Anda di halaman 1dari 4

Pembahasan

Pada percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan aktivas antifungi serta
menentukan nilai KHM (Konsentrasi Hambat Minimum) dari flukonazol dan infusa
daun sirih berbagai konsentrasi dengan menggunakan metode difusi agar. Prinsip
metode difusi agar yaitu proses difusi zat antifungi pada lempeng agar yang telah
diinokulasikan dengan fungi.
Sebelum melakukan percobaan, dilakukan proses sterilisasi pada alat-alat
dan media yang akan digunakan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121oC.
Hal ini bertujuan untuk menghilangkan atau mematikan mikroba yang ada pada
perlatan dan media baik itu yang bersifat pathogen ataupun nonpatogen. Proses
sterilisasi menggunakan autoklaf (panas lembab), mekanisme penghancuran
mikroba dilakukan oleh uap air panas yang menyebabkan terjadinya denaturasi dan
koagulasi beberapa protein dari mirkoorganisme tersebut. Dengan adanya uap air
bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pasa suhu yang lebih rendah dibandingkan
ketika tidak ada uap air.
Semua pekerjaan dilakukan dengan teknik aseptis untuk meminimalisir
terjadinya kontaminan dan tercampurnya mikroorganisme lain yang tidak
diinginkan. Prosedur kerja aseptis dilakukan dengan beberapa cara dimulai dari
sanitasi alkohol pada meja yang dijadikan sebagai tempat melakukan penanaman
menggunakan alkohol 70%. Penggunaan alkohol pada konsentrasi 70% sebagai
desinfektan lebih efektif karena dapat membunuh mikroba secara langsung. Semua
ekerjaan dilakukan diantara dua nyala api Bunsen dengan jarak ± 40 cm. Hal ini
dilakukan agar suhu lingkungan (melakukan penanaman inokula ) tidak terlalu
tinggi dan tidak terlalu rendah. Penyalaan bunsen selama 10 menit sebelum bekerja
bertujuan agar terjadi radiasi yang menyebabkan mikroorganisme yang tidak
diinginkan menjauh. Proses flambir alat-alat yang digunakan seperti tabung reaksi,
cawan petri dan pipet volume bertujuan untuk menjaga kesterilan atau menghindari
kontaminan mikroorganisme yang lain.
Media yang digunakan pada percobaan adalah SDA (Sabouraud Dextrose
Agar). SDA mempunyai sifat keasaman yang rendah yaitu pH 5,6 ±0,2 yang
memungkinkan selektivitas jamur/fungi, sehingga jamur Candida albicans yang
pertumbuhan optimumnya berada pH 5,4-5,8 (Siregar, 2012) dapat tumbuh optimal
pada media SDA. Kandungan pepton dalam SDA berfungsi sebagai sumber nutrisi
berupa nitrogen yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme.
Selain itu kandungan dextrose berfungsi sebagai sumber energi dan sumber karbon.
Serta kandungan agar yang berfungsi sebagai bahan pemadat media (irianto, 2006).
Suhu inkubasi berpengaruh terhadap pertumbuhan jamur, karena
kebanyakan jamur bersifat mesofilik yaitu menyukai suhu sedang sehingga jamur
tumbuh optimal pada suhu 25oC. Tetapi pada pecobaan kali ini proses inkubasi
dilakukan pada suhu 37oC, karena Candida albicans
Fungi/jamur yang digunakan pada percobaan adalah Candida albicans yang
temasuk sel eukaariot karena sel penyusunya telah memiliki membran inti. Suspensi
jamur Candida albicans yang digunakan harus disetarakan kekeruhannya dengan
standar Mc. Farland (6x108 CFU/mL). Hal ini dilakukan agar koloni jamur yang
tumbuh pada mesia tidak terlalu tipis maupun tebal, melainkan cukup untuk
menutupi seluruh permukaan media agar sehingga daya hambat terhadap
pertumbuhan jamur tesebut dapat dinilai atau diamati dengan baik. Selain itu
supaya dalam perlakuan tiap cawan petri memiliki populasi atau jumlah jamur yang
kurang lebih sama.
Pembuatan infusa daun sirih sebagai bahan /larutan uji dilakukan dengan
cara merendam daun sirih dalam pelarut air pada temperatur 90oC benjana infus
selama 15 menit (Ditjen POM, 1979). Daun sirih memiliki kandungan yang tahan
