Anda di halaman 1dari 67

WRAP UP SKENARIO II

MEKANSIME PENYAKIT I

Kelompok : B11
Pembimbing : dr. Leony Hestoria
Ketua : Endito Pamungkas S. (1102018286)
Sekretaris : Annisa Shafiyah A. (1102018284)
Anggota : Meidi Endahsari N. (1102018282)
Adiba Salsabila (1102018283)
Munziri Ilman D. (1102018285)
Balqis Nihlah Hilyati (1102018288)
M.Erdiansyah (1102018289)
Venezia Az’Zahra (1102018290)
Fitriana Anggraini (1102018291)
Nina Yolanda Putri (1102018340)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
JL. LETJEND SUPRAPTO, CEMPAKA PUTIH
JAKARTA 10510
TELP. 62.21.4244574 FAX. 62.21.4244574

1
L.I.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN MEDICAL CHECK UP
LO.1.1. definisi Medical Check Up
LO.1.2. Tujuan Medical Check Up
LO.1.3. Jenis-jenis Medical Check Up
LO.1.4. Prosedur Medical Check Up
LO.1.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Medical Check Up

2
3
SKENARIO 2
MEDICAL CHECK UP
Seorang perempuan 23 tahun pekerjaan tenaga kerja wanita pada PT. Amanah
dianjurkan melakukan medical check up di RS Yarsi pasien diminta untuk melakukan
pemeriksaan di laboraturium klinik, meliputi: darah rutin, gula darah, urine rutin, dan
feses rutin. Sebelum melakukan pemeriksaan dokter memerintahkan untuk puasa.

4
 Pertanyaan sementara
1. Berapa kadar gula darah yang normal
2. Mengapa harus puasa melakukan pemeriksaan Medical Check Up?
3. Tujuan dari pemeriksaan: gula darah, urine rutin, feses rutin, dan darah?
4. Berapa lama harus berpuasa?
5. Apa tujuan dari melaukan medical check up?
6. Tahapan medical checkup?
7. Jenis-jenis medical check up
8. Pemeriksaan yang paling penting dari medical check up?
9. Apakah semua medical check up harus berpuasa?
10. Apa saja sampel pada laboraurium?
11. Aspek-aspek penting yang harus dilakukan di laboraturium
12. Apa yang dimaksud dari pemeriksaan darah rutin?
13. Jenis-jenis pemeriksaan darah rutin
14. Apakah semua orang harus menjalankan medical checkup tahunann?
15. Apa saja pantangan sebelum elakukan medical checkup?

 Jawaban sementara
1. - Gula Darah Sewaktu
Normal : <200 mg/dl
Penderita Diabetes Mellitus : >200 mg/dl
- Gula Darah Puasa
Normal : <100 mg/dl
Pra Diabetes Mellitus : 100-125 mg/dl
Penderita Diabetes Mellitus : >126 mg/dl
2. Karena, jika tidak puasa dan kita makan sebelum pemeriksaan, maka bisa
saja zat zat makanan tercampur dengan darah dan kadarnya dalam darah
bisa berlebih dan berubah komponennya (tidak idealnya dalam darah)
misalnya pada glukosanya atau yang lain, sehingga hasilnya tidak akurat
3. Tujuan Pemeriksaan :
a. Darah : Untuk mengetahui golongan darah, kadar Hb, Jumlah
Leukosit , mengidentifikasikan apakah ada penyakit dini dalam
darah
b. Urine : Untuk mengetahui fungsi hati (hepatitis), empedu, ginjal,
mendeteksi penyakit DM
c. Feses : Untuk mendeteksi kanker usus, fungsi empedu, adanya
cacing dan mikroba lainnya
d. Gula / Glukosa Darah : untuk mengetahui kadar glukosa dalam
darah, mengetahui kesalahan dari hormon insulin jika ada

5
4. 8-12 jam
5. Untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin, memantau kesehatan pasien,
agar jika terdeteksi penyakit bisa diobat atau ditangani secepat mungkin
dan supaya tidak terjadi komplikasi akibat penyakitnya yang numpuk dan
terlalu lama
6. – Input
– Process
– Output

7. Jenis Pemeriksaan menurut Tujuan :


a. Untuk Anak – anak
b. Perempuan, ibu hamil
c. Pegawai
d. Narkoba
e. Persiapan Haji
f. Pemeriksaan Pra Nikah
Jeniis Pemeriksaan lain :
g. Laboratorium :
Kimia Klinik : Kolesterol, Gula Darah, Asam urat
Darah : Hematokrit, Hb, hitung jumlah dan jenis sel (eritrosit,
trombosit,leukosit)
h. Pemeriksaan Fisik
Palpasi
Infeksi
Aukultasi
Perkusi
Pemeriksaan dari Head to Toe : Dari ujung kepala sampai ujung kaki
Vital Sign : Suhu tubuh, frekuensi denyut nadi, frekuensi pernapasan
Antropometri : Tinggi Badan, berat badan
i. Pemeriksaan Radiologi
Ct Scan dengan Sinar X
MRI dengan elektromagnet
USG dengan gel. Suara
Rontgen dengan Sinar X
Mamography

8. Mamography
Colonoscophy : untuk mendeteksi kanker usus
Papsmier : untui mendeteksi kanker rahim

6
9. Untuk beberapa pemeriksaan tertentu khususnya Pemeriksaan Lab.
Memang dianjurkan untuk puasa untuk mendapatkan hasil yang akurat

10. Darah, Feses, Urine, Swab ( sinusitis, radang ) , Sputum

11. Input :
a. Apakah pemeriksaan sudah sesuai dengan kondisi klinis pasien ?
b. Apakah jenis, bahan, waktu, dan posisi pengambilan sudah sesuai ?
Proses :
c. Apakah prosedur pemeriksaan sudah sesuai ?
d. Apakah hasil yang didapat juga sudah sesuai ?
e. Apakah waktu pengambilan sudah sesuai ?
Output :
f. Apakah hasil pemeriksaan sudah dapat di interpretasikan ?
g. Apakah hasil pemeriksaan sudah cocok dengan kondisi atau gejala
pasien ?

12. Pemeriksaan Darah Rutin -> Pemeriksaan Darah, dimana tidak ada indikasi
khusus

13. Jenis jenis pemeriksaan Darah : Hb, Hematokrit, Hitung Jumlah Leukosit,
Trombosit, Eritrosit
14. Kalau terlalu sering, akan menghasilkan overdiagnosis. Tapi seharusnya,
dan
dianjurkan untuk tiap tahun Medical Check Up untuk mendiagnosis sedini
mungkin

15. Pantangan sebelum Medical Check Up selain puasa : tidak mengkonsumsi


obat obatan sekitar 3 hari, berhenti merokok dan minum alkohol dalam
jangka waktu tertentu

7
LI.1. Memahami dan menjelaskan Medical Check Up
LO.1.1. Definisi Medical Check Up
Medical Checkup adalah pemeriksaan kesehatan yang bertujuan untuk
mengetahui status kesehatan pasien, bukan untuk mendiagnosis gejala atau mengobati
penyakit. Medical checkup mencakup serangkaian wawancara dan pemeriksaan
kesehatan. Jenis-jenis dan lingkup pemeriksaan kesehatan dalam medical checkup
bervariasi, tergantung keperluan dan permintaannya.

LO.1.2. Tujuan Medical Checkup


Medical checkup bertujuan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin bilaada
masalaha
kesehatan yang tersembunyi yang belum menunjukkan gejala, terutama penyakit-
penyakit
kavdiovaskuler, peyakit ginjal, penyakit liver, dan diabetes mellitus. Selain mendeteksi
penyakit, medical checkup juga menentukan tingkat kebugaran dan kesehatan
umum.

LO.1.3. Jenis-jenis Medical Checkup


1. Pemeriksaan fisik
Dilakukan dengan 4 cara : Inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
1. Inspeksi
Adalah memeriksa dengan melihat dan mengingat .
Langkah kerja :
 Atur pencahayaan yang cukup
 Atur suhu dan suasana ruangan nyaman
 Posisi pemeriksa sebelah kanan pasien
 Buka bagian yang diperiksa
 Perhatikan kesan pertama pasien : perilaku, ekspresi, penanmpilan
umum, pakainan, postur tubuh, dan gerakan dengan waktu cukup.
 Lakukan inspeksi secara sistematis, bila perlu bandingkan bagian
sisi tubuh pasien.

2. Palpasi
Adalah pemeriksaan dengan perabaan, menggunakan rasa propioseptif
ujung jari dan tangan.

8
Cara kerja :
 Daerah yang diperiksa bebas dari gangguan yang menutupi
 Cuci tangan
 Beritahu pasien tentang prosedur dan tujuannnya
 Yakinkan tangan hangat tidak dingin
 Lakukan perabaan secara sistematis , untuk menentukan ukuran,
bentuk, konsistensi dan permukaan :
 Jari telunjuk dan ibu jari --> menentukan besar/ukuran
 Jari 2,3,4 bersama --> menentukan konsistensi dan kualitas benda
 Jari dan telapak tangan --> merasakan getaran
 Sedikit tekanan --> menentukan rasa sakit

3. Perkusi
Adalah pemeriksaan dengan cara mengetuk permukaan badan dengan cara
perantara jari tangan, untuk mengetahui keadaan organ-organ didalam
tubuh.
Cara Kerja :
 Lepas Pakaian sesuai dengan keperluan
 Luruskan jari tengah kiri , dengan ujung jari tekan pada permukaan
yang akan diperkusi.
 Lakukan ketukan dengan ujung jari tengah kanan diatas jari kiri,
dengan lentur dan cepat, dengan menggunakan pergerakan
pergelangan tangan.
 Lakukan perkusi secara sistematis sesuai dengan keperluan.

4. Auskultasi
Adalah pemeriksaan mendengarkan suara dalam tubuh dengan
menggunakan alat STETOSKOP.

STETOSKOP
Bagian-bagian stetoskop :
 Ear Pieces --> dihubungkan dengan telinga
 Sisi Bell ( Cup ) --> pemeriksaan thorak atau bunyi dengan nada
rendah
 Sisi diafragma ( membran ) --> Pemeriksaan abdomen atau bunyi
dengan nada tinggi.
Cara Kerja:
a. Ciptakan suasana tenang dan aman
b. Pasang Ear piece pada telinga

9
c. Pastikan posisi stetoskop tepat dan dapat didengar
d. Pada bagian sisi membran dapat digosok biar hangat
e. Lakukan pemeriksaan dengan sistematis sesuai dengan kebutuhan.

PEMERIKSAAN KEPALA DAN LEHER


KEPALA
Cara Kerja :
1. Atur posisi pasien duduk, atau berdiri
2. Bila pakai kaca mata dilepas
3. Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut, serta kulit dan tulang
kepala
4. Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis.

MATA
a. Bola mata
Cara Kerja :
1. Inspeksi keadaan bola mata, catat adanya kelainan : endo/eksoptalmus,
strabismus.
2. Anjurkan pasien memandang lurus kedepan, catat adanya kelainan
nistagmus.
3. Bedakan antara bola mata kanan dan kiri
4. Luruskan jari dan dekatkan dengan jarak 15-30 cm
5. Beritahu pasien untuk mengikuti gerakan jari, dan gerakan jari pada 8 arah
untuk mengetahui fungsi otot gerak mata.

b. Kelopak Mata
1. Amati kelopak mata, catat adanya kelainan : ptosis, entro/ekstropion,
alismata rontok, lesi, xantelasma.
2. Dengan palpasi, catat adanya nyeri tekan dan keadaan benjolan kelopak
mata

c. Konjungtiva, sclera dan kornea


1. Beritahu pasien melihat lurus ke depan
2. Tekan di bawah kelopak mata ke bawah, amati konjungtiva dan catat
adanya kelainan : anemia / pucat. ( normal : tidak anemis )
3. Kemudian amati sclera, catat adanya kelainan : icterus, vaskularisasi, lesi /
benjolan ( norma : putih )

10
4. Kemudian amati sklera, catat adanya kelainan : kekeruhan ( normal : hitam
transparan dan jernih )

d. Pemeriksaan pupil
1. Beritahu pasien pandangan lurus ke depan
2. Dengan menggunakan pen light, senter mata dari arah lateral ke medial
3. Catat dan amati perubahan pupil : lebar pupil, reflek pupil menurun,
bandingkan kanan dan kiri
Normal : reflek pupil baik, isokor, diameter 3 mm
Abnormal : reflek pupil menurun/-, Anisokor, medriasis/meiosis
Cara Kerja:
 Atur posisi pasien duduk, atau berdiri
 Bila pakai kaca mata dilepas
 Lakukan inpeksi rambut dan rasakan keadaan rambut, serta kulit dan
tulang kepala
 Inspeksi keadaan muka pasien secara sistematis.

