Anda di halaman 1dari 29

BAB 18.

PATOGENESIS
Patogenesis adalah mekanisme infeksi dan mekanisme perkembangan penyakit.
Infeksi adalah invasi inang oleh mikroba yang memperbanyak dan berasosiasi dengan
jaringan inang. Infeksi berbeda dengan penyakit. Kapasitas bakteri menyebabkan
penyakit tergantung pada patogenitasnya. Dengan kriteria ini, bakteri dikelompokan
menjadi 3, yaitu agen penyebab penyakit, patogen oportunistik, nonpatogen. Agen
penyebab penyakit adalah bakteri patogen yang menyebabkan suatu penyakit
(Salmonella spp.). Patogen oportunistik adalah bakteri yang berkemampuan sebagai
patogen ketika mekanisme pertahanan inang diperlemah (contoh E. coli menginfeksi
saluran urin ketika sistem pertahanan inang dikompromikan (diperlemah). Nonpatogen
adalah bakteri yang tidak pernah menjadi patogen. Namun bakteri nonpatogen dapat
menjadi patogen karena kemampuan adaptasi terhadap efek mematikan terapi modern
seperti kemoterapi, imunoterapi, dan mekanisme resistensi. Bakteri tanah Serratia
marcescens yang semula nonpatogen, berubah menjadi patogen yang menyebabkan
pneumonia, infeksi saluran urin, dan bakteremia pada inang terkompromi.
Virulensi adalah ukuran patogenitas organisme. Tingkat virulensi berbanding
lurus dengan kemampuan organisme menyebabkan penyakit. Tingkat virulensi
dipengaruhi oleh jumlah bakteri, jalur masuk ke tubuh inang, mekanisme pertahanan
inang, dan faktor virulensi bakteri. Secara eksperimental virulensi diukur dengan
menentukan jumlah bakteri yang menyebabkan kematian, sakit, atau lesi dalam waktu
yang ditentukan setelah introduksi.
KERENTANAN INANG
Kerentanan terhadap infeksi bakteri tergantung pada kondisi fisiologis dan
imunologis inang dan virulensi bakteri. Pertahanan inang terhadap infeksi bakteri adalah
mekanisme nonspesifik dan spesifik (antibodi). Mekanisme nonspesifik dilakukan oleh
sel-sel neutrofil dan makrofag. Perkembangan imunitas spesifik seperti respons antibodi
memerlukan waktu beberapa minggu (Gambar 18.1). bakteri flora normal kulit dan
permukaan mukosa juga memberi perlindungan terhadap kolonisasi bakteri patogen.
Pada individu sehat, bakteri flora normal yang menembus ke tubuh dapat dimusnahkan
oleh mekanisme humoral dan seluler inang. Contoh terbaik tentang kerentanan adalah
AIDS, di mana limfosit helper CD4+ secara progresif berkurang 1/10 oleh virus
imunodefisiensi (HIV). Mekanisme resistensi dipengaruhi oleh umur, defisiensi, dan
genetik. Sistem pertahanan (baik spesifik maupun nonspesifik) orang lanjut usia
berkurang. Sistem imun bayi belum berkembang, sehingga rentan terhadap infeksi
bakteri patogen. Beberapa individu memiliki kelainan genetik dalam sistem pertahanan.

Gambar 18.1 Respons serum antibodi terhadap Salmonella typhii selama periode
demam tifoid.

Resistensi inang dapat terkompromi oleh trauma dan penyakit lain yang diderita.
Individu menjadi rentan terhadap infeksi oleh berbagai bakteri jika kulit atau mukosa
melonggar atau rusak (terluka). Abnormalitas fungsi silia sel pernafasan mempermudah
infeksi Pseudomonas aeruginosa galur mukoid. Prosedur medis seperti kateterisasi dan
intubasi trakeal menyebabkan bakteri normal flora dapat masuk ke dalam tubuh melalui
plastik. Oleh karena itu, prosedur pengantian plastik kateter rutin dilakukan setiap
beberapa jam (72 jam untuk kateter intravena).
Banyak obat diproduksi dan dikembangkan untuk mengatasi infeksi bakteri.
Agen antimikroba efektif melawan infeksi bakteri jika sistem imun dan fagosit inang turut
bekerja. Namun terdapat efek samping penggunaan antibiotik, yaitu kemampuan difusi
antibiotik ke organ nonsasaran (dapat mengganggu fungsi organ tersebut), kemampuan
bertahan bakteri terhadap dosis rendah (meningkatkan resistensi), dan kapasitas
beberapa organisme resisten terhadap multi-antibiotik.
DASAR GENETIK VIRULENSI
Faktor virulensi pada bakteri dapat dikode dari DNA kromosom, DNA
bakteriofag, plasmid, atau tranposon (Tabel 18.1). Faktor virulensi Shigella dikode dari
plasmid. Enterotoksin LTI dan LTII E. coli dikode dari plasmid dan kromosom. Toksin
kolera Salmonella enterotoxin dan faktor invasi Yersinia dikode dari kromosom. Namun
terdapat faktor vitulensi bakteri yang diperoleh dari bakteriofag (Gambar 18.2) melalui
transduksi dan diikuti proses lisogeni. Bakteriofag temperate sering berkontribusi
terhadap produksi faktor virulensi seperti toksin difteria (Corynebacterium diphtheriae),
toksin eritrogenik (Streptococcus pyogenes), toksin mirip-Shiga (E. coli), dan toksin
botulinum tipe C dan D (Clostridium botulinum).
Tabel 18.1 Dasar genetik faktor virulensi bakteri
Faktor Virulensi Bakteri Patogen Penghasil Dikode dari Gen
Enterotoksin Vibrio cholerae Kromosom
Enterotoksin, faktor invasi Salmonella typhimurium Kromosom
Enterotoksin, faktor invasi Shigell spp. Kromosom
Enterotoksin, aerolisin Aeromonas hydrophyla Kromosom
Eksotoksin A Pseudomonas aeruginosa Kromosom
Enterotoksin B Staphylococcus aureus Kromosom
Faktor invasi Yersinia enterocolitica Kromosom
Faktor invasi Yersinia pseudotuberculosis Kromosom
Enterotoksin LTII Escherichia coli Kromosom
Faktor invasi Shigella spp Plasmid
Faktor invasi, faktor kolini, Escherichia coli Plasmid
enterotoksin LTI
Toksin eksfoliatif Staphylococcus aureus Plasmid
Toksin anthraks Bacillus anthracis Plasmid
Toksin difteria Corynebacterium diphtheriae Bakteriofag
Toksin eritrogenik Streptococcus pyogenes Bakteriofag
Enterotoksin mirip-Shiga Escherichia coli Bakteriofag
Toksin botulinum C & D Clostridium botulinum Bakteriofag
Enterotoksin STA & STB, Escherichia coli Transposon
akuisisi besi, hemolisin
Gambar 18.2 Mekanisme bakteri memperoleh virulensi dari bakteriofag

