH
bagi masyarakat. Jakarta bekerja sama dengan Sasakawa
Foundataion untuk memberdayakan
Tragedi kekerasan pertama terjadi pada tahun masyarakat Patani. LBH Jakarta memfasilitasi
2004 di Masjid Krue Sek, yang memakan magang dan memberikan peningkatan
korban sebanyak 32 orang. Di tahun yang sama kapastitas di bidang kampanye dan dalam
pula terjadi Tragedi Tak Bai, puncak tragedi bidang minoritas dan kelompok rentan, serta
kekerasan yang mengorbankan 78 orang konsolidasi dengan jaringan yang ada di
masyarakat sipil. Sejak saat itu, sampai saat Jakarta. Hal ini diharapkan dapat diterapkan di
ini Patani tidak pernah sepi dari baku tembak, Patani dalam rangka mendorong pergerakan
pengeboman, pembunuhan serta pembakaran serta advokasi masyarakat sipil Patani.
sekolah. Setiap hari pula ditemukan orang
yang meninggal dunia akibat kekerasan LBH Jakarta juga memberikan Pelatihan Dasar
yang dilakukan militer. Masyarakat Patani mengenai Hak Asasi Manusia serta Pelatihan
juga merasa dirampas hak untuk bergerak Lanjutan yang bertemakan “Berjuang Tanpa
di negaranya sendiri. Hal ini dikarenakan Kekerasan” kepada pelajar Patani di Indonesia.
Militer mendirikan Daerah Operasi Militer Pelatihan ini diharapkan menumbuhkan
(DOM) setiap jangkauan wilayah 500 meter. kesadaran kepada pelajar Patani mengenai
Di setiap DOM dilakukan pemeriksaan kepada pentingnya Hak Asasi Manusia.
masyarakat sipili, apakah mereka membawa
senjata atau tidak. Oktober 2017, LBH Jakarta, Gerakan
Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (Gempita),
Berdasarkan kondisi yang terjadi di atas, dan PP Pemuda Muhammadiyah, berkerja
masyarakat Patani, khususnya usia pelajar sama dalam menyelenggarakan “Peringatan
mengambil peranan. Mereka mulai melakukan 13 Tahun Tragedi Tak Bai”. Dalam acara ini ada
perlawanan. Bentuk perlawanan yang mereka diskusi publik yang menjelaskan mengenai
lakukan adalah menjadi berpendidikan. Di sejarah Patani hingga kondisi Patani terkini.
Patani, tidak ada Perguruan Tinggi, sehingga Selain itu pula, ada pengenalan budaya Patani
para pelajar harus keluar Provinsi Patani, kepada peserta Indonesia, yaitu melalui
bahkan harus ke luar dari Thailand untuk kulinernya, yaitu Nasi Kerabu serta pakaian
tradisionalnya, yaitu Baju Kurung. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


118
SUAKA:
MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM
UNTUK PENGUNGSI INTERNASIONAL

L
BH Jakarta dan Human Rights Working Pengungsi di Indonesia mengalami berbagai
Group (HRWG) bersama dengan berbagai pelanggaran hak dasar setiap hari. Mereka tak
organisasi masyarakat sipil membantu diberikan hak oleh pemerintah Indonesia untuk
pembentukan koalisi advokasi pengungsi mengakses pekerjaan, pendidikan, jaminan
internasional bernama SUAKA (Indonesian kesehatan, dan serangkaian hak-hak lain
Civil Society Network for Refugee Rights dengan alasan bahwa pemerintah Indonesia
Protection). SUAKA bergerak di bidang bukan peserta dari Konvensi Pengungsi 1951.
pendidikan, kampanye, penelitian, dan Sebelum tahun 2016, pengungsi di Indonesia
bantuan hukum untuk mendorong perubahan dianggap sama dengan imigran ilegal.
kebijakan di Indonesia yang mengarah kepada
perlindungan hak-hak dasar pengungsi. Setelah tahun 2016, Presiden Joko Widodo
Sejak didirikan pada tahun 2012, SUAKA menerbitkan Peraturan Presiden tentang
telah membantu pengungsi dari berbagai Penanganan Pengungsi Luar Negeri yang,
negara, mulai dari Afghanistan, Iran, Somalia, meski peraturan tersebut dapat menjawab
Myanmar, dan sebagainya. sementara masalah koordinasi penanganan
pengungsi antara UNHCR (organisasi
Tahun ini, SUAKA bersama dengan berbagai perlindungan pengungsi PBB), pemerintah,
organisasi masyarakat sipil mengadakan dan juga masyarakat sipil, peraturan belum
acara perayaan Hari Pengungsi Internasional memberikan hak kepada pengungsi untuk
(20 Juni 2017) untuk mengkampanyekan dapat mengakses hak-hak dasar.
perlindungan pengungsi.

Redupnya Api Reformasi


119
Masalah tersebut ditambah dengan
ketidakpastian waktu perpindahan
(resettlement) ke negara penerima pengungsi
yang kerap memakan waktu satu tahun hingga
belasan tahun, atau tidak sama sekali. Selama
hidup di Indonesia, tak jarang pengungsi juga
menghadapi masalah-masalah terkait dengan
hukum domestik, seperti detensi oleh kantor
imigrasi dan juga aspek hukum lain.

Jumlah organisasi kemanusiaan atau hak


asasi manusia yang membantu pengungsi
mengatasi masalah-masal di atas masih
berjumlah sangat sedikit, terutama pada
aspek pemberian bantuan hukum dan juga
mendorong perubahan kebijakan. SUAKA
berusaha untuk membantu mengatasi
ketimpangan tersebut.

Namun, SUAKA juga masih memiliki


keterbatasan, terutama dalam hal minimnya
jumlah sumber daya manusia dan infrastruktur
dasar untuk melaksanakan kegiatan-
kegiatannya.

Karenanya, SUAKA membuka peluang


bagi masyarakat untuk turut membantu
mendorong terwujudnya perlindungan hak-
hak pengungsi di Indonesia. Masyarakat dapat
memberikan donasi melalui situs www.suaka.
or.id atau transfer rekening Bank Negara
Indonesia (BNI) di 039 58 32 574 atas nama
LBH Jakarta.

SUAKA juga terbuka untuk menyambut


berbagai bentuk bantuan lain. Bila anda
tertarik untuk mendorong kerja-kerja SUAKA,
anda dapat menghubungi Alldo Fellix
Januardy di 087878499399. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


120
SOUTHEAST ASIA
PUBLIC INTEREST LAWYER
(SEAPIL)

P
ada bulan Maret 2017, Southeast Asia pihak salah paham antara Sealawyers dan
Lawyers (Sealawyers) mengadakan SEALAW. SEALAW merupakan jaringan praktisi
pertemuan para anggota dari berbagai hukum di Asia Tenggara yang memfokuskan
negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, diri untuk membentuk sistem bantuan hukum
Laos, Vietnam, Kamboja dan Thailand. atau access to justice di negara-negara Asia
Dari pertemuan tersebut disepakati untuk Tenggara. Sebagian anggota SEAPIL juga
penambahan anggota dari negara Asia merupakan anggota SEALAW, termasuk
Tenggara lain, yaitu Singapura. Hal tersebut Lembaga Bantuan Hukum Jakarta didaulat
menjadikan Sealawyers akhirnya memiliki sebagai board member dari SEALAW. Anggota
anggota di sembilan negara Asia Tenggara. juga menyepakati akan selalu bersinergi
Sealawyers hanya tidak memiliki anggota dengan SEALAW meskipun pendekatan
dari negara Brunei Darusalam. kerjanya berbeda; SEALAW lebih memilih
kolaborasi dengan berbagai pihak termasuk
Pertemuan anggota tersebut juga pemerintah untuk reformasi sistem bantuan
menyepakati perubahan nama Sealawyers hukum, dan SEAPIL lebih memilih pendekatan
menjadi Southeast Asia Public Interest advokasi ataupun posisi kritis terhadap
Lawyer (SEAPIL). Hal ini dikarenakan banyak pemerintah.

