Anda di halaman 1dari 53

 Skip to navigation

 Lewat menuju konten utama


 Skip to primary sidebar
 Skip to secondary sidebar
 Skip to footer

syaidatussalihahgamatika071
Hidup bukan sekedar untuk mengetahui,tapi untuk
menghayati dan meresapi

 Beranda
 About

← MAKALAH PENGLING
keistiMewaan islaM →

LAPORAN KIMIA DASAR II


Mei 31

Posted by syaidatussalihahgamatika071

ACARA I

PEMBUATAN LARUTAN

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum

Untuk mempelajari dan melatih cara-cara pembuatan larutan dengan konsentrasi tertentu.

1. Hari, Tanggal Praktikum

Sabtu, 30 Maret 2012

1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, lantai III, Fakultas Matematika dan Ilpu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI
Larutan didefinisikan sebagai zat homogeny yang merupakan campuran dari dua komponen
atau lebih yang dapat berupa gas, cairan atau padatan. Larutan gas dibuat dengan
menggunakan gas yang dicampur dalam gelas lainnya. Karena gas bercampur dalam semua
perbandingan, maka setiap campuran gas merupakan larutan dan ia adalah homogeny.
Larutan cairan dibuat dengan melarutkan gas, cairan, atau padatan dalam suatu cairan. Jika
sebagai cairan adalah air, maka larutan disebut larutan berair. Larutan padatan adalah larutan
padatan-padatan dalam mana satu komponen terdistribusi tak beraturan pada atom/molekul
dari komponen lainnya. Larutan padatan sangat penting dalam kehidupan sehari-hari dan
dikenal sebagai alloy. Alloy dapat didefinisikan sebagai campuran dua unsure atau lebih yang
mempunyai sifat-sifat logam. Sebagai contoh mata uang perak sterling adalah merupakan
alloy yang terdiri dari besi dan karbon (Sastrohamidjojo, 2001: 98-99).

Suatu campuran dikatakan homogeny karena susunannya seragam sehingga tidak teramati
adanya bagian-bagian yang berlainan, bahkan dengan mikroskop optic. Larutan (solution)
terdiri atas zat pelarut (solvent) dan satu atau lebih zat terlarut (solute). Pelarut adalah
medium tempat suatu zat lain melarut. Pelarut dikenal juga sebagai zat pendispersi, yaitu
tempat menyebarkan partikel-partikel zat terlarut. Zat terlarut adalah zat yang terdispersi di
dalam pelarut. Perbedaan antara pelarut dan zat terlarut sebenarnya relative. Suatu zat pada
saat tertentu dapat berupa zat terlarut dan pada saat yang lain berupa zat pelarut. Biasanya
kita menyebut zat yang paling banyak sebagai pelarut dan pada saat yang lain sebagai zat
terlarut. Misalnya dalam alcohol 15%, alcohol merupakan zat terlarut dan air merupakan
pelarut. Dalam alcohol 80%, alcohol merupakan pelarut dan air merupakan zat terlarut
(Sumardjo, 2008: 489).

Kelarutan bergantung pada suhu. Sebagian besar zat padat lebih cepat melarut dalam cairan
pada suhu tinggi dibandingkan pada suhu rendah, sementara gas melarut lebih cepat dalam
cairan dingin dibandingkan dalam cairan panas. Larutan yang mempunyai konsentrasi zat
terlarut sama dengan kelarutannya disebut larutan jenuh. Jika konsentrasinya rendah, larutan
itu disebut juga larutan tak jenuh. Kita juga dapat membuat larutan superjenuh, yaitu suatu
larutan tidak stabil yang mengandung konsentrasi zat terlarut lebih besar daripada konsentrasi
zat terlarut pada larutan jenuh. Larutan seperti itu akan mengendapkan zat terlarut berlebih
jika Kristal zat terlarut ditambahkan ke dalamnya. Larutan ini dibuat dengan melarutkan zat
terlarut pada satu suhu tertentudan perlahan-lahan, suhu diubah sampai pada suatu titik
dimana larutan menjadi tidak stabil(Goldberg, 2004: 96).

Untuk menyatakan komposisi larutan secara kuantitatif digunakan konsentrasi. Konsentrasi


adalah perbandingan jumlah zat terlarut dan jumlah pelarut, dinyatakan dalam satuan volume
(berat mol) zat terlarut dalam sejumlah volume tertentu dari pelarut. Berdasarkan hal ini
muncul satuan-satuan konsentrasi, yakni fraksi mol, molaritas, molalitas, normalitas, ppm
serta ditambah dengan persen massa dan persen volume (Baroroh, 2004: 17).

1. C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


2. Alat-Alat Praktikum

– Gelas arlogi

– Gelas kimia 250 ml


– Gelas kimia 100 ml

– Labu takar 50 ml

– Pipet tetes

– Sendok

– Spatula

– Timbangan analitik

1. Bahan-Bahan Praktikum

– Aquades

– Kertas label

– NaCl

– NaOH pellet

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Tiap kelompok harus membuat dua konsentrasi dari dua jenis senyawa.
2. Masing-masing kelompok harus menghitung berapa gram senyawa yang harus
ditimbang, kemudian dilarutkan dalam gelas kimia.
3. Ditimbang sejumlah zat yang telah dihitung.
4. Dilarutkan dalam labu takar 50 ml sejumlah zat yang telah ditimbang tersebut.
5. Dicatat hasilnya dalam table pengamatan.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi

 NaCl à Na+ + Cl–


 NaCl(s) + H2O(l) à NaOH(aq) + HCl(aq)
 NaOH à Na+ + OH–
 NaOH(s) + H2O(l) à Na+ + 2H2O

1. Perhitungan

a) Massa NaCl 0,5 %

% Massa =

0,5%=
0,5 = 2 gr

gr = 0,25 gram

b) Massa NaCl 1%

% massa =

1% =

1 = 2 gr

gr = 0,5 gram

c) Massa NaOH 0,5 M

N NaOH = M x V

=0,5 x 50 ml

= 25 mmol

= 0,025 mol

gr NaOH =n x Mr NaOH

= 0,025 x 40

= 1 gram

d) Massa NaOH 0,75 M

N NaOH = M x V

=0,75 x 50 ml

= 37,5 mmol

= 0,0375 mol

gr NaOH =n x Mr NaOH

= 0,0375 x 40

= 1,5 gram

Kelompok Gram NaCl Gram NaOH Konsentrasi


NaCl , % NaOH, M
I 0,25 gr 1,5 gr 0,5 % 0,75 M
II 0,5 gr 1 gr 1% 0,5 M

1. G. PEMBAHASAN

Larutan adalah campuran homogeny antara solute (zat terlarut) dan solvent (pelarut). Pada
percobaan pembuatan larutan ini digunakan 0,5% NaCl dan 1% NaCl, serta NaOH 0,5 M dan
0,75 M. sesuai dengan data yang telah diketahui, dihitung massa (gram) dari masing-masing
zat. Kedua zat tersebut masing-masing dilarutkan dalam aquades hingga mencapai 50 ml.
pada saat pelarutan, masing-masing zat tersebut, NaCl lebih mudah larut dari pada NaOH
karena butirannya berukuran lebih kecil dibandingkan dengan NaOH. Proses pelarutan kedua
zat tersebut dibantu dengan pengadukan agar zat-zat tersebut cepat larut. Adapun reaksi yang
terjadi pada masing-masing setelah dilarutkan dalam aquades :

NaCl(s) + H2O(l) à NaOH(aq) + HCl(aq)

NaOH(s) + H2O(l) à Na+ + 2H2O

Pada pelarutan NaOH dalam aquades , saat pengadukan, dinding tabung reaksi terasa panas,
hal ini karena NaOH terurai menjadi ion-nya yakni Na+.

Larutan NaCl dan NaOH tadi dipindahkan ke dalam labu takar 50 ml.Pada saat pemindahan,
baiknya gelas kimia di cuci lagi dan air sisa cucian dimasukkanke dalam labu takar. Hal ini
dimaksudkan agar konsentrasi NaCl dan NaOH tidak berkurang. Jika tidak dilakukan
demikian, maka konsentrasi NaOH/NaCl akan berkurang karena zat-zat tersebut akan
menempel pada dinding gelas kimia. Pada saat pemindahan larutan dari gelas kimia ke labu
takar dilakukan dengan sangat hati-hati, dituangkan sedikit demi sedikit agar volume larutan
tidak melebihi batas volume larutan pada labu takar (50 ml), selain itu penambahan sedikit
demi sedikit dimaksudkan agar larutan tidak terbuang/tercecer sia-sia. Pada saat pemindahan
juga, volume cairan diukur hingga mencapai batas (miniskus) pada labu takar. Namun, pada
saat pengukuran volume digunakan miniskus bawah, karena apabila tidak demikian maka
volume larutan berkurang dari batas maksimum labu takar, sehingga agar larutan mencapai
volume yang tepat, digunakanlah pengukuran volume dengan miniskus bawah.

1. H. KESIMPULAN

Larutan merupakan campuran homogen antara zat pelarut dan zat terlarut. Dengan adanya zat
pelarut dan zat terlarut itulah maka larutan dapat dibuat. Larutan terdiri atas larutan basa dan
larutan asam. Suatu larutan memiliki konsentrasi tertentu, dimana besarnya konsentrasi
tersebut dapat dicari menggunakan rumus :

M=

ACARA II

REAKSI ASAM BASA I


1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum

– Mempelajari cara pemakaian dan penggunaan ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai


indikator penentu pH larutan.

– Menentukan pH larutan dengan indikator dan dengan larutan buffer.

1. Hari, Tanggal Praktikum

Kamis, 10 Mei 2012

1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI

Sejauh ini, teori untuk asam dan basa yan telah dikenal hanya teori Arrhenius. Asam
didefinisikan sebagai senyawa yang mengandung hidrogen yang bereaksi dengan basa. Basa
adalah senyawa yang mengandung ion OH– atau menghasilkan OH– ketika bereaksi dengan
air.basa bereaksi dengan sam untuk membentuk garam dan air. Teori Bronsted memperluas
definisi asam dan basa dengan menjelaskan mengapa suatu larutan amonium klorida bersifat
asam dan larutan natrium asetat bersifat basa. Dalam teori Bronsted, asam didefinisikan
sebagai zat yang memberikan proton kepada zat lain. Dalam hal ini, proton adalah atom
hidrogen yang kehilangan elektronnya. Basa adalah zat yang menerima proton dari zat lain.
Reaksi asam basa menghasilkan asam dan basa yang lain. Maka, menurut teori Bronsted,
reaksi berikut ini adalah reaksi asam basa (Goldberg, 2004 : 113).

HC2H3O2 + H2O ßà C2H3O2– + H3O+

Konsentrasi H+ dan konsentrasi ion OH– dalam air, larutan asam atau larutan basa merupakan
bilangan yang sangat kecil. Oleh karena itu, seorang ahli kimia yang bernama Sorenson
membuat suatu konsep yang disebut konsep pH. pH didefinisikan secara matematis sebagai –
log [H+] atau –log [OH–]. Untuk air murni yang tidak asam dan tidak basa [H+]=10-7, maka
pH = -log [10-7]=7. Kalau larutan bersifat asam maka pH lebih kecil daripada 7. Jika larutan
itu mengandung zat yang bersifat basa, maka pH lebih besar daripada 7. Beberapa asam dan
basa hampir terionisasi sempurna dalam air. Asam basa ini digolongkan menjadi asam basa
lemah(Bird, 1986 :77).

pH dapat diukur dengan menggunakan pH meter. Metode yang paling akurat dan tepat
dengan cara mencelupkan kertas indikator ke dalam larutan dan dibandingkan warna dalam
kertas tersebut dengan warna pH yang tersedia. Nilai pH dapat ditentukan hingga mencapai
ketelitian 0,01 pH unit dengan menggunakan model pH meter yang lebih canggih. Kegunaan
lain dari pH meter adalah dapat digunakan untuk mengamati perubahan pH yang terjadi pada
larutan selama pencampuran reaksi terjadi (Hokun, 1993 :684).

Kemudian telah diketahui bahwa air adalah elektrolit sangat lemah dengan pKw =14. Itulah
sebabnya asam dan basa selalu bereaksi menjdi garam dan air, sebagai contoh HCl dengan
NaOH,
H+Cl– + Na+OH– à Na+Cl– + H2O

Pada hakikatnya reaksi ini adalah reaksi pembentukan air yang disebut netralisasi,

H+ + OH– à H2O

Karena Na+ dan Cl– tidak mengalami perubahan dan tetap dalam larutan sebagai ion. Reaksi
netralisasi dapat dipakai untuk menentukan konsenterasi alrutan asam atau basa. Caranya
dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa
yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H+
setara dengan mol OH–. Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekivalen. Cara
seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan
untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Analisis ini disebut juga analisis volumetri,
karena yang diukur adalah volume larutan basa yang terpakai dengan volume tertentu larutan
asam (Syukri, 1999:427-428).

Pearson (1963) mengklasifikasikan asam basa lewis menurut sifat kuat dan lemahnya.
Menurut Pearson, situs aktif pada permukaan padatan dapat dianggap sebagai ligan yang
dapat mengikat logam secara selektif. Logam dan ligan dikelompokkan menurut sifat kuat
dan lemahnya berdasarkan pada polarisabilitas unsur. Pearson (1963) mengemukakan suatu
prinsip yang disebut Hard and Soft Acid Bases (HSAB). Ligan-ligan dengan atom-atom yang
sangat elektronegatif dan berukuran kecil merupakan basa kuat, sedangkan ligan-ligan
dengan atom yang elektron terluarnya mudah terpolarisasi akibat pengaruh ion dari luar
merupakan basa lemah. Sedangkan ion-ion logam yang berukuran kecil namun bermuatan
positif besar, elektron terluarnya tidak mudah terpengaruh oleh ion dari luar, ini
dikelompokkan ke dalam asam kuat, sedangkan ion-ion logam yang berukuran besar dan
bermuatan kecil atau 0, elektron terluarnya mudah terpengaruh oleh ion lain, dikelompokkan
ke dalam asam lemah(Amri,2004:112).

