Anda di halaman 1dari 21

Komplikasi awal fraktur

1. Syok
Syok terjadi karena kehilangan banyak darah dan meningkatnya permeabilitas
kapiler yang bias menyebabkan menurunnya oksigenasi. Hal ini biasanya
terjadi pada fraktur, pada kondisi tertentu terjadi syok neurogenic pada fraktur
femur karena rasa sakit yang hebat pada pasien
2. Kerusakan arteri
Pecahnya arteri karena trauma bias ditandai oleh; tidak adanya nadi; CRT
(Capillary Refill Time) menurun; sianosis distal; hematoma yang lebar; serta
dingin pada ekstremitas yang disebabkan oleh tindakan emergensi pembidaian;
perubahan posisi pada yang sakit; tindakan reduksi dan pembedahan
3. Sindrom kompartemen
Adalah suatu kondisi dimana terjebaknya otot, tulang, saraf dan pembuluh
darah dalam jaringan parut akibat suatu pembengkakan dari edema atau
hematoma yang menekan otot, syaraf, dan pembuluh darah. Kondisi sindrom
kompartemen akibat komplikasi fraktur hanya terjadi pada fraktur yang dekat
dengan persendian dan jarang terjadi pada bagian tengah tulang. Tanda khas
untuk sindrom kompartemen adalah 5 P (pain/ nyeri local, pallor/ pucat,
parestesi/tidak ada sensasi, pulslessness/ tidak ada denyut nadi , perubahan
nadi , perfusi yang kurang baik pada bagian distal, CRT > 3 detik pada bagian
distal kaki, paralysis/kelumpuhan tungkai)
4. Infeksi
System pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma
ortopedik infeksi dimulai pada kulit (superfisial) dan masuk ke dalam. Hal ini
biasanya terjadi karena kasus fraktur terbuka, tapi bias juga karena penggunaan
bahan lain dalam pembedahan seperti pin (ORIF dan OREF) atau plat.
5. Avaskular Nekrosis
Terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang bias
menyebabkan nekrosis tulang dan diawali dengan adanya Volkmanns ischemia.
6. Sindrom emboli lemak
Adalah suatu komplikasi serius yang sering terjadi pada fraktur tulang panjang.
FES terjadi karena sel –sel lemak yang dihasilkan sumsum tulang kuning masuk
pada aliran darah dan menyebabkan tingkat oksigen dalam darah rendah yang
ditandai dengan gangguan pernapasan, takikardi, hipertensi, takipneu, dan
demam.

Komplikasi lama
1. Delayed union
Kegagalan fraktur berkonsolidasi sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang
untuk menyatu kembali / tersambung dengan baik. Ini disebabkan karena
penurunan suplai darah ke tulang. Delayed union adalah fraktur yang tidak
sembuh setelah selang waktu 3- 5 bulan (3 bulan untuk anggota gerak atas dan
5 bulan untuk anggota gerak bawah
2. Non union
Apabila fraktur tidak sembuh dalam waktu antara 6-8 bulan dan tidak terjadi
konsolidasi sehingga dapat pseudoartrosis . pseudoartrosis dapat terjadi dengan
infeksi maupun tidak dengan infeksi.
3. Mal union
Keadaan dimana fraktur sembuh pada saatnya tetapi terdapat deformitas yang
berbentuk angulasi, varus/valgus, pemendekan, atau menyilang misalnya
fraktur radius ulna.

