Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS SEDIAAN KOSMETIK

IDENTIFIKASI PEWARNA MERAH K10 (Rhodamin B, Cl 45170)


DALAM PERONA PIPI
Untuk memenuhi tugas matakuliah Analisis Sediaan Kosmetik
Yang dibina oleh Ibu Riska Yudhistya Asworo S.Si., M.si

Disusun oleh:
Kelompok 1
Nadia Firdausi (P17120171002)
Avio Maysayu I.P (P17120171006)
Sintia Anggriani (P17120171011)
Eka Fitri Agnesya (P17120173015)
Eka Aprilia (P17120173019)
Dina Putri W (P17120173023)
Muthia Rizki Fadhilah (P17120174027)
Elin Rahma Setya R (P17120174035)
Maria Carolina Ypka (P17120174031)

PRODI D3 ANALISIS FARMASI DAN MAKANAN


JURUSAN GIZI
POLITEKNIK KESEHATAN MALANG
MARET 2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Kosmetik merupakan kebutuhan yang telah lama dipergunakan dan
dikembangkan oleh manusia. Manusia memerlukan perawatan diri yang dengan
itu diharapkan dapat tampil mempesona, menarik, dan penuh rasa percaya diri
(Jaelani, 2009: 5). Defenisi kosmetik dalam peraturan Menteri Kesehatan RI No.
445/Menkes/Permenkes/1998 Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang
siap untuk digunakan pada bagian luar badan (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan
organ kelamin bagian luar), gigi, dan rongga mulut untuk membersihkan,
menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam
keadaan baik. Kosmetika rias semata-mata hanya melekat pada bagian tubuh yang
dirias dan dimaksudkan agar terlihat menarik serta dapat menutupi kekurangan
yang ada. Kosmetik ini hanya terdiri dari zat pewarna dan pembawa saja
(Wasitaadmaja,1997: 27). Salah satu jenis kosmetik rias adalah perona pipi,
produk ini bertujuan memerahkan pipi, sehingga penggunanya tampak lebih
cantik dan segar (Tranggono, 2007: 12). Penggunaan zat pewarna seringkali
disalahgunakan dengan penggunaan pewarna yang tidak semestinya, akibatnya
menimbulkan kerugian bagi konsumen. Untuk menambah daya tarik konsumen
terhadap produk tersebut, akan tetapi banyak oknum-oknum yang tidak
bertanggungjawab menambahkan pewarna berbahaya pada sediaan perona pipi
seperti rhodamin B. Adanya produsen yang masih menggunakan rhodamin B pada
produknya disebabkan oleh pengetahuan yang tidak memadai mengenai bahaya
penggunaan bahan kimia tersebut pada kesehatan dan juga karena tingkat
kesadaran masyarakat yang masih rendah. Selain itu, rhodamin B sering
digunakan sebagai pewarna karena harganya relatif lebih murah, warna yang
dihasilkan lebih menarik dan tingkat stabilitas warnanya lebih baik daripada
pewarna alami. Pemerintah Indonesia melalui peraturan Menteri Kesehatan
(PerMenKes) No.239/MenKes/Per/V/1985 menetapkan 30 lebih zat pewarna
berbahaya, salah satunya rhodamin B. Rhodamin B merupakan pewarna yang
dipakai untuk industri cat, tekstil dan kertas. Rodamin B merupakan zat warna
sintetis berbentuk serbuk kristal, tidak berbau, berwarna merah keunguan, dalam
bentuk larutan berwarna merah terang berpendar (berfluoresensi). Zat warna ini
dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat
karsinogenik (dapat menyebabkan kanker) serta Rhodamin dalam konsentrasi
tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati. Pemeriksaan Rhodamin B dapat
dilakukan dengan menggunakan kromatografi Lapis Tipis (KLT). Identifikasi
dengan KLT untuk menentukan zat tunggal maupun campuran, dimana suatu
campuran yang dipisahkan akan terdistribusi sendiri diantara fase-fase gerak dan
tetap dalam perbandingan yang berbeda-beda dari suatu senyawa terhadap
senyawa lain (Hardjono, 1985: 130).

