Anda di halaman 1dari 10

Seperti yang sudah dimaklumi, bahwa salah satu ciri khas dari Ahlussunnah Wal Jama'ah

adalah akidah Asy'ariyah. Namun nyatanya, banyak yang masih meragukan akidah ini.

Padahal, banyak sekali para ulama kita yang dengan jelas berpaham akidah ini, seperti yang
pernah kami ulas pada tulisan sebelumnya, 40 Tokoh Ulama Hadith Berakidah
Asy'ariyah.

Namun dalam tulisan yang sama, ada sebuah komentar, yang menegaskan bahwa al-Imam
Ahmad al-Ghumari justru termasuk ulama yang menentang Aliran Asy'ariyah ini.

Dalam ulasannya, dia menyadur pendapat yang terdapat dalam sebuah kitab "Dzamm al-
'Asyairah Wa al-Mutakallimin wa al-Falasifah". Padahal, kenyataannya, ini adalah distorsi
terhadap akidah beliau.

Berikut ini adalah bantahan terhadap tuduhan tersebut, yang ditulis oleh Adhil Al-Qarni, yang
mengulas tentang pendapat yang dihubungkan sebagai pendapat al-Imam Ahmad al-Ghumari.

AHMAD AL-GHUMARI MENENTANG ASYA'IRAH?!


Telah sampai kepada saya sebuah kitab yang disandarkan kepada Al-Hafidz Asy-Syarif As-
Sayyid Ahmad bin Muhammad ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani berjudul "Dzammul
Asya'irah Wal Mutakallimin Wal Falasifah". Saya akan menyampaikan beberapa klarifikasi
mengenai kitab ini.
1. Kitab ini bukanlah karya Sidi Ahmad Al-Ghumari, melainkan karya Dr. Shadiq bin Salim
bin Shadiq. Beliau mengambil dan mencomot kalimat-kalimat Sidi Ahmad Al-Ghumari dari
dari berbagai karyanya dengan tidak amamah. Dr. Shadiq dikenal sebagai tokoh wahabi yang
keji. Ia hanya mengambil pernyataan Sidi Ahmad Al-Ghumari yang dianggap sejalan dengan
pemahamannya yang rusak. Tujuannya adalah menyerang kelompok Asy'ariyah. Ini adalah
sebuah sikap yang tidak ilmiah sama sekali.
2. Kitab ini diterbitkan atas prakarsa Abu Uwais Muhammad bin Al-Amin Bukhubzah,
seorang tokoh wahabi yang lebih keji lagi dari Dr. Shadiq. Ia tinggal di kota Tetouan,
Maroko. Dekat dengan kota Tanger, tempat kelahiran Sidi Ahmad Al-Ghumari.
3. Sebenarnya kitab ini sangatlah rapuh. Sebagian besar kitab ini dinukil dari kitab Sidi
Ahmad Al-Ghumari yang berjudul "Ju'natul 'Atthar". Kitab ini terdiri dari tiga jilid besar dan
belum dicetak. Masih ada bersama keluarga Al-Ghumari. Ada beberapa versi Ju'natul 'Atthar
yang beredar dan dapat diunduh di internet, namun hanya juz pertama.
Dr. Shadiq menukil kalimat-kalimat dalam kitab tersebut yang dirasa menentang ulama-
ulama Asy'ariyah, para ahli kalam, dan filsuf. Padahal Ju'natul 'Atthar sendiri bukanlah kitab
yang menjelaskan pendapat Sidi Ahmad Al-Ghumari dalam ilmu akidah. Kitab tersebut
hanyalah kumpulan catatan faidah Sidi Ahmad Al-Ghumari saja.
Jadi, setiap kali beliau mendapatkan maklumat atau informasi tertentu mengenai sebuah ilmu,
maka beliau akan langsung mencatat dalam kitab tersebut. Ini agar memudahkan beliau
dalam mencari kembali informasi atau maklumat tersebut saat dibutuhkan dalam penulisan
atau pengajaran. Jadi, tidak semua hal yang ditulis oleh beliau dalam kitab tersebut juga
disepakati oleh beliau sendiri.
Apa buktinya?
Dari judulnya saja dapat kita pahami bahwa kitab ini hanyalah kumpulan faidah belaka, yakni
"Ju'natul 'Atthar Fi Jam'i Fawaidil Atsari Wal Akhbar". Jadi, ini hanyalah kumpulan faidah
sang penulis.
Saya juga telah mengklarifikasi kepada keluarga penulis secara langsung, dalam hal ini Asy-
Syarif Sayyid Dr. Abdul Mun'im bin Abdul Aziz ibn Ash-Shiddiq Al-Ghumari Al-Hasani,
yang mana saya dianugerahi karunia dapat belajar dan mulazamah bersama beliau di Zawiyah
Shiddiqiyah.
Demikian tulisan ini dibuat. Semoga mencerahkan. Wallahu subhanahu wa ta'ala a'lam.
Zawiyah Shiddiqiyah, 5 November 2018

