Anda di halaman 1dari 10

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/324531729

Kajian Awal Geoteknik Untuk Rekomendasi Rancangan Geometri Lereng


Tambang

Article · May 2017

CITATIONS READS

0 1,203

5 authors, including:

Tengku Tibri M. Eka Onwardana


Institut Teknologi Medan Institut Teknologi Medan
4 PUBLICATIONS   0 CITATIONS    2 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE SEE PROFILE

Edi Yasa Ardiansyah


Medan Institute of Technology
6 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Dewatering System View project

Mineral Exploration View project

All content following this page was uploaded by Tengku Tibri on 15 April 2018.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Prosiding Seminar Nasional “Gempa Sumatera Utara: Resiko dan Antisipasinya”

KAJIAN AWAL GEOTEKNIK UNTUK REKOMENDASI RANCANGAN


GEOMETRI LERENG TAMBANG DI KECAMATAN KUTAMBARU
KABUPATEN LANGKAT SUMATERA UTARA
(Review Gempa bumi 16 Januari 2017)

Tengku Tibri1, M. Eka Onwardana2, Edi Yasa Ardiansyah3 dan Nurul Ikhsan Siregar4
1,2,3
Dosen Jurusan Teknik Pertambangan Institut Teknologi Medan (ITM)
4
Alumni Jurusan Teknik Pertambangan ITM

ABSTRAK
Tahapan-tahapan eksplorasi detail terhadap cadangan batu kapur (batu gamping) sebagai
bahan baku semen telah dilakukan. Pada tahapan detail diperlukan kajian awal geoteknik
dalam rangka melakukan rancangan dan rencana penambangan. Kegiatan geoteknik yang
dilakukan meliputi pengambilan perconto batuan di lapangan dan pengujian perconto di
laboratorium. Dari hasil uji laboratorium akan diperoleh properties batuan yang digunakan
sebagai data masukan dalam perhitungan analisis kemantapan (FK : Faktor Keamanan)
lereng dengan bantuan program Slide 6.0 dari Rocscience.
Analisis lereng yang dilakukan terhadap individual slope dan overall slope dengan kondisi
lereng kering, ½ jenuh dan jenuh. Data dan analisis lereng tersebut untuk memperoleh
rancangan geometri lereng. Perhitungan tinggi lereng ditentukan dari sudut geser dalam (φ)
o o
= 22,24 dan sudut lereng sebesar 60 , sehingga diperoleh acuan dasar tinggi lereng
keseluruhan setinggi 80 m. Kemudian nilai-nilai geometri lereng disimulasikan dengan Slide
o o o
6.0 pada sudut lereng 60 , 70 dan 80 dengan tinggi lereng 8 m dan 10 m.
Hasil program Slide V. 6.0. merekomendasikan rancangan geometri lereng individual slope;
o
tinggi lereng 10 m dengan sudut lereng 70 . Hal ini memberikan nilai faktor keamanan
batugamping; FK = 1,303 (jenuh), FK = 1,401 (½jenuh) FK = 1,418 (kering). Kemudian untuk
overall slope diperoleh FK = 1,419 (½jenuh) dan FK = 1,528 (kering) dengan sudut lereng
o
keseluruhan 56 . Namun pada kondisi lereng jenuh nilai FK = 0,594 dan FK = 0,56 baik pada
tinggi lereng tunggal 8 m dan 10 m dalam multi bench, maka pada kondisi ini dapat
dikatakan lereng tersebut tidak aman, sehingga sangat perlu dilakukan penguatan lereng
dan permodelan FEM lebih lanjut dengan memasukkan parameter gempa.
Dari peta terlihat bahwa lokasi penelitian terdapat pada daerah rawan gempa. Analisis
sumber gempabumi Deli Serdang/Karo, 16 Januari 2017 (BMKG,2017) menunjukkan bahwa
lokasi penelitian berjarak ± 57 km dari pusat gempa dengan mangnitude 5,6 Skala Ritcher.

