Anda di halaman 1dari 112

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan global di negara-

negara berkembang. Salah satunya adalah Negara Indonesia, karena

kebanyakan penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan

sehingga masyarakat Indonesia sulit mendapatkan kesehatan.

Masalah kesehatan yang menjadi sorotan salah satunya yaitu penyakit

diare, karena penyakit ini merupakan penyakit menular yang

penyebarannya dapat mempercepat angka kesakitan dan kematian yang

relatif tinggi dalam kurun waktu yang singkat terutama anak. Diare

merupakan penyebab kematian nomor 2 setelah Pneumonia, proporsi

penyebab kematian pada bayi post neonatal sebesar 17,4% dan pada balita

13,3% (Litbangkes, 2011 dikutip dari Direktorat Jendral Pengendalian

Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2015).

Kajian Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat (2016) di

Jawa Barat penyakit diare menjadi penyakit menular yang penyumbang

angka Kejadian Luar Biasa (KLB) tertinggi yaitu 1.084.766 kasus.

Sedangkan KLB kasus diare di Kota Cirebon berjumlah 6.303 kasus, dan

di Kabupaten Cirebon mencapai 32.342 kasus.

1
Kejadian di atas memberikan pacuan kepada kita sebagai warga

Indonesia agar mengkritisi masalah ini. Penanganan yang cepat dan

tepatlah yang harus dilakukan karena diare dengan dehidrasi berat dapat

menimbulkan kematian. Namun dari beberapa fenomena yang terjadi

tentang penanganan diare yang digambarkan dari hasil penelitian di

masyarakat yaitu Kementerian Kesehatan (2011) sebanyak 35%

respondens memberikan oralit, 22% pemberian larutan gula garam (LGG),

61% pemberian sirup atau pil, 14% diberi obat tradisional, 30% diberi

minuman lebih banyak. Haryanti dan Sunardi (2010) 78,9% respondens

memberikan oralit atau LGG, air tajin dan air sayur kepada anak yang

diare. Yamin, Windani dan Sari (2008) 70,3% respondens pemberian

asupan air susu ibu (ASI), air tajin, air sop, kuah sayur dan teh manis.

Dwiriyanti, Syafira dan Suyanto (2015) sebanyak 63,8% dengan

pemberian ASI dan oralit. Dan hasil penelitian Supono (2008) 57,1% obat

tradisional, oralit dan LGG.

Hasil lima penelitian di atas hampir seluruhnya menyimpulkan

bahwa sikap masyarakat lebih tergerak dalam penanganan rehidrasi seperti

pemberian oralit atau air tajin, air sayur, air manis, maupun pemberian

obat-obatan tradisional. Seharusnya bukan hanya penanganan rehidrasi

saja tetapi pemberian makanan yang cukup dan pemberian rasa nyaman

juga diperhatikan. Karena bukan masalah dehidrasi saja yang dirasakan,

namun kebutuhan nutrisi yang kurang juga dapat memperburuk keadaan.

6
3

Dari kejadian inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan studi

kasus pada pasien diare.

B. Rumusan Masalah

Penanganan diare salah satu tindakan yang harus dilakukan untuk

mengatasi gangguan keseimbangan elektrolit yang dapat menyebabkan

dehidrasi pada anak, gangguan asam basa, hipoglikemia, gangguan

sirkulasi serta dampaknya yang luas terhadap status gizi anak dan dapat

menyebabkan komplikasi serta kematian. Penanganan diare secara

komprehensif dan efektiflah yang dilakukan dapat menurunkan angka

kematian bayi sekaligus meningkatkan status gizi balita yang pada

akhirnya akan meningkatkan kesehatan anak.

Dari fenomena tersebut penulis menetapkan rumusan masalah

“Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Anak Todler dengan Diare di

Ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon ?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan yang sesuai pada

anak todler dengan diare melalui proses keperawatan.

2. Tujuan Khusus

Setelah mengaplikasikan asuhan keperawatan pada anak todler

dengan diare penulis dapat :

a. Melalukan pengkajian asuhan keperawatan pada anak todler dengan

Diare di Ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun.


4

b. Merumuskan diagnosa keperawatan dalam asuhan keperawatan pada

anak todler dengan Diare di Ruang Ade Irma Suryani RSUD

Arjawinangun.

c. Menyusun intervensi dalam asuhan keperawatan pada anak todler

dengan Diare di Ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun.

d. Melakukan tindakan keperawatan dalam asuhan keperawatan pada

anak todler dengan Diare di Ruang Ade Irma Suryani RSUD

Arjawinangun.

e. Mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan pada anak todler

dengan Diare di Ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Penulis

Mendapatkan pengalaman serta pengetahuan dan menerapkan

ilmu- ilmu keperawatan khususnya ilmu keperawatan anak.

2. Bagi Profesi Keperawatan

Dapat digunakan sebagai ladang informasi bagi institusi

pendidikan dan profesi keperawatan khususnya dalam pengembangan dan

peningkatan mutu pendidikan dimasa yang akan datang.

3. Bagi Rumah Sakit

Sebagai sarana untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu-

ilmu terbaru dalam proses keperawatan.


5

4. Bagi Perkembangan Ilmu dan Teknologi

Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan informasi tambahan

yang dapat mengembangkan ilmu keperawatan yang berhubungan dengan

asuhan keperawatan dengan diare.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Biomedis Diare

1. Definisi

Kyle dan Carman (2016: 748) mengatakan bahwa “diare adalah

peningkatan frekuensi atau penurunan konsistensi feses. Diare pada anak

dapat bersifat akut atau kronik”.

Sodikin (2012: 118) mengatakan “diare adalah defekasi encer lebih

dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan/atau lendir dalam feses.

Secara epidemiologik, biasanya diare didefinisikan sebagai pengeluaran

feses lunak atau cair tiga kali atau lebih dalam satu hari”.

Wong (2009: 993) mengatakan bahwa “diare merupakan

peningkatan frekuensi defekasi dengan semakin besarnya kandungan air di

dalam feses sebagai akibat dari perubahan transportasi air dan elektrolit

oleh traktus GI (gastrointestinal)”.

Dari pengertian diatas disimpulkan bahwa diare merupakan suatu

keadaan pengeluaran tinja dengan konsistensi yang cair atau lunak baik

disertai lendir atau darah dengan frekuensi lebih dari tiga kali sehari.

6
7

2. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem organ pencernaan adalah sistem organ yang menerima

makanan mencerna untuk dijadikan energi dan nutrien, serta mengeluarkan

sisa proses tersebut. Pada dasarnya sistem pencernaan makanan yang

terbentang dari mulut atau oris sampai ke anus dalam manusia dibagi

menjadi tiga bagian:

1. Proses penghancuran makanan yang terjadi di dalam mulut sampai ke

lambung.

2. Proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi di dalam usus.

3. Proses pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus (Syaifuddin, 2012:


504).
Gambar 2.1

Sistem Pencernaan Manusia

Sumber: https://www.saintlukeskc.org
8

a. Mulut

Mulut merupakan rongga awal pencernaan, hal ini seringkali

menjadi kesempatan patogen masuk lewat mulut dan menimbulkan

infeksi. Karena anak sering memasukan sesuatu ke dalam mulutnya,

sehingga perilaku ini meningkatkan terjadinya resiko infeksi (Kyle &

Carman, 2016). Di dalam mulut terdapat bibir bagian eksternal yang

ditutupi kulit dan bagian interna yang dilapisi oleh epitel yang

mengandung mukosa. Kemudian terdapat pipi sebagai alat kelengkapan

mulut bagian luar dilapisi oleh selaput lendir (membran mukosa), dan di

dalam mulut terdapat gigi (dentis) merupakan alat bantu yang berfungsi

untuk mengunyah makanan dan berbicara. Terdapat dua bagian gigi, yaitu:

1) Gigi sulung (gigi susu), tumbuh saat usia 6-8 bulan dan akan lengkap pada

usia 2,5 tahun dengan 8 gigi seri (dens insisivus) berguna untuk memotong

makanan, 4 buah gigi taring (dens kaninus) gunanya untuk memotong dan

8 gigi geraham (dens molare) untuk menggiling dan menghancurkan

makanan.

2) Gigi permanen (gigi tetap), tumbuh usia 6-18 tahun dan berjumlah 32

buah. Susunannya sama dengan gigi susu namun ditambah dengan gigi

geraham premolar sebanyak 12 buah, sebagai peyempurnaan dari gigi susu

(Syaifuddin, 2012).

Selain itu di dalam mulut juga terdapat lidah yang membantu

menentukan citra rasa dan menelan serta terdapat beberapa kelenjar ludah

seperti kelenjar parotis sebagai kelenjar terbesar, kelenjar submandibularis


9

kelenjar terbesar sesudah parotis dan kelenjar sublingualis adalah kelenjar

terkecil. Kelenjar ini berfungsi untuk mengeluarkan saliva (air liur) untuk

membantu mencerna makanan (Pearce, 2011).

b. Faring

Menurut Syaifuddin (2012) faring terdiri dari tiga bagian yaitu

nasofaring merupakan bagian superior yang menghubungkan hidung

dengan faring, orofaring penghubung antara rongga mulut dengan faring,

dan bagian terakhir laringofaring merupakan bagian inferior penghubung

antara laring dengan faring. Sedangkan Pearce (2011: 218) mengatakan

faring atau tekak yang terletak di belakang hidung, mulut dan laring

(tenggorokan) berupa saluran kerucut tersusun dari membran berotot

(muskulo membranosa) dengan panjang rata-rata 7 sentimeter (cm).

c. Esofagus

Esofagus berfungsi sebagai jalan masuk makanan dari mulut ke

lambung dan memiliki sfingter atau otot cincin di daerah bawah esofagus

untuk mencegah aliran balik isi lambung ke esofagus dan/atau ke mulut

(Kyle & Carman, 2016). Esofagus merupakan tuba otot dengan ukuran 8-

10 cm dari kartilago krikoid sampai kardia lambung. Panjangnya

bertambah selama 3 tahun setelah kelahiran, dan saat dewasa organ ini

mencapai panjangnya 21-20 cm (Sodikin, 2012).

d. Lambung

Bayi baru lahir memiliki kapasitas lambung 10 hingga 20 mililiter

(ml), saat usia 2 bulan kapasitasnya bertambah menjadi 200 ml. Lambung
10

memiliki asam hidroklorida untuk membantu mencerna makanan dalam

lambung (Kyle & Carman, 2016). Lambung terdiri dari tiga bagian yaitu

fundus sebagai batang utama, pilorik yang berada di bagian bawah dan

horizontal, dan kardia sebagai penghubung lambung dengan esofagus.

Lambung menerima makanan dari esofagus dan sebagai penampung

makanan sementara (Pearce, 2011).

e. Usus Halus

Usus halus terbagi menjadi tiga bagian yaitu duodenum, jejunum

dan ileum. Organ ini memiliki panjang 300-350 cm saat lahir dan

meningkat sekitar 50% selama setahun pertama kehidupan, dan berukuran

± 6 meter saat dewasa. Duodenum merupakan bagaian terpendek dari usus

halus yaitu sekitar 7,5-10 cm (Sodikin, 2011). Usus halus berfungsi

sebagai mencerna dan mengabsorpsi zat makanan. Terdapat cairan cerna

yaitu empedu untuk memecah lemak dan getah pankreas. Getah pankreas

terdapat tiga enzim yaitu enzim amilase sebagai pengubah zat tepung

menjadi disakaridase, enzim lipase sebagai pemecah lemak menjadi

gliserin dan asam lemak, serta enzim tripsin yang mencerna protein

(Pearce, 2011).

f. Usus Besar

Usus besar atau kolon dengan panjang 1,5 meter yang berfungsi

sebagai absorpsi air, garam dan glukosa dan pembuangan air besar. Bila

zat makanan sampai sekum semua zat sudah di absorpsi dan tersisa isi

cairannya. Sekum terletak di iliaka kanan, dan naik terdapat kolon


11

asendens yang terletak di sebelah kanan lumbal, lalu di bagian tepi

epigastrik dan umbilikal terdapat kolon tranversus, dan kolon desenden di

samping lumbal kiri (Pearce, 2011).

g. Rektum dan Anus

Rektum terletak 10 cm di bawah usus besar, dimulai pada kolon

sigmoideus dan berakhir di saluran anal semua ini menyambung ke saluran

anus, di bagian anus terdapat serabut otot sirkular dan membentuk otot

sfingter interna dan eksterna (Pearce, 2011). Feses atau tinja akan

merangsang untuk terjadinya proses defekasi, keinginan defekasi timbul

bila tekanan rektum meningkat ±18 milimeter merkuri hydrargyrum atau

milimeter raksa (mmHg), pada saat tekanan mencapai 55 mmHg, maka

sfingter anal akan berelaksasi dan feses dikeluarkan (Sodikin, 2011).

3. Etiologi

Menurut Hidayat (2012: 13) diare dapat disebabkan oleh beberapa

faktor diantaranya bakteri seperti escherchia coli, salmonella, shigella, dan

lain-lain. Virus seperti asenovirus, rotavirus, jamur seperti candida

enteritis atau faktor makanan seperti alergi susu atau protein. Faktor obat-

obatan atau juga faktor psikologis yaitu emosi atau adanya stress. Virus

yang mengakibatkan diare dapat menginfeksi dan merusak sel-sel di ujung

usus halus (Widagdo, 2012).

Selain patogen, makanan dan lingkungan yang terkontaminasi

diare bisa disebabkan oleh pemakaian antibiotik. Seperti yang telah

disebutkan oleh Berhman Kliegman dan Arvin, 2000 dikutip dalam Wong,
12

2009 bahwa pemakaian antibiotik juga berkaitan dengan diare. Antibiotik

dapat mengubah flora usus yang normal, dan penurunan jumlah bakteri

kolon akan mengakibatkan absorpsi hidrat arang yang berlebihan serta

diare osmotik. Diare osmotik merupakan kondisi yang terjadi akibat

gangguan penyerapan zat yang disebabkan oleh kelainan pada usus halus

(Sodikin, 2012: 16).

Rotavirus merupakan agens paling penting yang menyebabkan

penyakit diare disertai dehidrasi pada anak-anak kecil di seluruh dunia.

Gejalanya dapat berkisar mulai dari gambaran klinik tanpa manifestasi

gejala sehingga kematian akibat dehidrasi. Secara klinis penyebab diare

yang sering ditemukan akibat infeksi dan keracunan (Departemen

Kesehatan Republik Indonesia, 2011).

Sedangkan Wong (2009: 999) mengatakan kebanyakan

mikroorganisme patogen penyebab diare disebarluaskan lewat jalur fekal-

oral melalui makanan atau air yang terkontaminasi atau ditularkan antar

manusia dengan kontak yang erat (misalnya pada tempat penitipan anak).

Kurangnya air bersih, tinggal berdesakan, hygiene yang buruk, kurang gizi

dan sanitasi yang jelek merupakan faktor resiko utama, khususnya untuk

terjangkit infeksi bakteri atau parasit yang pathogen.

4. Manifestasi Klinis

Widagdo (2012) mengatakan pada rotavirus masa inkubasi 1-7 hari

kemudian ditandai dengan demam, muntah dan sering mengalami diare

berair. Pada hari ke-2 demam dan muntah hilang, dan diare berlanjut
13

hingga 5-7 hari. Sedangkan enteritis adenovirus diare berlangsung lebih

lama yaitu 10-14 hari.

Gejala klinis pada diare menurut Kowalak & Hughes (2010) adalah

sebagai berikut:

a. Infeksi

Diare yang disebabkan oleh bakteri, virus dan protozoa feses akan

menjadi cair yang terjadi mendadak dengan ditandai gejala nyeri abdomen

serta keram, demam, mual, muntah, penurunan berat mungkin disertai

feses berdarah dan berlendir.

b. Intoleransi Laktosa

Diare terjadi setelah anak mengkonsumsi susu atau produk yang

terbuat dari susu. Biasanya anak mengalami keram dan nyeri abdomen,

terdapat suara “keroncongan”, rasa begah, mual dan kembung.

c. Obat antibiotik

Diare juga dapat terjadi akibat kelainan fatal setelah pemberian

antibiotik yang menyebabkan diare encer, berwarna hijau, berbau busuk,

berdarah dan timbul tanda-tanda syok. Serta timbul gejala lain seperti

nyeri dan distensi abdomen, demam dan dehidrasi.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (2009) mengatakan demam terjadi

karena proses peradangan atau akibat dehidrasi. Mual dan muntah dapat

disebabkan oleh organisme yang menginfeksi saluran pencernaan bagian

atas.
14

5. Patofisiologi

Perjalanan penyakit diare menurut Kowalak, Welsh & Mayer,

(2012: 343) diare merupakan peningkatan volume feses dan peningkatan

defekasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti adanya air di dalam

kolon, makanan atau zat yang tidak dapat diserap. Paling sering diare akut

disebabkan oleh virus yang berkaitan dengan enteropatogen bakteri atau

parasit. Virus yang masuk melukai sel vilosa matur, menyebabkan

absorpsi cairan menurun dan defisiensi disakaridase. Sedangkan bakteri

menciderai usus hingga menginvasi mukosa usus, merusak permukaan

vilosa atau melepas toksin (Kyle & Carman, 2016). Mikroorganisme yang

masuk ke dalam saluran cerna ini berkembang dalam usus dam merusak

sel-sel mukosa usus sehingga menurunkan daerah permukaan usus

kemudian terjadi perubahan kapasitas usus dan terjadi gangguan fungsi

usus untuk mengabsorpsi cairan dan elektrolit. Kegagalan dalam

melakukan absorpsi dapat meningkatkan tekanan osmotik sehingga terjadi

pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan akhirnya

meningkatkan isi rongga usus sehingga terjadi diare. Faktor makanan juga

dapat mengakibatkan diare apabila terdapat patogen dalam makanan,

toksin yang masuk saluran cerna tidak dapat diserap dengan baik, sehingga

terjadi peningkatan peristaltik kemudian terjadi diare (Hidayat, 2012: 12).

Menurut Amin (2015) mengatakan bahwa diare yang berlangsung

tanpa penanganan medis dapat menyebabkan kematian akibat kekurangan

cairang dan elektrolit dalam tubuh yang mengakibatkan renjatan


15

hipovolemik atau akibat gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik.

Asidosis metabolik juga dapat disebabkan pembentukan asam yang

berlebihan dalam tubuh, kegagalan ginjal dalam mengsekresikan asam-

asam organik dalam tubuh (Masyoer, 2013). Kehilangan cairan

menimbulkan rasa haus, berat badan menurun, mata cekung, turgor kulit

menurun, lidan dan bibir menjadi kering. Gejala ini muncul akibat deplesi

air yang isotonik.