FRAKTUR SERVIKAL C3-C7


Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang,
sedangkan menurut Doengoes (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.
Sehingga fraktur servikal adalah terpisahnya kontinuitas tulang pada vertebra
servikalis.
Fraktur servikal pang sering disebabkan oleh benturan kuat, atau trauma pukulan di
kepala. Atlet yang terlibat dalam olahraga impact, atau berpartisipasi dalam olahraga
memiliki resiko jatuh akibat benturan di leher (ski, menyelam, sepak bola, bersepeda)
terkait dengan fraktur servikal. Setiap cedera kepala atau leher harus dievaluasi adanya
fraktur servikalis. Sebuah fraktur servikal merupakan suatu keadaan kedaruratan medis
yang membutuhkan perawatan segera. Spine trauma mungkin terkait cedera saraf
tulang belakang dan dapat mengakibatkan kelumpuhan, sehingga sangat penting untuk
menjaga leher.
B. KLASIFIKASI TRAUMA SERVIKAL
1. Klasifikasi berdasarkan mekanisme trauma
a. Trauma hiperfleksi
1) Subluksasi anterior
Terjadi robekan pada sebagian ligament di posterior tulang leher; ligament longitudinal
anterior utuh. Termasuk lesi stabil. Tanda penting pada subluksasi anterior adalah
adanya angulasu ke posterios (kifosis) local pada tempat kerusakan ligament. Tanda
tanda lainnya: jarak yang melebar antara prosesus spinosus, dan subluksasi sendi
apofiseal.
2) Bilateral interfacetal dislocation Terjadi robekan pada ligament longitudinal anterios
dan kumpulan ligament di posterior tulang leher. Lesi tidak stabil. Tampak dislokasi
anterior korpus vertebrae. Dislokasi total sendi apofiseal.
3) Flexion tear drop fracture dislocation Tenaga fleksi murni ditambah komponen
kkompresi menyebabkan robekan pada ligament longitudinal anterior dan kumoulan
ligament posterior disertai fraktur avulse pada bagian anteroinferior konspur vertebra.
Lesi tidak stabil. Tampak tulang servikal dalam fleksi: fragmen tulang berbentuk
segitiga pada bagian antero-inferior korpus vertebrae, pembengkakan jaringan lunak
pravertebral.
4) Wedge fracture Vertebra terjept sehingga berbentuk baji. Ligament longitudinal
anterior dan kumoulan ligament posterior utuh sehingga lesi ini bersifat stabil.
5) Clay shovelers fracture Fleksi tulang leher dimana terdapat kontraksi ligament
posterior tulang leher mengakibatkan terjadinya fraktur oblik pada prosesus spinosus;
biasanya pada C4-C7 atau Th1.
b. Trauma fleksi rotasi
Terjadi dislokasi interfacetal pada satu sisi. Lesi stabil walaupun terjadinya kerusakan
pada ligament posterior termasuk kapsul sendi apofiseal yang bersangkutan dan
vertebra proksimalnya dalam posisi oblik, sedangkan distalnya tetap dalam posisi
lateral.

c. Trauma hiperkstensi
1) Fraktur dislokasi hiperekstensi Dapat terjadi fraktur pedikel, prosesus artikularis,
lamina dan prosesu spinosus. Fraktur avulse korpus vertebra bagian posteroinferior.
Lesi tidak stabil karena terdapat kerusakan pada elemen posterior tulang leher dan
ligament yang bersangkutan.
2) Hangmans fracture Terjadi fraktur arkus bilateral dan silokasi anterior C2 terhadap
C3.

d. Ekstensi rotasi Terjadinya fraktur pada prosesus artikularis satu sisi.

e. Kompresi vertical Terjadinya fraktur ini akibat diteruskannya tenaga trauma melalui
kepala, kondilus oksipitalis, ke tulang leher.

2. Klasifikasi berdasar derajat kestabilan


a. Stabil
b. Tidak stabil
Stabilitas dalam hal trauma tulang servikal dimaksudkan tetap utuhnya kkomponen
ligament-skeletal pada saat terjadinya pergeseran satu segmen tulang leher terhadap
lainnya.
Cedera dianggap stabil jika bagian yang terkena tekanan hanya bagian medulla spinalis
anterior, komponen vertebral tidak bergeser dengan pergerakan normal, ligament
posterior tidak rudak sehingga medulla spinalis tidak terganggu, fraktur kompresi dan
burst fraktur adalah contoh cedera stabil. Cedera tidak stabil artinya cedera yang dapat
bergeser dengan gerakan normal karena ligament posteriornya rusak atau robek, fraktur
medulla spinalis disebut fraktur tidak stabil jika kehilangan integritas dari ligament
posterior.

Menentukan stabil atau tidaknya fraktur membutuhkan pemeriksaan radiografi.