e. Pemeriksaan tekanan bola mata


- Tanpa alat :
Beritahu pasien untuk memejamkan mata, dengan 2 jari tekan bola mata, catat
adanya ketegangan dan bandingkan kanan dan kiri.
- Dengan alat :
Dengan alat Tonometri ( perlu ketrampilan khusus )

f. Pemeriksaan tajam penglihatan


1. Siapkan alat : snelen cart dan letakkan dengan jarak 6 meter dari pasien.
2. Atur posisi pasien duduk/atau berdiri, berutahu pasien untuk menebak hurup yang
ditunjuk perawat.
3. Perawat berdiri di sebelah kanan alat, pasien diminta menutup salah satu mata (
atau dengan alat penutup ).
4. Kemudian minta pasien untuk menebak hurup mulai dari atas sampai bawah.
5. tentukan tajam penglihatan pasien

g. Pemeriksaan lapang pandang


1. perawat berdiri di depan pasien
2. bagian yang tidak diperiksa ditutup
3. Beritahu pasien untuk melihat lurus kedepan ( melihat jari )
4. Gerakkan jari kesamping kiri dan kanan
5. jelaskan kepada pasien, agar memberi tahu saat tidak melihat jari

11
TELINGA
a. Pemeriksaan daun telinga, lubang telinga dan membrane tympani
1. Atur posisi pasien duduk
2. Perawat berdiri di sebelah sisi pasien, amati daun telinga dan catat : bentuk,
adanya lesi atau bejolan.
3. Tarik daun telinga ke belakang atas, amati lubang telinga luar , catat adanya :
lesi, cerumen, dan cairan yang keluar.
4. Gerakkan daun telinga, tekan tragus dan catat adanya nyeri telinga.catat adanya
nyeri telinga.
5. Masukkan spikulum telinga, dengan lampu kepala / othoskop amati lubang
telinga dan catat adanya : cerumen atau cairan, adanya benjolan dan tanda
radang.
6. Kemudian perhatikan membrane tympani, catat : warna, bentuk, dan
keutuhannya. ( normal : warna putih mengkilat/transparan kebiruan, datar dan
utuh )
7. Lakukan prosedur 1-6 pada sisi telinga yang lain
b. Pemeriksaan fungsi pendengaran
a. Tujuan :
menentukan adanya penurunan pendengaran dan menentukan jenis tuli persepsi
atau konduksi.
b. Tehnik pemeriksaan :
1) Voice Test ( tes bisik )
Cara Kerja :
 Dengan suara bilangan
1. perawat di belakang pasien dengan jarak 4-6 meter
2. bagian telinga yang tidak diperiksa ditutup
3. bisikkan suatu bilangan ( tujuh enan )
4. beritahu pasien untuk mengulangi bilangan tersebut
5. bandingkan dengan telinga kiri dan kanan

 Dengan suara detik arloji


1. pegang arloji disamping telinga pasien
2. beritahu pasien menyatakan apakah mendengar arloji atau tidak
Kemudian jauhkan, sampai pasien tidak mendengar ( normal :
masih terdengar pada jarak 30 cm ).
3. lakukan pada kedua sisi telinga dan bandingkan

2) Test garputala
 Rinne test

12
1. Perawat duduk di sebelah sisi pasien
2. Getarkan garputala, dengan menekan jari garputala dengan dua
jari tangan
3. letakkan pangkal garputala pada tulang mastoid, dan jelaskan
pasien agar memberitahu bila tidak merasakan getaran.
Bila pasien tidak merasakan getaran, dekatkan ujung jari
garputala pada lubang telinga, dan anjurkan penderita agar
memberutahu mendengar suara getaran atau tidah. Normalnya :
pasien masih mendengar saat ujung garputala didekatkan pada
lubang telinga

 Weber test
getarkan garputala
1. Letakkan pangkal garputala di tengah-tengah dahi pasien
2. Tanya kepada pasien, sebelah mana teinga mendengar lebih
keras (lateralisasi kana/kiri). Normalnya getaran didengar sama
antara kanan dan kiri.

 Scwabach Test
1. Getarkan garputala
2. letakkan ujung jari garputala pada lugang telinga pasie
3. kemudian sampai pasien tidak mendengar, lalu bandingkan
dengan pemeriksa.

3) Test Audiometri
a. Pemeriksaan Fungsi Keseimbangan
 Test Romberg
 Test Fistula
 Test Kalori

HIDUNG DAN SINUS


 Inspeksi dan palpasi hidung bagian luar dan sinus-sinus
1. Pemeriksa duduk di hadapan pasien
2. Amati bentuk dan kulit hidung, catat : kesimetrisan, adanya benjolan, tanda
radang, dan bentuk khusus hidung.
3. Palpasi hidung, catat : kelenturan dan adanya nyeri

13
4. Palpasi 4 sinus hidung ( frontalis, etmoidalis, spenoidalis, maksilaris ) catat :
adanya nyeri tekan
 Inspeksi hidung bagian dalam
1. Pemeriksa duduk dihadapan pasien
2. Pakai lampu kepala dan elevasikan ujung hidung dengan jari
3. Amati lubang hidung luar, catat : benjolan, tanda radang pada batas lubang
hidung, keadaan septum nasi.
4. masukkan spikulum hidung, amati lubang hidung bagian dalam, catat :
benjolan, tanda radang pada batas lubang hidung, keadaan septum nasi.
 Pemeriksaan potensi hidung
1. Duduklah dihadapan pasien
2. Tekan salah satu lubang hidung, beritahu pasien untuk menghembuskan napas
lewat hidung.
3. Lakukan bergantian, suruh pasien merasakan apakah ada hambatan, dan
bandingkan kanan dan kiri.
 Pemeriksaan fungsi penghidu
1. Mata pasien dipejamkan
2. Salah satu lubang hidung ditekan
3. Gunakan bahan yang mudah dikenali, dekatkan ke lubang hidung dan minta
pasien untuk menebaknya
4. Lakukan pada ke dua sisi.

MULUT DAN TONSIL


1. Pasien duduk berhadapan dengan pemeriksa
2. Amati bibir, catat : merah, cyanosis, lesi, kering, massa/benjolan, sumbing
3. Buka mulut pasien, catat : kebersihan dan bau mulut, lesi mukosa
4. Amati gigi, catat : kebersihan gisi, karies gigi, gigi berlubang, gigi palsu.
5. Minta pasien menjuliurkan lidah, catat : kesimetrisan, warna, lesi.
6. Tekan lidah dengan sudip lidah, minta pasien membunyikan huruh “ A “, amati
uvula, catat : kesimetrisan dan tanda radang.
7. Amati tonsil tampa dan dengan alat cermin, catat : pembesaran dan tanda
radang tonsil.

14
LEHER
 Kelenjar Tyroid
- Inspeksi :
Pasien tengadah sedikit, telan ludah, catat : bentuk dan kesimetrisan
- Palpasi :
Pasien duduk dan pemeriksa di belakang, jari tengah dan telunjuk ke dua
tangan ditempatkan pada ke dua istmus, raba disepanjang trachea muali dari
tulang krokoid dan kesamping, catat : adanya benjolan ; konsidstensi,
bentuk, ukuran.
- Auskultasi :
Tempatkan sisi bell pada kelenjar tyroid, catat : adanya bising ( normal :
tidak terdapat)
 Trakhea
Inspeksi :
Pemeriksa disamping kanan pasien, tempelkan jari tengah pada bagian bawah
trachea, raba ke atas dan ke samping, catat : letak trachea, kesimetrisan, tanda oliver
( pada saat denyut jantung, trachea tertarik ke bawah ),
Normalnya : simetris ditengah.
 JVP ( tekanan vena jugularis )
Posisi penderita berbaring setengah duduk, tentukan batas atas denyut vena
jugularis, beritahu pasien merubah posisi ke duduk dan amati pulsasi denyut vena.
Normalnya : saat duduk setinggi manubrium sternum.
Atau
Posisi penderita berbaring setengah duduk, tentukan titik nol ( titik setinggi
manubrium s. ) dan letakkan penggaris diatasnya, tentukan batas atas denyut vena,
ukur tinggi denyut vena dengan penggaris.
Normalnya : tidak lebih dari 4 cm.

 Bising Arteri Karotis


Tentukan letak denyut nadi karotis ( dari tengah leher geser ke samping ), Letakkan
sisi bell stetoskop di daerah arteri karotis, catat adanya bising. Normalnya : tidak
ada bising.

15
PEMERIKSAAN THORAX DAN PARU
Tujuan Pemeriksaan :
 Mengidentifikasi kelaian bentuk dada
 Mengevaluasi fungsi paru
A. INSPEKSI
 Cara Kerja :
1. Posisi pasien dapat duduk dan atau berbaring
2. Dari arah atas tentukan kesimetrisan dada, Normalnya : simetris,
3. Dari arah samping dan belakang tentukan bentuk dada.
4. Dari arah depan, catat : gerakan napas dan tanda-tanda sesak napas
 Normalnya : Gerak napas simetris 16 – 24 X, abdominal /
thorakoabdominal, tidak ada penggunaan otot napas dan retraksi
interkostae.
 Abnormal :
 Tarchipneu  napas cepat ( > 24 X ) , misal ; pada demam, gagal
jantung
 Bradipneu  napas lambat ( < 16 X ), misal ;pada uremia, koma DM,
stroke
 Cheyne Stokes  napas dalam, kemudian dangkal dan diserta apneu
berulang-ulang. Misal : pada Srtoke, penyakit jantung, ginjal.
 Biot  Dalam dan dangkal disertai apneu yang tidak teratur, misal :
meningitis
 Kusmoul  Pernapasan lambat dan dalam, misal ; koma DM,
Acidosis metabolic
 Hyperpneu  napas dalam, dengan kecepatan normal
 Apneustik  ispirasi megap-megap, ekspirasi sangat pendek, misal
pada lesi pusat pernapasan.
 Dangkal  emfisema, tumor paru, pleura Efusi.
 Asimetris  pneumonie, TBC paru, efusi pericard/pleura, tumor
paru.
5. Dari arah depan tentukan adanya pelebaran vena dada, normalnya : tidak
ada.

B. PALPASI
Cara Kerja :
1. Atur posisi pasien duduk atau berbaring
2. lakukan palpasi daerah thorax, catat ; adanya nyeri, adanya benjolan ( tentukan
konsistensi, besar, mobilitas … )
3. Dengan posisi berbaring / semi fowler, letakkan kedua tangan ke dada, sehingga
ke dua ibu jara berada diatas Procecus Xypoideus, pasien diminta napas biasa,
catat : gerak napas simetris atau tidak dan tentukan daya kembang paru (
normalnya 3-5 cm ).

16
Atau
Dengan posisi duduk merunduk, letakkan ke dua tangan pada punggung di
bawah scapula, tentukan : kesimetrisan gerak dada, dan daya kembang paru
4. Letakkan kedua tangan seperti pada no 2/3, dengan posisi tangan agak ke atas,
minta pasien untuk bersuara ( 77 ), tentukan getaran suara dan bedakan kanan
dan kiri.
- Menurun : konsolidasi paru, pneumonie, TBC, tumor paru, ada masa paru
- Meningkat : Pleura efusi, emfisema, paru fibrotik, covenrne paru.
C. PERKUSI
Cara Kerja :
1. Atur posisi pasien berbaring / setengah duduk
2. Gunakan tehnik perkusi, dan tentukan batas – batas paru
Batas paru normal :
 Atas : Fossa supraklavikularis kanan-kiri
 Bawah : iga 6 MCL, iga 8 MAL, iga 10 garis skapularis, paru kiri lebih
tinggi
Abnormal :
 Meningkat  anak, fibrosis, konsolidasi, efusi, ascites
 Menurun  orang tua, emfisema, pneumothorax
3. lakuka perkusi secara merata pada daerah paru, catat adanya perubahan suara
perkusi :
- Normalnya : sonor/resonan ( dug )
- Abnormal :
 Hyperresonan  menggendang ( dang ) : thorax berisi udara, kavitas
 Kurang resonan  “deg” : fibrosis, infiltrate, pleura menebal
 Redup  “bleg” : fibrosis berat, edema paru
 Pekak  seperti bunyi pada paha : tumor paru, fibrosis

D. AUSKULTASI
Cara kerja :
1. Atur posisi pasien duduk / berbaring
2. Dengan stetoskop, auskultasi paru secara sistematis pada trachea, bronkus dan
paru, catat : suara napas dan adanya suara tambahan.

Suara napas
- Normal :
 Trachea brobkhial  suara di daerah trachea, seperti meniup besi, inpirasi
lebih keras dan pendek dari ekspirasi.

17
 Bronkhovesikuler  suara di daerah bronchus ( coste 3-4 di atas sternum ),
inpirasi spt vesikuler, ekspirasi seperti trac-bronkhial.
 Vesikuler  suara di daerah paru, nada rendah inspirasi dan ekspirasi tidak
terputus.

- Abnormal :
 Suara trac-bronkhial terdengar di daerah bronchus dan paru ( missal ;
pneumonie, fibrosis )
 Suara bronkhovesikuler terdengar di daerah paru
 Suara vesikuler tidak terdengar. Missal : fibrosis, effuse pleura, emfisema

Suara tambahan
- Normal : bersih, tidak ada suara tambahan
- Abnormal :
 Ronkhi  suara tambahan pada bronchus akibat timbunan lender atau
secret pada bronchus.
 Krepitasi / rales  berasal daru bronchus, alveoli, kavitas paru yang berisi
cairan ( seperti gesekan rambut / meniup dalam air )
 Whezing  suara seperti bunyi peluid, karena penyempitan bronchus dan
alveoli.

