Anda di halaman 1dari 4

Analisa Usaha Budidaya Ikan Bandeng

Asumsi

 Masa penggunaan alat pada => sewa pajak lahan selama waktu 4 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => pompa air selama waktu 3 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => alat cetak pelet manual selama waktu 5 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => selang selama waktu 3 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => paralon selama waktu 1.5 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => jaring selama waktu 2.5 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => terpal selama waktu 2 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => drum selama waktu 3 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => timbangan selama waktu 3 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => gerobak angkut selama waktu 3 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => timba selama waktu 2 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => wadah panen selama waktu 2 tahun.
 Masa penggunaan alat pada => peralatan tambahan selama waktu 1.5 tahun.

Investasi

Peralatan Harga
Sewa lahan Rp. 6,200,000
Pompa Air Rp. 1,700,000
Alat cetak pelet manual Rp. 1,000,000
Selang Rp. 120,000
Paralon Rp. 150,000
Jaring Rp. 200,000
Terpal Rp. 250,000
Drum Rp. 150,000
Timbangan Rp. 350,000
Gerobak angkut Rp. 500,000
Timba Rp. 75,000
Wadah panen Rp. 140,000
Peralatan tambahan Rp. 150,000
Jumlah Investasi Rp. 10,985,000

Biaya Operasional per Bulan


Biaya Tetap
Penyusutan sewa lahan 1/30 x Rp. 6.200.000 Rp. 206,667
Penyusutan pompa air 1/30 x Rp. 1.700.000 Rp. 56,667
Penyusutan alat cetak pelet manual 1/30 x Rp. 1.000.000 Rp. 33,333
Penyusutan selang 1/30 x Rp. 120.000 Rp. 4,000
Penyusutan paralon 1/30 x Rp. 150.000 Rp. 5,000
Penyusutan jaring 1/30 x Rp. 200.000 Rp. 6,667
Penyusutan terpal 1/30 x Rp. 250.000 Rp. 8,333
Penyusutan drum 1/30 x Rp. 150.000 Rp. 5,000
Penyusutan timbangan 1/30 x Rp. 350.000 Rp. 11,667
Penyusutan gerobak angkut 1/30 x Rp. 500.000 Rp. 16,667
Penyusutan timba 1/30 x Rp. 75.000 Rp. 2,500
Penyusutan wadah panen 1/30 x Rp. 140.000 Rp. 4,667
Penyusutan alat tambahan 1/30 x Rp. 150.000 Rp. 5,000
Total Biaya Tetap Rp. 366,167

Biaya Variabel
Bibit ikan
Rp. 75,000 x 30 = Rp. 2,250,000
bandeng
Pakan apung Rp. 80,000 x 30 = Rp. 2,400,000
Cacing Rp. 65,000 x 30 = Rp. 1,950,000
Pakan tambahan Rp. 90,000 x 30 = Rp. 2,700,000
Lumut Rp. 88,000 x 30 = Rp. 2,640,000
Vitamin Rp. 50,000 x 30 = Rp. 1,500,000
Air Rp. 50,000 x 30 = Rp. 1,500,000
Listrik Rp. 50,000 x 30 = Rp. 1,500,000
Biaya angkut Rp. 30,000 x 30 = Rp. 900,000
Pekerja Rp. 150,000 x 30 = Rp. 4,500,000
Biaya Variabel Rp. 12,690,000

Total Biaya Operasional


Biaya tetap + biaya variabel
Rp. 13,056,167
=

Pendapatan per
Bulan
Penjualan rata – rata =
40 kg x Rp. 25,000 = Rp. 1,000,000
Rp. 1,000,000 x 30 hr = Rp. 30,000,000

Keuntungan per Bulan


Laba = Total Pendapatan – Total Biaya Operasional
Rp. 30,000,000 – 13,056,167 = Rp. 16,943,833