Pemeriksaan radiografi minimal ada 4 posisi yaitu

anteroposterior, lateral, oblik kanan dan akiri. Dalam menilai stabilitas vertebra, ada
tiga unsur yang harus dipertimbangkan yaitu kompleks posterior (kolumna posterior),
kompleks media dan kompleks anterior (kolumna anterior).

C. JENIS FRAKTUR SERVIKAL Jenis fraktur daerah servikal, sebagai berikut:


1. Fraktur atlas C1 Fraktur ini terjadi pada kecelakaan jatuh dari ketinggian dan posisi
kepala menopang badan dan daerah servical mendapat tekanan hebat. Condylus
occipitalis pada basis crani dapat menghancurlan cincin tulang atlas. Jika tidak ada
cedera angulasi dan rotasi maka pergeseran tidak berat dan medulla spinalis tidak ikut
cedera. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan adalah posisi anteroposterior dengan
mulut pasien dalam keadaan terbuka.

Terapi untuk fraktur tipe stabil seperti fraktur atlas ini adalah immobilisasi servical
dengan collar plaster selama 3 bulan.
2. Pergeseran C1 C2 (Sendi Atlantoaxial) Atlas dan axis dihubungkan dengan
ligamentum tranversalis dari atlas yang menyilang di belakang prosesus odontoid pada
axis. Dislokasi sendi atlantoaxial dapat mengakibatkan arthritis rheumatoid karena
adanya perlunakan kemudian aka nada penekanan ligamentum tranversalis.

Fraktur dislokasi termasuk fraktur basis prosesus odontoid. Umunya ligamentum


tranversalis masih utuh dan prosesus odontoid pindah dengan atlas dan dapat menekan
medulla spinalis. Terapi utnuk fraktur tidak bergeser yaitu imobilisasi vertebra
cervical. Terapi utnuk fraktur geser atlantoaxial adalah reduksi dengan traksi continues.

3. Fraktur kompresi corpus vertebral Tipe kompresu lebih sering tanpa kerusakan
ligamentum spinal namun dapt mengakibatkan kompresi corpus vertebralis. Sifat
rafktur ini adalah tipe tidak stabil. Terapi untuk fraktur tipe ini adalah reduksi dengan
plastic collar selama 3 minggu (masa penyembuhan tulang).

4. Flexi subluksasi vertebral cervical Fraktur ini terjadi saat pergerakan kepala kearah
depan yang tiba-tiba sehingga terjadi deselerasi kepala karena tubrukan atau dorongan
pada kepala bagian belakang, terjadi vertebra yang miring ke depan diatas vertebra
yang ada dibawahnya, ligament posterior dapat rusak dan fraktur ini singkat disebut
subluksasi, medulla spinalis mengalami kontusio dalam waktu singkat.

Tindakan yang diberikan untuk fraktur tipe ini adalah ekstensi cervical dilanjutkan
dengan imobilisasi leher terkekstensi dengan collar selama 2 bulan.
5. Flexi dislokasi dan fraktur dislokasi cervical Cedera ini lebih berat disbanding fleksi
subluksasi. Mekanisme terjadinya fraktur hamper sama dengan fleksi subluksasi,
posterior ligament robek dan posterior facet pada satu atau kedua sisi kehilangan
kestabilannya dengan bangunan sekitar. Jikla dislokasi atau fraktur dislokasi pada C7
– Th1 maka posisi ini sulit dilihat dari posisi foto lateral maka posisi yang terbaik untuk
radiografi adalah “swimmer projection”

Tindakan yang dilakukan adalah reduksi fleksi dislokasi ataupun fraktur dislokasi dari
fraktur cervical termasuk sulit namun traksi skull continu dapat dipakai sementara.

6. Ekstensi sprain (kesleo) cervical (Whiplash injury) Mekanisme cedera pada jaringan
lunak yang terjadu bila leher tiba-tiba tersentakl ke dalam hiperekstensi. Biasanya
cedera ini terjadi setelah tertabrak dari belakang; badan terlempar ke depan dan kepala
tersebtak ke belakang. Terdapat ketidaksesuaian mengenai patologi yang tepat tetapi
kemungkinan ligament longitudinal anterior meregang atau robek dan diskus mungkin
juga rusak.

