Anda di halaman 1dari 12

Antosianin dan perannya dalam pencegahan kanker

Abstrak

Antosianin merupakan kandungan flavonoid terbanyak dari buah dan sayur. Ikatan
konjugasi dalam struktur mereka, yang menyerap cahaya sekitar 500 nm, merupakan
dasar dari warna merah cerah, biru dan ungu pada buah dan sayur, begitu juga foliasi
musim gugur dari pohon desidua. Asupan harian antosianin pada penduduk Amerika
Serikat diperkirakan sekitar 200 mg atau sekitar 9 kali lipat lebih tinggi daripada diet
flavonoid lainnya. Dalam ulasan ini, kami rangkum perkembangan terakhir tentang
aktivitas anti-karsinogenik antosianin dan ekstrak kaya antosianin dalam model kultur
sel dan sistem tumor model binatang, serta membahas mekanisme kerja molekulernya.
Kami juga mengusulkan alasan akan kurangnya korelasi antara efektivitas antosianin
pada sistem model laboratorium dan pada manusia sebagaimana dibuktikan melalui
penelitian epidemiologi. Penelitian akan datang yang ditujukan untuk meningkatkan
absorbsi antosianin dan/atau metabolitnya cenderung dibutuhkan untuk pemakaiannya
pada kemoprevensi kanker manusia.

Pendahuluan

Antosianin banyak ditemukan pada kingdom plantae dan memiliki warna merah cerah,
biru dan ungu pada buah dan sayur seperti berry, anggur, apel, purple cabbage dan
jagung. Pentingnya bagi kesehatan manusia adalah konsentrasi antosianin yang relatif
tinggi dalam diet. Asupan antosianin sehari-hari di Amerika Serikat diperkirakan antara
180 dan 215 mg, sementara asupan flavonoid lain seperti genistein, querceitn dan
apigenin hanya 20-25 mg/hari. Penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa konsumsi
antosianin menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler, diabetes, artritis dan kanker
akibat aktivitas anti-oksidan dan anti-inflamasi yang dimilikinya.

Pada ulasan kali ini, kami tampilkan penelitian terkini mengenai aktivitas pencegah
kanker dari antosianin, termasuk hasil dari kultur sel in vitro dan model binatang
dengan tumor in vivo, begitu juga data dari penelitian epidemiologi manusia. Meski
penelitian laboratorium telah memberikan beberapa petunjuk tentang mekanisme
molekuler dimana antosianin menghambat karsinogenesis, namun masih banyak yang
perlu dipelajari. Selain itu, relevansi penelitian in vitro terhadap situasi in vivo perlu
dikonfirmasi dalam aspek konsentrasi tinggi antosianin yang diterapkan dalam
penelitian in vitro.

Sifat kimia antosianin

Antosianin muncul secara alami dalam buah dan sayur sebagai glikosida, yang memiliki
glukosa, galaktosa, rhamnosa, xylosa atau arabinosa yang melekat ke nukleus aglycon.
Berbeda dengan flavonoid lainnya, antosianin membawa muatan positif dalam larutan
asam. Antosianin bersifat larut air, dan tergantung dari pH dan adanya ion metal kelasi,
maka warnanya bisa biru, ungu atau merah. Bentuk de-glisilasi atau aglycone dari
antosianin dikenal sebagai antosianidin. Enam skeleton antosianidin paling banyak
adalah cyanidin, delphinidin, pelarogonidin, malvidin, petunidin dan peonidin (Gambar
1). Komponen gula antosianin biasanya terkonjugasi terhadap skeleton antosianidin
melaui gugus hidroksil C3 di cincin C. Beberapa ratus antosianin telah dikenali dengan
variasi skeleton antosianidin dan posisi dan rentang glikosida melekat pada skeleton
tersebut.

