Anda di halaman 1dari 13

PRAKTIKUM PENGAUDITAN & PDE

“AKUNTANSI LEASING”

KELOMPOK : 5

OLEH

Nama : Ni Kadek Candra Kusuma Dewi


NIM : 1607532019
Absen : 22

JURUSAN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI REGULER DENPASAR
2019
PENGERTIAN LEASING

Dalam mengoperasikan perusahaan, pihak manajemen perusahaan memerlukan aktiva


tetap sebagai kelancaran usaha. Di dalam memperoleh aktiva tetap, perusahaan memiliki
beberapa cara. Salah satu cara yang paling mudah diambil oleh perusahaan adalah dengan
melakukan pembelian. Namun, memperoleh aktiva tetap dengan cara pembelian dapat
menimbulkan berbagai keuntungan dan kerugian bagi perusahaan dan memerlukan berbagai
pertimbangan. Dalam hal ini perusahaan perlu mengkaji kembali apakah dana yang ada
mencukupi atau diperlukan suatu pinjaman serta menilai risiko-risiko yang akan di hadapi.

Alternatif lain yang dapat dilakukan perusahaan dalam memperoleh aktiva adalah melalui
leasing. Menurut Nasution (2003) menyatakan bahwa leasing berasal dari kata lease yang
berarti sewa atau lebih umum diartikan sewa menyewa yaitu pembiayaa peralatan atau barang
modal untuk digunakan pada proses produksi suatu perusahaan baik secara langsung maupun
tidak langsung. Perkembangan dunia bisnis yang semakin maju, industri leasing menciptakan
sebuah konsep baru untuk mendapatkan barang modal digunakan sebagai operasional
perusahaan tanpa harus membeli atau memiliki barang tersebut. Oleh karena itu, leasing
merupakan salah satu alternatif yang bagi perusahaan yang membutuhkan modal atau
kebutuhan lain untuk mendukung operasional perusahaan.

Terdapat beberapa defenisi mengenai leasing yang di jelaskan oleh beberapa pakar dan
lembaga, yaitu sebagai berikut: Baridwan (1982) menjelaskan bahwa:

“Leasing adalah suatu perjanjian yang memberikan hak untuk menggunakan harta, pabrik
atau alat-alat (tanah atau aktiva yang didepresiasi atau kedua-duanya) yang umumnya
mempunyai jangka waktu tertentu. “ Pihak-pihak yang langsung terlibat dalam perjanjian ini
adalah: (1) Lessor: si pemilik aktiva yang bersangkutan atau menyewakan aktiva (2) Lessee:
yang memanfaatkan leasing yang bersangkutan atau yang menyewakan aktiva”.

Kemudian, Financial Accounting Standar Board (FASB) No. 13 mendefinisikan leasing


sebagai berikut:

”An agreement coonveying the right to use property, plant or equipment (land and/or
depreciable assets) usulally for a stated period of time”
Kieso, Weygandt dan Warfield (2002) pula mendefinisikan leasing sebagai berikut:

“Perjanjian kontraktual antara lessor dengan seorang lessee yang memberi hak kepada
lessee untuk menggunakan properti tertentu, yang dimiliki oleh lessor, selama periode waktu
tertentu dengan membayar sejumlah uang (sewa) yang sudah ditentukan yang dilakukan
secara periodik.”

Tidak hanya itu, Ikatan Akuntansi Indonesia (2009) menambahkan mengenai definisi
leasing sebagai berikut:

“Leasing adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee untuk
mengunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalanya, lessee
melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor”

