Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Desa siaga aktif adalah bentuk pengembangan dari desa siaga yang telah
dimulai sejak tahun 2006. Desa atau kelurahan siaga aktif adalah desa atau kelurahan
yang penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang
memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesehatan Desa (Poskesdes) atau
sarana kesehatan yang ada di wilayah tersebut seperti Pusat Kesehatan Masyarakat
Pembantu (Pustu), Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) atau sarana kesehatan
lainnya, penduduk mengembangkan Usaha Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
dan melaksanakan survailans berbasis masyarakat (Kemenkes RI, 2010).
Pengembangan desa siaga merupakan salah satu strategi dalam mewujudkan
Indonesia sehat. Desa siaga merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan
mampu untuk mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan
masyarakat dengan memanfaatkan potensi setempat secara gotong royong menuju
desa sehat (Misnaniarti, 2011).
Dunia internasional sangat memberi perhatian terhadap upaya peningkatan
derajat kesehatan masyarakat terutama yang berkaitan dengan kesehatan ibu dan
bayi. Hal ini terlihat dengan adanya perubahan kebijakan dan strategi KIA melalui
Konferensi Nairobi tentang Safe Motherhood tahun 1987. Indonesia ikut
berpartisipasi dalam konferensi tersebut, tahun 1996 dikembangkan Gerakan Sayang
Ibu (GSI) yang lebih menonjolkan upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI),
tahun 2000 pemerintah RI mencanangkan kebijakan Making Pregnancy Safer (MPS)
dengan 3 pesan kunci dalam percepatan penurunan AKI dan AKB, kemudian tahun
2006 di canangkan Program Desa Siaga dengan konsep pemberdayaan masyarakat
(Depkes RI, 2005).
Pengembangan desa siaga aktif ini telah ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Kesehatan RI Nomor 564/Menkes/SK/VIII/2006 tanggal 2 Agustus 2006 Tentang
Pedoman Pelaksanaan Desa Siaga. Dalam pengembangan desa siaga aktif diperlukan
langkah-langkah pendekatan edukatif, yaitu upaya mendampingi (memfasilitasi)
masyarakat untuk menjalani proses pembelajarannya yang berupa proses pemecahan
1
masalah yang dihadapi melalui Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM) sebagai embrio atau titik awal pengembangan desa menuju desa/kelurahan
siaga aktif (Misnaniarti, 2011).
Desa atau Kelurahan Siaga Aktif memiliki kriteria dan tingkatan yang perlu
dicapai, pentahapan dari Desa Siaga Aktif terdiri dari Pratama, Madya, Purnama dan
Mandiri. Semakin tinggi tingkatan Desa Siaga aktif di suatu desa maka semakin
tinggi pembangunan kesehatan di wilayah tersebut yang ditunjukkan dengan
peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi
aktif dalam pembangunan kesehatan (Ismawati, 2010).
Pemangku kepentingan atau Stakeholders memegang peranan yang penting
dalam pengembangan Desa atau Kelurahan Siaga Aktif. Salah satu dampak dari
keberhasilan pengembangan desa siaga aktif adalah penurunan angka kematian ibu
(AKI), penurunan Angka Kematian Bayi (AKB) dan penurunan Angka Kematian
Balita (AKABA) serta peningkatan Perilaku Hidup Bersih Sehat dari masyarakat
(PHBS). Stakeholders yang memiliki komitmen yang tinggi akan mampu
memberdayakan masyarakatnya melalui upaya kesehatan yang bersumberdaya
masyarakat. Hal yang dapat dilakukan Stakeholders dalam pengembangan Desa atau
Kelurahan Siaga Aktif yaitu mengenal kondisi desa dan kelurahan, identifikasi
masalah kesehatan, musyawarah desa atau kelurahan, perencanaan partisipatif,
pelaksanaan kegiatan dan pembinaan kelestariannya (Kemenkes RI, 2010).
Menurut CARE, 1998 (dalam Paramita, 2007), faktor ekonomi, sosial, budaya
dan peran serta masyarakat menjadi determinan kematian ibu dan bayi. Peran serta
masyarakat khususnya yang terkait dengan upaya kesehatan ibu dan bayi masih
belum berfungsi sesuai dengan yang diharapkan. Keluarga dan masyarakat masih
belum berdaya untuk mencegah terjadinya 4 (empat) terlalu dalam kehamilan dan
persalinan: terlalu muda hamil, terlalu tua hamil, terlalu banyak anak dan terlalu
pendek jarak kelahiran, dan 3 (tiga) terlambat: terlambat mengambil keputusan
mencari pelayanan kesehatan terampil, terlambat tiba di rumah sakit karena masalah
transportasi, dan terlambat dalam tindakan medis.
Menurut pendapat para ahli, bahwa konsep peran serta masyarakat mulai
diganti oleh konsep pemberdayaan yang diartikan sebagai segala upaya fasilitasi yang
bersifat noninstruktif guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat
agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan memecahkan masalah
2
dengan memanfaatkan potensi setempat dan fasilitas yang ada (Pratiwi, 2007).
Visi pembangunan nasional tahun 2005-2025 sebagaimana ditetapkan dalam
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025 merupakan “Indonesia
yang mandiri, maju, adil dan makmur”. Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan 8
(delapan) arah pembangunan jangka panjang, yang salah satunya adalah mewujudkan
bangsa yang berdaya saing (Kementerian Dalam Negeri, 2011).
Untuk mewujudkan bangsa yang berdaya saing, salah satu arah yang
ditetapkan adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia, yang ditandai
dengan meningkatnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Unsur-unsur penting
bagi peningkatan IPM adalah derajat kesehatan, tingkat pendidikan, dan pertumbuhan
ekonomi. Derajat kesehatan dan tingkat pendidikan pada hakikatnya adalah investasi
bagi terciptanya sumber daya manusia berkualitas, yang selanjutnya akan mendorong
pertumbuhan ekonomi dan menurunkan tingkat kemiskinan. Dalam rangka mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, pembangunan kesehatan harus
diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang. Oleh sebab itu, pembangunan kesehatan dalam kurun waktu lima tahun
ke depan (2010-2014) harus diarahkan kepada beberapa hal prioritas (Kementerian
Kesehatan RI, 2011).
Pembangunan pada prinsipnya merupakan upaya mengubah suatu kondisi lain
yang tentunya lebih baik. Dalam proses pembangunan apapun, peran aktif
masyarakatlah yang menjadi kunci keberhasilan pembangunan, yang biasa
diistilahkan dengan partisipasi. Tanpa partisipasi dari masyarakat pembangunan sulit
efektif mencapai tujuannya (Adi, 2008).
Partisipasi aktif dan positif dalam konteks pembangunan, khususnya
pembangunan kesehatan, tentu tidak terjadi begitu saja. Dalam rangka
menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat diperlukan pendidikan non formal
seperti penyuluhan. Sarana kesehatan menjadi kurang artinya ketika masyarakat tidak
berpartisipasi dalam wujud pemanfaatan dan pemeliharaan secara optimal. Partisipasi
aktif masyarakat pada gilirannya akan melahirkan kemandirian masyarakat dalam
memelihara kesehatannya (Kemenkes RI, 2011).
Dalam upaya meningkatkan partisipasi masyarakat sebagaimana yang
diharapkan, program pemberdayaan masyarakat khususnya dalam bidang kesehatan
3
reproduksi harus ditingkatkan. Upaya mengatasi AKI juga tidak mungkin dapat
dilakukan pemerintah sendiri tanpa partisipasi masyarakat. Pemerintah menyadari
bahwa apapun peranan yang dimainkan pemerintah, tanpa partisipasi aktif masyarakat
untuk menjaga kesehatannya secara mandiri, pembangunan kesehatan yang
diharapkan tidak akan efektif dalam mencapai sasaran (Yustina, 2007).
Partisipasi masyarakat mutlak diperlukan dalam upaya menekan AKI, AKB
dan AKABA, untuk itu masyarakat perlu diberi pemahaman yang menyeluruh
tentang apa, mengapa dan bagaimana mereka berpartisipasi sehingga AKI, AKB dan
AKABA dapat diturunkan secara signifikan. Sesuai dengan komitmen Indonesia
dalam Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di
Kairo, maka yang perlu diperhatikan para stakeholders kesehatan masyarakat adalah
adanya perubahan paradigma dalam memberikan pelayanan kesehatan dengan
menempatkan manusia sebagai subjek (Yustina, 2007).
Salah satu upaya untuk meningkatkan pertisipasi masyarakat dengan adanya
advokasi yang merupakan suatu kegiatan untuk memperoleh komitmen politik,
dukungan kebijakan, penerimaan sosial dan dukungan sistem dari pembuat keputusan
atau pembuat kebijakan terhadap program kesehatan yang bertujuan untuk
mendorong dikeluarkannya kebijakan-kebijakan publik sehingga dapat mendukung
atau menguntungkan kesehatan (Notoatmodjo, 2010).
Berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Kesehatan pada tahun 2009 diketahui
bahwa dari 75.410 desa dan kelurahan di seluruh Indonesia tercatat 42.295 (56,1%)
desa dan kelurahan telah memulai upaya mewujudkan Desa dan Kelurahan Siaga.
Atas dasar pertimbangan tersebut diatas perlu dilakukan revitalisasi Pengembangan
Desa atau Kelurahan Siaga guna mengakselerasi pencapaian target 80 % Desa Siaga
Aktif pada tahun 2015 (Kemenkes RI, 2010).

Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan


diselenggarakan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat merupakan salah satu
penanda keberhasilan proses program pengembangan desa siaga aktif yang berguna
untuk memberdayakan masyarakat dan memberi kemudahan kepada masyarakat
dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar untuk mempercepat penurunan angka
kematian ibu dan bayi (Kurniawan, 2007).
Angka Kematian Ibu (AKI) menjadi salah satu indikator penting dalam

4
menentukan derajat kesehatan masyarakat. AKI menggambarkan jumlah wanita yang
meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau
penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidentil) selama kehamilan,
melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa
memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup.
Pemerintah Indonesia bersama 188 negara lainnya pada bulan September
tahun 2000 sepakat menandatangani Deklarasi Milenium Persatuan Bangsa-Bangsa
yang menghasilkan sekumpulan tujuan yang disebut Millenium Develompment Goals
(MDGs) dan sejumlah kebijakan khususnya yang harus terukur dan bisa dicapai pada
tahun 2015. Pemerintah Indonesia yang turut menandatangani kesepakatan ini
berkomitmen penuh untuk melaksanakan dan memonitor perkembangannya. Setiap
sasaran dalam MDGs memiliki target khusus. Sebagai acuan, digunakan beberapa
indikator diantaranya adalah pengurangan angka kematian anak sampai dua per tiga
angka kematian anak dibawah 5 tahun pada tahun 2015 dan peningkatan angka
kesehatan ibu dengan target mengurangi sampai tiga per empat rasio perempuan yang
meninggal karena melahirkan pada tahun 2015 (Mariati, 2011).
Seluruh negara di dunia memberi perhatian yang cukup besar terhadap Angka
Kematian Ibu (AKI), sehingga menempatkannya diantara delapan tujuan Millennium
Development Goals (MDGs) yang harus dicapai sebelum tahun 2015. Komitmen
yang ditandatangani 189 negara pada September 2000 itu, pada prinsipnya bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan manusia (Yustina, 2007).
Angka Kematian Ibu (AKI) di dunia pada tahun 1990 adalah 400 per 100.000
kelahiran hidup, turun menjadi 260 pada tahun 2008. Angka tertinggi terdapat di
Afrika Sub Sahara (640), diikuti Asia Selatan (290), dibandingkan dengan Amerika
Latin dan Karibia (85), Amerika Utara (23) dan di Eropa (10). Di Asia Tenggara AKI
rata-rata 164, yang tertinggi adalah Republik Rakyat Demokratik Laos (580), Timor
Leste (370) dan Kamboja (290), dan negara yang kematian ibu relative rendah yaitu
Malaysia (31), Brunei Darussalam (21) dan (9) Singapura (Childinfo, 2012).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi
307 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2002-2003 bila dibandingkan dengan angka
tahun 1994 yang mencapai 390 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Tetapi akibat
komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani, masih
terdapat 20.000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. Badan Pusat Statistik (BPS)
5
memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 per 100.000
kelahiran hidup pada tahun 2015, sedangkan target MDGs pada tahun 2015 tersebut
adalah 102. Pencapaian target MDGs akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya
yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya (Bappenas, 2010).
Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan (30%), eklamsia (25%),
partus lama (5%), komplikasi aborsi (8%), dan infeksi (12%). Resiko kematian
meningkat bila ibu menderita anemia, kekurangan energi kronik dan penyakit
menular. Kematian ibu karena hamil dan melahirkan juga merupakan akibat dari
adanya ”empat terlalu” yaitu terlalu muda (usia kurang dari 20 tahun), terlalu tua
(usia lebih dari 35 tahun), terlalu banyak/sering hamil dan melahirkan (jumlah anak
lebih dari 4 orang), serta terlalu dekat/rapat jarak antar kelahiran dimana jarak antar
kehamilan kurang dari 2 tahun (Kemenkes RI, 2012).

B. Rumusan Masalah
1) Apa yang dimaksud dengan desa dan kelurahan siaga aktif ?
2) Apa saja komponen desa dan kelurahan siaga aktif ?
3) Apa tujuan dari desa dan kelurahan siaga aktif ?
4) Apa manfaat dari desa dan kelurahan siaga aktif ?
5) Bagaimana kriteria dari desa dan kelurahan siaga aktif ?
6) Bagaimana pentahapan dari desa dan kelurahan siaga aktif ?
7) Bagaimana penyelenggaraan dan pengembangan dari desa dan kelurahan siaga
aktif ?
8) Apa saja kegiatan dalam pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif ?
9) Apa saja indikator dari desa dan kelurahan siaga aktif ?
10) Apa yang dimaksud dengan stakeholders ?
11) Bagaimana peran stakeholders dalam pengembangan desa siaga aktif ?
12) Bagaimana peran pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan masyarakat ?
13) Apa yang dimaksud dengan Program Perencanaan Persalinan & Pencegahan
Komplikasi (P4K) ?
14) Apa dasar hukum dari Program Perencanaan Persalinan & Pencegahan Komplikasi
(P4K) ?
15) Bagaimana yang dimaksud dengan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker ?
6
16) Bagaimana tahap kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) dengan Pemasangan Stiker ?
17) Bagaimana langkah – langkah pelaksanaan P4K dengan emasangan stiker ?
18) Siapa saja sasaran Program P4K ?
19) Apa saja output Program P4K ?
20) Apa saja indikator Pemantauan Pelaksanaan P4K ?

