Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anjing adalah salah satu hewan yang mudah bersosialisasi dengan
manusia. Hubungan anjing dan manusia sudah terjalin cukup lama sejak ratusan
tahun silam. Manusia primitif bahkan memanfaatkan anjing untuk teman berburu.
Seiring dengan meningkatnya taraf kehidupan, minat masyarakat untuk
memelihara hewan kesayangan semakin meningkat. Anjing merupakan salah satu
hewan kesayangan yang banyak dipelihara orang. Selain sebagai hewan
kesayangan anjing juga berguna untuk berburu, menjaga rumah ladang dan kebun.
Oleh karena itu kesehatan hewan perlu diperhatikan agar senantiasa sehat, lincah,
dan dapat melanjutkan keturunan. Untuk menjaga kelestarian hewan, maka
manusia perlu memperhatikan pemeliharaan yang baik dengan cara memberikan
makanan yang cukup dan bergizi serta memberikan perhatian terhadap kesehatan
hewan. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan hewan adalah dengan
pencegahan penyakit (preventif) dan pengobatan yang sesuai dengan penyebab
penyakit (Maya, 2006). Anjing termasuk ke dalam Ordo, carnivora, Famili :
canidae, Class : mamalia [Murray (1986) dalam Dharmayuda (2012)]. Kecintaan
masyarakat terhadap anjing memberikan arti tersendiri bagi pemiliknya, selain
sebagai hewan peliharaan dan penjaga rumah anjing juga sudah memiliki nilai
ekonomi yang cukup tinggi dan mulai disenangi oleh masyarakat kalangan
ekonomi menengah ke atas.. Demikian penting peranan anjing, maka segala
sesuatu yang berhubungan dengan kesehatannya merupakan hal yang harus
diutamakan dan harus mendapatkan perhatian. Berbagai jenis penyakit dapat
menyerang anjing, baik yang bersifat infeksius maupun non-infeksius. Banyak
diantara penyakit tersebut yang tidak dapat ditangani dengan obat-obatan,
sehingga untuk penanganannya dibutuhkan tindakan pembedahan. Dalam
menangani kesehatan anjing, tidak jarang para dokter hewan memerlukan
transqualizer (penenang) dan anestetik (obat bius) yang erat kaitannya dengan
pembedahan. Sebelum melakukan pembedahan perlu diberikan anestesi sesuai
dengan kebutuhan apakah anestesi umum atau lokal. Cara pemberian anestesi juga
bervariasi ada yang diberikan secara intra vena, intramuskuler, inhalasi atau bisa
juga dikombinasikan. Untuk keberhasilan dan kelancaran bedah, anestesi umum

1
memegang peranan penting. Anestesi umum dapat diberikan secara parenteral dan
inhalasi. Dalam Erwin et al (2013) Pemberian anestesi per injeksi akan menekan
fungsi saraf sehingga menyebabkan penurunan fungsi fisiologis, sedangkan pada
anestesi per inhalasi oksigenisasi dapat dipertahankan karena adanya pemasukan
oksigen yang cukup walaupun terjadi penurunan fungsi fisiologis yang lain
(Siswandono dan Soekarjo, 1995).
Anestesi umum pada anjing dapat diberikan secara parenteral atau
inhalasi. Salah satunya adalah kombinasi Xylazin- Ketamin Hidroklorida.
Kombinasi kedua obat ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu; ekonomis,
mudah dalam pemberiannya, induksinya yang cepat, mempunyai pengaruh
relaksasi yang baik serta jarang menimbulkan komplikasi klinis. Kombinasi kedua
obat ini sudah pernah dilaporkan penggunaannya pada anjing dan kucing (Benson,
dkk., 1985), burung unta (Gandini, dkk., 1986). Menurut Walter (1985),
kombinasi xylazin-ketamin merupakan agen kombinasi yang saling melengkapi
antara efek analgesik dan relaksasi otot serta sangat baik dan efektif untuk anjing
karena memiliki rentang keamanan yang lebar.

2
BAB II
TUJUAN DAN MANFAAT TULISAN

2.1 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui jenis
obat-obatan anestesi umum injeksi yang sering digunakan pada anjing dan untuk
mengetahui dan mengamati stadium anestesi yang terjadi melalui
parameter-parameter, seperti rentan waktu timbulnya efek sesaat setelah
diberikan obat anastesi.

2.2 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan paper ini adalah menambah pengetahuan
mahasiswa mengenai obat anestesi umum injeksi pada anjing. Pemahaman
mahasiswa akan lebih luas karena dalam paper ini dibahas mengenai cara kerja
obat anestesi dan kelebihan serta kekurangan dari masing-masing obat anestesi
tersebut. Sehingga obat anestesi tersebut sering dikombinasikan untuk
memperoleh hasil yang maksimal dan efek samping yang minimal.

