Anda di halaman 1dari 115

ANALISIS KEBUTUHAN PROGRAM PROMOSI PENCEGAHAN DIARE

PADA ANAK BERUSIA DI BAWAH DUA TAHUN


STUDI KASUS DI PUSKESMAS PIYUNGAN KABUPATEN BANTUL

TESIS

Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan


Mencapai Derajat Sarjana S-2

Minat Utama Perilaku dan Promosi Kesehatan


Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat
Jurusan Ilmu-Ilmu Kesehatan

Diajukan Oleh:

ELFI RAHMAWATI
NIM: 16825/PS/IKM/2005

Kepada
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
TAHUN 2008

i
ii
iii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, sehingga penulis dapat
menyelesaikan tesis ini. Tesis ini merupakan prasyarat untuk menyelesaikan
studi pada program Pasca Sarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, Minat
Perilaku dan Promosi Kesehatan, Universitas Gadjah Mada.
Selama penulisan tesis ini penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan dan arahan dari berbagai pihak. Untuk itu dengan penuh
kerendahan hati penulis sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan
setinggi-tingginya kepada:
1. Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ketua Minat Utama
Perilaku dan Promosi Kesehatan beserta staf pengajar yang telah banyak
memberikan bimbingan selama penulis menuntut ilmu.
2. Dra. Retna Siwi Padmawati, MA, sebagai pembimbing I yang telah
banyak memberikan arahan, masukan dan bimbingan yang sangat
berguna hingga selesainya tesis ini.
3. Drs. Rendra Widyatama, MSi sebagai pembimbing II yang telah banyak
memberikan arahan, masukan dan bimbingan yang sangat berguna
hingga selesainya tesis ini.
4. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul beserta jajarannya,
masyarakat di Kecamatan Piyungan beserta informan lainnya yang
banyak membantu memberikan informasi selama pengumpulan data.

iv
5. Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda beserta jajarannya yang telah
memberikan dukungan dan bantuan selama proses pendidikan di
Universitas Gadjah Mada ini.
6. Seluruh keluarga yang mendorong penulis dalam menyelesaikan
pendidikan.
7. Rekan-rekan seangkatan di Minat Utama Perilaku dan Promosi
Kesehatan yang saling membantu selama pendidikan. Dan semua pihak
yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang turut membantu
baik dalam pendidikan maupun dalam penulisan tesis ini.
Akhir kata, semoga karya yang masih jauh dari sempurna ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, April 2008


Penulis

ELFI RAHMAWATI

v
DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Judul i
ii
Lembar Pengesahan
iii
Pernyataan iv
v
Kata Pengantar
vi
Daftar Isi vii
viii
Daftar Tabel
ix
Daftar Gambar x
Daftar Lampiran
Intisari
Abstrac
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 6
B. Perumusan Masalah 6
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 6
E. Keaslian Penelitian 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka 10
1. Promosi Kesehatan 10
2. Diare 16
3. Analisis Kebutuhan Program Promosi Kesehatan 19

vi
4. Evaluasi Program Kesehatan 26
B. Landasan Teori 28
C.Kerangka Konsep Penelitian 30
D. Pertanyaan Penelitian 31
BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian 32
B. Subyektifitas Penelitian 32
C. Lokasi Penelitian 32
D. Subyek dan Sampling Penelitian 33
E. Definisi Operasional 34
F. Instrumen Penelitian 35
G. Prosedur Penelitian 37
H. Prosedur Analisis 38
I. Keabsahan Data 39
J. Etika Penelitian 39
H. Kesulitan dan Keterbatasan Penelitian 39
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian 41
1. Karakteristik Subyek Penelitian 41
2. Pemahaman Masyarakat tentang Diare 43
3. Perencanaan dan Pelaksanaan Program Promosi 49
Pencegahan Diare oleh Dinas Kesehatan Bantul
4. Kebutuhan masyarakat akan program promosi 56
pencegahan diare
5. Saluran informasi yang sering dipergunakan masyarakat 59

B. Pembahasan
1. Pemahaman masyarakat tentang Diare 60
2. Perencanaan dan Pelaksanaan Program Promosi 64

vii
Pencegahan Diare oleh Dinas Kesehatan Bantu
3. Kebutuhan masyarakat akan program promosi 68
pencegahan diare
4. Saluran informasi yang sering dipergunakan masyarakat 72
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan 74
B. Saran 75
DAFTAR PUSTAKA 76
LAMPIRAN 80

viii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 Karakteristik Informan Stakeholder Promosi 42
Kesehatan
Tabel 2 Karakteristik Informan Masyarakat 43
Tabel 3 Penyebab Diare menurut Pemahaman masyarakat 45
Tabel 4 Hasil pemeriksaan bakteriologis air 49

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1 Jumlah penderita diare di Kabupaten Bantul tahun 3
2004, 2005 dan 2006
Gambar 2 Jumlah penderita diare di Kabupaten Bantul tahun 3
2004, 2005 dan 2006
Gambar 3 Model penyusunan rencana pengajaran 19
Gambar 4 Rangkaian model Procede/Proceed yang berkaitan 21
dengan perencanaan,implementasi dan evaluasi
program promosi kesehatan
Gambar 5 Tahapan evaluasi 29
Gambar 6 Kerangka konsep penelitian 30
Gambar 7 Proses analisis data 38
Gambar 8 Pemahaman masyarakat tentang diare 45
Gambar 9 Penanganan diare oleh masyarakat 48
Gambar 10 Kondisi lingkungan sekitar sumber air minum 49
Gambar 11 Kegiatan di pojok PHBS Kecamatan Piyungan 51
Gambar 12 Kegiatan konseling 52

x
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1 Pernyataan kesediaan menjadi informan 80
Lampiran 2 Pedoman wawancara mendalam stakeholder bagian 81
kesehatan keluarga
Lampiran 3 Pedoman wawancara mendalam stakeholder bagian 83
kesehatan lingkungan
Lampiran 4 Pedoman wawancara mendalam stakeholder bagian 85
penyuluhan masyarakat
Lampiran 5 Pedoman wawancara mendalam stakeholder bagian 87
pencegahan dan pemberantasan penyakit
Lampiran 6 Pedoman wawancara mendalam stakeholder 89
Puskesmas
Lampiran 7 Pedoman wawancara mendalam masyarakat 91
Lampiran 8 Pedoman diskusi kelompok terarah 93
Lampiran 9 Pedoman observasi kegiatan promosi pencegahan 95
diare
Lampiran 10 Pedoman observasi sumber air dan lingkungan 96
Lampiran 11 Dokumentasi foto-foto pengambilan data 97
Lampiran 12 Peta Kecamatan Piyungan 99

xi
INTISARI

Latar belakang: Penyakit diare merupakan salah satu penyakit berbasis


lingkungan dan masih merupakan masalah kesehatan terbesar di Indonesia
karena masih buruknya kondisi sanitasi dasar, lingkungan fisik maupun
rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih dan sehat. Diare juga
merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab utama kesakitan dan
kematian pada anak balita terutama anak di bawah dua tahun. Selama ini
telah dilakukan bermacam-macam kegiatan promosi kesehatan untuk
menanggulangi terjadinya penyakit diare, akan tetapi angka kejadian diare
tetap tinggi bahkan untuk waktu tertentu terjadi kenaikan jumlah penderita.
Tujuan: untuk mendapatkan gambaran mengenai kebutuhan masyarakat
akan promosi pencegahan diare.
Metode penelitian: penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan
pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara
mendalam, diskusi kelompok terarah, observasi dan studi dokumen.
Informan penelitian adalah ibu yang memiliki anak usia di bawah dua tahun
dan stakeholder promosi kesehatan. Analisis data dilakukan dengan analisis
interaktif.
Hasil : program promosi pencegahan diare yang dilakukan di Puskesmas
Piyungan belum dapat menghilangkan beberapa anggapan yang kurang
tepat terhadap diare. Masyarakat tidak bisa melihat hubungan antara diare
dengan lingkungan dan pemberian air susu ibu. Kebutuhan masyarakat
terhadap informasi diare adalah mengenai semua hal yang berkaitan dengan
diare. Cara penyampaian yang dipilih adalah ceramah dengan menggunakan
media leaflet, folder dan booklet. Sumber informasi yang sesuai untuk
memberikan informasi adalah tenaga kesehatan. Waktu pelaksanaan teratur
setiap bulan.
Kesimpulan: bentuk promosi kesehatan yang sesuai untuk pencegahan
diare adalah ceramah oleh petugas kesehatan dengan menggunakan media
leaflet, booklet dan folder. Materi sebaiknya ditekankan pada pencegahan
diare, terutama hubungan lingkungan dan pemberian ASI terhadap kejadian
diare.

xii
ABSTRACT

Background: Diarrhea is one of environmental based diseases and still the


cause of major health problems in Indonesia. It is attributed to the poor
condition of basic sanitation, physical environment and the poor behavior of
community in personal hygiene. Diarrhea is considered as one of the
infectious disease and the main cause of mortality and morbidity in children
under-five and especially under two-years old. Various health promotion
activities have been conducted to control diarrhea disease, yet the diarrhea
incident rate still high. Even for certain period, there has been increasing
number of diarrhea patients.
Objective: This research was aimed at describing the community’s need for
the education of diarrhea prevention.
Method: This was a qualitative research using case study approach. Data
collection was conducted with indepth interview, focus group discussion,
observation and document study. Research informants were mother who
have children below two years old and health education stakeholders. Data
was analysed using interactive analysis.
Result: The promotion for diarrhea prevention that has been conducted in
Primary Health Care of Piyungan was not able to diminish various
inappropriate perceptions and assumptions toward diarrhea. The community
could not see the relation between diarrhea with environment and
breastfeeding. Community’s need toward diarrhea information was all
materials related with diarrhea. The method to convey was through speech
that used leaflet, folder and booklet. The information source that suitable to
give information was health care provider with regular meeting every month.
Conclusion: the suitable health promotion for diarrhea is speech by health
provider using leaflet, booklet and folder. Education material should be
focused on diarrhea prevention, especially on the relationship between
environment and breastfeeding and diarrhea incidens.

xiii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Derajat kesehatan manusia ditentukan oleh hasil interaksi antara
perilaku manusia dengan lingkungan yang dilatarbelakangi oleh faktor
sosiobudaya dan dipengaruhi oleh faktor yang berkaitan yaitu faktor
lingkungan, perilaku masyarakat dan faktor upaya kesehatan (Green et
al.,1985). Suatu penyakit timbul apabila terjadi ketidakseimbangan dalam tata
ekologi antara lingkungan dengan agent atau penyebab penyakit (Gordis,
2000). Banyak penyakit atau kondisi kesehatan yang bertambah parah akibat
perilaku manusia itu sendiri. Perilaku manusia merupakan hasil dari
pengalaman dan interaksi manusia yang terwujud dalam bentuk sikap,
pengetahuan dan tindakan. Perilaku merupakan respon individu terhadap
rangsangan baik yang berasal dari dalam diri maupun yang berasal dari luar.
Respon dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) maupun aktif (dengan
tindakan) (Sarwono, 2003).
Penyakit–penyakit menular merupakan masalah kesehatan yang
disebabkan oleh keadaan lingkungan dan perilaku manusia yang belum
menguntungkan. Penyakit menular termasuk di antaranya malaria, demam
berdarah, penyakit–penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, penyakit
TBC paru dan penyakit diare (Partawihardja,1990).
Menurut Luza (2007), penyakit diare merupakan salah satu penyakit
berbasis lingkungan. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan
terbesar di Indonesia karena masih buruknya kondisi sanitasi dasar,
lingkungan fisik maupun rendahnya perilaku masyarakat untuk hidup bersih
dan sehat. Diare juga merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab
utama kesakitan dan kematian pada anak balita terutama anak di bawah dua
2

tahun. Kelompok balita terutama tahun kedua kehidupan merupakan umur


yang penuh dengan risiko. Hal ini berkaitan dengan faktor makanan,
imunitas terhadap infeksi dan ketergantungan psikologi. Secara biologis umur
6-24 bulan merupakan periode rentan terhadap infeksi, gizi dan diare (Chiller
et al., 2006).
Menurut data WHO diare adalah penyebab nomor satu kematian balita
di dunia. Diare adalah penyebab kematian balita nomor dua setelah ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Atas) di Indonesia. UNICEF memperkirakan
bahwa setiap 30 detik ada anak yang meninggal karena diare. Setiap tahun
100.000 anak meninggal dunia karena diare di Indonesia (ESP, 2007).
Data Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa diare selalu masuk
dalam kelompok kunjungan pasien terbanyak. Diare juga sering muncul
sebagai kejadian luar biasa (KLB) dengan penderita yang cukup banyak
dengan angka kesakitan 374 per 1000 penduduk. Selain itu diare juga masih
merupakan penyebab kematian nomor dua pada Balita dan nomor tiga bagi
bayi serta nomor lima bagi semua umur (Depkes, 2004). Survei demografi
dan kesehatan Indonesia (SDKI) melaporkan bahwa balita yang menderita
diare dua minggu sebelum survei pada tahun 1997 sebesar 10,4 persen dan
pada tahun 2002 sebesar 11 persen (BPS, 1998; BPS, 2003).
Penyakit diare di Kabupaten Bantul masih merupakan masalah
kesehatan yang sering dihadapi. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul
menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah penderita diare pada tahun
2006.
3

DATA PEND DIARE KAB BANTUL


1200
1073 1093 1075
1072
1064
1000 964
930
976
889 876
JML KASUS

873 861
846 845 848
800 772
796 788 768 773
692 692 694
748
695
684 701
745
2004
647 638 653
641 632
629 624
600 610
2005
2006
400

200

0
b

ep
n

gs

ov
pr
n

kt

es
l
ar

ei

Ju
Ju
Fe
Ja

O
M
A
M

N
A

D
S
BULAN

Gambar 1. Jumlah penderita diare di Kabupaten Bantul pada tahun 2004


tahun 2005 dan tahun 2006.
Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa terjadi peningkatan jumlah
penderita diare di Kabupaten Bantul terutama sejak bulan Juni 2006 sampai
akhir tahun. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan terjadinya bencana
gempa bumi pada Mei 2006. Penyebaran penderita diare di Kabupaten
Bantul pada tahun 2004, tahun 2005 dan tahun 2006 adalah seperti terlihat
pada Gambar 2 berikut:

PENEMUAN KASUS DIARE

1000
900
800
700
600 2004 Pend
KASUS

500 2005 Pend


400 2006 Pend
300
200
100
0
PAJANGAN

SRANDAKAN
KASIHAN I

KASIHAN II

SEDAYU I

SEDAYU II

PANDAK I

PANDAK II

BG TAPAN I

BG TAPAN II

PIYUNGAN
BANTUL I

BANTUL II

IMOGIRI I

IMOGIRI II
SANDEN

BB LIPURO

PLERET
PUNDONG
SEWON I

SEWON II

JETIS I

JETIS II

DLINGO I

DLINGO II
KRETEK

SARANA KESEHATAN

Gambar 2. Jumlah penderita diare pada tahun 2004, tahun 2005 dan
tahun 2006 menurut sarana kesehatan di Kabupaten Bantul.
4

Berdasar Gambar 2 terlihat bahwa terdapat daerah-daerah yang mempunyai


penderita diare tinggi pada tiap tahun dan adanya peningkatan penderita
diare pada tahun 2006. Berdasar gambar 2 terlihat bahwa Puskesmas
Piyungan merupakan daerah dengan penderita tertinggi tahun 2004, 2005
dan 2006 (Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, 2007).
Penyakit diare disebabkan karena infeksi dari bakteri yang disebabkan
oleh kontaminasi dari makanan maupun air minum, infeksi karena virus,
alergi makanan khususnya susu atau laktosa, dan parasit yang masuk
melalui makanan atau minuman yang kotor (Moss et al., 2006). Pengendalian
penyakit diare dapat dilakukan dengan pemeliharaan sanitasi lingkungan dan
promosi kesehatan. Salah satu usaha untuk mengendalikan penyakit diare
adalah dengan melakukan promosi kesehatan yaitu segala usaha yang
dilakukan yang dapat berpengaruh terhadap peningkatan kesehatan.
Kegiatan promosi kesehatan dapat berupa pendidikan, perubahan lingkungan
yang mendukung peningkatan kesehatan, legislasi, ataupun perubahan pada
norma – norma sosial (Dignan dan Carr, 1992).
Promosi kesehatan untuk mengendalikan kejadian diare perlu
dilakukan karena terdapat berbagai macam tanggapan dan penerimaan yang
berbeda di masyarakat. Beberapa hal yang berkaitan dengan latar belakang
pendidikan, sosial budaya dan ekonomi menyebabkan terjadinya bermacam
pengertian, sikap dan tanggapan dan penerimaan masyarakat terhadap
diare, kepadatan penduduk yang tinggi, higyene dan sanitasi yang buruk
mempertinggi kejadian diare. Faktor-faktor tersebut mempermudah
penyebaran atau penularan infeksi (Partawihardja, 1990).
Berdasar pemaparan di atas maka penanganan diare, selain
penyebab penyakit, juga perlu diperhatikan sanitasi, perilaku manusia dalam
memanfaatkan sanitasi, keadaan gizi, sosial ekonomi, budaya yang juga
berpengaruh terhadap terjadinya diare. Selain itu penyebab terjadinya diare
5

juga sangat dipengaruhi oleh waktu, tempat dan faktor umur (Philips et al.,
1987).
Menurut Morton et.al (1995), perilaku manusia dipengaruhi faktor -
faktor predisposing, enabling dan renforcing. Diperlukan cara-cara untuk
mengubah perilaku yang akan mempertinggi angka kejadian diare seperti
meningkatkan perilaku hidup bersih sehat. Dalam keadaan bencana
umumnya terdapat keterbatasan sarana sanitasi. Untuk meminimalisasi
pengaruh lingkungan perlu dilakukan kontrol terhadap perilaku berisiko.
Berdasar wawancara dengan petugas penyuluhan masyarakat Dinas
Kesehatan Bantul dalam studi pendahuluan diketahui bahwa selama ini di
Kabupaten Bantul telah dilakukan kegiatan promosi kesehatan untuk
menanggulangi terjadinya penyakit diare, yaitu melakukan penyuluhan dan
social marketing gerakan cuci tangan dengan sabun yang dilakukan sebulan
sekali sepanjang tahun. Penyuluhan dilakukan oleh Puskesmas di wilayah
kerja masing-masing. Namun kejadian diare tetap tinggi bahkan untuk waktu
tertentu terjadi kenaikan jumlah penderita. Hal-hal yang dapat mengurangi
keberhasilan promosi kesehatan adalah bahwa menurut petugas puskesmas
kegiatan promosi kesehatan selama ini per bagian yaitu kegiatan dilakukan
oleh setiap penanggung jawab program secara terpisah. Kegiatan- kegiatan
tersebut dilakukan sesuai program masing-masing bagian seperti kegiatan
peningkatan kualitas air oleh bagian kesehatan lingkungan, konseling untuk
pemberian ASI oleh bagian kesehatan ibu dan anak serta kegiatan PHBS
oleh bagian penyuluhan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan lebih
menitikberatkan pada pendidikan kesehatan, sementara perubahan
lingkungan yang mendukung kesehatan, perubahan norma-norma sosial
maupun usaha legislasi kurang mendapat perhatian.
Selain kegiatan promosi kesehatan yang tidak menyeluruh, faktor lain
yang dapat mempengaruhi keberhasilan promosi kesehatan adalah faktor
6

perencanaan (Green, et al.1985). Menurut Dignan dan Carr (1992) proses


untuk perencanaan program untuk pendidikan kesehatan masyarakat terdiri
dari: analisis komunitas, diagnosa komunitas, penetapan fokus program,
analisis kelompok target, penyusunan rencana program, pelaksanaan dan
evaluasi. Analisis komunitas merupakan proses pengumpulan informasi yang
berhubungan dengan komunitas yang akan dipelajari. Diagnosa komunitas
merupakan tahap akhir dari analisis komunitas yang meliputi penyusunan
data dan identifikasi kesenjangan antara masalah kesehatan dan pelayanan
kesehatan. Setelah kebutuhan dapat teridentifikasi langkah selanjutnya
adalah menetapkan fokus program. Penentuan fokus program menentukan
bentuk program yang harus disusun berdasar pada kelompok target dan
kebutuhan yang sudah teridentifikasi. Analisis target adalah tahapan dari
perencanaan program promosi kesehatan yang bertujuan untuk menganalisis
kelompok sasaran berdasar perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi
perilaku dari sasaran.
Menurut Dignan dan Carr (1992) penyusunan program promosi
kesehatan harus berdasar komunikasi, koordinasi dan kerjasama antara
orang–orang yang menyediakan dan yang menerima promosi kesehatan.
Penyusunan program promosi kesehatan harus mempertimbangkan
kebutuhan dan perilaku orang yang akan diubah.
Berdasar pemaparan tersebut di atas maka perlu dilakukan penelitian
untuk menggali kebutuhan masyarakat akan program promosi pencegahan
diare sehingga didapatkan data mengenai individu atau kelompok serta
sistem yang akan menjadi fokus dari program sehingga kegiatan promosi
kesehatan yang akan dilakukan dapat sesuai dengan keinginan masyarakat
dan mencapai hasil optimal.
7

B. Permasalahan
Bagaimana program promosi pencegahan diare yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat di Puskesmas Piyungan ?