Sifat anti kanker antosianin

Penelitian in vitro

Efek antioksidan – struktur fenolik antosianin bertanggung jawab akan aktivitas


antioksidannya; yakni, kemampuan untuk memakan ROS seperti superoksida, singlet
oxygen, peroksida, hidrogen peroksida dan hidroksil radikal. Efek antioksidan dari
antosianin in vitro telah ditunjukkan menggunakan beberapa sistem kultur sel seperti
colon, endotel, liver, payudara dan sel leukemik, serta keratinosit. Dalam sistem kultur
ini, antosianin memperlihatkan efek anti-toksik dan anti-karsinogenik multipel seperti:
secara langsung memakan ROS, meningkatkan kapasitas absorbsi oksigen-radikal
dalam sel, stimulasi ekspresi enzim detoksifikasi Fase II, mengurangi formasi aduksi
oksidatif dalam DNA, mengurangi peroksidasi lipid, menghambat mutagenesis melalui
toksin dan karsinogen lingkungan, dan mengurangi proliferasi sel dengan modulasi
signal transduction pathways. Meski sebagian besar efek protektif antosianin
dikarenakan kemampuannya dalam scavenging ROS, mereka juga bebrfungsi dengan
mengkelasi besi dan dengan secara langsung mengikat protein. Aktivitas radical
scavenging (antioksidan) dari antosianin sebagian besar akibat adanya gugus hidroksil
di posisi 3 ring C dan juga di posisi 3’, 4’, dan 5’ di ring B. Pada umumnya, aktivitas
antioksidan antosianidin (aglycon), lebih besar dari antosianin (glikosida) dan ia
menurun seiring bertambahnya jjulah jumlah gula.

Aktivasi enzim fase II – Shih et al. awalnya menunjukkan kemampuan antosianin


dalam memicu enzim detoksifikasi dan antioksidan fase II pada sel kultur. Terapi sel
liver tikus klon 9 dengan 50 μM antosianin dan sel payudara non-kanker dengan 10-20
μg/ml antosianin ternyata meningkatkan kapasitas antioksidan melalui aktivasi
glutathione-related enzymes (glutathione reductase, glutathione peroxidase dan
glutathione S-transferase) begitu juga aktivitas NAD(P)H: quinone reductase.
Mekanisme dimana antosianin menunjukkan efek ini adalah melalui aktivasi
antioxidant response element (ARE) dari gen yang menyandi enzim tersebut. Shih et al.
menyimpulkan bahwa efek promotif antosianin pada ekspresi enzim fase II sangat
penting untuk pertahanan sel terhadap stres oksidatif.

Proliferasi anti-sel - antosianin murni dan ekstrak kaya antosianin dari buah dan sayur
telah menunjukkan efek anti proliferatif terhadap berbagai tipe sel kanker in vitro.
Proliferasi sel dihambat melalui kemampuan antosianin dalam memblok berbagai
tahapan siklus sel melalui efek pada protein regulator siklus sel (misal p53, p21, p27,
cyclin D1, cyclin A, dst). Antosianidin tampak sebagai inhbitor proliferasi sel yang
lebih poten daripada antosianin. Yang menarik adalah, beberapa penelitian telah
membandingkan efek antiproliferatif antosianin pada sel normal vs kanker dan
menemukan bahwa mereka secara selektif menghambat pertumbuhan sel kanker dengan
sedikit atau tidak ada efek sama sekali pada pertumbuhan sel normal. Mekanisme efek
selektif antosianin pada pertumbuhan sel kanker vs sel normal masih belum diketahui.
Namun, laboratorium kami baru-baru ini menemukan bahwa ekstrak etanol dari black
raspberries secara selektif menghambat pertumbuhan dan merangsang apoptosis pada
lini sel epitel esofagal tikus yang sangat tumorigenik (RE-149-DHD) ketika
dibandingkan dengan lini prekursornya yang kurang begitu tumorigenik, RE-149.
Perbedaan pada efek inhibisi pertumbuhan dan efek pemicu apoptosis dari ekstrak black
raspberry juga berhubungan dengan temuan bahwa uptake dari ketiga antosianin
(cyanidin-3-glucoside, cyanidin-3-rutinoside dan cyanidin-3-xylosylrutinoside) pada
black raspberry kedalam sel RE-149-HD ternyata melebih dari uptake kedalam sel RE-
149 sebesar 100 kali lipat. Selain itu, cyanidin-3-rutinoside, antosianin paling banyak
pada black raspberry, tetap pada level stabil pada sel RE-149HD hingga 12 jam
sementara, tidak terdeteksi pada sel RE-149 setelah 2 jam. Antosianidin juga telah
dievaluasi mengenai efeknya pada transformasi sel JB6 tikus kultur yang dipicu oleh
TPA. Dari enam antosianin yang diuji, hanya antosianin yang memiliki struktur ortho-
dihydroxyphenyl di cincin-B yang bisa menekan transformasi sel akibat TPA dan
menekan transaktivasi protein-1, ini menandakan bahwa struktur ortho-dihydroxyphenyl
bisa berkontribusi terhadap efek inhibisi. Delphinidin, tapi bukan peonidin, memblok
fosforilasi protein kinase pada jalur ERK di awal dan JNK signaling pathway di akhir,
p38 kinase tidak dihambat oleh delphinidin. Hasil ini menunjukkan bahwa antosianidin
berkontribusi terhadap inhibisi tumorigenesis dengan memblok aktivasi jalur MAPK.

