Anda di halaman 1dari 14

BIODIVERSITAS ISSN: 1412-033X

Volume 5, Nomor 2 Juli 2004


Halaman: 105-118 DOI: 10.13057/biodiv/d050212

R E V I E W:

Ekosistem Mangrove di Jawa: 2. Restorasi


Mangrove ecosystem in Java: 2. Restoration

AHMAD DWI SETYAWAN1,2, KUSUMO WINARNO1,2, PURIN CANDRA PURNAMA1


1
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
2
Program Studi Ilmu Lingkungan, Program Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

Diterima 15 Desember 2002. Disetujui 15 Juli 2003.

ABSTRACT

The restoration of mangroves has received a lot of attentions world wide for several reasons. Mangrove ecosystem is very
important in term of socio-economic and ecology functions. Because of its functions, wide range of people paid attention
whenever mangrove restoration taken place. Mangrove restoration potentially increases mangrove resource value, protect
the coastal area from destruction, conserve biodiversity, fish production and both of directly and indirectly support the life of
surrounding people. This paper outlines the activities of mangrove restoration on Java island. The extensive research has
been carried out on the ecology, structure and functioning of the mangrove ecosystem. However, the findings have not
been interpreted in a management framework, thus mangrove forests around the world continue to be over-exploited,
converted to aquaculture ponds, and polluted. We strongly argue that links between research and sustainable management
of mangrove ecosystem should be established.
© 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Key words: mangrove, restoration, management, Java.

PENDAHULUAN untuk mengembalikan sesuatu ke kondisi semula;


kreasi adalah tindakan untuk membuat, menemukan
Ekosistem mangrove di Jawa mengalami penurun- atau menghasilkan sesuatu; sedangkan pengkayaan
an sangat drastis, akibat tingginya tekanan penduduk adalah menambahkan atau menaikkan sesuatu
yang berimplikasi pada besarnya kegiatan (Mish, 1989). Selanjutnya muncul istilah rehabilitasi
pertambakan, penebangan hutan, reklamasi dan sebagai payung yang mencakup istilah restorasi dan
sedimentasi, serta pencemaran lingkungan. kreasi (Streever, 1999). Menurut Whitten et al.,
Ekosistem mangrove memiliki fungsi sosial-ekonomi, (2000) restorasi adalah suatu taktik untuk
sosial-budaya, dan peran ekologi yang sangat mengembalikan lahan yang terdegradasi ke kondisi
penting, sehingga banyak pihak (stakeholders) yang asli atau mendekati kondisi asli, sedangkan
memberi perhatian lebih untuk mengembalikan fungsi rehabilitasi adalah suatu strategi manajemen untuk
ekosistem ini melalui restorasi. Restorasi mangrove mencegah degaradasi suatu lanskap dan
dapat menaikkan nilai sumber daya ini, memberi menjadikannya bermanfaat. Di samping itu terdapat
mata pencaharian penduduk, mencegah kerusakan pula istilah reforestasi dan afforestasi. Menurut Lewis
pantai, menjaga biodiversitas, menjaga hasil dan Streever (2000), reforestasi adalah penanaman
tangkapan perikanan, serta mempengaruhi mangrove pada bekas area hutan mangrove, sedang
kehidupan masyarakat di sekitarnya baik secara afforestasi adalah penanaman mangrove pada area
langsung atau tidak langsung (Setyawan dkk., 2003). yang semula bukan hutan mangrove.
Terdapat tiga kata kunci yang penting dalam Tulisan ini bermaksud menjelaskan aktivitas
manajemen ekosistem mangrove, yaitu restorasi, restorasi ekosistem mangrove khususnya di Jawa,
kreasi (pembentukan), dan pengkayaan spesies sehingga fungsinya dapat kembali seperti semula.
(Lewis, 1990; Mish, 1989). Restorasi adalah tindakan Penelitian yang luas telah dilakukan untuk memahami
ekologi, struktur dan fungsi ekosistem mangrove.
Namun, temuan-temuan tersebut belum diterapkan
♥ Alamat korespondensi: dalam kerangka kerja manajemen, terbukti hutan
Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126 mangrove di seluruh dunia terus mengalami
Tel. & Fax.: +62-271-663375. penurunan terutama akibat eksploitasi berlebih,
e-mail: biology@mipa.uns.ac.id
106 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

konversi ke tambak ikan dan udang, serta 19 di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Vietnam
pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu (Teas, 1980; Teas et al., 1975). Kegiatan manajemen
kiranya mengaitkan penelitian mangrove dengan meliputi penanaman, penjarangan, penyiangan
manajemen lestari ekosistem tersebut. spesies yang tidak dikehendaki, dan persemaian
propagul, khususnya Rhizophora. Informasi silvikultur
mangrove untuk restorasi relatif masih sedikit. Pada
SEJARAH RESTORASI MANGROVE saat ini telah diketahui spesies-spesies pohon yang
dapat digunakan untuk restorasi, namun kegiatan
Penanaman dan pengelolaan mangrove memiliki penciptaan ekosistem yang bernilai bagi perikanan
sejarah panjang di Asia Tenggara (Watson, 1928), dan konservasi masih jarang (Kaly dan Jones, 1996).
meskipun catatan tertua mengenai manajemen Salah satu upaya mengintegrasikan perikanan dan
mangrove sebagai penghasil kayu terdapat di konservasi mangrove dilakukan oleh Perhutani dan
Sundarbans, suatu hutan mangrove seluas 6.000 km2 masyarakat di pantai utara Jawa dengan sistem
di perbatasan India dan Banglades, yang dikelola “empang parit” (“tambak tumpangsari”). Sistem ini
sejak 1769, dimana rencana kerja lengkap pengelola- merupakan pengetahuan asli masyarakat Indonesia,
annya telah disempurnakan pada tahun 1893-1894 dimana pada hutan mangrove dibuat lajur-lajur
(Chowdhury dan Ahmed, 1994). Hutan mangrove tambak untuk memelihara ikan, atau sebaliknya di
seluas 40.000 ha di Matang, Malaysia yang dikelola atas tambak dibuat lajur-lajur tumbuhan mangrove,
sejak 1902 untuk menghasilkan kayu bakar (Watson, misalnya di Brebes, Pemalang, Cirebon, Indramayu,
1928), merupakan contoh tertua dan terbaik mana- Purwakarta, Karawang, dan Tanggerang (Anonim,
jemen hutan mangrove (Khoon dan Eong, 1995). 1991, 1997; Fitzgerald dan Savitri, 2002; Fitzgerald,
Pada saat ini mangrove dikelola secara terinte- 1997, 2002; Tessar dan Insan, 1993; Hartina, 1996;
grasi untuk budidaya ikan dan udang (Primavera, Widiarti dan Effendi, 1989).
1995), ekoturisme (Bacon, 1987), mencegah erosi Di Jawa, sejarah restorasi ekosistem mangrove
(Teas, 1977), eksperimen biologi (Rabinowitz, 1978), tidak banyak dicatat, namun berbagai individu dan
melindungi dari badai (Hamilton dan Snedaker, lembaga, baik pemerintah maupun swasta, diyakini
1984), dan merestorasi kerusakan ekosistem akibat terlibat dalam kegiatan ini meskipun jumlahnya relatif
tumpahan minyak (Duke, 1996). Restorasi ekosistem terbatas. Salah satu contoh restorasi hutan mangrove
mangrove yang rusak antara lain dibahas oleh yang dilakukan secara kontinyu dan cukup berhasil
Watson (1928), Noakes (1951), Chapman (1976), adalah penanaman Rhizophora spp. di sepanjang
Lewis (1982), Hamilton dan Snedaker (1984), Lewis pantai utara Rembang, khususnya di kecamatan kota.
(1990a, 1990b), Crewz dan Lewis (1991), Cintron- Pada tahun 1980-an, pemerintah setempat bersama
Molero (1992), Saenger dan Siddiqi (1993), Siddiqi et para pihak melakukan restorasi ekosistem mangrove
al. (1993), dan Field (1996). pada area dengan panjang sekitar 3000 m, dan lebar
Penanaman kembali hutan-hutan daratan yang antara 100-300 m. Pada saat ini tegakan yang
rusak (reboisasi) telah dilakukan selama ratusan terbentuk sudah dapat menjalankan fungsi utamanya
tahun, namun reboisasi ekosistem mangrove baru sebagai penahan gelombang laut, angin dan
akhir-akhir ini mendapatkan perhatian serius, seperti mencegah pantai dari abrasi. Untuk menjaga
di Indonesia, Malaysia, Banglades, dan Cina. kelestarian tumbuhan ini, masyarakat setempat
Banglades mempelopori penghutanan mangrove diikutsertakan dalam kelompok-kelompok tani yang
dengan sukses sejak 1966 di atas tanah seluas memiliki hak untuk memanen ekosistem yang ada,
113.000 ha (Choudhury, 2000). Malaysia sejak 1980 dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Salah
menanam berbagai tumbuhan mangrove untuk satu kegiatan terkait konservasi yang cukup berhasil
membatu regenerasi alami dan memantapkan adalah pembibitan Rhizophora spp. untuk memenuhi
penutupan hutan (Hassan, 1981). Penghutanan kebutuhan bibit proyek-proyek rehabilitasi hutan
mangrove di Cina dimulai pada akhir 1950-an dan bakau di Jawa. Kawasan ini merupakan salah satu
diaktifkan lagi pada tahun 1980 (Baowen et al., 1997). pusat pembibitan Rhizophora spp. terbesar di Jawa.
Di Indonesia, reboisasi mangrove diawali di Sinjai, Pantai utara Rembang merupakan tidal flat bagi
Sulawesi pada tahun 1985 diprakarsai sekelompok sungai-sungai di sekitarnya, seperti Sungai Delok,
nelayan. Kesuksesan upaya ini mendorong reboisasi Sungai Anyar, dan Sungai Lasem, sehingga
mangrove di seluruh Indonesia (Choudhury, 1996). Di memungkikan terus berlanjutnya perluasan ekosistem
atas kertas, rehabilitasi mangrove mendapatkan mangrove ke arah laut. Suatu tindakan yang hingga
perhatian cukup besar dalam Strategi Nasional saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah
Pengelolaan Mangrove di Indonesia (Anonim, 2003), setempat. Pada akhirnya lokasi ini bernilai konservasi
namun implementasi di lapangan tampaknya masih karena menarik berbagai hidupan liar yang megah,
jauh dari harapan. Kegagalan beberapa kegiatan khususnya spesies-spesies burung air. Di samping itu
restorasi ditengarai karena pendekatan “proyek” yang terdapat pula nilai edukasi dan turisme, dimana
menyebabkan lemahnya manajemen pelaksanaan. sering disinggahi pelancong di jalur pantura dan
Silvikultur mangrove (penanaman, pemeliharaan, menjadi lokasi praktikum dan penelitian mahasiswa
dan pemanenan) telah dilaksanakan sejak abad ke- dari Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 107

