Anda di halaman 1dari 11

Dalam mengoperasikan perusahaan, pihak manajemen perusahaan memerlukan aktiva

tetap sebagai kelancaran usaha. Di dalam memperoleh aktiva tetap, perusahaan memiliki
beberapa cara. Salah satu cara yang paling mudah diambil oleh perusahaan adalah dengan
melakukan pembelian. Namun, memperoleh aktiva tetap dengan cara pembelian dapat
menimbulkan berbagai keuntungan dan kerugian bagi perusahaan dan memerlukan berbagai
pertimbangan. Dalam hal ini perusahaan perlu mengkaji kembali apakah dana yang ada
mencukupi atau diperlukan suatu pinjaman serta menilai risiko-risiko yang akan di hadapi.

Alternatif lain yang dapat dilakukan perusahaan dalam memperoleh aktiva adalah
melalui leasing. Menurut Nasution (2003) menyatakan bahwa leasing berasal dari
kata leaseyang berarti sewa atau lebih umum diartikan sewa menyewa yaitu pembiayaa
peralatan atau barang modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik
secara langsung maupun tidak langsung. Perkembangan dunia bisnis yang semakin maju,
industri leasingmenciptakan sebuah konsep baru untuk mendapatkan barang modal
digunakan sebagai operasional perusahaan tanpa harus membeli atau memiliki barang
tersebut. Oleh karena itu,leasing merupakan salah satu alternatif yang bagi perusahaan yang
membutuhkan modal atau kebutuhan lain untuk mendukung operasional perusahaan.

Alipudin dan Ningsi (2015) mengungkapkan bahwa penggunaan sewa sebagai sarana
mengalihkan hak untuk menggunakan suatu harta kepada pihak lain telah mengalami
pertumbuhan yang pesat, hal ini disebabkan semakin menyebarnya jenis aset yang dapat
disewa mulai dari kendaraan dan alat-alat berat. Dengan munculnya jenis perusahaan yang
bergerak dibidang sewa, dan dirasa perusahaan sewa yang semakin berkembang, maka
adanya kebutuhan suatu standar akuntansi keuangan sebagai pedoman untuk mencatat dan
melaporkan transaksi sewa dalam laporan keuangan, dengan begitu akan dihasilkan suatu
laporan keuangan yang wajar dan informasi yang berguna bagi para pemakai laporan
keuangan.

Aktivitas leasing secara umum diklasifikasi menjadi dua bagian yaitu dari segi lessee
capital lease (finance lease) dan operating lease. Kemudian sewa dari segi lessor terdiri
daricapital lease (finance lease) dan operating lease, dari kedua aktivitas leasing tersebut
maka perlunya perlakuan akuntansi dan penerapan secara konsisten sesuai dengan standar
yang berlaku dalam rangka penyusunan laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian,
guna menjawab berbagai pertentangan dan menjelaskan praktek sewa aktiva tetap perlu
penjelasan dari sisi konsep akuntansi yang mendasar, sehingga dapat ditentukan perlakuan
setiap transaksi sewa guna usaha secara tepat, dapat dimengerti, dapat diperbandingkan dan
dapat mempengaruhi pengambilan keputusan sesuai dengan tujuan laporan keuangan.

PENGERTIAN DAN JENIS LEASING


Samudra (2008) mengungkapkan di dalam penelitiannya bahwa leasing pertama kali
muncul dan berkembang sebagai alat pembelanjaan atau pembiayaan perusahaan pada tahun
1949 dengan dikeluarkannya Accounting Reaserch Bulletin No.38 tentang Disclosure of Long
Term Lease on Financial Statement of Lessees. Namun, kesepakatan mengenai akuntansinya
dapat tercapai pada tahun 1964, 1966, 1972, 1974, dan 1976 dengan terbitnya Accounting
Principles Board Opinion (APB) No.5, APB No.27 dan APB No.31, dan Financial
Accounting Standard No.13 yang memiliki tujuan untuk menggambarkan keadaan yang
sebenarnya mengenai ekonomi dari sewa guna usaha, dengan syarat bahwa sewa guna usaha
dalam jangka panjang dianggap sebagai tindakan pengadaan modal oleh penyewa dan
sebagai penjualan oleh yang menyewakan. Pernyataan akuntansi yang membahas mengenai
sewa guna usaha ini kemudian diamandemen dengan FASB No.17 tahun 1977, FASB No. 23
tahun 1978 dan FASB No.26 tahun 1979, No. 27 dan No. 28 tahun 1979.

