Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pada tahun 2004, melalui Konvensi Nasional Akuntan Indonesia telah diputuskan
bahwa Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) akan melakukan adopsi sepenuhnya (full
adoption) International Auditing and Assurance Standards (ISA) yang dikeluarkan
oleh International Auditng Practices Committee (IAPC) dari International Federation of
Accountants (IFAC). Dengan dilakukannya adopsi ISA, maka ISA akan menggantikan
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) yang sekarang berlaku yang sebagian besar
isinya diadopsi dari AICPA Professional Standards tahun 1998. Langkah full
adoption tersebut ditempuh untuk memenuhi tuntutan pesatnya perkembangan dunia
usaha dan bisnis yang berimbas pada bidang akuntansi dan auditing. Selain itu, IAI yang
telah menjadi full members dari International Federation of Accountant (IFAC),
mempunyai kewajiban untuk mematuhi dan memenuhi butir-butir Statement of
Membership Obligation (SMO) yang salah satu diantaranya adalah bahwa semua anggota
IFAC diwajibkan untuk tunduk kepada semua standar dan pernyataan lain yang
dikeluarkan oleh International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB).
Adopsi ISA dilakukan dengan melakukan revisi terhadap Standar Profesional
Akuntan Publik (SPAP) yang selama ini digunakan acuan Akuntan Publik dalam
memberikan jasanya. Harapan penerapan ISA ini melalui profesi Akuntan Publik di
Indonesia pada saat memberikan jasa asurans maupun non asurans akan meningkatkan
kepercayaan investor global terhadap kualitas informasi keuangan di Indonesia. Adopsi
ISA merupakan bagian dari globalisasi perekonomian, termasuk globalisasi pasar uang
dan pasar modal. Banyak item dalam ISA itu sendiri yang sudah direvisi untuk
penyempurnaan dalam proses audit dan dalam kesempatan ini penulis akan mengkaji
lebih jauh mengenai Standar Perikatan Asurans 3000, 3400, 3402 dan 3420.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang ingin dikemukakan dalam
makalah ini adalah :
1. Bagaimana standar perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan
historis (“SPA”) 3000
2. Bagaimana standar perikatan asurans atas informasi keuangan prospektif ("SPA") 3400
3. Bagaimana standar perikatan asurans atas pengendalian pada organisasi jasa (“SPA”)
3402
4. Bagaimana standar perikatan asurans untuk pelaporan atas kompilasi informasi
keuangan performa yang tercantum dalam prospektus (“SPA” 3420)

C. TUJUAN PEMBAHASAN
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui standar perikatan asurans selain audit atau reviu atas
informasi keuangan historis (“SPA”) 3000
2. Untuk mengetahui standar perikatan asurans atas informasi keuangan prospektif ("SPA")
3400
3. Untuk memahami standar perikatan asurans atas pengendalian pada organisasi jasa
(“SPA”) 3402
4. Untuk memahami standar perikatan asurans untuk pelaporan atas kompilasi informasi
keuangan performa yang tercantum dalam prospektus (“SPA” 3420)
BAB II
PEMBAHASAN

STANDAR PERIKATAN ASURANS (“SPA”) 3000


(PERIKATAN ASURANS SELAIN AUDIT ATAU REVIU ATAS
INFORMASI KEUANGAN HISTORIS)

Pendahuluan
Tujuan Standar Perikatan Asurans (“SPA”) ini adalah untuk menetapkan prinsip dasar dan
prosedur esensial bagi, dan menyediakan panduan kepada, setiap individu profesional yang
berada di Kantor Akuntan Publik (untuk tujuan SPA ini disebut sebagai “praktisi”) dalam
pelaksanaan perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis yang
dicakup oleh Standar Audit (“SA”) atau Standar Perikatan Reviu (“SPR”).
SPA ini menggunakan istilah “perikatan keyakinan memadai” dan “perikatan
keyakinan terbatas” untuk membedakan dua jenis perikatan asurans yang diperkenankan
untuk dilakukan oleh seorang praktisi. Tujuan perikatan keyakinan memadai
adalah penurunan risiko perikatan asurans ke tingkat rendah yang dapat diterima
sesuai dengan kondisi perikatan sebagai basis untuk suatu bentuk pernyataan positif dari
kesimpulan praktisi. Tujuan perikatan keyakinan terbatas adalah penurunan risiko perikatan
asurans ke tingkat yang dapat diterima sesuai dengan kondisi perikatan, tetapi risiko tersebut
lebih besar daripada risiko dalam suatu perikatan keyakinan memadai, sebagai basis untuk
suatu bentuk pernyataan negatif dari kesimpulan praktisi.

Hubungan dengan Kerangka, SPA Lainnya, SA, dan SPR


Praktisi harus mematuhi SPA ini dan SPA lainnya yang relevan ketika melaksanakan suatu
perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis yang dicakup oleh
SA atau SPR. SPA ini harus dibaca dalam konteks “Kerangka untuk Perikatan Asurans”
(“Kerangka”), yang mendefinisikan dan menjelaskan elemen dan tujuan suatu perikatan
asurans, serta mengindentifikasi perikatan-perikatan yang diterapkan SPA. SPA ini ditulis
untuk penerapan umum terhadap perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi
keuangan historis yang dicakup oleh SA atau SPR. SPA lainnya mungkin berkaitan dengan
topik-topik yang berlaku untuk semua hal pokok atau hal pokok yang spesifik.

Ketentuan Etika
Praktisi harus mematuhi ketentuan dalam Bagian A dan Bagian B Kode Etik Profesi
Akuntan Publik yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (“Kode Etik”). Kode
Etik menyediakan suatu kerangka prinsip yang digunakan oleh anggota tim asurans, KAP,
dan KAP jejaring untuk mengidentifikasi ancaman terhadap independensi, mengevaluasi
signifikansi ancaman, dan jika ancaman tersebut merupakan ancaman selain dari ancaman
yang secara jelas tidak signifikan, mengidentifikasi dan menerapkan pencegahan untuk
menghilangkan ancaman tersebut atau menguranginya ke tingkat yang dapat diterima,
sehingga independensi 1 dalam pemikiran dan independensi dalam penampilan tidak
terganggu.

Pengendalian Mutu
Praktisi harus mengimplementasikan prosedur pengendalian mutu yang berlaku untuk
perikatan secara individual. Berdasarkan Standar Pengendalian Mutu (“SPM”),
“Pengendalian Mutu bagi Kantor Akuntan Publik yang Melaksanakan Perikatan asurans
(Audit, Reviu, dan Perikatan Asurans Lainnya) dan Perikatan selain Asurans,”3 KAP
berkewajiban untuk menetapkan suatu sistem pengendalian mutu yang dirancang untuk
menyediakan suatu keyakinan memadai bahwa KAP tersebut dan personelnya mematuhi
standar profesi dan peraturan perundang-undangan, dan bahwa laporan asurans yang
diterbitkan adalah tepat sesuai dengan kondisinya. Selain itu, unsur pengendalian mutu yang
relevan dengan perikatan secara individual mencakup tanggung jawab kepemimpinan,
ketentuan etika, penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien serta perikatan
spesifik, penugasan tim perikatan, pelaksanaan perikatan, dan pemantauan.

Penerimaan dan Keberlanjutan Perikatan


Praktisi harus menerima (atau melanjutkan jika relevan) suatu perikatan asurans hanya jika
hal pokok merupakan tanggung jawab pihak selain pengguna yang dituju atau
praktisi. Sebagaimana ditunjukkan dalam paragraf dalam Kerangka, pihak yang
bertanggung jawab dapat merupakan salah satu dari pengguna yang dituju, namun bukan
satu-satunya yang dituju. Pengakuan oleh pihak yang bertanggung jawab memberikan bukti
bahwa terdapat hubungan yang tepat, dan juga menetapkan suatu basis untuk suatu
pemahaman bersama tentang tanggung jawab setiap pihak. Suatu pengakuan tertulis
merupakan bentuk yang paling tepat untuk mendokumentasikan pemahaman pihak yang
bertanggung jawab. Dalam kondisi tidak terdapatnya suatu pengakuan tentang tanggung
jawab, praktisi mempertimbangkan:
a) Apakah tepat untuk menerima perikatan. Penerimaan perikatan dianggap tepat bila,
sebagai contoh, sumber lain, seperti legislasi atau suatu kontrak, menunjukkan tanggung
jawab; dan.
b) Jika perikatan diterima, apakah kondisi tersebut di atas diungkapkan dalam laporan
asurans.
Praktisi harus menerima (atau melanjutkan jika relevan) suatu perikatan asurans hanya jika,
atas basis suatu pengetahuan awal tentang kondisi perikatan, tidak ada hal yang menjadi
perhatian praktisi yang menunjukkan bahwa ketentuan Kode Etik atau SPA tidak akan dapat
terpenuhi. Praktisi harus menerima (atau melanjutkan jika relevan) suatu perikatan
asurans hanya jika praktisi yakin bahwa personel yang akan melaksanakan
perikatan memiliki secara kolektif kompetensi profesional yang diperlukan.

Kesepakatan Ketentuan Perikatan


Praktisi harus menyepakati ketentuan perikatan dengan pihak pemberi tugas. Untuk
menghindari terjadinya kesalahpahaman, ketentuan yang telah disepakati didokumentasikan
dalam suatu surat perikatan atau bentuk kontrak lainnya yang sesuai. Jika pihak pemberi
tugas bukan merupakan pihak yang bertanggung jawab, sifat dan isi surat perikatan atau
kontrak dapat bervariasi. Keberadaan suatu mandat legislatif dapat memenuhi ketentuan
untuk menyepakati ketentuan perikatan. Bahkan dalam situasi demikian, surat perikatan
dapat berguna baik bagi praktisi maupun pihak pemberi tugas.
Seorang praktisi harus mempertimbangkan ketepatan suatu permintaan, yang dibuat sebelum
penyelesaian suatu perikatan asurans, untuk mengubah perikatan menjadi suatu perikatan
selain perikatan asurans atau dari suatu perikatan keyakinan memadai menjadi suatu
perikatan keyakinan terbatas, dan tidak diperkenankan untuk menyetujui perubahan tersebut
tanpa justifikasi yang memadai. Suatu perubahan dalam kondisi perikatan yang memengaruhi
kebutuhan pengguna yang dituju, atau suatu kesalahpahaman tentang sifat perikatan, pada
umumnya akan menjustifikasi suatu permintaan untuk perubahan dalam perikatan. Jika
perubahan tersebut dilakukan, praktisi tidak boleh mengabaikan bukti yang diperoleh
sebelum perubahan tersebut.

Perencanaan dan Pelaksanaan Perikatan


Praktisi harus merencanakan perikatan sedemikian rupa sehingga perikatan tersebut dapat
dilaksanakan secara efektif. Praktisi harus merencanakan dan melaksanakan suatu perikatan
dengan sikap skeptisisme profesional yang menyadari bahwa kondisi yang tidak biasa
dapat terjadi yang menyebabkan terjadinya kesalahan penyajian material dalam informasi
hal pokok. Praktisi harus memperoleh suatu pemahaman tentang hal pokok dan
kondisi lainnya dari perikatan, yang memadai untuk mengidentifikasi dan menilai
risiko kesalahan penyajian material dalam informasi hal pokok, dan yang memadai untuk
merancang dan melakukan prosedur pengumpulan bukti lebih lanjut.

Penilaian Ketepatan Hal Pokok


Praktisi harus menilai ketepatan hal pokok. Praktisi juga mengidentifikasi karakteristik hal
pokok yang secara khusus relevan dengan pengguna yang dituju, yang akan dijelaskan
dalam laporan asurans.

Penilaian atas Kesesuaian Kriteria


Praktisi harus menilai kesesuaian kriteria untuk mengevaluasi atau mengukur hal
pokok. Kriteria yang sesuai memiliki karakteristik yang tercantum dalam paragraf 36 dari
Kerangka. Seperti yang diindikasikan dalam paragraf 17 dari Kerangka, seorang praktisi
tidak menerima suatu perikatan asurans, kecuali pengetahuan awal praktisi tentang kondisi
perikatan mengindikasikan bahwa kriteria yang akan digunakan sudah sesuai. Namun, jika
setelah menerima perikatan, praktisi menyimpulkan bahwa kriteria yang digunakan tidak
sesuai, praktisi harus menyatakan suatu kesimpulan wajar dengan pengecualian, kesimpulan
tidak wajar, atau tidak menyatakan kesimpulan. Dalam beberapa kasus, praktisi
mempertimbangkan penarikan diri dari perikatan.
Materialitas dan Risiko Perikatan Asurans
Praktisi harus mempertimbangkan materialitas dan risiko perikatan asurans ketika
merencanakan dan melaksanakan suatu perikatan asurans.
Praktisi harus mengurangi risiko perikatan asurans ke suatu tingkat rendah yang 1dapat
diterima sesuai dengan kondisi perikatan.