MEKANISME PATOGENIK
Aktivitas Infeksi Bakteri
Faktor yang dihasilkan mikroba dan dapat membangkitkan penyakit disebut
faktor virulensi. Contoh faktor virulensi adalah toksin (substansi yang menghambat
fagositosis dan dapat mengikat permukaan sel inang. Kebanyakan bakteri patogen
oportunistik mengembangkan faktor virulensi yang memungkinkan memperbanyak diri di
dalam inang tanpa terbunuh atau terbuang oleh sistem pertahanan inang. Banyak faktor
virulensi hanya diproduksi oleh mikroba galur virulen (enterotoksi diproduksi oleh E. coli
galur tertentu).
Secara praktis, bakteri dapat dikatakan sebagai obyek tunggal yang mampu
meyebabkan suatu penyakit (hanya beberapa jenis bakteri yang dapat menyebabkan
penyakit). Secara teleologis, tidak menguntungkan patogen membunuh inang. Hal ini
karena dengan kematian inang, maka patogen juga ikut mati. Mikroba patogen
teradapatasi tinggi adalah yang dapat tumbuh dan menyebar dengan sedikit energi dan
sedikit kerusakan pada inang.
Resistensi Inang
Meskipun mudah rusak, kulit merupakan pembatas penting antara tubuh dengan
dunia luar. Untungnya, kebanyakan bakteri di lingkungan luar dapat diatasi dengan
sistem imun normal. Namun pasien dengan sistem imun rendah seperti pasien
kemoterapi kanker atau penderita AIDS terancam infeksi mikroba patogen oportunistik.
Bagian terluar tubuh manusia dan mencegah masuknya benda asing adalah kulit
dan permukaan mukosa. Bagian terluar kulit dan permukaan mukosa adalah lapisan sel-
sel epitel. Sel epitel pipih berlapis kulit sangat sulit ditembus oleh mikroba. Pada
permukaan kulit berkembang bakteri flora normal dan dapat berkompetisi dengan
mikroba patogen. Sel epitel mukosa berkembang dan membelah dengan cepat. Hanya
dalam waktu 36—48 jam sel epitel baru dapat bekerja efektif mengantikan sel epitel
lama. Pada lapisan mukosa juga dijumpai substansi pelindung (lisosim, laktoferin, dan
laktoperoksidase) terhadap invasi bakteri. Sel plasma lapisan submukosa mampu
menyekresi mukus yang berisi imunoglobulin (didominasi sIgA).
Mekanisme resistensi inang lainnya adalah kompetisi konsumsi besi. Besi bebas
dalam darah dan jaringan sangat dibutuhkan oleh bakteri meskipun dalam jumlah
sedikit. Transferin dan hemoglobin dengan cepat mengkonsumsi besi bebas, sehingga
tidak memungkinkan tersedianya besi bebas di jaringan inang. Sel fagositosis berpatroli
di seluruh peredaran darah dan jaringan dan menghancurkan benda asing. Sel
fagositosis didominasi oleh neutrofil, tetapi monosit, makrofag, dan eosinofil turut serta.
Aktivitas fagositosis terhambat jika jumlah bakteri sangat banyak dan memiliki faktor
virulensi, sehingga mampu bertahan terhadap aktivitas lisosim dan pH asam. Aktivitas
fagositosis gagal biasanya ditandai dengan peradangan di lapisan submukosa dan
bakteri hidup di makrofag. Ketika peradangan terjadi, maka sel fagositosis bersama
limfosit memulai sistem imun terhadap infeksi bakteri. Selama interaksi sel bakteri
dengan makrofag, sel T dengan sel B atau dengan antibodi atau dengan sel termediasi
imun berkembang untuk mencegah reinfeksi.
Patogenesis Termediasi Respons Inang
Patogenesis pada kebanyakan infeksi bakteri tidak dapat dipisahkan dari
respons imun inang. Kebanyakan kerusakan jaringan akibat respons inang daripada
faktor bakteri. Patogeneisi termediasi respons inang dapat dilihat pada sepsis bakteri
gram negatif, tuberkulosis, dan leprosi tuberkuloid. Jaringan rusak pada infeksi-infeksi
tersebut disebabkan oleh faktor toksis yang dilepaskan oleh limfosit, makrofag, dan
neutrofil pada lokasi infeksi (Gambar 18.3). kebanyakan respons inang sangat kuat,
sehingga jaringan inang rusak dan memungkinkan bakteri resisten memperbanyak diri.

Gambar 18.3 Mekanisme patogenesis termediasi respons inang

Pertumbuhan Intrasel
Secara umum bakteri dapat masuk dan bertahan di dalam sel eukariota dapat
bertahan terhadap antibodi humoral, tetapi dapat dieliminasi hanya dengan respons
imun seluler. Namun bakteri ini harus memiliki mekanisme khusus untuk melindungi dari
efek enzim lisosim yang ada dalam sel inang. Berdasarkan pertumbuhan selama
patogenesis, bakteri patogen dapat dikelompokan menjadi 3, yaitu patogen intrasel
obligat, patogen fakultatif intrasel, dan patogen ekstrasel (Gambar 18.4). Bakteri
patogen intrasel adalah bakteri patogen yang selalu tumbuh di dalam sel inang selama
proses patogenesis. Bakteri patogen fakultatif intrasel adalah bakteri patogen tumbuh di
luar dan si dalam sel inang selama proses patogenesis. Bakteri patogen ekstrasel
adalah bakteri patogen tumbuh di luar sel inang selama proses patogenesis.
Gambar 18.4 Pengelompokan bakteri patogen berdasarkan pertumbuhannya selama
patogenesis

