Anda di halaman 1dari 15

BAHAN AJAR ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)

BAB VIII

PELAYANAN KONTRASEPSI ALAT KONTRASEPSI DALAM

RAHIM (AKDR)

I. PENDAHULUAN

A. DESKRIPSI SINGKAT

Mata kuliah ini menerangkan pelayanan kontrasepsi alat kontrasepsi

dalam rahim (AKDR) sehingga memberi kesempatan pada mahasiswa

untuk menerapkan pelayanan KB AKDR dalam praktik kebidanan.

B. MANFAAT MATA KULIAH/ RELEVANSI

Salah satu upaya pemerintah dalam menekan laju pertumbuhan

penduduk Indonesia adalah dengan program Keluarga Berencana (KB)

bagi semua pasangan usia subur (PUS). Jumlah penduduk Indonesia dari

tahun ketahun selalu meningkat tahun 2012 mencapai 245 juta jiwa.

Jumlah tersebut menempatkan Indonesia menjadi negara keempat dengan

penduduk terbanyak setelah China, India, dan Amerika Serikat. Alasan

masyarakat tidak ber-KB karena banyaknya faktor yang mempengaruhi

kelangsungan pemakaian alat kontrasepsi IUD antara lain umur,

pendidikan, pengetahuan, efek samping, paritas, kegagalan kontrasepsi,

dan status sosial ekonomi.


Oleh karena itu mata kuliah ini membantu Anda untuk memperoleh

kemampuan yang komprehensif dalam memberikan asuhan pelayanan

kontrasepsi yang akan digunakan dalam melaksanakan tugas profesi.

C. SASARAN PEMBELAJARAN

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini, mahasiswa diharapkan mampu

melaksanakan pelayanan kontrasepsi dengan alat kontrasepsi dalam rahim

(AKDR) dalam praktik kebidanan dengan baik.

D. STANDAR KOMPETENSI

Setelah mengikuti mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mampu

menerapkan dan mempraktekkan pelayanan KB.

E. KOMPETENSI DASAR

1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pengertian IUD/ AKDR dengan

benar.

2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang jenis IUD/ AKDR dengan

benar.

3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang mekanisme kerja IUD/AKDR

dengan benar.

4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang efektifitas IUD/AKDR dengan

benar.

5. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang keuntungan IUD/AKDR

dengan benar.
6. Mahasiswa mampu menjelaskan kerugian IUD/AKDR dengan benar.

7. Mahasiswa mampu menjelaskan indikasi dan kontraindikasi IUD

dengan benar.

8. Mahasiswa mampu menjelaskan waktu pemasangan IUD/AKDR dengan

benar.

II. PENYAJIAN

A. PENGERTIAN

IUD adalah singkatan dari Intrauterine Device salah satu alat

kontrasepsi yang dipasang oleh Dokter atau bidan terlatih di dalam rahim

Wanita Usia Subur (WUS). Oleh karenanya IUD juga disebut dengan

AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim).

1. AKDR atau IUD atau spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari

plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung

hormon dan dimasukkan kedalam rahim melalui vagina dan

mempunyai benang.

2. AKDR adalah suatu usahah pencegahan kehamilan dengan

menggulungkan secarik kertas yang terbuat dari secarik kertas, diikat

dengan benang lalu dimasukkan kedalam rongga rahim.

3. AKDR adalah suatu alat atau benda yang dimasukkan kedalam rahim

yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai

oleh semua wanita usia reproduktif.


4. AKDR atau spiral adalah suatu alat yang dimasukkan kedalam rahim

wanita untuk tujuan kontrasepsi.

5. AKDR atau IUD adalah suatu alat kontrasepsi modern yang telah

dirancang sedemikian rupa (baik bentuk, ukuran, bahan, dan masa

aktif fungsi kontrasepsinya), diletakkan dalam kavum uteri sebagai

usaha kontrasepsi, menghalangi fertilisasi, dan menyulitkan telur

berimplantasi dalam uterus.

Intra Uterine Device (IUD) merupakan alat kontrasepsi yang

digunakan dalam rahim sebagai pencegah kehamilan. Cara kerjanya

sebagai benda asing dalam rahim dapat menimbulkan reaksi

peradangan setempat. Tembaga yang terdapat di dalam IUD

mempengaruhi reaksi biokimia dalam rahim yang menyebabkan

disfungsi sperma sehingga tidak mampu melakukan pembuahan. Intra

uterine device (IUD) relatif aman dan efektif dalam mencegah

kehamilan.

B. JENIS-JENIS IUD/AKDR

1. Copper T (CuT 380 A)

IUD berbentuk T, terbuat dari bahan polyethelene di mana pada

bagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan kawat

tembaga halus ini mempunyai efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang

cukup baik. IUD bentuk T yang baru IUD ini

melepaskan lenovorgestrel dengan konsentrasi yang rendah selama

minimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang


tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun

perdarahan menstruasi. Kerugian metode ini adalah tambahan

terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.

