Anda di halaman 1dari 14

LAH

 TENTANG

 KONTAK

 ILMU FIQIH
o Imam Hanafi

o Imam Maliki

o Imam Syafi’i

o Imam Hambali

 SEJARAH DAKWAH
o Sejarah Dakwah Nabi sebelum Nabi Muhammad

o Sejarah Dakwah Nabi Muhammad

o Sejarah Dakwah Pada Masa Khulafaur Rasyidin


o Sejarah Dakwah Pada Masa Dinasti Amawiyah

o Sejarah Dakwah Pada Masa Abbasiyah

o Sejarah Dakwah Pada Masa Turki Utsmani

 PSIKOLOGI

 BIMBINGAN DAN KONSELING


o Client Center

o Bidang pelayanan BK

o Tahapan-tahapan Konseling Kelompok

 KEWARGANEGARAAN
o Nilai-nilai Pancasila Dalam UUD 1945

o Negara dan Konstitusi


 QUR’AN DAN HADIST
o Al-Makiyyah dan Al-Madaniyah

o Istilah-istilah Dalam Ilmu Hadist

MAKALAH TENTANG IMAM SYAFI’I


MAKALAH TENTANG IMAM SYAFI’I
M AY 11, 2017 AZW ARUB AIDILL AH
MADZHAB SYAFI’I

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Ilmu Fiqh

Dosen pengampu : Kurnia Muhajarah, M.S.I

Disusun Oleh :

Azwar Ubaidillah (1601016094)

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALIONGO

SEMARANG

2017

I. PENDAHULUAN

Madzhab adalah cara yang ditempuh atau jalan yang diikuti. Embrio dari perbedaan
madzhab ini adalah karena terjadi perbedaan cara pandang dan analisis terhadap
nash (teks), walaupun semua mempunyai dasar yang sama yaitu Al-Qur’an dan As-
Sunnah. Namun perbedaan tersebut dianggap wajar oleh para ulama’ fiqh. Karena
berbagai faktor yang mempengaruhinya, diantaranya faktor intuisi, interaksi sosial,
budaya dan faktor adaptasi perkembangan zaman. Madzhab dalam hukum islam
pun semakin bermunculan. Sebagai contoh ada madzhab sunni yang terdiri dari
madzhab Abu Hanifah Annu’man, Malik Bin Anas, Muhammad Idris Asy-syafi’i,
Ahmad Bin Muhammad Bin Hambal.

Karena pengorbanan dan bakti mereka yang besar terhadapa agama Islam yang
maha suci, khususnya dalam bidang ilmu fiqih mereka telah sampai ke peringkat
atau kedudukan yang baik dan tinggi dalam islam. Peninggalan mereka merupakan
amalan ilmu fiqih yang besar dan abadi yang menjadi kemegahan bagi agama Islam
dan kaum muslim umumnya.

Namun pada makalah ini akan dibahas lebih spesifik tentang biografi Muhammad
Idris Syafi’I atau lebih dikenal dengan Imam Syafi’i. Imam Syafi’I adalah imam yang
ketiga menurut susunan tarikh kelahiran. Beliau adalah pendukung terhadap Ilmu
Hadist dan pembaharu dalam agama (mujaddid) dalam abad kedua hijriah.

II. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana sejarah madzhab Muhammad Idris Syafi’i ?


2. Tahap-tahap pembentukan madzhab Muhammad Idris Syafi’i
3. Dasar-dasar pemikiran Muhammad Idris Syafi’i
4. Qaul Qadim dan Qaul Jadid dalam perkembangan Fiqh Al-Syafi’iyah

III. PEMBAHASAN

A. Sejarah Madzhab Muhammad Idris Syafi’i

Imam Syafi’i adalah orang yang amat peta lidah kuat dalam berhujjah, amat jelas
ketika menerangkan, berwawasan luas, memiliki kecermatan yang tinggi, ketajaman
dalam berpikir, teliti, jenius, dan menguasai banyak ilmu. Semua itu memang wajar
terjadi karena imam Syafi’i amat menguasai bahasa Arab lengkap dengan seluk beluk
kesussastraan dan syair-syairnya serta mampu menghimpun berbagai dalil syariat
yang berbeda, baik dalil yang berasala dari Al-Qur’an, Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Imam
Syafi’i juga telah meletakkan prinsip-prinsip dasar Ijtihadnya dalam ar-risalah yang
menjadi karya tulis pertama dalam ilmu Ushul Fiqih. Kemudian ia
mengembangkannya sesuai dengan manhaj yang jelas lagi bersih dari segala
tendensi dan kepentingan.

