Anda di halaman 1dari 22

PEMBELAJARAN BIOLOGI ABAD-21

Makalah

Disusun untuk memenuhi tugas Mata Pengembangan Kurikulum dan


Pembelajaran Biologi
yang dibina oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D.

Disusun Oleh:
Kelompok 3 Offering C 2016
Ahmad Fajar Muzaqi 160341606008
Elsa Novia Fitri Dewi 160341606011
Livia Apriliani 160341606038
Rizalatul Hasanah 160341606040

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
Februari 2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“Pembelajaran Biologi Abad 21”. Shalawat serta salam kami haturkan kepada
Rasulullah SAW yang menjadi suri teladan terbaik bagi umat manusia.
Terima kasih kami sampaikan kepada Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc.,
Ph.D. selaku dosen pembimbing dalam penulisan tugas ini. Terima kasih kami
sampaikan kepada kawan-kawan seperjuangan yang selalu mendukung kami.
Penyusunan makalah ini dalam rangka tugas matakuliah Pengembangan Kurikulum
dan Pembelajaran Biologi yang dibina oleh Prof. Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D.
Makalah dengan judul “Pembelajaran Biologi Abad 21” diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi pembaca dan bagi peneliti lainnya khususnya dalam
mengembangkan pembelajaran biologi yang sesuai dengan tuntutan abad 21 dan
tuntutan kurikulum 2013.
Kami menyadari dalam penulisan laporan ini terdapat banyak kekurangan.
Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca.

Malang, 22 Februari 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Esensi Keterampilan Abad 21 3
2.2 Tuntutan Biologi di Abad 21 5
2.3 Hakikat dan Karakteristik Pembelajaran Biologi 7
2.4 Revitalisasi Pembelajaran Biologi sesuai tuntutan 14
Abad 21 dan Kurikulum 2013
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan 18
3.2 Saran 18
DAFTAR RUJUKAN 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada abad 21, era pengetahuan dicirikan dengan saling berkaitannya dunia ilmu
pengetahuan secara komprehensif yang juga disertai dengan pengintegrasian
teknologi dalam dunia pendidikan (Sudarisman, 2015). Hal tersebut menyebabkan
terjadinya percepatan sinergitas pengetahuan lintas bidang ilmu yang akhirnya
banyak melahirkan bidang ilmu baru. Menurut Gibson (1997), menyebutkan bahwa
kriteria khusus tantangan di abad 21 ditandai dengan hiperkompetensi, suksesi
revolusi teknologi, dislokasi, dan konflik sosial yang melahirkan keadaan non-
linear dan keadaan yang tidak dapat diperkirakan dari keadaan masa lampau dan
masa kini. Permasalahan global yang sangat kompleks tersebut merupakan suatu
peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi agar peradaban manusia dapat
semakin maju (Sudarisman, 2015). Salah satu cara yang ditempuh oleh berbagai
pihak dalam menjawab tantangan global tersebut adalah dengan peningkatan mutu
pendidikan (Widhy, 2013). Hal ini sangat diperlukan untuk dapat melahirkan
sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas untuk menghadapi masalah-
masalah kehidupan yang kompleks.
Proses peningkatan mutu pendidikan yang dilakukan salah satunya adalah
pergantian kurikulum. Penyempurnaan yang dilakukan pada masing-masing
pergantian kurikulum memiliki kekhasan dan penekanan aspek yang berbeda
diselaraskan dengan tuntutan zaman (Sudarisman, 2015). Keberadaan kurikulum
2013 dapat dimaknai sebagai bagian dari dinamika sebuah kurikulum yang harus
dapat diterima oleh guru secara profesional sebagai bentuk tanggung jawab dalam
mengahadapi perubahan zaman (Sudarisman, 2015). Pengembangan kurikulum
2013 diharapkan dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang
saling terintegrasi (Widhy, 2013). Kurikulum 2013 pun telah mengalami pergeseran
ciri maupun model pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan abad 21.
Perubahan paradigma pendidikan dan mindset guru juga harus didasarkan pada
kecakapan/keterampilan abad 21 yang harus diajarkan kepada siswa untuk dapat
mencapai partisipasi penuh di masyarakat.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana esensi keterampilan abad 21 pada dunia pendidikan?
1.2.2 Bagaimanakah tantangan biologi dalam menghadapi abad 21?
1.2.3 Bagiamanakah hakikat dan karakteristik pembelajaran biologi?
1.2.4 Bagaimanakah bentuk revitalisasi pembelajaran biologi yang
disesuaikan dengan tuntutan abad 21 dan kurikulum 2013?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui esensi keterampilan abad 21 dalam dunia pendidikan.
1.3.2 Mengetahui tantangan biologi dalam menghadapi abad 21.
1.3.3 Memahami hakikat dan karakteristik pembelajaran biologi.
1.3.4 Memahami revitalisasi pembelajaran biologi yang disesuaikan dengan
tuntutan abad 21 dan kurikulum 2013.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Esensi Keterampilan Abad 21