Lama Balik Modal


Total Investasi /
Rp. 10,985,000 : 16,943,833 = 1 bln
Keuntungan =

Jadi, dengan adanya hitungan analisa usaha yang disediakan Anda dapat mengetahui
besarnya modal yang diperlukan untuk menjalankan budidaya ikan bandeng. Budidaya ikan
bandeng dapat menghasilkan keuntungan yang menjanjikan sehingga Anda harus melakukan
perawatan secara maksimal. Agar perawatan ikan bandeng dapat dilakukan dengan maksimal
sebaiknya Anda tidak hanya menggunakan lumut sebagai pakan yang digunakan. Anda bisa
menambahkan pakan apung dalam budidaya ikan bandeng. Agar proses pembuatan pakan
apung dapat dilakukan dengan lancar sebaiknya Anda menggunakan alat cetak pelet manual.
Alat cetak pelet manual disediakan oleh Toko Mesin Maksindo dengan kualitas menjanjikan
sehingga Anda tidak perlu ragu dengan kualitsnya.

Demikian tadi informasi tentang peluang usaha budidaya ikan bandeng yang sangat
menguntungkan. Semoga saja dengan adanya penjelasan di atas dapat membuat budidaya
ikan bandeng menghasilkan panen yang berlimpah.

Budidaya ikan bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja namun saat ini juga sedang
berkembang di air tawar maupun laut dengan sistem Keramba Jaring Apung (KJA). Ikan bandeng
sebagai komoditas budidaya mempunyai beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan komoditas
budidaya lainnya dalam hal :
1. Teknologi perbenihannya telah dikuasai dengan baik sehingga pasok benih tidak lagi tergantung
pada musim dan benih dari alam.
2. Teknologi budidayanya baik di tambak maupun dalam KJA telah dikuasai dengan baik, secara
teknis mudah diaplikasikan dan secara ekonomis menguntungkan.
3. Mampu mentolerir perubahan salinitas mulai dari 0-158 ppt sehingga areal budidayanya cukup
luas mulai dari perairan tawar hingga ke perairan laut.
4. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung (100-300 ekor/m3).
5. Pertumbuhannya cepat (1,6%/hari).
6. Efisien dalam memanfaatkan pakan FCR 1,7-2,2.
7. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup hingga ke pelosok desa.
8. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka.

PERMASALAHAN
Walaupun usaha budidaya bandeng dalam keramba jaring apung telah banyak dilakukan oleh
masyarakat, namun masih terbentur pads beberapa masalah diantaranya:
1. Harga pakan yang relatif masih mahal, sehingga masih diperlukan pengkajian lanjutan yang lebih
intensif khususnya bagaimana memanfaatkan bahan baku lokal yang tersedia dalarn jumlah yang
memadai sebagai bahan pakan guna menekan biaya pakan yang diperkirakan dapat mencapai 70%
dan biaya operasional
2. Belum terciptanya suatu sistem yang berorientasi agribisnis yang mampu menjamin keberlanjutan
produksi mulai dari penyiapan benih dari panti benih, penggelondongan, pembesaran, panen, dan
pemasaran sebagai upaya peningkatan efisiensi dalarn mengantisipasi pasar bebas
3. Pemenuhan benih yang bermutu, tepat waktu, jumlah, ukuran, harga, dan tempat belum
terpenuhi akibat panti-panti benih tidak terdistribusi secara merata
4. Penataan ruang untuk budidaya laut belum dikelola secara baik dengan mengacu pada hasil kapan
ilmiah yang kokoh dan profesional
5. Ketersediaan informasi pasar yang belum akurat dan tepat waktu, khususnya untuk pasar
domestik dan ekspor yang belum memadai
6. Pengadaan modal untuk petani guna menjamin kesinambungan produksi belum memadai. Untuk
itu perlu dibangun suatu kemitraan antara pengusaha dan petani ikan yang dapat menciptakan
keberlanjutan usaha dan pembagian keuntungan yang proporsional antara pemilik modal dengan
pembudidaya
7. Kontinyuitas produksi, konsistensi mutu utamanya dalarn hal bobot, rasa, ukuran, dan penampilan
fisik belum dipertahankan