Anda di halaman 1dari 17

Cherry C.

H 0707135

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam kurun waktu terakhir, program pembangunan sarana dan prasarana
khususnya di kota-kota besar mengalami peningkatan yang signifikan, seiring
dengan aktifitas manusia yang semakin hari semakin bertambah. Perkembangan
pembangunan di Indonesia pada abad 21 memang berkembang dengan pesat
antara lain pembangunan sarana dan prasarana seperti pembangunan gedung-
gedung bertingkat untuk pelayanan umum, gedung perkantoran dan bisnis,
pembangunan jalan jembatan, pembangunan jaringan DAS dan irigasi.
Pembangunan jalan merupakan salah satu sarana dan infrastruktur yang
dapat digunakan sebagai sarana transportasi jalur darat. Seperti kita ketahui bahwa
didalam pembangunan jalan tersebut terdapat beberapa perencanaan yang harus
dilalui dengan matang agar dapat terfungsikan dengan optimal.
Sampai saat ini, di Indonesia khususnya dikota – kota besar seperti Jakarta
atau di Bandung sangat dirasakan kualitas pengadaan sarana transportasi jalur
darat ini memang masih kurang baik dan terbatas. Itu terihat bahwa banyak
beberapa bukti nyata yang memang sudah tidak bisa terelakan lagi salah satunya
adalah kemacetan yang cukup parah di kedua kota besar tersebut. Kemacetan lalu
lintas itu terjadi akibat jalan di kota tersebut sudah tidak dapat menampung lagi
volume kendaraan baik roda dua maupun empat yang semakin meningkat tak
terkendali. Sehingga diharapkan adanya pengembangan pembangunan jalan darat
yang dapat meminimalisir kondisi kenyataan diatas. Salah satunya pembangunan
jalan layang (fly over) di titik rawan macet agar dapat mengurangi angka
kemacetan juga didukung dengan pengelolaan distribusi kendaraan yang akan
turun ke jalan.

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 1


Cherry C.H 0707135

1.2 Maksud dan Tujuan


Pada penyusunan laporan tugas ini, sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki dan berbagai referensi, penyusun menyajikan kajian teori tentang historis,
klasifikasi, dan spesifikasi jalan di Indonesia, sedangkan yang menjadi maksud
dan tujuan penyusunan paper ini antara lain sebagai berikut :
• Pembaca mengenal gambaran umum tentang pengertian transportasi
• Pembaca mengetahui sejarah perkembangan jalan di Indonesia
• Pembaca memahami klasifikasi dan spesifikasi jalan di Indonesia

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 2


Cherry C.H 0707135

BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Pengertian Transportasi


Transportasi dapat diartikan sebagai usaha memindahkan,menggerakkan,
mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari suatu tempat ke tempat lain,
dimana tempat lain ini objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk
tujuan-tujuan tertentu. Karena dalam pengertian di atas terdapat kata-kata usaha,
berarti transportasi merupakan sebuah proses, yakni proses pindah, proses
bergerak, proses mengangkut dan mengalihkan dimana proses ini tidak bisa
dilepaskan dari keperluan akan alat pendukung untuk menjamin lancarnya proses
perpindahan sesuai dengan waktu yang diinginkan. Alat pendukung apa yang
dipakai untuk melakukan proses pindah, gerak, angkut dan alih ini, bisa
bervariasi,tergantung pada :
• Bentuk objek yang akan dipindahkan tersebut.
• Jarak antara suatu tempat dengan tempat lain.
• Maksud objek yang aka nada dipindahkan tersebut.
Ini berarti, alat-alat pendukung yang digunakan untuk proses pindah harus cocok
dan sesuai dengan objek, jarak, dan maksud objek, baik dari segi kuantitasnya
maupun dari segi kualitasnya. Untuk mengetahui keseimbangan antara objek yang
diangkut dengan alat pendukung ini, dapatlah kita melihat ukuran ( standar )
kuantitas dan kualitas dari alat pendukung. Adapun standar kuantitas dan kualitas
alat pendukung ini dapat diidentifikasikan melalui pertanyaan-pertanyaan berikut :
• Aman: Apakah objek yang diangkut aman selama proses perpindahan dan
mencapai tujuan dalam keadaan utuh, tidak rusak atau hancur?
• Cepat: Apakah objek yang diangkut dapat mencapai tujuan sesuai dengan
batasan waktu yang telah ditentukan?
• Lancar: Apakah selama proses perpindahan, objek yang diangkut tidak
mengalami hambatan atau kendala?

