Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

BBLR DENGAN KETIDAKSEIMBANGAN TERMOREGULASI


"HIPOTERMI"

A. Konsep Medis Penyakit

1. Definisi
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat kelahiran kurang dari 2500

gram (sampai 2499 gram) tanpa memandang masa kehamilan (Ambarwati & Rismintari, 2009 :

26; Maryanti, et al., 2012 : 167).

2. Etiologi
Menurut Maryanti, et al (2012:169) faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR adalah :

a. Faktor ibu

1) Penyakit

Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan, misalnya perdarahan antepartum,

trauma fisik dan psikologis, DM, toksemia gravidarum, dan nefritis akut.

2) Usia ibu

Angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia <20 tahun, dan multigravida yang jarak

kelahiran terlalu dekat.

3) Keadaan sosial ekonomi


Kejadian tertinggi terdapat pada golongan sosial ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh

keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang.

4) Sebab lain

Ibu perokok, ibu peminum alkohol dan pecandu obat narkotik.

b. Faktor janin

Hidramnion atau polihidramnion, kehamilan ganda, dan kelainan koromosom.

c. Faktor lingkungan
Tempat tinggal dataran tinggi radiasi dan zat-zat racun.
3. Klasifikasi
Menurut Mitayani (2013 : 172) BBLR dibagi menjadi dua golongan, yaitu:

a. Prematuritas murni

Yaitu bayi yang lahir dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat bayi sesuai

dengan gestasi atau yang disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan.

b. Bayi small for gestational age (SGA)

Berat bayi lahir sesuai dengan masa kehamilan. SGA sendiri terdiri atas tiga jenis:

1) Simetris (intrauterus for gestatational age) yaitu terjadi gangguan nutrisi pada awal kehamilan
dan dalam jangka waktu yang lama

2) Asimetris (intrauterus growth retardation) yaitu terjadi defisit nutrisi pada fase akhir kehamilan

3) Dismaturitas yaitu bayi yang lahir kurang dari berat badan yang seharusnya untuk masa gestasi

dan si bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauteri serta merupakan bayi kecil untuk masa

kehamilan

Selain itu, BBLR dapat juga dibagi menjadi 3 stadium yaitu :

1) Stadium 1

Bayi tampak kurus dan relatif lebih panjang, kulit longgar, kering seperti permen karet, namun

belum terdapat noda mekonium.

2) Stadium 2

Bila didapatkan tanda-tanda stadium 1 ditambah warna kehijauan pada kulit, plasenta, dan

umbilikal.

3) Stadium 3

Ditemukan tanda stadium II ditambah kulit berwarna kuning, demikian pula kuku dan tali pusat.

Sedangkan klasifikasi menurut Surasmi dalam Amirudin & Hasmi, (2014 : 146) adalah :

a. Bayi berat badan amat sangat rendah, yaitu bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000

gram.
b. Bayi berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 1500 gram.

Bayi berat badan cukup rendah adalah bayi yang baru lahir dengan berat badan 1501-2500 gram.
4. Patofisiologi
Menurut Maryanti, et al (2012:169) faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR terdiri

dari faktor ibu yang meliputi penyakit ibu, usia ibu, keadaan sosial ekonomi dan sebab lain

berupa kebiasaan ibu, faktor janin, dan faktor lingkungan. BBLR dengan faktor risiko paritas

terjadi karena sistem reproduksi ibu sudah mengalami penipisan akibat sering melahirkan Hal ini

disebabkan oleh semakin tinggi paritas ibu, kualitas endometrium akan semakin menurun.

Kehamilan yang berulang-ulang akan mempengaruhi sirkulasi nutrisi ke janin dimana jumlah

nutrisi akan berkurang dibandingkan dengan kehamilan sebelumnya (Mahayana et al., 2015 :
669).

Menurut Samuel S Gidding dalam Amirudin & Hasmi (2014:85-86) mekanisme pajanan

asap rokok terhadap kejadian BBLR dan berat plasenta dengan beberapa mekanisme yaitu

kandungan tembakau seperti nikotin, CO dan polysiklik hydrokarbon, diketahui dapat menembus

plasenta. Carbonmonoksida mempunyai afinitas berikatan dengan hemoglobin membentuk

karboksihemoglobin, yang menurunkan kapasitas darah mengangkut oksigen ke janin.