Redupnya Api Reformasi


121
Tahun 2017, SEAPIL menyelesaikan sebuah tahun 1999 hingga 2016, mengacu kepada
penelitian dasar (baseline research) mengenai International Association of People’s Lawyers,
perlindungan pengacara di Asia Tenggara lebih dari 80 pengacara dibunuh dan tanpa
berjudul: Baseline Research Protection for ada kejelasan penuntasan kasusnya. Di
Public Interest Lawyers in Southeast Asia. Hal Singapura tidak terdapat ancaman fisik
ini dilakukan karena LBH Jakarta melihat terhadap pengacara, namun pengacara
banyaknya serangan terhadap pengacara dapat ditangguhkan atau dicabut lisensinya
oleh negara ataupun aktor non negara kepada jika menangani kasus yang menentang
pengacara, terutama pengacara publik (public pemerintah dan dianggap politis. Sementara
interest lawyer) di Asia Tenggara. Sementara itu di Vietnam tidak nampak ancaman serius
itu, perlindungan terhadap profesi pengacara terhadap pengacara, namun pengacara tidak
dari negara sangat minim. memiliki keleluasaan menanganani kasus
hak asasi manusia dan harus menggunakan
Riset menemukan berbagai kondisi strategi atau pendekatan yang halus dalam
perlindungan dan serangan terhadap advokasi kasusnya.
pengacara di Asia Tenggara. Di Thailand
seorang pengacara diduga diculik dan belum Berdasarkan temuan tersebut SEAPIL
ditemukan, tentara sering mendatangi merekomendasikan agar terdapat dukungan
dan mengganggu kegiatan pengacara, dan internasional dan organisasi pengacara
pengacara ditangkap karena mendampingi publik yang kuat di Asia Tenggara. Perlunya
aksi. Di Indonesia, seorang pengacara yaitu saling mendukung antar negara di Asia
Munir Said Thalib dibunuh dan kasusnya Tenggara seperti pendampingan, meninjau
tidak tuntas hingga kini. LBH Jakarta juga persidangan, surat desakan, kampanye, lobi
mengalami serangan ketika Pengacara Publik kedutaan dan negara terkait, dan berbagai
dan Asisten Bantuan Hukum dikriminalisasi aksi perlindungan lainnya.
karena mendampingi aksi buruh dan
mahasiswa menolak Peraturan Pemerintah Di tengah demokrasi yang semakin turun
tentang Pengupahan. Di Kamboja pengacara di Asia Tenggara, peran pengacara publik
publik bekerja tanpa perlindungan dan penuh sangatlah diperlukan. SEAPIL harus lebih
intimidasi terlebih ketika mendampingi strategis memainkan perannya. Terdapat
kasus yang bertentangan dengan pemerintah beberapa kendala yang dihadapi oleh
ataupun kasus Sumber Daya Alam. Di Malaysia SEAPIL, terutama masalah pendanaan karena
pengacara publik rentan dikriminalisasi, kegiatan lintas negara membutuhkan dana
digugat pencemaran nama baik, bahkan Bar yang besar. Sementara dukungan dana dari
Counsil Malaysia dituduh sebagai antek asing donor untuk jaringan seperti SEAPIL sangat
karena menerima dana dari Open Society terbatas. Meskipun demikian, LBH Jakarta
Foundation (OSF) ketika Bar Counsil sedang sebagai sekretariat SEAPIL, tetap optimis di
gencar-gencarnya mendorong gerakan tengah keterbatasannya SEAPIL akan mampu
antikorupsi di Malaysia. Di Filipina, pengacara mendukung para anggotanya dan berbuat
setidaknya mendapatkan 5 jenis serangan: banyak untuk perlindungan HAM di Asia
diserang polisi, labelling, pelecehan dan Tenggara. []
ancaman dibunuh, kriminalisasi, dan bahkan
pembunuhan atau extrajudicial killing. Dari

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


122
DATA & ANGKA TAHUN 2017
KASUS DITANGANI LEBIH LANJUT

Pengaduan Pencari Keadilan

99 15.725

53
99
individu kelompok individu kelompok
152 15.824

Bentuk-Bentuk Penangganan Kasus

Litigasi 55

Non Litigasi 93

Ghost Lawyer 4

Penangganan Kasus 15
Bersama Jaringan

Jumlah Kasus Perempuan dan Anak (P&A)

7 Perlindungan Anak 7

7 Perlindungan Perempuan 156

14 Pengaduan 163 Pencari Keadilan

Redupnya Api Reformasi


123
Jumlah Kasus Perkotaan dan Masyarakat Urban (PMU)
16 Tanah & Tempat Tinggal 5.270

2 Usaha & Ekonomi 121

5 Pendidikan 141

6 Kesehatan 6

2 Lingkungan 900

3 Pelayanan Publik 14

34 Pengaduan 6.452 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Khusus/ Non-Struktural


9 Pidana Umum 11

3 Perdata 573

12 Pengaduan 584 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Keluarga

1 Pernikahan 1

3 KDRT 3

4 Pengaduan 4 Pencari Keadilan

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


124
Jumlah Kasus Perburuhan

25 Hubungan Kerja 3.506

14 Hak Normatif 835

3 Kepegawaian (PNS) 3.322

1 Serikat Pekerja 21

2 Pidana Perburuhan 3

1 BMI 1

11 PRT 11

57 Pengaduan 7.699 Pencari Keadilan

Jumlah Kasus Sipil dan Politik (Sipol)


7 a 7

1 b 1

17 c 40

1 d 1

5 e 752

2 f 21

1 g 100

a. Hak bebas dari siksaan & perlakuan tidak e. Hak atas kebebasan untuk berfikir,
manusiawi berkeyakinan dan beragamah.
b. Hak kebebasan bagi WNA f. Hak atas kebebasan untuk berpendapat dan
c. Hak atas pengadilan yang jujur/ fair trail berekspresi
d. Hak tahanan atas perlakuan manusiawi g. Hak untuk berkumpul dan berserikat

31 Pengaduan 922 Pencari Keadilan

Redupnya Api Reformasi


125
Pencari Keadilan Berdasarkan Jenis Pekerjaan
53

18 16
12 14
10 11 9
1 3 1 1 1 1 1
a b c d e f g h i j k l m n o

a. Buruh g. Pelajar m. Notaris


b. Buruh Tani h. Pegawai BUMN/PNS n. Lain-lain
c. Dosen/Guru i. Pensiunan PNS/BUMN o. Kelompok (tidak
d. Ibu Rumah Tangga j. Seniman diklasifikasi secara khusus)
e. PRT k. Tidak bekerja
f. Mahasiswa l. Wiraswasta

Pencari Keadilan Berdasarkan Wilayah Tempat Tinggal

23
21 21 20
16

10 10
6 7
4 3 3
1 2 2 1

a b c d e f g h i j k l m n o p
a. Tangerang & Banten g. Jawa Timur m. Kalimantan
b. Bogor h. Jakarta Barat n. Sumatera
c. Bekasi i. Jakarta Pusat o. Papua
d. Depok j. Jakarta Selatan p. Tanpa alamat
e. Jawa Barat k. Jakarta Timur
f. Jawa Tengah & DIY l. Jakarta Utara

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


126
Pencari Keadilan Berdasarkan Jenis Pekerjaan

Laki-laki
Kelompok
55
53 Dewasa
(18-50 tahun)
101

Jenis Kelamin
Usia

Perempuan
44
Lansia Anak
(>50 tahun) (<18 tahun)
36 15
(Rp 8-10 juta) 2 (Rp 6-8 juta) 2
(Rp > 10 juta) 4
Kelompok (Rp 4-6 juta) 6
(tidak terdeteksi)
53

(Rp 2-4 Juta) 22

(Tidak sekolah) 2
Penghasilan
Kelompok
(SMA) 32 (tidak diklasifikasi
secara khusus) 160

Tak Berpenghasilan (Rp 0-2 juta) 27 Pendidikan


36

(Perguruan Tinggi)
36
(SD) 14
(SMP) 15

Redupnya Api Reformasi


127
KETERLIBATAN MILITER
DALAM RANAH SIPIL
A. Pengantar Mengenai Militerisme. Paham Dwi Fungsi ABRI ini awalnya
dimaksudkan agar menjadikan militer sebagai

D
alam masa pemerintahan orde lama, dinamisator dan juga sebagai stabilisator
Presiden Soekarno meresmikan Tentara negara. Namun dalam perkembangannya
Nasional Indonesia (TNI), pada tanggal sistem Dwi Fungsi ABRI berkembang menjadi
3 Juni 1947 yang ada sampai sekarang ini. suatu sistem kediktatoran. Sistem ini menjadi
Namun dalam akhir masa pemerintahan orde alat pelanggeng kekuasaan dari Soeharto.
lama dan pada masa pemerintahan orde baru, Siapa pun yang berdiri menentang Soeharto
TNI digabungkan dengan insitusi kepolisian akan disingkirkan dengan berbagai cara.41
dibawah naungan nama Angkatan Bersenjata Dengan nafas yang sama juga Soeharto
Republik Indonesia (ABRI). Pada masa menempatkan orang-orang kepercayaannya
pemerintahan orde baru, militer mengadopsi pada posisi strategis.
paham Dwi Fungsi ABRI, yang mana pada
intinya paham tersebut memberikan B. Pemisahan Militer dan Urusan Sipil
kewenangan kepada militer untuk terlibat Berdasarkan Amanat Reformasi.
berpolitik untuk urusan masyarakat sipil.
Dalam kehidupan berpolitik terdapat dua Jengah dalam menilai keterlibatan militer
lingkup politik yaitu dalam kehidupan dalam urusan masyarakat sipil, para aktivis
politik di lingkungan pemerintahan (supra HAM bersama segenap masyarakat sipil
sturuktur politik) dan dalam kehidupan melakukan reformasi pada tahun 1998.
politik di lingkungan masyarakat (infra Reformasi ini ditandai dengan runtuhnya
struktur politik).40 Pada era orde baru, undang- rezim Soeharto yang telah berkuasa selama
undang yang mengatur Dwi Fungsi ABRI ialah 32 tahun. Hasil dari reformasi ini dituangkan
Ketetapan MPRS Nomor XXIV/MPRS/1966 dalam Ketetapan MPR No. X/MPR/1998
yang kemudian disusul oleh UU No. 15 Tahun tentang Pokok-Pokok Reformasi. Salah satu
1969 tentang Pemilihan Umum dan Undang- poin penting dalam pokok reformasi tersebut
Undang No. 16 Tahun 1969, Ketetapan MPR ialah penghapusan dwi fungsi ABRI, di mana
No.IV/MPS/1978, Undang-Undang Nomor 20 militer diminta kembali ke barak. Reformasi
Tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan ini juga menjadi salah satu titik tolak di mana
Pokok Pertahanan Keamanan Negara, dan terdapat pemisahan antara Polisi dan Tentara
UU No. 2 Tahun 1988 tentang Prajurit ABRI. Nasional Indonesia (TNI).
Implementasi paham Dwi Fungsi ABRI ini
dapat terlihat dari jabatan-jabatan strategis Dengan adanya amanat reformasi maka
dalam pemerintahan, baik regional maupun TNI sudah dikembalikan ke barak. Hal ini
nasional, diduduki oleh anggota tentara yang mengakibatkan Tentara Nasional Indonesia
masih aktif. yang masih aktif tidak dapat lagi dikaryakan
40
Yahya Muhaimin, 1992, Dwifungsi ABRI, 41
https://www.merdeka.com/peristiwa/6-jenderal-
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hal: 56. berani-tantang-kediktatoran-soeharto.html