Pada tahap pertama, Imam Syafi’i membangun qaul qadim-nya pada tahun 183 H di
Irak-ketika berusia 34 tahun-melalui karyanya al-Hujjah.Kitab yang berisi qaul
qadim Imam Syafi’I ini diriwayatkan oleh empat orang muridnya, yaitu Imam
Ahmad Bin Hanbal, Abu Tsaur, Az-Za’farani, dan al-Karabisi. Diantara keempat
riwayat ini, Az-Za’farai menjadi riwayat qaul qadim Imam Syafi’i yang paling
outentik. Buku tersebut ditulis setelah Imam Syafi’i berhasil mempertemukan Fiqih
ulama Hijaz seperti fiqih gurunya, Imam Malik Bin Annas, dengan Fiqih ulama Irak
yang dia dalami memalui proses telaah terhadap kitab-kitab fiqih ulama Irak dan
lewat perdebatannya dengan Muhammad Bin al-Hasan, murid Abu hanifah.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh ibnu hajar, setelah Imam Syafi’i mengetahui
ilmu ahli hadist dan ilmu ahli Ra’yu, beliau lalu membuat landasan ushul fiqih dan
membuat kaidah dengan mempertemukan persaman dan perbedaan pendapat
ulama’.

Pada tahap kedua, Imam Syafi’i tiba di Baghdad pada tahun 195 H dan mengarang
ar-risalah yang ditulis sebagai landasan ilmu Ushul Fiqih. Imam Syafi’i menulis kitab
tersebut untuk memenuhi anjuran yang disampaikan imam al-Hafizh Abdurrahman
Bin Mahdi yang meminta beliau untu menulis sebuah kitab yang menerangkan
tentang syarat-syarat penggunaan dalil (Istitlal) dengan Al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’
dan Qiyas ; penjelasan mengenai nasakh dan mansuq ; dan derajat dalil yang Am
dan Khas. Demikianlah keterangan yang terdapat didalam Manaqib as-Syafi’i karya
Imam ar-Razi. Hal tersebut diperkuat oleh pernyataan para Ulama yang hidup
sezaman dengannya bahwa Imam Syafi’I memang menyusun ar-Risalah di Makkah.

Setelah Imam Syafi’i selesai menyusun, dia mengirimkan buku ar-Risalah tersebut
kepada Ibnu Mahdi. Usai membacanya Ibnu Mahdi berkata, “Saya tidak menyangka
bahwa Allah telah menciptakan orang seperti lelaki (Imam Syafi’i) ini.” Kitab ar-
Risalah telah membuat saya sedemikian takjub. Karena dengan membacanya, saya
telah menyaksikan perkataan seseorang yang amat cerdas, fasih, dan sangat santun.
Oleh karenanya saya berdoa semoga kebaikan selalu berlimpah padanya.[1]

B. Tahap-tahap Pembentuk Madzhab Muhammad Idris Syafi’i

Al-Nahrawi membagi sejarah pertumbuhan dan perkembangan madzhab Al-Syafi’i


kepada empat periode : periode persiapan ; periode pertumbuhan dengan lahirnya
madzhab al-qadim ; periode kematangan dan kesempurnaan pada madzhab al-jadid
; dan periode pengembangan dan pengayaan.

1. Tahap Persiapan

Persiapan bagi lahirnya madzhab al-Syafi’i belangsung sejak wafatnya Imam Malik,
tahun 179 H, sampai dengan kedatangannya yang kedua ke Baghdad, tahun 195 H.
sebagaimana disinggung diatas, setelah Imam Malik wafat, Al-Syafi’i berangkat ke
yaman untuk bekerja. Dengan demikian, kehidupan kelimuaannya beralih dari
dunia teori ke dunia penerapan dialapangan. Keberadaan dilapangan menuntut
perhatian lebih bila disbanding dengan periode menuntut ilmu. Disini perhatian
tidak mungkin lepas dari berbagai faktor, kondisi dan situasi ekonomi, politik, dan
sosial yang ada. Dalam penenrapan, teori-teori murni yang dalam kajian dinilai
terbaik kadang-kadang harus mengalami semacam penyesuaian demi mendapatkan
kemaslahatan umum sebagai tujuan syariat.

Selama di yaman, al-Syafi’i memeperoleh banyak pengalaman yang memperkaya


khasanah keIlmuannya. Disamping itu, melalui diskusi-diskusi dnegan tokoh utama
madzhab Hanafi, Muhammad Ibnu al-Hasan al-Syaibani, ia dapat pula mengenalu
aliran ahl al-Ra’yi secara dekat, memperluas wawasan, serta mematangkan
pemikiran dan kepribadiaannya.

Setelah kembali ke Makkah, ia ,melanjutkan karirnya dengan mengajar dimasjid al-


Haram. Tanggung jawab sebagai pengajar jelas menuntunnya untuk terus
memperdalam pengetahuan agar selalus siap menghadapi berbagai persoalan yang
timbul. Selain itu, kehadiran para ulama’ dari berbagai wilayah, khususnya pada
musim haji, membuka peluang besar bagi terjadinya dialog dan diskusi ilmiah.

