Anda di halaman 1dari 4

TELAAH PUSTAKA

Penyakit pada tumbuhan didefinisakan sebagai serangkaian respon baik yang terlihat maupun
tak terlihat dari sel dan jaringan tumbuhan terhadap organisme patogen atau faktor lingkungan
yang menyebabkan perubahan bentuk, fungsi, atau integritas tanaman dan memicu terjadinya
ketidakstabilan parsial atau kematian bagian tanaman atau keseluruhan (Agrios, 2005).
Agrios G.N. 2005. Plant Pathology 5th Edition. New York: Elsevier Academic Press

Menurut Brown dan Ogle (1997), penyakit tumbuhan dapat dibagi menjadi 2 tipe yaitu biotik
(parasitik) dan abiotik (non-parasitik). Penyakit parasitik umumnya terjadi disebabkan oleh
arthropoda (sebagian besar insekta), fungi, bakteri, nematode, fitoplasma, spiroplasma, virus
dan viroid. Selain itu, parasite tumbuhan yang cukup penting diantaranya tanaman berbunga,
alga dan protozoa. Penyakit non-parasitik atau disebut penyakit fisiologi/abiotik disebabkan
oleh lingkungan yang merugikan seperti ketidakseimbangan nutrisi (toksisitas dan defisiensi),
ganguan genetik, kondisi fisik yang tidak menguntungkan (dingin, panas, atau gangguan
angin), kurangnya oksigen atau ganguan polusi industry dan senyawa kimia lain
Brown, J.F., dan Ogle, H.J., 1997. Plant pathogens and plant diseases. Australia: Rockvale
Publications.

Gejala adalah perubahan yang ditunjukkan oleh tumbuhan itu sendiri sebagai akibat adanya serangan
suatu penyebab penyakit. Berdasarkan peruubahan yang terjadi pada sel tumbuhan,Gejala dapat
setempat (lesional) atau meluas (habital, sistemik). Gejala dapat dibedakan yaitu gejala
primer dan sekunder.Gejala primer terjadi pada bagian yang terserang oleh penyebab
penyakit. Gejala sekunder adalah gejala yang terjadi di tempat lain dari tanaman sebagai
akibat dari kerusakan pada bagian yang menunjukkan gejala primer. Berdasarkan perubahan-
perubahan yang terjadi di dalam sel, gejala dapat dibagi menjadi tiga tipe pokok yaitu: 1) Tipe
nekrotis : Gejalanya disebut nekrosis, meliputi gejala-gejala yang terjadinya karena adanya
kerusakan pada sel atau matinya sel. 2) Tipe hipoplastis : Gejalanya disebut hipoplasia,
meliputi gejala-gejala yang terjadinya karena terhambatnya atau terhentinya pertumbuhan
sel (underdevelopment). 3) Tipe hiperplastis : Gejalanya disebut hiperplasia, meliputi gejala-
gejala yang terjadinya karena pertumbuhan sel yang melebihi biasa (overdevelopment)
(Sinaga, 2006).

Sinaga, S.M., 2006. Dasar-Dasar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Penebar Swadaya,Jakarta

Nekrotik merupakan gejala yang terjadi akibat adanya kerusakan pada sel atau bagian
sel bahkan kematian sel. Nekrotik terbagi atas: a). nekrosis, merupakan gejala nekrotik berupa
bercak warna dan bentuk tergantung jenis penyakit, nekrosis terbagi atas tiga bagian yaitu
blight, spot dan target board spot; b). klorosis, merupakan gejala berupa menguningnya bagian-
bagian tanaman dari warna hijau karena rusaknya klorofil; c). hidrosis, merupakan gejala pada
bagian tanaman tampak kebasah-basahan; d). layu, merupakan gejala yang timbul akibat
hilangnya turgor pada daun atau tunas karena gangguan pada jaringan pengankutan atau akar,
sehingga proses penguapan terjadi lebih besar dari pada pengangkutan air; e). gosong atau
terbakar, merupakan gejala nekrotis yang disebabkan oleh mati atau mengeringnya bagian
tumbuhan, biasanya pada daun yang disebabkan oleh faktor abiotik; f). mati ujung, merupakan
matinya ranting atau cabang dari ujung meluas sampai kepangkal; g). busuk, merupakan
gejalan nekrosis namun umumnya terjadi pada jaringan yang tebal seperti akar, daun yang
tebal, buah dan umbi; h). rebah semai, merupakan gejala pada tanaman muda dengan busuknya
pangkal batang yang mengakibatkan tanaman rebah terbagi atas pre-emergence dumping off
dan post-emergence dumping off; i). perdarahan atau eksudasi, merupakan gejala terjadinya
pengeluaran dari suatu tumbuhan karena penyakit dengan dikenal gummosis, lateksosis, dan
resinosis; j). perforasi, merupakan gejala terbentuknya lubang-lubang karena runtuhnya sel
yang telah mati pada bercak nekrosis.
Hipoplastik merupakan gejala yang disebabkan karena terhambat atau terhentinya
pertumbuhan sel. Hipoplastik terbagi atas; a). kerdil, merupakan gejala yang ditandai dengan
ukuran tanaman menjadi lebih kecil dari pada pertumbuhan biasanya karena terjadi hambatan
pertumbuhan; b). klorosis, merupakan gejala terhambatnya pembentukan klorofil dari warna
hijau menjadi kuning atau pucat; c). etiolasi, merupakan gejala dengan ditandai tanaman
kurang mendapatkan cahaya, sehingga menjadi pucat, pertumbuhannya memanjang dan
berdaun sempit; d). roset, merupakan gejala yang mendesak dengan penghambatan
pertumbuhan ruas batang tetapi daun tidak terhambat.
Hiperplastik merupakan gejala yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel yang
lebih dari biasanya (overdevelopment). Hiperplastik terbagi atas: a). Menggulung atau
mengeriting, merupakan gejala yang ditandai dengan pertumbuhan tidak seimbang dari bagian
daun; b). sesidium, merupakan pembengkakan pada bagian setempat pada jaringan tumbuhan
sehingga membentuk bintil; c). kudis, merupakan kenampakan sebagai bercak kasar, terbatas
agak menonjol, terkadang pecah-pecah; d). erinos, merupakan gejala dengan pembentukan
banyak trikomata (Fahmi, 2012).