Penggunaan Pekerjaan Pakar


Ketika pekerjaan seorang pakar digunakan dalam pengumpulan dan pengevaluasian bukti,
praktisi dan pakar tersebut harus, secara kolektif, memiliki keahlian dan pengetahuan yang
memadai tentang hal pokok dan kriteria agar praktisi dapat menentukan bahwa bukti yang
cukup dan tepat telah diperoleh. Hal pokok dan kriteria terkait dari beberapa perikatan
asurans dapat mencakup aspek-aspek yang mensyaratkan pengetahuan dan keahlian khusus
dalam pengumpulan dan pengevaluasian bukti. Dalam situasi tersebut, praktisi dapat
memutuskan untuk menggunakan pekerjaan orang-orang dari disiplin profesi lain, yang
dirujuk sebagai pakar, yaitu mereka yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang
dibutuhkan. SPA ini tidak memberikan panduan atas penggunaan pekerjaan pakar untuk
perikatan- perikatan yang memiliki tanggung jawab dan pelaporan bersama antara
seorang praktisi dengan satu atau lebih pakar.

Pemerolehan Bukti
Praktisi harus memperoleh bukti yang cukup dan tepat sebagai basis untuk menyatakan
kesimpulan. Kecukupan adalah ukuran kuantitas bukti. Ketepatan adalah ukuran kualitas
bukti; yaitu, relevansi dan keandalan bukti tersebut. Praktisi mempertimbangkan hubungan
antara biaya untuk memperoleh bukti dengan manfaat informasi yang diperoleh. Namun, hal
tentang kesulitan atau biaya yang terlibat bukan dengan sendirinya merupakan suatu basis
yang valid untuk mengabaikan suatu prosedur pengumpulan bukti ketika tidak terdapat
alternatif yang tersedia. Praktisi mengggunakan pertimbangan profesional dan skeptisisme
profesional dalam mengevaluasi kuantitas dan kualitas bukti, yaitu kecukupan dan ketepatan
bukti tersebut, untuk mendukung laporan asurans.

Representasi oleh Pihak yang Bertanggung Jawab


Praktisi harus memperoleh representasi dari pihak yang bertanggung jawab. Konfirmasi
tertulis atas representasi lisan mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahpahaman antara
praktisi dengan pihak yang bertanggung jawab. Secara khusus praktisi meminta dari pihak
yang bertanggung jawab suatu representasi tertulis mengenai pengevaluasian atau
pengukuran hal pokok dibandingkan dengan kriteria yang diidentifikasi, dan apakah
representasi tertulis tersebut akan disediakan sebagai suatu asersi kepada pengguna yang
dituju. Ketiadaan representasi tertulis dapat mengakibatkan suatu kesimpulan wajar dengan
pengecualian atau tidak menyatakan kesimpulan berdasarkan suatu pembatasan dalam ruang
lingkup perikatan. Praktisi juga dapat mencantumkan suatu pembatasan atas penggunaan
laporan asurans.

Pertimbangan atas Peristiwa Setelah Tanggal Pelaporan


Praktisi harus mempertimbangkan pengaruh peristiwa yang terjadi hingga tanggal laporan
asurans terhadap informasi hal pokok dan laporan asurans. Luas pertimbangan peristiwa
setelah tanggal pelaporan bergantung pada potensi peristiwa tersebut memengaruhi informasi
hal pokok dan memengaruhi ketepatan kesimpulan praktisi.

Dokumentasi
Praktisi harus mendokumentasikan hal-hal yang signifikan dalam menyediakan bukti yang
mendukung laporan asurans dan bahwa perikatan dilaksanakan berdasarkan SPA.
Dokumentasi mencakup suatu catatan tentang dasar praktisi atas seluruh hal signifikan yang
membutuhkan penggunaan pertimbangan, dan kesimpulan terkait.

Penyusunan Laporan Asurans


Praktisi harus menyimpulkan apakah bukti yang cukup dan tepat telah diperoleh untuk
mendukung kesimpulan yang dinyatakan laporan asurans. Dalam mengembangkan
kesimpulan, praktisi mempertimbangkan seluruh bukti relevan yang diperoleh, terlepas
apakah bukti-bukti tersebut mendukung atau bertentangan dengan informasi hal pokok.
Laporan asurans harus tertulis dan berisi suatu pernyataan jelas tentang kesimpulan praktisi
atas informasi hal pokok. Pernyataan kesimpulan berbentuk lisan dan lainnya dapat
mengakibatkan kesalahpahaman jika tidak didukung suatu laporan tertulis. Untuk alasan ini,
praktisi tidak melaporkan secara lisan atau menggunakan simbol-simbol yang juga
tidak memberikan suatu laporan asurans tertulis yang definitif.

Isi Laporan Asurans


Laporan assurans harus berisi unsur-unsur pokok di bawah ini:
a) Suatu judul yang secara jelas mengindikasikan bahwa laporan tersebut merupakan
suatu laporan asurans independen
b) Pihak yang dituju: pihak yang dituju mengidentifikasi pihak atau pihak-pihak
yang dituju oleh laporan asurans. Jika praktis, laporan asurans ditujukan kepada
seluruh pengguna yang dituju, tetapi dalam beberapa kasus, kemungkinan terdapat
pengguna yang dituju lainnya.
c) Suatu identifikasi dan deskripsi tentang informasi hal pokok dan, jika relevan.
d) Pengidentifikasian kriteria: laporan asurans mengidentifikasi kriteria yang menjadi
dasar pengevaluasian atau pengukuran hal pokok sehingga pengguna yang
dituju dapat memahami basis kesimpulan praktisi. Laporan asurans dapat
mencakup kriteria, atau mengacu pada kriteria tersebut, jika kriteria tersebut
tercantum dalam suatu asersi yang disiapkan oleh pihak yang bertanggung jawab
yang tersedia bagi pengguna yang dituju atau jika kriteria tersebut tersedia pada
suatu sumber yang dapat diakses.
e) Jika relevan, suatu penjelasan keterbatasan yang signifikan dan inheren, yang terkait
dengan pengevaluasian atau pengukuran hal pokok dibandingkan dengan kriteria.
f) Ketika kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur hal
pokok tersedia hanya bagi pengguna tertentu yang dituju, atau hanya relevan dengan
suatu tujuan tertentu, suatu pernyataan yang membatasi penggunaan laporan asurans
bagi pengguna yang dituju tersebut atau untuk tujuan tersebut.
g) Suatu pernyataan untuk mengidentifikasi pihak yang bertanggung jawab dan untuk
menjelaskan tanggung jawab dari pihak yang bertanggung jawab dan praktisi.
h) Suatu pernyataan bahwa perikatan dilaksanakan berdasarkan SPA: jika terdapat SPA
yang mengatur suatu topik khusus, maka SPA tersebut mungkin mengharuskan
bahwa laporan asurans mengacu secara spesifik ke standar tersebut.
i) Suatu ikhtisar tentang pekerjaan yang telah dilakukan: ikhtisar tersebut
akan membantu pengguna yang dituju untuk memahami sifat asurans yang
disampaikan oleh laporan asurans. SA 700, “Laporan Auditor atas Laporan
Keuangan” dan SPR 2400, “Perikatan untuk Mereviu Laporan Keuangan”
menyediakan suatu panduan bagi jenis ikhtisar yang tepat.
j) Kesimpulan praktisi: jika informasi hal pokok terbentuk dari sejumlah
aspek, kesimpulan terpisah dapat disediakan untuk setiap aspek. Sementara tidak
semua kesimpulan tersebut perlu berkaitan dengan tingkat yang sama atas
prosedur pengumpulan bukti, setiap kesimpulan dinyatakan dalam bentuk yang tepat
sesuai dengan perikatan keyakinan memadai atau keyakinan terbatas.
k) Tanggal laporan asurans: ini menginformasikan kepada pengguna yang dituju bahwa
praktisi telah mempertimbangkan dampak peristiwa yang terjadi sampai dengan
tanggal laporan asurans terhadap informasi hal pokok dan laporan asurans.
l) Nama KAP atau praktisi, dan lokasi spesifik KAP, yang pada umumnya adalah kota
tempat berkantornya praktisi yang bertanggung jawab atas perikatan:
ini menginformasikan kepada pengguna yang dituju tentang individu atau KAP
yang bertanggung jawab atas perikatan.

Kesimpulan dengan Pengecualian, Kesimpulan Tidak Wajar/Tidak


Sesuai7, dan 5 Pernyataan tidak Memberikan Kesimpulan
Praktisi tidak diperbolehkan untuk menyatakan suatu kesimpulan tanpa pengecualian ketika
terdapat kondisi-kondisi di bawah ini dan, menurut pertimbangan praktisi, pengaruh hal-hal
di bawah ini adalah atau kemungkinan material:
a) Terdapat suatu pembatasan ruang lingkup pekerjaan praktisi, yaitu, kondisi yang
menghalangi, atau pihak yang bertanggung jawab atau pihak pemberi tugas melakukan
pembatasan yang menghalangi praktisi untuk memeroleh bukti yang dibutuhkan untuk
menurunkan risiko perikatan asurans ke tingkat yang tepat. Praktisi harus menyatakan
suatu kesimpulan dengan pengecualian atau suatu pernyataan tidak memberikan
kesimpulan;
b) Setelah perikatan diterima, ketika ditemukan bahwa kriteria yang digunakan tidak sesuai
atau hal pokok tidak tepat untuk suatu perikatan asurans. praktisi harus menyatakan:
(i) Suatu kesimpulan dengan pengecualian atau kesimpulan Tidak Wajar/ Tidak Sesuai
ketika kriteria yang digunakan tidak sesuai atau hal pokok yang tidak tepat
kemungkinan akan menyesatkan pengguna yang dituju; atau
(ii) Suatu kesimpulan dengan pengecualian atau pernyataan tidak memberikan
kesimpulan dalam kasus-kasus lain.

Tanggung Jawab Pelaporan Lainnya


Praktisi harus mempertimbangkan tanggung jawab pelaporan lainnya, termasuk ketepatan
pengomunikasian hal-hal yang relevan dengan kepentingan tata kelola yang timbul dari
perikatan asurans kepada pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola. Dalam SPA ini,
“tata kelola” menjelaskan peran individu-individu yang dipercaya untuk mengawasi,
mengendalikan, dan mengarahkan pihak yang bertanggung jawab.Pihak yang bertanggung
jawab atas tata kelola pada umumnya bertanggung jawab untuk memastikan bahwa suatu
entitas mencapai tujuannya dan untuk melaporkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Jika pihak pemberi penugasan berbeda dari pihak yang bertanggung jawab, mungkin tidak
tepat untuk berkomunikasi secara langsung dengan pihak yang bertanggung jawab atau pihak
yang bertanggung jawab atas tata kelola dari pihak yang bertanggung jawab.

