Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

REGULATOR PADA MOBIL

Disusun oleh :
Nama : RIZQI ALFISA
Kelas : TO 18B

LP3I TASIKMALAYA
Jalan Ir. H. Juanda KM. 2 No. 106 Tasikmalaya, Jawa Barat 46151
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang karena
Rahmat-Nya, saya dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah tentang
“REGULATOR PADA MOBIL” tepat pada waktunya, dan rasa terima kasih
pada semua pihak baik dosen maupun mahasiswa yang telah mendukung dalam
pembuatan makalah ini.
Ilmu Bahan merupakan mata kuliah program studi pendidikan teknik
mekatronika, salah satu materinya yang diberikan ialah rem. Makalah rem
dirancang untuk digunakan sebagai sarana dalam kegiatan belajar untuk
mahasiswa jurusan pendidikan teknik mekatronika untuk menjadi seorang
engineer yang ahli dalam bidangnya. Makalah ini memuat ringkasan teori dari
berbagai sumber yang disusun secara ringkas dan sistematis.
Saya menyadari bahwa proses penyusunan makalah yang ringkas dan
sistematis, merupakan pekerjaan yang tidak ringan. Demikian pula dalam teknik
penulisan dan tata bahasa tak luput dari kesalahan dan kekurangan.
Dari kesadaran tersebut, saya sangat mengharapkan saran, kritik
maupun masukan dari pembaca dan pemakai makalah rem ini, guna
penyempurnaan pada masa mendatang.
Penghargaan yang setinggi-tinginya saya sampaikan kepada semua pihak
yang telah membantu tersusunnya makalah rem ini. Semoga Tuhan Yang Maha
Esa senantiasaa memberikan limpahan rahmat, petunjuk dan bimbingan-Nya
terhadap setiap niat baik kita.

Banjar, Maret 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 1
C. Tujuan Penulisan........................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Regulator Pada Mobil................................................................ 2
B. Cara Kerja Regulator................................................................. 4
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................ 10
B. Saran........................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 11

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengatur tegangan (voltage regulator) berfungsi menyediakan suatu
tegangan keluaran dc tetap yang tidak dipengaruhi oleh perubahan tegangan
masukan, arus beban keluaran, dan suhu. Pengatur tegangan adalah salah satu
bagian dari rangkaian catu daya DC. Dimana tegangan masukannya berasal
dari tegangan keluaran filter, setelah melalui proses penyearahan tegangan AC
menjadi DC.
Pengatur tegangan dikelompokkan dalam dua kategori, pengatur linier
dan switching regulator. yang termasuk dalam kategori pengatur linier, dua
jenis yang umum adalah pengatur tegangan seri (Series Regulator) dan
pengatur tegangan parallel (Shunt Regualtors). Dua jenis pengatur di atas
dapat diperoleh untuk keluaran tegangan positif maupun negatif. Sedangkan
untuk switching regulator terdapat tiga jenis konfiguarsi yaitu, step-up, step-
down dan inverting.
Regulator berfungsi untuk mengontrol tegangan yang dihasilkan
pembangkit listrik, mengontrol arus yang kelua, dan mencegah arus balik dari
baterai. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan oleh tiga buah relai yang ada pada
regulatornya, yaitu voltage regulator, pembatas arus, dan cut out relay

B. Rumusan Masalah
Beberapa permasalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini adalah
1. Apakah yang dimaksud dengan regulator pada mobil?
2. Bagaimanakah sistem kerja regulator pada mobil?

C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah
1. Mengetahui regulator pada mobil.
2. Mengetahui sistem kerja regulator pada mobil.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Regulator Pada Mobil


Regulator berfungsi untuk mengontrol tegangan yang dihasilkan
pembangkit listrik, mengontrol arus yang kelua, dan mencegah arus balik dari
baterai. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan oleh tiga buah relai yang ada
pada regulatornya, yaitu voltage regulator, pembatas arus, dan cut out relay.
1. Voltage regulator. Voltage regulator berfungsi untuk mengontrol listrik
yang dihasilkan agar selalu tetap. Prinsip kerjanya adalah pada saat
tegangan listrik mulai naik dan arus listrik tersebut secara otomatis
dialirkan melalui sebuah tahanan yang dihubungkan seri dengan kumparan
medan (field coil) sehingga arus yang masuk ke kmuparan medan dibatasi.
Akibatnya tegangan listrik yang dibangkitkan menjadi turun. Jika tegangan
listrik turun maka secara otomatis arus listrik mengalir melalui tanpa
tahanan yang dihubungkan seri tersebut. Akibatnya tegangan listrik naik
kembali. Naiknya tegangan listrik tersebut dapat diatur dengan menyetel
keteganan pegas dan celah udara pada voltage regulator tersebut. Pegas
yang terlalu kuat mengakibatkan tegangan listrik melebihi ketentuan
sedangkan pegas yang terlalu lemah berakibat tegangan listrik yang
dialirkan ke kumparan medan lebih rendah dari seharusnya. Celah udara
yang terlalu besar akan memperlambat pembukaan kontak pemutusnya
sehingga tegangan listriknya menjadi lebih besar dan sebaliknya.
2. Pembatas arus. Tujuan pemasangan pembatas arus adalah untuk
membatasi arus listrik yang berlebihan dari dinamo. Prinsip kerjanya: jika
arus yang mengalir berlebihan maka secara otomatis arus tersebut akan
dialirkan melalui sebuah tahanan kemudian baru menuju kumparan medan.
Dengan demikian arus yang dibangkitkan dinamo menjadi kurang. Jika
arus listrik yang dibangkitkan terlalu kecil maka secara otomatis karena
gaya pegas mak arus listrik yang dialirkan ke kumparan medan tanpa
melewati tahanan sehingga besar arus listrik akan bertambah. Penyetelan
pada pembatas arus adalah menyetel tegangan pegas dengan cara