Kurikulum 2013 masih menjadi pembicaraan hangat di dunia pendidikan.
Sebagai kurikulum yang berbasis kompetensi, kurikulum 2013 mengharuskan
setiap peserta didik memiliki sikap, keterampilan, dan pengtahuan untuk terjun di
masyarakat setelah mengalami kgiatan belajar. Tuntutan kurikulum 2013 kemudian
disesuaikan dengan perkembangan zaman, tepatnya di abad 21 ini. Keterampilan
abad 21 menekankan pada keterampilan berpikir tingkat tinggi, keterampilan
berkomunikasi, serta keterampilan bekerja sama (Widhy, 2013). Ada empat
kategori kerangka kerja keterampilan abad 21, antara lain: keterampilan era digital,
berpikir inventif, komunikasi secara efektif, serta produktivitas yang tinggi.
Menurut Dadan (2012), berpengetahuan saja tidak cukup untuk menghadapi abad
21, melainkan harus dilengkapi dengan kemampuan kreatif-kritis, karakter yang
kuat, serta kemampuan memanfaatkan TIK. Kerangka kompetensi abad 21 menurut
(Widhy,2013) adalah sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Kompetensi Abad 21 (Sumber: Widhy, 2013).

3
4

Menurut ilustrasi tersebut, ada enam elemen kunci yang dapat dilakukan dalam
upaya mendorong kgiatan pembelajaran, yaitu: menekankan pembelajaran inti,
menekankan keterampilan belajar (keterampilan menggunakan IT, keterampilan
berpikir, dan keterampilan mmecahkan masalah), mengembangkan keterampilan
belajar sesuai kompetensi abad 21, menerapkan keterampilan abad 21 dalam
kehidupan, mengajar dan mempelajari isi kehidupan abad 21, serta menggunakan
penilaian untuk mengukur keterampilan abad 21. Menurut (Dadan, 2012), ada tiga
domain keterampilan abad 21, yaitu kognitif, afektif, dan social budaya. Domain
kognitif kemudian dibagi lagi menjadi kemampuan mengelola informasi,
memberikan alasan, berpikir kritis, menganalisis, menilai dan mengevaluasi, serta
memecahkan masalah. Sedangkan domain afektif mencakup pemahaman konsep
diri, percaya diri, serta mampu menerapkan nilai-nilai kehidupan seperti
bertanggung jawab dan inisiatif. Domain social budaya ditunjukkan dengan
keaktifan siswa dalam kegiatan organisasi sosial dan mampu bersosialisasi dengan
lingkungannya.
Salah satu cabang keilmuan yang cukup berkembang adalah biologi. Dalam
pembelajaran biologi, pemanfaatan dan pengmbangan hasil penemuan perlu
dilandasi dengan kemampuan berpikir kritis dan analisis dalam mengelola hasil
penemuan. Pengembangan cara berpikir dalam ilmu biologi dapat dilakukan
melalui kegiatan kontekstual sehingga siswa dapat mengkonstruk pemahaman dan
membangun keterampilan berpikir siswa. Ada tiga esensi pembelajaran biologi,
yaitu produk, proses, dan sikap ilmiah. Melalui ketiga dimensi tersebut diharapkan
kegiatan biologi dapat dilaksanakan dengan lebih bermakna dan siswa mendapat
kesempatan untuk menemukan konsep dari berbagai fenomena alam scara aktif
sehingga pengetahuna mereka semakin bertambah (Taruna, 2014).
5

Gambar 2. Hubungan antara Proses, Produk, dan Skap (Sumber: Widhy, 2013).

2.2 Tantangan Biologi di Abad 21


Sains (biologi, fsika, kimia) memiliki kontribusi yang cukup besar dalam
perkembangan teknologi, yakni sebagai ilmu dasar yang melandasi pengembangan
teknologi (Sudarisman, 2015). Hal ini yang menyatukan kedunya menjadi satuan
yang dikenal saintek. Kemajuan suatu negara tercermin dari kemajuan teknologinya,
tentu termasuk kemajuan dibidang sainsnya. Jepang merupakan salah satu contoh
negara yang sangat concern dalam pengembanagn bidang sains dan telah
mengantarkan negara lain termasuk negara ini menjadi negara maju khususnya
dibidang teknologi. Penguasaan sains menjadi sangat penting dan menurut
International Council of Associations for Science Education/ICASE (2008),
mengemukakan bahwa peserta didik perlu memiliki literasi sains yang memadai,
agar mampu hidup secara produktif dan memperoleh kualitas hidup terbaik
sebagaimana tujuan pendidikan sains itu sendiri. Menurut Rustaman (2011),
menyatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan siswa mampu beradaptasi dengan
perubahan yang terjadi di lingkungannya adalah melalui pengembangan bidang
sains khusunya biologi.
6

