Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

SKENARIO 2 ( TINGKAH LAKU ANAK )

Disusun oleh:

Tutorial 4

Toni Khairul Ikhsan (1713101010011)


Fransedo Regano (1713101010061)
Rizkan Karima (1713101010031)
Andre Suryan (1713101010056)
Mahdalena (1713101010001)
Nanda Febrina (1713101010009)
Zahara Novia Resta (1713101010019)
Ghina Alya Safira (1713101010028)
Yunita Ariani (1713101010036)
Reka Rahmadani (1713101010046)
Wahida Putr Nurul Hafizah (1713101010053)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNSYIAH

BANDA ACEH

2019

0
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Adapun makalah skenario 2 tentang “Tingkah Laku Anak” ini telah kami usahakan
semaksimal mungkin dan tentunya dengan bantuan berbagai pihak, sehingga dapat
memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami tidak lupa menyampaikan bayak
terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan makalah ini.

Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa ada
kekurangan baik dari segi penyusunan bahasanya maupun segi lainnya. Oleh karena itu
dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi pembaca yang
ingin member saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat memperbaiki makalah pada
topik selanjutnya.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah skenario 2 ini dapat diambil
hikmah dan manfaatnya.

Banda Aceh, 25 Februari 2019

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................... 1


Daftar Isi ............................................................................................................ 2

BAB I: PENDAHULUAN................................................................................ 3
1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 3
1.2.Tujuan ............................................................................................................ 3

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA


I. TINGKAH LAKU......................................................................................... 4
1.1. Cemas dan Takut.......................................................................................... 4

1.2. Pengalaman Medis dan Dental pada Anak................................................. 5

1.3. Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku Anak........................................ 5

1.4. Klasifikasi Tingkah Laku Anak................................................................... 6

1.5. Dasar Manajemen Perilaku pada Anak ..................................................... 10

1.6. Komunikasi dalam Perawatan Gigi Anak................................................. 11


1.7. Tumbuh Kembang Anak Aspek Biopsikososial.......................................... 12

1.8. Penyakit Sistemik pada Anak ..................................................................... 14

1.9. Jenis Jenis Penyakit Jantung Bawaan Pada Anak........................................ 15

1.10 Rujukan Multidisiplin................................................................................. 16

BAB III : PENUTUP...................................................................................... 22


1. Kesimpulan ................................................................................................. 22

Daftar Pustaka.....................................................................................................

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Perilaku merupakan suatu aktivitas manusia yang sangat mempengaruhi pola hidup yang
akan dijalaninya. Proses pembentukan perilaku yang diharapkan memerlukan waktu serta
kemampuan dari orang tua dalam mengajarkan anak. Rasa takut merupakan perilaku
nonkooperatif anak terhadap perawatan gigi, faktor penyebabnya bisa atau ditimbulkan dari anak
itu sendiri, keluarga maupun dokter gigi. Anak-anak memiliki cara pendekatan tersendiri yang
berbeda dengan orang dewasa dan memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Perilaku anak
juga berbeda pada setiap kunjungangigitergantung padavariabelseperti usia, perilakuorang tua,
kecemasanorang tua, riwayat medis/gigiterakhir,kesadaran akan masalahgigi mereka, jenis
prosedurgigi, manajemenperilaku, danteknikproseduraldiikuti olehdokter gigi.

1.2. Tujuan
1.2.1 Mampu menguasai dan memahami teori dasar tentang :
- Cemas dan Takut
- Pengalaman Medis dan Dental pada Anak
- Faktor yang Mempengaruhi Tingkah Laku Anak
- Dasar Manajemen Perilaku pada Anak
- Komunikasi dalam Perawatan Gigi Anak
- Tumbuh Kembang Anak Aspek Biopsikososial

1.2.2 Memahami tentang rujukan multidisiplin

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3
1.1 Cemas dan Takut
a. Cemas
Cemas adalah suatu yang ditakuti tapi yang mana sumber ketakutan(objek) itu tidak jelas
atau tidak nyata.
b. Takut
Suatu respon emosional terhadap sesuatu yang mana yang ditakuti itu objeknya itu jelas.

• Macam –macam rasa takut


1. Objektif
- Timbul karena rangsangan fisik langsung pada alat perasa.
- Merupakan jawaban terhadap sesuatu yang tidak menyenangkan dari apa yang
dialami.
Misalnya :
- Melihat orang baju putih.
- Mencium bau obat diruang praktek.

2. Subjektif
- Timbul karena mendengar kejadian yang dialami orang lain
Misalnya :
- Cerita si A kepada si B :kemarin waktu kedokter gigi sakit sekali, sehingga si B jadi
takut ke dokter gigi karena mendengar cerita si A.
- Anak-anak akan merasa takut pada sesuatu yang baru dan tidak dikenal.

