Anda di halaman 1dari 38

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat

yang penting karena merupakan penyumbang utama angka kesakitan dan

kematian anak di dunia termasuk indonesia. Penyebab utama kematian akibat

diare adalah dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit melalui

tinja.penyebab kematian lainnya adalah disentri ,kurang gizi, dan infeksi.

Golongan usia yang paling menderita akibat diare adalah balita karena daya tahan

tubuhnya yang masih lemah. (Widoyono,2013)

Kebersihan pada makanan menjadi faktor resiko terjadinya diare dan bisa

terjadi karena peralatan makanan yang terkontaminasi dengan bakteri patogen dari

maka dari itu sekarang banyak sekali anak yang terjadi diare karna mereka sering

tidak menghiraukan kebersihan makanan yang dimakan dan peralatan makan yang

digunakan akibatnya anak kekurangan nutrisi dan tumbuh kembang anak

terganggu. (Agustina,2013)

Menurut World Health Organization (WHO) diare merupakan penyakit

kedua yang menyebabkan kematian pada anak-anak. anak-anak yang mengalami

kurang gizi atau sistem imun yang kurang sangat rentan terserang penyakit diare.

Diare telah membunuh 760.000 anak setiap tahunya, sebagian besar orang diare

yang meninggal dikarenakan terjadinya dehidrasi atau kehilangan cairan dalam

jumlah yang besar. ( WHO,2013)


2

Angka kejadian diare sebagian besar diwilayah indonesia sekitar 200-400

kejadian diantara 1000 penduduk tiap tahunnya , dengan demikian di indonesia

dapat ditemukan sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya , sebagian besar ( 70-

80%) dari penderita ini adalah Anak-anak. sebagian dari ini (1-2%) akan jatuh

kedalam dehidrasi dan jika tidak ditolong 50-60% diantaranya dapat

meninggal.(Sudaryat,2013)

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 yang dilakukan di

33 provinsi di Indonesia, prevalensi penduduk dengan insiden diare pada anak

umur 5-12 tahun untuk provinsi Sumatera Selatan adalah 2,0 % sedangkan period

prevalance untuk Sumatera Selatan sebesar 3,0 % (Riset Kesehatan Dasar Depkes

RI,2013)

Angka kejadian penyakit Diare yang terjadi di sekolah dasar Sukatani 4

yang terjadi diare Akut sebesar 11,3% dan tidak akut 88,7% karena kebiasaan

tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah bersentuhan dengan makanan dan

makanan yang terkontaminasi pada bakteri .(Nurina,2013)

Dikota Palembang angka kejadian penyakit diare yang terjadi pada tahun

terakhir, pada tahun 2012 yaitu sebanyak 11.72 jiwa. Tahun 2013 sebanyak 35.89

jiwa dan tahun 2014 sebanyak 35.08 jiwa ( Dinas kota Palembang, 2014).

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ria Anggrina nyang meneliti

Hubungan Pengetahuan Orangtua dengan kejadian Diare pada anak kelas 2 Di

sekolah Dasar Negri 149 Palembang Tahun 2014 Berdasarkan hasil penguji

statistik Chi Squre menunjukan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara
3

pengetahuan Orang Tua dengan kejadian diare pada anak, dimana p-value = 0,034

lebih kecil dari a=0,05.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Puti Syania (2007) dengan judul “

Gambaran Pengetahuan,Sikap dan Prilaku Ibu yang Memiliki Balita Terhadap

Penyakit Diare di RT 03 Kelurahan Sukawarna Wilayah kerja Puskesmas Kota

Bandung terhadap 42 responden didapaatkan responden yang memiliki sikap

positif sebanyak 34 orang (82,3%) dan responden yang memiliki sikap negative

sebanyak 8 orang (17,7%)

Data yang di dapat dari SD Negeri 123 Palembang bahwa jumlah Siswa

dan Siswinya yaitu Kelas 1 (A=30, B=30, C=30) Jumlahnya 90 orang, untuk kelas

2 (A=28 B=30 C=25) jumlahnya 83 orang, untuk kelas 3 (A=29 B=28 C=28)

jumlahnya 85 orang, untuk kelas 4 (A=35 B=35) jumlahnya 70 orang, untuk kelas

5 (A=37 B=40) jumlahnya 77 orang jadi jumlah siswa dari kelas 1 sampai kelas 5

395 siswa dan dari beberapa siswa tersebut menunjukan bahwa sebagian siswa

tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, serta kuku tangan yang terlihat

panjang dan kotor dan saat jam istirahat anak sekolah membeli jajanan tanpa

memperhatikan kebersihanya,setelah ditelusuri anak yang pernah mengalami diare

kurang memahami PHBS dengan baik , dari bulan januari sampai dengan bulan

mei tahun 2016 yang diketahui siswa terkena penyakit diare sebanyak 7 orang,

melihat kejadian diatas peneliti tertarik untuk mengetahui Gambaran pengetahuan

ibu tentang penyakit diare di SDN 123 palembang tahun 2016.