Liliasari (2011), menyatakan bahwa untuk mengembangkan kemampuan dan


membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, maka pembelajaran harus berusaha untuk
mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Y.M.E, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pembelajaran juga harus diarahkan pada penciptaan suasana aktif, kritis, analisis
dan kreatif dalam pemecahan masalah melalui pengembangan kemampuan berfikir
(BSNP, 2006). Hal ini relevan dengan pernyataan Gibson (1997), bahwa perubahan
keadaan yang non-linier tidak dapat diantisipasi hanya dengan cara berpikir linier
melainkan perlu kreativitas, sehingga pendidikan masa depan seharusnya diarahkan
pada system pendidikan yang memungkinkan peserta didik dapat mengaktualisasi
potensi dirinya. Proses penyelarasan tujuan pembelajaran dengan tuntutan zaman
ddapat dilaukan dengan cara, guru perlu memahami arah tuntutan pembelajaran
terkini agar pembelajarannya lebih bermakna. Sehingga pada abad ke-21, dalam
menjawab tantangan yang muncul sesuai dengan perkembangan jaman, biologi
akan mengarah dan mengkaji pengetahuan lama dan baru yang dikelompokkan
sebagai berikut:
1. Sistematik dan evolusi (biologi klasik), yaitu mengkaji biota baik ekosistem
baru dan ekosistem alami yang sedang menuju kematian.
2. Ekologi (biologi makro), yaitu mengkaji efisiensi dan penggunaan eksositem
produktif yang berkesinambungan, dan juga mengkaji biologi konservasi dan
ekologi restorasi.
3. Bioteknologi (biologi mikro), yaitu mengkaji penemuan-penemuan baru di
dalam dunia mirobia, biokimia, dan genetika (Djohan, 1995).
Pengembangan mikro-tingkat dan penggunaan biologi molekuler telah
menyebabkan sebuah revolusi dan munculnya disiplin baru, seperti biologi
molekuler, genetika molekuler, evolusi molekuler dan genomik (Sudarisman,
2015). Kemajuan luar biasa dan terobosan telah dicapai dalam pemahaman manusia
tentang hewan dan tumbuhan reproduksi dan perkembangan lebih umum,
pemahamannya dari proses evolusi. Pada tingkat makro, pengembangan konsep-
konsep baru, pendekatan dan teknik baru, dan penggunaan pemodelan,
7

penginderaan jauh dan informatika membawa sebuah revolusi dalam ilmu


ekologi dan munculnya subecological disiplin ilmu seperti ekologi fungsional,
ekologi lanskep, global (biosphere) ekologi dan jaringan ekologi (Djohan, 1995).
Ilmu biologi telah melihat munculnya interdisipliner yang penting dalam lingkup
ilmiah, seperti keanekaragaman hayati, bio-kompleksitas dan biologi integratif.
Biologi menjadi lebih interdisipliner oleh kebutuhan menggabungkan
sebelumnya bidang yang berbeda untuk menciptakan sebuah pendekatan Biologi
Baru. Inti dari Biologi baru adalah re-integrasi subdisiplin biologi, lebih integrase
dengan ilmu fisika dan komputasi, matematika, dan rekayasa dalam rangka untuk
merancang pendekatan baru yang mengatasi tradisional dan sistem tingkat
pertanyaan dibaru, interdisipliner, dan khususnya, cara kuantitatif (Sudarisman,
2015). Biologi baru bergantung pada mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai
disiplin ilmu untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam sistem biologi.
Munculnya pendekatan Biologi Baru yang akan mengatasi masalah-masalah sosial
yang luas dan menantang.

2.3 Hakikat dan Karakteristik Pembelajaran Biologi


Menyelaraskan pembelajaran sesuai tuntutan zaman saja belum menjamin
keberhasilan suatu pembelajaran. Kegagalan pencapaian suatu tujuan pembelajaran
disebabkan oleh banyak hal, dua diantaranya adalah kurangnya pemahaman guru
tentang karakteristik bidang ilmu yang diajarkan serta ketidaktahuan guru tentang
hakikat bagaimana bidang ilmu tersebut dibelajarkan. Pemahaman tentang
karakteristik materi dan hakikat pembelajaran sangat penting, sebab berkaitan erat
dengan penyiapan perangkat pembelajaran termasuk penentuan pengalaman belajar
yang harus dimiliki peserta didik, pemilihan strategi pembelajaran, penggunaan
media pembelajaran, serta penilaian proses dan hasil belajar. Carin (1997) dalam
Sudarisman (2015) menyatakan bahwa sains (biologi) pada hakikatnya
mengandung 4 unsur yaitu:
1. Proses (scientific processes) dan produk (scientific knowledge)
Proses dalam sains mengandung arti cara atau aktivitas ilmiah untuk
mendeskripsikan fenomena alam hingga diperoleh produk sains berupa fakta,
prinsip, hukum, atau teori (Sudarisman, 2015). Science a Process Approach/SAPA
dinyatakan bahwa pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada proses sains
8