1. C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat Praktikum

– Corong

– Gelas kimia 250 ml

– Gelas ukur 50 ml

– Gelas ukur 100 ml

– Kotak bjjerum

– Mortar

– Penggaris

– Penggerus

– Pipet tetes
– Pipet volume 5 ml

– Pipet volume 25 ml

– Plat tetes

– Rubber bulb

– Sel percobaan

– Spatula

– Tabung reaksi

1. Bahan-bahan Praktikum

– Aquades

– Bunga sepatu

– Etanol

– Kertas label

– Kertas saring

– Larutan asam borat 2 %

– Larutan buffer 20 : 80 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 30 : 70 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 40 : 60 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 50 : 50 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 60 : 40 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 70 : 30 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan buffer 80 : 20 (CH3COONa – CH3COOH)

– Larutan CH3COOH 0,1 M

– Larutan HCL 0,1 M

– Larutan indikator brom kresol hijau

– Larutan NaCl 5 %
– Larutan Na2CO3 5%

– Larutan NaOH 0,01 M

– Larutan NaOH 0,1 M

– pH stick

– Tissue

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Pembuatan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk indikator
1. Disiapkan bunga sepatu berwarna merah.
2. Diambil mahkota bunga sepatu kemudian digiling dengan mortar
hingga halus (berbentuk ekstrak).
3. Hasil gilingan (ekstrak) dicampurkan dengan 5 ml etanol sampai
semua bagian terendam, kemudian diaduk agar bercampur dan disaring
menggunakan kertas saring kedalam sebuah tabung rekasi yang bersih.
4. Ekstrak bunga sepatu sudah siap digunakan sebagai indikator asam
basa.

1. Skala pH dan penentuan trayek perubahan warna.


1. Disipakan 7 macam larutan yang dipakai sebagai deret baku skala pH.
Larutan-larutan tersebut antara lain:

– Larutan HCl 0,1 M, pH= 1

– Larutan CH3COOH 0,1 M, pH= 3

– Larutan asam borat 2%, pH= 5 (kira-kira)

– Larutan NaCl 5%, pH= 7

– Larutan NaHCO3 5%, pH= 8,3

– Larutan Na2CO3 5%, pH= 10,6

– Larutan NaOH 0,01 M, pH= 12

1. Diteteskan masing-masing 2 tetes larutan baku diatas kedalam tabung reaksi,


kemudian kedalamnya ditetesi masing-masing 1 tetes larutan indikator dari ekstrak
kembang sepatu yang sudah dibuat pada percobaan 1.
2. Diamati perubahan warna yang terjadi dan ditentukan pula nilai pH nya menggunakan
pH stick. Dicatat nilai pH yang memberikan perubahan warna pada tetesan larutan
yang diperiksa.
3. Perubahan warna yang terjadi menunjukkan bahwa ekstrak bunga sepatu dapat
dijadikan sebagai indikator asam atau basa suatu larutan.

1. Pemakain ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai indikator


1. Disiapkan larutan HCl 0,1 M dan larutan NaOH 0,1 M.
2. Diteteskan larutan HCl 0,1 M sebanyak 25 tetes kedalam tabung reaksi yang
bersih kemudian ditambahkan 2 tetes cairan indikator (ekstrak tumbuhan atau
bunga sepatu).
3. Diteteskan larutan NaOH 0,1 M kedalam tabung reaksi tadi tetes demi tetes
hingga warna larutan berubah.
4. Dicatat banyaknya tetesan NaOH 0,1 M yang diperlukan sampai warna larutan
berubah dan dicatat pula perubahan warna yang terjadi.

1. Penentuan pH dengan indikator


1. Diukur panjang kotak bjjerum kemudian dicatat.
2. Dimasukkan masing-masing 50 ml larutan NaOH 0,1 M dan larutan HCL 0,1
M kedalam masing-masing bagian kotak bjjerum.
3. Diteteskan larutan indikator brom kresol hijau sebanyak 5 tetes kedalam
masing-masing larutan.
4. Disiapkan sel percobaan yang diisi dengan 25 ml larutan buffer 20:80 dan
ditambahkan 5 tetes larutan indikator brom kresol hijau.
5. Dibandingkan warna larutan pada sel percobaan dengan warna larutan pada
kotak bjjerum dengan cara sel percobaan digerakkan sepanjang bagian atas
kotak bjjerum sampai warna yang terlihat dalam sel percobaan.
6. Ditandai tempat dimana warna larutan dalam kotak bjjerum sama dengan
warna larutan dalam sel percobaan. Kemudian diukur jarak dari tepi kotak ke
tempat sel percobaan.
7. Dicatat hasilnya dan dihitung nilai pH larutan dalam sel percobaan dengan
bantuan rumus yang telah diberikan.
8. Diulangi percobaan d sampai g untuk larutan buffer 30:70, 40:60, 50:50,
60:40, 70:30, 80:20.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi

HCl(aq) + NaOH(aq) → NaCl(aq) + H2O(l)

1. Tabel
1. Tabel percobaan skala pH dan penentuan trayek perubahan warna

Larutan Nilai pH pH pengukuran Warna


0,1 M HCl 1 1 Merah
0,1 M CH3COOH 3 3 Merah muda
2 % asam borat (kira-kira) 5 6 Ungu
5 % larutan NaCl 7 7 Ungu muda
5 % larutan NaHCO3 8,3 11 Hijau tua
5 % Na2CO3 10,6 12 Hijau tua
0,01 M NaOH 12 13 Hijau tua

1. Tabel percobaan penentuan pH dengan indikator


ml ion asetat 0,1 N ml asam asetat 0,1 M pH VA (cm) VB (cm)
20 80 4,05 3,5 17
30 70 4,32 5,5 15
40 60 4,50 8,5 12
50 50 4,61 11 9,5
60 40 4,82 14 6,5
70 30 5,00 15,5 5
80 20 5,25 16,5 4

1. Perhitungan
1. Penentuan nilai pKa

Diketahui : Ka = 1,8 × 10-5

Maka, pKa = – log Ka

= – log 1,8 × 10-5

= 5 – log 1,8

= 5 – 0,25

= 4,75

1. Penentuan pH dengan berbagai larutan buffer

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (20:80)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 0,2

= 4,75 – 0,7

= 4,05

 Ø % error =

= 0%

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (30:70)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 0,37


= 4,75 – 0,43

=4,32

 Ø % error =

=0%

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (40:60)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 0,71

= 4,75 – 0,15

= 4,60

 Ø % error =

=2 %

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (50:50)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 1,16

= 4,75 + 0,06

= 4,81

 Ø % error =

=4%

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (60:40)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 2,15


= 4,75 + 0,33

= 5,08

 Ø % error =

=5%

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (70:30)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 3,1

= 4,75 + 0,49

= 5,24

 Ø % error =

= 4,8 %

 Perbandingan ion asetat: asam asetat (80:20)


o Ø pH = pKa + log

= 4,75 + log

= 4,75 + log 4,13

= 4,75 + 0,61

= 5,36

 Ø % error =

=2 %

1. G. PEMBAHASAN

Pada percobaan pertama praktikum asam basa I ini, digunakan ekstrak tumbuhan (bunga
sepatu) sebagai indikator, di mana pengertian indikator ini adalah suatu senyawa yang dapat
memberikan warna berbeda dalam suasana yang berbeda. Jadi dengan indikator kita dapat
menentukan suatu larutan bersifat basa, asam,atau netral. Bunga sepatu mula-mula dipotong
kecil-kecil dan ditumbuk, lalu ditetesi etanol. Pemberian etanol ini berfungsi untuk
mempercepat ekstraksi. Setelah ditetesi etanol, filtrat larutan berwarna merah keunguan. Hal
ini berarti bahwa bunga sepatu dapat dijadikan sebagai indikator, karena selain warnanya
yang mencolok, juga mengandung zat antosianin yang bisa memberikan reaksi yang berbeda
terhadap asam atau basa.

Pada percobaan ke dua, penentuan skala pH, dan disiapkan larutan yang diketahui pHnya
(Larutan baku) yakni HCl 0,1 M, CH3COOH 0,1 M, 2% asam borat, 5% larutan NaCl, 5%
larutan NaHCO3, 5% Na2CO3 dan 0,01 M NaOH. Stelah penambahan satu tetes ekstrak
bunga (indikator) pada masing-masing larutan baku tersebut, diperoleh data seperti tabel di
bawah ini:

Larutan Nilai pH pH pengukuran Warna


0,1 M HCl 1 1 Merah
0,1 M CH3COOH 3 3 Merah muda
2 % asam borat (kira-kira) 5 6 Ungu
5 % larutan NaCl 7 7 Ungu muda
5 % larutan NaHCO3 8,3 11 Hijau tua
5 % Na2CO3 10,6 12 Hijau tua
0,01 M NaOH 12 13 Hijau tua

Sesuai dengan data pada tabel di atas, yang tergolong larutan asam yaitu HCl,CH3COOH, dan
asam borat. Ketiganya dikatakan asam karena pHnya <7. Larutan NaCl memiliki Ph = 7,
karena merupakan garam netral yang terbentuk dari asam kuat + basa lemah. Sedangkan
larutan NaHCO3,Na2CO3 dan NaOH merupakan larutan basa karena pHnya >7. Ada beberapa
zat atau larutan yang setelah diukur, pHnya berbeda dengan nilai pH sebenarnya, ini tidak
lain disebabkan oleh kurangnya ketelitian praktikan dalam pengamatan.

Pada percobaan ke tiga, yaitu pemakaian ekstrak tumbuh-tumbuhan sebagai indikator.


Larutan HCl awalnya bening, akan tetapi setelah ditetesi dua tetes ekstrak tumbuhan,
warnanya berubah menjadi warna merah, ini menunjukkan suasana asam. Kemudaian larutan
tersebut ditetesi lagi dengan larutan NaOH, garam dan air. Untuk itulah warnanya berubah
menjadi bening. Pada hakikatnya reaksi tersebut adalah reaksi pembentukan air yang disebut
netralisasi.

H+ + OH– à H2O

Karena Na+ dan Cl– tidak mengalami perubahan dan tetap dalam larutan sebagai ion.

H+Cl– + Na+OH– àNa+Cl– + H2O

Reaksi netralisasi ini dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa.
Caranya dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap
basa yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol
H+ setara dengan mol OH–. Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekivalen.
Cara seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan dengan mengukur jumlah larutan yang
diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain.
Pada percobaan terakhir, yaitu penentuan pH dengan indikator menggunakan kotak bjerrum.
Pada percobaan ini, digunakan NaOH 0,1 M dan HCl 0,1 M, dimasukkan dalam kotak
bjerrum dan masing-masing ditetesi 6 tetes indikator. Masing-masing larutan yang awalnya
berwarna bening berubah menjadi biru (NaOH) dan kuning (HCl) setelah ditetesi indikator.
Larutan pada kotak bjerrum ini akan dibandingkan warnanya dengan larutan pada sel
percobaan yang sebelumnya telah dimasukkan larutan buffer dengan berbagai perbandingan
dan ditambah 5 tetes indikator. Adapun tabel dibawah ini merupakan perbandingan warna
larutan dalam sel percobaan dengan kotak bjerrum:

Larutan buffer + indikator Warna setelah dibandingkan


Na asetat CH3COOH
20 80 Kuning
30 70 Hijau
40 60 Hijau tua
50 50 Biru
60 40 Biru (agak tua)
70 30 Biru tua
80 20 Biru pekat

Selanjutnya, dihitung pH larutan berdasarkan nilai (a) dan (b) yang telah diukur,
menggunakan rumus :

pH = pKa + log

Berdasarkan rumus ini diperoleh pH untuk ion asetat dan asam asetat dengan perbandingan
20:80 dan 30:70 adalah 4,05 dan 4,32. Hasil perhitungan ini sesuai dengan data nilai pH yang
sebenarnya, sehingga % error adalah 0%, artinya percobaan yang dilakukan berhasil. Akan
tetapi untuk larutan dengan perbandingan lainnya, pHnya berbeda dengan nilai pH
sebenarnya, sehingga terdapat % error yang berarti praktikan mengalami kesalahan pada saat
pengambilan data maupun ketika pengamatan.

1. H. KESIMPULAN
2. Tumbuhan tertentu (bunga sepatu) dapat dijadikan sebagai indikator karena selain
warnanya yang mencolok, juga karena mengandung zat kimia tertentu (antosianin),
dan akan berubah bila terjadi perubahan pH.
3. Penentuan pH larutan dapat dilakukan dengan menggunakan kotak bjerrum. Caranya,
dengan membandingkan warna pada sel percobaan dengan warna larutan pada kotak
bjerrum, dicari nilai a dan b-nya, kemudian dihitung pH-nya menggunakan rumus :

pH = pKa + log

ACARA III

REAKSI ASAM BASA II

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan praktikum

– Untuk mengetahui prinsip kerja PH meter.


– Mengukur PH sempelar berdasarkan PH meter.

1. Hari, Tnggal Praktikum

Sabtu, 30 Maret 2012.

1. Tempat praktikum

Laboratorium Kimia Dasr, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI

Arrhenius mendefinisikan asam sebagai suatu senyawa yang dalam air akan membebaskan
ion hydrogen (H+), sedangkan basa sebagai suatu senyawa yang dalam air akan
membebaskan ion hidroksil (OH-). kemudian adapun teori proton asam dan basa
dikemukakan oleh Bronsted seorang ahli kimia berkebangsaan Denmark, dan Lawry, seorang
ahli kimia berkabangsaan Inggris pada tahun 1923. Menurut teori ini, asam adalah suatu
donor proton, yakni suatu zat yang dapat memberikan atau melepaskan sebuah proton kepada
zat lain, sedangkan basa adalah akseptor proton, yakni suatu zat yang dapat menerima sebuah
proton dari zat lain. Selanjutnya teori pasangan electron asam dan basa dikemukakan oleh
Lewis, pada tahun 1916, mengemukakan konsep baru tentang asam dan basa. Konsep
tersebut menyatakan bahwa asam adalah suatu zat yang dapat menerima sebuah pasangan
electron, sedangkan basa adalah suatu zat yang dapat memberi pasangan electron (Sumardjo,
2008:491-492).

