Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

“MANAJEMEN INFORMASI DALAM PENANGGULANGAN BENCANA ALAM


BERBASIS SID (SISTEM INFORMASI DESA)”

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Sistem Informasi Manajement


Dosen Pengampu : Prof. Dr. Ir. H. Hapzi Ali, CMA, MM, MPM

Disusun oleh :

Teguh Santoso 530024421.

MAGISTER MANAJEMEN
BIDANG MINAT MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
UNIVERSITAS TERBUKA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana adalah persitiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan atau
faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis di luar
kemampuan masyarakat dengan segala sumber dayanya.
Negara tercinta kita Indonesia seolah-olah tidak pernah berhenti menerima cobaan
berupa bencana alam yang silih berganti terjadi di seluruh wilayah Indonesia dalam periode
waktu yang berdekatan. Masih segar dalam ingatan kita ketika headline seluruh surat kabar
dalam negeri memuat berita-berita bencana tersebut. Mulai dari bencana meletusnya gunung
merapi, banjir, maupun gempa dan tsunami. Terdapat satu persamaan dari isi berita-berita
tersebut adalah adanya korban-korban yang seharusnya dapat dihindari jika bencana tersebut
dideteksi lebih awal sebelum terjadi. Selain pendektisian dini faktor yang tidak kalah penting
ketika bencana terlanjur terjadi adalah penanganan paska bencana yang tepat, cepat dan
berkesinambungan.
Dalam Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana,
dikemukakan, ”bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat, yang disebabkan baik oleh faktor alam
dan/ atau faktor nonalam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”.
Sekretariat Strategi Internasional untuk Pengurangan Bencana atau International
Strategy for Disaster Reduction - Perserikatan Bangsa-Bangsa (ISDR 2004), mendefinisikan
bahwa bencana adalah suatu gangguan serius terhadap keberfungsian suatu masyarakat
sehingga menyebabkan kerugian yang meluas pada kehidupan manusia dari segi materi,
ekonomi atau lingkungan dan yang melampaui kemampuan masyarakat tersebut untuk
mengatasinya dengan menggunakan sumberdaya mereka sendiri.
Bencana alam adalah suatu peristiwa alam yang mengakibatkan dampak besar bagi
populasi manusia. Peristiwa alam dapat berupa banjir, letusan gunung berapi, gempa bumi,
tsunami, tanah longsor, badai salju, kekeringan, hujan es, gelombang panas, hurikan, badai
tropis, tornado, kebakaran liar dan wabah penyakit. Beberapa bencana alam terjadi tidak
secara alami. Contohnya adalah kelaparan, yaitu kekurangan bahan pangan dalam jumlah
besar yang disebabkan oleh kombinasi faktor manusia dan alam.
Jenis-jenis bencana menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, antara lain:
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus,
banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi
dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan terror (UU RI, 2007).
Informasi merupakan salah satu sumber daya yang sangat diperlukan bagi
managemen dalam pengambilan keputusan, termasuk dalam lingkup bencana. Sebuah jalur
informasi yang efisien dan sistematis berbasis teknologi sangat diperlukan pada saat
terjadinya bencana dengan tujuan mendapatkan informasi yang sahih. Informasi yang sahih
diperlukan untuk membantu penanganan bencana yang menghendaki kecepatan dalam
membantu korban, mendorong berbagai masyarakat ikut andil dalam memberikan bantuan.
Bencana apapun, kebutuhan akan informasi menjadi sangat kritis, media yang digunakan
baik elektronik maupun cetak (e-mail dan SMS, dll) berisikan pertanyaan mengenai
kondisi wilayah, kondisi korban, mencari sanak saudara, mencari bantuan, mencari
pertolongan. Di sisi lain, para relawan yang berusaha membantu juga tidak kalah pusingnya
mencari lokasi yang membutuhkan pertolongan, mencari alamat tempat pengiriman
bantuan, pengiriman makanan, obat-obatan, mencari lokasi longsor, menemukan
penampungan pengungsi, semua serba simpang siur tidak ada sumber informasi yang
terpusat, tidak ada komunikasi yang reliable. Oleh karena itu, kita akan membutuhkan
sebuah sistem informasi yang memungkinkan korban, sanak saudara maupun relawan,
pemerintah, tim SAR saling berinteraksi dan berkoordinasi satu sama lain. Masukan ke
sistem dapat berupa laporan dari tim SAR, relawan ORARI, bahkan masyarakat melalui
HP maupun telepon.
Perbaikan koordinasi dan manajemen penanggulangan di daerah rawan bencana
merupakan salah satu prioritas upaya kesiapsiagaan. Sistem infromasi manajemen
penanggulangan bencana, dapat disajikan sebagai salah satu wadah yang berperan dalam
pengkoordinasian tindakan tanggap darurat bencana. Dengan adanya koordinasi dan kerja
sama yang baik antar lintas sektor diharapkan penanggulangan bencana dapat lebih
terkoordinir dengan baik.
Dari permasalahan diatas berkat kemajuan teknologi telah mengubah segenap
aspek kehidupan masyarakat dan pemerintahan. Teknologi informasi adalah suatu
teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan,
menyusun, menyimpan dan memanipulasi data dalam berbagai cara. Teknologi informasi
dipakai untuk menghasilkan informasi yang berkualitas yaitu informasi yang relevan,
akurat dan tepat waktu. Informasi tersebut digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis dan
pemerintahan. Informasi yang digunakan untuk keperluan pemerintahan, merupakan
informasi yang strategis untuk mengambil keputusan. Teknologi ini menggunakan
seperangkat komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan dan
digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global
Dalam pemerintahan umumnya diwujudkan dalam bentuk electronic-
government (e-government/pemerintahan elektronik). Menurut Bank Dunia, definisi e-
government adalah penggunaan teknologi informasi oleh badan-badan pemerintahan yang
memiliki kemampuan untuk mewujudkan hubungan dengan warga negara, pelaku bisnis
dan lembaga-lembaga pemerintahan yang lain. Tujuannya agar hubungan-hubungan tata-
pemerintahan (governance) yang melibatkan pemerintah, swasta dan masyarakat dapat
tercipta sedemikian rupa sehingga lebih efisien, efektif, produktif dan responsif. Intinya, e-
government adalah penggunaan teknologi yang diharapkan dapat menjadi wahana untuk
mempercepat pertukaran informasi, menyediakan sarana layanan dan kegiatan transaksi
dengan warga masyarakat, pelaku bisnis dan tentunya pihak pemerintah sendiri
Perkembangan telematika sebagai awal inisiatif penerapan e-government di Indonesia
telah dimulai awal tahun 2005 dengan digabungkannya Direktorat Jenderal Pos
dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) yang dahulu berada dibawah Departemen Sistem
Informasi Desa yang pada awalnya disebut SIDESA hingga akhirnya menjadi SID
memiliki dua engertian, dalam arti sempit dan luas. Dalam arti sempit SID dimaksudkan
sebagai sebuah aplikasi yang membantu pemerintah desa dalam mendokumentasikan data-
data milik desa guna memudahkan proses pencariannya. Sedangkan dalam arti luas, SID
diartikan sebagai suatu rangkaian atau sistem (baik mekanisme, prosedur hingga
pemanfaatan) yang bertujuan untuk mengelola sumberdaya yang ada di komunitas.
Sistem Informasi Desa (SID) merupakan rangkaian dari beragam perangkat
terknologi informasi dan aplikasi perangkat lunak yang dioperasikan oleh perangkat desa.
Sistem yang dibangun sejak tahun 2009 ini digunakan untuk mendukung percepatan dan
kualitas kerja pelayanan publik oleh perangkat desa kepada masyarakat desa setempat.
Masyarakat desa dapat pula mengakses data dan informasi publik melalui beragam
perangkat teknologi informasi, baik di wilayah desa setempat maupun di luar wilayah desa.
Pemanfaatan sistem ini akan memperkuat dasar-dasar perencanaan dan pengambilan
keputusan dalam proses pembangun desa. Strategi pengembangan dan pemanfaatan SID
ini menjadikan desa siap menjadi desa yang terbuka dan akuntabel.

SID dibangun dengan berbasis komputer dan web, sehingga informasi-informasi


dapat diakses oleh setiap warga. Sedangkan lisensi SID dikembangkan dengan
menggunakan platform sistem operasi terbuka-bebas (free and open source) yang berarti
dapat digunakan, disalin, didistribusikan, dipelajari, dimodifikasi maupun ditingkatkan
kinerjanya oleh siapapun dan dimanapun sesuai dengan kebutuhan lapangan. Sistem ini
merupakan sistem yang berbasis web (web based) dan telah dikembangkan sejak tahun
2005. SID mulai diaplikasikan untuk membantu kinerja desa pada tahun 2009
BAB II
PEMBAHASAN

Studi tentang Sistem Informasi Manajemen (SIM) muncul di tahun 1970-an yang
memusatkan pada sistem informasi berbasis komputer bagi para manajer (Davis dan Olson,
1958). Pengertian SIM menurut Kenneth C. Laudon & Jane P. Laudon (2005) menjelaskan
SIM adalah studi mengenai sistem informasi yang fokus pada penggunaan sistem informasi
dalam bisnis dan manajemen. Komponen - komponen yang terdapat dalam SIM yaitu
komponen input, komponen model, komponen output, komponen teknologi, komponen
basis data, dan komponen kontrol.
Salah satu implementasi SIM di lapangan adalah salah Implementasi Sistem
Informasi Desa (SID) yang merupakan rangkaian dari beragam perangkat terknologi
informasi dan aplikasi perangkat lunak yang dioperasikan oleh perangkat desa.
Penanggulangan bencana berbasis komunitas saat ini telah diakui sebagai cara
penanggulangan bencana yang efektif. Desa sebagai unit pemerintahan terkecil di
Indonesia memiliki peran yang sangat strategis dalam penanggulangan bencana berbasis
komunitas. Pendekatan multipihak dalam penanggulangan bencana telah dijawab dengan
model Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa. Pendekatan pengurangan resiko
bencana mensyaratkan prinsip partisipasi masyarakat sebagai nilai utama. Orientasi
pengurangan resiko bencana meliputi seluruh fase, baik pra bencana, tanggap darurat dan
rehabilitasi dan rekonstruksi. SID merupakan instrumen pendukung yang harus diletakkan
bersama instrumen lainnya dalam sistem penanggulangan bencana. Artinya SID menjadi
alat yang signifikan untuk mendokumentasikan kebutuhan warga di semua tahapan
penanggulangan bencana. Penerapan SID di wilayah rawan bencana pada titik optimumnya
dapat menghasilkan pola perencanaan dan penganggaran dan pembangunan yang
berperspektif pada pengurangan resiko bencana.
Untuk mendukung peran FPRB Desa dalam penanggulangan bencana, dibutuhkan
sistem pendukung yang kuat. Salah satunya adalah dukungan berupa pengelolaan
informasi yang akurat dan aktual. Sistem informasi yang baik akan menjadi alat pendukung
koordinasi, perencanaan dan pengambilan keputusan dan pemantauan yang efektif. Meski
masih memerlukan penyempurnaan yang terus menerus, Sistem Informasi Desa untuk
Kebencanaan (SID) yang telah diujicoba pada beberapa desa di wilayah rawan bencana
layak untuk diimplementasikan dalam wilayah yang lebih luas.
SID hanyalah sistem pendukung. Karena itu dia memilik keterbatasan. Efektif
tidaknya fungsi SID sangat ditentukan oleh peran para pihak yang bertanggung jawab atas
penanggulangan bencana di tingkat desa maupun level yang lebih tinggi. Disisi lain SID
hanya akan bermanfaat secara optimal jika dijalankan menjadi program resmi pemerintah
desa yang didukung oleh warga beserta pemangku kepentingan lainnya. Tanpa kedua hal
tersebut SID tidak akan berjalan sesuai dengan fungsinya.
Ada 3 (tiga) aspek yang menentukan keberhasilan penerimaan (receptive) teknologi,
yang dikaitkan dengan keadaan masyarakat dan lingkungan. Masing-masing adalah:
perangkat teknologi (hardware of technology), seperti perangkat mesin, tapi juga menekankan
keterlibatan masyarakat dalam proses, yang disebut dengan perangkat lunak ( software) dan
pengorganisasian (orgware) dari teknologi.
1.Perangkat Teknologi (hardware of technology)
SID sebagai Teknologi Informasi yang terkait dalam wahana sistem komputer hanya dapat
dioperasikan di wilayah yang memiliki ketersediaan listrik dan elemen-elemen pendukung
sistem itu sendiri, termasuk yang dikenal dengan hardware (perangkat keras)
2.Perangkat Lunak ( software)
Yang dimaksud dengan software (perangkat lunak) adalah selain aplikasi yang digunakan juga
merujuk pada kapasitas dan seluruh proses yang dilibatkan dalam menggunakan teknologi.
3. Pengorganisasian (orgware)
Jika SID ingin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat secara lebih luas, maka SID
membutuhkan aspek lain untuk mendukung pelaksanaannya, yaitu orgware.
Orgware yang diharapkan adalah regulasi di tingkat kabupaten/ propinsi/ nasional
yang mengatur pendayagunaan data dan informasi melalui SID. Aspek ini memperjelas
pentingnya keterlibatan masyarakat sebagai penentu dalam keberhasilan penyiapan
teknologi.

1. Tampilan Peta Rawan Bencana


Sistem Informasi Desa (SID) bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu pengurangan
risiko bencana. Data dan informasi yang dikelola dengan SID mengikuti siklus
penanggulangan bencana yang lazim digunakan, yaitu fase pra bencana, saat bencana dan
pasca bencana. Dalam system ini juga dapat menampilkan gambaran tentang lokasi rawan
bencana di suatu desa sangat jelas digambarkan dalam sebuah peta. Peta rawan bencana
umumnya digunakan untuk menggambarkan lokasi yang perlu mendapat prioritas
penyelamatan jika terjadi bencana.

Gambar 1. Tampilan Peta Rawan Bencana Dusun Kliwang, Ds. Argomulyo

Dalam SID, peta rawan bencana diintegrasikan dengan basis data penduduk dan Sistem
Informasi Geografis (SIG) yang berisi data tematik. Data keluarga yang berada di lokasi rawan
bencana bisa langsung teridentifikasi. Informasi tentang jalur evakuasi, sarana publik yang
bisa digunakan untuk penyelamatan dan sebagainya bisa dimasukkan untuk melengkapi peta
rawan bencana tersebut.

Gambar 2. Tampilan SIG dalam SID


Peta rawan bencana yang diintegrasikan dengan basis data penduduk bisa dengan cepat
digunakan untuk memperkirakan jumlah warga yang perlu diselamatkan disertai informasi
tentang jenis kelamin, usia dan penyandang disabilitas. Dengan informasi ini, kebutuhan
armada evakuasi dan tempat pengungsian menjadi lebih mudah diperkirakan.

2. Data Kelompok Rentan


Data kelompok rentan dalam SID dibagi dalam kelompok warga usia lanjut (lansia),
bayi dan anak (balita), penyandang difabilitas dan ibu hamil. SID membagi data penduduk
berdasarkan kelompok umur dalam 6 kategori, yaitu balita (0-5 tahun), anak-anak (6-12
tahun), remaja (13-17 tahun), dewasa (18-50 tahun) dan (51-65 tahun) lanjut usia (> 66 tahun).

Gambar 3. Tampilan Rentang Umur Warga


Data kelompok umur sangat penting dalam pengurangan risiko bencana. Melalui data ini, desa
bisa mengetahui penduduk rentan bencana berdasarkan usia, yaitu kelompok balita dan lansia.
Dan data lain juga dapat ditampilkan dalam system ini, mulai dari jenis pekerjaan, golongan
darah, no HP, dan penyandang disabilitas.