melibatkan keterampilan intelektual, manual, dan sosial adalah science process


skills (keterampilan proses sains/ KPS) (Sudarisman, 2015). KPS meliputi
serangkaian kegiatan manual (hands on), seperti mengamati (observation),
klasifikasi (classification), mengukur, menghitung (measurement), meramalkan
(prediction), mengkomunikasikan (communication), bertanya (question),
menyimpulkan (inferention), mengontrol variabel, merumuskan masalah (problem
formulation), membuat hipotesis (hypothesis), merancang penyelidikan (design
experiment), melakukan penyelidikan/percobaan (experiment) (Sudarisman (2015).
Jenis kegiatan KPS yang sederhana yang merupakan kegiatan dasar dalam
penyelidikan dikenal dengan KPS dasar (basic science process skills), seperti
mengamati, mengukur, menghitung, mengklasifikasi, memprediksi. Jenis kegiatan
KPS lain yang merupakan kegiatan lanjutan digolongkan dalam KPS terintegrasi
(integrated science process skills), seperti mengontrol variabel, merumuskan
masalah, membuat hipotesis, merancang percobaan, eksperimen, menarik
kesimpulan, mengaplikasikan konsep pada situasi yang berbeda (Sudarisman
(2015).
1. Sikap (scientific attitudes)
Sikap sains yaitu sikap, keyakinan, nilai-nilai, pendapat/gagasan dan
obyektivitas yang akan muncul setelah melakukan proses sains yang dikenal
dengan sikap ilmiah. Sikap ilmiah juga dimaknai sebagai sikap yang sebagaimana
para ilmuwan sains bekerja seperti: jujur, teliti, obyektif, sabar, tidak mudah
menyerah (ulet), menghargai orang lain, dll (Sudarisman (2015).
2. Teknologi.
Teknologi dalam sains dimaknai sebagai aplikasi dari sains yang berperan
sebagai alat untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Hakikat
sains ini membawa konsekuensi logis dalam pembelajaran (Sudarisman (2015).
Menurut Carin & Sund (1990) dalam Sudarisman (2015) implikasi dari
pemahaman hakikat sains adalah terselenggaranya pembelajaran (biologi) yang
mengandung 6 unsur yaitu:
1. Active learning, yaitu melibatkan peserta didik secara aktif dalam serangkaian
proses ilmiah melalui keterampilan proses sains
9

2. Discovery/inquiry activity approach, yaitu pembelajaran yang mendorong


curiousity peserta dan mencari jawabannya melalui penemuan
3. Scientific literacy, yaitu pembelajaran yang dapat mengakomodasi peserta
didik tentang: konten (pengetahuan biologi), proses (kompetensi / keterampilan
ilmiah), konteks sains, dan sikap ilmiah
4. Constructivism, yaitu pembelajaran yang memungkinkan peserta didik dapat
mengkonstruk pengetahuannya melalui pengalamannya secara mandiri
5. Science, technology, and society, yaitu menggunakan sains untuk memecahkan
masalah sehari- hari yang ada di masyarakat
6. Kebenaran dalam sains tidak absolut melainkan bersifat tentatif.
Ditinjau dari aspek materinya, biologi memiliki karakteristik materi spesifik
yang berbeda dengan bidang ilmu lain. Biologi mengkaji tentang makhluk hidup,
lingkungan dan hubungan antara keduanya. Materi biologi tidak hanya
berhubungan dengan fakta-fakta ilmiah tentang fenomena alam yang konkret, tetapi
juga berkaitan dengan hal-hal atau obyek yang abstrak (Sudarisman, 2015). Sifat
obyek materi yang dipelajari dalam biologi sangat beragam. Menurut Sudarisman
(2015), pembelajaran biologi harus dirancang dengan memperhatikan berbagai alat
pendukung, seperti penggunaan media pembelajaran, sarana laboratorium, dll.
Karakteristik materi biologi memerlukan kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti
pemikiran secara kritis, logis, analitis, bahkan kadang-kadang memerlukan
pemikiran kombinatorial (Rustaman, 2010).
Menurut Susilo (2014) jenis keterampilan dan teknologi berbasis komputer
yang harus diberikan kepada siswa untuk menghadapi abad ke-21 sebagai learning
outcome, meliputi keterampilan komunikasi, inovasi dan kreativitas, kerja
kelompok dan berbagi tanggung jawab, manajemen informasi, melek teknologi
informasi, visualnetik, penyelesaian masalah, dan pengambilan keputusan.
Pembelajaran di Abad ke-21 sekarang ini hendaknya disesuaikan dengan kemajuan
dan tuntutan zaman. Salah satu pembelajaran yang mungkin dapat dilakukan adalah
pembelajaran yang berpusat pada siswa (Student Center) (Sudarisman, 2015).
Pembelajaran yang berpusat pada siswa berbeda dengan cara tradisional yaitu
pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher Center).
10