Induksi apoptosis – Apoptosis, atau kematian sel terprogram, memainkan peran kunci
dalam perkembangan dan pertumbuah regulasi sel normal, dan sering mengalami
disregulasi pada sel kanker. Beberapa agen kemopreventif paling efektif merupakan
pemicu kuat apoptosis pada sel premaligna dan maligna. Ekstrak kaya antosianin dari
berry dan anggur, dan beberapa antosianin dan antosianidin murni, telah menunjukkan
efek pro-apoptotik pada berbagai tipe sel in vitro. Mereka memicu apoptosis melalui
jalur intrinsik (mitokondrial) dan ekstrinsik (FAS). Pada jalur intrinsik, pemberian
antosianin pada sel kanker menimbulkan peningkatan potensial membran mitokondrial,
pelepasan sitokrom c dan modulasi caspase-dependent anti- dan pro-apoptotic protein.
Pada jalur ekstrinsik, antosianin memodulasi ekspresi FAS dan FASL (FAS ligand)
pada sel kanker yang berujung pada apoptosis. Selain itu, pemberian pada sel kanker,
tapi bukan sel normal, dengan antosianin akan berujung pada akumulasi ROS dan
apoptosis yang terjadi selanjutnya, ini menandakan bahwa jalur independen kaspase
mitokondrial yang diperantarai oleh ROS sangat penting untuk apoptosis yang dipicu
antosianin.

Efek anti inflamasi – inflamasi diketahui berperan dalam promosi beberapa tipe kanker
pada binatang dan mungkin pada manusia. Peningkatan ekspresi abnormal dari dua
protein inflamasi, NFκB dan COX2 sering terjadi pada banyak kanker. Inhibitor
protein-protein ini biasanya menunjukkan potensi kemopreventif yang signifikan. Yang
menarik adalah, melalui kemampuan mereka dalam menghambat mRNA dan/atau
tingkat ekspresi protein COX2, NFκB dan berbagai interleukin, antosianin telah
menunjukkan efek anti inflamasi pada berbagai tipe sel in vitro. Misalnya, pemberian
sel epidermal tikus JB-6 Cl41 dengan ekstrak kaya antosianin dari black raspberry
menimbulkan penurunan ekspresi ekspresi NFκB yang dipicu BaPDE.

Anti-angiogenesis – angiogenesis merupakan proses pembentukan pembuluh darah


baru dari jaringan vaskuler yang telah ada dan ini merupakan faktor penting pada
pertumbuhan dan metastasis tumor. Beberapa molekul aktivator angiogenesis paling
poten adalah anggota famili VEGF, dan ekspresi VEGF sering meningkat pada tumor
yang berkembang. Efek anti-angiogenik antosianin telah diteliti menggunakan sel
endotel kultur, sel kanker oral dan sel JB6 epidermal tikus. Antosianin terbukti menekan
angiogenesis melalui berbagai mekanisme seperti: inhibisi H2O2- dan ekspresi VEGF
yang dipicu TNFα pada keratinosit epidermal, dan dengan mengurangi ekspresi reseptor
VEGF dan VEGF itu sendiri pada el endotel. Selain itu, antosianin menghambat
neovaskularisasi di sel endotel pada chick chorioallantoic membrane dan pada Matrigel.
Terlebih lagi, pemberian sel JB6 epidermal tikus dengan ekstrak kaya antosianin dari
black raspberry menimbulkan penurunan ekspresi VEGF melalui inhibisi jalur
PI3K/Akt.
Anti-invasi – degradasi kolagen membran dasar melalui proteolisis merupakan proses
invasi dini nan penting. Tumor dan sel stromal harus mensekresikan enzim proteolitik
untuk memfasilitasi degradasi barier matriks ekstraseluler demi berhasilnya intravasasi
sel tumor. Degradasi membran dasar tidak semata-mata bergantung pada jumlah enzim
proteolitik yang ada tapi pada keseimbangan activated protease dan inhibitor alami
mereka. MMP dan plasminogen activator merupakan famili yang meregulasi degradasi
membran dasar. Ekstrak antosianin (2,5-100 μM) dari tipe beri berbeda, black rice dan
terong telah dievaluasi mengenai kemampuannya dalam menghambat invasi berbagai
tipe sel kanker pada Matrigel. Ekstrak tersebut ditemukan menghambat invasi sel
kanker dengan mengurangi ekspresi MMP dan u-PA, dimana keduanya mendegradasi
matriks ekstraseluler sebagai bagian dari proses invasif, dan dengan menstimulasi
ekspresi inhibitor jaringan dari TIMP-2 dan inhibitor PAI, dimana keduanya melawan
aksi MMP dan uPA.