R. ricketsii menghasilkan fosfolipase untuk melarutkan vesikel fagosit, sehingga


tidak pernah bertemu dengan lisosim. Legionella pneumophila lebih memilih hidup di
dalam makrofag dan menghambat fusi lisosim dengan mekanisme yang belum
diketahui. Coxiella burnetii lebih menyukai lingkungan bernilai pH asam di dalam granula
lisosomal. Salmonella dan Mycobacterium sangat resisten terhadap aktivitas sel
fagositosis.
Bakteri yang tidak menginvasi sel inang, biasanya memperbanyak diri di fluida
tubuh yang kaya nutrisi. V. cholerae dan Bordetella pertussis tidak pernah menembus
jarungan tubuh, tetapi hanya menempel di permukaan sel epitel dan menyekresi protein
toksin. E. coli dan P. aeruginosa bukan patogen invasif, tetapi mereka menyebar
dengan cepat ke berbagai jaringan ketika memperoleh akses. Bakteri dapat dikatakan
patogen intrasel ketika dia dicerna oleh neutrofil dan makrofag, tetapi bakteri ini tidak
mempunyai kapasitas bertahan tumbuh di lingkungan intrasel.
FAKTOR FAKTOR VIRULENSI
Faktor Kolonisasi dan Perlekatan
Sel-sel epitel mukosa biasanya mengeluarkan mukus untuk membersihkan
permukaan mukosa secara teratur. Sel-sel epitel mukosa hanya memerlukan waktu 48
jam untuk meregenerasi sel-sel yang rusak. Untuk menginfeksi, kebanyakan bakteri
harus melekatkan diri dan memperbanyak diri di permukaan mukosa sebelum mukus
dan silia sel epitel membuannya. Untuk itu, bakteri memiliki pili atau fimbria yang dapat
dipakai sebagai alat perlekatan ke permukaan mukosa. Faktor kolonisasi juga
memerankan peranan penting dalam perlekatan bakteri ke permukaan mukosa.
Beberapa bakteri yang menghasilkan faktor kolonisasi adalah V. cholerae, E. coli,
Salmonella spp., N. gonorrheae, N. meningitidis, dan Streptococcus pyogenes.
Pili dan Fimbria
Pili adalah apendages yang keluar dari dalam sel. Struktur pili berongga,
sehingga memudahkan sintesis pili. Pili adalah polimer protein yang disintesis dari dasar
ke ujung. Protein ujung pili mampu mengenali reseptornya pada sel inang, sehingga
memungkinkan perlekatan pada sel inang. Reaksi perlekatan antara pili dan reseptornya
sangat kuat dan sangat sulit dipisahkan. Setelah kontak dengan sel inang pili berdifusi
dengan membran sel inang, sehingga pili menyediakan jembatan atau kanal bagi
eksport material toksis bakteri patogen ke sitoplasma sel inang. Sintesis pili diregulasi
oleh lingkungan, sehingga pili hanya disintesis dalam kondisi tertentu. Kebanyakan pili
adalah antigen kuat, sehingga mudah dikenali oleh imunitas humoral dan seluler.
Namun beberapa populasi bakteri patogen dapat mengubah struktur protein ujung pili
(melalui mutasi), sehingga tidak mudah dikenali sistem pertahanan inang.
Fimbria lebih langsing daripada pili. Fimbria juga menyediakan mekanisme
perlekatan pada sel inang. Namun struktur fimbria kompak dan tidak berongga,
sehingga tidak memfasilitasi eksport berbagai faktor virulenke ke sel inang.
Kapsula dan Struktur Permukaan Lain
Bakteri memiliki beberapa struktur untuk dapat bertahan dalam inang. Kapsula
telah diketahui sejak lama sebagai faktor pelindung bakteri dari pertahanan inang.
Bakteri berkapsula lebih virulen dan resisten terhadap fagositosis dan pertahanan
intrasel daripada bakteri tanpa kapsula. Organisme penyebab bakteremia
(Pseudomonas) menghasilkan komponen yang disebut serum resistant. Komposisi dan
struktur serum resistant mirip dengan komposisi kapsula. Salmonella typhii dan
beberapa organisme penyebab paratifoid memiliki antigen permukaan, yaitu antigen Vi.
Antigen Vi dapat meningkatkan virulensi bakteri. Antigen Vi terdiri atas polimer
galaktosamin dan asam uronat. Antigen Vi mampu bertahan terhadap antibodi inang.
Beberapa bakteri dan parasit mampu bertahan dan memperbanyak diri di dalam
sel fagositosis. Mycobacterium tuberculosis mampu bertahan dan memperbanyak diri
karena struktur permukaan selnya tahan terhadap aktivitas lisosomal sel inang. Parasit
Toxoplasma gondii mampu menghambat fusi lisosom dan vakuola fagositosis.
Sedangkan mekanisme bertahan dan memperbanyak diri Legionella pneumophila,
Brucella abortus, dan Listeria monocytogenes di dalam sel fagositosis belum diketahu
dengan jelas.
Sintesis kapsula memerlukan energi dan karbon tinggi. Bakteri mampu
meregulasi sintesis kapsula, sehingga memungkinkan merekan menyintesis kapsula
dalam keadaan tertentu (menguntungkan). Bakteri mempunyai mekasime yang dapay
mendeteksi inang dan dengan cepat mengekspresikan gen pengkode faktor virulensi
termasuk kapsula. Bakteri patogen tidak menghasilkan kapsula jika dikultur dalam
laboratorium. Mekanisme kapsula dalam virulensi bakteri patogen adalah mencegah
fagositosis sel inang, memfasilitasi kolonisasi di sel inang, memberikan struktur unik
yang mampu “menyembunyikan” dirinya dari sistem imun inang, dan memungkinkan
perlekatan bersama membentuk biofilm yang tidak mudah dihancurkan oleh sistem
pertahanan inang.
Faktor Invasi
Setelah melekat di permukaan mukosa, bakteri harus mampu menembus lapisan
mukosa, sehingga dapat tersebar ke seluruh jaringan tubuh inang. Bakteri patogen
obligat intrasel seperti Rickettsia dan Chlamydia species dan bakteri patogen fakultatif
intrasel menghasilkan faktor-faktor yang memfasilitasi invasi. Faktor invasi Shigella
dikode dari plasmid 140 megadalton. Mekanisme invasi Rickettsia dan Chlamydia
species belum diketahu dengan jelas.
Endotoksin
Endotoksi terdiri atas komponen lipopolisakarida toksis membran luar bakteri
gram negatif. Endotoksin berefek serius terhadap sel inang bahkan letal. Istilah
endotoksi diintroduksi oleh Pfeiffer pada tahun 1893 untuk membedakan substansi
toksis yang dikeluarkan setelah sel bakteri mengalami lisis dari substansi toksis
(eksotoksin).
Struktur endotoksin adalah kompleks lipid dan polisakarida. Struktur molekul
endotoksin Salmonella spp. Dan E. coli telah diketahui secara detail. Meskipun semua
molekul endotoksin mirip secara struktur kimiawi dan aktivitas biologis, tetapi terdapat
keragaman di antara mereka. Kompleks molekul endotoksin dapat dibagi menjadi 3
bagian (Gambar 18.5) mulai terluar, yaitu rantai oligosakarida atau disebut rantai
antigen-O, polisakarida core yang merupakan tulang punggu molekul, dan lipid A yang
biasanya terdiri atas disakarida glukosamin yang melekat pada asam lemak dan fosfat.
Jika bagian polisakarida diganti dengan polisakarida lain, maka toksisitas endotoksin
masih terjaga. Namun jika bagian lipid A diganti dengan lipid lain, maka toksisitas
endotoksin melemah. Oleh karena itu bagian toksis endotoksin adalah lipid A. Peran
polisakarida adalah sebagai agen pelarut lipid A dan secara laboratorium posisakarida
dapat diganti dengan protein pembawa seperti bovins erum albumin. Anggota famili
Enterobacteriaceae memiliki beragam panjang rantai antigen-O. Sementara itu, N.
gonorrhoeae, N. meningitidis, dan B. Pertussis tidak memiliki rantai antigen-O.