Menurut Susilo (2014), karakter pembelajaran abad ke-21 yang juga harus
diterapkan dalam pembelajaran biologi yaitu:
1. Core subject knowledge
Unsur pertama adalah menekankan pada mata pelajaran utama. Keterampilan
apapun yang dikembangkan harus didasarkan pada pengetahuan mengenai isi
materi mata pelajaran utama (Susilo, 2014).
2. Communication
Siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptakan komunikasi
yang efektif dalam berbagai bentuk dan isi secara lisan, tulisan, dan multimedia.
Siswa diberikan kesempatan menggunakan kemampuannya untuk mengutarakan
ide-idenya, baik itu pada saat berdiskusi dengan teman-temannya maupun ketika
menyelesaikan masalah dari gurunya (Susilo, 2014).
3. Collaboration
Siswa menunjukkan kemampuannya dalam kerjasama berkelompok dan
kepemimpinan; beradaptasi dalam berbagai peran dan tanggungjawab; bekerja
secara produktif dengan yang lain; menempatkan empati pada tempatnya;
menghormati perspektif berbeda. Siswa juga menjalankan tanggungjawab pribadi
dan fleksibitas secara pribadi, pada tempat kerja, dan hubungan masyarakat;
menetapkan dan mencapai standar dan tujuan yang tinggi untuk diri sendiri dan
orang lain; memaklumi kerancuan (Susilo, 2014).
4. Critical Thinking and Problem Solving
Siswa berusaha untuk memberikan penalaran yang masuk akal dalam
memahami dan membuat pilihan yang rumit; memahami interkoneksi antara sistem.
Siswa juga menggunakan kemampuan yang dimilikinya untuk berusaha
menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya dengan mandiri, siswa juga
memiliki kemampuan untuk menyusun dan mengungkapkan, menganalisa, dan
menyelesaikan masalah (Susilo, 2014).
5. Creativity and Innovation
Pada karakter ini, siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan,
melaksanakan, dan menyampaikan gagasan-gagasan baru kepada yang lain;
bersikap terbuka dan responsif terhadap perspektif baru dan berbeda. Selain itu
siswa dituntut bisa menggunakan dan memanfaatkan alat belajar abad 21 untuk
11

mengembangkan keterampilan belajar. Dalam dunia digital, siswa perlu belajar


bagaimana menggunakan alat-alat yang esensial untuk kehidupan sehari-hari dan
untuk produktif di tempat kerja. Warga negara abad 21 yang terampil haruslah
lancar atau literat ICT (Susilo, 2014).
6. Assesmen
Negara perlu punya tes terstandar yang berkualitas tinggi yang dapat
mengukur prestasi siswa dalam unsur-unsur pembelajaran abad 21.
Menurut Metiri Group in partnership with The North Central Regional
Eucational Laboratory (2011), keterampilan abad 21 meliputi empat kelompok
besar keterampilan yang dijabarkan lagi menjadi masing-masing tiga keterampilan
yaitu sebagai berikut:
a. Digital Age Literacy-Today’s Basics, diantaranya sebagai berikut:
1) Basic, Scientific, and Technological Literacies yang diterjemahkan sebagai
kemampuan untuk membaca secara kritis, menulis secara persuasif, berpikir
dan bernalar secara logis, dan memecahkan permasalahan kompleks dalam
matematika dan Sains (NCREL.2011)
2) Visual and Information Literacy yang diterjemahkan sebagai keterampilan
visualisasi untuk men”decipher”, menginterpretasi, mendeteksi pola, dan
berkomunikasi dengan menggunakan gambar (imagery). Literasi informasi
meliputi bagaimana mengases informasi secara efisien dan efektif,
mengevaluasi informasi secara kritis dan kompeten, dan menggunakan
informasi secara akurat dan kreatif (NCREL.2011)
3) Cultural Literacy and Global Awareness yang diterjemahkan sebagai
mengetahui, memahami, dan menghargai budaya yang dimiliki orang lain
termasuk norma yang berlaku dalam masyarakat (NCREL.2011)
b. Inventive Thinking-Intellectual Capital, diantaranya sebagai berikut.
1) Adaptability Managing Complexity and Self-Direction yang diterjemahkan
sebagai keterampilan mengidentifikasi dan bereaksi secara mandiri terhadap
kondisi yang selalu berubah, mampu menganalisis kondisi yang muncul,
mengidentifikasi keterampilan baru yang diperlukan untuk menghadapi
kondisi tersebut, dan secara mandiri juga mampu merespons perubahan yang
12