Berlaku efektif untuk laporan asurans bertanggal 1 Juli 2017 atau setelahnya.
STANDAR PERIKATAN ASURANS ("SPA") 3400
PEMERIKSAAN ATAS INFORMASI KEUANGAN PROSPEKTIF

Pendahuluan
Tujuan Standar Perikatan Asurans (SPA) ini adalah untuk menetapkan standar dan menyediakan
panduan bagi perikatan untuk memeriksa dan melaporkan informasi keuangan prospektif,
termasuk prosedur pemeriksaan untuk estimasi terbaik dan asumsi hipotesis. SPA ini tidak
berlaku bagi pemeriksaan adas informasi keuangan prospektif yang dinyatakan dalam bentuk
umum atau naratif, seperti yang ditemukan dalam pembahasan dan analisis oleh manajemen
dalam laporan keuangan tahunan entitas, meskipun banyak prosedur yang diuraikan dalam SPA
ini mungkin cocok untuk pemeriksaan tersebut.
Dalam suatu perikatan untuk memeriksa informasi keuangan prospektif, auditor harus
memperoleh bukti yang cukup dan tepat tentang apakah:
a) Asumsi terbaik manajemen yang mendasari informasi keuangan prospektif adalah wajar
dan dalam hal asumsi hipotesis asumsi tersebut konsisten dengan tujuan informasi
b) Informasi keuangan prospektif disusun dengan tepat berdasarkan asumsi-asumsi
c) Informasi keuangan prospektif disajikan dengan tepat dan seluruh asumsi material
diungkapkan secara memadai, termasuk suatu infikasi yang jelas apakah asumsi tersebut
merupakan asumsi estimasi terbaik atau asumsi hipotesis
d) Informasi keuangan prospektif disusun dengan menggunakan suatu basis yang konsisten
dengan basis yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan historis dengan
menggunakan prinsip akuntansi yang tepat

“Informasi Keuangan Prospektif” berarti informasi keuangan berdasarkan asumsi tentang


peristiwa yang kemungkinan terjadi dimasa depan dan tindakan yang mungkin dilakukan oleh
suatu entitas. Informasi keuangan prospektif sangat tinggi subjektivitasnya dan penyusunannya
menurut penggunaan pertimbangan yang mendalam. Informasi keuangan prospektif dapat
berbentuk suatu prakiraan, proyeksi atau kombinasi dari keduanya, sebagai contoh, prakiraan
satu tahun ditambah dengan suatu proyeksi lima tahun.
“Prakiraan” berarti informasi keuangan prospektif yang disusun berdasarkan asumsi tentang
peristiwa di masa depan yang diharapkan oleh manajemen akan terjadi dan tindakan yang
diharapkan oleh manajemen akan dilakukan pada tanggal disusunnya informasi tersebut (asumsi
estimasi terbaik)
“Proyeksi” berarti informasi keuangan prospektif yang disusun berdasarkan :
a) Asumsi hipotesis tentang peristiwa dimasa depan dan tindakan manajemen yang belum
tentu diharapkan akan terjadi, seperti ketika beberapa entitas yang berada pada tahap pra
operasi atau sedang mempertimbangkan suatu perubahan besar dalam sifat usaha, atau
b) Suatu paduan asumsi estimasi terbaikdan susunan hipotesis

Informasi tersebut mengilustrasikan konsekuensi yang mungkin terjadi pada tanggal


disusunnya informasi tesebut seandainya peristiwa atau tindakan tersebut terjadi.
Informasi keuangan prospektif mencakup laporan keuangan atau satu atau lebih unsur laporan
keuangan dan dapat disusun:
a) Sebagai alat manajemen internal, sebagai contoh, untuk membantu dalam mengevaluasi
kemungkinan investasi midal, atau
b) Untuk didistribusikan kepada pihak ketiga dalam, sebagai contoh:
 Prospektus untuk menyediakan informasi tentang ekspektasi masa depan bagi investor
potensial
 Laporan tahunan untuk menyediakan informasi bagi pemegang saham, badan
pengatur dan pihak yang berkepentingan lain
 Dokumen untuk informasi bagi kreditor yang mungkin mencakup, sebagai contoh,
prakiraan arus kas.
c) Manajemen bertanggung jawab untuk penyusunan dan penyajian informasi keuangan
prospektif, termasuk pengidentifikasian dan pengungkapan asumsi yang menjadi basis
informasi tersebut. auditor dapat diminta untuk memeriksa dan melaporkan informasi
keuangan prospektif tersebut untuk meningkatkan kredibilitasnya maupun untuk tujuan
internal.

Keyakinan Auditor tentang Informasi Keuangan Prospektif


Informasi keuangan prospektif berhubungan dengan peristiwa dan tindakan yang belum terjadi
atau mungkin tidak terjadi. Sementara bukti yang tersedia untuk mendukung asumsi yang
mendasari informasi keuangan prospektif, bukti tersebut secara umum dengan sendirinya
berorientasi ke masa depan dan oleh karena itu, bersifat spekulatif yang berbeda dari bukti yang
umumnya tersedia dalam audit atas informasi keuangan keuangan historis. Oleh karena itu,
auditor tidak berada dalam posisi untuk menyatakan suatu opini tantang apakah hasil yang
disajikan dalam informasi keuangan prospektif akan tercapai.
Disamping itu dengan jenis bukti yang tersedia dalam menilai asumsi yang menadari informasi
keuangan prospektif, kemungkinan sulit bagi auditor untuk memperoleh tingkat kepuasan yang
cukup untuk menyediakan bentuk pernyataan positif bahwa asumsi tersebut bebas dari kesalahan
penyajian material. Sebagai kensekuensinya dalam SPA ini ketika melaporkan tentang kewajaran
asumsi manajemen, auditor hanya menyediakan tingkat keyakinan yang moderat. Namun, bila
menurut pertimbangan auditor tingkat kepuasan yang tepat telah diperoleh, auditor tidak
dihalangi untuk menyatakan kayakinan positif tentang asumsi tersebut.
Penerimaan Perikatan
Sebelum menerima suatu perikatan untuk memeriksa informasi keuangan prospektif, auditor
akan mempertimbangkan hal-hal antara lain:
 Tujuan penggunaan informasi
 Pendistribusian informasi, yaitu apakah akan didistribusikan secara umum atau terbatas
 Sifat asumsi, yaitu apakah asumsi tersebut merupakan asumsi estimasi terbaik atau
asumsi hipotesis
 Unsur yang dimasukkan ke dalam informasi, dan
 Periode yang dicakup oleh informasi

Auditor tidak boleh menerima, atau harus menarik diri dari suatu perikatan, ketika asumsi secara
jelas tidak realistis atau ketika auditor meyakini bahwa informasi keuangan prospektif akan
menjadi tidak tepat untuk tujuan yang dimaksud.
Auditor dan klien harus menyepakati ketentuan perikatan. Hal ini merupakan kepentingan entitas
dan auditor bahwa auditor mengirimkan surat perikatan untuk membantu dalam menghindari
kesalahpahaman tentang perikatan. Suatu surat perikatan akan memasukkan hal-hal dalam
paragraf 10 dan menetapkan tanggung jawab manajemen atas asumsi dan untuk menyediakan
bagi auditor semua informasi relevan dan data sumber yang digunakan dalam mengembangkan
asumsi.
Pengetahuan tentang Bisnis
Auditior harus memperoleh suati tingkay pengetahuan yang memadai tentang bisnis agar mampu
mengevaluasi kecakupan dan kelengkapan asumsi signifikan yang dibutuhkan untuk menyusun
informasi keuangan prospektif. Auditor juga perlu memahami proses penyusunan informasi
keuangan prospektif entitas, sebagai contoh dengan mempertimbangan hal-hal sebagai berikut:
 Pengendalian internal terhadap sistem yang digunakan untuk menyusun informasi
keuangan prospektif serta keahlian dan pengalaman personel yang menyusun informasi
keuangan prospektif tersebut
 Sifat dokumentasi yang disusun oleh entitas yang mendukung asumsi manajemen
 Luas penggunaan teknik statistik, matematis dan berbantuan komputer yang digunakan
 Metode yang digunakan untuk mengembangkan dan menerapkan asumsi
 Akurasi informasi keuangan prospektif yang disusun pada periode lalu beserta alasan
terjadinya penyimpangan signifikan

Auditor harus mempertimbangkan seberapa besar tingkat keandalan terhadap informasi


keuangan historis entitas dapat dijustifikasi. Auditor membutuhkan pemahaman mengenai
informasi keuangan historis entitas untuk menilai apakah informasi keuangan prospektif telah
disusun berdasarkan suatu basis yang konsisten dengan informasi keuangan hidtoris dan
menyediakan tolak ukur historis untuk mempertimbangkanasumsi manajemen. Auditor perlu
menetapkan, sebagai contoh apakah informasi keuangan historis diaudit atau direview dan
apakah kerangka pelaporan keuanganyang berlaku digunakan dalam penyusunannya
Jika laporan audit atau review atas informasi keuangan historis periode lalu merupakan laporan
tanpa modifikasian atau entitas berada pada tahap awal usahanya, auditor mempertimbsngksn
fakta yang melingkupi dan dampaknya terhadap pemeriksaan atas informasi keuangan prospektif
Periode yang Dicakup
Auditor harus mempertimbangkan periode yang dicakup oleh informasi kauangan prospektif.
Oleh karena asumsi menjadi lebih spekulatif ketika periode yang di cakup menjadi lebih panjang.
Kemampuan manajemen untuk membuat asumsi estimasi terbaik menurun. Periode tersebut
tidak seharusnya melampaui seuatu periode yang manajemen dianggap masih memiliki suatu
basis wajar untuk menetapkan asumsi tersebut. berikut ini adalah beberapa faktor yang relevan
dengan pertimbangan auditor atas periode yang dicakup oleh informasi keuangan prospektif:
 Siklus operasi, sebagai conto, dalam kasus suatu proyek konstruksi besar waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek dapat menentukan periode yang dicakup
 Tingkat keandalan asumsi, sebagai contoh, jika entitas memperkenalkan suatu produk
baru, periode prospektif yang dicakup dapat lebih pendekdan dapat dibagi menjadi
beberapa segmen kecil, seperti minggu atau bulan. Sebagai alternatif jika satu-satunya
bisnis entitas adalah kepemilikan suatu properti yang disewakan dalam jangka panjang,
periode prospektif yang relatif lebih panjang mungkin dianggap wajar
 Kebutuhan pengguna, sebagai contoh, informasi keuangan prospektif mungkin disusun
dalam hubungannya dengan suatu permohonan pinjamannya selama suatu periode yang
dibutuhkan untuk menghasilkan dana yang cukup untuk pelunasan pinjaman tersebut.
sebagai alternatif, informasi keuangan prospektif mungkin disusun bagi investor
sehubungan dengan penjualan efek hutang untuk menggunakan dana hasil penjualan
tersebut di periode mendatang

Prosedur Pemeriksaan
Pada saat menentukan sifat, saat dan luas prosedur pemeriksaan, pertimbangan auditor harus
mencakup:
a) Kemungkinan kesalahan penyajian
b) Pengetahuan yang diperoleh selama perikatan sebelumnya
c) Kompetensi manajemen dalam penyusunan informasi keuangan prospektif
d) Luas dampak pertimbangan manajemen terhadap informasi keuangan prospektif, dan
e) Kecakupan dan keandalan data yang mendasarinya