terhadap pemanasan sehingga metode infusa lebih umum digunakan. Teknik infusa
mempunyai beberapa keuntungan bila dibandingkan dengan teknik pembuatan
ekstrak yaitu karena teknik infusa lebih murah, lebih cepat, dan alat serta caranya
sederhana.
Berdasarkan hasil pengamatan pada kontrol negatif tidak terdapat
penghambatan pertumbuhan jamur yang ditunjukan dengan tidak terbentuknya
zona hambat/ zona bening disekitar sumur. Hal ini disebabkan karena aquades tidak
mempunyai kemempuan menghambat pertumbuhan jamur. Begitupun dengan
kontrol positif yang berisi flukonazol, tidak terlihat terjadi penghambatan
pertumbuhan jamur. Hal ini terjadi karena jumlah jamur terlalu terlalu banyak dan
volume flukonazol yang terlalu sedikit (40µL) sehingga potensi flukonazol tidak
terlihat. Data yang diperoleh tidak sesuai literatur yang menyebutkan bahwa
flukonazol mempunyai kemampuan menghambat pertumbuhan jamur dengan cara
menghambat sinstesis sitokom p450 enzim lanosterol demetilase yang berperan
dalam proses sistesis ergosterol (Lullmann et al, 2000). Jika ergosterol tidak
terbentuk maka pembentukan dinding sel sebagai pelindung sel terhadap tekanan
osmotik akan terganggu. Hal ini menyebabkan sel menjadi lisis dan akhirnya mati
Hasil pengamatan pada infusa daun sirih konsentrasi 10%, 20%, 30%, 40%
dan 50% tidak dapat menghambat perumbuhan jamur Candida albicans ditunjukan
dengan tidak terbentukya zona hambat disekitar sumur. Hal ini terjadi karena
suspensi Candida albicans yang digunakan terlalu pekat/ banyak, volume infusa
daun sirih yang digunakan terlalu sedikit dan konsenrasi infusa daun daun sirih
terlalu rendah/ belum cukup untuk dapat menghambat pertumbuhan jamur. Data
yang diperoleh tidak sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa infusa daun
sirih memiliki aktivitas antifungi (menghambat pertumbuhan ) terhadap Candida
albicans pada konsentrasi 30% (Iqsari, 2017).
Daun sirih dapat memiliki aktivitas antifungi karena terdapat kandungan
senyawa kimia yang dapat menghambat pertumbuhan jamur diantaranya: minyak
atsiri, flavonoid, dan tannin. Minyak atsiri yang berisikan senyawa kimia seperti
fenol dan senyawa turunannya antara lainkavikol, eugenol, karvacrol, dan
allipyrocatechol. Dimana golongan phenylpropane (eugenol dan chavicol) dan
phenol (carvacrol) diketahui merusak membran sitoplasma, denaturasi protein sel,
serta mencegah pembentukan dinding sel bakteri sehingga pertumbuhan jamur
terhambat (Sudiarti, 2010). Flavonoid akan membentuk kompleks dengan protein
membran sel yang menyebabkan terjadinya denaturasi protein sel. Hal ini
menyebabkan kerusakan pada dinding sel sehingga pertumbuhan jamur terhambat
(Nurswida, 2002). Tannin menghambat sistesis khitin yang digunakan untuk
pembentukan dinding sel pada jamur dan merusak membrane sel sehingga
pertumbuhan jamur terhambat (Nurswida, 2002).
KESIMPULAN
Berdasarknan percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:

Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Iqsari, Rosma, (2017), Uji Daya Hambat Rebusan Daun Sirih Hijau (Piper Betle
L.) Segar Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans, Politeknik Kesehatan
Kendari, Kendari.
Irianto, Koes. (2006). Mikrobiologi Jilid I. Bandung: Yrama Widya
Lullmann, H., Ziegler, A., Mohr, K., Bieger, D., (2000), Color Atlas of
Pharmacology, Second Edition, Thieme Stuttgart, New York.
Nurswida, I, (2002), Efektifitas Infusa Daun Sirih Dalam Menghambat
Pertumbuhan Candida Albicans (Uji In Vitro), Universitas Brawijaya,
Sudiarti, Diah, (2010), Perbedaan Daya Hambat Ekstrak Dan Rebusan Daun Sirih
Hijau (Piper Betle) Terhadap Pertumbuhan Candida Albicans, Universitas
Jember, Jember.
Siregar, S, (2012), Karakteristik Candida albicans, Yayasan Pustaka Obor
Indonesia, Jakarta.