4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas rumusan masalah dalam penelitian ini

adalah bagaimana Gambaran Pengetahuan Keluarga Tentang Penyakit Diare pada

siswa kelas 1 sampai dengan kelas 5 DiSekolah Dasar Negeri 123 Palembang

Tahun 2016.

C. Tujuan Peneliti

1. Tujuan Umum

Diketahuinya Gambaran Pengetahuan Keluarga Tentang Penyakit Diare

pada siswa kelas 1 samapai dengan kelas 5 DiSekolah Dasar Negeri 123

Palembang Tahun 2016.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya distribusi frekuensi Gambaran pengetahuan keluarga tentang

Pengertian penyakit Diare disekolah dasar Negeri 123 palembang tahun

2016.

b. Diketahinya distribusi frekuensi Gambaran pengetahuan keluarga tentang

tanda dan gejala penyakit Diare disekolah dasar Negeri 123 palembang

tahun 2016.

c. Diketahuinya distribusi frekuensi Gambaran pengetahuan keluarga tentang

Penyebab penyakit Diare disekolah dasar Negeri 123 palembang tahun

2016.
5

d. Diketahuinya distribusi frekuensi Gambaran pengetahuan keluarga tentang

pencegahan penyakit Diare disekolah dasar Negeri 123 palembang tahun

20

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Institusi Pendidikan

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan referensi

tambahan dan kepustakaan sehingga dapat membantu para mahasiswa STIKES

Aisyiyah dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas pengetahuan

tentang penyakit Diare

2. Bagi Sekolah Dasar Negeri 123 Palembang

Sebagai masukan untuk sekolah SDN 123 agar dapat membudayakan

Perilaku hidup bersih dan sehat di Sekolah untuk upaya pencegahan penyakit

Diare pada anak-anak SDN 123 palembang.

3. Bagi Peneliti

Dapat mengetahui masalah-masalah yang terjadi di SDN 123 Palembang

terutama tentang penyakit Diare dan menambah wawasan peneliti dalam

menganalisis dan memecahkan permasalahan kesehatan .

4. Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian dapat dijadikan dasar acuan untuk referensi penelitian

selanjutnya kearah yang lebih spesifik lagi.


6

E. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini termasuk dalam area penelitian Keperawatan Anak

penelitian tentang. Penelitian dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri 123

Palembang Tahun 2016 dengan fokus penelitian tentang “Gambaran Pengetahuan

Keluarga Tentang penyakit diare pada anak kelas 1 sampai dengan kelas 5 di SDN

123 Palembang tahun 2016 . Waktu penelitian dilaksanakan pada April-mei

Tahun 2016 , subjek penelitian ini adalah seluruh siswa SDN 123 Palembang ,

dengan menggunakan desain penelitian kuantitatif.


7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pengetahuan
1. Definisi
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang

melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.pengindraan terjadi

melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran,

penciuman,rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh

melalui mata dan telinga ( Notoadmojo,2012).

Pengetahuan ( knowlage) adalah hasil dari tahu dan ini terjadi terjadi

setelah penginderaan dari objek tertentu, tanpa pengetahuan seseporang tidak

mempunyai dasar untuk mengambil keputusan dan menentukan tindakan

terhadap masalah yang dihadapi (Fahmi, 2013)

1. Jenis-Jenis Pengetahuan

Pemahaman masyarakat mengenal pengetahuan dalam konteks kesehatan

sangat beraneka ragam. Pengetahuan merupakan bagian perilaku kesehatan.

a. Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih tertanam dalam bentuk

pengalaman seseorang dan berisi faktor-faktor yang tidak nyata seperti

keyakinan pribadi, perspektif, dan prinsip-prinsip. Pengetahuan diam seseorang

biasanya sulit untuk ditransfer ke orang lain, secara tertulis atau Lesan.

Kemampuan bahasa, merancang, atau mengoperasikan mesin atau alat-alat


8

yang memerlukan pengetahuan yang rumit tidak dapat selalu tampil secara

eksplisit, dan juga tidak begitu mudah untuk mentransferkannya kepada orang

lain secara eksplisit

b. Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan yang menekankan pengamatan dan rasa pengalaman dikenal

sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan posteriori. Pengetahuan ini bisa

didapatkan dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan

rasional. Pengetahuan empiris juga dapat berkembang menjadi pengetahuan

deskriptif jika seseorang dapat menjelaskan dan menggambarkan semua ciri-

ciri, karakteristik, dan gejala yang ada dalam objek empiris

c. Pengetahuan Empiris

Pengetahuan yang menekankan pengamatan dan rasa pengalaman dikenal

sebagai pengetahuan empiris atau pengetahuan posteriori. Pengetahuan ini bisa

didapatkan dengan melakukan pengamatan yang dilakukan secara empiris dan

rasional. Pengetahuan empiris juga dapat berkembang menjadi pengetahuan

deskriptif jika seseorang dapat menjelaskan dan menggambarkan semua ciri-

ciri, karakteristik, dan gejala yang ada dalam objek empiris

d. Pengetahuan Rasionalisme

Pengetahuan rasionalisme adalah pengetahuan yang diperoleh melalui akal.