PH suatu larutan dinyatakan sebagai –log [H+], dengan [H+] adalah konsenterasi ion hidrogen
dalam larutan. Dalam air murni, konsenterasi ion hydrogen ditentukan dengan keseimbangan
berikut :

Ka adalah tetapan disosiasi untuk keseimbangan tersebut, dikenal sebagai Kw jika yang
berdisosiasi adalah air dan ditentukan dengan persamaan berikut :

Karena konsentrasi air tidak banyak berubah sebagai hasil ionisasi, konsenterasinya dapat
dianggap tidak memiliki efek terhadap keseimbangan dan dapat diabaikan dari persamaan
tersebut, dan hal ini berarti bahwa dalam air murni:

Jadi, Ph air adalah –log 10-7 = 7,00 ( Watson, 2009:30).

Adapun pengertian Ph adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman ( kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan). Yang dimaksud dengan keasaman di
sini adalah derajat keadaan konsenterasi ion hidrogen [H+] dalam pelarut air. Nilai Ph
berkisar dari 0-14. Suatu larutan dikatak netral apabila memiliki ph = 7, nilai ph > 7
menunjukkan larutan bersifat basa, sedangkan ph < 7 menunjukkan larutan bersifat asam.
Umumnya indicator yang digunakan adalah kertas lakmus. Indicator asam basa dapat diukur
dengan ph meter yang bekerja berdasarkan prinsip elektrolit atau konduktivatis atau larutan
(Nordstorm, 2006:166).

Pada dasarnya ph meter berupa suatu voltmeter elektronik yang mampu mangukur tegangan
suatu sel galvani dengan tahanan internal yang sangat tinggi. Teganggan berubah secara
linear dengan ph,yang ditunjukkan secara langsung baik dengan bentuk analog (posisi jarum
penunjuk yang bervariasi pada skala meter) maupun digital (seperti pada kalkulator
elektronik). Dengan elektroda yang dicelupkan ke dalam suatu larutan penyangga denga ph
yang sudah diketahui, alat ini dipasang untuk menunjukkan nilai yang tepat. Kemudian
dengan memutar tombol yang berbeda, ia diatur untuk membaca dengan benar ph dari larutan
penyangga standar yang kedua. Hal ini menghasilkan gradient garis yang menghubungkan
tegangan ke pH. Gradient ini akan bervariasi dengan suhu, ia juga dipengaruhi oleh penuaan
elektroda kaca, dan ini bias bervariasi dari satu elektroda ke elektroda lainnya. Meskipun
orang lebih menyukai jalan pintas, kalibrasi pH meter dengan dua larutan penyangga, bukan
satu, menjadi hal yang mendasar untuk mencapai akurasi yang baik. Kemudian instrument
tersebut siap untuk mengukur larutan-larutan yang tidak diketahui (Day, 2002 : 316).

1. C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


1. Alat-alat Praktikum

– Gelas kimia 250 mL

– Gelas kimia 100 mL

– pH meter analitik

1. Bahan-bahan Praktikum

– Aquades

– Kertas label

– Larutan buffer pH 7

– Larutan buffer pH 9,2

– Larutan NaCl 0,5%

– Larutan NaCl 1%

– Larutan NaOH 0,5 M

– Larutan NaOH 0,75 M

– pH stick

– Tissue

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Dicelupkan elektroda kedalam larutan buffer pH 7, kemudian dikalibrasi
dengan memutar tombol “CALIB” sampai ditunjukkan angka 7 pada monitor
atau layar penunjuk pH. Elektroda dibersihkan kembali dengan aquades,
begitu seterusnya sebelum elektroda dimasukkan atau dicelupkan kedalam
suatu larutan. Kemudian elektroda dicelupkan kedalam larutan buffer pH 9,2,
dikalibrasi dengan memutar tombol “slope” di bagian belakang alat sampai pH
ditunjukkan angka 9,2 atau mendekati 9,2. pH meter siap digunakan untuk
mengukur pH larutan.
2. Setelah dibersihkan, elektroda dimasukkan kedalam larutan uji pertaman
(larutan NaOH 1 M). Kemudian diamati dan dicatat angka yang tertera pada
layar pH meter (hasil pengukuran yang dipakai adalah angka pada layar pH
yang tidak berubah).
3. Hal yang sama dilakukan pada larutan uji lainnya (larutan NaOH 0,5 M,
larutan NaCl 0,5% dan larutan NaCl 1%).

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA
1. Gambar pH meter Analitik
1. Tampak depan

1. Tampak belakang

Keterangan :

– Temp ºC : untuk mengatur atau menentukan suhu.

– CALIB : untuk mengkalibrasi pH ≥ 7.

– OFF/pH/MV : untuk mematikan alat, serta mengatur fungsi yang akan

digunakan (pH/MV).

– SLOPE : untuk mengkalibrasi pH < 7

– LCD : untuk melihat nilai pH larutan yang diukur.

1. Elektroda kaca peka-pH

Keterangan :

1. Sambungan ke pH meter.

2. Elektroda baku eksternal Ag/AgCl.

3. Elektroda baku internal Ag/AgCl.

4. Larutan pengisi internal yaitu dapar fosfat pH 7,0 yang mengandung KCl dan dijenuhkan
dengan AgCl.

5. Membran kaca peka pH.

6. Sambungan yang dikelilingi larutan.


1. Tabel perbandingan pH stick dan pH meter

Ph NaCl 0,5% NaCl 1% NaOH 0,75 M NaOH 0,5 M


pH meter 7,86 7,63 11,30 11,47
pH stick 7,0 7,0 13 13

1. Perhitungan
1. Perhitungan pH Larutan NaOH

 NaOH 0,5 M

NaOH à Na+ + OH–

pOH = -log [OH–]

= -log 0,5

=1-log 5

=1-0,699

=0,301

pH =14-pOH

= 14-0,301

=13,699

 NaOH 0,75 M

NaOH à Na+ + OH–

pOH = -log [OH–]

= -log 75 x 10-2

=2-log 75

=2-1,875

=0,125

pH =14-pOH

= 14-0,125

=13,875
1. Perhitungan pH NaCl

 NaCl 0,5%

PH =7

 NaCl 1%

PH =7

1. G. PEMBAHASAN

Pada percobaan reaksi Asam Basa II, digunakan pH meter sebagai alat untuk mengukur pH
larutan. Pada percobaan ini, larutan yang akan diukur pHnya adalah larutan NaCl dan NaOH
dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Sebelum mengukur pH larutan, elektroda (bagian
ujung) dari pH meter dicelupkan ke dalam suatu larutan buffer yang berwarna hijau dan
orange. Hal ini dimaksudkan untuk menahan perubahan derajat keasaman suatu larutan. Sifat
utama larutan buffer adalah daya tahannya terhadap perubahan pHakiba penambahan
sejumlah kecil asam, air atau basa. Larutan buffer dapat mempertahankan pHnya karena
mengandung ion garam, keseimbangan asam lemah, dan keseimbangan air. Jika ditambah
asam atau H+, sesuai dengan asas le Chatelier, keseimbangan asam akan bergeser ke kiri
sehingga keseimbangan air tidak terganggu. Artinya, [H+] larutan akan tetap seperti semula.
Bila ditambah basa atau OH–, keseimbangan air bergeser ke atas, akibatnya [H+] berkurang.
Kekurangan ini akan menyebabkan keseimbangan asam bergeser ke kanan sehingga akhirnya
[H+] relative sama dengan semula. Hal ini terjadi pada larutan buffer asam lemah dengan
garamnya. Adapun untuk larutan buffer basa lemah dengan garamnya adalah jika ditambah
[H+], maka keseimbangan air bergeser ke atas dan akibat keseimbangan asam bergeser ke
kanan sehingga [OH–] relatif konstan. Bila diberi [OH–] maka keseimbangan basa bergeser ke
kiri sehingga konsentrasinya seperti semula.

Pada saat pengukuran pH NaCl 95% dan 1% dengan pH meter di dapatkan nilai pH sebesar
7,86 dan 7,63, sedangkan pengukuran NaOH 0,5 M dan 0,75 M, didapatkan nilai pH sebesar
11,47 dan 11,30. Pada saat pengukuran pH menggunakan pH stick, diperoleh nilai pH NaCl
0,5% dan 1% yaitu 7,0, keduanya sama. Sedangkan NaOH 0,75 M dan 0,5 M secara berturut-
turut adalah 13, juga sama. Adapun berdasarkan padahasil perhitungan diperoleh pH NaCl
0,5% dan 1% adalah 7,0, sedangkan NaOH 0,5 M dan 0,75 M adalah 13,699 dan 13,875.

Dari data tersebut sudah pasti dapat dilihat pH yang paling akurat. pH berdasarkan hasil
perhitunganlah yang paling tepat. Tanpa melalui proses perhitungan,dikatakan bahwa NaCl
0,5% dan 1% memiliki pH=7. Hal ini karena NaCl merupakan garam netral yang terbentuk
dari asam kuat dan basa kuat, reaksinya sebagai berikut :

HCl + NaOH à NaCl + H2O

Dan terdapat dua jenis ionisasi yakni garam dan air,

NaClàNa+ + Cl–

H2O ßà H+ + OH–
Ternyata, jumlah ion H+ atau OH– tidak berubah dengan adanya NaCl. Jadi larutan asam
kuat- basa kuat mempunyai pH=7, walaupun jenis dan konsenterasinya berbeda.

pada percobaan ini, jika kita berpatokan pada nilai ph berdasarkan hasil perhitungan maka
pengukuran pH dengan menggunakan pH stick lebih tepat jika dibandingkan pH meter,
karena diperoleh data yang hamper sama dengan hasil perhitungan. Adapun pengukuran
menggunakanpH meter agak jauh berbeda dengan hasil perhitungan, hal ini diakibatkan oleh
ketidaktelitian atau kesalahan praktikan pada saat pengukuran/pengambilan data.

Yang tidak kalah pentingnya untuk dibahas disini yaitu alas an kenapa elektroda harus dicuci
terlebih dahulu sebelum dicelupkan ke dalam larutan lain. Hal ini dikarenakan agar sisa-sisa
larutan yang menempel pada elektroda tidak mempengaruhi konsentrasi larutan yang lain.

H. KESIMPULAN

1. pH meter adalah alat yang digunakan untuk mengukur pH suatu larutan dengan
pembacaan skala dengan jenis atau penampakan secara digital. Alat ini mengukur
beda potensial ketika arus listrik bergerak antara elektroda yang tercelup dalam
larutan.
2. Pada saat pengukuran pH larutan, elektrodanya terlebih dahulu dicelupkan ke dalam
larutan buffer. Hal ini dimaksudkan untuk menahan perubahan derajat keasaman
suatu larutan. Adapun pengukuran menggunakan pH meter tentulah akurat, akan
tetapi diperlukan ketelitian yang tinggi.

ACARA IV

ANALISIS KUANTITATIF: ASIDIMETRI DAN ALKALIMETRI

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2. Tujuan Praktikum :

– Untuk menetukan konsentrasi larutan NaOH dengan asam oksalat.

– Untuk menetukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH.

1. Hari, Tanggal Praktikum :

Kamis, 18 April 2012

1. Tempat Praktikum :

Laboratorium Kimia dasar, lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI
Untuk menentukan konsentrasi suatu larutan, suatu larutan dengan konsentrasi dan volume
yang telah diketahui dapat direaksikan dengan larutan yang akan ditentukan konsentrasinya
sampai perbandingan molnya tepat seperti yang diperlukan dalam persamaan kimia yang
seimbang. Kemudian dari kedua reaktan yang telah dketahui volumenya, konsentrasi larutan
yang belum diketahui dapat dihitung. Prosedur ini disebut titrasi. Suatu indicator digunakan
untuk memberitahukan kapan titrasi harus ditentukan. Biasanya indicator adalah suatu
senyawa yang mempunyai ssatu warna (atau tdak berwarna) dalam larutan yang bersifat asam
dan mempunyai warna lain dalam laruta yang bersifat basa (Goldberg, 2004 : 96).

Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni reaksi antara ion hydrogen yang
berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang
bersifat netral. Netralisasi dapat juga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton ( asam)
dengan penerima proton (basa).

H+ + OH– à H2O

Asidimetri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif terhadap senyawa-senyawa yang


bersifat basa dengan menggunakan baku asam, sebaliknya alkalimetri adalah penetapan kadar
senyawa-senyawa yang bersifat asam dengan menggunakan baku basa. Untuk menetapkan
titik akhir pada proses netralisasi ini digunakan indicator. Menurut W.Ostwald, indicator
adalah suatu senyawa organic kompleks dalam bentuk asam atau basa yang mampu berada
dalam keadaan dua macam bentuk warna yang berbeda dan dapat saling berubah warna dari
bentuk satu ke bentuk yang lain, ada konsentrasi H+ tertentu atau pada pH tertentu (Sarosa,
2010 : 90).

Asidimetri dan alkalimetri melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam
yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam stadar (asidimetri), dan ttrasi
asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang bersal dari basa lemah (asam bebas) dengan
suatu basa standar (alkalimetri). Bersenyawanya ion hydrogen dan ion hidroksida untuk
membentuk air merupakan akibat reaksi-reaksi tersebut ( Hadiat, 2004 : 33).

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer atau titran. Titrasi asam basa
berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan
basa dan sebaliknya. Titran ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan
ekivalen (artinya secara stoikiometri titran dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini disebut
sebagai “titik ekivalen”. Pada saat titik ekivalen ini maka proses titrasi dihentikan, kemudian
kita mencatat volume titer yag diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan
menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer maka kita bisa menghitung
kadar titran. Adapun cara untuk menentukan titik ekivalen pada titrasi asam basa yaitu :

1) Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH dengan volume titran untuk


memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalaah titik ekivalen.