2. Copper-7

IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan

pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32

mm dan ditambahkan gulungan kawat tembaga (Cu) yang mempunyai

luas permukaan 200 mm2, fungsinya sama seperti halnya lilitan

tembaga halus pada jenis Copper-T.

3. Multi Load

IUD ini terbuat dari plastik (polyethelene) dengan dua tangan kiri

dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas

ke bawah 3,6 cm. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan

luas permukaan 250 mm2 atau 375 mm2 untuk menambah

efektivitas. Ada 3 ukuran multi load, yaitu standar, small (kecil), dan

mini.

4. Lippes Loop

IUD ini terbuat dari bahan polyethelene, bentuknya seperti spiral

atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol, dipasang

benang pada ekornya. Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda

menurut ukuran panjang bagian atasnya. Tipe A berukuran 25 mm

(benang biru), tipe B 27,5 mm (benang hitam), tipe C berukuran 30

mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipe


D. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan

lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang

menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan

plastik. Yang banyak dipergunakan dalam program KB Nasional adalah

IUD jenis ini.

5. Mirena

Mirena IUD adalah perangkat berbentuk T kecil kontrasepsi terbuat dari

plastik elastis. Mirena adalah AKDR yang mengandung hormon

progesteron, dimasukkan ke dalam rahim dan melepaskan levonorgestrel

hormon, yang memiliki efek lokal langsung pada endometrium,

mengurangi fungsi implantasi dan meningkatkan viskositas lendir

serviks, yang mencegah penetrasi sperma ke dalam rahim. Mirena

komponen hormonal membuatnya lebih efisien daripada alat kontrasepsi

lain yang sejenis.

C. MEKANISME KERJA IUD/AKDR

Mekanisme kerja AKDR adalah sebagai berikut:

1. Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti,

ada yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang

menimbulkan reaksi radang setempat, dengan serbukan leukosit yang

dapat melarutkan blastokist atau sperma.


2. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan-perubahan pada

pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokist tidak dapat hidup

dalam uterus.

3. Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan

sering adanya kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang dapat

menghalangi nidasi.

4. Pergerakan ovum yang bertambah cepat dalam tuba fallopii.

5. AKDR yang mengeluarkan hormon akan mengentalkan lendir serviks

sehingga menghalangi pergerakan sperma untuk melewati kavum

uteri.

6. Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan seksual

terjadi) AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim dan

memepengaruhi sel telur dan sperma sehingga pembuahan tidak

terjadi. Sebagai kontrasepsi darurat (dipasang setelah hubungan

suksual terjadi) dalam beberapa kasus mungkin memiliki mekanisme

yang lebih mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi

atau penyerangan sel telur yang telah dibuahi.

7. Dari penelitian-penelitian terakhir, didangka bahwa IUD juga

mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilitas). Ini

terbukti dari penelitian di Chili: a. Diambil ovum dari 14 wanita

pemakai IUD dan 20 wanita tanpa menggunakanan kontrasepsi.

Semua wanita telah melakukan senggama sekitar waktu ovulasi.; b.

Ternyata ovum dari wanita akseptor IUD tidak ada yang menunjukkan
tanda-tanda fertilitas maupun perkembangan embrionik normal,

sedangkan setengah jumlah ovum pada wanita ynag tidak

menggunakan kontrasepsi menunjukkan tanda-tanda fertilisasi dan

perkembangan embrionik normal.; c. Penelitian ini menunjukkan

bahwa IUD antara lain bekerja dengan cara mencegah terjadinya

fertilisasi.

8. Untuk IUD yang mengandung Cu: a. Antagonisme kationic yang

spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzim carboniyc anhydrase

yaitu salah satu enzim dalam traktus genitalia wanita, dimana Cu

menghambat reaksi carboniyc anhydrase sehingga tidak

memungkinkan terjadinya implantasi dan juga mugkin menghambat

aktivasi alkali phosphatase.; b. Mengganggu pengambilan estrogen

endogeneuse oleh mukosa uterus.; c. Menganggu jumlah DNA dalam

sel Endometrium.; d. Mengganggu metabolisme glikogen.

Untuk IUD yang mengandung hormon progesteron. a. Gangguan proses

pematangan proliferatif sekretoir sehingga timbul penekenan terhadap

endometrium dan terganggunya proses implantasi endometrium tetap berada

dalam fase decidual/progestational.; b. Lendir serviks yang menjadi lebih

kental/tebal karena pengaruh progestin.

Cara kerja AKDR yaitu :

1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi.

2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.


3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu,

walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam

alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma

untuk fertilisasi.

4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus.