Gambar 18.5 Struktur endotoksin dari bakteri gram negatif

Aktivitas Biologis Endotoksin


Efek biologis endotoksin telah dipelajari secara mendalam. Efek biologis
endotoksin bervariasi, yaitu leukopenia, leukositosis, depresi tekanan darah, aktivasi
keping darah, nekrosis sumsum tulang, hipotermia dan toksisitas letal (pada tikus), dan
induksi sintesis prostaglandin. Namun terdapat efek dari endotoksin yang
menguntungkan inang, yaitu efek mitogenik limfosit B (dapat meningkatkan resistensi
terhadap infeksi virus dan bakteri), induksi sintesis γ -interferon oleh limfosit T(dapat
mengaktifkan makrofag dan sel-sel pembunuh dan mengaktifkan penolakan terhadap
sel tumor), aktivasi komplemen, induksi nonspesifik resistensi infeksi, aktivasi makrofag,
induksi sintesis faktor nekrosis tumor, dan induksi toleransi endotoksin.
Penelitian terakhir terfokus pada eksploitasi efek positif endotoksin khususnya
dalam perkembangan menstimulasi respons imun. Menghidrolisis gugus fosfat atau
deasilasi satu atau beberapa asam lemak dari lipid A dapat menurunkan toksisitas lipid
A. Toleransi terhadap endotoksin dapat dihasilkan dengan mengintroduksi lebih dulu
endotoksin dosis rendah atau mengintroduksi lipid A nontoksis sebelum endotoksin
dosis tinggi.
Deteksi Endotoksin
Endotoksin adalah bagian dari membran luar sel bakteri patogen. Oleh karena itu
meskipun bakteri tersebut mati, tetapi endotoksin masih tetap aktif. Hal ini karena
endotoksin tahan panas, sehingga tidak mudah rusak oleh aktivitas sterilisasi.
Endotoksin dalam larutan medis dapat dihilangkan dengan filtrasi dengan ion exchange
resin.
Keberadaan endotoksin dari perlalatan dan larutan medis dapat dideteksi denga
metode uji pirogenitas kelinci atau uji Limulus lysate. Uji pirogenitas kelinci berdasarkan
sensitivitas kelinci terhadap endotoksin. Uji ini sangat mudah, yaitu mengintroduksi
cairan yang diduga mengandung endotoksin ke dalam kelinci melalui vena telinga. Suhu
rektum kelinci dimonitor setiap saat. Jika suhu rektum meningkat, maka cairan tersebut
mengandung endotoksin.
Uji Limulus lysate merupakan uji deteksi endotoksin yang umum dan lebih murah
dibandingkan uji pirogentitas kelinci. Uji ini berdasarkan kemampuan endotoksin
menginduksi lysate gelation sel amoebosit Limulus polyphemus (ketam kaki kuda). Uji
ini sederhana dan sangat sensitif (mendeteksi sampai 1 ng/ml). Perangkat uji telah
tersedia secara komersial.
Eksotoksin
Eksotoksin berbeda dengan endotoksin. Eksotoksin adalah protein toksis yang
dilepaskan oleh bakteri patogen. Sebagian besar eksotoksin dengan berat molekul tinggi
tidak tahan panas, tetapi eksotoksin dengan berat molekul rendah tahan panas.
Eksotoksin dapat diproduksi oleh bakteri gram positif dan baktri gram negatif. Aksi
eksotoksin terhadap sel inang biasanya terlokalisir dan khusus pada sel dan lokasi
tertentu. Hal ini karena setiap eksotoksin memiliki masing-masing reseptor pada sel
inang, misalnya toksin tetanus hanya berefek pada internuncial neuron. Kebanyakan
eksotoksin dapat dikenali oleh antibodi.
Eksotoksin dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok berdasarkan efek
eksotoksin terhadap sel inang, seperti neurotoksin, sitotoksin, dan enterotoksin. Contoh
nerotoksin adalah toksin botulinum ayng dihasilkan Clostridium botulinum. Contoh
sitotoksin adalah toksin dipteria yang dihasilkan Corynebacterium diphtheriae.
Siderofor
Baik hewan dan mikroba memerlukan besi dalam pertumbuhan dan
metabolisme. Hewan memiliki mekanisme menahan besi dalam jaringan sehingga
membatasi pertumbuhan bakteri patogen. Meskipun darah kaya akan besi, tetapi sangat
sedikit dijumpai besi bebas di dalam darah. Sebagian besar besi telah diambil oleh
hemoglobin dari eritrosit dan transferin dari plasma darah. Bakteri mampu menghasilkan
reseptor untuk protein penangkap besi, sehingga menghambat penagkapan besi oleh
sel inang. Dengan demikian jumlah besi bebas untuk pertumbuhan bakteri meningkat.
Bakteri lain memperoleh besi bebas dengan mengekstraksi besi dari sel inang
dan menyintesis protein penagkap besi. Siderofor adalah substansi yang dihasilkan
bakteri, untuk menangkap besi baik dari inang maupun dari lingkungan (Gambar 18.6).
Kemampuan siderofor mengikat besi lebih tinggi daripada transferin dan laktoferin.
Salahsatu siderofor adalah enterochelin yang dihasilkan E. coli dan Salmonella sp.
Salmonella yang kehilangan kemampuan menyintesis enterochelin, maka dia
kehilangan virulensi terhadap tikus.