Pasien mengelih nyeri dan kekakuan pada leher, yang refrakter dan bertahan selam
asetahun atau lebih lama. Keadaan ini sering disertai dengan gejala lain yang lebih
tidak jelas, misalnya nyeri kepala, pusing, depresi, penglihatan kabur dan rasa baal atau
parestesia pada lengan. Biasanya tidak terdapat tanda-tanda fisik, dan pemeriksaan
dengan sinar-X hanya memperlihatkan perubahan kecil pada postur. Tidak ada bentuk
terapi yang telah terbukti bermanfaat, pasien diberikan analgetik dan fisioterapi.
7. Fraktur pada cervical ke-7 (Processus Spinosus) Prosesus spinosus C7 lebih panjang
dan prosesus ini melekat pada otot. Adanya kontraksi otot akibat kekerasan yang
sifatnya tiba-tiba akan menyebabkan avulse prosesus spinosus yang disebut “clay
shoveler’s fracture”. Fraktur ini nyeri tapi tak berbahaya.

D. ANATOMI FISIOLOGI Columna Vertebralis adalah pilar utama tubuh yang


berfungsi melindungi medula spinalis dan menunjang berat kepala serta batang tubuh,
yang diteruskannya ke lubang-lubang paha dan tungkai bawah. Masing-masing tulang
dipisahkan oleh disitus intervertebralis.

Vertebralis dikelompokkan sebagai berikut: 1. Vertebrata servikalis Vertebrata


cervikalis kedua (axis) ini memiliki dens, yang mirip dengan pasak. Veterbrata
cervitalis ketujuh disebut prominan karena mempunyai prosesus spinasus paling
panjang. Berjumlah 7 buah.
2. Vetebrata Thoracalis (atlas) Vetebrata Thoracalis mempunyai ciri yaitu tidak
memiliki corpus tetapi hanya berupa cincin tulang. Ukurannya semakin besar mulai
dari atas kebawah. Corpus berbentuk jantung, berjumlah 12 buah yang membentuk
bagian belakang thorax. 3. Vertebrata Lumbalis Corpus setiap vertebra lumbalis
bersifat masif dan berbentuk ginjal, berjumlah 5 buah yang membentuk daerah
pinggang, memiliki corpus vertebra yang besar ukurannya sehingga pergerakannya
lebih luas kearah fleksi. 4. Os. Sacrum Terdiri dari 5 sacrum yang membentuk sakrum
atau tulang kengkang dimana ke 5 vertebral ini rudimenter yang bergabung yang
membentuk tulang bayi. 5. Os. Coccygis Terdiri dari 4 tulang yang juga disebut ekor
pada manusia, mengalami rudimenter. Lengkung koluma vertebralis.kalau dilihat dari
samping maka kolumna vertebralis memperlihatkan empat kurva atau lengkung
anteropesterior : lengkung vertikal pada daerah leher melengkung kedepan daerah
torakal melengkung kebelakang, daerah lumbal kedepan dan daerah pelvis melengkung
kebelakang. Kedua lengkung yang menghadap pasterior, yaitu torakal dan pelvis,
disebut promer karena mereka mempertahankan lengkung aslinya kebelakang dari
hidung tulang belakang, yaitu bentuk (sewaktu janin dengna kepala membengkak ke
bawah sampai batas dada dan gelang panggul dimiringkan keatas kearah depan badan.
Kedua lengkung yang menghadap ke anterior adalah sekunder → lengkung servikal
berkembang ketika kanak-kanak

mengangkat kepalanya untuk melihat sekelilingnya sambil menyelidiki, dan lengkung


lumbal di bentuk ketika ia merangkak, berdiri dan berjalan serta mempertahankan
tegak.
Fungsi dari kolumna vertebralis. Sebagai pendukung badan yang kokoh dan sekaligus
bekerja sebagai penyangga kedengan prantaraan tulang rawan cakram intervertebralis
yang lengkungnya memberikan fleksibilitas dan memungkinkan membonkok tanpa
patah. Cakramnya juga berguna untuk menyerap goncangan yang terjadi bila
menggerakkan berat badan seperti waktu berlari dan meloncat, dan dengan demikian
otak dan sumsum belkang terlindung terhadap goncangan. Disamping itu juga untuk
memikul berat badan, menyediakan permukaan untuk kartan otot dan membentuk tapal
batas pasterior yang kukuh untuk rongga-rongga badan dan memberi kaitan pada iga
(Evelyn. C. Pearch, 1997).