3. Kemudian, beritahu pasien untuk mengucapkan satu, dua, …, catat bunyi


resonan Vokal :
 Bronkhofoni  meningkat, suara belum jelas ( misal : pnemonie lobaris,
cavitas paru )
 Pectoriloguy  meningkat sekali, suara jelas
 Egovoni  sengau dan mengeras ( pada efusi pleura + konsolidasi paru
)
 Menurun / tidak terdengar  Efusi pleura, emfisema, pneumothorax

18
PEMERIKSAAN JANTUNG
A. INPEKSI
Hal – hal yang perlu diperhatikan :
1. Bentuk perkordial
2. Denyut pada apeks kordis
3. Denyut nadi pada daerah lain

1. Denyut vena
Cara Kerja :
1. buka pakaian dan atur posisi pasien terlentang, kepala ditinggikan 15-
30
2. Pemeriksa berdiri sebelah kanan pasien setinggi bahu pasien
3. Motivasi pasien tenang dan bernapas biasa
4. Amati dan catat bentuk precordial jantung
Normal  datar dan simetris pada kedua sisi,
Abnormal  Cekung, Cembung ( bulging precordial )
5. Amati dan catat pulsasi apeks cordis
Normal  nampak pada ICS 5 MCL selebar 1-2 cm ( selebar ibu jari
).
Sulit dilihat payudara besar, dinding toraks yang tebal, emfisema, dan
efusi
erikard.
Abnormal --> bergeser kearah lateroinferior , lebar > 2 cm, nampak
meningkat dan bergetar ( Thrill ).
6. Amati dan catat pulsasi daerah aorta, pulmonal, trikuspidalis, dan
ephygastrik
Normal  Hanya pada daerah ictus
7. Amati dan cata pulsasi denyut vena jugularis
Normal tidak ada denyut vena pada prekordial. Denyut vena hanya
dapat dilihat pada vena jugularis interna dan eksterna.

B. AUSKULTASI
Hal – hal yang perlu diperhatikan :
1. Irama dan frekwensi jantung
Normal : reguler ( ritmis ) dengan frekwensi 60 – 100 X/mnt
2. Intensitas bunyi jantung

19
Normal :
 Di daerah mitral dan trikuspidalis intensitas BJ1 akan lebih tinggi dari BJ 2
 Di daerah pulmonal dan aorta intensitas BJ1 akan lebih rendah dari BJ 2
3. Sifat bunyi jantung
Normal :
- bersifat tunggal.
- Terbelah/terpisah dikondisikan ( Normal Splitting )
 Splitting BJ 1 fisiologik
Normal Splitting BJ1 yang terdengar saat “ Ekspirasi maksimal,
kemudian napas ditahan sebentar” .
 Splitting BJ 2 fisiologik
 normal Spliting BJ2, terdengar “ sesaat setelah inspirasi dalam “
Abnormal :
 Splitting BJ 1 patologik  ganngguan sistem konduksi ( misal RBBB
)
 Splitting BJ 2 Patologik : karena melambatnya penutupan katub
pulmonal pada RBBB, ASD, PS.

4. Fase Systolik dan Dyastolik


Normal : Fase systolik normal lebih pendek dari fase dyastolik ( 2 : 3 )
Abnormal : - Fase systolic memanjang / fase dyastolik memendek
- Tedengar bunyi “ fruction Rub”  gesekan perikard dg ephicard.

5. Adanya Bising ( Murmur ) jantung


 adalah bunyi jantung ( bergemuruh ) yang dibangkitkan oleh aliran turbulensi (
pusaran abnormal ) dari aliran darah dalam jantung dan pembuluh darah.
Normal : tidak terdapat murmur
Abnormal : terdapat murmur  kelainan katub , shunt/pirau
6. Irama Gallop ( gallop ritme )
 Adalah irama diamana terdengar bunyi S3 atau S4 secara jelas pada fase
Dyastolik, yang disebabkan karena darah mengalir ke ventrikel yang lebih
lebar dari normal, sehingga terjadi pengisian yang cepat pada ventrikel
- Normal : tidak terdapat gallop ritme
- Abnormal :

20
 Gallop ventrikuler ( gallop S3 )
 Gallop atrium / gallop presystolik ( gallop S4 )
 Gallop dapat terjadi S3 dan S4 ( Horse gallop )
Cara Kerja :
1. Periksa stetoskop dan gosok sisi membran dengan tangan
2. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah pulmonal, kemudian ke
daerah aorta, simak Bunyi jantung terutama BJ2, catat : sifat, kwalitas di
banding dg BJ1, splitting BJ2, dan murmur Bj2.
3. Tempelkan stetoskop pada sisi membran pada daerah Tricus, kemudian ke
daerah mitral, simak Bunyi jantung terutama BJ1, catat : sifat, kwalitas di
banding dg BJ2, splitting BJ1, murmur Bj1, frekwensi DJ, irama gallop.
4. Bila ada murmur ulangi lagi keempat daerah, catat mana yang paling jelas.
5. Geser ke daerah ephigastrik, catat adanya bising aorta.

C. PALPASI
Cara Kerja :
1. Dengan menggunakan 3 jari tangan dan dengan tekanan ringan, palpasi
daerah aorta, pulmo dan trikuspidalis. catat : adanya pulsasi.
2. Normal  tidak ada pulsasi Geser pada daerah mitral, catat : pulsasi,
tentukan letak, lebar, adanya thrill, lift/heave.
Normal  terba di ICS V MCL selebar 1-2cm ( 1 jari )
Abnormal  ictus bergeser kea rah latero-inferior, ada thriil / lift
3. Geser pada daerah ephigastrik, tentukan besar denyutan.
- Normal : teraba, sulit diraba
- Abnormal : mudah / meningkat

D. PERKUSI
Cara Kerja :
1. Lakukan perkusi mulai intercota 2 kiri dari lateral ( Ant. axial line ) menuju
medial, catat perubahan perkusi redup
2. Geser jari ke ICS 3 kiri kemudian sampai ICS 6 , lakukan perkusi dan catat
perubahan suara perkusi redup.
3. Tentukan batas-batas jantung

21
PEMERIKSAAN PAYUDARA DAN KETIAK
A. NSPEKSI
1. posisi pasien duduk, pakaian atas dibuka, kedua tangan rileks disisi tubuh.
2. Mulai inspeksi bentuk, ukuran dan kesimetrisan payudara
Normal : bulat agak simetris, kecil/sedang/besar
3. Inspeksi, dan catat adanya : benjolan, tanda radang dan lesi
4. Inspeksi areola mama, catat : warna, datar/menonjol/masuk kedalam, tanda
radang dan lesi.
Normal : gelap, menonjol
5. Buka lengan pasien, amati ketiak, Catat : lesi, benjolan dan tanda radang.

B. PALPASI
1. Lakukan palpasi pada areola, catat : adanya keluaran, jumlah, warna, bau,
konsistensi dan nyeri.
2. Palpasi daerah ketiak terutama daerah limfe nodi, catat : adanya benjolan, nyeri
tekan.
3. Lakukan palpasi payudara dengan 3 jari tangan memutar searah jarum jam kea
rah areola. Catat : nyeri dan adanya benjolan
4. Bila ada benjolan tentukan konsistensi, besar, mobilisasinya.

PEMERIKSAAN ABDOMEN
1. Inspeksi
Cara Kerja :
1. Kandung kencing dalam keadaan kosong
2. Posisi berbaring, bantal dikepala dan lutut sedikit fleksi
3. Kedua lengan, disamping atau didada
4. Mintalah penderita untuk menunjukkan daerah sakit untuk dilakukan
pemeriksaan terakhir
5. Lakukan inspeksi, dan perhatikan Kedaan kulit dan permukaan perut
Normalnya : datar, tidak tegang, Strie livide/gravidarum, tidak ada lesi
Abnormal :
 Strie berwarna ungu  syndrome chusing
 Pelebaran vena abdomen  Chirrosis
 Dinding perut tebal  odema
 Berbintil atau ada lesi  neurofibroma
 Ada masa / benjolan abnormal  tumor

22
6. Perhatikan bentuk perut
Normal : simetris
Abnormal :
 Membesar dan melebar  ascites
 Membesar dan tegang  berisi udara ( ilius )
 Membesar dan tegang daerah suprapubik  retensi urine
 Membesar asimetris  tumor, pembesaran organ dalam perut
7. Perhatikan Gerakan dinding perut
Normal : mengempis saat ekspirasi dan menggembung saat inspirasi, gerakan
peristaltic pada orang kurus.
AbnormaL:
 Terjadi sebaliknya  kelumpuhan otot diafragma
 Tegang tidak bergerak  peritonitis
 Gerakan setempat  peristaltic pada illius
 Perhatikan denyutan pada didnding perut
 Normal : dapat terlihat pada ephigastrika pada orang kurus
8. Perhatikan umbilicus, catat adanya tanda radang dan hernia

A. AUSKULTASI
Cara Kerja :
1. Gunakan stetoskop sisi membrane dan hangatkan dulu
2. Lakukan auskultasi pada satu tempat saja ( kwadaran kanan bawah ), cata bising
dan peristaltic usus.
Normal : Bunyi “ Klikc Grugles “, 5-35X/mnt
Abnormal :
 Bising dan peristaltic menurun / hilang  illeus paralitik, post operasi
 Bising meningkat “ metalik sound “  illius obstruktif
 Peristaltik meningkat dan memanjang ( borboritmi ) diare, kelaparan
3. Dengan merubah posisi/menggerakkan abdomen, catat gerakan air ( tanda
ascites ).
Normalnya : tidak ada
3. Letakkan stetoskop pada daerah ephigastrik, catat bising aorta,
Normal : tidak ada.

23
PERKUSI
Cara Kerja :
1. lakukan perkusi dari kwadran kanan atas memutar searah jarum jam, catat adanya
perubahan suara perkusi :
Normalnya : tynpani, redup bila ada organ dibawahnya ( misal hati )
Abnormal :
 Hypertympani  terdapat udara
 Pekak  terdapat Cairan
2. lakukan perkusi di daerah hepar untuk menentukan batas dan tanda pembesaran
hepar.
Cara :
 Lakukan perkusi pada MCL kanan bawah umbilicus ke atas sampai
terdengar bunyi redup, untuk menentukan batas bawah hepar.
 Lakukan perkusi daerah paru ke bawah, untuk menentukan batas atas
 Lakukan perkusi di sekitar daerah 1 da 2 untuk menentukan batas-batas
hepar yang lain.

PALPASI
Cara Kerja :
1. Beritahu pasien untuk bernapas dengan mulut, lutut sedikit fleksi.
2. Lakukan palpasi perlahan dengan tekanan ringan, pada seluruh daerah perut
3. Tentukan ketegangan, adanya nyeri tekan, dan adanya masa superficial atau masa
feces yang mengeras.
4. Lanjutkan dengan pemeriksaan organ
Hati
 Letakkan tangan kiri menyangga belakang penderita pada coste 11 dan 12
 Tempatkan ujung jari kanan ( atas - obliq ) di daerah tempat redup hepar
bawah / di bawah kostae.
 Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran hepar,
tentukan besar, konsistensi dan bentuk permukaan.
 Minta pasien napas dalam, tekan segera dengan jari kanan secara perlahan,
saat pasien melepas napas, rasakan adanya masa hepar, pembesaran,
konsistensi dan bentuk permukaannya.
Normal : tidak teraba / teraba kenyal, ujung tajam.