Dengan demikian, jelaslah baha pendapat yang dinisbatkan kepada al-Imam Ahmad al-
Ghumari, yang menyesatkan Aliran Asy'ariyah, adalah tidak benar, dan tidak bisa
dipertanggung jawabkan

BENARKAH BENDERA RASUL ADA TULISAN

Masih segar baru-baru ini gejolak tentang status Bendera tauhid, pasca beredarnya video
pembakaran bendera bertuliskan Kalimat Tauhid yang diduga dilakukan oleh aggota Banser.

Pembakaran tersebut diketahui terjadi saat Upacar Hari Santri Nasional yang dilakukan di
Bogor. Sontak, video tersebut viral dan sempat menjadi pembicaraan publik.
Tudingan demi tudingan-pun sempat mewarnai jagat dunia media sosial, ada yang
mendukung sikap Banser, ada pula yang menolak keras, dan dianggap menista kalimat
tauhid.

Tonton Video Detik-Detik Banser Bakar Bendera HTI

Ada pula yang bersikap lebih bijak, dengan mengatakan aksi tersebut sebagai bentuk
penghormatan pada kalimat Tauhid, dan lain sebagainya.

Dus, akhirnya, kejadian tersebut meneyeret pelaku vandalisme [dalam bentuk pembakaran]
keranah meja hijau, dan akhirnya pelakunya-pun dijerat hukuman / sanksi dari pengadilan.

Disisi lain, kejadian tersebut menyisakan banyak tanda tanya. Diantaranya, benarkan Bendera
Rasulullah bertuliskan Kalimat tauhid? Berikut ini adalah salah satu tulisan Moch. Yardho
pengasuh Pondok Pesantren al-Jawi.

Bendera Rasulullah Saw. Bertuliskan Kalimat Tauhid?

Ada tiga Hadis yang mengatakan Râyah dan Liwâ' Rasul itu bertuliskan kalimat tauhid. Satu
ada dalam kitab al-Mu'jam al-Awsath (karya al-Thabrânî) Hadis no. 219 dan dua ada di kitab
Akhlâq al-Nabiy (karya Abu al-Syekh al-Ashbahanî) Hadis no. 424 dan 425.

Dari kajian tentang tiga Hadis tersebut dan tentang Hadis-hadis yang lain dapat disimpulkan
beberapa simpulan:

 Pertama, Dari segi sanad, tiga Hadis tersebut semuanya dha'if (lemah). Memang ada
Hadis tentang Râyah dan Liwâ' Rasul yang kualitasnya di atas dha'if, tetapi tidak bisa
dijadikan syahid atau tabi' bagi tiga Hadis tersebut kerena Hadis yang kualitasnya di
atas dha'if itu tidak ada redaksi yang mengatakan "dalam/ di atas Liwâ' Rasul tertulis
Laa ilaaha illallah (kalimat tauhid)".
 Kedua, Dari segi matan, hanya Liwâ' Rasul (bendera berwarna putih) saja yang ada
kalimat tauhidnya. Karena redaksinya menggunakan ‫مكتوب فيه‬dan ‫مكتوب عليه‬, bukan
menggunakan redaksi ‫ مكتوب فيهما‬dan ‫مكتوب عليهما‬. Jadi tidak ada BENDERA HITAM
(Râyah) yang bertuliskan kalimat tauhid.
 Ketiga, Pendapat seorang Ustadz kemarin yang mengatakan bahwa Panji Rasul itu
"jika kainnya hitam maka tulisan kalimat tauhidnya putih dan jika kainnya putih maka
tulisan kalimat tauhidnya hitam" itu hanya rekaan pikiran beliau saja. Rekaan itu tidak
ada rujukannya pada Hadis walaupun pada Hadis dha'if sekalipun. Jadi jika ada orang
mengingkari bendera seperti itu sama sekali tidak bisa dikatakan telah mengingkari
Hadis Nabi atau dianggap mengingkari Panji Rasul.
 Keempat, Panji Rasul (Râyah atau Liwâ') hanya bendera peperangan untuk
membedakan tentara Islam dan musuhnya. Jika ada Ustadz yang mengatakan Panji
Rasul pernah di kibarkan di waktu damai karena Panji Rasul itu pernah berkibar
dalam "Penaklukan Kota Makkah" yang terkenal sebagai hari kasih sayang, maka
klaim itu sangat gegabah. Karena dalam "Penaklukan Kota Makkah" Rasul membawa
10.000 pasukan perang. Juga di kitab-kitab sejarah (dan dalam kitab Hadis yang
disusun sesuai tema), "Fath Makkah" (Penaklukan/ Pembebasan Kota Makkah) ada di
bab "Peperangan Nabi".
 Kelima, Mayoritas Hadis yang bicara tentang Râyah dan Liwâ' Rasul tidak
menerangkan Panji Rasul itu bertulisakan kalimat tauhid. Bahkan riwayat-riwayat itu
tidak seragam dalam mendiskripsikan warna Panji Rasul. Ada yang mengatakan
hitam, putih, kuning, merah dan hijau.