Diponegoro Semarang, dan lain-lain (ADS, 2002- TUJUAN RESTORASI


2003, pengamatan pribadi). Upaya restorasi mangrove
dengan pola serupa, yakni memberi peran aktif Tujuan utama restorasi mangrove adalah menge-
kepada masyarakat juga dilakukan di Probolinggo, lola struktur, fungsi, dan proses-proses ekologi pada
Jawa Timur (Sudarmadji, 2003, komunikasi pribadi). ekosistem tersebut, serta mencegahnya dari
Tampaknya pelibatan aktif masyarakat merupakan kepunahan, fragmentasi atau degradasi lebih lanjut
salah satu unsur utama keberhasilan pengelolaan (Anonim, 2001). Restorasi diperlukan apabila
kawasan pesisisir (Suara Pembaruan, 03/03/2002). ekosistem telah terdegradasi dan berubah jauh, tidak
Salah satu contoh upaya restorasi mangrove yang dapat memperbaharui diri secara alami untuk kembali
kurang berhasil terjadi di muara Sungai Bogowonto, ke kondisi semula, serta tidak dapat melaksanakan
satu-satunya ekosistem mangrove di Propinsi Daerah fungsi sebagaimana mestinya, sehingga memerlukan
Istimewa Yogyakarta dan berbatasan dengan Pro- pengelolaan dan perlindungan (Stevenson et al.,
pinsi Jawa Tengah. Upaya ini telah dilakukan sejak 1999; Morrison, 1990). Pada kondisi ini, homeostasis
tahun 1990-an, namun hasilnya tidak memuaskan. ekosistem secara permanen terhenti, sehingga
Tidak adanya kesamaan persepsi antara para pihak menghambat proses suksesi sekunder secara normal
yang berkepentingan tampaknya menjadi penyebab untuk menyembuhkan area yang rusak (Stevenson et
utama kegagalan. Universitas, lembaga swadaya al., 1999). Konsep ini belum banyak dibahas,
masyarakat, dan sebagian organ pemerintah setem- pembahasan baru dilakukan antara lain oleh
pat merasa berkepentingan untuk menjaga keles- Detweiler et al. (1976), Ball (1980), dan Lewis (1982).
tarian ekosistem mangrove. Pengusaha dan sebagain Tujuan restorasi lainnya adalah memperkaya
organ pemerintah lainnya mencoba mengambil landskap, mempertahankan keberlanjutan produksi
keuntungan ekonomi dengan membuat tambak. sumberdaya alam (khususnya perikanan dan kayu),
Adapun masyarakat setempat secara turun-temurun melindungi kawasan pantai, serta fungsi sosial
memanfaatkan tepian lahan untuk bertani dan bagian budaya (Watson, 1928; Field, 1996; Morrison, 1990;
tengah untuk padang penggembalaan kerbau (Bos Lewis, 1992, Aksornkoea, 1996; Stevenson et al.,
bubalis). Semua kepentingan tersebut tidak dikelola 1999). Tujuan restorasi perlu ditetapkan berdasarkan
secara integratif, sehingga boleh jadi saling merugi- masukan dari para pihak dan merupakan konsensus
kan. Upaya konservasi dengan mengembalikan lahan bersama, sehingga mendapat dukungan secara luas
menjadi hutan mangrove dapat menafikan upaya (Fitzgerald, 1997), tanpa dukungan para pihak se-
pengusaha untuk membuat tambak dan upaya petani tempat keberhasilan restorasi dalam jangka panjang
untuk terus memanfaatkannya sebagai lahan bertani sangat kecil (Primavera dan Agbayani, 1996).
dan menggembalakan ternak. Upaya pembuatan Keuntungan restorasi komunitas mangrove
tambak dapat menggusur lahan bercocok tanam dan meliputi: konservasi dan pengembalian spesies yang
penggembalaan ternak, serta berpotensi menghan- pernah ada, spesies yang memiliki daerah jelajah
curkan lahan mangrove yang tersisa. Sedangkan luas, dan burung-burung migran; mendaur-ulang
upaya petani mempertahankan lahan untuk bertanam nutrien dan menjaga keseimbangan nutrisi pada
dan menggembala ternak dapat menghambat upaya muara sungai; melindungi jaring-jaring makanan pada
perluasan tambak dan mematikan benih mangrove hutan mangrove, muara, dan laut; menjaga habitat
yang diharapkan dapat menyebar dan menutupi fisik dan tempat pembesaran anakan berbagai
seluruh laguna sebagaimana dahulu. Apabila tidak spesies laut komersial; melindungi lahan dari badai,
dikelola dengan tepat, permasalahan ini akan meng- menjaga garis pantai, dan mengendapkan lumpur;
habiskan energi, dana, dan sumber daya tanpa hasil meningkatkan kualitas dan kejernihan air dengan
yang memadahi (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi). menyaring dan menjebak sampah dan sedimen yang
Kegiatan restorasi lahan mangrove di Jawa dibawa air permukaan dari hulu sungai. Pada
dengan ukuran yang signifikan, antara lain juga telah akhirnya, preservasi ekosistem mangrove membantu
dilakukan di teluk Jakarta, Muara Angke, Bekasi, menjaga keseluruhan kondisi alami dan keindahan
Indramayu, Pemalang, Tegal, dan Demak dengan panorama muara sungai dan nilai ekonomi kawasan
dipelopori oleh Yayasan Mangrove Indonesia) pesisir (Anonim, 2001).
(Anonim, 2003). Kegiatan restorasi juga dilakukan di Dalam restorasi mangrove kadang-kadang hanya
Segara Anakan oleh Badan Pengelola Kawasan fungsi tertentu saja yang ingin dikembalikan, karena
Segara Anakan (BPKSA) (Suara Pembaruan, beberapa parameter seperti kondisi dan tipe tanah,
19/04/2003), muara sungai Porong oleh Pemerintah serta spesies tumbuhan dan hewan telah berubah
Kabupaten Sidoarjo (Republika Online, 15/07/2002), (Lewis, 1990b, 1992). Restorasi yang bertujuan
Telukawur-Semat, Jepara oleh Universitas mengembalikan suatu area sepenuhnya ke kondisi
Diponegoro Semarang (Suara Merdeka, 09/04/2003), alami seperti sebelum dibangun, memiliki tingkat
dan lain-lain. Dalam jumlah yang lebih kecil, kegiatan kegagalan jauh lebih tinggi dibandingkan restorasi
ini diyakini banyak di lakukan di berbagai lokasi, karakter dan fungsi ekosistem tertentu saja (Lewis et
termasuk pada muara-muara sungai di pantai selatan al., 1995). Restorasi ke tipe habitat asli kemungkinan
Jawa, misalnya di Purworejo dan Kebumen (ADS, juga bukan pilihan terbaik untuk skala regional,
2002-2003, pengamatan pribadi). khususnya apabila ekosistem yang rusak hanya
108 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

bagian kecil dari suatu tipe ekosistem yang umum, tahun 1970 terjadi akselerasi pertambakan, khusus-
namun apabila tipe ekosistem tersebut sangat langka nya dengan ditemukannya metode budidaya intensif
maka restorasi ke kondisi asli barangkali diperlukan udang di tambak (Fitzgerald dan Savitri, 2002),
(Cairns, 1988). Dalam tulisan ini, hanya disinggung sehingga sejumlah besar area mangrove di pantai
praktek restorasi mangrove dengan tujuan melindungi utara Jawa diubah menjadi tambak. Namun tambak
pantai, mengembalikan tambak yang rusak, serta udang intensif berkonsekuensi pada perubahan
mengatasi kerusakan akibat tumpahan minyak. kondisi hidrologi, edafit (tanah sulfat asam), penyakit,
dan pencemaran lingkungan, sehingga ratusan hektar
tambak beserta sarana produksinya dibiarkan rusak
Pelindung pantai tidak terurus (Setyawan dkk., 2002). Dalam kondisi
Di kawasan yang penuh aktivitas dan padat demikian, Stevenson et al. (1999) menyarankan agar
penduduk, restorasi dapat ditujukan untuk melindungi dilakukan restorasi mangrove pada tambak udang
pantai (Stevenson et al., 1999). Di pantai utara Jawa, yang rusak, diikuti pembukaan area mangrove baru
abrasi merupakan fenomena yang sering terjadi, untuk tambak udang.
seperti di Tangerang (Media Indonesia, 19/08/2002, Pengamatan di beberapa kawasan pantai utara
03/10/2003), Jakarta (Media Indonesia, 17/06/2002), Jawa menunjukkan, tingginya sedimentasi
Indramayu (Pikiran Rakyat, 27/12/2002; Republika menyebabkan garis pantai cenderung terus menuju
Online, 17/04/2002; Suara Pembaruan, 07/07/2002, ke arah laut, dengan segaris mangrove tepi sebagai
11/12/2002; Pikiran Rakyat, 14/03/2003), Cirebon batas antara laut dengan lahan budidaya masyarakat,
(Media Indonesia, 08/04/2003), Brebes (Media umumnya berupa tambak bandeng, tambak udang
Indonesia, 28/07/2003), Tegal (Kompas, 06/08/2002), atau tambak garam. Mangrove tepi ini sekaligus
Pemalang, Pekalongan (Media Indonesia, berfungsi sebagai pelindung dari ombak, badai, dan
31/05/2002; Republika Online, 15/07/2003), Kendal, abrasi. Dalam periode tertentu, luasan dataran
Semarang, Demak, Jepara, dan Pati (Kompas, lumpur yang ditumbuhi mangrove cukup untuk diubah
15/08/2002; Suara Merdeka, 26/01/2003). menjadi tambak dengan menyisakan segaris
Pembabatan mangrove di beberapa kawasan mangrove tepi, biasanya berupa tegakan Avicennia
terkait erat dengan kerusakan ekosistem ini, atau Rhizophora. Pembukaan kawasan mangrove ini
meskipun dapat pula terjadi karena perubahan arus umumnya dimulai dengan proses pelelangan oleh
laut akibat pengerukan pasir (Pikiran Rakyat, aparat desa setempat, sehingga area ini berubah dari
04/04/2002; Media Indonesia, 15/09/2003), reklamasi tanah publik menjadi tanah pribadi. Dalam hal ini,
pantai (Kompas, 06/10/2003), gangguan/pemindahan tambak lama letaknya akan semakin jauh dari pantai,
muara sungai (Kompas, 10/11/2002), dan kerusakan akumulasi perubahan kondisi hidrologi, edafit,
terumbu karang (Whitten et al., 2000). Restorasi penyakit, dan pencemaran lingkungan menyebabkan
ekosistem mangrove diharapkan dapat memulihkan tambak ini tidak lagi ekonomis untuk diusahakan.
kondisi lingkungan seperti semula, meskipun harapan Upaya untuk mengembalikan area ini kembali ke
ini tidak selalu berhasil mengingat pada kasus ekosistem mangrove merupakan tindakan mahal,
tertentu kerusakan yang timbul bersifat permanen mengingat tanah tersebut merupakan milik pribadi,
sehingga penanaman mangrove tidak dapat serta adanya perubahan pola hidrologi. Akibatnya
mengatasi, tanpa perubahan kondisi-kondisi lain yang banyak bekas-bekas tambak yang dibiarkan tidak
menyebabkan perubahan arus laut. Di samping itu terawat (Jawa: bera). Dalam jumlah cukup signifikan,
kesembuhan ekosistem mangrove bersifat jangka kondisi demikian dapat dijumpai pada “cekungan”
panjang, dimana pada kasus tertentu, kecepatan antara gunung Muria dan gunung Lasem, salah satu
abrasi jauh melebihi kemampuan tumbuhnya produsen bandeng budidaya terbesar di Jawa, yang
mangrove. Meskipun pada akhirnya abrasi akan meliputi Kabupaten Pati dan Rembang. Pada kondisi
terhenti dengan sendirinya apabila pola arus laut ketersediaan air tawar mencukupi, secara gradual
kembali seimbang. Dalam hal ini pembangunan bekas tambak dapat diubah menjadi sawah, seperti di
tanggul dan pemecah gelombang tampaknya lebih sepanjang pesisir Demak, meskipun untuk itu perlu
sesuai (Pikiran Rakyat, 27/12/2002). dibangun tanggul dan bendungan untuk mencegah
masuknya air laut di kala pasang (ADS, 2002-2003,
pengamatan pribadi).
Restorasi mangrove pada bekas tambak udang Di Indonesia, upaya restorasi mangrove pada
Restorasi secara khusus dapat pula ditujukan untuk bekas tambak udang dalam luasan yang signifikan
mengembalikan bekas tambak udang ke ekosistem dan cukup berhasil antara lain dilakukan di teluk
mangrove. Hingga kini sangat sedikit laporan Benoa, Bali. Budidaya udang di kawasan ini dimulai
berkenaan dengan restorasi tambak (Stevenson dkk., pada tahun 1991, dan program restorasi dimulai sejak
1999). Pembangunan tambak udang merupakan tahun 1995, dimana sekitar 350 ha tambak udang
salah satu penyebab utama kerusakan ekosistem rusak ditanami mangrove kembali. Penanaman
mangrove di Jawa. Tambak ikan memiliki sejarah dimulai dari bekas tambak paling dekat daratan
panjang di Jawa, dimana bandeng (Chanos chanos) menuju arah laut (Stevenson dkk., 1999).
telah dibudidayakan sejak abad ke-15, namun pada
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 109