3. Data Saat Bencana


Saat terjadi bencana, ketersediaan data dan informasi yang cepat dan akurat sangat
menentukan keberhasilan program-program tanggap darurat dan pemulihan awal. SID
menyediakan fasilitas pengelolaan data dan informasi saat bencana yang terdiri dari 4 bagian,
sebagai berikut:
• Penyebarluasan Sistem Peringatan Dini
• Mendukung Koordinasi
• Data Korban
• Pencarian Orang Hilang
Dengan adanya SID, Sistem peringatan dini sangat membantu warga dalam mengantisipas
dan merespon kejadian bencana. Sistem peringatan dini bukan saja terkait dengan fungsi alat
pendeteksi kejadian, namun juga terkait dengan cara penyebarluasan peringatan dini secara
cepat dan menjangkau wilayah yang berisiko tinggi. SID menyediakan fasilitas SMS Gateway
yang bisa digunakan untuk mendukung penyebarluasan informasi peringatan dini.

Gambar 4. Fungsi SID Sebagai Penyebarluasan Peringatan Dini

Dengan adanya system ini data korban dan pencarian orang hilang dapat diinventarisasi
sehingga mempermudah dalam pertolongan.

4.Pasca Bencana
Ketersediaan data dan informasi sangat dibutuhkan untuk mendukung program-
program rehabilitasi dan rekonstruksi. SID menyediakan fasilitas pengelolaan data dan
informasi pasca bencana yang terdiri dari 4 bagian, sebagai berikut: berupa data kerusakan,
kerugian, rehabilitasi dan bantuan
BAB III
KESIMPULAN
Penggunaan sistem informasi berbasis komputer dalam penanganan bencana (pra bencana,
saat bencana dan pasca bencana) dalam bentuk SIstem Informasi Desa (SID) sangat
bermanfaat dalam peningkatan penanganan terjadinya bencana, khususnya dapat membantu
dalam berbagai aspek
1. Pra Bencana: membantu proses pendataan warga
2. Saat Bencana: membantu proses mempercepat tersebarnya informasi bencana sehingga
dapat meminimalisasi timbulnya korban jiwa,
3. Pasca Bencana dapat mengkoordinir bantuan bencana sehingga tiba pada lokasi yang
tepat, dapat membantu estimasi kerusakan, jumlah korban dan jenis bantuan yang
dibutuhkan
Sistem ini sangat bagus untuk direplikasi di lokasi rawan bencana lainnya. namun system ini
harus dijaga dan dimonitor oleh pihak terkait guna terus terjaga kehandalan system tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Ahyudin (2005), Peran Masyarakat Dalam Penanganan Bencana,


http://www.mpbi.org/pustaka/files/Makalah%20 Ahyudin.pdf.
Aini, A. Sistem Informasi Geografi Pengertian dan Aplikasinya. STMIK AMIKOM Yogyakarta.
Yogyakarta. (diakses tgl 7 Januari 2010)
Ambar Sari Dewi (2010), “Membangun Sistem Informasi Desa”,. Yogyakarta: Combine Resource
Institution.
AusAID, OXFAM, IDEA (2012), “Modul 04: Integrasi RAM-PRB dalam Perencanaan
Pembangunan”. Seri Pelatihan Tata Kelola Pengurangan Resiko Bencana. Yogyakarta.
BNPB, BPPTKG, PSMB UPN “Veteran”, Pasag Merapi (2012), “Buku Wajib Latih
Penanggulangan Bencana Lahar Hujan Gunungapi Merapi”,. Yogyakarta.
Donny B.U, (2004), “Fakta & Kondisi e-Government di Indonesia”. Paparan Seminar Teknologi
Informasi: Solusi Permasalahan Social Engineering dalam penerapan E-Government.
Bandung: 9 Maret 2004.
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa
Ranggoaini Jahja dkk (2012), “Sistem Informasi Desa: Sistem informasi dan Data untuk
Pembaharuan”,. Yogyakarta. Combine Resource Institution.
Wau, Wilhem (2012), “Sistem Informasi Desa: Mengelola Sumber Daya Lokal untuk
Kemandirian Desa”,.Yogyakarta: Combine Resource Institution.
http://kumoro.staff.ugm.ac.id/?act=daftar&id=18&mulai=10
http://www.aptel.depkominfo.go.id/content/view/103/27//