Rasionalisme menekankan pengetahuan a priori; tidak ada penekanan pada

pengalaman. Misalnya pengetahuan matematika. Dalam matematika, hasil 1 +

1 = 2 tidak diperoleh melalui pengalaman atau pengamatan empiris, tetapi

melalui pikiran untuk berpikir logis.


9

2. Tingkat Pengetahuan Dalam Domain Kognitif

Menurut Notoatmodjo (2012) pengetahuan yang tercakup dalam domain

kognitif mempunyai 6 tingkatan, yaitu

a. Tahu (Know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall)

sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang

telah diterima. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengatahuan yang

paling rendah

b. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar

tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut

secara benar. Orang telah faham terhadap objek atau materi harus dapat

menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya

terhadap objek yang dipelajari.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

d. Analisis

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek

kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam satu struktur


10

organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain.

e. Sintesis

Menunjukkan pada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menyambungkan

bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata lain

sintesis adalah kemampuan untuk menyusun suatu formulasi baru dari formulasi-

formulasi yang ada.

f. Evaluasi

Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian

terhadap suatu materi atau objek.

3. Pengkategorian Pengetahuan

Menurut Notoadmojo (2012), pengukuran pengetahuan ada dua kategori

yaitu: menggunakan pertanyaan subjektif misalnya jenis pertanyaan essay dan

pertanyaan objektif misalnya pertanyaan pilihan ganda (multiple choise),

pertanyaan betul salah dan pertanyaan menjodohkan.

Sedangkan untuk pengkategorian pengetahuan yang digunakan yaitu:

1.Kategori baik dengan nilai 76-100 %

2.Kriteria cukup dengan nilai 56-75 %

3.Kriteria kurang dengan nilai 40-55 %

4.Kriteria tidak baik dengan nilai < 40 %


11

B. Konsep Ibu

1. Definisi ibu

Ibu adalah sebutan untuk orang perempuan yang telah melahirkan

kita,sebagai pengasuh kita, pendidik kita, wanita yang telah bersuami

panggilan yang lazim pada wanita ( Yohanes Dion,2013)

Ibu adalah wanita yang telah melahirkan seseorang/ panggilan yang

lazim pada wanita baik yang sudah bersuami maupun belum (Kamus Besar

Bahasa Indonesia, 2013).

2. Peran Ibu

Peran ibu menggambarkan seperangkat prilaku interpersonal sifat

kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi situasi tertentu.

Peran ini didasari oleh harapan dan pola perilaku dalam keluarga,

kelompok, masyarakat. Adanya peran ibu sebagai berikut :

a) Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya

b) Mengurus rumah tangga

c) Sebagai pengaruh dan pendidik Anak-anaknya

d) Sebagai pelindung Anak-anaknya

e) Pencari nafkah tambahan dalam keluarga


12

Ibu sebagai istri dan Anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk

mengurus rumah tangga. Sehingga pengasuh dan pendidik Anak-anaknya,

perlindungan dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta

sebagai anggota masyarakat dari lingkungan, disamping itu juga Ibu dapat

berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarga.

C. Definisi Diare

Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan

konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya

lebih dari tiga kalidalam satu hari (Departemen Kesehatan RI, 2013)

Diare adalah pengeluaran tinja yang tidak normal dan cair. Buang air

besar tidak normal dan bentuk tinja yang cair dengan frekuensi yang lebih

banyak dari biasanya. Bayi yang dikatakan diare bila sudah lebih dari 3 kali

buang air besar, sedangkan neonatus dikatakan diare bila sudah lebih dari 4

kali buang air besar ( Wijayaningrat,2013)

Diare adalah buang air besar berkali-kali (lebih dari 4 kali), bentuk

feses cair, dan dapat disertai darah atau lendir. ( Haryono,2013)

Diare adalah penyakit yang ditandai dengan terjadinya perubahan

bentuk konsentrasi tinja yang melembek sampai dengan cair dengan frekuensi

lebih dari lima kali sehari. Diare dapat merupakan penyakit yang sangat akut

dan berbahaya karena sering mengakibatkan kematian bila terlambat

penanganannya (Susan carman, 2014).