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


128
(ditugaskan) untuk menduduki posisi dalam menggunakan dasar Permenhan No.30
pemerintahan sipil. Konsep amanat reformasi Tahun 2009. Dari pihak BPN menyatakan
ini sejatinya menjadi sesuatu yang baik bahwa tanah komplek mereka adalah
jika dilaksanakan dengan sesuai dengan tanah negara. Mereka ingin meminta
semangatnya. Namun pada kenyataannya perlindungan hukum dan penghentian
semangat amanat reformasi ini tidak sungguh eksekusi namun mereka mendapatkan
dilaksanakan. intimidasi. Mereka juga sudah pernah
ke Kementerian Pertahanan. Pihak
Dalam beberapa kasus yang ditangani kementerian menjanjikan/menjamin tidak
maupun yang dihadapi oleh Lembaga akan ada eksekusi namun di hari yang
Bantuan Hukum Jakarta (LBH Jakarta) tidak sama juga eksekusi dijalankan.
jarang ditemui aparat militer yang ikut
terlibat kasus-kasus masyarakat sipil. Pihak b. Kompleks TNI Mampang
militer sering digunakan sebagai alat untuk
melanggengkan kepentingan elit politik, Dalam peristiwa ini, penggusuran paksa
kaum pengusaha maupun pemerintah. dilakukan oleh aparat TNI yang dalam
hal ini adalah Pangdam. Penggusuran
C. Daftar Kasus Keterlibatan Militer Dalam Paksa ini mendapat perlawanan dari
Kasus LBH Jakarta warga yang akhirnya berujung pada
kriminalisasi warga. Kasus ini berawal
Berikut ini adalah daftar kasus-kasus yang dari tanggal 19 Desember 2015 di mana
ditangani dan dihadapi oleh LBH Jakarta KODAM Jaya megnirimkan SP-1, SP-2 dan
selama tahun 2017 ini: SP-3 kepada warga untuk mengosongkan
rumah paling lambat 29 November 2015.
a. Kompleks TNI Cijantung Pada 19 Desember 2015, karena adanya
ancaman pengosongan paksa maka warga
Warga sejumlah 67 orang tinggal di
memutuskan untuk mengadakan aksi di
perumahan TNI-AD sejak sekitar 1958.
TMP Kalibata agar mendapat perhatian
Rumah mereka yang berjumlah 10 unit
dari petinggi negara. Warga meminta
dieksekusi secara sepihak pada tanggal
unttuk berbicara dengan Pangdam, namun
7 Februari 2017. Surat Peringatan (SP)
ketika kontak tidak bisa dilakukan warga
pertama mereka terima pada tanggal
akhinya terpaksa memindahkan nisan dan
11 Januari 2017. SP ke-2 mereka terima
kijing makam. Namun setelah mendapat
tanggal 17 Januari 2017. SP ke-3 mereka
janji bahwa penggusuran tersebut tidak
terima tanggal 24 Januari 2017 dan ada
diteruskan warga membubarkan diri. Atas
beberapa yang tidak menerima. 3 SP jatuh
perbuatan mereka memindahkan nisan
tempo pada tanggal yang sama yaitu
dan kijing, polisi mempidanakan warga
tanggal 30 Januari 2017. Ketika sosialisasi,
atas tuduhan pengerusakan terhadap
pihak TNI menyatakan bahwa generasi
barang.
ke-2 sudah tidak berhak untuk tinggal
rumah negara. Warga sudah berargumen Kasus ini berlanjut pada tahun 2017 di
bahwa tanah yang ada di kompleks mana Direktorat Zeni angkatan darat
tersebut bukan aset TNI. Namun pihak melakukan pemagaran secara sepihak di
TNI masih tidak perduli, mereka masih

Redupnya Api Reformasi


129
atas tanah yang dipakai sebagai akses Aksi buruh tersebut dilakukan di depan
jalan bagi warga RT.006/RW.003. Selain balaikota DKI Jakarta. Namun dalam aksi
itu tanah tersebut merupakan tanah yang tersebut tentara juga turut mengamankannya.
dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Padahal sejatinya pengamanan suatu aksi
dan bukan milik Direktorat Zeni Angkatan penyampaian pendapat di muka umum
Darat. adalah tanggung jawab pihak kepolisian.

c. Kampung Akuarium Pasar Ikan Semua keterlibatan militer dalam ranah


sipil tersebut semakin diperparah dengan
Penggusuran paksa yang dilakukan adanya legitimasi secara dari pihak Yudikatif.
oleh pemerintah Provinsi DKI Jakarta Legitimasi itu terdapat di dalam putusan
di Kampung Akuarium Pasar Ikan turut hakim Mahkamah Konstitusi No. 96/PUU-
menggunakan militer TNI. Keterlibatan XIV/2016, tentang pengujian Perppu No. 51
TNI dalam penggusuran di kampung Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian
akuarium mengundang banyak perhatian, tanah Tanpa Izin yang Berhak Atau Kuasanya.
pertanyaan dan kritik dari masyarakat Dalam putusan tersebut majelis hakim
sipil termasuk LBH Jakarta, yang juga memberi pendapat bahwa, “Pelibatan TNI
turut menjadi kuasa hukum dari kampung dalam penggusuran dapat dibenarkan sebagai
akuarium pasar ikan. upaya akhir untuk melindungi keamanan
dalam negeri.” Hal ini tentu saja guyonan
Tidak hanya pada kasus-kasus yang dialami yang harus ditanggapi dengan serius. Sebab
oleh Klien-klien LBH Jakarta saja, LBH Jakarta masyarakat sipil yang miskin dan lemah
sendiri pun penah dikunjungi oleh Tentara. dipandang sebagai ancaman terhadap
Kunjungan para tentara ini disebabkan oleh keamanan dalam negeri. Jika seperti itu yang
pemasangan spanduk di LBH Jakarta. Adapun terjadi maka batasan antara operasi militer
isi dari spanduk tersebut ialah dorongan dan masyarakat sipil semakin kabur. Hal ini
untuk menjaga Amanat Reformasi yang salah tentu saja semakin memberikan peluang bagi
satunya ialah penghapusan dwi fungsi ABRI. penggunaan kekuatan militer bagi kasus-
Tentara yang terganggu dengan pemasangan kasus penggusuran di daerah selain Jakarta.
spanduk itu meminta LBH Jakarta untuk segera
menurunkan spanduk tersebut. Mungkin Sebenarnya masih banyak kasus-kasus
dapat dikatakan bahwa tindakan aparat TNI keterlibatan militer dalam pelanggaran HAM
tersebut adalah hal yang kecil, namun melalui yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia
peristiwa tersebut dapat dilihat bagaimana baik yang diketahui maupun tidak diketahui.
tentara merasa masih bisa mengintervensi Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa
kebebasan berpendapat yang dimiliki oleh keterlibatan militer dalam ranah sipil (Dwi
masyarakat sipil. Fungsi ABRI) selalu menimbulkan potensi
besar bahaya pelanggaran HAM sehingga
Pada tanggal 10 November 2017 tentara juga pemisahan fungsi militer dari ranah sipil
turut dilibatkan dalam pengamanan aksi demo adalah suatu hal yang mutlak perlu. []
buruh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


130
ANANDA BADUDU
BERINISIATIF Pada 26 September 2017 jaringan masyarakat
MENJADIKAN sipil sayang LBH/YLBHI mengadakan acara
doa bersama lintas agama dan penyerahan
#LBHRumahKita donasi secara simbolik kepada Direktur LBH
Jakarta dan ketua YLBHI. Donasi terkumpul
sebanyak Rp.41.854.396 dari 94 donatur yang
berkontribusi melalui laman kitabisa.com