Restorasi akibat tumpahan minyak KERANGKA KERJA RESTORASI


Mangrove yang mati akibat tumpahan minyak
dapat direstorasi untuk mengembalikan fungsi dan Secara umum dapat diformulasikan tiga langkah
penampakannya. Langkah ini dapat mempercepat utama untuk meriset restorasi habitat mangrove,
kesembuhan ekosistem. Biasanya restorasi hanya yaitu: (i) menggambarkan status ekosistem, serta
ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci, menentukan tujuan dan kriteria keberhasilan restorasi
restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara (Lewis, 1990; Kusler dan Kentula, 1990; Pratt, 1994),
keseluruhan tergantung pada proses alami. (ii) pengembangan teknologi, meliputi pemilihan
Regenerasi baik secara alami maupun buatan segera spesies, penentuan perlu tidaknya pekerjaan fisik dan
setelah tumpahan minyak tidak mungkin dilakukan, restorasi buatan (Kaly dan Jones, 1996), (iii) menilai
karena minyak yang tersisa akan mematikan atau keberhasilan restorasi, berdasarkan besarnya biaya
menghambat pertumbuhan mangrove. Contoh toksi- dan kecepatan kesembuhan ekosistem (Henry dan
sitas pasca tumpahan minyak ditunjukkan di Panama Amoros, 1995), yakni kembalinya aspek fungsional
tahun 1986, dimana propagul Rhizophora yang ekosistem tersebut (Kaly dan Jones, 1996).
ditanam 4 dan 6 bulan pasca kecelakaan semuanya Restorasi biasanya ditekankan pada penanaman
mati, sedang propagul yang ditanam 9 bulan atau tumbuhan mangrove, namun sebelumnya perlu
lebih setelah kecelakaan dapat hidup (IPIECA, 1993). diketahui penyebab kerusakan, menghilangkan
Lama waktu degradasi racun minyak bumi tergan- penyebab tersebut, dan membiarkan proses
tung tipe tanah, arus pasang surut, dan curah hujan. penyembuhan secara alami (Lewis dan Streever,
Penanaman mangrove tidak harus menunggu racun 2000; Hamilton dan Snedaker, 1984). Keberhasilan
tersebut sepenuhnya hilang. Regenerasi alamiah restorasi mangrove akan meningkat apabila kondisi
mangrove yang mati akibat tumpahan minyak dapat habitat telah diidentifikasi; memperhatikan hak milik
terjadi, tetapi proses ini kemungkinan sangat lambat atas tanah dan rencana perlindungan habitat liar
karena adanya sisa-sisa minyak yang beracun, secara menyeluruh; pengelolaan hidrologi dan
kurangnya suplai propagul dari kawasan sekitarnya introduksi tumbuhan asing untuk memperkaya,
atau hambatan propagul untuk mencapai lokasi, merestorasi, dan menjaga keanekaragaman spesies;
akibat adanya sisa-sisa batang dan akar mangrove dan terdapat peraturan perundang-undangan yang
mati yang menghalanginya (IPIECA, 1993). tegas (Anonim, 2001). Hutan mangrove dapat
Regenerasi buatan atas ekosistem mangrove memulihkan diri sendiri tanpa upaya restorasi melalui
yang rusak oleh tumpahan minyak dapat dipercepat suksesi sekunder pada periode 15-30 tahun, apabila
dengan mengganti tanah tercemar pada lubang siklus hidrologi normal dan tersedia biji atau propagul
penanaman dengan tanah dari daratan, baru ditanami dari ekosistem mangrove di sekitarnya (Watson,
propagul. Dapat pula dengan menanam bibit pada 1928; Lewis, 1982; Cintron-Molero, 1992).
wadah yang memisahkannya dari tanah tercemar, Regenerasi buatan hanya diperlukan untuk
dengan berjalannya waktu wadah ini akan rusak dan mempercepat proses alami (McKee dan Faulkner,
toksisitas tanah akan menurun, sehingga bibit dapat 2000) atau apabila kesembuhan alami tidak mungkin
tumbuh normal. Dapat pula dilakukan pembibitan terjadi akibat perubahan homeostasis yang terlalu
propagul, sehingga bibit akan siap ditanam pada saat jauh (Lewis dan Streever, 2000). Kegagalan melihat
toksisitas tanah sudah menurun. Cara regenerasi di penyebab degradasi merupakan penyebab utama
atas berhasil diterapkan di Panama, dimana area se- kegagalan restorasi mangrove.
luas 75 ha ditanami lebih dari 86.000 bibit mangrove. Menurut Sanyal (1998) antara tahun 1989-1995
Dua tahun pasca tumpahan minyak, saat regenerasi area seluas 9,050 ha di Bengali Barat, India ditanam
alami mulai terbentuk, bibit hasil penanaman telah mangrove, namun tingkat keberhasilannya hanya
mencapai tinggi 1 meter dengan tingkat keberhasilan 1,52%. Sebaliknya Soemodihardjo et al. (1996)
hidup lebih dari 90% (IPIECA, 1993). melaporkan bahwa hanya 10% area yang ditebangi di
Di Jawa restorasi ekosistem mangrove yang rusak Tembilahan, Indonesia (715 ha) yang memerlukan
akibat tumpahan minyak bumi tampaknya belum per- penanaman ulang, sebab kawasan tersebut masih
nah dilakukan. Dalam skala Indonesia, hal ini pernah menyisakan lebih dari 2.500 seedling alami setiap ha.
dilakukan di delta Mahakam, Kalimantan Timur Mangrove dapat juga dibentuk dengan
dengan bibit Sonneratia caseolaris (Dutrieux et al., menghutankan kawasan intertidal yang tidak
1990). Di Jawa, dampak negatif tumpahan minyak bervegetasi atau area lain yang secara alami tidak
bumi terhadap ekosistem mangrove dapat diamati di memungkinkan kedatangan propagul mangrove,
sekitar sungai Donan, Segara Anakan, Cilacap misalnya tanah timbul, namun area ini sering juga
dimana terdapat industri pengilangan minyak. melayani tujuan ekologis lain seperti menjadi tempat
Kawasan ini secara periodik terpengaruh tumpahan mencari makan burung-burung air (Lewis dan
minyak baik dari industri tersebut maupun kapal-kapal Streever, 2000). Penanaman ini juga dapat
tangker yang melayaninya. Ukuran pohon mangrove mempengaruhi vegetasi akuatik lain seperti padang
yang dekat dengan lokasi tersebut umumnya lebih lamun (Phillips dan McRoy, 1980).
kecil, lebih pendek, dan lebih jarang dibandingkan Terdapat lima langkah penting bagi keberhasilan
lokasi yang jauh (Hardjosuwarno, 1989). restorasi mangrove (Lewis dan Marshall, 1997):
110 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