2) Memakai indicator asam basa. Indicator ditambahkan pada titran sebelum proses titrasi
dilakukan. Indicator akan berubah warna ketika titik ekivalen terjadi ( Watson, 2009 : 71).

1. C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


2. Alat-Alat Praktikum

– Buret
– Corong

– Gelas kimia 250 ml

– Gelas ukur 50 ml

– Kertas label

– Klem + statif

– Labu Erlenmeyer 250 ml

– Pipet tetes

1. Bahan-Bahan Praktikum

– Aquades

– Indicator PP

– Larutan (COOH)2 0,05 M

– Larutan HCl 0,1 M

– Larutan NaOH 0,1 M

– Tissue

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Membuat larutan baku primer asam oksalat 0,05 M
1. Ditimbang asam oksalat 6,3035 gram dengan teliti.
2. Dilarutkan dalam air (aquades) dengan labu takar 1000 ml.
3. Dihitung konsentrasi larutan dengan rumus:

Konsentrasi larutan: x 1 M = 0,05 M

1. Menentukan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku asam oksalat


1. Buret yang telah bersih dibilas dengan larutan NaOH yang akan dipakai
sebanyak 3 kali dalam 5 ml, lalu diisi dengan larutan NaOH sebanyak 50 ml.
2. Diisikan sebanyak 20 ml ke dalam labu erlenmeyer larutan baku asam oksalat
yang telah dibuat.
3. Ditambahkan 4 tetes indikator fenolftalin.
4. Dicatat keadaan kolom dalam buret lalu diteteskan NaOH dari buret ke dalam
larutan asam dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna, dari bening
menjadi merah muda.
5. Dicatat keadaan akhir buret dan jumlah NaOH yang dipakai, ialah selisih
antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

1. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH


1. Dilarutkan HCl sebanyak 20 ml dan dimasukkan pada labu erlenmeyer.
2. NaOH sebanyak 50 ml yang telah ditentukan terhadap larutan baku primer
asam oksalat diisikan kedalam buret.
3. Ditambahkan 4 tetes indikator fenolftalin ke dalam labu erlenmeyer
4. Dicatat keadaan kolom dalam buret, lalu diteteskan NaOH dari buret kedalam
larutan HCl dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna, dari tak
berwarna menjadi merah muda.
5. Dicatat keadaan akhir buret dan jumlah NaOH yang dipakai, ialah selisih
antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi
1. 2NaOH (aq) + (COOH)2 (aq) (COONa)2 (aq) + 2H2O (l)
2. HCl (aq) + NaOH (aq)NaCl (aq) + H2O (l)

1. Perhitungan
1. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat 0,05 M

Asam oksalat : (COOH)2 . 2H2O

Volume (COOH)2 : 1000 ml = 1 L

Massa (COOH)2 : 6,3035 gram

Mr (COOH)2 : 126,070

 Mol (n) =

= 0,05 mol

 Molaritas (M) =

= 0,05 M

1. Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan baku asam oksalat

Dik. M1(COOH)2 =0,05 M

V1(COOH)2 =20 ml

V2 (NaOH) =15,2 ml

Dit. M2(NaOH) =…?


Jawab:

2NaOH (aq) + (COOH)2 (aq) (COONa)2 (aq) + 2H2O (l)

(COOH)2 2NaOH

2.M1.V1 = 1.M2.V2

2.0,05.20 = 1. M2.15,2

2 = 15,2 . M2

M2 =

M1 = 0,13 M

1. Penentuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH


2. Dik. M2(NaOH) =0,13 M

V1(HCl) =20 ml

V2 (NaOH) =0,4 ml

1. Dit. M1(HCl) =…?

Jawab:

HCL (aq) + NaOH (aq)NaCl (aq) + H2O (l)

M1.V1 = M2.V2

M1.20 =0,13.0,4

M1 =

M1 =0,0026 M

1. G. PEMBAHASAN

Pada percobaan ini dilakukan standarisasi larutan NaOH dengan larutan baku (COOH)2

serta penentuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi.
Penggunaan larutan NaOH dan HCl sendiri didasarkan pada pengertian asidimetri dan
alkalimetri itu sendiri. Asidimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar
asam, sedangkan alkalimetri yaitu analisis secara volumetric dengan larutan standar basa.
Pada percobaan ini, larutan NaOH distandarisasi menggunakan larutan baku (COOH)2.
Tujuan standarisasi adalah untuk menentukan konsentrasi setepat mungkin, sebab belum
tentu dalam pembuatan HCl dan NaOH didapat molaritas 0,1 M, bsa kurang bisa lebih.

Pada percobaan pertama, yaitu membuat larutan NaOH 0,1 M. NaOh adalah basa kuat yang
dapat larut dalam air, dan biasanya digunakan untuk pembuatan larutan alkali standar, selain
itu harganya terbilang murah. Tetapi larutan NaOh harus distandarisasi terlebih dahulu karena
tidak satupun dari hidroksida padat ini dapat diperoleh murni, sehingga suatu larutan standar
tidak dapat dibuat dengan melarutkan suatu bobot yang diketahui dalam volume air tertentu,
NaOH sangat higroskopis dan selalu terdapat sejumlah tertentu alkali karbonat dan air.
Adapun pada percobaan ini, larutan NaOH distandarisasi dengan larutaan (COOH)2 atau
asam oksalat karena agar lebih stabil dengan adanya 2 valensi pada (COOH)2. Dan untuk
mengindikasi adanya perubahan pH maka digunakan indikator PP. Dengan adanya indikator
PP, maka dapat diketahui titik ekuivalen dengan berubahnya warna larutan dari bening
menjadi merah muda. Dari hasil percobaan diketahui bahwa volume NaOH untuk titrasi
adalah 15,2 ml sehingga molaritas larutan NaOH hasil standarisasi yaitu 0,13 M. reaksi yang
terjadi sebagai berikut :

2NaOH(aq) + (COOH)2(aq) à (COONa)2(aq) + 2H2O(l)

Selanjutnya, pada percobaan kedua yaitu menentukan konsentrasi larutan Hcl dengan larutan
NaOH yang telah distandarisasi. Metodenya sama seperti sebelumnya, larutan HCl ditetesi
dulu dengan indikator PP guna mengetahui perubahan warna, dan selanjutnya dilakukan
titrasi. Pada saat titrasi, akan terjadi perubahan warna yang disebut dengan titik akhir titrasi.
Perubahan warna ini disebabkan oleh larutan baku yang digunakan dan dapat juga disebabkan
oleh penambahan indikator.

Larutan NaOH digunakan sebagai larutan standar karena merupakan basa kuat. Khusus reaksi
antara asam lemah dan basa lemah tidak dapat digunakan dalam analisis kuantitatif, karena
pada titik ekivalen yang terbentuk akan terhidrolisis kembali sehingga titik akhir titrasi tidak
dapat diamati. Hal ini menyebabkan titran biasanya berupa larutan baku elektrolit kuat seperti
NaOH dan HCl.

Pada percobaan kedua ini, volume NaOH yang digunakan untuk titrasi (mengubah warna
larutan HCl dari bening jadi merah muda) adalah 0,4 ml sehingga molaritas larutan HCl yang
diperoleh yakni 0,0026 M. Konsentrasi yang didapatkan ini cukup jauh berbeda dengan
konsentrasi HCl yang pada mulanya dipakai yaitu 0,1 M. Hal ini menandakan bahwa reaksi
tersebut netral pada konsentrasi 0,0026 M. Adapun reaksi yang terjadi pada saat penentuan
konsentrasi HCl dengan larutan NaOH adalah :

HCl(aq) + NaOH(aq) à NaCl(aq) + H2O(l)

Pada dasarnya, prinsip reaksi ttrasi asam basa adalah reaksi penetralan. Titrasi asam basa
dapat berupa titrasi asam lemah-basa kuat, asam kuat-basa lemah, asam lemah-basa lemah
serta asam kuat-basa kuat.

1. H. KESIMPULAN

Berdasarkan data hasil percobaan di atas dapat disimpulakn bahwa :


– Penentuan konsentrasi larutan NaOH dengan larutan (COOH)2 didasarkan pada
prinsip alkalimetri yaitu pengukuran konsentrasi larutan basa dengan menggunakan larutan
baku asam, adapun M NaOH yang diperoleh adalah 0,13 M.

– Penentuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH yang telah distandarisasi
didasarkan pada prinsip asidimetri yaitu pengukuran konsentrasi larutan asam dengan
menggunakan larutan baku basa. Konsentrasi larutan HCl yang diperoleh sebesar 0,0026 M.

Kedua percobaan ini menggunakan prinsip titrasi asam-basa.

ACARA V

REAKSI REDOKS DAN SEL ELEKTROKIMIA

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
2. Tujuan Praktikum

 Mempelajari beberapa reaksi redoks.


 Mengetahui reaksi yang terjadi pada anoda dan katoda dalam reaksi elektrolisis KI.

1. Waktu Praktikum

Kamis, 26 April 2012

1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI

Reaksi asam basa dapat dikenali prosess transfer proton. Kelompok reaksi yang disebut
reaksi oksidasi-reduksi atau redoks. Reaksi redoks berperan dalam banyak hal di dalam
kehidupan mulai dari pembakaran bahan bakar minyak bumi sampai dengan kerja cairan
pemutih. Reaksi setengah sel yang melibatkan hilangnya electron disebut reaksi oksidasi.
Reaksi setengah sel yang melibatkan penangkapan electron disebut reaksi reduksi. Suatu jenis
redoks yang umum adalah reaksi antara logam dengan asam, dituliskan :

Logam + asam à garam + molekul hydrogen

Elektron-elektron yang terlibat dalam reaksi redoks, maka perlu dituliskan bilangan oksidasi
pada reaktan atau produk. Bilangan oksidasi adalah jumlah muatan yang dimiliki suatu atom
dalam molekul atao senyawa ionik jika elektron-elektronnya berpindah seluruhnya. Contoh :
pembentukan HCl dan SO2 sebagai berikut (Chang,2004:100-101).

H2(g) + Cl (g) à2HCl(g)

S(s) + O2(g) à 2SO2(g)


Reaksi oksidasi reduksi terjadi pada dua elektroda. Elektroda tempat berlangsungnya oksidasi
disebut anoda. Elektroda tempat terjadinya reduksi disebut katoda. Listrik mengalir melalui
suatu sircuit di bawah pengaruh beda potensial atau voltase. Suatu gaya yang menggerakkan
perpindahan muatan. Ada dua jenis interaksi antara listrik dan materi. Elektrolisis adalah
kejadian di mana arus listrik menyebabkan reaksi kimia. Aksi sel galvanic adalah kejadian di
mana reaksi kimia menyebabkan arus listrik, seperti pada pemakaian baterai (Goldberg,
2004:90).

Eletrolisis adalah peristiwa penguraian suatu elektronik oleh arus listrik. Prinsip elektronik
berkebalikan dengan sel volta. Di bawah ini diuraikan reaksi-reaksi elektrolisis (Dwisang,
2011:171).

Katoda Anoda
+
1. Ion H dari asam mengalami reaksi : 1. Ion OHdari basa mengalami reaksi :

2H+ + 2e à H2 4OH– à2H2O + O2 + 4e


1. Kation dari logam golongan IA, IIA, 1. Ion-ion dari golongan halide
Al3+, dan Mn2+ tidak tereduksi : teroksidasi :

2H2O + 2e à 2OH– + H2 2F– à F2 + 2e

2Cl– à Cl2 + 2e
1. Kation selain logam golongan di atas 1. Anion yang berupa sisa asam oksi
akan direduksi. Contoh : seperti SO42-, NO3–, PO43-, dan F–,
tidak teroksidasi. Spesi yang
Cu2+ + 2e à Cu teroksidasi adalah air.

2H2O(l) à 4H+(aq) + O2(g)+4e


Anoda akan ikut teroksidasi, kecuali jika
anodanya terbuat dari logam Pt,Au, dan
grafit

Rangkaian sel elektrolisis hamper menyerupai sel volta, yang membedakan sel elektrolisis
dari sel volta adalah adalah pada sel elektrolisis, komponen voltmeter diganti dengan sumber
arus (umumnya baterai). Larutan atau lelehan yang ingin dielektrolisis, ditempatkan dalam
suatu wadah. Selanjutnya elektroda dicelupkan ke dalam larutan maupun lelehan elektrolit
yang ingin dielektrolisis. Elektroda yang digunakan umumnya merupakan elektroda inert,
seperti grafit (C), Platina (Pt) dan emas (Au). Elektroda berperan sebagai tempat
berlangsungnya reaksi. Reaksi reduksi berlangsung di katoda,sedangkan reaksi oksidasi
berlangsung di anoda. Kutub negative sumber arus tentunya mengarah pada katoda (sebab
memerlukan electron) dan kutub positif sumber arus tentunya mengarah pada anoda.
Akibatnya, katoda bermuatan negative dan menarik kation-kation yang akan tereduksi
menjadi endapan logam. Sebaliknya, anoda bermuatan positif dan menarik anion-anion yang
akan teroksidasi menjadi gas. Terlihat jelas bahwa tujuan dari elektrolisis adalah untuk
mendapatkan endapan logam di katoda dan gas di anoda (Anonim, 2009).