24
Abnormal :
 Teraba nyata ( membesar ), lunak dan ujung tumpul  hepatomegali
 Teraba nyata ( membesar ), keras tidak merata, ujung ireguler  hepatoma

Lien
 Letakkan tangan kiri menyangga punggung kanan penderita pada coste 11
dan 12
 Tempatkan ujung jari kanan ( atas - obliq ) di bawah kostae kanan.
 Mulailah dengan tekanan ringan untuk menentukan pembesaran limfa
 Minta pasien napas dalam, tekan segera dengan jari kanan secara perlahan,
saat pasien melepas napas, rasakan adanya masa hepar, pembesaran,
konsistensi dan bentuk permukaannya.
Normal : Sulit di raba, teraba bila ada pembesaran

PEMERIKSAAN SISTEM MUSKULOSKELETAL OTOT

Hal – hal yang perlu diperhatikan :


 Bentuk, ukuran dan kesimetrisan otot
 Adanya atropi, kontraksi dan tremor, tonus dan spasme otot
 Kekuatan otot

UJi Kekuatan Otot


Cara kerja :
 Tentukan otot/ektrimitas yang akan di uji
 Beritahu pasien untuk mengikuti perintah, dan pegang otot dan lakukan
penilaian.
Penilaian :

0 ( Plegia ) : Tidak ada kontraksi otot


1 ( parese ) : Ada kontraksi, tidak timbul gerakan
2 ( parese ) : Timbul gerakan tidak mampu melawan gravitasi
3 ( parese ) : Mampu melawan gravitasi

25
4 ( good ) : mampu menahan dengan tahanan ringan
5 ( Normal ): mampu menahan dengan tahanan maksimal

TULANG
Hal-hal yang perlu diperhatikan :
 Adanya kelainan bentuk / deformitas
 Masa abnormal : besar, konsistensi, mobilitas
 Tanda radang dan fraktur
Cara kerja :
 Ispkesi tulang, catat adanya deformitas, tanda radang, benjolan abnormal.
 Palpasi tulang, tentukan kwalitas benjolan, nyeri tekan, krepitasi…

PERSENDIAN
Hal-hal Yang perlu diperhatikan :
 Tanda-tanda radang sendi
 Bunyi gerak sendi ( krepitasi )
 Stiffnes dan pembatasan gerak sendi ( ROM )
Cara Kerja :
 Ispeksi sendi terhadap tanda radang, dan palpasi adanya nyeri tekan
 Palpasi dan gerakan sendi, catat : krepitasi, adanya kekakua sendi dan nyeri
gerak
 Tentukan ROM sendi : Rotasi, fleksi, ekstensi, pronasi/supinasi, protaksi,
inverse/eversi,

PEMERIKSAAN KHUSUS

1. Angkat Tungkai Lurus


 Angkat tungkai pasien, luruskan sampai timbul nyeri, dorsofleksikan tungkai
kaki
 Abnormal : nyeri tajan ke rah belakang tungkai  ketegangan / kompresi syaraf
2. Uji CTS ( Carpal Tunnel Syndrome )
Uji PHALEN’S

26
 Fleksikan pergelangan tangan ke dua tangan dengan sudut maksimal, tahan
selama 60 detik.
 Abnormal : Baal / kesemutan pada jari-jari dan tangan.
Uji TINEL’S
 Lakukan perkusi ringan di atas syaraf median pergelangan tangan
 Abnormal : ada kesemutan atau kesetrum
3. Tanda BALON
Tekan kantung suprapatela dengan jari tangan, jari yang lain meraba adanya cairan.

PEMERIKSAAN SISTEM INTEGUMEN


KULIT
Inspeksi
1. Warna kulit
Normal : nampak lembab, Kemerahan
Abnormal : cyanosis / pucat
2. Tekstur kulit
Normal : tegang dan elastis ( dewasa ), lembek dan kurang elastis ( orang tua )
Abnormal : menurun  dehidrasi, nampak tegang  odema, peradangan
3. Kelainan / lesi kulit
Normal : tidak terdapat
Abnormal : Terdapat lesi kulit, tentukan :
1. bentuk Lesi
 Lesi Primer : bulla, macula, papula, plaque, nodula, pigmentasi,
hypopigmentasi, pustula
 Lesi Sekunder : Tumor, crusta, fissura, erosi, vesikel, eskoriasi,
lichenifikasi, scar, ulceratif.
2. distribusi dan konfigurasinya.
General, Unilateral, Soliter, Bergerombol

Palpasi
1. Tekstur dan konsistensi
Normal : halus dan elastis

27
Abnormal : kasar, elastisitas menurun, elastisitas meningkat ( tegang )
2. Suhu
Normal : hangat
Abnormal : dingin ( kekurangan oksigen/sirkulasi ), suhu meningkat ( infeksi )
3. Turgor kulit
Normal : baik
Abnormal : menurun / jelek  orang tua, dehidrasi
4. Adanya hyponestesia/anestesia
5. Adanya nyeri

Pemeriksaan Khusus

AKRAL
 Ispeksi dan palpasi jari-jari tangan, catat warna dan suhu .
Normal : tidak pucat, hangat
Abnormal : pucat, dingin  kekurangan oksigen

CR ( capilari Refiil )
 Tekan Ujung jari berarapa detik, kemudian lepas, catat perubahan warna
Normal : warna berubah merah lagi < 3 detik
Abnormal : > 3 detik  gangguan sirkulasi.

ODEM
 Tekan beberapa saat kulit tungkai, perut, dahi amati adanya lekukan ( pitting )
Normal : tidak ada pitting
Abnormal : terdapat pitting ( non pitting pada beri-beri )

KUKU
 Observasi warna kuku, bentuk kuku, elastisitas kuku, lesi, tanda radang
Abnormal :
 Jari tabuh ( clumbing Finger )  penykait jantung kronik

28
 Puti tebal  jamur

RAMBUT TUBUH
 Ispeksi distribusi, warna dan pertumbuhan rambut

PEMERIKSAAN SISTEM PERSAYARAFAN


PEMERIKSAAN FUNGSI SENSORIK
1. Sensasi Taktil
 Siapkan alat kuas halus, kapas, ujung jari ( bila terpaksa )
 Penderita dapat berbaring atau duduk rileks, mata di pejamkan
 Lakukan sentuhan ringan ( jangan sampai menekan ), minta pasien “ya” bila
merasakan dan “ tidak “ bila tidak merasakan
 Lakukan mulai dari ujung distal ke proksimal ( azas Ekstrem ), dan bandingkan
kanan dan kiri ( azas Simetris ).
 Cari tempat yang tidak berbulu, beri sentuhan beberapa tempat, minta pasien
untuk membandingkan.
 Lakukan sentuhan, membentuk huruf, minta pasien menebak.
Kelainan :
 Anestesia, hipestesia, hiperestesia.
 Trikoanestesia  kehilangan senasi gerak rambut
 Gravanestesia  tidak mampu mengenal angka/huruf.
2. Sensasi Nyeri superficial
 Gunakan jarum salah satu runcing dan tumpul
 Mata pasien dipejamkan
 Coba dulu, untuk menentukan tekanan maksimal
 Beri rangsangan dengan jarum runcing, minta pasien merasakan nyeri atau
tidak
 Lakukan azas ekstri, dan simetris.
 Lakukan rangsangan dengan ujung tumpul dan runcing, minta pasien untuk
menebaknya.
Kelainan :
Analgesia, Hypalgesia, hiperalgesia.
3. Pemeriksaan sensasi suhu
 Siapkan alat Panas ( 40-45 derajat ), dingin ( 5-10 )
 Posisi pasien berbaring dan memejamkan mata.
 Tempelkan alat, dan minta pasien menebak panas atau dingin
 Lakukan azas simetris dan ekstrim

29
Kelainan :
Termastesia, termhipestesia, termhiperestesia, isotermognosia
4. Sensasi Gerak dan posisi
 Pasien memejamkan mata
 Bagian tubuh ( jari-jari ) digerakkan pasif oleh pemeriksa
 Minta pasien menjelaskan posisi dan keadaan jari

PEMERIKSAAN FUNGSI MOTORIK


 Posisi Tubuh
 postur hemiplegia, decorticate, deserebrate.
 Gerakan involunter
 tremor, tiks, chorea ..
 Tonus otot
 Spastis, kekakuan, flasid
 Koordinasi
 Tunjuk hidung jari : perintahkan pasien menyentuk hidung dan jari bergantian
dan berulang-ulang, catat adanya kegagalan.

PEMERIKSAAN REFLEK FISIOLOGIS


( Muscle Stretch )
Penilaian :
0 = negative
+1 = lemah ( normal )
+2 = normal
+3 = meninggi, belum patologik
+4 = hyperaktif, sering disertai klonus
1. Reflek pada Lengan
 Reflek Bisep
 Pasien duduk santai.
 Lengan lemas, sedikit fleksi dan pronasi.
 Siku penderita diletakkan pada tangan pemeriksa

30
 Ibu jari pemeriksa diletakkan pada tendo bisep, kemudian pukul ibu jari
dengan perkusi hamer.
 Amati gerakan lengan pasien
Hasil :
Kontraksi otot bisep, fleksi dan sedikit supinasi lengan bawah
 Reflek Trisep
 Pasien duduk santai.
 Lengan lemas, sedikit fleksi dan pronasi.
 lengan penderita diletakkan pada tangan pemeriksa
 Pukul tendo pada fosa olekrani
Hasil :
Trisep akan kontraksi menyentak yang dirasakan oleh tangan pemeriksa
 Reflek Brachioradialis
 Posisi penderita duduk santai
 Lengan relaks, pegang lengan pasien dan letakkan tangan pasien diatas
tangan pemeriksa dalam posisi fleksi dan pronasi.
 Pukul tendo Brachioradialis
Hasil :
Gerakan menyentak pada tangan
2. Reflek pada tungkai
 Reflek patella ( kuadrisep )
 Posisi pasien duduk, denga kedua kaki menjuntai
 Tentukan daerah tendo kanan dan kiri
 Tangan kiri memegang bagian distal ( paha pasien ), yang satu melakukan
perkusi pada tendo patella
Hasil :
Ada kontraksi otot kuadisrep, gerakan menyentak akstensi kaki
 Reflek Achilles
 Pasien dapat duduk menjuntai, atau berlutut dengan kaki menjulur di luar
meja
 Tendo Achilles diregangkan, dengan menekkan ujung tapak tangan
 Lakukan perkusi pada tendo, rasakan gerakan.

Hasil :
Gerakan menyentak kaki

31
PEMERIKSAAN REFLEK PATOLOGIS
 Reflek Babinski
 Posisi penderita terlentang
 Gores dengan benda lancip tapi tumpul pada telapak kaki : dari bawah
lateral, keatas menuju ibu jari kaki.
 Amati gerakan jari-jari kaki
Hasil :
Normal : gerakan dorsofleksi ibu jari, jari yang lain meregang
Abnormal : terjadi gerakan mencekeram jari-jari kaki

Tugas : tehnik reflek Gordon, chadoc, ophenhein.

PEMERIKSAAN REFLEK MENINGEAL


( Meningeal Sign )

1. Kaku Kuduk
 Pasien posisi berbaring
 Fleksi kepala, dengan mengangkat kepala agak cepat
Hasil : + terdapat tahanan kuat
2. Tanda kernig
 Posisi pasien berbaring
 Angkat kaki, dan luruskan kaki pada lututnya
Hasil :
Normal : kaki dapat lurus, atau tahanan dengan sudut minimal 120 derajat
Abnormal ( + ) : terjadi tahanan < 1 20 dan nyeri pada paha.

3. Buzinsky 1
 Posisi pasien berbaring
 Fleksi kepala, dengan mengangkat kepala agak cepat
 Perhatikan gerakan tungkai kaki

32
Hasil : + bila terjadi fleksi tungkai, bersamaan dengan fleksi kepala

4. Buzinsky 2
 Posisi pasien berbaring
 Lakukan fleksi pada lutut kaki
 Amati kaki sebelahnya

Hasil : + bila kaki sebelahnya mengikuti gerakan fleksi

PEMERIKSAAN SYARAF KRANIAL

I ( olfaktorius )
 pemeriksaan fungsi penghidu

II ( Optikus )
 periksa fungsi penglihatan dan lapang pandang

II, III ( Optikus dan Okulomotoris )


 periksa reaksi pupil terhadap cahaya

III, IV, VI ( Okulomotoris, trokleal, abdusen )


 periksa gerakan bola mata

V ( trigeminal )
 Raba kontraksi temporal
 Periksa gerakan mengunyah  otot maseter
 Periksa reflek kornea
 Uji sentuhan dan nyeri pada wajah

33
VII ( fasialis )
 Periksa gerakan otot wajah  tersenyum, mengkerutkan dahi, cemberut

VIII ( akustik )
 Periksa fungsi pendengaran

IX, X ( Glusofaringius dan vagus )


 Amati kesulitan menelan
 Dengarkan suara
 Amati naiknya langit-langit dg bunyi “ ah “
 Amati gag reflek

XI ( Aksesoris )
 Kaji kemampuan mengangkat bahu
 Kaji gerakan berputar wajah

XII ( Hipoglosal )
 Dengarkan artikulasi pasien
 Julurkan lidah, amati adanya atropi, asimetris.

 Pemeriksaan Radiologi
1. Rontgen foto thorax
Pemeriksaan rontgen dada atau thorax untuk mendeteksi adakah kelainan
pada paru-paru dan jantung.

2. Elektrokardiografi
Pemeriksaan rekam jantung dalam keadaan istirahat, untuk menilai irama
aktifitas jantung, sehingga dapat mendeteksi kelainan jantung.

3. USG (Ultrasonografi)
Pemeriksaan dengan gelombang berfrekuensi tinggi, untuk menilai organ
dalam rongga perut (abdomen).

4. Mielografi

34
Merupakan pemeriksaan radiografi alternatif dengan menggunakan
fluoroskopi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat kelainan pada
kanialis spinalis, diskus intervertebralis, atau radiks saraf.

5. Computed Tomografi
Computed Tomografi (CT) tulang belakang lumbal merupakan
pemeriksaan radiologi yang menggabungkan teknik sinar X degan
pemanfaatan computer untuk memperoleh informasi anatomi irisan
melintang tulang belakang lumbal.

6. CT Mielografi
Mielografi konvensional dengan foto x-ray dan CT mielografi memiliki
prinsip umum yang hampir sama. CT mielogram merupakan prosedur
diagnostic yang dikerjakan setelah kontras diinjeksikan dala rongga sub
arachnoid.

7. Magnetic resonance imaging


Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan pemeriksaan imaging yang
menggunakan bahan hydrogen dan interaksinya dengan kedua medan
magnet eksternal dan gelombang radio untuk menghasilkan gambaran yang
detail dari tubuh manusia.