A
cara pentas seni bertajuk #AsikAsikAksi serta 5 donatur yang mengirimkan donasinya
yang diadakan di LBH Jakarta langsung ke rekening LBH/YLBHI sebesar
pada tanggal 17 September 2017 Rp.24.001.710. Donasi secara keseluruhan
lalu, berujung pada pengepungan dan dari campaign “Bangun Kembali Kantor LBH
penyerangan kantor LBH/YLBHI. Acara yang Jakarta” sebesar Rp.65.856.106
menampilkan musik, puisi, dan standup
comedy tersebut mendapat penolakan dari Dana yang terkumpul tersebut dimanfaatkan
massa yang termakan issue hoax. untuk memperbaiki kerusakan gedung LBH/
YLBHI, meliputi kaca pintu dan jendela depan
Penyerangan tersebut mengakibatkan yang pecah, pagar yang roboh, lampu taman
kerusakan yang cukup parah pada gedung dan kerusakan lainnya.
LBH/YLBHI seperti gerbang depan yang rubuh
dan pecahnya beberapa kaca depan gedung. Inisiatif dari Ananda Badudu yang diamini
Kerusakan tersebut tidak memungkinan jaringan masyarakat peduli LBH, menunjukkan
penggunaan kantor secara efektif. Akibatnya, bahwa masih banyak masyarakat yang sayang
LBH Jakarta tidak bisa memberikan bantuan LBH dan mendukung gerakan-gerakan
hukum untuk masyarakat miskin secara perjuangan bantuan hukum struktural yang
maksimal sampai kantor diperbaiki kembali. dilakukan oleh LBH Jakarta. Segenap keluarga
besar LBH Jakarta juga sangat berterima
Bersamaan dengan itu, seorang musisi muda kasih kepada Ananda Badudu, para donatur
sekaligus eks gitaris Banda Neira, Ananda yang setia mendukung dan masyarakat luas
Badudu berinisiatif melakukan penggalangan atas kepercayaannya kepada lembaga yang
dana melalui laman kitabisa.com untuk kita cintai. []
perbaikan gedung LBH Jakarta/YLBHI yang
rusak. Kampanye ini dipublikasikan pada
Kamis (20/9) siang dan hanya dalam waktu 2
hari terkumpul 36 Juta dari target sebesar Rp
34.850.000.

Redupnya Api Reformasi


131
Testimoni Simpul:
Khamid Istakhori, (Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Buruh
Kerakyatan (SERBUK) Indonesia)

“LBH Jakarta pada 2001 mengadvokasi kasus saya yang di-PHK


oleh pabrik, menguatkan buruh dan mendorong serikat buruh agar
menjadi pilar utama dalam advokasi dengan melibatkan anggota.
Hingga hari ini, LBH Jakarta semakin konsisten mendukung
gerakan buruh tanpa mengurangi komitmen yang ada. Inilah salah
satu keunggulan LBH Jakarta.

Saya mengajak kawan-kawan untuk terlibat dan bergabung dalam


SIMPUL LBH Jakarta agar LBH Jakarta mandiri dan semakin dekat
dengan gerakan buruh. Kita, berkewajiban mewujudkan harapan
tersebut.

Ajeng Tri Wahyuni, (Pegiat LSM)

“Menjadi SIMPUL di LBH Jakarta merupakan kesempatan bagi


saya untuk berguna bagi mereka yang didiskriminasi dan marjinal.
Walaupun kontribusi saya bisa dibilang kecil, saya beruntung
menjadi SIMPUL.”

“SIMPUL menjadi salah satu cara bagi kita untuk membantu


kelompok minoritas dan marjinal. Seberapa kecilpun kontribusi
kita, tetap akan bermanfaat bagi mereka. Ayo, kita dukung Simpul
untuk mereka yang membutuhkan.”

Nanang Farid Syam, (KPK)

“Banyak cara untuk membantu sesama mencari keadilan


namun tidak semua orang bisa melakukannya. SIMPUL LBH
menjembatani kita untuk ikut berbuat, hadir, dan berjuang
bersama. #TerusBergerak”

Atnike Nova Sigiro , (Direktur Eksekutif Jurnal Perempuan)

“Meski saya bukan pengacara namun dengan menjadi Simpul LBH


Jakarta saya merasa turut berjuang bersama pengacara-pengacara
yang memiliki komitmen bagi Hak Asasi Manusia. Menurut saya,
gerakan Simpul LBH Jakarta menjadi wahana bagi lintas profesi
dan kalangan, termasuk kaum perempuan, dalam memperkuat
akses bagi seluruh warga untuk memperoleh bantuan hukum.”

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


132
Laporan Penggalangan Dana Publik:

A. Pemasukan Dana Publik:

Donasi Autodebet 252,267,150


Transfer 540,257,000
Penjualan Merchandise 35,880,000
Event Penggalangan Dana 284,150,000
Crowdfunding (LBH Rumah Kita) 65,856,106
TOTAL 1,178,410,256

Catatan: Periode November 2016 - September 2017

B. Pengeluaran Dana Publik:

Operasional PDP 139,613,830


Kasus & Advokasi 548,758,880
Produksi Merchandise 34,864,500
Event 103,938,510
Penggunaan Dana Crowdfunding (LBH Rumah Kita) 36,654,296
TOTAL 844,970,016.00

Catatan: Periode November 2016 - September 2017

Redupnya Api Reformasi


133
PDBH MENUJU
LITERASI DIGITAL
Lawfirm 7% Jurnalis 8%

Aktifis NGO 5% Peneliti 9%

Akademisi 4% Umum 10%

Pelajar 3%

LBH lain 3% Pemanfaat


PDBH

P
erkembangan teknologi informasi yang
melaju pesat saat ini menuntut semua
bidang untuk melakukan pengembangan,
tidak terkecuali dibidang perpustakaan,
dokumentasi dan informasi (pusdokinfo).
Mahasiswa 51%
Perpustakaan dan dokumentasi memegang
peranan penting dalam penyebaran informasi,
yang dibangun sesuai dengan kebutuhan
sehingga tercipta masyarakat literasi.
organisasi. Sistem informasi kasus tersebut
Pengelolaan yang sebelumnya dilakukan
dimaksudkan untuk mempercepat dan
secara konvensional, kini mulai beralih
memudahkan pelayanan bantuan hukum
dengan memanfaatkan teknologi digital.
bagi masyarakat, selain sebagai pusat data
Demikian pula Pusat Dokumentasi Bantuan bantuan hukum yang dilakukan oleh LBH
Hukum (PDBH) LBH Jakarta yang sejak Jakarta. Meski belum ada pengembangan
beberapa tahun lalu mulai melakukan lebih lanjut terhadap sistem ini, namun telah
transformasi ke sistem digital. Hal ini cukup membantu dalam proses manajemen
dilatarbelakangi oleh kebutuhan organisasi kasus, termasuk akses data dan dokumen
yang menuntut penyediaan informasi dalam bentuk digital.
secara efektif dan efisien, khususnya dalam
Selain sistem informasi kasus, sistem
memberikan dukungan terhadap pelayanan
manajemen dokumen menggunakan aplikasi
bantuan hukum.
Alfresco membantu dalam pengumpulan,
Implementasi Teknologi penyimpanan dan berbagi dokumen
organisasi. Mengingat proses kaderisasi LBH
Implementasi pemanfaatan teknologi Jakarta yang cukup pendek, maka sistem ini
informasi tersebut diwujudkan dalam sangat dibutuhkan sebagai wadah berbagi
beberapa sistem, salah satunya yaitu pengetahuan yang dapat diakses dengan
Sistem Informasi Kasus (SIK) terintegrasi mudah. Kedisiplinan sumber daya manusia