13

Diare adalah Buang Air Besar dengan frekuensi yang meningkat dan

konsistensi tinja yang lebih lembek atau cair sifatnya mendadak datangnya,

dan berlangsung dalam waktu kurang dari 2 minggu. ( Suharyono,2013)

1 Anatomi Fisiologi

Gambar 2.1

Anatomi Sistem Percernaan

(http://adeindrasutomo.wordpress.com)

Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai

anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima

makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke

dalam aliran darah serta membuang bagian makanan yang tidak dapat dicerna atau

merupakan sisa proses tersebut dari tubuh . Saluran pencernaan terdiri dari mulut,

tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, rektum dan

anus.
14

a. Mulut

Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air

pada hewan.Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan

bagian awal dari sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus. Mulut

merupakan jalan masuk untuk sistem pencernaan.Bagian dalam dari mulut

dilapisi oleh selaput lendir.Pengecapan dirasakan oleh organ perasa yang

terdapat di permukaan lidah. Pengecapan relatif sederhana, terdiri dari manis,

asam, asin dan pahit. Penciuman dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung

dan lebih rumit, terdiri dari berbagai macam bau.

Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di kunyah

oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian kecil yang lebih

mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan membungkus bagian-bagian

dari makanan tersebut dengan enzim-enzim pencernaan dan mulai

mencernanya. Ludah juga mengandung antibodi dan enzim (misalnya

lisozim), yang memecah protein dan menyerang bakteri secara langsung.

Proses menelan dimulai secara sadar dan berlanjut secara otomatis.

b. Tenggorokan (Faring)

Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan.

Berasal dari bahasa yunani yaitu Pharynk. Skema melintang mulut, hidung,

faring, dan laring. Didalam lengkung faring terdapat tonsil ( amandel ) yaitu

kelenjar limfe yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan

pertahanan terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas


15

dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung,

didepan ruas tulang belakang

c. Kerongkongan (Esofagus)

Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui

sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung. Makanan

berjalan melalui kerongkongan dengan menggunakan proses peristaltik.

Sering juga disebut esofagus(dari bahasa Yunani: οiσω, oeso – “membawa”,

dan έφαγον, phagus – “memakan”).Esofagus bertemu dengan faring pada

ruas ke-6 tulang belakang.Menurut histologi.Esofagus dibagi menjadi tiga

bagian:

- bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka)

- bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus)

- serta bagian inferior (terutama terdiri dari otot halus)

d. Lambung

Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti

kandang keledai.Terdiri dari 3 bagian yaitu : Kardia, Fundus,

Antrum.Makanan masuk ke dalam lambung dari kerongkongan melalui otot

berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan menutup. Dalam keadaan

normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke dalam

kerongkongan.Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang

berkontraksi secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.

Sel-sel yang melapisi lambung menghasilkan 3 zat penting :

- Lendir
16

Lendir melindungi sel-sel lambung dari kerusakan oleh asam

lambung.Setiap kelainan pada lapisan lendir ini, bisa menyebabkan

kerusakan yang mengarah kepada terbentuknya tukak lambung.

- Asam klorida (HCl)

Asam klorida menciptakan suasana yang sangat asam, yang diperlukan

oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung yang tinggi juga

berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan cara membunuh

berbagai bakteri.

- Prekursor pepsin (enzim yang memecahkan protein)

e. Usus halus (usus kecil)

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang

terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh

darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta.

Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus) dan air (yang

membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna). Dinding

usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang mencerna protein, gula dan

lemak.Lapisan usus halus ; lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot

melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (M Longitidinal) dan lapisan

serosa (Sebelah Luar). Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas

jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus penyerapan (ileum).

- Usus dua belas jari (Duodenum)

Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang

terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong


17

(jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian terpendek dari

usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan berakhir di ligamentum

Treitz. Usus dua belas jari merupakan organ retroperitoneal, yang tidak

terbungkus seluruhnya oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari

yang normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari

terdapat dua muara saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu.Nama

duodenum berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang berarti dua

belas jari. Lambung melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari

(duodenum), yang merupakan bagian pertama dari usus halus.Makanan

masuk ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang

bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan megirimkan

sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan makanan.

- Usus Kosong (jejenum)

Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah

bagian kedua dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan

usus penyerapan (ileum).Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus

antara 2-8 meter, 1-2 meter adalah bagian usus kosong.Usus kosong dan

usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.

Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan terdapat jonjot

usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus.

