Anda di halaman 1dari 9

Analisis transaksional

Latar Belakang

Teori analisis transaksional merupakan karya besar Eric Berne (1964), yang ditulisnya
dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari
kelompok Humanisme. Teori analisis transaksional merupakan teori terapi yang sangat
populer dan digunakan dalam konsultasi pada hampir semua bidang ilmu-ilmu perilaku.
Teori analisis transaksional telah menjadi salah satu teori komunikasi antarpribadi
yang mendasar.

Analisis Transaksional berakar dalam suatu filsafat anti deterministik yang memandang
bahwa kehidupan manusia bukanlah suatu yang sudah ditentukan. Analisis
Transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami
keputusan-keputusan pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan
kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil. Berne
dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih
dan, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya. Analisis Transaksional (AT)
adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan
interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk
pendekatan kelompok.

Pendekatan ini menekankan pada aspek perjanjian dan keputusan. Melalui perjanjian
ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses
terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka
proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan
keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.
Kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam
komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi, yang dipertukarkan adalah pesan pesan
baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk
mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan
pesan apa yang dipertukarkan).

Dalam mengembangkan pendekatan ini Eric Berne menggunakan berbagai bentuk


permainan antara orang tua, orang dewasa dan anak. Dalam eksprerimen yang
dilakukan Berne mencoba meneliti dan menjelaskan bagaimana status ego anak, orang
dewasa dan orang tua, dalam interaksi satu sama lain, serta bagaimana gejala
hubungan interpersonal ini muncul dalam berbagai bidang kehidupan seperti misalnya
dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan sebagainya.
Dari eksperimen ini Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan
oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi
dan hubungan traksaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong
pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan
psikologis.

Asumsi Teori

Dalam konteks komunikasi, Analisis Transaksional (AT) dapat diartikan sebagai upaya
mengurai secara sistematis proses pertukaran pesan yang bersifat timbal balik di
antara pelaku komunikasi yang kesemuanya merupakan cerminan struktur kepribadian
seseorang. AT dapat diartikan sebagai cara untuk memahami perilaku diri sendiri dan
orang lain dengan menganalisis transaksi atau interaksi yang tenjadi antarindividu.
Lewat AT maka akan diketahui apa yang sesungguhnya terjadi dalam diri individu
ketika berkomunikasi dengan orang lain? Apa yang terjadi di antara orang ketika
berkomunikasi? Dan Bagaimana kita dapat mengidentifikasi, memahami, dan
mengendalikan aspek-aspek yang terkait dengan komunikasi yang sedang berlangsung
tersebut. Dengan demikian maka Transaksi (atau komunikasi)–sebagaimana dikatakan
Berne, merupakan unit dasar dalam hubungan sosial.

AT menggunakan suatu sistem terapi yang berlamdaskan pada teori kepribadian yang
menggunakan pola perwakilan ego yang erpisah; orang tua, orang dewasa, dan anak.

Ego Orangtua
Menurut corey (1988), bahwa ego orang tua adalah bagian kepribadian yang
merupakan introyeksi dari orang tua atau subtitusi orang tua. Jika ego orang tua itu
dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan adalah perasaan-perasaan
orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan bertindak terhadap orang lain
dengan cara yang sama dengan perasaaan dan tindakan orang tua kita terhadap diri
kita. Ego orang tua berisi perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua
dalam diri kita bisa “orang tua pelindung” atau orang tua pengkritik”.
Orang Tua Pembimbing menunjukkan sisi-sisi ‘pemeliharaan’ dari orang tua, misalnya
sifat lemah lembut, cinta, pemberian ijin, atau juga pembatasan perilaku dengan
pertimbangan kesehatan. Dalam kondisi ini, seseorang cenderung mau mengerti atau
memahami orang lain. Lebih dari itu egostages Orang Tua Pembimbing bisa
memberikan penilaian yang tegas, bahkan menentukan batas-batas antara yang benar
dan salah. Orang Tua Pembimbing mengungkapkan “Anda OK”. Ungkapan yang keluar,
bisanya mengekspresikan tindakan, misalnya, “Tidurlah, biar tubuhmu sehat”, atau
“Yakinlah, semua akan berlalu dengan baik”.

