Anda di halaman 1dari 21

PERCOBAAAN VII

PEMISAHAN KOMPONEN DARI CAMPURAN DAN MELALUI


PENGENDAPAN

I. Hari / Tanggal : Sabtu / 14 November 2015


II. Tujuan
1. Memisahkan campuran dengan cara sublimasi, ekstraksi, dekantasi,
kristalasi dan kromatografi.
2. Mengendapkan barium klorida dan menentukan persentase hasildari
barium kromat.
3. Menentukan persentase barium klorida dari campuran.
4. Mendalami dan menggunakan hukum stoikiometri dalam reaksi kimia.
5. Mengembangkan keterampilan menyaring dan memindahkan endapan.
III. Teori
Menurut Wani, dkk (2004), bahwa bahan kimia dapat terdiri atas
beberapa komponen yang bergabung, biasanya disebut campuran,
pemisahan campuran dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain:
ekstraksi, dekantasi, kristalisasi dan kromatografi.
a) Ekstraksi yaitu proses pemisahan komponen zat dari suatu
campuran berdasarkan perbedaan kelarutan.
b) Dekantasi yaitu proses pemisahan cairan dari padatannya dengan
menuangkan supernatan (perlahan).
c) Kristalisasi yaitu proses pemisahan cairan dari padatannya
berdasarkan kelarutan.
d) Kromatografi yaitu pemisahan zat padat dari campurannya
berdasarkan perbedaan migrasi senyawa.
Dalam percobaan ini digunakan kromatografikertas atau jenis
kromatografi partisi yang proses pemisahanya didasarkan pada perbedaan
kecepatan migrasi setiap komponen campuran melalui medium stasioner.
Pemisahan dipengaruhi oleh jenis fase gerak atau pemisahan terjadi karena
adanya perbedaan kepolaran senyawa yang dianalisis terhadap pelarut.
Dalam sistem kromatografi, perbandingan gerakan zat terhadap
aliran pelarut adalah tetap dan merupakan sifat yang khas. Hal ini
dinyatakan sebagai harga Rf, yang didefinisikan sebagai:
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑧𝑎𝑡
Rf= 𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