(i) Pemahaman autekologi setiap spesies mangrove, menyertakan masukan lokal akan lebih berhasil dan
meliputi pola reproduksi, distribusi propagul, dan mendapatkan dukungan politis lebih besar. Dua
pemantapan seedling. pendekatan telah digunakan di restorasi area
(ii) Pemahaman pola hidrologi yang mempengaruhi mangrove yang terdegradasi, yaitu regenerasi buatan
distribusi, pemantapan, dan pertumbuhan spesies dan alami (Kairo et al., 2001).
mangrove yang diinginkan. Keberhasilan harus dapat diukur sebagai derajat
(iii) Pemahaman perubahan lingkungan yang dapat dimana fungsi ekosistem alami yang digantikan dapat
mencegah suksesi sekunder secara alami. ditingkatkan. Hal ini tidak hanya ditentukan
(iv) Restorasi sifat hidrologi, dan bila memungkinkan berdasarkan spesies yang hadir dan fungsi yang
penggunaan propagul alami. terkait denganya, tetapi juga sifat fisik, kimia dan
(v) Penanaman dilakukan apabila jumlah rekruitmen biologi habitat. Ekosistem yang direstorasi juga harus
alami tidak mencukupi untuk penyembuhan. dapat merespon cekaman dan perubahan lingkungan
sepanjang waktu sebagaimana ekosistem alami.
Beberapa faktor penting yang terkait dengan
KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN RESTORASI keberhasilan restorasi wetland adalah kemampuan
untuk mengakses dan membuat kembali hidrologi,
Pada bagian pertama tulisan ini telah serta mengelola dan melindungi wetland baru dalam
dikemukakan kondisi terkini ekosistem mangrove di jangka panjang (Kusler dan Kentula, 1990).
Jawa, termasuk keterancaman dan kerusakan Secara ringkas, faktor-faktor yang perlu
(Setyawan dkk., 2003). Keberhasilan restorasi diperhatikan dalam restorasi mangrove mencakup
mangrove antar lokasi sulit digeneralisasikan, karena stabilitas tanah dan pola penggenangan (Pulver,
tergantung kondisi lingkungan setempat dan spesies 1975), pasang surut dan ombak (Lewis, 1992, Field,
yang ditanam, sehingga perlu diketahui pola yang 1996), elevasi (Hoffman et al., 1985), salinitas dan
mendasari terbentuknya tegakan mangrove (Field, aliran air tawar permukaan (Jiminez, 1990),
1998a). Umumnya pola hidrologi dianggap sebagai ketersediaan propagul (Loyche, 1989, Kairo et al.,
faktor utama yang mempengaruhi daya tahan dan 2001), predasi propagul (Dahdouh-Guebas et al.,
pertumbuhan seedling mangrove (Field, 1996, 1997, 1998), jarak dan kerapatan (FAO, 1985, Kairo
1998b). Oleh karena itu, mangrove ditanam pada et al., 2001), eradikasi gulma (Saenger dan Siddique,
lokasi dengan ombak kecil, dimana tingkat erosi 1993), teknik pembibitan (Siddique et al., 1993),
pantai minimal. Pengetahuan zonasi spesies pemantauan (Lewis, 1990b), keikutsertaan
mangrove diperlukan untuk menentukan area yang masyarakat (Kairo dkk., 2001) dan biaya yang
sesuai untuk spesies yang berbeda (Kairo et al., dibutuhkan (Field, 1998a). Di Jawa, kegagalan
2001). Zonasi ini merupakan hasil toleransi restorasi mangrove dapat disebabkan oleh kesalahan
lingkungan dan pilihan fisiologis setiap spesies pemahaman pola hidrologi, perubahan arus laut, tipe
(Rabinowitz, 1978). Setiap spesies mangrove tanah, pemilihan spesies, penggembalaan hewan
mempunyai suatu cakupan toleransi yang spesifik ternah, sampah, kelemahan manajemen, dan
terhadap parameter-parameter lingkungan, seperti ketiadaan partisipasi masyarakat (ADS, 2002-2003,
kadar garam, genangan pasang surut, keteduhan, pengamatan pribadi).
elevasi daratan dan lain-lain. Hal ini membatasi zona Kelemahan manajemen dan tidak adanya peran
yang sesuai bagi keberadaannya. Sonneratia alba aktif masyarakat merupakan penyebab utama
dan Rhizophora akan tumbuh pada perbatasan kegagalan restorasi di beberapa lokasi di Jawa,
ekosistem mangrove dengan laut, sebab tidak selain akibat melanggar langkah-langkah penting lain.
mampu menoleransi fluktuasi konsentrasi garam Kegagalan restorasi mangrove di muara Bogowonto
yang besar, sedang Ceriops tagal dan Avicennia antara lain juga disebabkan kesalahan pemilihan
marina dapat menoleransi kadar garam yang tinggi sumber propagul dan pemahaman pola genangan.
sehingga ditemukan pada batas ekosistem mangrove Penanaman Sonneratia spp. dengan bibit dari Segara
dengan daratan. Oleh karena itu, Sonneratia dapat Anakan Cilacap ke Sungai Bogowonto pada tahun
ditanam pada dataran lumpur yang berbatasan 1997 menunjukkan kegagalan pertumbuhan akibat
langsung dengan laut, sedangkan Ceriops dan adanya genangan. Secara alami, setiap tahun di
Avicennia dapat ditanam pada lokasi kering yang musim kemarau muara Sungai Bogowonto
berbatasan dengan daratan (Kairo et al., 2001). mengalami penggenangan sekitar 4-6 minggu. Hal ini
Faktor penting lainnya yang menentukan terjadi karena terbentuknya gumuk pasir (sanddunes)
keberhasilan proyek restorasi adalah tingkat yang membendung muara sungai. Bendungan ini
kerjasama dari masyarakat dan para pemimpin lokal. akan jebol dengan sendirinya ketika volume air yang
Tekanan populasi lokal akan mempengaruhi struktur terbendung melimpah. Bibit Sonneratia spp. dapat
dan fungsi ekosistem mangrove di sekitarnya. bertahan hingga tahun 1999, karena pada tahun 1998
Pendidikan lingkungan dapat mendorong keterlibatan tidak terjadi genangan yang cukup berarti akibat
aktif dan keikutsertaan publik yang lebih besar. curah hujan dan debit air sungai cukup tinggi
Keduanya merupakan isu penting dalam manajemen sepanjang tahun sehingga mampu menembus gumuk
dan konservasi mangrove. Keputusan manajemen pasir di muara sungai. Namun pada musim kemarau
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 111

tahun 1999, kembali terjadi genangan selama 6 bubalis), sehingga seedling alami hanya dapat berta-
minggu, sehingga hampir semua populasi Sonneratia han di kawasan yang sulit dijangkau ternak, sedang-
spp. dari Segara Anakan Cilacap mati terendam, kan penanaman sengaja hanya dapat dilakukan pada
namun populasi lokal tetap bertahan (Tjut S. Djohan, area yang dipagari, yang biasanya telah rusak se-
2001, komunikasi pribadi). Pengamatan isozim oleh belum seedling cukup tinggi, sehingga akan dimakan
penulis menunjukkan adanya perbedaan pola pita kerbau (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).
isozim populasi Sonneratia spp dari kedua lokasi Di pantai utara Jawa, kegagalan restorasi juga
tersebut. Menurut McPhaden (1999), badai El Nino dapat disebabkan perubahan arus laut. Hal ini terjadi
South Oscillation (ENSO) pada tahun 1997-1998 pada pantai-pantai terabrasi, dimana penanaman
merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, hingga mangrove akan sia-sia, selama penyebab utama
mencurahkan cukup banyak air ke kawasan barat abrasi belum diatasi, karena seedling yang ditanam
Pasifik, setelah sebelumnya menyebabkan ikut tergerus arus laut. Salah satu contoh
kekeringan hebat. Di samping itu kegagalan juga keberhasilan penanaman mangrove untuk mencegah
disebabkan perumputan oleh kerbau, sebagaimana abrasi ditemukan di kawasan Bulak-Semat, Jepara.
terjadi pada populasi Rhizophora spp (ADS, 2002- Pada tahun 1980-an pantai di kawasan ini terabrasi
2003, pengamatan pribadi). akibat kerusakan terumbu karang dan pembabatan
Di pantai selatan Jawa, kegagalan restorasi juga hutan mangrove. Pembuatan tanggul pemecah
terjadi di muara sungai Cakrayasan, Purworejo dan gelombang dan penanaman mangrove terbukti dapat
muara sungai Luk Ulo, Kebumen. Pada tahun 2000, mengurangi efek abrasi. Pada saat ini Rhizophora
dilakukan restorasi ekosistem mangrove di kedua yang ditanam langsung berbatasan dengan bibir laut,
lokasi ini dengan spesies Rhizophora spp. Di muara dan tanah dibawahnya ditutupi pasir putih,
sungai Cakrayasan, kegagalan restorasi menunjukkan garis pantai berhenti di bawah tegakan
kemungkinan besar disebabkan akumulasi sampah komunitas ini (ADS, 2002-2003, pengamatan pribadi).
dari hulu sungai pada awal musim hujan. Sampah,
seperti lembaran plastik, kantung plastik, tali dan lain-
lain menutupi area penanaman sehingga anakan TEKNIK RESTORASI
mangrove tidak dapat tumbuh sempurna, bahkan
sebagian besar seedling yang perakarannya masih Kebanyakan restorasi hanya bertumpu pada
lemah ikut terhanyut ke laut. Di pantai utara Jawa, di penanaman pohon mangrove, kurang memperhatikan
sepanjang muara-muara sungai di Demak, Jepara, struktur komunitas dalam jangka panjang atau
Pati, dan Rembang, kematian seedling akibat kaitannya dengan ekosistem di sekitarnya (Kusler
“terjerat” sampah domestik merupakan kejadian dan Kentula, 1990; Simberloff, 1990). Kebanyakan
umum. Secara unik “penjeratan” ini juga dilakukan proyek restorasi mangrove hanya bersangkutan
oleh sejenis algae lembaran, Ulva spp. Spesies ini dengan introduksi pohon mangrove, dengan harapan
hidup mengapung di tepi pantai dangkal terbuka, hidupan lain seperti kepiting, meiofauna, algae, ikan,
yang juga merupakan lokasi yang umum didatangi dan fauna mangrove lain akan mengikuti dengan
propagul alami, dan dipilih dalam program sendirinya ketika habitat yang dibuat telah mapan
penghijauan mangrove. Pada saat air pasang, Ulva (Kaly dan Jones, 1996). Biasanya restorasi hanya
akan terangkat ke atas, dan ketika air surut akan ditekankan pada satu atau beberapa spesies kunci,
tersangkut, melekat, dan mati pada seedling restorasi ekosistem mangrove yang kompleks secara
mangrove, sehingga menghambat pertumbuhan dan keseluruhan tergantung pada proses alami berikutnya
mematikan seedling tersebut. Kondisi ini (IPIECA, 1993).
menyebabkan kerugian yang cukup berarti pada Teknik restorasi meliputi introduksi biji atau
program penghijauan bakau di tepi pantai Pasar propagul, anakan pohon, atau pohon yang lebih
Banggi, Rembang. Di Segara Anakan, kegagalan besar. Penanaman biji atau propagul dapat dilakukan
restorasi akibat sampah, kurang teramati mengingat secara langsung di area yang direstorasi, atau
luasnya area mangrove tersebut (ADS, 2002-2003, disemaikan dahulu hingga setinggi 0,3-1,2 m
pengamatan pribadi). Ancaman terbesar ekosistem (Thorhaug, 1990). Penyemaian biji atau propagul
mangrove di kawasan ini adalah sedimentasi menjadi anakan pohon dapat meningkatkan
(Winarno dan Setyawan, 2002). keberhasilan penanaman dibandingkan menanamnya
Di muara sungai Luk Ulo, Kebumen selain secara langsung (Hannan, 1975; Thorhaug, 1990),
sampah, pola genangan, dan jenis tanah berpasir meskipun demikian suatu eksperimen di kawasan
yang cenderung kurang cocok bagi Rhizophora; tropis Australia menunjukkan bahwa keberhasilan
tampaknya penggembalaan merupakan penyebab hidup dan pertumbuhan bibit mangrove tidak ada
utama kegagalan restorasi. Lokasi mangrove yang perbedaan signifikan antara benih hasil semaian,
direstorasi merupakan area penggembalaan ternak cangkokan, dan benih yang ditanam langsung (Kaly
sapi (Bos sondaicus), sehingga seedling yang dita- dan Jones, 1996).
nam tidak tersisa akibat perumputan. Hal sama terjadi Strategi menghilangkan makrofauna pada awal
di muara sungai Bogowonto, dimana area mangrove restorasi dapat membantu pertumbuhan mangrove,
merupakan kawasan penggembalaan kerbau (Bos karena menjadi pemangsa atau parasit propagul dan
112 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