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


134
dalam pemanfaatan aplikasi merupakah Hukum (PDBH) LBH Jakarta seringkali
faktor penting untuk menujang proses berbagi menjadi rujukan dan kunjungi oleh pelajar,
pengetahuan tersebut. Dengan demikian mahasiswa, peneliti dalam dan luar negeri,
manajemen pengetahuan (knowledge jurnalis, akademisi, dan tak jarang advokat
management) organisasi dapat berjalan lebih dari kantor hukum lain. Namun tidak sedikit
baik. pula pemanfaat berasal dari kalangan aktifis
organisasi masyarakat sipil (OMS) dan klien
Layanan perpustakaan dibantu dengan LBH Jakarta sendiri.
penerapan teknologi informasi menggunakan
Senayan Library Informasi Management Tahun ini jumlah pemanfaat PDBH dari
System (SLIMs) yang juga digunakan sebagai kalangan mahasiswa mengalami kenaikan 2%
katalog. Sistem ini memungkin integrasi dari tahun lalu, dan masih menempati urutan
seluruh kegiatan kepustakawanan, mulai pertama. Hal ini menunjukan tingginya minat
dari penyediaan katalog, keanggotaan, mahasiswa khususnya dari fakultas hukum
peminjaman bahkan mampu menyajikan datang ke Pusat Dokumentasi Bantuan
beberapa koleksi buku dalam bentuk digital. Hukum (PDBH) untuk memperoleh informasi
Meskipun koleksi digital yang dimiliki PDBH dan dokumen terkait bantuan hukum yang
saat ini masih kurang dari 10% dari total 4904 dilakukan oleh LBH Jakarta. Pada Agustus
judul, dan hanya dapat diakses secara lokal 2017 lalu LBH Jakarta dan Fakultas Hukum
(offline), namun mampu menyajikan koleksi Universitas Bung Karno membuka kerjasama
kepada beberapa anggota secara bersamaan. bidang pendidikan termasuk salah satunya
akses informasi dan dokumentasi di PDBH.
Ribuan dokumen kasus hukum yang ditangai
oleh LBH Jakarta sejak awal berdiri masih Kerjasama lainnya khusus dibidang
tersimpan dan dapat diakses oleh umum. perpustakaan dan dokumentasi salah
Namun kondisi fisik dokumen yang mulai satunya jaringan PustakaHAM.id. Jaringan
rentan membutuhkan penganganan khusus, ini terdiri dari beberapa perpustakaan di
salah satunya dengan alih media menjadi Indonesia yang memfokuskan diri di isu hak
dokumen elektronik. Dari keseluruhan asasi manusia (HAM) dengan membangun
dokumen yang dimiliki, alih media digital dan mengembangan katalog bersama
baru terlaksana kurang dari 35%. Pemusnahan agar akses pengetahuan lebih mudah
dokumen akan dilakukan jika dokumen kasus dilakukan. Sebagai wadah para pengelola
tersebut sudah dialihmedia, dan memenuhi perpustakaan, dokumentasi dan informasi,
kriteria yang telah ditetapkan dalam standar jaringan ini cukup aktif melakukan kegiatan
operasional prosedur (SOP) manajemen rekod. pengembangan kapasitas kepada anggota.
Hal ini dilakukan untuk menjaga agar nilai Mulai dari pelatihan pembuatan thesaurus,
informasi yang terkandung dalam dokumen pemanfaatan teknologi untuk perpustakaan,
tersebut tetap dapat dimanfaatkan. dan yang terakhir workshop penulisan di
bulan November 2017. Peningkatan kapasitas
Sumber Pengetahuan tersebut dimaksudkan agar para pengelola
perpustakaan, dan dokumentasi memiliki
Sebagai sumber pengetahuan tentang kemampuan dan ketrampilan penunjang
bantuan hukum, Pusat Dokumentasi Bantuan bidang kerja. []

Redupnya Api Reformasi


135
POJOK RISET LBH JAKARTA
2016-2017
Judul: Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta
Modul Paralegal Dasar memandang penting adanya pendidikan bagi
dan Lanjutan masyarakat, sebagai upaya untuk mencegah
Penyusun: terjadinya diskriminasi dan ketidakadilan,
Arif Maulana, dkk khususnya bagi kelompok minoritas dan
Penerbit:
rentan. Pendidikan kepada masyarakat
LBH Jakarta
Tahun: tersebut dilakukan melalui pelatihan
2017 paralegal yang telah beberapa kali dilakukan.

Guna mendukung efektifitas pendidikan dan


pelatihan paralegal tersebut, LBH Jakarta
menyusun modul paralegal tingkat dasar
dan lanjutan yang digabungkan dalam satu buku. Modul ini sebagai salah satu alat atau
sarana pembekalan. Modul yang berisi materi, metode, panduan, batasan-batasan dan cara
mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan menarik. Modul ini diharapkan menjadi
panduan pembelajaran yang terencana untuk membantu para calon paralegal mencapai
kompetensi yang diharakan.

Judul: Penerapan Peraturan Menteri Pendidikan dan


Risalah Kebijakan Full Kebudayaan RI Nomor 23 Tahun 2017 tentang
Day School Hari Sekolah yang mengatur penyamarataan
Penyusun: jadwal 40 jam belajar selama 5 hari bagi
Alldo Fellix Januardy, siswa di tingkat pendidikan dasar, baik sekolah
dkk
umum ataupun sekolah khusus (madrasah,
Penerbit:
LBH Jakarta –
sekolah luar biasa, dsb.) menuai kontroversi
Masyarakat Peduli di berbagai kalangan.
Pendidikan
Tahun: Peraturan yang mengatur tentang kebijakan
2017 empat puluh jam sekolah tersebut memang
belum digodok secara matang. Pemerintah
belum mempertimbangkan dari hal formil seperti kesesuaian antar regulasi dan partisipasi
masyarakat dalam penentuan kebijakan, hingga hal yang substansial seperti perlindungan
hak-hak anak.

Risalah kebijakan yang disusun oleh LBH Jakarta bersama Masyarakat Peduli Pendidikan ini
menguraikan pertimbangan-pertimbangan mengapa  kebijakan penyamarataan  jam belajar
sekolah bagi anak peserta didik tidak perlu dipertahankan.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


136
Judul: Penelitian ini menguraikan standar
Mereka yang Terasing: pemenuhan hak atas perumahan yang layak
Laporan Pemenuhan bagi para korban penggusuran paksa di
Hak Atas Perumahan wilayah DKI Jakarta yang kini direlokasi untuk
yang Layak bagi Korban menghuni rumah susun yang dikelola oleh
Penggusuran Paksa
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Jakarta yang Menghuni
Rumah Susun
Penelitian menemukan bahwa terjadi
Penyusun:
Alldo Fellix Januardy, pelanggaran perlindungan prosedural
dkk terhadap warga yang menjadi korban
Penerbit: penggusuran paksa. Pelanggaran tersebut
LBH Jakarta antara lain: ketiadaan musyawarah, adanya
Tahun: kekerasan fisik dan verbal oleh aparat,
2017 kerusakan harta benda, dan tidak diberikannya
akses bantuan hukum bagi warga terdampak.

Di rumah susun, penelitian menemukan terdapat beberapa aspek yang tidak memenuhi ukuran
kelayakan dan aksesbilitas berdasarkan standar HAM. Rumah susun cenderung layak dari segi
infrastruktur, tetapi dinilai warga kurang aksesibel bagi kelompok difabel dan lanjut usia.

Warga juga mengaku mengalami penurunan pendapatan ketika menghuni rumah susun
karena menjauhnya akses terhadap pekerjaan. Akibatnya, mereka terancam terusir kembali dari
rumahnya karena tidak mampun untuk membayar biaya sewa.

Judul: Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan


Rekam Jejak Calon pusat ekonomi memiliki makna penting
Gubernur dan Calon dalam proses politik di Indonesia. Pilkada DKI
Wakil Gubernut DKI
Jakarta yang digelar tahun 2017 ini menjadi
Jakarta 2017-2022
sorotan nasional, dimana dua kandidat calon
Penyusun:
Nelson Nikodemus gubernur dan wakil gubernur akan bertarung
Simamora, dkk menuju Balai Kota.
Penerbit:
LBH Jakarta Sebagai pertanggungjawaban LBH Jakarta
Tahun: yang senantiasa berpihak pada rakyat
2017 sekaligus merupakan kontribusi terhadap
pendidikan dan kesadaran politik warga,
maka disusunlah rekam jejak calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta ini. Rekam jejak
ini diharapkan mampu memberikan informasi yang cukup bervariasi, dari debat kandidat, dan
berita-berita obyektif yang beredar luas di masyarakat. Dengan demikian rekam jejak dapat
membantu masyarakat dalam melakukan pilihannya dan memberikan suaranya ke calon yang
memiliki komitmen kuat terhadap upaya pemajuan, penghormatan, dan perlindungan Hak
Asasi Manusia.

Redupnya Api Reformasi


137
Judul: Penelitian ini mencatat sebanyak 193 kasus
Seperti Puing: Laporan penggusuran paksa terhadap hunian dan unit
Penggusuran Paksa di usaha dengan jumlah korban mencapai 5.726
Wilayah DKI Jakarta keluarga dan 5.379 unit usaha sepanjang
tahun 2016
tahun 2016 terjadi di Jakarta. Pelibatan aparat
Penyusun:
Alldo Fellix Januardy,
yang tidak berwenang juga marak digunakan
dkk untuk mengintimidasi warga, yaitu TNI
Penerbit: sebanyak 37,8%, dan POLRI 41,9%.
LBH Jakarta
Tahun: Terkait dengan proses musyawarah, ditemukan
2017 71% kasus penggusuran hunian dan 84%
kasus penggusuran unit usaha dilaksanakan
secara sepihak tanpa musyawarah. Akibatnya, hanya 2% kasus penggusuran hunian dan 1,9%
kasus penggusuran unit usaha yang memberikan solusi layak bagi warga terdampak.

Penelitian ini juga merekomendasikan kepada pihak-pihak terkait untuk segera membuat
regulasi prosedur relokasi warga terdampak pembangunan sesuai dengan standar HAM untuk
menghindari pelanggaran HAM yang berulang setiap tahun.

Judul: Penelitian memotret kondisi penyiksaan di


Kepolisian Dalam wilayah kerja LBH Jakarta melalui advokasi
Bayang-bayang pengaduan yang selama ini diterima LBH
Penyiksaan: Catatan Jakarta dalam kurun waktu 2013-2016.
Kasus Penyiksaan
sepanjang Tahun 2013-
Sebelumnya, penelitian Lembaga Bantuan
2016
Hukum (LBH) Jakarta tentang penyiksaan di
Penyusun:
Ayu Eza Tiara, dkk Wilayah DKI Jakarta pada 2008 menunjukkan
Penerbit: bahwa sebanyak 83,65% dari 367 responden
LBH Jakarta menyatakan mengalami kekerasan ditingkat
Tahun: Kepolisian, baik pada saat penangkapan
2017 atau pemeriksaan. Tahun 2012 ditemukan
hasil bahwa aparat Kepolisian secara
konsisten menjadi pelaku penyiksaan pada
proses penangkapan, pemeriksaan, maupun
penahanan.