3
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

Anestesi adalah proses reversibel yang ditargetkan untuk menghasilkan


Pengendalian secara kimia yang nyaman, aman, efektif, namun murah sehingga
dapat meminimumkan rasa stres, sakit, ketidaknyamanan pada prosedur medis
atau bedah, dan efek samping toksik pada pasien atau ahli anestesi (Nesgash et
al., 2016). Dalam melakukan anestesi harus diperhatikan beberapa faktor antara
lain: kondisi hewan, lokasi pembedahan, lama pembedahan, ukuran tubuh jenis
hewan, kepekaan hewan terhadap obat anestetik dan penyakit-penyakit yang
diderita hewan. Sebelum anestesi sangat perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan
hewan, karena kadang-kadang anestesi umum mempunyai resiko yang jauh
lebih besar dibandingkan pembedahan yang dijalankan. Ada beberapa tipe
anestesi antara lain sebagai berikut:
a. Anestesi total adalah hilangnya kesadaran total.
b. Anestesi lokal adalah hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan
(pada sebagian kecil daerah tubuh).
c. Anestesi regional adalah hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh
oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan
dengannya.
Untuk keberhasilan dan kelancaran bedah, anestesi umum memegang
peranan penting. Anestesi umum dapat diberikan secara parenteral dan inhalasi.
Keadaan teranestesi dapat dihasilkan secara kimia dengan obat-obatan dan secara
fisik melalui penekanan sensori pada syaraf. Obat-obatan anestetika umumnya
diklasifikasikan berdasarkan rute penggunaannya, yaitu: 1). Topikal misalnya
melalui kutaneus atau membrana mukosa; 2). Injeksi seperti intravena, subkutan,
intramuskular, dan intraperitoneal; 3). Gastrointestinal secara oral atau rektal; dan
4). Respirasi atau inhalasi melalui saluran nafas. Menurut Siswandono dan
Soekarjo (1995), pemberian anestesi per injeksi akan menekan fungsi saraf
sehingga menyebabkan penurunan fungsi fisiologis, sedangkan pada anestesi per
inhalasi oksigenisasi dapat dipertahankan karena adanya pemasukan oksigen yang
cukup walaupun terjadi penurunan fungsi fisiologis yang lain.
Anestesi umum dapat didefinisikan sebagai keadaan umum dari depresi
fungsi sistem saraf pusat (Central Nervous System) yang menyebabkan hilangnya

4
respon dan persepsi terhadap rangsangan eksternal yang diberikan, tetapi hal ini
tidak berlangsung secara permanen (Evers dan Crowder, 2001). Stadium dalam
anestesi umum meliputi analgesia, amnesia, hilangnya kesadaran, terhambatnya
sensorik dan reflek otonom serta relaksasi otot. Keadaan ini dicapai dengan
pemberian obat anestesi umum baik melalui injeksi, inhalasi, maupun kombinasi
dari keduanya (Pablo, 2003).
Tujuan dari anestesi umum adalah analgesia, menghilangkan kecemasan,
amnesia (hilangnya kesadaran), penekanan terhadap respon kardiovaskular,
motorik serta hormonal terhadap stimulasi pembedahan. Karena tidak ada obat
tunggal yang sempurna maka pada praktiknya, obat anestesi sering diberikan
berupa kombinasi. Anestesi umum dapat menggunakan agen intravena (injeksi)
atau inhalasi, injeksi lebih cepat yaitu memberikan hasil yang diinginkan dalam
waktu 10 hingga 20 detik. Kombinasi dari agen anestesi yang digunakan untuk
anestesi umum membuat pasien tidak merespon rangsangan yang menyakitkan,
tidak dapat mengingat apa yang terjadi (amnesia), tidak dapat mempertahankan
proteksi jalan napas yang memadai dan/atau pernapasan spontan sebagai akibat
dari kelumpuhan otot dan perubahan kardiovaskuler. Anestesi merupakan salah
satu hal yang amat penting dalam melakukan operasi pada hewan. Masing-
masing dari teknik tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan. Pemilihan teknik
seringkali ditentukan oleh karakteristik pasien sehingga tepat penggunaan dan
resiko efek samping yang paling minimal.
Anestesi umum pada anjing dapat diberikan secara parenteral atau
inhalasi. Salah satunya adalah kombinasi Xylazin- Ketamin Hidroklorida.
Kombinasi kedua obat ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu; ekonomis,
mudah dalam pemberiannya, induksinya yang cepat, mempunyai pengaruh
relaksasi yang baik serta jarang menimbulkan komplikasi klinis.