Dari definisi yang telah dijabarkan diatas menjelaskan bahwa adanya kesepakatan antara
dua belah pihak yaitu lessor (pihak yang menyewakan) dan lessee (pihak penyewa). Di dalam
perjanjian yang disepakati oleh dua belah pihak tersebut terdapat persetujuan penyerahan atau
pengalihan hak guna atas aktiva yang dimilikinya yang dapat disiapkan selama periode
tertentu dari pihak lessor pada pihak lessee. Sebagai balas jasa atas sewa yang diberikan
pihak lessor kepada pihak lessee maka dituntut untuk membayarkan sejumlah uang sewa atau
kompensasi yang lain sesuai dengan perjanjian. Periode waktu perjanjian atas sewa ini dapat
berbeda-beda sesuai pada kesepakatan anatara lessor dan lessee. Seperti yang di jelaskan oleh
Thomas et all (2001) bahwa leasing sebagai perjanjian penyerahan dari penjual sewa kepada
pembeli sewa dalam penyewaan hak untuk menggunakan aktiva atau barang modal selama
periode waktu yang telah disetujui, dengan pembayaran secara berkala oleh pembeli sewa
kepada penjual sewa.

Defenisi leasing menurut IASC No. 17 yang dijelaskan di atas sebenarnya hampir sama
dengan definisi leasing yang didefinisikan oleh FASB No. 13. Namun, di dalam IASC No. 17
terdapat penambahan dalam definisinya, penambahan tersebut terdapat hak opsi bagi lessee
untuk membeli aktiva yang sewakan atau memperpanjang waktu leasing berdasarkan nilai
yang disepakati bersama.

Berdasarkan definisi yang telah dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan beberapa unsur
yang harus terdapat dalam leasing yaitu: (1) Lessor adalah pihak yang menyewakan aktiva
atau barang-barang modal. (2) Lessee adalah pihak penyewa aktiva atau pihak yang
membutuhkan/memakai barang modal. (3) Objek leasing adalah barang-barang yang menjadi
objek perjanjian leasing. (4) Pembayaran uang sewa adalah secara berkala dalam jangka
waktu tertentu. (5) Nilai sisa yang ditentukan sebelum kontrak dimulai. (6) Adanya hak opsi
bagi lessee pada akhir masa leasing dimana lessee mempunyai hak untuk menentukan apakah
ingin membeli barang tersebut dengan harga sebesar nilai sisa atau mengembalikan pada
lessor. (7) Lease Term adalah periode kontrak atas sewa.

JENIS LEASING

Terdapat jenis-jenis leasing yang di tetapkan oleh PSAK No. 30 yaitu sebagai berikut:

1. Finance Lease atau Capital Lease (sewa guna usaha pembiayaan)

Dalam hal ini, Lessor sebagai perusahaan guna usaha yang merupakan pihak yang
membiayai penyediaan barang modal. Kemudian, Lesseesebagai penyewa yang biasanya
dalam transaksi ini penyewa memilih barang modal yang dibutuhkan dan kemudian di catat
atas nama perusahaan sewa guna usaha. Selama masa sewa, penyewa melakukan pembayaran
secara berkala dimana jumlah seluruhnya ditambah dengan pembayaran nilai sisa. Kemudian
jika memungkinkan, akan mencakup pengembalian harga perolehan barang modal yang
dibiayai serta bunganya yang merupakan pendapatan atas sewa guna usaha.

2. Operating Lease (sewa menyewa biasa)

Di dalam operating lease ini, perusahaan sewa guna usaha membeli barang modal dan
kemudian barang modal tersebut disewakan kepada penyewa. Dalam transaksi ini berbeda
dengan finance lease yang dalam pembayarannya berkala. Kemudian di dalam operating
lease tidak mencakup jumlah biaya yang di keluarkan untuk memperoleh barang modal
tersebut beserta bunganya.

3. Sales-Type Lease (sewa guna usaha penjualan)

Pada transaksi ini disebut pula sebagai transaksi pembiayaan sewa secara langsung
(Direct Finance Lease) dimana dalam jumlah transaksi termasuk laba yang diperhitungkan
oleh penyalur yang juga merupakan perusahaan sewa. Dalam transaksi ini sering kali
merupakan suatu jalan pemasaran bagi produk perusahaan tertentu.
4. Leveraged Lease

Dalam transaksi ini umumnya melibatkan setidaknya tiga pihak yaitu pihak penyewa,
pihak perusahaan sewa dan pihak kreditur jangka panjang yang membiayai bagian terbesar
dari transaksi sewa.

