Anda di halaman 1dari 5

A.

Dry Rolling

Rolling disini terbagi menjadi dua proses yaitu dry rolling dan steam rolling. Rolling
adalah proses menekan bahan ke dalam pencetak berbentuk silinder. Proses pengolahan pakan
dengan cara rolling tanpa penambahan uap air disebut dry rolling. Proses pengolahan pakan
dengan cara rolling dan diberi uap air selama 18 menit disebut steam rolling. Sistem kerja mesin
ini yaitu adanya dua silinder baja yang berputar menekan bahan pakan bahan yang masuk satu kali
saja.
Manfaat dari proses penggilingan adalah ekstraksi zat yang diinginkan, menganalisa
komposisi zat yang terkandung, memperluas permukaan sehingga mempercepat pengeringan,
meningkatkan aktifitas kerja enzim, dan meningkatkan daya cerna zat makanan hewan omnivore.
Penggilingan dapat memudahkan pencampuran secara homogen, seperti dalam membuat ransum.
Bahan dalam bentuk grit dapat diubah menjadi pecahan butiran dan bahan yang sudah dalam
bentuk mash pun dapat diubah menjadi lebih halus (Briggs dkk., 1999).
Faktor yang mempengaruhi kehalusan proses penggilingan: tipe/macam butiran, kadar air :
kadar air lebih banyak, butiran cepat keluar, ukuran saringan : lebih halus, bahan keluar lebih
lambat dan kecepatan hasil keluar dari mesin : butiran lebih besar, cepat keluar
3.2.2 Pengolahan Kering Panas
Pengolahan konsentrat kering panas dapat dilakukan dengan micronizing, popping,
roasting, dan extrude.
A. Micronizing
Adalah pemanasan dengan cahaya infremerah, biji-bijian dipanaskan hingga suhu 300°F
selama 25 – 50 detik, kadar airnya dapat berkurang hingga 7%. Popping yaitu pemanasan cepat
pada suhu 700–800°F sehingga airnya menguap dan biji-bijian menjadi mekar, pati tergelatinisasi
sehingga mudah dicerna secara enzimatik.
B. Popping
Popping yaitu pemecahan granula pati yang terdapat pada butiran (jagung, sorgum,
gandum) dengan panas temperatur 150°c. Bergantung pada tekanan, kadar air bahan, tipe butiran
C. Roasting
Yaitu pemanasan yang lebih lambat dari popping, dengan suhu 260-300°F, biji-bijian
dilewatkan pada sebuah drum yang berputar di antara api, kadar air berkurang tanpa adanya
pemekaran. Ekstruksi dapat dilakukan dengan waktu pendek dan temperatur tinggi, waktu panjang
temperatur rendah, pressure cooking extruders atau dry extruction cooker. Tujuan pengolahan biji-
bijian adalah untuk gelatinisasi pati sehingga pati nantinya akan mudah menyerap air agar mudah
dicerna. Gelatinisasi pati ditentukan oleh kombinasi antara kelembaban, panas, energi mekanik,
dan tekanan (Fahrenholz, 1996).
Roasting adalah teknik mengolah bahan makanan dengan cara memanggang bahan
makanan dalam bentuk besar didalam oven. Roasting bentuk seperti oven. Sumber panasnya
berasal dari kayu bakar, arang, gas, listrik, atau micriwave oven. Waktu meroasting sumber panas
berasal dari seluruh arah oven. Selama proses meroasting berjalan, harus disiram lemak berulaang
kali untuk memelihara kelembutan daging dan unggas tersebut.
D. Extruding
Pemanpatan dengan tekanan tinggi: butiran dipaksa dengan kekuatan tertentu agar melalui
silinder penghalus; silinder runcing dan bergelombang Temperatur 95°C