D. EFEKTIFITAS AKDR

Efektifitas ADKR dalam mencgah kehamilan mencapai 98% hingga

100% bergantung pada jenis AKDR. AKDR terbaru seperti copper T 380

memiliki efektifitas cukup tinggi, bahkan selama 8 tahun penggunaan

tidak ditemukan adanya kehamilan. Pada penelitian yang lain ditemukan

setelah penggunaan 12 tahun ditemukan 2,2 kehamilan per 100 pengguna

dan 0,4 diantaranya terjadi kehamilan ektopik.

E. KEUNTUNGAN IUD/AKDR

Keuntungan AKDR antara lain:

1. Sebagai kontrasepsi, efektivitasnya tinggi. Sangat efektif → 0,6-0,8

kehamilan/100 perempuan dalam satu tahun pertama (1 kegagalan

dalam 125-170 kehamilan).

2. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan.

3. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380 A dan tidak

perlu diganti).

4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat.


5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual.

6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk

hamil.

7. Tidak ada efek samping hormonal

8. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI.

9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila

tidak terjadi infeksi).

10. Dapat digunakan sampai menopause (satu tahun atau lebih setelah haid

terakhir).

11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat.

F. KERUGIAN IUD/AKDR

Kerugian AKDR antara lain:

1. Tidak mencegah IMS termasuk HIV/ AIDS

2. Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan

yang sering berganti pasangan

3. Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS

memakai AKDR, PRP dapat memicu infertilitas

4. Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam

pemasangan AKDR. Seringkali perempuan takut selama pemasangan

5. Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah

pemasangan AKDR. Biasanya menghilang dalam 1-2 hari

6. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas

kesehatan terlatih yang harus melepaskan AKDR


7. Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui ( sering terjadi

apabila AKDR dipasang segera setelah melahirkan )

8. Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR

untuk mencegah kehamilan normal

9. Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke

waktu. Untuk melakukan ini perempuan harus memasukkan jarinya ke

dalam vagina, sebagian perempuan tidak mau melakukan ini.

G. INDIKASI DAN KONTRAINDIKASI IUD/AKDR

INDIKASI:

1. Usia reproduktif

2. Keadaan nulipara

3. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang

4. Menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi

5. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya

6. Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi

7. Risiko rendah dari IMS

8. Tidak menghendaki kontrasepsi hormonal

9. Tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari

10. Tidak menghendaki kehamilan setelah 1-5 hari senggama

KONTRAINDIKASI:

1. Sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil)

2. Perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat diketahui)


3. Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)

4. Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau menderita PRP atau

abortus septik

5. Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yang

dapat mempengaruhi kavum uteri

6. Penyakit trofoblas yang ganas

7. Diketahui menderita TBC pelvic

8. Kanker alat genital

9. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm

H. WAKTU PEMASANGAN IUD/AKDR

1. Sedang haid

Pada waktu ini pemasangan akan mudah karena kanalis servikalis

agak melebar dan kemungkinan terjadi kehamilan sangat kecil,

perasaan sakit kurang dan perdarahan tidak begitu banyak, ini pun

dianggap oleh wanita sebagai darah haid.

2. Pasca persalinan

a. Pemasangan dini (immediate insertion), yaitu pemasangan sebelum

ibu dipulangkan dari rumah sakit.

b. Pemasangan langsung (direct insertion), yaitu pemasangan 3 bulan

setelah ibu dipulangkan.

c. Pemasangan tidak langsung (indirect insertion), yaitu pemasangan

setelah lebih 3 bulan pasca persalinan atau keguguran.


3. Pasca Keguguran

Langsung setelah keguguran, atau dipasang sewaktu ibu pulang dari

rumah sakit.

4. Masa Interval

Yaitu antara dua haid. Bila di pasang setelah masa ovulasi, harus

dipastikan wanita tidak hamil atau mereka telah memakai cara-cara

lain mencegah konsepsi (kondom, sistem kalender, dan sebagainya).

5. Sewaktu Seksio Sesarea

Sebelum luka rahim ditutup terlebih dahulu dikeluarkan darah-darah

beku dari kavum uteri, kemudian AKDR dipasang pada bagian

fundus.

6. After Morning

Pada kasus- kasus dimana dilakukan koitus, maka AKDR dipasang

dalam waktu 72 jam kemudian, sebelum terjadi implantasi blastokista.


DAFTAR PUSTAKA

Handayani, Sri. 2010. Buku ajar Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:

Pustaka Rihama

http://betty11queenty.blogspot.co.id/2015/01/bahan-ajar-iudakdr.html

http://lelinurman42.blogspot.co.id/2014/06/bahan-ajar-kontrasepsi-

hormonal.html

https://oktariiin.wordpress.com/2015/05/02/bahan-ajar/

http://dr-suparyanto.blogspot.co.id/2014/09/konsep-dasar-akdr-alat-

kontrasepsi.html

Meilani Niken, dkk. 2012. Pelayanan Keluarga Berencana. Yogyakarta:

Fitramaya
Setyorini Aniek. 2014. Kesehatan Reproduksi & Pelayanan Keluarga Berencana.

Bogor: Penerbit In Media