C. Tujuan
1) Mampu menjelaskan pengertian desa dan kelurahan siaga aktif.
2) Mampu menyebutkan komponen desa dan kelurahan siaga aktif.
3) Mampu menjelaskan tujuan dari desa dan kelurahan siaga aktif.
4) Mampu menjelaskan manfaat dari desa dan kelurahan siaga aktif.
5) Mampu menjelaskan kriteria dari desa dan kelurahan siaga aktif.
6) Mampu menjelaskan pentahapan dari desa dan kelurahan siaga aktif.
7) Mampu menjelaskan penyelenggaraan dan pengembangan dari desa dan
kelurahan siaga aktif.
8) Mampu menyebutkan kegiatan yang ada dalam pengembangan desa dan
kelurahan siaga aktif.
9) Mampu menyebutkan indikator dari desa dan kelurahan siaga aktif.
10) Mampu menjelaskan pengertian stakeholder.
11) Mampu menjelaskan peran stakeholders dalam pengembangan desa siaga aktif.
12) Mampu menjelaskan peran pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan
masyarakat.
13) Mampu menjelaskan pengertian Program Perencanaan Persalinan & Pencegahan
Komplikasi (P4K).
14) Mampu menyebutkan dasar hukum dari Program Perencanaan Persalinan &
Pencegahan Komplikasi (P4K).
15) Mampu menjelaskan yang dimaksud dengan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) menggunakan stiker.
16) Mampu menjelaskan tahap kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan Pemasangan Stiker.
17) Mampu menjelaskan langkah – langkah pelaksanaan P4K dengan emasangan stiker.

7
18) Mampu menyebutkan sasaran Program P4K.
19) Mampu menyebutkan output Program P4K.
20) Mampu menyebutkan indikator Pemantauan Pelaksanaan P4K.

8
BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


1) Pengertian Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
Desa Siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumberdaya dan kemampuan
untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan, terutama bencana dan
kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri (Kemenkes RI, 2010).
Menurut Kemenkes RI, 2011, Desa Siaga Aktif merupakan pengembangan
dari Desa Siaga, yaitu Desa atau Kelurahan yang :
1. Penduduk nya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang
memberikan pelayanan setiap hari melalui Pos Kesahatan Desa atau sarana
kesehatan yang ada di wilayah tersebut seperti, Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) atau sarana kesehatan lainnya.
2. Memilki Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang
melaksanakan upaya survailans berbasis masyarakat (pemantauan penyakit,
kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan, dan perilaku), penanggulangan bencana
dan kedaruratan kesehatan, serta penyehatan lingkungan.

2) Komponen Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Desa atau Kelurahan Siaga Aktif memiliki komponen :
1. Pelayanan kesehatan dasar.
2. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan UKBM dan mendorong upaya
Survailans berbasis masyarakat, kedaruratan kesehatan dan penanggulangan
bencana, serta penyehatan lingkungan.
3. Perilaku Hidup Sehat dan Bersih.

3) Tujuan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Tujuan Umum :
Percepatan terwujudnya masyarakat desa dan kelurahan yang peduli, tanggap,
dan mampu mengenali, mencegah serta mengatasi permasalahan kesehatan yang
dihadapi secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat.
9
Tujuan Khusus :
1. Mengembangkan kebijakan pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di
setiap tingkat Pemerintahan Desa atau Kelurahan.
2. Meningkatkan komitmen dan kerjasama semua pemangku kepentingan di Desa
dan Kelurahan untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
3. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar di desa dan
kelurahan.
4. Mengembangkan UKBM dan melaksanakan penanggulangan bencana dan
kedaruratan kesehatan, survailans berbasis masyarakat (meliputi pemantauan
penyakit, kesehatan ibu, pertumbuhan anak, lingkungan, dan perilaku), serta
penyehatan lingkungan.
5. Meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia, dana, maupun sumber daya
lain, yang berasal dari pemerintah, masyarakat dan swasta/dunia usaha, untuk
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.

6. Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga.

4) Manfaat Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Bagi Masyarakat :
1. Mudah mendapat pelayanan kesehatan dasar.
2. Peduli, tanggap dan mampu mengenali, mencegah dan mengatasi masalah
kesehatan yang dihadapi.
3. Tinggal di lingkungan yang sehat.
4. Mampu mempraktikkan PHBS.

Bagi Tokoh Masyarakat/Organisasi Kemasyarakatan :


1. Membantu secara langsung terhadap upaya pemberdayaan dan penggerakan
masyarakat di bidang kesehatan.
2. Meningkatkan kepercayaan masyarakat dan citra terhadap figur tokoh
masyarakat/organisasi kemasyarakatan.
3. Membantu meningkatkan status kesehatan masyarakat.

10
Bagi Kepala Desa/Kelurahan :
1. Optimalisasi kinerja Kepala Desa/Lurah.
2. Meningkatnya status kesehatan masyarakat.
3. Optimalisasi fungsi fasilitas kesehatan yang ada di wilayah kerjanya sebagai
tempat pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan dasar.
4. Efisiensi dalam menggerakkan dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk
berperilaku hidup bersih dan sehat.

5. Meningkatkan citra diri sebagai kepala pemerintahan Desa/Kelurahan yang aktif


mendukung dan mewujudkan kesehatan masyarakat.

5) Kriteria Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Kriteria Desa dan Kelurahan Siaga Aktif, yaitu :
1. Kepedulian Pemerintahan Desa atau Kelurahan dan pemuka masyarakat terhadap
Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang tercermin dari keberadaan dan keaktifan
Forum Desa dan Kelurahan.
2. Keberadaan Kader Pemberdayaan Masyarakat/Kader Kesehatan Desa dan
Keluraha Siaga Aktif.
3. Keberadaan UKBM dan melaksanakan (a) penanggulangan bencana dan
kedaruratan kesehatan, (b) survailans berbasis masyarakat, (c) penyehatan
lingkungan.
4. Tercakupnya pendanaan untuk pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif
dalam Anggaran Pembangunan Desa atau Kelurahan serta dari masyarakat dan
dunia usaha.
5. Peran serta aktif masyarakat dan organisasi kemasyarakatan dalam kegiatan
kesehatan di Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
6. Peraturan di tingkat desa atau kelurahan yang melandasi dan mengatur tentang
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
7. Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga.

6) Pentahapan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Atas dasar kriteria Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang telah ditetapkan, maka
pentahapan dalam pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif, yaitu :
11
1. Desa atau Kelurahan Siaga Aktif Pratama
2. Desa atau Kelurahan Siaga Aktif Madya
3. Desa atau Kelurahan Siaga Aktif Purnama
4. Desa atau Kelurahan Siaga Aktif Mandiri

Tabel 2.1. Pentahapan Desa atau Kelurahan Siaga Aktif


Desa atau Kelurahan Siaga Aktif
Kriteria
Pratama Madya Purnama Mandiri
1. Forum Desa/ Ada Berjalan, Berjalan Berjalan
Kelurahan tetapi tetapi setiap Setiap bulan
belum belum triwulan
berjalan rutin
setiap
triwulan
2. KPM/Kader Sudah ada, Sudah ada, Sudah ada, Sudah
Kesehatan minimal 2 miinimal 3- minimal 6-8 ada 9
orang 5 orang orang
orang atau
lebih
3. Kemudahan Ya Ya Ya Ya
Akses
Pelayanan
Kesehatan
Dasar
4. Poyandu & Posyandu Posyandu Posyandu dan Posyandu
UKBM ya, UKBM dan 3 UKBM dan 4
lainnya lainnya 2 UKBM lainnya aktif UKBM
aktif tidak aktif lainnya lainnya aktif
aktif
5. Dukungan Sudah ada Sudah ada Sudah ada dana Sudah ada
dana untuk dana dari dana dari dari pemerintah dana dari
kegiatan pemerintah pemerinta Desa dan pemerintah
kesehatan di Desa dan h Desa Kelurahan serta Desa dan
Desa dan Kelurahan dan dua sumber Kelurahan
Kelurahan: serta Kelurahan daya lainnya serta dua
 Pemerintaha belum ada serta satu sumber daya
n desa dan sumber sumber lainnya
kelurahan daya daya
 Masyarakat
lainnya lainnya
Dunia usaha
6. Peran Ada peran Ada Ada peran Ada peran
serta aktif peran aktif aktif
Masyar masyarakat aktif masyarakat masyarakat
akat dan dan tidak masyarak dan peran dan peran
Organis ada peran at dan aktif dua aktif dua
12
asi aktif ormas peran ormas ormas
kemasy aktif
arakata satu
n ormas
7. Peraturan
Kepala Belum ada Ada, belum Ada, sudah Ada, sudah
Desa atau direalisasik direalisasikan direalisasika
peraturan an n
Bupati/
Walikota
8. Pembinaan Pembinaan Pembina Pembinaan Pembinaa
PHBS di PHBS an PHBS PHBS n PHBS
Rumah kurang minimal kurang dari kurang
Tangga dari 20% 20% rumah 40% rumah dari 70%
rumah tangga tangga rumah
tangga tangga