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengidentifikasi program promosi pencegahan diare yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakat di Puskesmas Piyungan.

2. Tujuan Khusus
a. Mengeksplorasi program promosi pencegahan diare yang telah
direncanakan dan dilaksanakan di Puskesmas Piyungan.
b. Mengidentifikasi media yang sering dipergunakan masyarakat untuk
mendapatkan informasi tentang diare.
c. Mengeksplorasi kebutuhan masyarakat akan informasi tentang diare.

D. Manfaat
1. Mendapatkan gambaran tentang program promosi pencegahan diare
yang telah dilaksanakan di Puskesmas Piyungan.
2. Mendapatkan gambaran tentang kebutuhan masyarakat akan program
promosi pencegahan diare.
3. Mendapatkan gambaran tentang media informasi yang sering
dipergunakan masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang diare.
4. Sebagai bahan untuk penyusunan program promosi kesehatan untuk
pencegahan diare di Puskesmas Piyungan.
5. Sebagai bahan untuk penelitian selanjutnya.
8

E. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang promosi kesehatan diare yang pernah dilakukan
antara lain:
1. Sutrisno (2003), meneliti tentang efektifitas metode kombinasi ceramah
dengan tanya jawab dengan media video. Penelitian ini meneliti pengaruh
metode kombinasi ceramah dengan tanya jawab dengan media video
dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang promosi
penatalaksanaan diare di Akademi Kebidanan Mangkuyudan, Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan
rancangan pretest-postest control group design dengan subyek penelitian
adalah mahasiswa. Hasil penelitian adalah perkuliahan dengan metode
kombinasi ceramah dengan tanya jawab dengan media video
menghasilkan rerata pengetahuan yang lebih tinggi dibanding dengan
metode perkuliahan kombinasi ceramah tanya jawab. Perbedaan dengan
penelitian ini adalah dalam hal tujuan penelitian, metode penelitian dan
lokasi penelitian.
2. Ishak, Syafei (2002), meneliti tentang perbedaan efektifitas metode
partisipatif dengan informatif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap
ibu tentang diare anak balita di Kecamatan Grabag, Kabupaten
Purworejo. Penelitian membandingkan perbedaan peningkatan
pengetahuan dan sikap ibu tentang diare anak balita dan penanganannya
di rumah antara pendidikan metode parsitipatif dengan informatif.
Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimental dengan
rancangan pretest-postest control group design dengan subyek penelitian
adalah ibu anak balita. Hasil penelitian menyatakan bahwa metode
partisipatif lebih efektif meningkatkan pengetahuan tetapi kurang efektif
dalam meningkatkan sikap ibu dibanding metode informatif. Perbedaan
9

dengan penelitian ini adalah dalam hal tujuan penelitian, metode


penelitian dan lokasi penelitian.
3. Beverly et al, (2005), dalam bukunya tentang “ Need assessment of rural
communities: a focus on older adults,” meneliti tentang kebutuhan
kesehatan pada lansia. Penelitian dilakukan dengan metode survei pada
lansia dan diskusi kelompok terarah pada penyedia layanan kesehatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan kesehatan pada lansia
bervariasi menurut kelompok umur. Perbedaan dengan penelitian ini
adalah pada metode dan lokasi penelitian.
4. McGuire et al. (2005), dalam bukunya tentang “How many social workers
are needed in primary care? A patient-based needs assessment
example,“ meneliti tentang kebutuhan pelayanan kesehatan akan tenaga
sosial. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei pada veteran yang
menerima pelayanan kesehatan pada klinik-klinik pelayanan pertama di
Los Angeles. Hasil penelitian ini adalah metode untuk memperkirakan
kebutuhan pekerja dengan berdasar pada kebutuhan pasien. Perbedaan
dengan penelitian ini adalah pada metode dan lokasi penelitian
5. Zubir (2005), meneliti tentang faktor-faktor risiko kejadian diare akut pada
anak usia 0-35 bulan (batita) di Kabupaten Bantul. Penelitian dilakukan
dengan metode observasional dengan rancangan kasus kontrol pada
anak usia 0-35 bulan di Kabupaten Bantul. Hasil penelitian adalah bahwa
kebiasaan ibu tidak cuci tangan atau tidak cuci tangan dengan sabun
sebelum menyuapi anaknya, buang air besar tidak di jamban dan
penghentian ASI secara dini (kurang dari dua tahun) merupakan faktor
risiko terjadinya diare pada anak batita di Kabupaten Bantul. Perbedaan
dengan penelitian ini adalah pada jenis penelitian, subyek penelitian,
masalah penelitian dan pengumpulan data.
10

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka
1. Promosi Kesehatan
a. Definisi
Menurut Machfoedz et al. (2005), proses memberdayakan masyarakat
untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya melalui
peningkatan kesadaran, kemauan, dan kemampuan serta pengembangan
lingkungan sehat merupakan inti dari promosi kesehatan. Promosi kesehatan
merupakan proses untuk membuat orang mampu meningkatkan kontrol
terhadap kesehatan dan faktor–faktor yang mempengaruhi kesehatannya
sendiri. Kegiatan tersebut dilakukan dengan meningkatkan kemampuan
perseorangan dan kelompok untuk melakukan perubahan keadaan terutama
yang berhubungan dengan penyebab sosial dan ekonomi yang
mempengaruhi kesehatan (Tang et al., 2005).
Promosi kesehatan menurut WHO adalah proses mengupayakan
individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka
mengendalikan faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan sehingga dapat
meningkatkan derajat kesehatannya (Depkes,2004). Menurut Ewless dan
Simnet (1994) promosi kesehatan merupakan sebuah proses untuk membuat
orang mampu meningkatkan kontrol dan memperbaiki kesehatannya sendiri.
Berdasar beberapa definisi di atas maka dasar dari promosi kesehatan
adalah melakukan pemberdayaan sehingga masyarakat mampu untuk
melakukan kontrol terhadap aspek-aspek kehidupan yang mempengaruhi
kesehatan. Pemberdayaan dilakukan melalui peningkatan pengetahuan,
peningkatan sikap dan perilaku melalui advokasi, bina suasana dan gerakan
masyarakat.
11

b. Tujuan Promosi Kesehatan


Tujuan umum dari promosi kesehatan menurut Depkes (2004) adalah
meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat
untuk hidup sehat dan mengembangkan upaya kesehatan yang bersumber
dari masyarakat, serta terciptanya lingkungan yang kondusif untuk
mendorong terbentuknya kemampuan tersebut. Sedangkan tujuan khusus
promosi kesehatan adalah pada tataran keluarga bertujuan agar individu dan
keluarga dapat memperoleh informasi kesehatan melalui berbagai saluran
baik langsung maupun melalui media massa, mempunyai pengetahuan,
kemauan dan kemampuan untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi
kesehatannya, dapat mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)
menuju keluarga atau rumah tangga sehat, mengupayakan paling sedikit
salah seorang menjadi kader kesehatan bagi keluarganya serta berperan
aktif dalam upaya / kegiatan kesehatan.
Pada tatanan sarana kesehatan, institusi pendidikan, tempat kerja dan
tempat umum tujuan khusus promosi kesehatan adalah agar masing-masing
tatanan mengembangkan kader-kader kesehatan, mewujudkan tatanan yang
sehat menuju terciptanya kawasan sehat. Bagi Organisasi kemasyarakatan /
organisasi profesi / LSM dan media massa agar mampu menggalang potensi
untuk mengembangkan perilaku sehat masyarakat, bergotong royong untuk
menciptakan lingkungan sehat dan menciptakan suasana yang kondusif
untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat.
Sedangkan bagi program / petugas kesehatan promosi kesehatan
diharapkan dapat melakukan integrasi promosi kesehatan dalam program
dan kegiatan kesehatan, mendukung tumbuhnya perilaku hidup bersih sehat
di masyarakat, khususnya melalui pemberdayaan individu, keluarga dan atau
kelompok masyarakat yang menjadi kliennya dan meningkatkan mutu
pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang memberikan
12

kepuasan kepada masyarakat. Untuk Lembaga Pemerintah / Politisi /Swasta


diharapkan dapat peduli dan mendukung upaya kesehatan, minimal dalam
mengembangkan lingkungan dan perilaku sehat dan membuat kebijakan dan
peraturan perundang-undangan dengan mempertimbangkan dampak pada
bidang kesehatan.
Sementara itu agar supaya sasaran lebih spesifik maka sasaran promosi
kesehatan dibagi lagi menjadi sasaran primer, sasaran sekunder dan
sasaran tersier. Sasaran primer adalah sasaran yang mempunyai masalah
yang diharapkan mau berperilaku seperti yang diharapkan dan memperoleh
manfaat yang paling besar dari perubahan perilaku tersebut. Sasaran
sekunder adalah individu atau kelompok yang berpengaruh terhadap
sasaran primer. Sasaran sekunder diharapkan mampu mendukung pesan–
pesan yang disampaikan kepada sasaran primer. Sasaran tersier adalah
para pengambil keputusan, para penyandang dana dan pihak-pihak yang
berpengaruh pada berbagai tingkatan.
Sedangkan ruang lingkup promosi kesehatan adalah
mengembangkan kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan (Healthy
Public Policy), yaitu mengupayakan agar setiap kebijakan pembangunan dari
setiap sektor mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap kesehatan
masyarakat, mengembangkan jaringan kemitraan dan suasana yang
mendukung (Create Partnership and Supportive Environment), memperkuat
kegiatan masyarakat (Strengthen Community Action), dan meningkatkan
pelayanan kesehatan yang lebih memberdayakan masyarakat (Reorient
Health Service).

c. Strategi Promosi Kesehatan


13

Startegi promosi kesehatan diarahkan untuk mewujudkan ruang lingkup


promosi kesehatan yaitu: advokasi kesehatan, bina suasana (social support)
dan gerakan masyarakat. Advokasi adalah pendekatan mendorong untuk
melakukan perilaku hidup bersih sehat pada para pengambil keputusan agar
dapat memberikan dukungan pada upaya pembangunan kesehatan. Bina
suasana (Social Support) adalah upaya-upaya untuk membuat suasana yang
kondusif yang menunjang pembangunan kesehatan sehingga masyarakat
terdorong untuk melakukan perilaku hidup bersih sehat. Sedangkan gerakan
masyarakat adalah upaya untuk memandirikan individu, kelompok dan
masyarakat agar berkembang kesadaran, kemauan dan kemampuannya di
bidang kesehatan.
d. Metode dan Kegiatan Promosi Kesehatan
Perencanaan program pendidikan kesehatan berdasar pada analisis
perilaku dan komunitas, tujuan program dan tujuan pendidikan kesehatan,
sumber dan hambatan yang terdapat dalam masyarakat. Program pendidikan
kesehatan juga menunjukkan bagaimana tujuan dapat dicapai.
Metode pendidikan kesehatan menunjukkan bagaimana perubahan
pada kelompok sasaran akan dilakukan. Perencanaan program promosi
kesehatan harus mempertimbangkan berbagai macam strategi yang
memungkinkan agar dapat mendapatkan pilihan yang tepat.
Menurut Dignan dan Carr (1992) penyusunan media kesehatan harus
berdasar kriteria –kriteria: acceptibilty yaitu mempertimbangkan metode dan
kegiatan yang akan dipergunakan untuk menyampaikan pesan promosi
kesehatan dapat diterima oleh masyarakat penerima. Selain itu juga
mempertimbangkan literacy yaitu tingkat melek huruf penerima pesan
kesehatan, tingkat auditory yaitu tingkat masyarakat menerima pesan melalui
media audio dan audio visual pada kehidupan sehari –hari. Kriteria lain
adalah kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan informasi, biaya yang
14

dibutuhkan untuk pelaksanaan metode dan kegiatan, convinience yaitu


kemudahan dalam pelaksanaan, feasibility yaitu kemungkinan untuk dapat
dilaksanakan dan efektifitas.
Menurut Dignan dan Carr (1992), metode pendidikan kesehatan dan
karaketeristik metode adalah sebagai berikut:
i. Media Audiovisual: karaktersitiknya hanya untuk audiens yang spesifik,
digunakan bersama dengan metode yang lain, hasil dapat dievaluasi,
hanya dipergunakan untuk perilaku yang sederhana, media hanya
meningkatkan kemampuan kognitif saja.
ii. Modifikasi perilaku: media promosi kesehatan dengan interaksi yang
tinggi dan potensial dipergunakan untuk setting klinis, berdasar pada
kontrol stimulus dan menggunakan manajemen hadiah dan hukuman,
dapat meningkatkan kemampuan psikomotor.
iii. Community development: program ini berusaha mengatasi masalah
dengan menggabungkan masalah ekonomi dan sosial, lebih sering
digunakan pada daerah pedesaan. Kelemahan program ini adalah
sulitnya melakukan evaluasi.
iv. Pendidikan melalui televisi: program ini digunakan di dalam kelas
menyajikan program instruksi yang menyeluruh. Program ini dapat
merangsang diskusi dan meningkatkan kemampuan kognitif.
v. Instruksi individual (konseling dan patient education): bersifat personal,
lebih efisien untuk siswa, dapat mengakomodasi kebutuhan individual,
sangat baik untuk digunakan di rumah sakit dan di rumah, fokus pada
kemampuan kognitif. Kelemahan metode ini adalah kurang efisien bagi
pengajar, biaya mahal, tidak ada interaksi dukungan antar kelompok.
vi. Inquiry learning: merupakan pendekatan pada murid untuk merumuskan
dan mencoba hipotesis mereka sendiri, fokus pada proses belajar,
mengembangkan kemampuan kognitif dan menghasilkan kemampuan
15

afektif, dapat menyajikan masalah kesehatan yang kompleks, dapat


digunakan pada semua kelompok umur. Kelemahan metode ini adalah
sulit untuk melakukan evaluasi.
vii. Diskusi–kuliah: metode ini mudah untuk dilaksanakan, menyajikan
informasi, mempengaruhi opini, menumbuhkan pemikiran kritis dan
praktis.
viii. Mass media: karakteristik dapat mencapai banyak orang, biaya per unit
rendah, meningkatkan pengetahuan. Kelemahan metode ini tidak dapat
menampung perbedaan di antara audiens.
ix. Organizational development: digunakan untuk membangun kelompok,
manajemen konflik, ada umpan balik data dan pelatihan, berhubungan
dengan masalah lingkungan dan ekonomi. Kemahan metode ini sulit
melakukan evaluasi dan membutuhkan waktu lama.
x. Diskusi kelompok sebaya: efektif untuk meningkatkan perubahan perilaku,
terdapat interaksi tinggi pada semua yang terlibat, dapat meningkatkan
motivasi dan mempengaruhi sikap.
xi. Simulasi dan Permainan: metode ini dapat digunakan pada masyarakat
dengan tingkat kemampuan yang berbeda. Dapat meningkatkan
perubahan yang berhubungan dengan kemampuan afektif dan
berhubungan dengan kemampuan kognitif.
xii. Skill development: metode ini bertujuan menumbuhkan kemampuan
psikomotor yang spesifik. Metode ini dapat menjelaskan mengapa
prosedur ini dibutuhkan dan mengapa dilakukan dan dapat meningkatkan
kemampuan komunikasi melalui pengembangan psikomotor.
xiii. Kegiatan Sosial: metode yang dilakukan pada kelompok masyarakat yang
mempunyai ketidakmampuan untuk mengorganisasikan diri karena
keterbatasan sumberdaya. Metode ini dapat mengatasi masalah
16

lingkungan dan ekonomi. Kelemahan metode ini adalah sulit untuk


melakukan evaluasi.
xiv.Socal Planning: metode ini menggunakan tehnik problem solving dan
mencapai tujuan pada tataran institusional, berusaha mengatasi masalah
lingkungan dan ekonomi dan lebih efektif pada kelompok yang kurang
terintegrasi. Kelemahan metode ini adalah sulit melakukan evaluasi dan
memerlukan waktu lama.

2. Diare
a. Penyakit Diare
Diare adalah buang air besar disertai cairan atau berak cair dengan
frekuensi berak lebih dari 3 kali dalam waktu 24 jam. Menurut Healthscout
(2007), secara operasional definisi diare adalah terjadinya perubahan bentuk
atau konsistensi tinja, melembek sampai mencair serta bertambahnya
frekuensi berak lebih dari biasanya, lazimnya 3 kali atau lebih dalam satu
hari. Menurut jenisnya diare dapat digolongkan menjadi:
i. Diare akut yaitu kejadian diare terjadi selama kurang dari 14 hari,
umumnya 7 hari dengan selang waktu berhenti tidak lebih dari 2 hari.
ii. Diare persisten yaitu kejadian diare lebih dari 14 hari terus menerus tanpa
selang waktu berhenti lebih dari 2 hari.
iii. Disentri yaitu diare dengan disertai darah dalam tinjanya
iv. Diare dengan penyerta yaitu diare yang disertai penyakit lain seperti
demam, gangguan gizi dan lainnya.
Penyebab diare dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan tetapi
penyebab paling banyak yang ditemukan adalah karena infeksi dan
keracunan makanan (NDDIC, 2007). Penyebab diare dapat digolongkan
menjadi:
i. Infeksi
17

1. Infeksi enteral yaitu diare yang terjadi karena adanya infeksi saluran
pencernaan dan merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi
dapat terjadi karena virus, bakteri maupun parasit.
2. Infeksi parenteral yaitu diare karena infeksi di bagian tubuh yang lain
di luar saluran pencernaan, antara lain bronchopneumonia,
tonsilifaringitis, otitis media akut dan ensefalitis. Keadaan ini terutama
pada bayi dan anak di bawah umur dua tahun.
ii. Malabsorbsi
Malabsorbsi dapat terjadi karena malabsorbsi karbohidrat, lemak dan
protein. Malabsorbsi pada anak dan bayi yang paling sering terjadi adalah
karena intoleransi laktosa.
iii. Makanan yaitu diare yang terjadi karena mengkonsumsi makanan yang
sudah basi, makanan beracun dan alergi terhadap jenis makanan
tertentu.
b. Faktor risiko terjadinya penyakit diare
Menurut Philips et al.(1987) dan Tjitra et al.(1994) beberapa faktor
yang mempengaruhi terjadinya penyakit diare adalah:
i. Umur
Angka kesakitan diare meningkat pada bayi umur 0-11 bulan dan anak
umur 12-23 bulan dan menurun pada golongan umur 24-59 bulan.
Keadaan ini antara lain dapat disebabkan karena belum terbentuknya
kekebalan alami dari anak di bawah umur 24 bulan, sedangkan mereka
terpapar pada pengganti air susu ibu dan makanan tambahan yang
pengolahan dan penyajiannya kurang higienis.
ii. Higiene perorangan:
Sebagian besar penyebab diare adalah kuman patogen yang
penularannya melalui oral-fekal selain melalui air atau makanan. Higiene
perorangan mempunyai hubungan yang erat dengan penularan diare
18

melalui penerapan hidup bersih sehat. Pemutusan transmisi penyakit ini


antara lain dilakukan dengan: mempertahankan higiene perorangan,
mengurangi kemungkinan kontaminasi dari lingkungan seperti mencuci
tangan dengan sabun, dan penyediaan akses yang lebih baik terhadap air
bersih.
iii. Sanitasi lingkungan
Kemampuan penularan diare tergantung dari jumlah dan kekuatan kuman
penyebab dan tergantung dari kemampuan lingkungan untuk mendukung
tumbuh kembangnya kuman. Derajat kemampuan kuman untuk hidup dan
berkembang tergantung dari peran lingkungan dalam terjadinya penyakit.
Jamban kelurga yang tidak baik atau kebiasaan tidak berak di jamban
merupakan penyebab terjadinya pencemaran lingkungan.
iv. Status Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi dan pendidikan mempengaruhi tingkat sanitasi
pemukiman yang berpengaruh terhadp terjadinya kesakitan diare. Balita
dari keluarga status ekonomi rendah mempunyai risiko kesakitan diare
lebih tinggi yaitu 1,55 kali kesakitan balita dari keluarga dengan status
ekonomi tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa variabel sebagai
dampak dari status ekonomi rendah, diantaranya kepadatan hunian,
ketersediaan jamban keluarga dan air bersih serta sarana untuk
memelihara kebersihan perseorangan (personal higyene). Di samping itu
status ekonomi rendah juga mempengaruhi keadaan gizi balita dan
kemampuan menjangkau pelayanan kesehatan.