1.2.Tujuan
Untuk mengetahui adanya pewarna merah K10 (Rhodamin B) dalam sediaan
perona pipi

1.3.Manfaat
Mahasiswa dapat mengetahui adanya kandungan pewarna merah K10
(Rhodamin B) dalam sediaan perona pipi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kosmetik Perona Pipi

Produk ini bertujuan memerahkan pipi, sehingga penggunanya tampak lebih


cantik dan lebih segar. Kadang-kadang dipakai langsung tetapi lebih sering
sebagai foundation. Perona ini dipasarkan dalam berbagai bentuk:
1. Loose atau compact powder
Loose powder adalah bentuk yang paling sederhana, berisi pigment dan
lakes dalam bentuk kering, diencerkan dengan bahan-bahan powder standar
seperti talcum, zink stearat, dan magnesium karbonat. Kandungan pigment
biasanya 5-20%. Compact rouge lebih populer dari pada loose powder karena:
a. Tidak begitu beterbangan jika dipakai, sehingga bubuk yang
berwarna itu tidak mengotori pakaian dan lain-lain.
b. Melekat lebih baik pada kulit.
2. Anhydrous cream rouge
Dalam preparat ini, zat-zat pewarna (pigment, lakes dan cat larut
minyak) didispersikan atau dilarutkan dalam base fate-oil-wax. Dibandingkan
yang powder, anhydrous cream rouge memiliki keuntungan dapat membentuk
lapisan tipis yang rata dipermukaan kulit sehingga tampak lebih alami dari
pada loose powder. Cream ini juga bersifat menolak air, sehingga resiko
lunturnya rouge karena perspirasi terhindari. Titik lebur bahan bakar tidak
boleh lebih dari 400C.
3. Emulsi cair atau krim
4. Cairan jernih
5. Gel (Tranggono, 2007: 93).
Pemerah pipi dibuat dalam berbagai corak warna yang bervariasi mulai dari
warna merah jambu hingga merah tua. Pemerah pipi konvensional lazim
mengandung pigment merah atau merah kecoklatan dengan kadar yang tinggi.
Pemerah pipi yang mengandung pigment kadar rendah digunakan sebagai
pelembut warna atau pencampur untuk memperoleh efek yang mencolok (Depkes
RI, 1985).
Contoh formula pemerah bubuk kompak (Tranggono, 2007)
Kaolin ringan 50
Kalsium carbonat endap 50
Magnesium 50
Seng Stearat 50
Talk 750
Pigment 50
Parfum 2
Zat pengikat : Isoprophyl Myristat Sama banyak
Dasar salep Lanolin Sama banyak

2.2 Rhodamin B (Tetraethyl Rhodamine)

Rhodamin B merupakan salah satu pewarna yang dilarang digunakan


sebagai bahan tambahan pewarna pada makanan. Rhodamin B adalah zat pewarna
buatan yang digunakan dalam industri tekstil dan kertas. Rumus molekul dari
Rhodamin B adalah C1NC1 dengan berat molekul sebesar 479.000. Zat
Rhodamin B berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu kemerah – merahan, sangat
larut dalam air dan akan menghasilkan warna merah kebiru – biruan dan
berfluorensi kuat. Rhodamin B dapat larut dalam alkohol, HCL dan NaOH selain
mudah larut dalam air (Wisnu, 2008)
Keterangan gambar : N-[9-(carboxyphenil)-6-(diethylamino)-3H-xanten-3-
ylidene]-N-ethylethanaminium clorida
Nama Lazim : Tetraethylrhodamine; D&C Red No. 19; Rhodamin B
clorida; C.I. Basic Violet 10; C.I. 45170
Rumus Kimia : C12H31ClN2O3
BM : 479
Pemerian : Hablur Hijau atau serbuk ungu kemerahan
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air menghasilkan larutan merah
kebiruan dan berfluoresensi kuat jika diencerkan. Sangat mudah larut dalam
alkohol; sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali. Larutan dalam
asam kuat membentuk senyawa dengan kompleks antimon berwarna merah muda
yang larut dalam isopropil eter (Budavari, 1996).