1. C. ALAT DAN BAHAN


1. Alat-alat Praktikum
– Bunsen

– Corong

– Dongkrak

– Elektroda

– Gelas ukur 25 mL

– Klem

– Penjepit

– Pipa U

– Pipet tetes

– Pipet volum 10 mL

– Power supply

– Rak tabung reaksi

– Spatula

– Statif

– Stopwatch

– Tabung reaksi

1. Bahan-bahan Praktikum

– Aquades

– Bubuk MnO2

– Korek api

– Larutan CHCl3

– Larutan CuSO4 0,5 M

– Larutan FeCl3 0,1 M

– Larutan H2O2 0,1 M

– Larutan H2SO4 1 M
– Larutan indikator fenolftalein

– Larutan kanji 1%

– Larutan KI 0,1 M

– Larutan KI 0,2 M

– Larutan ZnSO4 0,5 M

– Logam Cu

– Logam Zn

1. D. CARA KERJA
2. Reaksi redoks

a. Dimasukkan 2 mL larutan CuSO4 0,5 M ke dalam tabung reaksi dan dimasukkan logam Zn
ke dalam larutan tersebut.

b. Dimasukkan 2 mL larutan ZnSO4 0,5 M ke dalam tabung reaksi, dan dimasukkan logam
Cu kedalam larutan tersebut.

c. Dimasukkan 10 tetes larutan H2O2 0,1 M ke dalam tabung reaksi, dan dimasukkan serbuk
MnO2 kedalam larutan tersebut.

d. Dimasukkan 5 tetes larutan H2O2 0,1 M ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 5 tetes
larutan H2SO4 1 M, ditambahkan lai 10 tetes larutan KI 0,1 M dan satu tetes larutan kanji
(amilum). Dilakukan secara berurutan, lalu campuran diamati.

e. Dimasukkan 5 tetes FeCl3 0,1 M ke dalam tabung reaksi, ditambahkan 10 tetes H2SO4 1 M
dan 10 tetes larutan KI 0,1 M, campuran larutan lalu dipanaskan kemudian ditambahkan 1
tetes larutan kanji (amilum).

2. Elektrolisis larutan KI

1. Dimasukkan larutan KI 0,2 M ke dalam tabung U, samapai 2 cm dari mulut tabung.


2. Dipasang elektroda dan dihubungkan dengan sumber arus 6 volt selama 5 menit.
3. Dicatat perubahan yanhg terjadi.
4. Dari ruang anoda diambil 2 mL larutan, yang kemudian ditambahkan dengan 1 mL
larutan CH3Cl3 dan dikocok.
5. Dari ruang katoda diambil 2 mL larutan, larutan ini ditambahkan beberapa tetes
Fenolftalein dan 2 mL larutan FeCl 0,1M.
6. Larutan dari tabng D dan E diamati.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).
1. F. ANALISIS DATA
1. Reaksi Redoks
1. (i) Zn(s) + CuSO4(aq) → ZnSO4(aq) + Cu(s)

CuSO4(aq) → Cu2+(aq) + SO42-(aq)

Reduksi : Cu2+ + 2e– → Cu Eº = +0,34 V

Oksidasi : Zn → Zn2+ + 2e– Eº = -0,76 V

Cu2+ +
Zn → Cu + Zn 2+
Eº = +1,10 V

Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

(ii) Cu(s) + ZnSO4(aq) → CuSO4(aq) + Zn(s)

ZnSO4(aq) → Zn2+(aq) + SO42-(aq)

Reduksi : Zn2+ + 2e– → Zn Eº = -0,76 V

Oksidasi : Cu → Cu2+ + 2e– Eº = +0,34 V

Zn2+ +
Cu → Zn + Cu 2+
Eº = -1,10 V

Reaksi tidak terjadi secara spontan karena Eº bernilai negatif.

1. Reaksi Disproposionasi
MnO2(s)
2H2O2(l) 2H2O(l) + O2(g)

Reduksi : H2O2 + 2H+ + 2e– → 2H2O Eº = +1,77 V

Oksidasi : H2O2 → O2 + 2H+ + 2e– Eº = -0,69 V

2 H2O2 → 2H2O + O2 Eº = +1,08 V

Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

1. 2H2O2 + H2SO4 + 2KI + kanji → K2SO4 + I2 + 2H2O

H2O2 + H2SO4 → 2H2O+ SO42-

SO42- + 2KI → K2SO4 + I2

Reduksi : S2O42- + 2e– → 2SO42- Eº = +2,01 V


Oksidasi : 2I– → I2 + 2e– Eº = -0,54 V

S2O42- + 2I– → 2SO42- + I2 Eº = +1,47 V

1. 2FeCl3(aq) + 3H2SO4(aq) + 6KI(aq) → 2FeSO4 + 6KCl + 6HI

Reduksi : 6Fe3+ + 6e– → 6Fe2+ Eº = +0,77 V

Oksidasi : 6I– → 3I2 + 6e– Eº = -0,54 V

6Fe3+ + 6I– → 6Fe2+ Eº = +0,23 V

Reaksi terjadi secara spontan karena Eº bernilai positif.

1. Elektolisis Larutan KI
1. Reaksi : KI(aq) → K+(aq) + I–(aq)

Katoda : 2H2O + 2e– → H2 + 2OH– Eº = -0,83 V

Anoda : 2I– → I2 + 2e– Eº = -0,54 V

2H2O + 2I– → H2 + 2OH– + I2 Eº = -1,37 V

1. Dari ruang katoda diambil 2 mL larutan + larutan indikator PP + larutan FeCl3

Reaksi : 3OH–(aq) + PP + FeCl3(aq) → Fe(OH)3(aq) + 3Cl–(aq)

1. Dari ruang anoda diambil 2 mL larutan + larutan CHCl3

Reaksi : 3I2(aq) + CHCl3(aq) →

1. G. PEMBAHASAN

Pada percobaan pertama, yaitu percobaan reaksi redoks, digunakan larutan CuSO4 0,5 M
yang ditambahkan dengan Zn, warna CuSO4 yang semula biru, setelah ditambah Zn,
warnanya berubah menjadi biru muda, dan jika diamati lebih lama akan berubah menjadi
bening. Hal ini berarti bahwa yang berwarna bening tersebut adalah ZnSO4 yang terbentuk
dari hasil reaksi antara CuSO4 dan logam Zn. Dalam hal ini, terbentuk endapan Cu yang
berwarna cokelat , ini diakibatkan karena logam Zn yang ditambahkan telah mengikat SO4
yang pada awalnya diikat oleh Cu. Selain itu juga, Cu lebih mudah tereduksi dan lebih cepat
mengalami korosi karena E0 Cu lebih besar daripada E0 Zn.

Percobaan selanjutnya, dilakukan hal yang sebaliknya, logam Cu direaksikan dengan larutan
ZnSO4. Warna ZnSO4 mula-mula adalah bening, dan warna awal Cu adalah cokelat
kemerahan. Setelah keduanya direaksikan (ZnSO4+Cu). Warna larutan tetap bening. Hal ini
berarti bahwa tidak terjadi reaksi antara ZnSO4 dan Cu, karena perubahan kimia akan selalu
ditandai dengan adanya perubahan warna, bau, dan suhu.

Pada percobaan reaksi disproporsionasi, digunakan H2O2 0,1 M dan MnO2 dalam bentuk
serbuk. Warna awal H2O2 adalah bening, sedangkan warna awal MnO2 adalah hitam. Setelah
keduanya dicampur, warna larutan menjadi hitam pekat dan kental. Hal ini berarti bahwa
H2O2 merupakan reduktor sekaligus oksidator, karena itulah reaksi ini disebut
disproporsionasi, sedangkan fungsi penambahan MnO2 hanyalah sebagai katalisator yaitu
mempercepat berlangsungnya suatu reaksi tanpa ikut bereaksi.

Percobaan berikutnya, digunakan larutan H2O2 yang dicampukan dengan H2SO4 1 M + 10


tetes KI dan satu tetes larutan kanji, penambahan larutan kanji ini berfungsi untuk
mengetahui apakah ada I2 yang terbentuk. Larutan H2SO4 berubah warna menjadi kuning tua.
Kemudian setelah penambahan larutan kanji, warnanya menjadi hitam pekat. Perubahan
warna ini disebabkan oleh terbentuknya I2 dari reaksi : H2O2 + H2SO4 +2KI à I2 + K2SO4+
2H2O

Adapun percobaan lainnya, digunakan larutan FeCl3, H2SO4, KI. Warna awal larutan FeCl3
adalah kuning muda, setelah ditambahkan larutan KI berubah menjadi kuning kemerahan,
dan setelah ditambahkan lagi dengan larutan H2SO4 ,warnanya menjadi lebih pekat.
Kemudian dilakukan pemanasan terhadap campuran ini. Setelah pemanasan, warnanya
menjadi kuning. Lalu diteteskan larutan kanji, dan warnanya pun berubah menjadi kuning
kehitaman. Persamaan reaksinya dapat ditulis :

2FeCl3 +3 H2SO4+6KI àFe2(SO4)3+6KCl+6HI

Perubahan warna pada percobaan tersebut diakibatkan oleh adanya penambahan kanji. kanji
dapat berfungsi sebagai indicator yang menyebabkan terjadinya perubahan warna karena
kanji mengandung ion-ion tertentu yang menyebabkan warna berubah.

Pada percobaan elektrolisis larutan KI, digunakan larutan KI 0,2 M. larutan ini dimasukkan
ke dalam pipa U. pada ruang anoda, yang awalnya bening berubah menjadi kuning pekat
setelah dialirkan arus listrik, sedangkan pada ruang katoda terbentuk gelembung-gelembung
kecil di sekitar elektroda. Hal ini berarti bahwa pada ruang katoda terbentuk gas hydrogen
dan pada anoda terbentuk I2 dari proses penguraian 2I–. pada elektrolisis larutan KI, KI
terurai menjadi kation dan anion. Pada kation terdapat K+ dan pada anion tedapat I–.
Selanjutnya, diambil larutan dari ruang katoda dan ruang anoda. Larutan dari ruang anoda
yang awalnya bening (agak keruh) dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 2 ml,
kemudian ditambah 1 ml larutan CHCl3. Ternyata, kedua larutan tersebut tiidak menyatu dan
lapisan CHCl3 berada dibawah larutan dari ruang anoda. Seharusnya, lapisan CHCl3 berada di
atas karena larutan tersebut dimasukkan setelah larutan dari ruang anoda. Hal ini disebabkan
karena berat molekul CHCl3 lebih besar daripada berat molekul dari ruang anoda. Selain itu
memisahnya larutan CHCl3 dengan larutan dari ruang anoda disebabkan karena CHCl3 adalah
larutan polar, dan larutan dari ruang anoda bersifat non polar, hal inilah yang menyebabkan
keduanya tidak dapat menyatu. Selanjutnya, larutan dari ruang katoda awalnya bening,
setelah ditambahkan indicator PP, warnanya berubah menjadi merah muda (agak ungu), dan
ditambah lagi FeCl3 0,1 M, warnanya berubah menjadi merah. Reaksinya dapat ditulis
sebagai berikut:
H2+ 2OH– + FeCl3 à 2Fe (Oh)3 +6HCl +2e

Hal ini berarti bahwa perubahan warna setelah ditambahkan indicator PP menunjukkan
bahwa telah tercapai titik akhir titrasi, karena apabila indicator yang digunakan adalah
indicator PP dan warnanya menjadi merah muda (agak ungu), maka hal itu menandakan
bahwa telah tercapai titik akhir titrasi. Dalam hal ini, reaksi redoks tidak berhubungan dengan
titrasi asam basa, kemungkinan besar warna yang terbentuk bukanlah merah muda/ungu,
akan tetapi merah, warna merah ini menunjukkan bahwa larutan berada dalam kondisi basa.
Hal ini merupakan kesalahan praktikan saat percobaan.

1. H. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil percobaan diatas dapat disimpulkan :

– Reaksi redoks adalah reaksi yang menyebabkan perubahan bilangan oksidasi. Pada
reaksi ini, anoda mengalami oksidasi sedangkan pada katoda mengalami reduksi. Adapun
reaksi disproporsionasi pada percobaan ini artinya pada satu unsure terdapat reaksi oksidasi
atau reaksi reduksi, dimana MnO2 pada reaksi ini berfungsi sebagai katalisator (mempercepat
reaksi tanpa ikut bereaksi).

– Pada elektrolisis larutan KI terbentuk gas hydrogen di katoda dan Iodin di anoda.
Larutan di sekitar katoda bersifat basa. Gejala awal pada elektrolisis larutan KI yakni ketika
dialiri arus listrik, terbentuk gelembung-gelembung kecil pada katoda sedangkan di anoda
mengeluarkan cairan berwarna kuning pekat.

ACARA VI

KINETIKA KIMIA

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum

Mempelajari dan mengamati pengaruh katalis padareaksi.

1. Hari, Tanggal Praktikum

Kamis, 3 Mei 2012

1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kima Dasar, lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI
Kinetika kimia adalah bagian ilmu kimia fisika yang mempelajari laju reaksi, factor-faktor
yang mempengaruhinya serta hubungannya terhadap mekanisme reaksi. Kinetika kimia
disebut dinamika kimia, karena adanya gerakan molekul, elemen atau ion dalam mekanisme
reaksi dan laju reaksi sebagai fungsi waktu. Mekanisme reaksi dapat diramalkan dengan
bantuan pengamatan dan pengukuran besaran termodinamika suatu reaksi, dengan mengamati
arah jalannya reaktan maupun produk suatu system. Syarat untuk terjadinya suatu reaksi
kimia bila terjadi penurunan energi bebas. Dipertanyakan, berapa cepat reaksi-reaksi
berlangsung, dengan perkataan lain, berapa nilai laju reaksi tersebut. Hal ini berlawanan dari
tinjauan termodinamika, dimana tidak dikenal parameter waktu karena hanya tergantung dari
keadaan awal dan akhir system itu sendiri. Subyek yang sangat penting dalam termodinamika
adalah keadaan keseimbangan, maka termodinamika adalah metoda yang sangat penting
untuk menjajaki keadaan keseimbangan suatu reaksi kimia (Anonim, 2011).

Laju reaksi adalah laju rata-rata suatu produk yang dihasilkan atau suatu pereaksi yang
digunakan (nilai mutlak yang diambil) untuk memperoleh hasil yang relative.

Laju =

Untuk setiap reaksi dengan koefisien stoikiometri tidak sama dengan 1, laju perubahan
pembentukan produk atau pereaksi yang digunakan harus dibagi oleh koefisien stoikiometri
contoh:

2H2O à 2H2O + O2

Untuk reaksi umum, aA+Bb=cC+dD, laju reaksi dapat dijelaskan dengan hokum laju reaksi
atau persamaan umum laju reaksi:

Laju reaksi = K [A]x [B]y

Konstanta laju reaksi (K) didefinisikan secara kuantitatif dengan menggunakan persamaan
Arhennius :

A adalah konstanta Arrhenius untuk reaksi tertentu Ea adalah energi aktivasi


(Bresnick,2002:89).