Selain itu, di dalam penelitian Sinurat (2006) menjelaskan transaksi sewa guna usaha
dikelompokkan sebagai capital lease bagi penyewa guna usaha atau finance lease bagi
perusahaan sewa guna usaha apabila dipenuhi semua kriteria atas asas makna ekonomi
sebagai berikut:

1. Penyewa memiliki hak opsi atas aktiva yang disewa pada masa sewa dengan harga
yang disetujui bersama pada saat perjanjian sewa.

2. Seluruh pembayaran yang dilakukan penyewa secara berkala, ditambah dengan nilai
sisa termasuk pengembalian perolehan barang modal serta bunga yang di sewakan
adalah sebagai keuntungan perusahaan sewa guna usaha.

3. Masa sewa minimum lima tahun.

Pada penjelasan tersebut, apabila terdapat salah satu kriteria tidak terpenuhi maka
transaksi atas sewa guna usaha akan di kelompokkan sebagai transaksi operating lease.

Financial Accounting Standard Board (FASB) membagi leasing menjadi dua jenis yaitu
Capital lease dan Operating lease. Hal yang sama yang di lakukan oleh International
Accounting Standard Committee (IASC) ia membagi leasing atas dua jenis pula namun
dengan istilah yang berbeda yaitu financial lease dan operating lease, perbedaanya antara
keduanya hanya terletak pada istilah saja, secara secara keseluruhan bermakna sama.

Selain itu, terdapat operating lease yang merupakan transaksi sewa menyewa biasa dan
jangka waktu sewanya lebih pendek dari pada umur ekonomis propertinya. Lessee biasanya
tidak mempunyai hak membeli pada waktu kontrak lease berakhir sehingga tidak terjadi
perpindahan hak milik barang. Kontrak sewa ini bersifsat cancelable yaitu dapat diputuskan
pihak lessee sewaktu-waktu atau sebelum masa kntak berakhir.
PERLAKUAN AKUNTANSI LEASING

Pada transaksi leasing terdapat jenis-jenis leasing yang telah di jelaskan sebelumnya,
dalam perlakuan akuntansi leasing hanya dikenal capital lease dan operating lease baik bagi
lessor ataupun bagi lessee. Berikut adalah istilah-istilah yang digunakan dalam perlakuan
akuntansi leasing:

1. Executory Cost (biaya pelaksanaan)

Aktiva berwujud atau barang modal yang di sewa harus ditanggung atas beban
asuransi, pemeliharaan, dan beban pajak selama umur ekonomis aktiva tersebut.

2. Discount Rate (tingkat diskon)

Tingkat bunga pada saat kontrak perjanjian atas leasing ditanggung oleh lessee, hal ini
dimaksudkan untuk meminjam dana yang diperlukan untuk membeli aktiva yang disewa-beli
berdasarkan pinjaman beragunan dengan syarat pelunasan sesuai jadwal perjanjian leasing.

3. Residual Value (nilai sisa)

Merupakan estimasi nilai wajar untuk aktiva yang disewa-belikan pada akhir masa
leasing. Di dalam hal ini, terdapat dua jenis residual value yaitu nilai residu yang dijamin dan
nilai residu yang tidak dijamin. Pada nilai residu yang dijamin adalah pembayaran lease
tambahan yang dibayarkan berupa harta, kas atau keduanya dibayarkan pada akhir masa
leasing. Sedangkan pada nilai residu yang tidak dijamin merupakan suatu hal yang sama
dengan tidak ada nilai residu.

Perlakuan Akuntansi oleh Penyewa

1. Sewa Pembiayaan (Capital Lease)

Perlakuan akuntansi atas capital lease oleh penyewa usaha menurut PSAK No. 30 adalah:

(1) Transaksi sewa guna usaha diberlakukan dan dicatat sebagai aktiva tetap dan kewajiban
pada awal masa guna sebesar nilai tunai dari seluruh pembayaran sewa guna usaha
ditambah nilai sisa (harga opsi) yang harus dibayar oleh penyewa guna usaha pada akhir
masa sewa guna usaha. Selama masa sewa guna usaha setiap pembayaran sewa guna
dialokasikan dan dicatat sebagai angsuran pokok kewajiban sewa guna usaha dan beban
bunga berdasarkan tingkat bunga yang diperhitungkan terhadap sisa kewajiban penyewa
guna usaha.
(2) Tingkat diskonto yang digunakan untuk menentukan nilai tunai dari pembayaran sewa
guna usaha adalah tingkat bunga yang dibebankan oleh perusahaan sewa guna usaha atau
tingkat bunga yang berlaku pada awal masa sewa guna usaha.