Medulla spinalis atau sumsum tulang belakang bermula ada medula oblongata,
menjulur kearah kaudal melalu foramen magnum dan berakhir diantara vertebra-
lumbalis pertama dan kedua. Disini medula spinalis meruncing sebagai konus
medularis, dna kemudian sebuah sambungan tipis dasri pia meter yang disebut filum
terminale, yang menembus kantong durameter, bergerak menuju koksigis. Sumsum
tulang belakang yang berukuran panjang sekitar 45 cm ini, pada bagian depannya
dibelah oleh figura anterior yang dalam, sementara bagian belakang dibelah oleh
sebuah figura sempit.

Pada sumsum tulang belakang terdapat dua penebalan, servikal dan lumbal. Dari
penebalan ini, plexus-plexus saraf bergerak guna melayani anggota badan atas dan
bawah : dan plexus dari daerah thorax membentuk saraf-saraf interkostalis. Fungsi
sumsum tulang belakang mengadakan komunikasi antara otak dan semua bagian tubuh
dan bergerak refleks.

Untuk terjadinya geraka refleks, dibutuhkan struktur sebagai berikut : 1. Organ


sensorik : menerima impuls, misalnya kulit 2. Serabut saraf sensorik ; mengantarkan
impuls-impuls tersebut menuju selsel dalam ganglion radix pasterior dan selanjutnya
menuju substansi kelabu pada karnu pasterior mendula spinalis.
3. Sumsum tulang belakang, dimana serabut-serabut saraf penghubung menghantarkan
impuls-impuls menuju karnu anterior medula spinalis. 4. Sel saraf motorik ; dalam
karnu anterior medula spinalis yang menerima dan mengalihkan impuls tersebut
melalui serabut sarag motorik. 5. Organ motorik yang melaksanakan gerakan karena
dirangsang oleh impuls saraf motorik. 6. Kerusakan pada sumsum tulang belakang
khususnya apabila terputus pada daerah torakal dan lumbal mengakibatkan (pada
daerah torakal) paralisis beberapa otot interkostal, paralisis pada otot abdomen dan
otot-otot pada kedua anggota gerak bawah, serta paralisis sfinker pada uretra dan
rektum.

E. EPIDEMIOLOGI Kecelakaan merupakan penyebab kematian ke empat, setelah


penyakit jantung, kanker dan stroke, tercatat 50 meningkat per 100.000 populasi tiap
tahun, 3 % penyebab kematian ini karena trauma langsung medula spinalis, 2% karena
multiple trauma. Insidensi trauma pada laki-laki 5 kali lebih besar dari perempuan.
Ducker dan Perrot melaporkan 40% spinal cord injury disebabkan kecelakaan lalu
lintas, 20% jatuh, 40% luka tembak, sport, kecelakaan kerja. Lokasi fraktur atau fraktur
dislokasi cervical paling sering pada C2 diikuti dengan C5 dan C6 terutama pada usia
dekade 3.