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 3


Cherry C.H 0707135

• Nyaman: Apakah selama proses perpindahan objek yang diangkut terjaga


keutuhannya dan situasi bagi sipengangkut menyenangkan?
• Ekonomis: Apakah proses perpindahan memakan biaya yang tinggi dan
merugikan objek yang diangkut?
• Terjamin kesediannya: Alat pendukung selalu tersedia kapan saja objek
yang diangkut membutuhkannya, tanpa mempedulikan waktu dan tempat.
Dalam ilmu transportasi, alat pendukung ini diistilahkan dengan sistem
transportasi yang didalamnya mencakup berbagai unsure (subsistem) berikut:
• Ruang untuk bergerak (jalan).
• Tempat awal/akhir pergerakan (terminal).
• Yang bergerak (alat angkut/kendaraan dalam bentuk apapun).
• Pengelolaan: yang mengkoordinasikan ketiga unsure sebelumnya.
Berfungsinya alat pendukung proses perpindahan ini sesuai dengan yang
diinginkan, tidaklah terlepas dari kehadiran seluruh subsistem tersebut diatas
secara serentak. Masing-masing unsure itu tidak bisa hadir dan beroperasi sendiri-
sendiri, kesemuanya harus terintegrasi secara serentak. Seandainya ada salah satu
saja komponen yang tidak hadir, maka alat pendukung proses perpindahan (sistem
transportasi) tidak dapat bekerja dan berfungsi.
Untuk menjamin berfungsinya system transportasi sebagai alat pendukung
proses perpindahan, dalam merencanakan dan mengembangkan system kita harus
merencanakan dan mengembangkan seluruh komponen tersebut, baik serempak
atau salah satunya, tergantung pada kondisi dan lingkungan di mana system
transportasi tersebut beroperasi.

2.2 Historis Perkembangan Jalan di Indonesia


Sejarah perkembangan jalan di Indonesia memang bisa dikatakan diawali
dengan sejarah pembangunan jalan raya di sepanjang Anyer sampai Panarukan
oleh Gubernur Willem Daendels. Sementara bangsa Romawi mulai membangun
jalan dengan pengaturan lapisan yang lebih baik dan perencanaan yang lebih
matang, pembangunan jalan di Indonesia berkembang sedikit demi sedikit

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 4


Cherry C.H 0707135

walaupun belum dibangun dengan perkerasan dan perencanaan yang baik seperti
bangsa Romawi.
Pada ranah internasional, pada tahun 1595, ditemukan danau aspal
Trinidad oleh Sir Walter Religh. Bahan temuan ini mengawali sejarah teknologi
perkerasan yang digunakan untuk lapisan permukaan jalan. Pada tahun 1764,
Pierre Marie Jereme Tresaquet dari Perancis memperkenalkan konstruksi jalan
dengan pendekatan ilmiah. Konstruksi jalan yang direncanakan meliputi lapisan
bawah berupa batuan besar yang dilapisi oleh kerikil sebagai lapisan atas. Lapisan
bawah ini didasarkan pada teori bangsa Romawi, yaitu lapisan bawah tersebut
digunakan untuk mentransfer berat jalan itu sendiri dan berat beban yang
melaluinya ke permukaan tanah. Selain itu, lapisan bawah ini dapat melindungi
tanah dari deformasi karena berat yang dibebankan padanya dibuat merata.
Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) Pembangunan—tepatnya pelebaran1
—Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) oleh perintah Gubernur-Jenderal
(Maarschalk en Gouverneur Generaal) Herman Willem Daendels merupakan
salah satu karya yang paling fenomenal di Indonesia. Jalan raya yang panjangnya
lebih kurang mencapai 1.000-km ini melintasi berbagai kota penting di pulau
Jawa, terutama pusat-pusat pemerintahan maupun kerajaan di masa itu, yaitu dari
Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa jalan ini menjadi jalan raya nasional pertama di Indonesia.
Melalui sistem kerja paksa (Rodi), seluruh rute jalan raya tersebut dapat
diselesaikan dalam tempo 1 (satu) tahun saja, yaitu pada tahun 1809.1
Pembangunan dilaksanakan dengan membagi seluruh ruas jalan ke dalam
berpuluh- puluh segmen, yaitu dengan cara menugaskan setiap kepala
pemerintahan setempat untuk bertanggung jawab atas keterbangunnya Jalan Raya
Pos itu di wilayah mereka. Pengerahan besar-besaran jumlah tenaga kerja
dilakukan karena terdapat ancaman dari Daendels untuk membunuh para pekerja
maupun mandor termasuk kepala pemerintahan setempat bila target pembangunan
tidak tercapai.
Tujuan pembangunan jalan ini lebih ditekankan pada fungsi strategi
militer pemerintah Hindia-Belanda yaitu mempertahankan pulau Jawa dari