5
BAB IV
PEMBAHASAN

Tahapan anestesi sangat penting untuk diketahui terutama dalam


menentukan tahapan terbaik untuk melakukan pembedahan, memelihara tahapan
tersebut sampai batas waktu tertentu, dan mencegah terjadinya kelebihan dosis
anestetikum. Tahapan anestesi dapat dibagi dalam beberapa, yaitu :

1. Preanestesi
Tahap preanestesi merupakan tahapan yang dilakukan segera sebelum
dilakuk ananestesi, dimana data tentang pasien dikumpulkan, pasien dipuasakan,
serta dilakukan pemberian pre-anestetikum.
2. Induksi
Induksi adalah proses dimana hewan akan melewati tahap sadar yang
normal atau conscious menuju tahap tidak sadar atau unconscious. Agen induksi
dapat diberikan secara injeksi atau inhalasi. Apabila agen induksi diberikan secara
injeksi maka akan diikuti dengan intubasi endotracheal tube untuk pemberian
anestetikum inhalasi atau gas menggunakan mesin anestesi. Waktu minimum
periode induksi biasanya 10 menit apabila diberikan secara intramuskular (IM)
dan sekitar 20 menit apabila diberikan secara subkutan (SC).Tahap induksi
ditandai dengan gerakan tidak terkoordinasi, gelisah dan diikuti dengan relaksasi
yang cepat serta kehilangan kesadaran.Idealnya, keadaan gelisah dan tidak tenang
dihindarkan pada tahap induksi, karenamenyebabkan terjadinya aritmia jantung.
Preanestesi dan induksi anestesi dapat diberikan secara bersamaan,
seperti pemberian acepromazin, atropine, dan ketamine dicampur dalam satu alat
suntik dan diberikan secara intravena (IV) pada anjing.
3. Pemeliharaan,
Selanjutnya hewan akan memasuki tahap pemeliharaan status teranestesi.
Pada tahap pemeliharaan ini, status teranestesi akan terjaga selama masa tertentu
dan pada tahap inilah pembedahan atau prosedur medis dapat dilakukan. Tahap
pemeliharaan dapat dilihat dari tanda-tanda hilangnya rasa sakit atau analgesia,
relaksasi otot rangka, berhenti bergerak, dilanjutkan dengan hilangnya refleks
palpebral, spingter ani longgar, serta respirasi dan kardiovaskuler tertekan secara
ringan.Begitu mulai memasuki tahap pemeliharaan, respirasi kembali teratur dan

6
gerakan tanpa sengaja anggota tubuh berhenti. Bola mata akan bergerak menuju
Aventral, pupil mengalami konstriksi, dan respon pupil sangat ringan. Refleks
menelan sangat tertekan sehingga endotracheal tube sangat mudah dimasukkan,
refleks palpebral mulai hilang, dan kesadaran mulai hilang. Anestesi semakin
dalam sehingga sangat nyata menekan sirkulasi dan respirasi. Pada anjing dan
kucing, kecepatan respirasi kurang dari 12 kali per menit dan respirasi semakin
dangkal. Denyut jantung sangan rendah dan pulsus sangat menurun karena terjadi
penurunan seluruh tekanan darah. Nilai CRT akan meningkat menjadi 2 atau 3
detik. Semua refleks tertekan secara total dan terjadi relaksasi otot secara
sempurna serta refleks rahang bawah sangat kendor. Apabila anestesi dilanjutkan
lebih dalam, pasien akan menunjukkan respirasi dan kardiovaskuler lebih tertekan
dan pada keadaan dosis anestetikum berlebih akan menyebabkan respirasi dan
jantung berhenti. Dengan demikian, pada tahap pemeliharaan sangat diperlukan
pemantauan dan pengawasan status teranestesi terhadap sistim kardiovaskuler dan
respirasi.
4. Pemulihan
Ketika tahap pemeliharaan berakhir, hewan memasuki tahap pemulihan
yang menunjukkan konsentrasi anestetikum di dalam otak mulai menurun.
Metode ataumekanisme bagaimana anestetikum dikeluarkan dari otak dan sistem
sirkulasi adalah bervariasi tergantung pada anestetikum yang digunakan. Sebagian
besar anestetikum injeksi dikeluarkan dari darah melalui hati dan dimetabolisme
oleh enzim di hati dan metabolitnya dikeluarkan melalui sistem urinari. Pada
hewan kucing, ketamine tidak mengalami metabolisme dan dikeluarkan langsung
tanpa perubahan melalui ginjal. Kadar anestetikum golongan tiobarbiturat di
dalam otak dapat dengan cepat menurunkarena dengan cepat disebarkan ke
jaringan terutama otot dan lemak, sehingga hewanakan sadar dan terbangun
dengan cepat mendahului ekskresi anestetikum dari dalam tubuh hewan.
Anestetikum golongan inhalasi akan dikeluarkan dari tubuh pasien melalui sistem
respirasi, molekul anestetikum akan keluar dari otak memasuki peredaran darah,
alveoli paru-paru, dan akhirnya dikeluarkan melalui nafas. Tanda - tanda adanya
aktivitas refleks, ketegangan otot, sensitivitas terhadap nyeri pada periode
pemulihan dinyatakan sebagai kesadaran kembali. Durasi atau lama waktu kerja
anestetikum dan kualitas anestesi dapat dilihat dari pengamatan perubahan

7
fisiologis selama stadium teranestesi. Dikenal dua waktu induksi pada durasi
anestesi. Waktu induksi 1 adalah waktu antara anestetikumdiinjeksikan sampai
keadaan hewan tidak dapat berdiri. Waktu induksi 2 adalah waktu antara
anestetikum diinjeksikan sampai keadaan hewan tidak ada refleks pedal atau
hewan sudah tidak merasakan sakit (stadium operasi). Durasi adalah waktu ketika
hewan memasuki stadium operasi sampai hewan sadar kembali dan merasakan
sakit jika daerah disekitar bantalan jari ditekan. Waktu siuman atau recovery
adalah waktu antara ketika hewan memiliki kemampuan merasakan nyeri bila
syaraf disekitar jari kaki ditekan atau mengeluarkan suara sampai hewan memiliki
kemampuan untuk duduk sternal, berdiri atau jalan.