Sedangkan Orang Tua Pengkritik (Critical Parent/ Prejudiced Parent) merupakan


ekspresi pikiran, perasaan dan sikap menghakimi (prejudged). Orang Tua Pengkritik
cenderung menyampaikan pesan “jangan”, dan lebih bersifat pengungkapan pendapat
atau opini (bukan perbuatan), misalnya “Kamu memang bandel”. Jadi sikapnya ialah
“kamu tidak OK”. Nada suaranya cenderung keras, kasar. Gerakan badan cenderung
menggurui, misalnya menunjuk orang dengan tangan. Kata-kata yang biasa dipakai,
antara lain: harus, jangan, selalu, keterlaluan, tolol, goblok, atau dasar kamu.

Ego dewasa
Ego rang dewasa adalah pengolah data dan informasi., adalah bagian objektif dari
kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang
terjadi. Dia tidak emosional dan meghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan
kenyataan ekternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa
menghasilkan pemecahan yang paling baik untuk masalah-masalah tertentu.
go stage Dewasa menekankan solusi yang berbasis fakta, bukan berdasarkan asumsi
(prejudice) atau emosi kanak-kanak kita. Ciri orang yang sedang berada pada
egostagess ini ialah tekanan pada nalar, tidak emosional, dan komunikasi dua arah.
Kata-katanya biasanya netral, diplomatis, hati-hati, jelas dan tidak tergesa-gesa.
Ekspresi wajah tenang, dan nada suaranya datar.
Ego Anak
Selanjutnya, ego anak berisi perasaan-perasaan, dorongan dan tindakan yang bersifat
spontan, “anak” yang berada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah (free
child/natur child),” adalah anak yang impulsif, tak terlatih, spontan, dan ekspresif.
Dia adalah bagian dari ego anak yang intuitif. Egostages ini hadir, jika kita mengatakan
pada orang lain tentang diri sendiri atau diri yang mengungkapkan apa yang diinginkan
dan butuhkan. Hal ini terungkap melalui kata-kata, nada suara, ekspresi wajah, dan
juga tindakan spontan dan kreatif, misalnya ungkapan seperti “Wow, asyik banget!”,
“Keren”, “Saya bahagia”, atau “Yess!”. Ada luapan emosi dalam pengungkapannya.
Dapat juga muncul suatu emosi negatif seperti, marah, takut atau sedih. Egostages ini
berorientasi pada diri sendiri (orientasi aku), maksudnya padanya terungkapkan apa
yang saya rasakan dan apa yang saya inginkan.

Ada juga berupa “anak disesuaikan (adapted child),” yaitu merupakan modifikasi-
modifikasi yang dihasilkan oleh pengalaman traumatik, tuntutan-tuntutan, latihan,
dan ketepatan-ketepatan tentang bagaimana caranya memperoleh perhatian. Ego
stage Adapted Child adalah bagian dari kepribadian kita, yang kita pelajarai sebagai
respon perintah orang tua. Jika seseorang berada pada keadaan egostagess anak ini, ia
memberikan suatu tanggapan atau penyesuaian terhadap pengaruh egostagess orang
tua yang dimainkan orang lain. Ia dapat melakukan apa yang dikehendaki orang lain
(Anak Penurut) atau menolak apa yang dikehendaki orang lain (Anak Pemberontak).