Adapun faktor yang mempengaruhi laju reaksi sebagai berikut (Dwisang, 2011:153):

– Sifat pereaksi

Salah satu faktor penentu laju reaksi adalah sifat pereaksinya, ada yang reaktif dan ada yang
kurang reaktif, misalnya bensin lebih cepat terbakar daripada minyak tanah. Demikian juga
logam natrium bereaksi cepat dengan air, sedangkan logam magnesium lambat.

– Konsentrasi pereaksi

Dua molekul yang akan bereaksi harus bertabrakan langsung. Jika konsentrasi pereaksi
diperbesar, berarti kerapatannya bertambah dan akan memperbanyak kemungkinan tabrakan
sehingga akan mempercepat reaksi.
– Suhu

Hampir semua reaksi menjadi lebih cepat bila suhu dinaikkan, karena yang diberikan akan
menambah energi kinetik partikel pereaksi. Akibatnya, jumlah dan energi tabrakan bertambah
besar.

– Katalis

Laju suatu reaksi dapat diubah (umumnya dipercepat) dengan menambah zat yang disebut
katalis. Katalis sangat diperlukan dalam reaksi zat organik, termasuk dalam organisme.
Katalis dalam organisme disebut enzim dan dapat mempercepat reaksi ratusan sampai
puluhan ribu kali.

Teori tumbukan dapat menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi. Energi
antar molekul dalam berbagai sampel zat mempunyai kisaran yang luas, dan biasanya hanya
molekul yang paling energetik yang dapat melangsungkan reaksi. Peningkatan suhu juga
meningkatkan jumlah molekul yang mmempunyai cukup energi untuk bereaksi. Peningkatan
konsentrasi atau tekanan menyebabkan molekul lebih sering bertumbukan, dan dengan
tumbukan yang lebih banyak ini, diharapkan banyak terjadi tumbukan yang efektif. Wujud
partikel molekul mempengaruhi laju reaksi karena semakin luas permukaan yang ada, maka
semakin banyaklah tumbukan yang terjadi antara molekul fluida dan zat padat. Katalis
bekerja dengan cara mengurangi energi aktivasi, sehingga mempermudah jalan reaktan untuk
menghasilkan produk, karena terdapat lebih banyak molekul reaktan yang mempunyai energi
aktivasi lebih rendah, reaksi akan berlangsung lebih cepat ( Goldberg, 2004: 104).

1. C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM


1. Alat-alat Praktikum

– Labu ukur 25 mL

– Pipet tetes

– Rak tabung reaksi

– Stopwatch

– Tabung reaksi

1. Bahan-bahan Praktikum

– Aquades

– Larutan H2C2O4 0,05M

– Larutan H2SO4 0,5M

– Larutan H2SO4 2M

– Laruta KMnO4 0,01M


– Larutan MnSO4 0,18M

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Diencerkan 50 tetes KMnO4 0,01 M dengan aquades hingga volumenya 25
mL.
2. Diencerkan 50 tetes H2C2O4 0,05 M dengan aquades hingga volumenya 25
mL.
3. Dimasukkan 4 tetes larutan H2C2O4 yang telah diencerkan dan 2 tetes
H2SO4 2 M ke dalam suatu tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 tetes
KMnO4 yang telah diencerkan dan dicatat waktu mulai dari penambahan
KMnO4 sampai warna KMnO4 hilang.
4. Ditambahkan lagi 1 tetes KMnO4 pada campuran dalam tabung reaksi tersebut
dan dicatat waktu sampai warna KMnO4 hilang. Percobaan diteruskan sampai
penambahan KMnO4 tetes demi tetes berturut-turut sebanyak 12 kali. Dan
pada setiap penambahan, waktu dicatat seperti yang dilakukan sebelumnya.
5. Dimasukkan 4 tetes H2C2O4 yang telah diencerkan, 2 tetes H2SO4 0,5 M dan 1
tetes MnSO4 0,18 M ke dalam tabung reaksi yang lain. Ditambahkan 1 tetes
KMnO4 seperti pada tabung reaksi pertama dan dicatat waktu mulai dari
penambahan sampai warna KMnO4 hilang.
6. Dibuat grafik dengan mengalurkan tetes KMnO4 dengan waktu dalam detik.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA
1. Persamaan Reaksi

– KMnO4(aq)+ H2O(l) → KMnO4(aq)+ H2O(l)

– H2C2O4(aq)+ H2O(l) → H2C2O4(aq)+ H2O(l)

– 2KMnO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 5H2C2O4(aq) → K2SO4(aq) + 2MnSO4(aq) + 10CO2(g) + 8H2O(l)

– 2KMnO4(aq) + 3H2SO4(aq) + 5H2C2O4(aq) + MnSO4(aq) → K2SO4(aq) + 3MnSO4(aq) +


10CO2(g) + 8H2O(l)

– 2KMnSO4(aq) + 5H2C2O4(aq) + 6H+ → 2Mn+ + 10CO2(g) + 8H2O(l)

1. Tabel Hasil Pengamatan

Tabung Tetesan Tetesan Tetesan Tetesan Tetesan Waktu


Reaksi H2C2O4 H2SO4 H2SO4 2M MnSO4 KMnSO4 (detik)
0,5M 0,18M ke-
1 4 – 2 – 1 22,15
1 4 – 2 – 2 10,91
1 4 – 2 – 3 10,63
1 4 – 2 – 4 9,97
1 4 – 2 – 5 7,62
1 4 – 2 – 6 7,85
1 4 – 2 – 7 7,00
1 4 – 2 – 8 6,13
1 4 – 2 – 9 5,43
1 4 – 2 – 10 7,82
1 4 – 2 – 11 6,45
1 4 – 2 – 12 101,73
2 4 1 – 1 1 68,91

1. Grafik Hubungan Waktu (detik) dengan Jumlah Tetesan Larutan KMnO4

1. G. . PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari dan mengamati pengaruh katalis pada reaksi.
Pada mulanya, diencerkan 50 tetes larutan KMnO4 0,01 M dengan aquades sehingga
volumenya menjadi 25 ml, begitu pula dengan larutan H2C2O4 0,05 M, 50 tetes dari larutan
tersebut diencerkan dengan aquades sampai volumenya 25 ml.

Pada percobaan pertama, digunakan larutan KMnO4 0,01 M dan H2C2O4 0,05 M yang telah
diencerkan, kemudian ditambahkan larutan H2SO4 2 M. ketika penambahan 1 tetes larutan
KMnO4 0,01 M diperoleh waktu untuk bereaksi 22,15 detik. Selanjutnya, untuk tetesan
berikutnya hingga mencapai 12 tetes, diperoleh waktu yang tidak konstan. Hal ini disebabkan
KMnO4 bertindak sebagai inhibitor (penghambat terjadinya reaksi) karena larutan ini telah
jenuh, dimana dengan bertambahnya konsentrasi larutan KMnO4 pada tetesan ke-12 maka
berpengaruh teradap laju reaksinya yaitu laju reaksinya lambat.

Unuk percobaan selanjutnya yakni 4 tetes H2C2O4 0,05 M, 2 tetes H2SO4 0,5 M dan 1 tetes
KMnO4 ditambahkan satu tetes MnSO4 0,18 M. larutan ini dikocok dan dicatat waktu mulai
dari penambahan sampai warna KMnO4 hilang. Dibutukan waktu 68,91 detik untuk
pengamatan ini. Waktu ini terlalu lama untuk reaksi larutan tersebut. Ini berarti bahwa terjadi
kesalahan / human error saat praktikum, kemungkinan besarnya salah satu dari larutan-
larutan di atas belum dimasukkan. Hal yang seharusnya terjadi adalah setelah penambahan
larutan KMnO4, dibutuhkan waktu yang sangat cepat dan yang jelas waktu yang dibutuhkan
untuk bereaksi lebih singkat dari percobaan pertama. Hal ini dikarenakan larutan MnO4
berfungsi sebagai katalisator yang mampu mempercepat terjadinya reaksi.

Adapun perbedaan waktu pada percobaan pertama dari tetesan 1 sampai 12 disebabkan oleh
perbedaan kuantitas/jumlah tetesan yang ditambahkan, semakin banyak tetesan yang
ditambahkan, waktu yang dibutuhkan semakin kecil/sedikit, begitupula sebaliknya. Dalam
hal ini tetes KMnO4 memiliki perbandingan terbalik terhadap waktu.

Reaksi yang terjadi dalam tabung I dan tabung II juga berbeda karena larutan yang digunakan
juga berbeda.

Reaksi pada tabung I :

2KMnO4(aq) + 5C2H2O4(aq) +3H2SO4(aq)à K2SO4(aq)+2 MnSO4(aq)+8H2O(l)+10 CO2(g)


Reaksi pada tabung II :

2 MnSO4(aq)+ 5C2H2O4(aq)+6H+(g)à2Mn2+(aq)+ 10 CO2(g)+ 8H2O(l)

Fungsi penambahan H2SO4 pada laruan adalah sebagai larutan yang bersifat asam, larutan
yang bersifat asam ini dapat dijadikan untuk menitrasi larutan oleh KMnO4 di dalam larutan
asam berair, selain itu H2SO4 berfungsi untuk menurunkan energi aktivasi yang dapat
membantu proses katalisis.

H. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan di atas dapat disimpulkan bahwa:

Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi , luas permukaan, temperatur, dan juga katalis.
Adapun katalis disini ada 2 yakni inhibitor (menghambat laju reaksi) dan katalisator (
mempercepat terjadinya reaksi). Pada percobaan ini larutan KMnO4 bertindak sebagai
inhibitor dan larutan MnSO4 sebagai katalisator.

ACARA VII

KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

1. A. PELAKSANAAN PRAKTIKUM
1. Tujuan Praktikum

– Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi.

– Untuk mengetahui cara pembuatan koloid engan cara dispersi.

– Untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emulsi).

– Untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid.

– Untuk mengetahui cara pembuatan sabun.

– Untuk mempelajari denaturasi protein.

1. Hari, Tanggal Praktikum

Kamis, 26 April 2012

1. Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA, Universitas Mataram.

1. B. LANDASAN TEORI

Dalam pembicaraan larutan, telah dikenal adanya perbedaan antara campuran homogen
dan heterogen. Ternyata perbadaan tersebut tidak tepat betul, ada sistem yang tidak dapat
diketegorikan homogen atau heterogen, senyawa tersebut dikenal sebagai koloid. Contohnya
asap rokok, fog, emulsi, buih dan albumin. Untuk memperoleh gambaran tentang koloid,
bayangkan proses cuplikan padatan yang dimasukkan dalam cairan dan cepat akan terjadi.
Sejauh partikel dapat dibedakan, maka mata telanjang dapat melihatnya. Berdasarkan pada
kerapatan padatan relatif padatan dan cairan, maka partikel-partikel dapat melayang di
atas/jatuh ke dasar, mereka dapat dipisahkan dengan cara penyaringan
(Sastrohamidjojo,2001:245)

Suatu koloid selalu mengandung dua fasa yang berbeda, mungkin berupa gas, cair atau padat.
Pengertian fasa di sini tidak sama dengan wujud, karena ada wujud sama seperti fasanya yang
berbeda. Oleh sebab itu, suatu koloid selalu mempunyai fasa terdispersi dan fasa pendispersi.
Fasa terdispersi mirip dengan zat terlarut, dan fasa pendispersi mirip dengan pelarut pada
suatu larutan. Berdasarkan fasa terdispersi dan fasa pendispersinya koloid disebut juga
dispersi koloid yang dapat dibagi atas delapan jenis (Fransial,2004:161)

Fasa terdispersi Fasa pendispersi Nama Contoh


Gas Cair Buih Busa sabun
Gas Padat Busa Batu apung
Cair Gas Aerosol cair Kabut
Cair Cair Emulsi Susu
Cair Padat Emulsi padat Mentega
Padat Gas Aerosol padat Asap,debu
Padat Cair Sol Cat
Padat Padat Sol padat Kaca

Protein adalah suatu biomolekul yang etrdapat di setiap organisme kehidupan, yang jenisnya
bermacam-macam dan memiliki fungsi biologis yang berbeda-beda. Keratis sebagai contoh
merupakan suatu protein yang ada pada kulit dan kuku, sedangkan fibran terdapat pada sutra
dan sarang laba-laba. Semua protein tersebut terbuat dari banyak unit-unit asam amino yang
berikatan satu dengan yang lainnya membentuk rantai panjang. Karbohidrat terdapat di dalam
organisme kehidupan, sebagai contoh gula, tepung/stratch. Karbohidrat disintesis dalam
tanaman melalui fotosintesis. Kemudian adapun lemak dan minyak merupakan trigliserida
atau trasil gliserol, perbedaan keduanya adalah, kalau lemak pada temperatur kamar
berbentuk padat dan minyak berbentuk cair. Sebagian besar gliserida pada hewan berupa
lemak sedangkan pada tumbuhan cenderung berupa minyak, karena itu dikenal lemak hewani
dan lemak nabati. Asam lemak adalah asam karboksilat yang dipecah dari hidrolisis suatu
lemak atau minyak. Pada umumnya, asam lemak ini mempunyai rantai hidrokarbon panjang
dan tak bercabang. Lemak dan minyak seringkali diberi nama derivat asam-asam lemak,
misalnya tristearat dari gliserol diberi nama dengan cara yang biasa dipakai untuk penamaan
suatu ester, misalnya gliseril stearat dan gliseril palmitat (Damin,2008:536).