7) Penyelenggaraan Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Kepala Desa/Lurah dan Perangkat Desa Kelurahan bersama Badan
Permusyawaratan Desa (BPD), serta lembaga kemasyarakatan yang ada harus
mendukung penyelenggaraan pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif,
melalui langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pengenalan Kondisi Desa atau Kelurahan

Pengenalan kondisi desa atau kelurahan oleh Kader Pemberdayaan Masyarakat


(KPM), lembaga kemasyarakatan, dan Perangkat Desa atau Kelurahan dilakukan
dengan mengkaji data Profil Desa atau Profil Kelurahan dan hasil analisis situasi
perkembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif yang menggambarkan kriteria Desa
dan Kelurahan Siaga Aktif yang sudah dapat dan belum dapat dipenuhi oleh desa
atau kelurahan yang bersangkutan.
2. Identifikasi Masalah Kesehatan dan PHBS
Dengan mengkaji Profil/Monografi Desa atau Kelurahan dan hasil analisis situasi
kesehatan melalui Survai Mawas Diri (SMD). SMD merupakan pengumpulan data
oleh kader, tokoh masyarakat, anggota Forum Desa yang terlatih dengan
menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disepakati kader dan Forum Desa.
Melalui SMD dapat diidentifikasi :
a. Masalah kesehatan dan urutan prioritasnya.
b. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya masalah kesehatan.

13
c. Potensi yang dimilik desa/kelurahan.
d. UKBM yang ada, yang harus diaktifkan kembali dan yang dibentuk baru.
e. Bantuan/dukungan yang diharapkan.

3. Musyawarah Desa dan Kelurahan


a. Musyawarah Desa/Kelurahan dapat dilakukan secara berjenjang dengan
terlebih dulu menyelenggarakan Musyawarah Dusun atau Rukun Warga.
b. Musyawarah Desa/Kelurahan bertujuan :
1) Menyosialisasikan tentang adanya masalah kesehatan dan program
pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
2) Kesepakatan tentang urutan prioritas masalah.
3) Kesepakatan tentang UKBM yang hendak dibentuk baru atau diaktifkan
kembali.
4) Memantapkan data potensi desa atau potensi kelurahan.
5) Menggalang semangat dan partisipasi warga desa atau kelurahan untuk
mendukung pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif.
4. Perencanaan Partisipatif
a. KPM dan lembaga kemasyarakatan mengadakan pertemuan guna menyusun
rencana pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif untuk dimasukkan ke
dalam Rencana Pembangunan Desa/Kelurahan.
b. Rencana pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif mencakup :
1) UKBM yang akan dibentuk baru atau diaktifkan kembali.
2) Sarana yang akan dibangun baru atau direhabilitasi
(misalnya Poskesdes, Polindes, Sarana Air Bersih, Jamban Keluarga, dan
lain-lain).
3) Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dan biaya operasionalnya.

Hal-hal yang dapat dilaksanakan dengan swadaya masyarakat dan atau


bantuan, disatukan dalam dokumen tersendiri. Sedangkan hal-hal yang
memerlukan dukungan Pemerintah dimasukkan ke dalam dokumen
Musrenbang Desa atau Kelurahan untuk diteruskan ke Musrenbang
Kecamatan dan Kabupaten/Kota.
5. Pelaksanaan Kegiatan
a. Kader Pemberdayaan Masyarakat (KPM), Kader Kesehatan dan lembaga

14
kemasyarakatan memulai kegiatan dengan membentuk UKBM- UKBM yang
diperlukan, menetapkan kader-kader pelaksananya, melaksanakan kegiatan-
kegiatan swadaya atau yang sudah diperoleh dananya dari donatur.
b. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara teratur swakelola oleh masyarakat
dengan didampingi Perangkat Pemerintahan serta dibantu oleh para KPM dan
Fasilitator. Jika dibutuhkan dapat difasilitasi oleh Puskesmas dan Dinas
Kesehatan setempat.
c. Pencatatan dan pelaporan kegiatan.
6. Pembinaan Kelestarian
Pembinaan kelestarian Desa/Kelurahan Siaga Aktif pada dasarnya merupakan
tugas dari KPM/kader kesehatan, Kepala Desa/Lurah, Perangkat Desa/Kelurahan
dengan dukungan dari berbagai pihak, utamanya pemerintah daerah dan Pemerintah.