Temuan ini mengindikasikan problem akut masih terus terjadinya praktek penyiksaan dalam
proses penegakan hukum khususnya di Kepolisian. Bahkan praktek penyiksaan dianggap
sebagai kejahatan yang bisa ditoleransi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia belum
melakukan langkah konkret untuk mencegah penyiksaan.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


138
Judul: Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
Perbudakan Gaya Baru: negara gagal memenuhi dan melindungi
Laporan sistem kerja hak buruh transportasi. Tidak hanya masalah
kotrak pada buruh ketidakpastian kerja karena kontrak berulang,
Transportasi
upah yang rendah, tapi juga lemahnya
Penyusun:
Oky Wiratama Siagian,
perlindungan Kesehatan dan Keselamatan
dkk Kerja (K3).
Penerbit:
LBH Jakarta Penelitian ini juga mengkaji narasi hubungan
Tahun: kemitraan antara perusahaan dan buruh
2017 transportasi. Hubungan kemitraan ini bersifat
eksploitatif karena menganggap buruh
transportasi sebagai mitra, namun sebenarnya
mempekerjakan mereka sama seperti buruh pada umumnya.

Hubungan kemitraan bisa saja tidak eksploitatif jika buruh menguasai sendiri alat produksinya,
menguasai sendiri sistem produksi, memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan sendiri,
dan memiliki hubungan setara dengan mitra yang ingin bekerja sama.

Judul: Konflik berbasiskan perbedaan agama atau


Membangun Indonesia keyakinan yang terjadi ditengah masyarakat,
sebagai Rumah salah satunya disebabkan adanya politik
Bersama identitas dalam wujud politisasi agama.Melalui
Penyusun: program Respect and Dialogue (READY), LBH
Tim Program Ready
Jakarta bersama Fahmina Institute, The Wahid
Penerbit:
Foundation, Yayasan PUSAD Paramadina serta
LBH Jakarta
Tahun: HIVOS melakukan upaya untuk meningkatkan
2017 kesadaran komunitas dan dukungan terhadap
pemenuhan hak-hak kewarganegaraan
kelompok minoritas melalui advokasi
generasi muda lintas iman di Jawa Barat.

Buku ini merupakan upaya untuk berbagi cerita dan pengalaman para pemuda di Cirebon,
Sukabumi, dan Tasikmalaya yang mengalami perubahan paradigma yang berdampak pada
perubahan perilaku dan sikap pada sekelompok anak muda. Dengan meningkatkan kesadaran
komunitas generasi muda lintas iman di Jawa Barat, diharapkan mampu menularkan semangat
dalam mengupayakan pemenuhan hak-hak kewarganegaraan dan penghormatan akan
keberagaman.

Redupnya Api Reformasi


139
Judul: Buku ini merupakan satu rangkaian dengan
Pemuda Sebagai Agen buku “Membangun Indonesia Sebagai Rumah
Perubahan Dalam Bersama”. Dalam bentuk buku saku, buku
Kebebasan Beragama yang terdiri dari empat bagian ini pada
dan Berkeyakinan
bagian pertama menguraikan pengenalan
Penyusun:
Asfinawati, dkk
terhadap hak asasi manusia (HAM). Bagian
Penerbit: kedua, menguraikan tentang kemerdekaan
LBH Jakarta beragama dan berkeyakinan sebagai bagian
Tahun: dari hak asasi manusi (HAM). Pada bagian tiga
2016 dan empat, memaparkan langkah-langkah
advokasi saat terjadi pelanggaran kebebasan
beragama dan berkeyakinan, dan langkah advokasi setelah terjadi pelanggaran kebebasan
beragama dan berkeyakinan.

Penyusunan buku ini diharapkan memberi pengetahuan praktis dan menjadi pedoman bagi
para generasi muda sebagai agen perubahan. Generasi muda dapat melakukan pembelaan/
advokasi hak asasi manusia khususnya dalam pemenuhan hak-hak kewarganegaraan para
pemeluk keyakinan atau agama minoritas sehingga menjadikan Indonesia yang lebih toleran
dan bermartabat.

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


140
Redupnya Api Reformasi
141
PENYERANGAN LBH JAKARTA/YLBHI:
PENYERANGAN ATAS
HAK KEMERDEKAAN BERKUMPUL
DAN BEREKSPRESI

P
eristiwa pengepungan dan penyerangan Senin 18 September 2017 dini hari, kantor LBH
kantor LBH Jakarta/YLBHI sudah Jakarta/YLBHI menjadi sasaran massa yang
tiga bulan berlalu. Memasuki awal menamakan diri Gerakan Anti PKI. Gerakan
Desember 2017, tepatnya 10 Desember yang ini sehari sebelumnya pada 16 september
biasa diperingati sebagai hari hak asasi 2017 juga melakukan mimbar bebas di
manusia, muncul pertanyaan apakah negara depan kantor LBH Jakarta/YLBHI, menolak
telah memenuhi hak untuk berkumpul dan adanya kegiatan diskusi tentang sejarah
berekspresi? Berkaca dari peristiwa tersebut, peristiwa 65-66 yang digelar oleh Forum 65.
bagaimana sebuah Lembaga Bantuan Hukum Meskipun acara diskusi urung dilaksanakan
pertama yang menjadi pembela hak asasi karena peserta seminar dihadang oleh aparat
manusia, kemudian mendapatkan tuduhan kepolisian, dan tidak diperbolehkan masuk
telah mengakomodir kebangkitan Partai ke gedung LBH Jakarta/YLBHI. Peserta yang
Komunis Indonesia (PKI) hanya karena kebanyakan berusia lanjut tersebut terpaksa
menyediakan tempat untuk berdiskusi. batal mengikuti diskusi dan hanya bisa duduk
di jalan depan kantor LBH Jakarta/YLBHI.
Berita-berita hoax yang dihembuskan secara
masif sejak beberapa hari sebelum diskusi Selama ini LBH Jakarta/YLBHI membuka diri
dilakukan, baik melalui media sosial, pesan sebagai rumah rakyat, terbuka bagi masyarakat
singkat, dan ajakan langsung dengan isu dengan visi dan prinsip yang sama yaitu
kebangkitan PKI ternyata masih mampu penghargaan terhadap hak asasi manusia.
membakar semangat ribuan massa. Mereka Kegiatan seminar, pelatihan, pameran, diskusi
mengeruduk kantor yang didirikan oleh dan semacamnya bebas digelar disini secara
Adnan Buyung Nasution, salah satu tokoh rutin dan tanpa masalah sekalipun diera
yang gencar melakukan penolakan Partai pemerintahan Soeharto. Bahkan beberapa
Komunis Indonesia pada periode 1965-1966. kali LBH Jakarta/YLBHI digunakan sebagai
tempat alternatif para pencari keadilan,
Tepat di hari Minggu 17 September sampai misalnya 26 pasien rumah sakit yang terusir

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


142
karena diskriminasi pelayanan, warga nelayan telah rampung, namun peserta Asik Asik Aksi
Ancol Timur yang digusur dan direpresi, ibu- tidak dapat segera pulang karena terkurung
ibu petani kendeng, 187 warga petani Teluk oleh kepungan massa yang dengan brutal
Jambe Karawang, pengungsi Rohingya yang meneriakkan ancaman mengerikan. Selain
sebagian besar anak-anak, dan lain-lain. itu massa juga melempari gedung dengan
batu sehingga beberapa bagian kaca gedung
Pelarangan diskusi terkait sejarah 65-66 kali pecah sambil terus melakukan provokasi
ini merupakan sebuah kemunduran dalam serta mencoba membuat kerusuhan.
pelaksanaan prinsip HAM, yaitu kemerdekaan
untuk berkumpul dan berekspresi, sekaligus Sekiatar 200-an peserta yang hadir dalam
kemunduran dalam penegakkan demokrasi. acara Asik asik Aksi tertahan. Tidak hanya
Atas pelarangan tersebut, LBH Jakarta bersama orang dewasa, namun peserta lanjut usia dan
jaringan organisasi hak asasi manusia lainnya anak-anak pun ikut terkepung. Kecemasan
dan orang-orang yang peduli terhadap dan ketakutan menyelimuti suasana malam
penegakan demokrasi kemudian melakukan sampai menjelang dini hari tersebut, sehingga
protes dengan mengambil tema “Darurat terdapat peserta yang pingsan dan beberapa
Demokrasi”. Protes yang kemudian dinamakan lainnya hanya bisa menangis. Pihak kepolisian
“Asik Asik Aksi” ini digelar pada minggu, 17 yang tidak berhasil membujuk dan meredakan
September 2017 mulai pukul 15.00 wib, amarah massa terpaksa mengambil keputusan
dengan menampilkan acara kesenian, mimbar untuk memukul mundur para demostran agar
bebas, musik, dan puisi. Beberapa seniman dapat mengevakuasi peserta dari dalam
pun turut hadir dalam acara ini, antara lain gedung LBH Jakarta/YLBHI. Kerusuhan
Ananda Badudu dan Melani Soebono. pun pecah didini hari 18 September 2017.
Peserta dievakuasi dalam 3 kelompok dengan
Namun acara yang digelar sebagai bentuk menggunakan kendaraan bus dan truk
keprihatinan terhadap pelarangan diskusi kepolisian.
tersebut kemudian diolah oleh pihak tertentu
menjadi berita hoax mengerikan tentang Peristiwa ini menyisakan trauma bagi peserta
kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI). yang hadir dalam acara tersebut, ditambah
Berita hoax tersebut kemudian disebar dengan beredarnya informasi terkait
ditambah propaganda tuduhan yang persekusi terhadap peserta yang kemudian
mengada-ada, seperti peserta Asik Asik mendapat label PKI atau mendukung PKI.
Aksi menyanyikan lagu genjer-genjer. Hal Kecemasan peserta tidak dipungkiri karena
tersebut ternyata mampu mempengaruhi banyak foto wajah peserta yang hadir
dan menggerakan masyarakat dengan beredar dan diembel-embeli dengan kata
kemarahannya tanpa melakukan klarifikasi “ingat wajah-wajah ini”. Ada peserta yang
dan mendengarkan penjelasan dari pihak tidak berani pulang, ada juga yang kemudian
Kepolisian. tidak boleh keluar oleh keluarganya. Sebagai
bentuk pertanggungjawaban LBH Jakarta/
Massa yang berjumlah ribuan tetap mencoba YLBHI kepada peserta yang mengalami
merangsek kearah gedung LBH Jakarta/ trauma pasca penyerangan, maka ditawarkan
YLBHI sampai acara tersebut berakhir sekitar pemulihan psikis berupa konsultasi dengan
pukul 22.00 wib. Meskipun pagelaran acara psikolog. Konsultasi psikologis dari yayasan