Gambar 18.6 Mekanisme kompetisi antara siderofor bakteri patogen dan protein
pengikat besi inang
PATOGENESIS Bacillus anthracis
Bacillus anthracis adalah bakteri batang gram positif pembentuk endospora
fakultatif anaerob. Spora B. anthracis terletak di tengah sel dan tetap berada di dalam
sel vegetatif. B. anthracis merupakan bakteri tanah dan dapat diisolasi dari hewan dan
manusia terinfeksi.
Manifestasi Infeksi
Terdapat 3 bentuk penyakit yang ditimbulkan B. anthracis, yaitu anthrax
kutaneus, anthrax gastrointestinal, dan anthrax inhalasi. Ketiga penyakit menunjukkan
rute masuk dan infeksi B. anthracis. Anthrax kutaneus merupakan penyakit akibat infeksi
B. anthracis melalui luka minor kulit dan dapat menyebabkan necrostic ulcer. Anthrax
gastrointestinal merupakan penyakit akibat infeksi B. anthracis melalui saluran
pencernaan dan menyebabkan necrotic ulcer di saluran pencernaan dan sistem
limfatikus. Anthrax inhalasi merupakan penyakit akibat infeksi B. anthracis melalui
saluran pernafasan dan menembus jaringan paru. Gejala anthrax inhalasi mirip dengan
influenza dan penyakit akibat virus lainnya, yaitu demam tinggi dan sakit di dada. Semua
penyakit anthrax ini bersifat letal jika tanpa perawatan memadai.
Mekanisme Patogenesis
B. anthracis memiliki 2 properti dasar virulensi, yaitu pembentukan kapsula dan
produksi toksin anthrax. Kapsula B. anthracis adalah polimer asam amino glutamat.
Galur patogen B. anthracis memiliki karakter koloni sebagai berikut, koloni basah,
mukoid, kenampakan halus. Galur nonpatogen B. anthracis mempunyai koloni kasar
(tetap menghasilkan kapsula). Kapsula melindungi B. anthracis dari berbagai respons
imunologi inang, seperti serum, lisin, fagositosis. Gen pengkode kapsula terdapat pada
plasmid. Secara laboratorium, gen pengkode kapsula dapat diekspresikan dengan
menumbuhkan B. anthracis pada media berisi serum dan kadar CO2 atmosfir 5%.
Toksin anthrax B. anthracis baru dikenal sejak tahun 1954. Toksin anthrax B.
anthracis terdiri atas 3 komponen yaitu faktor letal, faktor edema, dan antigen protektif.
Faktor letal adalah enzim kinase yang mampu merusak fungsi sel. Makrofag merupakan
target toksin anthrax. Faktor edema adalah enzim yang memiliki aktivitas adenilat
siklase (menghasilkan AMP dari ATP), sehingga menurunkan kadar ATP yang berguna
untuk mrnyuplai energi untuk fagositosis. Antigen protektif tidak memiliki efek toksis,
melainkan untuk perlekatan dengan sel sasaran, sehingga ke-2 faktor lainnya dapat
dieksport ke sel inang.
Diagnosis dan Perlakuan
Identifikasi B. anthracis cukup sulit, karena B. anthracis mirip dengan anggota
Bacillus lainnya. Metode umum untuk mengidentifikasi B. anthracis adalah dengan uji
biokimiawi (Tabel 18.2). Sejumlah uji lainnya diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil
identifikasi. Uji biokimiawi memerlukan waktu 48 jam. Oleh karena itu diperlukan uji yang
cepat mengidentifikasi B. anthracis. Uji cepat (rapid test) berdasarkan reaksi antara
antibodi dengan toksin atau kapsula telah tersedia dan mampu memberi informasi
hanya dalam beberapa jam. Uji terbaru berdasarkan reaksi rantai polimerase
(polymerase chain reaction) yang mampu mendeteksi urutan DNA spesifik pengkode
faktor virulensi dan hanya memerlukan waktu 15 menit.
Tabel 18.2 Karakteristik Bacillus species
Karakteristik B. anthracis B. cereus dan
B. thuringiensis
Kebutuhan akan thiamin + +
Hemolisis pada sheep blood agar - -
Kapsula polipeptida glutamil + +
Lisis oleh gama-fag + +
Motilitas - -
Pertumbuhan pada chloralhydrate agar - -
Aransemen rantai ujung ke ujung sel + +

Perlakuan pada penderita anthrax dengan antibiotik. B. anthracis sensitif


terhadap berbagai antibiotik, khususnya penisilin. Jika sebelum infeksi B. anthracis
sedang dilakukan perlakuan antibiotik, maka perlakuan antibiotik memiliki efek kecil.
Vaksin anthrax untuk hewan telah tersedia sejak Pasteur memformulasikan vaksin
anthrax pertama kali. Konsentrasi rendah toksin dapat menstimulasi sistem antibodi
inang.
PENYAKIT STREPTOKOKUS
Infeksi bakteri Streptococcus menghasilkan penyakit serius pada manusia. Baktri
patogen penting Streptococcus adalah S. pneumoniae dan S. pyrogenes. Streptococcus
merupakan kelompok organisme heterogen yang secara normal berasosiasi dengan
organisme tingkat tinggi. Beberapa galur merupakan bakteri patogen dan yang lainnya
merupakan bakteri flora normal manusia. Streptococcus adalah bakteri kokus gram
positif dan membelah dalam satu model arah (one plane division) . Setelah membelah,
sel0selnya saling berasosiasi menghasilkan struktur rantai. S. pneumoniae dan S.
pyrogenes tidak memiliki enzim katalase. Streptococcus mampu memfermentasi
berbagai sumber karbon, tetapi lebih menyukai gula sebagai sember karbon. Pada
media padat, Streptococcus menghasilkan koloni halus. Pada media blood agar,
terdapat karakteristik berbeda pada beberapa jenis Streptococcus.
Manifestasi Infeksi
S. pyrogenes merupakan bakteri penginfeksi saluran pernafasan, kulit, dan aliran
darah. Infeksi kulit dapat mengakibatkan impetigo, selulitis, necrotic fascitis, dan
myositis. Penyakit saluran pernafasan, yaitu faringitis akut dan pneumonia. Meskipun
jarang, S. pyrogenes mampu menyebar sampai aliran darah dan mengakibatkan
bakteremia dan sepsis dan dalam beberapa kesempatan menghasilkan toxic shock
syndrome yang bersifat letal. Respons imunologis terhadap S. pyrogenes pada otot
jantung menyebabkan demam rematik dan ini mungkin terjadi sekitar 3% dari kasus
faringitis. Perawatan intensif terhadap S. pyrogenes dapat mencegah perkembangan
demam rematik.
S. pneumoniae merupakan penyebab utama infeksi saluran ernafasan pada
orang dewasa. S. pneumoniae dapat berubah menjadi karier (tidak memunculkan
simptom), sehinga tertransfer ke orng lain melalui udara. S. pneumoniae menginfeksi
telinga, sinus, dan mata. Pasien dengan infeksi bakteri ini sering terlihat adanya
peradangan.
Mekanisme Patogenesis
S. pyrogenes
Terdapat 2 tahap perlekatan S. pyrogenes terhadap sel inang. Pertama, bakteri
melekat pada permukaan sel inang menggunakan asam lipotekoat dinding sel. Setelah
perlekatan pertama ini, diikuti perlekatan (ikatan) protein M pada ujung fimbria dengan
fibronektin dan menghasilkan perlekatan kuat.
Setelah melekat, S. pyrogenes menyekresi berbagai enzim untuk invasi sampai
ke jaringan dalam. Enzim hialuronidase mendegradasi asam hialuronat yang ada di
antara 2 sel inang. Enzim streptokinase merusak fibrin inang. Beberapa enzim
streptodornase mendegradasi DNA dan RNA. Kumpulan enzim ini juga membantu S.
pyrogenes dalam menghindari dan melawan sistem imun inang. S. pyrogenes
menghasilkan kapsula yang terbuat dari asam hialuronat (berasal dari sel inang).
Kapsula berperan dalam menghindari fagositosis. Enzim streptolisin dan NADase
mampu membunuh leukosit. Enzim protease C5a menghancurkan protein kompleman
C5a inang yang merupakan kemoatraktan untuk fagosit.
Beberapa galur S. pyrogenes menyekresi eksotoksin pirogenik yang
menginduksi demam. Beberapa galur S. pyrogenes yang menghasilkan infeksi serius
dan merusak kulit, juga menghasilkan toksin pirogenik.
S. pneumoniae
Mekanisme patogenesis S. pneumoniae belum diketaui dengan jelas. Meskipun
demikian kapsula S. pneumoniae berperan dalam resistensi fagositosis dan
memfasilitasi penyebaran bakteri ini. Protein lain sebagai faktor virulensi adalah
pneumolisis dan permease, tetapi mekanisme keduanya tidak jelas.
Diagnosis dan Perlakuan
Diagnosis Streptococcus tergantung pada teknik kultur dari jaringan tubuh. S.
pyrogenes secara normal dikonfirmasi dengan hemolisis pada media blood agar, bakteri
gram positif rantai kokus (S. pneumoniae bakteri gram positif rantai lancet), sensitif
bacitracin dan optochin.
S. pyrogenes biasanya diperlakukan dengan penisilin dan bakteri ini tidak
mampu mengembangkan resistensi terhadap antibiotik. Vaksin berbagai serotipe protein
M sedang dikembangkan. S. pneumoniae diperlakukan dengan antibiotik penisilin, tetapi
bakteri ini mengembangkan resistensi terhadap antiobiotik. Pada bakteri resisten
penisilin, antibitik cefrriaxone dan cefotaxime sangat efektif. Vaksin polisakarida dengan
lebih dari 23 serotipe sedang dikembangkan. Vaksin untuk S. pneumoniae biasanya
efektif terhadap orang dewasa, tetapi tidak efektif untuk anak-anak.