1. PENGENALAN
KONDISI DESA/
KELURAHAN

2. IDENTIFIKASI
6. PEMBINAAN MASALAH
KELESTARIAN KESEHATAN
FASILISATOR/
KPM/KADER
KESEHATAN

5. PELAKSANAAN 3. MUSYAWARAH
KEGIATAN DESA/ KELURAHAN

4. PERENCANAAN
PARTISIPATIF

Gambar 2.1. Siklus Pemecahan Masalah oleh Masyarakat


Sumber : Kemenkes RI, 2011

8) Kegiatan dalam Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga Aktif


Sesuai dengan komponen Desa dan Kelurahan Siaga Aktif maka kegiatan

15
yang perlu dilakukan adalah: pelayanan kesehatan dasar, pemberdayaan masyarakat
melalui UKBM, dan PHBS.
1. Pelayanan Kesehatan Dasar
Pelayanan kesehatan dasar adalah pelayanan primer, sesuai dengan
kewenangan tenaga kesehatan yang bertugas. Pelayanan kesehatan dasar berupa:
a. Pelayanan Kesehatan untuk Ibu Hamil, meliputi :
Pemeriksaan kehamilan dengan menggunakan Buku Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA), pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil yang kurang gizi,
pemberian Tablet Tambah Darah, promosi gizi dan kesehatan reproduksi,
penyediaan rumah tunggu (transit), kendaraan yang dapat digunakan untuk
membawa pasien dari desa ke Puskesmas dan atau rumah sakit, calon yang
bersedia menjadi donor darah, bantuan dana untuk persalinan, dan pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan.
b. Pelayanan Kesehatan untuk Ibu Menyusui, meliputi:
Pemberian Kapsul Vitamin A, makanan tambahan, Tablet Tambah Darah,
pelayanan dan perawatan ibu nifas, promosi makanan bergizi selama menyusui,
pemberian ASI Ekslusif, perawatan bayi baru lahir, dan pelayanan Keluarga
Berencana (KB).
c. Pelayanan Kesehatan untuk Anak, meliputi:
Penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi anak di Bawah Usia Lima
Tahun (Balita),Pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI),
Kapsul Vitamin A, pemberian makanan tambahan anak dengan berat Bawah
Garis Merah (BGM) pada Kartu Menuju Sehat (KMS), pemantauan tanda-
tanda lumpuh layuh, kejadian diare dan Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA), Pneumonia, serta pelayanan rujukan bila diperlukan, pemberian
imunisasi, pelayanan kesehatan anak usia sekolah tingkat dasar, pelayanan
penemuan dan penanganan penderita penyakit, yang meliputi: penemuan secara
dini, penyediaan obat, pengobatan penyakit, rujukan penderita ke sarana
kesehatan yang lebih kompeten.
d. Pelayanan Survailans (Pengamatan Penyakit), berupa:
Pengamatan dan pemantauan penyakit melalui gejala dan tanda serta keadaan
yang dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, pelaporan secara
cepat (kurang dari 24 jam) hasil pemantauan dan pengamatan penyakit kepada
16
petugas dan penanggulangan sederhana penyakit dan masalah kesehatan,
pelaporan kematian.
2. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM)
Pemberdayaan masyarakat terus diupayakan melalui UKBM, yang ada di
desa dan kelurahan. UKBM adalah upaya kesehatan yang direncakan, dibentuk,
dikelola dari, oleh dan untuk masyarakat dalam upaya mengatasi permasalahan
kesehatan daerahnya. Kegiatan difokuskan kepada upaya survailans berbasis
masyarakat, kedaruratan kesehatan, dan penanggulangan bencana, serta
penyehatan lingkungan.
a. Survailans Berbasis Masyarakat
1. Pengertian Survailans Berbasis Masyarakat
Survailans berbasis masyarakat adalah pengamatan dan pencatatan penyakit
yang diselenggarakan oleh masyarakat (kader) dibantu oleh tenaga kesehatan
berupa: (1) Pengamatan dan pemantauan penyakit serta keadaan kesehatan
ibu dan anak, gizi, lingkungan, dan perilaku yang dapat menimbulkan
masalah kesehatan masyarakat, (2) Pelaporan cepat (kurang dari 24 jam)
kepada petugas kesehatan untuk respon cepat, (3) Pencegahan dan
penanggulangan sederhana penyakit dan masalah kesehatan, serta (4)
Pelaporan kematian.
2. Tujuan Survailans Berbasis Masyarakat
Terciptanya sistem kewaspadaan dan kesiagapan dini di masyarakat terhadap
kemungkinan terjadinya masalah kesehatan yang mengancam/merugikan
masyarakat.
3. Hal-hal yang diamati secara terus menerus
Masyarakat dan kader melakukan pengamatan terhadap masalah kesehatan
yang ada di masyarakat sepanjang waktu.
3. Kedaruratan Kesehatan dan Penanggulangan Bencana
Kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana adalah upaya yang
dilakukan oleh masyarakat dalam mencegah dan mengatasi bencana dan
kedaruratan kesehatan. Kegiatannya berupa :
a. Bimbingan dalam pencarian tempat yang aman untuk mengungsi.
b. Promosi kesehatan dan bimbingan mengatasi masalah kesehatan akibat
bencana dan mencegah faktor-faktor penyebab masalah.
17
c. Bantuan/fasilitas pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air bersih,
jamban, pembuangan sampah/limbah, dan lain-lain) di tempat pengungsian.
d. Penyediaan relawan yang bersedia menjadi donor darah.
e. Pelayanan kesehatan bagi pengungsi.

4. Perilaku Hidup Bersih Sehat


Penyehatan lingkungan adalah upaya yang dilakukan oleh masyarakat
untuk menciptakan dan memelihara lingkungan Desa/Kelurahan dan permukiman
agar terhindar dari penyakit dan masalah kesehatan. Kegiatan berupa: (1) Promosi
tentang pentingnya sanitasi dasar, (2) Bantuan/fasilitas pemenuhan kebutuhan
saran sanitasi dasar (air bersih, jamban, pembuangan sampah dan limbah, dan lain-
lain), dan (3) Bantuan/fasilitas upaya pencegahan pencemaran lingkungan.
Indikator Keberhasilan PHBS Rumah Tangga :
a. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan.
b. Memberi bayi ASI eksklusif.
c. Menimbang balita setiap bulan.
d. Menggunakan air bersih
e. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
f. Menggunakan jamban sehat
g. Memberantas jentik di rumah seminggu sekali
h. Makan sayur dan buah setiap hari.
i. Melakukan aktivitas fisik setiap hari.
j. Tidak merokok di dalam rumah.

9) Indikator Keberhasilan Desa Siaga


a. Indikator Masukan (Input)
Indikator masukan adalah indikator untuk mengukur seberapa besar masukan telah
diberikan dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator masukan terdiri atas
:
1. Ada atau tidaknya Forum Masyarakat Desa.
2. Ada atau tidaknya POSKESDES dan sarananya.
3. Ada atau tidaknya tenaga kesehatan (minimal bidan).
4. Ada atau tidaknya UKBM

18
b. Indikator Proses (Process)
Indikator proses adalah indikator untuk mengukur seberapa aktif upaya yang
dilaksanakan di suatu desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga. Indikator
proses terdiri dari :
1. Frekuensi pertemuan Forum Masyarakat Desa
2. Berfungsi atau tidaknya POSKESDES
3. Berfungsi atau tidaknya UKBM
4. Berfungsi atau tidaknya sistem kesiapsiagaan dan penanggulangan
kegawatdaruratan dan bencana.
5. Berfungsi atau tidaknya sistem survailans (pengamatan dan pelaporan)
6. Ada atau tidaknya kunjungan rumah untuk KADARZI dan PHBS (yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan dan kader)

c. Indikator Keluaran (Output)


Indikator keluaran adalah indikator untuk mengukur seberapa besar hasil kegiatan
yang dicapai di suatu desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga yang terdiri
dari :
1. Cakupan pelayanan POSKESDES
2. Cakupan pelayanan UKBM yang ada
3. Jumlah kasus kegawatdaruratan dan KLB yang dilaporkan atau diatasi
4. Cakupan rumah tangga yang mendapat kunjungan rumah untuk KADARZI dan
PHBS.
d. Indikator Dampak (Outcome)
Indikator dampak adalah indikator untuk mengukur seberapa besar dampak dari
hasil kegiatan di desa dalam rangka pengembangan Desa Siaga yang terdiri dari :
1. Jumlah yang menderita sakit
2. Jumlah yang menderita gangguan jiwa
3. Jumlah bayi dan balita yang meninggal dunia
4. Jumlah ibu yang meninggal dunia
5. jumlah balita yang gizi buruk

B. Stakeholders
1. Pengertian Stakeholders (Pemangku Kepentingan)

19
Stakeholders adalahorang atau organisasi yang memiliki kepentingan dalam
program kesehatan masyarakat dan bagaimana mereka mengimplementasikan
program tersebut yang meliputi warga yang peduli, perwakilan pemerintah,
perwakilan layanan kesehatan dan sosial lainnya, anggota dewan pemerintah,
perwakilan keagamaan dan anggota asosiasi profesional (Rowits, 2011).

