Anda di halaman 1dari 3

Pengertian Yoga

Yoga telah dikenal sebagai sistem filosofi kehidupan masyarakat India kuno (Sindhu,
2007, Stiles, 2002). Saat ini, yoga telah berkembang menjadi salah satu sistem kesehatan ya
ng komprehensifdan menyeluruh. Yoga adalah salah satu dari bentuk yang paling populer
dalam latihan kebugaran, sebab yoga lebih menyenangkan untuk dilakukan berkelompok dan
dapat dilakukan sendiri tanpa orang lain. Latihan yoga tidak hanya membantu anda merasa lebih
baik, tetapi juga membantu anda tidur lebih nyaman, dan dapat menghilangkan stress (Kholil Lur
Rochman 2010: 105) Latihan dilakukan melalui sikap tubuh (asana), pernafasan (pranayama),
dan tehnik relaksasi sehingga dapat mengembangkan kecerdasan intuisi alamiah dan membantu
pikiran agar dapat terpusat, dan pada akhirnya dapat membuat perubahan berupa ketenangan
pikiran dan terpusatnya perhatian (Worby, 2007).

Yoga sering disamakan dengan senam. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya salah, sebab
yoga memang induk dari senam serta berbagai jenis beladiri, tari, musik, nyanyian. Yoga berasal
dari bahasa sansekerta “yuj” yang artinya menghubungkan atau menyatukan (Weller 2001).
Secara horizontal berarti menyatukan badan, pikiran, hati, dan jiwa dalam keselarasan yang
alami. Sedangkan dalam arti vertical berarti menyatukan kesadaran diri kita dengan Tuhan Yang
Maha Kuasa. Setiap orang dari berbagai keyakinan dapat mempelajari teknik-teknik yoga.

Yoga bukan hanya di dominasi orang dewasa. Anak remaja dan anak-anak pun dapat
melakukannya. Yoga bahkan dapat melatih anak untuk mengenal dirinya, sekaligus dapat
mengendalikan luapan emosi (Claire 2006). Yoga sangat baik untuk meningkatkan konsentrasi
dan membawa kesadaran diri, menajamkan pikiran, dan menjauhkan seseorang dari emosi dan
pikiran negatif. Yoga berperan penting dalam meningkatkan asupan oksigen ke dalam otak,
menghilangkan kepenatan, meningkatkan energi, dan vitalis, meningkatkan kelenturan dan
stamina tubuh, menstimulasi kelenjar hormonal dalam tubuh dan membuatnya stabil. Gerakan-
gerakan yoga juga dapat memperlancar sirkulasi darah. Selain hal itu yoga juga meningkatkan
kekebalan tubuh (Shindu 2006).

Jenis-jenis terapi yoga

Di bumi ini ada ratusan bahkan ribuan macam Yoga. Secara garis besar dapat dibedakan dalam
empat macam yaitu :
1. Jnana Yoga :
merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pengetahuan. Praktisi yoga
ini beranggapan bahwa kebodohan (avidya) merupakan penyebab utama terjadinya
kesalahan dan kelalaian. Terhapusnya kebodohan, maka terhapus pula kemiskinan,
ketidakadilan, kesewenangan, serta kerusakan alam semesta. Dengan demikian semakin
damai dunia. Semua itu dikarenakan manusia tahu akan hakekat dirinya. Manusia yang
tahu hakekat dirinya, maka dia akan tahu hakekat Tuhannya.
2. Karma Yoga :
merupakan yoga yang dilakukan penekanan pada tindakan. Para praktisinya
selalu memperhatikan segala sesuatu yang diperbuatnya, sehingga tidak menimbulkan
karma yang membawa pada penderitaan. Para praktisinya tidak pernah mengeluh
menghadapi masalah kehidupan. Semua masalah dipandang merupakan akibat dari karma
yang telah dibuatnya, maka harus diterima dan dihadapi sebagai pendidikan dan kasih
sayang Ilahi.
3. Bhakti Yoga :
merupakan yoga yang dilakukan dengan penekanan pada bakti kepada Tuhan,
yaitu melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. Semuanya dilakukan dengan
cinta tanpa memiliki pamrih apa pun (termasuk ingin masuk sorga). Kecintaan praktisi
Bhakti bermakna luas. Bukan hanya pada Tuhan, namun juga pada semua ciptaanNYA.
Mencintai ciptaan merupakan manifestasi dari mencintai Sang Pencipta itu sendiri. Cinta
seorang Bhakta tidak membeda-bedakan ras, suku, bangsa, dan agama. Tidak membenci
yang miskin maupun yang kaya, yang indah maupun yang buruk, yang pintar maupun
yang bodoh, yang beriman maupun yang kafir.
4. Raja Yoga :
merupakan yoga yang dilakukan dengan menekankan pada pengendalian pikiran.
Dengan mengendalikan pikiran, maka terkendali pula semua indra-indra manusia. Hasil dari
semua itu disebut Pencerahan, Manunggaling Kawula Gusti (Jw.). Makrifatullah (Is.).
Apapun namanya, bukan suatu masalah yang patut diperdebatkan. Perkembangan kemudian,
hanya Raja.