Bagaimana cara mengetahui sikap ego yang dimiliki setiap orang? Berne mengajukan
empat cara, yaitu:

1. Melihat tingkah laku nonverbal maupun verbal yang digunakannya. Tingkah laku
nonverbal tersebut pada umumnya sama namun dapat dibedakan kode-kode
simbolnya pada setiap orang sesuai dengan budaya yang melingkupinya. Di
samping nonverbal juga melalui verbal, misalnya pilihan kata. Seringkali
(umumnya) tingkah laku melalui komunikasi verbal dan nonverbal berbarengan.
2. Mengamati bagaimana sikap seseorang ketika bergaul dengan orang lain.
Dominasi satu sikap dapat dilihat kalau Pulan sangat menggurui orang lain maka
Pulan sangat dikuasai oleh P dalam hal ini critical parent. Si Iteung suka
ngambek maka Iteung dikuasai oleh sikap anak. Si Ucok suka bertanya dan
mencari fakta-fakta atau latar belakang suatu kejadian maka ia dikuasai oieh
sikap dewasa.
3. Mengingat kembali keadaan dirinya sewaktu masih kecil; hal demikian dapat
terlihat misalnya dalam ungkapan : buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Cara
berbicara, gerak-gerik nonverbal mengikuti cara yang dilakukan ayah dan
ibunya yang anda kenaI.
4. Mengecek perasaan diri sendiri, perasaan setiap orang muncul pada konteks,
tempat tertentu yang sangat mempengaruhi apakah lebih banyak sikap orang
tua, dewasa, ataupun anak-anak sangat menguasai mempengaruhi seorang.

Berne juga mengemukakan terdapat beberapa faktor yang menghambat terlaksananya


transaksi antarpribadi, atau keseimbangan ego sebagai sikap yang dimiliki seseorang
itu. Terdapat dua hambatan utama yaitu:
1. Kontaminasi (contamination). Kontaminasi merupakan pengaruh yang kuat
dari salah satu sikap atau lebih terhadap seseorang sehingga orang itu
“berkurang” keseimbangannya.
2. Eksklusif (exclusive); penguasaan salah satu sikap atau lebih terlalu lama pada
diri seseorang. Misalnya sikap orang tua yang sangat mempengaruhi seseorang
dalam satu waktu yang lama sehingga orang itu terus menerus memberikan
nasihat, melarang perbuatan tertentu, mendorong dan menghardik.

Berne mengajukan tiga jenis transaksi antarpribadi yaitu: transaksi komplementer,


transaksi silang, dan transaksi tersembunyi.

1. Transaksi komplementer; jenis transaksi ini merupakan jenis terbaik dalam


komunikasi antarpribadi karena terjadi kesamaan makna terhadap pesan yang
mereka pertukarkan, pesan yang satu dilengkapi oleh pesan yang lain meskipun
dalam jenis sikap ego yang berbeda. Transaksi komplementer terjadi antara
dua sikap yang sama, sikap dewasa. Transaksi terjadi antara dua sikap yang
berbeda namun komplementer. Kedua sikap itu adalah sikap orang tua dan
sikap anak-anak. Komunikasi antarpribadi dapat dilanjutkan manakala terjadi
transaksi yang bersifat komplementer karena di antara mereka dapat
memahami pesan yang sama dalam suatu makna.
2. Transaksi silang; terjadi manakala pesan yang dikirimkan komunikator tidak
mendapat respons sewajarnya dari komunikan. Akibat dari transaksi silang
adalah terputusnya komunikasi antarpribadi karena kesalahan dalam
memberikan makna pesan. Komunikator tidak menghendaki jawaban demikian,
terjadi kesalahpahaman sehingga kadang-kadang orang beralih ke tema
pembicaraan lain.
3. Transaksi tersembunyi; jika terjadi campuran beberapa sikap di antara
komunikator dengan komunikan sehingga salah satu sikap menyembunyikan
sikap yang lainnya. Sikap tersembunyi ini sebenarnya yang ingin mendapatkan
respons tetapi ditanggap lain oleh si penerima. Bentuk-bentuk transaksi
tersembunyi bisa terjadi jika ada 3 atau 4 sikap dasar dari mereka yang terlibat
dalam komunikasi antarpribadi namun yang diungkapkan hanya 2 sikap saja
sedangkan 1 atau 2 lainnya tersembunyi. Jika terjadi 3 sikap dasar sedangkan
yang lainnya disembunyikan maka transaksi itu disebut transaksi tersembunyi 1
segi (angular). Kalau yang terjadi ada 4 sikap dasar dan yang disembunyikan 2
sikap dasar disebut dengan dupleks.