Gambar 1. Tabel obat untuk sedasi, anestesi, atau premedikasi pada anjing.
Sumber : Sumber : K.W. Clarke, Veterinary Anaesthesia eleventh edition

8
4.1. Ketamin

Ketamin adalah anestesi umum non barbiturat yang bekerja cepat dan
termasuk dalam golongan fenyl cyclohexylamine dengan rumus kimia 2-(0-
chlorophenil) – 2 (methylamino) cyclohexanone hydrochloride. Pertama kali
diperkenalkan oleh Domino dan Carsen pada tahun 1965. Ketamin mempuyai
efek analgesi yang kuat akan tetapi memberikan efek hipnotik yang ringan.
Ketamin merupakan zat anestesi dengan efek satu arah yang berarti efek
analgesinya akan hilang bila obat itu telah didetoksikasi/diekskresi, dengan
demikian pemakaian lama harus dihindarkan. Anestetik ini adalah suatu derivat
dari phencyclidine suatu obat anti psikosa (Titin Tambing, 2014).
Pemberian ketamin dapat diberikan dengan mudah pada penderita secara
intramuskuler. Obat ini menimbulkan efek analgesia yang sangat baik dan dapat
dikatakan sempurna dengan hanya diikuti tidur yang superfisial. Hal ini dapat
dilihat pada penderita yang diberikan ketamin sering menunjukkan gerakan
spontan dari ekstrimitasnya walaupun pelaksanaan operasi telah dilakukan.
Keadaan ini disebabkan titik tangkap kerjanya pada daerah kortek dari otak
dibanding dengan obat anestesi lainnya yang titik tangkap kerjanya adalah
reticular actifiting system dari otak. Menurut Kumar (1997) Dosis yang
dianjurkan untuk anjing dan kucing adalah 10-20 mg/kg BB secara intramuskuler.
Ketamin menyebabkan pasien dalam kondisi tidak sadar dalam durasi yang cepat
namun mata masih tetap terbuka tetapi tidak memberikan respon rangsangan dari
luar. Selain itu ketamin juga memiliki efek anestetikum yang dapat menekan
hipotalamus sehingga menyebabkan penurunan temperatur tubuh (Titin Tambing,
2014).
Sifat-sifat ketamin, yaitu larutan tidak berwarna, stabil pada suhu kamar,
dan suasana asam (pH 3,5 – 5,5). Adapun farmakokinetik dari ketamin adalah
sebagian besar ketamin mengalami dealkilasi dan dihidrolisis dalam hati,
kemudian dieksresi terutama dalam bentuk metabolik dan sedikit dalam bentuk
utuh. Ketamin dengan pemberian tunggal bukan anestetik yang bagus, karena obat
ini tidak merelaksasi muskulus bahkan kadang-kadang tonus sedikit meningkat.
Efek puncak pada hewan umumnya tercapai dalam waktu 6-8 menit dan anestesi
berlangsung selama 30-40 menit, sedang untuk pemulihan membutuhkan waktu
sekitar 5-8 jam.