F. ETIOLOGI Penyebab trauma tulang belakang adalah kecelakaan lalu lintas (44%),
kecelakaan olah raga (22%), terjatuh dari ketinggian (24%), dan kecelakaan kerja.
Lewis (2000) berpendapat bahwa tulang bersifat relative rapuh namun mempunyai
cukup kekuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan. Fraktur dapat diakibatkan
oleh beberapa hal, yaitu: a. Fraktur akibat peristiwa trauma Sebagian fraktur
disebabkan oleh kekuatan yang tiba-tiba berlebihan yang dapat berupa pemukulan,
penghancuran, perubahan pemuntiran atau penarikan. Bila tekanan kekuatan langsung
tulang daoat oatah pada temoat yang terkena dan jaringan lunak juga pasti akan ikut
rusak. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur llunak juga pasti akan ikut rusak.
Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang dan kerusakan pada kulit
diatasnya. Penghancuran kemungkinan akan menyebabkan fraktur komunitif disertai
kerusakan jaringan lunak yang luas. b. Fraktur akibat peristiwa kelelahan atau tekanan
Retak dapat terjadi pada tulang seperti halnya pada logam dan benda lain akibat
tekanan berulang-ulang. Keadaan ini paling sering dikemukakan pada tibia, fibula atau
metatarsal terutama pada atlet, penari atau calon tentara yang berjalan baris-berbaris
dalam jarak jauh. c. Fraktur patologik karena kelemahan pada tulang Fraktur dapat
terjadi oleh tekanan yang normal kalau tulang tersebut lunak (misalnya oleh tumor)
atau tulang-tulang tersebut sangat rapuh.
H. TANDA DAN GEJALA 1. Nyeri pada leher atau tulang belakang . 2. Nyeri tekan
ketika dilakukan palpasi disepanjang tulang belakang. 3. Paralisis atau hasil
pemeriksaan fungsi motorik abnormal. 4. Parestesia. 5. Priapisme. 6. Pernafasan
diafragma. 7. Renjatan neurogenik.

Hal yang perlu di observasi adalah tekanan darah, status pernapasan, dan cidera
sistemik. 1. Trauma kaudal servikalis dan torakalis tinggi, menyebabkan hipotensi
ringan dan bradikardi (simpatektomi fungsional yang berespon terhadap infuse
kritaloid atau koloid). 2. Pemeriksaan neurologik pada pasien sadar di pusatkan pada
nyeri leher atau punggung, hilangnya tenaga ekstermitas, tingkat sensoris dari tubuh,
reflek tendon dalam (biasanya tidak ada dibawah tingkat cedera kode akut). 3. Cedera
di atas servikalis 5, menyebabkan quadriplegi dan gagal pernapasan. 4. Pada C 5 dan
C 6 bisep lemah, C4 dan C5 deltoideus dan supra serta infraspinatus lemah. 5. Cedera
C 7, menyebabkan kelemahan trisep, ekstensor pergelangan tangan dan pronator
lengan bawah. 6. Cedera T 1 dan dibawahnya menyebabkan paraplegi dan hilang
sensoris. 7. Kompresi pada region torak bawah dan lumbalis menyebabkan konus
medularis atau sindrom kauda equina. 8. Dislokasi hiperrefleksi dari vertebra servikalis
menyebabkan kuadriplegia traumatik.
9. Fraktur kompresi tunggal dari vertebra torakis biasanya stabil tapi dapat berkaitan
dengan kompresi kauda anterior dan membutuhkan dekrompesi dan stabilisasi dengan
pemasangan batang metal. 10. Kompresi singkat dari kauda servikasli dan rusaknya
substansia grisea sentralis terjadi kelemahan lengan, sering dengan hilangnya sensasi
tusukan tajam pada lengan dan bahu, tenaga dan sensasi pada tubuh dan tungkai
berkurang. Abnormalitas fungsi kandung kemih bervariasi. Dan prognosis
kesembuhannya baik.

I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Sinar X spinal Menentukan lokasi dan jenis