Kumulasi dari ini semua, seperti disimpulkan oleh al-Nahrawi, merupakan faktor
penting yang mendorong dan sekaligus membantu al-Syafi’i membentuk suatu
madzhab fiqih sendiri. Pada gilirannya, ia melakukan perbandingan untuk
mendapatkan sisi-sisi positif dan kelebihan berbagai metode ijtihad ahl al-Ra’yi
maupun ahl al-Hadist. Kaidah-kaidah terbaik yang diperoleh dari perbandingan ini
diolah dan dirumuskannya dalam suatu tatanan baru yang kemudian diletakkan
sebagai dasar madzhabnya.

2. Periode Pertumbuhan (Al-Qadim)

Tahun 195 H, pada saaat kedatanggannya yang kedua ke baghdad, sampai dengan
tahun 199 H, saat ia pindah ke mesir, bisa disebut sebagai periode pertumbuhan bagi
madzhab al-Syafi’i. ketika al-Syafi’i datang kembali ke Baghdad (195 H), ia tidak
datang sebagai penuntut ilmu, melainkan sebagai ulama’ yang telah matang dengan
konsep serta pemikiran-pemikirannya sendiri. Kini ia memperkenalkan pandnagan-
pandangan fiqihnya secara utuh, lengkap dengan kaidah-kaidah umum, dan pokok-
pokok pikiran yang siap untuk dikembangkan. Madzhab baru itu digelarnya di
Baghdad yangs sejak lama dikuasai dan dijadikan sebagai pusat pengembangan oleh
aliran ahl al-Ra’yi.

Tampaknya masa ini merupakan masa ujian paling berat bagi al-Syafi’i dalam
menegakkan konsep dan pemikiran fiqihnya yang terbukti dapat ia lalui dengan
sebaik-baiknya. Majelis pengajiaannya segera menarik perhatian dari berbagai
kalangan. Banyak ulama, dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda : ahli
hadist, Fiqih, Bahasa dan Sastra hadir di majelis itu, dan masing-masing mereka
mendapatakan apa yang diinginkannya. Melalui berbagia disksi dnegan para ulama
ahl al-Ra’yi, tampaklah bahwa tingkat keilmuan as-Syafi’I berada diatas mereka.
Dengan demikian, ia segera terkenal, namanya menjadi harum dan tersohor ke
segala penjuru. Madzhabnya diterima dan tersebar luas ditengah-tengah
masyarakat. Para ulama mengakuinya dan kalangan penguasa pun menaruh hormat
kepadanya. Beberapa diantara mereka meniggalkan madzhabnya dan beralih
menjadi pengikut madzhab syafi’I. ketika al-Syafi’i datang ke Baghdad, di masjid
jami’ al-Gharbi terdapat 20 majlis (halqah) pengajian ahl al-Ra’yi tapi sepekan
kemudian jumlahnya menyusut menjadi tiga atau empat bauah saja.

Pendapat dan fatwa-fatwa fiqih yang dikemukakannya pada periode ini dikenal
dengan sebutan Qaul Qadim. Selama kira-kira dua tahun berada di Baghdad, ia
berhasil menyusun dan mendiktekan kitab arissalah dalam bidnag ushul al-fiqih dan
al-Hujjan dalam bidang fiqih. Kitab al-hujja inilah yang menjadi rujukan bagi qaul
qadim al-Syafi’I yang selanjutnya diriwayatkan oleh beberapa murid yang belajar
kepadanya di Baghdad.

3. Periode kematangan (Al-Jadid)


Ahmad Amin mengemukakan bahwa madzhab al-Syafi’I kurang mendapat sambutan
di irak dan tidak mampu bersaing dnegan madzhab hanafi, yang tokoh-tokohnya
akrab dan berpengaruh terdhadap penguasa. Senada dengan ini, Ibnu Al-Bazaz
mengatakan bahwa fatwa-fatwa al-Syafi’i yang dituangkannya didalam kitab-
kitabnya selama di Baghdad itu banyak yang dibantah oleh para murid Muhammad
Ibnu Hasan., mereka mendesak posisinya dengan mengungkapkan kelemahan-
kelemahan fatwanya. Disamping itu, menurut Ibnu Al-Bazaz, kelompok ahl al-Hadist
pun tidak menerima al-Syafi’i, bahkan mereka menuduhnya sebagai pengenut
mu’tazilah karena tidak mendapatkan pasaran di Irak, ia pergi ke mesir, dimana
tidak adaulama atau fuqaha yangdapat mengimbanginya.