Terdapat beberapa defenisi mengenai leasing yang di jelaskan oleh beberapa pakar
dan lembaga, yaitu sebagai berikut: Baridwan (1982) menjelaskan bahwa:
“Leasing adalah suatu perjanjian yang memberikan hak untuk menggunakan harta,
pabrik atau alat-alat (tanah atau aktiva yang didepresiasi atau kedua-duanya) yang
umumnya mempunyai jangka waktu tertentu. “ Pihak-pihak yang langsung terlibat
dalam perjanjian ini adalah: (1) Lessor: si pemilik aktiva yang bersangkutan atau
menyewakan aktiva (2) Lessee: yang memanfaatkan leasing yang bersangkutan atau
yang menyewakan aktiva.

Kemudian, Financial Accounting Standar Board (FASB) No. 13


mendefinisikan leasingsebagai berikut:
”An agreement coonveying the right to use property, plant or equipment (land and/or
depreciable assets) usulally for a stated period of time”
Kieso, Weygandt dan Warfield (2002) pula mendefinisikan leasing sebagai berikut:
Perjanjian kontraktual antara lessor dengan seorang lessee yang memberi hak
kepada lessee untuk menggunakan properti tertentu, yang dimiliki oleh lessor, selama
periode waktu tertentu dengan membayar sejumlah uang (sewa) yang sudah
ditentukan yang dilakukan secara periodik.

Tidak hanya itu, Ikatan Akuntansi Indonesia (2009) menambahkan mengenai


definisileasing sebagai berikut:
Leasing adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk
mengunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalanya,
lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.

Dari definisi yang telah dijabarkan diatas menjelaskan bahwa adanya kesepakatan
antara dua belah pihak yaitu lessor (pihak yang menyewakan) dan lessee (pihak penyewa). Di
dalam perjanjian yang disepakati oleh dua belah pihak tersebut terdapat persetujuan
penyerahan atau pengalihan hak guna atas aktiva yang dimilikinya yang dapat disiapkan
selama periode tertentu dari pihak lessor pada pihak lessee. Sebagai balas jasa atas sewa yang
diberikan pihaklessor kepada pihak lessee maka dituntut untuk membayarkan sejumlah uang
sewa atau kompensasi yang lain sesuai dengan perjanjian. Periode waktu perjanjian atas sewa
ini dapat berbeda-beda sesuai pada kesepakatan anatara lessor dan lessee. Seperti yang di
jelaskan oleh Thomas et all (2001) bahwa leasing sebagai perjanjian penyerahan dari penjual
sewa kepada pembeli sewa dalam penyewaan hak untuk menggunakan aktiva atau barang
modal selama periode waktu yang telah disetujui, dengan pembayaran secara berkala oleh
pembeli sewa kepada penjual sewa.

Definisi lain yang di jabarkan oleh International Accounting Standard Committee No.
17 mengenai leasing sebagai berikut:
"Lease: An agreement where by the lessor conveys to the lessee in return for rent the
right to use an asset for an agreed period of time. The definition of lease includes
contracts for the heire of an asset whiech contain of provision giving the hirer an
option to acquire title of the asset upon to the fufilment of agreed conditioons. These
contracts are described as hire puchase contracts In some countries, different names
are used for agreement which have the characteristic of a lease (e. g. baeboat
characters)”
Defenisi leasing menurut IASC No. 17 yang dijelaskan di atas sebenarnya hampir
sama dengan definisi leasing yang didefinisikan oleh FASB No. 13. Namun, di dalam IASC
No. 17 terdapat penambahan dalam definisinya, penambahan tersebut terdapat hak opsi
bagi lesseeuntuk membeli aktiva yang sewakan atau memperpanjang
waktu leasing berdasarkan nilai yang disepakati bersama. Berhubungan dengan opsi
bagi lessee ini, di dalam penelitian Nasution (2003) disebutkan bahwa pemerintah Republik
Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan
Menteri Perdagangan Republik Indonesia, mendefenisikan leasing sebagai berikut:

"Leasing adalah setiap kegiatan pembiayaan perusahaan dalam bentuk penyediaan


barang-barang modal untuk digunakan suatu perusahaan untuk jangka waktu
tertentu berdasarkan pembayaran-pembayaran secara berkala disertai dengan hak
pilih bagi perusahaan tersebut untuk membeli barangbarang modal yang
bersangkutan atau memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan nilai sisa yang
disepakati bersama"

Berdasarkan definisi yang telah dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan beberapa
unsur yang harus terdapat dalam leasing yaitu: (1) Lessor adalah pihak yang menyewakan
aktiva atau barang-barang modal. (2) Lessee adalah pihak penyewa aktiva atau pihak yang
membutuhkan/memakai barang modal. (3) Objek leasing adalah barang-barang yang menjadi
objek perjanjian leasing. (4) Pembayaran uang sewa adalah secara berkala dalam jangka
waktu tertentu. (5) Nilai sisa yang ditentukan sebelum kontrak dimulai. (6) Adanya hak opsi
bagilessee pada akhir masa leasing dimana lessee mempunyai hak untuk menentukan apakah
ingin membeli barang tersebut dengan harga sebesar nilai sisa atau mengembalikan
pada lessor. (7)Lease Term adalah periode kontrak atas sewa.

Terdapat jenis-jenis leasing yang di tetapkan oleh PSAK No. 30 yaitu sebagai berikut:
1. Finance Lease atau Capital Lease (sewa guna usaha pembiayaan)
Dalam hal ini, Lessor sebagai perusahaan guna usaha yang merupakan pihak yang
membiayai penyediaan barang modal. Kemudian, Lesseesebagai penyewa yang biasanya
dalam transaksi ini penyewa memilih barang modal yang dibutuhkan dan kemudian di
catat atas nama perusahaan sewa guna usaha. Selama masa sewa, penyewa melakukan
pembayaran secara berkala dimana jumlah seluruhnya ditambah dengan pembayaran nilai
sisa. Kemudian jika memungkinkan, akan mencakup pengembalian harga perolehan
barang modal yang dibiayai serta bunganya yang merupakan pendapatan atas sewa guna
usaha.
2. Operating Lease (sewa menyewa biasa)
Di dalam operating lease ini, perusahaan sewa guna usaha membeli barang modal dan
kemudian barang modal tersebut disewakan kepada penyewa. Dalam transaksi ini
berbeda dengan finance lease yang dalam pembayarannya berkala. Kemudian di
dalam operating lease tidak mencakup jumlah biaya yang di keluarkan untuk
memperoleh barang modal tersebut beserta bunganya.
3. Sales-Type Lease (sewa guna usaha penjualan)
Pada transaksi ini disebut pula sebagai transaksi pembiayaan sewa secara langsung
(Direct Finance Lease) dimana dalam jumlah transaksi termasuk laba yang
diperhitungkan oleh penyalur yang juga merupakan perusahaan sewa. Dalam transaksi ini
sering kali merupakan suatu jalan pemasaran bagi produk perusahaan tertentu.
4. Leveraged Lease
Dalam transaksi ini umumnya melibatkan setidaknya tiga pihak yaitu pihak penyewa,
pihak perusahaan sewa dan pihak kreditur jangka panjang yang membiayai bagian
terbesar dari transaksi sewa.

Selain itu, di dalam penelitian Sinurat (2006) menjelaskan transaksi sewa guna usaha
dikelompokkan sebagai capital lease bagi penyewa guna usaha atau finance lease bagi
perusahaan sewa guna usaha apabila dipenuhi semua kriteria atas asas makna ekonomi
sebagai berikut:

1. Penyewa memiliki hak opsi atas aktiva yang disewa pada masa sewa dengan harga yang
disetujui bersama pada saat perjanjian sewa.
2. Seluruh pembayaran yang dilakukan penyewa secara berkala, ditambah dengan nilai sisa
termasuk pengembalian perolehan barang modal serta bunga yang di sewakan adalah
sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha.
3. Masa sewa minimum lima tahun.