(3) Aktiva yang disewa guna usahakan harus diamortisasi dalam jumlah yang wajar
berdasarkan taksiran masa manfaatnya.

(4) Kalau aktiva yang disewa guna usahakan dibeli sebelum berakhirnya masa sewa guna
usaha maka perbedaan antara pembayaran yang dilakukan atau dikreditkan pada tahun
berjalan.

(5) Kewajiban sewa guna usaha harus disajikan sebagai kewajiban lancar dan jangka panjang
sesuai dengan praktek yang lazim untuk jenis usaha penyewa guna usaha.

(6) Dalam hal dilakukan penjualan dan penyewaan kembali (sale and leaseback) maka
transaksi tersebut harus dilakukan sebagai dua transaksi yang terpisah yaitu transaksi
penjualan dan transaksi sewa guna usaha. Selisih antara harga jual dan nilai buku aktiva
yang dijual harus diakui dan dicatat sebagai keuntungan atau kerugian yang
ditangguhkan harus dilakukan secara proporsional dengan biaya amortisasi aktiva yang
disewa guna usahakan.

Pelaporan akuntansi Capital Lease oleh penyewa guna usaha menurut PSAK No.
30 adalah:

(1) Aktiva yang disewa guna usahakan dilaporkan sebagai bagian aktiva tetap dalam
kelompok tersendiri. Kewajiban sewa guna usaha yang bersangkutan harus disajikan
terpisah dari kewajiban lainnya.

(2) Pengungkapan yang layak harus dicantumkan dalam catatan atas laporan keuangan
mengenai hal-hal sebagai berikut

a) Jumlah pembayaran sewa guna usahakan yang paling tidak untuk dua tahun
berikutnya.

b) Penyusutan aktiva yang disewa guna usahakan yang dibebankan dalam tahun berjalan.

c) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha.

d) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya sehubungan


dengan transaksi penjualan dan penyewaan kembali (sale and leaseback).
e) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha.

2. Sewa Operasi (Operating Lease)

Perlakuan akuntansi Operating Lease menurut PSAK No.30 bahwa pembayaran sewa
guna usaha selama tahun berjalan merupakan biaya sewa yang diakui dan dicatat berdasarkan
metode garis lurus selama masa sewa guna usaha oleh lessee, meskipun pembiayaan sewa
guna usaha dilakukan dalam jumlah yang tidak sama setiap periode.

Menurut PSAK No.30 bahwa pengungkapan yang layak harus dicantumkan atas laporan
keuangan mengenai pelaporan dan pengungkapan transaksi Operating Lease adalah:

(1) Jumlah pembayaran sewa guna selama tahun berjalan yang dibebankan sebagai biaya
sewa.

(2) Jumlah pembayaran sewa guna usaha yang harus dilakukan paling tidak dua tahun
berikutnya.

(3) Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa guna usaha.

(4) Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya sehubungan dengan
transaksi sale and leaseback.

(5) Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa guna usaha (major
covenants).

Perlakuan Akuntansi pada Perusahaan Sewa

1. Sewa Pembiayaan (Capital Lease)

Lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembeiayaan di neraca sebesar jumlah yang
sama dengan investasi sewa neto tersebut. Pengakuan penghasilan pembiayaan didasarkan
pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas
investasi bersih lessor dalam sewa pembiayaan.

Aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual (atau dalam suatu kelompok yang
akan dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual), maka aset tersebut
diperlakukan sebagai berikut:
 Disajikan sebagai aset tersedia untuk dijual, jika jumlah tercatatnya terutama dapat
dipulihkan melalui transaksi penjualan daripada penggunaan lebih lanjut
 Diukur sebesar nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatatnya dan nilai wajar
setelah dikurangi beban penjualan aset tersebut
 Diungkapkan dalam laporan keuangan untuk memungkinkan evaluasi dampak
keuangan adanya perubahan penggunaan aset
 Lessor pabrikan atau dealer mengakui laba atau rugi atas penjualan pada suatu periode
sesuai kebijakan entitas atas penjualan biasa. Jika tingkat bunga ditentukan secara
artifisial terlalu rendah, laba penjualan dibatasi sebesar laba apabila menggunakan
tingkat bunga pasar. Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer
sehubungan dengan negosiasi dan pengaturan sewa diakui sebagai beban ketika laba
penjualan diakui.

Hal-hal yang diungkapkan dalam sewa pembiayaan adalah sebagai berikut :

 Rekonsiliasi antara investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa
minimum pada tanggal neraca. Selain itu lessor mengungkapkan investasi sewa bruto
dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada tanggal neraca untuk setiap
periode sampai dengan satu tahun, lebih dari satu tahun sampai lima tahun, dan lebih
dari lima tahun
 Penghasilan pembiayaan tangguhan
 Nilai residu yang tidak dijamin yang diakru sebagai laba lessor
 Akumulasi penyisihan piutang tidak tertagih atas pembayaran sewa minimum
 Rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan
 Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor yang material

2. Sewa Operasi (Operating Lease)

Dalam sewa oparsi, lessor menyajikan aset di neraca sesuai sifat aset tersebut.
Pendapatan sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa
sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu di
mana manfaat penggunaan aset sewaan menurun.
Biaya langsung awal yang dikeluarkan dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa
operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui sebagai beban selama
masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa.

Penyusutan aset sewaan harus dilakukan secara konsisten dengan kebijakan penyusutan
normal aset sejenis, dan penyusutan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam PSAK.

Hal-hal yang terkait dengan sewa operasi yang harus diungkapkan oleh lessor adalah
sebagai berikut :

 Jumlah agregat pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi
yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode sampai dengan satu tahun, lebih
dari satu tahun sampai lima tahun, dan lebih dari lima tahun
 Total rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan
 Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN LEASING

Dalam penelitian yang di tulis oleh Nasution (2003:14) ia menjelaskan mengenai


keunggulan sewa guna usaha sebagai sumber alternatif pembiayaan modal bagi perusahaan
penyewa guna usaha adalah sebagai berikut.

1. Penghematan modal perusahaan, dimana perusahaan tidak perlu menyediakan dana


yang besar untuk mendapatkan aktiva yang dibutuhkan, hal ini merupakan
penghematan dana bagi lessee, karena leasing umumnya membiayai 100% barang
modal yang dibutuhkan.
2. Bersifat fleksibel meliputi struktur kontraknya, besarnya pembayaran sewa, jangka
waktu pembayaran serta nilai sisanya.
3. Sebagai sumber dana perusahaan, mekanisme perusahaan untuk memperoleh dana
yaitu dengan melalui sales dan leaseback atas aset yang sudah dimiliki oleh lessee.
4. Menguntungkan cash flow, di dalam suatu investasi dimana pendapatan atas
penjualan diperoleh pada masa akhir investasi maka besarnya sewa juga bisa
disesuaikan dengan kemampuan cash flow yang ada.
5. Leasing dapat memberikan keuntungan pajak penghasilan yang disebabkan oleh
penyusutan dipercepat dan beban bunga.
6. Menahan pengaruh inflasi, dalam transkasi ini lessee mengeluarkan biaya sewa yang
sama, bahwa lessee membeyar sewa sesuai kontrak tanpa terpengaruh inflasi.
7. Leasing aktiva untuk periode lease memberikan perlindungan bagi lessee dari
keusangan peralatan atau aktiva tetap.
8. Jadwal pembayaran lease dapat diatur agar sesuai dengan arus kas masuk lessee yang
diharapkan dari operasi.