Auditor akan menilai sumber dan keandalan bukti yang mendukung asumsi estimasi terbaik
manajemen. Bukti yang cukup dan tepat yang mendukung asumsi tersebut akan diperoleh dari
sumber internal dan sketernal, termasuk pertimbangan tentang asumsi dalam hubungannya
dengan informasi historis dan suatu evaluasi tentang apakah asumsi tersebut didasarkan pada
rencana yang berada dalam kapasitas entitas.
Auditor akan mempertimbangkan apakah pada waktu asumsi hipotesis digunakan semua,
implikasi signifikan dari asumsi tersebut telah diperhitungkan dalam pertimbangan. Sebagai
contoh, jika perusahaan diasumsikan tumbuh melebihi kapasitas pabrik entitas kini, informasi
keuangan prospektif akan perlu memasukan investasi yang dibutuhkan atas tambahan kapasitas
pabrik atau biaya untuk cara-cara alternatif dalam memenuhi penjualan yang diantisipasi, seperti
melakukan subkontrak produksi.
Meskipun bukti yang mendukung asumsi hipotesis tidak perlu diperoleh, auditor tetap perlu
meyakinkan dirinya bahwa asumsi tersebut konsisten dengan tujuan informasi keuangan
prospektif dan bahwa tidak terdapat alasan untuk meyakini bahwa asumsi tersebut secara jenis
tidak realistis.
Auditor perlu memperoleh keyakinan bahwa informasi keuangan prospektif disusun dengan tepat
berdasarkan asumsi manajemen melalui, sebagai contoh membuat pengecekan klerikal seperti
perhitungan ulang dan penelaahan konsistensi internal, yaitu, tindakan yang akan dilakukan
manajemen sesuai satu sama lainnya dan tidak terdapat ketidakkonsistensian dalam penentuan
angka-angka yang didasari olrh variabel yang sama seperti tingkat bunga.
Auditor akan menemuka perhatiannya pada beberapa luasnya area yang secara khusus sensitif
terhadap variasi yang akan memiliki dampak material terhadap hasil yang disajikan dalam
informasi keuangan prospektif. Hal ini akan mempengaruhi luas bukti yang harus diperoleh
auditor. Hal ini juga akan mempengaruhi pengevaluasian auditor atas ketetapan dan kecakupan
pengungkapan.
Auditor akan memusatkan perhatiannya pada seberapa luasnya area yang secara khusus sensitif
terhadap variasi yang akan memiliki dampak material terhadap hasil yang disajikan dalam
informasi keuangan prospektif. Hal ini akan mempengaruhi luas bukti yang harus diperoleh
auditor. Hal ini jug akan mempengaruhi pengevaluasian auditor atas ketepatan dan kecukupan
pengungkapan.
Ketika ditugasi untuk memeriksa suatu atau lebih unsur informasi keuangan prospektif, seperti
laporan keuangan individual, merupakan hal penting bahwa auditor mempertimbangkan
hubungan timbal balik dengan komponen lain dalam laporan keuangan.
Ketika terdapat bagian yang sudah terlampaui dari periode kini disajikan dalam informasi
keuangan prospektif, auditor perlu mempertimbangkan luas prosedur yang diterapkan terhadap
informasi keuangan historis. Prosedur tersebut bervariasi tergantung pada kondisinya, sebagai
contoh, seberapa lama periode prospektif telah terlampaui.
Auditor harus memperolrh representasi tertulis dari manajemen tentang tujuan penggunaan
informasi keuangan prospektif, kelengkapan asumsi signifikan manajemen dan pengakuan
manajemen tentang tanggung jawabnya informasi keuangan prospektif.
Penyajian dan Pengungkapan
Ketika menlai penyajian dan pengungkapan informasi keuangan prospektif, selain ketentuan
spesifik dari status, regulasi atau standar profesi yang relvan, auditor perlu mempertimbangkan
apakah:
a) Penyajian informasi keuangan prospektif telah informatif dan tidak menyesatkan.
b) Kebijakan akuntansi diungkapkan dengan jelas dalam catatan atas informasi keuangan
prospektif.
c) Asumsi diungkapkan secara memadai dalam informasi keuangan prospektif.
Pengungkapan asumsi tersebut harus jelas, yaitu apakah asumsi tersebut adalah asumsi
terbaik manajemen atau asumsi hipotesis, dan bila asumsi dibuat dalam area yang
material dan dipengaruhi oleh tingkat ketidakkepastian tersebut dan hasil sensitivitas
yang ditimbulkan perlu diungkapkan secara memadai.
d) Tanggal informasi keuangan prospektif diungkapkan. Manajemen perlu menyatakan
bahwa asumsi yang digunakan tepat pasa tanggal tersebut, meskipun informasi yang
mendasarinya mungkin telah dikumpulkan selama suatu jangka waktu tertentu.
e) Bila hasil yang disajikan informasi keuangan prospektif dinyatakan dalam suatu rentang,
basis penetapan angka-angka dalm rentang tersebut dinyatakan secara jelas dan rentang
tersebut tidak dipilih dengan cara yang bias atau menyestkan, dan
f) Perubahan dalam kebijakan akuntansi sejak laporan keuangn historis terkini
diungkapkan, disertai dengan alasan perubahan tersebut dan dampaknya terhadap
informasi keuangan prospektif.

Laporan atas Pemeriksaan terhadap Informasi Keuangan Prospektif


Laporan oleh auditor atas suatu pemeriksaan terhadap informasi keuangan prospektif harus berisi
hal-hal sebagai berikut:
a) Judul
b) Pihak yang dituju
c) Identifikasi informasi keuangan prospektif
d) Pengacuan ke SPA atau standar profesi yang relvan dengan pemeriksaan informasi
keuangan prospektif
e) Pernyataan bahwa manajemen bertanggungjawab atas informasi keuangan prospektif,
termasuk asumsi yang mendasarinya
f) Bila relvan, suatu pengacuan ke tujuan dan atau pembatasan distribusi informasi
keuangan prospektif
g) Pernyataan keyakinan negatif tentang apakah asumsi menyediakan suatu basis wajar
untuk informasi keuangan prospektif
h) Suatu opini tentang apakah informasi keuangan prospektif disusun secara tepat
berdasarkan asumsi yang digunakan dan yang disajikan sesuai dengan kerangka
pelaporan keuangan yang relevan
i) Pernyataan yang tepat bahwa ketercapaian hasil sebagaimana ditujukan dalam
informasi keuangan prospektif belum tentu akan tercapai
j) Tanggal laporan, yang merupakan tanggal diselesaikannya prosedur secara subtansial
k) Alamat auditor, dan
l) Tanda tangan
m) Laporan tersebut
 Menyatakan apakah, berdasarkan pemeriksaan atas bukti-bukti yang
mendukung asumsi terdapat atau tidak terdapatnya hal-hal yang menjadi
perhatian auditor yakin bahwa asumsi tersebut tidak menyediakan suatu basis
wajar untuk informasi keuangan prospektif.
 Mensyaratkan suatu opini tentang apakah informasi keuangan prospektif
telah disusun dengan tepat berdasarkan asumsi dan disajikan sesuai dengan
kerangka pelaporan keuangan yang relevan
 Menyatakan bahwa:
o Hasil akutual akan berbeda dari informasi keuangan prospektif karena
peristiwa yang diantisipasi seringkali tidak terjadi seperti yang diharapkan
dan perbedaannya kemungkinan material. Sama halnya ketika informasi
keuangan prospektif dinyatakan dalam suaturentang, terdapat pernyataan
bahwa tidak terdapatkepastian bahwa hasilaktual akan berada dalam
rentang waktu tersebut.
o Dalam hal proyeksi, informasi keuangan prospektif telah disusun untuk
(sebutkan nama penyusunan), berdasarkan seperangkat asumsi yang
mencakup hipotesis tentang peristiwa di masa mendatang dan tindakan
manajemen yang belum tentu akan terjadi. Sebagai konsekuensinya,
pengguna laporan diperingatkan bahwa informasi keuangan prospektif
tidak seharusnya dipergunakan untuk tujuan selain yang telah disebutkan.

Ketika auditor meyakini bahwa penyajian dan pengungkapan informasi keuangan prospektif
tidak memadai, auditor harus menyatakansuatu opini dengan pengecualianatau opini tisak sesuai
atas informasi keuangan prospektif atau menarik diri dari perikatan, jika tepat. Contoh yang
relevan adalah ketika informasi keuangan gagal untuk mengungkapkan secara memadai
konsekuensi dari setiap asumsi yang sangat sensitif.
Ketika auditor meyakini bahwa satu atau lebih asumsi signifikan tidak menyediakan suatu suatu
basis wajar untuk informasi keuangan prospektif yang disusun berdasarkan asumsi estimasi
terbaik atau bahwa satu atau lebih asumsi signifikan tidak menyediakan suatu basis wajar untuk
informasi keuangan prospektif dengan mempertimbangkan asumsi hipotesis tersebut, auditor
harus menyatakan suatu opini tidak sesuai dalam laporan atas informasi keuangan prospektif,
atau menarik diri dari perikatan.
Ketika pemeriksaan dipengaruhi oleh kondisi yang menghalangi penerapan satu atau lebih
prosedur yang dipandang perlu dalam kondisi tersebut, auditor harus menarik diri dari perikatan
atau menyatakan opini tidak menyatakan pendapat dan menjelaskan pembatasan ruang lingkup
pemeriksaan dalam laporannya atas informasi keuangan prospektif.
SPA 3402 LAPORAN ASURANS ATAS PENGENDALIAN PADA ORGANISASI JASA
RUANG LINGKUP
Standar Perikatan Asurans (SPA) ini mengatur perikatan asurans yang dilakukan oleh praktisi untuk
memberikan laporan yang akan digunakan oleh entitas pengguna dan auditornya atas pengendalian
apada organisasi jasa yang memberikan jasa kepada entitas pengguna yang relevan dengan
pengendalian internal pengguna adalam kaitanya dengan pelaporan keuangan. SPA ini melengkapi
SA 402. Laporan yang disusun sesuai dengan SPA ini dapat memberikan bukti yang tepat sesuai SA
402.
Kerangka untuk Perikatan Asurans menyatakan bahwa sebuah perikatan asurans dapat berupa
perikatan yang memberikan keyakinan memadai atau perikatan yang memberikan keyakinan
terbatas. Sebuah perikatan asurans dapat berupa perikatan berbasis asersi atau perikatan pelaporan
langsung. Kesimpulan asurans untuk perikatan berbasis asersi dapat ditulis dalam bentuk asersi
pihak yang bertanggung jawab atau alnsgung dalam bentuk hal pokok dan kriteria.
SPA ini berlaku hanya ketika organisasi jasa bertanggung jawab atas, atau dapat membuat asersi,
rancangan pengendalian yang sesuai. SPA ini tidak berhubungan dengan perikatan asurans yang:
a. Melaporkan hanya mengenai pengendalian pada operasi organisasi jasa sebagaimana
dijelaskan
b. Melaporkan pengendalian pada organisasi jasa selain yang berhubungan dengan jasa yang
relevan dengan pengendalian internal entitas pengguna dalam kaitannya dengan pelaporan
keuangan (sebagai contoh, pengendalian yang memengaruhi produksi atau pengendalian
mutu entitas pengguna)

Namun SPA ini memberikan beberapa panduan untuk perikatan-perikatan yang dilakukan sesuai
SPA 3000.
Selain menerbitkan laporan asurans atas pengendalian, auditor jasa juga dapat ditugasi melakukan
perikatan untuk memberikan laporan yang tidak berhubungan dengan SPA ini, sebagai contoh:
a. Laporan atas transaksi atau saldo-saldo dari entitas pengguna yang dikelola oleh organisasi
jasa
b. Laporan prosedur yang disepakati atas pengendalian pada organisasi jasa

Hubungan dengan Standar Profesional Lainnya


Pelaksanaan perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis
mengharuskan auditor jasa untuk patuh pada SPA 3000.

SPA 3000 berisi ketentuan yang terkait dengan beberapa topik seperti penerimaan perikatan,
perencanaan, bukti, dan dokumentasi yang berlaku pada semua perikatan asurans, tarmasuk
perikatan yang sesuai dengan SPA ini. SPA ini menjelaskan lebih jauh penerapan SPA 3000 dalam
perikatan yang memberikan keyakinan memadai atas laporan pengendalian organisasi jasa.
Kerangka Asurans, yang mendefinisikan dan menjelaskan elemen-elemen dan tujuan-tujuan
perikatan asurans, memberikan konteks pemahaman atas SPA ini dan SPA 3000.

Kepatuhan pada SPA 3000 mengharuskan, antara lain, auditor jasa patuh pada Kode Etik, dan
mengimplementasikan prosedur pengendalian mutu yang berlaku pada perikatan individu.