- Usus Penyerapan (illeum)


18

Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus. Pada

sistem pencernaan manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan

terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.

f. Usus Besar (Kolon)

Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus

buntu dan rektum.Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.Usus

besar terdiri dari :Kolon asendens (kanan), Kolon transversum, Kolon

desendens (kiri), Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum). Banyaknya

bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan

dan membantu penyerapan zat-zat gizi.Bakteri di dalam usus besar juga

berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting

untuk fungsi normal dari usus.Beberapa penyakit serta antibiotik bisa

menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar.Akibatnya

terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan

terjadilah diare.

g. Usus Buntu (sekum)

Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, “buta”) dalam istilah

anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta

bagian kolon menanjak dari usus besar. Organ ini ditemukan pada mamalia,

burung, dan beberapa jenis reptil.Sebagian besar herbivora memiliki sekum

yang besar, sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil, yang

sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai cacing.

h. Umbai Cacing (Appendix)


19

Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus

buntu.Infeksi pada organ ini disebut apendisitis atau radang umbai

cacing.Apendisitis yang parah dapat menyebabkan apendiks pecah dan

membentuk nanah di dalam rongga abdomen atau peritonitis (infeksi rongga

abdomen).Dalam anatomi manusia, umbai cacing atau dalam bahasa Inggris,

vermiform appendix (atau hanya appendix) adalah hujung buntu tabung yang

menyambung dengan caecum.Umbai cacing terbentuk dari caecum pada

tahap embrio. Dalam orang dewasa, Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm

tetapi bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm. Walaupun lokasi apendiks selalu

tetap, lokasi ujung umbai cacing bisa berbeda – bisa di retrocaecal atau di

pinggang (pelvis) yang jelas tetap terletak di peritoneum.

i. Rektum dan anus

Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah

ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan

berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara

feses.Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih

tinggi, yaitu pada kolon desendens.Jika kolon desendens penuh dan tinja

masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar

(BAB). Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di

dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan untuk

melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali material akan

dikembalikan ke usus besar, di mana penyerapan air akan kembali dilakukan.

Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang lama, konstipasi dan
20

pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa

menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami

kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB.

Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan

limbah keluar dari tubuh.Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh

(kulit) dan sebagian lannya dari usus.Pembukaan dan penutupan anus diatur

oleh otot sphinkter. Feses dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang

air besar – BAB), yang merupakan fungsi utama anus.

( Wijayaningrat,2013)

3 Etiologi Diare

Menurut Wijayaningrat (2013), Penyebab diare dapat dibagi dalam

beberapa faktor yaitu:

1. Faktor infeksi

Terbagi menjadi infeksi enternal dan parenteral .

a. Infeksi enteral

1. Infeksi bakteri : Vibrio cholera, Eshcerichia coli, Salmonella, Shigella,

Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya

2. Infeksi Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwak virus, Cytomegalo virus

(CMV), Echovirus dan HIV

3. Iinfeksi parasit : Entamoeba, histolycita,Giardia lamblia, Cryptosporodium

parvum, Balantidium coli, Ascaris lumbricoides, Thrichuris Trichiura,

S.stercoralis

4. Infeksi jamur : Candida


21

b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis

media akut (OMA) tonsilitis/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis

dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur

dibawah dua (2) tahun.

1. Faktor malabsorsi

Malabsropsi karbohdidrat : disakarida ( intoleransi laktosa,

maltosa, dan sukrosa), monosakarida ( intoleransi glukosa, fruktosa, dan

galaktosa0. Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering adalah

intoleransi laktosa. Sering pada anak dengan anak malnutrsi protein

2. Faktor makanan

Makanan basi, beracun dan makanan yang menyebabkan reaksi

hipersensitivitas

3. Faktor psikologis

Rasa takut dan cemas. Walaupun jarang, dapat menimbulkan diare

pada anak terutama pada anak yang lebih besar

4. Tanda Dan Gejala

Tanda dan gejala diare adalah mula mula anak menjadi cengeng, gelisah,

suhu badan meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada kemudian timbul

diare. Tinja cair, mungkin disertai lendir dan darah. Warna tinja makin lama

berubah kehijau-hijauan karena tercampur empedu, karena seringnya defekasi,

anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama makin asam akibat banyaknya
22

asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak diabrsorpsi oleh usus selama

diare. Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan sesudah diare

( Wijayaningrat,2013)

Ada beberapa tanda dan gejala diare yaitu sebagai berikut:

1. Frekuensi BAB (buang air besar) pada bayi lebih dari 3x/hari dan

pada neonatus lebih dari 4x/hari

2. Bentuk cair pada buang air besarnya kadang-kadang disertai lendir

dan darah

3. Nafsu makan menurun

4. Warna tinja lama-kelamaan kehijauan karna bercampur dengan

empedu

5. Muntah

6. Rasa haus

7. Malaise

8. Adanya lecet pada daerah sekitar anus

9. Fases bersifat banyak asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak

dapat diserap oleh usus

10. Adanya tanda dehidrasi

5. Patofisiologi

Proses terjadinya diare dapat disebabkan oleh berbagai kemungkinan

faktor diantaranya pertama faktor infeksi, proses ini dapat diawali adanya

mikroorganisme (kuman) yang masuk ke dalam saluran pencernaan yang


23

kemudian berkembang dalam usus dan merusak sel mukosa usus yang dapat

menurunkan daerah permukaan usus. Selanjutnya terjadi perubahan kapasitas

usus yang akhirnya mengakibatkan gangguan fungsi usus dalam absorpsi cairan

dan elektrolit. Sehingga menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan

elektrolit.