Redupnya Api Reformasi


143
PULIH ini merupakan salah satu dukungan pecahan kaca, dan sampah sisa penyerangan.
organisasi jaringan LBH Jakarta/YLBHI selain Secara gotong royong mereka membereskan
ratusan dukungan dari organisasi lain baik meja kursi yang ditumpuk sebagai barikade
lokal, nasional maupun internasional. pintu dan jendela. Hadir dalam kerja bakti
ini Jaringan Advokasi Nasional Pekerja
Akibat dari peristiwa penyerangan tersebut Rumah Tangga (JALA PRT), paralegal LBH
mengakibatkan kerugian materi senilai Rp. 34 Jakarta, klien warga gang Lengkong Cilincing,
juta, dengan rincian kerusakan pada bagian Gerakan Buruh untuk Rakyat (GEBRAK) dan
pagar, kaca pintu dan jendela, lampu taman, perorangan. Tidak ketinggalan pula Gerakan
kaca depan dua buah mobil yang diparkir di Pemuda Ansor dan Komando Kesiapsiagaan
halaman kantor LBH Jakarta/YLBHI, dimana Angkatan Muda: Komando Ketahanan Pemuda
salah satunya merupakan peninggalan Muhammadiyah (KOKAM) untut ikut serta
almarhum Adnan Buyung Nasution. Selain membersihkan puing-puing sisa penyerangan.
itu pula berdampak terhadap terhentinya
layanan bantuan hukum yang diberikan oleh Setelah satu minggu tidak beroperasi, tepat
LBH Jakarta setiap hari. Selama satu Minggu, pada 25 September 2017 kantor LBH Jakarta/
mulai tanggal 18 sampai 22 September YLBHI resmi dibuka kembali berkat dengan
LBH Jakarta menutup layanan pengaduan dukungan dari masyarakat sayang LBH/
dan konsultasi mengingat kondisi gedung YLBHI. Acara doa bersama lintas iman dan
setelah penyerangan. Meski demikian, LBH penyerahan donasi dari kitabisa.com menjadi
Jakarta masih tetap menjalankan mandat penanda dibuka kembalinya kantor LBH
untuk melakukan tetap memberi bantuan Jakarta/YLBHI. Kegiatan pengaduan bantuan
hukum dengan menangani kasus, bersidang, hukum mulai beroperasi kembali seperti
melakukan advokasi kebijakan, dan lain-lain. biasa, dan menjadikan LBH Jakarta/YLBHI
kembali menjadi rumah bersama. Seremoni
Kondisi tersebut menggugah solidaritas pembukaan kantor dilakukan oleh salah satu
konstituen LBH Jakarta, baik klien, jaringan klien LBH Jakarta dengan didampingi oleh
maupun perorangan untuk turun tangan beberapa direktur LBH daerah dan ketua
membantu LBH Jakarta/YLBHI. Ananda Badan Pengurus YLBHI. Dengan mengambil
Badudu, salah satu peserta yang hadir dalam tema LBH Rumah Kita diharapkan agar LBH/
acara Asik Asik Aksi kemudian melakukan YLBHI kembali menjadi rumah bagi orang-
penggalangan dana bekerjasama dengan orang yang terpinggirkan, dilanggar hak-
kitabisa.com. Solidaritas juga ditunjukan haknya, dan tertutup aksesnya pada keadilan.
oleh masyarakat sipil sayang LBH/YLBHI []
dengan membersihkan gedung dari batu,

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


144
LBH JAKARTA RAIH ANUGERAH
PEJUANG UNTUK INDONESIA ADIL

L
embaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta Bukan tanpa sebab PHI memberikan
meraih penghargaan INDONESIA GREENS penghargaan Indonesia Greens Award 2017
AWARD 2017 kategori Pejuang untuk kategori Pejuang untuk Indonesia Adil kepada
Indonesia Adil dari Partai Hijau Indonesia (PHI) LBH Jakarta, karena dianggap sebagai salah
pada 21 Juni 2017. PHI menilai LBH Jakarta satu lembaga yang sangat signifikan dalam
layak menerima penghargaan tersebut karena menjaga demokrasi. Panitia menilai LBH
dianggap mewakili dan membela perjuangan Jakarta berjuang untuk keadilan sosial,
nilai-nilai dari PHI. Penghargaan diberikan demokrasi, kesetaraan dan menjunjung
secara langsung kepada Direktur LBH Jakarta, tinggi hak asasi manusia, dimana hal tersebut
Alghiffari Aqsa dalam acara hari ulang tahun sejalan dengan prinsip Partai Hijau Indonesia
PHI ke-5 yang berlangsung di Pavilliun 28, (PHI).
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Redupnya Api Reformasi


145
Sejak dibentuk, LBH Jakarta memang LBH Jakarta sebagai salah satu penerima
mengambil posisi sebagai garda depan Indonesia Green Award 2017. Konsistensi LBH
dalam memperjuangkan nilai-nilai hak asasi Jakarta terhadap pemajuan demokrasi dan
manusia, hukum dan demokrasi. LBH Jakarta HAM dengan prinsip imparsialitas, membela
terus konsisten dalam memberikan bantuan siapapun yang selaras dengan prinsip-
hukum tanpa memandang ras, suku, budaya, prinsip HAM, sejalan dengan sifat yang ingin
keyakinan, pun ideologi dalam advokasi- ditularkan PHI sebagai gerakan kepada
advokasi yang dilakukan. masyarakat.

Setiap tahun LBH Jakarta menerima lebih dari Penghargaan dari PHI ini tentu akan menjadi
1000 pengaduan dari wilayah Jabodetabek, pelecut semangat bagi LBH Jakarta dalam
Banten bahkan beberapa dari luar jawa. menjalankan advokasi-advokasi, terutama
Pengaduan tersebut terdiri dari berbagai advokasi yang spesifik untuk memperjuangan
kategori, meliputi perburuhan, perkotaan dan isu-isu lingkungan di Jakarta dan sekitarnya.
masyarakat urban, minoritas kelompok rentan, LBH Jakarta akan terus memberikan bantuan
fair trial, hingga kasus non struktural seperti hukum kepada masyarakat sipil yang menjadi
pidana umum. korban ketidakadilan. Penghargaan ini bukan
milik LBH Jakarta semata, namun dibelakang
LBH Jakarta juga terlibat dalam banyak kasus LBH Jakarta terdapat para donatur, jaringan
yang berdimensi enviromental seperti terlibat masyarakat sipil dan klien yang bersama-sama
dalam perjuangan masyarakat Kendeng berjuang untuk terwujudnya keadilan bagi
yang menolak pabrik semen atau menangani seluruh masyarakat, khususnya bagi mereka
kasus reklamasi di Teluk Jakarta secara yang miskin, buta hukum dan tertindas.
langsung. Bukan hanya pada kasus eksploitasi
terhadap lingkungan, LBH Jakarta juga kerap LBH Jakarta tidak sendiri dalam menerima
memberikan bantuan hukum kepada para penghargaan dari Partai Hijau Indonesia. Ada
pejuang lingkungan yang rentan mengalami nama Novel Baswedan dalam kategori untuk
kriminalisasi. Indonesia Bersih, I Wayan Suardana dalam
kategori untuk Indonesia Lestari, Jaringan
Atas konsistensi tersebut, dewan juri Indonesia Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng
Greens Award 2017 yang terdiri dari Bram dalam kategori untuk Indonesia Merdeka,
Fahmy, Nur Hidayati, Suci Fitrah Tanjung, dan Watch Doc dalam kategori untuk Inovasi
Teguh P Nugroho dan Usman Hamid, memilih Perubahan. []