Campuran adalah materi yang terdiri atas dua macam zat atau lebih
dan masih memiliki sifat-sifat zat asalnya. Jika kita mencampur minyak
dengan air, terlihat ada batas di antara kedua cairan tersebut. Jika kita
mencampur dengan alkohol, batas antara keduanya tidak terlihat. Minyak
dan air membentuk campuran heterogen.
Campuran heterogen adalah campuran yang tidak serbasama,
membentuk dua fasa atau lebih, dan terdapat batas yang jelas di antara
fasa-fasa tersebut.
Menurut Winarti (1994), bahwa alkohol dan air membentuk
campuran homogen. Campuran homogen adalah campuran yang
serbasama di seluruh bagiannya dan membentuk satu fasa.
Contoh campuran heterogen :
 Campuran tepung beras dengan air,
 Campuran kapur dengan pasir,
 Campuran serbuk besi dengan karbon.
Contoh campuran homogen :
 Campuran gula atau garam dapur dengan air,
 Air teh yang sudah disaring,
 Campuran gas di udara.
Campuran homogen biasa disebut larutan. Larutan adalah
campuran homogen antara zat terlarut (solute) dan zat pelarut (solvent).
Larutan dapat berwujud padat, cair, dan gas.
1) Larutan berwujud padat. Larutan berwujud padat biasa ditemukan pada
paduan logam. contohnya, kuningan yang merupakan paduan seng dan
tembaga.
2) Larutan berwujud cair. Contohnya, larutan gula dalam pelarut air.
3) Larutan dalam wujud gas. Contohnya, udara yang terdiri atas
bermacam-macam gas, diantaranya adalah nitrogen, oksigen, dan karbon
dioksida
Metode pemisahan merupakan suatu cara yang digunakan untuk
memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau skelompok senyawa
yang mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik
dalam skala laboratorium maupun skala industri. Metode pemisahan
bertujuan untuk mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu
campuran, sering disebut sebagai pemurnian dan juga untuk mengetahui
keberadaan suatu zat dalam suatu sampel (analisis laboratorium).
Menurur Parning (2003), bahwa berdasarkan tahap proses
pemisahan, metode pemisahan dapat dibedakan menjadi dua golongan,
yaitu metode pemisahan sederhana dan metode pemisahan kompleks.
 Metode Pemisahan Sederhana
Metode pemisahan sederhana adalah metode yang menggunakan
cara satu tahap. Proses ini terbatas untuk memisahkan campuran
atau larutan yang relatif sederhana.
 Metode Pemisahan Kompleks
Metode pemisahan kompleks memerlukan beberapa tahapan kerja,
diantaranya penambahan bahan tertentu,pengaturan proses
mekanik alat, dan reaksi-reaksi kimia yang diperlukan. Metode ini
biasanya menggabungkan dua atau lebih metode sederhana.
Contohnya, pengolahan bijih dari pertambangan memerlukan
proses pemisahan kompleks.
Keadaan zat yang diinginkan dan dalam keadaan campuran harus
diperhatiakn untuk menghindari kesalahan pemilihan metode pemisahan
yang akan menimbulkan kerusakan hasil atau melainkan tidak berhasil.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan antara lain :
a. Keadaan zat yang diinginkan terhadap campuran, apakah zat ada di
dalam sel makhlukhidup, apakah bahan terikat secara kimia, dan
sebagainya.
b. Kadar zat yang diinginkan terhadap campurannya, apakah kadarnya
kecil atau besar.
c. Sifat khusus dari zat yang diinginkan dan campurannya, misalnya zat
tidak tahan panas,mudah menguap, kelarutan terhadap pelarut tertentu,
titik didih, dan sebagainya.
d. Standar kemurnian yang diinginkan. Kemurnian 100% memerlukan
tahap yang berbeda dengan 96%.
e. Zat pencemar dan campurannya yang mengotori beserta sifatnya.
f. Nilai guna zat yang diinginkan, harga, dan biaya proses pemisahan
Menurut Hendayana (2006), bahwa suatu zat dapat dipisahkan dari
campurannya karena mempunyai perbedaan sifat. Hal ini dinamakan dasr
pemisahan. Beberapa dasar pemisahan campuran antara lain sebagai
berikut :
1) Ukuran partikel
Bila ukuran partikel zat yang diinginkan berbeda dengan zat yang tidak