Sedangkan nikotin menyebabkan vasokontriksi arteri umbilikal dan menekan aliran darah

plasenta. Perubahan ini mempengaruhi aliran darah di plasenta. Kombinasi hypoxia

intrauterine dan plasenta yang tidak sempurna mengalirkan darah diyakini menjadi penghambat

pertumbuhan janin.

Faktor yang juga mempengaruhi terjadinya BBLR adalah penyakit pada ibu hamil. Anemia

pada ibu hamil dapat mengakibatkan penurunan suplai oksigen ke jaringan, selain itu juga dapat

merubah struktur vaskularisasi plasenta, hal ini akan mengganggu pertumbuhan janin sehingga

akan memperkuat risiko terjadinya persalinan prematur dan kelahiran bayi dengan berat badan

lahir rendah terutama untuk kadar hemoglobin yang rendah mulai dari trimester awal

kehamilan (Cunningham, et al., 2010). Selain anemia, implantasi plasenta abnormal seperti

plasenta previa berakibat terbatasnya ruang plasenta untuk tumbuh, sehingga akan
mempengaruhi luas permukaannya. Pada keadaan ini lepasnya tepi plasenta disertai perdarahan

dan terbentuknya jaringan parut sering terjadi, sehingga meningkatkan risiko untuk terjadi
perdarahan antepartum (Prawirohardjo, 2008). Apabila perdarahan banyak dan kehamilan tidak

dapat dipertahankan, maka terminasi kehamilan harus dilakukan pada usia gestasi berapapun.

Hal ini menyebabkan tingginya kejadian prematuritas yang memiliki berat badan lahir rendah

disertai mortalitas dan morbiditas yang tinggi.

Menurut Wiknjosastro dalam Masitoh, et al. (2014 : 132) pre eklamsi ringan jarang sekali

menyebabkan kematian dan bila tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan yang menetap pada

sistem syaraf, pembuluh darah atau ginjal dari ibu sehingga terjadi keterbelakangan pada janin

karena kurangnya aliran darah melalui plasenta atau kurangnya oksigen pada janin yang
menyebabkan BBLR.

Keadaan sosial ekonomi secara tidak langsung mempengaruhi kejadian BBLR, karena

pada umumnya ibu dengan keadaan sosial ekonomi yang rendah akan mempunyai intake makan

yang lebih rendah baik secara kualitas maupun secra kuantitas, yang berakibat kepada rendahnya

status gizi pada ibu hamil (Amalia, 2011 : 258).

Selain itu, gangguan psikologis selama kehamilan berhubungan dengan terjadinya

peningkatan indeks resistensi arteri uterina. Hal ini disebabkan karena terjadi peningkatan

konsentrasi noradrenalin dalam plasma, sehingga aliran darah ke uterus menurun dan uterus

sangat sensitif terhadap noradrenalin sehingga menimbulkan efek vasokonstriksi.

Mekanisme inilah yang mengakibatkan terhambatnya proses pertumbuhan dan

perkembangan janin intra uterin sehingga terjadi BBLR (Hapisah, et al., 2010 : 86-87).

Menurut Maryanti et al. (2012:169) penyebab BBLR dapat dipengaruhi dari faktor janin

berupa hidramnion atau polihidramnion, kehamilan ganda, dan kelainan koromosom.

Hidramnion merupakan kehamilan dengan jumlah air ketuban lebih dari 2 liter. Produksi air

ketuban berlebih dapat merangsang persalinan sebelum kehamilan 28 minggu, sehingga dapat

menyebabkan kelahiran prematur dan dapat meningkatkan kejadian BBLR. Pada kehamilan

ganda berat badan kedua janin pada kehamilan tidak sama, dapat berbeda 50-1000 gram, hal ini
terjadi karena pembagian darah pada plasenta untuk kedua janin tidak sama. Pada kehamilan

kembar distensi (peregangan) uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi dan sering
terjadi persalinan prematur (Amirudin & Hasmi, 2014 : 110-111). Menurut Saifuddin dalam

Amirudin & Hasmi (2013 : 111-112) kelainan kongenital atau cacat bawaan merupakan

kelaianan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur.