Kata kunci: geometri lereng, slope, Slide 6.0, faktor keamanan (FK) dan gempa

1. PENDAHULUAN

Kebutuhan semen di Indonesia semakin lama semakin meningkat, khususnya di Sumatera Utara
(Sumut). Pada tahun 2008 kebutuhan semen di Sumut sebesar 2.181.622 ton/pertahun,
selanjutnya pada tahun 2012 meningkat menjadi 2.926.209 ton/pertahun. Sehingga dapat
dikalkulasikan bahwa peningkatan kebutuhan semen di Sumut rata-rata 7% pertahun.
Berdasarkan kebutuhan semen dan potensi cadangan batugamping di Sumut, maka perlu
dilakukan penelitian untuk mengantisipasi kebutuhan semen pada masa-masa yang akan datang.
Penelitian ini dilakukan di Desa Sulkam, Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat Provinsi

1,2,3
tengkutibri71@gmail.com hp.081362074094
Sumatera Utara. Dalam kegiatan ini tentunya harus dilakukan secara bertahap, seperti tahapan
eksplorasi pendahuluan, penelitian detail hingga kegiatan studi kelayakan.
Pada tahun 2013 penelitian telah memasuki tahapan studi kelayakan. Selanjutnya harus
dilaksanakan kajian geoteknik untuk rancangan geomeri lereng dalam rangka menunjang aktivitas
penambangan. Aktivitas ini bertujuan untuk menentukan nilai-nilai kemiringan lereng, tinggi
lereng, potensi longsoran dan kemantapan lereng, baik individual slope maupun overall slope.

Tinjauan Umum Daerah Penelitian

Lokasi penelitian berada di Desa Sulkam Tepatnya Kecamatan Kutambaru Kabupaten Langkat
Provinsi Sumatera Utara. Lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat dengan waktu
kurang lebih 4 jam dari Kota Medan. Dengan posisi geografis pada 98O17’19,5” – 98O17’14,9” BT
dan 3O38’53,9” – 3O40’06,8” LU (Gambar 1).

Gambar 1. Peta Topografi Daerah Sulkam Sumut dan lokasi Penelitian

Morfologi daerah penyelidikan umumnya dapat dikelompokkan menjadi tiga satuan morfologi
yaitu : Satuan morfologi dataran menempati sekitar 15%, umumnya merupakan lahan
persawahan dan tempat pemukiman penduduk. Satuan morfologi perbukitan bergelombang
sedang menempati sekitar 40% daerah penyelidikan, terletak di sekitar tekuk lereng kaki bukit,
umumnya berupa lahan perkebunan dan sedikit persawahan serta pemukiman penduduk.
Mempunyai rata-rata ketinggian sekitar 500 sampai 1000 meter dari permukaan laut. Satuan
morfologi perbukitan terjal menempati sekitar 45% daerah penyelidikan, terletak di sekitar lereng
bukit, umumnya berupa hutan, tidak ditempati penduduk, mempunyai rata-rata ketinggian diatas
1000 meter dari permukaan laut.
Dasar Analisis

Kajian Geoteknik pada tambang terbuka umumnya digunakan untuk menentukan kemantapan
lereng, terutama pada rancangan dan rencana penambangan. Faktor yang paling utama dalam
kemantapan lerengan adalah terjadinya longsoran pada lereng. Kelongsoran suatu lereng
umumnya terjadi melalui suatu bidang tertentu yang disebut dengan bidang gelincir (slip surface).
Kestabilan lereng tergantung pada gaya penahan dan gaya penggerak yang bekerja pada bidang
gelincir tersebut. Gaya penahan adalah gaya yang menahan massa dari pergerakkan agar tidak
terjadi kelongsoran, sedangkan gaya penggerak adalah gaya yang menyebabkan massa bergerak
yang menyebabkan terjadinya kelongsoran. Perbandingan antara gaya penahan dan penyebab
longsor inilah yang disebut dengan faktor keamanan (FK). Jika gaya penggerak lebih besar dari
pada gaya penahan maka lereng tersebut akan mengalami gangguan yaitu terjadinya kelongsoran,
sebaliknya jika gaya penahan lebih besar dari pada gaya penggerak maka lereng tersebut dalam
keadaan stabil.