diinginkan (zat pencmpur) dapat dipisahkan dengan metode filtrasi
(penyaringan). jika partikel zat hasil lebih kecil daripada zat
pencampurnya, maka dapat dipilih penyring atau media berpori yang
sesuai dengan ukuran partikel zat yang diinginkan. Partikel zat hasil akan
melewati penyaring dan zat pencampurnya akan terhalang.
2) Titik didih
3) Kelarutan
4) Pengendapan
5) Difusi
6) Adsorbsi
Menurut Achmad (1993), bahwa ada beberapa metode yaitu:
a) Filtrasi
Filtrasi atau penyaringan merupakan metode pemisahan untuk
memisahkan zat padat dari cairannya dengan menggunakan alat berpori
(penyaring).
b) Dekantasi
Dekantasi dapat dilakukan untuk memisahkan campuran zat cair dan zat
padat atau zat cair dengan zat cair yang tidak saling campur
(suspensi).Contoh: Pemisahan campuran air dan pasir.
c) Sentrifugasi
Sentrifugasi adalah pemisahan dengan menggunakan gaya putaran atau
gaya sentrifugal. Partikel dipisahkan dari liquid dengan adanya gaya
sentrifugal pada berbagai variasi ukuran dan densitas campuran larutan.
d) Kristalisasi
Kristalisasi merupakan metode pemisahan untuk memperoleh zat padat
yang terlarut dalam suatu larutan. Dasar metode ini adalah kelarutan bahan
dalam suatu pelarut dan perbedaan titik beku. Kristalisasi ada dua cara
yaitu kristalisasi penguapan dan kristalisasi pendinginan.
e) Destilasi
Dasar pemisahan adalah titik didih yang berbeda. Bahan yang dipisahkan
dengan metode ini adalah bentuk larutan atau cair, tahan terhadap
pemanasan, dan perbedaan titik didihnya tidak terlalu dekat.
f) Ekstraksi
Menurut Hosetettmann (1995), bahwa untuk memilih jenis pelarut
yang sesuai harus diperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
 Harga konstanta distribusi tinggi untuk gugus yang bersangkutan
dan konstanta distribusi rendah untuk gugus pengotor lainnya.
 Kelarutan pelarut organik rendah dalam air.
 Viskositas kecil dan tidak membentuk emulsi dengan air
 Tidak mudah terbakar dan tidak bersifat racun.
 Mudah melepas kembali gugus yang terlarut didalamnya untuk
keperluan analisa lebih lanjut.
Menurut Hadi, dkk (2007), suatu campuran dapat berupa homogen
(satu fasa) atau campuran heterogen (lebih dari satu fasa). Suatu campuran
heterogen dapat mengandung dua atau lebih fasa: padat-padat, padat-cair,
padat gas, cair-cair, cair-gas,gas-gas, campuran padat-cair-gas, dan
sebagainya. Pada berbagai kasus, dua atau lebih proses pemisahan harus
dikombinasikan untuk mendapatkan hasil pemisahan yang diinginkan.
Metode yang digunakan antara lain:
1. Dekantasi
2. Filtrasi
3. Destilasi
4. Kristalisasi
5. Sentrifuge
6. Kromatografi
7. Ekstraksi
8. Elektroforesis
9. Magnet
IV. Prosedur Percobaan
4.1.Alat dan Bahan
4.1.1. Alat
 Cawan penguap
 Pemanas
 Kaca arloji
 Pembakar/Bunsen
 Bejana kromatgrafi
 Gelas piala 150 ml
 Gelas piala 250 ml
 Kertas saring
 Kertas saring whattman
 Penotol (pipet kapiler)
4.1.2. Bahan
 NH4Cl 0,1 gr
 NaCl 0,1 gr
 SiO2 0,1 gr
 Air 25 ml
 Butanol
 Asam asetat
 Air
 Tinta hitam BaCl2 1 gr
 Air suling 25 ml
 25 ml K2Cr2O4 0,2 M
 BaCrO4
4.2.Skema Kerja
4.2.1 Pemisahan komponen dari campurannya
 Pemisahan dengan cara konvensional
NH4Cl 0,1 gr; NaCl dan SiO2
Ditimbang cawan penguap
Ditimbang bahan
Ditimbang cawan penguap dan contoh
Diletakkan pada alat
Dipanaskan cawan + isi sampai asap putih betul-betul habis
Dibiarkan cawan penguap dingin, setelah itu ditimbang 25 ml
air
Ditambahkan air pada padatan yang terbentuk
Diaduk (5 menit)
Didekantasi ke tempat yang lain (setelah ditimbang)
Dicuci dengan air sampai padatan bebas dari NaCl
Ditempatkan cawan penguap yang mengandung NaCl diatas
pemanas
Dipanaskan dan ditutup cawan dengan kaca arloji
Dibiarkan sampai terbentuk NaCl kering, ditimbang
Ditunggu terjadinya penguapan SiO2
Dikeringkan
Ditempatkan cawan
Ditutup dengan kaca arloji
Didinginkan hingga mencapai suhu kamar, ditimbang
Hasil