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 5


Cherry C.H 0707135

serangan Inggris Raya. Dengan adanya jalur transportasi ini, pemerintah Hindia-
Belanda berharap:
1) mobilisasi bantuan militer saat musuh menyerang menjadi lebih cepat;
2) dapat mengontrol pergerakan orang-orang pribumi dengan adanya patrol
patroli militer;
3) mempersingkat waktu tempuh komoditas perkebunan hasil sistem tanam
paksa(cuult ur - stelsel) dari tempat produksi hingga pelabuhan ekspor,
sehingga barang ekspor tidak rusak dan tidak jatuh harganya di pasaran; dan
4) perkembangan informasi yang terjadi begitu cepat dapat diketahui dengan
segera melalui jasa pengiriman kabar/surat.
Tidak banyak literatur yang menulis secara rinci sejarah pembuatan
berikut spesifikasi teknis Jalan Raya Pos. Akan tetapi bila menilik dari fungsi dan
waktu pembuatan, dapat diperkirakan jalan tersebut menggunakan metodeTelford-
Macadam atau paling tidak mendekati teknik tersebut. Metode tersebut ditemukan
pada akhir abad ke-18 di Eropa. Beberapa literatur menyatakan, jalan ini dibangun
tanpa perencanaan yang terlalu teknis, baik secara geometris maupun metode
perkerasan yang akan digunakan.
Thomas Telford (1757-1834) yang berkebangsaan Inggris menciptakan
konstruksi perkerasan jalan dengan menggunakan prinsip berdesak-desakannya
batu seperti pada jembatan lengkung karena ia memang ahli jembatan lengkung
dari batu. Kemiripan jalan yang ia rancang dengan jembatan lengkung adalah
penampang jalan bila dilihat secara melintang. Saat jalan (lengkungan) menerima
beban, maka konstruksi lengkung (seolah) melendut searah gaya/beban. Saat itu
terjadi, batu-batu menjadi terdesak dan saling merapat sehingga konstruksi
menjadi lebih kokoh. Namun, perkerasan ini dirasakan kurang praktis dan
memakan waktu yang cukup banyak karena batu-batu yang digunakan harus
disusun dengan tangan satu per-satu.
Pada saat yang bersamaan, tepatnya pada tahun 1815, pria Skotlandia,
John London McAdam (1756-1836) memperkenalkan konstruksi perkerasan jalan
dengan prinsip tumpang tindih menggunakan batu-batu pecah. Konstruksi ini
terdiri dari gradasi ukuran tumpukan batuan, yang berada di dasar perkerasan