Penggunaan Rhodamin B pada makanan dan kosmetik dalam waktu lama


(kronis) akan mengakibatkan gangguan fungsi hati atau kanker, namun demikian
bila terpapar Rhodamin B dalam jumlah besar maka dalam waktu singkat akan
terjadi gejala akut keracunan Rhodamin B. Bila Rhodamin B tersebut masuk
melalui makanan akan mengakibatkan iritasi pada saluran pencernaan dan
mengakibatkan gejala keracunan dengan urine yang berwarna merah maupun
merah muda. Selain melalui makanan, ataupun kosmetik Rhodamin B juga dapat
mengakibatkan gangguan kesehatan, jika terhirup terjadi iritasi pada saluran
pernafasan, jika terkena kulit akan menyebabkan iritasi pada kulit. Mata yang
terkena Rhodamin B juga akan mengalami iritasi yang ditandai dengan mata
kemerahan dan timbunan cairan atau udem pada mata.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan
Nomor 00386/C/SK/II/90 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan sebagai
bahan berbahaya dalam obat, makanan dan kosmetika.
Tabel 1. Zat warna sebagai bahan berbahaya dalam obat, makanan dan kosmetika
No. Nama No. Indeks Warna
1. Jingga K1 (C.I. Pigment 12075
Orange 5, D&C Orange
No.17)
2. Merah K3 (C.I. Pigment Red 15585
53, D&C Red No.8)
3. Merah K4 15585 : 1
4. Merah K10 (Rhodamin B, 45170
C.I. Food Red 15, D&C Red
No.19)
5. Merah K11 (C.I 45170: 1) 45170 : 1
Sumber : Skep Dirjen POM NO. 0036/C/SK/II/90

Tabel 2. Zat pewarna sintetis yang diijinkan Menurut Mentri Kesehatan RI


No.445/Menkes/V/1998
Kode Warna Kode Indeks
Warna
FD & C Blue no. 1 42090
D&C Orange no. 4 15510
D&C Red no. 5 45370
D&C Red no. 7 15850
D&C Red no. 12 15630
D&C Red no. 21 45380
D&C Orange no. 17 26100
D&C Red no. 27 45410
D&C Red no. 35 12120
D&C Red no. 36 12085

2.3 Kromatografi Lapis Tipis


Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode pemisahan
komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan bahan adsorben
inert. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi analitik. KLT sering
digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak keuntungan menggunakan
KLT, di antaranya adalah sederhana dan murah. KLT termasuk dalam kategori
kromatografi planar, selain kromatografi kertas. Kromatografi juga merupakan
analisis cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun
cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa yang
sifatnya hidrofobik seperti lipida – lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan
dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk
kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom,
identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil
(Fessenden, 2003).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) adalah suatu teknik yang sederhana yang
banyak digunakan, metode ini menggunakan empeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap atau lapisan tipis dan kering. Untuk menotolkan karutan
cuplikan pada kempeng kaca, pada dasarnya menggunakan mikro pipet atau pipa
kapiler. Setelah itu, bagian bawah dari lempeng dicelup dalam larutan pengelusi
di dalam wadah yang tertutup (Soebagio, 2002).
Kromatografi lapis tipis merupakan cara pemisahan campuran senyawa
menjadi senyawamurni dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan
kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat
sedikit, baik menyerap maupun merupakan cuplikan KLT dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa-senyawa yang sifatnya hidrofilik seperti lipid-lipid dan
hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga dapat
digunakan untuk mencari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara
kromatografi dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. Bahan lapis tipis
seperti silika gel adalah senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi-pereaksi
yang lebih reaktif seperti asam sulfat (Fessenden, 2003).
Pertimbangan untuk pemilihan pelarut pengembang (aluen) umumnya sama
