Anda di halaman 1dari 6

Nama : Bagja Satria Zulkarnaen

NPM : 230110160001
Mata Kuliah : Pengelolaan Perairan Umum Daratan

1. Potensi dan pemanfaatan Danau/Waduk di Jawa Barat Budidaya dan


Penangkapan

Di Jawa Barat waduk yang sangat terkenal dengan potensi dan pemanfaatannya
adalah Waduk Jatiluhur di Purwakarta. Waduk Jatiluhur adalah sebuah bendungan yang
berlokasi di wilayah Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Bendungan Jatiluhur adalah
waduk terbesar dan juga waduk serbaguna pertama di Indonesia yang mulai dibangun pada
tahun 1957. Waduk dengan potensi ketersediaan air sebanyak 12,9 miliar m3 (meter kubik)
per tahun ini dibangun oleh Compagnie Franchaise d'enterprise yang merupakan
kontraktor asal Perancis.
Waduk terbesar di Indonesia ini memiliki beragam fungsi yang manfaatnya bisa
dirasakan langsung oleh sebagian masyarakat Jawa Barat dan bahkan hingga DKI Jakarta.
Selain berfungsi sebagai pengairan atau irigasi untuk lahan pertanian di sejumlah wilayah
di Jabar, Waduk Jatiluhur juga memasok kebutuhan air bersih yang sebagiannya
diperuntukan bagi masyarakat di sebagian wilayah DKI.
Waduk Jatiluhur juga berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
yang mampu mengalirkan aliran listrik dalam jumlah besar. Ada turbin raksasa yang
mampu menghasilkan tenaga listrik di Waduk Jatiluhur.
Untuk fungsi perikanan, di waduk ini cukup banyak masyarakat yang melakukan
budidaya ikan. Sebelum pemanfaatan Waduk Jatiluhur sebagai tempat budidaya ikan mulai
dibatasi, sangat mudah ditemui keramba ataupun jaring terapung yang berfungsi sebagai
tempat untuk pembudidayaan ikan. Ikan yang biasa dibudidayakan di Jatiluhur adalah ikan
mas, gurame, mujair, patin dan jenis ikan iar tawar lainnya.
Sementara dalam bidang pariwisata, Waduk Jatiluhur juga sangat terkenal karena
keberadaan beberapa wahana wisata air yang cukup menantang diantaranya adalah kolam
renang water slide. Wahana wisata yang ada di Jatiluhur juga bisa dipadukan dengan
olehraga air seperti mendayung, selancar angin, ski air, atau boating. Selain kapal dan
perahu, tersedia juga kapal pesiar yang bisa dimanfaatkan untuk mengelilingi waduk
tersebut.

2. EAFM ?
Menurut FAO (2003), pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem atau
Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) merupakan suatu pendekatan
yang berusaha menyeimbangkan tujuan sosial yang beragam, dengan memperhatikan
pengetahuan dan ketidakpastian yang terdapat pada sumber daya biotik, abiotik dan
manusia sebagai komponen ekosistem dan interaksi mereka dan menerapkan pendekatan
yang terintegrasi untuk perikanan di dalam batas – batas ekologis yang berarti.
Pendekatan ekosistem untuk pengelolaan perikanan ini sangat penting
diimplementasikan di Indonesia sebagai salah satu acuan penting pengelolaan, menuju
perikanan Indonesia lestari untuk kesejahteraan masyarakat.

Dalam konteks ini, beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam implementasi
pendekatan ekosistem dalam pengelolaan perikanan (EAF) antara lain adalah : (1)
perikanan harus dikelola pada batas yang memberikan dampak yang dapat ditoleransi
oleh ekosistem; (2) interaksi ekologis antar sumberdaya ikan dan ekosistemnya harus
dijaga; (3 perangkat pengelolaan sebaiknya compatible untuk semua distribusi
sumberdaya ikan; (4) prinsip kehati-hatian dalam proses pengambilan keputusan
pengelolaan perikanan; (5) tata kelola perikanan mencakup kepentingan sistem ekologi
dan sistem manusia (FAO, 2003).