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 6


Cherry C.H 0707135

adalah batu dengan ukuran yang terbesar berukuran 3—dan batu dengan ukuran
terkecil berada di permukaan perkerasan. McAdam juga membuat permukaan
jalan lebih tinggi dari lingkungan sekelilingnya, sehingga air dapat mengalir dan
tidak merusak permukaan jalan. Keunggulan perkerasan jalan metode ini adalah
dapat dibuat dengan bantuan dengan mesin sehingga metode ini dianggap sangat
berhasil. Kedua metode perkerasan tersebut selanjutnya lazim digunakan
bersamaan pada sebuah konstruksi jalan raya. Oleh karena itu, kemudian dikenal
metode perkerasan jalan Telford-Macadam seperti tersebut di atas. Kata Macadam
berasal dari nama McAdam.
Dengan sistem perkerasan jalan seperti ini, pengguna jalan seperti para
penunggang kuda, kereta kuda, kendaraan militer, maupun gerobak pengangkut
barang dapat bergerak dengan lebih leluasa. Setelah terbangunnya Jalan Raya Pos
yang juga terkadang dikenal dengan Jalan Daendels ini, perjalanan darat
Surabaya-Batavia yang sebelumnya harus ditempuh dalam waktu 40 (empat
puluh) hari bisa dicapai dalam waktu 7 (tujuh) hari saja.
Era Baru Metode Perkerasan Jalan Raya Sejak tahun 1830-an dimana
kereta api dan infrastrukturnya dibangun dimana-mana— termasuk di Pulau Jawa
(lihat gambar-2)—sistem perkerasan jalan raya dengan metode perkerasan ini
tetap dikenal hingga ditemukannya kendaraan seperti sepeda maupun kendaraan
bermotor pada akhir abad ke-19.
Pada awal abad ke-20 saat kendaraan bermotor mulai banyak dimiliki
masyarakat, timbul pemikiran untuk membangun jalan raya yang lebih
menyamankan dan aman. Kendaraan dengan mesin yang dapat melaju lebih
kencang memberikan guncangan yang lebih keras dan ini sangat tidak nyaman
bagi para pengendara saat berjalan pada jalan raya yang ada, hal ini yang
kemudian melahirkan metode perkerasan baru. Di Barat, konstruksi jalan raya
telah dikaji secara mendalam dimana mereka mulai memperhatikan seperti:
1) perhitungan tebal perkerasan;
2) konstruksi perkerasan dan lapisan penutup;
3) perencanaan geometris.

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 7


Cherry C.H 0707135

Teknologi ini segera menyebar ke seluruh dunia bersamaan dengan penjajahan


maupun kolonialisme yang terjadi di sebagian besar wilayah dunia, termasuk
Indonesia di bawah penjajahan Belanda.
Konstruksi perkerasan berlapis-lapis seperti ini dikenal dengan
konstruksisandw ich atau kue lapis, merupakan suatu konstruksi plaat elastis yang
terletak pada suatu landasan yang elastis pula (tanah dasar). Konstruksi seperti ini
termasuk sistem konstruksi statis tak tent (statisch onbepaald) bertingkat banyak.
Perbedaan kondisi tersebut dengan konstruksi statis tertentu—misalnya pada
jembatan gelagar—adalah:
a) pada konstruksi statis tertentu pembagian kekuatan-kekuatan (momen-
momen dan gaya- gaya) dari muatan pada bagian-bagian konstruksi dan
pandemen tidak bergantung pada kekuatan dan ukuran (E dan I)
bagian/batang konstruksi tersebut, sehingga perhitungan menjadi lebih
sederhana; sementara
b) pada konstruksi statis tidak tertentu pembagian kekuatan dari muatan pada
bagian konstruksi dan pandemen tergantung pada kekuatan dan ukuran (E
dan I) dari bagian konstruksi tersebut, sehingga perhitungan menjadi
rumit.
Perkembangan Metode Perkerasan Jalan Raya di Indonesia selanjutnya,
perkembangan cara perhitungan tebal konstruksi perkerasan di Indonesia
dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu
Tahap ke-1
: menitikberatkan kepada pengalaman-pengalaman di lapangan, sehingga
rumus/perhitungan yang diperoleh adalah rumus-rumus empiris;
Tahap ke-2
: menitikberatkan kepada teori dan analisis meski hanya merupakan teori
pendekatan yang dilengkapi dengan pengalaman; rumus yang diperoleh adalah
rumus-rumus teoretis yang dilengkapi dengan koefisien-koefisien hasil
pengalaman untuk keperluan praktik disertai pula dengan grafik atau nomogram;
Tahap ke-3
: mengembangkan rumus-rumus teoretis tersebut di atas dengan percobaan yang