Bayi yang lahir dengan kelainan kongenital, umumnya akan dilahirkan sebagai BBLR atau bayi

kecil.

Pada BBLR ditemukan tanda dan gejala berupa disproporsi berat badan dibandingkan

dengan panjang dan lingkar kepala, kulit kering pecah-pecah dan terkelupas serta tidak adanya

jaringan subkutan (Mitayani, 2013 : 176). Karena suplai lemak subkutan terbatas dan area
permukaan kulit yang besar dengan berat badan menyebabkan bayi mudah menghantarkan panas

pada lingkungan (Sondakh, 2013 : 152). Sehingga bayi dengan BBLR dengan cepat akan

kehilangan panas badan dan menjadi hipotermia (Maryanti, 2012 : 171). Selain itu tipisnya

lemak subkutan menyebabkan struktur kulit belum matang dan rapuh. Sensitivitas kulit yang

akan memudahkan terjadinya kerusakan integritas kulit, terutama pada daerah yang sering

tertekan dalam waktu yang lama (Pantiawati, 2010 : 28). Pada bayi prematuritas juga mudah

sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, kemampuan leukosit masih

kurang dan pembentukan antibodi belum sempurna (Maryanti, 2012 : 172).

Kesukaran pada pernafasan bayi prematur dapat disebabakan belum sempurnanya

pembentukan membran hialin surfaktan paru yang merupakan suatu zat yang dapat menurunkan

tegangan dinding alveoli paru. Defisiensi surfaktan menyebabkan gangguan kemampuan paru

untuk mempertahankan stabilitasnya, alveolus akan kembali kolaps setiap akhir ekspirasi

sehingga untuk pernafasan berikutnya dibutuhkan tekanan negative intratoraks yang lebih besar

yang disertai usaha inspirasi yang kuat. Hal tersebut menyebakan ketidakefektifan pola

nafas (Pantiawati, 2010 : 24-25).

Alat pencernaan bayi BBLR masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan

belum matang (Maryanti et al., 2012 : 171). Selain itu jaringan lemak subkutan yang tipis
menyebabkan cadangan energi berkurang yang menyebabkan malnutrisi dan hipoglikemi. Akibat

fungsi organ-organ belum baik terutama pada otak dapat menyebabkan imaturitas pada sentrum-
sentrum vital yang menyebabkan reflek menelan belum sempurna dan reflek menghisap lemah.

Hal ini menyebabkan diskontinuitas pemberian ASI (Nurarif & Kusuma, 2015 54-55).

5. Gambaran Klinis
Menurut Maryanti, et al. (2012 : 167-168) gambaran klinis dari BBLR menurut

klasifikasinya adalah :

a. Prematuritas murni

1) Berat badan kurang dari 2500 gram

2) Panjang badan kurang dari 45 cm


3) Lingkar kepala kurang dari 33 cm

4) Lingkar dada kurang dari 33 cm

5) Masa gestasi kurang dari 37 minggu

6) Kulit transparan

7) Kepala lebih besar daripada badan

8) Lanugo banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga, dan lengan

9) Lemak subkutan kurang

10) Ubun-ubun dan sutura lebar

11) Labio minora belum tertutup pleh labia mayora (pada wanita), pada laki-laki testis belum turun

12) Tulang rawan dan daun telinga imatur

13) Bayi kecil

14) Posisi masih fetal

15) Pergerakan lemah dan kurang

16) Tangisan lemah

17) Pernafasan belum teratur dan sering mengalami serangan apnea

18) Reflex tonus leher lemah, reflek menghisap dan menelan serta reflex batuk belum sempurna

b. Dismatur
1) Kulit terselubung verniks kaseosa tipis atau tidak ada

2) Kulit pucat atau bernoda mekonium


3) Kering keriput tipis

4) Jaringan lemak di bawah kulit tipis

5) Bayi tampak gesit, aktif dan kuat

6) Tali pusat berwarna kuning kehijauan. Hal ini disebabkan oleh mekonium yang tercampur dalam

amnion yang kemudian mengendap ke dalam kulit, umbilikus dan plasenta sebagai akibat

anoksia intrauterin.

