Anda di halaman 1dari 16

PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA DAN IDEOLOGI NASIONAL

MAKALAH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran


Pendidikan Kewarganegaraan

Kelas VIII A

Disusun Oleh:
KELOMPOK 2
1. Nurul Qodar
2. Deden Rukmana
3. Hadad Hamzi
4. Ari Sasmita
5. Elis Lanjayani

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 LEMAHSUGIH


2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul tentang “Pancasila Sebagai Dasar Negara Dan Ideologi Nasional.”
Shalawat serta salam kita haturkan kepada junjungan nabi Muhammad
SAW yang atas perjuangan beliau sehingga kita dapat tetap hidup dibawah
naungan cahaya rahmat dan dapat terus menuntut ilmu guna mendapat derajat
kemuliaan di sisi-Nya serta dapat lebih mengenal hakikat-Nya.
Makalah ini telah kami susun dan kami rangkai dengan baik dan benar
guna melengkapi tugas pelajaran pendidikan kewarganegaran. Kami harap
makalah ini dapat berguna bagi para pembaca guna menambah pengetahuan.
Terima kasih kami haturkan kepada pihak-pihak yang telah berperan
membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini, serta permohonan maaf atas
makalah yang memiliki banyak kekurangan dan kesalahan ini.
Semoga makalah ini dapat dipahami dengan baik bagi para pembacanya
dan dapat bermanfaat, baik untuk kami dari tim penyusun maupun bagi para
pembaca. Sebelumnya kami memohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang
berkenan. Maka dari itu, kami mohon kritik dan sarannya untuk perbaikan kami
kedepannya.demi perbaikan di masa depan.

Lemahsugih, September 2018

Penulis,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i


DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1
C. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3
A. Pengertian Pancasila..................................................................................... 3
B. Pancasila sebagai Pendekatan Filsafat ......................................................... 3
C. Makna Pancasila sebagai Dasar Negara ....................................................... 5
D. Implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara ............................................ 6
E. Makna Pancasila sebagai Ideologi Nasional ................................................ 7
F. Implementasi Pancasila sebagai Ideologi Nasional ................................... 11
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 12
A. Kesimpulan ................................................................................................ 12
B. Saran ........................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pancasila sebagai dasar negara, berkembang melalui suatu proses yang
cukup panjang. Pada awalnya, bersumber dari nilai-nilai yang dimiliki oleh
Bangsa Indonesia, yaitu: dalam adat-istiadat, serta dalam agama-agama sebagai
pandangan hidup bangsa. Fundamental untuk menjadi warga negara yang baik itu
adalah sikap moral yang didasarkan atas landasan falsafah negara pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945. Untuk menjadi warga negara yang baik kita dituntut
untuk mengerti dan memahami tentang isi dan makna yang terkandung dalam
Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, atau dengan kata lain untuk menjadi
warga negara yang baik dengan sikap moral dan perilaku berdasarkan falsafah
negara dan undang-undang dasar kita.
Secara umum, mengajarkan atau memberikan pedoman tentang bagaimana
menjadi warga negara yang baik, misalnya dengan pergaulan masyarakat dan
dalam hubungan warga negara dengan negaranya, yaitu dengan mengajarkan
bagaimana cara bertingkah laku sesuai dengan dasar falsafah Pancasila dan
dengan mematuhi peraturan yang ada dengan rasa kesadaran yang tinggi sebagai
warga negara yang baik. Bagitu pun untuk menjadi warga negara yang baik, yaitu
diwujudkan dengan sikap moral yang terpuji dan mematuhi semua peraturan
negara yang berlaku dalam masyarakat.

B. Rumusan Masalah
1. Pancasila dalam pendekatan filsafat?
2. Makna pancasila sebagai dasar negara?
3. Implementasi pancasila sebagai dasar negara?
4. Makna pancasila sebagai ideologi nasional?
5. Implementasi pancasila sebagai ideologi nasional?

1
C. Tujuan
1. Mengetahui tentang pancasila dalam pendekatan filsafat.
2. Mengerti makna pancasila sebagai dasar negara serta sebagai ideologi
nasional.
3. Mengerti tentang implementasi pancasila sebagai dasar negara dan sebagai
ideologi nasional.
4. Mampu menerapkan pancasila atau mampu mengamalkan pancasila dalam
kehidupan sehari-hari.