2
menggantinya dengan pegas yang sesuai. Tegangan pegas yang terlalu
besar mengakibatkan arus yang mengalir menjadi bertambah besar.
Tegangan pegas yang lemah mengakibatkan arus yang mengalir ke
kumparan medan menjadi terlalu kecil. Demikian pula dengan celah pada
kontak pemutusnya. Celah yang terlalu besar mengakibatkan arus yang
mengalir menjadi kecil sedangkan celah yang terlalu kecil mengakibatkan
arus yang mengalir menjadi terlalu besar.
3. Cut out relay, Tegangan listrik yang dibangkitkan oleh dinamo dipengaruhi
oleh putaran dinamo tersebut. Pada putaran rendah tegangan listrik yang
dibangkitkan turun. Pada suatu putaran tertentu tegangan listrik yang
dibangkitkan dinamo lebih rendah dari tegangan listrik baterai, jika
keadaan ini dibiarkan maka akan terjadi arus balik, yaitu arus yang
mengalir dari baterai ke dinamo. Untuk mengatasi hal ini maka dipasang
cut out relay yang berfungsi untuk mencegah arus balik tersebut. Prinsip
kerja cut out relay hampir sama dengan voltage regulator dan pembatas
arus, yaitu dengan memanfaatkan gaya magnet dari inti besi. Pada saat
dinamo belum berputar maka hubungan ke baterai masih terputus karena
gaya magnet yang ada pada inti besi belum cukup kuat untuk melawan
gaya pegas yang menahan kontak pemutus. Hubungan pengisian ke baterai
baru akan tersambung pada saat gaya kemagnetan tersebut mampu
melawan gaya tarik pegas. Hal ini terjadi jika tegangan listrik yang
dibangkitkan dinamo lebih besar dari tegangan listrik baterai. Hal - hal
yang perlu diperhatikan dan disetel pada cut out relay antara lain adalah
celah kontak pemutus dan ketegangan pegas penahannya. Celah kontak
pemutus yang terlalu besar akan memperlambat saat penutupannya
sehingga tegangan pengisian dinamo menjadi jauh lebih besar dari
tegangan baterai. Demikian pula dengan tegangan pegas penahannya.
Tegangan pegas penahan yang terlalu besar mengakibatkan tegangan
pengisian baterai menjadi jauh lebih besar dari tegangan pengisian.
Seharusnya tegangan ini sesuai dengan ketentuan. Sebaliknya jika pegas
penahannya terlalu lemah maka besar kemungkinan untuk terjadinya arus
balik atau cut out relay tidak berfungsi. Ada pengatur tegangan dengan

3
satu titik kontak pemutus dan ada yang dengan dua titik kontak pemutus.
Regulator dengan satu titik kontak pemutus jarang digunakan karena
mempunyai kelemahan, yaitu timbul bunga api yang cukup besar pada titik
kontak pemutus ketika sedang membuka. Akibatnya umur kontak pemutus
regulator menjadi lebih pendek. Untuk itu sekarang banyak digunakan
regulator dengan dua titik kontak pemutus. Satu titik kontak pemutus
untuk putaran rendah dan satunya lagi untuk putaran tinggi. Pada saat
regulator bekerja maka kontak pemutus akan bergerak dari titik kontak
putaran rendah ke titik kontak putaran tinggi. Apabila titi kontak bergerak
dari sisi titik kontak putaran tinggi ke sisi titik kontak putaran rendah akan
terjadi penurunan tegangan. Untuk sistem 12 volt, penurunan tegangan
terjadi sekitar 0,5 sampai 1 volt. Penyetel regulator tidak boleh dilakukan
pada saat terjadi penuruan tegangan tersebut. Hal ini juga tidak boleh
dilakukan pada saat tegangan alternator tidak stabil akibat perubahan
tahanan pada kumparan karena pengaruh suhu.
Kumparan magnet pengatur tegangan terbuat dari kawat tembaga di
mana tahanannya akan berubah jika suhunya naik sehingga gaya tarik magnet
pada inti besi berkurang. Akibatnya tegangan yang dikeluarkan alternator
menjadi lebih tinggi. Untuk mengatasi hal ini maka regulator menggunakan
tahanan dan bimetal. Tapi untuk menstabilisasikan tegangan dari keadaan
tersebut diperlukan waktu beberapa menit. Pada saat itulah penyetelan tidak
boleh dilakukan.