Kedua, faktor malabsorpsi merupakan kegagalan dalam melakukan

absorpsi yang mengakibatkan tekanan osmotik meningkat sehingga terjadi

pergeseran air dan elektrolit ke rongga usus yang dapat meningkat isi rongga usus

sehingga terjadi diare.

Ketiga, faktor makanan, ini dapat terjadi apabila toksin yang ada tidak

mampu diserap dengan baik. Sehingga terjadi peningkatan peristaltik usus yang

mengakibatkan penurunan kesempatan untuk menyerap makanan yang kemudian

menyebabkan diare. Sehingga terjadi mual dan muntah. Keempat, faktor psikologi

dapat mempengaruhi terjadinya peningkatan peristaltik usus akhirnya

mempengaruhi proses penyerapan makanan yang dapat menyebabkan diare,

sehingga penderita menjadi takut.

(Sudaryat,2013)

6. Komplikasi

Menurut Wijayaningrat (2013). Komplikasi diare sebagai berikut :

1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik atau hipertonik).

2. Renjatan hipovolemik.
24

3. Hipokalemia (dengan gejala mekorismus, hiptoni otot, lemah, bradikardi,

perubahan pada elektro kardiagram).

4. Hipoglikemia.

5. Introleransi laktosa sekunder, sebagai akibat defisiensi enzim laktase karena

kerusakan vili mukosa, usus halus.

6. Kejang terutama pada dehidrasi hipertonik.

7. Malnutrisi energi, protein, karena selain diare dan muntah, penderita juga

mengalami kelaparan.

7. Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan tinja

a) Makroskopis dan mikroskopis

b) PH dan kadar gula dalam tinja

c) Bila perlu diadakan uji bakteri

2. Pemeriksaan gangguan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan

menentukan PH dan cadangan alkali dan analisa gas darah.

3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.

4. Pemeriksaan elektrolit terutama kadar Na, K, Kalsium dan Posfat.

8. Penatalaksanaan Diare

Menurut Ernawati (2013), penatalaksanaan medis pada pasien diare

meliputi : pemberian cairan, pengobatan dietetik (cara pemberian makanan) dan

pemberian obat-obatan.
25

a. Pemberian cairan

Pemberian cairan pada pasien diare dan memperhatikan derajat dehidrasinya

dan keadaan umum.

a. Pemberian cairan

Pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang cairan diberikan per oral

berupa cairan yang berisikan NaCl dan Na HCO3, KCl dan glukosa untuk

diare akut dan karena pada anak di atas umur 6 bulan kadar natrium 90 ml

g/L. Pada anak dibawah 6 bulan dehidrasi ringan / sedang kadar natrium

50-60 mfa/L, formula lengkap sering disebut : oralit.

b. Cairan parenteral

Sebenarnya ada beberapa jenis cairan yang diperlukan sesuai dengan

kebutuhan pasien, tetapi kesemuanya itu tergantung tersedianya cairan

setempat. Pada umumnya cairan Ringer laktat (RL) diberikan tergantung

berat / ringan dehidrasi, yang diperhitungkan dengan kehilangan cairan

sesuai dengan umur dan berat badannya.

1. Belum ada dehidrasi

Per oral sebanyak anak mau minum / 1 gelas tiap defekasi

2. Dehidrasi ringan

1 jam pertama : 25 – 50 ml / kg BB per oral selanjutnya : 125 ml / kg

BB / hari

3. Dehidrasi sedang
26

1 jam pertama : 50 – 100 ml / kg BB per oral (sonde) selanjutnya 125

ml / kg BB / hari

4. Dehidrasi berat

Tergantung pada umur dan BB pasien.

2. Pengobatan dietetik

Untuk anak di bawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang

dari 7 kg jenis makanan :

a. Susu (ASI adalah susu laktosa yang mengandung laktosa rendah dan asam

lemak tidak jenuh).

b. Makanan setengah padar (bubur) atau makanan padat (nasitim), bila anak

tidak mau minum susu karena di rumah tidak biasa.

c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan susu dengan

tidak mengandung laktosa / asam lemak yang berantai sedang / tidak sejuh.