2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pancasila
Pancasila adalah ideologi dasar bagi Negara Indonesia. Nama ini terdiri
dari dua kata Sanskerta: panca berarti lima dan sila berarti prinsip atau asas.
Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara
bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sendi utama penyusun Pancasila adalah
Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan
Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan
permusyawaratan perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
yang tercantum pada paragraf ke-4 preambule (pembukaan) Undang-undang
Dasar 1945 (Anonymous, 2011).
Pancasila merupakan cerminan karakter bangsa dan Negara Indonesia
yang beragam, hal itu dapat terlihat dari fungsi dan kedudukan pancasila sebagai
jiwa Bangsa Indonesia, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, sarana
tujuan hidup dan pedoman Bangsa Indonesia. Sebagai warga negara yang setia
kepada nusa dan bangsa haruslah mau mempelajari dan menghayati pancasila
yang sekaligus sebagai dasar filsafat negara (Kaelan dan Zubaidi, Ahmad. 2007).
Negara Pancasila adalah suatu negara yang didirikan, dipertahankan dan
dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan martabat
dan hak-hak azasi semua warga Bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan
beradab), agar masing-masing dapat hidup layak sebagai manusia,
mengembangkan dirinya dan mewujudkan kesejahteraannya lahir batin selengkap
mungkin, memajukan kesejahteraan umum, yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh
rakyat dan mencerdaskan kehidupan bangsa “keadilan sosial” (Kirdi Dipuyo,
1979:30).

B. Pancasila sebagai Pendekatan Filsafat


Secara etimologis istilah ”filsafat“ atau dalam Bahasa Inggrisnya
“philosophi” adalah berasal dari Bahasa Yunani “philosophia” yang secara lazim
diterjemahkan sebagai “cinta kearifan” kata philosophia tersebut berakar pada

3
kata “philos” (pilia, cinta) dan “sophia” (kearifan). Berdasarkan pengertian
bahasa tersebut filsafat berarti cinta kearifan. Kata kearifan bisa juga berarti
“wisdom” atau kebijaksanaan sehingga filsafat bisa juga berarti cinta
kebijaksanaan (Nasution, 1973). Berdasarkan makna kata tersebut maka
mempelajari filsafat berarti merupakan upaya manusia untuk mencari
kebijaksanaan hidup yang nantinya bisa menjadi konsep kebijakan hidup yang
bermanfaat bagi peradaban manusia. Seorang ahli pikir disebut filosof, kata ini
mula-mula dipakai oleh Herakleitos.
Dalam suatu wacana pendidikan, filsafat adalah suatu kata yang mudah
dipahami pengertiannya dan sangat sederhana. Filsafat adalah satu bidang ilmu
yang senantiasa ada dan menyertai kehidupan manusia. Dengan kata lain selama
hidup manusia, maka sebenarnya ia tidak dapat mengelak dari adanya, atau dalam
kehidupannya senantiasa berfilsafat (Kaelan dan Zubaidin, Achmad. 2007:7).
Pengertian pancasila sebagai filsafat pada dasarnya adalah suatu nilai. Rumusan
pancasila sebagaimana dalam pembukaan UUD 1945 alinea IV adalah sebagai
berikut:
1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
dan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sila-sila pancasila pada dasarnya adalah suatu nilai. Nilai yang mencakup
perasaan dalam pancasila tersebut adalah nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai
persatuan, nilai kerakyatan, dan nilai keadilan, yang menjadi sumber
penyelenggaraan kehidupan bernegara Indonesia.
Ciri-ciri nilai adalah sebagai berikut:
1. Suatu Realitas Abstrak
Seperti sebuah ide, yang tidak dapat ditangkap melalui indera, yang dapat
ditangkap adalah objek yang memiliki nilai. Contoh: pantai akan terlihat indah
jika difoto. Pantai adalah riil dan keindahan adalah abrstak.