 Pemisahan dengan Kromatografi


Pelarut (eluen); campuran buatnol, asam asetat, dan air
Disediakan bejana kromatografi dan alat lainnya
Diisi bejana dengan bahan nisbah 1:1:4
Ditutup dengan kaca
Digunting kertas saring
Digunakan penotol untuk dibuat noda hitam
Digantung kertas saring di dalam bejana kromatografi
Dibiarkan sampai diperoleh pemisahan yang baik
Ditentukan nilai Rf dari setiap noda yang diperoleh
Hasil

 Persentase hasil barium kromat


1 gr (0,8 sampai 1,2) BaCl2
Ditimbang gelas piala 250 ml
Dimasukkan bahan dan ditimbang kembali
25 ml air suling
Ditambahkan dan dihomogenkan
25 ml K2Cr2O4 0,1 M
Dimasukkan, diaduk, dan diamati endapan yang terbentuk
Diuji larutan dengan beberapa tetes larutan
Ditambahkan secara terus menerus K2Cr2O4 (jika masih
terbentuk endapan BaCrO4)
Dipanaskan hingga mendidih, dialihkan dari api
Disaring dengan kertas saring whatman
Diambil kertas saring beserta endapannya, dikeringkan,
ditimbang dan dicatat bobotnya
Dihitung hasil teoritis endapan BaCrO4
Ditentukan juga persen hasil
Hasil

 Persentase BaCl2 dalam campuran


Suatu campuran yang mengandung BaCl2
Didapatkan dan dicatat bobotnya
Dihitung prosedur A
Dihitung massa Barium Klorida dalam campuran
Dicari persentase BaCl2 pada campuran semula
Hasil
V. Hasil dan Pembahasan
5.1.Data dan Perhitungan
Pemisahan komponen dari campuran
1. Pemisahan dengan cara konvensional
Bobot Cawan penguap dan contoh semula : 66,495 gram
Bobot cawan penguap : 66,31 gram
Bobot contoh : 0,185 gram
Bobot cawan penguap setelah NH4Cl menyublim : 66,81 gram
Bobot NH4Cl : 0,05 gram
Persentase NH4Cl : 90 %
2. Bobot cawan + kertas saring + NaCl : 56,65 gram
Bobot cawan + kertas saring : 56,55 gram
Bobot NaCl : 0,06 gram
Persentase NaCl : 60 %
3. Bobot cawan + SiO2 : 55,767 gram
Bobot cawan : 55.612 gram
Bobot SiO2 : 0,155 gram
Persentase SiO2 : 155 %
4. Bobot sampel : 0,3 gram
Bobot NH4Cl + NaCl + SiO2 : 0,35 gram
Bobot selisih : 0,05 gram
Persentase bahan yang dipisahkan : 50 %

Persentase Barium Klorida dalam campuran


1. Bobot gelas piala + campuran : 95,45 gram
Bobot gelas piala : 94,35 gram
Bobot campuran : 1,1 gram
Bobot kertas saring + endapan BaCl2 : 0,56 gram
Bobot kertas saring : 0,46 gram
Hasil nyata endapan BaCl2 : 0,1 gram
Pemisahan dengan Kromatografi

NO Noda Rf Warna Nilai Rf


1. Jingga 0,44 cm
2. Biru 0,3 cm
3. Ungu 0,1 cm

Analisis melalui pengendapan


1. Persentase hasil barium kromat
Bobot gelas piala + BaCl2 : 95,45 gram
Bobot gelas piala : 94,35 gram
Bobot BaCl2 : 1,1 gram
Bobot kertas saring + endapan BaCrO4 : 1,9 gram
Bobot kertas saring : 0,53 gram
Hasil nyata endapan BaCrO4 : 1,37 gram
5.2.Pembahasan
Percobaan yang ke-7 adalah tentang pemisahan komponen dari
campuran dan analisis melalui pengendapan.
1) Pemisahan komponen dari campuran
A. Pemisahan dengan cara konvensional
Percobaan ini dilakukan dengan cara terlebih dahulu menimbang
cawan penguap yang kering dan bersih dengan ketelitian 0,01 gr sehingga
didapatkan 6,3 gr, sedangkan untuk berat zat atau contoh semula 0,3 gr
masing masing NH4Cl 0,1 gr , Na4Cl 0,1 gr dan SiO2 0,1 gr. Kemudian
cawan dan bobot contoh dipanaskan sampai asap putih betul-betul habis,
dan setelah dingin ditimbang kembali dan didapatkan berat sebesar 63,2
gr. Sehingga dari hasil tersebut bobot NH4Cl dapat diketahui yaitu 0,1 gr.
Sambil menungbu penguapan, SiO2 dikeringkan dengan pembakar
bunsen yang sebelumnya ditimbang terlebih dahulu. Bobot cawan + SiO2
= 63,1 gr. Setelah SiO2 kering dan cawan dingin maka ditimbang kembali,
sehingga beratnya menjadi 63,0 gr. Jadi berat SiO2 adalah 0,1 gr.
B. Pemisahan dengan kromatografi
Percobaan dilakukan dengan cara memasukkan pelarut eluen yaitu
campuran butanol, asam asetat, dan air dengan perbandingan 1 : 1 : 4
kedalam bejana kromatografi atau gelas piala 150 gr. Kemudian kertas
saring yang telah diberi noda dimasukkan kedalam gelas piala denagan
noda harus berada diatas permukaan pelarut. Biarkan sampai diperoleh
pemisahan yang baik. Sehingga didapatkan perbandingan gerakan zat
terhadap aliran pelarut yang tetap. Hal ini dinyatakan sebagai harga Rf
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑧𝑎𝑡
yang di definisikan sebagai : Rf = . dari hasil
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑡𝑒𝑚𝑝𝑢ℎ 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡

percobaan, didapatkan hasil sebagai berikut:


 Noda warna hitam
2,2
Nilai Rf = 4,2 = 0,52 cm

Dengan warna yang diperoleh coklat


 Noda warna hitam
0,5
Nilai Rf= 4,2 = 0,12 cm

Dengan warna yang diperoleh adalah biru


2) Analisis melalui pengendapan
A. Persentase hasil barium kromat
Pada percobaan ini dilakukan dengan cara menimbang gelas
piala 250 mL sehingga didapatkan beratnya 100gr, kemudian kedalam
gelas piala dimasukkan BaCl2 1 gr , sehingga berat gelas piala + BaCl2
adalah 101 gr. Setelah itu ditambahkan 25 mL air suling, larutan
diaduk samapai homogen, kemudian dimasukkan K2CrO4 0,2 M
sebanyak 25 mL.
Laruatan diamati apakah masih ternbentuk endapan atau tidak,
pada percobaan ini endapan masih terbentuk sehingga ditambahkan
K2CrO4 kembali sebanyak 3 mL. Jadi total K2CrO4 yang digunakan
sebanyak 28 mL. Sedangkan reaksi yang terjadi yaitu:
BaCl2 + K2CrO4→ BaCrO4 + 2KCl
Setelah tidak terjadi endapan, larutan dipanaskan sampai
mendidih. Setelah mendidih larutan disaring menggunakan kertas
saring terlebih dahulu ditmbang yaitu 2,1gr. Kemudian endapan yang
tersaring di keringkan dengan cara dibakar di atas bunsen atau
menggunakan pemanasan di bawah sinar matahar. Setelah kering,
endapan ditimbang kembali dan beratnya 3,7gr.

𝑔𝑟 1𝑔𝑟
Mol BaCl2 =𝑚𝑟 = 208,5 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙 = 4,8 x 10-3 mol

Mol k2CrO4 = M.V


= 0,2 M . 0,28 Ml
= 0,056 mol

BaCl2 + k2CrO4 → BaCrO4 + 2KCl


m: 0,0048 0,056 - -
b: 0,0048 0,0048 0,0048 0,0048
s: - 0,0512 0,0048 0,0048

mol BaCrO4= 0,0048 mol


gr BaCrO4 = mol x Mr
= 0,0048 mol x 225,5
= 1,0824 gr

Persen hasil BaCrO4


𝑔𝑟 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
% hasil BaCrO4 = x 100%
𝑔𝑟 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠
3,7 𝑔𝑟
=1,0824 𝑔𝑟 x 100% = 341,8%

Pada percobaan ini, ada beberapa kesalahan yang terjadi sehingga


yang didapatkan tidak sesuai, terutama pada analisis melalui pengendapan.
Dari hasil percobaan, seharusnya berat yang didapatkan dari hasil praktek
sama hasil teoritis sama. Tetapi dari hasil yang diperoleh tidak sama.
Yaitu hasil praktek sebesar 3,7gr sedangkan berat BaCrO4 dihitung secara
teoritis beratnya adalah 1,0824gr.
Dari hasil yang diperoleh ini, berarti terdapat kesalahan pada saat
prosedur kerja. Seharusnya pada penambahan K2Cr04 sampai tidak terjadi
endapan. Tetapi karena terbatasnya ketersedian zat k2CrO4 maka
digunakan secukupnya saja. Sehingga berat BaCrO4 hasil praktek tidak
sama dengan berat secara teoritis.
VI. Kesimpulan dan Saran
6.1.Kesimpulan
Berdasarkan percobaan, maka dapat disimpulkan bahwa;
1. Pemisahan komponen dari campuran dapat dilakukan
dengan cara sublimasi, ekstraksi, dekantasi, kristalasi dan
kromatografi.
2. Suatu zat akan mengendap apabila hasil kali kelarutan ion-
ionnya lebih besar daripada harga Ksp.Persentase hasil suatu
zat dapat ditentukan dengan rumus;
𝑔𝑟 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
% hasil zat = x 100%
𝑔𝑟 𝑡𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑠

3. Dapat mengalami dan menggunakan hukum stoikiometri


dalam reaksi kimia. Misalnya: menghitung persentase hasil
menyaring.
4. Dapat mengembangkan keterampilan menyaring dan
memindahkan.
5. Dapat menghitung secara teoritis dari hasil yang didapatkan
dari data yang benar
6.2.Saran
Praktikan harus benar-benar teliti dalam menyelesaikan perhitungan,
karena harus dari data yang tepat dan akurat berdasarkan dari
percobaan yang telah dilakukan sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 1993. Kimia Dasar I. Jakarta: Universitas Terbuka


Hadi, Basoeri, dan Khodijah M. Nur. 2007. Metode-metode pemisahan. Jurnal
Kimia Industri. Volume: 3. Hal:1-2. Diakses pada tanggal 10 November 2015
Hendayana, Sumar. 2006. Kimia Pemisahan. Bandung.: Rasda
Horale, Parning. 2005. Kimia Jilid 1. Jakarta: Yudhistira
Hosetettmann, K, Willliam Pi. 1995. Cara pemisahan kromatografi preparatif.
Bandung: ITB
Wani, Suharto, Nafisah, dan Suprapto. 2004. Komponen yang bergabung. Jurnal
kimia pemisahan campuran. Vol: 1. Hal:1. Diakses pada tanggal 10 November
2015
Winarti, T.D. 1994. Kimia Campuran. Jakarta:Erlangga
Pertayaan prapraktek
1) Apa yang dimaksud dengan pemisahan komponen dari campuran?
JAWAB:
Pemisahan komponen dari campuran adalah memisahkan komponen yang
menyusun suatu campuran (zat terlarut) dengan pelarutnya (dapat berupa
zat padat, cair dan gas)
2) Sebutkan cara-cara pemisahan yang anda ketahui dan jelaskan
prinsipnya?
JAWAB:
 Sublimasi adalah pemisahan padatan dari campuran berbentuk padatan
dengan cara penguapan.
 Ekstrasi adalah proses pemisahan komponen zat dari suatu campuran
berdasarkan perbedaan kelarutan.
 Dekantasi adalah proses pemisahan cairan dari padatannya dengan
menuangkan aupernatan(perlahan).
 Kristalisasi adalah proses pemisahan cairan dari padatannya
berdasarkan kelarutan.
 Kromatografi adalah pemisahan zat padat dari campurannya
berdasarkan perbedaan migrasi seyawa.
 Destilasi adalah cara pemisahan pada campuran zat-zat yang
didasarkan pada per bedaan titik didihnya.
3) Apakah yang disebut Rf dan apa peranannya dalam proses pemisahan?
JAWAB:
Rf merupakan perbandingan dari jarak yang ditempuh zat dan jarak yang
ditempuh pelarut. Rf digunakan untuk keperluan identifikasi, noda-noda
sering ditentukan coraknya dengan harga Rf.
4) Berikan definisi untuk: flitral, %komposisi, endapan, stoikiometri,
supernatan dan hasil teortitis!
JAWAB:
 Flitral adalah zat hasil filtrasi (penyaringan) dari suatu campuran
 %komposisi adalah persentase setiap unsur dalam senyawa.
 Endapan adalah komponen yang tidak larut dan biasanya terdapat pada
bagian bawah suatu campuran.
 Stoikiometri adalah kajian tentang pengukuran partikel-partikel/ unsur-
unsur yang terdapat dalam senyawa dalam reaksi kimia.
 Supernatan adalah perlahan-lahan (hati-hati)
 Hasil teoritis adalah banyaknya produk yang diperoleh dari reaksi yang
