Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROTEKNIK

PEMBUATAN PREPARAT APUSAN SPERMA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikroteknik


Yang Dibimbing Oleh Drs. Soelisetijono, M. Si

Oleh kelompok 2:
Rias Aldila (160342606246)
Offering GHI-K 2016

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2019
A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut.
1. Mampu membuat sediaan preparat apusan sperma dengan metode pewarnaan giemsa dan eosin.
2. Mampu menganalisis hasil pembuatan preparat apusan spermadari testis dan epididimis dengan metode pewarnaan giemsa
dan eosin.
3. Untuk mengidentifikasi bentuk morfologi dari spermatozoa hewan coba yaitu mencit (mus muculus) melalui sediaan apusan
sperma dengan metode giemsa dan eosin.

B. DASAR TEORI
Metode Smear atau Oles, yaitu metode pembuatan preparat dengan cara mengoles atau membuat selaput tipis dari bahan
yang berupa cairan atau bukan diatas kaca objek. Metode ini dipakai untuk pembuatan preparat smear spermatozoa. Untuk metode
ini biasanya digunakan bahan dari sel hewan (Pujawati, 2002). Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan preparat dan sediaan
mikroskopis pada umumnya disebut sebagai mikroteknik. Teknik – teknik pada pembelajarannya mengacu pada cara preparat itu
sendiri dibuat. Pada praktikum kali ini metode atau teknik yang digunakan adalah metode apusan atau teknik smear. Dalam setiap
pembuatan preparat pada umumnya selalu dilakukan fiksasi terlebih dahulu. Sedangkan fiksasi itu sendiri adalah suatu cara atau
proses (metode) yang bertujuan untuk mematikan sel tanpa mengubah fungsi dan struktur di dalam sel itu sendiri. Jika telah
dilakukan fiksasi maka preparat yang dibuat akan menjadi lebih awet (Pujawati, 2002).
Salah satu metode dalam mikroteknik adalah membuat sediaan dengan cara dioleskan di atas kaca objek dengan bantuan
kaca objek yang lain. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh apusan yang setips-tipisnya sehingga bentuk dari sel yang dijadikan
bahan apusan tersebut dapat terlihat dengan jelas di bawah mikroskop. Dengan kata lain teknik pembuatan perparat dengan metode
apusan ini bertujuan untuk memperoleh gambaran bentuk sel yang sejelas-jelasnya sehingga sel tersebut dapat dengan mudah
untuk diketahui dan diamati (Santoso, 2002). Spermatozoa merupakan sel gamet jantan yang sangat terdeferensiasi. Fungsinya
adalah untuk mengantarkan material genetis jantan ke betina dan mengaktifkan program perkembangan telur. Analisis sperma
dilakukan untuk mengetahui proses pada pembuahan, waktu pada setiap tahapan dan mengetahui serta menentukan rasio
spermatozoa dan ovum dalam pembuahan. Analisis sperma yang dimaksud meliputi pemeriksaan jumlah milt yang dapat distriping
dari seekor ikan jantan masak kelamin, kekentalan sperma, warna, bau, jumlah spermatozoa hidup, jumlah spermatozoa mati,
motilitas, morfologi (ukuran dan bentuk kepala, ukuran ekor, berbagai penyimpangan) (Yatim,1982). Salah satu upaya yang
mungkin dilakukan untuk mempertahankan kualitas spermatozoa epididimis selama proses kriopreservasi (pembekuan) adalah
dengan menambahkan gula (karbohidrat) ke dalam larutan pengencer.
Gula berfungsi sebagai substrat bagi sumber energi dan krioprotektan ekstraseluler, sehingga dapat melindungi dan
menunjang kehidupan spermatozoa selama proses pengolahan. Gula telah terbukti mampu memperbaiki kualitas semen beku
(spermatozoa ejakulat), seperti sukrosa pada semen beku sapi, trehalosa dan EDTA pada semen beku domba Pampinta, serta
dextrosa, rafinosa, trehalosa, dan sukrosa pada semen domba Garut (Yulnawati, 2005). Spermatozoid atau sel sperma atau
spermatozoa adalah sel dari sistem reproduksi laki-laki. Sel sperma akan membuahi ovum untuk membentuk zigot. Zigot adalah
sebuah sel dengan kromosom lengkap yang akan berkembang menjadi embrio. Sel sperma manusia adalah sel sistem reproduksi
utama dari laki-laki. Sel sperma manusia terdiri atas kepala yang berukuran 5 µm x 3 µm dan ekor sepanjang 50 µm. Sel sperma
pertama kali diteliti oleh seorang murid dari Antonie van Leeuwenhoek tahun 1677 (Partodiharjo, 1990). Sperma berbentuk seperti
kecebong, dan terbagi menjadi 3 bagian yaitu: kepala, leher dan ekor. Kepala berbentuk lonjong agak gepeng berisi inti (nucleus).
Bagian leher menghubungkan kepala dengan bagian tengah. Sedangkan ekor berfungsi untuk bergerak maju, panjang ekor sekitar
10 kali bagian kepala. Spermatozoa adalah sel gamet jantan yang diproduksi pada proses spermatogenesis yang terjadihanya di
tubulus seminiferus yang terletak di testes (Susilawati, 2011). Spermatogenesis bermula dengan terjadinya proses pembelahan
pematangan pertama dimana kromosom ayah dan ibu terbagi untuk dua sel anak (spermatosid II) yang kemudian membelah
menjadi spermatid dan melalui pembelahan pematangan kedua akan dihasilkan empat sel sperma (Rohen, 2009). Sperma yang
kelainan dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitucacat bawaan dari lahir, kegagalan testis untuk turun ke skrotum, pemaparan
bahaya seperti sinar-x, radioaktivitas, beberapa gangguan genital, kondisi panas disekitar testis dan stres emosional (Alam, 2007).

C. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
 Beaker glass  Kapas
 Object glass  Entelan
 Cover glass  Sampel sperma dari epididimis dan vas deferens
 Mikroskop  Alkohol 70%
 Pipettetes  Reagen Giemsa
 Blood lansetsteril  Reagen Eosin
 Cawan petri  Aquades
 Tusuk Gigi  Metanol absolut
 Tisu
 Xilol
D. PROSEDUR KERJA
a. Sediaan Semir Sperma dengan Pewarnaan Giemsa

Seluruh peralatan serta bahan yang akan digunakan selama praktikum berlangsung disiapkan terlebih dahulu.

Hewan yang telah ditentukan sebelumnya yaitu mencit (Mus musculus) jantan dibunuh (killing) dengan diterapkan teknik
dislokasi leher.

Setelah mencit jantan tersebut dibunuh, maka dilakukan pembedahan (section) terhadap tubuh mencit jantan tersebut di bawah
tujuan untuk mendapatkan bagian vas deferens dan epididimis.

Bagian vas deferens dan epididimis dari mencit jantan diambil dan ditempatkan dalam suatu wadah yang berisi larutan NaCl
0,9%.

Lemak yang ada pada vas deferens dan epididimis dibersihkan

Epididimis dan vas deferens dicacah hingga menjadi kecil. dan halus

Didiamkan selama 10 menit hingga suspensi sperma terbentuk.

Bagian atas dari larutan diambil, lalu diapuskan di object glass.

Dibiarkan hingga kering


b. Sediaan Semir Sperma dengan Pewarnaan Eosin
Setelah semir vas deferens atau epididimis kering,

Ditetesi beberapa tetes alkohol 96 % ditunggu hingga kering

Kemudian reagen eosin ke atas semir vas deferens atau epididimis, dibiarkan selama 1 menit atau sampai kering.

Diteteskan aquades diatasnya dengan jumlah yang sama dengan reagen eosin, dibiarkan selama 3 menit.

Dicuci semir vas deferens atau epididimis dengan air yang mengalir, dikeringkan pada suhu ruang.

Ditetesi semir vas deferens atau epididimis dengan entelan dan ditutup menggunakan cover glass.

Diamati sediaan preparat apusan sperma dari vas deferens dan epididimis dibawah mikroskop.
E. HASIL PENGAMATAN DAN ANALISIS
Tabel 1. Tabel Hasil Pengamatan Smear Sperma
No. Metode Pewarnaan Hasil Pengamatan Gambar Pengamatan Keterangan
1. Eosin Smear Sperma Pada Testis a : kepala sperma
b : leher sperma

d c : ekor sperma
d : sperma utuh
c
b

Perbesaran : 10 x 10

2. Giemsa Smear Sperma Pada Epididimis a : kepala sperma


b : leher sperma
c : ekor sperma
ab d : sperma utuh
c

Perbesaran : 40 x 10
F. PEMBAHASAN
Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas sperma adalah temperature, kandungan zat makanan dan
larutan fisiologis. Aktivitas metabolisme dan gerakan spermatozoa akan normal pada suhu tubuh dan akan meningkat kecepatannya
jika suhunya meningkat. Kandungan zat makanan misalnya fruktosa merupakan substrat energi utama di dalam plasma sperma.
Larutan fiologis dapat menambah daya viabilitas dan motilitas spermatozoa (Yatim, 1982). Spermatogenesis yang terjadi pada
tubulus seminiferus mencit berlangsung selama 35 hari dengan empat kali siklus epitel seminiferus. Satu kali siklus epitel
seminiferus berlangsung selama 207±6 jam. Pada mencit (Mus musculus), epitel germinal tubulus seminiferus merupakan tempat
berlangsungnya spermiogenesis yang terbagi dalam 12 stadium, yaitu stadium I sampai dengan stadium XII. Pembagian stadium
didasarkan atas perkembangan akrosom selama proses spermatogenesis(Oakberg, 1956). Dari pengamatan yang dilakukan, maka
pada bagian:

1. Kepala
Kepala sperma mencit memiliki ciri morfologi yang seperti bulan sabit, pada bagian ujungnya terdapat struktur
menyerupai pengait. Kepala sperma berisi inti, Dua pertiga bagian inti di selimuti tutup akrosom. Jika terjadi terjadi pembuahan
maka tutup akrosom pecah, dari akrosomnya keluar enzim-enzim yang terpenting ialah hialurodinase dan protease mirip tripsin.
(Yatim, 1982). Ciri morfologi sperma mencit menurut Mitchell, et all (2005) yaitu berbentuk oval, akrosom menutupi 1/3-nya,
panjang 3-5 mikron, lebar ½ s/d 2/3 panjangnya. Akrosom penuh dengan enzim untuk mencerna dinding sel telur agar sperma
bisa menembus sel telur. Mitokondria berfungsi sebagai motor penggerak untuk mengerakkan ekor.
2. Leher/ mid piece
Leher adalah tempat persambungan ekor dengan kepala. Persambungan itu berbentuk semacam sendi peluru pada
rangka. Dalam leher pula lah terdapat sentriol.Badan mengandung filament poros. Mitokondria dan sentriol belakang berbentuk
cincin. (Jadi sentriol yang terdapat 2 buah pada setiap sel umumnya, pada sperma letaknya terpisah dan berbeda bentuk (Yatim,
1994: 240). Serta ciri morfologi menurut Isnaeni (2006) yaitu langsing (< ½ lebar kepala), panjang 2 kali panjang kepala, dan
berada dalam satu garis dengan sumbu panjang kepala.

3. Ekor
Ekor sperma pada mencit memiliki morfologi yang berukuran lebih panjang daripada bagian leher maupun kepala. Ekor
dibedakan atas tiga bagian yaitu bagian tenagh, bagian utama, bagian , yang pada orangujung. Ekor memiliki teras yang disebut
aksonema, yang terdiri dari Sembilan doublet mikrotubul dan dua singlet mikrotubulsentral. Ini sama dengan sitoskeleton yang
dmiliki flagella.Susuna sksonema sama dari pangkal ke ujung ekor. Perbedaanya denga flagella lain pada umumnya ialah bahwa
pada spermatozoa di sebuah luar teras itu ada Sembilan berkas serat padat (Yatim, 1982). Pada bagian tengah ekor di sebuah
luar serat padat ada cincin mtokondria yang bersusun rapat dengan arah spiral. Pada bagian utama di sebuah luar serat padat tak
ada cincin mitokondri, tetapi di gantikan oleh seludung serat. Seludung ini tipis dan berbentuk tulang rusuk, sedang di bagian
tengah atas-bawah menebal menonjol. Serat padat di tentang ini bergabung dengan penebalan tengah itu (Yatim, 1982). Selain
itu ciri morfologi ekor sperma normal menurut Nurhayati (2004) yaitu memiliki batas tegas, berupa garis dengan panjang 9
kali panjang kepala.
Ada pula Sperma yang abnormal, yaitu memiliki ciri-ciri mempunyai 2 kepala atau dua ekor, ada juga yang tanpa kepala
atau ukuran dari kepala sperma tersebut lebih besar dari pada ukuran normal kepala sperma. Sperma yang abnormal ini biasanya
berdampak infertilitas pada ovum. Namun apabila terjadi fertilisasi besar kemunkinan akan melahirkan individu yang cacat.

G. KESIMPULAN
Sperma normal mencit memiliki beberapa bagian yang dapat diamati, yaitu bagian kepala, leher dan ekor.
Sedangkan sperma abnormal mencit terdapat beberapa bagian sperma yang hilang atau mengalami ketidaknormalan,
misalnya memiliki ciri-ciri mempunyai 2 kepala atau dua ekor, ada juga yang tanpa kepala atau ukuran dari kepala sperma
tersebut lebih besar dari pada ukuran normal kepala sperma. Sperma yang abnormal ini biasanya berdampak infertilitas pada
ovum. Namun apabila terjadi fertilisasi besar kemunkinan akan melahirkan individu yang cacat.

DAFTAR RUJUKAN
Alam, Syamsir. 2007. Infertil. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Isnaeni, Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius.Yogyakarta
Mitchell D Kaplan dan Bruce J Baum, 2005. The Function Of Sperma. Med. Vol 8. Numb 3. Springer Journal. New York
Oakberg, E.P. 1956. A Description of Spermatogenesis in the Mouse and Its Use in Analysis of the Cycle of Seminiferous Epithellium
and Germ Cell Renewal. Messachuset: American Jurnal of Anatomy :99(3):391-413.
Partodiharjo, Soebadi. 1990. Ilmu Reproduksi Hewan. Surabaya: Mutiara Sumber Widya.
Pujawati, D. 2002. Petunjuk Praktikum Mikroteknik Tumbuhan. Banjarbaru: Fakultas MIPA Jurusan Biologi, Universitas Lambung
Mangkurat.
Santoso, H. B. 2002. Bahan Kuliah Teknik Laboratorium. Banjarbaru: Universitas Lambung Mangkurat.
Yatim, W. 1982. Reproduksi dan Embriologi. Bandung: Tarsito.
Yulnawati, Setiadi MA. 2005. Motilitas dan keutuhan membran plasma spermatozoa epididimis kucing selama penyimpanan pada suhu
4°C. Journal Medic Veteriner. 21:100-104