Induksi diferensiasi – pencegahan dan terapi kanker melalui induksi diferensiasi


seluler menawarkan sebuah pendekatan spesifik sel untuk pencegahan kanker dan terapi
yang cenderung lebih tidak beracun daripada radio/kemoterapi standar. Dalam hal ini,
terapi sel leukemik in vitro dengan antosianin (25-200 μg/ml) berujung pada induksi
diferensiasi sebagaimana dibuktikan dengan: a) peningkatan reduksi NBT, sebuah
marker fungsional untuk diferensiasi granulosit/monosit; b) peningkatan kepatuhan sel
terhadap plastisitas, menunjukkan diferensiasi sel leukemik ke fenotip yang menyerupai
monosit/makrofag; c) induksi aktivitas naphthol AS-D chloroacetate, sebuah marker
diferensiasi granulositik; dan d) peningkatan dalam jumlah sel positif α-naphthyl
acetate esterase, lebih lanjut menunjukkan diferensiasi ke garis keturunan
monositik/makrofagik. Stimulasi diferensiasi sel leukemik juga disertai penurunan
proliferasi sel dan penurunan ekspresi c-myc. Antosianin juga memicu diferensiasi pada
sel melanoma yang ditandai dengan peningkatan pertumbuhan dendritik melalui
remodeling jaringan mikrotubuler. Ini juga diertai dengan peningkatan signifikan pada
ekspresi komponen sitoskeletal “spesifik otak” seperti protein neurofilamen NF-160 dan
NF-200 di dalam sel. Pada sel kanker oral, antosianin (100 μg/ml) memicu aktivasi
enzim transglutaminase yang terlibat dalam produksi keratin.
Penelitian in vivo pada Binatang

Antosianin terbukti menghambat perkembangan kanker pada binatang yang diberikan


karsinogen dan pada binatang dengan predisposisi herediter terhadap kanker. Pada
sebagian besar penelitian, mekanisme molekuler inhibisi tumor masih belum diteliti
secara detail. Sebuah rangkuman data yang tersedia mengenai prevensi kanker pada
binatang dengan antosianin adalah sebagai berikut:

Kanker esofagus – pada sebuah model karsinoma sel skuamosa esofagus, tikus
Fischer-344, yang secara berulang diberikan karsinogen, NMBA, selanjutnya tumor
esofagus muncul pada binatang dalam 20-25 minggu. Dengan menggunakan model ini,
laboratorium kami telah menunjukkan kemampuan berbagai agen kemopreventif,
seperti lyophilized black raspberry, untuk mencegah timbulnya tumor esofagus yang
dipicu NMBA dan juga meneliti mekanisme aksinya. Dalam sebuah penelitian terbaru,
kami membandingkan kemampuan diet yang mengandung 5% serbuk black raspberry,
sebuah fraksi kaya antosianin yang diisolasi dari black raspberry, atau ekstrak
etanol:H2O dari black raspberry, untuk menghambat tumorigenesis esofagus pada tikus
yang diberikan NMBA. Ketiga diet ini mengandung jumlah antosianin yang kurang
lebih sama (3,5 μmole/g diet). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga diet
tersebut sama efektifnya dalam mencegah timbulnya tumor esofagus, mengurangi
jumlah tumor sebesari 42-47%, menandakan bahwa antosianin pada black raspberry
penting karena memiliki efek kemopreventif. Mekanisme dimana diet kaya antosianin
mencegah tumorigenesis esofagus masih dalam penelitian, namun, kami telah
menunjukkan bahwa diet black raspberry 5% mampu menghambat ekspresi protein dan
mRNA dari COX-2, iNOS, c-Jun, VEGF dan gen-gen lain yang berhubungan dengan
proliferasi sel, inflamais dan angiogenesis.