Viral Pathogenesis
Samuel Baron, Michael Fons & Thomas Albrecht

General Concepts
Pathogenesis

Pathogenesis is the process by which an infection leads to disease. Pathogenic


mechanisms of viral disease include (1) implantation of virus at the portal of entry, (2)
local replication, (3) spread to target organs (disease sites), and (4) spread to sites of
shedding of virus into the environment. Factors that affect pathogenic mechanisms are (1)
accessibility of virus to tissue, (2) cell susceptibility to virus multiplication, and (3) virus
susceptibility to host defenses. Natural selection favors the dominance of low-virulence
virus strains.

Cellular Pathogenesis

Direct cell damage and death from viral infection may result from (1) diversion of the
cell's energy, (2) shutoff of cell macromolecular synthesis, (3) competition of viral
mRNA for cellular ribosomes, (4) competition of viral promoters and transcriptional
enhancers for cellular transcriptional factors such as RNA polymerases, and inhibition of
the interferon defense mechanisms. Indirect cell damage can result from integration of
the viral genome, induction of mutations in the host genome, inflammation, and the host
immune response.

Tissue Tropism

Viral affinity for specific body tissues (tropism) is determined by (1) cell receptors for
virus, (2) cell transcription factors that recognize viral promoters and enhancer
sequences, (3) ability of the cell to support virus replication, (4) physical barriers, (5)
local temperature, pH, and oxygen tension enzymes and non-specific factors in body
secretions, and (6) digestive enzymes and bile in the gastrointestinal tract that may
inactivate some viruses.

Implantation at the Portal of Entry

Virions implant onto living cells mainly via the respiratory, gastrointestinal, skin-
penetrating, and genital routes although other routes can be used. The final outcome of
infection may be determined by the dose and location of the virus as well as its infectivity
and virulence.

Local Replication and Local Spread

Most virus types spread among cells extracellularly, but some may also spread
intracellularly. Establishment of local infection may lead to localized disease and
localized shedding of virus.

Dissemination from the Portal of Entry

Viremic: The most common route of systemic spread from the portal of entry is the
circulation, which the virus reaches via the lymphatics. Virus may enter the target organs
from the capillaries by (1) multiplying in endothelial cells or fixed macrophages, (2)
diffusing through gaps, and (3) being carried in a migrating leukocyte.

Neural: Dissemination via nerves usually occurs with rabies virus and sometimes with
herpesvirus and poliovirus infections.
Incubation Period

The incubation period is the time between exposure to virus and onset of disease. During
this usually asymptomatic period, implantation, local multiplication, and spread (for
disseminated infections) occur.

Multiplication in Target Organs

Depending on the balance between virus and host defenses, virus multiplication in the
target organ may be sufficient to cause disease and death.

Shedding of Virus

Although the respiratory tract, alimentary tract, urogenital tract and blood are the most
frequent sites of shedding, diverse viruses may be shed at virtually every site.

Congenital Infections

Infection of the fetus as a target "organ" is special because the virus must traverse
additional physical barriers, the early fetal immune and interferon defense systems may
be immature, transfer of the maternal defenses are partially blocked by the placenta, the
developing first-trimester fetal organs are vulnerable to infection, and hormonal changes
are taking place.

INTRODUCTION

Pathogenesis is the process by which virus infection leads to disease. Pathogenic


mechanisms include implantation of the virus at a body site (the portal of entry),
replication at that site, and then spread to and multiplication within sites (target organs)
where disease or shedding of virus into the environment occurs. Most viral infections are
subclinical, suggesting that body defenses against viruses arrest most infections before
disease symptoms become manifest. Knowledge of subclinical infections comes from
serologic studies showing that sizeable portions of the population have specific
antibodies to viruses even though the individuals have no history of disease. These
inapparent infections have great epidemiologic importance: they constitute major sources
for dissemination of virus through the population, and they confer immunity (see Ch. 48).

Many factors affect pathogenic mechanisms. An early determinant is the extent to which
body tissues and organs are accessible to the virus. Accessibility is influenced by physical
barriers (such as mucus and tissue barriers), by the distance to be traversed within the
body, and by natural defense mechanisms. If the virus reaches an organ, infection occurs
only if cells capable of supporting virus replication are present. Cellular susceptibility
requires a cell surface attachment site (receptor) for the virions and also an intracellular
environment that permits virus replication and release. Even if virus initiates infection in
a susceptible organ, replication of sufficient virus to cause disease may be prevented by
host defenses (see Chs. 49 and 50).
Other factors that determine whether infection and disease occur are the many virulence
characteristics of the infecting virus. To cause disease, the infecting virus must be able to
overcome the inhibitory effects of physical barriers, distance, host defenses, and differing
cellular susceptibilities to infection. The inhibitory effects are genetically controlled and
therefore may vary among individuals and races. Virulence characteristics enable the
virus to initiate infection, spread in the body, and replicate to large enough numbers to
impair the target organ. These factors include the ability to replicate under certain
circumstances during inflammation, during the febrile response, in migratory cells, and in
the presence of natural body inhibitors and interferon. Extremely virulent strains often
occur within virus populations. Occasionally, these strains become dominant as a result
of unusual selective pressures (see Ch. 48). The viral proteins and genes responsible for
specific virulence functions are only just beginning to be identified.

Fortunately for the survival of humans and animals (and hence for the infecting virus),
most natural selective pressures favor the dominance of less virulent strains. Because
these strains do not cause severe disease or death, their replication and transmission are
not impaired by an incapacitated host. Mild or inapparent infections can result from
absence of one or more virulence factors. For example, a virus that has all the virulence
characteristics except the ability to multiply at elevated temperatures is arrested at the
febrile stage of infection and causes a milder disease than its totally virulent counterpart.
Live virus vaccines are composed of viruses deficient in one or more virulence factors;
they cause only inapparent infections and yet are able to replicate sufficiently to induce
immunity.