Baca Juga : Alasan Utama HTI Dibubarkan Di Indonesia

 Keenam, Panji Rasul adalah panji yang digunakan Nabi. Digunakan Nabi atau
digunakan tentaranya. Kita ini bukan Nabi dan bukan tentaranya. Selain itu, tidak ada
anjuran meniru panji Rasul. Meniru panji Rasul dengan mereka-reka bentuknya
menurut riwayat-riwayat yang ada akan menghasilkan berbagai macam versi. Hal itu
bisa menyebabkan perpecahan. Apalagi jika ada klaim kebenaran dan pengutukan
pada yang beda hasil rekaannya. Menggunakan rekaan panji Rasul juga tidak
berpengaruh terhadap usaha menjadikan Rasul sebagai tauladan akhlak yang luhur.
Bahkan fenomena yang terjadi sekarang para kelompok yang mengaku menggunakan
Panji Rasul, prilakunya prilaku biadab (terorisme dan ekstremisme) dan mentalnya
bermental penghianat dan makar.

Nyata, Begini Peristiwa "Terbelahnya Rembulan" dan Masuk Islamnya Raja


India, Kodungallur

Galeri Islam 11/19/2018


Dikutip dari kitab Ibtigha' al-Wushul Lihubbillah Bi Madhi al-Rasul, Pasca 200 H,
sekelompok kaum muslimin dengan berpakaian fakir dan miskin (biasanya sufi) berlayar
dengan perahu dari pelabuhan Arab hendak napak-tilas telapak kaki Nabi Adam Alaihis
salam di Sarandib (Kini: Sri Lanka).

Namun tiba-tiba laut mengantarkan perahu mereka ke Malabar di negeri Kodungallur yang
saat itu diperintah seorang penguasa yang disebut SAMURI (Zamorin/Cheraman Perumal
bernama Chakrawati Farmas) yang cerdas dan berakhlak baik.

Ia menemui para faqir dan ia pun terlibat pembicaraan dengan mereka hingga ia bertanya
mengenai madzhab dan agama mereka.
Rombongan itu pun menjawab:"Kami muslim dan Rasul kami adalah Muhammad
Shallallahu 'alaihi wasallam."

Raja Samuri bertanya lagi:"Aku mendengar dari orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Hindu
mengenai orang-orang Agama ini (Islam), namun Aku tak pernah bertemu kaum muslimin
sama sekali. Sudilah kiranya kalian menjelaskan mukjizat nabi kalian."

Lantas, sebagian rombongan menyebutkan mukjizat yang banyak hingga sampai pada
mukjizat terbelahnya rembulan.

Raja Samuri pun berkata: Wahai rombongan! Mukjizat ini sungguh nyata dan tradisi kakek-
kakek kami jika ada peristiwa dahsyat, ditulis dalam catatan dan buku.

Lalu, sekretaris sang Raja mencarinya dan mendapati tulisan bahwa pada tanggal sekian
terlihat bulan terbelah, kemudian sempurna (menyatu kembali).