TANGGAL EFEKTIF
SPA ini berlaku efektif untuk audit atas laporan asurans auditor jasa untuk periode yang berakhir
bertanggal 1 Juli 2017 atau setelahnya. Penerapan dini diperkenankan.
TUJUAN

Tujuan dari auditor jasa adalah:


a. Untuk mendapatkan keyakinan memadai, dalam semua hal material, berdasarkan kriteria
yang tepat, tentang apakah:
i. Deskripsi sistem organisasi jasa menyajikan secara wajar sistem yang dirancang dan
diimplementasikan sepanjang periode tertentu (atau untuk laporan tipe 1, pada suatu
tanggal tertentu)
ii. Pengendalian terkait dengan tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam deskripsi
sistem organisasi jasa tersebut telah dirancang secara tepat sepanjang periode tertentu
(atau untuk laporan tipe 1, pada suatu tanggal tertentu
iii. Jika tercakup dalam ruang lingkup perikatan, pengendalian beroperasi secara efektif
untuk memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan pengendalian sebagaimana
dinyatakan dalam deskripsi sistem organisasi jasa telah tercapai sepanjang periode
tertentu
b. Untuk melaporkan hal-hal pada butir a diatas sesuai dengan temuan-temuan auditor jasa
DEFINISI

Untuk tujuan dari SPA ini, istilah-istilah berikut memiliki arti seperti di bawah ini:
a. Metode Carve-Out: metode yang berhubungan dengan jasa yang diberikan oleh organisasi
sub-jasa, dalam hal deskripsi sistem organisasi jasa mencakup sifat dari jasa-jasa yang
diberikan oleh organisasi sub-jasa, namun tujuan pengendalian yang relevan dari
organisasi sub-jasa tersebut dan pengendalian terkait dikeluarkan dari deskripsi sistem
organisasi jasa dan ruang lingkup perikatan auditor jasa. Deskripsi sistem organisasi jasa
dan ruang lingkup perikatan auditor jasa mencakup pengendalian pada organisasi jasa
untuk memantau efektivitas pengendalian organisasi sub-jasa, yang dapat mencakup reviu
oleh organisasi jasa atas laporan asurans pengendalian organisasi sub-jasa
b. Pengendalian pelengkap entitas pengguna: pengendalian yang dianggap oleh organisasi
jasa, dalam merancang jasanya, akan diimplementasikan oleh entitas pengguna, dan
diidentifikasi dalam penjelasan sistemnya jika diperlukan untuk mencakup tujuan
pengendalian
c. Tujuan pengendalian: tujuan atau maksud dari aspek tertentu atas pengendalian. Tujuan
pengendalian terkiat dengan pengendalian untuk memitigasi risiko
d. Pengendalian organisasi jasa: pengendalian atas pencapaian tujuan pengendalian yang
tercakup dalam laporan asurans auditor jasa
e. Pengendalian organisasi sub-jasa: pengendalian organisasi sub-jasa untuk memberikan
keyakinan yang memadai atas pencapaian tujuan pengendalian
f. Kriteria; tolak ukur yang digunakan untuk mengevaluasi atau mengukur hal pokok
termasuk, jika relevan, tolak ukur dalam penyajian dan pengungkapan
g. Metode inklusif: metode yang berhubungan dengan jasa yang diberikan oleh organisasi
sub-jasa, dalam hal deskripsi sistem organisasi jasa mencakup sifat dari jasa yang
diberikan oleh organisasi sub-jasa, dan tujuan pengendalian yang relevan serta
pengendalian terkait organisasi sub-jasa tersebut tercakup dalam deskripsi sistem
organisasi jasa dan lingkup perikatan auditor jasa
h. Fungsi audit internal: kegiatan penilaian yang diadakan atau diberikan sebagai jasa kepada
organisasi jasa. Fungsinya termasuk, antara lain, memeriksa, mengevaluasi dan memantau
kecukupan dan efektivitas dari pengendalian internal
i. Auditor Internal: individu yang melaksanakan kegiatan fungsi audit internal. Audit internal
dapat menjadi bagian dari departemen audit internal atau g=fungsi yang setara
j. Laporan atas deskripsi dan rancangan pengendalian organisasi jasa(dalam SPA ini disebut
sebagai laporan tipe 1). Sebuah laporan yang terdiri atas:
i. Deskripsi sistem organisasi jasa
ii. Asersi tertulis oleh organisasi jasa bahwa dalam semua hal material, dan yang
didasarkan pada kriteria yang sesuai:
 Deskripsi menyajikan secara wajar sistem organisasi jasa dirancang dan
diimplementasikan dapa tanggal tertentu
 Pengendalian yang berhubungan dengan tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam
deskripsi sistem organisasi jasa telah dirancang dengan tepat pada tanggal tertentu
iii. Laporan asurans auditor jasa yang menyatakan keyakinan yang memadai mengenai
hal-hal dalam butir ii diatas
k. Laporan atas deskripsi, rancangan, dan efektivitas operasi dari pengendalian organisasi jasa
(dalam SPA ini disebut sebagai laporan tipe 2). Laporan yang meliputi:
i. Deskripsi sistem organisasi jasa
ii. Asersi tertulis dari organisasi jasa, dalam semua hal yang material, dan yang
didasarkan pada kriteria yang sesuai:
 Deskripsi yang menyajikan secara wajar sistem organisasi jasa dirancang dan
diimplementasikan sepanjang periode tertentu
 Pengendalian yang berhubungan dengan tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam
deskripsi sistem organisasi jasa telah dirancang dengan tepat sepanjang periode
tertentu
 Pengendalian terkait dengan tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam deskripsi
sistem organisasi beroperasi secara efektif sepanjang periode tertentu
iii. Laporan asurans auditor jasa yang:
 Menyatakan keyakinan memadai mengenai hal-hal dalam butir ii diatas
 Berisi deskripsi pengujian pengendalian dan hasil pengujiannya
l. Auditor jasa: Praktisi, yang atas permintaan organisasi jasa, memberikan laporan asurans
atas pengendalian dari organisasi jasa tersebut
m. Organisasi jasa: Organisasi pihak ketiga (atau bagian dari organisasi pihak ketiga) yang
menyediakan jasa kepada entitas pengguna yang relevan dengan pengendalian internal
entitas pengguna yang terkait dengan pelaporan keuangan
n. Sistem organisasi jasa (atau “sistem"): Kebijakan dan prosedur yang dirancang dan
diimplementasikan oleh organisasi jasa untuk menyediakan jasa kepada entitas pengguna,
yang dicakup dalam laporan asurans auditor jasa. Deskripsi sistem organisasi jasa berisi
identifikasi atas: jasa yang disediakan: periode, atau dalam hal laporan tipe 1, tanggal, yang
berhubungan dengan deskripsi: tujuan pengendalian: dan pengendalian yang terkait
o. Asersi organisasi jasa: Asersi tertulis tentang hal-hal yang dimaksud dalam laporan tipe 1
p. Organisasi subjasa: Organisasi jasa yang digunakan oleh organisasi jasa lainnya untuk
melakukan beberapa jasa yang diberikan kepada entitas pengguna yang releyan dengan
pengendalian internal entitas karena kaitannya dengan pelaporan keuangan
q. Pengujian pengendalian: Prosedur yang dirancang untuk mengevaluasi efektivitas operasi
pengendalian dalam mencapai tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam deskripsi
sistem organisasi jasa
r. Auditor pengguna: auditor yang mengaudit dan melaporkan laporan keuangan entitas
pengguna
s. Entitas pengguna: entitas yang menggunakan organisasi jasa

KETENTUAN

SPA 3000
Auditor jasa tidak diperkenankan menyatakan kepatuhan terhadap SPA ini kecuali auditor jasa telah
mematuhi seluruh ketentuan SPA ini dan SPA 3000.
KETENTUAN ETIKA
Auditor jasa harus mematuhi ketentuan etika yang relevan, termasuk hal-hal yang berkenaan
dengan independensi, terkait dengan perikatan asurans.
MANAJEMEN DAN PIHAK YANG BERTANGGUNG JAWAB ATAS TATA KELOLA
Jika SPA ini mengharuskan auditor jasa untuk menanyakan kepada, meminta representasi dari,
mengkomunikasikan dengan, atau dalam keadaan lain berinteraksi dengan organisasi jasa, auditor
jasa harus menentukan personel yang tepat di dalam manaejemen organisasi jasa atau struktur tata
kelola untuk berinteraksi. Hal ini harus mencakup pertimbangan mengenai personel yang memiliki
tanggung jawab dan pengentahuan yang tepat atas hal-hal yang menjadi perhatian.
PENERIMAAN DAN KEBERLANJUTAN
Sebelum setuju untuk menerima, atau melanjutkan sebuah perikatan, auditor jasa harus:
a. Menentukan apakah:
i. Auditor jasa memiliki kemampuan dan kompetensi untuk melaksanakan perikatan
ii. Kriteria yang diterapkan oleh organisasi jasa dalam menyusun deskripsi sistemnya
sesuai dan tersedia untuk entitas pengguna dan auditor mereka
iii. Ruang lingkup perikatan dan deskripsi sistem organisasi jasa sangat dibatasi sehingga
mungkin tidak bermanfaat bagi entitas pengguna dan auditor mereka
b. Memeroleh persetujuan dari organisasi jasa bahwa organisasi jasa mengakui dan
memahami tanggung jawabnya:
i. Untuk menyusun deskripsi sistem dan asersi jasa yang menyertainya, termasuk
kelengkapan, ketepatan metode penyajian deskripsi dan sersi tersebut
ii. Untuk memiliki basis yang memadai untuk asersi organisasi jasa beserta deskripsi
sistemnya
iii. Untuk menyatakan, dalam asersi organisasi jasa, kriteria yang digunakan untuk
menyusun deskrips sistemnya
iv. Untuk menyatakan di dalam deskripsi sistemnya:
 Tujuan pengendalian
 Pihak yang menetapkannya jika ditentukan dalam peraturan perundang-undangan,
atau pihak lain (sebagai contoh, sekelompok pengguna atau sebuah badan
profesional)
v. Untuk mengidentifikasi risiko yang mengancam pencapaian tujuan pengendalian yang
dinyatakan dalam deskripsi sistemnya, merancang dan melaksanakan pengendalian
untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa risiko tersebut tidak akan
menghalangi pencapaian tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam deskrispi
sistemnya, dan oleh karena itu tujuan pengendalian tersebut dapat tercapai
vi. Untuk meberikan auditor jasa:
 Akses ke semua informasi, seperti catatan, dokumentasi dan hal lain, termasuk
service level aggrements, yang dipandang oleh organisasi jasa relevan dengan
deskripsi sistem organisasi jasa dan asersi organisasi jasa yang menyertainya
 Informasi tambahan yang memungkinkan diminta oleh auditor jasa dari organisasi
jasa untuk tujuan perikatan asurans
 Akses tidak terbatas kepada para personel dalam organisasi jasa yang dipandang
perlu untuk memperoleh bukti

PENILAIAN KETEPATAN KRITERIA


Sesuai ketentuan SPA 3000, auditor jasa harus menilai ketepatan kriteria yang digunakan organisasi
jasa dalam menyusun deskripsi sistemnya, mengevaluasi ketepatan rancangan pengendalian, dan,
dalam hal laporan tipe 2, mengevaluasi efektivitas operasi pengendalian.
Dalam menilai ketepatan kriteria untuk mengevaluasi deskripsi sistem organisasi jasa, auditor jasa
harus menetapkan kriteria, sekurang-kurangnya mencakup apakah:
a. Deskripsi menyajikan bagainmana sistem organisasi jasa dirancang dan
diimpleamentasikan, tarmasuk, jika sesuai:
i. Tipe jasa yang diberikan, termasuk, jika sesuai, golongan transaksi yang diproses
ii. Prosedur, baik dalam sistem teknologi informasi maupun manual, terkait dengan jasa
yang diberikan, termasuk, jika sesuai, transaksi dimulai, dicatat, diproses, dikoreksi
jika perlu, dan ditransfer ke laporan dan informasi lain yang disusun untuk entitas
pengguna
iii. Laporan dan informasi pendukung yang terkait, termasuk, jika sesuai, catatan
akuntansi, informasi pendukung dan akun spesifik yang digunakan untuk memulai,
mencatat, mengolah dan melaporkan transaksi, termasuk perbaikan atas informasi
yang salah dan acarinformasi ditransfer ke laporan dan informasi lain yang disusun
untuk entitas pengguna
iv. Cara sistem organisasi jasa memperlakukan peristiwa dan kondisi signifikan selain
transaksi
v. Proses yang digunakan untuk menyusun laporan dan infromasi lain untuk entitas
pengguna
vi. Tujuan pengendalian yang ditetapkan dan pengendalian yang dirancang untuk
mencapai tujuan tersebut
vii. Pengendalian pelengkap entitas pengguna yang dimaksud dalam rancangan
pengendalian
viii. Aspek lain dalam lingkungan pengendalian organisasi jasa, proses penilaian risiko,
sistem informasi (termasuk proses bisnis yang terkait) dan komunikasi, aktivitas
pengendalian dan pemantauan pengendalian yang relevan dengan jasa yang diberikan
b. Dalam hal laporan tipe 2, deskripsi mencakup rincian yang relevan atas perubahan pada
sistem organisasi jasa sepanjang periode yang dicakup dalam deskripsi
c. Deskripsi menghilangkan atau mendistorsi informasi yang relevan dengan ruang lingkup
sistem organisasi jasa yang dideskripsikan, dan mengakui bahwa deskripsi disusun untuk
memenuhi kebutuhan umum sebagian besar entitas pengguna dan auditornya dan mungkin
tidak mencakup setiap aspek dari sistem organisasi jasa yang dipandang penting dalam
lingkungan tertentu bagi masing-masing entitas pengguna maupun auditornya

Dalam menilai ketepatan kriteria untuk mengevaluasi rancangan pengendalian, auditor jasa harus
menentukan kriteria yang mencakup, sekurang-kurangnya, apakah:
a. Organisasi jasa telah mengidentifikasikan risiko-risiko yang mengancam pencapaian tujuan
pengendalian yang dinyatakan dalam deskripsi sistemnya
b. Pengendalian yang diidentifikasi dalam deskipsi akan, jika dioperasikan, memberikan
keyakinan memadai bahwa risiko-risiko tersebut tidak menghalangi pencapaian tujuan
pengendalian yang dinyatakan