Namun, seperti dikemukakan oleh al-Nahrawi, alasan ini pun kelihatannya kurang
berbobot karena tidak sejalan dengan kepribadian al-Syafi’i yang terkenal kuat itu
dan bertentangan pula dengan sukses besar yang diraihnya ketika pertama kali
memperkenalkan madzhabnya di Baghdad. Disana al-Syafi’I mempunyai beberapa
orang murid yang senantiasa menginginkan kebebrsamaan yang lebih lama dengan
al-Syafi’i. kesetiaan mereka terbukti dari tindakan menyebarluaskan fiqh al-Syafi’i di
Baghdad setetlah kepergiaannya ke mesir. Ahmad bin Hanbal dan Abu Tsaur ,
sebelum mereka membentuk madzhabnya masing-masing, serta Al-Za’farani, dan
Al-Karabisi, cukup dikenal jasanya dalam meriwayatkan fikih Al-Syafi’i (qaul qadim)
yang mereka pelajari darinya di Baghdad. Oleh karena itu, menurut Al-Nahrawi, alas
an yang lebih tepat adalah persoalan menyangkut politik sebagaimana dikemukakan
oleh Abu Zahrah. Menurutnya kepergian al-Syafi’i itu terkait dengan dua hal.

Pertama, pengaruh besar bangsa Parsi terhadap khalifah Al-Ma’mun. Setelah


memenangkan persaingan dengan Al-amin, yang sesungguhnya merupakan
pertentangan antara Parsi dengan Arab, unsure bangsa Parsi mendapatkan posisi
yang sangat kuat di istana. Mereka berhasil menduduki jabatan-jabatan penting
dalam pememrintahan. Agaknya al-Syafi’itidak merasa senang berada di bawah
naungan pemerintahan yang telah dikuasai oleh unsure Parsi itu.

Kedua, karena Al-Ma’mun, seorang ahli ilmu kalam, bahkan filosof, sangat akrab
dengan kalangan Mu’tazilah. Merekalah yang dekat dan selalu hadir di majelisnya.
Al-Syafi’i, yang sangat tidak suka terhadap mutakallim dan cara berpikir Mu’tazilah
itu, merasa lebih baik menjauhi mereka dan pergi ke Mesir.

Masa yang dialaui al-Syafi’i di Mesir itu relative pendek, tetap sangat berarti dalam
penegmbangan madzhabnya. Di sana ia senantiasa sibuk dengan kegiatan produktif
yang menghasilkan temuan ilmu dan istinbath hukum yang membuat
kekuatan hujjah 9dalil dan argumen ilmiah) serta kebesaran pribadi al-Syafi’i
sebagai seorang iman yang nyata. Karena berbagai alasan ilmiah, ia
menyatakan ruju’, meninggalkan beberapa pendapat lama yang telah
dikemukakaknnya di Baghdad dan mengubahnya dengan fatwa yang baru.
Pendapat-pendapat baru (qaul jadid) itu dituang kan secara sisitematis dalam
beberapa buah kitab.

Dengan demikian, pada periode inilah madzhab fikih al-Syafi’i mencapai tingkat
kesempurnaan sebagai madzhab yang utuh, hidup, dan mempunyai daya gerak
menuju pengayaan yang akan terjadi sesuai dengan tuntutan perkembangan pada
periode selanjutnya. Kini madzhabnya telah tegak dengan kokoh, siap dengan
rumusan tentang langkah-langkah yang harus ditempuh dalam menjawab tantangan
masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan kaidah-kaidah yang telah
ditanya itu, para sahabat serta pengikutnya kemudian dapat melakukan takhrij,
memproyeksi ajarannya sebagai upaya pengayaan madzhab tersebut.[2]

4. Periode Pengembangan dan Pengayaan

Periode ini berlangsung sejak wafatnya al-Syafi’i sampai dengan pertengahan abad
kelim, atau bahkan, abad ketujuh menurut pendapat sebagian ahli.

Para murid dan penerus al-Syafi’i dari berbagai generasi (thabaqat) yang telah
mencapai derajat ijtihad dalam keilmuannya terus melakukan istinbath hukum
untuk masalah-masalah yang timbul pada masa mereka atau yang ditimbulkan
sebagai perandaian (masa’il fardliyah). Selain itu, sesuai dengan semangat ijyihad
yang diwariskan oleh al-Syafi’i sendiri, mereka juga melakukan peninjauan ulang
terhadap fatwa-fatwa imanya. Dalil-dalil yang mendukung setiap fatwanya diperiksa
kembali untuk menguji kekuatannya. Dalam hal al-Syafi’i memberi dua, atau lebih,
fatwa yang berbedamereka melakukan tarjih seetelah menelusuri dalilnya masing-
masing untuk mendapatkan pilihan terkuat.