Gangguan kardiovaskular akibat renjatan hipovolemia berat dapat

menimbulkan tekanan darah menurun dan takikardi. Pasien mulai gelisah,

wajah pucat, ujung-ujung ekstremitas menjadi dingin dan kadang sianosis.

Tekanan darah yang menurun mengakibatkan gangguan perfusi ginjal

sehingga terjadi anuria atau oliguria.

Tanda awal dehidrasi dapat terjadi pada stadium awal yaitu Na dan

Cl keluar bersama dengan cairan tubuh. Pengeluaran cairan yang terus

menerus terjadi reabsorpsi yang berlebihan oleh ginjal sehingga Na dan Cl

ekstrasel meningkat (hipertonik). Peningkatan osmolaritas ektrasel ini

mengakibatkan penarikan air dari dalam sel sel menjadi dehidrasi sehingga

terjadi stimulasi hipofisis untuk mengeluarkan hormon antidiuretik (ADH)

yang akhirnya menahan cairan dalam ginjal sehingga terjadi oliguri.

Kehilangan cairan dan elektrolit akibat dehidrasi membuat air tidak dapat

pindah dari sel ke dalam vaskuler, mengakibatkan cairan dalam vaskuler

berkurang. Aliran darah yang kurang menyebabkan tekanan darah

menurun dan terjadi syok (Tikada, 2014).


16

Menurut Kowalak, Welsh & Mayer, (2012: 343) terdapat tiga

mekanisme utama terjadinya diare, yaitu:

a. Diare osmotik merupakan suatu kondisi adanya substansi yang tidak dapat

diserap seperti gula sintesis, atau peningkatan osmotik di usus halus yang

mengakibatkan peningkatan tekanan osmotik dan adanya penarikan air

berlebih ke dalam usus halus sehingga mengakibatkan berat serta volume

feses.

b. Diare sekretorik, yaitu keberadaan mikroorganisme patogen atau tumor

akan mengiritasi otot dan lapisan mukosa intetinum. Serta peningkatan

motilitas dan sekret (air, eletrolit dan lendir) akan mengakibatkan diare.

c. Diare motilitas, yaitu kondisi inflamasi, neuropati, dan obstruksi

menimbulkan refleks kenaikan motilitas usus yang mendorong keluarnya

iritan dan melepaskan obstruksi.

Dari gambaran tersebut gangguan yang paling serius dari penyakit

ini yaitu terjadinya dehidrasi, ketidakseimbangan asam dan basa serta

terjadinya syok akibat dehidrasi berat sehingga terjadi gangguan yang

serius pada sistem sirkulasi dalam tubuh (Wong, 2009). Dari penjelasan

tersebut didapat bagan mengenai perjalanan penyakit diare sebagai berikut:


Bagan 2.1
Pathway Penyakit Diare

Makanan atau air yang terkontaminasi Bakteri Lingkungan yang buruk


Virus
Jamur
Gangguan
Mual/muntah Pertahanan tubuh
rasa nyaman
Memproduksi HCl Masuk saluran cerna
Napsu makan menurun Melepas toksin Peradangan Proses fagosit Pengeluaran pirogen endogen
Kebutuhan nutrisi
Kurang dari Penurunan asupan makanan Melukai sel mukosa usus Peningkatan Stimulasi epitel
kebutuhan tubuh Hipertermi hipotalamus
suhu tubuh
Gangguan kerja ginjal Dehidrasi Menginvasi mukosa usus
Asidosis metabolik
Pembuangan asam organik
Kerusakan mukosa usus Gangguan absorpsi Peningkatan tekanan osmotik
Penurunan pH darah (asam) Nyeri Diare cairan dan elektrolit
Transpor-aktif elektrolit
Kerusakan integritas kulit Area anus lecet Pengeluaran isi usus Hiperperistaltik Peningkatan cairan dalam
usus ke dalam usus halus
(feses) berlebihan
Kehilangan cairan dan Deplesi air yang Haus, mata cekung, lidah
Gangguan Hipovolemik Kekurangan volume cairan elektrolit ekstrasel Kering turgor kulit menurun
kardiovaskuler isotonik

Tekanan darah menurun Gangguan perfusi jaringan Gangguan perfusi ginjal Resiko Syok Anuria/ Oliguria Gangguan
pola eliminasi
Sumber: Wilkinson, 2016; Kyle & Carman, 2016; Amin, 2015; M ansyoer, 2013; Hidayat, 2012; Kowalak, Welsh & M ayer, 2012; Wong, 2009.

17
18

6. Klasifikasi Diare

Diare terdapat beberapa jenis atau klasifikasi, menurut

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015) terdapat beberapa jenis

diare diantaranya:

a. Diare dengan Dehidrasi Berat

Ditandai dengan adanya gejala:

1) Letargis atau tidak sadar

2) Mata cekung

3) Tidak bisa minum atau malas minum

4) Cubitan kulit perut kembali sangat lambat

b. Diare dengan Dehidrasi Ringan atau Sedang

Terdapat dua atau lebih gejala berikut:

1) Gelisah, rewel atau mudah marah

2) Mata cekung

3) Haus, minum dengan lahap

4) Cubitan kulit perut kembali lambat

c. Diare tanpa dehidrasi

Tidak adanya tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat

atau ringan/sedang.

d. Diare Persisten Berat

Diare berlangsung 14 hari atau lebih dengan disertai dehidrasi.

e. Diare Persisten

Diare berlansung 14 hari atau lebih tanpa disertai dehidrasi.


19

f. Disentri

Diare berlangsung 14 hari atau lebih disertai adanya darah dalam feses

atau tinja.

Sedangkan menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam

Buku Saku Lintas Diare (2011) mengatakan terdapat beberapa jenis diare,

yaitu:

a. Diare akut yaitu diare yang berlangsung selama kurang dari 14 hari.

b. Diare kronik atau persisten adalah diare yang berlangsung lebih dari 14

hari.

7. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut penjelasan Kyle & Carman (2016) pemeriksaan

diagnostik yang dilakukan pada pasien diare seperti pemeriksaan toleransi

laktosa, setelah menelan laktosa, uji ini memeriksa kadar hidrogen dalam

pernapasan yang akan meningkatkan penumpukan laktosa di usus. Berat

jenis urin dilakukan jika dicurigai dehidrasi. Pemeriksaan hitung darah

lengkap, kadar elektrolit serum, kreatinin dan ureum dilakukan jika anak

dalam perawatan rumah sakit.

Sedangkan Wong (2009: 999) mengatakan pemeriksaan kultur

feses dilakukan jika feses mengandung darah atau mukus. Pemeriksaan

feses untuk menemukan telur cacing dan parasit harus dilakukan bila

kultur bakteri serta virus negatif bila diare berlangsung lebih dari beberapa

hari. Pengukuran kadar elektrolit dalam feses membantu mengidentifi-

kasi anak-anak yang menderita diare sekretorik. Potensi hidrogen (pH)


20

feses yang kurang dari 6 dan keberadaan zat pereduksi dapat menunjukkan

adanya malabsorpsi hidrat arang atau atau defisiensi sekunder enzim

laktase.

Menurut Immi (2014) pemeriksaan diagnostik yang dilakukan pada

anak diare meliputi:

a) Pemeriksaan feses :

1) Makroskopis : bentuk tinja meliputi jumlah, warna, bau, lendir.

Biasanya pada anak diare jumlah tinja kurang dari 250 miligram (mg).

2) Mikroskopis : Natrium normal dalam tinja 56-105 miliequivalent per

liter (mEq/L), chloride dalam tinja (normal : 55-95 mEq/l), kalium

dalam tinja (normal : 25-26 mEq/l), Bikarbonat dalam tinja (normal :

14-31 mEq/l).

b) Pemeriksaan pH darah

PH dan kadar gula dapat diperiksa dengan kertas lakmus dan tablet clini

test bila diduga terjadi intoleransi gula.

c) Pemeriksaan darah

Darah lengkap meliputi elektrolit serum, kreatinin, BUN menunjukan

adanya dehidrasi, hemoglobin, hematokrit, dan BUN biasanya mengalami

penurunan pada diare akut. Nilai normal hemoglobin adalah 13-16 gram

per desiliter (g/dL), hematokrit normalnya 40-48 vol%.

d) Analisa gas darah

Asidosis metabolik (pH darah menurun, tekanan oksigen [PO 2 ] meningkat,

bikarbonat [HCO 3 ] menurun).


21

e) Pemeriksaan kadar urin dan kreatinin

Untukmengetahui faal ginjal atau fungsi ginjal: urin normal 20-40

miligram per desiliter (mg/dL), jika terjadi peningkatan menunjukkan

adanya dehidrasi. Kretinin normal dalam urin 0,5-1,5 mg/dL, terjadi

peningkatan kreatinin menandakan adanya penurunan fungsi ginjal.

f) Serum elektrolit

Hiponatremi (natrium dalam darah kurang dari 135 mEq/dL, nilai normal

140+/- 5 mEq/L) disebabkan oleh retensi air atau kehilangan natrium.

Hipernatremi (kadar natrium plasma lebih dari 145 mEq/L) disebabkan

oleh kehilangan cairan tubuh, berkurangnya asupan cairan atau

bertambahnya asupan natrium. Hipokalemi (nilai kalium kurang dari 3,5

mEq/L, normalnya 3,5-5 mEq/L).

8. Penatalaksanaan Medis

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015) dalam Buku

Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), penanganan pada anak

dengan diare berdasarkan klasifikasi atau jenis diare dilakukan sebagai

berikut:
22

Tabel 2.1

Penatalaksanaan pada Anak dengan Diare

Klasifikasi Penatalaksanaan
Diare Dehidrasi Berat Beri cairan untuk diare dengan
dehidrasi berat (rencana terapi C,
di Rumah Sakit).
Diare Dehidrasi Ringan atau Beri cairan dan makanan makanan
Sedang (rencana terapi B)
Setelah rehidrasi, nasehati orang
tua untuk penanganan di rumah
dan kapan segera kembali.
Diare Tanpa Dehidrasi Beri cairan, dan makanan untuk
menangani diare di rumah (terapi
A)
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015)

a. Diare Tanpa Dehidrasi (Rencana Terapi A)

Edukasi ibu tentang perawatan dirumah seperti:

1) Berikan cairan tambahan sebanyak yang anak mau. Jelaskan

kepada ibu :

a) Berikan ASI lebih lama dan lebih sering pada setiap kali

pemberian.

b) Berikan air tambahan berupa oralit atau air matang pada anak

yang memperoleh ASI eksklusif.

c) Jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, berikan 1 atau lebih

cairan oralit di rumah, jika:

(1) Anak telah diobati dengan Rencana Terapi B atau C dalam

kunjungan ini.

(2) Anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah

parah.
23

2) Ajari ibu cara mencampur dan memberikan oralit.

3) Tunjukan kepada ibu berapa banyak oralit atau cairan yang lain

harus diberikan setiap kali anak buang air besar.

a) Sampai umur 1 tahun : 50-100 ml setiap kali buang air

besar.

b) Umur 1-5 tahun : 100-200 ml setiap kali buang air besar.

4) Beri tablet Zinc selama 10 hari (kecuali pada bayi muda).

5) Lanjutkan pemberian makan

Berikan tablet Zinc pada semua anak yang mengalami diare dengan

dosis (1 tablet = 20 mg), umur lebih dari 6 bulan berikan 1 tablet per

hari. Berikan selama 10 hari berturut-turut.

b. Diare Dehidrasi Ringan atau Sedang (Rencana Terapi B)

Berikan oralit sesuai yang dianjurkan selama periode 3 jam.

Tabel 2.2

Pemberian Oralit Terapi B


Umur ≤ 4 bulan 4 - ≤ 12 1 - < 2 tahun 2-<5
bulan tahun
Berat <6 6 - < 10 kg 10 - < 12 kg 12 – 19 kg
Badan (BB) kilogram
(kg)
Jumlah (ml) 200 – 400 400 – 700 700 – 900 900 - 1400
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015)

1) Tentukan oralit untuk 3 jam pertama. Gunakan umur jika berat

badan anak tidak diketahui.

2) Tunjukkan cara memberikan oralit

a) Minum sedikit-sedikit tapi sering dari cangkir, mangkuk atau

gelas.
24

b) Jika anak muntah tunggu 10 menit, dan berikan lagi.

c) Lanjutkan ASI selama anak mau.

d) Bila kelopak mata bengkak, hentikan oralit berikan air

matang atau ASI.

3) Berikan tablet Zinc selama 10 hari

Setelah 3 jam periksa anak, dan klasifikasikan kembali dan

tentukan terapi yang harus diberikan. Lalu mulai memberikan

makan.

c. Diare Dehidrasi Berat (Rencana Terapi C)

Segera berikan cairan intravena, jika anak bisa minum berikan

oralit melalui mulut sementara persiapkan infus. Beri 100 ml/kg cairan

Ringer Laktat (RL) jika tidak tersedia, berikan cairan Natrium Klorida

(NaCl) yang terbagi sebagai berikut:

Tabel 2.3

Pemberian Cairan Terapi C

Pemberian
Pemberian pertama
Umur selanjutnya 70 ml/kg
30 ml/kg selama:
selama:
Bayi (dibawah umur 1 Jam 5 Jam
12 bulan)
Anak (12 bulan 30 Menit 2 1 /2 Jam
sampai 5 tahun)
Sumber: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015)

Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika nadi belum teraba,

beri tetesan lebih cepat. Beri oralit 5 ml/kg/jam segera setelah anak

mau minum. Biasanya sesudah anak 1-2 jam dan beri juga tablet Zinc.

Klasifikasi diare, dan berikan terapi sesuai rencana pengobatan.


25

Jika tidak dapat memberikan cairan intravena dalam 30 menit dan

anak masih bisa minum berikan ASI dan larutan oralit sebanyak 20

ml/kg/jam selama 6 jam. Periksa kembali anak setiap 1-2 jam. Jika

anak muntah terus atau perut makin kembung, beri cairan lebih

lambat. Sesudah 6 jam, observasi kembali anak. Klasifikasikan

dehidrasi dan tentukan rencana terapi A, B atau C.

Menurut Buku Saku Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit oleh

World Health Organization (2009) penanganan diare persisten adalah

sebagai berikut:

a. Diare Persisten Berat

1) Nilai anak untuk tanda dehidrasi dan beri cairan sesuai rencana

terapi dehidrasi yang sesuai (rencana terapi B atau C).

2) Berikan larutan oralit, ketika diberi larutan orali volume BAB

meningkat, rasa haus meningkat, tanda dehidrasi semakin buruk

dan tinja mengandung banyak glukosa yang tidak dapat diserap.

Anak memerlukan rehidrasi intravena sampai larutan oralit bisa

diberikan tanpa menyebabkan memperburuknya diare.

3) Beri mineral atau vitamin seperti memberikan bubur dengan

memasukkan tempe dan wortel di dalamnya.

4) Obati diare persisten yang disertai darah dalam tinja dengan

antibiotik oral yang efektif untuk Shigella seperti siprofloxasin,

sefiksim dan asam nalidiksat.


26

5) Berikan pengobatan untuk amubiasis (metronidazol oral: 50mg/kg

dibagi 3 dosis selama 5 hari) hanya jika:

a) Pemeriksaan mikroskopis dari tinja menunjukkan adanya

trofozoit Entamoeba histolytica dalam sel darah; ATAU

b) Dua antibiotik yang berbeda, yang biasanya efektif untuk

shigella, sudah diberikan dan tidak tampak adanya perbaikan

klinis.

6) Beri pengobatan untuk giardiasis (metronidazol: 50 mg/kg, dibagi

3 dosis, selama 5 hari) jika kista atau trofosoit Giardia lamblia

terlihat di tinja.

7) Beri metronidazol 30 mg/kg dibagi 3 dosis, bila ditemukan

Clostridium defisil (atau tergantung hasil kultur). Jika ditemukan

Klebsiela spesies atau Escherichia coli patogen, antibiotik

disesuaikan dengan hasil sensitivitas dari kultur.

8) Diet Rumah Sakit : Anak-anak yang dirawat di rumah sakit

memerlukan diet khusus sampai diare mereka berkurang dan berat

badan mereka bertambah. Tujuannya adalah untuk memberikan

asupan makan tiap hari sedikitnya 110 kalori/kg/hari. Anak umur

6 bulan atau lebih pemberian makan harus dimulai kembali segera

setelah anak bisa makan. Makanan harus diberikan setidaknya 6

kali sehari. Walaupun demikian, sebagian besar anak akan malas

makan, sampai setiap infeksi serius telah diobati selama 24 – 48

jam. Anak ini mungkin memerlukan pemberian makan melalui


27

pipa nasogastrik pada awalnya. Beri tambahan buah segar dan

sayur-sayuran matang pada anak yang memberikan reaksi yang

baik. Setelah 7 hari pengobatan dengan diet efektif, anak harus

kembali mendapat diet yang sesuai dengan umurnya, termasuk

pemberian susu, yang menyediakan setidaknya 110 kalori/kg/hari.

b. Diare Persisten (Tidak berat)

1) Berikan penanganan rencana terapi A.

2) Kenali dan obati infeksi khusus seperti :

a) Infeksi intestinal. Obati diare persisten yang disertai darah

dalam tinja dengan antibiotik oral yang efektif untuk

shigella.

b) Infeksi non intestinal. Periksa setiap anak dengan diare

persisten apakah menderita infeksi lain seperti pneumonia,

sepsis, infeksi saluran kemih, sariawan di mulut dan otitis

media.

3) Pemberian makan

a) Nasihati ibu untuk mengurangi susu sapi (susu formula) dalam

diet anak untuk sementara.

b) Teruskan pemberian ASI dan beri makanan pendamping ASI

yang sesuai:

(1) Jika anak masih menyusu, beri ASI lebih sering, lebih

lama, siang dan malam.


28

(2) Jika anak minum susu formula, lihatlah kemungkinan

untuk mengganti susu formula dengan susu formula bebas

laktosa sehingga lebih mudah dicerna.

c. Disentri

Disenteri adalah diare yang disertai darah. Sebagian besar episode

disebabkan oleh Shigella dan hampir semuanya memerlukan

pengobatan antibiotik.

1) Penanganan dehidrasi dan pemberian makan sama dengan

diare akut.