6. Komplikasi
Menurut Deslidel et al. (2011 : 108) komplikasi BBLR bergantung pada klasifikasi BBLR,
yaitu :

a. BBLR prematur atau kurang bulan

1) Sindrom gangguan pernafasan ideopatik (penyakit membran hialin)

2) Pnemonia aspirasi karena refkek menelan dan batuk belum sempurna, bayi belum dapat

menyusu

3) Perdarahan periventrikuler dan perdarahan intraventrikuler (P/IVH) otak lateral akibat anoksia

otak (erat kaitannya dengan gangguan pernafasan)

4) Hipotermia karena sumber panas bayi prematur baik lemak subkutan yang masih sedikit

maupun brown fat belum terbentuk.

Beberapa ciri jika seorang bayi terkena hipotermi antara lain :

a) Bayi menggigil (walau biasanya ciri ini tidak mudah terlihat pada bayi kecil).

b) Kulit anak terlihat belang-belang, merah bercampur putih atau timbul bercak-bercak.

c) Anak terlihat apatis atau diam saja.

d) Gerakan bayi kurang dari normal.

e) Lebih parah lagi jika anak menjadi biru yang bisa dilihat pada bibir dan ujung-ujung jarinya.

(Walyani, 2015 : 161).

5) Hiperbilirubinemia karena fungsi hati belum matang


b. BBLR tidak sesuai usia kehamilan atau dimatur

1) Sindrom aspirasi mekonium


2) Hiperbilirubinemia

3) Hipoglikemia

4) Hipotermia

7. Penatalaksanaan Medis
Menurut Amirudin, et al. (2014 : 142-143) ketika seorang ibu melahirkan bayi BBLR berikut

langkah-langkah penangannya :

a. Mempertahkan suhu dengan ketat

Menurut (Maryanti et al., 2012) bayi BBL dengan cepat akan kehilangan panas badan dan
menjadi hopitermia, karena pusat pengaturan panas badan belum berfunsi dengan baik,

metabolismenya rendah dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi BBLR harus

dirawat dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim.

Selain itu mempertahankan suhu tubuh bayi BBL dan penangannya jika lahir di puskesmas atau

petugas kesehatan adaah sebagai berikut (Amirudin & Hasmi, 2014 : 142) :

1) Keringkan bayi BBLR dengan handuk hangat

2) Kain yang basah secepatnya diganti dengan yang kering dan hangat dan pertahankan tubuhnya

tetap hangat

3) Beri lampu 60 watt dengan jarak minimal 60 cm dari bayi

4) Beri oksigen

5) Tali pusat dalam keadaan bersih

b. Mencegah infeksi dengan ketat

Bayi BBLR mudah sekali terkena infeksi, karena daya tahan tubuh yang masih lemah, leukosit

masih kurang dan pembentukan atibodi belum sempurna (Maryanti et al., 2012 : 172). Maka

prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi sangat

perlu dilakukan (Amirudin & Hasmi, 2014 : 142).

c. Pengawasan nutrisi (ASI)


Reflek menelan bayi BBRL masih belum sempurna dan sangat lemah, sehingga pemberian

nutrisi harus dilakukan dengan cernat. Sebagai langkah awal jika bayi dapat menelan adalah
tetesi ASI dan jika bayi BBLR belum bisa menelan segera dirujuk (rujuk ke rumah sakit jika bayi

BBLRnya ditangani di puskesmas).

Selain itu pencernaan bayi BBLR masih belum sempurna, lambung kecil, enzim pencernaan

belum matang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kgBB dan kalori 110 kal/kgBB sehingga

tumbuhnya dapat meningkat. Pemberian minum bayi sekitar 3 jam setelah lahir dan didahului

dengan menghisap cairan lambung. Reflek menghisap masih lemah, sehingga pemberian minum

sebaiknya sedikit demi sedikit, tetapi frekuensi yang lebih sering. Permulaan cairan diberikan

sekitar 50-60 cc/kgBB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200
cc/kgBB/hari (Maryanti et al., 2012 : 171). Perhatikan selama pemberian minum bayi menjadi

cepat lelah, menjadi biru aatu perut membesar atau kembung (Amirudin & Hasmi, 2014 : 143).