3.2.3 Pengolahan Basah Panas


A. Pelleting
Merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara fisik yang banyak diterapkan di
industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak yang bersifat selektif terhadap
pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang disukai. Ayam menyukai pakan berbentuk biji-
bijian (grains) terkait dengan morfologi sistem pencernaannya, yaitu memiliki paruh untuk
mematuk dan gizzard sebagai lokasi pencernaan secara mekanik. Pellet merupakan bentuk bahan
pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk
mengurangi sifat keambaan pakan. Keambaan pakan yang diolah menjadi pellet berkurang karena
densitasnya meningkat. Pellet yang memiliki densitas tinggi akan meningkatkan konsumsi pakan
dan mengurangi pakan yang tercecer, serta mencegah de-mixing yaitu peruraian kembali
komponen penyusun pellet sehingga konsumsi pakan sesuai dengan kebutuhan standar
(Stevens,1987).
Pengolahan pakan menjadi bentuk pellet (pelleting) memiliki sejumlah keuntungan, antara
lain meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan,
membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama
penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin.
Keuntungan pakan bentuk pellet adalah meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi
keambaan atau sifat bulky, dengan demikian akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi
pakan yang tercecer. Selain itu, pellet juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan
biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet.
Menurut hasil sejumlah penelitian, manfaat pelleting adalah untuk memudahkan
penanganan pakan dan meningkatkan performans ternak. Pelleting meningkatkan kepadatan dan
daya alir, mencegah pakan tercecer dan diterbangkan angin, serta meningkatkan konversi ransum.
Peningkatan performans terjadi karena terjadi peningkatan kecernaan, penurunan pemisahan
bahan penyusun ransum, lebih sedikit energi untuk mencerna pakan, serta peningkatan
palatabilitas (Briggs dkk., 1999).
Kualitas pellet merupakan aspek yang penting baik bagi produsen pakan maupun peternak.
Kualitas pellet ditentukan dengan durabilitas, kekerasan (hardness) dan ukuran. Kualitas pellet
yang baik membutuhkan konsekuensi bagi produsen pakan, yaitu berupa tingginya biaya produksi,
tingginya energi dan modal yang dibutuhkan. Bagi peternak unggas, kualitas pellet yang baik akan
menghasilkan konversi pakan yang rendah, pertambahan bobot badan yang tinggi, dan
meminimalkan pakan yang terbuang. Menurut Behnke (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi
kualitas pellet adalah formulasi (pengaruhnya sebesar 40%), conditioning (20%), ukuran partikel
(20%), spesifikasi die (cetakan) dari mesin pellet (15%) dan pendinginan (5%).
Bahan pakan yang digunakan menentukan kualitas pellet secara signifikan. Pengaruh
protein mentah dan terdenaturasi serta pati jagung mentah dan terdenaturasi sangat mempengaruhi
durabilitas dan kekerasan pellet. Pakan yang terbuat dari isolat protein kedelai dan jagung
dijadikan pellet dengan dan tanpa steam conditioning. Pregelatinisasi dan denaturasi protein
menghasilkan PDI (pellet durability index) 70 sedangkan PDI pellet berbahan dasar mentah hanya
sebesar 19. Protein berperan penting bagi peningkatan durabilitas pellet. Namun perusahaan pakan
pada umumnya menekankan pada penggunaan gelatin pati untuk meningkatkan durabililitas pellet
karena pati lebih murah daripada protein.
Dikatakan bahwa gelatinisasi pati disebabkan oleh penguapan (steam conditioning), tetapi
hasil Stevens (1987) tentang gelatinisasi dalam 100% ransum berbahan dasar jagung justru
membuktikan fakta yang berkebalikan dengan opini umum. Menurut Stevens (1987), 58,3% pati
tergelatinisasi saat ransum mengalami proses pelleting kering dan 25,9% pati tergelatinisasi saat
ransum mengalami steam conditioning hingga 80oC. Dari hasil penelitian tersebut diduga bahwa
proses shearing secara mekanik dalam die (cetakan) alat pellet menyebabkan panas sehingga
terjadi gelatinisasi. Efek pembasahan dari uap menurunkan panas dalam die sehingga menurunkan
gelatinisasi.
Bungkil kedelai yang diolah secara mekanik (mechanically expelled soybean meal) juga
merupakan bahan pakan tinggi minyak. Dibandingkan dengan bungkil kedelai yang diolah dengan
ekstraksi solvent (solvent-extracted soybean meal), bungkil kedelai mekanik mengandung 5%
minyak lebih banyak sehingga banyak digunakan dalam industri pakan. Bungkil kedelai jenis ini
menghasilkan pellet dengan kepadatan tinggi, artinya durabilitas lebih tinggi sehingga tidak
mudah hancur saat pengangkutan (Briggs dkk, 1999).
B. Steam Rolling
Dimasak dalam uap panas dengan tekanan tinggi selama 3 – 5 detik kemudian digiling.
B. Steam Plaking
Pemanasan dengan uap panas pada waktu lebih lama dari steam rolling; 12 menit.
Temperatur 100 0c. Diameter hasil gilingan 0,05 mm.
C. Pressure Cooking
Pemanasan dengan uap panas pada tekanan tinggi Tekanan = 3 kg/cm2 Temperatur 143 0c.
Kadar air berkurang sd 20%.

D. Exploanding
Pengolahan dengan uap panas dan tekanan tertentu dilanjutkan dengan penggilingan
Tekanan = 15 kg/cm2 Temperatur 200 0c Lama 18 – 20 detik

DAFTAR PUSTAKA

Briggs, J.L. D.E. Maier, B.A. Watkins, dan K.C. Behnke. 1999. Effect of ingredients and
processing parameters on pellet quality.

Fahrenholz, C. 1996. Cereal Grains and By-Products: What's in Them and How Are They
Processed? (halaman 57-70). SmithKline Beecham, Pennsylvania
Stevens, C. A. 1987. Starch gelatinization and the influence of particle size, steam pressure and
die speed on the pelleting process. Ph.D.Dissertation. Kansas State University, Manhattan,
KS.
Behnke, K.C. 1994. Factors Affecting Pellet Quality. Maryland Nutrition Conference, Department
of Poulty Science and Animal Science, University of Maryland.