8. Kedokteran nuklir
Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang memanfaatkan materi
radio aktif yang menegakkan diagnosis dan mengobati penderita serta
mempelajari penyakit manusia.

35
 Pemeriksaan laboraturium

36

37

38

 Kadar-kadar normal:
1. Hematokrit(Hct)

Nilai normal: Pria : 40% - 50 % SI unit : 0,4 - 0,5 Wanita : 35% - 45% SI unit : 0.35 -
0,45

Deskripsi:

Hematokrit menunjukan persentase sel darah merah tehadap volume darah total.

Implikasi klinik:

• Penurunan nilai Hct merupakan indikator anemia (karena berbagai sebab),


reaksi hemolitik, leukemia, sirosis, kehilangan banyak darah dan hipertiroid.
Penurunan Hct sebesar 30% menunjukkan pasien mengalami anemia sedang
hingga parah. 


• Peningkatan nilai Hct dapat terjadi pada eritrositosis, dehidrasi, kerusakan


paru-paru kronik, polisitemia dan syok. 


39
• Nilai Hct biasanya sebanding dengan jumlah sel darah merah pada ukuran
eritrosit normal, kecuali pada kasus anemia makrositik atau mikrositik. 


• Pada pasien anemia karena kekurangan besi (ukuran sel darah merah lebih
kecil), nilai Hct akan terukur lebih rendah karena sel mikrositik terkumpul
pada volume yang lebih kecil, walaupun jumlah sel darah merah terlihat
normal. 


• Nilai normal Hct adalah sekitar 3 kali nilai hemoglobin. 


• Satu unit darah akan meningkatkan Hct 2% - 4%. 
 Faktor pengganggu 


• Individu yang tinggal pada dataran tinggi memiliki nilai Hct yang tinggi
demikian juga Hb dan sel darah merahnya. 


• Normalnya, Hct akan sedikit menurun pada hidremia fisiologis pada


kehamilan

• Nilai Hct normal bervariasi sesuai umur dan jender. Nilai normal untuk bayi
lebih tinggi karena bayi baru lahir memiliki banyak sel makrositik. Nilai Hct
pada wanita biasanya sedikit lebih rendah dibandingkan laki-laki. 


• Juga terdapat kecenderungan nilai Hct yang lebih rendah pada kelompok umur
lebih dari 60 tahun, terkait dengan nilai sel darah merah yang lebih rendah
pada kelompok umur ini. 


• Dehidrasi parah karena berbagai sebab meningkatkan nilai Hct. 
 Hal yang
harus diwaspadai 
 Nilai Hct <20% dapat menyebabkan gagal jantung dan
kematian; Hct >60% terkait dengan pembekuan darah spontan

2. Hemoglobin(Hb) 
 Nilai normal : Pria : 13 - 18 g/dL SI unit : 8,1 - 11,2 mmol/L


Wanita: 12 - 16 g/dL SI unit : 7,4 – 9,9 mmol/L 


Deskripsi: 
 Hemoglobin adalah komponen yang berfungsi sebagai alat


transportasi oksigen (O2) dan karbon dioksida (CO2). Hb tersusun dari globin (empat
rantai protein yang terdiri dari dua unit alfa dan dua unit beta) dan heme (mengandung
atom besi dan porphyrin: suatu pigmen merah). Pigmen besi hemoglobin bergabung

40
dengan oksigen. Hemoglobin yang mengangkut oksigen darah (dalam arteri) berwarna
merah terang sedangkan hemoglobin yang kehilangan oksigen (dalam vena) berwarna
merah tua. Satu gram hemoglobin mengangkut 1,34 mL oksigen. Kapasitas angkut ini
berhubungan dengan kadar Hb bukan jumlah sel darah merah. 
 Penurunan protein
Hb normal tipe A1, A2, F (fetal) dan S berhubungan dengan anemia sel sabit. Hb juga
berfungsi sebagai dapar melalui perpindahan klorida kedalam dan keluar sel darah
merah berdasarkan kadar O2 dalam plasma (untuk tiap klorida yang masuk kedalam
sel darah merah, dikeluarkan satu anion HCO3). 
 Penetapan anemia didasarkan pada
nilai hemoglobin yang berbeda secara individual karena berbagai adaptasi tubuh
(misalnya ketinggian, penyakit paru-paru, olahraga). Secara umum, jumlah
hemoglobin kurang dari 12 gm/dL menunjukkan anemia. Pada penentuan status
anemia, jumlah total hemoglobin lebih penting daripada jumlah eritrosit. 


3. Eritrosit (sel darah merah)


Nilai normal: Pria: 4,4 - 5,6 x 106 sel/mm3 SI unit: 4,4 - 5,6 x 1012 sel/L Wanita:
3,8-5,0 x 106 sel/mm3 SI unit: 3,5 - 5,0 x 1012 sel/L
Deskripsi:
Fungsi utama eritrosit adalah untuk mengangkut oksigen dari paru-paru ke
jaringan tubuh dan mengangkut CO2 dari jaringan tubuh ke paru-paru oleh Hb.
Eritrosit yang berbentuk cakram bikonkaf mempunyai area permukaan yang luas
sehingga jumlah oksigen yang terikat dengan Hb dapat lebih banyak. Bentuk
bikonkaf juga memungkinkan sel berubah bentuk agar lebih mudah melewati
kapiler yang kecil. Jika kadar oksigen menurun hormon eritropoetin akan
menstimulasi produksi eritrosit.

Eritrosit, dengan umur 120 hari, adalah sel utama yang dilepaskan dalam sirkulasi.
Bila kebutuhan eritrosit tinggi, sel yang belum dewasa akan dilepaskan kedalam
sirkulasi. Pada akhir masa hidupnya, eritrosit yang lebih tua keluar dari sirkulasi
melalui fagositosis di limfa, hati dan sumsum tulang (sistem retikulo- endotelial).
Proses eritropoiesis pada sumsum tulang melalui beberapa tahap, yaitu: 1.
Hemocytoblast (prekursor dari seluruh sel darah); 2. Prorubrisit (sintesis Hb); 3.
Rubrisit (inti menyusut, sintesa Hb meningkat); 4. Metarubrisit (disintegrasi inti,
sintesa Hb meningkat; 5. Retikulosit (inti diabsorbsi); 6. Eritrosit (sel dewasa tanpa
inti).

41
4. Susunan Sel Darah Merah
• Mean Corpuscular Volume (MCV) (Volume korpuskuler rata – rata)
Perhitungan : MCV (femtoliter) = 10 x Hct (%) : Eritrosit (106 sel/μL) Nilai
normal : 80 – 100 (fL)


 Deskripsi : 
 MCV adalah indeks untuk menentukan ukuran sel darah merah.
MCV menunjukkan ukuran sel darah merah tunggal apakah sebagai Normositik
(ukuran normal), Mikrositik (ukuran kecil < 80 fL), atau Makrositik (ukuran kecil
>100 fL).


 Implikasi klinik :

Penurunan nilai MCV terlihat pada pasien anemia kekurangan besi, anemia
pernisiosa dan talasemia, disebut juga anemia mikrositik. 


Peningkatan nilai MCV terlihat pada penyakit hati, alcoholism, terapi


antimetabolik, kekurangan folat/vitamin B12, dan terapi valproat, disebut juga
anemia makrositik. 


Pada anemia sel sabit, nilai MCV diragukan karena bentuk eritrosit yang
abnormal. 


MCV adalah nilai yang terukur karenanya memungkinkan adanya variasi


berupa mikrositik dan makrositik walaupun nilai MCV tetap normal. 


MCV pada umumnya meningkat pada pengobatan Zidovudin (AZT) dan


sering digunakan sebagi pengukur kepatuhan secara tidak langsung. 


• Mean Corpuscular Hemoglobin (MCH) (Hemoglobin Korpuskuler rata –


rata) 
 Perhitungan : MCH (picogram/sel) = hemoglobin/sel darah merah

Nilai normal : 28– 34 pg/ sel 


• Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration (MCHC) (Konsentrasi


Hemoglobin Korpuskuler rata – rata)
Perhitungan : MCHC = hemoglobin/hematokrit Nilai normal : 32 – 36 g/dL

42
5. Leukosit (sel darah putih)
Nilai normal : 3200 – 10.000/mm3 SI : 3,2 – 10,0 x 109/L
Deskripsi:
Fungsi utama leukosit adalah melawan infeksi, melindungi tubuh dengan
memfagosit organisme asing dan memproduksi atau mengangkut/
mendistribusikan antibodi. Ada dua tipe utama sel darah putih:
• Granulosit: neutrofil, eosinofil dan basofil
• Agranulosit: limfosit dan monosit

Leukosit terbentuk di sumsum tulang (myelogenous), disimpan dalam jaringan


limfatikus (limfa, timus, dan tonsil) dan diangkut oleh darah ke organ dan jaringan.
Umur leukosit adalah 13-20 hari. Vitamin, asam folat dan asam amino dibutuhkan
dalam pembentukan leukosit. Sistem endokrin mengatur produksi, penyimpanan
dan pelepasan leukosit. Perkembangan granulosit dimulai dengan myeloblast (sel
yang belum dewasa di sumsum tulang), kemudian berkembang menjadi
promyelosit, myelosit (ditemukan di sumsum tulang), metamyelosit dan bands
(neutrofil pada tahap awal kedewasaan), dan akhirnya, neutrofil. Perkembangan
limfosit dimulai dengan limfoblast (belum dewasa) kemudian berkembang
menjadi prolimfoblast dan akhirnya menjadi limfosit (sel dewasa). Perkembangan
monosit dimulai dengan monoblast (belum dewasa) kemudian tumbuh menjadi
promonosit dan selanjutnya menjadi monosit (sel dewasa).

6. Trombosit(platelet)
Nilai normal : 170 – 380. 103/mm3 SI : 170 – 380. 109/L
Deskripsi
Trombosit adalah elemen terkecil dalam pembuluh darah. Trombosit diaktivasi
setelah kontak dengan permukaan dinding endotelia. Trombosit terbentuk dalam
sumsum tulang. Masa hidup trombosit sekitar 7,5 hari. Sebesar 2/3 dari seluruh
trombosit terdapat disirkulasi dan 1/3 nya terdapat di limfa.

7. Warna urin Deskripsi


• Warna urin dipengaruhi oleh konsentrasi, adanya obat, senyawa eksogen dan

43
endogen, dan pH
• Warna merah coklat menunjukkan urin mengandung hemoglobin, myoglobin,
pigmen empedu, darah atau pewarna. Dapat juga karena pemakaian
klorpromazin, haloperidol, rifampisin, doksorubisin, fenitoin, ibuprofen.
Warna merah coklat dapat berarti urin bersifat asam (karena metronidazol)
atau alkali (karena laksatif, metildopa)
• Warna kuning merah (pink) menunjukkan adanya sayuran, bit, fenazopiridin
atau katartik fenolftalein, ibuprofen, fenitoin, klorokuin
• Warna biru-hijau menunjukkan pasien mengkonsumsi bit, bakteri
Pseudomonas, pigmen empedu, amitriptilin,
• Warna hitam menunjukkan adanya, alkaptouria
• Warna gelap menunjukkan porfiria, malignant melanoma (sangat jarang)
• Urin yang keruh merupakan tanda adanya urat, fosfat atau sel darah putih
(pyuria), polymorphonuclear (PMNs), bakteriuria, obat kontras radiografi.
• Urin yang berbusa mengandung protein atau asam empedu
• Kuning kecoklatan menunjukkan primakuin, sulfametoksazol, bilirubin,
urobilin

8. pH urin (normal 5,0-7,5)


Deskripsi
Dipengaruhi oleh diet dan vegetarian dimana asupan asam sangat rendah sehingga
membuat urin menjadi alkali. pH urin mempengaruhi terbentuknya Kristal.
Misalnya pada pH urin asam dan peningkatan specific gravity akan mempermudah
terbentuknya kristal asam urat .

9. Protein
Jumlah protein dapat dilacak pada pasien yang berdiri dalam periode waktu yang
panjang. Protein urin dihitung dari urin yang dikumpulkan selama 24 jam.
Proteinuria (dengan metode dipstick) : +1 = 100 mg/dL, +2 = 300 mg/dL, +4 =
1000 mg/dL. Dikatakan proteinuria bila lebih dari 300 mg/hari. Hasil positif palsu
dapat terjadi pada pemakaian obat berikut:
• penisilin dosis tinggi, • klorpromazin,
 • tolbutamid
 • golongansulfa
Dapat memberikan hasil positif palsu bagi pasien dengan urin alkali. Protein dalam
urin dapat: (i) normal, menunjukkan peningkatan permeabilitas glomerular atau
gangguan tubular ginjal, atau (ii) abnormal, disebabkan multiple mieloma dan
protein Bence-Jones.

44
10. Glukosa
Korelasi antara urin glukosa dengan glukosa serum berguna dalam memonitor dan
penyesuaian terapi antidiabetik.

45
LO.1.4. Prosedur Medical Checkup
 Persiapan sebelum melakukan Medical Checkup
1. Puasa
Biasanya, anjuran puasa dilakukan untuk jangka waktu 10 jam sampai 12
jam. Selama jam puasa, pasien tidak diperbolehkan mengonsumsi apapun,
kecuali air mineral. Beberapa pemeriksaan laboraturium yang diannjurkan
untuk berpuasa antara lain pemeriksaan glukosa, kolesterol, urea, dan asam
urat.