4
2. Bersifat Normatif
Nilai yang mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Contoh: orang
hidup mengharapkan keadilan dan kemakmuran. Jadi nilai bersifat normatif,
suatu keharusan yang menuntut diwujudkan dengan tingkah laku.
3. Sebagai Motivator (Daya Dorong) Manusia untuk Bergerak
Menjadi pendorong hidup atau tindakan manusia. Contoh: kepandaian, semua
siswa mengharapkan kepandaian, karena menginginkan kepandaian jadi
mereka melakukan segala cara agar pandai.
Dalam filsafat pancasila disebutkan bahwa ada 3 tingkatan nilai yaitu:
1. Nilai dasar, yaitu nilai yang mendasari sila instrumental, nilai dasar adalah
azas-azas yang kita terima dengan dalil yang bersifat sedikit banyak mutlak.
Dan diterima sebagai sesuatu yang benar dan tidak perlu dipertanyakan lagi.
2. Nilai instrumental, yaitu sebagai nilai pelaksanaan umum dari nilai dasar.
Umumnya berbentuk norma sosial dan norma hukum yang selanjutnya akan
terkristalisasi dalam peraturan dan mekanisme lembaga negara. Dapat
mengikuti perkembangan zaman, baik negeri maupun luar negeri dan dapat
berupa Tap MPR, UU, PP, dan lain-lain.
3. Nilai praktis, yaitu nilai yang sesungguhnya kita laksanakan dalam kenyataan.
Nilai praktis sesungguhnya menjadi batu ujian, apakah nilai dasar dan nilai
instrumental itu benar-benar hidup dalam masyarakat Indonesia.
Dengan dijadikannya pancasila sebagi dasar negara dan ideologi nasional
berarti memiliki konsekuensi logis untuk menerima dan menjadikan nilai-nilai
pancasila sebagai acuan pokok bagi pengaturan penyelenggaraan bernegara. Hal
ini, diupayakan dengan menjabarkan nilai pancasila tersebut ke dalam UUD 1945
dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan selanjutnya menjadi
pedoman penyelenggaraan bernegara sebagai nilai dasar bernegara dan
diwujudkan menjadi norma hidup bernegara.

C. Makna Pancasila sebagai Dasar Negara


Indonesia memiliki dasar negara yang sangat kuat sebagai filosofi bangsa,
di mana Indonesia memiliki pancasila sebagai dasar negara. Pengertian pancasila

5
sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat pembukaan UUD 1945 dan
sebagaimana tertuang dalam Momerandum DPR-GR 9 Juni 1966 yang
melandaskan pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah dimurnikan
dan dipadatkan oleh PPKI atas nama Rakyat Indonesia menjadi dasar Negara
Republik Indonesia. Memorandum DPR-GR disahkan pula oleh MPRS dengan
ketetapan No.XX/MPRS/1966. Ketetapan MPR No.V/MPR/1973 dan ketetapan
MPR No.IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan pancasila sebagai sumber
dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.
Pancasila merupakan intelligent choice kerena mengatasi keanekaragaman
dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya perbedaan.
Penetapan pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan perbedaan
(indifferentism), tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan empiris khas
Indonesia yang dinyatakan dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
Pancasila seperti yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945 dan
ditegaskan keseragaman sistematikanya melalui Intruksi Presiden No. 12 Tahun
1968 itu tersusun secara hirarkis-piramidal. “Setiap sila (dasar atau azaz)
memiliki hubungan yang saling mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian
rupa hingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari
pembenaran pada sila lainnya adalah tindakan yang sia-sia”. Oleh karena itu,
pancasila pun harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh, yang
tidak dapat dipisah-pisahkan. Usaha memisah-misahkan sila-sila dalam kesatuan
yang utuh dari pancasila akan menyebabkan Pancasila kehilangan eksistensinya
sebagai dasar negara.

D. Implementasi Pancasila sebagai Dasar Negara


Pancasila adalah jiwa seluruh rakyat Indonesia, yang memberikan
kekuatan serta membimbing dalam mengejar kehidupan lahir batin yang baik.
Pancasila merupakan kepribadian dan pandangan hidup Bangsa Indonesia, yang
telah diuji kebenaran dan kesaktiannya, sehingga tidak ada satu kekuatanpun yang
mampu memisahkan pancasila dari kehidupan Bangsa Indonesia. Pancasila
sebagai dasar negara dan landasan idil bangsa Indonesia pada zaman reformasi

6
telah menyelamatkan bangsa dari ancaman disintegrasi selama lebih dari puluhan
tahun. Sejarah implementasi pancasila memang tidak menunjukkan garis lurus
bukan dalam pengertian keabsahan substansial, tetapi dalam konteks
implementasinya.
Tantangan terhadap pancasila sebagai kristalisasi pandangan politik
berbangsa dan bernegara bukan hanya berasal dari faktor domestik, tetapi juga
faktor internasional. Saat ini pengimplementasian pancasila sangat dibutuhkan
oleh masyarakat, karena di dalam pancasila terkandung nilai-nilai luhur Bangsa
Indonesia yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Implementasi pancasila dalam
kehidupan bermasyarakat pada hakikatnya merupakan suatu realisasi praktis
untuk mencapai tujuan bangsa.
Pengimplementasian pancasila sebagai dasar negara pada dasarnya dapat
diwujudkan dengan pembentukan sistem hukum nasional dalam sistem tertib
hukum di mana pancasila sebagai norma dasarnya.