Kanker colon – pada model tikus APC (Min) dengan kanker usus, binatang yang diberi
smakan dengan ekstrak tart cherry yang kaya akan antosianin (375-3000 mg/kg diet)
ternyata memiliki 74% lebih sedikit tumor cecal (p<0,05) daripada mencit yang tidak,
tapi perubahan persen pada tumor colon (17%) dan tumor usus halus (30%) pada mencit
intervensi dan kontrol tidak begitu signifikan. Dalam sebuah penelitian lanjutan
menggunakan protokol yang sama, mencit Min yang diberi makan ekstrak tart cherry
kaya antosianin (375-3000 mg/kg diet) plus NSAID, sulindac (100 mg/kg diet), ternyata
secara signifikan memiliki tumor yang lebih sedikit (p<0,05) di sepertiga medial dan
proksimal dari usus halus, tapi tidak pada sepertiga distal, daripada mencit yang diberi
makan sulindac saja. Pada model yang sama, binatang yang diberi makan antosianin,
cyanidin-3-glucoside (0,3% dari diet) atau campuan antosianin dari bilberry pada
konsentrasi diet yang sama (0,3%), sama-sama menurunkan jumlah adenoma masing-
masing 45% dan 30%. Dalam penelitian kali ini, antosianin terdeteksi dalam plasma,
dan kedua metabolit glucoronide dan methyl dari antosianin sama-sama terdeteksi pada
mukosa usus dan urin. Pada model kanker kolon yang dipicu AOM pada tikus F344,
diet yang mengandung 2,5 5 dan 10% lyophilized black raspberry secara signifikan
menurunkan tumor total (adenoma dan adenokarsinoma) masing-masing sebesar 41, 42
dan 71% dan menurunkan level 9-OhdG dalam urin masing-masing sebesar 73, 81 dan
83%. Penurunan kadar 8-OhdG menunjukkan bahwa beri mengurangi kerusakan DNA
yang dipicu ROS pada binatang. Lala et al., menggunakan model kanker colon tikus
yang dipicu AOM, melaporkan bahwa ekstrak antosianin dari bilberry, chokeberry dan
anggur (mengandung 3,85 g antosianin per kg) secara signifikan mengurangi fkous
kripte aberan yang dipicu AOM sebesar 26-29%. Penuurnan ini berhubungan dengan
berkurangnya proliferasi sel dan ekspresi gen COX-2, namun kadar 8-OhdG urin masih
sama diantara tikus yang mendapat diet berbeda. antosianin dari purple sweet potatoes,
red cabbage dan purple corn (5% dalam diet), secara signifikan mengurangi
karsinogenesis kolorektal masing-masing sebesar 48,63 dan 89% pada tikus yang
diberikan 1,2-dimethylhydrazine, tapi mekanisme inhibisi tumor tersebut masih belum
diteliti.

Kanker kulit – setidaknya tiga penelitian telah menunjukkan kemampuan antosianin


dalam mempengaruhi parameter perkembangan tumor kulit pada mencit. Menggunakan
mencit tak berambut SKH-1, Afaq et al. meneliti efek kemopreventif dari deplhinidin,
sebuah antosianidin mayor yang ada pada banyak buah dan sayuran berwarna, pada
biomarker perkembangan kanker kulit yang dipicu UVB. Pemakaian delphinidin topikal
(1 mg/oles) ke kulit tikus akan menghambat apoptosis dan marker kerusakan DNA
seperti cyclobutane pyrimidine dimers dan 8-OHdG. Hasil ini menunjukkan bahwa
delphinidin menghambat stres oksidatif yang diperantarai UVB dan mengurangi
kerusakan DNA, sehingga melindungi sel dari apoptosis yang dipicu UVB. Pada
penelitian lain oleh laboratorium yang sama, pemakaian topikal ekstrak pomegranat
kaya antosianin dan tannin (2 mg/tikus) ke kulit mencit CD-1 secara signifikan
menghambat peningkatan edema kulit dan hiperplasia yang diperantarai TPA, aktivitas
ODC dan ekspresi protein ODC dan COX-2. Selain itu, ekstrak menghambat fosforilasi
ERK1/2, p38 dan JNK1/2 yang dipicu oleh TPA, begitu juga aktivasi NF-κB dan IKKα
dan fosforilasi dan degradasi IκBα. Terakhir, ekstrak buah pomegranat menghasilkan
penurunan signifikan (p<0,05) pada insidensi tumor kulit yang dipicu TPA (reduksi
70%) dan multiplisitas tumor (64%) masing-masing pada 16 dan 30 minggu
pemeriksaan.