Pembuatan koloid 188 Renium-Sn dilakukan, untuk digunakan sebagai senyawa terapi. Emisi
beta yang dipancarkan serta bentuknya yang bberupa koloid, memungkinkan senyawa ini
dapat digunakan sebagai radiokoloid sinovektomi. Radiokoloid sinovektomi yang pertama
dibuat adalah Koloid 198 Au, dan senyawa ini telah diselidiki terus selama beberapa tahun (1).
Kelemahan koloid 198 Au adalah adanya emisi gamma sebesar 411 ke V, merupakan radiasi
yang tidak diinginkan dan partikel yang berukuran kecil sebagian besar keluar dari jaringan
sendi tulang masuk ke saluran jaringan getah bening (Yunilda,2007:48).
1. C. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
1. Alat-alat Praktikum

– Batang pengaduk

– Bunsen

– Corong 60 mm

– Corong 90 mm

– Gelas kimia 100 mL

– Gelas kimia 20 mL

– Gelas kimia 250 mL

– Gelas ukur 100 mL

– Gelas ukur 50 mL

– Hot plate

– Mortar

– Pemanas elektrik

– Penggerus

– Penjepit

– Pipet tetes

– Pipet volume 5 mL

– Rak tabung reaksi

– Rubber bulb

– Spatula

– Tabung reaksi

1. Bahan-bahan Praktikum

– Air keran

– Aquades

– Detergen
– Gula pasir

– Karbon aktif

– Kertas lakmus

– Kertas saring

– Laruan NaCl jenuh

– Laruta CaCl2

– Larutan benzena

– Larutan CuSO4 1%

– Larutan etil alkohol (C2H5OH)

– Larutan FeCl3 jenuh

– Larutan HgCl2 1%

– Larutan HNO3 pekat

– Larutan iod

– Larutan NaOH 40%

– Larutan NaOH 6M

– Larutan Pb(OAc)2

– Minyak kelapa (Na-oleat)

– Telur

– Tepung kanji

– Tissue

1. D. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Koloid
1. Pembuatan Koloid

 Koloid Fe(OH)3

– Air sebanyak 50 mL dipanaskan hingga mendidih.

– Ditambahkan FeCl3 jenuh setetes demi setetes hingga menjadi merah coklat sambil
diaduk.
– Dihitung jumlah tetes FeCl3 yang digunakan.

– Larutan koloid ini disimpan untuk percobaan koagulasi.

1. Dispersi

– Diambil 1 sendok amilum (tepung kanji) dan dicampurkan dengan 10 mL air.

– Kemudian diaduk dan disaring (filtrat A).

– Diambil pula 1 sendok amilum dan digerus dalam mortar lalu dicampurkan dengan 10
mL air.

– Campuran ini diaduk lalu disaring (filtrat B).

– Filtrat A dan filtrat B dibandingkan.

– Pada filtrat B ditambahkan 6 tetes larutan iodium.

1. Emulsi

– Ke dalam suatu tabung reaksi dimasukkan 1 mL larutan benzena dan 10 mL aquades.

– Tabung reaksi tersebut dikocok dan diamati.

– Ke dalam tanbung reaksi lainnya, dimasukkan 1 mL benzena dan 10 mL aquades lalu


ditambahkan 15 tetes Na-oleat.

– Tabung reaksi kedua ini kemudian di kocok dan didiamkan selama 10-15 menit.

1. Adsorpsi

– Dilarutkan 1 sendok porselin gula pasir dalam 10 mL aquades lalu ditambahkan setengah
sendok norit dalam suatu tabung reaksi.

– Tabung reaksi tersebut dimasukkan ke dalam gelas kimia yang berisi air panas.

– Tabung reaksi selanjutnya dikocok selama 10 menit lalu disaring.

– Warna larutan setelah disaring dibandingkan dengan warna awal larutan.

1. Lemak dan Protein


1. Lemak

– Dilarutkan suatu deterjen lalu diperiksa dengan kertas lakmus.

– Ke dalam suatu gelas kimia dimasukkan 5 mL larutan NaOH 40%, 5 mL minyak kelapa
dan 5 mL etil alkohol.
– Gelas kimia tersebut lalu dipanaskan dengan hati-hati sambil terus di aduk hingga
memadat.

– Setelah padat, ditambahakan air lalu dipanaskan lagi hingga seluruh air menguap dan
terbentuk padatan.

– Setelah memadat, gelas kimia dan isinya didinginkan lalu diletakkan di atas kertas
saring.

– Kemudian dibilas dengan 40 mL larutan NaCl jenuh.

– Sabun tersebut dicoba untuk mencuci tangan, jika masih lengket ditambahkan lagi
larutan NaOH dan etil alkohol lalu dipanaskan.

– Sabun yang dibuat, setengah bagian dilarutkan dalam 100 mL aquades dan ditambahkan
5 mL CaCl2, dikocok dan diamati.

– Ke dalam gelas kimia lain, dibuat larutan sabun dengan mencampurkan 10 mL aquades
dengan deterjen kemasan.

– Ke dalam 3 tabung reaksi berbeda dimasukkan 2 sampai 3 tetes larutan deterjen.

– Ke dalam tabung reaksi pertama ditambahkan 10 mL air keran, ke dalam tabung reaksi
ke dua ditambahkan 10 mL aquades, dan ke dalam tabung reaksi ketiga ditambahkan 10 mL
aquades dan beberapa tetes larutan CaCl2.

– Diamati peristiwa yang terjadi.

– Dengan larutan sabun yang telah dibuat dengan menggunakan sabun hasil percobaan,
ditambahkan 2 sampai 3 tetes larutan sabun ke dalam:

 10 mL aquades dan beberapa tetes CaCl2


o 10 mL air keran
o 10 mL aquades

– Diamati dan dicatat peristiwa yang terjadi.

1. Protein

– Sebanyak 2 mL putih telur ditambahkan 12 mL air lalu diaduk.

– Jika larutan tidak bening, ditambahkan garam sampai bening.

– Disediakan 5 buah tabung reaksi dan kedalam masing-masing tabung dimasukkan 2 mL


larutan putih telur.

– Ke dalam tabung pertama ditambahkan 1 mL larutan CuSO4 1% dan larutan NaOH 6M


tetes demi tetes hingga 3 tetes.
– Ke dalam tabung kedua ditambahkan 1 mL larutan HNO3 pekat. Dipanaskan lalu
didinginkan, kemudian ditambahkan larutan NaOH 6M dan diaduk.

– Ke dalam tabung ketiga ditambahkan 1 mL larutan HgCl 1% dan diamati.

– Ke dalam tabung reaksi keempat di tambahkan 1 mL larutan NaOH 6M lalu dipanaskan.


Setelah timbul uap, dicium bau yang keluar dan uapnya diperiksa dengan kertas lakmus.

– Pada tabung reaksi kelima ditambahkan beberapa tetes larutan Pb(OAc)2 dan 1 mL
larutan NaOH 6M kemudian dipanaskan.

1. E. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

1. F. ANALISIS DATA

Persamaan Reaksi

1. Pembuatan Koloid Fe(OH)3

FeCl3(aq) + 3H2O(l) → Fe(OH)3(sol) + 3HCl(aq)

1. Reaksi Penyabunan

– (C17H35COO)3C3H3(aq) + 3NaOH(aq) → C3H3(OH)(aq) + 3C17H35COONa(s)

– (RCO2)3C3H5(aq) + 3NaOH(aq) → 3CO2Na + C3H5(OH)3(aq)

Dengan struktur :

CH2 O C C17H35 CH2 OH

CH2 O C C17H35 + 3NaOH → CH OH + 3C17H35COO– + Na+

CH2 O C C17H35 CH2 OH

1. Denaturasi Protein
1. Penambahan CuSO4 1%

CuSO4 CH COOH ↔ CuSO4 CH COO


NH2 NH3

1. Penambahan HNO3 pekat

HNO3 CH COOH ↔ HNO3 CH COO

NH2 NH3

1. Penambahan HgCl2

HgCl2 CH COOH ↔HgCl2 CH COO

NH2 NH3

1. Penambahan NaOH

NaOH CH COOH ↔NaOH CH COO

NH2 NH3

1. Penambahan Pb(OAc)2

Pb(OAc)2 CH COOH ↔Pb(OAc)2 CH COO

NH2 NH3

1. G. PEMBAHASAN

Pada praktikum ini dilakukan 6 percobaan mengenai koloid dan senyawa karbon I. Dalam
hal ini koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di
mana pertikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase dispersi atau yang dipecah) tersebar
secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi atau pemecah). Di mana ukuran dari
partikel koloid berkisar antara 1-100 nm.

Percobaan pertama dibuat koloid dengan cara kondensasi. Dengan cara kondensasi ini,
partikel larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjdi partikel koloid. Cara ini dapat
dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, yaitu seperti reaksi redoks, dekomposisi rangkap,
hidrolisis atau dengan pergantian pelarut. Tapi dalam percobaan ini, kita menggunakan cara
hidrolisis. Adapun hidrolisis merupakan reaksi suatu zat dengan air, seperti pada pembuatan
sol Fe (OH)3 dari hidrolisis FeCl3. Mulanya dipanaskan 50 ml aquades dengan bejana gelas,
setelah mendidihkan ditambahkan 8 tetes larutan FeCl3 jenuh. Akibatnya warna larutan
tersebut berubah menjadi merah kecokelatan, hal ini karena ion Fe3+ yang mulanya berwarna
merah bereaksi dengan H2O. kemudian dari reaksi tersebut terbentuk pula sol Fe(OH)3 yang
merupakan akibat terjadinya hidrolisis ion Fe3+ dengan H2O. untuk membuktikan Fe(OH)3
adalah koloid, kita dapat memanfaatkan salah satu sifat kolid yakni efek tyndall, dimana
partikel yang tersebar secara acak sehingga arah pantulannya tidak teratur. Muatan koloid
juga merupakan factor yang menstabilkan koloid. Karena bermuatan maka partikel-partikel
koloid sol Fe(OH)3 saling tolak-menolak sehingga terhindar dari pengelompokan antara
sesama partikel koloid itu (jika partikel koloid itu saling bertumbukan dan kemudian dan
kemudian bersatu maka lama-kelamaan akan membentuk partikel yang cukup besar dan
akhirnya mengendap). Dengan kata lain sol Fe(OH)3 tidak terkoagulasi karena ia distabilkan
oleh ion Fe3+ dengan cara teradsorpsi dipermukaannya.

Adapun pembuatan koloid sol dengan kondensasi dapat pula dilakukan dengan cara
dekomposisi rangkap, misalnya pada percobaan sol As2S3 dibuat dengan mengalirkan H2S
secara perlahan-lahan melalui larutan As2O3 sampai terbentuk sol As2S3, adapun persamaan
reaksinya sebagai berikut:

As2O3(aq) + 3H2S(g) à As2S3(koloid)+ 3H2O(l)

Sol As2S3 bermuatan negative karena permukaannya menyerap ion S2-.

Percobaan kedua yakni mengenai salah satu sifat koloid yaitu koagulasi. Koagulasi adalah
penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti
zat terdispersi tidak lagi membentuk koloid. Koagulasi dapat terjadi secra fisik seperti
pemanasan, pendinginan, pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan. Seperti halnya ketika koloid Fe(OH)3 dengan
As2S3 dicampur akan menimbulkan gumpalan, dimana gumpalan ini terjadi karena
muatannya berlawanan/berbeda sehingga terdapat gaya tarik listrik antara
keduanya.gumpalan ini lama-lama akan mengendap akibat pengaruh gravitasi. Proses
penggumpalan partikel-partikel koloid dan pengendapannya inilah dinamakan koagulasi.

Pada percobaan ketiga yaitu pembuatan koloid dengan cara disperse. Disperse merupakan
pemecahan partikel-partikel kasar menjadi partikel yang lebih kecil. Disperse dapat dilakukan
dengan cara butir-butir kasar digerus sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu kemudian
diaduk dengan medium disperse, sedangkan kalau peptisasi yakni pembuatan koloid dari
butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecahan).
Dalam percobaan ini digunakan cara mekanik, dimana amilum digerus menjadi partikel-
partikel yang lebih kecil. Mulanya, amilum yang belum digerus dilarutkan dalam aquades,
setelah itu disaring, dan warna filtratnya bening. Kemudian untuk amilum yang telah digerus,
dilarutkan pula dalam aquades, lalu disaring. Ternyata jika dibandingkan denganfiltrat
amilum yang belum digerus, filtrate setelah penggerusan lebih keruh dari sebelumnya. Hal ini
karena pertikel-partikel amilum tersebut lebih kecil/halus sehingga hanya sedikit yang dapat
tersaring. Setelah kedua filtrate dibandingkan, ditambahkan 3 tetes larutan iodium ke dalam
filtrate amilum yang telah digerus. Fungsi penambahan larutan iodium adalah untuk
mengetahui ada atau tidaknya kandungan amilum pada larutan. Warna filtrat berubah menjadi
biru tua. Hal ini karena larutan iodium melakukan absorpsi terhadap larutan dan larutan tidak
mengandung/berkurangnya kadar amilosa. Harusnya, warna filtrate tersebut bukannya biru
tua, tetapi bening. Hal ini disebabkan ketika penggerusan amilum kurang halus sehingga
proses absorpsi amilum oleh larutan iodium tidak sempurna.
Percobaan keempat, yaitu mengetahui jenis koloid (emulsi). Emulsi merupakan campuran
cair-cair(misalnya benzene dengan air, atau minyak dengan air). Emulsi cair melibatkan dua
zat cair yang tidak saling malarutkan atau dapat juga disebut zat cair polar dan zat cair non
polar. Dalam hal ini zat cair polarnya adalah aquades dan zat cair non polar nya adalah Na-
oleat, sedangkan benzena beperan sebagai emulgator yang merupakan komponen yang
penting untuk memperoleh emulsi yang stabil. Dalam pencampuran antara aquades dengan
benzena, campurannya tidak dapat menyatu karena bagian polar dari benzena berinteraksi
dengan aquades yang merupakan zat cair polar sehingga partikel-partikelnya saling tolak-
menolak dan tidak akan menyatu sehingga emulsi menjadi stabil. Terlihat larutan benzena
terletak pada lapisan atas (di atas aquades) karena massa jenis aquades lebih besar dari massa
jenis benzena. Pada percampuran antara benzena, aquades dan Na-oleat, pada dua larutan
yang tidak saling tercampur atau larut yaitu antara Na-oleat dengan aquades ini dicampurkan
dan dikocok, maka akan diperoleh suatu campuran yang segera memisah jika didiamkan.
Namun jika sebelum dikocok ditambahkan benzena, maka diperoleh campuran yang stabil
(emulsi). Terlihat Na-oleat dapat menyatu dengan benzena, namun tidak dapat menyatu
dengan aquades, karena Na-oleat bersifat non polar yang akan larut sempurna pada larutan
non polar pelarut (benzena), sedangkan Na-oleat tidak akan larut atau tidak dapat menyatu
pada pelarut polar (aquades).