3. Pengobatan Obat-obatan

Prinsip pengobatan diare adalah mengganti cairan yang hilang melalui

tinja dengan atau tanpa muntah dengan cairan yang mengandung elektrolit dan

glukosa atau karbohidrat lain (gula, air tajin, tepung beras dan sebagainya).

a. Obat anti sekresi

Asetosal, dosis 25 mg/ch dengan dosis minimum 30 mg. Klorrpomozin, dosis

0,5 – 1 mg / kg BB / hari
27

b. Obat spasmolitik, dll umumnya obat spasmolitik seperti papaverin, ekstrak

beladora, opium loperamia tidak digunakan untuk mengatasi diare akut lagi,

obat pengeras tinja seperti kaolin, pektin, charcoal, tabonal, tidak ada

manfaatnya untuk mengatasi diare sehingg tidak diberikan lagi.

c. Antibiotik

Umumnya antibiotik tidak diberikan bila tidak ada penyebab yang jelas bila

penyebabnya kolera, diberiakn tetrasiklin 25-50 mg / kg BB / hari. Antibiotik

juga diberikan bile terdapat penyakit seperti : OMA, faringitis, bronkitis /

bronkopneumonia.
28

BAB III
KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah uraian tentang hubungan antar variabel-variabel

yang terkait dengan masalah penelitian dan dibangun berdasarkan kerangka teori/

kerangka pikir atau hasil studi sebelumnya sebagai pedoman penelitian .(Subidiyo

Supardi,2013)

Variabel Independen dalam penelitian ini adalah Pengertian Diare, Tanda

gejala Diare, Penyebab Diare dan Pencegahan diare. Sedangkan variabel

dependennya adalah kejadian Diare

Skema Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan :

1. Pengertian
Penyakit Diare Pada
2. Penyebab
Anak
3. Tanda dan Gejala
29

B. Definisi Operasional

Tabel 3.1
Definisi Operasional

No Variabel Definisi Cara Ukur Alat Hasil Ukur Skala


Operasional Ukur
1 Pengetahuan Diare adalah Wawancara Kuisoner 1. Baik, jika Nominal
tentang Kondisi responden
pengertian dimana terjadi dapat
Diare
frekuensi menjawab
defekasi yang pertanyaa
tidak biasa n dengan
( lebih dari skor
dua kali >5O%
sehari), juga (Arikunto,
perubahan 2010)
dalam jumlah 2. Kurang,
dan konsistensi jika
(feses cair) responden
berlangsung dapat
dalam waktu menjawab
kurang dari 2 pertanyaa
minggu n dengan
skor
<=5O%
(Arikunto,
2010)
2 Penyebab Faktor Wawancara Kuisoner 1. Baik, Nominal
Diare Infeksi : jika
a. Infeksi respo
Enternal
nden
( infeksi
bakteri ) dapat
b. Infeksi menja
Parenterall wab
(infeksi yang pertan
terjadi pada yaan
bagian tubuh denga
lain diluar
n skor
alat
30

pencernaan) >5O
-Faktor %
Malabsorpsi (Arikunto,
-Faktor
2010)
makanan
-Faktor 2. Kurang,
Psikologis jika
- Faktor responden
Imunologi dapat
menjawab
pertanyaa
n dengan
skor
<=5O%
(Arikunto,
2010)
3. Tanda dan - anak menjadi Wawancara Kuisoner 1. Baik, Nominal
Gejala cengeng, jika
- gelisah, responden
- suhu badan dapat
meningkat, menjawab
- nafsu makan pertanyaa
berkurang n dengan
atau tidak skor
ada >5O%
- muntah bisa (Arikunto,
terjadi 2010)
sebelum dan 2. Kurang,
sesudah diare jika
- Tinja cair, responden
mungkin dapat
disertai menjawab
lendir dan pertanyaa
darah. n dengan
- Warna tinja skor
makin lama <=5O%
berubah (Arikunto,
kehijau- 2010)
hijauan
karena
tercampur
31

empedu,
karena
seringnya
defekasi,
anus dan
sekitarnya
lecet karena
tinja makin
lama makin
asam akibat
banyaknya
asam laktat,
yang berasal
dari laktosa
yang tidak
diabrsorpsi
oleh usus
selama diare.
32

BAB IV

METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey

analitik (dilakukan dengan memberikan kuesioner, dengan melakukan

wawancara baik secara langsung atau tidak langsung) dengan pendekatan

cross sectional yaitu pengumpulan data variabel independen dan variabel

dependen yang dilakukan bersama-sama atau sekaligus (Hidayat A, 2013).

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek

yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,

2008). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Keluarga dari

siswa/ siswi kelas 1 sampai dengan kelas 5 di SD 123 Suka Maju

Palembang Tahun 2016

2. Sampel

Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat A, 2013).