Kanker paru – antosianin terbukti menghambat perkembangan tumor yang dipicu pada
mencit setelah injeksi subkutan sel tumor paru. Cyanidin-3-glucoside, diberikan i.p. ke
mencit nude pada dosis 9,5 mg/kg, akan mengurangi ukuran dan menghambat
metastasis tumor yang dihasilkan oleh xenotransplantasi sel karsinoma paru manusia
A549. Serupa dengan hal ini, antosianin dari black rice yang diberikan dalam dosis
0,5% (wt/wt) dengan oral gavage, akan menekan pertumbuhan sel karsinoma paru
Lewis setelah injeksi s.c. ke mencit jantan C57BL/6. Mekanisme agaimana antosianin
menekan perkembangan tumor masih diteliti.

Penelitian Manusia

Tidak seperti penelitian model binatang in vivo, penelitian epidemiologi pada manusia
masih belum memberikan bukti menjanjikan akan efek anti kanker antosianin.
Misalnya, sebuah penelitian kasus kontrol yang melibatkan 805 subyek dengan kanker
oral dan faring dadn 2081 kontrol rumah sakit tanpa neoplasia dilakukan di Italia untuk
meneliti hubungan antara asupan antosianidin dan risiko kanker. Hasilnya tidak
menunjukkan adanya hubungan signifikan antara asupan antosianidin dan risiko
terjadinya kanker oral atau faring. Juga di Italia, peran enam kelas flavonoid utama,
termausk antosianidin, pada risiko kanker prostat juga diliti menggunakan data dari
sebuah penelitian kasus kontrol multi-centric. Penelitian ini menyertakan 1294 insidensi
kasus kanker prostat dan 1451 kontrol rumah sakit tanpa neoplasia. Hasilnya tidak
mendukung adanya efek protektif flavonoid, termasuk antosianidin, pada kanker prostat
pada populasi ini. Suplementasi antosianin dalam diet pasien kanker yang menerima
kemoterapi tidak berujung pada peningkatan inhibisi perkembangan tumor ketika
dibandingkan dengan kemoterapi saja. Meski penelitian epidemiologi tidak
menunjukkan bahwa konsumsi antosianin bisa mengurangi risiko kanker pada manusia,
tapi penelitian ini menunjukkan bahwa konsumsi antosianin bisa mengurangi parameter
kerusakan oksidatif tertentu. Sebuah penelitian di Jerman menunjukkan bahwa individu
yang mengkonsumsi jus buah kaya antosianin/polivenol akan memiliki lebih sedikit
kerusakan DNA oksidatif dan peningkatan signifikan pada reduced glutathione ketika
dibandingkan dengan kontrol. Selain itu, dalam sebuah penelitian pasien dengan
esofagus Barrett, pemberian oral 45 atau 32 (masing-masing pria dan wanita)
lyophilized black berry powder (yang mengandung sekitar 5-7% antosianin) dalam air
setiap hari selama enam bulan dapat mengurangi kadar 8-Iso-PGF2 dan 8-OhdG dalam
urin. Berbeda dengan hal ini, sebuah penelitian yang dilakukan di Inggris menemukan
bahwa konsumsi antosianin dari jus cranberry tidak memiliki efek pada kerusakan
DNA oksidatif atau status antioksidan seluler pada leukosit yang diambil dari individu.