Pada percobaan kelima yaitu pembuatan gel. Gel merupakan system padat atau setengah
padat dari paling sedikit dua konstituen yang terdiri dari massa seperti agar-agar yang rapat
dan diisi oleh cairan. Gel terdiri dari dua fase kontinyu yang saling berpenetrasi. Fase yang
satu berupa padatan, tersusun dari partikel-partikel yang sangat tidak simetris dengan luas
permukaan besar, sedang yang lain adalah cairan. Pada prinsipnya pembentukan gel
hidrokoloid terjadi karana adanya pembentukan jala atau jaringan tiga dimensi oleh molekul
primer yang terentang pada seluruh volume gel yang terbentuk dengan memerangkap
sejumlah air didalamnya. Terjadi ikatan silang pada polimer-polimer yang terdiri dari
molekul rantai panjang dalam jumlah yang cukup maka akan terbentuk struktur yang kaku
dan tegar yang tahan terhadap gaya maupun tekanan tertentu. Gelasi merupakan fenomena
yang melibatkan penggabungan atau terjadinya ikatan saling silang antar rantai-rantai
polimer. Adapun pada percobaan ini digunakan kalsium asetat yang merupakan garam dari
asam asetat, mempunyai rumus molekul yaitu Ca(CH3COOH)2. Nama IUPAC untuk kalsium
asetat adalah kalsium etanoat dan nama lainnya kapur asetat. Mempunyai bentuk anhidrat dan
sangat higroskopis. Jika ditambahkan C2H5OH 95% kedalam larutan kalsium asetat jenuh
maka suatu sediaan semisolid gel terbentuk dan mempunyai sifat mudah terbakar. Gel yang
dihasilakan berwarna putih dan berbentuk menyerupai bola salju. Terbentuknya gel ini juga
disebabkan kalsium asetat sukar larut dalam alkohol.

Pada percobaan keenam yaitu mengetahui sifat adsorpsi koloid. Materi dalam keadaan koloid
mempunyai luas permukaan yang sangat besar. Pada permukaan partikel terdapat gaya van
der waals yang belum terimbangi atau bahkan gaya valensi yang dapat menarik dan mengikat
atom-atom (molekul atau ion) dari zat asing. Adhesi zat asing ini pada permukaan suatu
partikel dinamakan adsorpsi. Pada saat gula dan air bercampur, warna larutan gula keruh
agak kuning. Pada tahap berikutnya yaitu pemberian norit yang dilanjutkan dengan proses
pengocokan pada bejana gelas yang berisi air mendidih, diperoleh hasil bahwa norit dalam
campuran tersebut dapat larut namun lama-kelamaan terbentuk endapan. Warna larutan
setelah ditambahkan norit menjadi hitam keruh, dan setelah dipanaskan larutannya menjadi
agak hitam dan setelah disaring filtratnya terlihat sangat bening. Hal tersebut terjadi karena
fungsi norit pada percobaan ini adalah sebagai adsorbser yaitu menyerap warna sehingga
warna larutan yang diberi norit dapat menjadi lebih jernih dan juga karena norit (karbon aktif)
memiliki luas pori-pori yang besar sehingga dapat menyerap segala macam bahan organik.
Sedangkan penggunaan air mendidih atau dilakukannya pemanasan dalam proses ini untuk
mempercepat terjadinya suatu reaksi, dimana semakin tinggi suhu maka reaksi akan semakain
cepat berlangsung.

Percobaan berikutnya yaitu pembuatan sabun. Pembuatan sabun ini dikenal juga dengan
istilah saponifikasi. Sabun dapat dibuat melalui proses batch atau kotinyu. Pada proses
batch,minyak dipanaskan dengan NaOH 40% dan etil alkohol dalam gelas kimia. Minyak
kelapa dan senyawa alkil (basa) yang dalam hal ini adalah NaOH 40% merupakan komponen
utama dalam pembuatan sabun. Jika penyabunan telah selesai, garam-garam ditambahkan
untuk mengendapkan sabun. Lapisan air yang mengandung NaCl, gliserol dan kelebihan
NaOH dikeluarkan dan gliserol diperoleh lagi dari proses penyulingan endapan sabun.
Endapan sabun yang bercampur dengan NaCl, NaOH dan gliserol kemudian dimurnikan lagi
dengan air untuk mendapatkan campuran halus yang lama kelamaan membentuk lapisan yang
homogeny dan mengapung. Penggunaan NaOH disini disebabkan karena sabun yang dibuat
dengan NaOH lebih lambat larut dalam air. Sedangkan etil alkohol berperan dalam
pereaksian senyawa organic non polar dan senyawa anorganik polar (NaOH). Selanjutnay
sabun yang diperoleh tadi dilarutkan dalam air (aquades) dan di tambahkan CaCl2 sehingga
larutan tersebut menjadi putih susu. Hal ini disebabkan CaCl2 bersatu dengan larutan dan
menyerap ion-ion air sabun. Larutan sabun tadi diteteskan masing-masing 3 tetes ke dalam
tabung reaksi yang berisi aquades dan larutan CaCl2, lalu akan timbul endapan di dasar
tabung akibat adanya ion pengotor Ca2+, sehingga larutan menjadi keruh. Untuk aquades
yang diteteskan larutan sabun, warna larutannya menjadi bening, karena ion pengotor Ca2+
terdapat dalam jumlah yang sedikit bahkan hamper tidak ada.berbeda dengan larutan sabun
yang diteteskan ke dalam air kran, warnanya menjadi agak keruh karena larutan sabun
mengendap akibat adanya kandungan mineral-mineral alkali dalam air kran. Percobaan
berikutnya, rinso dilarutkan dalam aquades dan air kran. Rinso lebih lambat melarut dan
warnanya juga lebih keruh ketika dilarutkan dalam air kran, hal ini karena adanya mineral-
mineral alkali yang terkandung di dalamnya.

Pada percobaan terakhir yakni denaturasi protein. Disini digunakan zat putih telur, yang
terdiri atas asam amino, misalnya: protamin, albumin,globulin, histon, dan albuminoda.
Protamin adalah protein sederhana dengan berat molekul 2000-3000, sebagian besar terdiri
atas arginin. Zat putih telur (protein) jika dalam larutan akan berupa sebuah protein sebab
tergolong dalam molekul kolid. Pertama-tama putih telur dilarutkan dengan aquades, jika
warna larutan tidak bening maka ditambahkan garam sampai larutan menjadi bening.
Kemudian untuk percobaan ini disediakan 5 tabung, dan dimasukkan masing-masing 2 ml
larutan tadi. Pada tabung I ditambahkan CuSO4 1% sehingga larutan berubah menjadi biru
muda. Ini menunjukkan bahwa terdapat kandungan protein pada putih telur. Tabung II
ditambahkan HNO3 pekat kemudian dipanaskan berwarna kuning muda, lalu ditambahkan
NaOH 6 M berwarna kuning susu, hal ini membuktikan adanya protei yang menunjukkan
reaksi xantroprotein karena adanya senyawa amino yang memiliki cincin benzene seperti
tirosin, triftofan, dan fenilalanin. Tabung III ditambahkan HgCl2 1% berwarna putih susu, hal
ini menunjukkan terjadinya denaturasi protei karena Hg+ merupakan sejenis logam berat yang
dapat menyebabkan denaturasi protein. Tabung IV ditambahkan NaOH 6 M lalu dipanaskan,
uap yang keluar diperiksa dengan kertas lakmus. Lakmus berubah menjadi biru, ini
menunjukkan larutan tersebut bersifat basa. Uap yang keluar ini mengeluarkan bau pesing.
Tabung V ditambahkan Pb(OAc)2 larutannya menggumpal berwarna putih susu.
Terbentuknya gumpalan ini akibat penghilangan muatan negative oleh Pb(OAc)2. Larutan
berubah lagi menjadi bening kketika ditambahkan NaOH 6 M. larutan ini dipanaskan
sehingga berubah menjadi warna hitam pekat. Pemanasan ini mengakibatkan terjadinya
denaturasi protein.

1. H. KESIMPULAN

Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1. Koloid dapat dibuat dengan cara kondensasi, yaitu penggabungan partikel-partikel


kecil menjadi lebih besar sampai berukuran koloid. Kondensasi dapat dilakukan
melalui reaksi hidrolisis maupun dekomposisi rangkap.
2. Koloid dapat pula dibuat dengan cara disperse yaitu pemecahan suspense kasar
menjadi lebih kecil sehingga tersebar dan berukuran koloid. Salah satunya dengan
cara mekanik (penggerusan).
3. Salah satu jenis koloid yaitu emulsi yang merupakan campuran zat cair dengan zat
cair, dengan penambahan salah satu zat cair ke dalam zat cair yang lainnya.
4. Adsorpsi merupakan sifat suatu koloid, yang berarti adhesi zat asing pada permukaan
suatu partikel. Penambahan norit berfungsi mengadsorpsi ion-ion di permukaan saat
dipanaskan.
5. Sabun dibuat melalui proses kontinu, dimana dalam pembuatan sabun ini diperlukan
bahan-bahan seperti Na-Oleat, NaOh 40%, alkohol, NaCl dan aquades. Proses ini
memerlukan pemanasan.
6. Denaturasi protein yaitu rusaknya sifat fisik dan kimia protein karena pemanasan dan
penambahan basa kuat.

DAFTAR PUSTAKA
Amri, Amun, dkk.2004. keseimbangan Adsorpsi Optional Campuran Biner Cd(II) dan
Cr (III) dengan Zeolit Alam Terimpregnasi 2-merkaptobenzatiazol. Diunduh dari:
http://uri.ac.idjurnal-naturalvol6(2)amun.pdf. Pada hari Minggu, 15 April 2012. Pukul 08.20
WITA.

Anonim.2009.Elektrokimia. Diunduh
dari:http://andykimia03.wordpress.com/2009/09/10/elektrokimia-ii-sel-elektrolisis. Pada hari
Sabtu, 28 April 2012. Pukul 17.10 WITA.

Anonim.2011. Kinetika Kimia. Diunduh dari: http://usupress.usu.ac.id/files/Kinetika.pdf.


pada hari Senin, 7 Mei 2012. Pukul 13.51 WITA.

Baroroh,Umi L.U.2004. Diktat Kimia Dasar I. Banjar Baru: Universitas Lambung


Mangkurat.

Bird, Tony. 1986. Kimia Fisika Untuk Universitas.Jakarta : PT. Gramedia.

Bresnick, Stephen.2002. Intisari Kimia Umum. Jakarta: Hipokrates.

Chang, Raymond.2004. Kimia Dasar I. Jakarta: Erlangga.

Day, R.A.2002. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta : Erlangga.

Damin, Sumardjo.2008.Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan


Progranm Strata I Fakultas Bioeksata. Jakarta: EGC.

Dwisang, Evi Luvina. 2011. Buku Super Kimia. Tangerang Selatan:Scientific Press.

Fransial.2004. Kimia Dasar. Jakarta : Erlangga.

Goldberg, David E.2004. Kimia. Jakarta:Erlangga.

Hadiat,dkk.2004. Kamus Sains. Jakarta : Balai Pustaka.

Hokun, John R. 1993. Chemistry the Study of Matter and it’s Change Erd Ed. New York:
WH freeman and company.

Nordstorm,dkk.2006. Negative and Extremely Audid Mine Waters From Iron Mountain. New
York: Mc. Graw Will.

Sarosa, Wirawan J.2010. Super Kimia. Jakarta : Wahyumedia.

Sastrohamidjojo, Hardjojo. 2001. Kimia Dasar. Jogjakarta: Gajah Mada University Press.

Syukri, 1999. Kimia Dasar 2. Bandung :ITB.

Watson, David G. 2009. Analisis Farmasi Buku Ajar Untuk Mahasiswa Farmasi dan Praktisi
Kimia Farmasi Edisi 2. Jakarta: EGC.
Yunilda.2007. Pembuatan koloid 188Renium-Sn Sebagai Senyawa Terapi Radiosinovektomi.
Tangerang: Pusat Radio isotop dan Radiofarmaka.

Iklan
Report this ad
Report this ad

Share this:

 Twitter
 Facebook

About
syaidatussalihahgamatika071
Nama: Syaidatussalihah Alamat Asal: Tebaban
Kec. Suralaga Institusi: UNRAM Jurusan :
MIPA Nim:G1D011036 Tahun Akademik:
2011/2012
View all posts by syaidatussalihahgamatika071
»

Posted on Mei 31, 2012, in Uncategorized.


Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

← MAKALAH PENGLING
keistiMewaan islaM →

 Tinggalkan komentar
 Comments 0

Tinggalkan Balasan

Search for:

 Tulisan Terakhir
o The discovery of a New Species of Ancient Ghost Shark in California
o Privileg einer Frau
o keistiMewaan islaM
o LAPORAN KIMIA DASAR II
o MAKALAH PENGLING
 Arsip
o Juni 2012
o Mei 2012
 Kategori
o Uncategorized
 Meta
o Daftar
o Masuk
o RSS Entri
o RSS Komentar
o WordPress.com

Iklan
Report this ad

 Meta
o Daftar
o Masuk

Blog di WordPress.com.

Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan melanjutkan menggunakan situs
web ini, Anda setuju dengan penggunaan mereka.
Untuk mengetahui lebih lanjut, termasuk cara mengontrol cookie, lihat di sini: Kebijakan
Cookie