Dalam menganalisis peristiwa kornunikasi atau perilaku pertukaran pesan tersebut


Berne (Klein, dalam Venus, 2005:315) mengajukan beberapa asumsi dasar yang
melandasi teorinya sebagai berikut:

1. Manusia pada dasamya dalam keadaan Oke’ (people are OK). ini lebih
merupakan pemyataan kualitas atau potensial ketimbang keadaan
aktual. Masing-masing manusia selalu bernilai, berguna dan memiliki
kemampuan-kemampuan tertentu, sehingga layak diperlakukan secara
patut.
2. Semua orang memiliki kapasitas untuk berpikir.
3. Manusia memutuskan sendin jalan hidup mereka sendiri dengan
membuat keputusan pada naskah awal kehidupan mereka, dan
keputusan itu dapat diubah.

Bertolak dan asumsi-asumsi di atas kemudian dikembangkan suatu keyakinan-


keyakinan bahwa;

1. Perilaku komunikasi seseorang merupakan cerminan posisi hidup (life


Positions) yang dipilihnya.
2. Manusia pada dasarnya relatif memiliki keleluasan untuk memilih posisi
hidup yang dikehendakinya, dengan begitu manusia juga memiliki
kemampuan untuk mengontrol perilaku komunikasinya.
3. Posisi hidup yang dipilih berkaitan langsung dengan struktur kepribadian
atau egostages yang bersangkutan, dan
4. Setiap tindakan komunikasi dipandang sebagai sebuah transaksi yang di
dalamnya melibatkan egostages.

Berdasarkan pengalaman masa kecilnya, setiap orang cenderung memilih satu dan
empat kemungkinan posisi hidup (life positions) yang ada. Posisi hidup seseorang
adalah cara dominan yang bersangkutan dalam membina hubungan dengan orang lain,
yang merefleksikan bagaimana seseorang merasa tentang dirinya (self image). Ada
empat posisi hidup yang mungkin dipilh oleh seseorang adalah:

1. Saya Oke, Kamu Oke ( I’m OK, you’re OK)

Ini adalah posisi ideal, karena seseorang memandang positf dirinya, begitupula dengan
orang lain

2. Saya Oke, Kamu tidak Oke ( I’m OK, you’re not OK)

Seseorang menganggap dirinya secara positif, tetapi tidak terhadap orang lain. Ini
biasanya dimiliki oleh orang yang memiliki sikap otoriter.

3. Saya tidak Oke, Kamu Oke (I’am not OK, you’re OK)

Ini adalah sikap seseorang yang tidak yakin dengan dirinya sendiri. Dia selalu melihat
orang lain lebih baik darinya, mirip sikap anak-anak terhadap orang tuanya.

4.Saya tidak Oke, Kamu tidak Oke (I’m not OK, you’re not OK)

Ini adalah posisi hidup orang bermasalah, semua dinilainya negatif, baik dirinya sendiri
maupun orang lain. Orang-orang yang merasa selalu gagal, masa kecil yang terabaikan
atau disia-siakan, atau menjadi pengangguran yang berkarat cenderung akan memiliki
mentalitas seperti. Ini adalah jiwa yang sakit. Orang seperti ini cenderung memandang
hidup tidak berguna (
Tujuan terapi Analisis Transaksional

Tujuan utama dari AT adalah membantu klien dalam membuat keputusan-keputusan


baru yang berhubungan tingkah lakunya saat ini dan arah hidupnya. Sedangkan
sasarnya adalah mendorong klien agar menyadari, bahwa kebebasan dirinya dalam
memilih telah dibatasi oleh ketusan awal mengenai posisi hidupnya serta pilihan
terhadap cara-cara hidup yang stagnan dan deterministik. Menurut Berne (1964) dalam
Corey (1988) bahwa tujuan dari AT adalah pencapaian otonom yang diwujudkan oleh
penemuan kembali tiga karakteristik; kesdaran, spontanitas, dan keakraban.