2. Konsumsi obat
Beberapa obat dapat memiliki dampak langsung terhadap hasil tes darah.
Bat dari golongan steroid, misalnya, berdampak pada peningkatan
kolesterol. Namun, bila pengonsumsian obat tak dapat dihindari pasien bisa
menginformasikan obat-obatan yang dikonsumsi itu pada petugas
laboraturium

3. Olahraga
Anjuran untuk tidak berolahraga atau melakukan aktivitas yang berat
sebelum menjalankan MCU juga berdasarkan alasan dampaknya terhadap
tekanan darah. Wajar saja sesudah olahraga ada kecenderungan tekanan
darah meningkat. Namun, bila situasi ini terjadi menjelang dan saat MCU,
hasil tes laboraturium bisa mendiagnosa eseorang mengalami tekanan darah
tinggi (hipertensi).

4. Tidur cukup
Kualitas dan kuantitas tidur memiliki kaitan pula dengan dengan tekanan
darah. Pertanyaannya, berapa waktu tidur yang cukup itu? Menurut
penelitian National Sleep Foundation, waktu tidur yang ideal untuk orang
dewasa itu yang berusia 18 sampai 64 tahun adalah 7 sampai 9 jam.

5. Waktu tes
Di luar prosedur, ada anjuran pula MCU dilakukan pada pagi hari. Meski
tidak diwajibkan, anjuran ini bisa jadi pertimbangan karena juga ada
alasannya.

46
Pada dasarnya, tubuh ada waktu biologisnya. Pada pagi hari dalah keadaan
terbaik tubuh setelah semalaman beristirahat penuh. Terlebih lagi, aktivitas
yang dilakukan tubuh pada pagi hari belum terlalu berat. Harpannya, MCU
akan memberikan hasil lebih akurat dengan pilihan waktu ini.

 Proses-proses Medical Checkup


1. Pra Analitik (X1)
Persiapan Pasien Penerimaan Spesimen Pengambilan Spesimen Pemberian
Etiket
2. Analitik (X2)
Pengolahan Spesimen Pemeliharaan/Kalibrasi Alat Pelaksanaan Pemeriksaan
3. Pasca Analitik (X3)
Pencatatan Hasil Pemeriksaan Pelaporan Hasil Kontrol Ketelitian
4. Kontrol Ketelitian & Ketepatan (X4)
Pemantapan Mutu Internal / Eksternal

47
LO.1.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi Medical Checkup
 PERSIAPAN
1. Persiapan Pasien Secara Umum
a. Persiapan pasien untuk pengambilan spesimen pada keadaan basal:
1) Untuk pemeriksaan tertentu pasien harus puasa selama 812 jam sebelum
diambil darah (lihat tabel 5).
2) Pengambilan spesimen sebaiknya pagi hari antara pukul 07.00 -09.00.
Jenis pemeriksaan yang perlu berpuasa:
JENIS PEMERIKSAAN WAKTU PUASA
Glukosa Puasa 10-12 jam
TTG (Tes Toleransi Glukosa) Puasa 10-12 jam
Glukosa kurva harian Puasa 10-12 jam
Trigliserida Puasa 12 jam
Asam urat Puasa 10-12 jam
VMA Puasa 10-12 jam
Renin (PRA) Puasa 10-12 jam
Insulin Puasa 8 jam
C. peptide Puasa 8 jam
Gastrin Puasa 12jam
Aldosterone Puasa 12 jam
Homocysteine Puasa 12 jam
Lp(a) Puasa 12 jam
PTH Intact Puasa 12 jam
Apo A1 Dianjurkan Puasa 12 jam
ApoB Dianjurkan Puasa 12 jam

b. Menghindari obat-obatan sebelum spesimen diambil:

1) untuk pemeriksaan dengan spesimen darah, tidak minum obat 24 jam


sebelum pengambilan spesimen.
2) untuk pemeriksaan dengan spesimen urin, tidak minum obat 72 jam
sebelum pengambilan spesimen.
3) apabila pemberian pengobatan tidak memungkinkan untuk dihentikan,
harus diinformasikan kepada petugas laboratorium. Contoh: Sebelum
pemeriksaan gula 2 jam pp pasien minum obat antidiabetes.
c. Menghindari aktifitas fisik/olah raga sebelum spesimen diambil.

48
d. Memperhatikan posisi tubuh Untuk menormalkan keseimbangan cairan
tubuh dari perubahan posisi, dianjurkan pasien duduk tenang sekurang-
kurangnya 15 menit sebelum diambil darah.
e. Memperhatikan variasi diurnal (perubahan kadar analit sepanjang hari)
Pemeriksaan yang dipengaruhi variasi diurnal perlu diperhatikan waktu
pengambilan darahnya, antara lain pemeriksaan ACTH, Renin, dan
Aldosteron.

2. Faktor pada pasien yang mempengaruhi hasil pemeriksaan.

a. Diet
Makanan minuman dapat mempengaruhi hasil beberapa jenis pemeriksaan,
baik langsung maupun tidak langsung, misalnya:
1) Pemeriksaan gula darah dan trigliserida Pemeriksaan ini dipengaruhi
secara langsung oleh makanan dan minuman (kecuali air putih tawar).
Karena pengaruhnya yang sangat besar, maka pada pemeriksaan gula
darah puasa, pasien perlu dipuasakan 10-12 jam sebelum darah diambil
dan pada pemeriksaan trigliserida perlu dipuasakan sekurang kurangnya
12 jam.\
2) Pemeriksaan laju endap darah, aktivitas enzim, besi dan trace element
Pemeriksaan ini dipengaruhi secara tidak langsung oleh makanan dan
minuman karena makanan dan minuman akan mempengaruhi reaksi
dalam proses pemeriksaan sehingga hasilnya menjadi tidak benar.

b. Obat-obat
Obat-obat yang diberikan baik secara oral maupun cara lainnya akan
menyebabkan terjadinya respon tubuh terhadap obat tersebut. Disamping
itu pemberian obat secara intramuskular akan menimbulkan jejas pada otot
sehingga mengakibatkan enzim yang dikandung oleh sel otot masuk ke
dalam darah, yang selanjutnya akan mempengaruhi hasil pemeriksaan
antara lain pemeriksaan Creatin kinase (CK) dan Lactic dehydrogenase
(LDH). Obat-obat yang sering digunakan dan dapat mempengaruhi
pemeriksaan dapat dilihat pada table:

49
JENIS OBAT PEMERIKSAAN YANG
DIPENGARUHI
Diuretik 2) Hampir seluruh hasil
pemeriksaan substrat dan enzim
dalam darah akan meningkat
karena terjadi hemokonsentrasi,
terutama pemeriksaan Hb,
hitung sel, hematokrit, elektrolit
3) Pada urin akan terjadi
pengenceran
Cafein Sama dengan diuretic
Thiazide 4) Glukosa darah
5) Tes toleransi puasa
6) Ureum darah
Pil KB (Hormone) 7) LED
8) Kadar hormone
Morfin Enzim hati (GOT, GPT)
Phenobartial GGT
Efedrin Amphetamine dan memphatamine
Asetosal Uji hemostasis
Vitamin C Analisis kimia urin
Obat antidiabetika 9) Glukosa darah
10) Glukosa urin
Kortikosteroid 11) Hitung eosinophil
12) Tes toleransi glukosa

c. Merokok
Merokok menyebabkan terjadinya perubahan cepat dan lambat pada kadar
zat tertentu yang diperiksa. Perubahan cepat terjadi dalam 1 jam hanya
dengan merokok 1-5 batang dan terlihat akibatnya berupa peningkatan
kadar asam lemak, epinefrin, gliserol bebas, aldosteron dan kortisol.
Ditemukan peningkatan kadar Hb pada perokok kronik. Perubahan lambat
terjadi pada hitung leukosit, lipoprotein, aktivitas beberapa enzim, hormon,
vitamin, petanda tumor dan logam berat.

d. Alkohol
Konsumsi alkohol juga menyebabkan perubahan cepat dan lambat beberapa
kadar analit. Perubahan cepat terjadi dalam waktu 2-4 jam setelah konsumsi
alkohol dan terlihat akibatnya berupa peningkatan pada kadar glukosa,

50
laktat, asam urat, dan terjadi asidosis metabolik. Perubahan lambat berupa
peningkatan aktifitas γ-glutamyltransferase, AST, ALT, trigliserida,
kortisol dan MCV (mean corpuscular volume) sel darah merah.

e. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik dapat menyebabkan terjadinya pemindahan cairan tubuh
antara kompartemen di dalam pembuluh darah dan interstitial, kehilangan
cairan karena berkeringat dan perubahan kadar hormon. Akibatnya akan
terdapat perbedaan yang besar antara kadar gula darah di arteri dan di vena
serta terjadi perubahan konsentrasi gas darah, kadar asam urat, kreatinin,
aktivitas CK, AST, LDH, LED, Hb, hitung sel darah dan produksi urin.

f. Ketinggian/altitude
Beberapa parameter pemeriksaan menunjukkan perubahan yang nyata
sesuai dengan tinggi rendahnya daratan terhadap permukaan laut. Parameter
tersebut adalah CRP, B2-globulin, hematokrit, hemoglobin dan asam urat.
Adaptasi terhadap perubahan ketinggian daratan memerlukan waktu harian
hingga berminggu-minggu.

g. Demam
Pada waktu demam akan terjadi:
1) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan, dengan akibat terjadi
peningkatan kadar insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan
kadar gula darah pada tahap lebih lanjut.
2) Peningkatan gula darah pada tahap permulaan, dengan akibat terjadi
peningkatan kadar insulin yang akan menyebabkan terjadinya penurunan
kadar gula darah pada tahap lebih lanjut.
3) Lebih mudah menemukan parasit malaria dalam darah.
4) Lebih mudah mendapatkan biakan positif.
5) Reaksi anamnestik yang akan menyebabkan kenaikan titer Widal.

h. Trauma
Trauma dengan luka perdarahan akan menyebabkan antara lain terjadinya
penurunan kadar substrat maupun aktivitas enzim yang akan diukur,
termasuk kadar Hb, hematokrit dan produksi urin. Hal ini disebabkan
karena terjadi pemindahan cairan tubuh ke dalam pembuluh darah sehingga
mengakibatkan terjadinya pengenceran darah. Pada tingkat lanjut akan

51
terjadi peningkatan kadar ureum dan kreatinin serta enzim-enzim yang
berasal dari otot.

i. Variasi circadian rythme


Pada tubuh manusia terjadi perbedaan kadar zat-zat tertentu dalam tubuh
dari waktu ke waktu yang disebut dengan variasi circadian rhytme.
Perubahan kadar zat yang dipengaruhi oleh waktu dapat bersifat linear
(garis lurus) seperti umur, dan dapat bersifat siklus seperti siklus harian
(variasi diurnal), siklus bulanan (menstruasi) dan musiman. Variasi diurnal
yang terjadi antara lain:
1) Besi serum, kadar besi serum yang diambil pada sore hari akan lebih
tinggi daripada pagi hari.
2) Glukosa, kadar insulin akan mencapai puncaknya pada pagi hari,
sehingga apabila tes toleransi glukosa dilakukan pada siang hari, maka
hasilnya akan lebih tinggi daripada bila dilakukan pada pagi hari.
3) Enzim, Aktivitas enzim yang diukur akan berfluktuasi disebabkan oleh
kadar hormon yang berbeda dari waktu ke waktu.
4) Eosinofil, Jumlah eosinofil menunjukkan variasi diurnal, jumlahnya
akan lebih rendah pada malam sampai pagi hari dibandingkan pada
siang hari.
5) Kortisol, kadarnya lebih tinggi pada pagi hari dibandingkan pada malam
hari.
6) Kalium, pada pagi hari lebih tinggi daripada siang hari.
Selain yang sifatnya harian dapat terjadi variasi fluktuasi kadar zat dalam
tubuh yang sifatnya bulanan. Variasi siklus bulanan umumnya pada wanita
karena terjadi menstruasi dan ovulasi setiap bulan. Pada masa sesudah
menstruasi akan terjadi penurunan kadar besi, protein dan fosfat dalam
darah disamping perubahan kadar hormon seks. Demikian pula pada saat
ovulasi terjadi peningkatan kadar aldosteron dan renin serta penurunan
kadar kolesterol darah.

j. Umur
Umur berpengaruh terhadap kadar dan aktivitas zat dalam darah. Hitung
eritrosit dan kadar Hb jauh lebih tinggi pada neonatus daripada dewasa.
Fosfatase alkali, kolesterol total dan kolesterol-LDL akan berubah dengan
pola tertentu sesuai dengan pertambahan umur.