Selain delapan keuanggulan yang di jelaskan di atas, Nasution (2003:14) menambahkan


mengenai kelemahan sewa guna usaha sebagai berikut:

1. Jumlah pengeluaran dollar yang lebih tinggi untuk bunga atas pembiayaan 100%
aktiva yang disewa.

2. Leasingmerupakan sumber pembiayaan yang relatif mahal bila dibandingkan dengan


kredit investasi dari bank.

3. Pembiayaan leasing di luar neraca hanya menutupi fakta bahwa lapisan hutang baru
sedang ditanggung.

4. Leasing aktiva tetap yang siap untuk digunakan apabila dibandingkan dengan yang
dibuat sesuai pesanan mungkin akan menghasilkan produk yang mutunya lebih
rendah dan pada akhirnya mengakibatkan hilangnya penjualan bagi lessee.

5. Lease musiman mengandung ketidakpastian bahwa peralatan akan tersedia saat


dibutuhkan selain itu suku bunga leasing mungkin didasarkan pada situasi
perdagangan saat itu.

6. Lease jangka panjang dapat memberikan perlindungan dari keusangan produk.

7. Keuntungan pajak mungkin bersifat sementara, dikarenakan ketentuan pajak yang


ditetapkan pemerintah terdapat peraturan baru dengan demikian membatalkan
ketentuan peraturan lama, hal ini berbahaya bagi leasejangka panjang yang
mengutamakan keuntungan pajak.

8. Lease jangka panjang dengan suku bunga tetap akan membebankan lessor pemberi
pinjaman atas resiko hilangnya kesempatan jika suku bunga naik.
REFERENSI

Alipudin & Ningsi. 2015. Penerapan Psak No.30 Mengenai Perlakuan Akuntansi Sewa Dan
Pengaruhnya Pada Laporan Keuangan PT. BFI Finance Indonesia, Tbk. Jurnal Ilmiah
Akuntansi Fakultas Ekonomi. Volume 1 No. 2 Tahun 2015, Hal. 51-62

Baridwan, Zaki. 1982. Intermediate Accounting, Edisi 3, Badan Penerbit Universitas Gajah
Mada, Yogyakarta.

FASB, APB No.4. Basic Concept and Accounting Principle Underlying Financial Statement
of Business Enterprise, AICP A, Inc, New York, 1970.

Financial Accounting Standards Board (FASB). 1976. Statement of Financial Accounting


Standards No. 13 Accounting for Leases. Stamford. Connecticut.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Ikatan Akuntan Indonesia, Standard Akuntansi Keuangan, PSAK No.30 Salemba Empat,
Jakarta 1994, par 30.1

International Accounting Standard Committee (IASC). International Accounting Standard


No. 17 Accounting for Leases, September 1982. par. 2

Kieso, Donald E., Jerry J Weygandt., Terry D. Warfield (2002). Akuntansi Intermediate, Jilid
Ketiga, Edisi Kesepuluh. Jakarta: Erlangga.

Mirhani, Siti, 2003, Akuntansi Aktiva Leasing, USU, Sumatra Utara.

Nasution, Manahan. 2003. Akuntansi Guna Usaha (Leasing) Menurut Pernyataan SAK No.
30. Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara: USU digital
Library

Samudra, Ria Dwiyanti. 2008. Penerapan Psak No.30 Mengenai Perlakuan Akuntansi Sewa
Guna Usaha Aktiva Tetap dan Pengaruhnya pada Neraca dan Laporan Laba Rugi
Perusahaan (Studi Kasus Pada PT. Nusantara). Malang: Universitas Brawijaya
Malang

Sinurat, Lamron. 2006. Analisis Tingkat Rentabilitas Perusahaan Sebelum dan Setelah
Penerapan Pembiayaan Leasing. Bandung: Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama.
SKB Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan RI No. Kep-
122/MKIV/2/1974; No.32/M/SK/2/1974, tanggal 7 Februari 1974, Perizinan Usaha
Leasing Pasal 1

Thomas, R. Dycman, Roland E. Dukes, dan Charles J. Davis, 2001, Akuntansi Intermediate,
Terjemahan Herman Wibowo, Jilid II, Edisi Ketiga, IKAPI, Erlangga, Jakarta.