Penekanan terapi adalah menggantikan gaya hidup yang ditandai oleh permainan yang
manipulatif dan oleh skenario-skenario hidup yang menyalahkan diri dan gaya hidup
otonom ditandai dengan kesadaran spontanitas dan keakraban. Menurut Haris (19967)
yang dikutip dalam Corey (1988) tujuan pemberian treatment adalah menyembuhkan
gejala yang timbul dan metode treatment adalah membebaskan ego Orang Dewasa
sehingga bisa mengalami kebebasan memilih dan penciptaan pilihan-pilihan baru atas
pengaruh masa lampau yang membatasi. Tujuan terapeutik, dicapai dengan
mengajarkan kepada klien dasar-dasar ego Orang Tua, ego Orang Dewasa, dan ego
Anak. Para klien dalam setting kelompok itu belajar bagaimana menyadari dan
menjabarkan ketiga ego selama ego-ego tersebut muncul dalam transaksi-transaksi
kelompok.

Fungsi dan Peran Terapis

Harris (1967) yang dikutip dalam Corey (1988) memberikan gambaran peran terapis,
seperti seorang guru, pelatih atau nara sumber dengan penekanan kuat pada
keterlibatan. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis
struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan.
Selanjutnya menurut Corey (1988), peran terapis yaitu membantu klien untuk
membantu klien menemukan suasana masa lampau yang merugikan dan menyebabkan
klien membuat keputusan-keputusan awal tertentu, mengindentifikasikan rencana
hidup dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakannya dalam
menghadapi orang lain yang sekarang mungkin akan dipertimbangkannya. Terapis
membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-
alternatif untu menjalani kehidupan yang lebih otonom.

Terapis memerlukan hubungan yang setaraf dengan klien, menunjuk kepada kontrak
terapi, sebagai bukti bahwa terapis dan klien sebagai pasangan dalam proses terapi.
Tugas terapi adalah, menggunakan pengetahuannya untuk mendukung klien dalam
hubungannya dengan suatu kontrak spesifik yang jelas diprakarsai oleh klien. Konselor
memotivasi dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego Orang Dewasanya sendiri
ketimbang ego Orang Dewasa konselor dalam memeriksa keputusan–keputusan
lamanya serta untuk membuat keputusan-keputusan baru.

Hubungan Konselor Dengan Klien

Pelaksanaan terapi AT beradasarkan kontrak, kontrak tersebut menjelaskan keinginan


klien untuk berubah, di dalam kontrak berisi kesepakatan-kesepakatan yang spesifik,
jelas, dan ringkas. Kontrak menyatakan apa yang dilakukan oleh klien, bagaimana
klien melangkah ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkannya dan kapan kontrak
tersebut akan berakhir. Kontrak dapat diperpanjang, konselor akan mendukung dan
bekerja sesuai kontrak yang telah menjadi kesepakatan bersama.

Pentingnya keberadaan kontrak, karena umumnya dalam terapi, klien seringkali keluar
dari kesepakatan awal. Menyimpang, cenderung memunculkan masalah-masalah baru,
bersikap pasif, dan dependen akibatnya proses penyembuhan membutuhkan tambahan
waktu. Dengan adanya kontrak maka kewajiban tanggungjawab bagi klien semakin
jelas, membuat usaha klien untuk tidak keluar pada kesepakatan dan komitmen untuk
penyembuhan tetap menjadi perhatian, maka klien menjadi fokus pada tujuan-tujuan
sehingga proses penyembuhan akan semakin cepat.

Maksud dari kontrak lebih spesifik, yaitu menyepakati cara-cara yang sesungguhnya
digunakan dalam terapi yang disesuikan dengan kebutuhan klien dengan
memperhatikan apakah untuk individu atau kelompok.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh konselor ketika membangun hubungan
dengan klien; Pertama, tidak ada kesenjangan pemahaman antara klien dan konselor
yang tidak dapat jembatani. Kedua, klien memiliki hak-hak yang sama dan penuh
dalam terapi, artinya klien memiliki hak untuk menyimpan atau tidak mengungkapkan
sesuatu yang dianggap rahasia. Ketiga, kontrak memperkecil perbedaan status dan
menekankan persamaan di antara konselor dan klien.