cedera tulan (fraktur, dislokasi), untuk kesejajaran, reduksi setelah dilakukan traksi
atau operasi. 2. CT SCAN Menentukan tempat luka / jejas, mengevaluasi ganggaun
struktural 3. MRI Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi
4. Mielografi. Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor
putologisnya tidak jelas atau dicurigai adannya dilusi pada ruang sub anakhnoid
medulla spinalis (biasanya tidak akan dilakukan setelah mengalami luka penetrasi). 5.
Foto rontgen torak, memperlihatkan keadan paru (contoh : perubahan pada diafragma,
atelektasis) 6. Pemeriksaan fungsi paru (kapasitas vita, volume tidal) : mengukur
volume inspirasi maksimal khususnya pada pasien dengan trauma servikat bagian
bawah atau pada trauma torakal dengan gangguan pada saraf frenikus /otot interkostal).
7. GDA : Menunjukan kefektifan penukaran gas atau upaya ventilasi (Marilyn E.
Doengoes, 2000)
J. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pertama trauma medula spinalis adalah
imobilisasi eksternal untuk stabilisasi sementara, traksi untuk mendapatkan atau
mempertahankan alignment yang baik, dan farmakoterapi untuk meminimalisasi
cedera sekunder. Setelah transportasi dan evaluasi awal telah lengkap,
extendedexternal fixation atau intervensi bedah dapat dikerjakan. Terakhir, disfungsi
yang berhubungan dapat direhabilitasi. 1. Imobilisasi dan traksi. Halo vest (Gambar 2)
sering digunakan sebagai alat definitif untuk cedera spina servikal. Philadelphia collar
bersifat semirigid, sintetik foam brace dimana pada dasarnya membatasi fleksi dan
ekstensi tetapi membebaskan rotasi. Miami-J collar bersifat mirip tetapi lebih kaku dan
lebih nyaman untuk sandaran.

Brace yang secara adekuat melakukan imobilisasi fraktur spina servikal adalah
thermoplastic Minerva body jaket (TMBJ) dan halo vest. TMBJ lebih baik dalam
membatasi fleksi dan ekstensi dan lebih nyaman dibandingkan halo vest sedangkan
halo vest lebih bagus dalam membatasi rotasi dibandingkan TMBJ.
2. Farmakoterapi a. Farmakoterapi standar pada trauma medula spinalis berupa

metilprednisolon 30 mg/kgBB secara bolus intravena, dilakukan pada saat kurang dari
8 jam setelah cedera. Jika terapi tersebut dapat dilakukan pada saat kurang dari 3 jam
setelah cedera, terapi tersebut dilanjutkan dengan metilprednisolon intravena kontinu
dengan dosis 5,4 mg/kgBB/jam selama 23 jam kemudian. Jika terapi bolus
metilprednisolon dapat dikerjakan pada waktu antara 3 hingga 8 jam setelah cedera
maka terapi tersebut dilanjutkan dengan

metilprednisolon intravena kontinu dengan dosis 5,4 mg/kgBB/jam selama 48 jam


kemudian. Terapi ini efektif dimana terjadi peningkatan fungsi sensorik dan motorik
secara signifikan dalam waktu 6 minggu pada cedera parsial dan 6 bulan pada cedera
total. Efek dari metilprednisolon ini kemungkinan berhubungan dengan efek inhibisi
terhadap peroksidasi lipid dibandingkan efek glukokortikoid. b. Antasid atau H2
antagonis ditujukan untuk mencegah iritasi atau ulkus lambung.

Menurut Harrison (2000), setiap pasien dengan cedera kepala berat, secara potensial
berhubungan dengan ketidakstabilan kolumnar spinalis. Perawatan pasien dimulai pada
tempat kecelakaan. Leher harus diimobilasasi untuk mencegah kerusakan medulla
spinalis, harus diperhatikan selama pemindahan, pemeriksaan fisik, dan radiologi,
untuk mencegah ekstensi leher atau rotasi dan mencegah torsi rotasi dari vertebra
torakalis.
K. PROGNOSIS Dari riwayatnya, banyak diantara korban trauma medula spinalis
meninggal akibat komplikasi respirasi. Perbaikan pada sistem penanganan trauma,
telah menurunkan angka komplikasi dan meningkatkan angka keberhasilan.
Keberhasilan dan kualitas hidup pasien bergantung pada perawatan kedaruratan yang
didapatkan. Pengenalan dan perawatan awal akan mempertahankan rehabilitasi yang
optimal.

L. KOMPLIKASI Pasien dengan trauma medula spinalis sering mengalami cedera


multipel. Perlu untuk mempertahankan volume intravaskular dengan aliran darah yang
optimal yang ditunjukkan oleh nilai hematokrit antara 30-34%. Hiperpireksia perlu
dikontrol secara agresif untuk mencegah cedera spinal lebih lanjut. Terjadinya demam
berdasarkan studi berhubungan dengan saluran kencing atau infeksi jaringan ikat.