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 8


Cherry C.H 0707135

intensif di laboratorium sehingga menghasilkan rumus/persamaan analitis yang


dilengkapi dengan rumus empiris laboratorium.
Pada tahun 1980-an diperkenalkan perkerasan jalan dengan aspal emulsi
dan butas, tetapi dalam pelaksanaan atau pemakaian aspal butas terdapat
permasalahan dalam hal variasi kadar aspalnya yang kemudian disempurnakan
pada tahun 1990 dengan teknologi beton mastik. Perkembangan konstruksi
perkerasan jalan menggunakan aspal panas (hot mix) mulai berkembang di
Indonesia pada tahun 1975, kemudian disusul dengan jenis yang lain seperti aspal
beton (asphalt concrete/AC) dan lain-lain. Teknik-teknik tersebut kebanyakan
hanya mengembangkan jenis lapisan penutup tempat dimana muatan/beban
langsung bersinggungan. Perkembangan dan inovasi tersebut dilakukan demi
menjaga keamanan dan kenyamanan pengguna jalan sekaligus diharapkan dapat
mereduksi biaya pembuatan maupun perawatan(maintenan ce ).
Konstruksi perkerasan menggunakan semen sebagai bahan pengikat telah
ditemukan pada tahun 1828 di London tetapi konstruksi perkerasan ini baru mulai
berkembang pada awal 1900-an. Konstruksi perkerasan menggunakan semen atau
concrete pavement mulai dipergunakan di Indonesia secara besar-besaran pada
awal tahun 1970 yaitu pada pembangunan Jalan Tol Prof. Sediyatmo. Metode ini
selain menghasilkan jalan yang relatif tahan terhadap air—musuh utama aspal—
juga dapat dikerjakan dalam waktu yang cukup singkat.
Secara umum perkembangan konstruksi perkerasan di Indonesia mulai
berkembang pesat sejak tahun 1970 dimana mulai diperkenalkannya
pembangunan perkerasan jalan sesuai dengan fungsinya. Sementara perencanaan
geometrik jalan seperti sekarang ini baru dikenal sekitar pertengahan tahun 1960
dan baru berkembang dengan cukup pesat sejak tahun 1980.

2.3 Klasifikasi dan Spesifikasi Jalan di Indonesia


Dalam perkembangannya pada abad ke-21 ini, jalan tidak hanya
dipandang sebagai prasarana distribusi dan komunikasi. Jalan memiliki andil yang
sangat besar dalam mengantarkan manusia ke keadaan yang kita sebut era modern
ini. Studi khusus mengenai jalan berikut perlindungannya diatur dalam peraturan-

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 9


Cherry C.H 0707135

peraturan maupun perundang-undangan resmi pemerintahan sehingga dapat


berfungsi sebagaimana mestinya.
Jalan-jalan yang ada, tentu saja tidak memiliki fungsi dan spesifikasi yang
sama antara jalan yang satu dengan yang lainnya. Masing-masing memiliki fungsi
dan spesifikasi tersendiri. Tiap jalan diklasifikasi menurut ketentuan klasifikasi
tertentu.
Berikut Pengelompokan Kelas Jalan berdasarkan seluruh klasifikasi.
A. Kelas jalan berdasarkan peruntukannya:
Pengelompokan ini dapat diklasifikasi ke dalam dua sistem, yaitu
1) Jalan Umum: jalan yang dapat digunakan oleh publik
2) Jalan Khusus: jalan yang hanya dapat digunakan oleh pihak dengan kriteria
tertentu sesuai dengan yang ditetapkan oleh pemilik jalan tersebut.
B. Kelas jalan berdasarkan sistemnya
Pengelompokan ini dapat diklasifikasi ke dalam dua sistem, yaitu Sistem
jaringan
jalan primer dan Sistem jaringan jalan sekunder.
• Sistem Jaringan Jalan Primer: Sistem jaringan yang memiliki peranan
pelayanan distribusi barang dan jasa yang berguna meningkatkan
pengembangan semua wilayah tingkat nasional dengan menghubungkan
semua simpul jasa distribusi atau dengan kata lain pusat kegiatan.
• Sistem Jaringan Jalan Sekunder: Sistem jaringan yang berperan melayani
distribusi barang dan jasa untuk masyarakat di kawasan perkotaan.
C. Kelas jalan berdasarkan fungsinya
Klasifikasi ini dikelompokkan ke dalam empat bagian, yaitu kelas jalan I,
kelas jalan II, kelas jalan III, dan kelas jalan khusus.
Berikut merupakan definisi dan fungsi dari pengelompokan jalan di atas:
• Jalan Arteri: Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama yang
memiliki ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi dan
jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 10