Teknik dan Prosedur Terapi

Untuk melakukan terapi dengan pendekatan AT menurut Haris dalam Corey (1988)
treatment individu-individu dalam kelompok adalah memilih analisis-analisis
transaksional, menurutnya fase permualaan AT sebagai suatu proses mengajar dan
belajar serta meletakan pada peran didaktik terapis kelompok. Konsep-konsep AT
beserta tekniknya sangat relevan diterapkan pada situasi kelompok, meskipun
demikian penerapan pada individu juga dianggap boleh dilakukan. Beberapa manfaat
yang dapat diperoleh, bila digunakan dengan pendekatan kelompok. Pertama,
berbagai ego Orang Tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati.
Kedua, karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu di kelompok
bisa dialami. Ketiga, individu dapat mengalami dalam suatu lingkungan yang bersifat
alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan orang lain. Keempat, konfrontasi permainan
yang timbal-balik dapat muncul secara wajar. Kelima, para klien bergerak dan
membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.

Prosedur pada AT dikombinasikan dengan terapi Gestalt, seperti yang dikemukakan


oleh James dan Jongeward (1971) dalam Corey (1988) dia menggabungkan konsep dan
prosedur AT dengan eksperimen Gestalt, dengan kombinasi tersebut hasil yang
diperoleh dapat lebih efektif untuk mencapai kesadaran diri dan otonom. Sedangkan
teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam AT, yaitu;
1. Analisis struktural, para klien akan belajar bagaimana mengenali ketiga
perwakilan ego-nya, ini dapat membantu klien untuk mengubah pola-pola yang
dirasakan dapat menghambat dan membantu klien untuk menemukan
perwakilan ego yang dianggap sebagai landasan tingkah lakunya, sehingga
dapat melihat pilihan-pilihan.
2. Metode-metode didaktik, AT menekankan pada domain kognitif, prosedur
belajar-mengajar menjadi prosedur dasar dalam terapi ini.
Analisis transaksional, adalah penjabaran dari yang dilakukan orang-orang
terhadap satu sama lain, sesuatu yang terjadi diantara orang-orang melibatkan
suatu transaksi diantara perwakilan ego mereka, dimana saat pesan
disampaikan diharapkan ada respon. Ada tiga tipe transaksi yaitu;
komplementer, menyilang, dan terselubung.
3. Permainan peran, prosedur-prosedur AT dikombinasikan dengan teknik
psikodrama dan permainan peran. Dalam terapi kelompok, situasi permainan
peran dapat melibatkan para anggota lain. Seseorang anggota kelompok
memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi
anggota lainnya, kemudian dia berbicara pada anggota tersebut. Bentuk
permainan yang lain adalah permainan menonjolkan gaya-gaya yang khas dari
ego Orang Tua yang konstan.
4. Analisis upacara, hiburan, dan permainan, AT meliputi pengenalan terhadap
upacara (ritual), hiburan, dan permainan yang digunakan dalam menyusun
waktunya. Penyusunan waktu adalah bahan penting bagi diskusi dan
pemeriksaan karena merefleksikan keputusan tentang bagaimana menjalankan
transaksi dengan orang laindan memperoleh perhatian.
5. Analisa skenario, kekurangan otonomi berhubungan dengan keterikatan individu
pada skenario atau rencana hidup yang ditetapkan pada usia dini sebagai alat
untuk memenuhi kebutuhannya di dunia sebagaimana terlihat dari titik yang
menguntungkan menurut posisi hidupnya. Skenario kehidupan, yang didasarkan
pada serangkaian keputusan dan adaptasi sangat mirip dengan pementsan
sandiwara.
Daftar Pustaka

Corey, Gerald. 1988. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. PT Eresco. Jakarta.

Wikipedia, the free encyclopedia. 2009. Aperseption, Copyright © 2009.

De Blot SJ, 1992, Analisis Transaksional (jilid 1) Mengenal Diri dengan Analisis
Transaksional Berpangkal Pada Budaya Indonesia, Penerbit PT. Gramedia Pustaka
Utama: Jakarta.