Baca Juga : Subhanallah Begini Sifat dan Kepribadian Rasulullah saw. Menurut
Sayyidina Ali ra.

Dalam satu riwayat yang shahih disebutkan bahwa Raja Samuri melihat peristiwa terbelahnya
rembulan itu di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di kerajaannya, lalu ia mengutus
utusan kerajaannya untuk meneliti sebab peristiwa ini.

Ketika benar bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menyerukan


kenabian dan benar-benar terbelah rembulan karenanya, Ia pun berlayar hingga sampai ke
Hijaz dan berjumpa dengan Nabi sekaligus masuk Islam, lalu kembali dan wafat di Dhofar
(Daerah Oman) karena penyakit yang mematikan.

Hingga kini Makamnya masyhur di sana dan dibuat untuk bertabarruk oleh para peziarah
yang datang dari dalam hingga manca negara.

Dikutip dari kitab Ibtigha' al-Wushul Lihubbillah Bi Madhi al-Rasul, Pasca 200 H,
sekelompok kaum muslimin dengan berpakaian fakir dan miskin (biasanya sufi) berlayar
dengan perahu dari pelabuhan Arab hendak napak-tilas telapak kaki Nabi Adam Alaihis
salam di Sarandib (Kini: Sri Lanka).

Namun tiba-tiba laut mengantarkan perahu mereka ke Malabar di negeri Kodungallur yang
saat itu diperintah seorang penguasa yang disebut SAMURI (Zamorin/Cheraman Perumal
bernama Chakrawati Farmas) yang cerdas dan berakhlak baik.

Ia menemui para faqir dan ia pun terlibat pembicaraan dengan mereka hingga ia bertanya
mengenai madzhab dan agama mereka.
Rombongan itu pun menjawab:"Kami muslim dan Rasul kami adalah Muhammad
Shallallahu 'alaihi wasallam."

Raja Samuri bertanya lagi:"Aku mendengar dari orang-orang Yahudi, Nasrani, dan Hindu
mengenai orang-orang Agama ini (Islam), namun Aku tak pernah bertemu kaum muslimin
sama sekali. Sudilah kiranya kalian menjelaskan mukjizat nabi kalian."

Lantas, sebagian rombongan menyebutkan mukjizat yang banyak hingga sampai pada
mukjizat terbelahnya rembulan.

Raja Samuri pun berkata: Wahai rombongan! Mukjizat ini sungguh nyata dan tradisi kakek-
kakek kami jika ada peristiwa dahsyat, ditulis dalam catatan dan buku.

Lalu, sekretaris sang Raja mencarinya dan mendapati tulisan bahwa pada tanggal sekian
terlihat bulan terbelah, kemudian sempurna (menyatu kembali).

Baca Juga : Subhanallah Begini Sifat dan Kepribadian Rasulullah saw. Menurut
Sayyidina Ali ra.

Dalam satu riwayat yang shahih disebutkan bahwa Raja Samuri melihat peristiwa terbelahnya
rembulan itu di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di kerajaannya, lalu ia mengutus
utusan kerajaannya untuk meneliti sebab peristiwa ini.

Ketika benar bahwa Rasulullah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam menyerukan


kenabian dan benar-benar terbelah rembulan karenanya, Ia pun berlayar hingga sampai ke
Hijaz dan berjumpa dengan Nabi sekaligus masuk Islam, lalu kembali dan wafat di Dhofar
(Daerah Oman) karena penyakit yang mematikan.
Hingga kini Makamnya masyhur di sana dan dibuat untuk bertabarruk oleh para peziarah
yang datang dari dalam hingga manca negara.

KEMATIAN MENURUT SYAFII

Berikut ini adalah beberapa untaian Hikmah Imam Syafi'i, berkenaan hakikat kehidupan dan
kematian, smoga bisa bermanfaat :

‫ندم وحزن هز كل كياني فانساب دمعي واستكان لساني‬


"Menyesal, berduka dan tersentak seluruh keadaanku. Air mataku berderai dan mulutku
terkunci"

‫النفس حيرى والذنوب كثيرة والعمر يمضي والحياة ثواني‬


"Jiwaku linglung dan dosaku menumpuk. Umur terus berlalu dan hidup hanyalah beberapa
detik berlalu"

"‫"يا نفس كفي عن معاصيك التي كادت تميت الحس في وجداني‬


"Wahai jiwaku berhentilah dari maksiatmu, karena itu yang mematikan perasaanku"