terjadi, dengan mempertimbangkan saling keterkaitan dan ketergantungan


yang ada dalam sistem (NCREL.2011)
2) Curiosity, Creativity and Risk-Taking, yang diterjemahkan sebagai
keterampilan untuk ingin tahu mengenai sesuatu dan bagaimana cara kerjanya.
Rasa ingin tahu menggerakkan kegiatan mau belajar sepanjang hayat. Ada
hubungan antara pengalaman di lingkungan yang kompleks dan perubahan
struktur otak, belajar itu mengatur dan mengatur kembali struktur otak.
Kemauan mengambil risiko juga penting, memungkinkan adanya loncatan
penemuan dan belajar (NCREL.2011)
3) Higher Order Thinking and Sound Reasoning yang diterjemahkan sebagai
berpikir secara kreatif, membuat keputusan, memecahkan masalah, melihat
sesuatu dengan mata otak, mengetahui bagaimana caranya belajar dan
bernalar. Kemampuan menalar memungkinkan siswa merancang, mendesain,
melaksanakan, dan mengevaluasi pemecahan masalah-suatu proses yang
seringkali akan lebih efisien dan efektif bila menggunakan alat-alat teknologi
(NCREL.2011)
c. Interactive Communication-Social and Personal Skills, diantaranya sebagai
berikut.
1) Teaming and Collaboration yang diterjemahkan sebagai keterampilan
bekerjasama dalam tim untuk mengerjakan tugas yang kompleks secara
efisien, efektif, dan cepat. Dalam hal ini termasuk keterampilan
memanfaatkan teknologi informasi untuk berkolaborasi, seperti dengan e-
mail, fax, voive mail, konferensi audio dan video, chatting, shared document,
dan kerja virtual (NCREL.2011)
2) Personal and Social Responsibility yang diterjemahkan sebagai keterampilan
untuk bertanggungjawab dalam mengaplikasikan Sains dan teknologi dalam
masyarakat dengan memperhatikan etika dan nilai yang berkembang dalam
masyarakat (NCREL.2011)
3) Interactive Communication yang diterjemahkan sebagai keterampilan
berkomunikasi dengan menggunakan teknologi. Hal ini meliputi komunikasi
seorang dengan orang lain melalui e-mail, atau interaksi kelompok dalam
13

dunia maya (virtual learning space), dan interaksi melalui simulasi dan model
(NCREL.2011)
d. Quality, State-of-the Art Results, diantaranya sebagai berikut.
1) Prioritizing, Planning, and Managing for Results yang diterjemahkan sebagai
keterampilan merancang, mengelola, dan mengantisipasi sesuatu yang terjadi
secara bersamaan. Hal ini berarti tidak hanya berkonsentrasi bagaimana
meraih tujuan utama projek atau mengupayakan hasil projek, tetapi juga
memiliki fleksibilitas dan kreativitas untuk mengantisipasi hasil yang tidak
diharapkan (NCREL.2011)
2) Effective Use of Real-World Tools yang diterjemahan sebagai “menggunakan
alat digital untuk membantu diri sendiri memecahkan masalah”, yang
tergantung juga dengan keterampilan berkomunikasi dalam jejaring sosial.
Hal ini meliputi juga keterampilan memilih alat untuk menyelesaikan tugas
dan menerapkannya dalam situasi dunia nyata sedemikian sehingga
menambahkan nilai yang penting berupa peningkatan kolaborasi,
pengembangan kreativitas, penyusunan model, persiapan publikasi, dan
kinerja kreatif lainnya. Ada tiga pengetahuan menurut Doug Henton yang
penting untuk kemajuan ekonomi saat sekarang yaitu: Know-what, Know-
how, dan Know-who (tahu apa, tahu bagaimana, dan tahu siapa)
(NCREL.2011)
3) High Qualiy Results with Real-World Application yang diterjemahkan
sebagai keterampilan membangun suatu produk autentik dengan
menggunakan suatu alat- dapat berupa istana pasir, program komputer,
dokumen, grafik, bangunan konstruksi dengan LEGO, atau hasil komposisi
musik. Pengalaman semacam ini memberikan wawasan mendalam bagi siswa
(NCREL.2011)
Menurut Susilo (2014) guru dan dosen sebagai pembelajar abad 21
diharapkan memiliki 8 karakteristik diantaranya sebagai berikut.
1. Mudah beradaptasi misalnya dapat menyesuaikan diri dengan kurikulum baru
dan membelajarkan siswa dengan menggunakan media digital agar dapat
membelajarkan siswa melalui berbagai indera: auditori, visual, kinestetik,
sekaligus melayami siswa yang senang belajar melalui membaca/menulis.
14

2. Visioner, yaitu bersedia melihat ide dan pendekatan yang digunakan orang lain
dan mempertimbangkan penggunaannya di kelasnya sendiri, misalnya
memanfaatkan web dalam pembelajaran.
3. Kolaborator, yaitu menggunakan alat-alat kolaborasi seperti Bloggerm Twitter,
Wikispaces, Bebo. MSN, My Space, Second Life untuk meningkatkan
semangat belajar siswa, sekaligus berbagi, berkontribusi, beradaptasi, dan
menemukan ide untuk siswa.
4. Pengambil risiko, yaitu siap menghadapi pebelajar yang lebih literat teknologi
untuk memberikan tugas agar mereka saling membelajarkan, karena siswa
belajar paling banyak kalau mereka mengajar temannya.
5. Pebelajar sepanjang hayat, yaitu terus menerus belajar, mengalami hal-hal baru
dan tidak ketinggalan jaman.
6. Komunikator, yaitu lancar memanfaatkan teknologi yang membantu
komunikasi dan kolaborasi, serta memfasilitasi komunikasi, merangsang dan
mengendalikan, memoderatori, dan mengelola komunikasi;
7. Menjadi teladan, yaitu memodelkan tingkah laku yang diharapkan dilakukan
siswa, misalnya menghargai upaya belajar dan menjadi contoh bagaimana
bersemangat dalam mempelajari hal-hal baru, melakukan refleksi diri bisa
melalui blog, Twitter dan lainnya. Guru diharapkan memodelkan juga
bagaimana menjadi toleran dan menghargai, bersikap menerima, berwawasan
luas, memiliki pemahaman global, dan menjunjung nilai-nilai kemanusiaan;
8. Menjadi pemimpin, misalnya dalam memanfaatkan ICT, memiliki tujuan yang
jelas dalam membelajarkan siswa (Susilo, 2014).