Mereka inilah yang kemudian memainkan pera penting dalam membela,


melengkapi, dan menyebarkan madzhab al-Syafi’i sehingga ia dapat hidup
berdampingan atau bersaing dengan madzhab-madzhab lainnya si hampir semua
wilayah Islam. Selain ramai dengan kegiatan istinbath, kajian, dan diskusi antara
sesamanya atau antara mereka dengan ulama dari madzhab lain, para ulama
Syafi’iyah pada periode ini juga banyak menghasilkan karya tulis. Hampir setiap
ulama terkemuka menuangkan ilumnya dalam berbagai
tulisan, risalah, taliq, matan,mukhtashar, ataupun syarh, sesuai dengan metode
penulisan yang berkembang pada masanya. Dengan demikian, semakin lama
semakin kayalah madzhab tersebut degan kitab-kitab.

C. Dasar-dasar Pemikiran Muhammad Idris Syafi’i

Berikut ini, dikemukakan secara singkat pokok-pokok pikiran dan kaidah-kaidah


ijtihad yang dirimuskan oleh al-Syafi’i mengenai keempat dalil tersebut satu per
satu.

1. Al-Qur’an

Al-Syafi’i menegaskan bahwa Al-Qur’an membawa petunjuk, menerangkan yang


halal dan yang haram, menjanjikan balasan, surga bagi yang taat dan neraka bagi
yang durhaka, serta memberikan dengan kisah-kisah umat terdahulu. Semua yang
diturunkan Allah dalam Al-Qur’an adalah hujjah (dalil, argumen) dan rahmat.
Tingkat keilmuan seseorang erat terkait dengan pengetahuannya tentang isi Al-
Qur’an. Orang yang berilmu adalah orang yang mengetahui Al-Qur’an, sedangkan
orang yag jahil adalah yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, setiap penuntut
ilmu perlu berupaya keras untuk menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, baik yang
diperoleh dari nash (penengasan ungkapan) maupun melalui intinbat (penggalian
hukum). Menurutnya, setiap kasus yang erjadi padaseseorang pasti emmpunyai dalil
dan petunjuk dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya Al-Syafi’i telah melakukan kajian secara luas dan mendalam tentang
berbagai aspek Al-Qur’an. Akan tetapi, di sini hanya akan dikemukakan beberapa
pokok pikirannya tentang kitab suci tersebut.

2. As-Sunnah

Dengan pendidikan yang diperolehnya dari kalangan Ahl-Al-Hadist. Al-Syafi’i


sangatkuat berpegang pada hadist sebagai dalil hukum, sikap, pendirian, dan
pandangannya terhadap Sunnah dinyatakan dengan sangat jelas dalam kitab-
kitabnya. Dengan berbagai argumentasi, ia mendukung ke-hujjah-an Sunnah,
sehingga ia mendapatkan gelar Nashir Al-Sunnah (Pembela Sunnah) ketika berada
di Baghdad.

Dengan mengambil sikap menengah di antara Ahl Al-ra’yi dan Ahl Al-Hadist, ia
memberikan batasan-batasan yang jelas tentang hakikat Sunnah dan menetapkan
persyaratan tertentu yang harus terpenuhi agar suatu riwayat dapat diterima. Secara
umum, kaidah-kaidah yang dirumuskannya tentang hadist dianggap sebagai
sumbangan pemikiran penting dalam kajian hadist dan hukum Islam serta
berpengaruh besar pada masa-masa selanjutnya.

3. Al-Jima’

Dalam masalah-masalah yang tidak diatur secara tegas dalam Al-Qur’an ataupun
Sunnah, sehingga hukumnya harus dicari melalui ijtihad, jelas terbuka peluang
untuk berbeda pendapat. Berkenaan dengan ini, para mujtahid diberi kebebasan,
bahan keharusan,untuk bertindak atau berfatwa sesuai dengan hasil ijtihadnya
masing-masing.

Fatwa-fatwa mereka itu tidak bersifat mengikat. Masalah-masalah tersebut tetap


terbuka sebagai lapangan ijtihad bagi ulamayang datang kemuadian dan orang awam
bebas memilih untuk mengikuti salah satu dari pendapat yang ada. Akan tetapi
dalam kasus-kasus tertentu, setelah melakukan ijtihad sesuai dengan kemampuan
masing-masing, seluruh ulama sampai kepada kesimpulan yang sama sehingga
terbentuklah suatu kesepakatan tentang hukumnya. Kesepakatan seperti itu disebut
ijma’ dan dipandang sebagai hujjah yang mempunyai kekuatan mengikat. Dengan
adanya suatu ijma’, kajian terhadap masalah tersebut dianggap telah selesai