Pada model pre bedah, 25 pasien kanker kolon yang belum pernah mendapat terapi
diminta untuk mengkonsumsi 60 g/hari (20 g/3x/hari) black raspberry powder setiap
hari selama 2-4 minggu. Biopsi jaringan normal dan tumor diambil sebelum dan
sesudah intervensi. Konsumsi beri mengurangi tingkat proliferasi dan meningkatkan
apoptosis pada tumor colon tapi tidak pada kripte normal. Jumlah penelitian darah
CD105 juga berkurang pada tumor kolon yang menandakan adanya efek anti-
angiogenik dari terapi beri jangka pendek. Kontribusi antosianin pada beri terhadap efek
tersebut masih dalam penelitian.
Farmakokinetik dan Metabolisme Antosianin

Bioavailabilitas, distribusi farmakokinetik dan metabolisme antosianin pada binatang


dan manusia telah dirangkum dalam sebuah ulasan terkini. Pada umumnya, baik pada
manusia maupun binatang, antosianin diserap sebagai glikosida intak, dan absorpsi serta
elemininasinya juga cepat. Namun, efisiensi absorpsinya relatif buruk. Kami teliti
absorpsi dan metabolisme antosianin black raspberry pada manusia ketika dberikan per
oral pada dosis tinggi (2,69 ± 0,085 g/hari). Kadar plasma puncak dari empat antosianin
pada black raspberry ditemukan dalam 2 jam kemudian dan eliminasinya dari plasma
mengikuti first-order kinetics. Mereka berdua diekskresikan sebagai antosianin intak
dan sebagai derivat metil di urin dalam 4-8 jam setelah konsumsi beri. Secara
keseluruhan, kurang dari 1% dari dosis antosianin berry yang diberikan akan diserap
dan dieksresikan dalam urin. Hasil serupa didapat dari penelitian absorpsi dan
metabolisme antosianin pada roden.

Antosianin terbukti menghambat pertumbuhan sel maligna, merangsang apoptosis dan


memodulasi oncogenic signaling events in vitro pada rentang konsentrasi 10-6 hingga
10-4 M. penelitian uptake antosianin pada manusia setelah konsumsinya sebagai
campuran menunjukkan bahwa mereka mencapai kadar 10-8 hingga 10-7 M dalam darah
manusia, jauh di bawah kadar yang dibutuhkan untuk menimbulkan efek anti-
karsinogenik in vitro. Dengan demikian, masih belum jelas apakah konsentrasi in vivo
cukup untuk menimbulkan efek anti-karsinogenik pada manusia, dan apakah mereka
menghasilkan efikasi kemopreventif sendiri atau mereka perlu mengalami hidrolisis
menjadi bagian aglikonik supaya efektif.

Simpulan

Antosianin terbukti memiliki efek anti karsinogenik terhadap berbagai tipe sel kanker in
vitro dan tipe tumor in vivo. Efek potensial kemopreventif kanker dari antosianin
ditemukan dari penelitian in vitro seperti radical scavenging activity, stimulasi enzim
detoks fase II, penurunan proliferasi sel, inflamasi, angiogenesis dan invasifitas, dan
induksi apoptosis dan diferensiasi. Antosianin memodulasi ekspresi dan aktivasi
berbagai gen yang berhubungan dengan fungsi seluler termasuk gen yang terlibat dalam
jalur PI3K/Akt, ERK, JNK dan MAPK. Penelitian in vivo telah menunjukkan bahwa
konsumis antosianin menghambat kanker saluran cerna dan antosianin topikal
menghambat kanker kulit. Data farmakokinetik mengindikasikan bahwa absorpsi
antosianin dalam darah roden dan binatang terbilang minimal, menunjukkan bahwa
mereka memiliki sedikit efikasi pada jaringan selain saluran cerna dan kulit, dimana
mereka bisa diserap secara lokal. Pengukuran antosianin jaringan perlu dilakukan untuk
memprediksi efek kemopreventif antosianin pada lokasi organ berbeda. peran bakteri
usus dalam metabolisme dan uptake antosianin juga harus diteliti. Terakhir, harus
dilakukan penelitian untuk menentukan jika efek anti kanker antosianin akibat senyawa
orangtua dan/atau metabolitnya.

Meski penelitian eksperimental jelas-jelas menunjukkan efek anti kanker antosianin,


penelitian epidemiologi belum menemukan efek protektif konsumsi antosianin pada
risiko kanker pada manusia dan aktivitas antioksidannya pada manusia masih
dipertanyakan. Terlebih lagi, jumlah antosianin yang dibutuhkan untuk menimbulkan
efek in vitro jauh melebihi jumlah yang ditemukan dalam plasma manusia in vivo.
Penelitian yang akan datang ditujukan untuk meningkatkan absorpsi antosianin dan/atau
metabolitnya, supaya bisa optimal digunakan dalam kemoprevensi kanker manusia,
khususnya jaringan selain saluran cerna dan kulit.