v. Status Gizi
19

Status gizi mempengaruhi pembentukan kekebalan tubuh, fungsi sel


granulosit dan mengurangi kadar komplemen sehingga memudahkan
terjadinya kesakitan. Risiko kesakitan balita dengan gizi kurang adalah
1,39-1,70 kali balita dengan gizi baik.
vi. Sumber air minum
Sumber air minum merupakan salah satu sarana sanitasi yang tidak kalah
pentingnya selain jamban keluarga yang mempengaruhi terjadinya diare.
Pengadaan jamban saja dapat menurunkan insiden penderita kolera
sampai 68%,sedangkan pengadaan air bersih saja dapat menurunkan
insiden penderita kolera sampai dengan 73%, dan bila keduanya
dilakukan bersamaan dapat menurunkan insiden kolera sampai 76%.
20

3. Analisis Kebutuhan Program Promosi Kesehatan


Menurut Dignan dan Carr (1992) perencanaan program promosi
kesehatan berdasar pada model dari pendidikan secara umum, yaitu :
Gambaran siswa
Penentuan goal
Dan objektif
Menetapkan tujuan Penentuan area
Pendidikan pendidikan

Penentuan bentuk Penentuan model design sistem


pengajaran pengajaran umpan balik

Membuat contoh tes penentuan program


Program awal sesuai kebutuhan
Gambar 3. Model penyusunan rencana pengajaran

Berdasar model tersebut terdapat empat komponen dasar yang


diperlukan untuk menyusun rencana pengajaran. Model tersebut tidak hanya
menunjukkan komponen untuk pengajaran, tetapi juga memberi petunjuk
untuk penyusunan program yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan
yang berhubungan dengan kesehatan.
Menurut Dignan dan Carr (1992) proses untuk perencanaan program
untuk pendidikan kesehatan masyarakat terdiri dari: analisis komunitas,
diagnosa komunitas, penetapan fokus program, analisis kelompok target,
penyusunan rencana program, pelaksanaan dan evaluasi. Analisis komunitas
merupakan proses pengumpulan informasi yang berhubungan dengan
komunitas yang akan dipelajari. Diagnosa komunitas merupakan tahap akhir
dari analisis komunitas yang meliputi penyusunan data dan identifikasi
kesenjangan antara masalah kesehatan dan pelayanan kesehatan. Setelah
21

kebutuhan dapat teridentifikasi langkah selanjutnya adalah menetapkan fokus


program. Penentuan fokus program menentukan bentuk program yang harus
disusun berdasar pada kelompok target dan kebutuhan yang sudah
teridentifikasi. Analisis target adalah tahapan dari perencanaan program
promosi kesehatan yang bertujuan untuk menganalisis kelompok sasaran
berdasar perilaku dan faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku dari
sasaran.
Bagian paling penting dari perencanaan program adalah analisis
komunitas atau yang biasa dikenal sebagai analisis kebutuhan (need
assessment). Keberhasilan program promosi kesehatan tergantung dari data
yang didapat tentang individu, kelompok atau sistem yang akan menjadi
fokus dari program. Berdasarkan data tersebut perencana program dapat
memahami masalah kesehatan yang perlu diatasi dan sumberdaya yang
tersedia.
Model Procede dan Proceed juga berperan penting dalam
perencanaan pendidikan dan promosi kesehatan karena menyediakan
bentuk untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah
kesehatan, perilaku dan pelaksanaan program. Precede (predisposing,
reinforcing dan enabling) adalah akronim untuk pengaruh, pendukung dan
pemungkin menggambarkan diagnosis administrasi dengan pelaksanaan
serta evaluasi program.
Permasalahan kesehatan dapat dipelajari dengan memperhatikan
faktor perilaku dan non perilaku atau penyebab dari lingkungan untuk
masalah kesehatan. Baik faktor perilaku maupun non perilaku keduanya
dapat menjadi target potensial untuk program promosi kesehatan. Meskipun
demikian salah satu faktor sebab akibat dapat dipilih menjadi target program
berdasar pada besarnya kemungkinan untuk terjadi perubahan dan
22

pentingnya faktor tersebut tehadap kesehatan secara keseluruhan (Dignan


dan Carr,1992).
Perilaku kesehatan dapat dikelompokkan berdasar faktor yang
mendukung kemunculannya. Tiga kategori faktor ini merupakan bentuk
precede yang memungkinkan untuk memisahkan perilaku ke dalam
unit/kesatuan untuk perencanaan pogram (Greene dan Kreuter, 1991).
Bagan model Precedee dan Proceed
PRECEDEE

Fase 5 Fase 4 Fase 3 Fase 2 Fase 1


Diagnosis Diagnosis Diagnosis Diagnosis Diagnosis
Administrasi pendidikan & Perilaku & epidemiologi sosial
& kebijakan organisasi Lingkungan

PROMOSI
KESEHATAN
Faktor
pengaruh
Perilaku
Pendidikan dan
kesehatan Gaya hidup
Faktor Kualitas
pendukung Kesehatan Hidup

Kebijakan
Regulasi Faktor lingkungan
Kesehatan pendorong

Fase 6 Fase 7 Fase 8 Fase 9


Implementasi Proses Evaluasi Dampak Evaluasi Hasil Evaluasi

PROCEED
Gambar 4: Rangkaian model Precede/proceed yang berkaitan dengan perencanaan,
implementasi dan evaluasi program promosi kesehatan (Green dan Kreuter,1991).
23

Faktor pengaruh (predisposing) adalah faktor yang mempengaruhi


seseorang atau kelompok untuk melakukan tindakan. Pengetahuan, sikap,
nilai, kepercayaan dan ketrampilan merupakan bentuk dari faktor pengaruh.
Faktor pendukung (enabling) meliputi faktor ketrampilan personal dan
sumberdaya yang tersedia yang diperlukan untuk membentuk satu perilaku.
Faktor pendukung adalah faktor–faktor yang berkaitan dengan individu,
kelompok, dan sistem kesehatan yang memungkinkan keberhasilan
terjadinya suatu tindakan.
Faktor pendorong (reinforcing) yaitu faktor yang mendorong perilaku
kesehatan atau outcomes untuk tetap dilakukan. Dorongan dapat berasal
dari individu atau kelompok, dari individu atau institusi atau dari masyarakat.
Perilaku diklasifikasikan ke dalam faktor-faktor yang menyebabkan,
mendukung dan mendorong terjadinya perilaku. Klasifikasi ini bermanfaat
dalam penyusunan program promosi kesehatan. Klasifikassi ini juga
memberikan data yang dapat dianalisis untuk perilaku dan tindakan yang
diperlukan untuk mengubah perilaku tersebut.
Langkah pertama dalam precede model adalah mengidentifikasi faktor
yang berhubungan dengan perilaku kesehatan dalam hubungannya sebagai
faktor pengaruh, pendukung dan pendorong. Faktor-faktor tersebut dapat
berhubungan dengan perilaku individu atau sumberdaya dan faktor
lingkungan. Langkah selanjutnya adalah menentukan prioritas masalah di
antara faktor-faktor dalam berbagai kategori tersebut.
Faktor-faktor tersebut dinilai berdasarkan urutan pengaruh mereka
terhadap perilaku kesehatan, kemungkinan untuk diubah dan sumberdaya
yang tersedia untuk mengubah perilaku tersebut. Setelah prioritas masalah
teridentifikasi dapat ditentukan tujuan program promosi kesehatan yang
merupakan petunjuk untuk melakukan penyusunan program.
24

Menurut Suharto (1997), proses perumusan kebijakan sosial dapat


dikelompokkan dalam 3 tahap, yaitu: tahap identifikasi, tahap implementasi
dan tahap evaluasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa tahapan yang saling
terkait: Secara garis besar, tahapan perumusan kebijakan dapat adalah
sebagai berikut:
a. Tahap Identifikasi
i. Identifikasi Masalah dan Kebutuhan: tahap pertama dalam perumusan
kebijakan sosial adalah mengumpulkan data mengenai permasalahan
sosial yang dialami masyarakat dan mengidentifikasi kebutuhan-
kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi.
ii. Analisis Masalah dan Kebutuhan: tahap berikutnya adalah mengolah,
memilah dan memilih data mengenai masalah dan kebutuhan
masyarakat yang selanjutnya dianalisis dan ditransformasikan ke dalam
laporan yang terorganisasi. Informasi yang perlu diketahui antara lain:
apa penyebab masalah dan apa kebutuhan masyarakat? Dampak apa
yang mungkin timbul apabila masalah tidak dipecahkan dan kebutuhan
tidak dipenuhi? Siapa dan kelompok mana yang terkena masalah?
iii. Penginformasian Rencana Kebijakan: berdasarkan laporan hasil analisis
disusunlah rencana kebijakan. Rencana ini kemudian disampaikan
kepada berbagai sub-sistem masyarakat yang terkait dengan isu-isu
kebijakan sosial untuk memperoleh masukan dan tanggapan. Rencana
ini dapat pula diajukan kepada lembaga-lembaga perwakilan rakyat untuk
dibahas dan disetujui.
iv. Perumusan Tujuan Kebijakan: setelah mendapat berbagai saran dari
masyarakat dilakukanlah berbagai diskusi dan pembahasan untuk
memperoleh alternatif-alternatif kebijakan. Beberapa alternatif kemudian
dianalisis kembali dan dipertajam menjadi tujuan-tujuan kebijakan.
25

v. Pemilihan Model Kebijakan: pemilihan model kebijakan dilakukan


terutama untuk menentukan pendekatan, metoda dan strategi yang
paling efektif dan efisien mencapai tujuan-tujuan kebijakan. Pemilihan
model ini juga dimaksudkan untuk memperoleh basis ilmiah dan prinsip-
prinsip kebijakan sosial yang logis, sistematis dan dapat
dipertanggungjawabkan.
vi. Penentuan Indikator Sosial: agar pencapaian tujuan dan pemilihan model
kebijakan dapat terukur secara objektif, maka perlu dirumuskan indikator-
indikator sosial yang berfungsi sebagai acuan, ukuran atau standar bagi
rencana tindakan dan hasil-hasil yang akan dicapai.
vii. Membangun Dukungan dan Legitimasi Publik: tugas pada tahap ini
adalah menginformasikan kembali rencana kebijakan yang telah
disempurnakan. Selanjutnya melibatkan berbagai pihak yang relevan
dengan kebijakan, melakukan lobi, negosiasi dan koalisi dengan berbagai
kelompok-kelompok masyarakat agar tercapai konsensus dan
kesepakatan mengenai kebijakan sosial yang akan diterapkan.
b.Tahap Implementasi:
i. Perumusan kebijakan: rencana kebijakan yang sudah disepakati
bersama dirumuskan ke dalam stategi dan pilihan tindakan beserta
pedoman peraturan pelaksanaannya.
ii. Perancangan dan implementasi program: kegiatan utama dalam tahap
ioni adalah mengoperasionalkan kebijakan ke dalam usulan-usulan
program untuk dilaksanakan.
c. Tahap Evaluasi
Evaluasi dilakukan baik terhadap proses maupun hasil implementasi
kebijakan. Penilaian terhadap proses kebijakan difokuskan pada tahapan
perumusan kebijakan, terutama untuk melihat keterpaduan antar tahapan,
serta sejauhmana program dan pelayanan sosial mengikuti garis
26

kebijakan yang telah ditetapkan. Penilaian terhadap hasil dilakukan untuk


melihat pengaruh atau dampak kebijakan, sejauh mana kebijakan mampu
mengurangi atau mengatasi masalah. Berdasarkan evaluasi ini,
dirumuskanlah kelebihan dan kekurangan kebijakan yang akan dijadikan
masukan bagi penyempurnaan kebijakan berikutnya atau perumusan
kebijakan baru.
4. Evaluasi Program Kesehatan
Menurut Hawe et al.(1998) evaluasi adalah proses yang
memungkinkan kita untuk menetapkan kebenaran atau nilai dari sesuatu.
Evaluasi meliputi dua proses yaitu: observasi (pengamatan) dan pengukuran,
serta membandingkan hasil pengamatan dengan kriteria atau standar yang
dianggap merupakan hal yang baik. Evaluasi juga meliputi pengamatan dan
pengumpulan hasil pengukuran tentang operasionalisasi program dan
pengaruh progam terhadap masalah dibandingkan dengan sebelum
pelaksanaan program.
Evaluasi dapat dilakukan baik dengan pendekatan kualitatif maupun
kuantitatif. Metode kualitatif dapat menggambarkan arti dan pengalaman dari
orang-orang yang terlibat dan dapat menyajikan pemahaman terhadap
pengaruh program yang diobservasi. Dalam melakukan evaluasi, hal yang
perlu dilakukan adalah pengumpulan data tentang jangkuan program dan
pelaksanaan program. Data-data tersebut selanjutnya dipergunakan untuk
pengumpulan data lanjutan untuk menilai pengaruh program.
Evaluasi outcome dilakukan untuk menilai pengaruh program
terhadap tujuan umum program (programme goal). Evaluasi ini berhubungan
dengan penilaian pengaruh program terhadap masalah kesehatan yang dituju
(menilai pengaruh jangka panjang program).
Evaluasi impact dilakukan untuk menilai pengaruh program terhadap
tujuan khusus program (objektif). Evaluasi ini berhubungan dengan penilaian
27

pengaruh program terhadap faktor risiko yang mempengaruhi masalah


kesehatan yang menjadi sasaran program. Evaluasi ini mengukur pengaruh
sementara program.
Sedangkan evaluasi proses dilakukan untuk menilai pengaruh
program terhadap strategi obyektif. Penilaian evaluasi ini berhubungan
dengan pengaruh program terhadap hal-hal yang mempengaruhi faktor risiko.
Evaluasi ini menilai kegiatan program, kualitas program dan jangkauannya.
Evaluasi proses meliputi semua aspek dalam pelaksanaan program seperti
isi dari program, dukungan dan pendapat masyarakat tentang program yang
dilakukan. Hasil dari evaluasi proses memberikan informasi spesifik yang
bermanfaat untuk mengembangkan program menjadi lebih baik, sehingga
evaluasi proses disebut juga sebagai evaluasi formatif.
Dalam evaluasi proses terdapat empat hal yang dinilai yaitu: cakupan
program terhadap kelompok target (apakah semua bagian program
menjangkau semua bagian dari kelompok target?), kepuasan partisipan
terhadap program, pelaksanaan kegiatan program dan penilaian terhadap
kualitas materi dan komponen program. Evaluasi dilakukan dalam setiap
tahapan pelaksanaan program.
28

B. Landasan Teori

1. Evaluasi
Menurut Hawe et al.(1998) evaluasi terdiri dari evaluasi outcome,
evaluasi impact dan evaluasi proses. Evaluasi outcome dilakukan untuk
menilai pengaruh program terhadap tujuan umum program (programme
goal). Evaluasi ini berhubungan dengan penilaian pengaruh program
terhadap masalah kesehatan yang dituju (menilai pengaruh jangka panjang
program).
Evaluasi impact dilakukan untuk menilai pengaruh program terhadap
tujuan khusus program (objektif). Evaluasi ini berhubungan dengan penilaian
pengaruh program terhadap faktor risiko yang mempengaruhi masalah
kesehatan yang menjadi sasaran program. Evaluasi ini mengukur pengaruh
sementara program.
Sedangkan evaluasi proses dilakukan untuk menilai pengaruh
program terhadap strategi obyektif. Penilaian evaluasi ini berhubungan
dengan pengaruh program terhadap hal-hal yang mempengaruhi faktor risiko.
Evaluasi ini menilai kegiatan program, kualitas program dan jangkauannya.
Evaluasi proses meliputi semua aspek dalam pelaksanaan program seperti
isi dari program, dukungan dan pendapat masyarakat tentang program yang
dilakukan. Hasil dari evaluasi proses memberikan informasi spesifik yang
bermanfaat untuk mengembangkan program menjadi lebih baik, sehingga
evaluasi proses disebut juga sebagai evaluasi formatif.
Dalam evaluasi proses terdapat empat hal yang dinilai yaitu: cakupan
program terhadap kelompok target (apakah semua bagian program
menjangkau semua bagian dari kelompok target?), kepuasan partisipan
terhadap program, pelaksanaan kegiatan program dan penilaian terhadap
29

kualitas materi dan komponen program. Evaluasi dilakukan dalam setiap


tahapan pelaksanaan program seperti dalam gambar di bawah:

Analisis kebutuhan Evaluasi outcome

Perencanaan
Evaluasi
impact

Pelaksanaan Evaluasi proses


Evaluability
assessment

Perencanaan ulang
& pelaksanaan

Gambar 4. Tahapan Evaluasi

2. Teori komunikasi persuasi


Menurut teori komunikasi persuasi dari Mc Guire (cit. Morton et a.l,1995)
keberhasilan suatu persuasi dipengaruhi oleh:
1. Sumber: meliputi credibility, attractiveness dan power. Ini berarti
kredibilitas penyampai pesan, kemenarikan dan kekhasaan penyampai
pesan sangat berpengaruh terhadap target atau outcome yang
diinginkan.
2. Pesan: meliputi style, isi dan organisasi pesan itu sendiri.
3. Saluran: berupa media yang dipilih untuk menyampaikan pesan baik
berupa media visual mupun audio visual.
30

C. Kerangka konsep penelitian

Berdasarkan landasan teori maka kerangka konsep penelitian ini adalah :

Masyarakat:
- Sumber
yang
disenangi
- Pesan yang
diinginkan Rekomendasi
- Saluran Program
yang Promosi
dipakai Kesehatan

Perencanaan dan
pelaksanaan
program promosi
kesehatan
Kabupaten Bantul:
- sumberdaya
yang tersedia
- hambatan yang
dihadapi

Berdasarkan bagan di atas maka penyusunan program promosi


kesehatan adalah berdasar pada analisis kebutuhan dengan memperhatikan
sumber daya yang tersedia dan hambatan yang mungkin dihadapi, serta
kebutuhan masyarakat. Kebutuhan masyarakat dapat berupa sumber yang
disenangi untuk mendapatkan informasi, pesan yang diinginkan untuk
disampaikan dan saluran yang dipakai untuk mendapatkan informasi.
31

D. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana program promosi tentang diare yang telah direncanakan dan


dilaksanakan di Puskesmas Piyungan?
2. Apa media yang sering dipergunakan masyarakat untuk mendapatkan
informasi tentang diare?
3. Bagaimana kebutuhan masyarakat akan informasi tentang diare di
Puskesmas Piyungan?
32

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Peneliti menggali segala hal yang menyangkut program promosi
kesehatan pencegahan diare lebih mendalam dan mengungkapkan
fenomena atau isu penting yang berhubungan dengan program (Valadez dan
Bamberger, 1994). Dalam penelitian studi kasus peneliti harus menetapkan
kasus yang hendak diamati, berdasar tempat dan waktu yang dibatasi
(Creswell, 2003).
B. Subyektivitas Penelitian
Peneliti berperan aktif dalam pengumpulan data dengan melakukan
wawancara langsung dengan bertatap muka. Peneliti sudah lama tinggal di
daerah Yogyakarta dan memahami Bahasa Jawa sehingga tidak mengalami
kesulitan berkomunikasi jika informan hanya memahami Bahasa Jawa.
C. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah Kecamatan Piyungan Kabupaten Bantul.
Lokasi ini dipilih karena Kecamatan Piyungan merupakan kecamatan dengan
penderita diare terbanyak pada tahun 2004,2005 dan 2006 di Kabupaten
Bantul. Kecamatan Piyungan merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten
Bantul dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun 2006 sebanyak
38.481 orang, terdiri dari 19.544 perempuan dan 18.937 laki-laki.
Kecamatan Piyungan terdiri dari tiga desa yaitu: Srimartani, Srimulyo
dan Sitimulyo. Di Kecamatan Piyungan terdapat satu Puskesmas, dua
Puskesmas pembantu serta 72 Posyandu. Kondisi geografis Kecamatan
Piyungan meliputi sebagian perbukitan dan pegunungan dan sebagian
lainnya dataran rendah. Pada daerah perbukitan penduduk umumnya
33

mempergunakan mata air yang dipergunakan bersama-sama sebagai


sumber air bersih, sedangkan di dataran rendah penduduk menggunakan
sumur sebagai sumber bersih. Umumnya kondisi geografis perbukitan
dengan jalur transportasi relatif sulit, dibandingkan dengan daerah di dataran
rendah.