2.4 Revitalisasi Pembelajaran Biologi dalam Menjawab Tuntutan Abad 21


dan Kurikulum 2013
Pembelajaran biologi pada hakikatnya sebagai sains diartikan sebagai
bangunan ilmu pengetahuan dan proses (Sudarisman, 2015). Proses pembelajaran
biologi dapat memungkinkan peserta didik untuk melakukan serangkaian proses
sains. Sains didefinisikan mempunyai tiga komponen penting yaitu sikap, proses
dan produk (Sund & Trowbridge, 1973). Komponen sikap menekankan pada
kegiatan dan pola pikir yang dilakukan dan diharapkan dapat menjadi sikap yang
tetap dilakukan dalam setiap aktivitas kehidupan (Widhy, 2013). Sains sebagai
15

metode mengandung arti bahwa seorang saintis harus memecahkan persoalan


berbasar pada metode ilmiah yang dapat diterima secara logis (Sudarisman, 2015).
Produk sains merupakan hasil yang diperoleh dari kegiatan ilmiah, dapat berbentuk
konsep,teori, hukum dan postulat (Widhy, 2013). Produk ini diharapkan dapat
menjadi landasan dalam melakukan pengamatan dan penelitian selanjutnya.
Pembelajaran biologi pada dasarnya sangat relevan dengan prinsip dari paham
konstrutivisme, dimana peserta didik dalam proses belajarnya harus dapat
mengkonstruk suatu konsep melalui pengalaman dalam hidupnya (Sudarisman,
2015). Implementasi paham konstruktivisme dalam pendidikan di Indonesia
dijabarkan melalui pendekatan saintifik yang dicantumkan dalam kurikulum 2013,
dimana pembelajaran yang diberikan oleh guru harus dirancang sedemikian rupa
sehingga peserta didik dapat aktif mengkonstruk konsep, hukum, dan prinsip
melalui pembelajaran (Kemendikbud, 2013). Kurikulum 2013 juga secara eksplisit
mewajibkan guru untuk dapat menerapkan model pembelajaran yang berbasis
saintifik, diantaranya Probelem Based Learning (PBL), Project Based Learning
(PjBL), dan Discovery/Inkuiri (Sudarisman, 2015). Meski memiliki ciri yang
berbeda, namun masing-masing model pembelajaran tersebut terkandung
pendekatan saintifk (Sudarisman, 2015). Pendekatan saintifk diawali dengan
adanya suatu fenomena baik yang terjadi secara alamiah atau sengaja dikondisikan
yang memungkinkan peserta didik dapat melakukan kegiatan mengamati yaitu
berbagai aktivitas yang melibatkan panca inderanya.

Gambar 3. Pergeseran Paradigma Belajar Abad 21 (Sumber: Widhy, 2013)


16

Penelitian yang dilakukan oleh Sudarisman (2015) mengungkapkan bahwa


guru biologi sebagai pelaksana kurikulum di sekolah cenderung mengalami
hambatan dalam mengimplementasikan pendekatan saintifk, sehingga banyak
memunculkan berbagai keluhan yang berakibat pada keberhasilan penyempurnaan
kurikulum terkesan lamban terutama di tingkat implementasinya. Hal ini diprediksi
karena dua faktor, yaitu:
1. Pemahaman guru tentang hakikat pengembangan kurikulum cenderung
kurang terutama alasan mendasar mengapa kurikulum perlu diperbarui
(disempurnakan). Para guru biologi di lapangan belum memiliki
pemahaman yang komprehensif tentang prinsip pengembangan kurikulum
itu sendiri (Sudarisman, 2015). Para guru biologi kurang memahami
pentingnya perubahan (penyempurnaan) sebagai dinamika sebuah
kurikulum, sehingga yang ada di benak para guru perubahan kurikulum
hanya akan membingungkan dan menambah beban pekerjaan. Guru
cenderung kurang berminat mencermati kurikulum, terutama pada elemen
kurikulum yang mana yang mengalami pembaruan (penyempurnaan)
kurang dipahami. Para guru biologi juga menunjukkan sikap bahwa mereka
umumnya kurang memahami elemen elemen Kurikulum 2013.
2. Guru cenderung mengalami hambatan dalam memahami dan menerapkan
pendekatan saintifk dalam pembelajaran sebagaimana diamanahkan dalam
Kurikulum 2013. Para guru biologi SMP dan SMA cenderung kesulitan
dalam menerapkan pendekatan saintifi yang disebabkan karena para guru
biologi belum mengimplementasikan pembelajaran biologi sesuai
hakikatnya.
Pembelajaran biologi di abad 21 sebaiknya dilaksanakan dengan pendekatan
yang berpusat pada siswa (student centered learning) untuk menumbuhkan
kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) dan berpikir kritis (critical thinking),
mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan
pentingnya kolaborasi dan komunikasi (Widhy, 2013). Keterampilan berpikir yang
dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi
(High Order Thinking Skills) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada
Taksonomi Bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi.
17