Gejala pada tumbuhan terbagi atas 2 macam yaitu gejala berdasarkan sifat dan bentuknya. a).
gejala berdasarkan sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu gejala lokal (gejala yang dicirikan oleh
perubahan struktur yang jelas dan terbatas biasanya dalam bentuk bercak atau kanker,
gejalanya terbatas pada bagian-bagian tertentu dari tanaman) dan gejala sistemik (Kondisi
serangan penyakit yang lebih luas, bisanya tidak jelas batas batasnya. Contohnya adalah
serangan oleh virus mosaic, belang maupun layu. gejalanya terdapat di seluruh tubuh tanaman);
b) gejala berdasarkan bentuknya dibagi menjadi dua, yaitu gejala morfologi (gejala luar
yang dapat dilihat dan dapat diketahui melalui bau, rasa dan raba serta ditunjukkan oleh seluruh
tumbuhan atau tiap organ dari dari tumbuhan) dan gejala histologi (gejala yang hanya dapat
diketahui lewat pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang sakit jaringan yang sakit. Pada
gejala histology terdapa tiga tipe gejala yaitu: Nekrotik, hipoplastik dan Hiperplastik.
Nekrotik merupakan gejala yang terjadi akibat adanya kerusakan pada sel atau bagian
sel bahkan kematian sel. Nekrotik terbagi atas: a). nekrosis, merupakan gejala nekrotik berupa
bercak warna dan bentuk tergantung jenis penyakit, nekrosis terbagi atas tiga bagian yaitu
blight, spot dan target board spot; b). klorosis, merupakan gejala berupa menguningnya bagian-
bagian tanaman dari warna hijau karena rusaknya klorofil; c). hidrosis, merupakan gejala pada
bagian tanaman tampak kebasah-basahan; d). layu, merupakan gejala yang timbul akibat
hilangnya turgor pada daun atau tunas karena gangguan pada jaringan pengankutan atau akar,
sehingga proses penguapan terjadi lebih besar dari pada pengangkutan air; e). gosong atau
terbakar, merupakan gejala nekrotis yang disebabkan oleh mati atau mengeringnya bagian
tumbuhan, biasanya pada daun yang disebabkan oleh faktor abiotik; f). mati ujung, merupakan
matinya ranting atau cabang dari ujung meluas sampai kepangkal; g). busuk, merupakan
gejalan nekrosis namun umumnya terjadi pada jaringan yang tebal seperti akar, daun yang
tebal, buah dan umbi; h). rebah semai, merupakan gejala pada tanaman muda dengan busuknya
pangkal batang yang mengakibatkan tanaman rebah terbagi atas pre-emergence dumping off
dan post-emergence dumping off; i). perdarahan atau eksudasi, merupakan gejala terjadinya
pengeluaran dari suatu tumbuhan karena penyakit dengan dikenal gummosis, lateksosis, dan
resinosis; j). perforasi, merupakan gejala terbentuknya lubang-lubang karena runtuhnya sel
yang telah mati pada bercak nekrosis.
Hipoplastik merupakan gejala yang disebabkan karena terhambat atau terhentinya
pertumbuhan sel. Hipoplastik terbagi atas; a). kerdil, merupakan gejala yang ditandai dengan
ukuran tanaman menjadi lebih kecil dari pada pertumbuhan biasanya karena terjadi hambatan
pertumbuhan; b). klorosis, merupakan gejala terhambatnya pembentukan klorofil dari warna
hijau menjadi kuning atau pucat; c). etiolasi, merupakan gejala dengan ditandai tanaman
kurang mendapatkan cahaya, sehingga menjadi pucat, pertumbuhannya memanjang dan
berdaun sempit; d). roset, merupakan gejala yang mendesak dengan penghambatan
pertumbuhan ruas batang tetapi daun tidak terhambat.
Hiperplastik merupakan gejala yang disebabkan karena adanya pertumbuhan sel yang
lebih dari biasanya (overdevelopment). Hiperplastik terbagi atas: a). Menggulung atau
mengeriting, merupakan gejala yang ditandai dengan pertumbuhan tidak seimbang dari bagian
daun; b). sesidium, merupakan pembengkakan pada bagian setempat pada jaringan tumbuhan
sehingga membentuk bintil; c). kudis, merupakan kenampakan sebagai bercak kasar, terbatas
agak menonjol, terkadang pecah-pecah; d). erinos, merupakan gejala dengan pembentukan
banyak trikomata (Fahmi, 2012).
DAFTAR PUSTAKA

Fahmi. 2012. Gejala dan Tanda Penyakit Pada Tanaman. (http://kickfahmi.blogspot.com). Diakses
pada tanggal 25 Maret 2013 pukul 14.19 WIB