E. Makna Pancasila sebagai Ideologi Nasional


Istilah ideologi berasal dari kata ‘idea’ yang berarti ‘gagasan, konsep,
pengertian dasar, cita-cita’ dan ‘logos’ yang berarti ‘ilmu’. Kata ‘idea’ berasal
dari Bahasa Yunani ‘iedos’ yang artinya ‘bentuk’. Di samping itu ada kata ‘idein’
yang artinya ‘melihat’. Maka secara harfiah, ideologi berarti ilmu pengertian-
pengertian dasar. Dalam pengertian sehari-hari, ‘idea’ disamakan artinya dengan
‘cita-cita’. Cita-cita yang dimaksudkan dalam hal ini adalah cita-cita yang bersifat
tetap yang harus dicapai, sehingga cita-cita yang bersifat tetap itu sekaligus
merupakan dasar, pandangan atau paham. Memang pada hakikatnya, antara dasar
dan cita-cita merupakan suatu kesatuan yang sangat berkaitan erat. Dasar
ditetapkan karena adanya suatu landasan, asa atau dasar yang telah ditetapkan
pula. Dengan demikian, ideologi mencakup pengertian tentang ide-ide, pengertian
dasar, gagasan dan cita-cita.
Berikut beberapa pengertian ideologi menurut para ahli:
1. Patrick Corbett, menyatakan bahwa ideologi sebagai struktur kejiwaan yang
tersusun oleh seperangkat keyakinan mengenai penyelenggaraan hidup

7
bermasyarakat serta pengorganisasiannya, seperangkat keyakinan mengenai
sifat hakikat manusia dan alam semesta yang ia hidup di dalamnya, suatu
pernyataan pendirian bahwa kedua perangkat keyakinan tersebut dihayati dan
pernyataan pendirian itu diakui sebagai kebenaran oleh segenap orang yang
menjadi anggota penuh dari kelompok sosial yang bersangkutan.
2. A.S Hornby, menyatakan bahwa ideologi adalah seperangkat gagasan yang
membentuk landasan teori ekonomi dan politik atau yang dipegang oleh
seorang atau kelompok orang.
3. Soejono Soemargono, menyatakan secara umum “ideologi” sebagai kumpulan
gagasan, ide, keyakinan, kepercayaan, yang menyeluruh dan sistematis yang
menyangkut bidang politik, sosial, kebudayaan, dan agama.
4. Gunawan Setiardja, merumuskan ideologi sebagai seperangkat ide asasi
tentang manusia dan seluruh realitas yang dijadikan pedoman dan cita-cita
hidup.
5. Frans Magnis Suseno, mengatakan bahwa ideologi sebagai suatu sistem
pemikiran yang dibedakan menjadi ideologi tertutup dan terbuka.
Berdasarkan Ketetapan MPR No.XVIII/MPR/1998 tentang pencabutan
Ketetapan MPR RI No.II/MPR/1978 tentang P4 (Eka Prasetya Panca Karsa),
menyebutkan bahwa Pancasila selain berkedudukan sebagai dasar negara, juga
berkedudukan sebagai Ideologi Nasional Bangsa Indonesia. Adapun makna
pancasila dari ketentuan tersebut adalah bahwa nilai yang terkandung dalam
ideologi pancasila menjadi cita-cita normatif bagi penyelenggaraan bernegara.
Arah dari penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia adalah
terwujudnya kehidupan yang sudah disebutkan dalam lima sila pada pancasila,
yaitu: kehidupan yang berketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan
keadilan.
Kumpulan nilai-nilai dari kehidupan lingkungan sendiri dan yang diyakini
kebenarannya kemudian digunakan untuk mengatur masyarakat, inilah yang
disebut dengan ideologi, karena memiliki fungsi sebagai cita-cita yang sejalan
dengan fungsi utama dari sebuah ideologi yang mampu mempersatukan
masyarakat sehingga dijadikan sebagai prosedur penyelesaian konflik. Seperti