9
Efek ketamin dapat merangsang simpatetik pusat yang akhirnya
menyebabkan peningkatan kadar katekolamin dalam plasma dan meningkatkan
aliran darah. Karena itu ketamin digunakan bila depresi sirkulasi tidak
dikehendaki. Sebaliknya, efek-efek ini meringankan penggunaan ketamin pada
penderita hipertensi atau stroke. Kelemahan dari anastetika ini menyebabkan
terjadinya depresi pernafasan dan tidak memberikan pengaruh relaksasi pada
muskulus, yang karenanya sering dikombinasikan dengan obat yang mempunyai
pengaruh terhadap relaksasi muskulus (Titin Tambing, 2014).
Ketamin telah terbukti dapat dipakai pada berbagai kasus gawat darurat
dan dianjurkan untuk pasien dengan sepsis atau pasien dengan sakit parah, hal ini
karena efek stimulasi ketamin terhadap kardiovaskuler. Ketamin akan
meningkatkan cardiac output dan systemic vascular resistance lewat stimulasi
pada sistem saraf simpatis akibat pelepasan dari katekolamin. Ketamin dapat
menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik yang ringan. Efek
terhadap kardiovaskular adalah peningkatan tekanan darah arteri paru dan
sistemik, laju jantung dan kebutuhan oksigen jantung (Pirade Priskha Florancia,
2015).
Ketamin merupakan salah satu jenis anestesi yang sering digunakan pada
anjing untuk beberapa jenis operasi, namun ketika digunakan sebagai obat
tunggal, ketamin tidak menghasilkan relaksasi muskulus skeletal yang baik, dan
dapat mencapai recovery dengan segera dan biasanya dapat menyebabkan
konvulsi pada anjing dan terkadang kucing. Untuk menghindari efek tersebut,
banyak dokter hewan yang menggunakan ketamin bersama-sama dengan
diazepam, acepromazin, xylazine thiobarbiturat atau anastesi inhalasi. Lama
anestesi menggunakan ketamin dan xylazine lebih lama dibandingkan penggunaan
ketamin sebagai obat (Yohannes, 2018). Ketamin HCl dianggap sebagai obat
anestesi umum yang manjur pada anjing-anjing dalam kelompok tertentu dengan
menunjukkan tanda-tanda anestesi seperti; kehilangan kesadaran, tidak adanya
sensasi untuk uji pin prick dan hilangnya refleks tubuh utama kecuali palpebral.
Kelompok anjing yang disuntik ketamin secara intravena ditandai dengan periode
pemulihan mulai terjadi setelah 30 menit hampir di semua anjing dan hampir
sempurna di 40 menit hingga mencapai kondisi pemulihan sempurna (Hafez et
al., 2017).

10
4.2. Xylazin HCL
Xylazin HCl merupakan senyawa sedatif golongan α2 adrenergik agonis
yang bekerja dengan cara mengaktifkan central α2–adrenoreceptor. Xylazin
memiliki rumus kimia 2-(2,6-xylodino)5,6-dihydro-4H-1,3- thiazin hydrochloride.
Xylazin menyebabkan penekanan sistem saraf pusat yang diawali dengan sedasi
kemudian pada dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis, sehingga
akhirnya hewan menjadi tidak sadar dan teranestesi (Titin Tambing, 2014).
Di dalam anestesi hewan, xylazin biasanya paling sering digunakan
dengan kombinasi ketamin. Obat ini bekerja pada reseptor presinapsis dan pos-
sinapsis dari sistem saraf pusat dan perifer sebagai agonis adrenergik. Reseptor α2
adrenoreceptor agonis mengerahkan efek penghambatan pada fungsi sistem saraf
pusat melalui penghambatan pelepasan neurotransmiter dari saraf simpatis. Hal
ini menyebabkan aktivitas saraf simpatis menurun sehingga menurunkan tingkat
kewaspadaan, menurunkan frekuensi denyut jantung dan tekanan darah. Reseptor
α2 adrenoreceptor ditemukan di otot polos pembuluh darah arteri organ dan vena
abdomen. Ketika α2 adrenoreceptor diaktifkan dapat menyebabkan terjadinya
vasokonstriksi, selain itu α2 adrenoceptor dijumpai juga pada sistem
kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, sistem saraf pusat, ginjal, sistem
endokrin dan trombosit (Titin Tambing, 2014).
Xylazin menyebabkan penekanan sistem saraf pusat yang diawali dengan
sedasi kemudian pada dosis yang lebih tinggi digunakan untuk hipnotis, sehingga
akhirnya hewan menjadi tidak sadar atau teranestesi. Obat ini bekerja pada
reseptor presinaptik dan postsinaptik dari sistem saraf pusat dan perifer sebagai
agonis sebuah adrenergik. Xylazin menimbulkan efek relaksasi muskulus
sentralis. Selain itu, xylazin juga mempunyai efek analgesia, xylazin dapat
menimbulkan kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narkosis yang dalam,
tergantung dari dosis yang diberikan untuk masing-masing spesies hewan (Pirade
Priskha Florancia, 2015).
Obat ini banyak digunakan dalam subtansi kedokteran hewan dan sering
digunakan sebagai obat penenang (sedasi), nyeri (analgesik) dan relaksasi otot
rangka (relaksan otot). Pemberian xylazin sebagai preanestesi dapat
memperpanjang durasi analgesi, mengurangi dosis anestesi dan memperpendek
masa pemulihan. Pada anjing range dosis xylazin yang sering digunakan yaitu