Cherry C.H 0707135

• Jalan Kolektor: Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul


dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang dan
jumlah jalan masuk dibatasi.
• Jalan Lokal: Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah dan
jumlah jalan tidak dibatasi.
• Jalan Lingkungan: Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata
rendah.
D. Kelas jalan menurut statusnya
Klasifikasi ini dapat dikelompokkan ke dalam lima jalan, yaitu Jalan
Nasional, Jalan Provinsi, Jalan Kabupaten, Jalan Kota, dan Jalan Desa.
• Jalan Nasional: Jalan arteri dan jalan kolektor yang ada dalam sistem
jaringan jalan primer yang menghubungkan antar-ibukota provinsi,
dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.
• Jalan Provinsi: Jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang
menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau
antar ibukota kabupaten/kota, dan jalan strategis provinsi.
• Jalan Kabupaten: Jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang
tidak termasuk Jalan Nasional maupun Jalan Provinsi, yang
menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar-
ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal,
antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan
sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.
• Jalan Kota: Jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang
menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan
pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antar-persil, serta
menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota.
• Jalan Desa: Jalan umum yang menghubungkan kawasan dan atau antar
permukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 11


Cherry C.H 0707135

E. Kelas jalan dan spesifikasinya berdasarkan penyediaan prasarana jalan.


Pengaturan jalan dalam pengelompokan kelas jalan ini mengikuti
peraturan LLAJ. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelompokan kelas jalan
sudah diatur oleh pemerintah. Tata cara pengaturan kelas jalan ini terdapat di
dalam perundang-undangan, yaitu pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas
dan angkutan jalan. Ini terdapat pada bagian kedua mengenai ruang lalu lintas,
paragraf satu, pasal 19 dan pasal 20 yang berbunyi:
Pasal 19
1) Jalan dikelompokkan dalam beberapa kelas berdasarkan:
a. Fungsi dan intensitas Lalu Lintas guna kepentingan pengaturan penggunaan
Jalan dan
Kelancaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan; dan
b. Daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi Kendaraan
Bermotor.
2) Pengelompokan Jalan menurut kelas Jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas:
a. Jalan kelas I, yaitu jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui Kendaraan
Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus)
milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 18.000 (delapan belas ribu) milimeter,
ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter, dan muatan sumbu
terberat 10 (sepuluh) ton;
b. Jalan kelas II, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat
dilalui Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500 (dua ribu
lima ratus) milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 (dua belas ribu)
milimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter, dan
muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton;
c. Jalan kelas III, yaitu jalan arteri, kolektor, lokal, dan lingkungan yang dapat
dilalui Kendaraan Bermotor dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.100 (dua ribu
seratus) milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 9.000 (sembilan ribu)
milimeter, ukuran paling tinggi 3.500 (tiga ribu lima ratus) milimeter, dan
muatan sumbu terberat 8 (delapan) ton;

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 12


Cherry C.H 0707135

d. Jalan kelas khusus, yaitu jalan arteri yang dapat dilalui Kendaraan Bermotor
dengan ukuran lebar melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) milimeter, ukuran
panjang melebihi 18.000 (delapan belas ribu) milimeter, ukuran paling tinggi
4.200 (empat ribu dua ratus) milimeter, dan muatan sumbu terberat lebih dari 10
(sepuluh) ton.
3) Dalam keadaan tertentu daya dukung jalan kelas III sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf c dapat ditetapkan muatan sumbu terberat kurang dari 8
(delapan) ton.
4) Kelas jalan berdasarkan spesifikasi penyediaan prasarana jalan diatur sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang jalan.
5) Ketentuan lebih lanjut mengenai jalan kelas khusus sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) huruf d diatur dengan peraturan pemerintah.
Pasal 20
1) Penetapan kelas jalan pada setiap ruas jalan dilakukan oleh:
a. pemerintah, untuk jalan nasional;
b. pemerintah provinsi, untuk jalan provinsi;
c. pemerintah kabupaten, untuk jalan kabupaten; atau
d. pemerintah kota, untuk jalan kota.
2) Kelas jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dengan Rambu
Lalu Lintas.
3) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengelompokan kelas jalan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 19 dan tata cara penetapan kelas jalan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan peraturan pemerintah.
F. Spesifikasi Jalan Berdasarkan Kelasnya
(Penjelasan UU 38/2004, Pasal 10)
1) JALAN BEBAS HAMBATAN (FREEWAY) :
Jalan umum untuk lalu lintas menerus yang memberikan pelayanan
menerus/tidak terputus dengan pengendalian jalan masuk secara penuh, dan
tanpa adanya persimpangan sebidang, serta dilengkapi dengan pagar ruang
milik jalan, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap arah dan dilengkapi dengan
median