Pada penjelasan tersebut, apabila terdapat salah satu kriteria tidak terpenuhi maka
transaksi atas sewa guna usaha akan di kelompokkan sebagai transaksi operating lease.
Financial Accounting Standard Board (FASB) membagi leasing menjadi dua jenis
yaituCapital lease dan Operating lease. Hal yang sama yang di lakukan oleh International
Accounting Standard Committee (IASC) ia membagi leasing atas dua jenis pula namun
dengan istilah yang berbeda yaitu financial lease dan operating lease, perbedaanya antara
keduanya hanya terletak pada istilah saja, secara secara keseluruhan bermakna
sama. Financial Accounting Standard Board (FASB) dalam Statement No. 13
pada “Acounting for Leases”membagi lease dalam dua grup di lihat dari sudut
pandang Lessee. Capital Lease yaitu leaseyang memenuhi satu atau lebih dari syarat-syarat
berikut ini:

1. The lease transfer of ownership of the property to the lessee by the end of the lease
term.
2. The lease contains a bargain purchase option.
3. The lease term is equal to 75 percent or more of the estimated economic life of leased
property.
4. The present value at the beginning of the lease term of the minimum lease payment,
excluding that portion of the payment representing executory cost such as insurance,
maintenance, and taxes to be paid by lessor including any profit there an, equal or exceed
90 percent of the excess of the fair value of the lease property to the lessor. At the
inception of lease over any related investment tax credit retained by lessor and expected
to be realized by aim.

Selain itu, terdapat operating lease yang merupakan transaksi sewa menyewa biasa
dan jangka waktu sewanya lebih pendek dari pada umur ekonomis
propertinya. Lessee biasanya tidak mempunyai hak membeli pada waktu
kontrak lease berakhir sehingga tidak terjadi perpindahan hak milik barang. Kontrak sewa ini
bersifsat cancelable yaitu dapat diputuskan pihak lessee sewaktu-waktu atau sebelum masa
kntak berakhir.

PERLAKUAN AKUNTANSI LEASING


Pada transaksi leasing terdapat jenis-jenis leasing yang telah di jelaskan sebelumnya,
dalam perlakuan akuntansi leasing hanya dikenal capital lease dan operating lease baik
bagilessor ataupun bagi lessee. Berikut adalah istilah-istilah yang digunakan dalam perlakuan
akuntansi leasing:
1. Executory Cost (biaya pelaksanaan)
Aktiva berwujud atau barang modal yang di sewa harus ditanggung atas beban asuransi,
pemeliharaan, dan beban pajak selama umur ekonomis aktiva tersebut.
2. Discount Rate (tingkat diskon)
Tingkat bunga pada saat kontrak perjanjian atas leasing ditanggung oleh lessee, hal ini
dimaksudkan untuk meminjam dana yang diperlukan untuk membeli aktiva yang disewa-
beli berdasarkan pinjaman beragunan dengan syarat pelunasan sesuai jadwal
perjanjianleasing.
3. Residual Value (nilai sisa)
Merupakan estimasi nilai wajar untuk aktiva yang disewa-belikan pada akhir
masa leasing. Di dalam hal ini, terdapat dua jenis residual value yaitu nilai residu yang
dijamin dan nilai residu yang tidak dijamin. Pada nilai residu yang dijamin adalah
pembayaran leasetambahan yang dibayarkan berupa harta, kas atau keduanya dibayarkan
pada akhir masaleasing. Sedangkan pada nilai residu yang tidak dijamin merupakan suatu
hal yang sama dengan tidak ada nilai residu.

Perlakuan akuntansi atas capital lease oleh penyewa usaha menurut PSAK No. 30
adalah: (1) Transaksi sewa guna usaha diberlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan
kewajiban pada awal masa guna sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha
ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir
masa sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna
dialokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban
bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa guna
usaha. (2) Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran
sewa guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh perusahaan sewa guna usaha
atau tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha. (3) Aktiva yang disewa
guna usahakan harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar berdasarkan taksiran masa
manfaatnya. (4) Kalau aktiva yang disewa guna usahakan dibeli sebelum berakhirnya masa
sewa guna usaha maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan atau dikreditkan pada
tahun berjalan. (5) Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan
jangka panjang sesuai dengan praktek yang lazim untuk jenis usaha penyewa guna usaha. (6)
Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sale and leaseback) maka transaksi
tersebut harus dilakukan sebagai dua transaksi yang terpisah yaitu transaksi penjualan dan
transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga jual dan nilai buku aktiva yang dijual harus
diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan harus dilakukan
secara proporsional dengan biaya amortisasi aktiva yang disewa guna usahakan.