4. Qiyas

Sesungguhnya qiyas dan ra’yu, bukanlah sesuatu yang baru pada masa al-Syfi’i.
Qiyas telah dikenal dan digunakan sejak masa awal oleh para sahabat : Abu Bakar,
Umar ra. Dan lain-lain. Penggunaan ra’yu itu kemudian meluas sedemikian rupa,
sehingga mewarnai salah satu aliran fikih yang dikenal dengan Ahl Al-ra’yi, yang
berkembang pesat dibawah kepimpinan Abu Hanifah. Akan tetapi, sejauh itu, belum
ada rumusan yang jelas tentang hakikat, batas-batas, dan kedudukannya sebagai
dalil. Al-Syafi’i-lah yang pertama sekali memberikan bentuk, batasan, syarat-syarat,
dan berbagai ketentuan serta posisi yang jelas bagi qiyas dalam deretan dalil-dalil
hukum. Ia menempatkan qiyas pada urutan keempat, baik dari segi kemuliaan
(syarf) maupun kekuatannya, berikut adalah pokok-pokok pikiran Al-Syafi’i dalam
kitab Al-Risalahtentang Qiyas, antara lain sebagai berikut :

1. Bahwa setiap kasus yang terjadi atas orangmuslim pasti ada hukumnya.
Kalaupun hukum itu tidak dinyatakan secara tegas, pasti ada petunjuk
kearahnya; dan hukum itu dapat dicari dengan ijtihad, yaitu
2. Bahwa pengetahuan yangdiperoleh dengan qiyas itu adalah benar
secara zhahir dan hanya berlaku bagi orang yang menemukannya, tidak bagi
semua ulama, sebab hanya Allah yang mengetahui hal-hal yang ghaib.
3. Qiyas itu ada dua tingkatan. Pertama, sesuatu yang diqiyaskan itu tercakup
oleh pengertian ashl (kasus pokok) sehingga tidka akan ada perbedaan dalam
mengqiyas Kedua, sesuatu itu mempunyai kesamaan dengan beberapa ashl;
dalam hal ini ia harus diqiyaskan kepada ashl yang paling mirip dengannya,
namun orang-orang mungkin akan berbeda pendapat dalam menentukannya.
4. Hukum masalah yang tidak ada nash-nya haruslah dicari dengan qiyas,
namun kita hanya dibebani dengan apa yang kita anggap benar (al-haqq
‘indana) dan kebenaran itu bertingkat-tingkat sesuai kekuatan tunjukan
dalil-dalilnya.
5. Jika terjadi perbedaan pendapat, para mujtahid harus mengamalkan hasil
ijtihadnya masing-masing, sebab, pada lahirnya itulah yang benar baginya,
walaupun pada hakikatnya dua pendapat yang berbeda tentang sesuatu
tidaklah mungkin sama-sama benar. Akan tetapi, jika seseorang ulama telah
berijtihad dengan meneliti dalil-dalil seraya memohonkan pertolongan
(inayah) dan taufiq dari Allah, ia telah melaksanakan kewajibannya.
6. Sekalipun dalam keadaan tidak mampu mendapatkan kebenaran yang
sesungguhnya, orang tidak boleh bertinak hanya
berdasarkan ra’yu (pendapat pribadi) semata-mata, tanpa dalil.[3]
7. Qaul Qadim dan Qaul Jadid Dalam Perkembangan Fiqh Al-Syafi’iyah

Seperti telah disinggung sebelumnya, baik di Baghdad maupun di mesir, al-Syafi’i


berhasil mendapatkan perhatian besar dari sejumlah penuntut ilmu yang datang
berguru dan menjadi muridnya. Ia juga sempat menulis kitab-kitab sebagai sarana
pengajaran. Melalui hubungan belajar yang berlangsung dengan baik, mereka,
mereka memahami, menguji, dan menguasai metodologi ijtihad al-syafi’i dengan
sebaik-baiknya. Selanjutnya, dengan secara sadar, mereka pun mengagumi pribadi,
mengakui keutamaan ilmu, dan menganut ajaran al-syafi’i. Pada gilirannya, sebagai
ulama-ulama besar, mereka meriwayatkan dan mengajarkan ilmu al-syafi’i itu
kepada generasi berikutnya. Sesuai dengan tahap perkembangan mazhab tersebut,
para penerus syafi’i itu terbagi menjadi dua kelompok, yakni para
perawi qaul qadim yang belajar kepadanya di Baghdad, dan perawi qaul jaddidyang
belajar di mesir. Dengan demikian, pada masa-masa awal, pengembangan madzhab
al-Syafi’i berlangsung pada dua pusat dengan corak yang berbeda, baghdad dengan
corak qadim dan mesir dengan corak jaddid.