B. Cara Kerja Regulator


Sistem pengisian atau charging system merupakan sistem yang
berfungsi untuk mensuplai arus listrik ke baterai. Baterai yang telah
digunakan maka akan berkurang kapasitas arus listrik yang disimpan di
dalam baterai, jika baterai tidak diisi arus listrik kembali maka lama-lama
arus listrik di dalam baterai akan habis. Oleh sebab itu digunakan sistem
pengisian utuk mengisi kembali arus listrik pada baterai.

4
Selain itu, sistem pengisian juga digunakan untuk mensuplai kebutuhan
listrik pada kendaraan ketika kendaraan menyala. Ketika kendaraan
menyala, bukan baterai yang menjadi sumber arus utama melainkan sistem
pengisian yang akan bertugas untuk mensuplai kebutuhan arus listrik pada
kendaraan.
Sistem pengisian terdiri dari beberapa komponen-
komponen, komponen-komponen sistem pengisian salah satunya adalah
regulator.
Regulator pada sistem pengisian berfungsi untuk mengatur arus listrik
yang disuplai ke baterai. Arus listrik yang disuplai harus stabil dan tidak
berubah-ubah walaupun kecepatan kendaraan berubah-ubah.
Pada kendaraan regulator terbagi menjadi 2 tipe yaitu regulator
konvensional dan regulator IC.
Pada kesempatan kali ini akan dibahas tentang cara kerja regulator
konvensional pada sistem pengisian. Cara kerja regulator konvensional
pada sistem pengisian terbagi menjadi 4 yaitu saat kunci kontak On, saat
kendaraan berjalan dengan kecepatan lambat, saat kendaraan berjalan pada
kecepatan sedang dan saat kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi.
1. Saat kunci kontak posisi On
Saat kunci kontak pada posisi On maka lampu CHG akan menyala dan
sistem pengisian belum bekerja namun terjadi kemagnetan pada rotor
koil di alternator. Perhatikan gambar di bawah ini :

5
Cara kerjanya yaitu ketika kunci kontak diputar pada posisi On maka
arus positif dari baterai akan mengalir ke fusible link ke kunci kontak ke
fuse ke lampu indikator pengisian (CHG) ke terminal L regulator ke
kontak P0 ke ke kontak P1 lalu ke massa. Karena lampu CHG dialiri
listrik maka akibatnya lampu CHG ini akan menyala.
Pada saat yang lain arus dari baterai akan mengalir dari positif baterai ke
terminal IG pada regulator ke PL 1 ke PL 0 ke terminal F regulator ke
terminal F alternator ke rotor coil ke terminal E alternator lalu ke massa.
Karena stator koil dialiri arus listrik maka pada stator koil akan timbul
kemagnetan.
2. Saat kendaraan berjalan dengan kecepatan lambat
Saat kendaraan berjalan dengan kecepatan lambat maka lampu CHG
akan mati dan arus pengisian sudah dapat digunakan untuk mengisi
baterai. Perhatikan gambar di bawah ini :

Ketika kendaraan dihidupkan pada kecepatan rendah maka tegangan


yang dihasilkan alternator dari terminal N akan mengalir ke terminal N
regulator, ke voltage relay lalu ke massa. Karena voltage relay teraliri
arus maka akan terjadi kemagnetan pada voltage relay kemudian
kemagnetan ini akan menarik kontak P0 untuk menempel ke kontak P2.
Akibatnya lampu CHG pada saat ini akan mati karena tidak
mendapatkan massa.