Dalam menilai ketepatan kriteria untuk mengevaluasi efektivitas operasi pengendalian untuk
memberikan keyakinan memadai bahwa tujuan pengendalian yang dinyatakan dalam deskripsi akan
tercapai, auditor jasa harus menentukan kriteria yang mencakup, sekurang-kurangnya, konsistensi
pengendalian yang diterapkan dengan rancangannya sepanjang periode tertentu. Hal ini mencakup
penerapan pengendalian manual oleh personel yang memiliki kompetensi dan kewenangan yang
tepat.
MATERIALITAS
Ketika merencanakan dan melaksanakan perikatan, auditor jasa harus mempertinbangkan
materialitas sehubungan dengan penyajian wajar deskripsi, ketepatan rancangan pengendalian dan,
dalam hal laporan tipe 2, efektivitas operasi pengendalian.
PEMEROLEHAN PEMAHAMAN SISTEM ORGANISASI JASA
Auditor jasa harus memperoleh pemahaman sistem organisasi jasa, termasuk pengendalian yang
terdapat dalam raung lingkup perikatan.
PEMEROLEHAN BUKTI MENGENAI DESKRIPSI
Auditor jasa harus memperoleh dan membaca deskripsi sistem organisasi jasa, serta mengevaluasi
kewajaran penyajian aspek-aspek deskripsi yang termasuk dalam ruang lingkup perikatan, termasuk
apakah:
a. Tujuan pengendalian yang tercantum dalam deskripsi sistem organisasi jasa adalah wajar
sesuai dengan kondisinya
b. Pengendalian diidentifikasi dalam deskripsi tersebut telah diimplementasikan
c. Pengendalian pelengkap entitas pengguna, jika ada, telah dideskripsikan dengan memadai
d. Jasa yang dilakukan oleh organisasi sub-jasa, jika ada telah dideskripsikan dengam
memadai, termasuk penggunaan metode inklusif atau metode curve-out terkait jasa
tersebut

Auditor jasa harus menentukan, melalui prosedur lain yang dikombinasikan dengan permintaan
keterangan, apakah sistem organisasi jasa telah diimplementasikan. Prosedur lainnya harus
mencakup observasi, dan inspeksi atas catatan serta dokumentasi lain, untuk memahami bagaimana
sistem organisasi jasa beroperasi dan pengendalian diterapkan.

PEMEROLEHAN BUKTI MENGENAI DESAIN PENGENDALIAN


Auditor jasa harus menentukan pengendalian yang dibutuhkan pada organisasi jasa untuk mencapai
tujuan pengendalian yang tercantum dalam deskripsi sistem organisasi jasa serta menilai ketepatan
rancangan pengendalian tersebut Penentuan ini mencakup:
a. Pengidentifikasian risiko yang mengancam pencapaian tujuan pengendalian yang
tercantum dalam deskripsi sistem organisasi jasa
b. Pengevaluasian hubungan antara pengendalian yang diidentifikasi dalam deskripsi sistem
organisasi jasa dengan risiko tersebut
PEMEROLEHAN BUKTI MENGENAI EFEKTIVITAS OPERASI PENGENDALIAN
Ketika memberikan laporan tipe 2, auditor jasa harus menguji pengendalian yang dianggap perlu
oleh auditor jasa untuk mencapai tujuan pengendalian yang tercantum dalam deskripsi sistem
organisasi jasa, dan menilai keefektivitasan operasi sepanjang periode. Bukti yang diperoleh dalam
perikatan sebelumnya mengenai operasi pengendalian yang memuaskan pada periode lalu tidak
menyediakan suatu basis untuk pengurangan pengujian, bahkan ketika bukti tersebut dilengkapi
dengan bukti yang diperoleh pada periode kini.

Ketika merancang dan melaksanakan pengujian pengendalian, auditor jasa harus:

a. Melaksanakan prosedur lain yang dikombinasikan dengan permintaan keterangan Untuk


memeroleh bukti mengenai:

i. Bagaimana pengendalian diterapkan

ii. Konsistensi penerapan pengendalian

iii. Oleh siapa atau dengan cara apa pengendalian diterapkan

b. Menentukan ketergantungan pengendalian yang akan diuji pada pengendalian lain


(pengendalian tidak langsung) dan, jika.demikian, apakah perlu memperoleh bukti yang
mendukung keefektivitasan operasi pengendalian tidak lanqsung tersebut

c. Menentukan cara yang efektif untuk memilih unsur-unsur yang diuji dalam mencapai
tujuan prosedur

Ketika menentukan luas pengujian pengendalian, auditor jasa harus mempertinbangkan hal-hal
termasuk karakteristik populasi yang akan diuji, yang mencakup sifat pengendalia, frekuensi
penerapannya (sebagai contoh, bulanan, harian, berapa kali per hari) dan tingkat penyimpangan
yang diharapkan
HASIL PEKERJAAN FUNGSI AUDIT INTERNAL
Pemerolehan Suatu Pemahaman atas Fungsi Audit Internal
Jika organisasi jasa memiliki fungsi audit internal, auditor jasa harus memperoleh suatu pemahaman
tentang sifat tanggung jawab fungsi audit internal dan aktivitas yang dilkukan untuk menentukan
kemungkinan relevansi fungsi audit internal dengan perikatan.
Penentuan Perlu Tidaknya Hasil Pekerjaan Auditor Internal Digunakan dan Luas Penggunaannya
Auditor jasa harus menentukan:
a. Kemungkinan kecukupan hasil pekerjaan auditor internal untuk tujuan perikatan
b. Jika demikian, dampat hasil pekerjaan auditor internal yang direncanakan terhadap sifat,
saat atau luas dari prosedur auditor jasa

Dalam menentukan kemungkinan kecukupan hasil pekerjaan auditor internal untuk tujuan
perikatan, auditor harus mengevaluasi:
a. Objektivitas fungsi audit internal
b. Kompetensi teknis auditor internal
c. Kemungkinan pekerjaan auditor internal dilakukan dengan kesermatan dan kehati-hatian
profesional
d. Kemungkinan keefektivitasan komunikasi antara auditor internal dengan auditor jasa

Dalam menentukan dampak hasil pekerjaan auditor internal yang direncanakan terhadap sifat, saat
atau luas prosedur auditor jasa, auditor jasa harus mempertimbangkan:
a. Sifat dan ruang lingkup pekerjaan spesifik yang telah dilakukan, atau akan dilakukan oleh
auditor internal
b. Signifikansi hasil pekerjaan tersebut terhadap kesimpulan auditor jasa
c. Tingkat subjektifitas dalam pengevaluasian bukti yang dikumpulkan untuk mendukung
kesimpulan tersebut

Penggunaan Hasil Pekerjaan Fungsi Audit Internal


Agar auditor jasa dapat menggunakan hasil pekerjaan tertentu auditor internal, auditor jasa harus
mengevaluasi dan melaksanakan prosedur pekerjaan tersebut untuk menentukan kecukupannya
tujuan auditor jasa.
Untuk menentukan kecukupan hasil pekerjaan tertentu yang dilakukan oleh auditor internal untuk
tujuan auditor jasa, auditor jasa harus mengevaluasi hal-hal sebagai berikut:
a. Kecukupan pelatihan dan kompetensi auditor internal yang melakukan pekerjaan
b. Ketepatan supervisi, reviu dan dokumentasi pekerjaan
c. Keterperolehan bukti yang memadai untuk memungkinkan auditor internal menarik
kesimpulan yang wajar
d. Ketepatan kesimpulan yang dihasilkan sesuai dengan kondisinya dan konsistensi laporan
yang disusun oleh auditor internal dengan hasil dari pekerjaan yang dilakukan
e. Ketepatan penyelesaian atas pengecualian yang berkaitan dengan perikatan atau hal-hal
tidak biasa yang diungkapkan oleh auditor internal

Dampak Terhadap Laporan Asurans Auditor Jasa


Jika hasil pekerjaan fungsi audit internal digunakan, auditor jasa tidak diperkenankan membuat
pengacuan pada hasil pekerjaan tersebut dalam bagian laporan asurans yang berisi opini auditor
jasa.
Dalam hal laporan tipe 2, jika hasil pekerjaan fungsi audit internal digunakan dalam melakukan
pengujian pengendalian, bagian laporan asurans auditor jasa yang menjelaskan pengujian
pengendalian auditor internal dan prosedur auditor jasa yang terkait dengan hasil pekerjaan auditor
internal tersebut.
STANDAR PERIKATAN ASURANS ISA 3420
(Perikatan Asurans Untuk Pelaporan Atas Kompilasi Informasi Keuangan Proforma Yang
Tercantum Dalam Prospektus)

PENDAHULUAN
Standar Perikatan Asurans (SP) ini berkaitan dengan perikatan yang memberikan
keyakinan memadai yang dilaksanakan oleh praktisi untuk melaporkan kompilasi atas informasi
keuangan proforma milik pihak yang bertanggung jawab yang tecantum dalam prosepktus.
Namun, SPA ini juga dapat diterapkan untuk perikatan yang memberikan keyakinan memadai
yang dilaksanakan oleh praktisi untuk melaporkan kompilasi atas informasi keuangan proforma
milik pihak yang bertanggung jawab yang tidak tercantum dalam prosepktus selama seluruh
prinsip dari panduan yang diberikan dalam SPA ini dipenuhi. Dalam konteks prospectus SPA ini
berlaku ketika :
 Pelaporan tersebut dipersyaratkan oleh Undang-Undang Pasar Modal atau peraturan
bursa efek (secara kolektif disebut sebagai “peraturan perundang-undangan yang
relevan”) pada yuridiksi tempat prospectus akan diterbitkan; atau
 Pelaporan tersebut merupakan praktik yang berlaku umum di yurisdiksi tersebut.
Sifat tanggung jawab praktisi
Dalam perikatan yang dilaksanakan berdasarkan SPA ini, praktisi tidak memiliki
tanggungjawab untuk mengompilasi informasi keuangan proforma untuk entitas, tanggung jawab
tersebut berada pada pihak yang bertanggung jawab. Tanggung jawab ungal praktisi adalah
melaporkan apakah informasi keuangan proforma telah disusun, dalam semua hal yang material
oleh pihak yang bertanggung jawab berdasarkan kriteria yang berlaku
SPA ini tidak mengatur perikatan non asurans yang praktisi ditugaskan oleh entitas untuk
mengompilasi laporan keuangan historisnya.
Tujuan informasi keuangan proforma dalam prospectus
Tujuan informasi keuangan proforma dalam prospectus adalah untuk mengilustrasikan dampak
peristiwa atau transaksi signifikan terhadap informasi keuangan milik entitas yang belum
diseduaikan, seolah-olah peristiwa telah terjadi atau transaksi telah dilakukan pada tanggal yang
telah ditentulan kebih awal untuk tujuan ilustrasi. Hal ini dicapai dengan menerapkan
penyesuaian proforma pada informasi keuangan yang belum disesuaikan. Informasi keuangan
proforma tidak menggambarkan posisi keuangan, kinerja keuangan atau arus kas actual entitas.
Kompilasi informasi keuangan proforma
Kompilasi informasi keuangan proforma melibatkan pihak yang bertanggung jawab
untuk mengumpulkan mengelompokan merangkum, dan menyajikan informasi keuangan yang
mengilustrasikan dampak dan peristiwa atau transaksi signifikan atas informasi keuangan entitas
yang belum disesuaikan pada tanggal yang telah dipilih, seolah-olah peristiwa telah terjadi atau
transaksi telah dilakukan pada tanggal yang dipilih telah dipilih. Langkah dalam proses ini
termasuk.
 Mengidentidikasi sumber dari informasi keuangan yang belum disesuaikan untuk
digunakan dalam mengompilasi informasi keuangan proforma, dan mengambil informasi
keuangan yang belum disesuaikan dari sumber tersebut.
 Membuat penyesuaian proforma pada informasi keuangan yang belum disesuaikan untuk
tujuan penyajian informasi keuangan yang belum disesuaikan untuk tujuan penyajian
informasi keuangan proforma; dan
 Menyajikan hasil informasi keuangan proforma disertai dengan pengungkapannya.
Sifat Perikatan yang Membrikan Keyakinan Memadai
Perikatan yang memberikan keyakinan memadai untuk melaporakan kompilasi informasi
keuangan proforma melibatkan pelaksaaan prosedur yang diatur dalam SPA ini untuk menilai
apakah kriteria yang berlaku yang digunakan oleh pihak yang bertanggung jawab dalam
kompilasi informasi keuangan proforma memberika dasar yang memadai untuk mneyajikan
dampak signifikan yang secara langsung disebabkan oleh peristiwa atau transaksi, dan untuk
memperoleh bukti yang cukup dan tepat tentang apakah :
 Penyesuaian profroma yang terkait memberikan dampak yang tepat bagi kriteria tersebut;
dan
 Kolom hasil proforma mencerminkan penerpan yang tepat atas penyesuaian terhadap
informasi keuangan yang belum disesuaikan
Prosedur juga melibatkan evaluasi penyajian informasi keuangan proforma secara
keseluruhan. Namun, perikatan tidak melibatkan praktisi memutakhirkan atau menerbitkan
kembali laporan atau opini apapun atas informasi keuangan historis yang digunakan dalam
mengompilasi informasi keuangan proforma, atau melaksanakan audit atau reviu atas informasi
keuangan yang digunakan untuk mengompilasi informasi keuangan proforma.