3. Sugesti
- Timbul karena meniru orang lain,diteruskan tanpa disadari oleh kedua-duanya.
Misalnya :
- Ibu takut dengan perawatan gigi sehingga tangan si anak dipegang kuat-kuat ,hal ini
dapat menyebabkan anak menjadi takut.
- Ibu takut dengan suara petir sehingga ibu sembunyi dan si anak juga meniru hal
demikian.

4
1.2 Pengalaman Medis dan Dental Pada Anak

Pengalaman medis dan dental pada anak, dalam beberapa kasus mencerminkan
kunjungan yang tidak memuaskan yang menghasilkan masalah manajemen pada anak.
Menurut Wright,dkk (1973) menunjukkan bahwa keterlibatan emosional yang ditimbulkan
dari pengalaman medis dan sikap anak yang umumnya buruk tentang pertolongan medis jelas
dapat membentuk dan mempengaruhi perilaku yang tidak diinginkan pada anak. MC Tingue
(1984), menunjukkan bahwa perilaku yang berpotensi tidak kooperatif mungkin terkait
dengan rasa takut yang berkelanjutan melalui pengalaman dental yang tidak menyenangkan
di masa lalu.

Penanganan yang tidak benar pada anak di klinik menghasilkan sikap yang buruk
pada anak. Dimana, dalam sebuah studi menyatakan anak yang menjalani rawat inap dan
intervensi bedah sebelumnya menunjukkan bahwa anak dengan pengalaman seperti itu lebih
negatif pada kunjungan pemeriksaan gigi pertama (Martin et al, 1977). Dalam studi yang
sama, hal tersebut dapat menunjukkan bahwa perilaku negatif secara signifikan dapat timbul
dari pengalaman medis dan dental sebelumnya atau dapat timbul dengan adanya kecemasan
dari ibunya yang dapat menunjukkan perilaku tidak kooperatif dari anaknya.

Kecemasan yang tinggi pada orang tua cenderung mempengaruhi perilaku anak-anak
mereka secara negatif. Orang tua dapat menunjukkan ketakutan mereka kepada anak-anak
mereka. Meskipun analisis data ilmiah mengungkapkan bahwa anak-anak dari segala usia
dapat dipengaruhi oleh kecemasan ibu mereka dan memberi pengaruh paling besar pada
mereka yang berusia kurang dari empat tahun.

1.3 Faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak

 Parental anxiety
 Investigasi menyebutkan adanya korelasi akibat kecemasan orang tua dan prilaku
anak, kecemasan orang tua yang tinggi mempengaruhi perilaku anak secara negatif,
orang tua dapat menyampaikan ketakutan pada anak mereka, efeknya paling besar
dari yang berumur < 4.

 Toxic stress

5
 Stresornya berupa pelecehan anak / pengabaian, pengunaan obat atau kekerasan
dirumah , depresi orangtua atau gangguan jiwa.

 Medical experiences

 Anak yang pernah mengalami perawatan medis yang positis akan kooperatif. Jika ada
rasa sakit saat perawatan sebelumnya merupakan hal lain pada pengalaman anak.

 Kesadaran akan masalah gigi

 Beberapa anak menyadari masalah giginya, perilaku negatif dapat muncul ketika anak
meyadari hal ini.

 Masalah perilaku yang umum

 Anak yang memiliki kesulitan untuk fokus atau melakukan aktifitas dilingkungannya,
beberapa anak hanya memiliki masalah saat perawatan gigi.

1.4 KlasifikasiPerilakuAnak

a) Menurut Frankl (derajat tingkah laku):


 Rating 1: pasti negative (--)
Menolak perawatan, menangis, ketakutan/ beberapa tanda yang jelas ekstrim.
 Menolak perawatan:
 Immature behavior: tanpa sebab dan tidakdapat meguasai
situasi, biasa pada toodler/ preschooler dan special child.
 Perilaku yang dapatdi kontrol: pada dasarnya suatu sifat
pemarah, kegelisahan yang ekstrim preschooler.
 Perilaku menentang: tipe perlwanan aktif/ pasif. Keras kepala
adalah jenis respon yang dihubungkan dengan perilaku ini.
Biasanya pada middle years child.
 Menangis dengan sangat keras: perilaku yang tidakdapat dikontrol.
Biasanya pada late preschooler/ middle years child.
 Ketakutan: perilaku yang tidakdapatdikontrol dan perilaku menentang.

 Rating 2: negative (-)

6
Enggan untuk menerima perawatan, tidak kooperatif, beberapa tanda sikap
negatif terbatas (ringan).
 Enggan menerima perawatan:
 Immature behavior, yang biasanya pada toodler/ preschooler
dan special child.
 Perilaku takut atau malu-malu: terlihat pada anak yang terlalu
dilindungi, ditakut oleh lingkungan asing (anak mengenal
orang-orang tertentu saja).
 Perilaku yang mempengaruhi: tekanan dari keluarga dan teman
sebaya.
 Menunjukkan tanda negative ringan:
 Timid behavior (pemalu), harus diajarkan untuk percaya diri.
 Merenngek: biasanya pada preschooler dan middle years child.

 Rating 3: positif (+)


Menerima perawatan tetapi berhati-hait, kemauan untuk menuruti dokter gigi,
terkadang pasien mau mengikuti arahan dokter gigi dengan kooperatif.
 Menerimaperawatan:
 Perilaku kooperatif: mengikuti arahan dokter gigi tetapi ragu-
ragu.
 Konsep behavior: respon dengan harmonis.
 Perilakumerengek: dianggapatautidak bias
dianggapperilakunegatif.
 Timid behavior/ pemalu:
mengikutiarahandoktergigidenganmalu-malu.

 Rating 4: pastipositif (++)


Berhubunganbaikdengandoktergigi, tertarikdenganprosedur dental, tertawa,
danmenikmatisituasi.
 Perilakuunik: menanti-nantidanmengenaipentingnyapencegahan yang
baikdanpeduliakanpencegahan.

7
b) MenurutWrigth (kooperatifanak):

 Kooperatif ( dapatdiajakbekerjasama)
Kecemasan yang minimal, antusias, bersemangat,
dapatdirawatdenganberterusterang, pendekatantingkahlaku.
Ketikagarispedomantingkahlakuterbentuk,
merekamemperlihatkandiridalamsatukerangkakerja (framework).
Biasanyaanakkooperatif… sadar, haltersebutkunciuntukmempertahankan
treatment.

 Kekurangankemampuanuntukkooperatif
Kategoriinitermasukanak-anak yang sangatkecil yang sangatsulitdiajak
berkomunikasidansulituntukdiberipengertian. Kelompokanak yang lainnya
yang mengalamikekurangankemampuanuntukkooperatifadalahanak-ana yang
mengalami kecatatan ataupenyakit-penyakt yang melemahkan.

 Potensiallykooperatif / Behavior Problem


Memilikikemampuanuntukmenjadi pasien yang kooperatif
,apabilatingkahlakuanakberhasildimodifikasiolehdoktergigi,
makasianakakanmenjadikooperatif.
 Uncontrolled Behavior
Menangisdengansuarakeras, penyeranganfisik, mengertak-ngertakkan
kaki dantangan, biasanyaterlihatpadaanakumur 3-6 tahun,
padakunjunganawalkedoktergigi.

 Defiant Behavior ( Perilakumelawan)


Berteiakseperti, “sayatidakmau” atau “sayatidakakan”, biasanya di
rumahjugamemilikikebiasaanserupa, merupakananak yang
keraskepala, dapatterjadipadaanak di segalaumur,
danlebihterkarakteristikpadakelompokusiasekolahumum.

 Timid behavior ( pemalu/takut)

8
Bagianteringandariperilak negative padaanak,
apabilatidaktermenejdenganbaik, makaperilakuinidapatberubahmenjadi
“perilakutidakterkontrol”. Beberapaanakberlindung di balik orang
tuamereka, biasnyagagaluntukbertahansecarafisikterhadaperawatan
yang diberikanbeberapanya “termangu-mangu”
ketikadiberipenjelasandansebagianmerengek,
tetapitidakmenangissecarahisteris.
Anak-anak overprotective, interaksi sedikitdengan orang asing, tinggal
di area yang terisolasidanselaludiperingatkanakanbahayasekitar.

 Tense – kooperatif Behavior (tegang)


Batas antaraperilakupositif – negative, anakmenerimaperawatan yang
akandilakukantanpaperilakusengit , misbehavior physically,
namundaribahasatubuhanakmencerminkanketegangan,
beberapaanakselalumemperhatikangerak-gerik dentist /
asistennyadengakeduamatanya, bergetar, telapaktangandanalais yang
berkeringat.

 Whining Behavior (cengeng)


 Menagistetapitidakmenjerit, suaraemosikonstan,
jarangsekalidisertai air matasaja. Dapatmenjadimenjengkelkan.
 Lokalanastesidapatdiberika,
namunseringsekalimerekaprotesterhadapa rasa sakit.
 Termasukkedalamkelompokpotensialperilakukooperatifdanma
nifestasiterhadapsuatureaksi

1.5 Dasar manajemen perilaku pada anak

Untuk mencapai keberhasilan dalam perawatan gigi maka hendaknya dokter gigi
terutama memahami konsep “Pedodontic Treatment Triangle.Pedodontic Treatment Triangle
adalah gambaran hubungan antar komponen dalam segitiga perawatan pedodontik dimana
setiap komponen saling berhubungan erat, posisi anak pada puncak segitiga dan posisi orang

9
tua serta dokter gigi pada masing-masing sudut kaki segitiga.Garis menunjukan komunikasi
berjalan dua arah antar masing komponen dan merupakan hubungan timbal balik.Anak
menjadi fokus dari dokter gigi dan dibantu oleh orang tua. Perawatan gigi anak akan
dipusatkan pada orientasi anak sebagai pasien dan orangtuanya, dokter gigi akan bertindak
untuk mengarahkan orang tua pada perawatan yang diindikasikan kepada anaknya. Pada usia
bayi sampai dengan 18 tahun diperlukan komunikasi dan kerja sama dari dokter gigi
dengan anak dan orang tua dalam perawatan gigi anak.

Parameter bahwa perawatan gigi dan mulut pada anak telah berhasil dilakukan antara
lain: anak tidak mengalami keluhan fisik setelah perawatan, perawatan yang diberikan efektif
dan tepat, anak memahami cara merawat gigi dan pencegahan dari penyakit serta kerusakan
pada gigi, anak tidak merasa takut pada perawatan gigi, menjadi pasien yang kooperatif dan
dapat diajak bekerjasama, secara umum keadaan gigi geligi anak menjadi sehat, gigi terawat,
jaringan lunak sehat.

Tanda keberhasilan dokter gigi mengelola pasien anak adalah kesanggupannya


berkomunikasi dengan anak dan memperoleh rasa percaya dari anak, sehingga anak
berperilaku kooperatif. Komunikasi adalah suatu proses dimana setiap orang dapat saling
berbagi informasi, bertukar pikiran, berbagi rasa dan memecahkan permasalahan yang
dihadapi. Cara komunikasi dengan anak yang paling umum digunakan adalah cara verbal
yaitu melalui bahasa lisan. Banyak cara untuk memulai komunikasi verbal, misalnya untuk
anak kecil dapat ditanyakan tentang pakaian baru, kakak, adik, benda atau binatang
kesayangannya. Berbicara pada anak harus disesuaikan dengan tingkat pemahamannya.

10
Kadang diperlukan second language terutama untuk anak kecil misalnya untuk melakukan
anastesi pada gigi sebelum pencabutan dapat digunakan istilah menidurkan gigi.

1.6 Komunikasi Dalam Perawatan Gigi Anak

Communicating with Children

Pasien anak akan memperhatikan perilaku dokter gigi setiap kali mereka berkunjung
ke dokter gigi. Kunjungan pasien anak pada saat itu akan mempengaruhi perilaku anak pada
kunjungan berikutnya. Oleh karena itu, dokter gigi harus mampu menjalin komunikasi dan
hubungan yang baik dengan pasien anak untuk memperoleh perawatan gigi dan mulut yang
optimal. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan bersikap ramah, bersahabat dan
menyenangkan kepada mereka. Selain dengan motivasi lisan seperti membujuk dan
berempati, pasien anak juga dapat diajak bekerja sama dengan melakukan sentuhan fisik
seperti menepuk pungggung.
Menurut Gerald, beberapa observasi menunjukkan pada dokter gigi diluar sana
menggunakan beberapa kata ganti dalam menyampaikan istilah kedokteran gigi sehingga
anak-anak bisa memahami sesuai dengan usia mereka. Tak hanya itu, kata ganti juga
membuat kondisi anak lebih nyaman dan rileks bukan malah gelisah dan takut.

MemahamiPsikologi
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memahami psikologi seorang pasien anak.

a. Stimulus and response


Stimulus dan respon memiliki contoh seperti misalnya kita harus memberikan kesan ruang
klinik kita, mulai dari ruang tunggu hingga runag perawatan, dengan suasana yang mudah
diterima oleh anak anak. Misalnya memasang foto kucing, mainan, atau tokoh animasi. Bisa
juga dengan modifikasi warna yang ceria. Diharapkan anak merasa senang dengan kondisi
seperti itu aehingga anak memiliki respon kooperatif kedepannya.
b. Motivation
Dokter gigi harus memiliki kemampuan untuk memberikan gambaran yang memotivasi anak
supaya pergi ke dokter gigi.
c. Behavior modification

11
Kebiasaan yang bisa dilakukan seperti membeli model dan bentuk sikat gigi yang lucu atau
sesuai apa yang disukai anak.
d. Discrimination and extinction
Sebisa mungkin kita jangan memberikan kesan di klinik seperti rumah sakit. Karena itu akan
mengintimidasi anak.

Basic Technique of Behavior Management

a. Behavior Shaping
Biasa disebut juga Tell-Show-Do. Pertama, operator member tahun apa yang sudah
terjadi dengan kondisi gigi anak. Diharapkan dokter gigi menggunakanbahasa yang mudah
diterima. Seperti menggunakan cerita pahlawan super. Kedua, dokter gigi mempraktekkan
solusi atau perawatn yang akan dilakukan. Ketiga, saat sudah mendapatkan kepercayaan dari
sang anak, dokter gigi segera melakukan prosedur dengan memperhatikan dengan sangat
sikap anak saat
sedang berlangsung.

b. Retraining
Biasa terjadi pada kasus anak yang memiliki kebiasaan buruk. TSD dilakukan juga
pada teknik ini. Tetapi yang membedakan adalah anak diberi gambaran untuk menghilangkan
kebiasaan buruk tersebut. Hasilnya akan terlihat pada kunjungan berikutnya. Contoh
kebiasaan buruk adalah memakan coklat sebelum tidur.

Agar dapat tercipta komunikasi antar personel oleh dokter gigi dengan pasien anak
dan orang tuanya terdapat syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

a.Positiveness (sikap positif)

Dokter gigi diharapkan mau menunjukkan sikap positif pada pesan yang disampaikan
oleh pasien anak atau orang tuanya seperti keluhan, usulan, pendapat, pertanyaan.

b.Supportiveness (sikap mendukung)

12
Ketika pasien atau orang tua pasien anak Nampak ragu untuk memutuskan sebuah
pilihan tindakan, maka dokter gigi diharapkan memberikan dukungan agar keraguan tersebut
berkurang atau bahkan hilang.

c.Equality (keseimbangan antara pelaku komunikasi)

Yang dimaksud dengan kesamaan atau kesetaraan adalah bahwa diantara dokter gigi,
pasien, dan orang tua pasien tidak boleh ada kedudukan yang sangat berbeda misalnya dokter
yang menguasai semua keadaan dan pasien yang tidak berdaya.

d.Openess (sikap dan keinginan untuk terbuka)

Dokter gigi bila perlu juga mengatakan kesulitan yang dihadapinya saat menangani
masalah pasien. Dengan keterbukaan komunikasi ini maka akan terbangun kepercayaan dari
pasien anak dan orang tua.

1.7 Tumbuh Kembang Anak Aspek Biopsikososial

Biopsikososial adalah metode dengan interaksi biologi , psikologi, dan faktor sosial.
Konsepnya, biologis berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan, psikologi
berkaitan dengan keadaan, dan sosial berhubungan dengan interaksi.

a. Umur 2 tahun
 Senang untuk melihat banyak hal dan memegang
 Sangat lengket dengan orang tua
 Bermain sendiri & jarang berbagi
 Memiliki kosakata yang terbatas
 Keterampilan bakat motorik, seperti berlari dan melompat
b. Umur 3 tahun
 Memiliki imajinasi yang aktif
 Masih lengket dengan orang tua
c. Umur 4 tahun
 Berusaha untuk menggunakan kekuatan
 Berpartisipasi dalam kelompok kecil
 Dalam periode expansive

13
 Mengerti makna “terima kasih” dan “maaf”
d. Umur 5 tahun
 Mengalami masa konsolidasi
 Bangga dengan kepunyaannya
 Melepaskan barang-barang nyamannya
 Bermain dengan teman sebaya nya

1.8. Penyakit Sistemik pada Anak

● Masalah perilaku, mis. autisme, keterlambatan perkembangan, kecemasan ekstrem dan


jarum fobi.

● Sindrom, mis. Sindrom Down, sindrom velocardiofacial.

● murmur jantung penyakit jantung, operasi sebelumnya untuk cacat bawaan.

● Penyakit pernapasan, mis. asma.

● Masalah jalan napas, mis. riwayat croup, sumbing langit-langit, micrognathia,


trakeostomi sebelumnya, dikenal riwayat kesulitan intubasi, sleep apnea.

● Penyakit neurologis, mis. epilepsi, cedera otak sebelumnya, cerebral palsy.

● Gangguan endokrin dan metabolisme, mis. diabetes, kelainan metabolisme genetik.

 Masalah gastrointestinal, mis. refl ux, kesulitan menelan atau memberi makan.

 Hematologis, mis. hemofilia, trombositopenia, hemoglobinopati.

 Gangguan neuromuskuler, mis. distrofi otot.

 Alergi harus diperhatikan termasuk alergi lateks

 Obat-obatan .Sebagian besar obat harus dilanjutkan sampai waktu anestesi kecuali
ada alasan yang jelas untuk menahannya (mis. dengan antikoagulan) atau insulin).

 Pasien diabetes, akan memerlukan konsultasi dengan ahli endokrinologi pasien.

1.9. Jenis Jenis Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

14
Penyakit jantung bawaan memiliki insidensi sekitar 8-10 kasus per 1000 kelahiran
hidup dan merupakan kelompok terbesar penyakit kardiovaskular pada anak. Meskipun
sebagian besar terjadi secara individual, beberapa komponen utama sindrom atau gangguan
kromosom seperti sindrom down dan sindrom turner dengan lebih dari 40% anak anak
terpengaruh. Namun, dalam bebrapa kasus belum diketahui etiologinya, etiologi multifaktoral
sering dikatakan. Faktor risiko yang diketahui termasuk ibu rubella, diabetes, penggunaan
alcohol, radiasi, dan obat obatan.

1.9.1 Kondisi Asianotik


Anak anak dengan kondisi ini biasanya mengalami kesulitan makan, bernapas, dan
gagal berkembang. Penyakit ini ditandai oleh penyakit sistemik atau penyempitan
sirkulasi paru paru
Kelainan yang paling umum :
- Atrial Septal Defect (ASD)  terdapat dekat foramen ovale

- Ventricular Septal Defect (VSD)  septum membrane dinding ventrikel

- Patent Ductus Ateriosus (PDA)  ductus yang menghubungkan arteri pulmonalis


dengan aorta
- Coartation or localized constriction of the aorta  Area yang berkaitan dengan
ductus
- Aortic stenosis  penyempitan aorta
- Pulmonary stenosis  penyempitan katup paru paru

1.9.2 Kondisi Sianotik


Kondisi ini adalah penyakit yang melibatkan aliran darah yang kurang oksigen
kembali mengalir ke peredara darah.
- Teratology of Fallot biasanya berkaitan dengan VSD, stenosis paru paru, dan
hipertrofi ventrikel kanan
- Transposisi pembuluh darah besar
- Sindrom eisemenger  VSD atau PDA
- Atresia tricuspid  tidak ada katup tricuspid
- Atresia pulmonary  kelainan pada katup pulmonal

15
1.10 Definisi Rujukan Multidisiplin

Rujukan adalah pelimpahan wewenang dan tanggung jawab atas masalah kesehatan
masyarakat dan kasus-kasus penyakit yang dilakukan secara timbal balik secara vertikal
maupun horizontal meliputi sarana, rujukan teknologi,rujukan tenaga ahli, rujukan
operasional, rujukan kasus, rujukan ilmu pengetahuan dan rujukan bahan pemeriksaan
laboratorium (Permenkes No V, 2012).

Tata laksana rujukan:


1. Internal antar petugas di satu rumah.
2. Antara puskesmas pembantu dan puskesmas Induk.
3. Antara masyarakat dan puskesmas.
4. Antara satu puskesmas dan puskesmas lainnya.
5. Antara puskesmas dan rumah sakit, laboratorium atau fasilitas pelayanan
kesehatan lainnya.
6. Internal antar-bagian/unit pelayanan di dalam satu rumah sakit.
7. Antar rumah sakit, laboratoruim atau fasilitas pelayanan lain dari rumah
sakit.

Sistem Rujukan
Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal balik atas masalah yang
timbul, baik secara vertikal (komunikasi antar unit yang sederajat) ataupun secara horisontal
(lebih tinggi yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau,
rasional dan tidak dibatasi wilayah administrasi (KepMenKesRI, 2004).
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan merupakan penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab pelayanan kesehatan secara
timbal balik baik vertikal maupun horizontal. Pelimpahan wewenang dalam sistem rujukan
dibagi menjadi:

1. Interval referral, pelimpahan wewenang dan tanggungjawab penderita


sepenuhnya kepada dokter konsultan untuk jangka waktu tertentu, dan
selama jangka waktu tersebut dokter tsb tidak ikut menanganinya.
2. Collateral referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan

16
penderita hanya untuk satu masalah kedokteran khusus saja .
3. Cross referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada dokter lain untuk selamanya.
4. Split referral, menyerahkan wewenang dan tanggungjawab penanganan penderita
sepenuhnya kepada beberapa dokter konsultan, dan selama jangka waktu pelimpahan
wewenang dan tanggungjawab tersebut dokter pemberi rujukan tidak ikut campur
(KepMenKesRI, 2004).

Jenis-Jenis Sistem Rujukan di Indonesia


Menurut PerMenKes No 034 (2012), jenis-jenis sistem rujukan di Indonesia:
1. Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari:
Rujukan internal dan rujukan eksternal
a. Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam
institusi tersebut Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas
induk.
b. Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit - unit dalam jenjang pelayanan
kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat map) maupun
vertikal (dan puskesmas ke rumah sakit umum daerah) (PerMenKes, 2012).
2. Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari: Rujukan Medik dan Rujukan
Kesehatan.
a. Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan
(kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit
kronis (jantung koroner, hipertensi, diabetes melitus) ke rumah sakit umum daerah.
b. Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya
peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk
pasien dengan masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (PerMenKes, 2012).
3. Menurut rujukan dalam kedokteran gigi, antara lain :
a. Rujukan Kasus Dengan Atau Tanpa Pasien :
• Dari posyandu/sekolah/pustu ke puskesmas, indikasinya : semua kelainan/kasus/keluhan
yang ditemukan pada jaringan keras dan jaringa lunak didalam rongga mulut.
• Dari poli gigi puskesmas ke rumah sakit yang lebih mampu, indikasinya: semua
kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) di
puskesmas yang memerlukan tindakan diluar kemampuannya (PerMenKes, 2012).
b. Rujukan Model (Prosthetic Atau Orthodonsi) :

17
Pelayanan kesehatan gigi yang memerlukan pembuatan prothesa termasuk mahkota dan
jembatan, plat orthodonsi, obturator, feeding plate, inlay, onlay (PerMenKes, 2012).
c. Rujukan Spesimen
Semua kelainan/kasus yang ditemukan tenaga kesehatan gigi (dokter gigi, perawat gigi) di
puskesmas yang memerlukan pemeriksaan penunjang diagnostik/laboratorium sehubungan
dengan kelainan dalam rongga mulutnya.
d. Rujukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Keadaan dimana dibutuhkan peningkatan ilmu pengetahuan dan atau ketrampilan pelayanan
kesehatan gigi dan mulut, agar dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal.
e. Rujukan Kesehatan Gigi
Semua kegiatan peningkatan promosi kesehatan dan pencegahan kasus yang memerlukan
bantuan teknologi, sarana dan biaya operasional (PerMenKes, 2012).

Mekanisme Sistem Rujukan di Indonesia


· Jalur rujukan terdiri dari dua jalur yakni :
1. Rujukan Upaya Kesehatan perorangan
a. Antara masyarakat dengan puskesmas
b. Antara puskesmas pembantu atau bidan di desa dengan puskesmas
c. Intern petugas puskesmas atau puskesmas rawat inap
d. Antar puskesmas atau puskesmas dengan rumah sakit atau fasilitas
pelayanan lainnya (Satrianegara, 2009).
2. Rujukan Upaya Kesehatan Masyarakat
a. Dari puskesmas ke dinas kesehatan kabupaten atau kota
b. Dari puskesmas ke instansi lain yang lebih kompeten baik intrasektoral
maupun lintas sektoral
c. Bila rujukan ditingkat kabupaten atau kota masih belum mampu
menanggulangi bisa diteruskan ke provinsi atau pusat (Satrianegara, 2009).

Prosedur Merujuk Dan Menerima Rujukan Pasien


Menurut keputusan Dikti KemDikBud (2011), dalam prosedur merujuk dan
menerima rujukan pasien ada dua pihak yang terlibat yaitu pihak yang merujuk dan pihak
yang menerima rujukan dengan rincian beberapa prosedur sebagai berikut:
1. Prosedur Standar Merujuk Pasien
Prosedur Klinis:

18
a. Melakukan anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang medik untuk
menentukan diagnosa utama dan diagnose banding.
b. Memberikan tindakan pra rujukan sesuai kasus berdasarkan Standar Prosedur Operasional
(SPO).
c. Memutuskan unit pelayanan tujuan rujukan.
d. Untuk pasien gawat darurat harus didampingi petugas Medis / Paramedis yang kompeten
dibidangnya dan mengetahui kondisi pasien.
e. Apabila pasien diantar dengan kendaraan Puskesmas keliling atau ambulans, agar petugas
dan kendaraan tetap menunggu pasien di IGD tujuan sampai ada kepastian pasien tersebut
mendapat pelayanan dan kesimpulan dirawat inap atau rawat jalan
Prosedur Administratif:
a. Dilakukan setelah pasien diberikan tindakan pra-rujukan.
b. Membuat catatan rekam medis pasien.
c. Memberikan Informed Consent (persetujuan/penolakan rujukan)
d. Membuat surat rujukan pasien rangkap 2 (form R/1/a terlampir). Lembar
pertama dikirim ke tempat rujukan bersama pasien yang bersakutan.
Lembar kedua disimpan sebagai arsip.
e. Mencatat identitas pasien pada buku register rujukan pasien.
f. Menyiapkan sarana transportasi dan sedapat mungkin menjalin
komunikasi dengan tempat tujuan rujukan.
g. Pengiriman pasien ini sebaiknya dilaksanakan setelah diselesaikan
administrasi yang bersangkutan (Dikti KemDikBud 2011).
2. Prosedur Standar Menerima Rujukan Pasien
Prosedur Klinis:
a. Segera menerima dan melakukan stabilisasi pasien rujukan sesuai Standar
Prosedur Operasional (SPO).
b. Setelah stabil, meneruskan pasien ke ruang perawatan elektif untuk
perawatan selanjutnya atau meneruskan ke sarana kesehatan yang lebih
mampu untuk dirujuk lanjut.
c. Melakukan monitoring dan evaluasi kemajuan klinis pasien.
Prosedur Administratif:
a. Menerima, meneliti dan menandatangani surat rujukan pasien yang telah
diterima untuk ditempelkan di kartu status pasien.
b. Apabila pasien tersebut dapat diterima kemudian membuat tanda terima

19
pasien sesuai aturan masing-masing sarana.
c. Mengisi hasil pemeriksaan dan pengobatan serta perawatan pada kartu
catatan medis dan diteruskan ke tempat perawatan selanjutnya sesuai
kondisi pasien.
d. Membuat informed consent (persetujuan tindakan, persetujuan rawat inap
atau pulang paksa).
e. Segera memberikan informasi tentang keputusan tindakan / perawatan
yang akan dilakukan kepada petugas / keluarga pasien yang mengantar.
f. Apabila tidak sanggup menangani (sesuai perlengkapan Puskesmas /
RSUD yang bersangkutan), maka harus merujuk ke RSU yang lebih
mampu dengan membuat surat rujukan pasien rangkap 2 kemudian surat
rujukan yang asli dibawa bersama pasien, prosedur selanjutnya sama
seperti merujuk pasien.
g. Mencatat identitas pasien di buku register yang ditentukan.
h. Bagi Rumah Sakit, mengisi laporan Triwulan (Dikti KemDikBud 2011).
3. Prosedur Standar Membalas Rujukan Pasien
Prosedur Klinis:
a. Rumah Sakit atau Puskesmas yang menerima rujukan pasien wajib mengembalikan pasien
ke RS / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim setelah dilakukan proses antara lain:
Sesudah pemeriksaan medis, diobati dan dirawat tetapi penyembuhan selanjutnya perlu di
follow up oleh Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes/Poskesdes pengirim.
b. Sesudah pemeriksaan medis, diselesaikan tindakan kegawatan klinis, tetapi pengobatan
dan perawatan selanjutnya dapat dilakukan di Rumah Sakit / Puskesmas / Polindes /
Poskesdes pengirim.
c. Melakukan pemeriksaan fisik dan mendiagnosa bahwa kondisi pasien sudah
memungkinkan untuk keluar dari perawatan Rumah Sakit/Puskesmas tersebut dalam
keadaan:
• Sehat atau Sembuh.
• Sudah ada kemajuan klinis dan boleh rawat jalan.
• Belum ada kemajuan klinis dan harus dirujuk ke tempat lain.
• Pasien sudah meninggal (Dikti KemDikBud 2011).

20
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

21
Dalam merawat pasien anak-anak dibutuhkan komunikasi atau pendekatan khusus
terhadap anak-anak khususnya anak-anak yang memiliki masalah dengan kooperatif atau
tidaknya mereka. Perilaku anak-anak di tempat praktek dokter gigi dipengaruhi oleh
pertumbuhan dan perkembangan, sosial budaya, keluarga, pengalaman medis dan dental
sebelumnya, tempat praktek dokter gigi, persiapan sebelum perawatan dan sumber tingkah
laku yang tidak kooperatif dalam keeluarga.

DAFTAR PUSTAKA

1. Mathewson, R.J. and PrimoschR.E. :Fundamental of Pediatric Dentistry. 3th ed.


Chicago-Quintessence,. 1955,.(h.15-17).

22
2. Wright, G.Z. :BehaviorManagement in Dentistry for Children. Philadelphia-London-
Toronto, W.B. Sauders Co.,1975, (h. 59-63).
3. Matthewson, J. Richard. Et al. 1995. Fundamental of Pediatric Dentistry. Ed: 3rd.
Quintessence, p: 11-12
4. Ralph, E. Mc.Donnald. et al. 2011. Dentistry for the clid and adolescence. ed:10th.
Mosby.292
5. Dentistry For The Child and Adolescent 10th ed _ McDonald, page 292
6. Andi Sri Permatasari. Pola Perilaku Anak Terhadap Perawatan Gigi Dan Mulut
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin Makassar
7. McDonald,Avery,Dean.Dentistry fot the child and adolescent 8 th.Unitated States of
America: Mossby; 2004. p.43
8. Wright, Grald. 1975. Behavior Management in Dentistry For Children. Philadelphia
London Toronto. Saunders Company. P: 103-97
9. Ralph, E. Mc Donald, et all. 2008. Dentistry for The Child and Adolescence. 8th.P.36
10. Cameron, Angus C, Richard P Widmer. 2008. Handbook Of Pediatric Dentistry. 3rd
ed. Mosby Elsevier. P.279-281

23