Berdasarkan definisi dan prinsip EAFM tersebut di atas, maka implementasi EAFM
di Indonesia memerlukan adaptasi struktural maupun fungsional di seluruh tingkat
pengelolaan perikanan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini paling tidak
menyangkut perubahan kerangka berpikir (mindset) misalnya bahwa otoritas perikanan
tidak lagi hanya menjalankan fungsi administratif perikanan (fisheries administrative
functions), namun lebih dari itu menjalankan fungsi pengelolaan perikanan atau fisheries
management functions (Adrianto et al, 2008).
Indikator secara sederhana didefinisikan sebagai sebagai sebuah alat atau jalan untuk
mengukur, mengindikasikan, atau merujuk sesuatu hal dengan lebih atau kurang dari
ukuran yang diinginkan. Menurut Hart Environmental Data (1998) dalam Adrianto
(2007), indikator ditetapkan untuk beberapa tujuan penting yaitu mengukur kemajuan,
menjelaskan keberlanjutan dari sebuah sistem, memberikan pembelajaran kepada
stakeholders, mampu memotivasi (motivating), memfokuskan diri pada aksi dan mampu
menunjukkan keterkaitan antar indikator (showing linkages).

Selanjutnya, dalam konteks manajemen perikanan sebuah indikator dikatakan


sebagai sebuah indikator yang baik apabila memenuhi beberapa unsur seperti (1)
menggambarkan daya dukung ekosistem; (2) relevan terhadap tujuan dari ko-
manajemen; (3) mampu dimengerti oleh seluruh stakeholders; (4) dapat digunakan dalam
kerangka monitoring dan evaluasi; (5) long-term view; dan (5) menggambarkan
keterkaitan dalam sistem ko-manajemen perikanan (Hart, 1998). Sementara itu, menurut
Pomeroy and Rivera-Guieb (2006), indikator yang baik adalah indikator yang memenuhi
kriteria sebagai berikut :

1) Dapat diukur: mampu dicatat dan dianalisis secara kuantitatif atau kualitatif

2) Tepat: didefinisikan sama oleh seluruh stakeholders

3) Konsisten: tidak berubah dari waktu ke waktu da

4) Sensitif : secara proporsional berubah sebagai respon dari perubahan aktual

Dalam beberapa kasus, pemilihan indikator terkait dengan tujuan yang akan dicapai dari
monitoring dan evaluasi. Ketika satu indikator sudah ditentukan, proses tingkat
kesalahan yang ditimbulkan dari koleksi data dapat diminimalisir; (2) baik dengan
biaya yang rendah; (3) kelayakan, artinya apakah ada unsur masyarakat metode yang
dipilih sesuai dengan konteks perencanaan dan pengelolaan perikanan.

Implementasi EAFM memerlukan perangkat indikator yang dapat digunakan


sebagai alat monitoring dan evaluasi mengenai sejauh mana pengelolaan perikanan sudah
menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan berbasis ekosistem (Degnbol 2004; Garcia and
Cochrane, 2005; Gaichas, 2008). Dalam pengembangan indikator bagi pengelolaan
berbasis ekosistem (EBM), salah satu pendekatan yang sering digunakan adalah
pendekatan DPSIR (Drivers-Pressures- State-Impact-Response) seperti yang
ditawarkan oleh Turner (2000) untuk konteks pengelolaan pesisir atau yang lebih
sederhana dalam konteks hanya Pressures-State-Impact oleh Jennings (2005),
Adrianto (2007) dalam konteks pengelolaan perikanan. Dalam hal ini, indikator
dibangun berdasarkan siklus DPSIR atau PSI sehingga idenfitikasi mitigasi kebijakan
sebagai respon dari perilaku indikator dapat dilakukan dengan tepat.

3. CBF ?

Culture Based Fisheries (CBF) atau Perikanan Tangkap Berbasis Budidaya adalah ke
giatan perikanan tangkap dimana ikan hasil tangkapan berasal dari benih ikan hasil
budidaya yang diterbarkan ke dalam badan air, dan benih
ikan yang ditebarkan akan tumbuh dengan memanfaatkan makanan alami yang tersedia.
Penebaran benih ikan umumnya dilakukan secara rutin karena ikan hanya tumbuh dan tidak
diharapkan berkembang biak. Oleh karena ketersediaan benih ikan patin siam dari hasil
pembenihan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pengembangan CBF.
 Syarat Teknis :
1. Badan air yang akan digunakan untuk penerapan CBF ikan patin siam harus
memiliki: kualitas air yang baik untuk kehidupan ikan patin; sumber daya makanan alami
yang berupa plankton, benthos, detritus; potensi produksi ikan yang tinggi (minimal 200
kg/ha/th); volume air tersedia sepanjang tahun, kedalaman air rata- rata minimal 2 meter.
2. Benih ikan patin siam yang akan ditebarkan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut : kualitas dan kuantitasnya memadai (karena ada pembenih yang menghasilkan
benih patin dengan pertumbuhan lambat, jumlahnya tersedia untuk
penebaran dengan kepadatan antara 100-200 ekor/ha tergantung pada sumberdaya
makanan alami yang tersedia) dapat memanfaatkan sumber daya makanan alami yang
tersedia; dan tidak bersifat invasif (tidak berdampak negatif) terhadap jenis ikan asli.
3. Pembenihan ikan patin siam tersedia dengan jarak tempuh yang relatif dekat
denganbadan air yang akan ditebari dan telah berproduksi secara reguler sertamengha
silkan benih dengan kualitas baik bebas dari hama dan penyakit. Jika pembenihan
ikan patin belum tersedia maka perlu dibangun di sekitar lokasi badan air yang akan
ditebari.
4. Hasil tangkapan ikan di badan air yang akan ditebari masih rendah jauh di
bawahpotensi produksi ikan lestarinya; alat tangkap yang digunakan (gill net) untuk
menangkap ikan patin ukuran konsumsi (>500 gram) berukuran mata jaring > 3,5 inci.
5. Kelompok nelayan sebagai unsur pengelola perikanan utama sudah ada atau mudah
dibentuk; berperan aktif dalam kegiatan pengelolaan perikanan.