11
0.5- 2.0 secara intramuskule dan 0.5 – 1.0 secara intravena. Xylazin dapat
menyebabkan gejala bradikardia, arythmia, peningkatan tekanan sistem saraf
pusat, pengurangan sistem sistolik, depresi respirasi (pengurangan frekuensi
respirasi dan volume respirasi per menit) serta hipertensi yang diikuti dengan
hipotensi. Xylazin memiliki efek farmakologis yang sebagian besar terdiri dari
penurunan cardiac output, sehingga terjadi penurunan frekuensi setelah kenaikan
di awal injeksi pada tekanan darah kemudian dalam perjalanan dapat
menyebabkan efek vasodilatasi pada tekanan darah yg juga dapat menyebabkan
bradikardia, vomit, tremor, motilitas menurun tetapi kontraksi uterus meningkat
pada betina, bahkan dapat mempengaruhi keseimbangan hormonal seperti
menghambat produksi insulin dan antidiuretic hormon (ADH). Xylazin juga
menghambat efek stimulasi saraf postganglion. Pengaruh xylazin dapat dihambat
dengan menggunakan antagonis reseptor adrenergik seperti atipamezole,
yohimbine dan tolazoline (Titin Tambing, 2014).
Kontraindikasi dari xylazin adalah tidak boleh digunakan pada hewan
yang memiliki hipersensitivitas terhadap obat tersebut. Xylazin dapat diberikan
secara intravena, intramuskular, dan subkutan. Pada ruminansia, xylazin dapat
menyebabkan peningkatan sekresi saliva, meningkatkan risiko pneumonia aspirasi
(pernafasan), tetapi dapat dihambat oleh kerja dari atropin. Efek xylazin pada
fungsi respirasi biasanya tidak berarti secara klinis, tetapi pada dosis yang tinggi
dapat mendepres respirasi sehingga terjadi penurunan volume tidal dan respirasi
rata-rata. Perubahan yang cukup jelas terlihat pada fungsi kardiovaskular.
Awalnya segera setelah injeksi, tekanan darah akan meningkat, kemudian diikuti
dengan konstriksi pembuluh darah kapiler. Sebagai reflek normal terhadap
peningkatan tekanan darah dan pemblokiran saraf simpatis, frekuensi denyut
jantung akan menurun sehingga menimbulkan bradikardi dan tekanan darah
menurun mencapai level normal atau subnormal. Xylazin tidak dianjurkan pada
hewan yang memiliki penyakit jantung, darah rendah, dan penyakit ginjal (Titin
Tambing, 2014).
Menurut Hall dan Clarke dalam Yudaniayanti et al (2012) Xylazin
menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga mempunyai efek
analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narkosis yang dalam dapat
tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies hewan. Xylazin

12
mampu menimbulkan depresi susunan syaraf pusat yang dimulai dengan sedasi
kemudian hipnotis dan hilangnya kesadaran, selanjutnya terjadi anestesi umum.
Xylazin menimbulkan efek relaksasi muskulus sentralis, selain itu juga
mempunyai efek analgesi. Kondisi tidur yang ringan sampai kondisi narkosis
yang dalam dapat tercapai, tergantung pada dosis untuk masing-masing spesies
hewan. Xilazin mempunyai potensi bekerja lebih cepat dibandingkan atropin dan
berpengaruh sangat kuat menurunkan denyut jantung (Rossi dan Junqueira, 2003;
Adams, 2001; Bishop, 1996). Golongan a2-adrenergik agonis seperti xilazin
menyebabkan penurunan transmisi simpatik dari susunan saraf pusat, tertekannya
pacemaker secara langsung, tertekannya konduksi, terhambatnya pelepasan
noradrenalin dari ujung saraf simpatik, peningkatan pelepasan acetylcholine dari
saraf parasimpatik, dan meningkatnya tonus vagal (Rossi dan Junqueira, 2003).
Xilazin menyebabkan aktivitas simpatik menurun dan aktivitas vagal meningkat
(Kul et al., 2001).

4.3. Tiletamin Hidroklorida- Zolazepam

Kombinasi tiletamin hidroklorida dengan zolazepam (diazepinon


transquilizer), kedua zat ini dikombinasikan dengan perbandingan yang sama dan
mempunyai simbol CI- 774, preparat tersebut telah dievaluasi melalui injeksi
secara parenteral pada berbagai spesies hewan di laboratorium (Virbac.,
1992), akan tetapi sejauh mana kombinasi obat ini mampu menutupi efek negatif
dari kombinasi xylazin-ketamin terutama terhadap denyut jantung dan
pulsus belum diketahui secara pasti. Efek Tiletamin-Zolazepam dapat mencapai
jantung dan merangsang saraf simpatis dimana kombinasi Tiletamin-Zolazepam
dapat menyebabkan takikardia dan berpengaruh terhadap tekanan darah arteri dan
curah jantung (Einstein, dkk., 1994). Hal ini sesuai dengan info dari Virbac,
(1992) yang menyatakan bahwa anestesi Tilatemin-Zolazepam pada anjing
dapat menimbulkan takikardia, peningkatan tekanan darah yang bersifat
sementara dan induksi polipnea. Peningkatan nilai CRT disebabkan karena
anestesi Tiletamin-Zolazepam merangsang kerja jantung lebih kuat sehingga
curah jantung meningkat dan aliran darah ke perifer meningkat sehingga
akan mengakibatkan CRT lebih cepat. Pada pemberian anestesi Tiletamin
Zolazepam selaput lendir berwarna merah pada saat teranestesi. Hal ini

