Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Peritonitis dapat mengenai semua umur dan terjadi pada pria dan wanita.

Penyebab peritonitis sekunder yang bersifat akut tersering pada anak-anak adalah

perforasi apendiks, pada orangtua komplikasi divertikulitis atau perforasi ulkus

peptikum. Komplikasi peritonitis berupa gangguan pembekuan darah, respiratory

distress syndrome, dan sepsis yang dapat menyebabkan syok dan kegagalan

banyak organ (Samuel et al., 2011)

Menurut survei World Health Organization (WHO), kasus peritonitis di

dunia adalah 5,9 juta kasus. Di Republik Demokrasi Kongo, antara 1 Oktober

dan 10 Desember 2004, telah terjadi 615 kasus peritonitis berat (dengan atau

tanpa perforasi), termasuk 134 kematian (tingkat fatalitas kasus, 21,8%), yang

merupakan komplikasi dari demam tifoid (WHO, 2005). Penelitian yang

dilakukan di Rumah Sakit Hamburg-Altona Jerman, ditemukan 73% penyebab

tersering peritonitis adalah perforasi dan 27% terjadi pasca operasi. Terdapat 897

pasien peritonitis dari 11.000 pasien yang ada. Angka kejadian peritonitis di

Inggris selama tahun 2002-2003 sebesar 0,0036% (4562 orang) (Wittman, 2005).

Hasil survey pada tahun 2008 angka kejadian peritonitis di sebagian besar

wilayah Indonesia hingga saat ini masih tinggi. Di Indonesia, jumlah pasien yang

menderita penyakit peritonitis berjumlah sekitar 7% dari jumlah penduduk

Indonesia atau sekitar 179.000 orang (Depkes RI, 2008). Sumatera Barat adalah

salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki data pasien peritonitis yang cukup
tinggi. Berdasarkan hasil data pencatatan dan pelaporan medical record di

seluruh rumah sakit se-Sumatera Barat, tercatat sebanyak 103 orang menderita

peritonitis pada tahun 2012, 98 orang pada tahun 2013, dan sebanyak 105 orang

yang menderita peritonitis di tahun 2014 (Habibie, 2014).

Pada pasien dengan suspek peritonitis, dilakukan anamnesis dan

pemeriksaan fisik yang cermat untuk menegakkan kemungkinan peritonitis dan

menyingkirkan diagnosis banding yang lain. Beberapa hasil pemeriksaan fisik

yang mengarah pada diagnosis klinis peritonitis diantaranya adalah distensi

abdomen, abdominal tenderness, muscle guarding, bising usus menurun sampai

menghilang. Pada pasien dengan diagnosis klinis peritonitis, perlu dilakukan

beberapa pemeriksaan penunjang untuk mengkonfirmasi diagnosis klinis yang

telah dibuat. Pemeriksaan penunjang terdiri dari pemeriksaan radiologi, dan

pemeriksaan laboratorium. Setelah dilakukan pemeriksaan pasien di pasangkan

NGT dan kateter urine kemudian berikan antibiotic yang sesuai

(http://dokterpost.com/algoritma-tatalaksana-peritonitis-pada-pasien-dewasa/).

Pasien dengan diagnosa medis peritonitis memerlukan dorongan serta

dukungan pada saat dilakukannya pemeriksaan fisik baik secara psikis atau yang

lainnya untuk meneliti beberapa kemungkinan terjadi suatu kejadian yang tidak

diharapkan. Kita sebagai perawat harus menjelaskan kepada pasien beserta

anggota keluarganya mengenai perawatan tindak lanjut dan berbagai tindakan

darurat yang harus dilakukan kepada pasien tersebut.


Berdasarkan kejadian tersebut, maka kami tertarik untuk membahas hal

ini, serta sebagai tugas dalam makalah Keperawatan Kegawatdaruratan Asuhan

Keperawatan Peritonitis.
B. TUJUAN PENGKAJIAN

1. Tujuan Umum

Mahasiwa mampu memahami dan melakukan Asuhan Keperawatan pada

pasien dengan Peritonitis

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu memahami konsep Peritonitis

b. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada Tn. Y dengan

Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi

c. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa keperawatan pada Tn. Y

dengan Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi

d. Mahasiswa mampu membuat intervensi keperawatan pada Tn. Y dengan

Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi

e. Mahasiswa mampu melakukan implementasi keperawatan pada Tn. Y

dengan Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi

f. Mahasiswa mampu membuat evaluasi keperawatan pada Tn. Y dengan

Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi

g. Mahasiswa mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada Tn.

Y dengan Peritonitis di Ruang IGD RSAM Bukittinggi


DAFTAR PUSTAKA

Alvarino, Zahari A. Tuberculosa intra abdominal. MKA. 2003;1(27):29-34

Daldiyono, Syam AF. Nyeri abdomen akut. Dalam: Sudoyo AW, Setyohadi B, Alwi

I, Simadibrata M, Setiati S, editor (penyunting). Buku ajar ilmu penyakit

dalam. Edisi ke-5 Jilid ke-1. Jakarta: Interna Publishing; 2010. hlm. 474-6.

Gearhart SL, Silen W. Acute appendisitis and peritonitis. Dalam: Fauci A, Braunwald

E, Kasper D, Hauser S, Longo D, Jameson J, et al, editor (penyunting).

Harrison’s principal of internal medicine. Edisi ke-17 Volume II. USA:

McGrawHill; 2008. hlm. 1916-7.

Ridad MA. Infeksi. Dalam: R. Sjamsuhidajat, editor (penyunting). Buku ajar ilmu

bedah Sjamsuhidajatde jong. Edisi ke-3. Jakarta: EGC; 2007. hlm.52.

Samuel JC, Qureshi JS, Mulima G, Shores CG, Cairns BA, Charles AG. An

observational study of the etiology, clinical presentation, and outcomes

associated with peritonitis in lilongwe, malawi. World Journal of Emergency

Surgery. 2011: 6-38

Wittman DH. Intra abdominal infections. New York: Marcel Dekker INC; 1991.

World Health Organization. Typhoid fever, Democratic Republic of the Kongo.

Weekly Epidemiological Record. 2005; 1(80):1-8.

Anda mungkin juga menyukai