2) Yang paling baik adalah pengobatan yang didasarkan pada

hasil pemeriksaan tinja rutin. Jika positif ada amuba maka

berikan metronidazol dengan dosis 50 mg/kg/BB dibagi tiga

dosis selama 5 hari.

3) Jika tidak ada amuba, maka dapat diberikan pengobatan untuk

Shigella.

4) Beri pengobatan antibiotik oral (selama 5 hari), yang efektif

terhadap sebagian besar strain shigella.

5) Beri tablet zinc sebagaimana pada anak dengan diare cair tanpa

dehidrasi.

6) Pemberian ASI harus terus dilanjutkan selama anak sakit lebih

sering dari biasanya. Anak-anak berumur 6 bulan atau lebih

harus menerima makanan mereka yang biasa. Bujuk anak


29

untuk makan dan biarkan anak untuk memilih makanan yang

disukainya.

Sedangkan menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2009) selain

pemberian terapi rehidrasi terdapat penanganan sebagai berikut:

a. Pemberian Asupan Nutrisi

Pemberian ASI dan makanan, menu makanan sehat yang sesuai

dengan umur anak untuk mencegah kehilangan berat badan dan

mengganti nutrisi yang hilang. Meneruskan asupan makanan pada

anak akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang normal

termasuk kemampuan menerima dan mengabsorpsi sebagai nutrien.

Umumnya makanan yang dibutuhkan pada anak diare sama dengan

anak yang sehat. Anak yang tidak meminum ASI diberikan susu yang

biasa diminum kurang lebih setiap 3 jam. Sedangkan pada anak yang

besar makanan diberikan, seperti nasi, gandum, kentang, roti, tempe,

tahu, daging, ikan dan buah-buahan segar.

b. Obat-obatan

Antibiotik jangan diberikan kecuali diare berdarah atau kolera,

karena pemberian antibiotik dapat menyebabkan diare yang terus-

menerus dan mengganggu keseimbangan flora usus normal. Terdapat

beberapa obat yang diberikan pada diare dan mempengaruhi

mikroflora usus seperti antibiotik dan antidiare.


30

9. Karakterisik Tumbuh Kembang Usia 1-3 Tahun (Todler)

Menurut Soetjiningsih dan Ranuh (2016: 3) pertumbuhan

merupakan perubahan yang bersifat kuantitatif, yaitu bertambahnya

jumlah, ukuran, dimensi pada tingkat sel, organ maupun individu.

Sedangkan perkembangan merupakan perubahan yang bersifat kuantitatif

dan kualitatif, bertambahnya kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang

lebih kompleks.

a. Pertumbuhan Fisik

Berat badan rata-rata 1,4 sampai 2,3 kg per tahun. Sedangkan

tinggi badan mencapai rata-rata bertambah 7,5 cm per tahun. Lingkar

kepala saat usia 1 dan 2 tahun sekitar 2,54 cm dan bertambah 1,27 cm per

tahun sampai anak berumur 5 tahun. (Kyle & Carman, 2015).

b. Perkembangan Pada Anak

1) Perkembangan Kognitif

Tahap perkembangan kognitif anak menurut Jean Piaglet todler

melewati dua subtahap terakhir dalam tahap pertama perkembangan

kognitif, tahap sensorimotor, antara usia 12 dan 24 bulan. Pieget

mengidentifikasi tahap kedua perkembangan kognitif sebagai tahap

praoperasional, tahap ini terjadi ketika anak berusia antara 2 dan 7 tahun.

Tabel 2.4
Tahap Perkembangan Kognitif
Menurut Pieget Usia 1-3 Tahun
Tahap Aktivitas
Sensorimotor 1. Membedakan diri sendiri dengan
Usia 12-24 bulan objek
2. Menggunakan semua indra untuk
31

mengekslorasi lingkungan
3. Memasukan ke dalam dan ke luar
wadah
4. Meniru tugas-tugas dalam rumah
tangga
5. Mulai berfikir sebelum bertindak
6. Memahami permintaan dan
memahami perintah sedehana
7. Memiliki rasa kepemilikan (punya
saya)

Praoperasional 1. Pemahaman terhadap waktu, tempat


Usia 2 – 7 tahun dan sebab-akibat bertambah
2. Bermain peran dengan boneka, he-
wan, dan orang
3. Meningkatkan penggunaan bahasa
untuk representasi mental
4. Menyelesaikan permainan teka-teki
(puzzle) dengan empat potong
Sumber: Kyle dan Carman (2015)

2) Perkembangan Motorik

Menurut Soetjiningsih dan Ranuh (2016) mengatakan

perkembangan motorik pada anak dibagi menjadi motorik kasar dan

motorik halus, keterampilan yang dapat dilakukan anak sebagai

berikut:

Tabel 2.5
Milestone Perkembangan Motorik Kasar, Motorik Halus,
Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok Umur Keterampilan


12-18 bulan Motorik kasar
1. Berdiri sendiri tanpa berpegangan
2. Membungkuk untuk memungut
makanan kemudian berdiri kembali
3. Berjalan mundur 5 langkah.
Motorik halus
1. Menumpuk dua buah kubus
2. Memasukkan kubus ke dalam kotak
18-24 bulan Motorik Kasar
32

1. Berdiri sendiri tanpa berpegangan


selama 30 detik
2. Berjalan tanpa terhuyung-huyung.
Motorik halus
1. Bertepuk tangan, melambai- lambai
2. Menumpuk empat buah kubus
3. Memungut benda kecil dengan ibu
jari dan jari telunjuk
4. Menggelindingkan bola ke arah
sasaran
24-36 bulan Motorik kasar
1. Jalan menaiki tangga sendiri.
2. Dapat bermain dan menendang bola
kecil.
Motorik halus
1. Mencorat-coret pensil pada kertas
Sumber: Needlman, Growth and Devalopment (2004) dikutip dari
Soetjiningsih dan Ranuh (2016)

3) Perkembangan Personal-sosial

Personal sosial adalah aspek yang berhubungan dengan

kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan

lingkungan (Soetjiningsih & Ranuh, 2016).

Tabel 2.6
Milestone Perkembangan Personal-sosial
Berdasarkan Kelompok Umur

Kelompok Umur Keterampilan


12-18 bulan 1. Bermain sendiri di dekat orang
dewasa yang sudah dikenal
2. Menunjukkan apa yang diinginkan
dengan menunjuk tanpa menangis
atau merengek
3. Memeluk orang tua
4. Memperlihatkan rasa cemburu atau
bersaing
18-24 bulan 1. Minum dari cangkir dengan kedua
tangan
2. Belajar makan sendiri
3. Belajar menyanyi
4. Meniru aktivitas di rumah
33

5. Mencari pertolongan jika ada


kesukaran
6. Munculnya kontrol buang air kecil
dan buang air besar
7. Mulai berbagi mainan dan bekerja
bersama-sama
24-36 bulan 1. Menunjukkan kemarahan jika
terhalang
2. Mampu menggunakan sendok dan
garpu dengan tepat
3. Meminum dengan cangkir dengan
baik
4. Melepas pakaian sendiri
5. Mampu bermain pura-pura
6. Mulai membentuk hubungan sosial
dan bermain bersama-sama dengan
anak-anak lain
Sumber: Augustyn, Infancy and Toddler Years (2009) dikutip dari
Soetjiningsih dan Ranuh (2016)

4) Perkembangan Bahasa

Perkembangan bahasa terjadi secara cepat pada usia todler.

Perkembangan bahasa reseptif (kemampuan untuk memahami apa

yang dikatakan dan diminta) biasanya jauh lebih maju dibandingkan

perkembangan bahasa ekspresif (kemampuan untuk

mengkomunikasikan keinginan dan perasaan seseorang).

Tabel 2.7
Perkembangan Bahasa Usia Todler (1-3 Tahun)
Usia Bahasa Reseptif Bahasa Ekspresif
12 Bulan 1. Memahami kata- 1. Menggunakan jari
kata umum tangan untuk
2. Mengikuti perintah menunjuk benda
satu langkah yang 2. Meniru atau meng-
disertai isyarat gunakan isyarat
tubuh tubuh seperti me-
lambaikan tangan
untuk mengucapkan
selamat tinggal
34

15 Bulan 1. Melihat orang 1. Mengulangi kata-


dewasa untuk ber- kata yang didengar-
komunikasi nya
2. Mengikuti perintah 2. Mengoceh yang ter-
satu langkah tanpa dengar seperti kali-
disertai isyarat mat
tubuh
3. Memahami 100-
150 kata
18 Bulan 1. Memahami kata 1. Menggunakan
“tidak” minimal 5-20 kata
2. Memahami 200 2. Menggunakan
kata nama benda yang
3. Terkadang menja- dikenal
wab pertanyaan
“apa ini?”
24 Bulan 1. Menunjukkan nama 1. Kosa kata terdiri
bagian tubuh yang dari 40-50 kata
disebutkan 2. Kalimat terdiri dari
2. Menikmati men- dua atau tiga kata
dengarkan cerita 3. Mengajukan
sederhana pertanyaan “apa
3. Menyebutkan ber- itu?”
bagai objek di 4. Mengulang kata-
lingkungan kata yang sering di
4. Mulai menggu- dengar
nakan kata “punya
saya”
30 Bulan Mengikuti Kosakata terdiri
serangkaian dua dari 150-300 kata
perintah bebas
36 Bulan 1. Memahami lebih 1. Bertanya
banyak kalimat “mengapa?”
2. Memahami 2. Kalimat yang
hubungan fisik (di terdiri dari tiga
atas, di bawah, di sampai empat kata
dalam) 3. Kosakata terdiri
3. Dapat mengikuti dari 1000 kata
tiga bagian 4. Dapat mengatakan
perintah nama, usia dan
jenis kelamin
Sumber: Kyle dan Carman (2015)
35

B. Konsep Asuhan Keperawatan

Proses keperawatan atau asuhan keperawatan pada anak yang

mengalami gangguan gastrointestinal berupa pengkajian keperawatan,

diagnosis keperawatan, perencanaan dan tindakan keperawatan serta

evaluasi keperawatan (Kyle & Carman, 2016).

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian keperawatan adalah pengumpulan dan analisis

informasi secara sistematis dan berkelanjutan mengenai klien. Proses ini

berawal dari pengumpulan data dan memasukan ke dalam format

terorganisir (Rosdahl & Kowalski, 2016).

Sedangkan pada proses pengkajian menurut Nursalam, Susilaningrum

& Utami (2009: 172) adalah sebagai berikut:

a. Identitas pasien

Terdiri dari nama lengkap, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, umur,

tempat tinggal, asal suku bangsa, nama orang tua, pekerjaan orang tua, dan

penghasilan.

b. Keluhan Utama

Buang air besar (BAB) lebih dari 3 kali sehari, BAB < 4 kali dan

cair (diare tanpa dehidrasi), BAB 4-10 kali dan cair (dehidrasi ringan atau

sedang), atau BAB > 10 kali (dehidrasi berat). Apabila diare berlangsung <

14 hari maka diare tersebut adalah diare akut, sementara apabila

berlangsung selama 14 hari atau lebih adalah diare persisten.


36

c. Riwayat Kesehatan

Riwayat kesehatan berupa riwayat masa lalu (sakit atau

pembedahan sebelumnya), riwayat kesehatan keluarga di masa lalu,

penyakit saat ini (kapan gejala mulai dan bagaimana hal ini berbeda dari

kondisi normal anak), riwayat medis dan pembedahan sebelumnya pada

anak. Pola pertumbuhan anak juga sangat penting dalam riwayat kesehatan

yang dapat membantu menunjukkan waktu tentang kapan munculnya

masalah terbaru. Riwayat kesehatan keluarga juga penting dalam mengkaji

gejala secara genetik (Kyle & Carman, 2016).

Riwayat kesehatan sekarang menurut Nursalam, Susilaningrum &

Utami (2009: 173) meliputi:

1) Riwayat imunisasi terutama campak, karena diare lebih sering terjadi

atau berakibat berat pada anak-anak dengan campak atau yang baru

menderita campak dalam 4 minggu terakhir, sebagai akibat dari

penurunan kekebalan pada pasien.

2) Riwayat alergi terhadap makanan atau obat-obatan antibiotik karena

faktor ini merupakan salah satu kemungkinan penyebab diare.

3) Riwayat penyakit yang sering terjadi pada anak berusia di bawah 2

tahun biasanya adalah batuk, panas, pilek, kejang, yang terjadi

sebelum, selama atau setelah diare. Informasi ini diperlukan untuk

melihat tanda atau gejala infeksi lain yang menyebabkan diare seperti

OMA, tonsilitis, faringitis, bronkopneumonia, dan ensefalitis.


37

4) Riwayat nutrisi

Riwayat pemberian makan sebelum sakit diare meliputi:

a) Pemberian ASI penuh pada anak umur 4-6 bulan sangat

mengurangi resiko diare dan infeksi yang serius.

b) Pemberian susu formula. Apakah dibuat menggukan air masak dan

diberikan dengan botol atau dot, karena botol yang tidak bersih

akan mudah menimbulkan pencemaran.

c) Perasaan haus. Anak yang diare tanpa dehidrasi tidak merasa haus

(minum biasa). Pada dehidrasi ringan/sedang anak merasa haus

ingin minum banyak. Sedangkan pada dehidrasi berat, anak malas

minum atau tidak bisa minum.

Riwayat penyakit sekarang menurut Nursalam, Susilaningrum &

Utami (2009) yaitu:

1) Mula-mula anak cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat,

napsu makan berkurang, dan timbul diare.

2) Tinja makin cair dan/atau disertai lendir atau darah. Warna tinja

menjadi kehijauan karena bercampur empedu.

3) Anus dan sekitarnya timbul lecet.

4) Gejala muntah terjadi sebelum atau sesudah diare.

5) Apabila pasien kehilangan banyak cairan dan elektrolit mungkin

gejala dehidrasi mulai tampak.


38

6) Terjadi oliguri (kurang 1 ml/kg/BB/jam) bila terjadi dehidrasi. Urin

sedikit gelap pada dehidrasi ringan atau sedang. Tidak ada urin dalam

waktu 6 jam (dehidrasi berat).

d. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum

a) Baik sadar (tanpa dehidrasi)

b) Gelisah, rewel (dehidrasi ringan atau sedang)

c) Lesu, lunglai, atau tidak sadar (dehidrasi berat)

2) Berat Badan

Penilaian berat badan dapat mengkaji status dehidrasi anak,

menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (2009) adalah sebagai berikut:

a) Dehidrasi ringan kehilangan berat badan bayi 5% (50 ml/kg),

pada anak besar 3% (30 ml/kg).

b) Dehidrasi sedang kehilangan berat badan bayi 5-10% (50-100

ml/kg), pada anak besar 6% (60 ml/kg).

c) Dehidrasi berat kehilangan berat badan bayi 10-15% (100-150

ml/kg), dan pada anak besar 9% (90ml/kg).

3) Kulit

Periksa turgor kulit dengan mencubit perut dengan kedua ujung jari

(bukan dengan kuku). Apabila turgor kembali dengan cepat (kurang

dari 2 detik) merupakan diare tanpa dehidrasi, turgor kembali lambat

(2 detik) diare dengan dehidrasi ringan atau sedang. Turgor kembali

sangat lambat (lebih dari 2 detik) diare dengan dehidrasi berat.


39

4) Kepala

Anak berusia di bawah 2 tahun biasanya ubun-ubunnya cekung

ketika mengalami dehidrasi.

5) Mata

Anak yang tanpa dehidrasi bentuk kelopak mata normal, kelopak

mata cekung mengalami dehidrasi ringan atau sedang, dam kelopak

mata sangat cekung anak mengalami diare dengan dehidrasi berat.

6) Mulut dan lidah

Mulut dan lidah basah (tanpa dehidrasi), mulut dan lidah kering

(dehidrasi ringan atau sedang), sangat kering (dehidrasi berat).

7) Abdomen

Mungkin mengalami distensi, kram, dan bising usus meningkat.

8) Anus, apakah terdapat iritasi pada kulitnya.

Sodikin (2012: 120) menyebutkan hal-hal yang perlu


diperhatikan pada saat menentukan derajat dehidrasi menggunakan
Skor Maurice King adalah:
Tabel 2.7
Skor Maurice King
Bagian tubuh Nilai untuk gejela yang ditemukan
yang diperiksa 0 1 2
Keadaan umum Sehat Gelisah, cengeng, Mengigau, koma,
apatis, ngantuk atau syok
Kekenyalan Normal Sedikit kurang Sedikit kurang
kulit
Mata Normal Sedikit cekung Sedikit cekung
Ubun-ubun Normal Sedikit cekung Sedikit cekung
Mulut Normal Kering Kering dan
sianosis
Denyut Normal (120-140) >140
nadi/menit
Sumber: Sodikin (2012)
40

1) Untuk menentukan kekenyalan kulit, kulit perut dicubit selama 30-

60 detik, kemudian dilepas kembali. Bila kulit kembali normal

dalam waktu 1 detik, anak menderita dehidrasi ringan, bila

kembali dalam 1-2 detik, anak menderita dehidrasi sedang, dan

bila kembali dalam 2 detik anak menderita dehidrasi berat.

2) Derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan skor yang

diperoleh penderita. Skor 0-2 menunjukkan dehidrasi ringan, skor

3-6 menunjukkan dehidrasi sedang dan skor 7-12 menunjukkan

dehidrasi berat.

e. Pemeriksaan Diagnostik

Kyle & Carman (2016) mengatakan pemeriksaan diagnostik

memberikan informasi yang diprogramkan oleh dokter untuk anak

yang mengalami penyakit gastrointestinal atau diare. Perawat harus

pamilier dengan panduan persiapan untuk anak, bagaimana setiap

pemeriksaan dilakukan, dan temuan normal dan abnormal serta

maknanya dalam rangka memberikan edukasi pada anak dan keluarga

secara tepat. Hasil pemeriksaan diagnostik pada anak yang mengalami

diare dapat ditemukan sebagai berikut:

1) Elektrolit (serum): BUN dan kreatinin dapat meningkat saat dehidrasi.

2) Pemeriksaan toleransi laktosa: hasil pemeriksaan yang positif setelah

menelan laktosa kadar hidrogen dalam pernafasan akan meningkatkan

penumpukan laktosa di usus.


41

2. Diagnosa Keperawatan

Langkah kedua setelah pengkajian adalah diagnosis keperawatan.

Diagnosis keperawatan merupakan penyataan mengenai masalah-masalah

kesehatan klien yang bersifat aktual atau potensial. Dengan pernyataan

yang ringkas, jelas, spesifik dan berpusat pada klien (Rosdahl & Kowalski,

2016: 475).