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


146
PENGHARGAAN
BAGI PEJUANG KEADILAN

P
enghargaan LBH Jakarta yang Perjalanan Kereta Api (PPKA) statiun Sudimara
sebelumnya disebut dengan LBH Jakarta (Daop I jakarta) yang bertugas mengatur jalur
Award merupakan penghargaan tertinggi jalannya kereta api. Bermula dari tragedi
yang diberikan kepada klien LBH Jakarta kecelakaan di Bintaro tahun 1987, Jamhari
setiap tahunnya. Penghargaan yang pertama dianggap bertanggung jawab atas kecelakan
kali diberikan pada tahun 2003 ini mulai yang menewaskan 139 korban tewas dan 123
disahkan dengan diterbitkannya SK Direktur korban luka berat tersebut. Setelah menjalani
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta nomor hukuman 2 tahun penjara, 20 tahun kemudian
41/SKEP/LBH/XII/2003 tentang LBH Jakarta Jamhari resmi diberhentikan dari status
Award untuk Nelayan Ancol Timur. Gagasan Pegawai negeri Sipil (PNS). Meskipun status
awal pemberian penghargaan tersebut diberhentikan dengan hormat melalui SK
sebagai bentuk apresiasi terhadap peran Menteri Perhubungan No. SK.20/KP.601/Phb-
aktif masyarakat dalam memperjuangkan 96 tersebut, tidak semata-mata kemudian
hak-haknya. Selain itu, penghargaan juga dia mendapatkan hak pensiunnya. Jamhari
dimaksudkan untuk memberi semangat harus berjuang untuk memperoleh hak-
bagi konstituen LBH Jakarta agar tidak haknya setelah bekerja selama lebih dari 20
patah semangat dalam berjuang dan tahun. Proses persidangan yang panjang dan
menegakkan keadilan. Dengan demikian, berlarut harus dia tempuh sampai kemudian
diharapkan dengan adanya penghargaan ini majelis hakim menetapkan kemenangan
dapat memberikan inspirasi bagi klien LBH baginya sehingga Jamhari memperoleh hak-
Jakarta lainnya agar tetap konsisten dalam haknya.
memperjuangkan hak-haknya.
Sampai 2016 lalu, LBH Jakarta telah 14
Penghargaan yang diberikan dalam bentuk (empat belas) kali memberikan penghargaan
replika patung sebagai simbol LBH/YLBHI ini tersebut kepada konstituen yang memenuhi
pertama kali diterima oleh komunitas warga kategori. Rangkaian panjang proses seleksi
nelayan Ancol Timur yang tergusur oleh proyek yang diawali dari usulan internal, kemudian
pemerintah Propinsi DKI Jakarta. Sebanyak dilanjutkan dengan penentuan nominasi oleh
74 kepala keluarga yang sudah tinggal dan tim verifikasi. Setelah mendapatkan calon
menetap sejak 1958 tersebut tergusur dan nominasi penerima penghargaan, tim penilai
direpresi oleh petugas keamanan dengan melakukan seleksi berdasarkan beberapa
alasan ketertiban, keindahan kota dan alasan kategori penilaian, salah satunya adalah klien
perkembangan ekonomi daerah. aktif berjuang tidak hanya untuk pribadinya,
tetapi membuat perubahan dan berimbas
Tahun 2004 penghargaan yang sama diberikan pada penguatan komunitas masyarakat. Para
kepada Jamhari, seorang mantan Pemimpin nominator dan pemenang akan diumumkan

Redupnya Api Reformasi


147
dalam acara penganugrahan penghargaan Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun
LBH Jakarta di akhir tahun, yang biasanya ini LBH Jakarta akan kembali memberikan
bersamaan dengan acara peluncuran laporan penghargaan yang sama kepada klien
tahunan LBH Jakarta atau lebih dikenal dengan yang telah gigih berjuang bersama untuk
sebutan Catatan Akhir Tahun (CATAHU). memperoleh keadilan. Hal ini tentu saja
seiring dengan upaya LBH Jakarta untuk
Berikut adalah daftar konstituen LBH Jakarta memperkuat basis dengan bantuan hukum
yang pernah memperoleh penghargaan LBH struktural. []
Jakarta sejak pertama kali dilaksanakan.

TAHUN PENERIMA
2003 Tohir, Komunitas Warga Nelayan Ancol Timur Jakarta yang digusur dan direpresi aparat
2004 Jamhari, Mantan Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) stasiun Sudimara (Daop I jakarta) yang di PHK

Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Lingkungan (FKMPL) yang menolak Tempat Pengelolaan Sampah
2005
Terpadu (TPST) di Bojong, kabupaten Bogor

Forum Warga Kampung Pilar Tertindas (Forwapi) yang berjuang untuk memperoleh pengakuan hak atas
2006
tanah mereka di Cikarang-Bekasi

2007 Indri dan kawan-kawan, buruh yang di PHK oleh perusahaan PT. Girindo
2008 Serikat Buruh PT. Istana Magnoliatama
2009 Sultoni dari Serikat Buruh Progresif
Yasman Hadi, seorang anggota Dewan Pengawas di Perum Perumnas yang dipecat karena melaporkan
2010 skandal korupsi di tempat kerjanya. Ia berjuang melawan ketidakadilan yang diterimanya di lingkungan
tempatnya bekerja.
2011 Komunitas Warga Kampung Rumpin Bogor

Maya Agung Dewandaru, Keteguhannya dalam membela hak buruh ketika bekerja di PT. FPT membuatnya
2012
mendapat tindakan represif dari pihak perusahaan

Retno Listyarti, seorang kepala SMAN 3 Jakarta yang diberhentikan karena dituduh mangkir dari tugas
2013
penanggung jawab Ujian Nasional 2015.

Edy, ketua Forum Masyarakat Kampung Benteng (FMKB) atau lebih dikenal komunitas warga cina benteng
2014 yang digusur dengan alasan melanggar Perda No 18 tahun 2000, tentang Keindahan, Ketertiban, dan
Keamanan (K3) Kota Tangerang.

Luviana, mantan Jurnalis Metro TV yang di PHK oleh perusahaa karena memperjuangkan terbentuknya
2015
serikat buruh di lingkungannya bekerja.

Niti Amini, korban kriminalisasi karena membela hak atas lingkungan di perumahannya. Dia kemudian
2016 bangkit, berdaya, terlibat dalam membela korban pelanggaran HAM dan terjun menjadi paralegal LBH
Jakarta

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


148
LAPORAN KEUANGAN LBH JAKARTA
Penerimaan LBH Jakarta Per Oktober 2017

Yayasan TIFA 2%
TAF 18%
Sealawyer 3%

Lainnya 2%

Sasakawa 18%

BPHN 1%
Penggalangan Dana
LBH Jakarta 54%

NO KETERANGAN NOMINAL
1 Penggalangan Dana LBH Jakarta Rp 2.376.252.760
2 Yayasan TIFA Rp 102.555.940
3 The Asia Foundation Rp 765.077.110
4 Sealawyer Rp 131.225.000
5 The Sasakawa Peace Foundation Rp 790.923.120
6 Dana Bantuan Hukum dari BPHN Rp 43.022.000
7 Lainnya Rp 73.558.620
TOTAL Rp 4.282.614.550

Redupnya Api Reformasi


149
Penerimaan Penggalangan Dana Pengeluaran LBH Jakarta
Per Oktober 2017 Per Oktober 2017
(1) 18%
(4) 36% (7) 0%
(6) 2%
(2) 3%
(1) 1%
(5) 1%

(5) 38% (2) 25%


(3) 59%
(3) 3%
(4) 14%

NO KETERANGAN NOMINAL NO KETERANGAN NOMINAL

Sumbangan dari Biaya Penanganan


1 Rp 18.001.300 1 Rp 968.954.890
Staf LBH Jakarta Kasus

Sumbangan Tidak Biaya Kaderisasi


Tetap ( Absent, 2 dan Pengembangan Rp 1.377.162.050
2 Rp 79.408.800 Organisasi
telat,sewa mobil,
dll )
Biaya Penelitian
3 Rp 136.839.270
Sumbangan dari Kasus
3 Rp 1.399.962.180
Program
Biaya
4 Simpul LBH Rp 865.518.480 4 Pengorganisiran Rp 736.599.780
Kasus
Penjualan
5 Biaya Overhead Rp 2.074.859.090
Merchandais ( PIN,
5 Rp 13.362.000
Kaos,Topi, Buku ,
Biaya Operasional
donasi Box )
6 Penggalangan Dana Rp 134.037.020
Publik
TOTAL Rp 2.376.252.760
7 Biaya Lainya Rp 6.326.070

TOTAL Rp 5.434.778.170

Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017


150
Redupnya Api Reformasi
151
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
152
Redupnya Api Reformasi
153
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
154
Redupnya Api Reformasi
155
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
156
Catatan Akhir Tahun LBH Jakarta 2017
158
Foto: Ananda Badudu/ vice.com
Redupnya Api Reformasi
159