tumbuhan muda. Smith (1987a,b,c) menemukan mengeruk tanah di permukaan tambak yang
bahwa kepiting merupakan predator bibit mangrove dikeringkan setebal 15 cm dan ditambahkan kapur
yang signifikan, dan dapat mempengaruhi distribusi untuk mencegah pelepasan asam. Cara lain adalah
spesies di hutan mangrove. Kepiting dapat menggenangi tanah dengan air pasang dan
memusnahkan sama sekali Avicennia marina dengan membiarkan waktu untuk mengoksidasi asam
mengkonsumsi 100% propagul. Menurut Tampa dan sebelum ditanami kembali. Tanah dikembalikan ke
Tampa (1988), Kumbang parasit Coccotrypes fallax kondisi anoksik sebagaimana area lumpur pasang
(Scolytidae) dapat mengerumuni sampai 95% surut alami. Di ekosistem mangrove tropis, bakteri
propagul dan seedling. Menurut Kitamura et al. tanah memainkan peranan penting dalam jejaring
(1997), jenis hama dan penyakit utama seedling makanan benthos, seperti memineralisasikan detritus
mangrove pada kebun bibit di Bali adalah kepiting, organik dan mendaur ulang nutrien penting (Kaly dan
kumbang dan tikus. Jones, 1996). Oleh karena itu, proses biogeokimia
alami perlu didorong untuk menumbuhkan bakteri
(Alongi, 1994).
RESTORASI FISIK HABITAT Polutan. Mangrove merupakan ekoton antara
kawasan daratan dan laut, sehingga pencemaran
Sebelum dilaksanakan penanaman tumbuhan yang terjadi di darat maupun di laut dapat menumpuk
mangrove, perlu dilakukan restorasi fisik habitat di kawasan ini. Salaha satu jenis bahan pencemar
sehingga memungkinkan tumbuhan mangrove yang yang menarik adalah tumpahan minyak bumi. Dalam
ditanam dapat tumbuh sehat. Secara umum habitat suatu studi, Sonneratia caseolaris, digunakan
fisik yang perlu diperhatikan mencakup pola hidrologi, sebagai tumbuhan pionir dan ditanam pada tanah
kondisi tanah dan adanya bahan pencemar. yang terpolusi minyak di delta Mahakam, sebagian
Hidrologi. Ekosistem mangrove sudah lama dari lokasi ini juga terpolusi pupuk nitrat dan sisa-sisa
dikenal sebagai pelindung dan pemantap garis pantai dispersan minyak. Dalam hal ini restorasi diarahkan
(Othman, 1994), sehingga selamat dari angin topan hanya untuk mengembalikan satu spesies mangrove
dan gelombang laut, namun mangrove hanya dapat yang paling kuat sebagai starter. Minyak mempenga-
mempengaruhi tingkat pengendapan sedimen atau ruhi kematian dan pertumbuhan seedling yang di-
erosi, tetapi tidak mengendalikannya (Gill, 1971; tanam, tetapi dispersan berpengaruh lebih buruk lagi.
Hannan, 1975). Oleh karena itu pada pantai yang Untuk itu area mangrove yang tertumpahi minyak se-
terabrasi akibat perubahan arus laut, tetap baiknya tidak disemprot dispersan dan penanaman
memerlukan tanggul pemecah ombak seperti batu, ditunda hingga beberapa bulan (Dutrieux et al., 1990).
kuadrapot, tiang pancang, karung goni atau bekas
ban (Teas et al., 1975; Hannan, 1975). Struktur
tersebut dapat mempercepat kesembuhan ekosistem REGENERASI ALAMI
mangrove (Lin dan Beal, 1995) dan mendorong
terbentuknya mangrove baru pada kawasan Regenerasi mangrove secara alami menggunakan
sekitarnya. Hidrologi yang mempengaruhi biji dan propagul alami (wildlings) sebagai sumber
keberhasilan restorasi mangrove, meliputi: pola bibit, sehingga komposisi spesies yang tumbuh
pasang surut (frekuensi dan periode), ketinggian tergantung pada populasi mangrove tetangganya.
sedimen dan drainase, serta masukan air tawar (Kaly Kemampuan mangrove menyebar dan tumbuh
dan Jones, 1996). Kegagalan restorasi seringkali dengan sendirinya tergantung pada kondisi hutan,
akibat sulitnya memperbaiki pola hidrologi (Kusler arus pasang surut, dan stabilitas tanah (Kairo et al.,
dan Kentula, 1990). Pada area dimana terjadi 2001). Pada famili Rhizophoraceae, propagul
sedimentasi pasir, kemungkinan diperlukan dilengkapi dengan hipokotil runcing yang akan jatuh
pengerukan untuk mencapai tanah mangrove yang dan menanam diri sendiri pada lumpur tidak jauh dari
kaya bahan organik. Restorasi hidrologi termasuk induknya (La Rue dan Muzik, 1954), namun apabila
menghubungkan kembali area dengan laut terbuka propagul tersebut jatuh pada saat air pasang atau
sehingga terjadi arus pasang surut yang normal ombak tinggi, kadang-kadang tidak dapat menancap
(Brockmeyer et al., 1997, Turner dan Lewis, 1997), di lumpur, bahkan tersapu dan terbawa arus laut,
serta pembatasan pengaruh gelombang akibat lalu hingga tumbuh jauh dari induknya (Rabinowitz, 1978;
lintas perahu (Knutson et al., 1981). van Speybroeck, 1992).
Kondisi tanah. Tanah sulfat asam (acid soil), yang Penebangan hutan mangrove secara berlebihan
umum ditemukan pada area mangrove di seluruh dapat menurunkan stabilitas tanah, sehingga
dunia tropis serta diakibatkan oleh oksidasi dan propagul dan anak pohon mudah dihanyutkan ombak
asidifikasi sedimen yang mengandung pirit ketika dan regenerasi alami sulit terbentuk (Kairo et al.,
penggalian dan pengeringan, merupakan tantangan 2001). Di Malaysia, direkomendasikan agar disisakan
potensial dalam restorasi ekosistem mangrove sebanyak 12 pohon induk per ha, sebagai penyuplai
(Brinkman dan Singh, 1982). Tanah ini dapat memiliki biji regenerasi alami (Tang, 1978, FAO, 1994), namun
pH 2 (Kaly dan Jones, 1996). Brinkman dan Singh pada lokasi-lokasi dengan tingkat regenerasi rendah
(1982) mengurangi kondisi sulfat asam dengan jumlah tersebut dapat dinaikkan. Di Thailand,
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 113

penggunaan pohon induk diganti lajur-lajur mangrove Pada spesies mangrove tertentu ketersediaan
yang tidak ditebangi untuk menjaga regenerasi (FAO, propagul tergantung musim. Propagul mangrove yang
1985). Kelebihan dan kekurangan regenerasi alami telah masak dikoleksi dari pohon induk, dari bawah
dan regenerasi buatan tersaji pada Tabel 1. pohon atau dari pantai. Pada Rhizophora dan Ceriops
warna hipokotil dapat digunakan untuk membedakan
Tabel 1. Kelebih dan kekurangan regenerasi secara alami propagul muda dari yang masak. Pada Avicennia,
(Kairo et al., 2001). propagul masak dapat dipetik dengan mudah dari
induknya dengan meninggalkan kelopak. Propagul
Kelebihan hasil koleksi dapat disimpan dalam kantung plastik
lembab selama tiga hari hingga beberapa minggu, di
• Lebih murah. tempat teduh, untuk meningkatkan daya tahan
• Tidak memerlukan tenaga kerja dan peralatan. terhadap serangan kepiting (Watson, 1928, Dahdouh-
• Lebih sedikit disturbansi pada tanah. Guebas et al., 1997). Propagul juga dapat dilindungi
• Pertumbuhan anakan pohon lebih subur. dengan mengecat hipokotil atau meletakkannya
dalam buluh bambu (FAO, 1994). Sepanjang
Kekurangan kelembaban dijaga, propagul mangrove dapat
disimpan selama enam bulan (Kairo et al, 2001).
• Spesies pengganti kemungkinan berbeda dengan
Pada saat penanaman anak pohon baik dari
spesies semula.
kebun pembibitan atau hutan alam perlu dilakukan
• Ketiadaan pohon induk menyebabkan bibit sedikit atau
tidak ada. upaya melindungi akar, baik ketika dicabut atau
• Pengkayaan genetika sulit terjadi. ditanam. Hal ini biasanya dilakukan dengan
• Ombak laut dapat menyebabkan sulit mapan. menyekop anak pohon dengan diameter tanah
• Terjadi predasi bibit oleh makrofauna (seperti kepiting separuh tinggi anak pohon. Daya tahan propagul atau
dan siput). anak pohon lebih baik (80-100% dari 70.000 setelah
• Jarak tanam, asal dan komposisi spesies bibit sulit 24 bulan) dibanding pohon kecil (< 5% setelah 12
dikontrol. bulan). Anak pohon dari kebun pembibitan memiliki
daya tahan lebih tinggi (80-100% setelah 24 bulan)
dibandingkan seedling alami (Kairo et al., 2001).
REGENERASI BUATAN Bibit mangrove dapat pula diperoleh dengan
mencangkok, misalnya pada Rhizophora mangle,
Regenerasi mangrove secara alami dapat berlang- Avicennia germinans, dan Laguncularia racemosa
sung lambat, karena perubahan kondisi tanah, pola (Calton dan Moffler, 1978). Keberhasilan teknik ini
hidrologi, dan terhambatnya suplai bibit. Regenerasi tergantung spesies, terdapat perbedaan signifikan
buatan pertama-tama harus memperbaiki pola hidro- (p<0,001) keberhasilan pertumbuhan akar antara
logi dan penanaman hanya dilakukan jika rekrutmen Sonneratia alba (58,8%), Lumnitzera racemosa
alami tidak mencukupi atau kondisi tanah mengha- (36,5%), dan Xylocarpus granatum (4,4%).
langi pemantapan alami. Penanaman mangrove telah Regenerasi buatan memiliki beberapa keuntungan
berhasil dilaksanakan di Indonesia, Malaysia, India, antara lain: distribusi dan komposisi spesies dapat
Filipina, Thailand, dan Vietnam. Kebanyakan spesies diatur, tumbuhan dapat diperkaya secara genetik, dan
yang ditanam termasuk dalam famili Rhizophoraceae, serangan hama dapat dikendalikan (Field, 1998a).
Avicenniaceae, dan Sonneratiaceae (Kairo et al.,
2001). Teknik regenerasi buatan umumnya
menggunakan propagul, kadang-kadang anak pohon SPESIES YANG DITANAM
(tinggi < 1,2 m), tetapi jarang menggunakan pohon
kecil (tinggi > 6 m). Metode ini sudah digunakan sejak Informasi teknik pembibitan mangrove memusat
Watson (1928) hingga kini (Kogo et al., 1987, pada beberapa spesies mangrove mayor. Dari sekitar
Qureshi, 1990, Siddique et al., 1993). 60 spesies pohon dan semak mangrove mayor dan
Propagul Rhizophora sering dipilih karena memiliki minor, serta sekitar 20 spesies tumbuhan asosiasi,
hipokotil panjang sehingga dapat ditancapkan hanya 12 spesies yang biasa digunakan untuk
langsung di lapangan, namun teknik ini tidak dapat restorasi, yaitu Rhizophora, Avicennia, Sonneratia,
digunakan pada anggota genus mangrove lain. Pada Bruguiera, Heritiera, Lumnitzera, Ceriops, Excoe-
umumnya, propagul ditanam dengan jarak 1 meter caria, Xylocarpus, Nypa, Cassurina, dan Hibiscus.
(10.000 per ha). Pada mangrove, angka kematian Penentuan spesies yang dipilih tergantung pada
bibit awal relatif rendah, tetapi tingkat daya hidup tekstur tanah, kadar garam, dan lama penggenangan,
yang diharapkan biasanya hanya sekitar 50%, serta iklim mikro lainnya (Choudhury, 1996; 2000).
sehingga diperoleh kepadatan hutan mangrove Di kebanyakan negara, pada mulanya penanaman
dewasa yang ideal, sekitar 1.000 pohon per hektar (1 mangrove dilakukan dengan propagul atau seedling
pohon per 10 m2). Penanaman anak pohon sebaiknya yang dikumpulkan dari lantai hutan. Sekarang
dilakukan pada awal musim hujan, meskipun dapat material yang digunakan adalah seedling alami, biji
pula ditanam sepanjang tahun (Kairo et al., 2001). atau propagul, dan seedling pembibitan. Hutan
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 1
Tabel 2. Teknik penanaman beberapa spesies mangrove yang utama di Bali (Kitamura dkk., 1997).