dengan pemilihan eluen untuk kromatografi kolom. Dalam kromatografi adsorpsi,
pengelusi eluen naik sejalan dengan pelarut (misalnya dari heksana ke aseton, ke
alkohol, ke air). Eluen pengembang dapat berupa pelarut tunggal dan campuran
pelarut dengan susunan tertentu. Pelarut-pelarut pengembang harus mempunyai
kemurnian yang tiggi. Terdapatnya sejumlah air atau zat pengotor lainnya dapat
menghasilkan kromatogram yang tidak diharapkan.
Kromatografi Lapis Tipis merupakan contoh dari kromatografi adsorpsi.
Fase diam berupa padatan dan fase geraknya dapat berupa cairan dan gas. Zat
terlarut yang diadsorpsi oleh permukaan partikel padat (Soebagio, 2002). Prinsip
dari Kromatografi Lapis Tipis adalah adsorbsi dan partisi dimana adsorbsi adalah
penyerapan pada pemukaan, sedangkan partisi adalah penyebaran atau
kemampuan suatu zat yang ada dalam larutan untuk berpisah kedalam pelarut
yang digunakan. Kecepatan gerak senyawa-senyawa ke atas pada lempengan
tergantung pada (Soebagil,2002).
Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut, hal ini bergantung pada
bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya gel silika. Hal ini
tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa dengan gel silika.
Kromatografi lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi dengan adsorben
seperti silika gel, aluminium oksida (alumina) maupun selulosa. Adsorben
tersebut berperan sebagai fasa diam. Fasa gerak yang digunakan dalam KLT
sering disebut dengan eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa
dan biasanya merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas,
sehingga didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara trial
and error. Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap Rf (faktor retensi) yang
diperoleh (Gandjar, 2007).
Derajat retensi pada kromatografi lempeng biasanya dinyatakan sebagai
faktor resensi. Pada fase diam, jika dilihat mekanisme pemisahan, fase diam
dikelompokkan (Gritter, 1991). Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa
tertentu pada eluen tertentu. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi
adanya perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih
besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya. Hal
tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang lebih polar akan
tertahan kuat pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf yang rendah. Rf
KLT yang bagus berkisar antara 0,2 - 0,8. Jika Rf terlalu tinggi, yang harus
dilakukan adalah mengurangi kepolaran eluen, dan sebaliknya (Gandjar, 2007).
MSDS REAGEN YANG DIGUNAKAN
Nama Rumus Sifat bahan Kode hazard Bahaya penanganan
molekul
bahan
Rhodamine B C28H31C1  Flamabilitas EFEK Karsinogenik:  Menggu
N2O3 Produk: Dapat Agen tumorigenik nakan alat
terbakar pada samar-samar dengan pelindung
suhu tinggi. kriteria RTECS. diri saat
 Suhu Penyalaan  EFEK kontak
Otomatis: Tidak MUTAGENIK: dengan
tersedia. Eksperimen bahan
 Poin Flash: laboratorium telah tersebut
Tidak tersedia. menunjukkan efek  Tindaka
 Batas mudah mutagenik. n
terbakar: Tidak  EFEK pertolonga
tersedia. TERATOGENIK: n pertama
 Fetotoksisitas pindahkan
TOXICITY korban
DEVELOPMENT dari
AL: Tidak tersedia paparan,
jangan
berikan
rangsanga
n untuk
muntah
dan
memberi
minum,
segera
bawa ke
dokter
 Tindakan
penganggul
angan
kebakaran :
1)bahaya
ledakan dan
kebakaran,b
ahaya
kebakaran
kecil.
Campuran
debunya
dengan
udara dapat
menyala
dan
meledak;
2)media
pemadam,
bahan
kimia
kering,
karbon
dioksida,
air, busa;
3) tindakan
pemadaman
, pindahkan
kemasan
dari lokasi
kebakaran,
gunakan
media
pemadam
yang sesuai,
jaga posisi
berdiri
berlawan
dengan arah
angin dan
hindari
daerah
rendah
 Penanganan
tumpahan,
kumpulkan
bahan yang
tumpah ke
dalam
kemasan
yang sesuai
untuk
pembuanga
n, isolasi
daerah
berbahaya
dan orang
yang tidak
berkepentin
gan
dilarang
masuk
 Pemgolaha
n limbah
sesuai
dengan
peraturan
perundang-
undangan
yang
berlaku