8
yang dikatakan oleh Jorge Larrain bahwa ideology as a set of beliefs yang berarti
setiap individu atau kelompok masyarakat memiliki suatu sistem kepercayaan
mengenai sesuatu yang dipandang bernilai dan yang menjadi kekuatan
motivasional bagi perilaku individu atau kelompok. Nilai-nilai itu dipandang
sebagai cita-cita dan menjadi landasan bagi cara pandang, cara berpikir dan cara
bertindak seseorang atau suatu bangsa dalam memecahkan setiap persoalan yang
dihadapinya. Begitu pula dengan pancasila yang merupakan kumpulan atau
seperangkat nilai yang diyakini kebenarannya oleh pemerintah dan rakyat
Indonesia dan digunakan oleh Bangsa Indonesia untuk menata dan mengatur
masyarakat Indonesia atau berwujud Ideologi yang dianut oleh negara
(pemerintah dan rakyat) Indonesia secara keseluruhan, bukan milik perseorangan
atau golongan tertentu atau masyarakat tertentu saja, namun milik Bangsa
Indonesia secara keseluruhan.
Pancasila sebagai ideologi nasional dapat diklasifikasikan melalui:
1. Dilihat dari kandungan muatan suatu ideologi, karena dari setiap ideologi
mengandung suatu sistim nilai yang diyakini sebagai suatu hal yang baik dan
benar. Merupakan cita-cita yang akan mengarahkan terhadap perjuangan
bangsa dan negara.
2. Tumbuhnya suatu sistim kepercayaan yang terbentuk dari adanya suatu
interaksi dengan berbagai pandangan dan aliran yang berlingkup modal dan
menjadi kesepakatan bersama dari suatu bangsa.
3. Terujinya sistim nilai tersebut melalui perkembangan sejarah secara
berkelanjutan dan menumbuhkan konsensus dasar yang tercermin dalam
kesepakatan para pendiri negara (the founding father).
4. Adanya suatu elemen psikologis yang akan tumbuh dan dibentuk melalui
pengalaman bersama dalam suatu perjalanan sejarah, sehingga memberi
kekuatan motivasional yang menuntut untuk tunduk pada cita-cita bersama.
5. Diperolehnya kekuatan konstitusional sebagai dasar negara dan sekaligus
menjadi cita-cita luhur bangsa dan negara.
Pancasila sebagai ideologi nasional memiliki beberapa dimensi, yaitu:

9
1. Dimensi idealitas, artinya ideologi pancasila mengandung harapan-harapan
dan cita-cita di berbagai kehidupan yang ingin dicapai masyarakat.
2. Dimensi realitas, artinya nilai-nilai dasar yang terkandung di dalam sumber
dari nilai-nilai hidup dalam masyarakat penganutnya, yang menjadi milik
mereka dan sudah dikenal oleh mereka.
3. Dimensi normalitas, artinya pancasila mengandung nilai-nilai yang bersifat
mengikat masyarakatnya yang berupa norma-norma yang harus dipatuhi dan
ditaati yang memiliki sifat positif.
4. Dimensi fleksibilitas, artinya pancasila itu mengikuti perkembangan zaman,
dapat berinteraksi dengan perkembangan zaman, bersifat terbuka dan
demokratis.
Ideologi sebagai suatu sistem pemikiran dapat dibedakan menjadi ideologi
terbuka dan ideologi tertutup.
1. Ideologi terbuka, merupakan suatu pemikiran yang terbuka. Ideologi terbuka
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a. Bahwa nilai-nilai dan cita-citanya tidak dapat dipaksakan dari luar
melainkan digali dan diambil dari moral, budaya masyarakat itu sendiri.
b. Dasarnya bukan keyakinan ideologis sekelompok orang melainkan hasil
musyawarah dari konsensus masyarakat tersebut.
c. Nilai-nilai itu sifatnya dasar, secara garis besar saja sehingga tidak
langsung operasional.
2. Ideologi tertutup, merupakan suatu sistem pemikiran tertutup. Ideologi ini
mempunyai ciri sebagai berikut:
a. Merupakan cita-cita suatu kelompok orang untuk mengubah dan
memperbaharui masyarakat. Atas nama Ideologi dibenarkan pengorbanan-
pengorbanan yang dibebankan kepada masyarakat.
b. Isinya bukan hanya nilai-nilai dan cita-cita tertentu, melainkan terdiri dari
tuntutan-tuntutan konkret dan oprasional yang keras dan diajukan mutlak.
Pancasila sebagai sebuah pemikiran memenuhi ciri sebagai ideoloi
terbuka. Nilai yang terkandung dalam ideologi Pancasila bukanlah nilai-nilai luar

10
tetapi bersumber dari kekayaan rohani bangsa, serta diterimanya nilai bersama itu
adalah hasil kesepakatan warga bangsa bukan paksaan atau tekanan pihak lain.