Tingkatan dalam yoga

Menurut patanjali, yoga terdiri dari 8 tingkatan. Setiap yingkatan memiliki identitas
tersendiri, namun memperkuat satu sama lain dan tidak dapat dipisahkan. Tingkatan ini tidaka
dapat dilihat dengan pemahaman bahwa yang satu lebih dari lainnya, namun harus dengan
pemahan bahwa satu tinggkatan takkan pernah dicapai tanpa memahami tingkatan sebelumnya.
Secara otomatis berarti “melepaskan atau mengacuhkan penguasaan terhadap satu tingkatan
dapat merusak konsep hakiki yoga secara keseluruhan”.

1. Yama (disiplin sosial kemasyarakatan) Memiliki 5 prinsip universal: kejujuran, anti-


kekerasan, tidak mencuri, tidak mengumbar nafsu birahi, dan penguasaan hasrat.
sebuah prinsip yang harus dipatuhi dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari.

2. Niyama (disiplin individu) Juga memiliki 5 persyaratan: bersih diri, bersyukur, tidak
berlebihan, mawas diri, dan menyembah sang maha pencipta. Perilaku ini harus
tercermin dalam kehidupan pribadi setiap saat.

3. Asana (postur tubuh) Menurut patanjali, “postur yang baik membawa stabilitas dalam
tubuh dan keagungan pikiran”. Melatih asan/postur mampu meningkatkan
fleksibilitas, kekuatan, dan kesehatan. Dengan asana, seluruh bagian penting tubuh,
seperti jantung, paru-paru, ginjal, hati, empedu, pankreas, dan bagian lainnya menjadi
terstimulasi untuk bekerja lebih baik. Namun diatas segalanya, latihan asana
bertujuan mencapai keseimbangan antara tubuh dan pikiran.
4. Pranayama (pengaturan napas) Secara spesifik, patanjali menekankan fase prayanama
hanya bisa dilakukan setelah dasar-dasar asana dikuasai dengan baik. Melatih
pranayama diyakini dapat melepaskan jiwa dari tekanan, mengendurkan sistem saraf,
dan menenangkan pikiran.

5. Pratyahara (pengaturan indera) Pembatasan diri ini adalah penghubung antara 4


tingkatan awal dangan 3 tingkatan selanjutnya. Setelah mematuhi semua persyaratan
awal, seseorang mampu melakukan kontrol terhadap pikiran dan segenap panca
indera sehingga mampu berkontemplasi dengan baik, lalu membuang semua elemen
negatif demi peningkatan kualitas spiritualnya.

6. Dharana (konsentrasi) Kemampuan untuk mengontrol naluri dasar pikiran untuk


selalu mengembara dan mengambang ke segala aspek. Di saat kita sedang
menempatkan diri dalam keadaan tenang, kadang kita mendapati pikiran dipenuhi
berbagai hal yang tumpang tindi. Dalam fase dharana, seseorang dituntut memiliki
kemampuan menguasai satu hal dan mendalaminya tanpa harus mengalami gangguan
selama mungkinsalah satu teknik termudah menguasai fase ini adalah penggunaan
mantra atau peembacaan serentetan literature dalam hati ataupun secara vokal.

7. Dhayana (meditasi) Saat pikiran seseorang telah mampu fokus pada satu titik dalam
waktu tertentu tanpa terganggu, ia telah mencapai fase dhayana. Di sini, pikiran,
tubuh, dan napas telah bergabung dan telah menjadi satu-kesatuan.

8. Samadhi (realisasi diri) Inilah titik kulminasi pencapaian yoga. Sebuah pencapaian
spiritual yang hakiki. Di sini, tercapai esensi yogasesungguhnya- mungkin esensi
seluruh tujuan dan aktivitas apapun di dunia ini. Pada fase ini, tubuh dan indera dalam
kondisi relaks, pikiran selalu dalam kondisi awas, dan semua aspek mampu berjalan
harmonis. Secara faktual, 8 tingkatan ini tidak dapat dilihat sebagai elemen yang
berdiri sendiri karena setiap tingkatan harus dilalui, disadari, dan dilatih keberadaanya
secara konsisten agar menjadi satu-kesatuan utuh. Merasa telah menguasai satu
tingkatan kemudian meningalkanya menuju ke tingkatan lain menimbulkan
ketidakseimbangan dan kegagalan penguasaan yoga secara hakiki.