D. Subjek dan Sampling Penelitian


Subjek utama penelitian adalah masyarakat dengan kriteria inklusi ibu
yang mempunyai anak usia 6-24 bulan dan pernah menderita diare selama
tiga bulan terakhir berdasar data dari Puskesmas. Selain ibu anak berusia
dibawah dua tahun, stakeholder promosi kesehatan Kabupaten Bantul juga
menjadi informan dalam penelitian ini yaitu bagian promosi kesehatan (satu
orang), bagian pencegahan dan pemberantasan penyakit (satu orang),
bagian kesehatan keluarga (satu orang), bagian kesehatan lingkungan (satu
orang), bagian pelayanan kesehatan (satu orang), Kepala Puskesmas (satu
orang), koordinator program diare, penyuluhan kesehatan masyarakat, gizi
dan kesehatan lingkungan di Puskesmas Piyungan. Untuk subyek
masyarakat (ibu yang mempunyai anak di bawah dua tahun) dilakukan dua
kali focus group discussion. Jumlah informan untuk focus group discussion
adalah enam orang dan delapan orang setiap kelompok. Jumlah informan
adalah 32 orang. Penentuan informan dipilih secara purposive sampling yaitu
sampel diambil bukan tergantung pada populasi melainkan disesuaikan
dengan tujuan penelitian sehingga dapat dikatakan sebagai sampel
bertujuan. Purposive sampling ini memberikan kebebasan kepada peneliti
dari keterikatan proses formal dalam mengambil sampel. Artinya peneliti
dapat menentukan berapa saja jumlah sampel yang dibutuhkan sesuai
dengan tujuan penelitian berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan
(Moleong, 2006).
34

E. Definisi Operasional
1. Analisis kebutuhan adalah kegiatan yang dilakukan untuk menggali
kebutuhan masyarakat akan informasi, bentuk kegiatan dan media seperti
yang diinginkan masyarakat dalam promosi kesehatan pencegahan diare.
2. Promosi pencegahan diare adalah segala bentuk kegiatan yang
dilakukan Dinas Kesehatan Bantul dan jajarannya dalam usaha untuk
mencegah terjadinya penyakit diare.
3. Media adalah sarana yang dipergunakan oleh Dinas Kesehatan dan
jajarannya untuk melakukan promosi keshatan. Media dapat berupa
sarana maupun orang yang menyampaikan pesan.
4. Perencanaan adalah proses untuk menentukan rencana kegiatan yang
akan dilakukan oleh Dinas Kesehatan Bantul dalam promosi kesehatan
pencegahan diare.
5. Pelaksanaan adalah kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan
Bantul dalam promosi kesehatan pencegahan diare dalam tahun terakhir.
6. Kebutuhan masyarakat adalah keinginan masyarakat terhadap bentuk
kegiatan program promosi pencegahan diare.
7. Sumberdaya adalah perangkat yang tersedia untuk melakukan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul.
8. Hambatan adalah kondisi yang menghambat jalannya pelaksanaan
promosi pencegahan diare di Kabupaten Bantul.
9. Pesan adalah materi yang disampaikan dalam promosi pencegahan diare.
10. Saluran yaitu media yang dipergunakan untuk menyampaikan pesan
promosi pencegahan diare.

F. Instrumen Penelitian dan Cara Pengumpulan Data


Peneliti menjadi instrumen utama dalam penelitian ini dalam
melakukan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi.
35

Dalam melakukan diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam


digunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan terbuka tidak
terstruktur yang dapat mengeksplorasi lebih dalam tentang kebutuhan
masyarakat di Kecamatan Piyungan akan promosi kesehatan pencegahan
diare.
Alat bantu yang digunakan oleh peneliti adalah sebagai berikut: (a)
buku catatan lapangan dan alat tulis untuk mencatat semua percakapan
dengan sumber data, (b) tape recorder yang berfungsi untuk merekam
semua percakapan setelah mendapatkan ijin dari informan bahwa hasil
wawancara akan direkam, dan (c) camera untuk memotret kalau peneliti
sedang melakukan pembicaraan selama di lapangan.
Pada penelitian ini cara pengumpulan data adalah dengan wawancara
mendalam, diskusi kelompok terarah dan observasi. Diskusi kelompok
terarah ini dilakukan untuk menggali informasi tentang program promosi
kesehatan tentang diare, kebutuhan akan informasi tentang diare serta untuk
mengetahui sarana informasi yang sering digunakan untuk mendapatkan
informasi tentang diare. Diskusi kelompok terarah dipandu oleh satu orang
fasilitator dengan dibantu oleh satu orang notulen dan satu orang observer
untuk membantu fasilitator dalam mengamati dan mencatat reaksi dari
informan dan hal-hal yang terjadi selama diskusi kelompok terarah.
Diskusi kelompok terarah dilakukan dalam tiga tahap yaitu: persiapan
dan pembukaan, tahap isi dan penutup. Sebelum dimulai terlebih dahulu
diadakan persiapan yang meliputi penyiapan tempat, tape recorder untuk
merekam dan pedoman pengumpulan data. Pembukaan dimulai dengan
penjelasan kepada informan dan pengaturan posisi selama diskusi yaitu
tempat duduk melingkar dengan fasilitator ikut di dalam lingkaran tersebut,
sementara notulen dan observer duduk di luar lingkaran. Tahap isi dimulai
dengan perkenalan anggota diskusi kelompok terarah dan fasilitator, diskusi
36

dipimpin oleh fasilitator dengan berpedoman pada pedoman pengumpulan


data yang telah disusun sebelumnya. Diskusi kelompok terarah diakhiri
dengan membacakan hasil diskusi dan ucapan terima kasih.
Diskusi kelompok terarah dilaksanakan dua kali. Jumlah informan
delapan orang pada diskusi kelompok terarah yang pertama dan enam orang
pada pelaksanaan yang kedua. Dalam setiap kali diskusi kelompok terarah
terdapat gangguan dari anak-anak yang dibawa oleh sebagian informan.
Jalannya diskusi kurang berkembang karena kemampuan fasilitator dalam
memandu diskusi. Dalam setiap diskusi juga terdapat dominasi oleh sebagian
informan. Wawancara mendalam dilakukan pada satu orang narasumber
dengan satu orang pewawancara. Wawancara mendalam ini bertujuan untuk
menggali informasi tentang program promosi kesehatan tentang diare,
kebutuhan akan informasi tentang diare serta media yang disukai dan sering
digunakan untuk mendapatkan informasi tentang diare. Waktu wawancara
mendalam untuk setiap informan berbeda. Wawancara mendalam dilakukan
dengan berpedoman pada pedoman wawancara yang telah disusun. Dalam
sebagian wawancara terdapat gangguan dari anak informan sehingga
informan kurang konsentrasi dalam menjawab pertanyaan. Terkait dengan
kebutuhan media dalam melakukan wawancara membawa beberapa contoh
media yang dijadikan rujukan informan untuk memilih media yang disenangi.
Observasi dilakukan pada kondisi lingkungan, sumber air minum dan
kegiatan yang dilakukan terkait promosi pencegahan diare. Teknik observasi
yang dipergunakan adalah observasi non-partisipatif artinya peneliti tidak
akan terlibat hubungan emosi dengan obyek penelitian.
37

G. Prosedur Penelitian
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan meliputi survei lokasi penelitian sehingga topik penelitian
benar-benar merupakan suatu permasalahan di daerah tersebut. Hasil
survei pendahuluan diajukan dalam bentuk outline. Pengembangan
outline menjadi proposal penelitian diajukan kepada pembimbing dan
didiskusikan. Setelah disetujui untuk dijadikan sebagai topik penelitian
kemudian dilakukan penelusuran daftar pustaka dan referensi sebagai
penunjang. Kemudian menentukan metode dan cara penelitian yang
sesuai dengan tujuan penelitian dan diseminarkan dalam bentuk proposal
penelitian untuk mendapatkan bahan masukan. Bahan masukan yang
sesuai diakomodasikan dalam proposal penelitian demi kesempurnaan
proposal tersebut. Selanjutnya mempersiapkan surat ijin penelitian untuk
kerja lapangan dalam hal memperoleh data dan proses penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan dimulai dengan memasuki lapangan yang telah
ditentukan sebagai lokasi penelitian dan menentukan informan yang akan
dijadikan sumber utama dalam upaya pengumpulan data. Setelah
berkoordinasi dengan informan untuk menentukan waktu pelaksanaan,
kemudian diskusi kelompok terarah dan wawancara mendalam akan
dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara yang tidak
terstruktur. Sebelum dilakukan wawancara, terlebih dahulu diberikan
penjelasan kepada informan tentang tujuan wawancara tersebut. Selain
itu peneliti juga meyakinkan yang diwawancara bahwa akan menjaga
kerahasiaan identitasnya serta meminta informan untuk menandatangani
pernyataan sebagai tanda kesediaannya dalam penelitian.
38

Data yang telah dikumpulkan dalam bentuk rekaman wawancara


ditranskrip dan dikonsultasikan dengan pembimbing, selanjutnya
dilakukan analisis data.
3. Tahap Penyusunan Laporan dan Hasil
Semua hasil pelaksanaan pengumpulan data selama di lapangan
dituangkan dalam bentuk laporan, dilakukan pembahasan terhadap hasil
analisis data dan dikonsultasikan kepada pembimbing. Kemudian laporan
hasil penelitian disampaikan pada seminar hasil untuk diujikan di hadapan
penguji
H. Prosedur Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis data kualitatif, mengikuti konsep yang diberikan Miles and Huberman
(1984). Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan
berlangsung secara terus-menerus pada setiap tahapan penelitian sehingga
sampai tuntas dan datanya sampai jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu
data reduction, data display dan conclusion drawing/verification. Menurut
Sutopo (2006) model analisis interaktif adalah analisis data yang dilakukan
secara terus menerus dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, sajian
data sampai dengan penarikan kesimpulan. Semua proses tersebut
dilakukan secara interaktif yang berarti peneliti dapat kembali ke proses
sebelumnya apabila diketahui terdapat kekurangan pada tahap sebelumnya.

Pengumpulan data

Reduksi data Sajian data

Penarikan
simpulan/verifikasi
Gambar 7. Proses analisis data
39

I. Keabsahan data
Untuk meningkatkan keabsahan data penelitian ini, dilakukan
triangulasi metode pengumpulan data yaitu dengan diskusi kelompok terarah,
wawancara mendalam, observasi dan studi dokumen. Triangulasi sumber
data juga dilakukan dengan mewawancarai informan yang berasal dari
stakeholder dan warga masyarakat yang berbeda.

J. Etika Penelitian
Penelitian dilakukan dengan memberikan informasi kepada informan
terlebih dahulu. Informasi yang diberikan meliputi tujuan penelitian dan
kepentingan penelitian, selanjutnya meminta kesediaan untuk menjadi
informan, dilanjutkan dengan perjanjian waktu wawancara. Pada waktu
wawancara terlebih dahulu meminta ijin untuk merekam pembicaraan dan
membangun hubungan yang baik dengan informan.

H. Kesulitan Penelitian dan Keterbatasan Penelitian


1. Kesulitan Penelitian
a. Peneliti menemui hambatan dalam melakukan wawancara mendalam
dan diskusi kelompok terarah karena selama wawancara informan ibu
anak berusia di bawah dua tahun umumnya sambil mengasuh anak
sehingga menggangu jalannya wawancara. Selain itu wawancara juga
tidak dapat dilakukan dalam waktu yang lama karena anak rewel.
Untuk mengurangi pengaruh dari hal tersebut peneliti melakukan
review informasi dengan melakukan wawancara tambahan kepada
informan mengenai informasi yang dirasakan belum mencukupi.
b. Peneliti dalam melakukan wawancara dan diskusi kelompok terarah
kurang dapat menghidupkan jalannya wawancara dan diskusi
kelompok terarah sehingga ada kemungkinan informasi tidak tergali
40

seluruhnya. Selain itu fasilitator juga kurang dapat mengendalikan


jalannya diskusi sehingga terdapat beberapa informan yang
mendominasi jalannya diskusi. Untuk mengurangi pengaruh dari hal
tersebut peneliti melakukan wawancara tambahan kepada informan
yang mempunyai banyak informasi.
2. Keterbatasan Penelitian
a. Program yang terdentifikasi sebagai kebutuhan masyarakat dalam
penelitian ini sebatas pada program yang pernah diketahui dan
dialami oleh masyarakat.
b. Dalam penelitian ini program promosi yang banyak mendapat
perhatian hanya penyuluhan saja sedangkan kegiatan promosi
kesehatan yang lain seperti peningkatan kualitas air bersih dan
inisiasi dini dan ASI eksklusif kurang tergali.
41

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Subyek Penelitian


Subjek penelitian ini berjumlah 32 orang dengan rincian 10
stakeholders yang berkaitan dengan promosi kesehatan di Dinas Kesehatan
dan Puskesmas Piyungan serta 22 orang ibu yang memiliki anak usia di
bawah dua tahun yang berada di wilayah kerja Puskesmas Piyungan. Data
diperoleh dengan wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah,
observasi tidak berstruktur, dan studi dokumen baik dokumen kegiatan
maupun hasil pemeriksaan laboratorium.
a. Stakeholders
Informan yang dipilih sesuai dengan kriteria inklusi yang telah
ditetapkan. Usia informan berkisar antara 22-51 tahun. Berdasar jabatan
informan terdiri dari satu orang kepala subdinas, tiga orang kepala seksi, satu
orang staf Dinas Kesehatan, satu orang kepala Puskesmas dan empat orang
karyawan Puskesmas. Berdasar pendidikan terdiri dari satu orang
berpendidikan terakhir SLTA, dua orang D3, tiga orang sarjana, dan tiga
orang S2. Berdasar lamanya memegang jabatan, informan telah memegang
jabatan selama tiga tahun sampai dengan 20 tahun. Karakteristik informan
disajikan pada Tabel 1 berikut.
42

Tabel 1. Karakteristik Informan Stakeholders Promosi Kesehatan


Stake Umur Jenis Pendidik Jabatan Lama
holder kelam an memegang
in jabatan
1 52 L S2 Kasie 7 tahun
2 50 P S2 Kasubdin 1 tahun
3 55 L D3 Kasie 6 tahun
4 43 L S2 Kasie 2 tahun
5 50 L Dokter Kepala 12 tahun
gigi puskesmas
6 40 P D3 Pemegang 15 tahun
program diare
7 42 L SMA Pemegang 20 tahun
program PKM
8 32 P S1 Pemegang 10 tahun
program
Kesehatan
lingkungan
9 32 P S1 Staf 4 tahun
10 25 P D3 Pemegang 2 tahun
program Gizi

b. Masyarakat
Masyarakat yang menjadi informan adalah ibu dari anak berusia di
bawah dua tahun dan anak tersebut pernah menderita diare dalam tiga
bulan terakhir. Berdasarkan umur ibu-ibu tersebut berumur antara 20-36
tahun dengan pendidikan terendah SD dan paling tinggi berpendidikan
sarjana. Pekerjaan informan terdiri dari ibu rumah tangga, buruh, karyawati
dan guru. Berdasar peran serta dalam kegiatan di masyarakat, informan
terdiri dari ibu-ibu yang sering mengikuti kegiatan di masyarakat (rutin
mengikuti posyandu atau kegiatan lain setiap bulan minimal enam kali dalam
satu tahun) dan jarang mengikuti kegiatan di lingkungan baik Posyandu
43

maupun pertemuan warga lainnya. Karakteristik informan disajikan dalam


Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Karakteristik Informan Masyarakat

No Karakteristik Jumlah
1 Pendidikan SD 1
SMP 11
SMA 8
PT 2
2 Partisipasi dalam kegiatan Jarang 8
di masyarakat Sering 14
3 Pekerjaaan Ibu rumah tangga 16

Karyawan 3
Wiraswasta 1
PNS 2

2. Pemahaman masyarakat tentang diare


Dari hasil wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah
sebagian masyarakat memahami diare sebagai penyakit dan bukan
penyakit. Diare dipahami sebagai bukan penyakit apabila terjadi pada anak
berumur kurang dari satu tahun. Biasanya diare bukan penyakit ini ditandai
dengan adanya umpluk (bahasa jawa berarti buih) dalam feaces.
Diare seperti ini menandai anak akan menjadi cepat pintar karena
biasanya setelah diare anak akan bertambah kepandaiannya. Sebagian
informan juga memahami bahwa diare seperti ini (dengan umpluk)
merupakan bagian dari proses perkembangan anak yang biasa terjadi.
Pemahaman masyarakat bahwa diare adalah hal yang wajar terjadi pada
anak berusia di bawah satu tahun sebagai pertanda anak akan menuju tahap
perkembangan berikutnya. Dalam budaya setempat hal ini disebut ngenteng-
entengi (ringan: Bahasa Jawa) yang berarti anak akan menjadi lebih pandai.
Seperti pernyataan informan berikut:
44

”... iya, itu dulu anak saya kan umur sembilan bulan diare, dia tiga hari
terus dia bisa merangkak dan berdiri...” (informan M1).

Menurut informan diare yang merupakan bagian dari perkembangan


ditandai dengan adanya buih yang terdapat dalam feaces. Sebagian informan
lain menyatakan bahwa semua diare adalah berbahaya karena dapt
menyebabkan kematian.
”...ya , saya nandai kalau ada umpluk berarti ngenteng-entengi...”
(informan M1)

Sebagian informan menyatakan bahwa apabila terdapat darah dan


atau lendir dalam feaces maka dikatakan bahwa diare adalah berbahaya.
Sedangkan diare digolongkan dalam penyakit yang biasa saja (tidak
berbahaya) apabila buang air besar berbentuk cairan tetapi tidak terdapat
lendir dan atau darah. Sebagian informan lain menyatakan bahwa diare tidak
berbahaya jika terjadi belum lebih dari tiga hari.
Diare sebagai penyakit yang berbahaya menurut masyarakat adalah
apabila di dalam feaces terdapat lendir dan atau darah. Masyarakat akan
menggolongkan diare sebagai penyakit yang tidak berbahaya apabila terjadi
kurang dari tiga hari dan tidak terdapat lendir atau darah dalam feaces.
Seperti penuturan berikut:
”...ya...kan menurut saya sebelum...maksudnya apa...sehari dua hari
itu masih biasa.....”(informan M3).

’......tergantung sih, kalau sudah ngeluarin lendir sama darah gitu


menurut saya berbahaya. Kalau nggak ya nggak begitu saya
pikirin...(informan M2).

Pemahaman masyarakat terhadap diare dapat dilihat dalam gambar


berikut.
45

Berbahaya: ditandai dengan


adanya lendir dan atau
darah dalam feaces
Penyakit
Tidak berbahaya: tidak ada
Diare lendir dan atau darah serta
terjadi tidak lebih tiga hari
Bukan penyakit:
ngenteng-
entengi)

Gambar 8. Pemahaman masyarakat terhadap diare


Menurut informan penyebab diare karena susu tidak cocok, makanan
yang kurang bersih, usus luka, makanan kurang gizi, makanan yang
dihinggapi lalat, tanah yang ikut termakan anak, mainan yang dimasukkan ke
dalam mulut, botol susu yang tidak bersih, tidak cuci tangan sebelum makan
dan karena cuaca. Berdasar pemaparan tersebut maka penyebab diare
menurut masyarakat dapat digolongkan seperti Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Penyebab Diare Menurut Pemahaman Masyarakat.
No Katagori Keterangan
1 Makanan a. Makanan tidak coccok
b. Susu tidak cocok
c. Makanan kurang bersih
d. Makanan kurang gizi
e. Makanan dihinggapi lalat
2 Perkembangan anak Hal yang biasa terjadi pada anak
3 Kebersihan a. Tanah yang termakan anak
b. Benda kurang bersih
c. Kebersihan kurang
d. Botol susu tidak bersih
e. Tidak cuci tangan sebelum makan
4 Gangguan usus Terdapat luka di usus
5 Cuaca Perubahan cuaca
46

Sebagian masyarakat juga memahami bahwa diare tidak menular.