F. Implementasi Pancasila sebagai Ideologi Nasional


Dalam ideologi terkandung nilai-nilai. Nilai-nilai itu dianggap sebagai
nilai yang baik, luhur dan dianggap menguntungkan masyarakat sehingga diterima
nilai tersebut. Oleh karena itu, ideologi digambarkan sebagai seperangkat gagasan
tentang kebaikan bersama. Seperangkat nilai yang dianggap benar, baik, adil dan
menguntungkan itu dijadikan nilai bersama. Apabila sekelompok masyarakat
bangsa menjadikan nilai dalam ideologi sebagai nilai bersama maka ideologi
tersebut menjadi ideologi bangsa atau ideologi nasional bangsa yang
bersangkutan.
Ada 2 (dua) fungsi utama ideologi dalam masyarakat, pertama yaitu
sebagai tujuan atau cita-cita yang hendak dicapai secara bersama oleh suatu
masyarakat. Kedua, sebagai pemersatu masyarakat dan karena sebagai prosedur
penyelesaian konflik yang terjadi di masyarakat. Dalam kaitannya dengan yang
pertama, nilai dalam ideologi menjadi cita-cita atau tujuan dari masyarakat.
Tujuan hidup bermasyarakat adalah untuk mencapai terwujudnya nila-nilai dalam
ideologi itu. Adapun dalam kaitannya yang kedua, nilai dalam ideologi itu
merupakan nilai yang disepakati bersama sehingga dapat mempersatukan
masyarakat itu, serta nilai bersama tersebut dijadikan acuan bagi penyelesaian
suatu masalah yang mungkin timbul dalam kehidupan masyarakat yang
bersangkutan.
Pengimplementasian pancasila sebagai sebuah ideologi nasional sudah
tertuang pada Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat RI No.VII/MPR/2011
tanggal 9 November 2001 tentang visi Indonesia masa depan.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pancasila adalah pandangan hidup bangsa dan dasar Negara RI. Pancasila
juga merupakan sumber kejiwaan warga masyarakat dan negara. Pancasila
sebagai ideologi nasional dipahami dalam perspektif kebudayaan bangsa dan
bukan dalam perspektif kekuasaan, sehingga bukan sebagai alat kekuasaan.
Bangsa Indonesia mempunyai pancasila sebagai dasar kehidupan
berbangsa dan bernegara Indonesia, nilai dan norma yang terkandung di dalamnya
merupakan keinginan dari Bangsa Indonesia yang harus diamalkan. Pengamalan
pancasila harus dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan di Negara Indonesia
agar pancasila benar-benar berperan sebagaimana fungsi dan kedudukan, supaya
tujuan serta cita-cita Bangsa Indonesia mudah terwujud.

B. Saran
Untuk dapat mewujudkan cita- cita bangsa dan cita- cita para pendahulu
kita hendaknya kecintaan dan pemahaman terhadap Pancasila lebih ditingkatkan
melalui berbagai upaya, salah satunya menerapkan nilai- nilai tersebut dalam
kehidupan sehari- hari.

12
DAFTAR PUSTAKA

-----. 2013. Pancasila. http://id.wikipedia.org/. Diakses Sabtu, 7 Desember 2013.


Azizullah. 2009. Makna Pancasila sebagai Ideologi. http://azizullah
82.blogspot.com/. Diakses Sabtu, 7 Desember 2013.
Damodiharjo, Darji, dkk. 1981. Santiaji Pancasila. Surabaya: Usaha Nasional.
Djamal, D. 1986. Pokok-pokok Bahasan Pancasila. Bandung: Remadja Karya
CV.
Kaelan dan Zubaidi, Achmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk
Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Paradigma.
Nasution, Harun. 1970. Filsafat Agama, Bulan Bintang. Jakarta: 137.

13

Anda mungkin juga menyukai