13
disebabkan karena Tiletamin- Zolazepam merupakan cardiostimulator, yaitu agen
yang dapat merangsang kerja jantung (Wilson, dkk., 1993). Bila kerja jantung
meningkat maka curah jantung akan meningkat dan aliran darah ke perifer juga
meningkat sehingga dapat dimanifestasikan dengan warna selaput lendir yang
merah. Zolazepam merupakan derivate Benzodiazepin terbaru dan
merupakan antikonvulsi yang efeknya dua hingga tiga kali lebih tinggi
dibandingkan dengan golongan Diazepin. Tiletamin mempunyai efek
kataleptik dan bersifat lipofilik sehinggga lebih cepat didistribusikan ke organ
bervaskularisasi tinggi terutama otak (Mullen, dkk.,1987; Virbac, 1992).
Gabungan Tiletamin dan Zolazepam (Zoletil) dengan perbandingan Buletin 1:1
akan meningkatkan kualitas dari masing-masing zat penyusun dan
menghilangkan efek-efek negatif dibandingkan dengan penggunaan secara
terpisah (Booth, dkk., 1977). Wilson , dkk., (1993), menyatakan bahwa
Tiletamin dan Zolazepam merupakan cardiostimulator, yaitu agen yang dapat
merangsang kerja jantung. Telazol dengan dosis 4 mg / kg IV atau IM
menghasilkan sedasi dalam atau anestesi ringan. Efek samping yang terkait
dengan penggunaan ketamin-diazepam juga dapat dilihat (munculnya delirium,
hipersalivasi). Biasanya digunakan untuk memberikan sedasi dalam pada anjing
yang sulit disembuhkan . Obat penenang dan opioid lain dapat dicampur untuk
membuat konstituen akhir lebih kuat meningkatkan sedasi, analgesia dan durasi
efek, dan mengurangi efek samping (mis. Kemunculan delirium).
4.4. Xylazin - Ketamin
Kombinasi Xylazin-Ketamin Hidroklorida merupakan agen kombinasi
yang saling melengkapi antara efek analgesik dan relaksasi otot serta sangat baik
dan efektif untuk anjing karena memiliki rentang keamanan yang lebar.
Peningkatan yang bervariasi pada pulmonum, hipertensi sistemik, penurunan
curah jantung, hypoventilasi yang menyebabkan peningkatan tekanan
karbondioksida dan tekanan oksigen arteri. Pemberian anestesi xylazin
ketamin hidroklorida dengan tiletamin- zolazepam memberikan kekuatan
yang sama pada perangsangan kardiovaskuler yaitu menaikkan tekanan darah
sistolik dan diastolik dengan kecepatan pulsus meningkat (Aitkison dan Rushman,
1993). Kombinasi antara ketamin dan xylazin merupakan kombinasi yang paling

14
baik bagi kedua agen ini, untuk menghasilkan analgesia. Banyak hewan yang
teranestesi secara baik dengan menggunakan kombinasi keduanya.
Kombinasi kedua obat ini mempunyai beberapa keuntungan yaitu;
ekonomis, mudah dalam pemberiannya, induksinya yang cepat, mempunyai
pengaruh relaksasi yang baik serta jarang menimbulkan komplikasi klinis.
Kombinasi kedua obat ini sudah pernah dilaporkan penggunaannya pada anjing
dan kucing (Benson, dkk., 1985), burung unta (Gandini, dkk., 1986). Menurut
Walter (1985), kombinasi xylazin-ketamin merupakan agen kombinasi yang
saling melengkapi antara efek analgesik dan relaksasi otot serta sangat baik dan
efektif untuk anjing karena memiliki rentang keamanan yang lebar. Untuk dosis
15 mg / kg Ketamine dan 5 mg / kg Xylazine adalah dosis yang aman dan paling
dapat diandalkan.

Gambar 2. Table dosis, onset, durasi, dan recovery xylazin dan ketamin.
Sumber : Yohannes (2018) Hematological and Physiological Effects of
Ketamine with and without Xylazine in Dogs

15
A B

Gambar 3.(A) Restraint for injection into the cephalic vein. (B) Alternative
technique for occluding the cephalic vein for insertion of a catheter.
Sumber : K.W. Clarke, Veterinary Anaesthesia eleventh edition

Gambar 4. Stabilization of the cephalic vein against the thumb.