Hubungan dengan Pernyataan Profesional Lainnya


Pelaksanaan perikatan asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis
mengharuskan praktisi untuk mematuhi SPA 3000. SPA 3000 mencakup ketentuan yang terkait
dengan beberapa topik, sebagai contoh penerimaan perikatan, perencanaan, bukti, dan
dokumentasi yang berlaku untuk seluruh perikatan asurans, termasuk perikatan yang sesuai
dengan SPA ini. SPA ini memperluas penerapan SPA 3000 dalam perikatan yang memberikan
yang memberikan keyakinan memadai untuk melaporkan kompilasi informasi keuangan
proforma yang tercantum dalam prospectus. Kerangka Perikatan Asurans (Kerangka), yang
mendefinisikan dan menjelaskan elemen dan tujuan dari perikatan asurans, memberikan konteks
pemahaman SPA ini dan SPA 3000.
Kepatuhan atas SPA 3000 mensyaratkan, antara lain , bahwa praktisi :
 Mematuhi ketentuan independensi dan ketentuan lainnya dari ketentuan lainnya dari :
Kode Eik Profesi Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia
(“Kode Etik”); dan
 Mengimplementasikan prosedur pengendalian mutu yang berlaku bagi perikatan
individu.
Tanggal Efektif
SPA ini berlaku efektif untuk laporan asurans bertanggal 1 Juli 2017 atau setelahnya.
Penerapan dini diperkenankan.
Tujuan
Tujuan dari praktisi adalah :
(a) Untuk memeroleh keyakinan yang memadai apakah informasi keuangan profroma telah
dikompilasi, dalam semua hal yang material, oleh pihak yang bertanggung jawab
berdasarkan kriteria yang berlaku ; dan
(b) Untuk melaporkan sesuai dengan temuan praktisi.
Definisi
Untuk tujuan SPA ini, istilah-istilah berikut memiliki arti sebagai berikut :
(a) Kriteria yang berlaku- kriteria yang digunakan oleh pihak yang bertanggung jawab ketika
mengompilasi informasi keuangan proforma. Kriteria dapat ditetapkan oleh organisasi
pengatur standar yang berwenang atau diakui oleh peraturan perundang-undangan.
Apabila kriteria yang ditetapkan tidak ada, kriteria tersebut akan dikembangkan oleh
pihak yang bertanggung jawab.
(b) Penyesuaian proforma - dalam kaitannya dengan informasi keuangan yang belum
disesuaikan, hal ini termasuk :
(i) Penyesuaian untuk informasi keuangan yang belum disesuaikan yang
mengilustrasikan dampak dari peristiwa atau transaksi signifikan (“peristiwa” atau
“transaksi”) seolah-olah peristiwa telah terjadi atau transaksi telah dilakukan pada
tanggal yang telah ditentukan lebih awal untuk tujuan ilustrasi; dan
(ii) Penyesuaian pada informasi keuangan yang belum disesuaikan yang diperlukan
untuk mengompilasi informasi keuangan proforma dengan basis yang konsisten
dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku atas entitas pelapor (entitas)
dan kebijakan akuntansinya dari kerangka tersebut.
Penyesuain proforma termasuk informasi keuangan yang relevan atas suatu bisnis yang
sudah, atau yang akan diakuisisi (“pihak yang diakuisi”), sepanjang informasi tersebut
digunakan dalam mengompilasi informasi keuangan proforma (“informasi keuangan
proforma pihak yang diakuisisi atau pihak yang didivestasi”).
(c) Informasi keuangan proforma- informasi keuangan yang ditampilkan bersama-sama
dengan penyesuaian untuk mengilustrasikan dampak dari peristiwa atau transaksi pada
informasi keuangan yang belum disesuaikan seolah-olah peristiwa telah terjadi atau
transaksi telah dilakukan pada tanggal yang telah ditentukan lebih awal untuk tujuan
ilustrasi. Dalam SPA ini,diasumsikan bahwa informasi keuangan profroma tersebut
disajikan dalam format kolom yang terdiri dari (a) informas keuangan yang belum
disesuaikan, (b) penyesuaian proforma dan (c) hasil proforma
(d) Prospectus – dokumen yang diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan peundang-
undangan yang terkait dengan efek entitas yang diharapkan menjadi dasar bagi pihak
ketiga untuk membuat keputusan investasi
(e) Informasi keuangan yang dipublikasikan – infomasi keuangan milik entitas atau milik
pihak yang diakuisisi atau pihak yang didivestasi yang tersedia untuk publik.
(f) Informasi keuangan yang belum disesuaikan – informasi keuangan entitas yang
terhadapnya penyesuaiann proforma diterapkan oleh pihak yang bertanggung jawab
Praktisi tidak diperkenankan untuk menyediakan kepatuhan terhadap SPA ini kecuali
praktisi telah mematuhi seluruh ketentuan SPA ini dan SPA 3000.
Penerimaan Perikatan
Sebelum menyetuji untuk menerima perikatan dan melaporkan tentang apakah informas
keuangan proforma yang tercantum dalam prospectus telah dikompilasi dalam semua hal
yang material, sesuai dengan kriteriayang berlaku, praktisi harus :
(a) Menentukan bahwa praktisi memiliki kemampuan dan kompetensi untuk
melaksanakan perikatan;
(b) Berdasarkan pemahaman awal atas kondisi perikatan dan diskusi dengan pihak yang
bertanggung jawab, menentukan bahwa kriteria yang berlaku telah tepat dan kecil
kemungkinannya informas keuangan proforma akan menyesatkan untuk tujuan yang
dimaksud;
(c) Mengevaluasi susunan kata dari opinin yang ditetapkan oleh peraturan perundang-
undangan yang relevan, apabila ada, untuk memastikan bahwa praktisi dapat
menyatakan opini yang telahdirumuskan berdasarkan pada pelaksanaan prosedur yan
ditentukan dalam SPA ini ;
(d) Apabila sumber dari informasi keuangan yang belum disesuiakan dan nformasi
keuagan dari pihak yang diakuisisi atau pihak yang didivestasi telah diaudit atau
direviu dan opini audit modifikasian atau kesimpulan reviu telah dikeluarkan, atau
laporan berisi paragraph penekan suatu hal, praktisi perlu mempertimbangkan ada
atau tidaknya peraturan perundang-undangan yang relevan yang mnegizinkan
penggunaan, atau pengacuan dalam laporan praktisi pada opini audit atau kesimpulan
reviu modifikasian atau laporan berisi paragraph penekan suatu hal sehubungan
dengan sumber tersebut.
(e) Ketika infomasi keuangan historis entitas belum pernah diaudit atau direviu,
mempertimbangkan apakah praktisi dapat memperoleh pemahaman yang memadai
atas entitas dan praktik akuntansi dan pelaporan keuangannya untuk melaksanakan
perikatan.
(f) Ketika peristiwa atau transaksi merupakan akuisisi dan informasi keuangan historis
pihak yang diakuisisi belum pernah diaudit atau direviu, mempertimbangkan apakah
praktisi dapat memperoleh pemahaman yang memadai atas pihak yang diakuisisi dan
akuntansi dan praktik pelaporan keuangannya untuk melaksanakan perikatan; dan
(g) Menyepakati dengan pihak yang bertanggung jawab bahwa pihak yang bertanggung
jawab mengakui dan memahami tanggung jawabnya untuk :
i. Mengungkapkan dan menjelaskan secara memadai kepada pengguna yang
dituju mengenai kriteria yang berlaku jika informasi tesebut tidak tersedia
untuk publik
ii. Mengompilasi informasi keuangan proforma berdasarkan kriteria yang
berlaku; dan
iii. Menyediakan kepada praktisi
a. Akses atas seluruh informasi (termasuk, ketika diperlukan untuk tujuan
perikatan, informasi atas pihak yang diakuisi dalam kombinasi bisnis),
sebagai contoh: catatan dokumentasi dan materi lainnya yang relevan
untuk mengevaluasi apakah informasi keuangan proforma telah
dikompilasi dalam semua hal yang material, berdasarkan kriteria yang
berlaku.
b. Informasi tambahan yang diminta oleh praktisi dari pihak yang
bertanggung jawab untuk tujuan perikatan
c. Akses ke pihak di dalam entitas atau penasihat entitas yang diperlukan
oleh praktisi untuk memperoleh bukti yag relevan untuk mengevaluasi
apakah informasi keuangan proforma telah dikompilasi dalam semua hal
yang material, berdasarkan kriteria yang berlaku; dan
d. Apabila dibutuhkan untuk tujuan perikatan, akses ke individu yang tepat
dari pihak yang diakuisisi dalam suatu kombinasi bisnis.
Perencanaan dan Pelaksanaan Perikatan
Menilai Ketepatan Kriteria yang Berlaku
Praktisi harus menilai apakah kriteria yang berlaku telah tepat, seperti yang ditentukan dalam
SPA 3000, dan secara khusus menentukan bahwa kriteria tersebut mencakup, sekurang-
kurangnya .
(a) Informasi keuangan yang belum disesuaikan yang berasal dari sumber yang tepat,
(b) Penyesuaian proforma harus;
i. Secara langsung disebabkan oleh peristiwa atau transaksi
ii. Didukung oleh fakta; dan
iii. Konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan entitas yang berlaku dan
kebijakan akuntansinya dari kerangka tersebut; dan
(c) Penyajian yang tepat dibuat dan pengungkapan disediakan untuk memungkinkan
pengguna yang dituju memahami informasi yang disampaikan
Sebagai tambahan, praktisis harus menilai apakah kriteria yang berlaku:
(a) Konsisten dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang relevan,
(b) Kecil kemungkinan menghasilkan informasi keuangan proforma yang menyesuaikan.
Materialitas
Ketika merencanakan dan melaksanakan perikatan praktisi harus mempertimbangkan
materialitas terkait dengan evaluasi apakah informasi keuangan proforma telah dikompilasi
dalam semua hal yang material berdasarkan kriteria yang berlaku
Memperoleh bukti mengenai ketepatan sumber informasi keuangan yang belum disesuaikan
Praktisi harus menentukan apakah pihak yang bertanggung jawab telah mengabstrak
informasi keuangan yang belum disesuaikan, praktisi harus melakukan prosedur untuk
memastikan bahwa sumber tesebut sudah tepat.
Jika tidak terdapat laporan audit atau laporan reviu atas sumber yang menghasilkan
informasi keuangan yang belum disesuaikan,praktisi harus melakukan prosedur untuk
memastikan bahwa sumber tesebut sudah tepat.
Praktisi harus menentukan apakah pihak yang bertanggung jawab telah mengabstrak
dengan tempat informasi keuangan yang belum disesuaikan dari sumbernya.
Memperoleh Bukti Mengenai Ketepatan Penyesaian Proforma
Dalam mengevaluasi apakah penyesuaian proforma telah tepat, praktisi harus
menentukan apakah pihak yag bertanggung jawab telah mengidentifikasi penyesuaian profroma
yang diperlukan untuk mengilustrasikan dampak dari peristiwa atau transaski pada tanggal atau
selama periode ilustrasi.
Dalam menentukan apakah penyesuaian proforma telah sesuai dengan kriteria yang
berlaku, praktisi harus menentukan apakah penyesuain tersebut :
(a) Secara langsung terkait dengan suatu peristiwa atau transaksi
(b) Didukung oleh fakta, jika informasi keuangan pihak yang diakuisis atau pihak yang
didivestasi dicantukan dalam penyesuaian profrma dan tidak tedapat laporan audit atau
laporan reviu atas sumber yang menghasilkan informasi keuangan tersebut, praktisi harus
melakukan prosedur untuk memastikan informasi keuangan tersebut didukung oleh fakta;
dan
(c) Konsisten dengan kerangka pelaporan keuangan entitas yang berlaku beserta kebijakan