Metode yang digunakan dalam perhitungan FK adalah metode Bishop yang disederhanakan.
Metode ini merupakan metode yang populer dalam analisis kestabilan lereng, karena
perhitungannya sederhana, cepat dan memberikan hasil FK yang cukup teliti. Persamaan Bishop
yang disederhanakan adalah sebagai berikut :

*( )+

Kesalahan metode ini relatif jarang (≤5%), apabila dibandingkan dengan metode lainnya yang
memenuhi semua kesetimbangan seperti metode Spencer atau metode kesetimbangan batas
umum. Metode ini memperhitungkan komponen gaya-gaya (horizontal dan vertikal) dengan
memperhatikan keseimbangan momen dari masing-masing potongan. Metode ini dapat
digunakan untuk menganalisa tegangan efektif.

Perhitungan analisis kestabilan lereng menggunakan bantuan program Slide 6.0 dari Rocsience.
Perhitungan dilakukan untuk lereng tunggal dan lereng keseluruhan. Sebagai pedoman lereng
aman adalah ; untuk lereng tunggal FK ≥ 1,20 dan lereng keseluruhan FK ≥ 1,30 (Canmet, 1979).
Tabel 1. Faktor Keamanan Minimum Lereng (Canmet,1979).

Pendekatam I II
Paremeter kuat geser puncak 1,5 1,3
Parameter kuat geser sisa 1,3 1,2
Memasukkan faktor gempa bumi 1,2 1,1
I = Longsoran dianggap akan mengakibatkan kerusakan berat
II = Longsoran dianggap tidak akan mengakibatkan kerusakan berat

2. METODE PENELITIAN

Penelitian diawali dengan mempelajari dan mengamati daerah dan lokasi penelitian seperti relief
muka bumi dan morfologi. Hal ini berguna untuk mendiskripsikan lereng yang ada dan lereng yang
dibentuk, sehingga diketahui jumlah pengupasan tanah penutup dan batugamping. Secara umum
topografi daerah penelitian mempunyai lereng 15o-50o (agak curam-curam), kemudian morfologi
yang dijumpai adalah perbukitan.

Selanjutnya dilakukan kajian dan diskripsi batuan daerah penelitian. Batuan yang dijumpai adalah
batulempung, tufa dan dominan batugamping. Batulempung dan tufa terdapat pada lapisan atas
kemudian disusul dengan batugamping dibagian bawahnya, sehingga dapat katakan bahwa
lapisan penutup batugamping adalah batuan lunak. Hal ini akan mempermudah proses
pengupasan tanah penutup dalam aktivitas penambangan.

Gambar 2. Batugamping daerah penelitian Gambar 3. Lubang bor daerah penelitian

Kegiatan berikutnya adalah pengambilan perconto core (kode perconto; TIG20, TIG25 dan TIG31)
untuk diuji dilaboratorium guna memperoleh sifat fisik dan mekanik batuan. Pengujian perconto
dilaksanakan oleh laboratorium geomekanika Rekayasa Pertambangan di Institut Teknologi
Bandung (ITB). Adapun data-data yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Propertis Batuan Daerah Penelitian

Kode Perconto Core


Parameter Properties TIG20 TIG25 TIG31
Batuan Batulempung Batugamping Tufa
Kohesi (C), MPa 0,136 0,26 0,136
o
Sudut Geses Dalam (φ), 38,65 45,84 38,65
3
Bobot isi (ρn), gr/cm 2,10 2,69 1,70
3
Bobot isi (ρdry), gr/cm 2,05 2,5 1,50
3
Bobot isi (ρsat), gr/cm 2,14 2,83 1,79