2. Peran Stakeholders dalam Pengembangan Desa Siaga Aktif


Menurut Ismawati (2010), pemangku kepentingan yaitu pejabat Pemerintah
Daerah, pejabat lintas sektoral, unsur-unsur organisasi/ikatan profesi, Pemuka
masyarakat, tokoh agama, PKK, LSM, dunia usaha/swasta.
1. Di tingkat Kecamatan dan Desa
a. Camat selaku penanggung jawab wilayah kecamatan
1) Mengkoordinasikan pengembangan dan penyelenggaraan Desa Siaga.
2) Memberikan dukungan kebijakan dan pendanaan, terutama dalam rangka
pembinaan kelestarian kader.
3) Melakukan pembinaan dalam upaya meningkatkan kinerja Desa Siaga,
antara lain melalui fasilitasi atau membantu kader berwirausaha, pemberian
penghargaan terhadap kader Desa Siaga.
b. Lurah/Kepala Desa
1) Memberikan dukungan kebijakan, sarana dan dana untuk penyelenggaraan
Desa Siaga.
2) Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk memanfaatkan
pelayanan puskesmas/pustu/poskesdes dan berbagai UKBM yang ada.
3) Mengkoordinasikan penggerakan masyarakat untuk berperan aktif dalam
penyelenggaraan UKBM yang ada.
4) Menindaklanjuti hasil kegiatan Desa Siaga bersama LKMD.
5) Melakukan pembinaan untuk terselengganya kegiatan Desa Siaga secara
teratur dan lestari.
c. Tim Penggerak PKK
1) Berperan aktif dalam pengembangan dan penyelenggaraan UKBM di Desa
Siaga.
2) Menggerakkan masyarakat untuk mengelola, menyelenggarakan dan
memanfaatkan UKBM yang ada.
20
3) Menyelenggarakan penyuluhan kesehatan dalam rangka menciptakan
kadarzi tokoh masyarakat/konsil kesehatan kecamatan.

4) Menggali sumberdaya untuk kelangsungan penyelenggaraan Desa Siaga.


5) Menaungi dan membina kegiatan Desa Siaga.
6) Menggerakkan masyarakat untuk berperan aktif dalam kegiatan Desa
Siaga.
d. Organisasi Kemasyarakatan/LSM/Dunia Usaha/Swasta
1) Bersama petugas Puskesmas berperan aktif dalam penyelenggaraan Desa
Siaga.
2) Memberi dukungan sarana dan dana untuk pengembangan dan
penyelenggaraan Desa Siaga.
2. Di Tingkat Kabupaten/Kota
a. Berperan serta dalam Tim Pengembangan Desa Siaga tingkat
Kabupaten/Kota.
b. Memberikan dukungan (manusia, dana, dll) untuk pengembangan dan
kelestarian Desa Siaga serta revitalisasi Puskesmas dan Rumah Sakit.
3. Di Tingkat Propinsi
a. Berperan serta dalam Tim Pengembangan Desa Siaga Tingkat Provinsi.
b. Memberikan dukungan (manusia, dana, dll) untuk pengembangan dan
kelestarian Desa Siaga serta revitalisasi Puskesmas dan Rumah Sakit dan
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
4. Di Tingkat Pusat
a. Berperan aktif dalam Tim Pengembangan Desa Siaga Tingkat Pusat.

b. Memberikan dukungan sumberdaya (manusia, dana, dll) untuk pelaksanaan


peran Pusat dalam pengembangan Desa Siaga.

3. Peran Pelaku Perubahan dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat


Menurut Ife (2002 : 231) dalam Adi I. R., (2008) menyatakan bahwa peran
pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan masyarakat adalah :
1. Peran Fasilitatif
a. Pelaku perubahan harus memiliki keterampilan melakukan animasi sosial yang
menggambarkan kemampuan petugas untuk membangkitkan energi, inspirasi,
21
antusiasisme masyarakat, termasuk didalamnya adalah mengaktifkan,
menstimulasi dan mengembangkan motivasi warga untuk bertindak.
b. Salah satu peran dari pemberdaya masyarakat adalah untuk menyediakan dan
mengembangkan dukungan terhadap warga yang mau terlibat dalam struktur
dan aktivitas komunitas tersebut. Dukungan itu sendiri tidak selalu bersifat
akstrinsik ataupun dukungan materiil, tetapi juga dapat bersifat intrinsik.
2. Peran Edukasional
a. Pelaku perubahan harus mampu membangkitkan kesadaran masyarakat dalam
upaya agar masyarakat mau dan mampu mengatasi ketidakberuntungan
struktural mereka, maka warga harus mau menjalin hubungan antar satu dengan
lainnya, hal ini menjadi tujuan awal dari penyadaran masyarakat.
b. Pelaku perubahan dalam upaya pemberdayaan masyarakat harus meyampaikan
informasi yang mungkin belum diketahui oleh komunitas sasarannya. Ife
(2002:243) menyatakan bahwa hanya dengan memberikan informasi yang
relevan mengenai suatu masalah yang sedang dihadapi komunitas sasaran tidak
jarang dapat menjadi peran yang bermakna terhadap komunitas tersebut (Adi, I.
R., 2008).
3. Peran Kepemimpinan
Seorang stakeholders identik dengan seorang pemimpin yang harus
memiliki konsep kepemimpinan yaitu Ing Ngarso sung Tulodho artinya didepan
sebagai teladan, IngMadyo Mangun Karso artinya ditengah menggerakkan dan Tut
Wuri Handayani artinya dibelakang memberikan dorongan (Pamungkas S. G.,
2012).

C. Program Perencanaan Persalinan & Pencegahan Komplikasi (P4K)


1. Pengertian
Pada tahun 2007 Menteri Kesehatan mencanangkan Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan stiker yang merupakan "upaya
terobosan" dalam mempercepat penurunan angka kematian ibu dan bayi baru lahir
melalui kegiatan peningkatan akses dan kualitas pelayanan, yang sekaligus
merupakan kegiatan yang membangun potensi masyarakat, khususnya kepedulian
masyarakat untuk persiapan dan tindak dalam menyelamatkan ibu dan bayi baru lahir.
a) P4K dengan Stiker
22
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
merupakan suatu kegiatan yang difasilitasi oleh bidan di desa dalam rangka
peningkatan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan
persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil,
termasuk perencanaan penggunaan KB pascapersalinan dengan menggunakan stiker
sebagai media notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu
pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir.
b) Pendataan ibu hamil dengan stiker
Pendataan ibu hamil dengan stiker adalah suatu pendataan, pencatatan dan
pelaporan keadaan ibu hamil dan bersalin di wilayah kerja bidan melalui
penempelan stiker di setiap rumah ibu hamil dengan melibatkan peran aktif unsur-
unsur masyarakat di wilayahnya (kader, forum peduli KIA/Pokja posyandu dan
dukun).
c) Forum Peduli KIA
Adalah suatu forum partisipatif masyarakat yang melakukan pertemuan rutin
bulanan, bertujuan mengorganisir kegiatan P4K dan menjalin kerjasama dengan
bidan dan difasilitasi oleh bidan di desa dan puskesmas.
d) Kunjungan Rumah
Adalah kegiatan kunjungan bidan ke rumah ibu hamil dalam rangka untuk
membantu ibu, suami dan keluarganyamembuat perencanaan persalinan dan
pencegahan komplikasi. Disamping itu, untuk memfasilitasi ibu nifas dan suaminya
dalam memutuskan penggunaan alat/obat kontrasepsi setelah persalinan sesuai
rencana yang telah disepakati bersama oleh pasangan tersebut.
e) Persalinan oleh Nakes dan Kesiagaan
Persalinan oleh Nakes adalah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan
terampil sesuai standar. Sedangkan kesiagaan adalah kesiapan dan kewaspadaan
dari suami, keluarga, masyarakat/organisasi masyarakat, kader, dukun dan bidan
dalam menghadapi persalinan dan kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
f) Tabulin dan Dasolin
Tabulin dalah dana/barang yang disimpan oleh keluarga atau pengelola
Tabulin secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang pengelolaannya sesuai
kesepakatan serta penggunaannya untuk segala bentuk pembiayaan saat ANC,
persalinan dan kegawatdaruratan. Dasolin adalah dana yang dihimpun dari
23
masyarakat secara sukarela dengan prinsip gotong royong sesuai dengan
kesepakatan bersama dengan tujuan membantu pembiayaan mulai ANC, persalinan
dan kegawatdaruratan.
g) Ambulan Desa dan Donor Darah
Ambulan desa adalah alat transportasi dari masyarakat sesuai kesepakatan
bersama yang dipergunakan untuk mengantar calon ibu bersalin ke tempat
persalinan termasuk ke tempat rujukan, bisa berupa mobil, ojek, becak, sepeda,
tandu, perahu, dll. Calon Donor Darah adalah orang-orang yang dipersiapkan oleh
ibu, suami, keluarga dan masyarakat yang sewaktu-waktu bersedia menyumbangkan
darahnya untuk keselamatan ibu melahirkan.
h) Kunjungan Nifas
Kontak ibu dengan Nakes minimal 3 (tiga) kali untuk mendapatkan pelayanan
dan pemeriksaan kesehatan ibu nifas, baik di dalam maupun di luar gedung
Puskesmas (termasuk bidan di desa/Polindes dan kunjungan rumah.
i) Pemberdayaan Masyarakat
Adalah upaya aktif bidan untuk melibatkan unsur-unsur masyarakat secara
parsitipatif dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi kegiatan kesehatan ibu
dan anak termasuk kegiatan perencanaan persalinan dan pascapersalinan.
Melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
dengan stiker yang ditempelkan di rumah ibu hamil, maka setiap ibu hamil akan
tercatat, terdata dan terpantau secara tepat. Dengan data dalam stiker, suami,
keluarga, kader, dukun, bersama bidan di desa dapat memantau secara intensif
keadaan dan perkembangan kesehatan ibu hamil. Selain itu agar ibu hamil
mendapatkan pelayanan yang sesuai standar pada saat antenatal, persalinan dan nifas
sehingga proses persalinan sampai dengan nifas termasuk rujukannya dapat berjalan
dengan aman dan selamat.

2. Dasar Hukum
Dasar Hukum diselenggarakannya P4K ini, antara lain:
a) Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan.
b) Peraturan Pemerintah No. 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.
c) Undang-undang No. 32 tentang Pemerintah Daerah.

24
d) Keputusan Menteri Kesehatan No. 900 tahun 2002 tentang registrasi dan Praktek
Bidan.
e) Keputusan Menteri No. 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota.
f) Keputusan Menteri Kesehatan No. 284 tahun 2004 tentang Buku KIA.
g) Keputusan Menteri Kesehatan No. 564 tahun 2006 tentang Pedoman
Pelaksanaaan Pengembangan Desa Siaga.
h) Surat Edaran Menteri Kesehatan No. 295 tahun 2008 tentang Percepatan
Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
dengan Stiker.
i) Surat Edaran Menteri Kesehatan dalam Negeri No. 441.7/1935.SJ tahun 2008
tentang Percepatan Pelaksanaan Program Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan Stiker.

3 Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan


Stiker
1. Indikator Program
a. Persentase ibu hamil mendapat stiker.
b. Persentase ibu hamil berstiker mendapat pelayanan antenatal sesuai standar.
c. Persentase ibu hamil bersetiker bersalin di tenaga kesehatan.
d. Persentase ibu hamil bersalin dan nifas berstiker yang mengalami komplikasi
tertangani.
e. Persentase penggunaan metode KB pasca persalinan.
f. Persentase ibu bersalin di nakes yang mendapat pelayanan nifas.

2. Output Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi dengan Stiker Output


yang di harapkan sebagai berikut:
a. Semua ibu hamil terdata dan rumahnya tertempel stiker P4K.
b. Bidan memberikan pelayanan antenatal sesuai dengan standar.
c. Ibu hamil dan keluarganya yang mempunyai rencana persalinan termasuk KB
yang dibuat bersama dengan penolong persalinan.
d. Bidan menolong persalinan sesuai standar.
e. Bidan memberikan pelayan nifas sesuai standar.
25
f. Keluarga menyiapkan biaya persalinan, kebersihan dan kesehatan lingkungan
(sosial).
g. Adanya keterlibatan tokoh masyarakat baik formal maupun non formal dan
forum peduli KIA/Pokja posyandu dalam rencana persalinan, termasuk KB
pascapersalinan sesuai dengan perannya masing-masing.
h. Ibu mendapatkan pelayanan kontrasepsi pascapersalinan.
i. Adanya kerjasama yang mantap antara bidan, petugas pustu, forum peduli
KIA/Pokja posyandu dan (bila ada) dukun bayi pendamping persalinan.

3. Tujuan dan Manfaat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi


(P4K)
a) Tujuan pemasangan Stiker P4K, antara lain:
1) Penempelan stiker P4K di setiap rumah ibu hamil dimaksudkan agar ibu
hamil terdata, tercatat dan terlaporkan keadaannya oleh bidan dengan
melibatkan peran aktif unsur-unsur masyarakat seperti kader, dukun dan
tokoh masyarakat.
2) Masyarakat sekitar tempat tinggal ibu mengetahui ada ibu hamil dan apabila
sewaktu-waktu membutuhkan pertolongan, masyarakat siap sedia untuk
membantu. Dengan demikian, ibu hamil yang mengalami komplikasi tidak
terlambat untuk mendapat penanganan yang tepat dan cepat.
b) Manfaat Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K),
antara lain :
1) Mempercepat berfungsinya desa siaga.
2) Meningkatkan cakupan pelayanan ANC sesuai standar.
3) Meningkatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan terampil.
4) Meningkatkan kemitraan bidan dan dukun.
5) Tertanganinya kejadian komplikasi secara dini.
6) Meningkatnya peserta KB pascapersalinan.
7) Terpantaunya kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
8) Menurunnya kejadian kesakitan dan kematian ibu dan bayi.

4 Tahap Kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi


(P4K) dengan Pemasangan Stiker
26
Tahap Kegiatan dalam Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) sebagai berikut:
1) Orientasi P4K dengan Stiker untuk pengelola program dan stakeholder terkait di
tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota, Puskesmas.
2) Sosialisasi di tingkat desa kepada kader, dukun, tokoh agama, tokoh masyarakat,
PKK serta lintas sektor di tingkat desa.
3) Operasionalisasi P4K dengan Stiker di Tingkat Desa:
a. Memanfaatkan pertemuan bulanan tingkat desa/kelurahan.
b. Mengaktifkan Forum Peduli KIA.
c. Kontak dengan ibu hamil dan keluarga dalam pengisian stiker.
d. Pemasangan stiker di rumah ibu hamil.
e. Pendataan jumlah ibu hamil di wilayah desa.
f. Pengelolaan donor darah dan sarana transportasi/ambulan desa.
g. Penggunaan, pengelolaan dan pengawasan Tabulin/Dasolin.
h. Pembuatan dan Penandatanganan Amanat Persalinan.
4) Rekapitulasi Pelaporan
Melaporkan hasil tersebut setiap bulan ke Puskesmas.
5) Forum Komunikasi
Untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan P4K di masing-masing tingkat wiayah
dari Puskesmas, Kabupaten/Kota dan Provinsi mempunyai wadah Forum
Komunikasi yang meliputi Lintas Program dan Lintas Sektor.

5 Langkah – Langkah Pelaksanaan P4K Dengan Pemasangan Stiker :


1) Orientasi P4K dengan Stiker untuk pengelola program dan stakeholder terkait di
tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota, Puskesmas.
2) Sosialisasi di tingkat desa kepada kader, dukun, tokoh agama, tokoh masyarakat,
PKK serta lintas sektor di tingkat desa.
3) Pertemuan bulanan di tingkat desa(Forum Desa Siaga, Forum KIA, Pokja
Posyandu ,dll) yang melibatkan Kades,Toma,Toga, Kader dengan difasilitasi
oleh bidan desa yang dipimpin oleh kades membahas tentang : mendata jumlah
ibu hamil di wilayah desa (Updating setiap bulan), Membahas dan menyepakati
calon donor darah, tranportasi dan pembiayaan ( Jamkesmas, Tabulin ),

27
membahas tentang pembiayaan pemberdayaan masyarakat (ADD, PNPM, GSI,
Pokjanal Posyandu, dll)
4) Bidan Desa bersama dengan kader atau dukun melakukan kontak dengan ibu
hamil, suami dan keluarga untuk sepakat dalam pengisian stiker termasuk
pemakaian KB pasca persalinan
5) Bidan Desa bersama kader mengisi dan menempel stiker di rumah ibu hamil,
bidan desa Memberikan Konseling pada ibu hamil, suami dan keluarga tentang
P4K terutama dalam menyepakati isi dalam stiker sampai dengan KB pasca
persalinan yang harus tercatat dalam amanah persalinan yang dilakukan secara
bertahap yang di pegang oleh petugas kesehatan dan Buku KIA yang di pegang
langsung ibu hamil, dll
6) Bidan Desa Memberikan Pelayanan saat itu juga sesuai dengan standar ditambah
dengan pemeriksaan laboratorium (Hb, Urine, bila endemis malaria lakukan
pemeriksaan apus darah tebal, PMTCT, dll)
7) Setelah melayani , Bidan Desa merekap hasil pelayanan ke dalam pencatatan
Kartu Ibu, kohort ibu, PWS KIA, Peta sasaran Bumil, Kantong
Persalinan, termasuk kematian ibu , bayi lahir dan mati di wilayah desa
(termasuk dokter dan bidan praktek swasta di desa tsb ).
8) Setelah melayani , Bidan Desa merekap hasil pelayanan ke dalam pencatatan
Kartu Ibu, kohort ibu, PWS KIA, Peta sasaran Bumil, Kantong
Persalinan, termasuk kematian ibu , bayi lahir dan mati di wilayah desa
(termasuk dokter dan bidan praktek swasta di desa tsb ).
9) Melaporkan hasil tersebut setiap bulan ke Puskesmas.
10) Pemantauan Intensif dilakukan terus pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
11) Stiker dilepaskan sampai 40 hari pasca persalinan dimana ibu dan bayi yang
dilahirkan aman dan selamat.

6 Sasaran Program P4K


a. Hamil
b. Keluarga
c. Petugas Kesehatan
d. Dukun Paraji
e. Tokoh Masyarakat (Toma)
28
f. Tokoh Agama (Toga)

7 Output Program P4K


a. Bidan atau bidan di Desa memberikan Antenatal Care (ANC) yang sesuai standar
medis dan non medis.
b. Ibu hamil dan keluarganya mempunyai rencana persalianan dan KB yang dibuat
bersama dengan penolong persalinan : bidan atau bidan dan dukun.
c. Keluarga mempersiapkan persalinan baik secara material dan juga persiapan
lingkungan.
d. Adanya keterlibatan nyata dari Tokoh Agama (TOMA) formal maupun non
formal, kader dukun dan lain-lain dalam rencana persalinan dan KB setelah
melahirkan sesuai perannya masing-masing.
e. Adanya kerjasama yang mantap antara bidan, petugas puskesmas pembantu
(PUSTU), dukun bayi dan kader.
f. Ibu hamil menggunakan buku KIA sebagai buku dan catatan kehamilan,
persalinan, dan pada masa nifas.

8 Indikator Pemantauan Pelaksanaan P4K


a. Persentase desa melaksanakan program (P4K) dengan stiker.
b. Persentase ibu hamil mendapat stiker
c. Persentase ibu hamil berstiker mendapat pelayanan antenatal sesuai
d. Standar.
e. Presentase ibu hamil, bersalin dan nifas, berstiker yang mengalami komplikasi
tertangani.
f. Presentase mengunakan KB pasca salin.
g. Presentase ibu bersalin di tenaga kesehatan mendapatkan pelayanan nifas.

29
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pembangunan kesehatan tidak terlepas dari komitmen Indonesia sebagai
warga masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya MDGs, karena dari
delapan agenda MDGs lima diantaranya berkaitan langsung dengan kesehatan yaitu
memberantas kemiskinan dan kelaparan, menurunkan angka kematian anak,
meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS serta menyehatkan
lingkungan. Salah satu upaya Indonesia untuk mencapai target tersebut dengan
Pengembangan Desa Siaga Aktif yang merupakan pengembangan dari Desa Siaga.

Pengembangan Desa Siaga aktif terdiri dari 4 tahap, yakni pratama, madya,
purnama dan mandiri. Kriteria peningkatan tahap pengembangan Desa Siaga Aktif
tergantung dari berjalan atau tidak secara berkala Forum Masyarakat Desa, jumlah
UKBM yang aktif, pelayanan kesehatan dasar, serta jumlah rumah tangga yang
berperilaku hidup bersih sehat.
Stakeholders merupakan orang atau organisasi yang memiliki kepentingan
dalam program kesehatan masyarakat dan bagaimana mereka mengimplementasikan
program tersebut yang meliputi warga yang peduli, perwalikilan pemerintah,
perwakilan layanan kesehatan dan sosial lainnya, anggota dewan pemerintah,
perwakilan keagamaan dan anggota asosiasi profesional. Seorang stakeholders yang
memiliki kredibilitas ikut berpengaruh yang dapat menyakinkan sebagian besar
masyarakat bahwa ada masalah kesehatan yang harus segera di tanggulangi.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah
kesehatan, bencana dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri. Desa siaga ini
merupakan program pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Indonesia sehat 2010.
Desa yang dimaksud dalam desa siaga adalah keluarahan / istilah lain bagi kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah, yang berwenang untuk
mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dan dihormati
30
dalam sistem pemerintahan.
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K)
merupakan suatu kegiatan yang difasilitasi oleh bidan di desa dalam rangka
peningkatan peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan
persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk
perencanaan penggunaan KB pascapersalinan dengan menggunakan stiker sebagai
media notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan
kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir.
Sasaran dari program ini adalah semua ibu hamil yang ada di wilayah tersebut.
Program ini membutuhkan peran serta masyarakat, kader dan juga dukun bayi setempat
bila ada.

B. Saran
Seluruh komponen masyarakat hendaknya mampu menyelenggarakan dan
mengembangkan Desa Siaga yang aktif dan tanggap terhadap berbagai masalah-
masalah kesehatan di masyarakat. Juga mampu berpartisipasi dalam program P4K ini,
mengingat bidan maupun tenaga kesehatan tidak dapat melaksanakan program
tersebut tanpa dukungan dan peran serta dari seluruh anggota masyarakat.

31
DAFTAR PUSTAKA

Runjati. 2010. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Yulifah, Rita. 2009. Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta : Salemba Medika.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Pedoman Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan Stiker. Jakarta : Depkes. RI.
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K). (http://selatan.jakarta.go.id/sudinkes/?page=Artikel&id=6).
Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi. (http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/06/program-perencanaan-
persalinan-dan-pencegahan-komplikasi.html)
Handayani, Lulut. Perilaku bidan dalam pemasangan stiker P4K. jurnal kebidanan. Vol.10
no.3.2014
Rosita, Devi, Ita rahmawati. Hubungan Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang P4K dengan
penggunaan stiker P4K di desa Mijen kec. Kaliwungi, Kab.Kudus. Volume 3. 2012
Depkes RI, 2008. Pedoman Praktis Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan
Komplikasi (P4K) dengan Stiker. Jakarta: Departemen Kesehatan RI
Depkes RI, 2008. Buku Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: USAID

32