d. Pemberian oksigen

Ekpansi paru yang buruk merupakan masalah yang serius bagi bayi preterm BBLR, akibat tidak

adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi O2 yang diberikan sekitar 30-35 % dengan

menggunakan head box, konsentrasi O2 yang tinggi dalam masa yang panjang dapat

menimbulkan kebutaan. Oksigen yang diberikan pada payi prematur tidak boleh lebih dari 40 %,

hal ini dapat dicapai dengan memberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter

permenit (Proverawati & Sulistyorini, 2010).

e. Penimbangan ketat

Perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan

daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan

ketat (Amirudin, et al., 2014 : 142-143).

f. Medikamentosa

Pemberian vitamin K1

1) Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau

2) Peroral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur 3-10 hari, dan umur
4-6 minggu)

(Pantiawati, 2010 : 55).


Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada bayi dengan BBLR adalah sebagai

berikut :

a. Jumlah darah lengkap untuk menunjukkan adanya penurunan Hb/Ht yang dihubungkan dengn

anemia atau ehilangan darah.

b. Dekstrosik bertujuan untuk menyatakan hipoglikemi.

c. Analisa gas darah untuk menentukan derajat keparahan distres pernafasan bila ada.

d. Elektrolit serum untuk mengkaji adanya hipokalsemia.

e. Bilirubin mungkin meningkat pada polisitemia.


f. Urinalisa untuk mengkaji homeostasis.

g. EKG, EEG, USG, dan angiografi untuk mengetahui defek konginetal dan komplikasi.

(Mitayani, 2013 : 176-177).

B. Konsep Kebutuhan Termoregulasi

1. Kebutuhan Pengaturan Suhu Tubuh


Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang dihasilkan tubuh dengan jumlah

panas yang hilang ke lingkungan luar (Potter & Perry, 2010 : 163).

Suhu tubuh relatif konstan. Hal ini diperlukan untuk sel-sel tubuh agar dapat berfungsi

secara efektif. Suhu tubuh dapat diartikan sebagai keseimbangan antara panas yang diproduksi

dengan panas yang hilang dari tubuh. Kulit merupakan organ yang bertanggunga jawab untuk

memelihara suhu tubuh agar tetap normal dengan mekanisme tertentu (Asmadi, 2008 : 154).

Mekanisme fisiologis dan perilaku mengatur keseimbangan antara panas yang hilang dan

dihasilkan, atau lebih sering disebut sebagai termoregulasi. Mekanisme tubuh harus

mempertahankan hubungan antara produksi panas dan kehilangan panas agar suhu tubuh tetap

kostan dan normal (Potter & Perry, 2010 : 164).

Menurut Atoilah & Kusnadi (2013 : 157) suhu tubuh terdiri dari dua macam, yaitu :

a. Suhu inti yaitu suhu di jaringan tubuh bagian dalam yang relatif konstan 37 oC ± 1 oF (± 0,6 oC)
keculai bila orang menderita demam.
b. Suhu permukaan yaitu suhu dipermukaan tubuh. Naik turun suhu lingkungan akan memengaruhi
suhu permukaan tubuh.

Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada bayi baru lahir belum berfungsi sempurna, untuk

itu perlu dilakukan upaya pencegahan kehilangan panas dari tubuh bayi karena bayi berisiko

mengalami hipotermia. Bayi dengan hipotermia sangat rentan terhadap kesakitan dan

kematian (Indrayani & Djami, 2013 : 318).

Mekanisme kelhilangan panas pada bayi adalah sebagai berikut (Syafrudin & Hamida,

2009) :

a. Radiasi, yaitu panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar bayi yang lebih dingin.

Misalnya, bayi baru lahir diletakkan ditempat yang dingin.

b. Evaporasi, yaitu perpindahan panas dengan cara merubah cairan menjadi uap, yang dipengaruhi

oleh jumlah panas yang dipakai, tingkat kelembabpan udara, aliran udara yang

melewati (Indrayani & Djami, 2013 : 317). Contohnya bayi lahir tidak langsung dikeringkan dari

air ketuban.

c. Konduksi, yaitu pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan

permukaan yang lebih dingin. Misalnya, popok atau celana bayi basah yang tidak langsung

diganti.

d. Konveksi, yaitu hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi. Misalnya, bayi

diletakkan dekat pintu atau jendela terbuka.