52
k. Ras
Jumlah leukosit orang kulit hitam Amerika lebih rendah daripada orang
kulit putihnya. Demikian juga dengan aktivitas CK. Keadaan serupa
dijumpai pada ras bangsa lain seperti perbedaan aktivitas amilase, kadar
vitamin B12 dan lipoprotein.

l. Jenis Kelamin (gender)


Berbagai kadar dan aktivitas zat dipengaruhi oleh jenis kelamin. Kadar besi
serum dan kadar Hb berbeda pada wanita dan pria dewasa. Perbedaan ini
akan menjadi tidak bermakna lagi setelah umur lebih dari 65 tahun.
Perbedaan akibat gender lainnya adalah aktivitas CK dan kreatinin.
Perbedaan ini lebih disebabkan karena massa otot pria relatif lebih besar
daripada wanita. Sebaliknya kadar hormon seks wanita, prolaktin dan
kolesterol-HDL akan dijumpai lebih tinggi pada wanita daripada pria.

m. Kehamilan
Bila pemeriksaan dilakukan pada pasien hamil, sewaktu interpretasi hasil
perlu mempertimbangkan masa kehamilan wanita tersebut. Pada
Kehamilan akan terjadi hemodilusi (pengenceran darah) yang dimulai pada
minggu ke-10 kehamilan dan terus meningkat sampai minggu ke-35
kehamilan. Volume urin akan meningkat 25% pada trimester ke-3. Selama
kehamilan akan terjadi perubahan kadar hormone kelenjar tiroid, elektrolit,
besi, dan ferritin, protein total dan albumin, lemak, aktivitas fosfatase alkali
dan faktor koagulasi serta laju endap darah. Penyebab perubahan tersebut
dapat disebabkan karena induksi oleh kehamilan, peningkatan protein
transport, hemodilusi, volume tubuh yang meningkat, defisiensi relatif
karena peningkatan kebutuhan atau peningkatan protein fase akut.

 PENGAMBILAN
1. Peralatan
Secara umum peralatan yang digunakan harus memenuhi syaratsyarat:
a. bersih.
b. kering.
c. tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.

53
d. terbuat dari bahan yang tidak mengubah zat-zat yang ada pada spesimen.
e. mudah dicuci dari bekas spesimen sebelumnya.
f. pengambilan spesimen untuk pemeriksaan biakan harus menggunakan
peralatan yang steril. Pengambilan spesimen yang bersifat invasif harus
menggunakan peralatan yang steril dan sekali pakai buang.

2. Wadah
Wadah spesimen harus memenuhi syarat:
a. terbuat dari gelas atau plastik.
b. tidak bocor atau tidak merembes.
c. harus dapat ditutup rapat dengan tutup berulir.
d. besar wadah disesuaikan dengan volume spesimen.
e. bersih.
f. kering.
g. tidak mempengaruhi sifat zat-zat dalam spesimen.
h. tidak mengandung bahan kimia atau deterjen.
i. untuk pemeriksaan zat dalam spesimen yang mudah rusak atau terurai
karena pengaruh sinar matahari, maka perlu digunakan botol berwarna
coklat (inaktinis).
j. untuk pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman, wadah harus steril.
Untuk wadah spesimen urin, dahak, tinja sebaiknya menggunakan
wadah yang bermulut lebar.

3. Antikoagulan dan Pengawet


Antikoagulan adalah zat kimia yang digunakan untuk mencegah sampel
darah membeku. Pengawet adalah zat kimia yang ditambahkan ke dalam
sampel agar analit yang akan diperiksa dapat dipertahankan kondisi dan
jumlahnya untuk kurun waktu tertentu.
Beberapa spesimen memerlukan bahan tambahan berupa bahan pengawet
atau antikoagulan. Beberapa contoh penggunaan antikoagulan/pengawet
yang digunakan untuk spesimen dapat dilihat pada tabel 7. Kesalahan
dalam pemberian bahan tambahan tersebut dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan. Bahan tambahan yang dipakai harus memenuhi
persyaratan yaitu tidak mengganggu atau mengubah kadar zat yang akan
diperiksa.

54
4. Waktu
Pada umumnya pengambilan spesimen dilakukan pada pagi hari, terutama
untuk pemeriksaan kimia klinik, hematologi, dan imunologi karena
umumnya nilai normal ditetapkan pada keadaan basal. Namun ada beberapa
pemeriksaan yang waktu pengambilan spesimennya harus disesuaikan
dengan perjalanan penyakit dan fluktuasi harian, misalnya:
a. Demam tifoid Untuk pemeriksaan biakan darah, paling baik dilakukan
pada minggu I atau II sakit, sedangkan biakan urin atau tinja dilakukan
pada minggu II atau III.
b. Untuk pemeriksaan Widal dilakukan pada fase akut dan penyembuhan.
c. Pemeriksaan biakan dan uji kepekaan kuman. Spesimen harus diambil
sebelum pemberian antibiotika.
d. Pemeriksaan Gonorrhoe
Untuk menemukan kuman gonorrhoe, pengambilan sekret uretra
sebaiknya dilakukan 2 jam setelah buang air kecil yang terakhir.
e. Pemeriksaan mikrofilaria
Untuk menemukan parasit mikrofilaria dalam darah, pengambilan
darah sebaiknya dilakukan pada waktu malam (antara jam 20-23).
f. Pemeriksaan tuberkulosis
Dahak diambil pada pagi hari segera setelah pasien bangun tidur
memungkinkan ditemukan kuman M tuberkulosis lebih besar
dibandingkan dengan dahak sewaktu.
g. Pemeriksaan narkoba
Pemeriksaan darah dan urin untuk deteksi morfin,ganja dan lain-lain
dipengaruhi oleh waktu /lama sejak mengonsumsi.

5. Lokasi
Sebelum mengambil spesimen, harus ditetapkan terlebih dahulu lokasi
pengambilan yang tepat sesuai dengan jenis pemeriksaan yang diminta,
misalnya:
a. Spesimen untuk pemeriksaan yang menggunakan darah vena umumnya
diambil dari vena cubiti daerah siku. Spesimen darah arteri umumnya
diambil dari arteri radialis di pergelangan tangan atau arteri femoralis di
daerah lipat paha. Spesimen darah kapiler diambil dari ujung jari tengah
tangan atau jari manis tangan bagian tepi atau pada daerah tumit 1/3
bagian tepi telapak kaki atau cuping telinga pada bayi. Tempat yang
dipilih tidak boleh memperlihatkan gangguan peredaran darah seperti
"cyanosis" atau pucat dan pengambilan tidak boleh di lengan yang
sedang terpasang infus.

55
b. Spesimen untuk pemeriksaan biakan, harus diambil di tempat yang
sedang mengalami infeksi, kecuali darah dan cairan otak. Lokasi
pengambilan darah untuk pemeriksaan:
 mikrofilaria: sampel diambil dari darah kapiler (jari tangan).
atau darah vena dengan anti koagulan.
 gas darah: sampel berupa darah heparin yang diambil dari
pembuluh arteri.

6. Volume
Volume spesimen yang diambil harus mencukupi kebutuhan pemeriksaan
laboratorium yang diminta atau dapat mewakili objek yang diperiksa.

7. Teknik
Pengambilan spesimen harus dilaksanakan dengan cara yang benar, agar
spesimen tersebut mewakili keadaan yang sebenarnya. Teknik pengambilan
untuk beberapa spesimen yang sering diperiksa.
a. Darah Vena (dengan cara plebotomi/menggunakan tabung vakum)
1) Posisi pasien duduk atau berbaring dengan posisi lengan pasien
harus lurus, jangan membengkokkan siku. Pilih lengan yang banyak
melakukan aktivitas.
2) Pasien diminta untuk mengepalkan tangan
3) Pasang "torniquet"± 10 cm di atas lipat siku
4) Pilih bagian vena mediana cubiti
5) Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil darahnya dengan
alkohol 70% dan biarkan kering untuk mencegah terjadinya
hemolisis dan rasa terbakar. Kulit yang sudah dibersihkan jangan
dipegang lagi.
6) Tusuk bagian vena tadi dengan jarum, lubang jarum menghadap ke
atas dengan sudut kemiringan antara jarum dan kulit 15 derajat,
tekan tabung vakum sehingga darah terisap ke dalam tabung. Bila
jarum berhasil masuk vena, akan terlihat darah masuk dalam
semprit. Selanjutnya lepas torniquet dan pasien diminta lepaskan
kepalan tangan.
7) Biarkan darah mengalir ke dalam tabung sampai selesai. Apabila
dibutuhkan darah dengan antikoagulan yang berbeda dan volume
yang lebih banyak, digunakan tabung vakum yang lain.
8) Tarik jarum dan letakkan kapas alkohol 70 % pada bekas tusukan
untuk menekan bagian tersebut selama ± 2 menit. Setelah darah
berhenti, plester bagian ini selama ± 15 menit.

56
9) Tabung vakum yang berisi darah dibolak-balik kurang lebih 5 kali
agar bercampur dengan antikoagulan.

b. Darah kapiler
1) Bersihkan bagian yang akan ditusuk dengan alkohol 70 % dan
biarkan sampai kering lagi.
2) Peganglah bagian tersebut supaya tidak bergerak dan tekan sedikit
supaya rasa nyeri berkurang.
3) Tusuklah dengan cepat memakai lanset steril. Pada jari tusuklah
dengan arah tegak lurus pada garis-garis sidik kulit jari, jangan
sejajar dengan itu. Pada daun telinga tusuklah pinggirnya, jangan
sisinya.Tusukan harus cukup dalam supaya darah mudah keluar,
jangan menekan-nekan jari atau telinga untuk mendapat cukup
darah. Darah yang diperas keluar semacam itu telah bercampur
dengan cairan jaringan sehingga menjadi encer dan menyebabkan
kesalahan dalam pemeriksaan.
4) Buanglah tetes darah yang pertama keluar dengan memakai
segumpal kapas kering, tetes darah berikutnya boleh dipakai untuk
pemeriksaan.

c. Urin
1) Pada wanita Pada pengambilan spesimen urin porsi tengah yang
dilakukan oleh penderita sendiri, sebelumnya harus diberikan
penjelasan sebagai berikut:
a) Penderita harus mencuci tangan memakai sabun kemudian
dikeringkan dengan handuk.
b) Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan.
c) Bersihkan labia dan vulva menggunakan kasa steril dengan arah
dari depan ke belakang
d) Bilas dengan air hangat dan keringkan dengan kasa steril yang
lain,
e) Selama proses ini berlangsung, keluarkan urin, aliran urin yang
pertama keluar dibuang. Aliran urin selanjutnya ditampung
dalam wadah yang sudah disediakan.
f) Hindari urin mengenai lapisan tepi wadah.
g) Pengumpulan urin selesai sebelum aliran urin habis.
h) Wadah ditutup rapat dan segera dikirimkan ke laboratorium.
2) Pada laki-laki:
a) Penderita harus mencuci tangan memakai sabun.

57
b) Jika tidak disunat tarik kulit preputium ke belakang, keluarkan
urin, aliran yang pertama keluar dibuang, aliran urin selanjutnya
ditampung dalam wadah yang sudah disediakan. Hindari urin
mengenai lapisan tepi wadah. Pengumpulan urin selesai
sebelum aliran urin habis.
c) Wadah ditutup rapat dan segera dikirim ke laboratorium.
3) Pada bayi dan anak-anak
a) Penderita sebelumnya diberi minum untuk memudahkan buang
air kecil.
b) Bersihkan alat genital seperti yang telah diterangkan di atas.
c) Pengambilan urin dilakukan dengan cara:
 Anak duduk di pangkuan perawat.
 Pengaruhi anak untuk mengeluarkan urin, tampung urin
dalam wadah atau kantung plastik steril.
 Bayi dipasang kantung penampung urin pada alat
genital.

d. Urin kateter
1) Lakukan disinfeksi dengan alkohol 70 % pada bagian selang kateter
yang terbuat dari karet (jangan bagian yang terbuat dari plastik).
2) Aspirasi urin dengan menggunakan samprit sebanyak kurang lebih
10 ml.
3) Masukkan ke dalam wadah steril dan tutup rapat.
4) Kirimkan segera ke laboratorium.

e. Urin aspirasi suprapubik


Urin aspirasi suprapubik harus dilakukan pada kandung kemih yang
penuh.
1) Lakukan desinfeksi kulit di daerah suprapubik dengan Povidone
Iodine 10%, kemudian bersihkan sisa povidone iodine dengan kapas
alkohol 70%.
2) Aspirasi urin tepat di titik suprapubik menggunakan semprit.
3) Ambil urin sebanyak kurang lebih 20 ml dengan cara aseptik
(dilakukan oleh petugas yang berwenang).
4) Masukkan ke dalam wadah steril dan tutup rapat.
5) Kirimkan segera ke laboratorium.