Data-data properties batuan tersebut di atas digunakan sebagai parameter data masukan untuk
perhitungan Faktor Keamanan (FK) pada program Slide 6.0 dari Rocscience dengan data import
dari program Autocad.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisa Geomteri Lereng


Berdasarkan nilai sudut geser dalam batugamping (φ) sebesar 45,84o dan permintaan sudut
lereng (i) = 60o, maka diperoleh sudut longsoran (β) dari kurva fungsi x dengan asumsi plane
failure sebesar 49°, sehingga diperoleh nilaifungsi X = 12o. Dengan perhitungan sebagai berikut ;
X = 2√( )( )
X = 2√( )( )
X = 2√
X= √
X = 11,79° 12°

Kemudian hasil perhitungan di atas dengan nilai sebesar 12° diplotkan ke dalam grafik hubungan
tinggi slope dengan fungsi sudut slope (assumsi plane failure nilai FK sebesar 1,2), maka akan
didapatkan nilai height slope function Y sebesar 81, kemudian dilakukan perhitungan untuk
menentukan tinggi lereng overall slope. Dengan nilai kohesi C = 0,26 MPa = 26 KN/m2, unit weight
(γ) = 2,69 gr/cm3 = 26,39 KN/m3 , maka tinggi overall slope adalah;

H = 79,77 m. 80 m

Berdasarkan perhitungan di atas, maka dibuatlah rancangan geometri lereng dengan tinggi lereng
keseluruhan (orerall slope) sebesar 80 m. Simulasi tinggi lereng tunggal (individual slope) diambil
8 m dan 10 m. Hal ini berarti bahwa bila tinggi lereng tunggalnya 8 m, maka jumlah lereng
tunggalnya ada banyak 10 lereng. Kemudian bila tinggi lereng tunggalnya 10 m, maka jumlah
lereng tunggalnya ada banyak 8 lereng. Untuk itu dibuat simulasi pula rancangan masing-masing
setiap lereng tunggal mempunyai besaran sudut lereng ; 60°, 70° dan 80°.

Analisis Lereng Tunggal


Analisis lereng tunggal dilakukan dengan pendekatan antara lain ;
- Simulasi permodelan yang dilakukan terhadap setiap tinggi lereng tunggal 8 m dan 10 m
dengan masing-masing sudut lereng 60°, 70° dan 80°.
- Properties yang digunakan adalah properties setiap batuan (batugamping, tufa dan
batulempung) dengan parameter kuat geser sisa.
- Analisa lereng diasumsikan pada kondisi batuan kering hingga jenuh.
- Batas nilai faktor keamanan lereng tunggal yang dijadikan dasar bahwa lereng dalam kondisi
mantap adalah FK ≥ 1,20.

Perhitungan nilai faktor keamanan menggunakan metode Bishop yang disederhanakan dengan
bantuan program Slide V.6.0 dari Rocsience.
Tabel 3. Nilai FK lereng tunggal dengan tinggi lereng 8 m dan 10 m.

GEOMETRI NILAI FAKTOR KEAMANAN (FK)