Menurut Potter & Perry (2010 : 167) Faktor-faktor yang mempengaruhi suhu tubuh adalah

sebagai berikut :

a. Usia

Pada bayi dan balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu sehingga dapat

terjadi perubahan suhu sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap

lingkungan.

b. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan pemecahan karbohidrat dan

lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan metabolisme dan dapat meninglatkan

metabolisme dan dapat meningkatkan produksi panas sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh.

c. Kadar hormon

Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar. Hal ini dikarenakan adanya

variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron naik dan turun sesuai siklus

menstruasi. Saat progesteron rendah, suhu tubuh berada dibawah suhu dasar yaitu sekitar

1/10nya. Suhu ini bertahan sampai terjadi ovulasi. Perubahan suhu tubuh juga terjadi pada
wanita saat menopouse.

d. Irama sikardian

Suhu tubuh yang normal berubah 0,5-1 oC selama periode 24 jam. Suhu terendah berada diantara

pukul 1 sampai 4 pagi. Pada siang hari suhu tubuh meningkat dan mencapai maksimum pada

pukul 6 sore, lalu menurun kembali sampai pagi hari.

e. Stres

Stres fisik maupun emosional meningatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan syaraf.

Perubahan fisiologis ini menyebabkan metabolisme, yang akan meningkatkan produksi panas.

f. Lingkungan

Tanpa mekanisme kompensasi yang tetap, suhu tubuh manusia akan berubah mengikuti suhu

lingkungan. Suhu lingkungan lebih mempengaruhi anak-anak dan dewasa tua karena mekanisme

regulasi suhu mereka yang kurang efisien.

g. Perubahan suhu

Perubahan suhu tubuh di luar kisaran normal akan mempengaruhi titik pengaturan hipotalamus.

Perubahan ini berhubungan dengan produksi panas berlebihan, kehilangan panas berlebihan,

produksi panas minimal, kehilangan panas minimal, atau kombinasi hal di atas.

2. Fisiologi Pertahanan Suhu Tubuh


Tubuh secara normal mempertahankan keseimbangan antara produksi dan penghilangan

suhu melalui sistem pengendali suhu. Ada beberapa faktor yang berperan dalam

mempertahankan suhu tubuh menurut Muttaqin (2012 : 37), yaitu :

a. Hipotalamus bekerja sebagai sebuah termostat, merasakan perubahan minor suhu tubuh dan

mengaktifkan penghilangan atau produksi panas untuk mempertahankan suhu inti tubuh tetap

dalam kisaran fisiologis yang aman.

b. Pengaturan perilaku melibatkan kerja volunter, mempertebal pakaian, bergerak ke tempat yang

lebih dingin atau yang lebih hangat untuk mempertahankan suhu tubuh yang nyaman.
c. Peran kulit dalam pengaturan panas meliputi sebagai penyekat tubuh, vasokontriksi (yang

memengaruhi aliran darah dan hilangnya panas ke kulit), dan sensai tubuh. Suhu berpindah dari

darah melalui dinding pembuluh kepermukaan kulit dan hilang ke lingkungan sekitar melalui

mekanisme penghilangan panas. Bila suhu tubuh rendah, pembuluh darah konstriksi. Saat suhu

tinggi, hipotalamus menghambat vasokontriksi dan pembuluh dilatasi. Saat kulit menjadi dingin,

sensori megirim informasi ke hipotalamus, yang mengakibatkan menggigil, mengahambat

keringat, dan vasokonstriksi.

Termoregulasi bergantung pada fungsi normal dari proses produksi panas. Panas yang

dihasilkan tubuh adalah hasil sampingan metabolisme, yaitu reaksi kimia dalam seluruh sel

tubuh. Makanan merupakan sember utama bahan bakar untuk metabolisme. Aktivitas yang

membutuhkan reaksi kimia tambahan akan meningkatkan laju metabolik, yang juga akan

menambah produksi panas (Potter & Perry, 2010 : 164).

