Anda di halaman 1dari 4

LP kanker penis

1. Pengertian

Kanker Penis adalah keganasan pada penis (Anurogo, 2008).


Kanker Penis adalah kanker yang sangat ganas pada alat reproduksi pria, dan kalau
tidak segera ditangani bisa memicu kanker pada organ tubuh yang lain dan dapat
menyebabkan amputasi pada penis (Bin Muhsin, 2011).
Kanker penis adalah kanker yang terdapat pada kulit dan jaringan penis (Asrul Sani,
2010). Kanker penis adalah karsinoma sel squamosa dari epitel glans penis atau
permukaan dalam prepusium (Tri Kurnianto, 2008).

2. Epidemiologi
Angka kejadian keganasan pada penis tidak terlalu besar, di Amerika sekitar 1-2
di antara 100.000 pria. Kanker penis terjadi pada pria yang berusia lebih dari 60 tahun
dan mewakili sekitar 0,5% malignansi pada pria di Amerika Serikat. Meskipun
demikian, di beberapa negara, insidennya berkisar 10%. Kanker penis jarang terjadi
pada pria yang di sirkumsisi. Jenis paling sering adalah jenis squamous cell
carcinoma, kemudian jenis lain adalah melanoma. Salah satu faktor yang dapat
mencegah terjadinya hal ini adalah sirkumsisi (sunat). Pria yang sudah menjalani
sunat terutama pada saat bayi atau anak-anak, kemungkinan mengalami kanker
penis berkurang sedangkan sunat pada usia dewasa tidak signifikan dalam
mengurangi kemungkinan terjadinya kanker. Suatu penelitian melaporkan bahwa 22%
pasien berusia kurang dari 40 tahun, dan hanya 7% yang berusia kurang dari 30 tahun.
Jika kanker (carcinoma in situ atau CIS) terjadi di glans penis, disebut erythroplasia
of Queyrat. Namun jika terjadi di "follicle-bearing skin of the shaft" disebut Bowen
disease. Angka kematian penderita karena kanker penis mencapai 22,4%. Sebanyak
15-50% pasien kanker penis menunda periksa ke dokter selama lebih dari 1 tahun.
Sebagian besar kanker penis merupakan "squamous cell carcinomas".
Tumor penis dapat ditemukan dimana saja di penis, namun terbanyak ditemukan di
glans penis (48%) dan preputium (21%).
Insiden:

- Rendah pada orang yang disirkumsisi.

- Rendah : Israel (0,1 %), Puertorico (5 – 5,7 %).

Tinggi : China (22 %), Birma (15 %), Vietnam selatan (12%), Thailand (7 %).

Tampak pada kulit penis sebagai pertumbuhan massa mirip kutil, tidak nyeri atau
sebagai ulkus.

Lokasi:

- Distal Glans (48 %)

- Preputium (21 %)

- Sulcus Coronarius (6 %)

- Shaft (< 2 %).

(Dito Anurogo, 2008)

2. Etiologi

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti penyebab kanker penis. Diduga
penyebabnya adalah smegma (cairan berbau yang menyerupai keju, yang terdapat di
bawah kulit depan glans penis). Tetapi penyebabnya yang pasti tidak diketahui.
Pria tidak disunat yang tidak menjaga kebersihan daerah di bawah kulit depan glans
penis dan pria yang pernah menderita herpes genitalis memiliki resiko tinggi
menderita kanker penis.
Beberapa hal d
Diketahui menjadi faktor resiko penyakit ini, diantaranya :

a. Usia tua.

Usia tua insiden meningkat (85 tahun : 9,2 %).


b. Pria yang tak menjalani sunat. Sirkumsisi dilakukan untuk membantu mencegah
infeksihuman papillomavirus (HPV).
c. Kebersihan daerah kemaluan yang tak terjaga. Pria yang menghindari personal
hygiene tubuh akan meningkatkan risiko terkena kanker.
d. Infeksi Human Papilloma Virus, biasanya tertular melalui hubungan intim bebas
e. Penggunaan produk tembakau.
Laki-laki yang kebiasaan mengunyah tembakau dan produk-produk terkait berada
pada risiko lebih tinggi terkena kanker.
f. Kondisi fimosis atau tertutupnya saluran pembuangan akibat lubang pada kulit bagian
depan yang menutup sehingga sulit buang air kecil.
g. Ca serviks pada pasangan seksualnya.
Peranan infeksi virus terus dipelajari. Kanker penis (penile cancer) berhubungan
dengan keberadaan infeksi virus herpes dan human papilloma virus (HPV). Human
papilloma viruses (HPV) tipe 16 dan 18 telah ditemukan pada sepertiga pria yang
menderita kanker penis. Apakah virus ini menyebabkan kanker ataukah hanya
berperan sebagai saprophytes, belum ditetapkan.
Penile intraepithelial neoplasia dipertimbangkan sebagai precursor, tetapi hanya
5-15% dari lesi ini yang berkembang menjadi invasive squamous cell carcinoma.
Belum ada bukti nyata bahwa smegma merupakan karsinogen (zat penyebabkanker),
meskipun hal ini telah dipercaya secara luas (Dito Anurogo, 2008).

4. Patofisiologi
Kanker penis biasanya dimulai sebagai lesi kecil pada glans atau kepala penis.
Kanker penis berkisar dari putih-abu-abu, tidak teratur, exophytic, massa endofit datar
dan ulserasi. Sel kanker berangsur-angsur tumbuh secara lateral di sepanjang
permukaan penis dan bisa menutupi seluruh kelenjar serta preputium sebelum
menyerang corpora dan keseluruhan batang penis. Semakin luas lesi, semakin besar
kemungkinan invasi lokal dan metastasis nodal. Kanker penis mungkin papilari dan
exophytic atau datar serta ulseratif. Jika kanker penis ini tidak diobati secara dini
makan dapat terjadi autoamputasi.
Lesi papilaris dan colitis memiliki tingkat pertumbuhan yang serupa, tetapi lesi
ulseratif cenderung bermetastasis ke kelenjar getah bening dan hal ini berpengaruh
terhadap tingkat kelangsungan hidup dimana lebih rendah dari 5 tahun. Ukuran
kanker yang lebih besar dari 5 cm dan melibatkan lebih dari 75% dari poros tersebut
berasosiasi dengan prevalensi tinggi metastasis nodal dan tingkat kelangsungan hidup
lebih rendah, tetapi hubungan yang konsisten antara ukuran kanker, kehadiran
metastasis inguinal node, dan kelangsungan hidup belum diidentifikasi.
Fasia Buck, yang mengelilingi corpora, bertindak sebagai penghalang sementara.
Jika kanker telah menembus fasia Buck dan albuginea tunika, kanker telah dapat
menyebar ke pembuluh darah dan bahkan secara sistemik. Metastasis ke kelenjar
getah bening femoral dan inguinal adalah jalur awal untuk penyebaran kanker penis.
Oleh karena, crossover kelenjar getah bening maka sel kanker dapat menyebar secara
bilateral ke kedua kelenjar getah bening inguinalis.
Metastase pada simpul-simpul daerah inguinal menyebabkan terjadinya nekrosis
kulit, infeksi kronis, dan, akhirnya kematian akibat dari sepsis atau perdarahan
sekunder terhadap erosi ke dalam pembuluh femoral. Metastase jauh dari sel kanker
dapat menyerang hati, tulang, paru-paru, atau otak. Karsinoma penis terjadi secara
progresif dan terbukti berakibat fatal pada pasien yang tidak diobati dalam waktu 2
tahun (Brosman, 2011).