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 13


Cherry C.H 0707135

2) JALAN RAYA (HIGHWAY) :


Jalan umum untuk lalu lintas menerus dengan pengendalian jalan masuk
secara terbatas dan dilengkapi dengan median, paling sedikit masuk secara
terbatas dan dilengkapi dengan median, paling sedikit 2 (dua) lajur setiap
arah
3) JALAN SEDANG (ROAD) :
Jalan umum dengan lalu lintas jarak sedang dengan pengendalian jalan
masuk tidak dibatasi, paling sedikit 2 (dua) lajur untuk 2 (dua) arah dengan
lebar paling sedikit 7 (tujuh) meter

4) JALAN KECIL (STREET) :


Jalan umum untuk melayani lalu lintas setempat, paling sedikit 2 (dua) lajur
untuk 2 (dua) arah dengan lebar paling sedikit 5,5 (lima setengah) meter

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 14


Cherry C.H 0707135

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Setelah terselaikannya penjelasan tentang historis, klasifikasi, dan
spesifikasi jalan di Indonesia, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Jalan raya yang pada hakikatnya dibangun untuk memenuhi kebutuhan manusia,
mulai dibangun seiring dengan keberadaan manusia sendiri. Jalan pada awalnya
hanya berupa jejak manusia yang berkeliling ke daerah sekitar untuk mencari
kebutuhan hidup. Jejak ini berfungsi sebagai penuntun arah bagi manusia. Seiring
dengan bertambahnya jumlah manusia, manusia melakukan aktivitas untuk
mempertahankan kelangsungan hidupnya secara berkelompok. Perpindahan
secara berkelompok ini kemudian menghasilkan jejak dengan jumlah yang lebih
banyak. Selain itu, jalan yang juga berfungsi sebagai petunjuk arah membuat
jejak-jejak kaki lebih sering dilalui oleh orang, sehingga jejak-jejak kaki ini
kemudian berubah menjadi jalan setapak, yang belum rata. Seiring dengan
berkembangnya sarana transportasi sederhana, seperti kuda, mulai dibuat jalan
yang lebih rata.
3.2 Saran
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :
• Dalam pengadaan transportasi darat jalan bukanlah hal yang mudah dan
instan, tetapi memerlukan berbagai prosedur dan tahapan yang harus
diperhitungkan setepat dan secermat mungkin.
• Ketentuan lebih lanjut mengenai jalan dan pengelompokan kelas jalan
sudah diatur oleh pemerintah. yaitu pada UU No. 38 Tahun 2004 tentang
jalan dan pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan
jalan.

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 15


Cherry C.H 0707135

DAFTAR PUSTAKA

• Miro, Fidel., (2005). Perencanaan Transportasi Untuk Mahasiswa,


Perencana, dan Praktisi. Penerbit Erlangga, Bandung.
• Tim Dosen., (1997). Sistem Transportasi. Penerbit Gunadarma, Jakarta.
• UU RI No 38 Tahun 2004 Tentang Jalan
• PP RI No 8 Tahun 1990 Tentang Jalan Tol
• Kepres No 36 Tahun 2003 Tentang Penetapan Jenis Kendaraan Bermotor
dan Besarnya Tarif Tol di beberapa Jalan Tol
• Media Internet, www.google.com : http://en.wikipedia.org/wiki/Sejarah
Perkembangan jalan di Indonesia,
http://en.wikipedia.org/wiki/Klasifikasi_jalan,
http://en.wikipedia.org/wiki/Spesifikasi jalan.

***

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 16


Cherry C.H 0707135

LAMPIRAN

CONTOH VISUAL JALAN TOL

Historis, Klasifikasi, dan Spesifikasi Jalan di Indonesia | 17