Anda di halaman 1dari 70

Perpustakaan Unika

KECEMASAN ANAK PEREMPUAN PADA MASA PUBERTAS


MENGHADAPI PERUBAHAN FISIK
DITINJAU DARI KUALITAS PERTEMANAN

SKRIPSI

DAHLIA MARVIENDA
99. 40. 3020

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2007

i
Perpustakaan Unika

KECEMASAN ANAK PEREMPUAN PADA MASA PUBERTAS


MENGHADAPI PERUBAHAN FISIK
DITINJAU DARI KUALITAS PERTEMANAN

SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Psikologi


Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna
Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

DAHLIA MARVIENDA
99. 40. 3020

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2007

ii
Perpustakaan Unika

HALAMAN PENGESAHAN

Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi


Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
dan Diterima untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna
Memperoleh Derajat Sarjana Psikologi

Pada Tanggal :

___________________________

Mengesahkan
Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata
Dekan,

(Drs. M. Suharsono, MSi.)

Dewan Penguji
1. DR. Endang Widyorini, MS. ___________________

2. Drs. Y. Sudiantara, BTh., M.Soc. ___________________

3. Erna Agustina Y., S.Psi., MSi. ___________________

iii
Perpustakaan Unika

HALAMAN PERSEMBAHAN

Sebuah karya yang sederhana dan berharga ini


kupersembahkan untuk kelurga tercintaku :
Papa, Mama, dan Kakakku satu – satunya Yogie
“Terimakasih tak terhingga untuk perhatian dan dukungannya.”

HALAMAN MOTTO
iv
Perpustakaan Unika

Pada akhirnya akan menjadi jelas, bahwa seluruh cinta yang

kamu terima adalah sebanding dengan seluruh cinta yang

kamu berikan. ( John Lennon )

“ Ini adalah hari yang paling tepat dan sesuai untuk mengucap syukur,
karena membuat kita terus saling mengasihi ”.
(untaian kata Ayahku, kisah cinta murni dengan ikatan abadi )

Sesungguhnya di balik kesukaran ada kemudahan,


dan di balik kemudahan ada kesukaran.
(Q.S. Al – Insyirah : Ayat 3)

UCAPAN TERIMAKASIH

v
Perpustakaan Unika

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, karena atas segala
berkat dan petunjukNya maka penyusunan skripsi ini dapat terselesaikan
dengan baik, serta bantuan dari berbagai pihak yang telah memberikan
dukungan baik secara moril maupun meteriil.
Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati, penulis
sampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang mendalam kepada :
1. Bpk. Drs. M. Suharsono, MSi.; selaku Dekan Fakultas Psikologi
Universitas Katolik Soegijapranata Semarang yang telah berkenan
memberikan ijin kepada peneliti dalam penelitian dan ujian skripsi.
2. Ibu DR. Endang Widyorini, MS ; selaku Dosen Pembimbing Utama yang
dengan penuh kesabaran dan tulus hati memberikan bimbingan, dorongan,
petunjuk dan saran serta kemudahan kepada penulis, sehingga penulisan
skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
3. Ibu Dra. Sih Setija Utami, M.Kes.; selaku Dosen Wali yang telah banyak
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menuntut ilmu di Fakultas
Psikologi.
4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi yang telah banyak memberikan bekal
ilmu pengetahuan selama penulis menuntut ilmu.
5. Seluruh staff pengajaran Fakultas Psikologi yang telah banyak membantu
dalam keperluan akademis.
6. Seluruh staff perpustakaan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
yang telah banyak membantu dalam hal referensi kepustakaan dalam
penulisan skripsi ini.
7. Ibu Setyowati, S.Pd, M.Pd.; selaku Kepala SD Negeri Petompon 01
Semarang yang telah memberi ijin kepada penulis untuk mengadakan
penelitian.
8. Adik – adik siswi kelas V SD Negeri Petompon 01, yang telah bersedia
membantu dan meluangkan waktu untuk pengisian skala.

vi
Perpustakaan Unika

9. Mama dan Papa, atas cinta dan kasih sayangnya yang tak pernah putus,
atas perhatian dan dukungan baik segi moril maupun materiil, serta atas
doa restunya sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini.
10. Yogie, kakakku satu – satunya, atas omelan dan pinjaman computer
sekaligus dukungannya kepada penulis, thanks a lot my Bro..!!
11. Seluruh keluarga besarku, pakdhe dan budhe, om dan tante, Ranie, Nde,
Yanie sepupuku atas doanya.
12. Indra Widhi….terimakasih untuk semua kesabaran, perhatian, dukungan
dan kasih sayangnya, serta selalu ada saat aku membutuhkanmu.
13. Dydy, Nano dan Eko sahabat terbaikku, mas “Donnie-ku” Arya, mas
Willy, mbak Anti dan mbak Iko sebagai kakak, teman sekaligus sahabat
yang selalu memberikan doa, perhatian dan support.
14. Sahabat dan teman-temanku: Iik, mas Yudhi, Reza, Sistho, Diana, Kiki,
Ine, mas Ajiex, mas Wiwied, dan mas Dony yang selalu memberikan
dorongan hingga skripsi ini selesai.
15. Semua teman yang telah menemani hari – hari penulis selama penulis
menyelesaikan kuliah di Fakultas Psikologi.
16. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah
membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi, baik secara langsung
maupun tidak langsung.

Semarang, Juni 2007

Penulis

vii
Perpustakaan Unika

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata


tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja
sebab usia pubertas kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11
tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang)
mengalami pubertas namun tidak berarti anak tersebut sudah bisa dikatakan
sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Dalam
perkembangannya seringkali anak – anak usia pubertas menjadi bingung
karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu
dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.

Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan
menstruasi pertama pada anak perempuan atau pun perubahan suara pada anak
laki-laki, secara biologis anak-anak tersebut mengalami perubahan yang
sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki
kemampuan untuk ber-reproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang
menjadi aktif. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas
merubah sistem biologis seorang anak terutama pada anak perempuan. Anak
perempuan akan mendapat menstruasi, tumbuhnya bulu di ketiak, pembesaran
buah dada, dan lain sebagainya sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya
sudah aktif. Bentuk fisik anak-anak akan berubah secara cepat sejak awal
pubertas dan akan membawanya pada dunia remaja. Disamping itu, perubahan
Perpustakaan Unika

fisik tersebut akan mempengaruhi pula keadaan psikis, kognitif dan sosial
anak. Ketidaknyamanan pada tubuh yang dirasakannya, dan ketidakpahaman
anak dalam menghadapi perubahan tersebut akan menimbulkan perilaku
perilaku baru seperti menjadi mudah marah, melawan, bingung, berperilaku
yang beresiko, eksperimen terhadap zat, problem sekolah, keluhan
psikosomatis, aktivitas seksual, dsb.
Menurut Garrison (dalam Mappiare, 1982, h. 152) individu memiliki
kebutuhan-kebutuhan yang khas, seperti kebutuhan akan kasih sayang,
kebutuhan akan dihargai dan kebutuhan akan penerimaan orang lain. Salah
satu hubungan interpersonal yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan
psikologis-sosiologis pada anak pubertas adalah pertemanan. Kehadiran teman
bagi anak perempuan khususnya pada masa pubertas akan sangat berarti bagi
hidupnya. Mappiare (1982, h. 167) mengatakan jika teman-teman sebayanya
hanya sedikit yang mau menerima kehadiran dirinya maka anak tersebut akan
merasa kekurangan teman untuk bergaul. Membina pertemanan dengan
sesama jenis ataupun lawan jenis merupakan salah satu bentuk pengembangan
hubungan interpersonal. Oleh karena itu anak pada masa pubertas
memerlukan seseorang untuk dapat dijadikan kawan berbincang dan tempat
curahan suka dukanya, kawan untuk membagi rasa kecemasan dan
permusuhan, serta kawan untuk memikul rahasia dan rasa sedih. Dengan
membagikan ataupun mencurahkan beban hati serta pikiran itulah maka akan
terasa oleh para anak pubertas bahwa penderitaan atau kecemasannya akan
sedikit terungkit lepas.
Hurlock (1997, h. 197) menegaskan bahwa teman memberikan pengaruh
paling besar dalam kehidupan individu. Pertemanan mengandung unsur
Perpustakaan Unika

spesifik, seperti kepercayaan, keterbukaan, saling berbagi suka duka, dan


belajar mengatasi konflik. Anak pubertas berusaha mempunyai teman untuk
berbagi rasa dengan yang lain. Oleh karena itu, pada masa pubertas timbul
pengelompokan-pengelompokan, salah satunya adalah Chums yaitu kelompok
dimana anak berteman karib dengan ikatan pertemanan yang sangat kuat dan
biasanya terdiri dari dua sampai tiga teman dekat (Mappiare, 1982, h. 158).
Untuk mengetahui lebih lanjut tentang pertemanan, maka dapat dilihat
dari kualitas pertemanannya. Menurut Coleman (1980, h. 91) bahwa kualitas
pertemanan adalah seberapa besar penerimaan yang ditunjukkan dari adanya
kedekatan hubungan antara dua orang atau lebih yang melibatkan penyikapan
diri sendiri serta merupakan bentuk kedekatan alamiah. Dan untuk melihat
kualitas pertemanan dapat dilakukan dengan mempersepsikan atau
memberikan penilaian melalui pengamatan, tanggapan tentang kualitas
pertemanan antara anak-anak pubertas dengan temannya. Kualitas hubungan
dalam sebuah pertemanan memberi nilai tersendiri dalam berteman.
Anak pubertas akan merasa cemas apabila dirinya tidak mempunyai
teman, karena pengaruh masa puber yang berpengaruh pada perubahan
kondisi fisik juga akan menimbulkan kecemasan. Hal ini dapat dilihat dari
tidak adanya teman sebaya yang berkunjung ke rumahnya atau kelompok
teman sebayanya yang akan mengajaknya pergi bermain bersama. Kartono
(1990, h. 108) mengemukakan bahwa kecemasan adalah rasa ragu,
gemetar/tidak berani terhadap hal-hal yang tidak konkrit, semu, ataupun tidak
jelas, selalu penuh dengan ketegangan emosionil, serta dipenuhi oleh
bayangan-bayangan kesulitan yang ada dalam khayalan saja. Sedangkan
Rathus (dalam Nawangsari, 2001, h. 79) berpendapat bahwa kecemasan
Perpustakaan Unika

didefinisikan sebagai keadaan psikologis yang ditandai oleh adanya tekanan,


ketakutan, kegalauan dan ancaman yang berasal dari lingkungan. Hal ini
didukung oleh pendapat Bandura (dalam Nawangsari, 2001, h. 79) bahwa
kecemasan ada ketika seseorang tidak dapat meramalkan/ menguasai
(mengendalikan) suatu situasi atau obyek sehingga terdapat ketakutan
terhadap obyek itu. Kecemasan yang dialami oleh anak pubertas juga
dipengaruhi oleh adanya penilaian diri yang negatif. Harga diri yang rendah
dan rasa malu kerap dimiliki anak perempuan sebagai akibat dari periode
pubertas.
Kecemasan ini muncul karena perubahan fisik yang sedang dialami
akan berpengaruh pada bentuk fisik pada masa dewasa nanti. Seperti hal-nya
contoh berikut: “..makin lama, Putri makin cemas dan stress berat sampai-
sampai dia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran di sekolah. Nilai-nilainya
turun dan Putri pun semakin menyendiri, dan enggan berkumpul dengan
teman-temannya. Putri selalu menghabiskan waktunya di kamar, untuk
bercermin dan bercermin, dan semakin lama bercermin, semakin cemaslah
hatinya dan sangat stress sebab tidak ada satu pun usahanya berhasil
memperbaiki apa yang Putri anggap sebagai kekurangannya…” (Suara
Pembaharuan, 2004).
Pada contoh kasus di atas terlihat jelas bahwa kematangan fisik dan
perubahan kondisi pergaulan mengakibatkan anak pubertas mengalami
serangkaian perubahan mental yang kompleks yang terjadi secara serentak dan
saling terkait satu sama lain. Perubahan bentuk tubuh memungkinkan seorang
anak perempuan pada masa pubertas merasa nyaman terhadap penampilan
fisik dan bangga akan kemampuan yang dimiliki tubuhnya, ataupun
Perpustakaan Unika

merasakan ketidaknyamanan dengan keadaan tubuhnya. Perubahan tersebut


menuntut anak pubertas untuk dapat menyesuaikan diri dengan kondisi
barunya. Dengan semakin berkembangnya lingkup pergaulan, maka terjadi
pula perubahan orientasi kedekatan. Hal itu seringkali menimbulkan
kecemasan dimana anak pubertas biasanya mulai jatuh cinta, mulai terpacu
untuk menunjukkan diri dan kemampuannya, serta lebih banyak terikat dan
memperoleh penerimaan dari teman sebayanya, sehingga anak pubertas
cenderung mulai mementingkan norma-norma kelompoknya dengan tujuan
agar tidak dikucilkan oleh teman sebayanya ( Majalah Familia, 2003 ).
Dalam hubungannya dengan lingkungan teman-teman sebayanya,
anak-anak perempuan usia pubertas yang sedang mengalami perkembangan
fisik berusaha mencari identitas diri, dan tak jarang dihinggapi oleh rasa
kesunyian, kecemasan, rasa tidak mantap, ataupun rasa tidak puas (Kartono,
1992, h. 38). Kualitas hubungan dalam sebuah pertemanan memberi nilai
tersendiri dalam berteman. Menurut Mussen (1989, h 515) remaja putri
menghendaki teman yang setia dan dapat dipercaya untuk tempat berbagi.
Dengan adanya kualitas pertemanan yang baik, tentu saja kecemasan akan
perubahan fisik yang kemungkinan dihadapi oleh anak perempuan dalam
proses perkembangannya di masa pubertas akan semakin mengecil dan
berkurang.
Dari hal-hal yang diungkapkan di atas, peneliti ingin mengadakan
penelitian dengan judul “Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik Ditinjau dari Kualitas Pertemanan”.
Perpustakaan Unika

B. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas


pertemanan dengan kecemasan anak perempuan pada masa pubertas
menghadapi perubahan fisik.

C. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan yang mampu


memperluas cakrawala ilmiah pada psikologi perkembangan pada khususnya,
serta ilmu psikologi pada umumnya dalam mengetahui kecemasan yang
dialami oleh anak perempuan pada masa pubertas.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan untuk membantu


mengurangi kecemasan pada anak serta mengatasi masalah – masalah yang
berkaitan dengan masa pubertas pada anak perempuan.
Perpustakaan Unika

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas Menghadapi


Perubahan Fisik
1. Pengertian Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik
Suatu pengalaman baru yang dialami oleh individu belum tentu
menyenangkan, tetapi adakalanya muncul situasi yang membawa
kecemasan. Kretch dan Crutchfield (dalam Hartanti, 1997, h. 150)
berpendapat bahwa timbulnya kecemasan karena kurangnya
pengalaman dalam menghadapi berbagai kemungkinan, membuat
individu tersebut kurang siap dalam menghadapi situasi baru.

Kehidupan manusia tentu tidak lepas dari masalah kecemasan


perasaan tidak mampu santai, mengalami gangguan tidur, kelelahan,
pening, dan jantung berdebar-debar adalah keluhan fisik yang paling
sering ditemukan pada individu yang mengalami kecemasan.
Kecemasan mempunyai banyak segi yang tak dapat tercakup dalam
satu definisi yang sederhana.
Kecemasan adalah merupakan bagian hidup yang tidak mungkin
ditiadakan. Menurut Johnston, kecemasan merupakan suatu
pengalaman emosional yang dirasakan individu sebagai sesuatu yang
tidak menyenangkan, tidak jelas penyebabnya yang timbul karena
adanya ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam tubuh yang
berlangsung secara terus menerus (dalam Hartanti, 1997, h. 150). Hal
Perpustakaan Unika

itu didukung oleh pendapat Mahmud (1990, h. 235) yang menyatakan


bahwa seseorang bisa menjadi cemas bila dalam kehidupannya
terancam oleh sesuatu yang tidak jelas karena kecemasan dapat timbul
pada banyak hal yang berbeda-beda.
Kartono (1990, h. 108) memiliki pandapat bahwa kecemasan
adalah rasa ragu, masygul, gemetar / tidak berani terhadap hal-hal yang
tidak konkrit, semu, ataupun tidak jelas. Selalu penuh dengan
ketegangan emosionil, serta dipenuhi oleh bayangan-bayangan
kesulitan yang ada dalam khayalan saja. Hal ini didukung oleh Rathus
(dalam Nawangsari, 2001, h. 79) yang berpendapat bahwa, kecemasan
didefinisikan sebagai keadaan psikologis yang ditandai oleh adanya
tekanan, ketakutan, kegalauan, dan ancaman yang berasal dari
lingkungan. Menurut Hambly (1998, h. 4) kecemasan adalah reaksi
normal terhadap situasi yang menyebabkan stress. Kecemasan
merupakan reaksi fisik terhadap stress dan reaksi ini sudah ada sejak
masa lalu. Chaplin (1997, h. 32) dalam Kamus Psikologi menyatakan
bahwa anxiety (kecemasan, kegelisahan) merupakan perasaan
campuran berisikan ketakutan dan keprihatinan mengenai masa-masa
mendatang tanpa sebab khusus untuk ketakutan tersebut.
Jadi berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa
kecemasan adalah suatu bentuk reaksi akibat perubahan kondisi yang
tidak menyenangkan disertai keluhan fisik yang menimbulkan stress.
Dapat juga dikatakan bahwa kecemasan merupakan manifestasi dari
berbagai bentuk emosi yang bercampur baur, yang terjadi ketika
Perpustakaan Unika

individu sedang mengalami ketegangan-ketegangan mental sehingga


menyebabkan individu kehilangan kemampuan penyesuaian diri.
Masa pubertas ditandai dengan timbulnya perubahan-perubahan,
yaitu berlangsungnya pertumbuhan seksual sampai dengan tercapainya
perkembangan fisik dan mental secara maksimal. Ditinjau dari segi
biologis, saat ini anak mengalami masa pubertas pada awal usia belasan
tahun, bahkan sebelumnya. Pada masa kini, seorang anak berusia 10
tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas, namun
tidak berarti anak pada masa pubertas sudah bisa dikatakan sebagai
remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Usia 11 tahun
merupakan awal pubertas bagi anak perempuan (Zulkifli, 1986, h. 86).
Rangkaian perubahan yang paling jelas adalah perubahan biologis dan
fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada masa awal
remaja. Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi atau
kemampuan untuk menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja.
Seiring dengan itu berlangsung pula pertumbuhan yang pesat pada
tubuh dan anggota-anggota tubuh untuk mencapai proporsi orang
dewasa. Pertumbuhan fisik pada masa pubertas mengalami perubahan
dengan cepat, lebih cepat dibandingkan pada masa kanak-kanak dan
masa dewasa. Maka untuk mengimbangi pertumbuhan yang cepat itu,
anak-anak usia pubertas biasanya membutuhkan makan dan tidur lebih
banyak. Perkembangan fisik pada masa pubertas terlihat pada tungkai,
tulang kaki dan tangan yang berkembang pesat, sehingga anak di usia
pubertas terlihat bertubuh tinggi namun kepalanya masih mirip dengan
anak-anak. Seorang individu lalu mulai terlihat berbeda, dan sebagai
Perpustakaan Unika

konsekuensi dari hormon yang baru, anak perempuan pada masa


pubertas mulai merasa adanya perbedaan (Agustiani, 2006, h. 30).
Atkinson (1991, h. 134) menyatakan masa remaja adalah suatu
transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Dalam masa ini
remaja berkembang ke arah kematangan seksual, serta memantapkan
identitas dirinya, dengan kata lain, dalam periode ini merupakan masa
kritis bagi individu dalam mengembangkan pengalaman yang
diperolehnya sejak kecil dalam bentuk kepribadian. Hal ini didukung
oleh pendapat Hurlock (1996, h. 188) menyatakan selama pertumbuhan
pesat anak perempuan pada masa pubertas terjadi empat perubahan
fisik penting, yaitu :
a. Perubahan Ukuran Tubuh
Perubahan fisik utama pada masa pubertas adalah peningkatan

ukuran tubuh dalam tinggi dan berat badan. Perkembangan fisik

pada anak pubertas jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang

kaki dan tangan, serta otot tubuh berkembang pesat. Sehingga anak

pubertas kelihatan bertubuh tinggi namun kepalanya masih mirip

anak-anak.

b. Perubahan Proporsi Tubuh


Daerah tubuh tertentu yang tadinya terlampau kecil sekarang

menjadi besar. Anak perempuan pada masa pubertas memiliki

pinggul yang lebih lebar dibanding anak laki-laki, sedangkan pada

anak laki-laki di usia pubertas akan memiliki tulang yang lebih


Perpustakaan Unika

tebal dan besar, akan memiliki jaringan otot dan bahu yang lebih

lebar (Mussen, 1989, h. 483).

c. Ciri-ciri Seks Primer


Pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri seks primer yaitu organ-

organ seks menjadi matang dan mampu membuat keturunan.

Pematangan fungsi seksual anak perempuan pada usia pubertas

biasanya dimulai dari peningkatan hormon dan manifestasinya

seperti pembesaran pada indung telur dan mengalami menstruasi

yang pertama (menarche) sebagai tanda bahwa rahimnya sudah bisa

dibuahi (Mussen, 1989, h. 484). Sedangkan pada anak laki-laki usia

pubertas, pematangan seksual ditandai dengan pertumbuhan sel

testis, pembesaran testis dan skrotum (struktur berbentuk kantung

yang menyelubungi testis) serta pertumbuhan ukuran penis. Hal ini

menandakan bahwa alat produksi sperma-nya mulai berfungsi, anak

laki-laki mengalami masa mimpi seksual (mimpi basah) yang

pertama, dimana sperma keluar tanpa disadari. Pada anak laki-laki

maupun perempuan di usia pubertas biasanya turut ditandai dengan

mulai tumbuhnya bulu-bulu halus di tempat-tempat tertentu seperti

di ketiak dan sekitar kemaluan (Marshal & Tanner, dalam Mussen,

1989, h. 484).
Perpustakaan Unika

d. Ciri-ciri Seks Sekunder


Yaitu alasan mengapa anak perempuan mulai tertarik pada anak

laki-laki, dan sebaliknya. Tidak berhubungan dengan reproduksi.

Pada anak perempuan di masa pubertas biasanya terjadi

penimbunan lemak yang membuat buah dadanya mulai tumbuh,

pinggulnya mulai melebar dan pahanya mulai membesar. Dan

karena bertambahnya produksi hormon pada tubuhnya, di

permukaan wajahnya mulai bertumbuhan jerawat. Ciri-ciri seks

skunder pada anak laki-laki ditandai dengan menonjolnya buah

jakun di lehernya yang membuat pita suara menjadi dua kali lipat

panjangnya, dengan akibat nada suara turun satu oktaf (nada suara

menjadi pecah).

Selain perkembangan secara fisiologis, terjadi pula


perkembangan secara psikologis, yaitu perkembangan dalam hal emosi.
Perkembangan emosi pada masa pubertas berjalan pesat bila
dibandingkan dengan masa sebelumnya. Perkembangan itu meliputi
emosi kasih sayang, emosi marah dan takut, serta emosi cemas. Emosi
cemas timbul karena adanya pertentangan batin yang banyak dialami
oleh remaja dalam mencari identitas diri dan keinginan untuk dihargai
(Jersild, 1978, h. 110-118). Seperti contohnya, apabila seorang gadis
atau anak perempuan usia pubertas biasanya mulai berjerawat, apabila
anak perempuan yang berjerawat tersebut diejek maka hal itu dapat
menimbulkan masalah yang membuat anak perempuan tersebut
Perpustakaan Unika

menjadi tidak percaya diri, minder dan cemas akan penampilan yang
tidak menarik.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa perubahan
perkembangan fisik anak perempuan pada masa pubertas dapat
menimbulkan kecemasan, apabila seorang anak perempuan tidak siap
untuk mengalami perubahan pada dirinya sendiri.

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecemasan Anak Perempuan


Pada Masa Pubertas Menghadapi Perubahan Fisik
Menurut Freud (dalam Kartono, 1990, h. 123) sebab-sebab
kecemasan antara lain ketakutan, kesusahan dan kegagalan yang
bertubi-tubi, dampak negatif akibat kegagalan-kegagalan tadi namun
tidak bias berlangsung dengan sempurna. Selain itu, juga disebabkan
oleh dorongan-dorongan seksual yang tidak terpuaskan dan terhambat
sehingga mengakibatkan timbulnya banyak konflik batin, ketakutan
dan kecemasan.

Ada faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan, yaitu :

a. Keadaan pribadi individu

Bahwa dalam hal yang mempengaruhi kecemasan adalah situasi


pada diri individu yang dirasakan belum siap untuk menghadapi
masalah seperti : kehamilan, menuju usia tua, keuangan, kenaikan
pangkat dan masalah kesehatan yang pada akhirnya akan menjadi
suatu konflik dalam diri individu sehingga dapat menimbulkan
kecemasan. Ditambahkan oleh Thallis (1992, h. 19) sumber-sumber
Perpustakaan Unika

rasa cemas yaitu : hubungan intim, kurang percaya diri, masa depan
tanpa tujuan dan ketidakmampuan dalam bekerja. Selain itu Hawari
(2001, h. 64) juga mengemukakan bahwa individu dengan
kepribadian pencemas lebih rentan untuk menderita gangguan
cemas lebih besar dibandingkan individu yang tidak memiliki
kepribadian pencemas.

b. Pengalaman tidak menyenangkan

Freud (dalam Hall, 1993, h. 69) menyatakan bahwa suatu


pengalaman perasaan yang menyatakan ditimbulkan oleh
ketegangan-ketegangan dalam alat-alat internal dari tubuh sehingga
dapat menyebabkan kecemasan. Ketegangan tersebut akibat dari
dorongan dari luar dan dalam tubuh. Kecemasan, perasaan kecewa
dan putus asa yang mendalam serta pada umumnya akan menunjang
sesuatu yang tidak normal berkaitan dengan sederetan rasa frustasi
yang sedang dialami oleh seseorang.

c. Dukungan sosial

Dukungan dari orang-orang sekitar individu yaitu orangtua,


suami, istri, kekasih, teman dekat, saudara dan masyarakat.
Dukungan yang positif berhubungan dengan kurangnya kecemasan

d. Konflik

Davidoff (1991, h. 178) menyatakan bahwa kecemasan timbul


karena konflik yang timbul dimana terdapat dua atau lebih
kebutuhan, harapan, keinginan, dan tujuan yang tidak bersesuaian,
saling bersaing dan menyebabkan salah satu organisme merasa
Perpustakaan Unika

ditarik kearah dua perasaan yang berbeda sekaligus dan


menimbulkan rasa tidak enak. Kecemasan adalah konflik yang
terjadi antara keinginan dan pertimbangan moral, kebutuhan akan
ekspresi, bermusuhan dan ketakutan akan pengasingan oleh tempat
ia bergantung.

e. Lingkungan

Lingkungan merupakan suatu tempat dimana seseorang untuk


hidup dan bersosialisasi. Sarwono (1992, h. 24) menyatakan
kecemasan disebabkan karena lingkungan yang mengancam atau
membahayakan keberadaan kesejahteraan serta kenyamanan diri
seseorang. Kurangnya stimulasi pada suatu masyarakat
menimbulkan perasaan kesepian, kesendirian dan kecemasan.

f. Kehilangan orang dekat dan kematian

Menurut Priest (1987, h. 105) kecemasan timbul karena tidak


adanya kesesuaian antara realita dan harapan sampai pada masalah
keluarga, dan diri sendiri, kehilangan teman-teman, pasangan hidup,
kematian dan kesepian ditinggal pergi anak-anaknya.

Kartono (1992, hal. 63) menguraikan beberapa faktor yang


mempengaruhi kecemasan, antara lain berupa :

a. Perasaan diri yang kuat dan rasa dewasa bertentangan dengan


kecemasan, kepedihan, kekalahan.
b. Munculnya rasa depresiasi.
Johnston (dalam Hartanti, 1997, h.150) mengungkapkan ada
beberapa hal yang dapat mempengaruhi kecemasan, yaitu :
Perpustakaan Unika

a. Rasa tidak menyenangkan.


b. Ancaman dari dalam maupun dari luar tubuh individu itu sendiri.
c. Rasa frustasi.
d. Ketidakpuasan.
e. Rasa tidak aman dan permusuhan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat diambil kesimpulan, bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan anak perempuan pada
masa pubertas menghadapi perubahan fisik adalah rasa tidak
menyenangkan, kurangnya percaya diri, ancaman dari dalam maupun
dari luar tubuh individu itu sendiri, rasa frustasi, ketidakpuasan, rasa
tidak aman dan permusuhan.

b. Gejala-gejala Kecemasan
Buclew (1980, hal. 82) menyebutkan dua gejala kecemasan, yaitu :
a. Faktor Fisiologis
Kecemasan ini mempengaruhi atau berwujud pada gejala-gejala
fisik terutama pada fungsi syarat, seperti perut mual, tidak dapat
tidur dan sebagainya.

b. Faktor Psikologis
Kecemasan ini sudah berwujud sebagai gejala kejiwaan, antara
lain rasa khawatir, bingung, sulit berkonsentrasi, tegang, dan lain-
lain.

Supratiknya (2002, h. 39) mengatakan bahwa gangguan


kecemasan umum (Generalized Anxiety Disorder) atau keadaan cemas
(anxiety states) ditunjukkan dengan simptom-simptom sebagai berikut:
Perpustakaan Unika

a. Senantiasa diliputi ketegangan, rasa was-was dan keresahan


yang bersifat tak menentu (diffuse uneasiness).
b. Terlalu peka (mudah tersinggung) dalam pergaulan, dan sering
merasa tidak mampu, minder, depresi serta sedih.
c. Sulit berkonsentrasi dalam mengambil keputusan, serba takut
salah.
d. Rasa tegang menjadikan yang bersangkutan selalu bersifat
tegang, lamban, bereaksi secara berlebihan terhadap rangsangan
yang datang secara tiba-tiba atau yang tidak diharapkan, dan
selalu melakukan gerakan-gerakan neurotic tertentu, sperti
mematah-matahkan kuku jari, mendeham dan sebagainya.
e. Sering mengeluh bahwa ototnya tegang, khususnya pada leher
dan sekitar bagian atas bahu, mengalami diare ringan sampai
dengan kronik, sering buang air kecil, dan mngalami gangguan
tidur (insomnia) dan mimpi buruk.
f. Mengeluarkan banyak keringat dan telapak tangannya sering
basah.
g. Sering berdebar-debar dan tekanan darahnya tinggi
h. Sering mengalami gangguan pernafasan dan berdebar-debar
tanpa sebab yang jelas.
i. Sering mengalami anxiety attacs atau tiba-tiba cemas tanpa ada
sebab pemicunya yang jelas. Gejala-gejalanya dapat berupa
berdebar-debar, sulit bernafas, berkeringat, pingsan, badan
terasa dingin, terkencing-kencing atau sakit perut.
Perpustakaan Unika

Hawari (2001, h. 66-67) mengemukakan gejala-gejala


kecemasan antara lain sebagai berikut :
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri,
mudah tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
d. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
Keluhan-keluhan somatik, misal rasa sakit pada otot dan tulang,
pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas,
gangguan cemas menyeluruh, gangguan panik, gangguan phobia dan
gangguan perkemihan, sakit kepala dan lain sebagainya.
Menurut Darajat (dalam Hartanti, 1997, h. 151), gejala-gejala
kecemasan sering ditandai dengan munculnya gejala baik yang bersifat
fisik ataupun bersifat psikis. Adapun gejala-gejala tersebut meliputi :

a. Bersifat fisik
1) Ujung-ujung jari terasa dingin
2) Pencernaan menjadi tidak teratur
3) Detak jantung menjadi cepat
4) Keringat bercucuran
5) Tidur tidak nyenyak
6) Nafsu makan hilang
7) Sesak nafas
Perpustakaan Unika

b. Bersifat psikis
1) Adanya rasa takut
2) Perasaan akan ditimpa bahaya atau kecelakaan
3) Tidak mampu memusatkan perhatian
4) Tidak berdaya
5) Rasa rendah diri
6) Hilangnya rasa percaya diri
7) Tidak tenteram
Menurut Thallis (1993, h.4) gejala-gejala cemas ditunjukkan
dengan denyut jantung meningkat, pernafasan menjadi berat,
berkeringat, dan gerakan aliran darah dari beberapa bagian tubuh
tertentu, misalnya dari kulit ke otot-otot (yang membuat orang itu
kelihatan pucat). Gejala cemas ditunjukkan lewat perut mual, atau ada
yang mengalami cemas sampai menjatuhkan setiap barang yang
dijamah, merasa bingung, pikiran kacau, terus menerus lupa dengan
apa yang dikerjakan, perasaan yang kabur dan tidak enak, perasaan
menyebabkan pikiran tidak dapat berpusat dan tidak dapat berpikir
nyata, tampak bodoh, diolok, ragu-ragu, marah atau kita nampak tidak
dapat menguasai diri.
Jadi dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala-gejala
kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu gejala fisiologis dan psikologis.
Gejala fisiologis bila ditandai dengan keluar keringat dingin, jantung
berdetak kencang, sakit kepala, mual dan muntah, susah tidur. Gejala
psikologisnya ditandai dengan adanya perasaan takut, khawatir, tidak
berdaya, mudah marah, tidak mampu memusatkan perhatian dan
Perpustakaan Unika

rendah diri. Kedua gejala tersebut akan digunakan peneliti sebagai


acuan untuk membuat alat ukur kecemasan, yaitu skala kecemasan
yang ditunjukkan dengan gejala yang bersifat fisiologis dan psikologis.

B. Kualitas Pertemanan
a. Pengertian Kualitas Pertemanan
Menurut Coleman (1980, hal. 91) bahwa kualitas pertemanan
adalah seberapa besar penerimaan yang ditunjukkan dari adanya
kedekatan hubungan antara dua orang atau lebih yang melibatkan
penyikapan diri sendiri serta merupakan bentuk kedekatan alamiah.
Pertemanan adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan
antara dua remaja, dimana seorang yang satu memberi perhatian
kepada seorang yang lain. Di sisi lain, Dimyati (1989, h. 179)
berpendapat bahwa kelompok teman sebaya dalam hal ini adalah
kelompok remaja tertentu yang saling berinteraksi, setiap kelompok
memiliki tata sosial dan harapannya sendiri bagi para anggotanya serta
memiliki kebiasaan, tradisi, perilaku dan bahkan bahasanya sendiri.
Selain itu, Seifert dan Hoffnung (1991, h. 67) mengatakan bahwa
kelompok teman sebaya adalah sebuah kelompok yang terdiri dari
teman-teman seusia yang saling mengenal dan saling berinteraksi satu
sama lain.

Pertemanan yang terjadi antar pribadi berkaitan dengan kualitas


pertemanan tersebut. Menurut Poerwadarminta (1987, hal. 528)
kualitas pertemanan adalah baik buruknya hubungan antar teman,
dengan menekankan rasa setia, saling percaya dan mampu memberikan
Perpustakaan Unika

dukungan bila sedang ada permasalahan. Pertemanan dapat digunakan


untuk saling mengungkapkan isi pikiran dan perasaan, saling
menghibur antar seorang yang satu dengan seorang yang lain
(Carolyn dan Shantz dalam Hoffman, 1994, hal. 359). Ditambahkan
oleh Kimmel dkk (dikutip Gunawan, 1991, hal. 490) pertemanan
adalah hubungan pribadi antara dua orang yang terjadi karena adanya
kesamaan minat dan rasa afektif yang mendalam, ditandai dengan
tindakan saling memperhatikan, penyerahan diri total, saling membagi
atau sharing serta saling mengungkapkan kehidupan pribadi masing-
masing. Dapat dikatakan bahwa dalam berteman akan menimbulkan
rasa saling menghargai satu sama lain pada diri masing-masing
individu.
Hal yang sama diungkapkan oleh Douvan dan Anderson
(dikutip Gunawan, 1991, hal. 50) bahwa pertemanan pada anak
perempuan akan menjadi lebih mendalam karena pusat perhatian sudah
beralih pada arti hubungan dalam tuntutan akan adanya orang yang
dapat mengerti dirinya, dapat memberi dukungan emosional, peka,
setia dan dapat dipercaya. Apabila diamati, sikap remaja awal atau
pada masa pubertas, yang berkembang atau yang lebih menonjol adalah
sikap-sikap sosial yang berhubungan dengan teman sebayanya. Hal ini
dikarenakan remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan
teman-teman sebayanya sebagai kelompok sehingga dapat dimengerti
bahwa pengaruh teman sebaya pada minat, pembicaraan, sikap,
penampilan dan perilaku remaja lebih besar daripada pengaruh
keluarga. (Hurlock, 1990, h. 213).
Perpustakaan Unika

Dari keterangan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa


kualitas pertemanan adalah seberapa besar penerimaan yang
ditunjukkan dari adanya kedekatan hubungan antara dua orang atau
lebih yang melibatkan penyikapan diri sendiri serta merupakan bentuk
kedekatan alamiah. Pertemanan adalah hubungan timbal balik yang
saling menguntungkan antara dua remaja, dimana seorang yang satu
memberi perhatian kepada seorang yang lain. Anak perempuan merasa
mendapat masukan bagi dirinya tentang sesuatu yang belum diketahui
sebelumnya, dan baik buruknya hubungan dalam pertemanan tersebut
tergantung dari anak perempuan itu sendiri. Di samping itu dengan
pertemanan akan membantu anak perempuan mendefinisikan identitas
serta menambah kepercayaan dan kebanggaan diri.

b. Aspek-aspek Kualitas Pertemanan


Menurut Mappiare (1982, h. 170) aspek-aspek kualitas pertemanan
adalah :

a. Pengakuan dan saling menjaga


Yaitu remaja diakui teman, adanya perilaku saling menjaga,
mendukung dan saling memberi perhatian.
b. Terjadinya konflik
Yaitu munculnya perbedaan atau perselisihan faham hal-hal yang
membangkitkan kemarahan dan ketidakpercayaan.
c. Pertemanan dan rekreasi
Yaitu menghabiskan waktu bersama-sama teman, baik di luar
maupun di dalam lingkungan sekolah.
Perpustakaan Unika

d. Membantu dan memberi petunjuk


Yaitu usaha seorang teman untuk membantu temannya yang lain
dalam menyelesaikan tugas rutin yang menantang.
e. Berbagi pengalaman dan perasaan
Yaitu adanya saling keterbukaan akan perasaan pribadi, berbagi
pengalaman diantara remaja dan temannya.
f. Pemecahan konflik
Yaitu munculnya perdebatan atau perselisihan faham dan adanya
jalan keluar pemecahan masalah secara baik dan efisien.
Adapun aspek-aspek kualitas pertemanan menurut Douvan dan
Anderson (dikutip Gunawan, 1991, h. 50) :

a. Tuntutan akan adanya orang yang dapat mengerti dirinya.


b. Pemberian dukungan emosional.
c. Setia.
d. Dapat dipercaya.
e. Membantu apabila sedang mempunyai masalah.
Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa aspek
yang digunakan oleh peneliti adalah pengakuan dan saling menjaga,
terjadinya konflik, pertemanan dan rekreasi, membantu dan memberi
petunjuk, berbagi pengalaman dan perasaan, pemecahan konflik.
Perpustakaan Unika

C. Hubungan Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas


Menghadapi Perubahan Fisik dengan Kualitas Pertemanan
Pubertas kini dapat terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11
tahun. Dalam perkembangannya seringkali anak-anak usia pubertas menjadi
bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain
waktu dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa. Seperti yang dikemukakan
oleh Kretch dan Crutchfield bahwa timbulnya kecemasan disebabkan
kurangnya pengalaman dalam menghadapi berbagai kemungkinan dapat
membuat individu tersebut kurang siap dalam menghadapi situasi baru (dalam
Hartanti, 1997, h.150). Suatu pengalaman baru yang dialami oleh individu
belum tentu menyenangkan, tetapi adakalanya muncul situasi yang membawa
kecemasan.

Kehidupan manusia tentu tidak lepas dari masalah kecemasan perasaan


tidak mampu santai, mengalami gangguan tidur, kelelahan, pening, dan
jantung berdebar-debar adalah keluhan fisik yang paling sering ditemukan
pada individu yang mengalami kecemasan. Selain itu, individu terus menerus
merasa takut akan kemungkinan masalah dan mengalami kesulitan untuk
berkonsentrasi atau mengambil keputusan. Johnston berpendapat bahwa
kecemasan merupakan suatu pengalaman emosional yang dirasakan individu
sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan, tidak jelas apa penyebabnya yang
timbul karena adanya ancaman yang datang dari luar maupun dari dalam
tubuh yang berlangsung secara terus menerus (dalam Hartanti, 1997, h.150).
Rangkaian perubahan yang paling jelas adalah perubahan biologis dan
fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada masa awal remaja.
Gejala ini memberi isyarat bahwa fungsi reproduksi atau kemampuan untuk
Perpustakaan Unika

menghasilkan keturunan sudah mulai bekerja. Seiring dengan itu berlangsung


pula pertumbuhan yang pesat pada tubuh dan anggota-anggota tubuh untuk
mencapai proporsi orang dewasa. Seorang individu lalu mulai terlihat
berbeda, dan sebagai konsekuensi dari hormon yang baru, anak perempuan
pada masa pubertas mulai merasa adanya perbedaan (Agustiani, 2006, h. 30).
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan
menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja
putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas
menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-
reproduksi. Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif.
Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah
sistem biologis seorang anak terutama pada anak perempuan. Anak
perempuan akan mendapat menstruasi, tumbuhnya bulu di ketiak, pembesaran
buah dada, dan lain sebagainya sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya
sudah aktif.
Diantara berbagai bentuk hubungan dengan teman sebaya, pertemanan
memiliki arti khusus bagi anak perempuan pada masa pubertas. Hal itu
merupakan strategi untuk mengatasi kecemasan akan penolakan pertemanan
karena perubahan diri baik fisik maupun psikis pada anak perempuan di masa
pubertas. Pertemanan mempunyai arti penting, karena dengan adanya
pertemanan anak perempuan pada masa pubertas akan saling membantu dan
saling memahami masalah-masalah perubahan fisik yang sedang dialami
dirinya dengan temannya. Oleh sebab itu anak perempuan pada masa pubertas
mulai membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya untuk membicarakan
masalah-masalah pribadi dan hal-hal baru dalam masa perkembangannya,
Perpustakaan Unika

sehingga anak perempuan cenderung memilih teman sebagai tempat untuk


berbagi perasaan.
Pengaruh masa puber yang berpengaruh pada perubahan fisik akan
lebih menimbulkan kecemasan pada anak perempuan. Kecemasan ini muncul
karena perubahan fisik yang sedang dialami akan berpengaruh pada bentuk
fisik di masa dewasa nanti. Kecemasan yang dialami oleh anak perempuan
juga dipengaruhi oleh adanya penilaian diri yang negatif. Harga diri yang
rendah dan rasa malu kerap dimiliki oleh anak perempuan sebagai akibat dari
periode pubertas.
Berdasarkan pernyataan tersebut di atas, anak perempuan pada masa
pubertas sering merasa lemah dan bingung menghadapi konflik
batin/pertentangan sendiri dengan perasaan-perasaan cemas akan kesunyian
dan ketidakstabilan emosinya, selain itu ditandai juga dengan adanya
kecemasan yang besar dan terus menerus pada situasi sosial dimana seseorang
dihadapkan pada kemungkinan untuk diamati orang lain. Dan pertemanan
merupakan suatu jalinan dua pribadi dalam hubungan yang akrab dan
berkelanjutan. Maka, penerimaan dari teman sebaya merupakan suatu hal
yang berperan penting pada anak perempuan dalam menghadapi pubertas,
karena pada umumnya anak perempuan dalam masa puber ini lebih suka
berkelompok mencari teman-teman untuk mendapatkan dukungan fisik
ataupun dukungan moril dari kawan-kawan sebaya. Dalam hubungannya
dengan lingkungan teman-teman sebayanya, anak-anak perempuan usia
pubertas yang sedang mengalami perkembangan fisik berusaha mencari
identitas diri, dan tak jarang dihinggapi oleh rasa kesunyian, kecemasan, rasa
tidak mantap, ataupun rasa tidak puas akan perkembangan kondisi fisiknya
Perpustakaan Unika

(Kartono, 1992, h.38). Maka, anak perempuan pada masa pubertas seringkali
menggunakan pertemanan untuk memperbaiki posisi kehidupan sosialnya,
karena dalam kehidupan sosial membutuhkan interaksi dengan remaja lain.
Anak pubertas terutama anak perempuan merasa bahwa seorang teman akan
sangat berarti bagi dirinya, karena dapat membantu mencurahkan isi hatinya,
mendefinisikan identitas serta membantu mengembangkan kepercayaan dan
kebanggaan akan kondisi fisiknya (Mussen, 1989, h. 515).

D. Hipotesis
Ada hubungan negatif antara kualitas pertemanan dengan kecemasan
anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik. Semakin
tinggi kualitas pertemanan maka semakin rendah kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik. Sebaliknya, semakin
rendah kualitas pertemanan maka semakin tinggi kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik.
Perpustakaan Unika

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Identifikasi Variabel Penelitian


Identifikasi variable yang terdapat dalam suatu penelitian berfungsi
untuk menentukan alat pengumpul data dan teknik analisis data yang
digunakan. Variabel yang diperhitungkan dalam analisis data yang
digunakan untuk pengujian hipotesis adalah :
1. Variabel Tergantung : Kecemasan anak perempuan pada masa
pubertas menghadapi perubahan fisik.
2. Variabel Bebas : Kualitas pertemanan.

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian


Definisi operasional variabel penenelitian ini diuraikan lebih lanjut
seperti di bawah ini :

1. Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas Menghadapi


Perubahan Fisik
Kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi
perubahan fisik adalah merupakan suatu keadaan yang tidak
menyenangkan yang dialami oleh anak perempuan dalam fase
perkembangan dirinya baik berupa gangguan yang bergejala fisiologis
maupun bergejala psikologis.
Skor kecemasan anak perempuan pada masa pubertas
menghadapi perubahan fisik diperoleh dari hasil pengukuran dengan
menggunakan skala kecemasan anak perempuan pada masa pubertas
Perpustakaan Unika

menghadapi perubahan fisik. Pengukuran ini berdasarkan pada dua


gejala kecemasan, yaitu gejala fisiologis dan gejala psikologis.
Semakin tinggi skor menunjukkan semakin tinggi pula tingkat
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi
perubahan fisik dan sebaliknya, semakin rendah skor menunjukkan
semakin rendah pula kecemasan anak perempuan pada masa pubertas
menghadapi perubahan fisik.
2. Kualitas Pertemanan
Kualitas pertemanan adalah penilaian baik buruknya suatu
hubungan antara seorang remaja dengan remaja yang lain dengan
menekankan rasa percaya, setia dan mampu memberikan dukungan bila
sedang ada permasalahan.
Skor kualitas pertemanan didapatkan dari hasil pengukuran
dengan menggunakan skala kualitas pertemanan. Pengukuran ini
berdasarkan pada aspek-aspek kualitas pertemanan, yaitu pengakuan dan
saling menjaga, terjadinya konflik, pertemanan dan rekreasi, membantu dan
memberi petunjuk, berbagi pengalaman dan perasaan, pemecahan konflik

Semakin tinggi skor pada skala maka semakin menunjukkan


semakin tinggi kualitas pertemanan dan sebaliknya, semakin rendah
skor yang diperoleh maka menunjukkan semakin rendah kualitas
pertemanan.
Perpustakaan Unika

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel


1. Populasi dan Subyek
Seluruh penduduk yang dimaksudkan untuk diselidiki disebut
sebagai populasi (Hadi, 1987, h. 220). Populasi dalam penelitian ini
dibatasi pada sejumlah penduduk atau individu yang paling sedikit
mempunyai satu sifat yang sama. Dari populasi ini diambil contoh atau
sampel yang diharapkan dapat mewakili populasi. Sampel adalah
sejumlah individu yang jumlahnya kurang dari jumlah populasi dan
merupakan sebagian dari populasi.
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi Sekolah Dasar
kelas V, dan sampel dalam penelitian ini adalah anak perempuan pada
masa pubertas, yaitu siswi Sekolah Dasar (SD) kelas V. Dengan asumsi
bahwa pada masa ini penolakan atau penerimaan dari teman
sebayanya akan berpengaruh pada kecemasan anak perempuan, serta
dilihat dari kehidupan sosial anak perempuan siswi kelas V biasanya
telah memiliki beberapa teman dekat.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik
Studi Populasi, yaitu penyelidikan terhadap seluruh subyek, individu
atau peristiwa namun diambil contoh atau sampel secukupnya saja dari
seluruh populasi subyek tersebut ( Hadi, 2001, h.45 ).
Perpustakaan Unika

D. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode skala. Skala merupakan suatu metode penyelidikan dengan
menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek-aspek yang hendak
diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian dan
berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan
mengenai subyek yang diselidiki (Suryabrata, 1993, h. 15-16).
Bentuk skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala yang
bersifat langsung, yaitu pernyataan-pernyataan tertulis yang diajukan dapat
dijawab langsung oleh subyek penelitian yang dimintai pendapat. Skala
dalam penelitian ini bersifat tertutup, yaitu subyek diminta memilih satu
dari beberapa pilihan jawaban yang telah tersedia (Hadi, 1995, h.157).
Dalam penelitian ini ada dua buah skala yang digunakan, yaitu
skala kualitas pertemanan dan skala kecemasan anak perempuan pada
masa pubertas menghadapi perubahan fisik.

1. Skala Kualitas Pertemanan


Skala ini mengungkapkan enam aspek dari kualitas pertemanan,
yaitu aspek pengakuan dan saling menjaga, terjadinya konflik,
pertemanan dan rekreasi, membantu dan memberi petunjuk,
membagi pengalaman dan perasaan, dan pemecahan konflik.
Perpustakaan Unika

Tabel 1
Rancangan Skala Kualitas Pertemanan
Aspek Favorable Unfavorable Total
1. Pengakuan dan saling menjaga 3 3 6
2. Terjadinya konflik 3 3 6
3. Pertemanan dan rekreasi 3 3 6
4. Membantu dan memberi petunjuk 3 3 6
5. Berbagi pengalaman dan perasaan 3 3 6
6. Pemecahan konflik 3 3 6
TOTAL 18 18 36

Seluruh penggunaan skala ini, menurut Likert telah dimodifikasi


menjadi jenjang empat yang terdiri dari kategori jawaban, yaitu :
SS = Sangat Setuju STS = Sangat Tidak Setuju
S = Setuju TS = Tidak Setuju

Pernyataan tersebut terdiri dari pertanyaan yang favorable (yang


mendukung) dan pernyataan yang unfavorable (yang tidak
mendukung). Skor item bergerak dari satu sampai empat. Skor untuk
pernyataan favorable, yaitu 4 untuk jawaban SS, 3 untuk jawaban S, 2
untuk jawaban TS, dan 1 untuk jawaban STS. Sedangkan skor untuk
jawaban unfavorable, yaitu 1 untuk jawaban SS, 2 untuk jawaban S, 3
untuk jawaban TS, dan 4 untuk jawaban STS.
2. Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik
Diungkap melalui gejala-gejala kecemasan antara lain yang
bersifat fisiologis dan psikologis.
Perpustakaan Unika

Tabel 2
Rancangan Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik
Gejala Favorable Unfavorable Total
1. Fisiologis 8 8 16
2. Psikologis 8 8 16
TOTAL 16 16 32

Seluruh penggunaan skala ini, menurut Likert telah dimodifikasi


menjadi jenjang empat yang terdiri dari kategori jawaban, yaitu :
SS = Sangat Sesuai STS = Sangat Tidak Sesuai
S = Sesuai TS = Tidak Sesuai

Pernyataan tersebut terdiri dari pertanyaan yang favorable (yang


mendukung) dan pernyataan yang unfavorable (yang tidak
mendukung). Skor item bergerak dari satu sampai empat. Skor untuk
pernyataan favorable, yaitu 4 untuk jawaban SS, 3 untuk jawaban S, 2
untuk jawaban TS, dan 1 untuk jawaban STS. Sedangkan skor untuk
jawaban unfavorable, yaitu 1 untuk jawaban SS, 2 untuk jawaban S, 3
untuk jawaban TS, dan 4 untuk jawaban STS.

E. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur


1. Validitas Alat Ukur
Validitas adalah ukuran seberapa cermat suatu alat ukur
melakukan fungsi ukurnya, sehingga untuk dikatakan valid alat ukur
harus mengukur sesuatu dengan cermat (Azwar, 1986, h. 55).
Ancok (1987, h. 13) menyatakan bahwa validitas adalah indeks yang
menunjukkan sejauh mana alat ukur tersebut benar-benar mengukur
apa yang perlu diukur. Pengujian validitas alat ukur penelitian ini
Perpustakaan Unika

dilakukan dengan menggunakan komputer Program Statistical


Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows Release 11.00. yaitu
dengan menggunakan “teknik korelasi product moment” dari Pearson.
Korelasi yang diperoleh dari teknik korelasi product moment
masih kelebihan bobot karena skor item masih masuk dalam skor total.
Oleh karena itu harus dikorelasi menggunakan “teknik korelasi Part
Whole (Ancok, 1987, h.57).
2. Reliabilitas Alat Ukur
Ancok (1987, h. 9) menyatakan bahwa reliabilitas adalah indeks
yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau
dapat diandalkan. Uji reliabilitas menggunakan komputer Program
Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows Release
11.00. dengan teknik alpha cronbach terhadap masing-masing skala.

F. Metode Analisis Data


Metode ini bertujuan untuk menguji secara empirik hubungan
kualitas pertemanan dengan kecemasan anak perempuan pada masa
pubertas menghadapi perubahan fisik. Berdasarkan tujuan tersebut, peneliti
menggunakan teknik korelasi product moment.
Perpustakaan Unika

BAB IV
PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENELITIAN

A. Orientasi Kancah Penelitian


Salah satu tahap yang harus dilalui sebelum penelitian adalah
perlunya memahami kancah atau tempat penelitian dan mempersiapkan
segala sesuatu yang berkenaan dengan jalannya penelitian. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kecemasan
anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik ditinjau
dari kualitas pertemanan.
Adapun penelitian ini dilaksanakan di SD (Sekolah Dasar) Negeri
Petompon 01 Jalan Kelud Raya No. 1 Semarang. Sekolah Dasar tersebut
memiliki dua kelompok kelas, yang terdiri kelas I sampai dengan VI pada
kelompok kelas A dan kelas I sampai dengan kelas VI pada kelompok
kelas B. Tiap-tiap kelas masing-masing terdiri dari siswa laki-laki dan
siswa perempuan. Selain itu jam belajar mengajar seluruh siswa tersebut
dibagi menjadi dua, yaitu pagi dan siang hari. Kelas I, V, dan VI dengan
jam belajar pukul 07.00 – 12.30 (masuk pagi) dan kelas II, III, IV dengan
jam belajar pukul 13.00 – 17.30 (masuk siang). Sebelum penelitian
dilaksanakan peneliti melakukan survey ke SD Negeri Petompon 01 di
Jalan Kelud Raya No. 1 Semarang. Dari sekian banyak jumlah siswa pada
SD Negeri Petompon 01 tersebut, hanya siswa kelas V yang berjenis
kelamin perempuan yang digunakan untuk penelitian, sedangkan sisanya
tidak digunakan. Dari survey tersebut diperoleh beberapa keterangan
tentang data-data dan jumlah siswi yang sesuai dengan ciri populasi yang
Perpustakaan Unika

memenuhi syarat sebagai subyek penelitian, sehingga peneliti memutuskan


untuk memakai siswi-siswi kelas V SD Negeri Petompon 01 Semarang
sebagai populasi dalam penelitian ini, dengan pertimbangan sebagai
berikut :
1. Jumlah subyek yang ada memenuhi syarat, sehingga memungkinkan
untuk mendapatkan jumlah subyek penelitian yang memenuhi syarat
analisis stastisti yaitu minimal 30 subyek (Hadi, 1997, h. 69) agar
distribusi variabel dalam populasi mendekati distribusi normal.
2. Siswi-siswi kelas V SD Negeri Petompon 01 Semarang dianggap
mewakili Sekolah Dasar yang lain karena ciri-ciri subyek yang akan
diteliti memenuhi syarat tercapainya tujuan penelitian.
3. Belum pernah dilakukan penelitian dengan topik seperti yang peneliti
lakukan.
4. Sekolah Dasar tersebut bersedia dijadikan tempat penelitian dan
memberikan tanggapan positif terhadap penelitian ini.

B. Persiapan Penelitian
1. Perijinan Penelitian
Salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk dapat melakukan
penelitian adalah mendapat ijin dari pihak-pihak atau instansi-instansi
yang terkait. Penelitian dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Petompon 01,
Jalan Kelud Raya No. 1 Semarang. Sehubungan dengan surat tersebut di
atas dan sesuai dengan prosedur yang ada maka sebelum melakukan
penelitian, peneliti mengajukan surat permohonan ijin penelitian kepada
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Perpustakaan Unika

Lalu dengan dikeluarkannya surat ijin penelitian dengan nomor :


565/B.7.2/UKS.07/IX/2007, tanggal 03 April 2007, maka peneliti
melakukan pertemuan formal terlebih dahulu dengan pihak Sekolah Dasar
Negeri Petompon 01, dan mendapatkan ijin melakukan penelitian di
Sekolah Dasar tersebut pada tanggal 14 April 2007. Setelah penelitian
selesai, peneliti mendapatkan surat keterangan telah mengadakan
penelitian dari Sekolah Dasar Negeri Petompon 01 Semarang dengan
nomor : 4221/031/2007 pada tanggal 14 April 2007.

2. Penyusunan Skala
Sebelum memulai tahap penelitian, terlebih dahulu peneliti
mempersiapkan alat ukur yang akan digunakan untuk mengungkap hal-hal
yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan alat ukur
berupa skala kualitas pertemanan dan skala kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik.
Adapun rincian masing-masing skala adalah sebagai berikut :
a. Skala Kualitas Pertemanan.
Skala ini mengungkapkan enam aspek dari kualitas pertemanan,
yaitu aspek pengakuan dan saling menjaga, terjadinya konflik,
pertemanan dan rekreasi, membantu dan memberi petunjuk,
membagi pengalaman dan perasaan, dan pemecahan konflik.
Masing-masing aspek terdiri dari 6 item dengan jumlah item
favorable 3 item dan item unfavorable 3 item. Jumlah item skala
kualitas pertemanan yang diujicobakan disusun secara acak dan
memiliki empat kemungkinan jawaban. Skor item bergerak dari satu
sampai empat. Skor untuk pernyataan favorable, yaitu 4 untuk jawaban
Perpustakaan Unika

SS (Sangat Sesuai), 3 untuk jawaban S (Sesuai), 2 untuk jawaban TS


(Tidak Sesuai), dan 1 untuk jawaban STS (Sangat Tidak Sesuai).
Sedangkan skor untuk jawaban unfavorable, yaitu 1 untuk jawaban SS,
2 untuk jawaban S, 3 untuk jawaban TS, dan 4 untuk jawaban STS.
Sebaran item uji coba dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3
Sebaran Item Skala Kualitas Pertemanan

No Aspek Nomor item


Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Pengakuan dan saling 1, 13, 25 2, 14, 26 6
menjaga
2. Terjadinya konflik 3, 15, 27 4, 16, 28 6
3. Pertemanan dan 5, 17, 29 6, 18, 30 6
rekreasi
4. Membantu dan 7, 19, 31 8, 20, 32 6
memberi petunjuk
5. Berbagi pengalaman 9, 21, 33 10, 22, 34 6
dan perasaan
6. Pemecahan konflik 11, 23, 35 12, 24, 36 6
Jumlah 18 18 36

b. Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas Menghadapi


Perubahan Fisik
Skala ini terdiri dari dua aspek, yaitu kecemasan yang bersifat
fisiologis dan psikologis. Tiap aspek terdiri dari 16 item, 8 item
favorable dan 8 item unfavorable. Jumlah item skala kecemasan anak
perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik yang
diujicobakan disusun secara acak dan memiliki empat kemungkinan
jawaban. Skor item bergerak dari satu sampai empat. Skor untuk
Perpustakaan Unika

pernyataan favorable, yaitu 4 untuk jawaban SS (Sangat Sesuai), 3


untuk jawaban S (Sesuai), 2 untuk jawaban TS (Tidak Sesuai), dan 1
untuk jawaban STS (Sangat Tidak Sesuai). Sedangkan skor untuk
jawaban unfavorable, yaitu 1 untuk jawaban SS, 2 untuk jawaban S, 3
untuk jawaban TS, dan 4 untuk jawaban STS. Sebaran item dapat
dilihat pada tabel 4.

Tabel 4
Sebaran Item Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa
Pubertas Menghadapi Perubahan Fisik

No Gejala Nomor item


Jumlah
Favourable Unfavourable
1. Fisiologis 1, 5, 9, 13, 17, 2, 6, 10, 14, 18, 16
21, 25, 29 22, 26, 30
2. Psikologis 3, 7, 11, 15, 19, 4, 8, 12, 16, 20, 16
23, 27, 31 24, 28, 32
Jumlah 16 16 32

C. Pelaksanaan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini digunakan metode try out terpakai,
dimana pelaksanaan penelitian dilakukan sekali bersamaan dengan
pelaksanaan uji coba karena adanya keterbatasan waktu dan ijin penelitian.
Try out terpakai memungkinkan adanya hal-hal yang mencemari atau
mengotori penelitian, ini dikarenakan pada saat penelitian subyek masih
dihadapkan pada skala yang belum dibersihkan dari item-item yang gugur.
Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 14 April 2007 pada siswi
kelas V Sekolah Dasar Negeri Petompon 01, yang berjumlah 36 orang.
Pengambilan subyek didasarkan pada ciri-ciri yang sudah ditetapkan dan
memenuhi kriteria populasi seperti tercantum dalam Bab III. Teknik
Perpustakaan Unika

pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik


Studi Populasi, yaitu penyelidikan terhadap seluruh subyek, individu
atau peristiwa serta diambil contoh atau sampel secukupnya saja dari
seluruh populasi subyek tersebut. Tiap-tiap subyek diberi dua skala yaitu
skala kualitas pertemanan dan skala kecemasan anak perempuan pada
masa pubertas menghadapi perubahan fisik. Dalam pelaksanaan penelitian,
peneliti membagikan skala dan menunggui pengisian skala, kemudian
skala langsung diserahkan kembali ke peneliti setelah lengkap diisi oleh
subyek. Skala yang telah diisi oleh subyek ini kemudian diskor sesuai
dengan jawaban subyek, kemudian skor yang telah diperoleh dimasukkan
dalam tabulasi data kemudian dilakukan uji asumsi terlebih dahulu
terhadap data yang ada.

D. Uji Validitas dan Uji Reliabilitas


1. Uji Validitas Alat Ukur
Pengujian validitas alat ukur penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan komputer program Statistical Packages for Social
Sciences (SPSS) for Windows Release 11.00.
a. Skala kualitas Pertemanan
Hasil uji validitas skala ini terdapat 30 item yang valid dan 6
item yang gugur, yaitu nomor 14, 16, 22, 23, 28, dan 35 dengan
koefisien korelasi antara 0,305 sampai dengan 0,773. Hasil
selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran. Adapun rincian item
yang valid dan gugur dapat dilihat pada tabel 5.
Perpustakaan Unika

Tabel 5
Sebaran Nomor Item Valid dan Gugur
Skala Kualitas Pertemanan

No Aspek Nomor item Jumlah


valid
Favourable Unfavourable
1. Pengakuan dan 1, 13, 25 2, 14*, 26 5
saling menjaga
2. Terjadinya 3, 15, 27 4, 16*, 28* 4
konflik
3. Pertemanan dan 5, 17, 29 6, 18, 30 6
rekreasi
4 Membantu dan 7, 19, 31 8, 20, 32 6
memberi
petunjuk
5. Berbagi 9, 21, 33 10, 22*, 34 5
pengalaman dan
perasaan
6. Pemecahan 11, 23*, 35* 12, 24, 36 4
konflik
Jumlah Valid 16 14 30
Keterangan : * = nomor item gugur

b. Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas


Menghadapi Perubahan Fisik.
Hasil uji validitas skala ini, terdapat 26 item yang valid dan 6
item yang gugur, yaitu nomor 4, 6, 8, 10, 14 dan 29 dengan
koefisien korelasi bergerak antara 0,313 sampai dengan 0,797. Hasil
selengkapnya dapat dilihat dalam lampiran. Adapun rincian item
yang valid dan gugur dapat dilihat dalam tabel 6.
Perpustakaan Unika

Tabel 6
Sebaran Nomor Item Valid dan Gugur
Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik

No Aspek Nomor item Jumlah


valid
Favourable Unfavourable
1. Fisiologis 1, 5, 9, 13, 17, 2, 6*, 10*, 14*, 12
21, 25, 29* 18, 22, 26, 30
2. Psikologis 3, 7, 11, 15, 19, 4*, 8*, 12, 16, 14
23, 27, 31 20, 24, 28, 32
Jumlah valid 15 11 26
Keterangan : * = nomor item gugur

2. Uji Reliabilitas Alat Ukur


Uji reliabilitas dengan menggunakan komputer Program
Statistical Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows Release
11.00. yaitu dengan teknik alpha cronbach terhadap masing-masing
skala.
a. Skala Kualitas Pertemanan
Dari hasil uji reliabilitas skala ini, diperoleh koefisien alpha sebesar
0,909 yang menunjukkan bahwa alat ini tergolong reliabel.
b. Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa Pubertas
Menghadapi Perubahan Fisik
Dari hasil uji reliabilitas skala ini, diperoleh koefisien alpha sebesar
0,898 yang menunjukkan bahwa alat ini reliabel.
Perpustakaan Unika

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Sebelum dilakukan analisis data, perlu dilakukan uji asumsi
terhadap data yang ada supaya data tersebut memenuhi syarat untuk
dianalisa dengan menggunakan analisis Product Moment. Uji asumsi yang
dilakukan adalah uji normalitas dan uji linearitas variabel. Pengujian
statistik ini dilakukan dengan menggunakan komputer program Statistical
Packages for Social Sciences (SPSS) for Windows Release 11.00.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas pada variabel kualitas pertemanan diperoleh nilai K-S Z
sebesar 0,613 dengan (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa distribusi
sebarannya normal. Dari uji normalitas variabel kecemasan anak
perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik diperoleh
nilai K-S Z sebesar 0,918 dengan (p > 0,05). Hal ini menunjukkan
bahwa distribusi sebarannya normal. Data uji normalitas selengkapnya
dapat dilihat pada lampiran E.

2. Uji Linearitas
Hasil uji linearitas variabel kecemasan anak perempuan pada
masa pubertas menghadapi perubahan fisik terhadap variabel kualitas
pertemanan menunjukkan hubungan yang bersifat linear dengan Flinier
sebesar 7,265 dan p < 0,05. Data uji linearitas selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran F.
Perpustakaan Unika

3. Uji Hipotesis
Setelah dilakukan uji normalitas dan linearitas dan memenuhi
persyaratan, selanjutnya dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan
korelasi Product Moment. Hasil perhitungan statitik diketahui bahwa
ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara kecemasan anak
perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik dengan
kualitas pertemanan. Hal tersebut dapat dilihat dari rxy = -0,420 dengan
p < 0,01. Data selengkapnya mengenai uji analisis data hipotesis dapat
dilihat pada lampiran G.

B. Pembahasan
Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, diperoleh korelasi
negatif antara kualitas pertemanan dengan kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik. Hal itu dapat dilihat dari
hasil analisis data dengan rxy = -0,420 dengan p < 0,01 yang berarti ada
hubungan negatif antara kecemasan anak perempuan pada masa pubertas
menghadapi perubahan fisik dengan kualitas pertemanan. Hal ini berarti
bahwa semakin tinggi kualitas pertemanan maka kecemasan anak
perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik akan semakin
rendah, dan sebaliknya, semakin rendah kualitas pertemanan maka
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan
fisik akan semakin tinggi.
Pertemanan adalah hubungan timbal balik yang saling
menguntungkan antara dua remaja, dimana seorang yang satu memberi
perhatian kepada seorang yang lain. Di sisi lain, Dimyati (1989, h. 179)
Perpustakaan Unika

berpendapat bahwa kelompok teman sebaya dalam hal ini adalah


kelompok remaja tertentu yang saling berinteraksi, setiap kelompok
memiliki tata sosial dan harapannya sendiri bagi para anggotanya serta
memiliki kebiasaan, tradisi, perilaku dan bahkan bahasanya sendiri. Selain
itu, Seifert dan Hoffnung (1991, h. 67) mengatakan bahwa kelompok
teman sebaya adalah sebuah kelompok yang terdiri dari teman-teman
seusia yang saling mengenal dan saling berinteraksi satu sama lain.
Ditambahkan oleh Kimmel dkk (dikutip Gunawan, 1991, h. 490)
pertemanan adalah hubungan pribadi antara dua orang yang terjadi karena
adanya kesamaan minat dan rasa afektif yang mendalam, ditandai dengan
tindakan saling memperhatikan, penyerahan diri total, saling membagi atau
sharing serta saling mengungkapkan kehidupan pribadi masing-masing.
Dapat dikatakan bahwa dalam berteman akan menimbulkan rasa saling
menghargai satu sama lain pada diri masing-masing individu.
Diantara berbagai bentuk hubungan dengan teman sebaya,
pertemanan memiliki arti khusus bagi anak perempuan pada masa
pubertas. Hal itu merupakan strategi untuk mengatasi kecemasan akan
penolakan pertemanan karena perubahan diri baik fisik maupun psikis
pada anak perempuan di masa pubertas. Oleh sebab itu anak perempuan
pada masa pubertas mulai membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya
untuk membicarakan masalah-masalah pribadi dan hal-hal baru dalam
masa perkembangannya, sehingga anak perempuan cenderung memilih
teman sebagai tempat untuk berbagi perasaan.
Pengaruh masa puber yang berpengaruh pada perubahan fisik akan
lebih menimbulkan kecemasan pada anak perempuan. Kecemasan ini
Perpustakaan Unika

muncul karena perubahan fisik yang sedang dialami akan berpengaruh


pada bentuk fisik di masa dewasa nanti. Kecemasan yang dialami oleh
anak perempuan juga dipengaruhi oleh adanya penilaian diri yang negatif.
Harga diri yang rendah dan rasa malu kerap dimiliki oleh anak perempuan
sebagai akibat dari periode pubertas. Contohnya, apabila seorang gadis
atau anak perempuan usia pubertas biasanya mulai berjerawat, apabila
anak perempuan yang berjerawat tersebut diejek maka hal itu dapat
menimbulkan masalah yang membuat anak perempuan tersebut menjadi
tidak percaya diri, minder dan cemas akan penampilan yang tidak menarik.
Menurut Kartono (1992, h. 33), pada masa pubertas banyak anak
perempuan yang merasa kurang mampu menyesuaikan diri dengan
lingkungannya, karena dihinggapi oleh bermacam-macam konflik batin.
Konflik batin tersebut antara lain berupa perasaan kecemasan akan hal
yang samar-samar, rasa ketakutan, kecemasan dan rasa ketidakpastian
yang disebabkan oleh kesadaran akan kebodohan dan kelemahan diri
sendiri. Menurut Poerwadarminta (1987, h. 528) kualitas pertemanan
adalah baik buruknya hubungan antar teman, dengan menekankan rasa
setia, saling percaya dan mampu memberikan dukungan bila sedang ada
permasalahan. Pertemanan dapat digunakan untuk saling mengungkapkan
isi pikiran dan perasaan, saling menghibur antar seorang yang satu
dengan seorang yang lain (Carolyn dan Shantz dalam Hoffman, 1994,
h.359)
Pengaruh kualitas pertemanan terhadap kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik memang tidak besar, hal
tersebut ditunjukkan dengan sumbangan efektif kualitas pertemanan
Perpustakaan Unika

terhadap kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi


perubahan fisik sebesar 17,6 %. Sedangkan sisanya sebesar 82,4 % berasal
dari faktor-faktor lain. Faktor-faktor lain tersebut adalah faktor
lingkungan, pengalaman yang tidak menyenangkan, kehilangan orang
dekat serta terjadinya konflik.
Berdasarkan hasil perhitungan statistik, kecemasan anak perempuan
pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik tergolong sedang, hal ini
ditunjukkan dengan mean empirik sebesar 54,42 dengan standart deviasi
13, serta jumlah subyek dengan kategori rendah sebanyak 5 orang,
kategori sedang sebanyak 26 orang, kategori tinggi sebanyak 3 orang, dan
subyek dengan kategori sangat tinggi sebanyak 2 orang. Berdasarkan dari
hasil perhitungan statistik yang sama pula, didapat mean empirik kualitas
pertemanan sebesar 88,08 dengan standart deviasi 15 yang menunjukkan
kualitas pertemanan tergolong sedang. Jumlah subyek dengan kategori
rendah sebanyak 4 orang, kategori sedang sebanyak 27 orang, dan subyek
dengan kategori tinggi sebanyak 5 orang. Hal ini mengindikasikan bahwa
kualitas pertemanan juga mempunyai pengaruh yang positif bagi anak
perempuan pada masa pubertas. Diharapkan dengan adanya kualitas
pertemanan yang baik, maka kecemasan anak perempuan pada masa
pubertas dalam menghadapi perubahan fisik menjadi menurun.
Dalam penelitian ini penulis tidak lepas dari kelemahan-kelemahan
alat ukur yang digunakan pada pengambilan data, yaitu:
1. Adanya social desirability sehingga subyek cenderung memberikan
jawaban yang oleh umum dianggap baik tanpa melihat apakah jawaban
Perpustakaan Unika

tersebut sesuai dengan keadaan dirinya atau tidak sehingga


berpengaruh pada hasil penelitian.
2. Berkaitan dengan kondisi subyek, seharusnya skala psikologi disajikan
pada subyek yang kondisinya secara fisik dan psikologis memenuhi
syarat, misal responden membaca dan menjawab skala bukan dalam
keadaan sakit, lelah, tergesa-gesa, tidak berminat, merasa terpaksa dan
semacamnya.
3. Berkaitan dengan kondisi testing atau situasi tempat. Suasana yang
ramai di luar ruangan, dan adanya kehadiran orang lain disekitarnya
membuat subyek merasa kurang nyaman, terlebih kadang dalam
memberi jawaban subyek terpengaruh oleh jawaban dari teman-teman
yang duduk disebelahnya yang turut serta membaca skala yang penulis
berikan, atau bersama-sama mendiskusikan jawabannya. Hal tersebut
dapat mempengaruhi hasil penelitian.
Perpustakaan Unika

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, maka kesimpulan yang dapat
dikemukakan adalah ada hubungan negatif antara kualitas pertemanan
dengan kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi
perubahan fisik. Semakin tinggi kualitas pertemanan maka semakin rendah
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan
fisik. Sebaliknya, semakin rendah kualitas pertemanan maka semakin
tinggi kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi
perubahan fisik. Sumbangan efektif kualitas pertemanan terhadap
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan
fisik sebesar 17,6 %.
Hasil analisis data yang memberikan hasil bahwa sumbangan
efektif kualitas pertemanan terhadap kecemasan anak perempuan pada
masa pubertas menghadapi perubahan fisik sebesar 17,6 %. Hal ini berarti
tidak hanya kualitas pertemanan saja yang dapat mempengaruhi
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan
fisik, tetapi ada faktor-faktor lain yang juga turut mempengaruhi antara
lain lingkungan, pengalaman yang tidak menyenangkan, kehilangan orang
dekat serta terjadinya konflik
Kualitas pertemanan pada siswi kelas V SD negeri Petompon 01
tergolong positif, sedangkan kecemasan anak perempuan pada masa
pubertas menghadapi perubahan fisik tergolong sedang.
Perpustakaan Unika

B. Saran-saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat dituliskan
beberapa saran bagi :

1. Siswa
Siswa Sekolah Dasar khususnya anak perempuan diharapkan mampu
untuk menurunkan kecemasan dengan cara meningkatkan kualitas
pertemanan dan mempertahankan tingkah laku yang telah terbentuk
dengan baik serta mampu menerima perubahan fisik pada saat
mengalami masa puber, sehingga adanya kualitas pertemanan yang
baik akan mengurangi kecemasan menghadapi perubahan fisik pada
masa pubertas.

2. Peneliti Lain
Sumbangan efektif yang didapatkan kualitas pertemanan terhadap
kecemasan anak perempuan pada masa pubertas menghadapi
perubahan fisik sebesar 17,6 %, namun masih ada sisa 82,4 % yang
terdapat pada faktor-faktor lain.

Bila ada peneliti lain yang tertarik untuk meneliti tentang kecemasan
anak perempuan pada masa pubertas menghadapi perubahan fisik,
maka disarankan untuk menggali lebih dalam tentang faktor-faktor lain
yang mempengaruhi seperti faktor pengalaman pribadi, faktor
emosional, serta faktor dukungan sosial.
Perpustakaan Unika

DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, H. 2006. Psikologi Perkembangan : Pendekatan Ekologi


Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada Remaja.
Bandung : Rafika Aditama

Ahmadi, A. Sholeh, M. 2005. Psikologi Perkembangan : Untuk Fakultas


Tarbiyah IKIP SGPLB Serta Para Pendidik. Jakarta : Rineka Cipta

Ancok, D. 1987. Teknik Penyusunan Skala Pengukuran. Yogyakarta : Pusat


Penelitian UGM

Atkinson, R. L., Atkinson, R. C., Hilgard, E. R. 1991. Pengantar Psikologi :


Jilid 2. Alih Bahasa : Taufik N. & barhana, R. Jakarta : Erlangga

Azwar, S. 1986. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Liberty

Baron, R. A., Bryne, D. 1996. Social Psychology Understanding Human


Interaction. Boston : Allyn and Bacon, Inc. (Eight Edition)

Berk, L. E. 1989. Child Development. Boston : Allyn and Bacon

Buclew, J. 1980. Paradigme For Psychopatology Contribution to East


Historis Analysis. New York : Leppenest Company

Chaplin, P. J., 1997. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rajawali

Correy, G. 1995. Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Yogyakarta :


Rafika Aditama

Coleman, J. C. 1980. The Nature of Adolescence. New York : Methuen

Daradjat, Z. 1990. Kesehatan Mental. Jakarta : Haji Mas Agung

Davidoff, L. 1991. Psikologi Suatu Pengantar : Jilid 2. Alih BAhasa : Drs.


Marijuniati. Jakarta : Erlangga

De Clerq, L. 1994. Tingkah Laku Abnormal : Dari Sudut Pandang


Perkembangan. Jakarta : PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia
Perpustakaan Unika

Dimyati, M. M. 1989. Dasar-Dasar Sosiologi Pendidikan : Suatu Penelitian


Kepustakaan. Jakarta : Departeman Pendidikan & Kebudayaan

Gunawan, F. 1991. Peranan Tingkat Persahabatan Terhadap Persepsi Sosial


Remaja Antar Etnis Jawa dan Keturunan Cina. Jurnal Psikologi
Indonesia. Yogyakarta : UGM. No. 4 (47-56)

Gunarsa, S. D. Gunarsa, Y. S. 2000. Psikologi Remaja. Jakarta : Gunung


Mulia

Hadi, S. 1987. Statistik Jilid III. Yogyakarta : Fakultas Psikologi UGM

, 2000. Metodologi Research, Jilid 1. Yogyakarta : Andi Offset

, 2000. Metodologi Research, Jilid 2. Yogyakarta : Andi Offset

Hall, C. S., Lindzey, G. 1993. Teori – Teori Psikodinamik. Alih Bahasa :


Supratiknya. Yogyakarta : Kanisius

Hambly, K. 1998. Mengatasi Ketegangan. Bandung : ARCAN

Hartanti, Dwiyanti J. E. 1997. Hubungan Antara Konsep Diri dan Kecemasan


Menghadapi Masa Depan Dengan Penyesuaian Sosial Anak-anak
Madura. Jurnal Psikologi Anima. Surabaya : Fakultas Psikologi
Universitas Surabaya

Hawari, D. 2001. Manajemen Stress dan Depresi. Jakarta : Fakultas


Kedokteran Universitas Indonesia

Hurlock, E. 1997. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang


Rentang Kehidupan, Jilid 2. Alih bahasa : Istiwidiyanti. Jakarta :
Erlangga

Jersild, A. T. Ford, F. C. W. dan Swayne, J. M. J. 1978. Child Psychology.


New Delhi : Preciatee

Kartono, K. 1990. Psikologi Perkembangan. Bandung : Mandar Maju

Kartono, K. 1992. Psikologi Wanita, Jilid 1. Bandung : Mandar Maju

Mahmud. 1990. Psikologi Suatu Pengantar, Yogyakarta : BPFE


Perpustakaan Unika

Mappiare, A. 1982. Psikologi Remaja. Surabaya : Usaha Nasional

Mussen. 1989. Perkembangan dan Kepribadian Anak. Alih bahasa : F. X.


Budiyanto. Jakarta : ARCAN

Nawangsari, N.A.F. 2001. Pengaruh Self-Efficacy dan Expectancy-value


Terhadap Kecemasan Menghadapi Pelajaran Matematika. Jurnal
Psikologi:Insan Media. Surabaya : Fakultas Psikologi Universitas
Airlangga

Poerwadarminta, W. J. S. 1987. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta :


Balai Pustaka

Priest, R. 1987. Stress dan Depresi : Edisi 1. Semarang : Bahana Price

Redaktur Majalah Familia. 2003 Masa Puber, Masa Paling Rawankah?.


Familia : Edisi September 2003

_________, 2004. Bingungnya Jadi Remaja . Familia : Edisi Juni 2004

Sarwono, S. W. 1992. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers

Seifert, K. L., Hoffnung, R. J. 1991, Child and Adolescent Development.


Boston : Houghton Mifflin Company

Suara Pembaruan. Mencemaskan Penampilan,: Edisi Juni 2004

Supratiknya, A. 2002. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta : Kanisius

Thallis, S. 1992. Mengatasi Rasa Cemas. Jakarta : ARCAN

Zulkifli, L. 1992. Psikologi Perkembangan. Bandung : Remaja Rosdakarya


Perpustakaan Unika

Skala Kecemasan Anak Perempuan Pada Masa


Pubertas Menghadapi Perubahan Fisik
Perpustakaan Unika

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

Saya memohon bantuan anda untuk membantu saya dalam memberikan


jawaban guna pengumpulan data penelitian ini.

Petunjuk Pengisian
1. Berikut ini ada beberapa pernyataan dan anda diminta untuk memberikan
tanggapan atas pernyataan tersebut.
2. Dalam skala ini tidak ada jawaban yang benar atau salah, maka anda
diminta untuk menjawab secara jujur sesuai keadaan diri anda.
3. Pilihlah salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban dengan cara
memberikan tanda silang (X) pada :
SS : apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan diri anda.
S : apabila peryataan tersebut Sesuai dengan diri anda.
TS : apabila peryataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri anda.
STS : apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri
anda.
SS S TS STS
Contoh : Saya senang bermain boneka X
4. Apabila anda ingin mengubah jawaban, maka anda dapat memberikan
tanda sama dengan (=) pada jawaban pertama, kemudian memberikan
tanda silang (X) pada jawaban kedua.
SS S TS STS
Contoh : Saya senang bermain boneka X X
5. Jika telah selesai, periksa kembali jawaban anda. Pastikan semua peryataan
telah terjawab.

“Terimakasih atas kerjasama anda”


Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS

1. Saya merasa detak jantung saya menjadi


cepat apabila saya sedang berbicara
dengan teman laki-laki.
2. Saya tetap merasa santai saat saya harus
berbicara di depan banyak orang.

3. Saya menjadi tidak percaya diri ketika


jerawat mulai bermunculan di wajah saya.

4. Saya tidak malu berada di dekat teman-


laki-laki, walaupun payudara saya mulai
membesar.
5. Saat saya mengetahui payudara saya mulai
membesar, saya menjadi tidak dapat tidur
dengan nyenyak.
6. Saya tidak pernah berkeringat dingin saat
harus menahan nyeri saat menstruasi.

7. Saat ada teman laki-laki di dekat saya,


saya merasa malu karena payudara saya
yang mulai membesar.
8. Saya tidak minder, walaupun bentuk tubuh
saya tidak sebagus teman-teman yang lain.

9. Nafsu makan saya langsung hilang, saat


teman-teman mengejek bentuk tubuh saya
yang tidak proporsional.
10. Saya tidak pernah gemetar saat ada teman
laki-laki memandangi saya.
11. Saya merasa takut karena di sekitar
kemaluan saya mulai ditumbuhi bulu-bulu
halus.
Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS


12. Saya tidak pernah merasa bingung dalam
memilih pakaian untuk menutupi bagian
payudara saya yang mulai tumbuh.

13. Ujung-ujung jari saya merasa dingin


ketika saya harus berbicara di depan orang
banyak.
14. Tidur saya tetap nyenyak, walaupun saya
mengetahui payudara saya mulai
membesar.
15. Saya merasa minder karena bentuk tubuh
saya tidak sebagus teman-teman lain.

16. Walaupun saya merasakan nyeri saat


payudara saya mulai membesar, saya tetap
tenang.
17. Badan saya lemas saat melihat darah,
ketika saya pertama kali mengalami
menstruasi.
18. Keringat saya tidak bercucuran saat
menyadari ada bulu-bulu halus yang
tumbuh di ketiak saya.
19. Saya merasa tidak berdaya saat menstruasi
karena tidak dapat bergerak bebas.

20. Saat saya sedang berjerawat, saya tetap


percaya diri.

21. Saat menstruasi, keringat dingin saya


selalu keluar karena menahan nyeri di
perut.
22. Walaupun teman-teman mengejek bentuk
tubuh saya yang tidak proporsional,
namun nafsu makan saya tidak berkurang.
Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS


23. Saya sering salah tingkah apabila ada
teman laki-laki sedang melihat dan
memperhatikan saya.

24. Saya tidak merasa takut saat di sekitar


kemaluan saya mulai ditumbuhi bulu-bulu
halus.
25. Saya gemetar ketika ada teman laki-laki
yang memandangi saya.
26. Saya santai saja saat berbicara dengan
teman laki-laki.
27. Saya merasa bingung dalam memilih
pakaian untuk menutupi bagian payudara
saya yang mulai tumbuh.
28. Walaupun sedang menstruasi, saya tetap
bergerak bebas.
29. Keringat saya bercucuran ketika saya
menyadari ada bulu-bulu halus yang
tumbuh di ketiak saya.
30. Saat pertama kali mengalami menstruasi
saya tidak lemas ketika melihat darah.

31. Saya cemas saat merasakan nyeri pada


bagian payudara saya yang mulai
membesar.
32. Saya tidak peduli walaupun ada teman
laki-laki sedang melihat dan
memperhatikan saya.
Perpustakaan Unika

Skala Kualitas Pertemanan


Perpustakaan Unika

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

Saya memohon bantuan anda untuk membantu saya dalam memberikan


jawaban guna pengumpulan data penelitian ini.

Petunjuk Pengisian
1. Berikut ini ada beberapa pernyataan dan anda diminta untuk memberikan
tanggapan atas pernyataan tersebut.
2. Dalam skala ini tidak ada jawaban yang benar atau salah, maka anda
diminta untuk menjawab secara jujur sesuai keadaan diri anda.
3. Pilihlah salah satu jawaban dari empat pilihan jawaban dengan cara
memberikan tanda silang (X) pada :
SS : apabila pernyataan tersebut Sangat Sesuai dengan diri anda.
S : apabila peryataan tersebut Sesuai dengan diri anda.
TS : apabila peryataan tersebut Tidak Sesuai dengan diri anda.
STS : apabila pernyataan tersebut Sangat Tidak Sesuai dengan diri
anda.
SS S TS STS
Contoh : Saya senang bermain boneka X
4. Apabila anda ingin mengubah jawaban, maka anda dapat memberikan
tanda sama dengan (=) pada jawaban pertama, kemudian memberikan
tanda silang (X) pada jawaban kedua.
SS S TS STS
Contoh : Saya senang bermain boneka X X
5. Jika telah selesai, periksa kembali jawaban anda. Pastikan semua peryataan
telah terjawab.

“Terimakasih atas kerjasama anda”


Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS

1. Banyak teman yang memperhatikan saya


saat saya kesulitan dalam belajar.
2. Teman saya sering tidak ada saat saya
membutuhkannya.
3. Teman-teman sering menganggap saya
terlalu banyak bicara.
4. Teman-teman menganggap saya sebagai
orang yang pendiam.
5. Dalam berpenampilan, saya selalu
kompak dengan teman-teman dekat saya.

6. Teman-teman tidak pernah mengajak saya


bermain bersama.
7. Saya suka meminjamkan catatan pada
teman-teman saya.
8. Teman-teman sering menolak
meminjamkan catatannya pada saya.
9. Teman-teman sering menceritakan
masalahnya kepada saya.
10. Teman-teman dekat saya tidak pernah
menceritakan masalah yang sedang
dihadapinya kepada saya.
11. Saya tahu teman saya sering membuat
masalah, maka saya akan menjauhinya.
12. Saya tetap berteman baik walaupun teman
saya sering membuat masalah.
13. Saat saya sendirian di kelas, teman saya
dengan senang hati akan menemani .
14. Teman dekat saya sering meninggalkan
saya sendirian di dalam kelas.
15. Teman-teman saya menganggap saya
sering tidak menepati janji.
Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS

16. Saya selalu menepati apabila telah berjanji


pada teman.
17. Teman-teman sering mengajak saya
bermain bersama sepulang sekolah.
18. Saya tidak pernah menonton film kartun
bersama teman-teman saya.
19. Saat saya lupa membawa alat tulis, teman-
teman saya dengan senang hati akan
meminjami saya.
20. Saat saya sedang mengalami kesulitan,
tidak ada teman yang membantu saya
21. Saya memiliki banyak teman dekat untuk
berkeluh kesah.
22. Saya tidak memiliki teman dekat untuk
berkeluh kesah.
23. Saya memiliki jalinan komunikasi yang
baik dengan teman-teman saya.
24. Saya tahu telah melakukan kesalahan,
tetapi saya memilih diam saja.
25. Saya merasa dipercaya dan diberi
semangat oleh teman-teman dekat saya.
26. Teman-teman sering membohongi saya.
27. Teman-teman saya menganggap saya
sebagai orang yang mudah tersinggung.
28. Saya tidak mudah marah saat saya
diganggu oleh teman.
29. Di waktu senggang, saya dan teman-teman
menonton film kartun bersama.
30. Dalam berpenampilan, saya dan teman-
teman tidak pernah kompak.
31. Teman saya selalu ada saat saya
membutuhkan bantuan mereka.
Perpustakaan Unika

No. Pernyataan SS S TS STS

32. Saya dan teman-teman tidak suka saling


meminjamkan alat tulis.
33. Saya mampu memahami di kala teman
saya dalam kesulitan.
34. Saya sulit memahami di kala teman saya
dalam kesulitan.
35. Saat saya merasa melakukan kesalahan
pada teman saya, maka saya akan segera
meminta maaf.
36. Saya sering mendiamkan teman-teman
saya.