Diagnosa keperawatan tahun 2016 oleh Wilkinson (2016) masalah

yang muncul pada anak dengan diare adalah:

a. Diare berhubungan dengan masuknya patogen dalam saluran pencernaan,

makanan atau air yang terkontaminasi ditandai dengan peningkatan

frekuensi defekasi, perubahan konsistensi feses.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

berlebih melalui feses atau emesis ditandai dengan mukosa bibir dan

turgor kulit yang kering.

c. Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen, peningkatan defekasi

ditandai dengan ekspresi wajah yang merintih dan penurunan napsu

makan.

d. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan kehilangan cairan melalui feses, masukan yang tidak adekuat

ditandai dengan penurunan berat badan, keletihan dan penurunan asupan

makanan.
42

e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi lapisan rektum

akibat feses yang bersifat asam ditandai dengan kulit rektum lecet, ruam,

kering dan kemerahan.

f. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi mukosa usus yang

ditandai dengan peningkatan suhu tubuh, takikardi, kulit kemerahan.

g. Gangguan kenyamanan : mual dan muntah berhubungan dengan proses

infeksi saluran cerna ditandai dengan anak yang selalu meringis atau

menangis, mengalami gangguan tidur.

h. Kecemasan berhubungan dengan faktor psikologis terhadap status

kesehatan dan hospitalisasi.

i. Risiko syok berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah, kekurangan

volume cairan ditandai dengan asupan dan haluaran cairan tidak seimbang.

3. Intervensi Keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah pengembangan tujuan untuk

mencegah, mengurangi, atau mengatasi masalah dan untuk

mengidentifikasi intervensi keperawatan yang akan membantu klien dalam

memenuhi tujuan ini (Rosdahl & Kowalski, 2016: 478).


Tabel 2.9

Intervensi Keperawatan

Tujuan (NOC) dan Kriteria


Diagnosa Keperawatan Intervensi (NIC) Rasional
Hasil
(1) (2) (3) (4)
1. Diare berhubungan Diare dapat dihilangkan deng- 1. Kaji feses mengenai 1. Jumlah defekasi, dan keadaan
dengan masuknya an dibuktikan oleh indikator: frekuensi, warna, konsis- feses anak dapat menentukan
patogen dalam saluran 1. Frekuensi defekasi yang tensi, dan jumlah (ukuran) jenis diare.
pencernaan, makanan normal tidak lebih dari 3 feses 2. Kulit pucat, turgor kulit yang
atau air yang kali dalam sehari. 2. Kaji tanda-tanda dehidrasi buruk, penurunan tingkat
terkontaminasi ditan- 2. Mempertahankan seperti kesadaran, kesadaran dan membran
dai dengan peningka- keseimbangan elektrolit pernafasan, nadi, turgor mukosa kering
tan frekuensi defeka- dalam batas normal kulit, mukosa mulut. mengidentifikasi dehidrasi.
si, perubahan konsis- 3. Terhidrasi dengan baik 3. Berikan terapi rehidrasi 3. Pemberian cairan oralit, LGG
tensi feses. (membran mukosa lembab, oral sesuai program. dapat mencegah terjadinya
turgor bola mata baik, 4. Kolaborasi dengan dokter dehidrasi.
tekanan darah) jika tanda dan gejala diare 4. Tanda dan gejala yang semakin
menetap. meningkat dapat merubah
5. Berikan informasi tindakan keperawatan dan
mengenai tanda gejala dan program terapi.
perawatan anak diare 5. Pemberian informasi kesehatan
mengurangi prevalensi
penderita diare

43
(1) (2) (3) (4)
2. Kekurangan volume Kekurangan cairan akan 1. Kaji keluhan umum klien 1. Menggalih informasi sebagai
cairan berhubungan teratasi dengan indikator : dan tanda-tanda vital data untuk menentukan
dengan kehilangan 1. Memiliki keseimbangan 2. Kaji intake dan output intervensi keperawatan.
cairan berlebih asupan cairan dan cairan anak dalam 24 jam. 2. Jumlah cairan yang hilang dapat
melalui feses atau haluaran yang seimbang 3. Pantau perdarahan pada menentukan status hidrasi anak
emesis ditandai 2. Menampilkan hidrasi feses dan daerah anus. dan melakukan intervensi
dengan mukosa bibir yang baik 4. Kaji tanda-tanda dehidrasi selanjutnya.
dan turgor kulit yang 3. Tidak mengalami haus meliputi mukosa mulut, 3. Adanya perdarahan dapat
kering. yang tidak normal bibir, berat badan, turgor berisiko terjadinya infeksi.
4. Berat badan stabil kulit, frekuensi nadi, 4. Kulit pucat, turgor kulit yang
5. Memiliki asupan cairan kelopak mata. buruk, penurunan tingkat
oral dan/atau intravena 5. Timbang berat badan anak kesadaran dan membran mukosa
yang adekuat 6. Hitung kebutuhan cairan kering mengidentifikasi
harian anak berdasarkan dehidrasi
berat badan. 5. Berat badan secara langsung
7. Perikan terapi IV atau oral mengukur status hidrasi.
sesuai program. 6. Pergantian cairan yang hilang
untuk mengatasi dehidrasi
7. Anak membutuhkan cairan
intravena jika mengalami
dehidrasi berat.

44
(1) (2) (3) (4)
3. Nyeri akut berhubungan Rasa nyeri berkurang dengan 1. Kaji penyebab nyeri yang 1. Membantu klien dalam
dengan distensi abdo- menunjukkan : dirasakan anak memilih cara yang nyaman
men, peningkatan defe- 1. Tidak merintih dan 2. Kaji nyeri pada anak untuk mengurangi nyeri
kasi ditandai dengan menangis dengan menggunakan 2. Untuk mengidentifikasi
ekspresi wajah yang 2. Mempertahankan selera skala wajah atau skala tingkat nyeri pada anak lebih
merintih dan penurunan makan dengan baik bergambar lainnya. efektif menggunakan skala
napsu makan. 3. Melaporkan pola tidur 3. Lakukan perubahan posisi wajah.
yang baik dan anjurkan orang tua 3. Membantu mengurangi rasa
4. Skala nyeri anak normal untuk masase punggung nyeri anak tanpa beban atau
anak. rasa yang menyakitkan.
4. Anjurkan orang tua untuk 4. Cara distraksi dapat
memberikan metode mengurangi nyeri dan
distraksi dalam mengu- ketegangan yang dirasakan
rangi nyeri seperti anak.
bercerita, mengajaknya
bernyanyi, dan relaksasi
nafas .
4. Ketidakseimbangan Memperlihatkan status nutrisi 1. Kaji status nutrisi pasien 1. Mengkaji berat badan, asupan
nutrisi kurang dari yang dibuktikan dengan dengan menimbang berat dan asupan makanan
kebutuhan tubuh indikator sebagai berikut : badan pasien dan kaji menentukan status nutrisi
berhubungan dengan 1. Menunjukan berat badan asupan nutrisi dalam 24 anak.
kehilangan cairan dalam batas normal jam. 2. Pemberian nutrisi yang sedikit
melalui feses, masukan 2. Melaporkan tingkat 2. Anjurkan keluarga untuk dan sering dapat mengatasi
yang tidak adekuat energi yang adekuat memberikan makanan kekurangan nutrisi.
ditandai dengan 3. Asupan makanan yang dalam porsi sedikit tapi 3. Meningkatkan napsu makan
penurunan berat badan, kuat sering. dapat dilakukan dengan
keletihan dan penurunan 3. Anjurkan anggota kelu- pemberian makanan yang

45
asupan makanan. arga untuk membawa disukai anak.
makanan kesukaan pasien 4. Makanan selingan dilakukan
dari rumah. untuk meningkatkan asupan
4. Ajarkan orang tua dan nutrisi anak
anak pentingnya kudapan 5. Asupan makanan yang sesuai
yang sehat (misal: buah- dengan kebutuhan dapat
buahan, sayuran segar, meningkatkan status nutrisi
telur rebus). pada anak.
5. Kolaborasi dengan ahli
gizi rumah sakit tentang
kebutuhan diet anak.
5. Kerusakan integritas Kerusakan integritas kulit 1. Observasi tanda-tanda 1. Saat anak terkena dehidrasi
kulit berhubungan deng- teratasi dengan tidak adanya kerusakan integritas kulit kulit menjadi kering sehingga
an iritasi lapisan rektum tanda-tanda kerusakan kulit meliputi: kulit yang mudah lecet.
akibat feses yang bersifat seperti : kering, ruam dan lecet, 2. Area kulit yang lecet saat
asam ditandai dengan 1. Mukosa kulit ruam dan warna kemerahan, terkena kotoran dapat berisiko
kulit rektum lecet, ruam, lecet kekeringan yang infeksi.
kering dan kemerahan. 2. Kulit yang kering berlebihan sehari sekali. 3. Popok atau pakaian yang
3. Kemerahan pada area 2. Bersihkan kulit saat basah dapat memberikan
kulit terkena kotoran. kelembaban kulit yang
3. Anjurkan orang tua untuk berlebih.
mengganti popok setiap 4. Krim atau lotion dapat
jam atau basah. memberikan kelembaban
4. Anjurkan orang tua untuk kulit yang kering.
memberikan krim bayi
atau anak.

46
6. Hipertermi berhubungan Hipertermi teratasi dibukti- 1. Ukur tanda-tanda vital 1. Suhu tubuh diatas 37,5°C,
dengan proses inflamasi kan dengan indikator : klien takikardi (>90 x/menit),
mukosa usus yang ditan- 1. Suhu tubuh normal (36,6 – 2. Lakukan dan ajarkan takip-neu (>30 x/menit)
dai dengan peningkatan 37,5°C) keluarga untuk melakukan menan-dakan anak demam
suhu tubuh, takikardi, 2. Tidak ada warna kopres hangat atau hipertermi.
kulit kemerahan. kemerahan pada kulit 3. Lepas pakaian anak yang 2. Kompres hangat dapat
3. Denyut nadi normal (80- berlebih dan gunakan baju mendilatasikan pori-pori kulit
90 x/menit) yang tipis dan meyerap sehingga pengupan udara
4. Frekuensi napas normal keringat. dalam tubuh keluar.
(20-30 x/menit) 4. Anjurkan orang tua untuk 3. Pakaian yang tipis dan
5. Berkeringat saat panas melanjutkan pemberian menyerap keringat
ASI atau anjurkan anak memberikan rasa nyaman
meminum air putih. klien.
4. Pemberian ASI dan air putih
pada anak demam dapat
memberikan hidrasi yang
baik.
7. Gangguan kenyamanan: Gangguan kenyamanan 1. Kaji sumber ketidak- 1. Rasa mual dan muntah dapat
mual dan muntah teratasi dengan menunjukkan nyamanan (misalkan menganggu kenyamanan fisik
berhubungan dengan atau memperlihatkan status demam, mual anak.
infeksi sistem gastroin- kenyamanan atau tingkat muntah). 2. Manajemen nyeri atau
testinal ditandai dengan agitasi yang dibuktikan 2. Anjurkan orang tua untuk meredakan nyeri dapat
anak yang selalu dengan indikator : masase bagian punggung. memberikan kenyamanan
meringis atau menangis, 1. Tidak gelisah 3. Berikan lingkungan yang pasien.
mengalami gangguan 2. Tidak mengalami nyaman, seperti suhu 3. Memberikan lingkungan yang
tidur. gangguan pola tidur ruangan begitu panas atau tentram dan nyaman untuk
3. Emosi stabil dingin, lingkungan yang meningkatkan kenyamanan
4. Tidak menangis tidak begitu ramai. yang optimal.

47
5. Tidak mengalami mual 4. Anjurkan orang tua atau 4. Adanya orang terdekat
dan muntah keluarga untuk mene- memberikan rasa nyaman.
mani anaknya
8. Kecemasan berhubungan Rasa cemas teratasi dengan 1. Kaji respon cemas 1. Mengidentifikasi penyebab
dengan faktor psikologis indikator sebagai berikut : subjektif dan objektif rasa cemas
terhadap status 1. Pasien tenang pasien. 2. Untuk memberikan kenya-
kesehatan dan 2. Tidak gelisah 2. Gunakan pendekatan yang manan dan mencegah
3. Tidak menangis atau tenang dan meyakinkan. kekhawatiran klien.
hospitalisasi cemas 3. Anjurkan orang tua untuk 3. Memberi kehadiran bersama
4. Pasien dapat beristirahat menggendong pasien saat orang terdekat dapat
dengan cukup menangis. memberikan ketenangan.
4. Memberikan mainan yang 4. Untuk mengurangi rasa cemas
disukai anak pasien

9. Risiko syok berhubung- Pasien tidak akan mengalami 1. Pantau kondisi yang dapat 1. Mendeteksi dan menangani
an dengan gangguan syok yang ditunjukkan dengan mengarah ke hipovolemia pasien yang berisiko syok.
sirkulasi darah, : (misalkan diare dan 2. Pemantauan cairan untuk
kekurangan volume 1. Tekanan darah dalam muntah yang lama). mendeteksi kekurangan cairan
cairan ditandai dengan batas normal 2. Observasi intake dan yang berisiko terjadinya syok.
asupan dan haluaran 2. Pengisian ulang kapiler output cairan. 3. Mengumpulkan, dan me-
cairan tidak seimbang. normal 3. Pantau tanda-tanda vital. nganalisis data kardiovas-
3. Saturasi oksigen normal 4. Kolaborasi dengan dokter kuler, pernapasan, dan suhu
4. Asupan dan haluaran untuk memper-siapkan tubuh untuk menentukan dan
cairan seimbang pemberian cairan, mencegah komplikasi.
elektrolit, koloid, atau 4. Mengurangi terjadinya hipo-
darah. volemi atau kekurangan
cairan.
Sumber: Wilkinson (2016)

48
49

4. Implementasi Keperawatan

Setelah mengumpulkan data, mengidentifikasi diagnosis

keperawatan, mengembangkan tujuan, dan menulis rencana keperawatan,

langkah selanjutnya adalah melaksanakan atau mengimplementasikan

rencana asuhan keperawatan (Rosdahl & Kowalski, 2016: 483).

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi adalah pengukuran keefektifan pengkajian, diagnosa,

intervensi dan implementasi. Langkah-langkah dalam mengevaluasi

asuhan keperawatan adalah menganalisis respon klien, mengidentifikasi

faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan, dan

perencanaan untuk asuhan di masa depan (Kowalski, 2016: 485).


BAB III

METODE STUDI KASUS

A. Desain Studi Kasus

Desain studi kasus dalam karya tulis ilmiah ini dirancang dan

dieksplorasi menggunakan metode deskriptif yang disusun dalam bentuk

laporan dengan menggunakan pendekatan teori proses keperawatan yang

meliputi pengkajian, diagnosis keperawatan, intervensi, implementasi dan

evaluasi keperawatan. Menggunakan metode deskriptif ini dengan tujuan

untuk mendapatkan gambaran secara realita dan objektif terhadap suatu

kondisi tertentu yang sedang terjadi (Imron & Munif, 2010).

B. Subyek Studi Kasus

Subyek pada studi kasus ini adalah individu (anak todler) dengan

masalah diare yang dilakukan perawatan rumah sakit di Ruang Ade Irma

Suryani RSUD Arjawinangun.

C. Batasan Istilah

Tabel 3.1
Batasan Istilah
No Istilah Definisi
1. Asuhan Serangkaian proses interaksi perawat dengan
Keperawatan klien untuk mencapai tujuan pemenuhan
kebutuhan dan kemandirian klien yang meliputi
pengkajian, diagnosa keperawatan , intervensi,
implementasi dan evaluasi keperawatan.
2. Anak Todler Anak usia todler merupakan individu yang
berada dalam rentang perubahan perkembangan
pada usia 1 hingga 3 tahun.
3. Diare Diare adalah peningkatan frekuensi defekasi
disertai perubahan konsistensi, warna dan jumlah
feses.

105
51

D. Lokasi dan Waktu Studi Kasus

1. Lokasi Studi Kasus

Lokasi penelitian yang akan dilakukan untuk pengambilan data

adalah Ruang Ade Irma Suryani (Ruang Anak) di Rumah Sakit Unit

Daerah (RSUD) Arjawinangun Kabupaten Cirebon.

2. Waktu Studi Kasus

Waktu yang digunakan dalam studi kasus ini dimulai pada tanggal

07 Mei 2018 hingga 19 Juli 2018. Pengambilan data karya tulis

dilaksanakan pada tanggal 07 – 26 Mei 2018. Penyusunan data studi kasus

dimulai pada tanggal 02 – 07 Juli 2018 dan berakhir dengan sidang atau

penanggung jawaban studi kasus pada 19 Juli 2018.

3. Jadwal Studi Kasus

(Terlampir)

E. Metoda Studi kasus

Studi kasus ini dimulai dengan penyusunan usulan atau proposal studi

kasus kepada penguji. Setelah disetujui, maka akan dilakukan kegiatan

studi kasus di tempat yang telah ditentukan penulis untuk pengambilan

data berupa hasil pengukuran, observasi dan wawancara pada kasus yang

dijadikan objek oleh penulis.

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Wawancara

Wawancara juga diartikan sebagai pengumpulan data atau

informasi mengenai identitas klien, keluhan utama dan riwayat kesehatan


52

baik klien maupun keluarga. Penulis dalam mendapatkan data melalui

bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan responden (Imron & Munif,

2010).

2. Observasi

Observasi atau pengamatan merupakan perhatian untuk menyadari

terhadap suatu rangsangan atau gejala nyata pada pasien (Imron & Munif,

2010). Observasi pada studi kasus ini digunakan saat melakukan tindakan

keperawatan seperti pemeriksaan fisik pada pasien dengan cara head to toe

atau per sistem.

3. Studi Dokumentasi

Merupakan proses pendokumentasian dalam pengumpulan

informasi mengenai status kesehatan pasien dari hasil pemeriksaan

diagnostik dan kuesioner.

4. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data atau informasi pada studi kasus ini

penulis menggunakan format Asuhan Keperawatan Anak yang meliputi

pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi

yang telah diorganisir oleh Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya Wilayah

Cirebon.

5. Keabsahan Data

Data dalam studi kasus ini merupakan data primer dan data

sekunder yang didapat dari hasil wawancara, observasi dan studi

dokumentasi klien yang didapat sesuai dengan fakta yang terjadi pada
53

pasien anak dengan Diare. Informasi diperoleh dari pasien, keluarga pasien

atau orang terdekat pasien, dan perawat. Semua data diperoleh sebagai

bahan untuk studi kasus yang telah disetujui oleh klien dan keluarga

dengan menggunakan inform consent.