(Sudarisman, 2015). Pembelajaran biologi juga harus sesuai dengan karakter dan
domain biologi yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah
laku dan aplikasi (Widhy, 2013).
Domain konsep atau pengetahuan meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, hukum,
prinsip serta teori dan hipotesis yang digunakan saintis (Widhy, 2013). Domain
proses meliputi aspek-aspek yang berhubungan dengan bagaimana para siswa
berpikir dan bekerja yang dibedakan menjadi dua bagian, yaitu keterampilan proses
dasar dan keterampilan proses terpadu (Widhy, 2013). Domain kreativitas meliputi
visualisasi-produksi gambar mental, pengkombinasian ide atau gagasan dalam cara
baru, merancang alat, menghasilkan ide-ide yang luar biasa (Widhy, 2013). Domain
aplikasi dan keterkaitan meliputi aktivitas melihat/ menunjukkan contoh konsep
konsep ilmiah dalam kehidupan sehari-hari, menerapkan konsep-konsep biologi
dan keterampilan pada masalah-masalah teknologi sehari-hari, memahami prinsip-
prinsip ilmiah dan teknologi pada alat-alat teknologi yang ada dalam rumah tangga,
mengintegrasikan dengan pelajaran lain (Dadan, 2012).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Keterampilan abad 21 menekankan pada keterampilan berpikir tingkat
tinggi, keterampilan berkomunikasi, serta keterampilan bekerja sama
2. Biologi menjadi lebih interdisipliner oleh kebutuhan menggabungkan
sebelumnya bidang yang berbeda untuk menciptakan sebuah pendekatan
Biologi Baru.
3. Pemahaman tentang karakteristik materi dan hakikat pembelajaran sangat
penting, sebab berkaitan erat dengan penyiapan perangkat pembelajaran
termasuk penentuan pengalaman belajar yang harus dimiliki peserta didik,
pemilihan strategi pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, serta
penilaian proses dan hasil belajar.
4. Implementasi paham konstruktivisme dalam pendidikan di Indonesia
dijabarkan melalui pendekatan saintifik yang dicantumkan dalam kurikulum
2013, dimana pembelajaran yang diberikan oleh guru harus dirancang
sedemikian rupa sehingga peserta didik dapat aktif mengkonstruk konsep,
hukum, dan prinsip melalui pembelajaran
3.2 Saran
1. Pembelajaran biologi yang dilakukan diharapkan dapat dijalankan sesuai
dengan tuntutan kurikulum dan tuntutan zaman yang semakin berkembang,
agar dapat tercipta sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi
tantangan global.

18
DAFTAR RUJUKAN

BSNP. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/ Model Silabus
SMA/MA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dadan, R. 2012. Menggagas PendidikanIPA yang Baik terkait Esensial 21st
Century Skills. Disampaikan pada seminar Nasional Pendidikan IPA ke IV
Unesa: Surabaya.
Djohan, S.T. 1995. Biologi abab XXI: Sebuah Perspektif. Makalah disampaikan
dalam Simposium dan Lokakarya Seminar Ilmiah XII dan Kongres Biologi
XI.
Gibson, R. 1997. Rethinking the Future. London: Nicholas Brealy Publishing.
Liliasari. 2011. Membangun Masyarakat Melek Sains Berkarakter Bangsa Melalui
Pembelajaran. Makalah Seminar Nasional UNES Semarang.
National Research Council. 2011. Assessing 21st Century Skills: Summary of a
Workshop. Washington, DC: The National Academies Press.
Rustaman, N.Y. 2011. Pendidikan dan Penelitian Sains dalam Mengembangkan
Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi untuk Pembangunan Karakter.
Makalah Seminar Nasional VIII P. Biologi, FKIP UNS, Surakarta.
Sudarisman, S. 2015. Memahami Hakikat dan Karakteristik Pembelajaran Biologi
dalam Upaya Menjawab Tantangan Abad 21 serta Optimalisasi Implementasi
Kurikulum 2013. Jurnal Florea, 2(1): 29-35.
Sund & Trowbridge. 1967. Teaching Science by Inquiry in the Secondary School.
Ohio: Charles E. Merrill Publishing Company.
Susilo, H. 2014. Pembelajaran Biologi/IPA untuk Generasi Abad 21. Makalah
disampaikan dalam Seminar dan Workshop Nasional Biologi/IPA dan
Pembelajarannya. Tidak diterbitkan.
Taruna, Jutri. 2014 Integrasi Keterampilan Abad 21 dalam Kurikulum 2013 untuk
Mewujudkan Indonesia Jaya. Disampaikan pada Seminar Nasional
Pendidikan STKIP SURYA: Tangerang. ISBN: 978-602-14432-2-4.
Widhy, P. 2013. Integrative Science untuk Mewujudkan 21th Century Skill dalam
Pembelajaran IPA SMP. Makalah disajikan pada Seminar Nasional MIPA
2013.

19