akuntansi terkait.
Sumber yang Menghasilkan Informasi Keuangan yang Belum Disesuaikan atau Penyesuaian
Proforma yang Tidak Tepat
Apabila berdasarkan prosedur yang dilaksanakan, praktisi mengidentifikasi bahwa pihak yang
bertanggung jawab telah :
(a) Menggunakan sumber yang menghasilkan informasi keuangan yang belum disesuaikan
yang tidak tepat; atau
(b) Menghilangkan penyesuaiakn proforma yang seharunya tercantu, menerapkan
penyesuaikan proforma yang tidak sesuai dengan kriteria yang berlaku, atau menerapkan
penyesuaian proforma secara tidak tepat,
Praktisi harus mendiskusikan hal tersebut dengan pihak yang bertanggung jawab, jika
praktisi tidak dapat menyepakati penyelesaian hal tersebut dengan pihak yang bertanggung
jawab, praktisi harus mengevaluasi tindakan lanjutan yang harus dilakukan.
Memperoleh Bukti Tentang Kalkulasi dalam Informasi KEuangan Proforma
Praktisi harus menentukan keakurasian secara matematis kalkukasi dalam informasi keuangan
proforma.
Representasi Tertulis
Praktisi harus meminta representasi tertulis dari pihak yang bertanggung jawab bahwa:
(a) Dalam mengompilasi informasi keuangan proforma, pihak yang bertanggung jawab telah
mengidentifikasi seluruh penyesuaian proforma secara tepat yang diperlukan untuk
mengilustrasikan dampak peristiwa atau transaksi atau untuk periode ilustrasi; dan
(b) Informasi keuangan profroma telah dikompilasi, dalam semua hal yang material
berdasarkan kriteria yang berlaku.
Perumusan Opini
Praktisi harus merumuskan opini tentang apakah informasi keuangan proforma telah
dikompilasi, dalam semua hal yang material dan pihak yang bertanggung jawab berdasarkan
yang berlaku.
Dalam merumuskan opini, praktisi harus menyimpulkan apakah praktisi telah memperoleh bukti
yang cukup dan tepat mengenai apakah kompilasi informasi keuangan proforma bebas dari
penghilangan material, atau penggunaan atau penerapan penyesuaian proforma yang tidak tepat.
Bentuk opini
Opini tanpa Modifikasian
Praktisi harus menyatakan opini tanpa modifikasian ketika praktisi menyimpulkan bahwa
informasi keuangan proforma telah dikompilasi dalam semua hal yang material, ole pihak yang
bertanggung jawab berdasarkan kriteria yang berlaku.
Opini Modifikasian
Peraturan perundang-undangan yang relevan mungkin melarang publikasi suatu
prospectus yang berisi opini modifikasian atas informasi keuangan proforma yang telah
dikompilasi dalam suatu hal yang material berdasarkan kriteria yang berlaku. Jika hal ini terjadi
dan praktisi menyimpulkan bahwa opini modifikasian telah sesuai dengan SPA 3000, praktisi
harus mendiskusikan hal tersebut dengan pihak yang bertanggung jawab. Jika pihak yang
bertanggung jawab tidak setuju untuk membuat perubahan yang diperlukan praktisi harus:
(a) Menangguhkan laporan
(b) Menarik diri dari perikatan, atau
(c) Mempertimbangkan untuk mencari nasihat hukum.
Peraturan perundang-undangan yang relevan mungkin tidak melarang publikasi suatu
prospectus yang berisi opini modifikasian mengenai apakah informasi keuangan
proformas telah dikompilasi dalam semua hal yang material berdasarkan kriteria yang
berlaku. Jika praktisi menentukan bahwa opini modifikasian telah tepat dan sesuai
dengan SPA 3000 praktisi harus menerapkan ketentuan dalam SPA 3000 mengenai opini
modifikasian.
Paragraf Penekanan Suatu Hal
Dalam beberapa kasus praktisi dapat mempertimbangkan perlunya menarik perhatian
pengguna laporan pada hal yang disajikan atau diungkapkan dalam informasi keuangan proforma
atau catatan penjelasan yang melampirinya. Kasus ini terjadi jika, penurut pandangan praktisi,
hal tersebut penting dan fundamental bagi pemahaman bagi pengguna apakah informasi
keuangan proforma telah dikompilasi dalam semua hal yang material berdasarkan kriteria yang
berlaku. Dalam kasus tersebut praktisi harus mencantumkan Paragraf Penekanan Suatu Hal
dalam laporan praktisi selama praktisi memeroleh bukti yang cukup dan tepat, bahwa hal
tersebut tidak berdampak pada pengompilasian informasi keuangan proforma, dalam semua hal
yang material, berdasarkan kriteria yang berlaku. Paragraph tersebut harus mengacu hanya pada
informasi yang disajikan atau diungkapkan dalam informasi keuangan proforma atau catatan
penjelasan yang melampirkannya.
Penyusunan Laporan Asurans
Laporan praktisi harus berisi elemen-elemen dasar sebagai berikut:
(a) Judul yang secara jelas mengindikasikan bahwa laporan tersebut merupakan laoran
asurans independen.
(b) Alamat ayng dituju, seperti yang disetujui dalam ketentuan perikatan.
(c) Paragraph pendahuluan yang mengidentifikasi:
 Informasi keuangan proforma
 Sumber yang menghasilkan informasi keuangan yang belum diselesaikan, dan
apalah laporan audit atau laporan reviu atas sumber tersebut telah dipublikasikan.
 Periode yang dicakup oleh, atau tanggal, informasi keuangan proforma, dan
 Pengacuan pada kriteria yang berlaku yang mendasari pengompilasian informasi
keuangan proforma oleh pihak yang bertanggung jawab, dan sumber kriteria.
(d) Pernyataan mengenai tanggung jawab atas kompilasi informasi keuangan proforma
berdasarkan kriteria yang berlaku oleh pihak yang bertanggung jawab.
(e) Deskripsi atas tanggung jawab praktisi, termasuk pernyataan bahwa:
 Tanggung jawab praktisi adalah untuk menyatakan opini apakah informasi
keuangan proforma telah dikompilasi, dalam semua hal yang material oleh pihak
yang bertanggung jawab bersadarkan kriteria yang berlaku.
 Untuk tujuan perikatan ini, praktisi tidak bertanggung jawab untuk
memutakhirkan atau menerbitkan kembali laporan atau opini apapun atas
informasi keuangan historis apapun yang digunakan dalam mengompilasi
informasi keuangan proforma, atau praktisi dalam perikatan ini juga tidak
melaksanakan audit atau reviu atas informasi keuangan historis yang digunakan
dalam kompilasi informasi keuangan proforma, dan
 Tujuan informasi keuangan proforma yang tercantum dalam prospectus adalah
hanya untuk mengilustrasikan dampak peristiwa atau transaksi signifikan terhadap
informasi keuangan yang belum disesuaikan entitas seolah olah peristiwa tersebut
telah terjadi atau transaksi telah dilakukan pada suatu tanggal yang lebih awal
yang dipilih untuk tujuan ilustrasi tersebut. Oleh karena itu, praktisi tidak
memberikan keyakinan apapun bahwa hasil aktual dari peristiwa atau transaksi
pada tanggal tersebut akan sama dengan yang disajikan dalam informasi keuangan
proforma.
(f) Pernyataan bahwa perikatan dilaksanakan sesuai dengan SPA 3420 “Perikatan asurans
untuk pelaporan kompilasi atas informasi keuangan proforma yang tercantum dalam
prospectus” yang mempersyaratkan bahwa praktisi mematuhi ketentuan etika serta
merencanakan dan melaksanakan prosedur untuk memeroleh keyakinan memadai tentang
apakah pihak yang bertanggung jawab telah mengompilasi dalam semua hal yang
material informasi keuangan performa berdasarkan kriteria yang berlaku.
(g) Pernyataan bahwa :
i. Perikatan yang memberikan keyakinan memadai untuk melaporkan apakah
informasi keuangan performa telah dikompilasi, dalam semua hal yang material
berdasarkan kriteria yang berlaku termasuk melaksanakan prosedur untuk menilai
apakah kriteria yang berlaku digunakan oleh pihak yang bertanggung jawab
dalam mengompilasi informasi keuangan performa memberikan basis yang
memadai untuk menyajikan dampak signifikan yang secara langsung
diatribusikan oleh peristiwa atau transksi dan untuk mkendapatkan informasi yang
cukup
ii. Prosedur yang dipilih bergantung kepada praktisi
iii. Perikatan meliputi evaluasi penyajian informasi keuangan performa secara
keseluruhan
(i) Kecuali disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, pini prkaktisi menggunakan
informas keuangan performa telah dikompilasi dan informasi keuangan performa telah
dikompilasi dengan tepat berdasarkan basis
(j) Tanda tangan,nomor regristrasi akuntan publik, nomor izin usaha KAP dan alamat KAP
tidak tercantum dalam kop surat
(k) Lokasi dalam yurisdiksi dimana praktisi berpraktik.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. SPAP yang sudah berbasis ISA adalah acuan yang ditetapkan menjadi ukuran mutu
yang wajib dipatuhi oleh Akuntan Publik dalam pemberian jasanya. Standar Perikatan
Assurance Lain (SPA) yang telah diadopsi adalah SPA 3000 (Perikatan Asurans
Selain Audit atau Reviu atas Informasi Keuangan Historis), SPA 3400 (Pemeriksaan
atas Informasi Keuangan Prospektus), SPA 3402 (Laporan Asuransatas pengendalian
pada organisasi jasa), SPA 3420 (Perikatan Asurans untuk pelaporan atas Kompilasi
Informasi Keuangan Proforma yang tercantum dalam prospektus)
2. SPA 3000 merupakan prinsip dasar dan prosedur esensial bagi, dan menyediakan
panduan kepada, setiap individu profesional yang berada di Kantor Akuntan Publik
(untuk tujuan SPA ini disebut sebagai “praktisi”) dalam pelaksanaan perikatan
asurans selain audit atau reviu atas informasi keuangan historis yang dicakup oleh
Standar Audit (“SA”) atau Standar Perikatan Reviu (“SPR”), SPA 3400 berisi
panduan bagi perikatan untuk memeriksa dan melaporkan informasi keuangan
prospektif, termasuk prosedur pemeriksaan untuk estimasi terbaik dan asumsi
hipotetis.
3. SPA 3402 mengatur perikatan asurans yang dilakukan oleh praktisi untuk
memberikan laporan yang akan digunakan oleh entitas pengguna dan auditornya atas
pengendalian pada organisasi jasa yang memberikan jasa kepada entitas pengguna
yang relevan dengan pengendalian internal pengguna dalam kaitannya dengan
pelaporan keuangan.
4. SPA 3420 mengatur perikatan yang memberikan keyakinan memadai yang
dilaksanakan oleh praktisi untuk melaporkan kompilasi atas informasi keuangan
performa milik pihak yang bertanggungjawab yang tercantum dalam prospektus.
B. SARAN
1. Praktisi praktisi akuntansi terutama auditor diharapkan dapat lebih mengimplementasikan
Standar Perikatan Assurance Lain (SPA) ini khususnya yang belum secara penuh
menerapkannya sehingga kualitas dari jasa yang diberikan kepada publik semakin
meningkat.
2. Bahasa dalam pembahasan SPA ini terbilang sulit untuk ditelaah sehingga perlu
dilakukan pembedahan SPA ini secara mendalam untuk proses penyempurnaan standar
tersebut
DAFTAR PUSTAKA

Jusuf, Al Haryono, 2001, Auditing (Pengauditan), STIE YKPN, Yogyakarta


Tuanakotta, Theodorus, 2014, Audit berbasis ISA, Salemba Empat
http://iapi.or.id diakses pada 4 Maret 2019 09.00
http://www.pppk.kemenkeu.go.id diakses pada 5 Maret 2019 20.45
https://www.scribd.com/document diakses pada 6 Maret 2019 22.00