6. Analisis Data

Analisis data merupakan proses kemampuan peneliti dalam berfikir

kritis dan mengembangkan daya pikir dalam menentukan masalah

keperawatan pasien. Proses ini dilakukan dengan cara menentukan fakta,

selanjutnya membandingkan dalam opini pembahasan. Langkah-langka

dalam analisis data ini sejak peneliti di lapangan, langkah pertama berupa

pengumpulan data dan memilah data objektif dan subjektif lalu dianalisa

dengan menggunakan problem, etiologi, symptom (PES). Langkah kedua

menentukan masalah keperawatan sesuai dengan NANDA.


BAB IV

ASUHAN KEPERAWATAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Studi Kasus

1. Gambaran Lokasi Studi Kasus

Studi kasus atau asuhan keperawatan dilaksanakan di ruang Ade Irma

Suryani RSUD Arjawinangun Kabupaten Cirebon beralamat di jalan

Palimanan-Jakarta KM. 2 No. 1 Kode Pos 45162. Ruang Ade Irma

Suryani adalah tempat rawat inap untuk anak dengan usia 30 hari

sampai dengan 12 tahun, memiliki 18 ruangan yaitu ruang perawatan

kelas satu 3 ruangan, kelas dua 4 ruangan, kelas 9 ruangan, 1 ruang

isolasi, dan 1 ruang tindakan keperawatan. Dengan jumlah 48 empat

tidur.

2. Pengkajian

a. Biodata

1) Identitas pasien

a) Nama pasien : An. K

b) Tempat/tanggal lahir : Cirebon, 11 Desember 2016

c) Usia : 1 tahun 5 bulan

d) Jenis kelamin : Perempuan

e) Agama : Islam

f) Suku bangsa : Jawa/ WNI

54
55

g) Pendidikan : Belum sekolah

h) Diagnosa medis : Gastrointestinal Akut

i) Tanggal masuk RS : 19 Mei 2018

j) Tanggal pengkajian : 20 Mei 2018 (10.00 WIB)

2) Identitas orang tua

a) Nama ayah : Tn. S

b) Pendidikan : SLTP

c) Pekerjaan : Pegawai Swasta

d) Alamat : Jalan sanara no. 45 03/02

Kel. Gegesik, Kab. Cirebon.

e) Nama ibu : Ny. D

f) Pendidikan : S1

g) Pekerjaan : Guru

h) Alamat : Jalan sanara no. 45 03/02

Kel. Gegesik, Kab. Cirebon.

b. Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Mencret lebih dari 10 kali.

2) Riwayat Keluhan Utama

Ibu pasien mengatakan sebelum datang di rumah sakit anaknya

mencret-mencret, cair, berlendir, ada sedikit ampas, tanpa

darah, warna hijau dan berbau khas disertai demam naik turun

sejak hari jumat dan sorenya berobat ke dokter dan diberi


56

antibiotik saja, namun tidak ada perubahan. Di rumah pasien

muntah 3 kali sehari, muntah berisi cairan seperti susu tanpa

disertai darah. Pada tanggal 19 Mei 2018 orang tua membawa

pasien ke RSUD Arjawinangun, masuk ruang IGD pukul 19.55

WIB dan didiagnosa oleh dokter Gastrointestinal Akut (GEA)

dengan dehidrasi ringan-sedang. Dokter menyarankan pasien

untuk dirawat, dan pasien dibawa ke ruang Ade Irma Suryani

pukul 21.30 WIB.

3) Riwayat Pada Saat Pengkajian

Dilakukan pengkajian pada tanggal 20 Mei 2018 pukul 10.00

WIB. Ibu pasien mengeluh anaknya mencret-mencret, ibu

mengatakan anaknya mencret karena memakan jajanan warung

seperti ciki-cikian, coklat dan es susu. Saat menangani anaknya

mencret ibu memberi olesan minyak kayu putih di daerah perut

pasien dan memberinya minum air putih. Tinjanya berwarna

hijau ke kuningan, cair, sedikit ampas, tidak berlendir, tidak

ada darah saat BAB dan berbau khas. Sejak tadi pagi pukul

05.00 hingga waktu pengkajian pasien sudah BAB lebih dari 10

kali. Ibupun mengeluh dibagian kulit dubur anaknya terdapat

warna kemerahan. Selama sakit anaknya selalu rewel, napsu

makannya menurun dan sering merintih “lara..” sambil

memegangi perutnya.
57

4) Riwayat kesehatan dahulu

a) Penyakit waktu kecil

Orang tua pasien mengatakan pernah mengalami mencret

usia 7 bulan, namun tidak lebih dari 3 kali menurutnya

mencret dikarenakan minum susu formula saat pasien usia

10 hari. Pasien juga pernah sakit batuk pilek dan demam

pada 4 bulan terakhir, tidak lebih dari 3 hari.

b) Pernah dirawat di RS

Menurut orang tua, pasien belum pernah dirawat di rumah

sakit.

c) Obat-obatan yang digunakan

Ibu pasien mengatakan saat batuk pilek dan demam yang

lalu mengkonsumsi obat dari apotek yaitu obat Termorex

anak.

d) Tindakan (operasi)

Pasien belum pernah dilakukan tindakan operasi.

e) Alergi

Ibu pasien mengatakan pasien tidak memiliki riwayat alergi

obat-obatan atau makanan.

f) Kecelakaan

Menurut orang tua pasien tidak pernah mengalami

kecelakaan.
58

g) Imunisasi

Ibu pasien mengatakan bahwa dirinya selalu rajin

membawa anaknya untuk diimunisasi dari usia 0-1,5 tahun.

Ibu selalu datang tepat waktu sesuai jadwal yang telah

diberikan. Namun ibu tidak ingat imunisasi apa saja yang

telah dilakukan, yang ibu ingat imunisasi campak yang

kedua belum dilakukan karena saat ingin diimunisasi

anaknya demam.

Tabel 4.1
Imunisasi Usia 18 Bulan
Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Respon
Hb0 Saat lahir Demam (2 hari)
DPT Usia 2, 3, 4 bulan Demam (2 hari)
BCG Usia 2 bulan Demam (2 hari)
Rotavirus Usia 2, 4 bulan Demam (2 hari)
Campak Belum dilakukan -

5) Riwayat kehamilan dan kelahiran

a) Prenatal care

P2 A0 , hamil aterm usia 39 minggu. Ibu mengatakan saat

kehamilan diimunisasi TT. Saat masa kehamilan juga ibu

pasien sempat drop, lemas dan napsu makan menurun

karena rasa mual dan muntah yang berkepanjangan hingga

usia kehamilan 5 bulan. Sempat diinfus di puskesmas.

Pemeriksaan kehamilan jarang dilakukan karena tempat


59

pemeriksaan yang jauh, pemeriksaan saat usia kehamilan 5

bulan, dan 9 bulan bidan mengatakan anaknya sehat.

b) Antenatal care

Persalinan secara secar akibat sudah terjadi pemecahan air

ketuban dan riwayat secar pada persalinan anak

pertamanya. Tempat persalinan di RSUD Arjawinangun.

c) Postnatal care

Berat badan bayi saat lahir 2300 gram tinggi badan 34 cm.

Tidak dirawat atau tidak masuk inkubator dikarenakan bayi

sehat, saat lahir langsung menangis. Saat lahir ± 10 hari

bayi diberi ASI dan susu formula karena ASI ibu belum

begitu lancar kemudian selanjutnya diberi ASI saja hingga

usia 6 bulan.

6) Riwayat Keluarga

Keterangan:

: Laki-laki : Tinggal serumah

: Perempuan : Meninggal

: Ikatan darah : Pasien


60

Ibu pasien mengatakan bahwa anak pertamanya pernah

mengalami mencret-mencret pada usia 7 hari setelah kelahiran

dikarenakan alergi terhadap susu sapi. Dan anak pertamanya

memiliki riwayat kejang sekali pada usia 2 tahun.

Ibu pasien mengatakan suami dan dirinya tidak pernah

mengalami diare, dan tidak memiliki riwayat penyakit menurun

seperti hipertensi, diabetes dan penyakit menular seperti HIV,

hepatitis.

7) Riwayat Sosial

a) Yang mengasuh

Ibu pasien mengatakan yang mengasuh pasien adalah

dirinya sendiri dan bersama suami. Terkadang anaknya

diasuh neneknya ketika ibu dan ayahnya kerja.

b) Hubungan dengan anggota keluarga

Menurut ibu pasien hubungan dengan keluarganya baik,

sering bermain besama ayah, dan neneknya.

c) Hubungan dengan teman sebaya

Ibu pasien mengatakan anaknya sering bermain bersama

teman-teman sebayanya saat dirumah dan terlihat senang.

d) Pembawaan secara umum

Pasien terlihat tenang dan terlihat lebih dekat bersama

ibunya. Namun pasien tampak pemalu dengan orang asing.


61

e) Lingkungan rumah

Rumah pasien berdekatan dengan rumah penduduk lainnya.

Menurut ibu pasien rumah sering dibersihkan setiap pagi

dan sore hari. Disamping kanan rumah pasien terdapat

sungai yang cukup besar.

a. Kebutuhan dasar

Tabel 4.2
Kebutuhan Dasar
No Aktivitas Sebelum sakit Saat sakit
1. Nutrisi
1. Makan
a. Jenis Nasi, tempe, telur, Bubur, seling
bubur. Selingan makanan bolu
makanan biskuit kukus atau telur
atau makanan kue. rebus.
b. Jumlah ½ mangkuk sedang ¼ mangkuk seda-
ng
c. Frekuensi ±3 kali sehari ±3 kali sehari
d. Keluhan Tidak ada Napsu makan
menurun
2. Minuman
a. Jenis Air putih, ASI, teh Air putih, ASI
manis
b. Jumlah ± 60 cc ± 60 cc
c. Frekuensi ± 4 kali per hari ± 6 kali sehari
d. Keluhan Tidak ada Sering merasa
haus
2. Eliminasi
1. BAB/BAK
a. Tempat Pempers Pempers
pembuanga
n
b. Frekuensi 1 kali per hari ±10 kali per hari
(waktu)
c. Warna Feses kuning ke Feses hijau, urin
coklatan, urin bening ke
bening ke kuningan kuningan
d. Konsistensi Lembek Cair
62

e. Keluhan Tidak ada Sering BAB


3. Personal Hygiene (mandi,
keramas, gosok gigi)
1. Frekuensi 2 kali sehari 1 kali sehari
2. Cara pemenuhan Mandi diguyur air Di lap dengan air
menggunakan hangat, tidak
sabun dan sampo, keramas hanya di
dan gosok gigi. lap dan tidak
Menggunting kuku gosok gigi hanya
seminggu sekali. kumur-kumur
saja. Tidak gunti-
ng kuku, kuku
pasien pendek
dan bersih.
4. Istirahat tidur
a. Jumlah jam tidur
a. Siang 2 jam 2 jam
b. Malam 8 jam 6-7 jam
b. Pola tidur Terjadwal Tidak menentu
c. Keluhan Tidak ada Tidak ada
5. Aktivitas bermain Main di lingkungan Tiduran di tempat
rumah jam 10.00 tidur, terkadang
habis dzuhur digendong oleh
pulang dan tidur. ibu atau ayahnya.

1) Kebutuhan cairan

BB : 8 Kg

Rumus :

10 kg pertama : 100 ml/kg BB/hari

: 100 x 8 Kg

: 800 ml/hari

Balance Cairan

Intake (dalam 24 jam)

- Cairan infus Ringer Laktat 500 ml

- Minum 240 ml

Jumlah 740 ml
63

Output (dalam 24 jam)

- IWL : 30 – (usia(tahun))/kg BB/hari

: (30 – 1,5) x 8 = 228 ml

- Urin + feses (pempers)

Pukul 10.00 – 14.00 : 100 ml

Pukul 14.00 – 21.00 : 310 ml

Pukul 21.00 – 10.00 : 362 ml

Jumlah urin : 772 ml

Jumlah output total : urin + IWL

: 772 + 228 = 1000 ml

Balance cairan : input – output

: 740 – 1000 = - 260 ml

d. Penunjang

1) Diagnosa medis : Gastrointestinal Akut dehidrasi ringan-

sedang

2) Tindakan operasi : Tidak ada

3) Obat-obatan dan terapi :

a) Ringer Laktat 500 ml/hari

b) Antrain 3 x 80 mg

c) Ranitidin 2 x 8 mg

d) Ondansetron 3 x 0,8 mg

e) Zink 1 x 5 ml

f) L-Bio 2 x ½ sachet
64

4) Hasil pemeriksaan penunjang

a) Laboratorium :

Tabel 4.3
Hasil Laboratorium
Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai normal
20 Mei 2018 Pemeriksaan Feses
1. Makroskopis
- Warna Kuning hijau
- Bau Khas Khas
- Konsistensi Cair Lunak
- Lendir Negatif Negatif
- Darah Negatif Negatif
- Nanah Negatif Negatif
2. Mikroskopis
- Lekosit (+) 1 – 3 /LPB -
- Eritrosit (+) 1 – 3/LPB -
- Amoeba Negatif Negatif
- Bakteri Positif Negatif
19 Mei 2018 Pemeriksaan Darah
Lengkap
- Hemoglobin 9,0 g/dL 10,7-13,1 g/dL
- Lekosit 7,0 103 /uL 6-17103 /uL
- Trombosit 818 103 /uL 229-553103 /uL
- Hematokrit 28,6 % 35-43 %
- Eritrosit 5,74 106 /uL 3,6-5,2 106 /uL
- MCV 49,8 fL 74-102 fL
- MCH 15,7 pg 21-31 pg
- Monosit 13,9 % 1-6 %

b) Ronsent/USG : Tidak ada

e. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan umum :

Kesadaran : Compos Mentis E4 V5 M6, lesu, gelisah, cengeng, mudah

mengantuk.

a) Tinggi Badan : 80 cm

b) Berat badan
65

(1) Sebelum sakit : 8 kg

(2) Saat sakit : 8 kg

Berat badan berdasarkan tinggi badan : -3SD s/d < -2SD

c) Lingkar Kepala : 46 cm

d) Lingkar Dada : 50 cm

e) Lingkar Perut : 53 cm

f) Lingkar Lengan : 11 cm

g) Tanda Vital :

TD 100/60 mmHg, Nadi 130x/menit, Respirasi 25x/m, suhu 37ºC

2) Sistem Pernafasan :

Tidak terlihat cuping hidung, bernapas menggunkan perut/ abdominal

torakal, bentuk dada simetris, tidak terlihat sumbatan atau lendir pada

area hidung, frekuensi napas 25x/menit dan irama teratur, tidak ada

nyeri tekan pada bagian dada. Bunyi napas normal, vesikuler.

3) Sistem kardiovaskuler :

Bentuk dada simetris antara kiri dan kanan, tidak ada jejas pada bagian

dada, tidak terlihat pucat pada akral ekstremitas pasien, konjungtiva

tidak anemis, teraba frekuensi nadi 130x/menit, kedalaman normal dan

irama teratur. Capillary refill time (CRT) < 2 detik . Akral teraba

hangat. Suara jantung BJ2 lupdup.


66

4) Sistem Pencernaan :

Mukosa mulut terlihat kering, gigi bersih, bentuk perut simetris antara

kiri dan kanan. Tidak ada distensi abdomen, namun saat diraba teraba

sedikit keras atau begah. Terdengar peristaltik usus 17x/menit, tidak

teratur. Tidak ada nyeri tekan pada bagian perut. Napsu makan

menurun, klien minum dengan lahap dan terlihat haus.

5) Sistem Persyarafan :

a) Kesadaran : compos mentis E4 V5 M6

b) Fungsi kranial

(1) Nervus I (olfaktorius) :

Pasien dapat merasakan bau susu dan minyak telon yang biasa

dipakai

(2) Nervus II (optikus) :

Pasien dapat melihat gambar kuda dalam jarak 30 cm

(3) Nervus III (okulomotorius) :

Pasien dapat menggerakkan bola mata ke atas

(4) Nervus IV (troklearis) :

Pasien mampu menggerakkan bola mata ke bawah

(5) Nervus V (trigeminus) :

Pasien dapat tersenyum, menutup mata dengan rapat, dan

mengangkat kedua alis.


67

(6) Nervus VI (abdusen) :

Pasien mampu menggerakan bola mata kesamping, reflek

kornea baik.

(7) Nervus VII (fasialis) :

Pasien merintih dan menangis saat penulis menghampiri

(8) Nervus VIII (akustikus) :

Ketika ibu memanggil namanya pasien menengok ke arah

ibunya

(9) Nervus IX (glosofaringeus) :

Refleks muntah positif

(10)Nervus X (vagus) :

Fungsi menelan baik ketika pasien sedang makan

(11)Nervus XI (aksesorius) :

Ketika ingin di beri obat pasien dapat mengangkat bahu dan

memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri

(12)Nervus XII (hypoglasus) :

Pasien mampu menggerakan lidah ketika mengunyah makanan

6) Sistem Endokrin :

Bentuk leher simetris tidak terlihat benjolan, tidak teraba pembesaran

kelenjar tiroid, dan kelenjar lainnya.

7) Sistem Genitourinaria :

Vagina terlihat bersih, tidak ada kemerahan atau tanda-tanda iritasi.


68

8) Sistem Muskuloskeletal :

Bentuk tangan dan kaki simetris antara kiri dan kanan. Tidak terlihat

benjolan, terlihat luka infus pada tangan kanan pasien, tidak ada nyeri

tekan pada bagian ekstremitas pasien. Tidak ada keterbatasan gerak.

Kekuatan otot 5 5

5 5

9) Sistem Integumen dan imunitas :

Warna kulit sawo matang, bersih, terlihat kemerahan pada kulit anus,

tidak terlihat benjolan atau lecet maupun lebam. Kekenyalan kulit

sedikit kurang. Kulit perut kembali lambat 1 detik saat dicubit.

10) Wicara dan THT :

Kuping terdapat sedikit serumen. Pasien dapat berbicara dengan baik,

pendengaran baik.

11) Sistem Penglihatan :

Mata terlihat cekung, bentuk mata simetris kanan dan kiri, konjungtiva

tidak anemis. Sklera tidak ikterik. Pasien dapat melihat dengan baik.

f. Pemeriksaan Tingkat Perkembangan

1) Kemandirian dan bergaul :

Dapat makan dan minum sendiri dengan bantuan, tanpa banyak yang

tumpah. Sering bermain dengan teman sebayanya saat di rumah. Dapat

melepas sendal sendiri.


69

2) Motorik halus :

Setelah selesai memainkan mainan, pasien dapat memasukan beberapa

mainan ke dalam wadahnya. Pasien dapat menumpuk beberapa benda

seperti kubus. Anak suka mencorat-coret dikertas jika diberi pensil

atau pulpen.

3) Motorik kasar :

Dapat berdiri sendiri tanpa bantuan, dapat memungut benda yang jatuh

saat berdiri, dapat berjalan mundur 5 langkah. Anak dapat menaiki

tangga dengan berpegangan.

4) Kognitif dan bahasa :

Pasien mampu memasukan dan mengeluarkan mainan ke dalam

wadah, meniru menyapu lantai, dapat memanggil ibu dan ayahnya.

g. Analisa Data

Tabel 4.4
Analisa Data
Masalah
Data Pasien Etiologi
Keperawatan
DS : Makanan dan minuman Diare berhubungan
Ibu pasien mengatakan yang terkontaminasi
anaknya mencret, menu- dengan masuknya
rutnya mencret disebab-
kan karena anaknya Mikroorganisme masuk patogen ke dalam
makan ciki, coklat dan es saluran cerna
susu (jajanan warung). saluran pencernaan.
DO :
1. BAB lebih dari 10 Produksi enterotoksin
kali
2. Konsistensi BAB :
cair, kuning Hiperperistaltik
kehijauan, tidak
berlendir dan
tidak disertai Pengeluaran isi usus
70

darah berlebih
3. Frekuensi nadi
130 x/ menit
4. Mata cekung Diare
5. Kekenyalan kulit
kurang
6. Demam dan
muntah hilang
pada hari ke 2
7. Peristaltik usus 17
x/menit
8. Minum dengan
lahap
9. Hasil laboratorium
: Bakteri : positif
DS : Kerusakan mukosa usus Kekurangan volume
Menurut ibu pasien, An.K cairan berhubungan
minum dengan lahap dan dengan kehilangan
sering merasa haus Gangguan absorpsi cairan melalui feses.
DO : cairan dan elektrolit
1. Mukosa bibir
kering
2. Kekenyalan kulit Peningkatan tekanan
kurang osmotik
3. Mata cekung
Balance cairan
: input – output Hiperperistaltik
: 740 – 858
= - 118 ml
Diare

Kehilangan cairan

Kekurangan volume
cairan

DS : ibu pasien Hiperperistaltik Nyeri akut berhu-


mengatakan anaknya
sering merintih kesakitan bungan dengan pe-
terkadang memegangi Kehilangan cairan dan
perutnya. Pasien sering elektrolit ningkatan defekasi.
mengatakan “lara..”.
DO :
- Cengeng Pengeluaran isi usus
71

- Mudah menangis (feses) berlebihan


- Skala nyeri WB :
6, nyeri sedang
- Perut teraba Area anus lecet
sedikit keras
- Peristaltik usus Nyeri akut
17x/menit
DS :ibu mengatakan Masuknya Kerusakan integritas
terdapat kemerahan di mikroorganisme dalam
sekitar anus saluran cerna kulit berhubungan
DO :
- Sering buang air dengan iritasi lapisan
besar Pertahanan tubuh
- Frekuensi BAB memproduksi HCl rektum akibat
lebih dari 10 kali
peningkatan defekasi.
Peningkatan HCl dalam
saluran cerna

Feses bersifat asam

Pengeluaran feses
berlebihan (diare)

Kemerahan pada area


anus

Kerusakan integritas
kulit

DS : Diare (sakit) Kecemasan


Ibu pasien mengatakan
semenjak anaknya sakit berhubungan dengan
jadi rewel dan sering Mendapatkan perawatan
menangis di rumah sakit faktor psikologis
DO :
- Gelisah terhadap status
- Menarik diri Lingkungan yang baru
- Kontak mata kesehatan dan
kurang
- Mudah menangis Hospitalisasi hospitalisasi.
72

selalu
memanggil ibu
dan ayahnya Kecemasan
- Mendapat
perawatan rumah
sakit
- Lingkungan baru
(rawat inap)

3. Prioritas Masalah Keperawatan (Diagnosa Keperawatan)

1. Diare berhubungan dengan masuknya patogen ke dalam saluran

pencernaan.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

melalui feses.

3. Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan defekasi.

4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi lapisan

rektum akibat peningkatan defekasi.

5. Kecemasan berhubungan dengan faktor psikologis terhadap status

kesehatan dan hospitalisasi.


4. Intervensi Keperawatan
Tabel 4.5
Intervensi Keperawatan
Intervensi
No. Diagnosa Keperawatan
Tujuan (NOC) Tindakan Keperawatan (NIC)
1. Diare berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan selama 1. Kaji feses mengenai frekuensi, warna,
masuknya patogen ke dalam 3 x 24 jam diare dapat dihilangkan konsistensi feses.
saluran pencernaan. dengan dibuktikan oleh indikator: 2. Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti
1. Frekuensi defekasi yang normal kesadaran, pernafasan, nadi, turgor
2. Terhidrasi dengan baik kulit, mukosa mulut.
(membran mukosa lembab, 3. Kolaborasi terapi rehidrasi oral sesuai
turgor bola mata baik, turgor program.
kulit baik) 4. Konsultasikan pada dokter jika tanda
3. Frekuensi nadi normal (80- dan gejala diare menetap.
90x/menit) 5. Pantau nilai laboratorium
4. Peristaltik usus normal 6. Berikan pendidikan kesehatan
(5-15x/menit) mengenai diare seperti tanda gejala
diare dan perawatannya.
2. Kekurangan volume cairan Setelah dilakukan perawatan selama 1. Kaji keluhan umum klien dan tanda-
berhubungan dengan kehilangan 3 x 24 jam kekurangan cairan akan tanda vital
cairan melalui feses. teratasi dengan indikator : 2. Kaji intake dan output cairan anak
1. Memiliki keseimbangan asupan dalam 24 jam.
cairan dan haluaran yang 3. Pantau perdarahan pada feses dan
seimbang daerah anus.
2. Menampilkan hidrasi yang baik 4. Kaji tanda-tanda dehidrasi
(mukosa bibir lembab, turgor 5. Timbang berat badan anak

73
kulit tidak kering, mata tidak 6. Hitung kebutuhan cairan harian anak
cekung) berdasarkan berat badan.
3. Tidak mengalami haus yang 7. Berikan terapi IV atau oral sesuai
tidak normal program.
3. Nyeri akut berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan selama 1. Kaji penyebab nyeri yang dirasakan
peningkatan defekasi. 3 x 24 jam rasa nyeri berkurang anak
dengan menunjukkan : 2. Kaji nyeri pada anak dengan
1. Tidak merintih dan menangis menggunakan skala wajah atau skala
2. Skala nyeri berkurang menjadi 3 bergambar lainnya.
(nyeri ringan) 3. Lakukan perubahan posisi dan anjurkan
3. Mempertahankan selera makan orang tua untuk masase punggung anak.
dengan baik 4. Anjurkan orang tua untuk memberikan
metode distraksi dalam mengurangi
nyeri seperti bercerita, dan
mengajaknya bernyanyi.
4. Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan perawatan selama 1. Observasi tanda-tanda kerusakan
berhubungan dengan iritasi 3 x 24 jam kerusakan integritas kulit integritas kulit meliputi: kulit yang
lapisan rektum akibat feses yang teratasi dengan tidak adanya tanda- kering, ruam dan lecet, warna
bersifat asam. tanda kerusakan kulit seperti : kemerahan, kekeringan yang berlebihan
1. Mukosa kulit ruam dan lecet sehari sekali.
2. Kulit yang kering 2. Bersihkan kulit saat terkena kotoran.
3. Tidak ada kemerahan pada kulit 3. Anjurkan orang tua untuk mengganti
anus popok setiap jam atau basah.
4. Kekenyalan kulit kembali 4. Berikan lotion pelembab kulit untuk
normal anak di kulit yang kering

74
5. Kecemasan berhubungan dengan Setelah dilakukan perawatan selama 1. Kaji respon cemas subjektif dan
faktor psikologis terhadap status 3 x 24 jam cemas teratasi dengan objektif pasien.
kesehatan dan hospitalisasi indikator sebagai berikut : 2. Gunakan pendekatan yang tenang dan
1. Pasien tenang meyakinkan.
2. Tidak gelisah 3. Berikan lingkungan yang nyaman dan
3. Tidak menangis atau cemas aman seperti memfasilitasi orang tua
4. Pasien dapat beristirahat dengan selama proses perawatan, memberikan
cukup selimut saat tidur.
4. Anjurkan orang tua untuk
menggendong pasien saat menangis.
5. Berikan mainan yang disukai anak

75
5. Implementasi Keperawatan

Tabel 4.6
Implementasi Keperawatan
Diagnosa Waktu Tanda
Tanggal Tindakan Keperawatan
Keperawatan (Jam) tangan
20/06/2018 Diare berhubungan 10.00 WIB 1. T: Mengkaji feses mengenai frekuensi, warna,
dengan masuknya konsistensi feses.
patogen ke dalam R:
saluran pencernaan. - Frekuensi lebih 10x
Fransiska O.
- Warna kuning kehijauan, cair, sedikit ampas, tidak
ada lendir dan darah
10.05 WIB 2. T: Mengkaji tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran,
pernafasan, nadi, turgor kulit, mukosa mulut.
R:
- Kesadaran compos mentis
Fransiska O.
- RR : 25x/menit, Nadi : 130x/menit
- Mukosa bibir kering, kulit kembali lambat (1 detik)
12.00 WIB 3. T: Berkolaborasi pemberian terapi rehidrasi sesuai
program.
R:
- Zink 1 x 5 ml

76
- L-Bio 1 sachet untuk pemakaian (2 x ½ sachet) Fransiska O.
11.00 WIB 4. Memantau nilai laboratorium
R: Bakteri positif

Fransiska O.

20/06/2018 Kekurangan volume 10.10 WIB 1. T: Mengkaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital
cairan berhubungan R: Ibu pasien mengatakan anaknya mencret lebih dari
dengan kehilangan 10 kali, cair, tekanan darah: 100/60 mmHg, Nadi: Fransiska O.
cairan melalui feses. 130x/menit, RR: 25x/menit, Suhu: 37°C
10.25 WIB 2. T: Mengkaji intake dan output cairan anak dalam 24
jam.
R: Balance cairan : Fransiska O.
input – output : 740 – 1000 = - 260 ml
10.15 WIB 3. T: Memantau perdarahan pada feses dan daerah anus.
R: tidak ada perdarahan pada feses dan anus
10.17 WIB 4. T: Mengkaji tanda-tanda dehidrasi Fransiska O.
R: anak gelisah, cengeng, lesu, mukosa bibir kering,
mata cekung, kulit kembali lambat (1 detik), nadi: Fransiska O.
130x/menit
Balance cairan -260.
10.20 WIB 5. T: Menimbang berat badan anak
R: berat badan pasien 8 Kg
12.10 WIB 6. T: Menghitung kebutuhan cairan harian anak Fransiska O.

77
berdasarkan berat badan.
R: BB : 8 Kg
Rumus : 100ml/kg BB Fransiska O.
: 100 x 8kg
: 800 ml/24 jam/hari
12.00 WIB 7. T: Memberikan terapi IV atau oral sesuai program.
R:
- Ranitidin 1 x 8 mg Fransiska O.
- Ondansetron 1 x 0,8 mg

20/06/2018 Nyeri akut 10.00 WIB 1. T: Mengkaji penyebab nyeri yang dirasakan anak
berhubungan dengan R: Nyeri anak dirasakan karena frekuensi BAB yang
peningkatan meningkat, pasien terkadang memegangi perutnya
defekasi. ketika menangis.
Fransiska O.
10.07 WIB 2. T: Mengkaji nyeri pada anak dengan menggunakan
skala wajah atau skala bergambar lainnya.
R: skala nyeri 6 (nyeri sedang) dengan menggunakan
kombinasi skala Wong-Baker dan Numeric Rating
Scale
Fransiska O.

78
10.15 WIB

10.18 WIB

3. T: Melakukan perubahan posisi dan anjurkan orang tua


untuk masase punggung anak. Fransiska O.
R: pasien terlihat tenang dan tidak menangis.
4. T: menganjurkan orang tua untuk memberikan metode
distraksi dalam mengurangi nyeri seperti bercerita, dan
mengajaknya bernyanyi. Fransiska O.
R: pasien berhenti menangis
20/06/2018 Kerusakan integritas 10.18 WIB 1. T: Mengobservasi tanda-tanda kerusakan integritas kulit
kulit berhubungan meliputi: kulit yang kering, ruam dan lecet, warna
dengan iritasi lapisan kemerahan, kekeringan yang berlebihan sehari sekali.
rektum akibat R: mukosa bibir kering, tidak ada lecet namun terdapat Fransiska O.
peningkatan kemerahan pada daerah anus.
defekasi. 10.45 WIB 2. T: Menganjurkan ibu untuk bersihkan kulit saat terkena
kotoran.
R: ibu membersihkan kulit daerah anussaat mengganti
Fransiska O.
popok.

79
10.50 WIB 3. T: Mengajurkan orang tua untuk mengganti popok
setiap jam atau basah.
R: ibu mengganti popok setiap basah dan terasa berat.
11.00 WIB 4. T: Memberikan lotion untuk anak pada kulit yang Fransiska O.
kering
R: kulit anak menjadi lembab

Fransiska O.
20/06/2018 Kecemasan 10.02 WIB 1. T: Mengkaji respon cemas subjektif dan objektif pasien.
berhubungan dengan R: pasien sering menangis, sering memanggil ibu dan
faktor psikologis ayahnya, kontak mata kurang, menarik diri.
Fransiska O.
terhadap status 10.03 WIB 2. T:Menggunakan pendekatan yang tenang dan
kesehatan dan meyakinkan.
hospitalisasi R: pasien menjadi tenang, tidak menangis.
10.04 WIB 3. T: Berikan lingkungan yang nyaman dan aman seperti Fransiska O.
memfasilitasi orang tua selama proses perawatan,
memberikan selimut saat tidur.
Fransiska O.
R: pasien tampak tenang, berhenti menangis.
10.08 WIB 4. T: Anjurkan orang tua untuk menggendong pasien saat
menangis.
R: ibu menggendong pasien saat menangis, pasien Fransiska O.
menjadi tenang.

21/06/2018 Diare berhubungan 14.30 WIB 1. T: Mengkaji feses mengenai frekuensi, warna,

80
dengan masuknya konsistensi feses.
patogen ke dalam R:
saluran pencernaan - Frekuensi lebih 4x
Fransiska O.
- Warna kuning kehijauan, cair, terdapat ampas,
tidak ada lendir dan darah
14.35 WIB 2. T: Mengkaji tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran,
pernafasan, nadi, turgor kulit, mukosa mulut.
R:
- Kesadaran compos mentis
- RR : 23x/menit, Nadi : 110x/menit Fransiska O.
- Mukosa bibir kering
17.00 WIB 3. T: Berkolaborasi pemberian terapi rehidrasi sesuai
program.
R:
- Ringer Laktat 10 tetes per menit (micro)
- Zink 1 x 5 ml Fransiska O.
- L-Bio 1 sachet untuk pemaaian 2 x ½ sachet
4. T: berikan pendidikan kesehatan mengenai diare
seperti tanda gejala diare dan perawatannya.
R : ibu dapat menjelaskan 3 tanda gejala dan perawatan
diare dengan pemberian oralit. Fransiska O.

21/06/2018 Kekurangan volume 14.40 WIB 1. T: Mengkaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital
cairan berhubungan R: Ibu pasien mengatakan anaknya mencret sudah 4
dengan kehilangan kali, cair, tekanan darah: 100/50 mmHg, Nadi: Fransiska O.

81
cairan melalui feses 110x/menit, RR: 23x/menit, Suhu: 36,7°C
15.00 WIB 2. T: Mengkaji intake dan output cairan anak dalam 24
jam.
R: Balance cairan : Fransiska O.
 Input
- Cairan infus Ringer Laktat 500 ml
- Minum 300 ml
Jumlah 800 ml
 Output (dalam 24 jam)
- IWL : 30 – (usia(tahun))/kg BB
: (30 – 1,5) x 8 = 228 ml
- Urin + feses (pempers)
Pukul 10.00 – 14.00 : 100 ml
Pukul 14.00 – 21.00 : 310 ml
Pukul 21.00 – 10.00 : 330 ml
Jumlah urin : 740 ml
Jumlah output total : 740 + 228 = 868 ml
Balance cairan : input – output
: 800 – 968 = - 168 ml

14.45 WIB 3. T: Mengkaji tanda-tanda dehidrasi


R: anak masih gelisah, cengeng, lesu, mukosa bibir
kering, mata cekung, nadi: 110x/menit
Balance cairan : input – output Fransiska O.

82
14.50 WIB : 800 – 868 = - 68 ml
4. T: Menimbang berat badan anak
17.00 WIB R: berat badan pasien 8 Kg
Fransiska O.
5. T: Memberikan terapi IV atau oral sesuai program.
R:
- Ranitidin 1 x 8 mg
- Ondansetron 1 x 0,8 mg Fransiska O.

21/06/2018 Nyeri akut 14. 55WIB 1. T: Mengkaji perubahan skala nyeri pada anak dengan
berhubungan dengan menggunakan skala wajah atau skala bergambar
peningkatan lainnya.
Fransiska O.
defekasi. R: skala nyeri 4 (nyeri sedang) dengan menggunakan
kombinasi skala Wong-Baker dan Numeric Rating
Scale

2. T: menganjurkan kembali orang tua untuk masase


14.58 WIB
punggung anak. Fransiska O.

83
R: pasien terlihat tenang dan tidak menangis
21/06/2018 Kerusakan integritas 15.05 WIB 1. T: Mengobservasi integritas kulit meliputi: kulit yang
kulit berhubungan kering, ruam dan lecet, warna kemerahan, kekeringan
dengan iritasi lapisan yang berlebihan sehari sekali.
Fransiska O.
rektum akibat R: mukosa bibir masih kering, tidak ada lecet namun
peningkatan terdapat kemerahan pada daerah anus.
defekasi. 15.10 WIB 2. T: Menganjurkan kembali ibu untuk bersihkan kulit saat
terkena kotoran.
R: ibu mengatakan selalu membersihkan kulit daerah
anus dan alat kelamin anaknya saat mengganti popok. Fransiska O.