Sumber : K.W. Clarke, Veterinary Anaesthesia eleventh edition

16
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Anestesi umum injeksi merupakan metode anestesi umum yang
dilakukan dengan cara menyuntikkan agen anestesi langsung melalui
muskulus atau pembuluh darah vena. Anestesi injeksi biasanya digunakan untuk
induksi pada hewan kecil maupun pada hewan besar dan dapat juga digunakan
untuk pemeliharaan anestesi. Anastesi memiliki empat tahap yaitu preanestesi,
induksi, pemeliharaan, dan pemulihan. Beberapa anestetika injeksi yang
sering digunakan pada anjing adalah Xylazin, Ketamin Hidroklorida,
kombinasi Tiletamin Hidroklorida-Zolazepam, dan Xylazin-Ketamin
Hidroklorida. Obat anestesi memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga untuk
memaksimalkan suatu anestesi biasanya dikombinasikan dengan obat lain atau
dilakukan premedikasi agar memperoleh hasil target yang diinginkan.
5.2 Saran
Ketamin merupakan salah satu obat anestesi umum yang diberikan pada
saat anestesi, tetapi pemberian kemin sebagai obat tunggal bukan suatu pilihan
yang tepat karena ketamin tidak menghasilkan relaksasi muskulus skeletal yang
baik, dan dapat mencapai recovery dengan segera dan biasanya dapat
menyebabkan konvulsi pada anjing dan terkadang kucing.

17
DAFTAR PUSTAKA

Dharmayudha, A. A.G. Oka, Gorda, I Wayan., Wardhita, A.A.G.Jaya. 2012.


Perbandingan Anestesi Xylazin-Ketamin Hidroklorida dengan Anestesi
Tiletamin- Zolazepam terhadap Frekuensi Denyut Jantung dan Pulsus
Anjing Lokal. Buletin Veteriner Udayana Vol. 4 No.1. :9-15 ISSN : 2085-
2495

Erwin, Nuzul Asmilia, Zuraida1, dan Ela Sesdapepi Hadi. 2013. Kadar Hemoglobin
Selama Induksi Anestesi Per Inhalasi Dan Anestesi Per Injeksi Pada Anjing
Lokal (Canis lupus familiaris). Jurnal Medika Veterinaria Vol. 7 No. 2,
Agustus 2013 ISSN : 0853-1943.

Evers, A.S., C.M. Crowder. 2001. The Pharmacological basis of Therapeutics 10th
Ed,. McGraw Hill : USA. Kumar, A., 1997. Veterinary Surgical Techniques.
Vikas Publishing House PVTLTD. New Delhi.

Hafez, Sara G., Nouh, Samir R., Elkammar, Mahmoud H. 2017. Evaluation of Total
Intra-Venous Anesthesia Using Ketamine HCl or Telazol in Mongrel Dogs.
AJVS. Vol. 53 (2): 99-106 DOI: 10.5455/ajvs.250724

J.D Parrah, Hakim Athar, Khadim Hussain Dar, Bashir Ahmad Moulvi, Waseem-ul
Firdous and Anwar Hussain Nagoo. 2017. Evaluation of the Physiological
and Anaesthetic Efficacy of Atropine-Xylazine- Diazepam-Ketamine
Anesthesia in Non Descriptive Dogs. J Anesth Pain Med Volume 2

K.W. Clarke, C.M. Trim and L.W. Hall. 2014. Veterinary Anaesthesia eleventh edition
Maya, E. 2006. Pengaruh Anestesi Per-injeksi dan Anestesi Per-inhalasi terhadap
Nilai Saturasi Oksigen dan Nilai Fisiologis Lainnya pada Kucing Lokal
(Felis domestica) selama Enterotomi. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan,
Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Nesgash, A., Yaregal, B., Kindu, T., Hailu,E. 2016. Evalution of General Anesthesia
Using Xylazine Ketamine Combination with and without Diazipam for
Ovariohysterectomy in Bitches. J Vet Sci Technol 2016, 7:6 DOI:
10.4172/2157-7579.1000376

Pablo, L.S. 2003. Total IV Anesthesia in Small Animals. College of Veterinary


Medicine, University of Florida Gainesville, Fl. USA.

Pirade Priskha Florancia. 2015. Perbandingan Pengaruh Anestesi Ketamin – Xylazin


dan Ketamin – Zoletil Terhadap Fisiologis Kucing Lokal (Felis domestica)

18
[skripsi]. [diunduh 2019 Mar 01]. Tersedia pada
http://repository.unhas.ac.id/handle/123456789/15705.

Sudisma, I Gusti Ngurah., Widodo,S., Sajuthi,D., Soehartono, H. 2012. Anestesi


Infus Gravimetrik Ketamin dan Propofol pada Anjing. Jurnal Veteriner Vol.
13 No. 2: 189-198 ISSN : 1411 – 8327.

Tambing Titin. 2014. Perbandingan Pengaruh Anestesi Ketamin-Xylazin dan


Ketamin-Zoletil Terhadap Frekuensi Nafas dan Denyut Jantung pada Kucing
Lokal (Felinedomestica) dalam Kondisi Sudden Loss of Blood
[Skripsi][Diunduh 2019 Mar 01].

Yohannes, Gebremedhin, Negash, Guesh., Fantay, Hagazi. 2018. Clinical Evaluation


of Anesthetic Combinations of Xylazine-Ketamine, Diazepam- Ketamine
and Acepromazine-Ketamine in Dogs of Local Breed in Mekelle, Ethiopia.
SOJ Vet Sci 4(2): 1-9. DOI:10.15226/2381- 2907/4/2/00156.

19

Anda mungkin juga menyukai