Rhizophora Rhizophora apiculata Bruguiera Sonneratia alba Avicennia marina Ceriops tagal Xylocarpus
mucronata gymnorrhiza granatum
Musim buah September-Desember Desember-Pebruari Mei-Desember April-Juni dan Desember-Pebruari Agustus-Desember September-Desember
September-Oktober
Kriteria buah Kotiledon hijau muda Kotiledon merah, Kotiledon hijau tua Buah jatuh dari pohon, Berat buah tanpa Kotiledon kuning, Buah kuning hingga
atau kuning, panjang > panjang > 20 cm, hingga merah, biji mengapung di air kelopak 1,5 g, panjang panjang > 20 cm, cokelat, permukaan
50 cm, dipilih propagul diameter > 1,4 cm, panjang > 20 cm. tawar. > 1,8 cm. Sebelum dipilih propagul yang biji cokelat kekuningan
yang bebas penyakit. dipilih propagul yang ditanam direndam air bebas penyakit. dengan bintik-bintik
bebas penyakit semalam untuk kelabu, tali ari tampak.
membuang kulitnya.
Media tanam Tanah tepi tambak. Tanah tepi tambak. Tanah tepi tambak. Tanah yang dicampur Tanah tepi tambak. Tanah tepi tambak. Tanah tepi tambak.
30% pupuk kandang.
Pembibitan Propagul ditancapkan Propagul ditancapkan Propagul ditancapkan Biji dipendam sedalam Biji dipendam sedalam Biji dipendam Biji diletakkan di atas
sedalam 10 cm. sedalam 5 cm. sedalam 5 cm. separuh panjangnya, 1/3 panjangnya, sedalam 5 cm. tanah dengan posisi
dua biji per pot. diletakkan bebas dari radikula di bawah.
pasang surut hingga
berakar.
Naungan 50% 50%. 30%. 30%. 30%. 50%. 30%.
Pengairan Mengikuti arus Mengikuti arus Mengikuti arus Mengikuti arus Disiram dua kali Mengikuti arus pasang Mengikuti arus pasang
pasang-surut. pasang-surut. pasang-surut. pasang-surut dan sehari pada saat tidak surut, dan disiram surut, dan disiram
pengairan buatan ada pasang, dan pada saat air surut. pada saat air surut.
setiap hari. sekali ketika ada
pasang, saat air surut.
Hama dan penyakit Kepiting, ulat, dan Tidak ada yang cukup Tidak ada yang cukup Tikus, kepiting, dan Tikus, kepiting, dan Tidak ada yang cukup Tidak ada yang cukup
kumbang. berarti. berarti. ulat. ulat. berarti. berarti.
Cara mengatasi Kepiting memakan Tikus memakan biji, Tikus memakan biji, ,
propagul baru, diatasi daun muda dan tunas diatasi dengan
dengan meletakkan muda, diatasi dengan memasang jaring
pangkal bibit setinggi memasang jaring keliling kebun.
20 cm di atas dasar. keliling kebun. Kepiting memakan
Ulat dan kumbang Kepiting memakan tunas muda dan daun,
memakan ujung tunas muda dan daun, diatasi dengan
propagul, diatasi diatasi dengan memasang lembaran
secara manual. memasang lembaran plastik keliling kebun.
plastik keliling kebun. Ulat diatasi dengan
Ulat diatasi dengan memasang jaring
memasang jaring halus keliling kebun.
halus keliling kebun.
Lama pembibitan 4-5 bulan, tinggi 4-5 bulan, tinggi 3-4 bulan, tinggi 5-6 bulan, tinggi 3-4 bulan, tinggi 6-7 bulan, tinggi 3-4 bulan, tinggi
seedling > 55 cm, seedling > 30 cm, seedling > 35 cm, seedling > 15 cm, seedling > 30 cm, seedling > 20 cm, seedling > 20 cm,
jumlah daun 2 pasang. jumlah daun 2 pasang. jumlah daun > 3 jumlah daun > 3 jumlah daun > 3 jumlah daun > 2 jumlah daun > 2
pasang. pasang. pasang. pasang. pasang.
Penanaman Polibag dibuang dan Polibag dibuang dan Polibag dibuang dan Polibag dibuang. Polibag dibuang. Polibag dibuang dan Polibag dibuang.
1/3 bagian propagul 1/3 bagian propagul 1/3 bagian propagul 1/3 bagian propagul
dibenamkan. dibenamkan. dibenamkan, pada dibenamkan.
penaman langsung
kelopak tidak dibuang.
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 115

mangrove alami biasanya memiliki sejumlah besar Malaysia biasanya dipilih propagul dalam praktek
seedling alami. Mereka sering kali sama tingginya penanaman, sehingga spesies yang ditanam
umurnya bervariasi mulai dari 1-6 tahun. Seedling umumnya Rhizophora (Choudhury, 2000).
alami yang bangsor, halus, dan sehat memiliki Penanaman mangrove memerlukan masa
kemampuan tumbuh lebih baik (Choudhury, 1996). perawatan intensif sekitar 75 hari setelah tanam,
Penggunaan biji dan propagul di penghutanan dimana diperlukan penggantian bibit yang tersapu
mangrove biasa dilakukan, khususnya propagul ombak, tererosi, dimakan kepiting, bibit yang tidak
vivipar. Beberapa spesies tumbuhan mangrove sehat dan mati serta menjaga drainase, membuang
memerlukan kebun pembibitan. Di Bali, pembibitan sampah, dan menjaga dari erosi. Semak-semak
dilakukan terhadap Rhizophora mucronata, mangrove yang tebal dapat terbentuk setelah 5
Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza, tahun. Adapun pohon mangrove dewasa dengan
Sonneratia alba, Avicennia marina, Ceriops tagal, dan tinggi lebih dari 5 m, akar penyangga kuat, rangkaian
Xylocarpus granatum (Kitamura dkk., 1997). Di Jawa, akar nafas luas, dan kanopi rapat dapat terbentuk
pembibitan umumnya dilakukan terhadap Rhizophora dalam waktu 15 tahun (Choudhury, 1996). Perbedaan
spp. seperti dilakukan kelompok tani di pesisir signifikan komposisi dan keanekaragaman fauna
Rembang, Probolinggo, dan Perhutani di Indramayu. mulai teramati 5 tahun setelah penanaman.
Para petani membibitkan Rhizophora untuk Kepadatan makrofauna tanah pada ekosistem yang
memenuhi kebutuhan proyek-proyek restorasi direstorasi lebih tinggi daripada ekosistem yang
mangrove. Proyek-proyek ini sering kali identik dibiarkan terbuka, serta sama dengan ekosistem
dengan penanaman bakau yang memiliki bentuk alami (Kairo et al., 2001).
perakaran khas. Masyarakat di pantai utara Jawa
juga biasa menggunakan seedling alami Rhizophora,
Avicennia dan Sonneratia untuk menguatkan tanggul- PEMANTAUAN AREA RESTORASI
tanggul tambak, terutama yang berbatasan langsung
dengan sungai atau laut (ADS, 2002-2003,
pengamatan pribadi). Area restorasi mangrove perlu dipantau (Tabel 3).

Tabel 3. Aktivitas pemantauan setelah penanaman


mangrove (Field, 1998b).
TEKNIK PEMBIBITAN DAN PENANAMAN
Aktivitas Tindakan di lapangan
Di Bali, pembibitan dilakukan di kebun persemaian Memantau Mengecek kebenaran asal usul
yang letaknya di lokasi mangrove, sehingga bibit perkembangan spesies propagul dan biji
dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan di area Memantau laju Mengamati kerapatan sapling
penanaman. Seedling ditanam dalam polibag yang pertumbuhan sejalan dan pohon, diameter batang,
diisi tanah, dimana penyiraman umumnya mengikuti dengan umur tinggi dan volume pohon.
arus pasang laut. Penanaman langsung propagul Mengukur pertambahan tahunan.
Rhizophora dimungkinkan pada lokasi yang dangkal Memantau Mengamati struktur batang,
(Kitamura dkk., 1997). Di Rembang, pembibitan tidak pertumbuhan sifat-sifat nodus, fenologi, pembuahan,
dilakukan pada area khusus, tetapi di bawah tegakan khusus serta resistensi terhadap hama
dan penyakit.
mangrove yang agak terbuka atau di tepian area
Mencatat tingkat Menyiapkan penjelasan ilmiah
mangrove, pada batas dengan daratan. Propagul kegagalan anak pohon mengenai kegagalan ini.
ditanam pada polibag yang cukup tinggi untuk Mencatat tingkat Mencatat asal sampah dan
mengurangi pemangsaan oleh kepiting (ADS, 2002- akumulasi sampah langkah yang diambil untuk
2003, pengamatan pribadi). Cara pembibitan mengatasinya.
berbagai spesies mangrove antara lain dipublikasikan Mengatur kerapatan Mencatat tingkat kelebatan,
oleh Choudhury (1994, 1996, 2000) berdasarkan seedling dan anak regenerasi buatan atau alami.
penelitian di Banglades, namun dalam tulisan ini pohon pada tingkat Mencatat pertumbuhan pohon.
hanya dikemukan cara pembibitan mangrove tujuh optimum
Memperkirakan total Mencatat semua pengeluaran,
spesies di Bali oleh Kitamura et al. (1997), mengingat
biaya akhir proyek meliputi persiapan lokasi, koleksi
kedekatan ekosistemnya dengan Jawa (Tabel 2.). restorasi propagul, pembibitan di kebun,
Penanaman seedling umumnya dilakukan pada penanaman di lapangan dan
bulan Desember s.d. Januari, pada awal musim lain-lain.
hujan. Waktu penanaman juga memperhatikan kalen- Memantau dampak Hal ini merupakan catatan
der hijriah, dimana penanaman dilakukan seminggu penebangan hutan restorasi jangka panjang
setelah tanggal 14 atau 15 saat pasang sedang mangrove di sekitarnya
rendah. Bibit yang digunakan biasanya berketinggian Memantau sifat-sifat Mengukuran secara terinci
sekitar 60 cm, bibit yang lebih tinggi dapat ditanam ekosistem mangrove mengenai fauna, flora dan
yang direstorasi parameter lingkungan dari
pada area dengan tingkat penggenangan lebih ekosistem hasil restorasi dan
dalam, tetapi bibit dengan ketinggian lebih dari 1,5 m membandingkannya dengan
sebaiknya tidak digunakan. Di Indonesia dan ekosistem mangrove alami.
116 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