Perlakuan akuntansi operating lease menurut PSAK No.30 bahwa pembayaran sewa
guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui dan dicatat berdasarkan
metode garis lurus selama masa sewa guna usaha oleh lessee, meskipun pembiayaan sewa
guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.

Pelaporan akuntansi capital lease oleh penyewa guna usaha menurut PSAK No. 30
adalah: (1) Aktiva yang disewa guna usahakan dilaporkan sebagai bagian aktiva tetap dalam
kelompok tersendiri. Kewajiban sewa guna usaha yang bersangkutan harus disajikan terpisah
dari kewajiban lainnya. (2) Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas
laporan keuangan mengenai hal-hal sebagai berikut:

a) Jumlah pembayaran sewa guna usahakan yang paling tidak untuk dua tahun berikutnya.
b) Penyusutan aktiva yang disewa guna usahakan yang dibebankan dalam tahun berjalan.
c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha.
d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya sehubungan dengan
transaksi penjualan dan penyewaan kembali (sale and leaseback).
e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha.

Menurut PSAK No.30 bahwa pengungkapan yang layak harus dicantumkan atas
laporan keuangan mengenai pelaporan dan pengungkapan transaksi operating lease adalah:
(1) Jumlah pembayaran sewa guna selama tahun berjalan yang dibebankan sebagai biaya
sewa. (2) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dilakukan paling tidak dua tahun
berikutnya. (3) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha. (4)
Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya sehubungan dengan
transaksi sale andleaseback. (5) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian
sewa guna usaha(major covenants).

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN LEASING


Dalam penelitian yang di tulis oleh Nasution (2003:14) ia menjelaskan mengenai
keunggulan sewa guna usaha sebagai sumber alternatif pembiayaan modal bagi perusahaan
penyewa guna usaha adalah sebagai berikut.

1. Penghematan modal perusahaan, dimana perusahaan tidak perlu menyediakan dana yang
besar untuk mendapatkan aktiva yang dibutuhkan, hal ini merupakan penghematan dana
bagi lessee, karena leasing umumnya membiayai 100% barang modal yang dibutuhkan.
2. Bersifat fleksibel meliputi struktur kontraknya, besarnya pembayaran sewa, jangka waktu
pembayaran serta nilai sisanya.
3. Sebagai sumber dana perusahaan, mekanisme perusahaan untuk memperoleh dana yaitu
dengan melalui sales dan leaseback atas aset yang sudah dimiliki oleh lessee.
4. Menguntungkan cash flow, di dalam suatu investasi dimana pendapatan atas penjualan
diperoleh pada masa akhir investasi maka besarnya sewa juga bisa disesuaikan dengan
kemampuan cash flow yang ada.
5. Leasing dapat memberikan keuntungan pajak penghasilan yang disebabkan oleh
penyusutan dipercepat dan beban bunga.
6. Menahan pengaruh inflasi, dalam transkasi ini lessee mengeluarkan biaya sewa yang
sama, bahwa lessee membeyar sewa sesuai kontrak tanpa terpengaruh inflasi.
7. Leasing aktiva untuk periode lease memberikan perlindungan bagi lessee dari keusangan
peralatan atau aktiva tetap.
8. Jadwal pembayaran lease dapat diatur agar sesuai dengan arus kas masuk lessee yang
diharapkan dari operasi.

Selain delapan keuanggulan yang di jelaskan di atas, Nasution (2003:14)


menambahkan mengenai kelemahan sewa guna usaha sebagai berikut:

1. Jumlah pengeluaran dollar yang lebih tinggi untuk bunga atas pembiayaan 100% aktiva
yang disewa.
2. Leasingmerupakan sumber pembiayaan yang relatif mahal bila dibandingkan dengan
kredit investasi dari bank.
3. Pembiayaan leasing di luar neraca hanya menutupi fakta bahwa lapisan hutang baru
sedang ditanggung.
4. Leasing aktiva tetap yang siap untuk digunakan apabila dibandingkan dengan yang
dibuat sesuai pesanan mungkin akan menghasilkan produk yang mutunya lebih rendah
dan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya penjualan bagi lessee.
5. Lease musiman mengandung ketidakpastian bahwa peralatan akan tersedia saat
dibutuhkan selain itu suku bunga leasing mungkin didasarkan pada situasi perdagangan
saat itu.
6. Lease jangka panjang dapat memberikan perlindungan dari keusangan produk.
7. Keuntungan pajak mungkin bersifat sementara, dikarenakan ketentuan pajak yang
ditetapkan pemerintah terdapat peraturan baru dengan demikian membatalkan ketentuan
peraturan lama, hal ini berbahaya bagi leasejangka panjang yang mengutamakan
keuntungan pajak.
8. Lease jangka panjang dengan suku bunga tetap akan membebankan lessor pemberi
pinjaman atas resiko hilangnya kesempatan jika suku bunga naik.

KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat di simpulkan bahwa perusahaan di dalam
memperoleh aktiva tetap atau barang modal, perusahaan memiliki beberapa cara, salah satu
cara yang diambil oleh perusahaan adalah dengan melakukan leasing. Akuntansi melihat
perkembangan sewa guna usaha (leasing) yang pesat di Indonesia, sehingga diperlukan suatu
acuan mengenai perlakuan akuntansi transaksi sewa guna usaha secara khusus. Ada beberapa
perlakuan akuntansi yaitu transaksi capital leasse, transaksi operating lease, capital leasse
oleh penyewa usaha, sewa guna usaha operating lease. Dengan perlakuan akuntansi atas
transaksi sewa guna usaha secara tepat, diharapkan dapat dimengerti, dapat diperbandingkan
dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan oleh pengguna kepentingan.

REFERENSI:
Alipudin & Ningsi. 2015. Penerapan Psak No.30 Mengenai Perlakuan Akuntansi Sewa Dan
Pengaruhnya Pada Laporan Keuangan PT. BFI Finance Indonesia, Tbk. Jurnal
Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi. Volume 1 No. 2 Tahun 2015, Hal. 51-62
Baridwan, Zaki. 1982. Intermediate Accounting, Edisi 3, Badan Penerbit Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta.
FASB, APB No.4. Basic Concept and Accounting Principle Underlying Financial Statement
of Business Enterprise, AICP A, Inc, New York, 1970.
Financial Accounting Standards Board (FASB). 1976. Statement of Financial Accounting
Standards No. 13 Accounting for Leases. Stamford. Connecticut.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia, Standard Akuntansi Keuangan, PSAK No.30 Salemba Empat,
Jakarta 1994, par 30.1
International Accounting Standard Committee (IASC). International Accounting Standard
No. 17 Accounting for Leases, September 1982. par. 2
Kieso, Donald E., Jerry J Weygandt., Terry D. Warfield (2002). Akuntansi Intermediate, Jilid
Ketiga, Edisi Kesepuluh. Jakarta: Erlangga.
Mirhani, Siti, 2003, Akuntansi Aktiva Leasing, USU, Sumatra Utara.
Nasution, Manahan. 2003. Akuntansi Guna Usaha (Leasing) Menurut Pernyataan SAK No.
30. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara: USU digital
Library
Samudra, Ria Dwiyanti. 2008. Penerapan Psak No.30 Mengenai Perlakuan Akuntansi Sewa
Guna Usaha Aktiva Tetap dan Pengaruhnya pada Neraca dan Laporan Laba Rugi
Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Nusantara). Malang: Universitas Brawijaya
Malang
Sinurat, Lamron. 2006. Analisis Tingkat Rentabilitas Perusahaan Sebelum dan Setelah
Penerapan Pembiayaan Leasing. Bandung: Fakultas Ekonomi Universitas
Widyatama.
SKB Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan RI No. Kep-
122/MKIV/2/1974; No.32/M/SK/2/1974, tanggal 7 Februari 1974, Perizinan Usaha
Leasing Pasal 1
Thomas, R. Dycman, Roland E. Dukes, dan Charles J. Davis, 2001, Akuntansi Intermediate,
Terjemahan Herman Wibowo, Jilid II, Edisi Ketiga, IKAPI, Erlangga, Jakarta.