6
Pada saat yang sama arus yang dihasilkan oleh stator coil akan
disearahkan oleh dioda lalu mengalir ke terminal B pada alternator lalu
digunakan untuk pengisian baterai.
Selain itu, karena kecepatan kendaraan masih rendah, tegangan dari
stator koil akan mengalir ke terminal B altenator ke terminal B regulator
ke kontak P2 ke kontak P0 lalu ke voltage regulator. Karena tegangan
dari terminal B masih rendah maka voltage regulator belum mampu
menarik PL0 sehingga arus dari terminal IG regulator akan mengalir ke
kontak PL1 ke kontak PL0 ke terminal F regulator ke terminal F
alternator ke rotor coil lalu ke terminal E dan ke massa. Karena arus
mengalir langsung dari PL1 ke PL0 maka kemagnetan yang dihasilkan
pada rotor koil akan menjadi kuat sehingga saat kendaraan berjalan pada
kecepatan lambat tetap terjadi pengisian pada baterai.
3. Pada saat kendaraan berjalan pada kecepatan sedang
Bila kecepatan kendaraan naik menjadi sedang maka lampu CHG akan
tetap mati dan tetap akan menghasilkan tegangan untuk pengisian
baterai dengan tegangan yang stabil, sama dengan saat kendaraan
berjalan pada kecepatan rendah. Perhatikan gambar di bawah ini :

Pada saat kendaraan berjalan dengan kecepatan sedang maka tegangan


output dari alternator yang mengalir ke terminal B akan naik juga
akibatnya voltage regulator yang dialiri arus dari terminal B akan

7
menghasilkan kemagnetan lebih kuat dari pada saat kendaraan dengan
kecepatan rendah. Karena kemagnetan bertambah maka akan menarik
kontak PL0 dari kontak PL1, namun belum dapat menarik PL0 hingga
berhubungan dengan PL2 (PL0 dalam keadaan mengambang).
Akibatnya arus dari IG akan mengalir ke resistor ke terminal F regulator
ke terminal F alternator ke rotor coil lalu ke terminal E dan massa.
Karena arus dari terminal IG melewati resistor maka arus akan menjadi
kecil sehingga kemagnetan pada stator koilpun akan mengecil akibatnya
tegangan yang dihasilkan pada terminal B alternator akan stabil.
4. Saat kendaraan berjalan pada kecepatan tinggi
Bila kecepatan kendaraan naik menjadi kecepatan tinggi maka lampu
CHG akan tetap mati dan tegangan yang dihasilkan oleh alternator untuk
pengisian harus tetap stabil atau sama saat kecepatan rendah maupun
sedang. Perhatikan gambar di bawah ini :

Pada saat kecepatan kendaraan menjadi cepat maka tegangan yang


dihasilkan alternator juga akan meningkat, sehingga tegangan dari
terminal B alternator mengalir ke voltage regulator juga akan naik.
Akibtnya pada voltage regulator akan menghasilkan kemagnetan yang
besar. Karena kemagnetan pada voltage regulator menjadi besar maka
voltage regulator akan mampu menarik kontak PL0 ke kontak PL2.
Karena kontak PL0 berhubungan dengan PL2 maka arus dari terminal
IG akan dialirkan ke massa sehingga tidak ada aliran listrik yang menuju

8
ke rotor coil, akibatnya rotor coil tidak akan menjadi magnet dan
alternator tegangan yang dihasilkan alternator akan menurun atau hilang.
Karena tegangan yang dihasilkan alternator turun maka tegangan yang
dialirkan pada terminal B alternator juga akan turun akibatnya tegangan
yang menuju ke voltage regulator juga akan turun sehingga kemagnetan
pada voltage regulator juga akan menurun. Karena kemagnetan pada
voltage regulator menurun akibatnya kontak PL0 akan lepas dari kontak
PL2 dan stator koilpun akan mendapat aliran listrik dan akan menjadi
magnet kembali. Karena stator koil mejadi magnet kembali maka
tegangan yang dihasilkan alternator akan naik dan akan membuat
kemagnetan pada voltage regulator menjadi besar kembali dan akan
menari kontak PL0 ke kontak PL2 kembali. Hal tersebut akan terjadi
berulang kali sehingga tegangan yang dihasilkan oleh alternator akan
menjadi stabil.

9
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari penulisan makalah ini
adalah:
1. Regulator berfungsi untuk mengontrol tegangan yang dihasilkan
pembangkit listrik, mengontrol arus yang kelua, dan mencegah arus balik
dari baterai. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan oleh tiga buah relai yang
ada pada regulatornya, yaitu voltage regulator, pembatas arus, dan cut out
relay
2. Regulator pada sistem pengisian berfungsi untuk mengatur arus listrik
yang disuplai ke baterai. Arus listrik yang disuplai harus stabil dan tidak
berubah-ubah walaupun kecepatan kendaraan berubah-ubah.
3. Pada kendaraan regulator terbagi menjadi 2 tipe yaitu regulator
konvensional dan regulator IC.

B. Saran
Makalah ini dapat dijadikan bahan referensi penulis selanjutnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://belajar-otomotif-1.blogspot.com/2013/07/regulator-pada-mobil.html

https://aryutomo.wordpress.com/2010/12/10/pengatur-tegangan-voltage-regulator/

11