Sumber termoregulasi yang digunakan bayi baru lahir adalah dengan penggunaan lemak

coklat, lemak coklat berada di daerah interskapula, di sekitar leher, aksila, sekitar masuk thorak,

disepanjang kolumna vertebralis dan sekitar ginjal. Panas yang dihasilkan dari aktivitas lipid

dalam bentuk lemak coklat dapat menghangatkan bayi baru lahir dengan meningkatkan produksi

panas hingga 100%. Cadangan lemak coklat lebih banyak terdapat pada bayi baru lahir cukup
bulan di banding dengan bayi lahir prematur (Maryanti et al., 2012 : 11).

3. Hipotermi
Menurut Syafrudin & Hamida (2009 : 141) hipotermia terjadi jika suhu tubuh di bawah

36,5 oC (suhu normal pada neonatus adalah 36,5-37,5 oC) pada pengukuran suhu melalui ketiak.

Bayi baru lahir mudah sekali terkenan hipotermia. Hal ini disebabkan oleh hal-hal berikut :

a. Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dngan sempurna

b. Permukaan tubuh bayi relatif luas

c. Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas

d. Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar ia tidak kedinginan

Hipotermi diklasifikasikan menjadi hipotermi ringan, hipotermi sedang, dan hipotermi


berat, yang akan dijelaskan pada tabel berikut :
Tabel 2.1 Klasifikasi Hipotermi
Hipotermi ringan Hipotermi sedang Hipotermi berat
o
>34 C 30-34 oC <30 oC
Masih menggigil Rigiditas otot “Tampak meninggal”
atau koma
Takikardi Diuresis dingin Pupil berdilatasi dan
tidak responsif
Vasokontriksi perifer Penurunan kesadaran Henti nafas dan
progesif hingga koma fibrilasi ventrikel
Ataksia, gangguan Tanda vital sulit untuk Penghangatan aktif
berbicara, gangguan dideteksi hingga mencapai suhu
pengambilan 30 oC : lavase
keputusan, atau menghasilkan suhu
o
perlambatan mental. 3 C, sementara
ECMO menghasilkan
suhu 9 oC/jam
Obati dengan EKG : gelombang J
penghangatan pasif atau osbourne pada
sadapan inferolateral
Selimut hangat Mikardium resisten
terhadap defibrilasi dan
pengobatan pada suhu
<30 oC

Sumber : (Lalani, 2011 : 131)

Jika suhu tubuh turun dibawah 34,4oC, terjadi penurunan denyut jantung, frekuensi nafas,

dan tekanan darah. Kulit menjadi sianotik. Jika hipotermia terus berlanjut, pasien mengalami
disritmia jantung, kehilangan kesadaran, dan tidak responsif terhadap nyeri (Potter & Perry,