Pemantauan tumbuhan mangrove yang telah Baowen, L. 1997. The present situation and prospects of mangrove
afforestation in China. World Forestry Congress 1997.
ditanam sangat diperlukan untuk menjamin
Brinkman, R., and V.P. Singh, 1982. Rapid reclamation of
keberhasilan program restorasi. Parameter yang fishponds on acid sulphate soils. In Dost, H. & N. van Breemen
perlu diperhatikan dalam proyek restorasi disajikan (ed.). Proceedings of the Bangkok Symposium on Acid
pada Tabel 3. Aktivitas ini serupa dengan aktivitas Sulphate Soils. ILRI. Wageningen, Nederlands, Publication 31:
318-330.
yang dilakukan pada proyek kehutanan pada
Brockmeyer, R.E. Jr., J.R. Rey, R.W. Virnstein, R.G. Gilmore, and
umumnya (Field, 1998b). L. Ernest. 1997. Rehabilitation of impounded estuarine
wetlands by hydrologic reconnection to the Indian River
Lagoon, Florida (USA). Wetlands Ecology and Management 4
(2): 93-109.
PENUTUP
Cairns, J. 1988 Restoration ecology: the new frontier. In
Restoration of Damaged Ecosystems, Volume 1. Boca Raton,
Mangrove merupakan ekosistem yang Flo.: CRC Press.
menghubungkan hidupan laut dan daratan, serta Calton, J.M. and M.D. Moffler. 1978. Propagation of mangroves by
air-layering. Environmental Conservation 5: 147-150
menjadi daerah penyangga dan ekoton antar kedua
Chapman, V.J. 1976. Mangrove Vegetation. Liechtenstein:
hidupan tersebut. Semua aktivitas yang dilakukan di J.Cramer Verlag.
darat dan di laut dapat mempengaruhi eksistensi Choudhury, J.K. 1994. Mangrove re-afforestation in Bangladesh.
ekosistem ini. Nilai penting ekosistem mangrove telah Proceedings on the Workshop on ITTO Project Development
and Dissemination of Re-afforestation Techniques on
diketahui secara luas, namun hingga kini penurunan
Mangrove Forests: 18-20 April 1994. Bangkok Thailand.
luasan mangrove di seluruh dunia yang terus Choudhury, J.K. 1996. Mangrove forest management. Mangrove
berlanjut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan Rehabilitation and Management Project in Sulawesi. Jakarta:
antara teori yang menyatakan perlunya pemanfaatan Asia Development Bank.
Choudhury, J.K. 2000. Sustainable management of coastal
ekosistem mangrove secara lestari dan praktek yang
mangrove forest development and social needs. Mangroves
menunjukkan dilaksanakannya pemanfaatan secara and Other Coastal Forests. www.fao.org/montes/
tidak lestari. Mangrove merupakan ekosistem yang foda/wforcong/ PUBLI/PDF/V6E_T386.PDF.
sangat viabel. Ekosistem mangrove yang rusak dapat Chowdhury, R.A., and I. Ahmed. 1994. History of forest
management. In Hussain Z. and G. Acharya (ed.). Mangroves
memulihkan diri sepanjang faktor-faktor lingkungan
of the Sundarbans, Vol. 2: Bangladesh. Gland, Switzerland:
seperti pola hidrologi, kondisi tanah, dan ketersediaan IUCN Wetlands Program.
propagul mendukung, namun pada kondisi daya Cintron-Molero, G. 1992. Restoring mangrove systems. In Thayer,
lenting terpatahkan perlu dilakukan campur tangan G.W. (ed.). Restoring the Nation’s Marine Environment.
Maryland: Maryland Seagrant Program, College Park.
dengan melakukan regenerasi secara buatan. Teknik
Crewz, D.W. and R.R. Lewis. 1991. An evaluation of historical
manajemen mangrove yang ada saat ini sering kali attempts to establish emergent vegetation in marine wetlands
gagal untuk mempertahankan kelestarian sumber in Florida. Florida Sea Grant Technical Publication No. 60,
daya ini. Untuk itu perlu dilakukan pendekatan yang Gainesville, Flo:.Florida Sea Grant College.
Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, and N. Koedam.
lebih luas dengan mengintegrasikan manajemen
1997. Food preferences of Neosarmatium meinerti de Man
kawasan pesisir, dengan memasukkan unsur-unsur (Decapoda: Sesarminae) and its possible effect on the
penting seperti ekologi, sosial ekonomi, dan sosial regeneration of mangroves. Hydrobiologia 347: 83-89
budaya sehingga dapat memenuhi hajat hidup orang Dahdouh-Guebas, F., M. Verneirt, J.F. Tack, D. Van Speybroeck,
and N. Koedam. 1998. Propagule predators in Kenyan
banyak, sekaligus memelihara biodiversitas secara
mangroves and their possible effect on regeneration. Marine
luas. and Freshwater Research 49: 345-350
Detweiler, T.E., F.M. Dunstan, R.R. Lewis, and W.K. Fehring. 1976.
Patterns of secondary succession in a mangrove community.
Proceedings of the Second Annual Conference on Restoration
DAFTAR PUSTAKA of Coastal Plant Communities in Florida. Tampa, FL:
Hillsborough Community College.
Aksornkoae, S. 1996. Reforestation in mangrove forests in Duke, N. 1996. Mangrove reforestation in Panama: an evaluation of
Thailand, A case study in Pattani Province. In Field, C.D. (ed.) planting areas deforested by a large oil spill. In: Field C. (ed.)
Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International Restoration of Mangrove Ecosystems. Okinawa: International
Society for Mangrove Ecosystems. Tropical Timber Organization and International Society for
Alongi, D.M. 1994. The role of bacteria in nutrient recycling in Mangrove Ecosystems.
tropical mangrove and other coastal benthic ecosystems. Dutrieux, E., F.Martin, and A. Debry. 1990. Growth and mortality of
Hydrobiologia 285: 19-32. Sonneratia caseolaris planted on an experimentally oil-
Anonim. 1991. Application social forestry strategy by using polluted soil. Marine Pollution Bulletin 21: 62-68.
silvofishery system for supporting national food production. FAO. 1985. Mangrove Management in Thailand, Malaysia and
Bandung: Perum Perhutani Unit III West Java. Indonesia. Rome: FAO Environment Paper.
Anonim. 1997. Empang parit di Desa Randusanga Kulon, FAO. 1994. Mangrove Forest Management Guidelines. Rome: FAO
Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Kehutanan Indonesia Forestry Paper.
6: 31-34. Field, C. 1996. Restoration of mangrove Ecosystems. Okinawa:
Anonim. 2001. Mangroves, Multi-Species Recovery Plan for South International Tropical Timber Organization and International
Florida. southeast.fws.gov/vbpdfs/commun/mn.pdf. Society for Mangrove Ecosystems.
Anonim. 2003. Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove di Field, C. 1998a. Rationales and practices of mangrove
Indonesia. Jakarta: Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup. afforestation. Marine and Freshwater Research 49: 353-358
Bacon, P.R. 1987. Use of wetlands for tourism in the insular Field, C. 1998b. Rehabilitation of mangrove ecosystems: an
Caribbean. Annals of Tourism Research 14: 104-117. overview. Marine Pollution Bulletin 37: 383-392
Ball, M. C. 1980. Patterns of secondary succession in a mangrove Fitzgerald, B. 2002. Case study 5: integrated mangrove forest and
forest in south Florida. Oecologia (Berl.) 44: 226-235. aquaculture systems (silvofisheries) in Indonesia. In Macintosh
D.J., M.J. Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the
B I O D I V E R S I T AS Vol. 5, No. 2, Juli 2004, hal. 105-118 117

Thematic Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp Kompas, 15/08/2002. Parah Abrasi di Pantura
Aquaculture. Case studies 1-6. Report prepared under the Kusler, J.A. and M.E. Kentula. 1990. Wetland Creation and
World Bank, NACA, WWF and FAO Consortium Program on Restoration: The Status of the Science. Washington: Island
Shrimp Farming and the Environment. Work in Progress for Press.
Public Discussion. Published by the Consortium. La Rue, C.D. and T.J. Muzik. 1954. Does mangrove really plant its
Fitzgerald, B. and L.A. Savitri. 2002. Case study 6: integration of seedling. Nature 114: 661-662
silvofisheries into coastal management and mangrove Lewis, R.R. 1982. Low marshes, peninsular Florida. In Lewis, R.R.
rehabilitation in Java, Indonesia. In Macintosh D.J., M.J. (ed.). Creation and restoration of coastal plant communities
Phillips, R.R. Lewis, and B. Clough. Annexes to the Thematic Boca Raton, FL.: CRC Press.
Review on Coastal Wetland Habitats and Shrimp Aquaculture. Lewis, R.R. 1990a Creation and restoration of coastal wetlands in
Case studies 1-6. Report prepared under the World Bank, Puerto Rico and the US Virgin Islands. In Kusler, J.A. and M.E.
NACA, WWF and FAO Consortium Program on Shrimp Kentula (ed.) Wetland Creation and Restoration: The Status of
Farming and the Environment. Work in Progress for Public Science. Washington: Island Press.
Discussion. Published by the Consortium. Lewis, R.R. 1990b. Wetlands restoration/creation/enhancement
Fitzgerald, W.J. 1997. Silvofisheries-an environmentally sensitive terminology: suggestions for standardization. In J.A. Kusler and
integrated mangrove forest and aquaculture system. M.E. Kentula (eds.) Wetland Creation and Restoration: The
Aquaculture Asia 2 (3): 9-17. Status of the Science. Island Press, Washington, D.C., USA.
Gill, A. M. 1971. Mangroves-is the tide of public opinion turning? Lewis, R.R. 1992. Coastal habitat restoration as a fishery
Fairchild Tropical Garden Bulletin 26: 5-9. management tool. In Stroud, R.H. (ed.) Stemming the Tide of
Hamilton, L.S. and S.C. Snedaker. 1984. Handbook for Mangrove Coastal Fish Habitat Loss; Proceedings of a Symposium on
Area Management. Honolulu: Environment and Policy Institute, Conservation of Coastal Fish Habitat, Baltimore, MD, USA,
East-West Center. March 7-9 1991. National Coalition for Marine Conservation,
Hannan, J. 1975. Aspects of red mangrove reforestation in Florida. Inc., Savannah, Georgia, USA.
Proceedings of the Second Annual Conference on the Lewis, R.R. and M.J. Marshall. 1997. Principles of successful
Restoration of Coastal Vegetation in Florida. restoration of shrimp aquaculture ponds back to mangrove
Hardjosuwarno, S. 1989. The impact of oil refinery on the forests. Programa/resumes de Marcuba ‘97, September 15/20,
mangrove vegetation. BIOTROP Special Publications 37: 187- Palacio de Convenciones de La Habana, Cuba.
192. Lewis, R.R., and B. Streever. 2000. Restoration of mangrove
Hartina, 1996. Evaluasi Usaha Tumpang Sari Empang Parit di RPH habitat. WRP Technical Notes Collection (ERDC TN-WRP-VN-
Cemara, BKPH Indramayu, KPH Indramayu. [Tesis]. RS-3.2). Vicksburg, MS.: U.S. Army Engineer Research and
Yogyakarta: Program Pascasarjana UGM. Development Center. www.wes.army.mil/el/wrp.
Hassan, H.H.A. 1981. A Working Plan for the Second 30-year Lewis, R.R., J.A. Kusler, and K.L. Erwin. 1995. Lessons learned
Rotation of the Matang Mangrove Forest Reserve Perak 1980- from five decades of wetland restoration and creation in North
89. Perak, Malaysia: State Forestry Department Publication. America. pp. 107-122 In Montes, C., G. Oliver, F. Molina, and
Hoffman, W.E., M.J. Durako, and R.R. Lewis. 1985. Habitat J. Cobos (eds.) Bases Ecologicas para la Restauracion de
restoration in Tampa bay. In: Simon, S.A.F., R.R. Lewis, and Humedales en la Cuenca Mediterranea. Proceedings of a
R.R. Whiman. (eds.) Treat, Proc. Tampa Bay Area Scientific meeting held at the University of La Rabida, Spain. 7-l 1 June
Inf. Symp. Tampa: Florida Sea Grant College & Bellwether 1993. Junta de Andaluca, Spain.
Press. Lin, J. And J.L. Beal. 1995. Effects of mangrove marsh
IPIECA. 1993. Biological Impact of Oil Pollution: Mangroves. management on fish and decapod communities. Bulletin of
IPIECA Report No. 4. London: International Petroleum Industry Marine Sciences 57: 193-201.
Environmental Conservation Association. Loyche M. 1989. Mangrove of West Africa — the forest within the
Jimenez, JjA. 1990. The structure and function of dry weather sea. Mangroves and Fish. IDAF Newsletter 9: 18-31
mangroves on the Pacific coast of Central America, with McKee, K.L., and P.L. Faulkner. 2000. Restoration of
emphasis on Avicennia bicolor forests. Estuaries 13: 182-192 biogeochemical function in mangrove forests. Restoration
Kairo, J.G., F Dahdouh-Guebas, J. Bosire, and N. Koedam. 2001. Ecology 8: 274-259
Restoration and management of mangrove systems — a McPhaden, M.J. 1999. Genesis and evolution of the 1997-1998 El-Nino.
lesson for and from the East African region. South African Science 283: 950-954.
Journal of Botany 67: 383-389. Media Indonesia, 03/10/2003. Abrasi Pantura Tangerang Makin
Kaly, U.L. and G.P. Jones. 1996. Mangrove Restoration: a Mengkhawatirkan
Potential Tool for Ecosystem Management of Coastal Media Indonesia, 08/04/2003. 20 Km Pantura Cirebon dan
Fisheries. Queensland: Department of Marine Biology, James Indramayu Mengalami Abrasi
Cook University, Queensland, Australia. Media Indonesia, 15/09/2003. Nelayan Keluhkan Pengerukan Pasir
Khoon, G.W. and O.J. Eong. 1995. The use of demographic Laut
studies in mangrove silviculture. Hydrobiologia 295: 255-261. Media Indonesia, 17/06/2002. 124 Pantai di Indonesia Mengalami
Kitamura, S., C. Anwar, A. Chaniago, and S. Baba. 1997. Kerusakan
Handbook of Mangroves in Indonesia; Bal & Lombok. Media Indonesia, 19/08/2002. Desa-desa di Pesisir Tangerang
Denpasar: The Development of Sustainable Mangrove Makin Terancam Abrasi
Management Project, Ministry of Forest Indonesia and Japan Media Indonesia, 28/07/2003. Ribuan Hektare Tambak di Brebes,
International Cooperation Agency. Cirebon, dan Indramayu Lenyap Terkena Abrasi
Knutson, P.L., J.C. Ford, M.R. Inskeep, and J. Oyler. 1981. Media Indonesia, 31/05/2002. Pantai Slamaran di Pekalongan
National survey of planted salt marshes (vegetative Alami Abrasi
stabilization and wave stress), Journal of the Society of Mish, F.C. (ed.). 1989. Webster’s ninth new collegiate dictionary.
Wetland Scientists 1, 129-156. Springfield, MS.: Merriam-Webster Inc.
Kogo, M., D. Kamimura, and T. Miyagi. 1987. Research for Morrison, D. 1990. Landscape restoration in response to previous
rehabilitation/reforestation of mangroves in Truk Island. In: disturbance. In: Turner, M.G. (ed.) Landscape Heterogeneity
Mangroves of Asia and the Pacific: Status and Management. and Disturbance. New York: Springer-Verlag.
Technical Report of the UNDP/UNESCO Research and Noakes, D.S.P. 1951. Notes on the silviculture of the mangrove
Training Pilot Programme on Mangrove Ecosystems in Asia forest of Matang, Perak. Malaysian Forester 14: 183-196.
and the Pacific (RAS/79/002). Quezon City, Phillipines: Othman, M.A. 1994. Value of mangroves in coastal protection.
UNESCO. Hydrobiologia 285: 277-282.
Kompas, 06/08/2002. 29 Hektar Pantai Muara Reja Terkena Abrasi Phillips, R.C. and C.P. McRoy (eds.). 1980. Handbook of Seagrass
Kompas, 06/10/2003. Reklamasi Pantai Jakarta Memperparah Biology and Ecosystem Perspective. New York: Garland STPM
Abrasi Press.
Kompas, 10/11/2002. Pantai Dadap Direklamasi Untuk Tempat Pikiran Rakyat, 04/04/2002. Pantai Pakisjaya Dikeruk Warga
Wisata Khawatirkan Abrasi.
118 SETYAWAN dkk. – Ekosistem mangrove di Jawa: 2. Restorasi