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah keluarga dari siswa/

siswi di SD 123 Suka Maju Palembang Tahun 206


33

3. Kriteria Sampling

Kriteria Sampling yaitu kriteria yang diajukan kepada responden dari

sampel yang telah kita tentukan (Notoatmodjo, 2010). Agar karakteristik

sampel tidak menyimpang dari populasinya, maka sebelum dilakukan

pengambilan sampel perlu ditemukan :

Rumus menurut Setiadi,2013 :

n= N

1+ N ( d² )

N
𝑛=
1 + N (d)2

718
𝑛=
1 + 718 (0,2)2

718
𝑛=
1 + 718(0.04)

718
𝑛=
29,72

𝑛 = 24,15 = 27
34

Dimana :

n : Besarnya sample

N : Jumlah populasi

d : Tingkat kepergayaan yang diinginkan (0.3)

Berdasarkan rumusan diatas makan jumlah besar sampel untuk

siswa-siswi yang dijadikan sampel berdasarkan populasi yaitu :

a. Kriteria inklusi

1) Keluarga dari Siswa dan Siswi di kelas 1 s/d kelas 5 di SD Negeri

123 Palembang

2) Keluarga yang bersedia menjadi responden

3) Keluarga yang bisa di wawancarai

4) Keluarga yang bisa membaca dan menulis

b. Kriteria eksklusi

1) Keluarga yang berprofesi sebagai guru atau staf karyawan di SD

negeri 123 Palembang

2) Keluarga yang memiliki kepercayaan tertentu mengenai penyakit

diare atau sakit pada anak

3) Keluarga yang tidak mau di wawancarai

4) Keluarga yang tidak bisa membaca dan menulis


35

C. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar 123 Suka Maju Palembang.

Pada hari Tanggal April 2016

D. Etika Penelitian

A. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan

langsung dengan manusia, maka dari segi etika penelitian harus

diperhatikan.

1. Informed Concent/ persetujuan responden

Informed concent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan

responden penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Informed

concent tersebutdiberikan sebelum penelitian dilakukan dengan

memberikan lembar persetujuan untuk menjadi responden, setelah

peneliti memberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian

serta cara mengisi instrumen. Tujuan informed concent adalah agar

responden mengerti maksud dan tujuan penelitian dan mengisi lembar

kuesioner dengan jujur

2. Anonimity (tanpa nama)

Dalam penelitian ini, peneliti memberikan jaminan dalam penggunaan

subjek penelitian dengan cara tidak memberikan atau mencantumkan

nama lengkap responden pada lembar pengumpulan data atau hasil

penelitian yang disajikan.


36

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Peneliti memberikan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik

informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang

telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti dan hanya

kelompok yang akan dilaporkan pada hasil riset.

B. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah himpunan angka yang merupakan nilai dari

unit sample kita sebagai hasil mengamati atau mengukur (Setiadi 2013)

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subyek dan

proses pengumpulan karakteristik subyek yang diperlukan dalam suatu

penelitian (Nursalam, 2013).

Peneliti menggunakan kuesioner sebagai alat pengumpulan data.

Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk

memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya

atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2010).

Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh sendiri atau peneliti dari hasil

pengukuran, pengamatan dan survey. Data primer diperoleh melalui

kuesioner yang secara langsung dibagikan kepada responden. Kuesioner

ini digunakan untuk mengetahui Gambaran pengetahuan keluarga


37

tentang penyakit Diare pada Anak di SD Negeri 123 Palembang Tahun

2016.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber-sumber yang

telah ada di SD Negeri 123 Palembang.

C. Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data merupakan suatu proses untuk memperoleh data atau

data ringkasan berdasarkan suatu klompok data mentah dengan

menggunakan rumus tertentu sehingga menghasilkan informasi yang di

perlukan (Setiadi 2013)

Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus

ditempuh diantaranya:

1. Editing (memeriksa)

Adalah kegian pengecekan dan pernbaikan isian formulir atau kuisioner

tersebut, meliputi : kelengkapan jawaban, keterbacaan tulisan, relevansi

jawaban dan konsitensi jawaban pertanyaan dengan jawaban.

2. Coding ( pengkodean)

Adalah mengklasifikasikan jawaban-jawaban dari para responden kedalam

kategori, yakni mengubah data berbentuk kalimat atau huruf menjadi data

angka atau bilangan.

3. Entry (memasukan data)


38

Adalah jawaban-jawaban dari masing-masing responden yang dalam bentuk

“kode” (angka atau bilangan) dimasukkan ke dalam program atau “softwere”

komputer.

4. Cleaning (pembersian data)

Apabila semua dari data setiap sumber data atau responden selesai

dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-

kemungkinan adanya kesalah-kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan

sebagainya, kemudian dilakukan pembetulan atau koreksi.