Metanol CH3OH  Cairan mudah  Cairan dan uap  Jaga wadah


menyala amat mudah tertutup
 Iritasi mata menyala. kedap.
 Iritasi kulit  Toksik jika  Jauhkan
 toksisitas tertelan. dari
 Toksik jika kontak panas/perci
dengan kulit. kan/api
 Toksik jika terbuka/per
terhirup. mukaan
 Menyebabkan panas
iritasi serius pada  Dilarang
mata. merokok.
 Dapat merusak  Bumikan
kesuburan atau wadah dan
janin. alat
 Menyebabkan penerima.
kerusakan pada  Gunakan
organ. peralatan
 Dapat elektrik
menyebabkan tahan
iritasi pada saluran ledakan/ven
pernafasan. tilasi/penca
 Dapat hayaan.
menyebabkan  Lakukan
mengantuk dan dengan
pusing. hati-hati
 tindakan
melawan
lucutan
statis.
 Gunakan
hanya alat
yang tidak
memicu
percikan
api.
 Gunakan
hanya di
luar
ruangan
atau di area
yang
berventilasi
baik.
 Guna
peralatan
pelindung
diri yang
diperlukan
 Pakai
sarung
tangan
pelindung/p
akaian
pelindung/p
elindung
mata/pelind
ung wajah.
 Jangan
menghirup
debu/asap/g
as/kabut/ua
p/semprota
n.
 Cuci
seksama
sesudah
menanganin
ya.
 Jangan
makan,
minum atau
merokok
 ketika
menggunak
an produk
ini.
Etil Asetat C4H8O2  Flamabilitas  Cairan dan uap  Pindahkan
Produk: Dapat mudah menyala. korban ke
terbakar pada  Menyebabkan udara segar
suhu tinggi. iritasi serius pada dan
 Suhu Penyalaan mata. istirahatkan
Otomatis: Tidak  Menyebabkan pada posisi
tersedia. iritasi kulit. yang
 Poin Flash:  Dapat nyaman
Tidak tersedia. menyebabkan untuk
 Batas mudah reaksi alergi pada bernafas.
terbakar: Tidak kulit.  Cuci
tersedia.  Mungkin fatal jika dengan
 tertelan dan masuk banyak air
saluran dan sabun.
pernafasan.  Segera
 Dapat dapatkan
menyebabkan pertolongan
iritasi pernafasan. medis.
 Dapat Telepon
menyebabkan pusat racun
mengantuk atau atau doktor.
pusing. Cuci mulut
 Dapat dengan air.
menyebabkan
kerusakan (organ)
pada paparan
berulang atau
jagka panjang.
Amonia NH3  Korosif pada  Tidak mudah  Pindahkan
logam terbakar. korban ke
 Korosi kulit  Larutan Amonia udara segar
 Toksisitas pada tidak mudah dan
organ sasaran terbakar, tetapi istirahatkan
spesifik - dapat membentuk pada posisi
paparan tunggal campuran amo yang nyaman
 Sistem nia/udara yang untuk
pernapasan dapat terbakar bernafas
 Toksisitas dengan  Cuci dengan
akuatik akut penggasan. banyak air
 Api ambient dapat dan sabun.
melepaskan uap  Segera
yang berbahaya. dapatkan
pertolongan
medis.
 Telepon
pusat racun
atau doktor.
 Cuci mulut
dengan air.
Butanol C4H9OH  Cairan  Cairan dan  Jaga wadah
mudah uap amat tertutup
menyala mudah kedap.
 Iritasi mata menyala.  Jauhkan
 Iritasi kulit  Toksik jika dari
 toksisitas tertelan. panas/perci
 Toksik jika kan/api
kontak terbuka/per
dengan kulit. mukaan
 Toksik jika panas
terhirup.  Dilarang
 Menyebabkan merokok.
iritasi serius  Bumikan
pada mata. wadah dan
 Dapat alat
merusak penerima.
kesuburan  Gunakan
atau janin. peralatan
 Menyebabkan elektrik
kerusakan tahan
pada organ. ledakan/ven
 Dapat tilasi/penca
menyebabkan hayaan.
iritasi pada  Lakukan
saluran dengan
pernafasan. hati-hati
 Dapat  tindakan
menyebabkan melawan
mengantuk lucutan
dan pusing. statis.
 Gunakan
hanya alat
yang tidak
memicu
percikan
api.
 Gunakan
hanya di
luar
ruangan
atau di area
yang
berventilasi
baik.
 Guna
peralatan
pelindung
diri yang
diperlukan
 Pakai
sarung
tangan
pelindung/p
akaian
pelindung/p
elindung
mata/pelind
ung wajah.
 Jangan
menghirup
debu/asap/g
as/kabut/ua
p/semprota
n.
 Cuci
seksama
sesudah
menangani
nya.
 Jangan
makan,
minum atau
merokok
 ketika
menggunaka
n produk ini.
N-Propanol CH3CH2  Cairan  Cairan dan  Pindahkan
CH2OH mudah uap amat korban ke
menyala mudah udara segar
 Iritasi mata menyala. dan
 Iritasi kulit  Toksik jika istirahatkan
 toksisitas tertelan. pada posisi
 Toksik jika yang nyaman
kontak untuk
dengan kulit. bernafas
 Toksik jika  Cuci dengan
terhirup. banyak air
 Menyebabkan dan sabun.
iritasi serius  Segera
pada mata. dapatkan
 Dapat pertolongan
merusak medis.
kesuburan  Telepon
atau janin. pusat racun
 Menyebabkan atau doktor.
kerusakan  Cuci mulut
pada organ. dengan air.
 Dapat
menyebabkan
iritasi pada
saluran
pernafasan.
 Dapat
menyebabkan
mengantuk
dan pusing.
Lampiran

 Sampel Blush on

 Sampel ditimbang 0,1 gram

 Sampel disaring setelah ditambahkan metanol

 Rhodamin B
 Larutan Baku dan Larutan smapel

 Sampel ditotolkan pada plat klt

 Chamber

 Plat dimasukkan dalam chamber