Pikiran Rakyat, 14/03/2003. Ribuan Hektare Pantai Habis Digerus Soemodihardjo, S., P. Wiroatmodjo, F. Mulia, and M.K. Harahap.
Abrasi. 1996 Mangroves in Indonesia, a case study of Tembilahan,
Pikiran Rakyat, 27/12/2002. 20 Kilometer Pantai Rusak Karena Sumatra. In Fields, C. (ed.) Restoration of Mangrove
Abrasi. Ecosystems. Okinawa: International Society for Mangrove
Pratt, J.R. 1994. Artificial habitats and ecosystem restoration: Ecosystems.
Managing for the future. Bulletin of Marine Sciences 55: 268- Stevenson, N.J., R.R. Lewis, and P.R. Burbridge. 1999. Disused
275. shrimp ponds and mangrove rehabilitation. In Streever, W.
Primavera, J.H. 1995. Mangroves and brackish water pond culture (ed.). An International Perspective on Wetland Rehabilitation.
in the Philippines. Hydrobiologia 295: 303-309. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Primavera, J.H. and R.F. Agbayani. 1996. Comparative strategies Streever, W. (ed.). 1999. An International Perspective on Wetland
in community based mangrove rehabilitation programs in the Rehabilitation. Dordrecht: Kluwer Academic Publishers.
Philippines. Proceedings of the ECOTONE V Regional Suara Merdeka, 09/04/2003. Kampanye Tanam Bakau di
Seminar: Community Participation In Conservation, Telukawur.
Sustainable Use and Rehabilitation of Mangroves In Southeast Suara Merdeka, 26/01/2003. Abrasi Pantai di Kendal dan Demak.
Asia. Ho Chi Minh City, Vietnam, 8-12 January, 1996. Suara Pembaruan, 03/03/2002. Pengelolaan Pesisir Harus
Mangrove Ecosystem Research Centre (MERC), and Vietnam Libatkan Warga Lokal
National University. Suara Pembaruan, 07/07/2002. Abrasi Mengancam Desa
Pulver, T.R. 1975. Suggested mangrove transplanting techniques. Limbangan
Proceedings of the Second Annual Conference on the Suara Pembaruan, 11/12/2002. Pendangkalan dan Abrasi di Jawa
Restoration of Coastal Vegetation in Florida. Mengkhawatirkan
Qureshi MT. 1990. Experimental plantation for rehabilitation of Suara Pembaruan, 19/04/2003. 25.000 Batang Mangrove Ditanam
mangrove forests in Pakistan. Mangrove Ecosystem di Segara Anakan
Occasional Papers 4. UNESCO, COMAR, UNDP Suara Pembaruan, 30/06/2002. Dilema Lingkungan Akibat Tambak
Rabinowitz, D. 1978. Early growth of mangrove seedlings in Udang
Panama, and hypothesis concerning the relationship of Tampa, S. and P. Tampa. 1988. Establishment and growth of
dispersal and zonation. Journal of Biogeography 5: 113-133. mangrove seedlings in mangrove forests of southern Thailand.
Republika Online, 15/07/2002. Kawasan Pantai Sidoarjo Akan Ecological Research 3: 227-238.
Ditanami 20.000 Pohon Mangrove. Tang, H.T. 1978. Regeneration stocking adequacy standards.
Republika Online, 15/07/2003. Sejumlah Tambak Terkena Dampak Malaysian Forester 41: 176-182
Abrasi. Teas, H.J. 1977. Ecology and restoration of mangrove shorelines in
Republika Online, 17/04/2002. Abrasi Laut Ancam Permukiman Florida. Environmental Conservation 4: 51-58
Ratusan Warga Indramayu. Teas, H.J. 1980. Saline silviculture. 2nd International Workshop on
Saenger, P. and N.A. Siddique. 1993. Land from the sea: the Biosaline Research, La Paz, Baja, California sur, Mexico.
mangrove afforestation proqramme of Bangladesh. Ocean and Teas, H.J., W. Jurgens, and M.C. Kimball. 1975. Planting of red
Coastal Management 20: 23-29. mangroves (Rhizophora mangle L.). In: Lewis RR (ed.)
Sanyal, P. 1998. Rehabilitation of degraded mangrove forests of Proceedings of the 2nd Annual Conference on the Restoration
the Sunderbans of India. Program of the International of Coastal Vegetation, Florida; May 17, 1975, Hillsborough
Workshop on the Rehabilitation of Degraded Coastal Systems. Community College, Tampa, Florida.
Phuket Marine Biological Center, Phuket, Thailand. 19-24 Tessar, B. dan K.I. Insan. 1993. Melacak gubug akhir hutan bakau.
January 1998. Warta Konservasi Lahan Basah 2 (2): 8-9.
.
Setyawan, A.D., K. Winarno, P.C. Purnama 2003. REVIEW: Thorhaug, A. 1990. Restoration of mangroves and seagrasses-
Ekosistem Mangrove di Jawa: 1. Kondisi Terkini. Biodiversitas economic benefits for fisheries and mariculture. In Berger, J.J.
4 (2): 133-145. (ed.) Environmental Restoration: Science and strategies for
Siddique, N.A., M.R. Islam, M.A.S. Khan, and M. Shahidullah. restoring the earth ed. Washington, D.C.: Island Press.
1993. Mangrove nurseries in Bangladesh. International Society Turner, R.E. and R.R. Lewis. 1997. Hydrologic restoration of
for Mangrove Ecosys stems Occasional Papers No.1. Okinawa: coastal wetlands. Wetlands Ecology and Management 4 (2):
International Society for Mangrove Ecosystems. 65-72.
Simberloff, D. 1990. Reconstructing the ambiguous: Can island van Speybroeck, D. 1992. Regeneration strategy of mangroves
ecosystems be restored? In Towns, D.R., C.H. Daugherty, and along the Kenyan coast: A first approach. Hydrobiologia 247:
I.A.E. Atkinson. Ecological Restoration of New Zealand Islands; 243-251
Conservation Sciences Publication No. 2. Wellington: Watson, J.G. 1928. Mangrove forests of the Malay Peninsula.
Department of Conservation, New Zealand. Kulala Lumpur: Malaysian Forest Records No. 6
Smith, T.J. 1987a. Seed predation in relation to tree dominance Whitten, T., R.E. Soeriaatmadja, and S.A. Afiff. 2000. The Ecology
and distribution in mangrove forests. Ecology 68: 266-273. of Java and Bali. Singapore: Periplus.
Smith, T.J. 1987b. Effects of seed predators and light level on the Widiarti, A. and R. Effendi. 1989. Socio-economic aspects of
distribution of Avicennia marina (Forsk.) Vierh. in tropical, tidal brackishwater pond forest in mangrove forest complex.
forests. Estuarine, Coastal and Shelf Science 25: 43-51. Symposium Mangrove Management in Indonesia. Biotrop
Smith, T.J. 1987c. The influence of seed predators on structure and Special Publication No. 37: 275-279.
succession in tropical tidal forests. Proceedings Ecological Winarno, K. dan A.D. Setyawan. 2003. REVIEW: Penyudetan
Society Australia 15: 203-211. Sungai Citanduy, buah simalakama konservasi ekosistem
mangrove Segara Anakan. Biodiversitas 4 (1): 63-72.