 Tahapan Kerja :

Tahapan yang harus dilakukan dalam penerapan teknologi CBF ikan Patin siam adalah
sebagai berikut :

1. Identifikasi potensi kesesuaian badan air untuk perkembangan ikan patin yang
meliputi luasan dan volume air serta kedalaman air, kualitas air, jenis dan kelimpahan
sumber daya makanan alami : komposisi jenis ikan asli, estimasi potensi produksi ikan.
2. Identifikasi Pembenihan Ikan Patin Siam yang meliputi: jumlah dan kualitas benih
yang dihasilkan; waktu produksi; jarak tempuh ke badan air yang akan ditebari; dan sarana
pendukung lainnya, seperti : alat dan cara pengemasan benih serta alat transportasinya. Jika
pembenihan ikan patin siam belum tersedia dan jarak tempuh ke lokasi badan air yang akan
ditebari sangat jauh maka perlu dibangun pembenihan ikan patin di sekitar lokasi badan air
tersebut.
3. Identifikasi kegiatan perikanan yang meliputi: jumlah nelayan; jenis dan jumlah alat
tangkap, jenis, komposisi dan jumlah hasil tangkapan ikan.
4. Identifikasi biaya yang diperlukan untuk kegiatan penebaran ikan patin dan peluang
keberhasilannya.
5. Identifikasi kelembagaan di mayarakat sekitar badan air: jumlah atau ketersediaan
kelompok nelayan; kelompok pengawas; kelompok usaha perikanan lainnya. Jika
kelompok belum terbentuk perlu diidentifikasi peluang keberhasilan pembentukannya.
4. Perjanjian RAMSAR ?

Konvensi Ramsar adalah perjanjian internasional untuk konservasi dan


pemanfaatan lahan basah secara berkelanjutan. Nama resmi konvensi ini adalah The
Convention on Wetlands of International Importance, especially as Waterfowl Habitat.
Konvensi Ramsar diratifikasi pemerintah Indonesia pada tahun 1991 melalui Keputusan
Presiden RI No. 48 tahun 1991.

Konvensi Ramsar disusun dan disetujui negara-negara peserta sidang


di Ramsar, Iran pada tanggal 2 Februari 1971 dan mulai berlaku 21 Desember 1975.
Sejumlah 1.889 lokasi lahan basah dengan luas keseluruhan 1.854.370 km² dimasukkan ke
dalam Daftar Ramsar Lahan Basah Penting bagi Dunia. Lokasi lahan basah yang dilindungi
Konvensi Ramsar disebut situs Ramsar. Negara yang memiliki situs Ramsar terbanyak
adalah Britania Raya (168 situs), sedangkan Kanada memiliki situs Ramsar terluas dengan
sekitar 130.000 km² lahan basah, termasuk Teluk Queen Maud yang luasnya 62.800 km².

Sampai tanggal 2010 terdapat 159 negara penandatangan konvensi yang merupakan
peningkatan dari sejumlah 119 negara pada tahun 2000, dan 18 negara pendiri pada tahun
1971. Negara peserta konvensi bertemu setiap 3 tahun sekali di Konferensi Para Pihak yang
pertama kali diadakan tahun 1980 di Cagliari ,Italia. Amendemen disetujui di Paris (tahun
1982) dan di Regina (tahun 1987). Konvensi Ramsar memiliki komisi tetap, panel inspeksi
keilmuan, dan sekretariat. Markas besar Konvensi Ramsar terletak di Gland,
Swiss bersama-sama dengan IUCN.