Menurut informan diare tidak akan menular karena menurut pemahaman
informan penyakit menular adalah penyakit yang ditularkan melalui kontak
langsung atau melalui udara saja. Sebagian masyarakat yang lain terutama
masyarakat di daerah yang terkena wabah memahami bahwa diare akan
menular kepada orang lain, tetapi pemahaman masyarakat terbatas bahwa
diare akan menular karena lingkungan pekarangan yang tidak bersih.
Masyarakat belum memahami bahwa sumber air bersih yang tercemar dapat
menyebabkan diare. Kondisi geografis daerah yang pernah terkena wabah
adalah daerah perbukitan. Sumber air yang dipergunakan adalah mata air
yang dialirkan dengan pipa ke dalam bak penampungan umum. Menurut
informan diare akan menular jika diare tersebut mengandung darah dan atau
lendir dalam feaces.
Pemahaman masyarakat di daerah wabah yang relatif lebih baik ini
dipengaruhi oleh tindakan yang diambil oleh Puskesmas dan Dinas
Kesehatan apabila di suatu daerah terkena wabah. Tindakan yang dilakukan
di daerah yang dinyatakan terkena wabah adalah petugas akan melakukan
analisis masalah sehingga ditemukan penyebab masalah kemudian
dilakukan tindakan yang sesuai seperti pengobatan dan penyuluhan kepada
masyarakat.
Masyarakat setempat mengenal diare sebagai mencret dan mangsur.
Menurut informan mangsur merupakan keadaan yang lebih parah. Gejala
diare menurut informan adalah buang air, panas, perut kembung, muntah,
berak, lemas, anak tidak mau makan.
Penanganan yang diberikan ibu kepada anak yang menderita diare
tergantung diare yang diderita oleh anak. Tindakan akan diambil sesuai jenis
diare yang dialami. Apabila anak menderita diare yang diklasifikasikan dalam
diare yang bukan penyakit (ditandai adanya umpluk dalam feaces) maka
47

menurut informan penderita diare ini tidak perlu diberikan tindakan


pengobatan karena akan sembuh sendiri. Seperti penuturan berikut:
”... ya, kalau seperti itu [diare] ..ya sembuh sendiri tidak usah
diobati...(informan M9)

Untuk penanganan penderita diare yang dikategorikan penyakit,


semua informan menyatakan bahwa akan menangani sendiri terlebih dahulu
dan baru akan membawa berobat ke pelayanan kesehatan setelah gejala
tidak berkurang. Sebagian informan menyatakan mereka akan menunggu
hasil penanganan sendiri terlebih dahulu sebelum membawa berobat ke
sarana pelayanan kesehatan, sebagian informan lain menyatakan bahwa
akan membawa anaknya berobat ke sarana kesehatan seperti Puskesmas
maupun praktek swasta setelah terdapat tanda-tanda dehidrasi pada anak
yaitu anak lemah, air kencing sedikit, mata cekung dan demam. Seperti
diungkapkan informan berikut:
“…saya pernah dikasih tahu katanya kalau anak sudah lemes,
kencingnya sedikit, panas terus matanya cekung harus cepet-cepet
berobat…”(informan M1).

Selain adanya tanda-tanda dehidrasi informan juga menyatakan


bahwa mereka akan segera membawa anaknya berobat ke sarana
pelayanan kesehatan apabila terdapat lendir dan atau darah dalam feaces
penderita diare. Penanganan sendiri yang dilakukan informan adalah
memberikan oralit atau larutan gula garam, air teh pahit, dan memberikan
sebanyak mungkin cairan rumah tangga seperti kuah sayur dan air tajin.
Selain itu informan juga memberikan obat tradisional seperti memberikan
parutan buah sawo atau pucuk daun sawo dan memberikan daun jambu biji
sebagai pengobatan terhadap diare. Seperti diungkapkan informan berikut:
” daun jambu biji dikunyah ... airnya diberikan kepada anak...”
(informan M6).
48

”…kalau yang alami ya itu dari buah sawo dicuci pakai air hangat terus
diparut langsung atau dari pupuse diulek…”(informan M5).

Penanganan yang diberikan terhadap penderita dapat dilihat dalam


gambar 9 berikut:

Bukan dibiarkan Sembuh sendiri


penyakit

diare
Ditangani sendiri:
Tidak -oralit/cairan rumah
penyakit tangga
berbahaya
-obat tradisional

Berbahaya Berobat ke sarana


kesehatan

Gambar 9. Penanganan diare oleh masyarakat

Masyarakat menganggap bahwa diare adalah penyakit berbahaya


sehingga melakukan tindakan untuk mencegah terjadinya diare. Tindakan
pencegahan diare yang dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan.
Kebersihan disini adalah kebersihan makanan maupun dengan merebus
terlebih dahulu alat-alat makan untuk anak serta cuci tangan sebelum makan.
Hal ini dituturkan oleh informan berikut:
”...ya berbahaya,makanya sekarang sebelum saya ngasih makan ini
(menunjuk anaknya) itu alat-alatnya saya rebus dulu, terus saya cuci
tangan juga, gitu... ini anak segini kan masih rawan ....”(informan M4)
49

Namun kewaspadaan ibu terhadap diare dengan mencuci tangan


sebelum makan dan merebus alat-alat makan anak sebelum digunakan tidak
diimbangi dengan kebersihan lingkungan. Berdasarkan hasil observasi
diketahui bahwa kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal sebagian
informan tidak bersih. Terdapat reruntuhan bangunan yang tidak dibersihkan
dan sampah di sekitar sumber air bersih. Selain itu beberapa sumber air
bersih mempunyai saluran limbah yang berdekatan dengan sumber air
bersih.

Gambar 10. Kondisi lingkungan sekitar sumber air bersih.


Selain kondisi lingkungan sekitar sumber air tidak bersih, beberapa
informan juga mempunyai tempat pembuangan WC yang berjarak kurang
dari 10 meter dari sumur. Berdasarkan pemeriksaan bakteriologis pada
sumber air ditemukan bahwa semua sumber air yang diperiksa mengandung
bakteri Coli di atas ambang baku mutu air bersih yang diizinkan pemerintah
(jumlah bakteri dalam 100 ml air diatas 50). Hasil pemeriksaan bakteriologis
terhadap lima sumber air adalah sebagai berikut.
50

Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Bakteriologis Sumber Air


No Sumber air Hasil pemeriksaan Kondisi lingkungan sekitar sumber
E. Coli air
1 Sumur 1 113 Lingkungan sekitar sumur kurang
bersih, jarak sumur dengan septic
tank kira-kira 8 meter
2 Sumur 2 390 Jarak antara sumur dengan septic
tank kira-kira 5 meter
3 Sumur 3 >1898 Sumur terletak di dataran yang lebih
rendah dari pemukiman warga
4 Sumur 4 390 Jarak antara sumur dengan septic
tank kira-kira 7 meter
5 Mata air >1898 Mata air terletak di daratan yang lebih
rendah dari pemukiman warga

3. Perencanaan dan pelaksanaan Program promosi pencegahan diare oleh


Dinas Kesehatan Bantul.
Program promosi kesehatan yang dilaksanakan terkait dengan
penyakit diare oleh Dinas Kesehatan Bantul adalah sebagai berikut:
a. Subdinas pencegahan dan pemberantasan penyakit: kegiatan yang
dilakukan adalah penemuan dan pengobatan penderita diare, PHN
(Public Health Nursing), pelatihan kader dan penyuluhan kepada
masyarakat.
b. Subdinas penyuluhan masyarakat: kegiatan yang dilakukan adalah
program PHBS. Program PHBS ini dilakukan melalui penyuluhan
kelompok, dialog interaktif, kampanye dan pemutaran film. Kegiatan-
kegiatan tersebut dilakukan dengan kerjasama lintas sektoral dengan
dinas terkait. Dinas terkait yang bekerjasama dengan subdinas promosi
kesehatan adalah bagian sosial Kabupaten Bantul dan Dinas pendidikan.
Selain dengan dinas bagian promosi juga bekerja sama dengan Lembaga
Swadaya Masyarakat yaitu Sanggar Padmaya dan Unilever. Dinas
kesehatan bertindak sebagai koordinator sedangkan pelaksanaan oleh
LSM. Kegiatan tersebut dilakukan secara rutin setiap tahun.
51

c. Subdinas Kesehatan Lingkungan: kegiatan yang dilakukan adalah


peningkatan kualitas air bersih dengan cara inspeksi sanitasi,
pemeriksaan rumah dan pembangunan sarana MCK bekerja sama
dengan LSM yaitu Yayasan Sri Satya Sai Bara Indonesia dan kegiatan
pembinaan masyarakat melalui program Kabupaten Sehat.
d. Subdinas Kesehatan Keluarga: kegiatan yang dilakukan adalah seminar,
pelatihan, penyuluhan dan konseling untuk ASI eksklusif dan inisiasi dini.
Kegiatan ini dilakukan bekerja sama dengan LSM yaitu Sentra Laktasi
Indonesia, Unicef dan Sindo Children.
Berdasar hasil wawancara dan observasi kegiatan yang dilakukan di
Puskesmas Piyungan terkait dengan diare terdapat penyuluhan, konseling di
poli, pojok PHBS, PHN, inspeksi sanitasi dan pemeriksaaan rumah.
Penyuluhan dilakukan bersamaan dengan kegiatan posyandu dan rakor
kader. Berdasarkan hasil observasi penyuluhan yang dilakukan oleh petugas
kesehatan memakai metode konseling, demikian juga di Pojok PHBS.
Pelaksanaan kegiatan di pojok PHBS tergantung rujukan dari poliklinik
apabila ditemukan kasus. Dari hasil wawancara mendalam kegiatan PHN
untuk diare tidak dilakukan karena petugas penanggung jawab diare merasa
tidak mampu karena keterbatasan tenaga dan waktu, seperti penuturan
berikut:
”...ya, sekarang kan kalau minta teman itu nggak enak, kalau saya
sendiri nggak mampu...”(informan S7).
52

Gambar 11. Kegiatan di Pojok PHBS Puskesmas Piyungan

Sasaran program menurut informan adalah masyarakat, ibu bayi dan


balita serta kader kesehatan. Kegiatan untuk masyarakat dilakukan
bersamaan dengan posyandu atau pertemuan warga lainnya, sedangkan
kegiatan untuk kader dilakukan pada waktu pelatihan kader dan rapat
koordinasi kader di tingkat desa. Tetapi menurut informan pelatihan kader
tidak dilaksanakan secara khusus melainkan hanya berupa pembinaan dan
pemberian informasi saja.

Gambar 12. Kegiatan penyuluhan yang dilakukan pada waktu pelaksanaan


Posyandu.
Berdasar studi dokumen kegiatan penyuluhan dan pembinaan kader
tidak terprogram dengan baik. Kegiatan dilakukan secara insidentil apabila
53

ditemukan masalah dan bukan kegiatan yang direncanakan dari awal baik
dalam hal materi, waktu pelaksanaan maupun pelaksana kegiatan.
Sebagian kegiatan penyuluhan dilakukan dengan menggunakan
metode ceramah dan konseling. Ceramah dilakukan bersamaan dengan
kegiatan di masyarakat seperti pertemuan warga dan arisan. Umumnya
ceramah dilakukan tanpa menggunakan media. Konseling dilakukan
bersamaan dengan kegiatan Posyandu dan pengobatan. Umumnya kegiatan
ini juga tidak mempergunakan alat bantu. Kegiatan pemeriksaan rumah dan
inspeksi sanitasi dilakukan setiap bulan, akan tetapi menurut informan jumlah
rumah yang diperiksa hanya 10 buah setiap bulan dari jumlah total 9391
rumah di Kecamatan Piyungan.
Materi yang diberikan dalam penyuluhan untuk pencegahan diare
adalah dengan pemasyarakatan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Permasalahan
yang ditekankan dalam penyuluhan PHBS adalah kebersihan, seperti
penuturan berikut:
”... Biasa memasyarakatkan ... tapi yang..yang belum bisa melakukan
itu kan harapan kami untuk sedikit-sedikit sudah merubah. Misalnya
dulu e… dari…dari sawah masuk rumah langsung pegang minuman,
diminum tanpa cuci tangan. Sekarang diusahakan dari sawah harus
cuci tangan cuci kaki baru bisa minum ... kan kalau dulu kan dari
sawah langsung ambil air dari gentong, air mentah
diminum...”(informan S8).

Selain dengan melakukan penyuluhan, petugas penyuluhan kesehatan


masyarakat Puskesmas Piyungan juga melakukan pendekatan kepada tokoh
masyarakat dan kader untuk mendorong terjadinya perubahan perilaku di
masyarakat, seperti penuturan berikut:
”...Ya, kalau untuk perilaku, kita mendekati tokoh masyarakat nya
termasuk kepala dusunnya terus kadernya, terus bagian
masyarakatnya karena …karena petugas puskesmas itu tanpa
dukungan dari Kadus, tokoh masyarakat apalagi masyarakatnya
sendiri nggak mau, itu tidak akan berhasil. Saya minta kesadaran dari
54

masyarakatnya itu sendiri dan tokoh masyarakatnya giat memberikan


penjelasan...”(informan S8).

Selain program PHBS kegiatan lain yang dilakukan adalah dengan


melakukan konseling dan penyuluhan untuk meningkatkan pemberian ASI
ekslusif dan pemberian makanan pendamping ASI. Materi yang diberikan
adalah cara menyusui yang benar, cara memberikan makanan pendamping
ASI dan manfaat ASI. Seperti penuturan berikut:
”...Ya, keuntungan ASI dulu. Terus nanti akibat seumpama kita
memberikan e… bayi kita.. berikan ASI sebelum enam bulan itu kita
berikan MP ASI itu membuatnya gimana, seperti diare
dampaknya...”(informan S9).

Sementara itu Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul juga menggunakan


media audio visual sebagai alat bantu dalam melakukan penyuluhan
kesehatan. Media audio visual dimaksud adalah film layar lebar dan vidio.
Untuk pemutaran film layar lebar di ruang terbuka kurang mendapat
masyarakat. Seperti penuturan berikut:
”...Karena orang lebih senang lihat Tukul dari pada lihat layer tancap,
soalnya begitu…[diputar film], lama-lama yang belakang itu habis.
‘Abot Tukul’ gitu... itu... pada pulang....”(informan S3).

Selain pemutaran film layar lebar di ruang terbuka , Dinas Kesehatan


juga menggunakan vidio sebagai alat bantu dalam penyuluhan kelompok.
Pemutaran vidio dilakukan dalam ruangan tertutup dengan sasaran kelompok
tertentu seperti kader dan tokoh masyarakat atau kelompok di masyarakat
yang lain. Penyuluhan kelompok ini dilakukan dengan pemutaran vidio
sebagai permulaan kemudian diikuti dengan diskusi kelompok untuk
membahas materi yang disampaikan melalui film sebelumnya.
Sebagian informan masyarakat yang jarang mengikuti kegiatan di
lingkungan menyatakan bahwa mereka belum pernah menerima penyuluhan
dan kegiatan lain yang berkaitan dengan promosi pencegahan diare.
55

Sebagian besar informan yang sering mengikuti kegiatan di lingkungan


menyatakan bahwa mereka pernah menerima kegiatan terkait pencegahan
diare. Umumnya informan menyatakan bahwa mereka pernah menerima
penyuluhan terkait diare. Penyuluhan biasanya dilakukan dengan ceramah
dan konseling. Menurut informan penyuluhan dilakukan bersamaan dengan
Posyandu sedangkan konseling dilakukan bersamaan dengan pengobatan
baik di Posyandu maupun di Puskesmas atau praktek swasta. Selain
penyuluhan yang bersamaan dengan Posyandu, Puskesmas juga malakukan
penyuluhan di daerah yang terkena wabah dengan materi sesuai dengan
permasalahan yang ditemukan di daerah tersebut.
Berdasar observasi diketahui bahwa masyarakat sudah menerima
kegiatan terkait promosi pencegahan diare yaitu penyediaan sarana air
bersih dan jamban. Diketahui bahwa kegiatan ceramah dan konseling
dilakukan di Posyandu sesuai ketersediaan dana dan bukan merupakan
kegiatan yang sudah terprogram. Pelaksanaan kegiatan yang tidak
terprogram ini sesuai dengan penuturan informan berikut:
”... pelaksanaannya sesuai dana yang ada, kan Puskesmas itu unit
pelaksana kerja, jadi pada beberapa hal tertentu sangat tergantung
pada dinas...tidak bisa serta-merta merencanakan sendiri, tergantung
dari dana yang ada dan itu sangat tergantung dari dinas...” (informan
S6)

Menurut informan peran Dinas Kesehatan adalah sebagai regulator


dan pemegang kebijakan selain berfungsi pula dalam monitoring dan
evaluasi kegiatan sedangkan pelaksana kegiatan adalah Puskesmas. Seperti
penuturan berikut:
”...jadi di kabupaten ini adalah pada pengambil kebijakan ya,
sementara pada pelaksanaannya adalah di puskesmas...”
(informan S1)

Perencanaan kegiatan dilakukan di Puskesmas sebagai pelaksana,


sedangkan di tingkat kabupaten perencanaan lebih ditekankan pada
56

perencanaan untuk kebutuhan dana, kebutuhan untuk operasional,


perencanaan logistik dan perencanaan untuk evaluasi. Meskipun demikian
Dinas Kesehatan juga memiliki perencanaan kegiatan untuk Puskesmas
sehingga terdapat perencanaan ganda untuk Puskesmas. Menurut informan
hal tersebut terjadi pada beberapa program yang direncanakan Puskesmas
tetapi ternyata Dinas Kesehatan juga merencanakan kegiatan yang sama di
wilayah Puskesmas.
”...yang merencanakan di Puskesmas itu sebenarnya ee...datanya
dobel ya, jadi dinas juga membuat perencanaan untuk Puskesmas,
Puskesmas juga membuat sendiri...merencanakan sendiri...”(informan
S4).

”...kecuali kebetulan kami merencanakan ee..ternyata proyek atau


dinas juga merencanakan kegiatan yang sama, sehingga kami tidak
jadi membiayai sendiri tapi dibiayai oleh dinas sehingga bisa ”tempuk
(ketemu)...” (informan S7).

Menurut semua informan belum ada pedoman untuk pelaksanaan


kegiatan yang dikembangkan secara khusus untuk Kabupaten Bantul.
Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan selama ini menggunakan pedoman
yang diberikan oleh Departemen Kesehatan.
Di Puskesmas perencanaan kegiatan dilakukan melalui lokakarya
mini Puskesmas oleh semua karyawan Puskesmas. Lokakarya mini
Puskesmas dilakukan untuk membicarakan usulan kegiatan dari pemegang
program di Puskesmas kemudian diwujudkan dalam rencana kerja
Puskesmas (POA= plan of action). Pokok-pokok kegiatan yang direncanakan
meliputi bentuk kegiatan yang akan dilakukan, sumber dana, pelaksana dan
waktu kegiatan. Perencanaan kegiatan di puskesmas sesudah gempa
mengalami hambatan seperti diungkapkan informan berikut:
”...karena pada waktu gempa itu semua perencanaan buyar semua
dan belum ada perencanaan lagi selama satu tahun, khususnya
Puskesmas kami belum pernah sejak pasca gempa itu. Kami sangat
57

disibukkan dengan kegiatan dan penyelamatan dan recovery...”


(informan S6).

Dana untuk kegiatan di puskesmas berasal dari dana kabupaten yang


dikelola langsung oleh dinas kesehatan sedangkan puskesmas sebagai
pelaksana kegiatan yang dibiayai oleh dinas kesehatan. Selain dana dari
Dinas Kesehatan, puskesmas juga memperoleh dana untuk kegiatan dari
dana Askeskin dan dana pengembalian retribusi dan uang tindakan.
Menurut informan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan
promosi pencegahan diare adalah adanya anggapan tentang diare itu
sendiri, baik di masyarakat maupun di kalangan petugas kesehatan. Menurut
informan masih banyak warga masyarakat yang beranggapan bahwa diare
adalah hal yang biasa terjadi, sedangkan petugas menganggap bahwa diare
bukan merupakan prioritas masalah kesehatan, seperti penuturan informan
berikut:
”...iya itu bu, diare dianaktirikan sama TB, yang baru digencar-
gencarkan itu...(informan S7).

”...justru di masyarakat dianggap diare itu pada balita itu sesuatu akan
tambah akal. Sehingga mereka itu tidak langsung berobat apalagi ke
puskesmas...”(informan S1).

Anggapan lain di masyarakat yaitu masyarakat belum mengetahui


hubungan antara diare dengan pemberian ASI sehingga masih banyak
masyarakat yang tidak memberikan ASI eksklusif. Tindakan masyarakat ini
disebabkan karena pengetahuan masyarakat tentang ASI yang masih
kurang. Masyarakat meyakini bahwa apabila bayi menangis maka dengan
diberikan makanan akan cepat diam. Selain itu pengetahuan dan keyakinan
masyarakat terhadap ASI juga masih kurang. Hal ini kemungkinan
dipengaruhi oleh kualitas ASI yang kurang karena asupan gizi ibu hamil yang
kurang. Selain adanya anggapan di masyarakat, hambatan lain yang
58

dihadapi menurut informan adalah perilaku masyarakat yang tidak sesuai


dengan pengetahuan yang dimiliki.
”...mereka sebenarnya udah tau tapi apa ya...mengubah perilakunya
itu yang sulit ya...”(informan S10).

Hambatan lain yang dihadapi adalah terbatasnya petugas dan belum


adanya petugas khusus promosi kesehatan. Promosi kesehatan selama ini
dilakukan oleh petugas yang merangkap tugas, di samping melaksanakan
tugas-tugas yang lain.
Selain itu informan juga menyatakan bahwa masalah keterbatasan
dana juga merupakan hambatan. Hambatan yang berkaitan dengan dana ini
diupayakan untuk dikurangi dengan jalan kegiatan promosi tidak
dilaksanakan secara khusus tetapi dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan
di masyarakat seperti arisan warga, pengajian maupun Posyandu.
Tanggapan masyarakat terhadap kegiatan promosi kesehatan yang
dilakukan umumnya positif dan menyatakan bahwa kegiatan yang mereka
terima menarik dan dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Materi
yang diterima mengenai penanganan diare seperti pemberian oralit dan
pembuatan larutan gula garam sangat berguna untuk melakukan pertolongan
pertama penderita diare di rumah.

4. Kebutuhan masyarakat akan program promosi pencegahan diare


Berdasar hasil wawancara mendalam dan diskusi kelompok terarah
diketahui bahwa bentuk kegiatan yang diinginkan adalah ceramah dengan
media keterangan tertulis yang bisa dibawa pulang. Metode konseling tidak
menarik minat informan untuk digunakan sebagai sarana penyampaian
informasi kesehatan. Dari hasil wawancara mendalam, sebagian besar
informan menyatakan bahwa dengan ceramah informan bisa mendapatkan
informasi lebih dalam dan jelas. Berdasar observasi diketahui bahwa
sebagian besar masyarakat merasa lebih nyaman untuk langsung
59

berhadapan dengan narasumber. Hal ini terungkap dari penuturan informan


sebagai berikut:
”...nggih...sareng-sareng mawon..kan penak...mangke terus do
ngrungoke bareng...niku...”(ya..bersama-sama saja ...kan
nyaman...nanti terus pada mendengarkan bersama...itu) (informan
M9).

Selain penyampaian dengan ceramah dan tanya jawab, sebagian


informan juga menyatakan bahwa mereka menginginkan keterangan tertulis
lain sebagai media untuk promosi kesehatan. Menurut informan keterangan
tertulis tersebut dapat mereka pergunakan sebagai panduan selama
mendengarkan ceramah. Selain itu keterangan tertulis tersebut dapat mereka
pelajari berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.
Keterangan tertulis yang diinginkan adalah berupa bahan cetakan
berukuran seperti ukuran buku tulis. Warna yang diinginkan adalah warna-
warna yang cerah seperti hijau, merah, kuning dan biru. Kertas yang
dipergunakan sebaiknya kertas tebal dengan permukaan mengkilat. Tulisan
dalam kertas tersebut berwarna hitam. Beberapa kalimat yang penting
dituliskan lebih besar dengan warna berbeda. Keterangan tersebut sebaiknya
disertai dengan gambar yang berkaitan dengan tulisan tersebut. Gambar
yang diinginkan adalah gambar yang sebenarnya bukan animasi atau
karikatur. Apabila dalam bentuk buku sebagian besar informan menghendaki
jumlah halaman yang tidak lebih dari sepuluh halaman. Bahasa yang
dipergunakan adalah Bahasa Indonesia dengan kalimat pendek dan
sederhana.
Televisi kurang menarik minat informan apabila dipergunakan sebagai
saluran promosi. Televisi menurut informan memerlukan perhatian khusus
untuk menyimak pesan yang disampaikan sementara informan sebagai ibu
rumah tangga mempunyai banyak kegiatan lain di rumah. Televisi menurut
informan juga tidak nyaman untuk digunakan sebagai sarana informasi
60

karena televisi ditonton bersama seluruh anggota keluarga dan sering


berganti-ganti saluran. Menurut informan media radio juga tidak sesuai untuk
dipakai sebagai saluran informan. Sebagian besar informan menyatakan
bahwa mereka tidak pernah mendengarkan radio. Media lain seperti poster
dan spanduk (media luar ruang) juga kurang disukai sebagai saluran
promosi. Menurut informan, mereka mengalami kesulitan untuk melihat
media luar tersebut karena penempatan yang kurang tepat. Hal ini terungkap
dalam penuturan berikut:
”...wah..kalau poster cuman dipasang terus dirobek orang, kalau TV,
kan kita melihatnya cuman sebentar aja jadi gak konsen...”(informan
M1).

”...spanduk... kan masangnya di tengah jalan...jadi kita nggak


keliatan...” (informan M9).

Pelaksanaan kegiatan promosi yang diinginkan informan adalah


kegiatan yang dilakukan secara teratur setiap bulan dan dilakukan
bersamaan dengan kegiatan lain. Sebagian informan menyatakan bahwa
kegiatan sebaiknya tidak dilakukan bersamaan dengan posyandu karena
terlalu ramai.
Informan juga menyatakan bahwa sumber informasi yang mereka
inginkan adalah petugas kesehatan. Informan juga menyatakan bahwa
siapapun petugas kesehatan dapat memberikan promosi kesehatan
sepanjang petugas kesehatan tersebut mampu dan menguasai
permasalahan. Seperti penuturan berikut:
”...dokter boleh...bidan gak papa...orang-orang puskesmas yang tahu
masalah kesehatan...(informasi M8).

Informan menyatakan bahwa bahasa pengantar yang disukai adalah


bahasa Indonesia dengan gaya bahasa yang digunakan sehari-hari yaitu
bercampur dengan Bahasa Jawa. Menurut sebagian besar informan lebih
mudah dipahami dan lebih luas pemakaiannya.
61

Sebagian besar informan menyatakan materi promosi yang diinginkan


adalah mengenai penanganan diare meskipun terdapat juga sebagian
informan yang menginginkan materi mengenai pencegahan dan pengetahuan
tentang diare secara menyeluruh.

5. Saluran informasi yang sering dipergunakan masyarakat untuk


memperoleh informasi kesehatan.
Sebagian besar informan menyatakan bahwa mereka mendapatkan
informasi kesehatan dari petugas kesehatan dan kader. Informasi yang
diperoleh dari petugas kesehatan biasanya didapat melalui penyuluhan di
posyandu. Selain di posyandu, informan mendapatkan informasi dari petugas
kesehatan pada waktu mereka berobat di sarana pelayanan kesehatan
seperti puskesmas dan praktek swasta.
Informasi dari kader diperoleh pada saat posyandu dan kegiatan lain di
lingkungan seperti arisan, pengajian dan pertemuan warga lainnya. Informasi
dari kader berupa pemberian informasi kegiatan yang ada. Kader juga
melanjutkan informasi yang telah dia terima dari petugas puskesmas kepada
masyarakat.
Sebagian masyarakat yang lain menyatakan mendapatkan informasi
kesehatan dari tokoh masyarakat dan tetangga. Informasi dari tokoh
masyarakat seperti kepala dusun dan ketua RT. Informasi yang didapat
berupa pemberitahuan tentang adanya kegiatan di lingkungan. Selain itu
sebagian tokoh masyarakat juga menginformasikan masalah kesehatan yang
berkaitan dengan lingkungan.
Masyarakat juga memperoleh informasi mengenai diare dari orang-
orang yang lebih tua dan orang-orang dekat termasuk tetangga. Informasi
yang didapat dari sini biasanya berupa pengetahuan turun-temurun.
Informasi biasanya berupa mitos dan keyakinan yang ada di masyarakat.
Terkait diare informasi peroleh berupa keyakinan bahwa diare adalah hal
62

yang biasa terjadi pada anak dan merupakan bagian dari perkembangan
anak. Informasi juga berupa tatacara untuk melakukan penanganan diare
sendiri.
Sedangkan media informasi yang sering dipergunakan informan untuk
mendapatkan informasi tentang kesehatan adalah televisi dan pengumuman
di lingkungan. Informan mempergunakan televisi sebagai sarana untuk
memperoleh informasi mengenai kesehatan secara umum tidak hanya
terbatas pada diare saja. Sebagian informan dengan tingkat pendidikan tinggi
menyatakan bahwa mereka mempergunakan buku ilmiah populer sebagai
sarana untuk memperoleh informasi tentang kesehatan anak temasuk
diantaranya mengenai diare.

B. PEMBAHASAN

1. Pemahaman masyarakat tentang diare


Seperti diketahui masyarakat membedakan diare sebagai penyakit
dan bukan penyakit, dan dibedakan lagi menjadi penyakit berbahaya dan
tidak berbahaya. Pemahaman masyarakat ini kurang sesuai karena penyakit
diare disebabkan karena infeksi dari bakteri yang disebabkan oleh
kontaminasi dari makanan maupun air minum, infeksi karena virus, alergi
makanan khususnya susu atau laktosa, dan parasit yang masuk melalui
makanan atau minuman yang kotor (Moss et al., 2006). Semua jenis diare ini
akan menyebabkan gangguan pada anak. Akibat diare apabila tidak
ditangani adalah dehidrasi dan kurangnya asupan makanan.
Pemahaman masyarakat mengenai diare ini sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Rohde (1979) bahwa berbagai kepercayaan, tradisi dan
kebudayaan masyarakat masih memegang peranan penting dalam
perawatan anak. Rohde juga membuktikan keyakinan yang menggangap
63

bahwa diare merupakan hal yang biasa terjadi dan merupakan pertanda anak
akan bertambah pandai.
Pemahaman diare sebagai bagian dari perkembangan anak tidak
menguntungkan untuk pencegahan dan penanggulangan diare. Dengan
adanya anggapan ini tindakan yang akan diambil oleh masyarakat terhadap
kejadian diare akan terpengaruh. Masyarakat akan membiarkan penderita
diare yang bukan penyakit karena menurut masyarakat hal ini biasa terjadi
sehingga akan sembuh sendiri.
Pemahaman masyarakat terhadap penyebab terjadinya diare adalah
hal-hal yang mempengaruhi terjadinya diare menurut pemahaman mereka.
Masyarakat menunjuk faktor-faktor risiko terjadinya diare sebagai penyebab
diare. Pemahaman masyarakat terhadap penyebab penyakit yang belum
tepat ini mempengaruhi tindakan masyarakat dalam melakukan tindakan
pencegahan apalagi didukung oleh pemahaman sebagian besar masrayakat
yang menganggap diare bukan penyakit menular. Anggapan masyarakat
bahwa diare bukan penyakit menular ini dipengaruhi oleh pemahaman bahwa
penularan penyakit hanya dapat terjadi melalui udara dan kontak langsung
saja. Hal ini tidak sesuai dengan pernyataan dalam Department of child
helath medical school (1987) bahwa sebagian besar penularan diare adalah
melalui penularan oral-fekal. Pemahaman masyarakat bahwa diare tidak
menular ini sesuai dengan penelitian Djaafar (2002) yang menyatakan bahwa
masyarakat menganggap bahwa diare terjadi karena salah makan dan anak
sedang bertumbuh.
Sedangkan dari hasil observasi dan pemeriksaan kualitas air diketahui
bahwa faktor lingkungan dan air mempengaruhi peranan besar dalam
terjadinya diare. Hasil pemeriksaan bakteriologis menunjukkan bahwa
kandungan bakteri Coli pada air di atas batas yang memenuhi syarat sebagai
air bersih yaitu 50/ 100 ml air, (Permenkes RI No. 416/Menkes/Per/IX/1990
64

tentang baku mutu air bersih). Tingginya bakteri Coli dalam air kemungkinan
dipengaruhi oleh letak mata air yang terletak di dataran rendah serta jarak
antara sumber air dan septic tank serta pembuangan air limbah yang terlalu
dekat (kurang dari 10 meter).
Pemahaman masyarakat tentang pengaruh lingkungan terhadap diare
ini tidak sesuai dengan Philips et al. (1987) dan Tjitra et al. (1994) bahwa
faktor risiko terjadinya penyakit diare adalah: umur, higiene perorangan,
sanitasi lingkungan, status sosial ekonomi, status gizi dan status sosial
ekonomi. Menurut Zubir (2005) faktor risiko yang berkaitan dengan terjadinya
diare di Kabupaten Bantul adalah pemberian ASI, kebiasaan tidak cuci
tangan sebelum menyuapi anak dan buang air besar tidak di jamban.
Pemahaman masyarakat tentang pengaruh lingkungan dan sumber air yang
kurang tepat ini sesuai dengan hasil penelitian Djaafar (2002) yang
menyatakan bahwa masyarakat menganggap diare tidak menular dan tidak
ditularkan melalui air.
Berdasar uraian di atas terlihat bahwa pemahaman masyarakat
tentang diare di Puskesmas Piyungan masih kurang tepat. Terdapat
beberapa persepsi yang tidak tepat. Pemahaman dan persepsi masyarakat
ini dipengaruhi oleh pengetahuan dan informasi yang diterima. Selama ini
kegiatan penyuluhan lebih ditekankan pada penanganan diare dari pada
usaha pencegahan dan pengertian diare itu sendiri.
Pengetahuan masyarakat tentang faktor risiko penyebab diare akan
mempengaruhi tindakan pencegahan. Masyarakat belum memahami bahwa
faktor lingkungan dan sumber air minum berhubungan dengan terjadinya
diare sehingga tidak ada usaha untuk lebih memperhatikan faktor tersebut.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Sarwono (2004) bahwa perilaku manusia
merupakan hasil dari pengalaman dan interaksi manusia yang terwujud
dalam bentuk sikap, pengetahuan dan tindakan. Perilaku merupakan respon
65

individu terhadap rangsangan baik yang berasal dari dalam diri maupun yang
berasal dari luar. Respon dapat bersifat pasif (tanpa tindakan) maupun aktif
(dengan tindakan). Menurut Green dan Kreuter (1991) setiap perilaku
kesehatan dipengaruhi oleh faktor-faktor predisposisi (pengetahuan, sikap
dan persepsi), faktor pemungkin (biaya dan jarak) dan faktor penguat yang
berupa dorongan sosial.
Pemahaman masyarakat tentang penyakit diare sebagai hal biasa dan
dapat ditangani sendiri mempengaruhi tindakan yang diambil apabila terjadi
diare. Masyarakat umumnya menunggu sampai 3 hari sebelum membawa
anak berobat. Penanganan sendiri yang dilakukan berupa pemberian cairan
rehidrasi oral dan pemberian obat tradisional. Pemberian rehidrasi oral
kepada penderita diare ini sesuai dengan penelitian Victoria, et.al.(2000)
yang menyatakan bahwa cairan rehidrasi oral terbukti bermanfaat untuk
mengatasi dehidrasi pada anak.
Pengetahuan masyarakat mengenai penanganan pertama diare sudah
cukup baik dibandingkan dengan pengetahuan tentang pencegahan diare.
Masyarakat menguasai tindakan pertama yang harus diambil seperti usaha
pemberian rehidrasi oral dan pengenalan tanda-tanda dehidrasi seperti mata
cekung, lemas, tidak keluar keringat sebagai tanda mereka harus membawa
anak ke perawatan lebih lanjut. Namun masyarakat kurang dapat
menghubungkan antara diare dengan lingkungan sehingga masyarakat tidak
melakukan tindakan pencegahan. Untuk itu perlu dilakukan promosi
kesehatan yang bertujuan untuk memberikan informasi kepada masyarakat
tentang pengaruh lingkungan terhadap pencegahan diare. Dengan informasi
yang diberikan diharapkan masyarakat mengetahui hubungan antara
lingkungan dengan diare sehingga diharapkan akan melakukan tindakan
pencegahan yang diperlukan. Hal ini sesuai dengan penyataan Green dan
66

Kreuter (1991) bahwa pengetahuan merupakan faktor yang mempengaruhi


seseorang untuk melakukan tindakan.

2. Perencanaan dan pelaksanaan program promosi pencegahan diare di


Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul
Promosi kesehatan merupakan proses untuk membuat orang mampu
meningkatkan kontrol terhadap kesehatan dan faktor–faktor yang
mempengaruhi kesehatannya sendiri. Kegiatan tersebut dilakukan dengan
meningkatkan kemampuan perseorangan dan kelompok untuk melakukan
perubahan keadaan yang mempengaruhi kesehatan (Tang et al., 2005).
Seperti telah disebutkan pada hasil penelitian kegiatan yang
dilaksanakan di Kecamatan Piyungan adalah pemberian informasi tentang
diare dan penanganan terjadinya diare. Pemberian informasi dilakukan
melalui penyuluhan, konseling, kampanye dan kegiatan lain yang bertujuan
untuk memberdayakan masyarakat sehingga mampu untuk mengatasi
masalah kesehatannya sendiri. Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas
Puskesmas dengan bantuan kader Posyandu.
Kegiatan tersebut juga dilakukan oleh seksi-seksi di Dinas Kesehatan,
sehingga terjadi perencanaan ganda. Dengan demikian Dinas Kesehatan
tidak hanya sebagai pembuat kebijakan dan regulator tetapi sekaligus
sebagai pelaksana kegiatan.
Sementara itu menurut informan di Puskesmas Piyungan dalam satu
tahun sesudah gempa tidak dilakukan proses perencanaan, kegiatan yang
dilakukan menitikberatkan pada pemulihan sesudah gempa. Pelaksanaan
kegiatan juga tidak terprogram dengan baik, sehingga kegiatan yang
dilakukan berdasar kasus yang timbul bukan berdasar pada perencanaan
yang telah ditentukan sebelumnya.
67

Proses perencanaan di Puskesmas Piyungan juga kurang sesuai


dengan prinsip perencanaan dan penganggaran terpadu (Depkes, 2006)
yang menyatakan bahwa proses perencanaan sebaiknya dilakukan terpadu
antara Dinas Kesehatan dan Puskesmas sehingga tidak terjadi tumpang
tindih program. Salah satu prinsip P2KT (Perencanaan dan Penganggaran
Kesehatan Terpadu) adalah integrasi yaitu mengintegrasikan kegiatan yang
akan dilakukan. Integrasi yang dilakukan meliputi pelaksanaan bersama
kegiatan berbagai program berbeda, sumberdaya yang dipergunakan
bersama, intervensi, sistem pelayanan dan dana. Untuk itu diperlukan
kesepakatan antara Puskesmas dan Dinas Kesehatan mengenai kegiatan
yang akan dilakukan.
Berdasar uraian di atas, maka proses perencanaan dan pelaksanaan
kegiatan di Kabupaten Bantul selama ini kurang sesuai dengan yang
disampaikan Suharto (1997) bahwa proses perumusan kebijakan sosial
melalui tahapan, yaitu: tahap identifikasi, tahap implementasi dan tahap
evaluasi. Setiap tahap terdiri dari beberapa tahapan yang saling terkait.
Proses perencanaan sebaiknya dilakukan sebelum implementasi kegiatan
dan diakhiri dengan evaluasi. Sementara di Puskesmas Piyungan kegiatan
yang dilakukan selama ini berdasar pada kasus yang muncul. Kegiatan yang
dilakukan merupakan bagian dari usaha pemecahan masalah yang muncul
meskipun apabila masalah muncul dilakukan juga usaha-usaha seperti
pengumpulan data, analisis penyebab dan penentuan intervensi, tetapi
semua kegiatan tersebut akan dilakukan hanya apabila muncul kasus yang
perlu ditangani. Proses evaluasi yang dilakukan sebagian besar merupakan
evaluasi hasil untuk melihat cakupan kegiatan saja sementara evaluasi
proses kadang kala terabaikan.
Terkait dengan diare, informasi yang diterima masyarakat lebih
dominan pada kegiatan kuratif sementara informasi tentang tindakan yang
68

harus dilakukan untuk upaya preventif terjadinya diare kurang mendapat


perhatian dari petugas kesehatan dan masyarakat. Pengetahuan masyarakat
tentang penyebab dan perjalanan alamiah penyakit diare juga masih kurang.
Masyarakat tidak memahami peranan lingkungan dalam terjadinya penyakit
sehingga tidak ada usaha untuk melakukan modifikasi lingkungan untuk
mencegah terjadinya diare.
Pemahaman masyarakat terhadap diare yang membedakan diare
menjadi penyakit dan bukan penyakit ini menunjukkan bahwa pendidikan
kesehatan yang dilakukan selama ini belum berhasil menghilangkan
anggapan yang kurang tepat selama ini. Meskipun demikian pemahaman
masyarakat tentang gejala diare, penanganan yang pertama yang bisa
dilakukan sendiri, sampai dengan tanda-tanda yang harus diwaspadai untuk
dilakukan tindakan lanjutan sudah cukup baik. Pengetahuan dan tindakan
masyarakat sebagian besar sudah tepat. Hal ini dipengaruhi oleh sikap
masyarakat dalam menerima suatu informasi yaitu masyarakat lebih tertarik
dengan penanganan diare karena informasi tersebut membantu masyarakat
untuk mengatasi masalah yang dihadapi dan akan menimbulkan akibat yang
merugikan apabila tindakan penanganan tidak dilakukan. Hal ini sesuai
dengan yang diungkapkan Leventhal cit. Azwar (2007) bahwa persuasi dapat
diperkaya dengan pesan-pesan yang membangkitkan emosi yang kuat
(khususnya emosi takut) dalam diri orang. Apalagi bila pesan berisi
rekomendasi mengenai bagaimana perubahan sikap dapat mencegah
konsekuensi negatif dari pesan yang hendak diubah. Cara ini sangat efektif
untuk perilaku yang berkaitan dengan kesehatan sehingga dapat dipahami
apabila pesan mengenai penanganan diare lebih diterima masyarakat.
Kurang berhasilnya promosi dalam menghilangkan anggapan
masyarakat yang tidak tepat mengenai diare ini dipengaruhi oleh kegiatan
yang dilakukan selama ini. Informasi yang diberikan kepada masyarakat
69

selama ini lebih menonjolkan sisi kuratif. Masyarakat lebih banyak menerima
informasi mengenai penanganan diare dan tindakan yang harus diambil
dibandingkan dengan deskripsi dan penyebab diare. Selain itu dipengaruhi
juga oleh frekuensi penyuluhan dan tehnik komunikasi yang digunakan.
Teknik komunikasi yang digunakan lebih banyak menggunakan ceramah dan
konseling tanpa menggunakan media lain.
Sejalan dengan hal tersebut Egger (1993) menyatakan bahwa media
bukan merupakan satu-satunya strategi promosi kesehatan tetapi seringkali
harus disertai dengan pemberdayaan masyarakat dan organisasi
masyarakat. Untuk itu dalam melakukan promosi pencegahan diare
sebaiknya dilakukan sesuai dengan tahapan-tahapan dalam perencanaan
dan pelaksanaan program sehingga kegiatan yang dilakukan adalah kegiatan
yang berdasar pada analisis masalah dan kebutuhan masyarakat bukan
sekedar kebutuhan program.
Dalam perencanaan program promosi perlu dilakukan klasifikasi
perilaku ke dalam faktor-faktor yang menyebabkan, mendukung dan
mendorong terjadinya perilaku. Dalam hal pencegahan diare faktor yang
berpengaruh terhadap perilaku masyarakat adalah pemahaman masyarakat
yang masih belum tepat terhadap diare sehingga untuk mendorong
masyarakat melakukan tindakan pencegahan diperlukan kegiatan promosi
kesehatan yang bertujuan untuk mengubah pemahaman masyarakat yang
kurang sesuai. Selain faktor pengaruh yaitu pengetahuan masyarakat,
perencanaan program juga harus mempertimbangkan faktor pendorong yang
akan mendorong masyarakat untuk berperilaku sehat. Dalam hal ini faktor
pendorong adalah tersedianya sumberdaya untuk mendukung perilaku
masyarakat seperti tersedianya jamban dan air bersih. Sedangkan faktor
penguat adalah tenaga kesehatan dan kader yang mendukung masyarakat
untuk berperilaku sehat.
70

Faktor-faktor tersebut merupakan faktor yang berpengaruh terhadap


perilaku kesehatan, ada kemungkinan untuk diubah tetapi memerlukan
sumberdaya untuk mengubah perilaku tersebut. Sehingga program
pencegahan diare selain dilakukan penyuluhan kesehatan untuk
meningkatkan pengetahuan masyarakat, juga diperlukan penyediaan sarana
seperti penyediaan jamban dan sumber air untuk mendukung masyarakat
berperilaku sehat. Selain itu diperlukan pula dukungan dari petugas
kesehatan dan kader kesehatan agar perilaku dapat terpelihara.

3. Kebutuhan masyarakat terhadap promosi kesehatan


Kebutuhan masyarakat akan promosi pencegahan diare berbentuk
program pendidikan kesehatan yang dapat memberikan peningkatan
pengetahuan. Masyarakat menginginkan materi yang diberikan mengenai
diare secara keseluruhan tetapi sebagian besar masyarakat menginginkan
materi mengenai penanganan diare saja. Hal ini menunjukkan bahwa
masyarakat tidak terbiasa untuk melakukan pencegahan akan tetapi
masyarakat terbiasa untuk melakukan tindakan setelah masalah muncul.
Pengetahuan masyarakat mengenai diare terbatas pada penyebab tidak
langsung yang berkaitan dengan kebersihan makanan dan intoleransi
makanan saja. Pemahaman masyarakat mengenai faktor risiko terjadinya
diare dari sisi lingkungan masih kurang sehingga kebutuhan masyarakat
untuk mengetahui peranan lingkungan dalam pencegahan diare belum ada.
Padahal berdasar hasil observasi dan pemeriksaan bakteriologis air diketahui
bahwa peranan lingkungan cukup besar dalam terjadinya diare di daerah
tersebut.
Cara penyampaian yang dipilih masyarakat adalah dengan ceramah
dibandingkan dengan konseling. Menurut Dignan dan Carr (1992) kelebihan
metode ini adalah mudah untuk dilaksanakan, menyajikan informasi,
71

mempengaruhi opini serta menumbuhkan pemikiran kritis dan praktis.


Sementara itu Ewless dan Simnet (1995) menyatakan bahwa kelemahan
metode ini adalah ceramah merupakan proses komunikasi satu arah,
sehingga materi yang disampaikan kadang-kadang hanya dapat diingat pada
akhir pertemuan dan akan berkurang beberapa hari kemudian.
Media yang diinginkan adalah keterangan tertulis baik berupa
lembaran maupun berbentuk buku. Pemilihan media ini karena masyarakat
berpendapat keterangan tertulis lain yang bisa dibawa pulang itu
memungkinkan mereka untuk mempelajari ulang apabila suatu saat lupa.
Menurut Ewless dan Simnet (1995) leaflet, hand out dan materi tertulis lain
mempunyai keunggulan yaitu klien dapat menyesuaikan dan belajar mandiri,
pengguna dapat melihat isinya dengan santai, informasi dapat dibagi dengan
orang lain, dapat memberikan detil, handout mudah dibuat, diperbanyak,
diperbaiki dan disesuaikan, mengurangi kebutuhan mencatat, sederhana dan
murah serta klien dan pengajar dapat mempelajari informasi yang rumit
bersama-sama. Sedangkan kerugian media tertulis adalah materi umumnya
dirancang dan diproduksi massal untuk sasaran secara umum dan tidak
cocok untuk setiap orang, tidak tahan lama dan mudah hilang.
Hasil penelitian menyatakan bahwa masyarakat menginginkan media
tertulis dalam bentuk lembaran maupun buku yang tidak lebih dari sepuluh
halaman maka media yang sesuai adalah leaflet, folder dan booklet. Media-
media tersebut merupakan media tertulis yang dapat didesain sesuai dengan
keinginan masyarakat yaitu berwarna menarik, bergambar, menggunakan
kertas tebal dan mengkilat serta jumlah halaman tidak melebihi sepuluh. Hal
ini sesuai dengan pemaparan Sanyoto (2006) bahwa kegiatan persuasi
komunikasi sebaiknya berdasar pada A-A prosedur yaitu proses pentahapan
persuasi komunikasi dimulai dari usaha untuk membangkitkan perhatian
(attention), kemudian berusaha menggerakkan banyak orang sehingga
72

melakukan tindakan sebagaimana yang diharapkan (action). Maka untuk


menarik perhatian masyarakat terhadap program promosi yang akan
dilakukan sebaiknya media yang dipergunakan didesain sesuai dengan
keinginan masyarakat sehingga perhatian masyarakat dapat dibangkitkan
dan selanjutnya dapat mendorong untuk melakukan tindakan yang
diinginkan.
Menurut Dignan dan Carr (1992) penyusunan media kesehatan
adalah berdasarkan kriteria-kriteria acceptibilty yaitu mempertimbangkan
metode dan kegiatan yang akan dipergunakan untuk menyampaikan pesan
promosi kesehatan dapat diterima oleh masyarakat penerima. Selain itu juga
mempertimbangkan literacy yaitu tingkat melek huruf penerima pesan
kesehatan, tingkat auditory yaitu tingkat masyarakat menerima pesan melalui
media audio dan audio visual pada kehidupan sehari –hari. Kriteria lain
adalah kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan informasi, biaya yang
dibutuhkan untuk pelaksanaan metode dan kegiatan, convinience yaitu
kemudahan dalam pelaksanaan, feasibility yaitu kemungkinan untuk dapat
dilaksanakan dan efektifitas. Sehingga dalam penyusunan media kesehatan
untuk pencegahan harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang akan
menerima penyuluhan seperti budaya yang ada di masyarakat, tingkat
pendidikan, umur dan kebiasaan masyarakat dalam memperoleh informasi.
Media lain seperti televisi dan radio tidak dipilih sebagai saluran
informasi karena kurang dapat memberikan kenyamanan bagi ibu untuk
mendapatkan informasi. Dua media ini menuntut intensitas yang lebih dari
penggunanya sementara televisi dipergunakan bersama seluruh keluarga
dan para ibu mempunyai kesibukan lain di rumah.
Pemilihan masyarakat terhadap komunikasi langsung ini
menunjukkan bahwa masyarakat masih bersifat pasif dalam usaha
mendapatkan informasi kesehatan. Masyarakat kurang tertarik untuk aktif
73

mencari sendiri informasi tentang diare melalui media yang ada seperti media
audio, audio visual maupun media luar ruang lainnya.
Ketidaktertarikan masyarakat terhadap informasi yang berasal dari
media ini juga didukung oleh masyarakat yang ingin mempertahankan sikap
yang diyakininya selama ini. Selain itu dipengaruhi juga oleh
ketidakmampuan masyarakat untuk mengelola informasi yang komplek. Hal
ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Egger et al.(1993) yang
menyatakan bahwa kegagalan penyampaian pesan lewat media dipengaruhi
oleh apatisme masyarakat, mempertahankan sikap dan ketidakmampuan
untuk mencerna informasi yang kompleks.
Sumber pesan yang dipilih adalah tenaga kesehatan. Masyarakat tidak
memilih secara khusus tenaga kesehatan yang disukai untuk menyampaikan
pesan. Kemampuan sumber menguasai masalah menjadi alasan pemilihan
sumber. Menurut Mc Guire (cit. Morton et al.,1995) efektivitas komunikator
dalam penyampaian pesan tergantung dari credibility, attractiveness dan
power. Ini berarti kredibilitas penyampai pesan, kemenarikan dan kekhasan
penyampai pesan sangat berpengaruh terhadap target atau outcome yang
diinginkan. Kredibilitas komunikator ditentukan oleh kompetensi dan
keterpercayaan sumber. Menurut masyarakat terkait masalah kesehatan
maka sumber informasi yang mereka percaya dan dianggap mempunyai
keahlian adalah tenaga kesehatan meskipun tenaga kesehatan yang tersedia
sangat terbatas jumlahnya. Untuk mengatasi keterbatasan tenaga kesehatan
perlu dilakukan usaha untuk menambah sumber informasi lain yang sesuai
dengan kebutuhan masyarakat yaitu sumber informasi harus menguasai
permasalahan kesehatan. Untuk itu peran kader kesehatan dapat
ditingkatkan sehingga dapat menjadi sumber pesan yang dipercayai dan
dianggap mampu memberikan informasi. Usaha yang dapat dilakukan antara
74

lain dengan pelatihan kader kesehatan dan pembinaan rutin sehingga kader
mampu menjadi penyuluh kesehatan yang handal.

4. Kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan informasi tentang diare


Kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan infromasi kesehatan
adalah melalui tenaga kesehatan, kader dan dari pembicaraan orang yang
lebih tua atau tetangga. Hal ini sesuai dengan pengungkapan Sarwono
(2004) bahwa pengalaman dan interaksi sosial dapat mempengaruhi tingkat
pengetahuan. Menurut Azwar (2007) komunikasi langsung lebih efektif
dibandingkan dengan komunikasi tidak langsung. Tehnik komunikasi akan
lebih efektif apabila disampaikan secara eksplisit kepada subyek dan diulang-
ulang. Kebiasaan masyarakat untuk menggunakan komunikasi langsung
dengan tetangga, orang tua dan tokoh masyarakat ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu alternatif saluran yaitu dengan mempergunakan kader
kesehatan. Kader kesehatan merupakan warga masyarakat yang dapat
dipergunakan sebagai sumber untuk mendaptkan informasi kesehatan. Untuk
itu diperlukan pelatihan kader sehingga kader mempunyai pengetahuan dan
dapat menjadi orang yang dianggap mempunyai pengetahuan dan mampu
memberikan penyuluhan.
Selain dengan komunikasi langsung, sebagian masyarakat juga
mempergunakan buku dan televisi sebagai sarana untuk mendapatkan
informasi kesehatan. Penggunaan televisi sebagai saluran untuk memperoleh
informasi kesehatan oleh masyarakat ini dipengaruhi oleh kelebihan televisi
sebagai media yaitu mampu mengantarkan informasi melalui gambar, musik
dan kata-kata sehingga efek yang dihasilkan dapat berlipat ganda. Meskipun
pada terdapat kekurangan yaitu menuntut intensitas perhatian yang lebih dari
komunikannya.
75

Pemakaian televisi sebagai saluran informasi kesehatan ini dapat


dimanfaatkan sebagai salah satu pilihan saluran promosi pencegahan diare
yang akan dilakukan meskipun sebenarnya para ibu kurang menyukai televisi
sebagai saluran informasi karena intensitas perhatian yang harus diberikan
relatif lebih tinggi. Sehingga untuk penggunaan televisi sebagai saluran
informasi kesehatan harus mempertimbangkan karakteristik ibu yang
mempunyai perhatian dan waktu terbatas untuk memperhatikan pesan yang
disampaikan lewat televisi. Untuk itu pesan yang disampaikan melalui televisi
sebaiknya diberikan dalam waktu singkat dan lebih sederhana.
Selain itu promosi kesehatan juga dapat menggunakan media
audiovisual selain televisi, yaitu pemutaran film dan vidio. Media audiovisual
tersebut mempunyai keunggulan lain dibandingkan dengan siaran televisi
yaitu bisa dihentikan dan dihidupkan lagi untuk memungkinkan diskusi
diantara episodenya, episode dapat diulang untuk analisis yang lebih detil
dan dapat untuk belajar mandiri (Ewles dan Simnet, 1994).
Kebiasaan masyarakat memperoleh informasi tentang diare dari
berbagai sumber ini sesuai dengan Morton (1995) yang menyatakan bahwa
belajar merupakan stimuli yang mempunyai beberapa bentuk. Kebanyakan
stimuli yang didapat seseorang tidak direncanakan dan merupakan bagian
dari pengalaman sehari-hari. Orang dapat belajar dengan membaca surat
kabar, berbicara dengan tetangga, mengamati orang lain dan mengalami
pengalaman setiap hari. Kegiatan belajar tersebut akan menghasilkan
pengetahuan, persepsi, perasaan dan pengalaman baru.
76

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1. Program promosi pencegahan diare yang dilakukan di Puskesmas
Piyungan belum dapat menghilangkan beberapa anggapan yang kurang
tepat terhadap diare maupun terhadap pencegahan dan penanganan
diare. Masyarakat belum dapat melihat hubungan antara kejadian diare
dengan lingkungan dan pemberian air susu ibu. Proses perencanaan
yang dilakukan kurang terpadu sehingga terdapat perencanaan ganda.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan sesuai dengan ketersediaan dana dan
munculnya kasus, bukan merupakan kegiatan yang sudah terprogram
dengan baik.
2. Kebiasaan masyarakat untuk mendapatkan informasi kesehatan dengan
menggunakan komunikasi langsung dengan petugas kesehatan, kader,
tokoh masyarakat serta tetangga. Media yang biasa dipergunakan untuk
memperoleh informasi kesehatan adalah buku, televisi dan
pengumuman.
3. Kebutuhan masyarakat terhadap informasi diare adalah mengenai semua
hal yang berkaitan dengan diare, tetapi dititikberatkan pada penanganan
diare. Cara penyampaian yang dipilih adalah ceramah dengan
menggunakan media leaflet, folder dan booklet. Sumber informasi yang
sesuai untuk memberikan informasi adalah tenaga kesehatan. Waktu
pelaksanaan teratur setiap bulan.
77

B. SARAN

1. Materi untuk promosi kesehatan sebaiknya difokuskan untuk


menghilangkan berbagai anggapan yang kurang tepat mengenai diare.
Materi promosi pencegahan diare sebaiknya mencakup pengaruh
lingkungan dan pemberian air susu ibu terhadap terjadinya diare
dengan proses perencanaan kegiatan yang dilakukan secara terpadu
dengan program-program yang lain.
2. Proses perencanaan program sebaiknya dilakukan dengan koordinasi
antara puskesmas dengan dinas kesehatan sehingga tidak terjadi
perencanaan ganda.
3. Sumber informasi yang dapat memberikan promosi kesehatan adalah
petugas kesehaan, tetapi dengan adanya keterbatasan jumlah
petugas kesehatan maka diperlukan peningkatan peran kader
kesehatan melalui pelatihan dan pembinaan kader agar dapat
promotor kesehatan di lingkungan masing-masing.
4. Media yang sebaiknya dipergunakan adalah keterangan tertulis baik
berupa leaflet, booklet maupun folder yang dapat dipelajari bersama-
sama dan dibaca ulang lagi apabila membutuhkan.
78

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Saifudin, (2007), Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya, Edisi ke-
2, Pustaka Pelajar, yogyakarta.

Beverly, C. J., Mc Afee, R., Costello, J., Chernoff, R., (2005), Needs
assessment of rural communities: a focus on older adults, Journal of
Community Health,30 (3), June, pp. 197-212.

Biro Pusat Statistik , Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan


Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Departemen Kesehatan dan
Macro International Inc. (1998), Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia 1997, Jakarta.

Biro Pusat Statistik , Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan


Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, Departemen Kesehatan dan
Macro international Inc. (2003), Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia 2002-2003, Jakarta.

Chiller, T. M., Mendoza, C. E., Lopez, M. B., Alvarez, M., Hoekstra, R. M.,
Keswick, B. H., Luby, S. P., (2006), Reducing diarrhoea in
Guatemalian childern: randomized controlled trial of flocculant-
disinfectant for drinking-water, Bulletin of the World Health
Organization, 84(1): Januari, pp.28-35.

Creswell, J.W., (2003), Research Design: Qualiative, Quantitative and Mixed


Methods Approaches, 2 ed, SAGE Publications, Inc. California.

Djaafar, T., (2002), Peranan pendidikan kesehatan terhadap ibu dalam


menggunakan sarana air bersih terhadap pencegahan diare di
Kecamatan Marawola, Kabupaten Donggala, tesis, Universitas Gadjah
Mada.

Dignan, M. B. & Carr, P. A.,(1992), Program Planning for Health Education


and Promotion, 2nd ed. , Philadelphia: Lea & Febinger.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, (2007), Data Penderita Penyakit Diare,


In press.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2004), Menkes Resmikan


Proyek Air Bersih dan Sanitasi Untuk Masyarakat Berpenghasilan
79

Rendah, tersedia dalam http;//www. depkes. go. id, diakses 16 maret


2007.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2004), Kebijakan Nasional


Promosi Kesehatan, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia, (2006), Modul Perencanaan dan


Penganggaran Kesehatan Terpadu, Jakarta.

Department of Child Health Medical School, (1987), Diarrhoeal disease:


problem and solution, University of Indonesia, Jakarta

Egger, G., Donovan, R., Spark, R., (1993), Health and the Media: Principles
and Practices for Health Promotion, Mc Graw-Hill Book Company,
Sidney.

ESP, (2007), Diare, Environmental Services Program, tersedia dalam


http;//www. Esp. or. Id, diakses 10 Juni 2007.

Ewles, L., Simnett, I., (1994), Promosi Kesehatan, Edisi Kedua, Yogyakarta:
Gadjah Mada University Pers.

Gordis, L. (2000), Epidemilogy, 2nd ed, Philadelphia: W. B. Saunders


Company

Green, L. W,Kreuter, M. W, Deeds, S. G, Partridge, K. B(1985), Health


Education Planning: A Diagnostic Approach, 1st ed, California:
Mayfield Publishing Company

Green, L. W., & Kreuter, M. W., (1991), Health promotion planning: an


educational and environmental approach, London: Mayfield Publishing
Company.

Hawe, P., Degeling, D., Hall, J., (1998), Evaluating Health Promotion, Sidney:
Maclennan+ Petty.

Healthscout (2007), Health ensiclopedia: diseases and conditions, tersedia


dalam http://www.healthscout.com/ency/68/762/main.html diakses 20
april 2007

Ishak, S. (2002), Perbandingan efektifitas metode partisipasif dengan


informatif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu tentang
80

diare anak balita di Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo, thesis,


Universitas Gadjah Mada.

Luza, Y. B., (2005), Hubungan kualitas bakteriologis peralatan makan balita


dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas
Sukaresmi kabupaten Cianjur propinsi Jawa Barat tahun 2005,
tersedia dalam http;//www.digilib.depkes.go.id, diakses 16 maret 2007.

Machfoedz, I., Surayani, E., Sutrisno, Santosa, S., (2005), Pendidikan


Kesehatan bagian dari Promosi Kesehatan, Yogyakarta: Penerbit
Fitramaya

McGuire, J., Bikson, K., Blue-Howells, J., (2005), How Many Social Workers
Are Needed in Primary Care? A patient-Based Needs Assessment
Example, Health & Social Work, 30 (4), November, pp: 305-315

Miles, M.B. and Huberman, A.M. (1984) M. Qualitative Data Analisysis A


Sourcebook of New Methods. Baverly Hills London New Delhi: Sage
Publication

Moleong, LJ., (2006) Metode Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung:


Remaja Rosdakarya Offset

Morton, B. G. S., Greene, W. H., Gottlieb, N. H., (1995), Introduction to


Health Education and Health Promoion, Illinois: Waveland Press,Inc.

Moss, J. W., Ramakrishnan, M., Storms, D., iegle, A. H., Weiss, W. M.,
Lejnev, I., Muhe, L., (2006), Child health in complex emergencies,
Bulletin of the World Health Organization, 84 (1), Januari.

National digestive disease information clearinghouse (2007), diarrhea,


tersedia dalam http://digestive.niddk.nih.gov/index.htm, diakses 20
april 2007.

Partawihardja, I. S., (1990), Pengaruh suplementasi tempe terhadap


kecepatan tumbuh pada penderita diare anak umur 6-24 bulan,
disertasi, Universitas Diponegoro.

Phillips, M. A, O Feachem, R, Mills, A (1987), Options for Diarrhoea Control:


The cost and cost-effectiveness of selected intervensions for the
prevention of diarrhoea, London: EPC Publication
81

Rohde, J.E., (1979), Prioritas pediatri di negara sedang berkembang,


Yayasan Essentia Medika, Yogyakarta.

Sanyoto, S. E., (2006), Metode perancangan komunikasi visual periklanan,


Dimensi Press, Yogyakarta.

Sarwono, S. (2003), Sosiologi Kesehatan: Beberapa konsep beserta


aplikasinya, edisi 3, Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers.

Sugiyono (2005) Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Suharto, Edi (2007), Analisis Kebijakan Sosial, tersedia dalam http;//www.


Policy.hu-makindo-02.htm. Diakses pada 10 Maret 2007.

Sutopo, H. B (2006), Metodologi Penelitian Kualitatif: Dasar teori dan


terapannya dalam penelitian, Edisi 2, Surakarta: Universitas Sebelas
Maret.

Sutrisno (2003), Efektifitas metode kombinasi ceramah tanya jawab dengan


media video dalam meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang
promosi penatalaksanaan diare di Akademi Kebidanan Mangkuyudan
Yogyakarta, thesis, Universitas Gadjah Mada.

Tang, K., Beaglehole, R., O’Byrne, D., (2005), Policy and partnership for
health promotion-addressing the determinant of halth, Bulletin of World
Health Organization, 83(12), December,p.284.

Tjitra, E., Budiarso, R., Bakri, Z., Naseh, S., (1994), Faktor risiko yang
mempengaruhi kesakitan diare pada balita, Buletin Penelitian
Kesehatan, 22(2), pp. 37-42.

Valadez, J. & Bamberger, M., (1994), Monitoring and evaluating social


program in developing countries, New York: The international bank for
reconstruction and development/the World Bank

Victoria, C.G., Bryce, J., Fontaine, O., Monash, R., (2000), Reducing deaths
from diarrhea trough oral rehidration therapy, Bulletin ot the World
Health Organization, 78:1246-1255.

Zubir, (2005), Faktor-faktor risiko kejadian diare akut pada anak usia 0-35
bulan (batita) di Kabupaten Bantul, Thesis, Universitas Gadjah Mada
82

Lampiran 1

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI


INFORMAN PENELITIAN

Yang bertandatangan di bawah ini:

Nama : ………………………………………..
Alamat : ………………………………………..

Dengan ini saya menyatakan bersedia menjadi informan pada


penelitian yang dilakukan oleh Sdr. Elfi Rahmawati, dengan judul “Analisis
kebutuhan program promosi kesehatan pencegahan diare. Studi kasus di
Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul”, karyasiswa Sekolah Pascasarjana
Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Utama Perilaku dan
Promosi Kesehatan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Tahun Akademik
2005.

Demikian pernyataan ini saya buat agar dapat digunakan seperlunya

......................, ……..............20....

Yang menyatakan,

………………………….
83

Lampiran 2

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM


Stakeholder subdinas Kesehatan Keluarga

A. Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Jabatan :.......................................Kesehatan Keluarga
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : ......................................................................
8. Sudah berapa lama menjabat di bagian ini? :.................................
9. Jabatan sebelumnya : ....................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk stakeholder promosi kesehatan di Kabupaten


Bantul:
1. Bagaimana Program promosi diare terkait dengan pemberian ASI
untuk anak usia kurang dari dua tahun di Kabupaten Bantul?
Probing:
i. Bagaimana perencanaan promosi kesehatan diare selama ini
direncanakan?
ii. Siapa saja yang terlibat dalam penyusunan rencana promosi
kesehatan?
iii. Apa pokok-pokok kegiatan yang direncanakan?
iv. Darimana pendanaan prgram promosi diare?
84

2. Siapa yang melakukan promosi kesehatan di puskesmas-


puskesmas?
Probing:
i. Bagaimana peran bagian ini untuk promosi kesehatan di
Puskesmas?
ii. Siapa yang merencanakan kegiatan promosi di puskesmas?
3. Apa saja program promosi kesehatan untuk diare terkait dengan
pemberian ASI untuk anak usia kurang dari dua tahun yang telah
dilakukan di Kabupaten Bantul?
Probing:
i. Apa materi yang diberikan untuk pencegahan diare?
ii. Siapa sasaran yang dituju?
iii. Apa teknik komunikasi yang digunakan?
iv. Kapan promosi kesehatan dilaksanakan?
v. Adakah pedoman promosi yang dikembangkan secara khusus
di Kabupaten Bantul ?
4. Apa sumberdaya yang tersedia untuk melakukan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
i. Siapa pelaksana promosi kesehatan pencegahan diare?
ii. Apa media yang digunakan untuk promosi kesehatan
pencegahan diare?
iii. Darimana sumber dana diperoleh?
5. Apa hambatan yang dihadapi selama ini dalam melaksanakan
promosi pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
85

Lampiran 3

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM


Stakeholder subdinas Kesehatan Lingkungan

A.Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Jabatan :.......................................Kesehatan Lingkungan
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : ......................................................................
8. Sudah berapa lama menjabat di bagian ini? :.................................
9. Jabatan sebelumnya : ....................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk stakeholder promosi kesehatan di Kabupaten


Bantul:
1. Bagaimana Program promosi diare terkait dengan kesehatan
lingkungan di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Bagaimana perencanaan promosi kesehatan diare selama ini
direncanakan?
b. Siapa saja yang terlibat dalam penyusunan rencana promosi
kesehatan?
c. Apa pokok-pokok kegiatan yang direncanakan?
d. Darimana pendanaan program promosi diare?
86

2. Siapa yang melakukan promosi kesehatan di puskesmas-puskesmas?


Probing:
a. Bagaimana peran bagian ini untuk promosi kesehatan di
puskesmas?
b. Siapa yang merencanakan kegiatan promosi di puskesmas?
3. Apa saja program promosi kesehatan untuk diare terkait dengan
kesehatan lingkungan yang telah dilakukan di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Apa materi yang diberikan untuk pencegahan diare?
b. Siapa sasaran yang dituju?
c. Apa teknik komunikasi yang digunakan?
d. Kapan promosi kesehatan dilaksanakan?
e. Adakah pedoman promosi yang dikembangkan secara khusus di
Kabupaten Bantul ?
4. Apa sumberdaya yang tersedia untuk melakukan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Siapa pelaksana promosi kesehatan pencegahan diare?
b. Apa media yang digunakan untuk promosi kesehatan pencegahan
diare?
c. Darimana sumber dana diperoleh?
5. Apa hambatan yang dihadapi selama ini dalam melaksanakan
promosi pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
87

Lampiran 4

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM


STAKEHOLDER subdinas penyuluhan masyarakat

A.Identitas Informan
1. Nama :.....................................................
2. Umur :.....................................................
3. Jabatan :.......................Promosi Kesehatan
4. Pendidikan terakhir :.....................................................
5. Pekerjaan :.....................................................
6. Jenis Kelamin : .....................................................
7. Alamat : .....................................................
8. Sudah berapa lama menjabat di bagian ini? :............................................
9. Jabatan sebelumnya : ...............................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk stakeholder promosi kesehatan di Kabupaten


Bantul:
1. Bagaimana Program promosi diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Bagaimana perencanaan promosi kesehatan diare selama ini
direncanakan?
b. Siapa saja yang terlibat dalam penyusunan rencana promosi
kesehatan?
c. Apa pokok-pokok kegiatan yang direncanakan?
d. Darimana pendanaan program promosi diare?
88

2. Siapa yang melakukan promosi kesehatan di puskesmas-puskesmas?


Probing:
a. Bagaimana peran bagian promosi kesehatan Kabupaten Bantul untuk
promosi kesehatan di puskesmas?
b. Siapa yang merencanakan kegiatan promosi di puskesmas?
3. Apa saja program promosi kesehatan untuk diare yang telah dilakukan di
Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Apa materi yang diberikan untuk pencegahan diare?
b. Siapa sasaran yang dituju?
c. Apa teknik komunikasi yang digunakan?
d. Kapan promosi kesehatan dilaksanakan?
e. Adakah pedoman promosi yang dikembangkan secara khusus di
Kabupaten Bantul ?
4. Apa sumberdaya yang tersedia untuk melakukan promosi pencegahan
diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Siapa pelaksana promosi kesehatan pencegahan diare?
b. Apa media yang digunakan untuk promosi kesehatan pencegahan
diare?
c. Darimana sumber dana diperoleh?
5. Apa hambatan yang dihadapi selama ini dalam melaksanakan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
89

Lampiran 5

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM


STAKEHOLDER subdinas P2P

A. Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Jabatan :..................................................................P2P
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : ......................................................................
8. Sudah berapa lama menjabat di bagian ini? :.................................
9. Jabatan sebelumnya : ....................................................................

B.Daftar Pertanyaan untuk stakeholder promosi kesehatan di Kabupaten


Bantul:
1. Bagaimana Program promosi diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Bagaimana perencanaan promosi kesehatan diare selama ini
direncanakan?
b. Siapa saja yang terlibat dalam penyusunan rencana promosi
kesehatan?
c. Apa pokok-pokok kegiatan yang direncanakan?
d. Darimana pendanaan prgram promosi diare?
90

2. Siapa yang melakukan promosi kesehatan di puskesmas-puskesmas?


Probing:
a. Bagaimana peran bagian ini untuk promosi kesehatan di
puskesmas?
b. Siapa yang merencanakan kegiatan promosi di puskesmas?
3. Apa saja program promosi kesehatan untuk diare yang telah
dilakukan di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Apa materi yang diberikan untuk pencegahan diare?
b. Siapa sasaran yang dituju?
c. Apa teknik komunikasi yang digunakan?
d. Kapan promosi kesehatan dilaksanakan?
e. Adakah pedoman promosi yang dikembangkan secara khusus
di Kabupaten Bantul ?
4. Apa sumberdaya yang tersedia untuk melakukan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
Probing:
a. Siapa pelaksana promosi kesehatan pencegahan diare?
b. Apa media yang digunakan untuk promosi kesehatan
pencegahan diare?
c. Darimana sumber dana diperoleh?
5. Apa hambatan yang dihadapi selama ini dalam melaksanakan
promosi pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
91

Lampiran 6
PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM
Stakeholder Puskesmas Piyungan

A. Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Jabatan :.....................................Puskesmas Piyungan
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : .....................................................................
8. Sudah berapa lama menjabat di bagian ini? :.................................
9. Jabatan sebelumnya : ....................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk stakeholder promosi kesehatan di Kabupaten


Bantul:
1. Bagaimana Program promosi diare di Puskesmas Piyungan?
Probing:
a. Bagaimana perencanaan promosi kesehatan diare selama ini
direncanakan?
b. Siapa saja yang terlibat dalam penyusunan rencana promosi
kesehatan?
c. Apa pokok-pokok kegiatan yang direncanakan?
d. Darimana pendanaan prgram promosi diare?
92

2. Apa saja program promosi kesehatan untuk diare yang telah dilakukan
di Puskesmas Piyungan?
Probing:
a. Apa materi yang diberikan untuk pencegahan diare?
b. Siapa sasaran yang dituju?
c. Apa teknik komunikasi yang digunakan?
d. Kapan promosi kesehatan dilaksanakan?
e. Adakah pedoman promosi yang dikembangkan secara khusus di
Puskesmas Piyungan?
3. Apa sumberdaya yang tersedia untuk melakukan promosi pencegahan
diare di Puskesmas Piyungan?
Probing:
a. Siapa pelaksana promosi kesehatan pencegahan diare?
b. Apa media yang digunakan untuk promosi kesehatan
pencegahan diare?
c. Darimana sumber dana diperoleh?
4. Apa hambatan yang dihadapi selama ini dalam melaksanakan promosi
pencegahan diare di Kabupaten Bantul?
93

Lampiran 7

PEDOMAN WAWANCARA MENDALAM


MASYARAKAT

A. Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Suku : ......................................................................
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : ......................................................................
8. Apakah sering datang ke Posyandu atau pertemuan-pertemuan di Desa/
wilayah ? :........................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk masyarakat:


1. Bagaimana pemahaman tentang diare?
Probing:
a. Apa pengertian diare menurut ibu?
b. Apa istilah lokal untuk diare?
c. Ada berapa macam jenis diare?
d. Apa gejala-gejala diare?
e. Apa penyebab diare?
f. Apakah diare merupakan penyakit yang berbahaya?
g. Bagaimana cara penanganan diare?
94

2. Apa penyuluhan pencegahan diare yang pernah diterima?


Probing:
a. Kapan pernah menerima penyuluhan kesehatan mengenai
diare?
b. Siapa yang melakukan?
c. Apa kesan mengenai penyuluhan yang pernah diterima?
d. Apa ada alat bantu yang digunakan ?
e. Berapa sering penyuluhan dilakukan?
f. Bagaimana penyuluhan dilakukan? Bersama-sama dengan
materi lain atau terpisah sendiri?
g. Apakah posyandu digunakan sebagai sarana penyuluhan?
3. Bagaimana penyuluhan yang diinginkan?
Probing:
a. Apa materi yang diinginkan untuk promosi kesehatan dengan
tema diare?
b. Bagaimana bentuk penyampaian yang diinginkan?
c. Apa media yang diinginkan untuk penyampaian informasi?
d. Apa bahasa yang digunakan dan bagaimana gaya bahasa yang
diinginkan?
e. Kapan sebaiknya promosi dilakukan?
f. Siapa yang menyampaikan promosi kesehatan?
4. Apa media yang sering dipergunakan untuk mendapatkan
informasi kesehatan?
5. Apakah diare merupakan penyakit yang perlu untuk diketahui
secara mendalam?
95

Lampiran 8

PEDOMAN DISKUSI KELOMPOK TERARAH


MASYARAKAT

A. Identitas Informan
1. Nama : ......................................................................
2. Umur : ......................................................................
3. Suku : ......................................................................
4. Pendidikan terakhir : ......................................................................
5. Pekerjaan : ......................................................................
6. Jenis Kelamin : ......................................................................
7. Alamat : ......................................................................

B. Daftar Pertanyaan untuk masyarakat:


1. Bagaimana pemahaman tentang diare?
Probing:
a. Apa pengertian diare menurut ibu?
b. Apa istilah lokal untu diare?
c. Ada berapa macam jenis diare?
d. Apa gejala-gejala diare?
e. Apa penyebab diare?
f. Apakah diare merupakan penyakit yang berbahaya?
g. Bagaimana cara penanganan diare?
2. Apa penyuluhan pencegahan diare yang pernah diterima?
Probing:
a. Kapan pernah menerima penyuluhan kesehatan mengenai diare?
b. Siapa yang melakukan?
96

c. Apa kesan mengenai penyuluhan yang pernah diterima?


d. Apa ada alat bantu yang digunakan ?
e. Berapa sering penyuluhan dilakukan?
f. Bagaimana penyuluhan dilakukan? Bersama-sama dengan materi lain
atau terpisah sendiri?
g. Apakah posyandu digunakan sebagai sarana penyuluhan?
3. Bagaimana penyuluhan yang diinginkan?
Probing:
a. Apa materi yang diinginkan untuk promosi kesehatan dengan tema
diare?
b. Bagaimana bentuk penyampaian yang diinginkan?
c. Apa media yang diinginkan untuk penyampaian informasi?
d. Apa bahasa yang digunakan dan bagaimana gaya bahasa yang
diinginkan?
e. Kapan sebaiknya promosi dilakukan?
f. Siapa yang menyampaikan promosi kesehatan?
4. Apa media yang sering dipergunakan untuk mendapatkan informasi
kesehatan?
5. Apakah diare merupakan penyakit yang perlu untuk diketahui secara
mendalam?
97

LAMPIRAN 9

PEDOMAN OBSERVASI
KEGIATAN PROMOSI PENCEGAHAN DIARE

Tanggal Observasi : ………………………………………………………..


Lokasi Observasi : ………………………………………………………..
Waktu Wawancara : ………………………………………………………..

1. Apa jenis kegiatan yang dilakukan ?


2. Bagaimana pelaksanaan kegiatan?
3. Siapa pelaksana kegiatan?
4. Bagaimana proses komunikasi yang dilakukan?
5. Siapa yang terlibat dalam kegiatan?
6. Apa media yang digunakan?
98

LAMPIRAN 10

PEDOMAN OBSERVASI
SUMBER AIR MINUM DAN LINGKUNGAN

Tanggal Observasi : ………………………………………………………..


Lokasi Observasi : ………………………………………………………..
Waktu Wawancara : ………………………………………………………..

1. Bagaimana sumber air yang digunakan?


2. Bagaimana keadaan lingkungan di sekitar sumber air?
3. Bagaimana kondisi MCK yang dipergunakan?
4. Bagaimana penampungan air yang digunakan?
99

Lampiran 11

Gambar 1. Kondisi mata air di Dusun Pandean, Desa Srimulyo, Kecamatan


Piyungan
100

Gambar 2. Kondisi bak penampungan air di Dusun Pandean, Desa Srimulyo,


Kecamatan Piyungan.

Gambar 3. Kondisi sumur yang dipergunakan informan di Dusun Wanujoyo


Lor, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan

Gambar 4. Kondisi lingkungan sekitar sumur yang dipergunakan informan di


Dusun Wanujoyo Lor, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan
101

Lampiran12

Gambar 1. Peta Kecamatan Piyungan

Keterangan :
102

Daratan lebih tinggi dari 500 meter dari permukaan laut

Ketinggian daratan 100-500 meter dari permukaan laut

Ketinggian daratan 0- 100 meter dari permukaaan laut