The occurrence of spontaneous or induced mutations in viral genetic material may alter
the pathogenesis of the induced disease, e.g. HIV. These mutations can be of particular
importance with the development of drug resistant strains of virus.

Disease does not always follow successful virus replication in the target organ. Disease
occurs only if the virus replicates sufficiently to damage essential cells directly, to cause
the release of toxic substances from infected tissues, to damage cellular genes or to
damage organ function indirectly as a result of the host immune response to the presence
of virus antigens.

As a group, viruses use all conceivable portals of entry, mechanisms of spread, target
organs, and sites of excretion. This abundance of possibilities is not surprising
considering the astronomic numbers of viruses and their variants (see Ch. 43).

Cellular Pathogenesis

Direct cell damage and death may result from disruption of cellular macromolecular
synthesis by the infecting virus. Also, viruses cannot synthesize their genetic and
structural components, and so they rely almost exclusively on the host cell for these
functions. Their parasitic replication therefore robs the host cell of energy and
macromolecular components, severely impairing the host's ability to function and often
resulting in cell death and disease.
Pathogenesis at the cellular level can be viewed as a process that occurs in progressive
stages leading to cellular disease. As noted above, an essential aspect of viral
pathogenesis at the cellular level is the competition between the synthetic needs of the
virus and those of the host cell. Since viruses must use the cell's machinery to synthesize
their own nucleic acids and proteins, they have evolved various mechanisms to subvert
the cell's normal functions to those required for production of viral macromolecules and
eventually viral progeny. The function of some of the viral genetic elements associated
with virulence may be related to providing conditions in which the synthetic needs of the
virus compete effectively for a limited supply of cellular macromolecule components and
synthetic machinery, such as ribosomes.

Damage of cells by replicating virus and damage by the immune response are considered
further in Chapters 44 and 50, respectively.

Tissue Tropism

Most viruses have an affinity for specific tissues; that is, they display tissue specificity or
tropism. This specificity is determined by selective susceptibility of cells, physical
barriers, local temperature and pH, and host defenses. Many examples of viral tissue
tropism are known. Polioviruses selectively infect and destroy certain nerve cells, which
have a higher concentration of surface receptors for polioviruses than do virus-resistant
cells. Rhinoviruses multiply exclusively in the upper respiratory tract because they are
adapted to multiply best at low temperature and pH and high oxygen tension.
Enteroviruses can multiply in the intestine, partly because they resist inactivation by
digestive enzymes, bile, and acid.

The cell receptors for some viruses have been identified. Rabies virus uses the
acetylcholine receptor present on neurons as a receptor, and hepatitis B virus binds to
polymerized albumin receptors found on liver cells. Similarly, Epstein-Barr virus uses
complement CD21 receptors on B lymphocytes, and human immunodeficiency virus uses
the CD4 molecules present on T lymphocytes as specific receptors.

Viral tropism is also dictated in part by the presence of specific cell transcription factors
that require enhancer sequences within the viral genome. Recently, enhancer sequences
have been shown to participate in the pathogenesis of certain viral infections. Enhancer
sequences within the long terminal repeat (LTR) regions of Moloney murine leukemia
retrovirus are active in certain host tissues. In addition, JV papovavirus appears to have
an enhancer sequence that is active specifically in oligodendroglia cells, and hepatitis B
virus enhancer activity is most active in hepatocytes. Tissue tropism is considered further
in Chapter 44.
Sequence of Virus Spread in the Host

Implantation at Portal of Entry

Viruses are carried to the body by all possible routes (air, food, bites, and any
contaminated object). Similarly, all possible sites of implantation (all body surfaces and
internal sites reached by mechanical penetration) may be used. The frequency of
implantation is greatest where virus contacts living cells directly (in the respiratory tract,
in the alimentary tract, in the genital tract, and subcutaneously). With some viruses,
implantation in the fetus may occur at the time of fertilization through infected germ
cells, as well as later in gestation via the placenta, or at birth.

Even at the earliest stage of pathogenesis (implantation), certain variables may influence
the final outcome of the infection. For example, the dose, infectivity, and virulence of
virus implanted and the location of implantation may determine whether the infection
will be inapparent (subclinical) or will cause mild, severe, or lethal disease.

Local Replication and Local Spread

Successful implantation may be followed by local replication and local spread of virus
(Fig. 45-1). Virus that replicates within the initially infected cell may spread to adjacent
cells extracellularly or intracellularly. Extracellular spread occurs by release of virus into
the extracellular fluid and subsequent infection of the adjacent cell. Intracellular spread
occurs by fusion of infected cells with adjacent, uninfected cells or by way of
cytoplasmic bridges between cells. Most viruses spread extracellularly, but herpesviruses,
paramyxoviruses, and poxviruses may spread through both intracellular and extra cellular
routes. Intracellular spread provides virus with a partially protected environment because
the antibody defense does not penetrate cell membranes.
FIGURE 45-1 Virus spread during localized infection. Numbers indicate sequence of
events.

Spread to cells beyond adjacent cells may occur through the liquid spaces within the local
site (e.g., lymphatics) or by diffusion through surface fluids such as the mucous layer of
the respiratory tract. Also, infected migratory cells such as lymphocytes and macrophages
may spread the virus within local tissue.

Establishment of infection at the portal of entry may be followed by continued local virus
multiplication, leading to localized virus shedding and localized disease. In this way,
local sites of implantation also are target organs and sites of shedding in many infections
(Table 45-1). Respiratory tract infections that fall into this category include influenza, the
common cold, and parainfluenza virus infections. Alimentary tract infections caused by
several gastroenteritis viruses (e.g., rotaviruses and picornaviruses) also may fall into this
category. Localized skin infections of this type include warts, cowpox, and molluscum
contagiosum. Localized infections may spread over body surfaces to infect distant
surfaces. An example of this is the picornavirus epidemic conjunctivitis shown in Figure
45-2; in the absence of viremia, virus spreads directly from the eye (site of implantation)
to the pharynx and intestine. Other viruses may spread internally to distant target organs
and sites of excretion (disseminated infection). A third category of viruses may cause
both local and disseminated disease, as in herpes simplex and measles.
FIGURE 45-2 Spread of picornavirus over body surfaces from eye to pharynx and
intestine during natural infection. Local neutralizing antibody activity is shown.
(Adapted from Langford MP, Stanton GJ, Barber JC: Early appearing antiviral activity in
human tears during a case of picornavirus epidemic conjunctivitis. J Infect Dis 139:653,
1979, with permission.)