58
Catatan: untuk pemeriksaan narkoba urin pengambilan sampel
harus disaksikan oleh petugas sesuai jenis kelamin.

f. Tinja
Tinja untuk pemeriksaan sebaiknya yang berasal dari defekasi spontan
(tanpa bantuan obat pencahar), jika pemeriksaan sangat diperlukan,
dapat pula sampel tinja diambil dari rektum dengan cara colok dubur.

g. Dahak
Pasien diberi penjelasan mengenai pemeriksaan dan tindakan yang akan
dilakukan, dan dijelaskan perbedaan dahak dengan ludah. Bila pasien
mengalami kesulitan mengeluarkan dahak, pada malam hari
sebelumnya diminta minum teh manis atau diberi obat gliseril
guayakolat 200 mg.
1) Sebelum pengambilan spesimen, pasien diminta untuk berkumur
dengan air.
2) Bila memakai gigi palsu, sebaiknya dilepas.
3) Pasien berdiri tegak atau duduk tegak.
Pasien diminta untuk menarik nafas dalam, 2-3 kali kemudian
keluarkan nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan berulang
kali sampai sputum keluar.
4) Dahak yang dikeluarkan langsung ditampung di dalam wadah,
dengan cara mendekatkan wadah ke mulut. Amati keadaan dahak.
Dahak yang berkualitas baik akan tampak kental purulen dengan
volume cukup (3-5 ml).
5) Tutup wadah dan segera kirim ke laboratorium.

h. Sekret Uretra
1) Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
2) Petugas mengenakan sarung tangan.
3) Bagi yang tidak disirkumsisi, preputium ditarik ke arah pangkal.

59
4) Bersihkan sekitar lubang kemaluan dengan NaCI fisiologis steril,
kemudian sekret dikeluarkan dengan menekan atau mengurut uretra
dari pangkal ke ujung.
5) Sekret yang keluar diambil dengan lidi kapas steril atau sengkelit.
6) Apabila tidak ada sekret yang keluar atau terlalu sedikit, masukkan
sengkelit atau lidi kapas steril berpenampang 2 mm kedalam uretra
sedalam kira-kira 2-3 cm sambil diputar searah jarum jam,
kemudian ditarik keluar.
7) Sekret diambil 2 kali yaitu untuk pemeriksaan mikroskopik dan
untuk biakan.

i. Sekret Endoservik
1) Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan
2) Pasien berbaring telentang di atas kursi obstetrik dengan kedua lutut
diletakkan pada penyangganya.
3) Petugas mengenakan sarung tangan.
4) Spekulum dibasahi dengan air hangat kemudian masukkan ke dalam
vagina.
5) Masukkan lidi kapas steril ke dalam canalis cervicalis sedalam 2-3
cm, putar searah jarum jam dan diamkan selama 5-10 detik supaya
sekret terserap oleh kapas kemudian keluarkan lidi kapas tanpa
menyentuh spekulum.
6) Sekret diambil 2 kali yaitu untuk pemeriksaan mikroskopik dan
untuk biakan.
7) Spekulum yang habis dipakai direndam dalam larutan hipoklorit
0,1%.
8) Apabila selaput dara masih utuh, tidak dilakukan pengambilan
sekret endoservik.

j. Sekret vagina
Pengambilan bahan pemeriksaan sama dengan sekret endoservik hanya
dilakukan pada fornix posterior.

k. Swab rektum
1) Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
2) Pasien dalam posisi menungging.
3) Petugas mengenakan sarung tangan.

60
4) Masukkan lidi kapas steril sedalam 3 cm ke dalam saluran anal,
putar beberapa detik untuk mendapatkan sekret dari crypta di dalam
lingkaran anal.

l. Swab orofaring
Sekret diambil dari tonsil atau bagian posterior faring.

m. Pus dari luka purulen/ulcus


1) Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
2) Bersihkan luka dengan kain kasa yang telah dibasahi dengan NaCI
fisiologis sebanyak 3 kali untuk menghilangkan kotoran dan lapisan
eksudat yang mengering.
3) Tanpa menyentuh bagian kapas buka kapas lidi dari
pembungkusnya kemudian usapkan bagian kapasnya pada
luka/ulcus tanpa menyentuh bagian tepi luka/ulcus. Lakukan
sebanyak 2 kali dengan menggunakan 2 kapas lidi.
4) Kapas lidi dapat langsung diinokulasikan pada agar, atau dapat pula
dimasukkan ke dalam tabung media transpor.
5) Patahkan tangkai lidi yang berada di luar tabung.
6) Tutup tabung dengan erat.
7) Cantumkan identitas dengan jelas pada tabung dan gunakan surat
pengantar ke laboratorium.

n. Pus dari abses


1) Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan dilakukan.
2) Lakukan tindakan disinfeksi dengan povidone iodine 10% di atas
abses atau bagian yang akan ditusuk/diinsisi. Bersihkan sisa
povidone iodine dengan kapas alkohol 70%.
3) Tusukkan jarum dan hisap dengan semprit steril cairan eksudat atau
pus.
4) Cabut jarum, dan tutup dengan kapas steril.
5) Teteskan cairan aspirasi eksudat/pus pada lidi kapas steril.
6) Kapas lidi dapat langsung diinokulasikan pada agar, atau dapat pula
dimasukkan ke dalam media transpor. Sisa eksudat/pus pada
semprit dapat dimasukkan dalam wadah steril dan dikirim ke
laboratorium.

61
7) Rendam sisa semprit yang tidak terpakai lagi dalam larutan Natrium
hipoklorit 0,1% selama 30 menit lalu diautoklaf. Dapat juga
dilakukan incisi pada abses dan dengan kapas lidi steril usapkan
bagian dasar abses. Kapas lidi dapat langsung diinokulasikan pada
agar, atau dapat pula dimasukkan dalam media transport.

o. Usap nasofaring
1) Penderita duduk (kalau anak-anak dipangku).
2) Petugas berdiri di samping penderita.
3) Kepala ditegakkan dan tangan petugas memegang bagian belakang
kepala penderita.
4) Masukkan lidi dacron ke dalam rongga hidung. Posisi lidi tegak
lurus.
Panjang lidi yang masuk kira-kira ½ jarak ujung hidung sampai
telinga. Masukkan sampai menyentuh dinding belakang nasofaring,
kemudian tarik keluar.
5) Masukkan lidi dacron kedalam media transpor atau langsung tanam
pada media isolasi (Agar Darah, Agar Thayer Martin, Agar Cystin
Tellurite) dan dibuat sediaan.

p. Swab tenggorok
1) Penderita duduk (kalau anak-anak dipangku).
2) Penderita diminta membuka mulut.
3) Lidah ditekan dengan spatel lidah.
4) Masukkan lidi kapas yang sudah dibasahi dengan saline steril
hingga menyentuh dinding belakang faring,
5) Usap ke kiri dan kanan dinding belakang faring dan tonsil lalu tarik
keluar dengan hati-hati tanpa menyentuh bagian mulut yang lain.
6) Masukkan lidi kapas ke dalam media transpor atau langsung tanam
pada media isolasi (Agar Darah, Agar Thayer Martin, Agar Cystin
Tellurite) dan dibuat sediaan.

 PEMBERIAN IDENTITAS
Pemberian identitas pasien dan atau spesimen merupakan hal yang penting,
baik pada saat pengisian surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan,
pendaftaran, pengisian label wadah spesimen.
Pada surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya
memuat secara lengkap:

62
1. Tanggal permintaan
2. Tanggal dan jam pengambilan specimen
3. Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat/ruang) termasuk rekam
medik.
4. Identitas pengirim (nama, alamat, nomor telepon)
5. Nomor laboratorium
6. Diagnosis/keterangan klinik
7. Obat-obatan yang telah diberikan dan lama pemberian
8. Pemeriksaan laboratorium yang diminta
9. Jenis spesimen
10. Lokasi pengambilan specimen
11. Volume specimen
12. Transpor media/pengawet yang digunakan
13. Nama pengambil specimen
14. Informed concern
Label wadah spesimen yang akan dikirim atau diambil ke laboratorium harus
memuat:
1. Tanggal pengambilan specimen
2. Nama dan nomor Pasien
3. Jenis spesimen

 PENGOLAHAN
Beberapa contoh pengolahan spesimen seperti tercantum dibawah ini:
1. Darah (Whole Blood)
Darah yang diperoleh ditampung dalam tabung yang telah berisikan
antikoagulan yang sesuai, kemudian dihomogenisasi dengan cara
membolak-balik tabung kira-kira 10-12 kali secara perlahan-lahan dan
merata.
2. Serum
a. Biarkan darah membeku terlebih dahulu pada suhu kamar selama 20-30
menit, kemudian disentrifus 3000 rpm selama 5-15 menit.
b. Pemisahan serum dilakukan paling lambat dalam waktu 2 jam setelah
pengambilan spesimen.
c. Serum yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh
(lipemik).
3. Plasma
a. Kocok darah EDTA atau sitrat dengan segera secara pelan-pelan.

63
b. Pemisahan plasma dilakukan dalam waktu 2 jam setelah pengambilan
spesimen.
c. Plasma yang memenuhi syarat harus tidak kelihatan merah dan keruh
(lipemik).
4. Urin
Untuk uji carik celup, urin tidak perlu ada perlakuan khusus, kecuali
pemeriksaan harus segera dilakukan sebelum 1 jam, sedangkan untuk
pemeriksaan sedimen harus dilakukan pengolahan terlebih dahulu dengan
cara:
a. Wadah urin digoyangkan agar memperoleh sampel yang tercampur
(homogen).
b. Masukkan ±15 ml urin ke dalam tabung sentrifus.
c. Putar urin selama 5 menit pada 1500-2000 rpm.
d. Buang supernatannya, sisakan ± 1 ml, kocoklah tabung untuk
meresuspensikan sedimen.
e. Suspensi sedimen ini sebaiknya diberi cat sternheimer-malbin untuk
menonjolkan unsur sedimen dan memperjelas strukturnya.
5. Dahak
a. Masukkan dahak ke dalam tabung steril yang berisi NaOH 4 % sama
banyak.
b. Kocok dengan baik.
c. Inkubasi pada suhu kamar (25 -30°C) selama 15 -20 menit dengan
pengocokan teratur tiap 5 menit.
d. Sentrifus tabung dengan kecepatan tinggi selama 8-10 menit.
e. Buang supernatan ke dalam larutan Lysol.
f. Ambil endapannya untuk dilakukan pemeriksaan.

 PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN SPESIMEN


1. Penyimpanan
Spesimen yang sudah diambil harus segera diperiksa, karena stabilitas
spesimen dapat berubah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi stabilitas spesimen antara lain:
a. Terjadi kontaminasi oleh kuman dan bahan kimia.
b. Terjadi metabolisme oleh sel-sel hidup pada specimen.
c. Terjadi penguapan.
d. Pengaruh suhu.
e. Terkena paparan sinar matahari.
Beberapa spesimen yang tidak langsung diperiksa dapat disimpan dengan
memperhatikan jenis pemeriksaan yang akan diperiksa. Persyaratan
penyimpanan beberapa spesimen untuk beberapa pemeriksaan laboratorium

64
harus memperhatikan jenis spesimen, antikoagulan/pengawet dan wadah
serta stabilitasnya.
Beberapa cara penyimpanan spesimen:
a. Disimpan pada suhu kamar.
b. Disimpan dalam lemari es dengan suhu 2 -8°C.
c. Dibekukan suhu -20°C, -70°C atau -120°C (jangan sampai terjadi beku
ulang).
d. Dapat diberikan bahan pengawet.
e. Penyimpanan spesimen darah sebaiknya dalam bentuk serum atau lisat.

2. Pengiriman
Spesimen yang akan dikirim ke laboratorium lain (dirujuk), sebaiknya
dikirim dalam bentuk yang relatif stabil.
Untuk itu perlu diperhatikan persyaratan pengiriman spesimen antara lain:
a. Waktu pengiriman jangan melampaui masa stabilitas spesimen.
b. Tidak terkena sinar matahari langsung.
c. Kemasan harus memenuhi syarat keamanan kerja laboratorium
termasuk pemberian label yang bertuliskan "Bahan Pemeriksaan
Infeksius" atau "Bahan Pemeriksaan Berbahaya".
d. Suhu pengiriman harus memenuhi syarat.
e. Penggunaan media transpor untuk pemeriksaan mikrobiologi.

65
DAFTAR PUSTAKA
http://thesis.umy.ac.id/datapublik/t42651.pdf
https://books.google.co.id/books?id=DesM50iZsucC&pg=PA7&lpg=PA7&dq=jenis+
jenis+medical+checkup+fisik+jurnal&source=bl&ots=ZFXrUDy05Z&sig=A
CfU3U08AA4ocoSI2Qnnu9pd6La3b661SA&hl=jv&sa=X&ved=2ahUKEwi
Hi5zD0KPgAhVZinAKHbnsDgw4ChDoATAJegQIBRAB#v=onepage&q=je
nis%20jenis%20medical%20checkup%20fisik%20jurnal&f=false
http://laboratorium-klinik.wisuda.org/id3/1038-996/Laboratorium-
Klinik_50769_laboratorium-klinik-wisuda.html
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20314683-T31765-Faktor-faktor.pdf
https://www.academia.edu/35977553/PEMERIKSAAN_DAN_PROSEDUR_KLINI
S_ILMU_PENYAKIT_DALAM_UNTUK_PESERTA_DIDIK_PROGRAM_
PENDIDIKAN_DOKTER_SPESIALIS_PENYAKIT_DALAM
http://laboratorium-klinik.wisuda.org/id3/1038-996/Laboratorium-
Klinik_50769_laboratorium-klinik-wisuda.html
http://www.academia.edu/31799153/PMK_No_43_ttg_Penyelenggaraan_Laboratoriu
m_Klinik_Yang_Baik
http://www.pdpersi.co.id/peraturan/kepmenkes/kmk6052008.pdf

66
67