berlangsung sempurna.
5) Bagaimana menguji apakah endapan telah sempurna?
JAWAB:
Dengan memasukkan beberapa tetes larutan yang kita ujikan/reaksikan
sehingga tidak lagi terlihat pengendapan.
6) Masalah apa yang terjadi jika endapan yang tejadi tidak sempurna?
JAWAB:
Jika endapan yang terjadi tidak sempurna, maka sebagian bobot yang
seharusnyan Mengendap terpaksa harus menguap karena masih menyatu
dengan bagian Larutan yang paling atas.
7) Apakah yang anda larutan jika partikel endapan kelihatan dalam filtrat?
Apakah sumber utama dari kesalahan percobaan tersebut?
JAWAB:
Apabila partikel endapan kelihatan dalam filtrat maka harus
dilakukanpenyaringan kembali sampai tidak ada lagi partikel dalam filtrat.
Sedangkan sumber utama dari kesalahan tersebut adalah kertas saring
yang digunakan tidaksesuai atau praktikan yang kurang teliti dalam
menyaring.
PERTANYAAN PASCA PRAKTEK
1.a. Bagaimana cara anda memisahkan HiCO3 dari Na2CO3?
JAWAB:
Dengan memasukkan Na2CO3 ke dalam air aduk hingga homogen dan
nantinya akanterbentuk endapn. Endapan tersebut adalah NiCO3.
Campuran tersebut kemudian didekantasi sebagai tidak ada lagi Na2CO3
yang tertinggal dalam endapan NiCO3.
b. Bagaimana cara anda memisahkan AgCl dari BaCl2?
JAWAB:
Dengan cara memasukkan campuran kedalam air, setelah itu campuran
diekstraksi untuk mendapatkan AgCl.
c. Bagaimana cara anda memisahkan TeO2 dari SiO2?
JAWAB:
Dengan cara memasukkan campuran ke dalam air, lalu ditambahkan O2+
dalam campuran sebagai akibat ion sejenis akan memperkecil kelarutan
dan dipisahkan dengan cara dekantasi.
2. Apakah ada cara pemisahan selain yang disebutkan dalam percobaan
ini?
JAWAB:
Ada, yaitu filtrasi, sentrifungsi, destilasi, sedimentasi, evaporasi, eksraksi
zat cair dan destilasi bertingkat.
3. Mengapa contoh NaCl perlu ditutup selama pemanasan?
JAWAB:
Karena pada saat pemanasan, terdapat uap yang keluar, sehingga apabila
tidak ditutup akan mempengaruhi berat contoh NaCl.
4. Apa kekurangan dan kelebihan cara kromatografi sebagai alat analisis?
JAWAB:
Kelebihannya yaitu dapat memisahkan campuran secara kompleks, bahan
yang digunakan sedikit atau tidak terlalu rumit dan dapt mengetahui
dengan mudah warna penyusun menggunakan noda.sedangkan
kekurangannya yaitu prosesnya lama dan sukar menambahkan warna yang
tampak pada noda tinta.
5. Contoh magnesium klorida sebanyak 0,552gr dilarutkan dalam air dan
diendapkan dengan larutanperak nitrat. Jika endapan perak klorida
bobotnya 1,631gr, berapa persentase hasil?MgCl2 + 2AgNO3→ 2AgCl +
Mg(NO3)2
JAWAB:
Diket: Ms MgCl2 = 0,552gr
Ms endapan AgCl 1,631gr
Dit : % AgCl?
0,552
Mol MgCl2 : = 0,0058 mol
95,3
2
Mol AgCl : 1 x 0,0058 = 0,0116 mol

Massa AgCl = mol AgCl x Mr


= 0,0116 mol x 143,4
= 1,66344 gr

𝑀𝑠 𝑝𝑟𝑎𝑘𝑡𝑒𝑘
% AgCl =𝑀𝑠 𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑛 x 100%
1,631𝑔𝑟
= x 100%
1,6634

= 98,05%

Anda mungkin juga menyukai