TINGGI SUDUT Gamping Lempung Tufa
(m) (°) Kering 1/2Jenuh Jenuh Kering 1/2Jenuh Jenuh Kering 1/2Jenuh Jenuh
60 1.882 1.654 1.423 1.385 1.330 1.284 1.632 1.557 1.433
8 70 1.570 1.415 1.354 1.220 1.204 1.110 1.405 1.374 1.203
80 1.274 1.211 0.662 1.118 0.860 0.418 1.209 0.920 0.530
60 1.702 1.557 1.352 1.419 1.362 1.232 1.586 1.405 1.328
10 70 1.418 1.401 1.303 1.210 1.113 1.009 1.346 1.254 1.104
80 1.139 1.086 0.613 1.002 0.784 0.333 1.003 0.849 0.369
Dari Tabel 3 dapat dikatakan bahwa pada tinggi lereng tunggal 8 m yang memenuhi nilai faktor
keamanan atau nilai faktor keamanan lereng terdapat pada sudut lereng 60o dan 70o. Namun ada
satu lereng yang tidak memenuhi faktor keamanan menurut Canmet, 1979 yaitu pada lereng
batulempung pada kondisi lereng jenuh pada sudut lereng 70o (FK = 1,11).
Demikian juga halnya pada tinggi lereng tunggal 10 m yang memenuhi nilai Faktor Keamanan
lereng terdapat pada sudut lereng 60o dan 70o. Namun masih ada tiga lereng yang tidak
memenuhi faktor keamanan yaitu pada lereng batulempung pada kondisi lereng jenuh dan
½jenuh, serta pada batuan tufa dengan kondisi jenuh. Nilai FK ketiga lereng tersebut adalah 1,1.
Hal ini longsoran dianggap dalam kondisi kritis. Namun yang perlu dicermati bahwa kondisi lereng
tersebut tidak selamanya jenuh, jadi perlu perlu pertimbangan dengan memasukkan parameter
iklim dan curah hujan. Di saat musim kemarau lereng ini dalam kondisi kering (FK = 1,23) jadi
memenuhi nilai keamanan untuk dilakukan penambangan. Sedangkan untuk sudut lereng 80o
pada setiap tinggi lereng 8 m dan 10 m, semua nilai FK tidak memenuhi. Hasil analisa lereng
tunggal ini selanjutnya akan menjadi dasar dalam simulasi multibench yang dilakukan pada model
lereng keseluruhan.

Gambar 4. Lereng Tunggal Batulempung

Analisa Lereng Keseluruhan


Analisa lereng keseluruhan dilakukan dengan pendekatan antara lain ;
- Simulasi permodelan dilakukan pada lereng penggalian tanah penutup (highwall).
- Simulasi permodelan yang dilakukan terhadap setiap tinggi lereng tunggal 8 m dan 10 m
dengan masing-masing sudut lereng 60°, 70°.
- Lebar lereng dalam multibench diasumsikan 5 meter.
- Properties yang digunakan adalah properties setiap batuan (batugamping, tufa dan
batulempung) dengan parameter kuat geser sisa.
- Analisa lereng diasumsikan pada kondisi batuan kering hingga jenuh.
- Batas nilai faktor keamanan lereng tunggal yang dijadikan dasar bahwa lereng dalam kondisi
mantap adalah FK ≥ 1,30
- Perhitungan nilai faktor keamanan menggunakan metode Bishop yang disederhanakan
dengan bantuan program Slide V.6.0 dari Rocsience.

Berdasarkan simulasi dan pendekatan diatas diperoleh nilai FK masing-masing lereng keseluruhan
adalah sebagai berikut.

Tabel 4. Nilai FK pada Lereng Keseluruhan

GEOMETRI NILAI FAKTO R KEAMANAN (FK)


TINGGI SUDUT Kondisi Airtanah
(m) (°) Kering 1/2Jenuh Jenuh
80 51 1.352 1.279 0.594
80 56 1.528 1.419 0.656

Berdasarkan Tabel 4 dapat dikatakan bahwa kondisi lereng keseluruhan dengan kondisi kering
adalah aman, karena nilai FK = 1,352 sudut 51o dan nilai FK = 1,528 sudut 56o. Baik pada tinggi
lereng tunggal 8 m dan 10 m dalam multibench. Namun pada kondisi lereng jenuh nilai FK = 0,594
dan FK = 0,56 baik pada tinggi lereng tunggal 8 m dan 10 m dalam multibench, maka kondisi ini
dapat dikatakan tidak aman, sehingga sangat perlu dilakukan penguatan lereng.