"‫ فاجمعي يا نفس من طيب ومن إحسان‬،‫"أنسيت أن الموت آت‬


"Apakah kamu lupa bahwa kematian pasti datang, maka bersiaplah
Wahai jiwaku berbekallah dengan kebaikan dan kebajikan"

"‫ وعسرة السؤالن‬،‫"أنا لست أخشى الموت بل أخشى الذي بعد الممات‬
"Sebetulnya aku tidak pernah takut kepada kematian tapi takut kehidupan setelah kematian
dan sulitnya pertanyaan"

"‫"ماذا أقول إذا فقدت إرادتي وتكلمت بعدي يدي ولساني‬


"Apakah yang akan aku ucapkan bila aku sudah tidak punya kehendak lagi. Dan bila setelah
itu yang berbicara tanganku dan lisanku"

"‫ ولست بعالم النسيان‬..‫ وكل جوارحي تحكي بما صنعت‬..‫"ماذا‬


"Apakah yang akan terjadi… Saat seluruh anggota tubuhku berbicara tentang apa yang aku
perbuat sementara aku tidak di alam lupa"

"‫"أخشاك يا شمس الشتاء فكيف ال أخشى العذاب وحرقة النيران‬


"Panas matahari musim dingin kau takuti bagaimana tidak takut adzab dan panasnya neraka"

"‫"أنا يا الهي حائر فتولني وألنت تهدي حيرة الحيران‬


"Wahai Tuhanku, aku bingung bimbinglah aku karena sungguh Engkau penunjuk hamba
yang sedang bimbang"

"‫"أنا إن عصيت فهذا ألني غافل ولقد علمت عواقب العصيان‬


"Andai aku bermaksiat terus hingga lupa diri. Padahal aku tahu akibat buruk kemaksiatan"
"‫"أنا إن عصيت فهذا ألني ظالم والظلم صنع من يد اإلنسان‬
"Andai aku terus maksiat, sungguh aku zalim. Dan kezaliman sudah menjadi watak manusia"

"‫"لكنك الغفار فاغفر ما جنت نفسي على نفسي فأنت الحاني‬


"Akan tetapi Engkau maha pengampun maka ampunilah dosaku. Kesalahan demi kesalahan
Engkau maha lembut"

"‫"أشكو إليك ضآلتي ومذلتي فارفع بفضلك ما أذل زماني‬


"Aku mengadu kepadamu akan kesesatan dan kehinaanku. Ya Allah Angkatlah dengan
karuniamu dari kehinaan"

"‫ وفي نطقي وفي همسي بقلب دائم الخفقان‬،‫"أدعوك في صمتي‬


"Aku memohon kepadamu pada tiap diam dan berbicaraku. Dan dalam bisikan hatiku aku
selalu bermunajat Padamu"

"‫ وكن لي يا عظيم الشان‬،‫"أدعوك فاقبل دعوتي وارفع بها شأني‬


"Aku berdoa kepadamu, terimalah doaku, Angkatlah derajatku dan tolonglah aku wahai dzat
yang maha Agung"

"‫"لك في الفؤاد مهابة ومحبة يا من بحبك يستضيء كياني‬


"Engkau di hatiku senantiasa aku agungkan dan cintai. Wahai dzat yang dengan kecintaanmu
bersinarlah kehidupanku"

"‫"أنا يا إلهي عائد من وحدتي أنا هارب من كثرة األشجان‬


"Wahai Tuhanku, aku kembali dari peraduannya. Aku lari dari berbagai macam salahku"

"‫ والشيطان‬..‫"من لي سواك يجيرني ويعيدني من عالم األهواء‬


"Tidak ada selainmu yang bisa melindungiku dan menyelamatkanku. Dari hawa nafsu dan
setan"

"‫"سدت بوجهي كل أبواب المنى فأتيت بابك طالب الغفران‬


"Di hadapanku tertutup semua pintu harapan, aku datangi pintumu untuk mengejar
pengampunan"

"‫"يارب إني قد أتيتك تائبا فاقبل بعفوك توبة الندمان‬


"Wahai Tuhanku, sungguh aku datang kepadamu untuk bertaubat. Terimalah dengan
ampunanmu sebagai hamba yang bertaubat penuh penyesalan"

Ditulis oleh : Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi