Anda di halaman 1dari 10

PENINGGALAN SEJARAH MASA ISLAM INDONESIA

Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Ilmu Penetahuan Sosial

Disusun Oleh:
Kelompok 5
Yani
Wanda
Gita
Piani
Rafly
Mumu

SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 1 BANTARUJEG


Jln. Lapang Olahraga Babakansari Bantarujeg, Majalengka45464
2018
Peninggalan Sejarah Islam di Indonesia

1. Masjid

Masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Masjid terbesar di berbagai


daerah di Indonesia. Biasanya masjid-masjid kuno didirikan di sebelah barat alun-
alun dekat keraton. Masjid merupakan tempat bersatunya rakyat dan rajanya
sebagai sesama makhluk Allah. Masjid peninggalan sejarah di Indonesia,
antara lain sebagai berikut.

No. Nama Masjid Lokasi Penemuan Pembuatan Peninggalan


Masjid Agung
1 Demak, Jateng Abad 14 M K. Demak
Demak
2 Masjid Ternate Ternate, Ambon Abad 14 M K. Ternate
Masjid Sunan
3 Surabaya, Jatim Abad 15 M –
Ampel
4 Masjid Kudus Kudus, Jateng Abad 15 M –
5 Masjid Banten Banten Abad 15 M K. Banten
6 Masjid Cirebon Cirebon, Jabar Abad 15 M K. Cirebon
Baiturrahman Aceh Abad 15
7 Masjid Raya K. Aceh
Banda M
8 Masjid Katangga Katangga, Sulsel Abad 16 M K. Gowa

2. Istana/Keraton

Istana adalah tempat tinggal raja atau sultan beserta keluarganya. Istana
berfungsi sebagai pusat pemerintahan. Adanya istana sebenarnya karena pengaruh
Hindu dan Buddha. Setelah Islam masuk, tradisi pembangunan istana masih
berlangsung. Akibatnya, pada bangunan istana yang bercorak Islam, pengaruh
Hindu dan Buddha masih tampak. Saat ini peninggalan Islam yang berupa Istana
tinggal beberapa saja.
Istana-istana peninggalan sejarah kerajaan Islam di Indonesia

Lokasi
No. Nama Istana Pembuatan Peninggalan
Penemuan
1 Istana Kesultanan Ternate Ternate, Ambon Abad 14 M K. Ternate
2 Istana Kesultanan Tidore Tidore, Ambon Abad 14 M K. Tidore
3 Keraton Kasepuhan Cirebon, Jabar Abad 15 M K. Cirebon
4 Keraton Kanoman Cirebon, Jabar Abad 15 M K. Cirebon
5 Keraton Kesultanan Aceh NAD Abad 15 M K. Aceh
6 Istana Sorusuan Banten Abad 15 M K. Banten
7 Istana Raja Gowa Gowa, Sulsel Abad 16 M K. Gowa
8 Keraton Kasultanan Yogyakarta Abad 17 M K. Mataram
9 Keraton Pakualaman Yogyakarta Abad 17 M K. Matara

3. Makam
Peninggalan sejarah Islam yang berupa makam adalah sebagai berikut.
a. Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik

Makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik


Maulana Malik Ibrahim adalah wali pertama di jawa dan berasal dari
negera asing. Ada beberapa pendapat mengenai asal mula Maulana Malik
Ibrahim. Ada yang berpendapat dari Persia, sehingga mendapat sebutan "Maulana
Magribi" yang berarti "ulama dari Barat". Pendapat lain menyebutkan bahwa
Maulana Malik Ibrahim berasal dari daerah Magribi Maroko, Afrika Utara.
Makam Maulana Malik Ibrahim yang berciri khas Islam ini berpahatkan huruf
arab dapat dijumpai di daerag Gresik, Jawa Timur.
b. Makam Sunan Bayat di Klaten

Gerbang Makam Sunan Bayat di Klaten


Bentuk gapura Sunan Bayat seperti bangunan candi Hindu, sehingga oleh
masyarakat disebut Candi Bentar. Dari bangunan ini dapat kita simpulkan bahwa
kebudayaan Islam banyak berpadu dengan kebudayaan pra-Islam.
c. Nisan pada Kuburan Raja Islam

Batu nisan Makam Raja-raja Islam


Batu nisan ini memberikan petunjuk bahwa raja-raja Nusantara memeluk
agama Islam sejak awal berkembangnya Islam di Indonesia.
4. Kaligrafi
Kaligrafi adalah tulisan indah dalam huruf Arab.
Tulisan tersebut biasanya diambil dari ayat-ayat suci Al
Quran. Kaligrafi digunakan sebagai hiasan dinding masjid,
batu nisan, gapura masjid dan gapura pemakaman. Batu
nisan pertama yang ditemukan di Indonesia adalah batu
nisan pada makam Fatimah binti Maimun di Leran,
Surabaya. Sedangkan kaligrafi pada gapura terdapat di gapura makam Sunan
Bonang di Tuban, gapura makam raja-raja Mataram, Demak, dan Gowa.
Tulisan-tulisan kaligrafi peninggalan sejarah Islam di Indonesia

Lokasi
No. Kaligrafi Pembuatan Peninggalan
Penemuan
1 Makam Fatima binti Maimun Gresik, Jatim Abad 13 M –
2 Makam Ratu Nahrasiyah Samudra Pasai Abad 14 M S. Pasai
3 Makam Maulana Malik Ibrahim Gresik, Jatim Abad 15 M –
4 Makam S. Giri Gresik, Jatim Abad 15 M –
5 Makam S. Gunung Jati Cirebon, Jabar Abad 15 M Cirebon
6 Makam S. Kudus dan S. Muria Kudus, Jateng Abad 15 M –
7 Makan Sunan Kalijaga Demak, Jateng Abad 15 M Demak
8 Makan raja-raja Banten Banten Abad 15 M Banten
9 Makam raja-raja Mataram Imogiri Abad 16 M Mataram
10 Makam raja-raja Mangkunegaran Astana Giri Abad 16 M Mataram
11 Makam raja-raja Gowa Katangga Abad 16 M Gowa

5. Seni Sastra
Perkembangan budaya Islam di Indonesia juga berpengaruh terhadap karya
sastra. Pada masa perkembangan Islam, muncul tokoh-tokoh pemikir sastra Islam
terkenal. Tokoh-tokoh tersebut, antara lain Hamzah Fansyuri dan Nuruddin ar
Raniri. Hamzah Fansyuri banyak menulis buku sastra yang bernapaskan Islam.
Buku-buku karya Hamzah Fansyuri yang terkenal adalah Syair Perahu dan Syair
Si Burung Pingai. Adapun buku-buku karya Nuruddin ar Raniri yang paling
terkenal adalah Bustanus Salatin dan Sirotul Mustaqin.
Dilihat dari corak isinya, kesustraan yang berkembang sejak kedatangan
Islam di Indonesia, yaitu hikayat, babad, suluk, dan syair. Contoh peninggalan
Islam berupa hikayat adalah Hikayat Panji Inu Kertapati, Hikayat Amir Hamzah,
Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Si Miskin, Hikayat Bahtiar, dan Hikayat Hang
Tuah. Contoh peninggalan Islam berupa syair, antara lain Syair Abdul Muluk dan
Gurindam Dua Belas.

6. Seni Pertunjukan, Budaya, dan Tradisi


Seni pertunjukan memiliki beberapa macam bentuk. Misalnya tarian,
musik, atau lakon tertentu semacam wayang. Berikut ini contoh seni pertunjukan.
a. Seni tari: Saman, Seudati, Zapin, dan Rudat.
b. Seni musik: rebana, orkes, dan gambus.
c. Seni suara: qasidah dan shalawat.
d. Seni pakeliran: wayang Menak (ceritanya dari Persia)
e. Adat istiadat: pakaian adat, upacara adat, dan lain-lain.

7. Debus

Menurut sebagian banyak sumber sejarah kesenian debus Banten bermula


pada abad 16 masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570).
Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara penyebaran
agama Islam. Dikutip dari berbagai sumber, Debus terdiri dari beberapa versi.
Versi kedua Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad
pada abad 13 M dan diperkenalkan ke daerah Banten ini sebagai salah satu cara
penyebaran Islam pada waktu itu.
Versi ketiga Debus berasal dari ajaran tarekat Rifa’iyah Nuruddin Ar-
Raniry ke Aceh dan masuk ke Banten pada Abad 16 M oleh para pengawal Cut
Nyak Dien (1848—1908 M) yang diasingkan pemerintah Belanda ke Sumedang.
Salah seorang pengawal yang menguasai Debus memperkenalkan serta
mengajarkannya pada masyarakat Banten.
Tarekat Rifa’iyah mengajarkan rasa gembira saat bertemu Allah Swt atau
disebut epiphany, nah saat seseorang telah mencapai puncak epiphany dia akan
kebal terhadap benda tajam apapun.
Benang merah dari ketiga versi tersebut adalah kesenian Debus sebagai
metode penyebaran agama Islam di wilayan Banten pada masa tersebut.
Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing
berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang
terbilang sangat ektrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri banyak
dipertontonkan untuk acara kebudayaan, upacara adat ataupun hiburan.
Dewasa ini kesenian Debus merupakan kombinasi antara seni tari, suara
serta seni kebatinan dengan nuansa magis. Karena merupakan alat penyebaran
agama Islam pada zaman dulu maka kesenian ini dimulai dengan lantunan
sholawat dan puji-pujian kepada Nabi Muhammad Saw.
Debus merupakan kesenian bela diri yang mempertunjukan kemampuan
manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam, kebal air keras dan lain-
lain.
Kesenian ini berawal pada abad ke-16, pada masa pemerintahan Sultan
Maulana Hasanuddin (1532-1570). Pada zaman Sultan Ageng Tirtayasa (1651—
1692) Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat juang rakyat banten
melawan penjajah Belanda pada masa itu.
Kesenian Debus yang sering dipertontonkan diantaranya:
a. Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka
b. Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok
c. Memakan api
d. Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya
hingga tebus tanpa mengeluarkan darah
e. Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur
lumat namun kulit tetap utuh
f. Menggoreng telur di atas kepala
g. Membakar tubuh dengan api
h. Menaiki atau menduduki susunan golok tajam
i. Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling
Debus dalam bahasa Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing
berhulu bundar. Bagi sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang
terbilang sangat ekstrim. Pada masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang
banyak dipertontonkan untuk acara kebudayaan ataupun upacara adat.
Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten, yang
mungkin berkembang sejak abad ke-18. Menurut sebagian banyak sumber
sejarah, kesenian debus Banten bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan
Maulana Hasanuddin (1532-1570).
Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten sebagai salah satu cara
penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan Debus berasal dari
daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke daerah Banten
ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang lainnya
menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin al-Raniri yang
masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).
Menurut pria yang mendapat gelar doktor kehormatan dari Unicersitas
Amsterdam Belanda pada tahun 1985 ini Debus tidak ada kaitannya sama sekali
dengan ilmu sihir atau magis karena hal itu merupakan perbuatan Syirik
(menyekutukan Allah) dan beliau menegaskan bahwa Debus digunakan pada
zaman dahulu untuk melawan kolonial Belanda.
Terlepas dari itu semua kesenian Debus memang sangat berpotensi untuk
mengangkat industri pariwisata Banten dimata nasional dan dunia. Atraksi
kesenian ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para turis dan wisatawan lokal.
8. Skaten dan Grebeg Maulud
Sekaten merupakan sebuah
upacara kerajaan yang dilaksanakan
selama tujuh hari. Konon asal-usul
upacara ini sejak kerajaan Demak.
Upacara ini sebenarnya merupakan
sebuah perayaan hari kelahiran Nabi
Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam
agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat
Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk
ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari
keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat
gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan
sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan
Mulud / Grebeg maulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga
diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum
penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.

Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun


kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan
ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan
Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut raja mengeluarkan sedekahnya
sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan.
Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang
terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan).
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung
sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran
kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur
itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan
kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan
estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga.
Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras
ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera
Indonesia kecil di sebelah atasnya.

Gunungan yang di arak dari keraton ke masjid agung sudah berada


dipendopo masjid untuk didoakan. Setelah selesai didoakan tak lebih dari 20
menit Gunungan langsung ludes dan yg tersisa tinggal puing dan beberapa
potongan gunungan yang berserakan. Potongan-potongan ini pun masih menjadi
incaran para pencari berkah yang tidak sanggup ikut berebut. para pengais sisa
grebeg ini didominasi para wanita yang sudah berumur.
Berebut adalah tradisi saat grebeg maulud, menjadi suatu kebiasaan untuk
saling mendahului mendapatkan bagian dari gunungan. Sampai diluar pendopo
pun hasil yang sudah ditangan masih juga direbut oleh warga yang lain.
Keamanan tetap terjaga walaupun saling sikut untuk mendapatkan bagian
gunungan yang diinginkan. Membawa pulang bagian dari gunungan untuk
beberapa orang dipercaya membawa berkah. Penuturan dari salah satu warga: Jika
diletakan atau ditanam didekat tanaman yang tidak berbuah bisa membuat pohon
tersebut berbuah bahkan sangat lebat. Untuk urusan ini, saya kasih catatan: untuk
yang percaya saja.