Dissemination from the Portal of Entry

Dissemination in the Bloodstream

At the portal of entry, multiplying virus contacts pathways to the blood and peripheral
nerves, the principal routes of widespread dissemination through the body. The most
common route of systemic spread of virus involves the circulation (Fig. 45-3 and Table
45-2). Viruses such as those causing poliomyelitis, smallpox, and measles disseminate
through the blood after an initial period of replication at the portal of entry (the
alimentary and respiratory tracts), where the infection often causes no significant
symptoms or signs of illness because the virus kills cells that are expendable and easily
replaced. Virus progeny diffuse through the afferent lymphatics to the lymphoid tissue
and then through the efferent lymphatics to infect cells in close contact with the
bloodstream (e.g., endothelial cells, especially those of the lymphoreticular organs). This
initial spread may result in a brief primary viremia. Subsequent release of virus directly
into the bloodstream induces a secondary viremia, which usually lasts several days and
puts the virus in contact with the capillary system of all body tissues. Virus may enter the
target organ from the capillaries by replicating within a capillary endothelial cell or fixed
macrophage and then being released on the target organ side of the capillary. Virus may
also diffuse through small gaps in the capillary endothelium or penetrate the capillary
wall through an infected, migrating leukocyte. The virus may then replicate and spread
within the target organ or site of excretion by the same mechanisms as for local
dissemination at the portal of entry. Disease occurs if the virus replicates in a sufficient
number of essential cells and destroys them. For example, in poliomyelitis the central
nervous system is the target organ, whereas the alimentary tract is both the portal of entry
and the site of shedding. In some situations, the target organ and site of shedding may be
the same.

Dissemination in Nerves

Dissemination through the nerves is less common than bloodstream dissemination, but is
the means of spread in a number of important diseases (Fig. 45-4). This mechanism
occurs in rabies virus, herpesvirus, and, occasionally, poliomyelitis virus infections. For
example, rabies virus implanted by a bite from a rabid animal replicates subcutaneously
and within muscular tissue to reach nerve endings. Evidence indicates that the virus
spreads centrally in the neurites (axons and dendrites) and perineural cells, where virus is
shielded from antibody. This nerve route leads rabies virus to the central nervous system,
where disease originates. Rabies virus then spreads centrifugally through the nerves to
reach the salivary glands, the site of shedding. Table 45-2 shows other examples of nerve
spread.
FIGURE 45-3 Virus spread through bloodstream during a generalized infection.
Numbers indicate sequence of events.

Incubation Period

During most virus infections, no signs or symptoms of disease occur through the stage of
virus dissemination. Thus, the incubation period (the time between exposure to virus and
onset of disease) extends from the time of implantation through the phase of
dissemination, ending when virus replication in the target organs causes disease.
Occasionally, mild fever and malaise occur during viremia, but they often are transient
and have little diagnostic value.

The incubation period tends to be brief (1 to 3 days) in infections in which virus travels
only a short distance to reach the target organ (i.e., in infections in which disease is due to
virus replication at the portal of entry). Conversely, incubation periods in generalized
infections are longer because of the stepwise fashion by which the virus moves through
the body before reaching the target organs. Other factors also may influence the
incubation period. Generalized infections produced by togaviruses may have an
unexpectedly short incubation period because of direct intravascular injection (insect
bite) of a rapidly multiplying virus. The mechanisms governing the long incubation
period (months to years) of persistent infections are poorly understood. The persistently
infected cell is often not lysed, or lysis is delayed. In addition, disease may result from a
late immune reaction to viral antigen (e.g., arenaviruses in rodents), from unknown
mechanisms in slow viral infections during which no immune response has been detected
(as in the scrapie-kuru group), or mutation in the host genetic material resulting in
cellular transformation and cancer.

FIGURE 45-4 Virus spread through nerves during a generalized infection. Numbers
indicate sequence of events.

Multiplication in Target Organs

Virus replication in the target organ resembles replication at other body sites except that
(1) the target organ in systemic infections is usually reached late during the stepwise
progression of virus through the body, and (2) clinical disease originates there. At each
step of virus progression through the body, the local recovery mechanisms (local body
defenses, including interferon, local inflammation, and local immunity) are activated.
Thus, when the target organ is infected, the previously infected sites may have reached
various stages of recovery. Figure 45-2 illustrates this staging of infection and recovery in
different tissues during a spreading surface infection. Circulating interferon and immune
responses probably account for the termination of viremia, but these responses may be
too late to prevent seeding of virus into the target organ and into sites of shedding.
Nevertheless, these systemic defenses can diffuse in various degrees into target organs
and thereby help retard virus replication and disease.

Depending on the balance between virus and host defenses (see Chs. 49 and 50), virus
multiplication in the target organ may be sufficient to produce dysfunction manifested by
disease or death. Additional constitutional disease such as fever and malaise may result
from diffusion of toxic products of virus replication and cell necrosis, as well as from
release of lymphokines and other inflammatory mediators. Release of leukotriene C4
during respiratory infection may cause bronchospasm. Viral antigens also may participate
in immune reactions, leading to disease manifestations. In addition, impairment of
leukocytes and immunosuppression by some viruses may cause secondary bacterial
infection.

Shedding of Virus

Because of the diversity of viruses, virtually every possible site of shedding is utilized
(Table 45-2); however, the most frequent sites are the respiratory and alimentary tracts.
Blood and lymph are sites of shedding for the arboviruses, since biting insects become
infected by this route. HIV is shed in blood and semen. Milk is a site of shedding for
viruses such as some RNA tumor viruses (retroviruses) and cytomegalovirus (a
herpesvirus). Several viruses (e.g., cytomegaloviruses) are shed simultaneously from the
urinary tract and other sites more commonly associated with shedding. The genital tract is
a common site of shedding for herpesvirus type 2 and may be the route through which the
virus is transmitted to sexual partners or the fetus. Saliva is the primary source of
shedding for rabies virus. Cytomegalovirus is also shed from these last two sites. Finally,
viruses such as tumor viruses that are integrated into the DNA of host cells can be shed
through germ cells.
Congenital Infections

Infection of the fetus is a special case of infection in a target organ. The factors that
determine whether a target organ is infected also apply to the fetus, but the fetus presents
additional variables. The immune and interferon systems of the very young fetus are
immature. This immaturity, coupled with the partial placental barrier to transfer of
maternal immunity and interferon, deprive the very young fetus of important defense
mechanisms. Another variable is the high vulnerability to disruption of the rapidly
developing fetal organs, especially during the first trimester of pregnancy. Furthermore,
susceptibility to virus replication may be modulated by the undifferentiated state of the
fetal cells and by hormonal changes during pregnancy. Although virus multiplication in
the fetus may lead to congenital anomalies or fetal death, the mother may have only a
mild or inapparent infection.

To cause congenital anomalies, virus must reach the fetus and multiply in it, thereby
causing maldeveloped organs. Generally, virus reaches the fetus during maternal viremia
by infecting or passing through the placenta to the fetal circulation and then to fetal target
organs. Sufficient virus multiplication may disrupt development of fetal organs,
especially during their rapid development (the first trimester of pregnancy). Although
many viruses occasionally cause congenital anomalies, cytomegalovirus and rubella virus
are the most common offenders. Virus shedding by the congenitally infected newborn
infant may occur as a result of persistence of the virus infection at sites of shedding.