2010).
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, L. (2011). Faktor Risiko Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah BBLR di RSU Dr MM Dunda
Limboto Kabupaten Gorontalo. Jurnal Sainstek, 6(3), 249–260. Retrieved from
http://repository.ung.ac.id/get/simlit_res/1/399/Faktor-Risiko-KejadianBayi-Berat-Lahir-
Rendah-BBLR-di-RSU-Dr-MM-Dunda-Limboto-Kabupaten-Gorontalo-Risk-factors-in-the-
Incidence-of-Low-Birth-Weight-Birth-at-Dr-MM-Dunda-Limboto-Gorontalo-Regency.pdf.
Ambarwati, E. R., & Rismintari, Y. S. (2009). Asuhan Kebidanan Komunitas. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Amirudin, R., & Hasmi. (2014). Determinan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: TIM.
Asmadi. (2008). Teknik Prosedural Keperawatan : Konsep dan AplikasiKebutuhan Dasar Klien.
Jakarta: Salemba Medika.
Atoilah, E. M., & Kusnadi, E. (2013). Askep pada Klien dengan Gangguan Kebutuhan Dasr Manusia.
Garut: In Media.
Ballard JL, Khoury JC, Wedig K, et al. (1991). New Ballard Score, expanded to include extremely
premature infants. Jurnal Pediatrics, (119), 417–423. Retrieved from
http://www.ballardscore.com/Pages/ScoreSheet.aspx
Cunningham FG, Leveno K, Bloom S, Hauth J, Rouse D, S. C. (2010). Obstetri Williams (Edisi ke 2).
Jakarta: EGC.
Deslidel, Hasan, Z., Hevrialni, R., & Sartika, Y. (2011). Buku Ajar Asuhan Neonatus, Bayi, dan
Balita. Jakarta: EGC.
Djaelani, A. R. (2013, March). Teknik Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif. FPTK IKIP
Veteran Semarang, 82–92. Retrieved from http://www.e-journal.ikip-
veteran.ac.id/index.php/pawiyatan/article/download/55/64
Hapisah, Dasuki, D., & Prabandari, Y. S. (2010). Depressive Symptoms Pada Ibu Hamil dan Bayi
Berat Lahir Rendah. Berita Kedokteran MasyarakatMasyarakat, 26(2), 81–89. Retrieved from
http://jurnal.ugm.ac.id/bkm/article/view/3472/2999
Indrayani, & Djami, M. E. U. (2013). Asuhan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: TIM.
Jatim, D. (2013). Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2012, 38–40
Lalani, A. (2011). Kegawatdaruratan Pediatri. Jakarta: EGC.
Mahayana, S. A. S., Chundrayetti, E., & Yulistini. (2015). Artikel Penelitian Faktor Risiko yang
Berpengaruh terhadap Kejadian Berat. Jurnal Kesehatan Andalas, 4(3), 664–673. Retrieved from
http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/viewFile/345/300
Marcdante, K. J., Kliegman, R. M., Jenson, H. B., & Behrman, R. E. (2011). Nelson Ilmu Kesehatan
Anak Esensial (Edisi keen). Jakarta.
Maryanti, D., Sujianti, & Budiarti, T. (2012). Buku Ajar Neonatus, Bayi, dan Balita. Jakarta: Trans
Info Media.
Maryunani, A., & Puspita, E. (2013). Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatus. Jakarta:
TIM.
Masitoh, S., Syarifudin, & Delmaifanis. (2014). Hamil Ganda Penyebab Bermakna Berat Bayi Lahir
Rendah. Jurnal Ilmu Dan Teknologi Kesehatan, 1(2), 129–134. Retrieved from
http://ejurnal.poltekkesjakarta3.ac.id/index.php/JITEK/article/view/55/48
Mitayani. (2013). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.
Muttaqin, A. (2012). Pengkajian Keperawatan : Aplikasi pada Praktik Klinik. Jakarta: sa.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
NANDA NIC-NOC (Jilid 3). Yogyakarta: Media Action Publishing.
Pantiawati, I. (2010). Bayi dengan BBLR. Yogyakarta: Nuha Medika.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2010). Fundamental Keperawatan (Edisi 7). Jakarta: Salemba Medika.
Prawirohardjo, S. (2008). Ilmu kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Proverawati, A., & Sulistyorini, C. I. (2010). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Yogyakarta: Nuha
Medika.
Putri, Y. R., Gusnila, E., & Silvia. (2015). Pengaruh Perawatan Metode Kanguru Terhadap Perubahan
Berat Badan Bayi Lahir Rendah. Jurnal IPTEK Terapan, 9(1), 1–10. Retrieved from
http://ejournal.stikesmukla.ac.id/index.php/involusi/article/download/62/58
Rahmat, P. S. (2009). Jurnal Penelitian Kualitatif. Equilibrium, 5(9), 1–8. Retrieved from
http://yusuf.staff.ub.ac.id/files/2012/11/Jurnal-Penelitian-Kualitatif.pdf
Sondakh, J. J. S. (2013). Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Jakarta: Erlangga.
Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: ALFABETA.
Syafrudin, & Hamida. (2009). Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.
Tazkiah, M., Wahyuni, C. U., Martini, S., & Timur, J. (2013). Determinan Epidemologi Kejadian
BBLR Pada Daerah Endemis Malaria Di Kabupaten Banjar. Jurnal Berkala Epidemologi, 1(2),
266–276. Retrieved from http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-jbe6e2decf148full.pdf

Walyani, E. S. (2015). Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Yogyakarta:


Pustaka Baru Press.