21/06/2018 Kecemasan 14.30 WIB 1. T:Menggunakan pendekatan yang tenang dan


berhubungan dengan meyakinkan. Dengan cara menyapa dan menanyakan
faktor psikologis kabarnya sambil membawa boneka kecil.
terhadap status R: pasien menjadi tenang, menangis berkurang. Fransiska O.
kesehatan dan 16.00 WIB 2. T: Berikan mainan yang disukai anak seperti boneka
hospitalisasi kecil
R: pasien menjadi tenang, terlihat senang dengan
boneka yang penulis beri, mulai mau diajak berinteraksi Fransiska O.
dan menerima kehadiran penulis.

22/06/2018 Diare berhubungan 08.00WIB 1. T: Mengkaji feses mengenai frekuensi, warna,


dengan masuknya konsistensi feses.
patogen ke dalam R:
Fransiska O.
saluran pencernaan - Frekuensi BAB 1x

84
- Warna kuning, lunak, sedikit ampas, tidak ada
lendir dan darah
08.10WIB 2. T: Mengkaji tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran,
pernafasan, nadi, turgor kulit, mukosa mulut.
R: Fransiska O.
- Kesadaran compos mentis
- RR : 20x/menit, Nadi : 72x/menit
- Mukosa bibir lembab
12.00 WIB 3. T: Berkolaborasi pemberian terapi rehidrasi sesuai
program.
R:
Fransiska O.
- Ringer Laktat 10 tetes per menit (micro)
- Zink 1 x 5 ml
- L-Bio 1 sachet untuk pemaaian 2 x ½ sachet

22/06/2018 Kekurangan volume 08.20WIB 1. T: Menkaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital
cairan berhubungan R: Ibu pasien mengatakan anaknya hanya 1 kali, sudah
dengan kehilangan lunak, tekanan darah: 100/60 mmHg, Nadi: 72x/menit,
Fransiska O.
cairan melalui feses RR: 20x/menit, Suhu: 36°C
08.30WIB 2. T: Mengkaji intake dan output cairan anak dalam 24
jam.
R: Balance cairan :
- Cairan infus Ringer Laktat 300 ml Fransiska O.
- Minum 100 ml
Jumlah 440 ml

85
 Output (dalam 24 jam)
- IWL : 30 – (usia/tahun)/kg BB
: (30 – 1,5) x 8 =228 ml
- Urin + feses (pempers)
Pukul 10.00 – 16.00 : 250 ml
Jumlah urin : 250 ml
Jumlah output total : 250 + 228 = 478 ml
Balance cairan : input – output
: 440 – 478 = - 38 ml
08.35WIB 3. T: Menkaji tanda-tanda dehidrasi
R: anak masih sudah tidak gelisah, terkadang menangis,
sedikit lesu, mukosa bibir lembab, cekungan mata
berkurang, nadi: 72x/menit Fransiska O.
Balance cairan : input – output
: 440 – 478 = - 38 ml
06.40 WIB 4. T: Menimbang berat badan anak
R: berat badan pasien 8 Kg
Fransiska O.
12.00 WIB 5. T: Memberikan terapi IV atau oral sesuai program.
R:
- Ranitidin 1 x 8 mg
- Ondansetron 1 x 0,8 mg Fransiska O.

22/06/2018 Nyeri akut 12.10WIB 1. T: Mengkaji perubahan skala nyeri pada anak dengan Fransiska O.
berhubungan dengan menggunakan skala wajah atau skala bergambar
peningkatan lainnya.

86
defekasi. R: skala nyeri 3 (nyeri ringan) anak mulai tenang,
jarang menangis. Penilaian menggunakan kombinasi
skala Wong-Baker dan Numeric Rating Scale
12.15WIB 2. T: menganjurkan kembali orang tua untuk masase
Fransiska O.
punggung anak.
R: pasien terlihat tenang dan tidak menangis

22/06/2018 Kerusakan integritas 08.45 WIB 1. T: Mengobservasi integritas kulit meliputi: kulit yang
kulit berhubungan kering, ruam dan lecet, warna kemerahan, kekeringan
dengan iritasi lapisan yang berlebihan sehari sekali.
rektum akibat R: mukosa bibir lembab, tidak ada lecet namun terdapat
Fransiska O.
peningkatan kemerahan pada daerah anus.
defekasi. 08.50 WIB 2. T: Menganjurkan kembali ibu untuk bersihkan kulit saat
terkena kotoran.
R: ibu mengatakan selalu membersihkan kulit daerah
anus dan alat kelamin anaknya saat mengganti popok.
Fransiska O.

22/06/2018 Kecemasan 08.00 WIB 1. T:Menggunakan pendekatan yang tenang dan Fransiska O.
berhubungan dengan meyakinkan. Dengan cara menyapa dan menanyakan
faktor psikologis kabarnya sambil membawa mainan (gambar hewan)
terhadap status R: pasien terlihat tenang dan mulai tersenyum.
kesehatan dan 08.20 WIB 2. T: Mengkaji rasa cemas pasien Fransiska O.
hospitalisasi R: pasien terlihat tenang, kontak mata terhadapa penulis
baik.

87
6. Evaluasi keperawatan

Tabel 4.7
Evaluasi keperawatan
Tanda
Tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi
Tangan
20/06/2018 Diare berhubungan dengan S: ibu pasien mengatakan anaknya masih mencret lebih dari
masuknya patogen ke dalam 3 kali
saluran pencernaan O: frekuensi BAB lebih dari 3 kali, cair, sedikit berlendir,
tidak ada ampas dan darah. Warna kuning kehijauan. Tidak
ada mual dan muntah. Tidak demam, suhu: 37°C. Fransiska O.
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi :
1. Kaji feses mengenai frekuensi, warna, konsistensi feses.
2. Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran,
pernafasan, nadi, turgor kulit, mukosa mulut.
3. Kolaborasi terapi rehidrasi oral sesuai program.
4. Berikan pendidikan kesehatan mengenai diare seperti
tanda gejala diare dan perawatannya.
20/06/2018 Kekurangan volume cairan S: ibu pasien mengatakan anaknya masih sering ingin
berhubungan dengan minum, masih merasa haus.
kehilangan cairan melalui feses O: mata terlihat cekung, mukosa bibir kering, kulit kembali
lambat (1 detik), terlihat haus. Balance cairan : input –
output = 740 – 1000 = - 260 ml
A: masalah belum teratasi Fransiska O.

88
P: lanjutkan intervensi :
1. Kaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan anak dalam 24 jam.
3. Kaji tanda-tanda dehidrasi
4. Timbang berat badan anak
5. Berikan terapi IV atau oral sesuai program.
20/06/2018 Nyeri akut berhubungan S: ibu pasien mengatakan anaknya masih sering menangis,
dengan peningkatan defekasi. rewel dan kadang memegangi perutnya.
O: anak sering meringis, skala nyeri 6 (nyeri sedang).
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi Fransiska O.
1. Kaji nyeri pada anak dengan menggunakan skala wajah
atau skala bergambar lainnya.
2. Lakukan perubahan posisi dan anjurkan orang tua untuk
masase punggung anak.
20/06/2018 Kerusakan integritas kulit S: ibu pasien mengatakan terdapat kemerahan di bagian
berhubungan dengan iritasi lapisan kulit anus pasien.
lapisan rektum akibat O: warna kulit anus kemerahan, terjadi peningkatan defekasi
peningkatan defekasi. lebih dari 10 kali
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi Fransiska O.
1. Observasi tanda-tanda kerusakan integritas kulit
meliputi: kulit yang kering, ruam dan lecet, warna
kemerahan, kekeringan yang berlebihan sehari sekali.

89
2. Anjurkan orang tua untuk mengganti popok setiap jam
atau basah.
20/06/2018 Kecemasan berhubungan S: ibu pasien mengatakan anaknya masih sering rewel dan
dengan faktor psikologis menangis
terhadap status kesehatan dan O: pasien tidak tenang, mudah marah dan menangis. Selalu
hospitalisasi ingin dekat dengan orangtuanya terutama ibu.
A: masalah belum teratasi Fransiska O.
P: lanjutkan intervensi
1. Kaji respon cemas subjektif dan objektif pasien.
2. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
3. Anjurkan orang tua untuk menggendong pasien saat
menangis.
4. Beri mainan yang disukai anak
21/06/2018 Diare berhubungan dengan S: ibu mengatakan anaknya BAB 4x, berwarna kuning,
masuknya patogen ke dalam terdapat ampas, tidak ada darah maupun lendir.
saluran pencernaan O: frekuensi BAB 4x, berwarna kuning, terdapat ampas,
tidak ada darah maupun lendir. Mata sedikit cekung, anak
sedikit rewel. Ibu dapat menjelaskan 3 tanda gejala diare dan
perawatan dirumah. Fransiska O.
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi
1. Kaji feses mengenai frekuensi, warna, konsistensi feses.
2. Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran,
pernafasan, nadi, turgor kulit, mukosa mulut.

90
3. Kolaborasi terapi rehidrasi oral sesuai program.
21/06/2018 Kekurangan volume cairan S: menurut ibu pasien anaknya masih sering ingin minum
berhubungan dengan O: mata cekung berkurang, mukosa bibir kering, Balance
kehilangan cairan melalui feses cairan : input – output
: 800 – 968 = - 168 ml
A: masalah belum teratasi
P: lanjutkan intervensi Fransiska O.
1. Kaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital
2. Kaji intake dan output cairan anak dalam 24 jam.
3. Kaji tanda-tanda dehidrasi
4. Timbang berat badan anak
Berikan terapi IV atau oral sesuai program.
21/06/2018 Nyeri akut berhubungan S: ibu pasien mengatakan anaknya masih sering manangis
dengan peningkatan defekasi. O: anak terlihat rewel, terkadang menangis, terkadang suka
tidak menghiraukan perawat.
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
1. Kaji nyeri pada anak dengan menggunakan skala Fransiska O.
wajah atau skala bergambar lainnya.
2. Lakukan perubahan posisi dan anjurkan orang tua
untuk masase punggung anak.
21/06/2018 Kerusakan integritas kulit S: -
berhubungan dengan iritasi O: kemerahan di bagian anus berkurang, tidak ada lecet
lapisan rektum akibat maupun perdarahan.
peningkatan defekasi. A: masalah teratasi sebagian

91
P: lanjutkan intervensi
1. Observasi tanda-tanda kerusakan integritas kulit
meliputi: kulit yang kering, ruam dan lecet, warna
kemerahan, keke-ringan yang berlebihan sehari sekali.
2. Anjurkan orang tua untuk mengganti popok setiap jam Fransiska O.
atau basah.
21/06/2018 Kecemasan berhubungan S: menurut ibu pasien anaknya masih sering menangis
dengan faktor psikologis O: pasien masih rewel, kontak mata kurang
terhadap status kesehatan dan A: masalah belum teratasi
hospitalisasi P: lanjutkan intervensi
1. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. Fransiska O.
2. Anjurkan orang tua untuk menggendong pasien saat
menangis.
22/06/2018 Diare berhubungan dengan S: ibu pasien mengatakan anaknya BAB 1x saja
masuknya patogen ke dalam O: frekuensi BAB 1x, berwarna kuning, lunak dan
saluran pencernaan berampas, tidak ada lendir maupun darah.
A: masalah teratasi
Fransiska O.
P: intervensi dihentikan
22/06/2018 Kekurangan volume cairan S: menurut orang tua pasien anaknya tidak merasa haus
berhubungan dengan terus-menerus
kehilangan cairan melalui feses O: mata cekung berkurang, mukosa bibir lembab, Balance
cairan : input – output
: 440 – 478 = - 38 ml
A: masalah teratasi sebagian Fransiska O.

92
P: intervensi dihentikan (pasien pulang)
22/06/2018 Nyeri akut berhubungan S: ibu pasien mengatakan anaknya tidak rewel, jarang
dengan peningkatan defekasi. menangis
O: pasien terlihat tenang, mulai diam tidak sering menangis,
terkadang tersenyum, skala nyeri 3 dari 0-10 (nyeri ringan)
A: masalah teratasi
Fransiska O.
P:intervensi dihentikan
22/06/2018 Kerusakan integritas kulit S: -
berhubungan dengan iritasi O: kemerahan di daerah lapisan anus hilang
lapisan rektum akibat A: masalah teratasi
peningkatan defekasi. P: intervensi dihentikan
Fransiska O.

22/06/2018 Kecemasan berhubungan S: -


dengan faktor psikologis O: pasien terlihat tenang dan rileks, tidak rewel, mulai
terhadap status kesehatan dan tersenyum saat diajak bercanda dan bermain, pasien mau
hospitalisasi ketika diperiksa oleh perawat.
A: masalah teratasi Fransiska O.
P: intervensi dihentikan

93
94

B. Pembahasan

1. Pengantar BAB

Bagian BAB ini penulis mendeskripsikan hasil penelitian secara singkat

dan membandingkan dengan konsep teori untuk menganalisa kesesuaian

hasil dengan teori yang ada.

2. Interpretasi dan Diskusi Hasil

a. Pengkajian

Penulis melakukan pengkajian pada An.K yang berusia 1 tahun 5

bulan. Saat melakukan pengkajian data diambil dari hasil pemeriksaan

fisik dan anamnesa yang didapat dari orang tua pasien dan perawat yang

menjaga pasien, pengkajian dilakukan pada tanggal 20 Mei 2018 pukul

10.00 WIB dengan data yang didapat yaitu ibu pasien mengatakan

anaknya mencret lebih dari 10 kali, warna kuning kehijauan, sedikit

ampas, tidak ada lendir dan darah serta bau feses khas. Terlihat lesu,

gelisah, mudah menangis, pasien sering haus, dengan hasil pemeriksaan

fisik mata pasien cekung, terdapat kemerahan pada anus, kulit kembali

lambat, dengan frekuensi nadi 130x/menit.

Hasil tersebut menurut Sodikin (2012) mengatakan bahwa feses

yang cair, dengan darah dan/atau tanpa lendir dengan frekuensi lebih dari

3 kali dalam sehari menunjukan diare. Namun dalam hasil pengkajian

tidak ditemukan lendir dan darah dalam feses. Sedangkan Zein, Sagala dan

Ginting dalam Jurnalnya yang berjudul Diare Akut Disebabkan Bakteri

mengatakan bahwa tidak semua diare fesesnya mengandung darah dan


95

lendir, darah dan lendir di sebabkan oleh mikroorganisme yang

menginflamasi mukosa usus. Untuk feses yang tidak disertai darah dan

lendir merupakan diare non inflamasi. Dan Departemen Kesehatan

Republik Indonesia (2011) mengatakan bahwa diare akut berlangsung

kurang dari 14 hari. Pasien mengalami diare selama 3 hari, dari lamanya

diare ini menunjukan pasien mengalami diare akut.

Pemeriksaan Hematologi menunjukan hasil Hemoglobin menurun

9,0 g/dL, Lekosit 7,0 103 /uL normal, Trombosit 818 103 /uL tinggi,

Hematokrit 28,6% menurun. Immi (2014) mengatakan hemoglobin,

hematokrit, dan BUN biasanya mengalami penurunan pada diare akut.

Hasil pemeriksaan feses menunjukan, warna kuning kehijauan, konsistensi

cair, bau feses khas dan bakteri positif. Hal ini menunjukan bahwa diare

pada pasien ini disebabkan oleh bakteri yang masuk pada saluran cerna.

Dari hasil anamnesa, ibu pasien juga mengatakan anaknya sering

memakan jajanan warung seperti ciki-cikian, coklat dan es susu. Dari

makanan tersebut dapat timbul diare akibat pengelolaan makanan atau

minuman yang tidak bersih. Menurut Alboneh (2012) yang dikutip dalam

Pudjiadi (2000) bahwa pada usia todler merupakan konsumen aktif yang

biasa terpapar dari makanan diluar rumah. Pada usia tersebut anak sering

mengikuti teman sebayanya, padahal pengelolaan dan penyajian makanan

atau minuman tersebut kurang higienis yang berakibat anak terkontaminasi

oleh makanan dan timbul diare.


96

Dari hasil tersebut sesuai dengan konsep teori. Menurut Kyle dan

Carman (2016: 748) mengatakan bahwa diare terjadi dengan adanya

peningkatan frekuensi atau penurunan konsistensi feses. Dan menurut

tanda gejala yang terjadi pada anak penderita diare yang disebabkan oleh

bakteri, virus dan protozoa akan timbul nyeri abdomen serta keram,

demam, mual, muntah,. Tanda dan gejala tersebut dijumpai pada An.K.

Wong (2009) mengatakan diare juga dapat menyebabkan

kekurangan cairan atau dehidrasi yang disebabkan akibat peningkatan

defekasi yang cair. Dari hasil pengkajian balance cairan An.K mengalami

kekurangan cairan, cairan yang masuk dari cairan infus, serta minuman

sebesar 740 ml dan haluaran cairan pasien dari IWL, urine dan feses

pasien sebesar 1000 ml. Dari intake dan output cairan pasien didapat

kekurangan cairan sebesar -260 ml atau kehilangan cairan sebanyak 3%

dari berat badan. Menurut Ikatan Dokter Indonesia (2009), anak dengan

kehilangan cairan sebesar 3% (30 ml/Kg BB) atau 240 ml termasuk

kategori dehidrasi ringan.

b. Diagnosa keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan penyataan mengenai masalah-

masalah kesehatan klien yang bersifat aktual atau potensial. Dengan

pernyataan yang ringkas, jelas, spesifik dan berpusat pada klien (Rosdahl

& Kowalski, 2016: 475).

Penulis menegakkan 5 diagnosa keperawatan berdasarkan data dari hasil

pengkajian yaitu :
97

1) Diare berhubungan dengan masuknya patogen ke dalam saluran

pencernaan.

2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

melalui feses.

3) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan defekasi.

4) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi lapisan rektum

akibat peningkatan defekasi.

5) Kecemasan berhubungan dengan faktor psikologis terhadap status

kesehatan dan hospitalisasi.

Diagnosa yang ditegakkan oleh penulis sesuai dengan konsep teori.

Menurut Wilkinson (2016) masalah yang muncul pada anak dengan diare

adalah:

1) Diare berhubungan dengan masuknya patogen dalam saluran

pencernaan, makanan atau air yang terkontaminasi.

2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

berlebih melalui feses atau emesis.

3) Nyeri akut berhubungan dengan distensi abdomen, peningkatan

defekasi.

4) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan kehilangan cairan melalui feses, masukan yang tidak adekuat.

5) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi lapisan rektum

akibat peningkatan defekasi.

6) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi mukosa usus.


98

7) Gangguan kenyamanan : mual dan muntah berhubungan dengan

proses infeksi saluran cerna.

8) Kecemasan berhubungan dengan faktor psikologis terhadap status

kesehatan dan hospitalisasi

9) Risiko syok berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah,

kekurangan volume cairan.

Masalah keperawatan yang disebutkan oleh Wilkinson hanya 5

diagnosa yang muncul pada hasil pengkajian 5 diagnosa aktual. Semua

diagnosa yang ditegakan penulis sesuai dengan konsep teori. Untuk

ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak ditegakan

dikarenakan tidak ada penurunan berat badan saat sakit, anak masih bisa

dimotivasi untuk makan dan minum susu. Menurut Mursilah (2010) pada

pasien diare dengan keadaan gizi yang baik, tubuh mempunyai cukup

kemampuan untuk mempertahankan diri dari penyakit infeksi. Sedangkan

hipertermi tidak muncul karena saat pengkajian suhu tubuh pasien normal

37°C. Gangguan kenyamanan tidak ditegakan karena saat pengkajian anak

tidak mengalami mual dan muntah. Resiko syok tidak muncul karena saat

pengkajian dan perawatan tidak ada tanda-tanda yang mendukung

diagnosa tersebut tekanan darah 100/60 mmHg, nadi 130x/menit, respirasi

25x/menit, suhu tubuh 37°C. Menurut Leksana (2015:392) syok terjadi

akibat penurunan perfusi jaringan vital atau menurunnya volume darah

secara bermakna. Beberapa perubahan yang terjadi pada syok hipovolemik


99

adalah menurunnya kardiak output, menurunnya blood pressure atau

tekanan darah.

c. Perencanaan keperawatan

Perencanaan keperawatan adalah pengembangan tujuan untuk

mencegah, mengurangi, atau mengatasi masalah dan untuk

mengidentifikasi intervensi keperawatan yang akan membantu klien dalam

memenuhi tujuan ini (Rosdahl & Kowalski, 2016: 478).

Perencanaan pada kasus An. K di buat berdasarkan prioritas masalah

keperawatan, dengan tujuan dan hasil yang diharapkan dan memilih

tindakan mandiri serta tindakan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya

sesuai konsep teori yang ada. Perencanaan keperawatan tersebut adalah

sebagai berikut:

1) Diare berhubungan dengan masuknya patogen ke dalam saluran

pencernaan.

Pada masalah utama diare penulis merencanakan tindakan mandiri

seperti kaji feses mengenai frekuensi, warna, konsistensi feses dan kaji

tanda-tanda dehidrasi seperti kesadaran, pernafasan, nadi, turgor kulit,

mukosa mulut. Sedangkan rencana tindakan keperawatan kolaborasi

adalah kolaborasi dengan dokter untuk terapi rehidrasi sesuai program.

2) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

melalui feses.

Perencanaan tindakan yang dibuat oleh penulis terdiri dari tindakan

mandiri seperti kaji keluhan umum klien dan tanda-tanda vital, kaji
100

intake dan output cairan anak dalam 24 jam. Pantau perdarahan pada

feses dan daerah anus. Kaji tanda-tanda dehidrasi, timbang berat badan

anak Hitung kebutuhan cairan harian anak berdasarkan berat badan.

Serta rencana tindakan kolaborasi seperti kolaborasi pemerikan terapi

IV atau oral sesuai program.

3) Nyeri akut berhubungan dengan peningkatan defekasi.

Penulis merencanakan tindakan keperawatan mandiri yaitu kaji

penyebab nyeri yang dirasakan anak, kaji nyeri pada anak dengan

menggunakan skala wajah atau skala bergambar lainnya. Lakukan

perubahan posisi dan anjurkan orang tua untuk masase punggung anak.

4) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi lapisan rektum

akibat peningkatan defekasi.

Tindakan keperawatan yang direncanakan oleh penulis adalah

observasi tanda-tanda kerusakan integritas kulit meliputi: kulit yang

kering, ruam dan lecet, warna kemerahan, kekeringan yang berlebihan

sehari sekali. Bersihkan kulit saat terkena kotoran, anjurkan orang tua

untuk mengganti popok setiap jam atau basah dan berikan lotion untuk

anak di kulit yang kering

5) Kecemasan berhubungan dengan faktor psikologis terhadap status

kesehatan dan hospitalisasi

Penulis merencanakan tindakan perawatan yaitu kaji respon rasa

cemas subjektif dan objektif pasien. Gunakan pendekatan yang tenang


101

dan meyakinkan dan anjurkan orang tua untuk menggendong pasien

saat menangis. Serta lakukan terapi bermain.

d. Implementasi keperawatan

Setelah mengumpulkan data, mengidentifikasi diagnosis

keperawatan, mengembangkan tujuan, dan menulis rencana keperawatan,

langkah selanjutnya adalah melaksanakan atau mengimplementasikan

rencana asuhan keperawatan (Rosdahl & Kowalski, 2016: 483).

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada An. K dilaksanakan

selama 3 hari terhitung dari tanggal 20-22 Mei 2018. Tindakan dilakukan

sesuai intervensi yang terlah direncanakan. Seperti diare mengkaji feses

mengenai frekuensi, warna, konsistensi feses dan mengkaji tanda-tanda

dehidrasi seperti kesadaran, pemberian informasi kesehatan tentang diare

mengenai tanda dan gejala serta perawatannya. Menurut Febriani (2016)

diketahui perilaku pencegahan diare setelah pendidikan kesehatan tentang

diare meningkat 70% memiliki perilaku pencegahan yang baik. Hal

tersebut menunjukan bahwa pemberian pendidikan kesehatan terhadap ibu

dengan balita yang mengalami diare berpengaruh terhadap perilaku ibu

dalam pencegahan diare.

Implementasi yang dilakukan pada penanganan rehidrasi pada An.

K selama di rawat di RS salah satunya adalah dengan pemberian cairan

infus hal tersebut dilakukan sesuai kebijakan rumah sakit. Walaupun

menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2015) dalam Buku

Bagan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) pada dehidrasi sedang


102

tatalaksana medis yang dilakukan hanya pemberian terapi rehidrasi peroral

saja seperti pemberian oralit dan zink. Namun pada pasien ini dilakukan

rehidrasi pemberian cairan parenteral atau infus. Dikarenakan pasien

dengan usia toddler ini sukar untuk diberi rehidrasi secara oral, untuk

mencegah terjadinya dehidrasi yang lebih buruk maka diberi cairan

parenteral.

Tindakan yang dilakukan penulis diatas penulis melaksanakan

tindakan sesuai dengan jadwal shift yang telah ditentukan dari institusi

pendidikan yaitu pagi, siang dan pagi. Pada pelaksanaan tindakan pagi,

siang dan pagi penulis melakukan operan tindakan pasien kelolaan pada

teman dinas pagi, siang dan malam serta melihat catatan timbang terima

perawat untuk kolaborasi dengan teman sejawat dalam melaksanakan

tindakan keperawatan.
103

e. Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah pengukuran keefektifan pengkajian, diagnosa,

intervensi dan implementasi. Langkah-langkah dalam mengevaluasi

asuhan keperawatan adalah menganalisis respon klien, mengidentifikasi

faktor yang berkontribusi terhadap keberhasilan atau kegagalan, dan

perencanaan untuk asuhan di masa depan (Kowalski, 2016: 485).

Setelah menentukan dan melaksanakan tindakan keperawatan selama

3 hari An. K mengalami perkembangan kesehatan yang baik. Diagnosa

utama diare teratasi pada tanggal 22 Mei 2018 dengan frekuensi BAB 1

kali, konsistensi lunak, berampas tidak ada lendir dan darah. Nyeri teratasi

pada tanggal 22 Mei 2018 dengan skala nyeri yang ditentukan pada tujuan

intervensi yaitu skala 3 dari (0-10), nyeri ringan kombinasi skala Wong-

Baker dan Numeric Rating Scale. Kerusakan integritas kulit teratasi pada

tanggal 22 Mei 2018, kemerahan pada lapisan kulit anus hilang, frekuensi

BAB normal yaitu 1x. Kecemasan teratasi pada tanggal 22 Mei 2018,

pasien tidak takut lagi dengan penulis dengan menunjukan tidak menangis

saat diperiksa dan diberi obat, mulai menerima kehadiran penulis.

Kekurangan volume cairan teratasi sebagian pada tanggal 22 Mei 2018,

mata cekung berkurang, mukosa bibir lembab, balance cairan: input –

output = 440 – 478 = - 38 ml. Intervensi dihentikan karena pasien telah

pulang.
104

3. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan waktu tindakan karena jadwal shift, sehingga operan dan

timbang terima tidak efektif.

4. Implikasi Untuk Keperawatan

Kaitan hasil studi kasus dengan tatanan pelayanan kesehatan adalah

dapat lebih dini menangani pasien diare khusunya pada anak dan dapat

mencegah terjadinya peningkatan kasus diare. Karena di Indonesia kasus

diare masih menjadi penyakit yang memiliki angka tertinggi pada penyakit

menular. Terutama pada usia anak-anak.

Kaitannya dengan profesi keperawatan adalah teliti, gesit dan cermat

dalam melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan proses dan alat

penunjang yang memadai sehingga hasil yang didapatkan maksimal dan

akurat.
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penyakit diare merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh

virus, bakteri atau jamur. Yang penyebarannya dapat melalui makanan

yang terkontaminasi, pola hidup yang tidak sehat dan melalui lingkungan

kotor.

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada pasien An. K

(18 bulan), di ruang Ade Irma Suryani RSUD Arjawinangun Kabupaten

Cirebon pada tanggal 20 – 22 Mei 2018 dengan menggunakan metode

proses keperawatan.

Tahap pengkajian, dilakukan pada tanggal 20 Mei 2018, hasil

pengkajian di dapat yaitu ibu pasien ibu mengatakan anaknya mencret

lebih dari 10 kali, warna kuning kehijauan, sedikit ampas, tidak ada lendir

dan darah. Terlihat lesu, gelisah, mudah menangis, pasien sering haus,

dengan hasil pemeriksaan fisik mata pasien cekung, terdapat kemerahan

pada anus, kulit kembali lambat, dengan frekuensi nadi 130x/menit.

Tahap perumusan diagnosa, penulis menemukan 5 masalah

keperawatan terdiri dari 5 diagnosa aktual yaitu diare, kekurangan volume

cairan, nyeri, kerusakan integritas kulit, dan kecemasan.

Tahap perencanaan keperawatan, penulis mengikuti konsep teori

dalam menentukan tindakan keperawatan disesuaikan dengan masalah

yang ditemukan pada pasien, kamampuan, situasi dan keadaan pasien serta

105
106

alat-alat kesehatan yang menunjang untuk mencapai keberhasilan dari

tujuan tindakan yang ditentukan.

Tahap implementasi dilakukan dengan sesuai dengan rencana

keperawatan yang sesuai dengan teoritis, dalam proses ini penulis

melibatkan pasien, keluarga pasien, perawat ruangan dan teman sejawat.

Namun ada ketidaksesuaian dengan konsep teori yaitu tindakan

keperawatan pada penanganan masalah kekurangan cairan (rehidrasi)

dengan pemberian rehidrasi pemberian cairan kristaloid (Ringet Laktat)

atau cairan parenteral intravena pada diare dengan dehidrasi ringan-

sedang. Tindakan tersebut tetap dilakukan dengan menimbang beberapa

hal.

Tahap evaluasi, pasien menunjukan perkembangan kesehatan yang

baik. Masalah teratasi 4 diagnosa yaitu diare, nyeri, kerusakan integritas

kulit dan kecemasan. Masalah teratasi sebagian yaitu kekurangan volume

cairan. Intervensi dihentikan karena pasien pulang.

B. Saran

1. Keluarga

Apabila terjadi kasus diare pada anak-anak, keluargaumumnya

sudah mengetahui tanda dan gejala awal terjadinya diare, dan dengan

segera membawa atau berobat ke fasilitas kesehatan untuk mendapat

pertologan segera terutama penanganan rehidrasi. Dan untuk

mencegah terjadinya diare pola asuh yang baik dan bersih juga
107

memperkecil terjadinya diare seperti pemberian ASI eksklusif,

perawatan botol susu serta pengelolaan makanan yang higeinis.

2. Pasien

Menerapkan pola hidup bersih untuk menghindari mikroorganisme

seperti mencuci tangan,mengurangi konsumsi jajanan warung, asupan

cairan yang cukup untuk mengatasi dehidrasi dan meningkatkan napsu

makan sehingga tidak terjadi kekurangan nutrisi.

3. Tenaga kesehatan

Dapat melakukan pencegahan dini dengan memberikan penyuluhan

kesehatan mengenai diare.

4. Keperawatan

a. Melakukan proses keperawatan dengan komprehensif dengan

ditunjang oleh alat-alat kesehatan yang memadai.

b. Tersedianya buku diagnosis keperawatan sehingga dapat

merumuskan masalah pasien dengan akurat sesuai konsep teori

yang ada.

c. Perencanaan disesuaikan berdasarkan prioritas masalah

keperawatan pasien sesuai teori yang ada.

d. Pelaksanaan tindakan keperawatan ditunjang dengan alat

kesehatan yang memadai sehingga tujuan dan rencana

keperawatan dapat tercapai.


108

e. Melakukan evaluasi keperawatan secara komprehensif

sehingga asuhan keperawatan dapat berjalan dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Alboneh, F.A., (2013). Hubungan Status Gizi Dengan Kejadian Diare Pada Balita
Usia 2-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Karanganyar
Kabupaten Karanganyar.

Amin, ZK. (2015). Countinuing Medical Education. Tatalaksana Diare Akut. 42.
505

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat. (2016). Provinsi Jawa Barat
Dalam Angka: Jawa Barat Province in Figures 2016. Diambil pada tanggal 28
Februari 2018 dari www. pusdalisbang.jabarprov.go.id/

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. (2015).


Rencana Aksi Program Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan
2015. Diambil pada tanggal 28 Februari 2018 dari www.depkes.go.id/

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Buku Saku Petugas


Kesehatan. (edisi 2011). Diambil pada tanggal 28 Februari 2018 dari
www.depkes.go.id/

Dwiriyanti, D.N., Savira, M., & Suyanto. (2015). Gambar pengetahuan ibu
terhadap diare akut balita di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau dan
Puskesmas rawat inap Pekanbaru. Jom FK. 2. 1-7
Febriani, Y.J., (2016). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Diare Tergadap
Perilaku Ibu Dalam Pencegahan Diare Pada Balita Di Puskesmas Gamping 1
Sleman Yogyakarta.

Haryanti, Titik., & Sunardi. (2010). Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Kejadian
Diare pada Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Polokarto Kabupaten
Sukoharjo. 19. 40
Hidayat, A.A.A. (2012). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. (edisi kedua).
Jakarta: Salemba Medika.
Hospital Care for Children. (2016). Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di
Rumah Sakit. Diambil pada tanggal 1 Mei 2018 dari http://www.ichrc.org

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). (2009). Buku Ajar Gastroenterologi-


Hepatologi. (edisi satu). Diambil pada tanggal 18 Maret 2018 dari
www.idai.or.id

Immi, Aliyah. (2014). Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Diare. Diambil
pada tanggal 3 Mei 2018 dari https://nursealiyahimmi33.wordpress.com

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Buku Bagan Manajemen


Terpadu Balita Sakit. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diambil
pada tanggal 15 Maret 2018 dari https://puskespemda.net/download/mtbs-
2015-manajemen-terpadu-balita-sakit/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Situasi Diare Di Indonesia.
Jurnal Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan. 2. 131
Kowalak, J.P., Welsh, William., & Mayer, Brenna. (2012). Professional Guide to
Pathophysiology. (Andy Hartono, penerjemah). USA: Lippincott Williams &
Wilkins.

Kyle, Terri., & Carman, Susan. (2015). Essentials Of Pediatric Nursing. (Devi
Yulianti, penerjemah), USA: Lippincott Williams & Wilkins.

Kyle, Terri., & Carman, Susan. (2016). Essentials Of Pediatric Nursing. (Dwi
Widiarti & Wuri Praptiani, penerjemah), USA: Lippincott Williams &
Wilkins.

Luke’s, Saint. (2015). Anatomy of the Pediatric Digestive System. Diambil pada
tanggal 1 Mei 2018 dari https://www.saintlukeskc.org

Leksana, Ery. (2015). Dehidrasi dan Syok. 42 (No.5), 392.

Mansyoer, Riza. (2013). Penatalaksanaan Asidosis Metabolik pada Diare dengan


Dehidrasi. Diambil pada tanggal 3 mei 2018 dari https://www.scribd.com

Mursilah, Hilyah. (2010). Hubungan Status Gizi Dengan Frekuensi Kejadian


Diare Pada Balita Di Kelurahan Pisangan Bulan Agustus 2010.

Nursalam., Susilaningrum, Rekawati., & Utami, Sri. (2008). Asuhan Keperawatan


Bayi dan Anak (Untuk Perawat dan Bidan). Jakarta: Salemba Medika.

Pearce, E.C. (2011). Anatomy and Physiology for Nurses. (Sri Yuliani Handoyo,
penerjemah). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rosdahl, C.B., & Kowalski, M.T. (2017). Textbook of Basic Nursing. USA:
Lippincott Williams & Wilkins.

Supono, J. (2008). Faktor prediksi kesehatan ibu tentang diare pada balita. Jurnal
kesehatan masyarakat nasional. 2. 4-181

Sodikin. (2012). Keperawatan Anak: Gangguan Pencernaan. Jakarta: EGC.

Soetjiningsih & Ranuh, Gde. (2016). Tumbuh Kembang Anak. (edisi kedua).
Jakarta: EGC.

Syaiffuddin, Haji. (2012). Anatomi Fisiologi: Kurikulum Berbasis Kompetensi


Untuk Keperawatan dan Kebidanan. Jakarta: EGC

Tikada, Dwiana. (2014) Dehidrasi. Diambil pada tanggal 3 Mei 2018 dari
http://dwianatikada. blogspot.co.id
Widagdo. (2012). Masalah dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Demam.
Jakarta: CV Sagung Seto.
Wilkinson, J.M. (2014). Pearson Nursing Dignosis Handbook. ( Esty
Wahyuningsih, penerjemah), Pearson Education.
Wong, D.L. (2009). Wong’s Essentials of Pediatric Nursing. (Andry Haryono,
Sari Kurnianingsih & Setiawan, penerjemah). Mosby, Inc. Jakarta: EGC