Gambar 5. Lereng Keseluruhan Highwall.

4. KESIMPULAN

Berdasarkan analisa geometri lereng, lereng tunggal dan lereng keseluruhan, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut :
o Rekomendasi untuk rancangan geometri lereng adalah tinggi lereng 8 m dan 10 m, lebar lereng
5 m dengan sudut lereng 60o. Nilai FK pada geometri semua aman baik lereng tunggal maupun
lereng keseluruhan pada kondisi kering dan ½ jenuh.

o Rekomendasi untuk rancangan geometri lereng adalah tinggi lereng 8 m dan 10 m, lebar lereng
5 m dengan sudut lereng 70o. Nilai FK pada geometri lereng tunggal hampir semuanya aman
kecuali ada tiga lereng yang FK ≤ 1,2 yakni pada batulempung dan tufa.

o Rekomendasi untuk lereng keseluruhan sebaiknya dipakai pada kondisi lereng kering dan ½
jenuh, sedangkan untuk kondisi lereng jenuh harus dilakukan penguatan lereng.

5. SARAN

Berdasarkan hasil simulasi program Slide V.6.0 dari Rocsience kondisi lereng jenuh pada tinggi
lereng tunggal 8 m dan 10 m dalam multibench dinyatakan tidak aman dengan FK = 0,594 dan FK
= 0,56. Untuk itu perlu dilakukan permodelan FEM lebih lanjut dengan memasukkan parameter
gempa, karena lokasi penelitian terletak di daerah jalur patahan semangko (Sumatran Fault
System) dan rawan gempa. Dari Gambar 6 terlihat bahwa lokasi penelitian berjarak ± 57 km dari
pusat gempa bumi tanggal 16 Januari 2017 dengan Mangnitude 5,6 Skala Ritcher.

Gambar 6. Analisis Sumber Gempabumi Deli Serdang/Karo, 16 Januari 2017


Terhadap Lokasi Penelitian (BMKG, 2017)
DAFTAR PUSTAKA

Retno Agung, (2017), Analisa dan Karakteristik Gempa bumi Sumatera Utara, BMKG, Seminar
Sehari HMTG Toba ITM, Medan.

Tengku Tibri, Gilang Singgih Gunarsa, (2016), Analisa Kualitas Massa Batuan untuk Menentukan
Nilai Faktor Keamanan Lereng Jalan di Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten
Simalungun, Saintek ITM, Volume 33, Medan.

Prasodo Datu Prabandaru, Barlian Dwinagara, dkk, (2015), Kajian geoteknik untuk kestabilan
lereng disposal PT.Senamas Energindo Mineral, Barito Timur, Kalimantan Tengah.,
Proseding WSNG III, Jakarta.

Rudolph Arya BPT., Masagus Ahmad Azizi., Syamidi Patian., (2015), Rancangan geometri lereng
tambang menggunakan metode bishop yang disederhanakan dan pendekatan probabilistik,
Proseding WSNG III, Jakarta.

Yogi danizar., Tridedi Gunawan.,(2015), Peran geomekanika dalam usaha perencanaan desain pit
tahun 2015 yang stabil dan efisien di PT.Duta Nurcahaya., Proseding WSNG III, Jakarta.

Sergei Vadimovich Tsirel,et.al (2012), The Influence of Earthquakes on Open-Pit Slope Stability,
International Journal of Geosciences, Published Online (http://www.SciRP.org/journal/ijg),
http://dx.doi.org/10.4236/ijg.2012.324081

Hoek, E., P.K.Kaiser & W.F.Bawden, (1995), Support of underground excavations in hard rock, A.A.
Balkema Publishers, P.O. Box 1675, 3000 BR Rotterdam, Netherlands.

Hustrulid, William A. (1979), Open Pit Mine Plan Design, Society of Mining Engineers of The
American Institute of Metallurgical, and Petroleum Engineers, Ins., New York.

View publication stats