Namun, hal ini tidak berlangsung lama sebab dalam kegiatan inilah yang marak pada
masa itu para ilmuan sangat banyak melakukan perjalanan (Irihlah). Dalam rangka
menuntut ilmu. Melalui perjalanan seperti itu, terjadilah kontak antara tokoh-tokoh
kedua pusat pengembangan tadi sehingga qaul qadim dan qaul jaddid bertemu
dengan periwayatan berikutnya. Lebih dari itu, beberapa orang murid yang
mempelajari qaul jaddid di mesir kemudian menetap di irak dan berhubungan
dengan para penerus al-Syfi’i di pusat pengembangan qaul qadim tersebut sehingga
riwayat qaul qadim dan qau l jaddidmembentuk himpunan besar madzhab al-Syafi’i.

Seperti pada periwayatan lisan, proses perpaduan kedua kelompok qaul itu juga
terjadi pada penulisan kitab-kitab. Kalau kitab-kitab periode pertama hanya memuat
satu kelompok qaul, tampak bahwa karya-karya yang lahir pada masa berikutnya
telah meliput qaul qadim, qaul jaddid.

Adanya dua qaul yang berbeda untuk masalah yang sama tentu merupakan khasanah
yang sangat berharga dalam kajian. Akan tetapi, hal itu justru dapat menyulitkan
dalam lapangan fatwa yang mengkhendaki kepastian hukum. Oleh karena itu, di
perlukan upaya tarjih, memilih yang terkuat dari pendapat yang berbeda itu.
Selanjutnya, hal ini menuntut pola adanya kriteria tertentu sebagai acuan tarjih.

Secara umum, menurut al-Nawawi, fatwa-fatwa qaul jadid-lah yang harus di


amalkan karena itulah yang lebih shahih dan dianggap sah sebagai madzhab al-
syafi’i. Sebab, pada prinsipnya semua fatwa qaulqadim yang bertentangan
dengan qaul jaddid telah ditinggalkan (marju’ ‘anh) dan tidak dapat di pandang lagi
sebagai madzhab al-Syafi’i

Itulah sebabnya, kitab-kitab yang di tulis pada periode pengayaan madzhab tersebut
selalu memuat fatwa qaul jaddid lengkap dengan dalil-dalil yang mendukungnya,
serta fatwa yang lanjutan lahir sebagai proyeksi darinya
(meliputi qaul mukharraj dan wajh yang diperoleh dari tafri’ atau takhrij’),
sedangkan fatwa-fatwa qaul qadim hanya di muat sebagai bahan perbandingan
dalam kajian. Akan tetapi, sesuai dengan anjuran al-Syafi’i sendiri, para sahabat dan
pengikutnya terus melakukan ijtihad. Selain upaya memproyeksikan fatwa-
fatwa qaul jaddid, ijtihad mereka juga meliputi peninjauan ulang dan penelitian
kembali terhadap fatwa serta dalil dan wajhistidlal yang mendukungnya. Untuk ini
mereka melakukan penelusuran terhadap hadits-hadits yang semakin mudah
ditemukan pada abad-abad kemudian dan pemeriksaan terhadap qiyas yang
digunakan. Melalui ijtihad yang berkelanjutan itu, mereka menemukan adanya
beberapa fatwa qaul qodim yang ternyata lebih kuat dari pada fatwa qaul jadiddan
mereka kembali mengangkatnya dalam fatwa-fatwa.

Para penulis fiqih madzhab al-Syafi’i kemudian, khususnya yang menulis kitab-kitab
dalam ukuran cukup besar (muthawwalat), selalu memberikan uraian tentang tiap-
tiap fatwa lengkap dengan berbagai dalil yang mendukungnya. Kelihatannya, dalil-
dalil yang dikemukakan itu tidak hanya terdiri atas kutipan dari kitab-kitab al-Syafi’i
sendiri, sebagian darinya adalah temuan dari para penulis itu sendiri, atau, boleh
jadi, diambil dari madzhab lain yang memberikan fatwa serupa.
Demikianlah, qaul qadim dan qaul jadid terus menjadi bahan kajian dalam madzhab
al-Syafi’i. Setelah melalui masa yang panjang ternyata ada beberapa qaul
qadim yang secara umum dianggap lebih shahih dari pada qaul jadid.[4]

IV. KESIMPULAN

Imam Syafi merupakan imam ke tiga dari empat madzhab, Imam Syafi’i mempunyai
empat pemikiran dasar yaitu :

1. Al-Qur’an

Al-Syafi’i menegaskan bahwa Al-Qur’an membawa petunjuk, menerangkan yang


halal dan yang haram, menjanjikan balasan, surga bagi yang taat dan neraka bagi
yang durhaka, serta memberikan dengan kisah-kisah umat terdahulu. Semua yang
diturunkan Allah dalam Al-Qur’an adalah hujjah (dalil, argumen) dan rahmat.
Tingkat keilmuan seseorang erat terkait dengan pengetahuannya tentang isi Al-
Qur’an. Orang yang berilmu adalah orang yang mengetahui Al-Qur’an, sedangkan
orang yag jahil adalah yang tidak mengetahuinya. Oleh karena itu, setiap penuntut
ilmu perlu berupaya keras untuk menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an, baik yang
diperoleh dari nash (penengasan ungkapan) maupun melalui intinbat (penggalian
hukum). Menurutnya, setiap kasus yang erjadi padaseseorang pasti emmpunyai dalil
dan petunjuk dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya Al-Syafi’i telah melakukan kajian secara luas dan mendalam tentang
berbagai aspek Al-Qur’an. Akan tetapi, di sini hanya akan dikemukakan beberapa
pokok pikirannya tentang kitab suci tersebut.

2. As-Sunnah

Dengan pendidikan yang diperolehnya dari kalangan Ahl-Al-Hadist. Al-Syafi’i


sangatkuat berpegang pada hadist sebagai dalil hukum, sikap, pendirian, dan
pandangannya terhadap Sunnah dinyatakan dengan sangat jelas dalam kitab-
kitabnya. Dengan berbagai argumentasi, ia mendukung ke-hujjah-an Sunnah,
sehingga ia mendapatkan gelar Nashir Al-Sunnah (Pembela Sunnah) ketika berada
di Baghdad.

Dengan mengambil sikap menengah di antara Ahl Al-ra’yi dan Ahl Al-Hadist, ia
memberikan batasan-batasan yang jelas tentang hakikat Sunnah dan menetapkan
persyaratan tertentu yang harus terpenuhi agar suatu riwayat dapat diterima. Secara
umum, kaidah-kaidah yang dirumuskannya tentang hadist dianggap sebagai
sumbangan pemikiran penting dalam kajian hadist dan hukum Islam serta
berpengaruh besar pada masa-masa selanjutnya.

3. Al-Jima’

Dalam masalah-masalah yang tidak diatur secara tegas dalam Al-Qur’an ataupun
Sunnah, sehingga hukumnya harus dicari melalui ijtihad, jelas terbuka peluang
untuk berbeda pendapat. Berkenaan dengan ini, para mujtahid diberi kebebasan,
bahan keharusan,untuk bertindak atau berfatwa sesuai dengan hasil ijtihadnya
masing-masing.

Fatwa-fatwa mereka itu tidak bersifat mengikat. Masalah-masalah tersebut tetap


terbuka sebagai lapangan ijtihad bagi ulamayang datang kemuadian dan orang awam
bebas memilih untuk mengikuti salah satu dari pendapat yang ada. Akan tetapi
dalam kasus-kasus tertentu, setelah melakukan ijtihad sesuai dengan kemampuan
masing-masing, seluruh ulama sampai kepada kesimpulan yang sama sehingga
terbentuklah suatu kesepakatan tentang hukumnya. Kesepakatan seperti itu disebut
ijma’ dan dipandang sebagai hujjah yang mempunyai kekuatan mengikat. Dengan
adanya suatu ijma’, kajian terhadap masalah tersebut dianggap telah selesai

4. Qiyas

Sesungguhnya qiyas dan ra’yu, bukanlah sesuatu yang baru pada masa al-Syfi’i.
Qiyas telah dikenal dan digunakan sejak masa awal oleh para sahabat : Abu Bakar,
Umar ra. Dan lain-lain. Penggunaan ra’yu itu kemudian meluas sedemikian rupa,
sehingga mewarnai salah satu aliran fikih yang dikenal dengan Ahl Al-ra’yi, yang
berkembang pesat dibawah kepimpinan Abu Hanifah. Akan tetapi, sejauh itu, belum
ada rumusan yang jelas tentang hakikat, batas-batas, dan kedudukannya sebagai
dalil. Al-Syafi’i-lah yang pertama sekali memberikan bentuk, batasan, syarat-syarat,
dan berbagai ketentuan serta posisi yang jelas bagi qiyas dalam deretan dalil-dalil
hukum. Ia menempatkan qiyas pada urutan keempat, baik dari segi kemuliaan
(syarf) maupun kekuatannya.

V. PENUTUP

Demikianlah makalah ini kami buat, kami sadar makalah ini jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat
kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini
bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita semua.

DAFTAR PUSTAKA

Wahban Zuhaili, fiqh imam syafi’i, Jakarta : almahira. 2010

Lahmuddin Nasution, Pembaruan Hukum Islam dalam madzhab Syafi’I, Bandung :


Remaja Rosdakarya. 2001

Abdullah Kafabihi Mahrus, Dari Teori Ushul Menuju Fiqh, Jakarta : Santri Salaf
press. 2014

Abdul Hadi Muthohhar, Pengaruh Madzhab Syafi’i di Asia Tenggara, Semarang :


CV. Aneka Ilmu. 2003
Ash Hasbi Muhammd Shiddieqy Teungku Pengantar Ilmu Fiqh, Semarang : PT.
Pustaka Riski Putra.1999